0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
84 tayangan15 halaman

Perhitungan Beban Kalor Ruangan

Modul ini membahas tentang perhitungan beban kalor pada ruangan, termasuk beban kalor yang masuk dari luar ruangan melalui transmisi, infiltrasi, dan sinar matahari, serta beban kalor dari dalam ruangan. Metode perhitungan yang dijelaskan adalah Cooling Load Temperature Difference (CLTD) beserta data pendukung yang dibutuhkan sebelum perhitungan.

Diunggah oleh

Dadi Setiawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
84 tayangan15 halaman

Perhitungan Beban Kalor Ruangan

Modul ini membahas tentang perhitungan beban kalor pada ruangan, termasuk beban kalor yang masuk dari luar ruangan melalui transmisi, infiltrasi, dan sinar matahari, serta beban kalor dari dalam ruangan. Metode perhitungan yang dijelaskan adalah Cooling Load Temperature Difference (CLTD) beserta data pendukung yang dibutuhkan sebelum perhitungan.

Diunggah oleh

Dadi Setiawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL PERKULIAHAN

TEKNIK
PENDINGIN
PERHITUNGAN BEBAN
KALOR PADA RUANGAN
Fakultas
Teknik

Program
Studi

Teknik Mesin

Abstract

Tatap
Muka

13

Kode MK

Disusun Oleh

Kode MK?

Nasruddin, ST. MT

Kompetensi

Pada modul ini akan menjelaskan


tentang prinsip perhitunga beban kalor
pada ruangan seperti beban kalor
yang masuk dari luar ruanga, beban
kalor infiltrasi dan ventilasi, beban
kalor dari dalam ruangan sendiri dan
beban kalor dari sinar matahari

Mampu menjelaskan transmisi thermal di dalam ruangan


Mampu menghitung beban kalor infiltrasi dan ventilasi
Mampu menghitung beban kalor dari dalam ruangan
Mampu menghitung beban kalor dari sinar matahari.

TEKNIK PENDINDINGIN DAN PENGKONDISIAN UDARA. Dr. Eng Himsar Ambarita


ASHARAE, ASHRAE Handbook 1997, Fundamentals, Atlanta, GA, 1998.
S.K. Wang, Handbook of Air Conditioning Ana Refrigeration, Edisi 2, McGraw-Hill, 2000.

Pembahasan
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, beban kalor pada suatu ruangan akan
menjadi beban pendingin pada sistem pegkondisian udara. beban pendinginan adalah aliran

energi dalam bentuk panas. Perlu diulang kembali bahwa tugas unit pendingin adalah
menjaga kondisi suatu ruangan agar berada pada suhu dan kelembaban tertentu yang
umumnya lebih rendah dari temperatur dan kelembaban lingkungan luar. Jenis beban
pendingin, dapat dibagi menjadi dua, yaitu panas sensible dan panas laten. Panas sensible
adalah panas yang diterima atau dilepaskan suatu materi sebagai akibat perubahan
suhunya. Panas laten adalah panas yang diterima atau dilepaskan suatu materi karena
perubahan fasanya.
Untuk lebih menjelaskan arti masing-masing panas ini, misalkan kita mendinginkan
air dari 100C sampai mejadi es 00C. Panas yang diserap dari air mulai dari 100C menjadi 00C
(masih tetap air) disebut beban sensible. Jika air yang suhunya sudah 00C didinginkan lagi
hingga akhirnya menjadi es, di sini tidak terjadi perubahan suhu, tetapi perubahan fasa.
Panas yang diserap di sini disebut panas laten. Contoh yang lebih jelas pada masalah
pengkondisian udara dijelaskan pada contoh di alinea berikut.

