Prinsip dan Penggunaan Elektrolisis
Prinsip dan Penggunaan Elektrolisis
PENDAHULUAN
Pengertian Elektrolisa
Sel Sel Yang Terdapat Dalam Elektrolisa
Cara Kerja Elektrolisa
Penggunaan Sel Sel Elektrolisa Dalam Kehidupan Sehari Hari
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Dengan menggunakan daftar potensial elektroda standar, dapat diketahui apakah rekasi
redoks dapat berlangsung atau tidak, yaitu apabila potensial reaksi redoksnya positif, maka reaksi
redoks tersebut dapat berlangsung. Sebalikany jika potensial reaksi redoksnya negatif, maka
reaksi tidak dapat berlangsung.
Pada suatu percobaan elektrolisa, reaksi yang tejadi pada katoda bergantung pada
kecendrungan tejadinya reaksi reduksi. Sebagi contoh, elektrolisa NaCl pada berbagai keadaan
menunjukkan pentingnya suasana sisten yang dielektrolisis. Jika larutan NaCl encer dielektrolisis
menggunakan elektroda platina, maka reaksi pada kedua elektroda adalah :
Anoda : 2 H2O
O2 + 4 H+ + 4e
Katoda : 2 H2O + 2e H2 + 2 OHJika larutan cukup pekat, reaksi-reaksi yang terjadi adalah :
Anoda : 2 Cl-
Cl2 + 2e
Katoda : 2 H2O + 2e H2 + 2 OHJika larutan NaCl dielektrolisis, maka reaksi pada elektroda adalah :
Anoda : 2 ClKatoda : Na+ + e
Cl2 + 2e
Na
Elektroda merupakan tempat terjadinya reaksi redoks. Potensial reaksi redoks sebagai
penentu terjadinya/tidak terjadinya suatu reaksi. Bentuk rangkaian alat elektrolisis dapat dilihat
pada skema alat.
Reaksi reduksi untuk ion H+ ialah menjadi unsur H2 atau unsur hidrogen. Sedangkan
reaksi reduksi untuk ion-ion logam, baik logam alkali atau alkali tanah yang mengalami reaksi
adalah air. Beberapa syarat yang terkait dengan kemudahan ion logam tereduksi dibandingkan
ion H+.
Jika kation lebih mudah dioksidasi (melepaskan electron) maka air akan tereduksi. Ionion tersebut meliputi golongan IA dan IIA, seperti ion-ion logam alkali dan alkali tanah, terutama
Na+, K+, Ca2+, Sr2+, dan Ba2+.
Elektrolit bJika ion-ion itu lebih mudah tereduksi seperti ion-ion Cu 2+, Ni2+ dan Ag+.
Reaksi yang terjadi dipengaruhi oleh jenis elektroda yang dipakai dan jenis anion yang dipakai.
2. Massa suatu zat dari suatu elektroda berbanding langsung dengan jumlah muatan yang
melalui larutan tersebut.
Jika valensi ion adalah z, maka muatan untuk atom bervalensi lebih dari satu ion adalah z
e, sehingga muatan yang di angkut oleh semua ion yang mengendap adalah :
q=
m
A
NA . z . e
AB
Ion yang mengandung muatan positif akan menempel pada elektroda negatif. Dengan
menimbang elektroda sebelum dan sesudah dialiri arus listrik maka dapat diketahui jumlah
logam yang menempel pada elektroda tersebut sesuai dengan hukum Faraday :
W=z.I.t
Dimana :
W = jumlah massa yang diendapkan
z = tara kimia listrik
t = waktu
I = arus listrik
Tara kimia listrik adalah sel elektrolit atau larutan elektrolit yang terdiri dari larutan
garam seperti CuSO4 yang dialiri arus listrik searah dan sel-sel elekrolit itu akan terurai dan
berkumpul pada elekroda-elektrodanya. Cara menghitung besarnya tara kimia listrik digunakan
rumus :
Z=
W
I .t
Percobaan elektrolisis diatas dapat digunakan untuk menghitung muatan elementer dari
permukaan percobaan milikan. Setiap tembaga ion menerima muatan electron dari katoda, yang
mengakibatkan ion tersebut menjadi ion netral dan menempel pada elektroda tersebut.
