0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
340 tayangan36 halaman

Prinsip dan Penggunaan Elektrolisis

Dokumen tersebut membahas tentang elektrolisa dan hukum Faraday. Secara singkat, elektrolisa adalah proses pemisahan zat melalui arus listrik, dan hukum Faraday menyatakan bahwa massa zat yang terbentuk sebanding dengan kuat arus listrik dan muatannya. Dokumen ini juga membahas sel-sel elektrolisa dan penggunaannya.

Diunggah oleh

yan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
340 tayangan36 halaman

Prinsip dan Penggunaan Elektrolisis

Dokumen tersebut membahas tentang elektrolisa dan hukum Faraday. Secara singkat, elektrolisa adalah proses pemisahan zat melalui arus listrik, dan hukum Faraday menyatakan bahwa massa zat yang terbentuk sebanding dengan kuat arus listrik dan muatannya. Dokumen ini juga membahas sel-sel elektrolisa dan penggunaannya.

Diunggah oleh

yan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Elektrolisa adalah reaksi non-spontan yang berjalan akibat adanya arus (aliran elektron)
eksternal yang dihasilkan oleh suatu pembangkit listrik. Dalam sel elektrolisa terjadinya reaksi
kimia karena adanya energi dari luar dalam bentuk potensial atau arus listrik. Reaksi yang
berlangsung pada sel elektrolisa adalah reaksi yang tergolong dalam reaksi redoks. Dalam sel
elektrolisa katoda merupakan kutub negatif dan anoda merupakan kutub positif. Arus listrik
dalam larutan dihantarkan oleh ion-ion, ion positif (kation) bergerak ke katoda (negatif) dimana
terjadi reaksi reduksi. Ion negatif (anion) bergerak ke anoda (positif) dimana terjadi reaksi
oksidasi. Adapun sel sel yang terdapat dalam elektrolisa adalah Sel Volta atau Galvani, Sel
Daniel, Sel Elektrolisis. Dengan menggunakan daftar potensial elektroda standart dapat diketahui
apakah suatu reaksi redoks dapat berlangsung atau tidak.
Elektrolisa juga digunakan dalam kehidupan sehari hari seperti dalam industri dan di
dalam berbagai pemanfaatan seperti penyepuhan atau pelapisan atau elektroplating, sintesa atau
pembuatan zat tertentu dan pemurnian logam. Pembahasan tentang sel sel elektrolisa, cara
kerja elektrolisa dan penggunaan elektrolisa ini akan dibahas dengan rinci pada sub bab
berikutnya.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka berikut ini rumusan masalah yang akan dikaji
dalam makalah ini, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Pengertian Elektrolisa
Sel Sel Yang Terdapat Dalam Elektrolisa
Cara Kerja Elektrolisa
Penggunaan Sel Sel Elektrolisa Dalam Kehidupan Sehari Hari

1.3. Tujuan Penulisan


Tujuan dari dibahasnya makalah ini yaitu :
1.
2.
3.
4.

Mampu Menjelaskan Pengertian Elektrolisa


Mampu Menjelaskan Sel Sel Dalam Elektrolisa
Mampu Menjelaskan Cara Kerja Elektrolisa
Menjelaskan Penggunaan Elektrolisa Dalam Kehidupan Sehari Hari

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Elektrolisa


Elektrolisa merupakan suatu porses perubahan arus listrik menjadi reaksi reduksi dan
oksidasi atau peristiwa penguraian elektrolit dalam sel elektrolisis oleh arus.
Dalam sel elektrolisa terjadinya reaksi kimia karena adanya energi dari luar dalam bentuk
potensial atau arus listrik. Reaksi yang berlangsung pada sel elektrolisis adalah reaksi yang
tergolong dalam reaksi redoks spontan.
Alat elektrolisa mempunyai tiga ciri utama, yaitu :
1. Ada larutan elektrolit yang mengandung ion bebas. Ion-ion ini dapat memberikan atau
menerima elektron sehingga electron dapat mengalir melalui larutan.
2. Ada sumber arus listrik dari luar, seperti baterai yang mengalirkan arus listrik searah (DC)
3. Ada 2 elektroda dalam sel elektrolisis, yaitu :
3.1. Katoda yaitu Elektroda yang menerima elektron dari sumber arus listrik luar. Katoda
adalah tempat terjadinya reaksi reduksi yang elektrodanya negative (-).
3.2. Anoda yaitu elektoda yang mengalirkan elektron kembali ke sumber arus listrik luar.
Anoda adalah tempat terjadinya reaksi oksidasi yang elektrodanya positive (+).
Mekanisme kerja alat elektrolisa ini adalah arus listrik dalam larutan dihantarkan oleh ion-ion
positif dan ion-ion negatif (katoda dan anoda) yang bergerak saling mendekati. Ion positif akan
bergerak mendekati ion negatif (katoda) dimana terjadi reaksi reduksi. Sedangkan ion negatif
atau katoda akan bergerak mendekati ion positif (anoda) dimana terjadinya reaksi oksidasi.
Sebuah atom atau gugusan atom yang kekurangan satu atau beberapa elektron disebut
dengan ion positif, sedangkan ion negatif adalah sebuah atom atau suatu gugusan atom yang
kelebihan satu atau beberapa elektron.
Pada elektrolisa, larutan elektrolit dalam air, ion-ion logam yang bermuatan positif selalu
bergerak ke katoda dan ion-ion OH- serta ion-ion sisa asam yang bermuatan negatif menuju ke
anoda.

Dengan menggunakan daftar potensial elektroda standar, dapat diketahui apakah rekasi
redoks dapat berlangsung atau tidak, yaitu apabila potensial reaksi redoksnya positif, maka reaksi
redoks tersebut dapat berlangsung. Sebalikany jika potensial reaksi redoksnya negatif, maka
reaksi tidak dapat berlangsung.
Pada suatu percobaan elektrolisa, reaksi yang tejadi pada katoda bergantung pada
kecendrungan tejadinya reaksi reduksi. Sebagi contoh, elektrolisa NaCl pada berbagai keadaan
menunjukkan pentingnya suasana sisten yang dielektrolisis. Jika larutan NaCl encer dielektrolisis
menggunakan elektroda platina, maka reaksi pada kedua elektroda adalah :
Anoda : 2 H2O

O2 + 4 H+ + 4e

Katoda : 2 H2O + 2e H2 + 2 OHJika larutan cukup pekat, reaksi-reaksi yang terjadi adalah :
Anoda : 2 Cl-

Cl2 + 2e

Katoda : 2 H2O + 2e H2 + 2 OHJika larutan NaCl dielektrolisis, maka reaksi pada elektroda adalah :
Anoda : 2 ClKatoda : Na+ + e

Cl2 + 2e
Na

Elektroda merupakan tempat terjadinya reaksi redoks. Potensial reaksi redoks sebagai
penentu terjadinya/tidak terjadinya suatu reaksi. Bentuk rangkaian alat elektrolisis dapat dilihat
pada skema alat.
Reaksi reduksi untuk ion H+ ialah menjadi unsur H2 atau unsur hidrogen. Sedangkan
reaksi reduksi untuk ion-ion logam, baik logam alkali atau alkali tanah yang mengalami reaksi
adalah air. Beberapa syarat yang terkait dengan kemudahan ion logam tereduksi dibandingkan
ion H+.
Jika kation lebih mudah dioksidasi (melepaskan electron) maka air akan tereduksi. Ionion tersebut meliputi golongan IA dan IIA, seperti ion-ion logam alkali dan alkali tanah, terutama
Na+, K+, Ca2+, Sr2+, dan Ba2+.