Gambar 1. Panas sensibel dan panas laten pada proses udara


Misalkan kita memasukkan udara ventilasi dari luar yang suhunya 320C dan RH 80%
ke dalam ruangan yang sedang dikondisikan pada temperatur 200C dan RH 60%. Karena
kita memasukkan udara dari luar yang lebih panas, maka udara ventilasi ini akan menjadi
beban pendinginan. Beban pendingin yang terjadi di sini ada dua, yaitu beban sensibel dan
201
6

TEKNIK PENDINGIN
Nasruddin, ST. MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


[Link]

beban laten. Bagaimana cara membedakan masing-masing beban ini akan dijelaskan
dengan diagram psikometrik pada Gambar 1.
Panas sensible untuk mengubah temperatur udara luar dari 320C menjadi 200C
adalah sebesar:

Untuk tiap 1 kilogram udara kering nilainya sama dengan entalpi titik t dikurangi
entalpi titik i atau sama dengan 55,5 42,5 = 13 kJ/kg. Panas laten untuk mengubah
kelembaban udara dari kondisi kelembaban temperatur udara luar 32 0C menjadi 200C
adalah sebesar:

Dimana hfg adalah entalpi penguapan pengembunan uap air dan w adalah rasio
kelembaban udara. Untuk tiap 1 kilogram udara kering nilainya sama dengan entalpi di titik
o dikurangi entalpi di titik i atau sama dengan 95 55,5 = 39,5kJ/kg. Sementara total beban
pendingin dari mulai o ke i adalah sebesar 95 42,5 = 52,5kJ/kg. Seandainya udara
ventilasi yang dimasukkan adalah 1 kg/s, maka selanjutnya kasus pendinginan ini akan
sering disebut sebagai berikut: Total beban pendingin adalah 52,5kW, yang terdiri dari beban
sensible 13.0kW dan beban laten 52,5kW.
Sumber-Sumber beban Pendinginan

Beban pendinginan bagi suatu ruangan yang dikondisikan bisa berasal dari
beberapa sumber. Sumber-sumber ini umumnya dibagi 2 bagian besar, yaitu beban yang
berasal dari luar ruangan dan beban yang berasal dari dalam ruangan. Sebagai ilustrasi
sumber beban pendinginan dari luar dan dari dalam dapat dilihat pada Gambar 2.
Panas yang berasal dari luar ruangan dapat dibagi atas 3 (tiga) bagian besar, yaitu:
(1) panas konduksi dari material bangunan yang berbatasan langsung dengan udara luar,
(2) panas konduksi dari material bangunan yang berbatasan dengan ruangan lain yang
bukan udara luar, dan (3) panas transmisi sinar matahari dari bahan bangunan yang dapat
ditembus
sinar matahari.

201
6

TEKNIK PENDINGIN
Nasruddin, ST. MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


[Link]

Gambar 2 illustrasi sumber beban pendingin suatu ruangan

Panas yang berasal dari luar ruangan dapat dibagi atas 3 (tiga) bagian besar, yaitu:
(1) panas konduksi dari material bangunan yang berbatasan langsung dengan udara luar,
(2) panas konduksi dari material bangunan yang berbatasan dengan ruangan lain yang
bukan udara luar, dan (3) panas transmisi sinarmatahari dari bahan bangunan yang dapat
ditembus sinar matahari. Yang dimaksud dengan material bangunan di sini antara kain,
dapat berupa dinding beton, kaca, dari atap, dan dari jendela. Sementara, panas radiasi
sinar matahari yang masuk dari material yang tembus pandang seperti bahan kaca dan
plastik akan disebut sebagai panas transmisi. Sebagai catatan di sini, khusus untuk kaca
dan plastik (yang dapat ditembus sinar) akan menjadi jalan masuk dua jenis beban, yaitu
konduksi dan transmisi. Semua sumber panas dari luar rungan ini, konduksi dan transmisi,
termasuk jenis beban sensibel. Secara garis besar pembagian ini dapat dilihat pada bagan
yang ditampilkan pada Gambar 3.