Apabila terdapat N atom Cu yang dipindahkan, jumlah muatan listrik yang berpindah
ialah sebanyak 2 e, maka muatan elementer tersebut dapat dihitung dengan :
E=
A.I .t
2W . N
Dimana :
E = muatan elementer (coulomb)
A= Berat atom Cu (63,5 gr/mol)
W= Jumlah massa yang ditetapkan
N= Bilangan Avogadro
= 6,02 x 1023 atom/mol
Apabila dua elektrolisa dialiri arus listrik dalam jumlah yang sama, maka perbandingan
massa zat yang dihasilkan sebanding dengan massa ekivalen zat tersebut.
Pernyataan di atas merupakan bunyi hukum Faraday II dengan persamaan:
W1 : W2 = e1 : e2
Atau
W1
W2
e1
e2
Hukum Faraday I
Massa zat yang terbentuk sama dengan kuat arus yang mengalir pada elektrolisis.
Hukum Faraday II
Massa suatu zat terlarut dari suatu elektroda berbanding lurus dengan jumlah muatan yang
melalui larutan tersebut.
Percobaan elektrolisa dapat digunakan untuk menghitung besar muatan elementer . Setiap
ion tembaga menerima dua muatan electron dari katoda yang akhirnya mengakibatkan ion ion
itu menjadi netral (atom netral) yang menempel pada anoda.
Potensial elektroda pada zat elektrolit adalah suatu ukuran terhadap besaranya
kecenderungan suatu unsur untuk melepaskan atau mempertahankan electron.
Proses elektrolisa ini dapat digunakan antara lain untuk pemurnian logam, produksi
berbagai jenis logam, seperti Mg, Al dan logam lainnya, bisa untuk penyepuhan dengan
menggunakan logam yang menjadi anoda dan katoda.
Karena pada katode dan anode yang bereaksi adalah air, semakin lama air semakin
berkurang sehingga perlu ditambahkan. Perlu diingat bahwa walaupunyang bereaksi air, tidak
berarti elektrolit Na2SO4 tidak diperlukan. Elektrolit iniberguna sebagai penghantar arus listrik.
Au (s)
Proses yang terjadi yaitu oksidasi logam emas (anode) menjadi Au3+(aq) Kationini akan
bergerak ke katode menggantikan kation Au3+ yang direduksidi [Link] Au3+ di katode
direduksi membentuk endapan logam emas yang melapisi logam atau cincin besi. Proses ini
cukup murah karena emas yang melapisi besihanya berupa lapisan tipis
[Link]. Proses Pemurnian Logam Kotor
Proses pemurnian logam kotor banyak dilakukan dalm pertambangan . logam transisi
yang kotor dapat dimurnikan dengan cara menempatkannya sebagai anode dan logam murni
sebagai katode. Elektrolit yang digunkan adalah elektrolit yang mengandung kation logam yang
dimurnikan.
Contoh : prose pemurnian nikel menggunakan larutan NiSO4 . nikel murni digunakan
sebagai katode, sedangkan nikel kotor (logam yang dimurnikan ) digunakan sebagai anode.
Reaksi yang terjadi, yaitu:
NiSO4 (aq)
Ni (s)
Ni2+ (aq) + 2e-
Logam nikel yang kotor pada anode dioksidasi menjdi ion Ni2+. Kemudian ionNi2+ pada
katode direduksi membentuk logam Ni dan bergabung dengan katode yang merupakan logam
murni. Kation Ni2+ di anode bergerak ke daerah katode menggantikan kation yang direduksi.
Untuk mendapatkan logam nikel murni (di katode) h a r u s a d a p e n y a r i n g a n s e h i n g g g a
k o t o r a n (tanah, pasir dan lain-lain) hanya berada dianode dan tidak berpindah ke katode
sehingga daerah di katode merupakan daerah yang bersih.
Elektrolisa adalah reaksi non-spontan yang berjalan akibat adanya arus (aliran elektron)
eksternal yang dihasilkan oleh suatu pembangkit listrik.