Elektrolit bJika ion-ion itu lebih mudah tereduksi seperti ion-ion Cu 2+, Ni2+ dan Ag+.
Reaksi yang terjadi dipengaruhi oleh jenis elektroda yang dipakai dan jenis anion yang dipakai.

2.2. Hukum Elektrolisis Faraday


Pada Proses elektrolisa berlaku hukum Faraday. Akibat aliran arus listrik searah, ke
dalam sebuah larutan elektrolitmaka akan terjadi perubahan kimia
Di awal abad ke-19, Faraday menyelidiki hubungan antara jumlah listrik yang mengalir
dalam sel dan kuantitas kimia yang berubah di elektroda saat elektrolisis. Dalam larutan tersebut
menurut Michael faraday tahun 1834 menyatakan bahwa lewatnya arus 1F mengakibatkan
oksidasi 1massa ekuivalen suatu zat pada suatu eletroda (anoda) dan reduksi 1massa ekuivalen
suatu zat pada elektroda yang lain (katoda).
Hukum Faraday : jumlah zat yang mengalami oksidasi atau reduksi pada setiap elektroda saat
elektrolisis sebanding dengan jumlah arus yang melewati sel.
Ion yang bermuatan positif akan menempel pada elektroda negative (katoda) dengan
menimbang katoda sebelum dan sesudah di aliri arus listrik, maka dapat di ketahui jumlah logam
yang menempel pada elektroda tersebut. Pada proses elektrolisa berlaku hukum faraday :
1. Massa zat yang mengendap pada elektroda berbanding langsung dengan tara listriknya.
m = k . i. t
Dengan :

m : jumlah massa yang di endapkan pada elektroda (gram)


k : tara kimia listrik (gr/[Link])
i : arus listrik (ampere)
t : waktu pengaliran arus (jam)

2. Massa suatu zat dari suatu elektroda berbanding langsung dengan jumlah muatan yang
melalui larutan tersebut.
Jika valensi ion adalah z, maka muatan untuk atom bervalensi lebih dari satu ion adalah z
e, sehingga muatan yang di angkut oleh semua ion yang mengendap adalah :

q=

m
A

NA . z . e

1 farad = 6,022 x 1023 e = 96,487


Teori percobaan dengan cara elktrolisis ini menentukan besarnya tara kimia listrik
terlebih dahulu , bila arus listrik searah dialirkan melalui sel elektrolit yang berisi larutan garam
AB, maka garam tersebut akan terurai :
A+ + B-

AB

Ion yang mengandung muatan positif akan menempel pada elektroda negatif. Dengan
menimbang elektroda sebelum dan sesudah dialiri arus listrik maka dapat diketahui jumlah
logam yang menempel pada elektroda tersebut sesuai dengan hukum Faraday :
W=z.I.t
Dimana :
W = jumlah massa yang diendapkan
z = tara kimia listrik
t = waktu
I = arus listrik
Tara kimia listrik adalah sel elektrolit atau larutan elektrolit yang terdiri dari larutan
garam seperti CuSO4 yang dialiri arus listrik searah dan sel-sel elekrolit itu akan terurai dan
berkumpul pada elekroda-elektrodanya. Cara menghitung besarnya tara kimia listrik digunakan
rumus :
Z=

W
I .t

Percobaan elektrolisis diatas dapat digunakan untuk menghitung muatan elementer dari
permukaan percobaan milikan. Setiap tembaga ion menerima muatan electron dari katoda, yang
mengakibatkan ion tersebut menjadi ion netral dan menempel pada elektroda tersebut.
Apabila terdapat N atom Cu yang dipindahkan, jumlah muatan listrik yang berpindah
ialah sebanyak 2 e, maka muatan elementer tersebut dapat dihitung dengan :
E=

A.I .t
2W . N

Dimana :
E = muatan elementer (coulomb)
A= Berat atom Cu (63,5 gr/mol)
W= Jumlah massa yang ditetapkan
N= Bilangan Avogadro
= 6,02 x 1023 atom/mol
Apabila dua elektrolisa dialiri arus listrik dalam jumlah yang sama, maka perbandingan
massa zat yang dihasilkan sebanding dengan massa ekivalen zat tersebut.
Pernyataan di atas merupakan bunyi hukum Faraday II dengan persamaan:
W1 : W2 = e1 : e2
Atau
W1
W2

e1
e2

Bunyi Hukum Faraday untuk elektrolisa :

Hukum Faraday I

Massa zat yang terbentuk sama dengan kuat arus yang mengalir pada elektrolisis.

Hukum Faraday II

Massa suatu zat terlarut dari suatu elektroda berbanding lurus dengan jumlah muatan yang
melalui larutan tersebut.
Percobaan elektrolisa dapat digunakan untuk menghitung besar muatan elementer . Setiap
ion tembaga menerima dua muatan electron dari katoda yang akhirnya mengakibatkan ion ion
itu menjadi netral (atom netral) yang menempel pada anoda.
Potensial elektroda pada zat elektrolit adalah suatu ukuran terhadap besaranya
kecenderungan suatu unsur untuk melepaskan atau mempertahankan electron.
Proses elektrolisa ini dapat digunakan antara lain untuk pemurnian logam, produksi
berbagai jenis logam, seperti Mg, Al dan logam lainnya, bisa untuk penyepuhan dengan
menggunakan logam yang menjadi anoda dan katoda.