201
6

TEKNIK PENDINGIN
Nasruddin, ST. MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


[Link]

Gambar 3 Pembagian sumber beban pendinginan


Sementara sumber panas yang berasal dari dalam ruangan adalah semua benda
yang dapat menghasilkan panas. Sumber panas ini antara lain berasal dari penghuni
ruangan, panas akibat lampu penerangan, panas dari peralatan elektronik seperti komputer
dan mesin atau motor listrik yang ada di ruangan, panas akibat peralatan memasak yang
ada di ruangan. Sumber-sumber panas seperti penghuni runagan dan peralatan memasak
dapat menghasilkan dua jenis beban, yaitu panas sensibel dan panas laten akibat adanya
pelepasan uap air. Sementara panas dari peralatan elektronik dan lampu listrik hanya
melepaskan panas sensibel.
Salah satu sumber panas atau beban pendingin yang cukup besar adalah beban
akibat masuknya udara luar ke dalam ruangan. Udara luar yang masuk akibat adanya
kebocoran disebut sebagai udara infiltrasi, sementara udara luar yang sengaja ditambahkan
kedalam rungan akan disebut sebagai udara ventilasi. Masuknya udara luar, yang
mempunyai temperatur dan kandungan uap yang lebih besar dari udara di dalam rungan,
akan menjadi beban pendingin. Jenis beban yang dihasilkan udara yang masuk ini akan
berupa panas sensibel dan panas laten.

201
6

TEKNIK PENDINGIN
Nasruddin, ST. MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


[Link]

Semua sumber-sumber panas ini akan dihitung dan dinyatakan sebagai beban
pendingin. Bagaimana persamaan menghitung beban ini berdasarkan jenis beban yang
ditimbulkan (panas sensible atau panas laten) akan dibahas satu-persatu.
Metode Perhitungan Beban Pendingin
Menghitung beban pendingin pada prinsipnya adalah menghitung laju perpindahan
panas yang melibatkan semua jenis perpindahan panas, yaitu: konduksi, konveksi, radiasi,
penguapan, dan pengembunan. Adalah sangat sulit jika harus menghitungnya satu persatu
pada waktu tertentu. Oleh karena itu dikenal beberapa metode perhitungan beban
pendingin. Metode yang umum digunakan antara lain Transfer function method (TFM),
Cooling Load Temperature Difference (CLTD), dan Time-averaging (TETD/TA). Dari ketiga
cara ini, hanya CLTD yang menggunakan perhitungan sederhana sehingga dapat dilakukan
secara manual. Sementara TFM dan TETD/TA adalah perhitungan yang dirancang untuk
diselesaikan dengan menggunakan komputer. Pada buku kuliah ini, yang akan dibahas
hanyalah metode CLTD.
Sebelum melakukan perhitungan beban pendinginan pada suatu ruangan yang akan
dikondisikan, data-data pendukung harus dikumpulkan. Data yang harus dimiliki sebelum
melakukan perhitungan adalah sebagai berikut:
1. Lokasi bangunan dan arahnya.
Hal ini telah dijelaskan pada modul sebelumnya dimana posisi bangunan yang akan
dihitung bebannya? Pada lintang berapa, ketinggian berapa? Informasi ini perlu untuk
mengetahui temperatur lingkungan dan radiasi matahari rata-rata di sekitar bangunan.
Kearah mana gedung menghadap? (timur atau ?). Informasi ini dibutuhkan untuk
mengetahui arah paparan radiasi matahari.
2. Konstruksi dari bangunan
Misalnya tebal dinding dan bahan dari dinding tersebut. Informasi ini dibutuhkan
untuk mendapatkan koefisien perpindahan panas menyeluruh dari konstruksi bangunan.
Material yang digunakan pada bangunan akan mempengaruhi fenomena perpindahan kalor
baik dari dalam luar ruangan ke dalam ruangan, atau sebaliknya.
3. Kondisi di luar atau di sekitar bangunan
Misalnya apakah ada pohon atau bangunan tinggi yang dapat menghambat
bangunan yang ingin dihitung dari paparan langsung sinar matahari. Jika matahari terpapar
secara langsung ke dnding maka radiasi matahari akan maksimal mengenai dinding, panas
201
6

TEKNIK PENDINGIN
Nasruddin, ST. MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


[Link]

yang dihasilkan akan diteruskan oleh dinding luar bangunan tersebut ke bagian dalam,
proses perpindahan panas ini akan menjadikan beban pendingin ruangan.
4.