Pada sel elektrolitik :
o Katoda bermuatan negatif atau disebut elektroda ()
o Terjadi reaksi reduksi
o Jenis logam tidak diperhatikan, kecuali logam Alkali (IA) dengan Alkali tanah(IIA), Al dan
Mn.
10
o Reaksi : 2 H+(aq) + 2e- H2(g) ion golongan IA/IIA tidak direduksi; dan penggantinya air 2
H2O(l) + 2 e- basa + H2(g) ion-ion lain direduksi. Anoda bermuatan positif (+) atau
disebut elektroda +
o Terjadi reaksi oksidasi
o Jenis logam diperhatikan
Anoda : Pt atau C ( elektroda inert )
Reaksi:
4OH- (aq) 2H2O(l) + O2(g) + 4e Gugus asam beroksigen tidak teroksidasi, diganti oleh 2 H2O(l) asam + O 2(g)
Golongan VIIA (halogen) gas
Anoda bukan : Pt atau C
Reaksi : bereaksi dengan anoda membentuk garam atau senyawa lain.
Syaratnya :
- Suatu reaksi berlangsung spontan jika DGL>0
- Energi bebas Go yang diharapkan agar reaksi berjalan maka Go< 0 atau (-).
Go pada kesetimbangan yaitu : -RT ln K atau
Go = -nFE (larutan elektrolit atau mengandung listrik)
Persamaan Nerts :
Go = -RT ln K
Go = -nFE
Go = Go
-nFE = -RT ln K
Elektroda inert, seperti kalsium (Ca), potasium, grafit (C), Platina (Pt), dan emas (Au).
Elektroda aktif, seperti seng (Zn), tembaga (Cu), dan perak (Ag).
13
Elektrolitnya dapat berupa larutan berupa asam, basa, atau garam, dapat pula leburan
garam halida atau leburan oksida. Kombinasi antara elektrolit dan elektroda menghasilkan tiga
kategori penting elektrolisis, yaitu:
a. Elektrolisis larutan dengan elektroda inert
b. Elektrolisis larutan dengan elektroda aktif
c. Elektrolisis leburan dengan elektroda inert
Pada elektrolisis, katoda merupakan kutub negatif dan anoda merupakan kutub positif.
Pada katoda akan terjadi reaksi reduksi dan pada anoda terjadi reaksi oksidasi.
14
Merupakan reaksi oksidasi. Ion-ion yang bergerak ke anoda adalah ion-ion negatif
(anion). Reaksi yang terjadi dipengaruhi oleh jenis elektroda yang dipakai dan jenis anion.
Anion: ion OH-dan ion sisa asam.
Jika anoda terdiri dari platina, maka anoda ini tidak mengalami perubahan melainkan ion
negatif yang dioksidasi
Ion OH- akan dioksidasi menjadi H2O dan O2.
4 OH- 2 H2O + O2 + 4eIon sisa asam akan dioksidasi menjadi molekulnya. Misalnya: Cl- dan Br-2
Cl- Cl2 + 2e
2 Br- Br2 + 2e
Ion sisa asam yang mengandung oksigen. Misalnya: SO42-, PO43-, NO3-, tidak mengalami
oksidasi maka yang mengalami oksidasi adalah air.
2 H2O 4 H+ + O2 + 4e
Bila elektroda reaktif logam ini akan melepas elektron dan memasuki larutan sebagai ion
positif. Prinsip ini digunakan dalam proses penyepuhan dan pemurnian suatu logam.
Perhatikan proses elektrolisa larutan garam Natrium Sulfat dibawah ini,
Na2SO4 2Na+ + SO42Dari tabel tampak bahwa Hidrogen lebih mudah tereduksi dibandingkan logam Natrium.
Demikian pula jika kita bandingkan antara anion SO42- dengan air, sehingga air akan
teroksidasi. Na lebih aktif dari H sehingga sukar tereduksi, dan SO42- sukar teroksidasi.
Hasil elektrolisis dari larutan Na2SO4 adalah:
-
Pada katoda terjadi gas Hidrogen (H2) dari hasil reduksi H+ dalam bentuk H2O.