2.3. Sel - Sel Elektrolisa


2.3.1. Kegunaan Sel Elektrolisa
[Link]. Pembuatan Gas di Laboratorium
Sel elektrolisis banyak digunakan dalam industri pembuatan gas misalnya pembuatan gas
oksigen, gas hydrogen, atau gas klorin. Untuk menghasilkan gas oksigen dan hydrogen, Anda
dapat menggunakan larutan elektrrolit dari kation golongan utama (K+,Na+) dan anion yang
mengandung oksigen (So42-,, NO3-) dengan electrode Pt atau karbon. Reaksi elektrolisis yang
mengahsilkan gas,misalnya elektrolisis larutan Na2SO4 menggunakan electrode karbon.
Reaksi yang terjadi :
Na2SO4 (aq)
Katode (C) : 2H2O (l) +2e-

2Na+ (aq) + SO422OH- (aq) +H2 (g)


8

Anode (C) : 2H2O (l)

4e- + 4H+ +O2 (g)

Karena pada katode dan anode yang bereaksi adalah air, semakin lama air semakin
berkurang sehingga perlu ditambahkan. Perlu diingat bahwa walaupunyang bereaksi air, tidak
berarti elektrolit Na2SO4 tidak diperlukan. Elektrolit iniberguna sebagai penghantar arus listrik.

[Link]. Proses Penyepuhan Sutu Logam Emas, Perak atau Nikel


Bertujuan menutupi logam yang penampilannya kurang baik atau menutupi logam yang
mudah berkarat. Logam-logam ini dilapiasi dengan logam lain yang penampilan dan daya
tahannya lebih baik agar tidak berkarat. Misalnya mesin kendaraan bermotor yang terbuat dari
baja umumya dilapisi kromium agar terhindar dari korosi . Beberapa alat rumah tangga juga
disepuh dengan perak sehingga lebih awet dan penampilannya tampak lebih baik. Badan sepeda
titanium dilapisi titanium oksida (TiO2) yang bersifat keras dantidak dapat ditembus oleh
oksigen atau uap air sehingga terhindar dari reaksioksida yang menyebabkan korosi.
Prinsip kerja proses penyepuhan adalah penggunaan sel dengan elektrolit larutan dan
electrode reaktif. Contoh jika logam atau cincin dari besi akan dewlaps emas digunakan larutan
elektrolit AuCl3 (aq). Logam besi (Fe) dijadikan sebagai katode, sedangkan logam emasnya (Au)
sebagai anode.
Apa yang terjadi jika kedua logam ini ditukar posisinya? Mengapa? Reaksi yang
berlangsung dalam proses penyepuhan besi dengan emas yaitu :
AuCl3 (aq)

Au3+ (aq) + 3Cl- (aq)

Katode (cincin Fe) : Au3+ (aq) + 3eAnode (Au) : Au (s)

Au (s)

Au3+ (aq) + 3e-

Proses yang terjadi yaitu oksidasi logam emas (anode) menjadi Au3+(aq) Kationini akan
bergerak ke katode menggantikan kation Au3+ yang direduksidi [Link] Au3+ di katode

direduksi membentuk endapan logam emas yang melapisi logam atau cincin besi. Proses ini
cukup murah karena emas yang melapisi besihanya berupa lapisan tipis
[Link]. Proses Pemurnian Logam Kotor
Proses pemurnian logam kotor banyak dilakukan dalm pertambangan . logam transisi
yang kotor dapat dimurnikan dengan cara menempatkannya sebagai anode dan logam murni
sebagai katode. Elektrolit yang digunkan adalah elektrolit yang mengandung kation logam yang
dimurnikan.
Contoh : prose pemurnian nikel menggunakan larutan NiSO4 . nikel murni digunakan
sebagai katode, sedangkan nikel kotor (logam yang dimurnikan ) digunakan sebagai anode.
Reaksi yang terjadi, yaitu:
NiSO4 (aq)

Ni2+ (aq) + SO42- (aq)

Katode (Ni murni) : Ni2+ (aq) + 2eAnode ( Ni kotor) : Ni (s)

Ni (s)
Ni2+ (aq) + 2e-

Logam nikel yang kotor pada anode dioksidasi menjdi ion Ni2+. Kemudian ionNi2+ pada
katode direduksi membentuk logam Ni dan bergabung dengan katode yang merupakan logam
murni. Kation Ni2+ di anode bergerak ke daerah katode menggantikan kation yang direduksi.
Untuk mendapatkan logam nikel murni (di katode) h a r u s a d a p e n y a r i n g a n s e h i n g g g a
k o t o r a n (tanah, pasir dan lain-lain) hanya berada dianode dan tidak berpindah ke katode
sehingga daerah di katode merupakan daerah yang bersih.
Elektrolisa adalah reaksi non-spontan yang berjalan akibat adanya arus (aliran elektron)
eksternal yang dihasilkan oleh suatu pembangkit listrik.
Pada sel elektrolitik :
o Katoda bermuatan negatif atau disebut elektroda ()
o Terjadi reaksi reduksi
o Jenis logam tidak diperhatikan, kecuali logam Alkali (IA) dengan Alkali tanah(IIA), Al dan
Mn.
10

o Reaksi : 2 H+(aq) + 2e- H2(g) ion golongan IA/IIA tidak direduksi; dan penggantinya air 2
H2O(l) + 2 e- basa + H2(g) ion-ion lain direduksi. Anoda bermuatan positif (+) atau
disebut elektroda +
o Terjadi reaksi oksidasi
o Jenis logam diperhatikan
Anoda : Pt atau C ( elektroda inert )
Reaksi:
4OH- (aq) 2H2O(l) + O2(g) + 4e Gugus asam beroksigen tidak teroksidasi, diganti oleh 2 H2O(l) asam + O 2(g)
Golongan VIIA (halogen) gas
Anoda bukan : Pt atau C
Reaksi : bereaksi dengan anoda membentuk garam atau senyawa lain.

2.3.2 Sel Sel Yang Terdapat Dalam Elektrolisa


Dalam Elektrolisa terdapat tiga sel, yaitu :
1. Sel Volta atau Galvani
2. Sel Daniel
3. Sel Elektrolisis
Ketiga sel elektrolisa diatas, sebelah kiri sel (anoda) terjadi oksidasi dan sebelah kanan
(katoda ) terjadi reduksi.
Sel Volta, Daniel, dan Galvani : Anoda negatif (-) dan katoda positif (+)
Sel Elektrolisis : Anoda positif (+) dan katoda negatif (-)
Dalam elektrolisa :
DGL standard = Eo = Eokatoda - Eoanoda (harus positif untuk R spontan)
T = 25oC, P = 1 atm
Jika DGL < 0 bernilai negatif (-), maka R nonspontan.
11

Syaratnya :
- Suatu reaksi berlangsung spontan jika DGL>0
- Energi bebas Go yang diharapkan agar reaksi berjalan maka Go< 0 atau (-).
Go pada kesetimbangan yaitu : -RT ln K atau
Go = -nFE (larutan elektrolit atau mengandung listrik)
Persamaan Nerts :
Go = -RT ln K
Go = -nFE
Go = Go
-nFE = -RT ln K