Kondisi design di dalam gedung

Misalnya pada temperatur dan kelembaban relatif (RH) berapa gedung akan
dikondisikan. Penyesuaian kondisi temperature dan kelembaban relative ini akan
menjadikan proses pendinginan akan berbeda. Pengkondisian temperature yang lebih
rendah akan meningkatkan beban pendinginan gedung.
5. Jadwal penghuni di dalam gedung
Misalnya jika pusat perbelanjaan pada pukul berapa terjadi kunjungan terbanyak, dll.
Jika pengkondisian udara digunakan untuk kenyamaan bagi pengguna atau manusia di
dalam gedung, maka proses pendinginan maksimal harus dilakukan ketika penghuni sedang
beraktivitas.
6. Jumlah lampu dan peralatan listrik yang dipasang di dalam gedung.
7. Jadwal masuknya/beroperasinya peralatanperalatan di dalam gedung.
8. Kebocoran udara (infiltration) dan penambahan udara (ventilation).
Informasi-informasi ini akan digunakan sebagai parameter pada perhitungan dan
atau untuk mencari parameter-parameter tambahan yang akan digunakan dalam
perhitungan beban pendingin.
Prosedur perhitungan beban pendingin dengan menggunakan metode CLTD akan
dijabarkan pada bagian berikut. Urutan perhitungannya akan dilakukan berdasarkan bagan
yang ditampilkan pada Gambar 3.
A. Beban Pendingin dari Luar
Seperti yang sudah disebutkan beban ini akan terbagi 3 (tiga), yaitu (1) konduksi dari
material bangunan yang berbatasan dengan udara luar, (2) panas transmisi dari
material bangunan yang tembus cahaya, dan (3) konduksi dari material bangunan yang
berbatasan dengan bukan udara luar.
A.1. Panas konduksi dari material gedung yang berbatasan langsung dengan udara luar
Misalkan suatu material gedung mempunyai luas sebesar A dan koefisien
perpindahan panas menyeluruh sebesar U seperti pada gambar berikut.

201
6

TEKNIK PENDINGIN
Nasruddin, ST. MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


[Link]

Gambar 4 Panas konduksi dari material gedung


Pada perhitungan ini, temperatur udara luar dan temperatur udara di dalam
ruangan tidak dapat digunakan secara langsung untuk menghitung laju
perpindahan panas dari luar ke dalam rungan. Sebagai gantinya digunakan CLTD.
Pada persamaan ini, Qs adalah laju perpindahan panas yang masuk ke
ruangan (Watt) atau biasa disebut beban pendingin. Beban ini merupakan
merupakan panas sensible. Sebagai catatan, panas konduksi tidak mempunyai
beban laten. Koefisien perpindahan panas menyeluruh U [W/m2 .K] adalah
gabungan koefisien perpindahan konduksi material bangunan dan konveksi
dipermukaan dalam dan luar. Pada Gambar 5, diillustrasikan sebuah dinding yang
terdiri dari 3 material berbeda dengan konduktivitas masing-masing k1 , k2 , dan k3
berada diantara ruangan yang temperaturnya masing-masing Ti dan T0 . Pada
permukaan dinding yang bersentuhan dengan udara di luar mempunyai koefisien
konveksi h0 dan di permukaan dalam adalah hi .

