0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan28 halaman

Pemetaan Geologi Jampang Tengah, Sukabumi

Dokumen tersebut membahas latar belakang dan tujuan dari penelitian pemetaan geologi di daerah Desa Jampang Tengah, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi daerah tersebut melalui pemetaan lapangan dan analisis data."

Diunggah oleh

Muhammad Reyhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan28 halaman

Pemetaan Geologi Jampang Tengah, Sukabumi

Dokumen tersebut membahas latar belakang dan tujuan dari penelitian pemetaan geologi di daerah Desa Jampang Tengah, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi daerah tersebut melalui pemetaan lapangan dan analisis data."

Diunggah oleh

Muhammad Reyhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Penelitian


Geologi merupakan ilmu yang mempelajari bumi baik permukaan maupun

bawah permukaan, meliputi proses pembentukkannya, hubungan antar tubuh


batuannya, hubungan struktural yang terjadi akibat aktivitas gaya endogen
(vulkanisme dan tektonik) atau pun proses sedimentasi serta denudasi yang
dipengaruhi oleh gaya eksogen, hingga proses interpretasi mengenai sejarah
keterbentukkannya, kajian konvensional dalam ilmu geologi untuk mengetahui
seluruh aspek tersebut dapat dialkukan dengan melakukan pemetaan geologi
permukaan.
Menurut Zakaria (2008) pemetaan geologi permukaan adalah proses
rekonstruksi kondisi geologi suatu daerah dengan hasil suatu Peta Geologi. Dalam
pemetaan geolosi, aspek kartografi (ilmu tentang peta, kompilasi peta,
pembesaran peta, desain peta, konstruksi teknis, dan lain-lain) dan aspek geologi
(litologi, stratigrafi, struktur geologi, geomorfologi dan geologi lingkungan)
digabungkan dan menghasilkan suatu visualisai mengenai keadaan geologi suatu
daerah berupa Peta Geologi (penyebaran horizontal) dan Penampang Satuan
Geologi (penyebaran vertikal).
Latar belakang utama pelaksanaan pemetaan geologi di daerah Desa
Jampang Tengah, Kecamatan Jampang Tengah dan sekitarnya, Kabupaten
Sukabumi, Provinsi Jawa Barat adalah sebagai pemahaman dalam segi kondisi
1

geologi daerah yang hendak dipetakan meliputi keadaan geologi yang


berkembang, proses pembentukannya, serta informasi geologi lain yang lebih
terperinci. Selain itu, pelaksanaan kegiatan pemetaan ini bertujuan sebagai
penerapan pada keadaan di lapangan atas nilai-nilai teori yang telah diajarkan
pada saat masa perkuliahan, serta pembuktian kondisi geologi berdasarkan
literatur dengan kenampakan langsung di lapangan.
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan di atas maka tema yang diajukan
dalam penelitian ini merupakan pemetaan geologi dengan judul Geologi Daerah
Jampang Tengah dan Sekitarnya, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten
Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
1.2

Identifikasi dan Rumusan Masalah


Dengan melihat geologi regional dari Desa Jampang Tengah, Kecamatan

Jampang Tengah dan sekitarnya, daerah ini termasuk ke dalam jalur fisiografi
Zona Pegunungan Selatan Jawa Barat yang merupakan dataran tinggi dengan
puncak di sebelah selatan Bandung. Terletak memanjang dari Pelabuhan Ratu
sampai Pulau Nusakambangan di sebelah selatan Segara Anakan dengan lebar

50 km menyempit hingga beberapa kilometer di sebelah timur. Pegunungan

Selatan seluruhnya merupakan sisi selatan geantiklin Jawa yang mengalami masa
pengerutan yang melandai ke selatan menuju Samudera Hindia. Namun data
tersebut masih belum dapat dijadikan sebuah referensi yang cukup apabila
seseorang hendak melakukan penelitian lebih lanjut karena data tersebut masih
berskala regional atau garis besar saja. Jika dilihat dari hasil peta geomorfologi