[Link]. Sel Volta atau Galvani


Sel Volta atau Galvani adalah sel elektrokimia yang melibatkan raksi redoks dan
menghasilkan arus listrik. Kegunaannya adalah untuk mengukur pH kelarutan. Sel volta terdiri
atas elektroda tempat berlangsungnya reaksi oksidasi disebut anoda (electrode negative), dan
tempat berlangsungnya reaksi reduksi disebut katoda(electrode positif).
Susunan sel Volta adalah :
Notasi sel : Y / ion Y // ion X / X
Logam X mempunyai potensial reduksi yang lebih positip dibanding logam Y , sehingga
logam Y bertindak sebagai anoda dan logam X bertindak sebagai katoda.
Jembatan garam mengandung ion-ion positif dan ion-ion negative yang berfungsi
menetralkan muatan positif dan negative dalam larutan elektrolit.
12

[Link]. Sel Daniel


Pada Sel Daniel, elektroda Cu dibenamkan dalam larutan tembaga (II) sulfat atau CuSO4
dan elektroda seng sulfat atau [Link] anoda, Zn mengalami oksidasi:
Zn(s) Zn2+(aq) + 2ePada katoda, Cu mengalami reduksi:
Cu2+(aq) + 2e- Cu(s)
Pada sel Daniell, kawat dan lampu dihubungkan dengan kedua elektroda. Elektronelektron yang "ditarik" dari seng berjalan sepanjang kawat, yang harus merupakan kawat nonreaktif, menghasilkan arus listrik yang membuat lampu menyala. Pada sel seperti ini, ion-ion
sulfat memainkan peranan penting. Setelah bermuatan negatif, anion-anion ini terkumpul di
anoda untuk mempertahankan keseimbangan muatan. Sebaliknya, pada katoda ion-ion
Cu2+ terakumulasi untuk mempertahankan keseimbangan muatan ini. Kedua proses ini
menyebabkan sebagian tembaga terakumulasi di katoda dan elektroda seng menjadi "terlarut"
atau "meluruh" ke dalam larutan. Karena kedua reaksi tidak terjadi sendiri-sendiri
(independently), kedua sel harus dihubungkan (dengan konduktor misalnya) agar ion-ion
bergerak bebas. Digunakan dua wadah keramik yang berbeda untuk masing-masing larutan.
Biasanya suatu "salt bridge" atau jembatan garam digunakan untuk menghubungkan kedua sel.
Pada sel basah seperti ini, ion-ion sulfat bergerak dari katoda menuju anoda melalui jembatan
garam dan kation-kation Zn2+ bergerak dalam arah sebaliknya.

[Link]. Sel Elektrolisis


Sel Elektrolisis merupakan proses kimia yang mengubah energi listrik menjadi energi
kimia. Komponen yang terpenting dari proses elektrolisis ini adalah elektroda dan elektrolit.
Elektroda yang digunakan dalam proses elektolisis dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
-

Elektroda inert, seperti kalsium (Ca), potasium, grafit (C), Platina (Pt), dan emas (Au).
Elektroda aktif, seperti seng (Zn), tembaga (Cu), dan perak (Ag).
13

Elektrolitnya dapat berupa larutan berupa asam, basa, atau garam, dapat pula leburan
garam halida atau leburan oksida. Kombinasi antara elektrolit dan elektroda menghasilkan tiga
kategori penting elektrolisis, yaitu:
a. Elektrolisis larutan dengan elektroda inert
b. Elektrolisis larutan dengan elektroda aktif
c. Elektrolisis leburan dengan elektroda inert
Pada elektrolisis, katoda merupakan kutub negatif dan anoda merupakan kutub positif.
Pada katoda akan terjadi reaksi reduksi dan pada anoda terjadi reaksi oksidasi.

2.4. Cara Kerja Elektrolisa


Dengan menggunakan daftar potensial elektroda standart dapat diketahui apakah suatu
reaksi redoks dapat berlangsung atau tidak, yaitu bila potensial reaksi redoksnya positif, maka
reaksi redoks tersebut dapat berlangsung. Sebaliknya jika potensial reaksi redoksnya negatif,
reaksi redoks tidak dapat berlangsung.
Reaksi yang terjadi pada proses eletrolisa dibagi menjadi dua bagian yaitu reaksi yang
terjadi pada katoda dan pada anoda.
a. Reaksi pada katoda
Ion-ion yang bergerak menuju katoda adalah ion-on positif dan pada katoda terjadi reaksi
reduksi. Sel Elektrolisis, Katoda terjadi reaksi reduksi dan pada anoda terjadi oksidasi
Reduksi untuk ion H+2H+ + 2e- H2
Reduksi untuk ion logam, mengikuti beberapa syarat yang terkait dengan kemudahan ion
logam tereduksi dibandingkan dengan ion H+. Jika kation lebih mudah dioksidasi (atau
melepaskan elektron), maka air yang akan direduksi. Ion-ion trsebut meliputi Gol IA dan IIA
seperti ion-ion logam alkali dan alkali tanah, terutama ion Na+, K+, Ca2+, Sr2+, dan Ba2+. Jika
ion-ion trsebut lebih mudah tereduksi dibanding ion H+, maka ion tersebut akan langsung
tereduksi seperti ion-ion Cu2+, Ni2+, Ag+.
b. Reaksi pada Anoda

14

Merupakan reaksi oksidasi. Ion-ion yang bergerak ke anoda adalah ion-ion negatif
(anion). Reaksi yang terjadi dipengaruhi oleh jenis elektroda yang dipakai dan jenis anion.
Anion: ion OH-dan ion sisa asam.
Jika anoda terdiri dari platina, maka anoda ini tidak mengalami perubahan melainkan ion
negatif yang dioksidasi
Ion OH- akan dioksidasi menjadi H2O dan O2.
4 OH- 2 H2O + O2 + 4eIon sisa asam akan dioksidasi menjadi molekulnya. Misalnya: Cl- dan Br-2
Cl- Cl2 + 2e
2 Br- Br2 + 2e
Ion sisa asam yang mengandung oksigen. Misalnya: SO42-, PO43-, NO3-, tidak mengalami
oksidasi maka yang mengalami oksidasi adalah air.
2 H2O 4 H+ + O2 + 4e
Bila elektroda reaktif logam ini akan melepas elektron dan memasuki larutan sebagai ion
positif. Prinsip ini digunakan dalam proses penyepuhan dan pemurnian suatu logam.
Perhatikan proses elektrolisa larutan garam Natrium Sulfat dibawah ini,
Na2SO4 2Na+ + SO42Dari tabel tampak bahwa Hidrogen lebih mudah tereduksi dibandingkan logam Natrium.
Demikian pula jika kita bandingkan antara anion SO42- dengan air, sehingga air akan
teroksidasi. Na lebih aktif dari H sehingga sukar tereduksi, dan SO42- sukar teroksidasi.
Hasil elektrolisis dari larutan Na2SO4 adalah:
-

Pada katoda terjadi gas Hidrogen (H2) dari hasil reduksi H+ dalam bentuk H2O.