Pada Anoda terjadi gas O2 hasil oksidasi dari O2- dalam bentuk H2O.
15
Karena terjadi perubahan air menjadi gas hidrogen dan oksigen, semakin lama air semakin
berkurang, sehingga larutan garam Na2SO4 semakin pekat.
Reaksi oksidasi ini akan melarutkan tembaga menjadi Cu2+. Dilain pihak pada katoda
terjadi reaksi reduksi Cu2+ menjadi tembaga murni. Mula-mula Cu2+berasal dari CuSO4, dan
secara terus menerus digantikan oleh Cu2+ yang berasal dari pelarutan tembaga kotor. Proses
reaksi redoks dalam elektrolisis larutan CuSO4 adalah :
CuSO4(aq) Cu2+(aq) + SO42(aq)
Katoda: Cu2+(aq) + 2e Cu(s)
Anoda : Cu(s) Cu2+(aq) + 2e
Pengotor tembaga umumnya terdiri dari perak, emas, dan platina. Oleh karena E0 unsur
Ag, Pt dan Au > dari E0 Cu, maka ketiga logam tidak larut dan tetap berada di anoda biasanya
berupa lumpur. Demikian juga jika pengotor berupa Fe atau Zn, unsur ini dapat larut namun
cukup sulit tereduksi dibandingkan Cu, sehingga tidak mengganggu proses reduksi Cu.
grafit dalam elektrolit MnO2, NH4Cl dan air bertindak sebagai katoda. Reaksi yang terjadi pada
sel kering adalah : Sel bahan bakar merupakan bagian dari sel volta yang mirip dengan aki atau
batere, dimana bahan bakarnya diisi secara terus menerus, sehingga dapat dipergunakan secara
terus menerus [Link] baku dari sel bahan bakar adalah gas hidrogen dan oksigen, sel ini
digunakan dalam pesawat ruang angkasa, reaksi yang terjadi pada sel bahan bakar adalah :
a. Baterai Nikel-Kadmium
Baterai Nikel-Kadmium merupakan baterai kering yang dapat di isi [Link] sel yang
terjadi sebagai berikut:
Anode : Cd + 2OH-Cd(OH)2 + 2E
Katode
Hasil-hasil reaksi pada baterai nikel-kadmium merupakan zat padat yang melekat pada kedua
[Link] dilakukan dengan membalik arah aliran electron pada kedua electrode.
sebagai
Anode
Katode
[Link]
Zn
:
+
Ag2O
sebagai
2OH+
H2O
Zn(OH)2
+
2e
2Ag
berikut:
+
2e
2OH-
Baterai perak oksida memiliki potensial sel sebesar 1,5 volt dan bertahan dalam waktu
yang [Link] baterai jenis ini adalah untuk arloji,kalkulator dan berbagai jenis peralatan
elektrolit lainnya.
2.5.4. Proses dalam penyepuhan
Elektroplating atau penyepuhan merupakan proses pelapisan permukaan logam dengan
logam lain. Misalnya tembaga dilapisi dengan emas dengan menggunakan elektrolit larutan emas
(AuCl3).
18
Emas (anoda)
Tembaga (katoda)
Dari persamaan reaksi tampak pada permukaan tembaga akan terjadi reaksi reduksi Au3+(aq) +
3e Au(s). Dengan kata lain emas Au terbentuk pada permukaan tembaga dalam bentuk lapisan
tipis. Ketebalan lapisan juga dapat diatur sesuai dangan lama proses reduksi. Semakin lama maka
lapisan yang terbentuk semakin tebal.
2.5.5. Proses Sintesa
Sintesa atau pembuatan senyawa basa, cara elektrolisa merupakan teknik yang handal.
Misalnya pada pembuatan logam dari garam yaitu K, Na dan Ba dari senyawa KOH, NaOH,
Ba(OH)2, hasil samping dari proses ini adalah terbentuknya serta pada pembuatan gas H2, O2,
dan Cl2. Seperti reaksi yang telah kita bahas.