tentatif dan geologi regional berdasarkan aspek-aspek dari pembelajaran ilmu


geologi seperti sedimentologi, stratigrafi, geologi struktur, paleontologi, petrologi,
dan geomorfologi, maka permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai
berikut :
1. Bagaimana kondisi geomorfologinya daerah penelitian dan prosesproses geologi apa sajakah yang mempengaruhi pembentukan bentang
alam di daerah penelitian?
2. Jenis-jenis satuan litologi apa saja yang tersusun pada daerah penelitian,
meliputi kajian fisik batuan, umur, lingkungan pengendapan serta
bagaimana penyebaran dan hubungan stratigrafinya?
3. Struktur geologi apa yang berkembang pada daerah penelitian serta
bagaimana pola struktur geologi, juga korelasinya dengan konsep
geologi ?
4. Bagaimana sejarah geologi yang terjadi di daerah penelitian?
5. Bagaimana sumberdaya geologi dan potensi bencana geologi pada
daerah penelitian?
1.3 Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengenal kondisi
geologi daerah Jampang Tengah dan sekitarnya, Kecamatan Jampang Tengah,
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dengan menerapkan secara langsung prinsip
dan metoda pemetaan geologi yang telah dipelajari. Kegiatan pemetaan ini juga
berperan dalam pembuatan peta geologi daerah penelitian yang ditunjang dengan

peta-peta lainnya, seperti peta kerangka, peta pola jurus perlapisan batuan, dan
peta geomorfologi.

1.4

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan pemetaan geologi ini antara lain:

1. Mengetahui unsur-unsur dan proses geomorfologi yang sedang berlangsung


dan mengklasifikasikannya kedalam satuan geomorfologi.
2. Mengetahui berbagai jenis litologi di daerah penelitian dan karakteristik fisik
batuan tersebut serta mengelompokkannya ke dalam satuan-satuan batuan
berdasarkan Sandi Stratigrafi Indonesia.
3. Mengetahui berbagai struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian
dan hubungannya dengan daerah di sekitarnya.
4. Merekonstruksi sejarah geologi yang berkembang di daerah penelitian.
5. Mengetahui potensi keterdapatan bahan galian ekonomis di daerah penelitian.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman tentang
kondisi geologi daerah penelitian yang kemudian disajikan dalam peta geologi.
Dari hasil peta geologi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan
untuk pengembangan wilayah daerah tersebut.
1.6

Metode Pemetaan Geologi


Metode pemetaan geologi yang digunakan dalam pemetaan geologi lanjut

berfungsi untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan kondisi geomorfologi,

stratigrafi, geologi struktur dan sejarah geologi daerah penelitian. Dalam sub-bab
ini akan dibahas mengenai obyek penelitian, alat-alat yang digunakan, data yang
akan diperoleh, langkah-langkah penelitian, dan analisis data.
1.6.1

Objek Penelitian
Objek daerah yang diteliti pada penelitian kali ini adalah :

1. Peta dasar daerah penelitian yang telah diterbitkan ulang oleh


BAKOSURTANAL Lembar Cigenca (1208-434) dan Lembar Jampang
Tengah (1208-443) dengan skala 1 : 25.000, serta peta geologi regional
lembar Jampang Tengah dan Balekambang, Jawa (RAB. Sukamto, 1975)
dengan skala 1: 100.000 pada daerah penelitian.
2. Analisis Geomorfologi melalui penginderaan jauh, pola aliran sungai,
analisis morfometri, analisis morfogenetik, analisis morfografi, analisis
kelurusan sungai dan punggungan dari citra DEM dan Peta Topografi,
semua analisis tersebut dilakukan pada saat tahap pra-lapangan.
3. Litologi, meliputi seluruh jenis batuan beserta karakteristik fisik, tekstur,
dan struktur yang tersingkap di daerah penelitian. Batuan yang diobservasi
merupakan batuan yang masih segar dan insitu, yaitu batuan yang belum
mengalami pelapukan dan perpindahan tempat.
4. Stratigrafi, meliputi perlapisan batuan dari batuan tertua sampai yang
termuda dengan menyertakan fosil sebagai salah astu aspek penunjang
dalam menentukan umur dan lingkungan pengendapan.

5. Struktur geologi, meliputi pola tegasan dan gaya yang terjadi pada masa
lampau, jenis struktur geologi serta pola strukturnya, yaitu sesar, kekar,
dan perlipatan yang berkembang pada darah penelitian.
6. Sejarah geologi, sejarah geologi daerah penelitian direkonstruksi
berdasarkan rekonstruksi stratigrafi, periode tektonik, dan aktivitas
vulkanisme yang berkembang pada daerah penelitian.
7. Sumber daya geologi yang terdapat di daerah penelitian baik yang telah
dimanfaatkan maupun yang belum termanfaatkan serta potensi bencana
yang mungkin terjadi di daerah penelitian.
1.6.2

Alat-alat yang Digunakan


Peralatan yang digunakan meliputi alat di lapangan serta software geologi

yang digunakan membantu peneliti dalam pengolahan data


A. Daftar Perlengkapan Lapangan
a.

GPS

: Alat yang digunakan untuk menentukan posisi dilapangan

b.