Pada Anoda terjadi gas O2 hasil oksidasi dari O2- dalam bentuk H2O.

15

Karena terjadi perubahan air menjadi gas hidrogen dan oksigen, semakin lama air semakin
berkurang, sehingga larutan garam Na2SO4 semakin pekat.

2.4. Penggunaan Sel Sel Elektrolisa Dalam Kehidupan Sehari Hari


2.5.1. Sel Elektrolisa Dalam Industri
Elektrolisa digunakan di dalam industri dan di dalam berbagai pemanfaatan seperti
penyepuhan atau pelapisan atau elektroplating, sintesa atau pembuatan zat tertentu dan
pemurnian logam.
Elektroplating atau penyepuhan merupakan proses pelapisan permukaan logam dengan
logam lain. Misalnya tembaga dilapisi dengan emas dengan menggunakan elektrolit larutan emas
(AuCl3).
Emas (anoda) : Au(s) Au3+(aq) + 3e (oksidasi)
Tembaga (katoda) : Au3+(aq) + 3e Au(s) (reduksi)
Dari persamaan reaksi tampak pada permukaan tembaga akan terjadi reaksi reduksi Au3+
(aq) + 3e Au(s). Dengan kata lain emas Au terbentuk pada permukaan tembaga dalam bentuk
lapisan tipis. Ketebalan lapisan juga dapat diatur sesuai dangan lama proses reduksi. Semakin
lama maka lapisan yang terbentuk semakin tebal.
Sintesa atau pembuatan senyawa basa, cara elektrolisa merupakan teknik yang handal.
Misalnya pada pembuatan logam dari garam yaitu K, Na dan Ba dari senyawa KOH, NaOH,
Ba(OH)2, hasil samping dari proses ini adalah terbentuknya serta pada pembuatan gas H2, O2,
dan Cl2. Seperti reaksi yang telah kita bahas. Dalam skala industri, pembuatan Cl2 dan NaOH
dilakukan dengan elektrolisis larutan NaCl dengan reaksi sebagai berikut:
Proses pemurnian logam juga mengandalkan proses elektrolisa. Proses pemurnian
tembaga merupakan contoh yang menarik dan mudah dilaksanakan. Pemurnian ini menggunakan
elektrolit yaitu CuSO4. Pada proses ini tembaga yang kotor dipergunakan sebagai anoda, dimana
zat tersebut akan mengalami oksidasi, Cu(s) Cu2+(aq) + 2e
16

Reaksi oksidasi ini akan melarutkan tembaga menjadi Cu2+. Dilain pihak pada katoda
terjadi reaksi reduksi Cu2+ menjadi tembaga murni. Mula-mula Cu2+berasal dari CuSO4, dan
secara terus menerus digantikan oleh Cu2+ yang berasal dari pelarutan tembaga kotor. Proses
reaksi redoks dalam elektrolisis larutan CuSO4 adalah :
CuSO4(aq) Cu2+(aq) + SO42(aq)
Katoda: Cu2+(aq) + 2e Cu(s)
Anoda : Cu(s) Cu2+(aq) + 2e
Pengotor tembaga umumnya terdiri dari perak, emas, dan platina. Oleh karena E0 unsur
Ag, Pt dan Au > dari E0 Cu, maka ketiga logam tidak larut dan tetap berada di anoda biasanya
berupa lumpur. Demikian juga jika pengotor berupa Fe atau Zn, unsur ini dapat larut namun
cukup sulit tereduksi dibandingkan Cu, sehingga tidak mengganggu proses reduksi Cu.

2.5.2. Penerapan Sel Volta pada aki


Aki atau accumulator merupakan sel volta yang tersusun atas elektroda Pb dan PbO,
dalam larutan asam sulfat yang berfungsi sebagai elektrolit. Pada aki, sel disusun dalam beberapa
pasang dan setiap pasang menghasilkan 2 Volt. Aki umumnya kita temui memiliki potensial
sebesar 6 Volt (kecil) sebagai sumber arus sepeda motor dan 12 V (besar) untuk mobil. Aki
merupakan sel yang dapat diisi kembali, sehingga aki dapat dipergunakan secara terus menerus.
Sehingga ada dua mekanisme reaksi yang terjadi. Reaksi penggunaan aki merupakan sel volta,
dan reaksi pengisian menggunakan arus listrik dari luar seperti peristiwa elektrolisa. Mekanisme
reaksi ditampilkan pada Bagan reaksi.

2.5.3. Penerapan Sel Volta Pada Baterai


Baterai atau sel kering merupakan salah satu sel volta, yaitu sel yang menghasilkan arus
listrik, berbeda dengan aki, batere tidak dapat diisi kembali. Sehingga batere juga disebut dengan
sel primer dan aki dikenal dengan sel sekunder. Batere disusun oleh Seng sebagai anoda, dan
17

grafit dalam elektrolit MnO2, NH4Cl dan air bertindak sebagai katoda. Reaksi yang terjadi pada
sel kering adalah : Sel bahan bakar merupakan bagian dari sel volta yang mirip dengan aki atau
batere, dimana bahan bakarnya diisi secara terus menerus, sehingga dapat dipergunakan secara
terus menerus [Link] baku dari sel bahan bakar adalah gas hidrogen dan oksigen, sel ini
digunakan dalam pesawat ruang angkasa, reaksi yang terjadi pada sel bahan bakar adalah :

a. Baterai Nikel-Kadmium
Baterai Nikel-Kadmium merupakan baterai kering yang dapat di isi [Link] sel yang
terjadi sebagai berikut:
Anode : Cd + 2OH-Cd(OH)2 + 2E
Katode

: NiO2 + 2H2O Cd(OH)2 + Ni(OH)2Cd + NiO2 + 2H2O Cd(OH)2 + Ni(OH)2

Hasil-hasil reaksi pada baterai nikel-kadmium merupakan zat padat yang melekat pada kedua
[Link] dilakukan dengan membalik arah aliran electron pada kedua electrode.

b. Baterai Perak Oksida


Susunan baterai perak oksida yaitu Zn (sebagai anode), Ag2O (sebagai katode), dan pasta
KOH

sebagai
Anode
Katode

[Link]

Zn
:

+
Ag2O

sebagai

2OH+

H2O

Zn(OH)2
+

2e

2Ag

berikut:
+

2e

2OH-

Baterai perak oksida memiliki potensial sel sebesar 1,5 volt dan bertahan dalam waktu
yang [Link] baterai jenis ini adalah untuk arloji,kalkulator dan berbagai jenis peralatan
elektrolit lainnya.
2.5.4. Proses dalam penyepuhan
Elektroplating atau penyepuhan merupakan proses pelapisan permukaan logam dengan
logam lain. Misalnya tembaga dilapisi dengan emas dengan menggunakan elektrolit larutan emas
(AuCl3).