19
20
Keterangan :
A = Neraca digital
B = Sel elektrolit dan larutan CuSo4
C = Elektroda (Cu dan Al)
D = Amperemeter
E = Amplas
F = Dryer
21
Logam Katoda : Cu
Logam Anoda : Cu
Wa
ktu
rus (A)
(menit)
1
Massa Katoda
Se
Sesu
Massa Anoda
Se
Ses
belum (gr)
14
dah (gr)
144,
belum (gr)
12
udah (gr)
127,
4,33
46
8,07
94
14
4,20
144,
40
14
4,30
12
7,90
144,
57
127,
68
12
7,65
127,
28
B. Variasi Arus
N
o
Wa
ktu
rus (A)
(menit)
1
Massa Katoda
Se
Sesu
Massa Anoda
Se
Ses
belum (gr)
14
dah (gr)
144,
belum (gr)
12
udah (gr)
127,
4,33
46
8,07
94
14
4,20
144,
40
14
4,30
12
7,90
144,
57
127,
68
12
7,65
127,
28
22
2.7.2. PERHITUNGAN
A. Menentukan Nilai Tara Kimia Listrik
A.1. Variasi Waktu
t = 3 menit = 180 s
I=2A
Katoda
maw = 144,33 gr
mak = 144,46 gr
m = |mak maw| = |144,46 gr 144,33 gr| = 0,13 gr
k
m
It
0,13 gr
( 2 A ) (180 s)
0,13 gr
360 As
Anoda
maw = 128,07 gr
mak = 127,94 gr
m = |mak maw| = |127,94 gr 128,07 gr| = 0,13 gr
k =
m
It
23
0,13 gr
( 2 A ) (180 s)
0,13 gr
360 As
t = 6 menit = 360 s
I = 2A
Katoda
Maw = 144,20 gr
Mak = 144,40 gr
m = |mak maw| = |144,40 gr 144,20 gr| = 0,20 gr
k
m
It
0,20 gr
( 2 A ) (360 s)
0,20 gr
720 As
Anoda
Maw = 127,90 gr
Mak = 127,68 gr
m = |mak maw| = |127,68 gr 127,90 gr| = 0,22 gr
K =
m
It
0,22 gr
( 2 A ) (360 s)
0,22 gr
720 As
24
t = 9 menit = 540 s
I=2A
Katoda
Maw = 144,30 gr
Mak = 144,57 gr
m = |mak maw| = |144,30 gr 144,57 gr| = 0,27 gr
k =
m
It
0,27 gr
( 2 A ) (540 s)
0,27 gr
1080 As
Anoda
Maw = 127,65 gr
Mak = 127,28 gr
m = |mak maw| = |127,28 gr 127,65 gr| = 0,37 gr
k =
m
It
0,37 gr
( 2 A ) (540 s)
0,37 gr
1080 As
25
Maw = 144,44 gr
Mak = 144,64 gr
m = |mak maw| = |144,64 gr 144,44 gr| = 0,20 gr
m
It
k =
0,20 gr
( 1,5 A ) ( 300 s )
0,20 gr
450 As
Anoda
Maw = 127,24 gr
Mak = 127,08 gr
m = |mak maw| = |127,08 gr 127,24 gr| = 0,16 gr
k =
m
It
0,16 gr
( 1,5 A ) ( 300 s )
0,16 gr
450 As
I=3A
t = 5 menit = 300 s
Katoda
Maw = 144,55 gr
Mak = 144,90 gr
26
m
It
0,35 gr
( 3 A )(300 s)
0,35 gr
900 As
Anoda
Maw = 127,02 gr
Mak = 126,75 gr
m = |mak maw| = |127,75 gr 127,02 gr| = 0,73 gr
k
m
It
0,73 gr
( 3 A )(300 s)
0,73 gr
900 As
= 63,5 gr/mol
=2A
Na
= 3 menit = 180 s
27
Katoda
m = |mak maw| = |144,46 gr 144,33 gr| = 0,13 gr
e
Ar . I .t
2. m. Na
22860 gr As /mol
23
1,56 10 gr atom/mol
Ar . I .t
2. m. Na
22860 gr As /mol
1,56 1023 gr atom/mol
Ar
= 63,5 gr/mol
=2A
Na
= 6 menit = 360 s
Katoda
28
e=
45720 gr As/mol
2,408 1023 gr atom/mol
e=
45720 gr As/mol
2,65 1023 gr atom/mol
Ar
= 63,5 gr/mol
=2A
Na
= 9 menit = 540 s
Katoda
m = |mak maw| = |144,30 gr 144,57 gr| = 0,27 gr
29
e=
Ar . I .t
2. m. Na
68580 gr As /mol