Kompas geologi : Alat yang digunakan untuk pengukuran strike dip,


penunjuk perjalanan,menentukan arah mata angin

c.

Palu geologi

: Alat yang digunakan untuk mempermudah dalam


pengambilan sampel di lapangan

d.

Lup

: Alat bantu pembesaran dalam pengamatan batuan

e.

Peta topografi

:Sebagai sarana pengeplotan lokasi pengamatan,lokasi


pengukuran struktur, lokasi pengambilan
sebagai peta dasar pembuatan peta geologi

sampel dan

f.

Komparator Butir : Sebagai alat bantu analisa ukuran butir perbandingan di


lapangan

g. HCl (0,1 N)

: Bahan kimia yang membantu mengecek karbonatan


pada batuan

h.

Plastik sampel

: Sebagai tempat penyimpanan sampel di lapangan

i.

Kamera

: Sebagai alat pengambil gambar di lapangan

B. Alat Tulis di Lapangan


a. Spidol Besar

: Untuk memberi nomor sampel pada batuan

b. Catatan lapangan

: Untuk mencatat data di lapangan

c. Pena & pensil

: Untuk menulis data di lapangan

d. Penghapus

: Menghapus kesalahan penulisan di lapangan

e. Pensil warna

: Memberikan pewarnaan pada peta topografi


sebagai jalur lintasan, peta Geomorfologi dan Peta
Geologi

f. Penggaris

: Alat bantu menentukan lokasi dan menggarmbar


garis lurus

g. Busur derajat

: Pada sesar dapat mengukur sudut pitch

h. Papan dada

: Membantu penulisan jurnal dan pengukuran


(bidang) strike-dip di lapangan

1.6.3

Langkah-langkah Penelitian
Kegiatan pemetaan geologi permukaan melingkupi berbagai ,macam

tahapan dalam proses pengerjaannya. Tahap-tahap pekerjaan tersebut meliputi


tahap persiapan, tahap pekerjaan lapangan, tahap pekerjaan laboratorium, tahap
analisis data dan tahap penyusunan laporan. (Gambar 1.1).
[Link] Tahap Persiapan
Tahap persiapan meliputi kegiatan mengumpulkan berbagai informasi
melalui kajian pustaka untuk mengetahui kondisi daerah pemetaan, baik secara
regional maupun lokal dengan mempelajari pustaka-pustaka geologi, laporanlaporan peneliti terdahulu, serta peta geologi regional. Tahap persiapan lainnya
sebelum terjun langsung ke lapangan adalah sebagai berikut:

Gambar 1. 1 Bagan Alir Penelitian

1.

Pembuatan peta dasar dengan skala 1 : 25.000 dari masing-masing


sebagian lembar Peta Rupabumi Lembar Cigenca (1208-434) dan Lembar
Jampang Tengah (1208-443) yang diterbitkan oleh BAKOSURTANAL.

2.

Pengadaan perlengkapan penelitian lapangan serta penyusunan rencana


kegiatan lapangan.

[Link] Tahap Pekerjaan Lapangan


Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam pelaksanaan penelitian di
lapangan, maka dilakukan beberapa

metode penelitian (Zakaria, 2008) yaitu

sebagai berikut:
a. Metode Lintasan
Metode lintaran merupakan deretan titik titik pengamatan yang arahnya
diukur dari titik yang satu ke titik berikutnya. Arah lintasan ini tidak mengikuti
aturan tertentu, tetapi tergantung pada medan lapangan dan keadaan geologi
daerah penelitian.
b. Metode Plotting
Ploting adalah penentuan letak suatu titik pengamatan di lapangan pada
peta tofografi. Beberapa cara dalam pelaksanaan ploting diantaranya:
1. Metode Orientasi Lapangan
Metode ini efektif digunakan untuk daerah dengan kondisi relatif terbuka
dan terdapat banyak titik patokan sebagai pedoman orientasi, seperti puncak bukit,