18

Emas (anoda)

: Au(s) Au3+(aq) + 3e (oksidasi)

Tembaga (katoda)

: Au3+(aq) + 3e Au(s) (reduksi)

Dari persamaan reaksi tampak pada permukaan tembaga akan terjadi reaksi reduksi Au3+(aq) +
3e Au(s). Dengan kata lain emas Au terbentuk pada permukaan tembaga dalam bentuk lapisan
tipis. Ketebalan lapisan juga dapat diatur sesuai dangan lama proses reduksi. Semakin lama maka
lapisan yang terbentuk semakin tebal.
2.5.5. Proses Sintesa
Sintesa atau pembuatan senyawa basa, cara elektrolisa merupakan teknik yang handal.
Misalnya pada pembuatan logam dari garam yaitu K, Na dan Ba dari senyawa KOH, NaOH,
Ba(OH)2, hasil samping dari proses ini adalah terbentuknya serta pada pembuatan gas H2, O2,
dan Cl2. Seperti reaksi yang telah kita bahas.

19

2.6. METODELOGI PERCOBAAN


2.6.1. PERALATAN PRAKTIKUM BESERTA FUNGSINYA
1. Sel elektrolit dan larutan CuSO4 yang fungsinya sebagai penghantar listrik.
2. Elektroda tembaga (Cu) dan alumunium (Al) yang mana tembaga berperan sebagai anoda
(ion positif), sedangkan alumunium berperan sebagai katoda (ion negatif).
3. Catu daya fungsinya sebagai sumber arus listrik.
4. Amperemeter fungsinya untuk mengukur besarnya arus listrik.
5. Dryer sebagai media pengering untuk menegeringkan lempengan tembaga.
6. Amplas fungsinya untuk memebersihkan plat katoda.
7. Neraca digital fungsinya untuk mengukur massa.

2.6.2. PROSEDUR PERCOBAAN


1. Plat katoda tembaga dibersihkan , masing masing plat ditimbang dan diberi tanda.
2. Katoda ekstra (Al) terlebih dahulu dipasang seperti gambar 1 dan besar arus ditentukan
dengan mengatur catu daya variable
3. Katoda ekstra diganti dengan katoda yang telah ditimbang, elektrolisis dilakukan selama
5 menit
4. Katoda dicelupkan ke dalam air ( jangan digosok-gosok supaya Cu yang menempel pada
katoda tidak berkurang ), kemudian keringkan dengan dryer.
5. Katoda ditimbang dan dicatat jumlah massa yang diendapkan
6. Langkah 1 sampai 5 dilakukan dengan variasi selama 7 dan 9 menit.
7. Langkah 1 sampai 6 diulangi dengan variasi arus listrik yang berbeda.

20

2.6.3 SKEMA ALAT


C

Keterangan :
A = Neraca digital
B = Sel elektrolit dan larutan CuSo4
C = Elektroda (Cu dan Al)
D = Amperemeter
E = Amplas
F = Dryer

21

2.7. DATA DAN PEMBAHASAN


2.7.1. DATA PENGAMATAN
Elektroda :

Logam Katoda : Cu
Logam Anoda : Cu

Larutan elektrolit : CuSO4 1 Mol


A. Variasi Waktu
N
o

Wa
ktu

rus (A)

(menit)
1

Massa Katoda
Se
Sesu

Massa Anoda
Se
Ses

belum (gr)
14

dah (gr)
144,

belum (gr)
12

udah (gr)
127,

4,33

46

8,07

94

14
4,20

144,
40

14
4,30

12
7,90

144,
57

127,
68

12
7,65

127,
28

B. Variasi Arus
N
o

Wa
ktu

rus (A)

(menit)
1

Massa Katoda
Se
Sesu

Massa Anoda
Se
Ses

belum (gr)
14

dah (gr)
144,

belum (gr)
12

udah (gr)
127,

4,33

46

8,07

94

14
4,20

144,
40

14
4,30

12
7,90

144,
57

127,
68

12
7,65

127,
28

22

2.7.2. PERHITUNGAN
A. Menentukan Nilai Tara Kimia Listrik
A.1. Variasi Waktu
t = 3 menit = 180 s
I=2A
Katoda
maw = 144,33 gr
mak = 144,46 gr
m = |mak maw| = |144,46 gr 144,33 gr| = 0,13 gr
k

m
It
0,13 gr
( 2 A ) (180 s)

0,13 gr
360 As

= 3,61 x 10-4 gr/As

Anoda
maw = 128,07 gr
mak = 127,94 gr
m = |mak maw| = |127,94 gr 128,07 gr| = 0,13 gr
k =

m
It

23

0,13 gr
( 2 A ) (180 s)

0,13 gr
360 As

= 3,61 x 10-4 gr/As

t = 6 menit = 360 s
I = 2A
Katoda
Maw = 144,20 gr
Mak = 144,40 gr
m = |mak maw| = |144,40 gr 144,20 gr| = 0,20 gr
k

m
It

0,20 gr
( 2 A ) (360 s)

0,20 gr
720 As

= 2,78 10-4 gr/As

Anoda
Maw = 127,90 gr
Mak = 127,68 gr
m = |mak maw| = |127,68 gr 127,90 gr| = 0,22 gr
K =

m
It
0,22 gr
( 2 A ) (360 s)

0,22 gr
720 As

= 3,05 10-4 gr/As

24

t = 9 menit = 540 s
I=2A

Katoda
Maw = 144,30 gr
Mak = 144,57 gr
m = |mak maw| = |144,30 gr 144,57 gr| = 0,27 gr
k =

m
It
0,27 gr
( 2 A ) (540 s)

0,27 gr
1080 As

= 2,50 10-4 gr/As

Anoda
Maw = 127,65 gr
Mak = 127,28 gr
m = |mak maw| = |127,28 gr 127,65 gr| = 0,37 gr
k =

m
It
0,37 gr
( 2 A ) (540 s)