Gambar 5 Tahanan termal total pada dinding


Koefisien perpindahan panas menyeluruh dari dinding ini dapat dihitung
dengan persamaan 4:

201
6

TEKNIK PENDINGIN
Nasruddin, ST. MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


[Link]

Nilai konduktivitas termal dan koefisien konveksi yang sesuai dapat dilihat
pada buku tentang perpindahan panas atau data yang ditampilkan pada ASHRAE
1997. Pada persamaan (4) ini, dapat dilihat bahwa koefisien perpindahan panas
menyeluruh dapat juga dituliskan dalam bentuk tahanan termal R .
Pada persamaan (3), untuk mengitung laju perindahan panas ini tidak
digunakan perbedaan temperatur luar dan tempertur dalam ruangan. Sebagai
gantinya digunanakan CLTD. Data CLTD dapat dilihat pada buku ASHRAE 1997
pada Bab 28 Tabel 32. Pada tulisan ini dibuat pada Lampiran 1. Pada tabel
tersebut terdapat 16 jenis dinding yang harus dipilih, pada tabel berikut adalah
CLTD untuk dinding jenis 16. Prosedur pembagian nomor dinding ditampilkan pada
Lampiran 1. Salah satu bagian tabel dari Lampiran 1 untuk menentukan CLTD
ditampilkan pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1 CLTD Pada dinding no 16

Data pada tabel tersebut adalah data untuk CLTD pada suatu lokasi 40oLU
dan pada bulan paling panas, yaitu bulan July dan temperatur ruangan 25,5 oC.
Sementara selain dari kondisi ini, CLTD harus dikoreksi. Maka persamaan
menghitung laju panas masuk secara konduksi, persamaan (3), harus diganti
menjadi:

Dimana CLRDcor adalah koreksi akibat perbedaan kondisi rancangan, dan


dihitung dengan persamaan berikut:
Nilai LM (latitude month correction table) dapat dilihat pada Lampiran. Dan k
adalah koreksi karena pengaruh warna = 1 (Gelap), =0,83 (medium), dan =0,65
(cerah). Tr = temperatur ruangan yang direncanakan. Tm = temperatur udara luar
maksimum (beda temperatur harian/2).
201
6

TEKNIK PENDINGIN
Nasruddin, ST. MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


[Link]

A.2. Panas transmisi dari bagian bangunan yang tembus sinar


Beban dari luar yang masuk melalui bagian gedung yang tembus sinar ini
akan dikenal dengan istilah panas transmisi. Jenisnya adalah beban sensibel.
Persamaan menghitungnya adalah:

Dimana A adalah luas penampang, SCL adalah solar cooling load factor yang
menyatakan jumlah radiasi yang dapat ditransmisikan, ditampilkan pada
Lampiran, dan SC adalah koefisien bayang (shading coefficient) yang
menyatakan bagian dari radiasi yang ditransmisikan, ditampilkan pada 3.
Sebagai illustrasi pada Tabel 2 berikut ditampilkan SCL pada suatu tempat di
daerah 40oLU pada bulan July yang merupakan bulan paling panas di daerah
tersebut. Sementara untuk tempat lainnya SCL ini akan dikoreksi.
Tabel 2 Faktor SCL pada Zona A untuk daerah 40oLU

A.3. Konduksi dari material bangunan yang berbatasan dengan bukan udara luar.

Pada prinsipnya beban ini hampir sama dengan konduksi dari udara
luar. Perbedaannya adalah bahan bangunan ini tidak membatasi dengan udara
luar, tetapi ruangan yang tertutup dari udara luar. Misalnya suatu ruangan yang
dikondisikan dibatasi oleh tembok dengan ruangan lain yang tidak dikondisikan.
Maka perhitungan beban dari luar untuk tembok ini tidak menggunakan CLTD
sebagai perbedaan temperatur, tetapi menggunakan persamaan berikut:

201
6

10

TEKNIK PENDINGIN
Nasruddin, ST. MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


[Link]

Dimana T0 temperatur di luar ruangan dan Tr adalah temperatur ruangan


yang dikondisikan. Sebagai catatan sumber panas ini umumnya digunakan untuk
menghitung sumber panas dari pembatas (partisi), langit-langit, dan lantai. Maka
U dihitung berdasarkan bahan dari material-material ini yang juga terdapat pada
Lampiran.
B.