3,2508 10 23 gr atom/mol
Ar . I .t
2. m. Na
45720 gr As/mol
23
4,4548 10 gr atom/mol
= 63,5 gr/mol
= 1,5 A
Na
= 5 menit = 300 s
Katoda
m = |mak maw| = |144,64 gr 144,44 gr| = 0,20 gr
30
Ar . I .t
2. m. Na
e=
28575 gr As /mol
2,408 1023 gr atom/mol
e=
28575 gr As /mol
23
1,9264 10 gr atom/mol
Ar
= 63,5 gr/mol
= 3A
Na
= 5 menit = 300 s
Katoda
m = |mak maw| = |144,90 gr 144,55 gr| = 0,35 gr
31
e=
Ar . I .t
2. m. Na
57150 gr As/mol
4,214 1023 gr atom /mol
Ar . I .t
2. m. Na
57150 gr As /mol
23
8,789210 gr atom/mol
32
N
o
1
2
3
t (s)
2A
2A
2A
180
360
540
m (gr)
Katoda Anoda
0,13
0,2
0,27
0,13
0,22
0,37
k (x 10-4 gr/As)
e (x 10-20 As/atom)
3.61
2.78
2.50
14.65
18.99
21.09
t (s)
1.5 A
3A
300
300
m (gr)
Katoda Anoda
0,2
0,35
0,16
0,73
k (x 10-4
gr/As)
4,44
3,89
e (x 10-20 As/atom)
11,83
13,56
2.7.4. ANALISA
Dilakukan percobaan untuk meenetukan muatan elementer (e) denag elektrolis dan
menentukan tara kalor listrik dan larutan Tembaga Sulfat (CuSo4). Pengambilan data dilakukan
denagn memvariasikan waktu dengan kuat arus tetap atau konstan sebesar 2A dan
memvariasikan kuat arus dengan waktu konstan selama 5 menit.
Percobaan dilakukan dengan menyembunyikan elektroda positif (anoda) dan elektroda
negarif (katoda) pada catu daya dengan kutub yang sesuai agar data tidak salah dan ditentukan
kuat arus yang diinginkan. Lalu elektroda positif (anoda) dan elektroda negatif (katoda) yang
sebelumnya telah ditentukan massanya dibiarkan bereaksi selama waktu yang telah ditentukan.
Selama proses berlansung diamati adanya bagian dari elektroda positif (anoda) yang terurai dan
akhirnya menegndap di elektroda negatif (katoda). Setelah waktu habis, kedua elektroda
diangkat dan dikeringkan dengan dryer hingga benar-benar kering dan kemudian ditimbang dan
didapatkan massa setelah elektrolisis.
Dari semua hasil percobaan, didapatkan data-data yang digunakan untuk menentukan tara
kalor listrik dan muatan elementer masing-masing elektroda (anoda dan katoda)
Untuk percobaan pertama dengan 3 data variasi waktu selama 3 menit, 6 menit dan 9
menit didapatkan nilai tara kalor listrik untuk katoda sebesar 3,61 x 10 -4 gr/As, 2,78 x 10-4 gr/As,
33
2,5 x 10-4 gr/As, dan anoda yang didapatkan nilai tara kalor listrik sebesar 3.61 x 10 -4 gr/As, 3.05
x 10-4 gr/As, 3,42 x 10-4 gr/As.
Sedangkan untuk muatan elementer, untuk ketiga data variasi waktu, diperoleh hasil
sebesar 14.65 x 10-20 As/atom, 18.99 x 10-20 As/atom, 21.09 x 10-20 As/atom untuk elektoda
negatif (katoda) dan hasil sebesar 14.65 x 10-20 As/atom, 17.25 x 10-20 As/atom, 15.39 x 10-20
As/atom untuk elektroda positif (anoda).