0,37 gr
1080 As

= 3,42 10-4 gr/As

A.2. Variasi Arus


I = 1,5 A
t = 5 menit = 300 s
Katoda

25

Maw = 144,44 gr
Mak = 144,64 gr
m = |mak maw| = |144,64 gr 144,44 gr| = 0,20 gr
m
It

k =

0,20 gr
( 1,5 A ) ( 300 s )

0,20 gr
450 As

= 4,44 10-4 gr/As

Anoda
Maw = 127,24 gr
Mak = 127,08 gr
m = |mak maw| = |127,08 gr 127,24 gr| = 0,16 gr
k =

m
It

0,16 gr
( 1,5 A ) ( 300 s )

0,16 gr
450 As

= 3,56 10-4 gr/As

I=3A
t = 5 menit = 300 s
Katoda
Maw = 144,55 gr
Mak = 144,90 gr
26

m = |mak maw| = |144,90 gr 144,55 gr| = 0,35 gr


k =

m
It

0,35 gr
( 3 A )(300 s)

0,35 gr
900 As

= 3,89 10-4 gr/As

Anoda
Maw = 127,02 gr
Mak = 126,75 gr
m = |mak maw| = |127,75 gr 127,02 gr| = 0,73 gr
k

m
It

0,73 gr
( 3 A )(300 s)

0,73 gr
900 As

= 8,11 10-4 gr/As

B. Menentukan Nilai Muatan Elementer


B.1 Variasi Waktu
Ar

= 63,5 gr/mol

=2A

Na

= 6,02 1023 atom/mol

= 3 menit = 180 s
27

Katoda
m = |mak maw| = |144,46 gr 144,33 gr| = 0,13 gr
e

Ar . I .t
2. m. Na

( 63,5 gr / mol ) ( 2 A ) (180 s)


23
2 ( 0,13 gr ) (6,02 10 atom/ mol)

22860 gr As /mol
23
1,56 10 gr atom/mol

= 14,65 10-20 As/atom


Anoda
m = |mak maw| = |144,46 gr 144,33 gr| = 0,13 gr
e

Ar . I .t
2. m. Na

( 63,5 gr / mol ) ( 2 A ) (180 s)


23
2 ( 0,13 gr ) (6,02 10 atom/ mol)

22860 gr As /mol
1,56 1023 gr atom/mol

= 14,65 10-20 As/atom

Ar

= 63,5 gr/mol

=2A

Na

= 6,02 1023 atom/mol

= 6 menit = 360 s

Katoda

28

m = |mak maw| = |144,40 gr 144,20 gr| = 0,20 gr


Ar . I .t
2. m. Na

e=

( 63,5 gr /mol ) ( 2 A ) (360 s)


23
2 ( 0,20 gr ) (6,02 10 atom/ mol)

45720 gr As/mol
2,408 1023 gr atom/mol

= 18,99 10-20 As/atom


Anoda
m = |mak maw| = |127,68 gr 127,90 gr| = 0,22 gr
Ar . I .t
2. m. Na

e=

( 63,5 gr / mol ) ( 2 A )(360 s)


23
2 ( 0,22 gr ) (6,02 10 atom / mol)

45720 gr As/mol
2,65 1023 gr atom/mol

= 17,25 10-20 As/atom

Ar

= 63,5 gr/mol

=2A

Na

= 6,02 1023 atom/mol

= 9 menit = 540 s

Katoda
m = |mak maw| = |144,30 gr 144,57 gr| = 0,27 gr

29

e=

Ar . I .t
2. m. Na

( 63,5 gr /mol ) ( 2 A ) (540 s)


2 ( 0,27 gr ) (6,02 1023 atom/mol)

68580 gr As /mol
3,2508 10 23 gr atom/mol

= 21,09 10-20 As/atom


Anoda
m = |mak maw| = |127,28 gr 127,65 gr| = 0,37 gr
e=

Ar . I .t
2. m. Na

( 63,5 gr /mol ) ( 2 A ) (360 s)


2 ( 0,37 gr ) (6,02 1023 atom/mol)

45720 gr As/mol
23
4,4548 10 gr atom/mol

= 15,39 10-20 As/atom


B.2. Variasi Arus
Ar

= 63,5 gr/mol

= 1,5 A

Na

= 6,02 1023 atom/mol

= 5 menit = 300 s

Katoda
m = |mak maw| = |144,64 gr 144,44 gr| = 0,20 gr

30

Ar . I .t
2. m. Na

e=

( 63,5 gr /mol ) ( 1,5 A ) (300 s)


2 ( 0,20 gr ) (6,02 1023 atom/mol)

28575 gr As /mol
2,408 1023 gr atom/mol

= 11,87 10-20 As/atom


Anoda
m = |mak maw| = |127,08 gr 127,24 gr| = 0,16 gr
Ar . I .t
2. m. Na

e=

( 63,5 gr /mol ) ( 1,5 A ) (300 s)


2 ( 0,16 gr ) (6,02 1023 atom/mol)

28575 gr As /mol
23
1,9264 10 gr atom/mol

= 14,83 10-20 As/atom

Ar

= 63,5 gr/mol

= 3A

Na

= 6,02 1023 atom/mol

= 5 menit = 300 s

Katoda
m = |mak maw| = |144,90 gr 144,55 gr| = 0,35 gr

31

e=

Ar . I .t
2. m. Na

( 63,5 gr /mol ) ( 3 A ) (300 s)


2 ( 0,35 gr ) (6,02 1023 atom/mol)

57150 gr As/mol
4,214 1023 gr atom /mol

= 13,56 10-20 As/atom


Anoda
m = |mak maw| = |127,75 gr 127,02 gr| = 0,73 gr
e=

Ar . I .t
2. m. Na

( 63,5 gr /mol ) ( 3 A ) (300 s)


2 ( 0,73 gr ) (6,02 1023 atom/mol)

57150 gr As /mol
23
8,789210 gr atom/mol

= 6,50 10-20 As/atom

2.7.3 TABEL HASIL PERHITUNGAN


[Link]. Variasi arus

32

N
o
1
2
3

t (s)

2A
2A
2A

180
360
540

m (gr)
Katoda Anoda
0,13
0,2
0,27

0,13
0,22
0,37

k (x 10-4 gr/As)

e (x 10-20 As/atom)

3.61
2.78
2.50

14.65
18.99
21.09

[Link]. Variasi waktu


N
o
1
2

t (s)