Beban Panas dari Dalam Ruangan


Panas yang timbul, baik akibat aktivitas dan proses konversi energi, di dalam

ruangan akan diperhitungkan sebagai panas dari dalam. Beberapa sumber panas ini akan
dihitung pada sub bagian berikut:
b.1. Panas dari tubuh manusia di dalam ruangan
Tubuh manusia dalam beraktivitas, selalu mengeluarkan panas ke udara
sekelilingnya. Panas yang dilepaskan oleh tubuh manusia ini terdiri dari 2 jenis, yaitu panas
sensible dan panas laten. Masingmasing panas ini dapat dihitung sebagai berikut:

Dimana N adalah jumlah manusia yang menghuni ruangan. Sementara SHG adalah
Sensible heat gain dan LHG adalah Latent heat gain adalah perkiraan panas sensible dan
panas laten yang dikeluarkan manusia dan sesuai umur dan aktivitasnya. Datanya
ditampilkan pada Tabel 3. Dan N adalah jumlah manusia yang ada di ruangan. CLF adalah
cooling load factor datanya ditampilkan pada Lampiran.

Tabel 3 Heat gain dari manusia

201
6

11

TEKNIK PENDINGIN
Nasruddin, ST. MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


[Link]

b.2. Panas dari tubuh manusia di dalam ruangan


Lampu atau alat penerangan mengubah energi listrik menjadi cahaya, dan sebagian energi
ini akan berubah menjadi panas. Sebagai catatan bola lampu akan terasa panas setelah
dihidupkan beberapa lama. Besar panas yang dilepaskan bola lampu/penerangan ke
lingkungan adalah panas sensible dan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:

Dimana W adalah daya total lampu, Ful lighting use, Fsa special allowance factor,
dan CLF adalah cooling load factor untuk lampu ditampilkan pada Lampiran.
b.3. Panas dari motor listrik
Di dalam ruangan yang dikondisikan juga umumnya terdapat motor listrik, misalnya
motor listrik yang membuat perputaran udara melalui evaporator. Contoh lain misalnya
motor penggerak pompa air. Data pata Tabel 4 dapat digunakan langsung atau dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

201
6

12

TEKNIK PENDINGIN
Nasruddin, ST. MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


[Link]

P adalah total daya motor (Watt), EF factor efisiensi, dan CLF adalah cooling load
factor untuk motor (Lampiran 6).
b.4. Panas dari peralatan dapur dan memasak (Appliances)
Sudah dapat dipastikan kegiatan memasak di dapur akan memberikan beban
pendingin ke dalam ruangan yang akan didinginkan. Besar beban ini dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan berikut :
Panas Sensibel

Panas Laten

CLF cooling load factor yang ditampilkan pada Lampiran.


Panas dari Udara Luar
Akibat masuknya udara luar, baik yang disengaja ditambahkan atau akibat
kebocoran, akan menjadi beban bagi rungan yang dikondisikan. Jumlah panas akibat
masuknya udara luar ini dirumuskan dengan persamaan berikut:
Panas Sensibel:

Dimana Q adalah laju aliran udara luar yang masuk ke dalam ruangan. Biasanya
ditetapkan/diperkirakan sesuai desain. T0 dan Ti masing-masing adalah temperatur di luar
dan di dalam ruangan.
Panas Laten :

Dimana w0 dan w[ masing-masing adalah kelembaban udara luar dan dalam ruangan.
Sementara jika dinyatakan dalam bentuk total, merupakan gabungan dari panas sensibel
dan panas laten, maka persamaan dalam bentuk entalpi dapat digunakan.
201
6

13

TEKNIK PENDINGIN
Nasruddin, ST. MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


[Link]

Dimana h0 dan hi adalah entalpi di dalam dan diluar ruangan.


Kesimpulan Perhitungan Beban Pendingin
Tabel berikut menunjukkan kesimpulan sumber dan persamaan dalam memperkirakan
beban pendingin suatu ruangan.

201
6

14

TEKNIK PENDINGIN
Nasruddin, ST. MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


[Link]

Lampiran :
LM Table

Tabel Cooling load factor untuk manusia

201
6

15

TEKNIK PENDINGIN
Nasruddin, ST. MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


[Link]

Anda mungkin juga menyukai