Pada percobaan dengan memvariasiakan waktu ini, yaitu pada waktu 6 menit, terjadi
kekeliruan data yang dikarenakan salah menghubungkan kabel pada catu daya denagn elektroda.
Akibatnya pada proses elektrolisis, elektroda positif (anoda) yang terjadi endapan bukan di
elektroda negatif (katoda). Solusinya segera mengulangi perciobaan kedua dengan menimbang
dan mengamplas lagi batang katoda dan anoda sebeum proses elektrolisis diulangai.
Selanjutnya pada percobaan variasi arus , didapatkan hasil untuk tara kalor listrik pada
katoda sebesar 4,44 x 10-4 gr/As dan 3,89 x 10-4 gr/As, untuk batang anoda didapatkan hasil 3,56
x 10-4 gr/As dan 8,11 x 10-4 gr/As. Pada perhitungan untuk menetukan muatan elementer pada
katoda terhitung sebesar 11.87 x 10-20 As/atom, 13.56 x 10-20 As/atom dan pada anoda terhitung
sebesar 11.87 x 10-20 As/atom dan 6.50 x 10-20 As/atom.
Setelah semua data terhitung dan diambil rata-ratanya masing-masing variasi, dan dan
kemudian dibandingkan dengan literatur yang ada. Untuk variasi waktu didapatkan rata-rata nilai
muatan elementer sebesar 18,24 x 10-20. Nilai ini tidak terlalu jauh berbeda dengan literatur
sebesar 16 x 10-20 untuk katoda dan bila dibandingkan dengan anoda sedikit lebih kecil yaiti
15,76 x 10-20.
Untuk varisai arus didapatkan rata-rata nilai muatan elementer pada batang katoda
sebesar 12,72 x 10-20. Jauh lebih kecil dari literatur , dan pada batang anoda didapatkan rata-rata
sebesar 10.67 x 10-20, juga jauh lebih kecil dan nilai yang ada pada literatur yang diperoleh.
Percobaan nilai yang diperoleh, mungkin disebabkan oleh kesalahan-kesalahan serta
ketidak telitian selama proses, mulai dari mengamplas batang elektroda yang mungkin kurang
bersih, kesalahan dalam menghubungkan catu daya dengan elektroda yang membuat data
34
menjadi keliru, maupun saat proses pengeringan yang kurang kering., sehingga hasil timbangan
menjadi tidak akurat, dan perhitungan menjadi salah.
Proses elektrolisis, digunakan batangan tembaga sebagai elektroda positif (anoda) dan
elektroda negatif (kattoda) dan menggunakan larutan elektrolit yaitu larutan tembaga sulfat
(CuSo4).
Menempel / mengendapnya tembaga pada elektroda negatif (katoda) saat proses
elektrolisis inilah yang mempengaruhi massa katoda setelah di elektrolisis, bagitupun dengan
anoda yang terurai, akan memperkecil massanya.
Jika di analisis data-data perhitungan, didapatkan bahwa tara kalor listrik di poengaruhi
oleh waktu dan arus. Dengan memvariasikan waktu dan arus. Dengan memvarisaikan waktu dan
waktu, pengaruhnya makin terlihat. Semakin lama waktu yang digunakan dalam proses
elektrolisis, akan semakin memperkecil nilai tara kimia listriknya. Artinya, makin lama waktu,
membuat zat yang mengendap pada katoda atau massa zat yang dipindahkan oleh muatan satu
colomb selama proses elektrolisis makin / berkurang.
Begitupun dengan kuat arus, samadengan waktu, makin kuat/besar arus yang digunakan,
membuatnilai tara kimia listrik makin kecil
Namun hal ini berbanding terbalik dengan muatan elementernya. Waktu yang makin
besar/ lama dan arus yang makin besar membuat nilai muatan elementernya makin besar.
BAB II
PENUTUP
7.1. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
35
7.2. SARAN
Untuk kelancaran praktikum selanjutnya, praktikan disarankan agar :
36