1.5 A
3A

300
300

m (gr)
Katoda Anoda
0,2
0,35

0,16
0,73

k (x 10-4
gr/As)
4,44
3,89

e (x 10-20 As/atom)
11,83
13,56

2.7.4. ANALISA
Dilakukan percobaan untuk meenetukan muatan elementer (e) denag elektrolis dan
menentukan tara kalor listrik dan larutan Tembaga Sulfat (CuSo4). Pengambilan data dilakukan
denagn memvariasikan waktu dengan kuat arus tetap atau konstan sebesar 2A dan
memvariasikan kuat arus dengan waktu konstan selama 5 menit.
Percobaan dilakukan dengan menyembunyikan elektroda positif (anoda) dan elektroda
negarif (katoda) pada catu daya dengan kutub yang sesuai agar data tidak salah dan ditentukan
kuat arus yang diinginkan. Lalu elektroda positif (anoda) dan elektroda negatif (katoda) yang
sebelumnya telah ditentukan massanya dibiarkan bereaksi selama waktu yang telah ditentukan.
Selama proses berlansung diamati adanya bagian dari elektroda positif (anoda) yang terurai dan
akhirnya menegndap di elektroda negatif (katoda). Setelah waktu habis, kedua elektroda
diangkat dan dikeringkan dengan dryer hingga benar-benar kering dan kemudian ditimbang dan
didapatkan massa setelah elektrolisis.
Dari semua hasil percobaan, didapatkan data-data yang digunakan untuk menentukan tara
kalor listrik dan muatan elementer masing-masing elektroda (anoda dan katoda)
Untuk percobaan pertama dengan 3 data variasi waktu selama 3 menit, 6 menit dan 9
menit didapatkan nilai tara kalor listrik untuk katoda sebesar 3,61 x 10 -4 gr/As, 2,78 x 10-4 gr/As,
33

2,5 x 10-4 gr/As, dan anoda yang didapatkan nilai tara kalor listrik sebesar 3.61 x 10 -4 gr/As, 3.05
x 10-4 gr/As, 3,42 x 10-4 gr/As.
Sedangkan untuk muatan elementer, untuk ketiga data variasi waktu, diperoleh hasil
sebesar 14.65 x 10-20 As/atom, 18.99 x 10-20 As/atom, 21.09 x 10-20 As/atom untuk elektoda
negatif (katoda) dan hasil sebesar 14.65 x 10-20 As/atom, 17.25 x 10-20 As/atom, 15.39 x 10-20
As/atom untuk elektroda positif (anoda).
Pada percobaan dengan memvariasiakan waktu ini, yaitu pada waktu 6 menit, terjadi
kekeliruan data yang dikarenakan salah menghubungkan kabel pada catu daya denagn elektroda.
Akibatnya pada proses elektrolisis, elektroda positif (anoda) yang terjadi endapan bukan di
elektroda negatif (katoda). Solusinya segera mengulangi perciobaan kedua dengan menimbang
dan mengamplas lagi batang katoda dan anoda sebeum proses elektrolisis diulangai.
Selanjutnya pada percobaan variasi arus , didapatkan hasil untuk tara kalor listrik pada
katoda sebesar 4,44 x 10-4 gr/As dan 3,89 x 10-4 gr/As, untuk batang anoda didapatkan hasil 3,56
x 10-4 gr/As dan 8,11 x 10-4 gr/As. Pada perhitungan untuk menetukan muatan elementer pada
katoda terhitung sebesar 11.87 x 10-20 As/atom, 13.56 x 10-20 As/atom dan pada anoda terhitung
sebesar 11.87 x 10-20 As/atom dan 6.50 x 10-20 As/atom.
Setelah semua data terhitung dan diambil rata-ratanya masing-masing variasi, dan dan
kemudian dibandingkan dengan literatur yang ada. Untuk variasi waktu didapatkan rata-rata nilai
muatan elementer sebesar 18,24 x 10-20. Nilai ini tidak terlalu jauh berbeda dengan literatur
sebesar 16 x 10-20 untuk katoda dan bila dibandingkan dengan anoda sedikit lebih kecil yaiti
15,76 x 10-20.
Untuk varisai arus didapatkan rata-rata nilai muatan elementer pada batang katoda
sebesar 12,72 x 10-20. Jauh lebih kecil dari literatur , dan pada batang anoda didapatkan rata-rata
sebesar 10.67 x 10-20, juga jauh lebih kecil dan nilai yang ada pada literatur yang diperoleh.
Percobaan nilai yang diperoleh, mungkin disebabkan oleh kesalahan-kesalahan serta
ketidak telitian selama proses, mulai dari mengamplas batang elektroda yang mungkin kurang
bersih, kesalahan dalam menghubungkan catu daya dengan elektroda yang membuat data

34

menjadi keliru, maupun saat proses pengeringan yang kurang kering., sehingga hasil timbangan
menjadi tidak akurat, dan perhitungan menjadi salah.
Proses elektrolisis, digunakan batangan tembaga sebagai elektroda positif (anoda) dan
elektroda negatif (kattoda) dan menggunakan larutan elektrolit yaitu larutan tembaga sulfat
(CuSo4).
Menempel / mengendapnya tembaga pada elektroda negatif (katoda) saat proses
elektrolisis inilah yang mempengaruhi massa katoda setelah di elektrolisis, bagitupun dengan
anoda yang terurai, akan memperkecil massanya.
Jika di analisis data-data perhitungan, didapatkan bahwa tara kalor listrik di poengaruhi
oleh waktu dan arus. Dengan memvariasikan waktu dan arus. Dengan memvarisaikan waktu dan
waktu, pengaruhnya makin terlihat. Semakin lama waktu yang digunakan dalam proses
elektrolisis, akan semakin memperkecil nilai tara kimia listriknya. Artinya, makin lama waktu,
membuat zat yang mengendap pada katoda atau massa zat yang dipindahkan oleh muatan satu
colomb selama proses elektrolisis makin / berkurang.
Begitupun dengan kuat arus, samadengan waktu, makin kuat/besar arus yang digunakan,
membuatnilai tara kimia listrik makin kecil
Namun hal ini berbanding terbalik dengan muatan elementernya. Waktu yang makin
besar/ lama dan arus yang makin besar membuat nilai muatan elementernya makin besar.

BAB II
PENUTUP

7.1. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
35

Tara kimia listrik berbanding terbalik sengan besarnya waktu elektrolisis.


Tara kimia listrik berebanding terbalik dengan arus yang dialirkan pada saat elektrolisis.
Tara kimia listrik berbanding lurus dengan perubahan masa elektroda.
Besarnya muatan elementer dipenegaruhi oleh perubahan massa, arus, waktu, massa
relatif dan mol zat yang digunakan.

7.2. SARAN
Untuk kelancaran praktikum selanjutnya, praktikan disarankan agar :

Lebih menguasai bahan praktikum, serta memahami cara penggunaaan alat


Lebih teliti dalam melakukan praktikum dan dalam perhitungan agar hasil yang
diperoleh lebih akurat.

36

Anda mungkin juga menyukai