10

pertemuan dua sungai, pertemuan sungai dengan jalan, dan ciri tofografi yang
mencolok lainnya.
2. Metode Orientasi Kompas
Metode ini efektif digunakan pada daerah yang mempunyai puncakpuncak bukit. Dilakukan dengan cara menembak dua buah puncak bukit dengan
menggunakan kompas dan kemudian menarik garis pada peta tofografi yang
besarnya didapat dari nilai back azimuth pada kompas.
3. Metode Lintasan Kompas dan Pita Ukur
Pada metode lintasan kompas dan pita ukur, langkah-langkah yang
dilakukan meliputi:
a. Menentukan stasiun awal sebagai titik permulaan.
b. Menentukan stasiun selanjutnya sambil melakukan pengukuran azimuth
terhadap jarak antara stasiun sebelumnya dengan stasiun selanjutnya.
4. Metode GPS
Pada metode penentuan posisi menggunakan GPS, langkah-langkah yang
dilakukan meliputi:
a. Tahap Marking Position, yaitu tahap mengetahui lokasi stasiun pada saat
penelitian yang ditampilkan dalam bentuk point atau titik.
b. Tahap Tracking, yaitu tahap menyimpan jejak pada saat berjalan ke stasiunstasiun penelitian yang ditampilkan dalam bentuk garis.

11

c. Tahap Pemindahan Data, yaitu tahap pemindahan data koordinat yang


tersimpan dalam GPS ke dalam komputer, untuk selanjutnya dilakukan
pengeplotan stasiun pada peta digital yang telah dibuat sebelumnya.

c. Metode Pengamatan dan Pengambilan Sampel


Pengamat melakukan pengamatan terhadap singkapan batuan meliputi
jenis, karakteristik fisik, indikasi perubahan litologi dan struktur geologi,
pengukuran penampang stratigrafi, penggambaran sketsa dan pengambilan foto,
serta pengambilan sampel batuan pada setiap singkapan. Sampel batuan diambil
pada setiap singkapan agar selanjutnya dapat dideskripsi lebih lanjut dan
digunakan sebagai data dalam penyusunan laporan penelitian.
1. Metode Pengukuran Arah Jurus dan Kemiringan Lapisan Batuan
Pengukuran strike/dip perlapisan batuan dilakukan dengan menggunakan
kompas geologi, dan apabila diperlukan dibantu dengan papan dada. Secara umum
pengukuran dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Meletakkan sisi kompas bertanda E (east) pada bidang perlapisan yang diukur.
Harus diyakini terlebih dahulu bahwa bidang tersebut mewakili kemiringan
perlapisan batuan pada singkapan tersebut.
b. Letak kompas dibuat benar-benar mendatar dengan melevelkan bull-eyes.
Setelah itu besarnya strike dibaca dengan arah dari Utara ke Timur (U ke T).
c. Langkah selanjutnya adalah mengukur kemiringan perlapisan batuan. Kompas
diletakkan sedemikian rupa sehingga sisi kompas menempel pada bidang

12

perlapisan dan klinometer dapat dilevelkan. Setelah itu sudut dip dapat dibaca
nilainya.

[Link] Tahap Penelitian Laboratorium


a. Laboratorium Paleontologi
Penelitian di laboratorium paleontologi berupa analisis kandungan fosil
menggunakan metode kisaran yang dilakukan pada beberapa sampel batuan untuk
mengetahui kisaran umur relatif dan lingkungan pengendapan batuan dengan
mengunakan literatur yang ada.
b. Laboratorium Petrografi
Analisis petrografi batuan dilakukan untuk penamaan jenis batuan dengan
pendekatan kuantitatif dengan cara menghitung persentase dari masing-masing
komposisi mineral penyusun batuan tersebut. Untuk batuan sedimen klastik
penamaannya menggunakan klasifikasi Pettijohn (1975), klasifikasi ini didasarkan
pada kandungan feldspar, kuarsa, fragmen batuan dan jumlah matriks (Gambar
1.2)
Klasifikasi batugamping menggunakan klasifikasi Dunham (1962),
klasifikasi yang dilakukan adalah dengan melihat jenis dari batugampingnya serta
perbandingan antara perbandingan jumlah matriks dan butirannya (Gambar 1.3).

13

Gambar 1. 2 Klasifikasi Batupasir dan Batulempung (Pettijohn, 1975)

Gambar 1. 3 Klasifikasi Batugamping (Dunham, 1962)

Penamaan batuan beku didasarkan pada komposisi dari mineral kuarsa,


kalium feldspar, dan plagioklas kemudian setelah dianalisa dapat diklasifikasikan
menggunakan klasifikasi Travis (1955) dan Streckeisen (1976) seperti pada
Gambar 1.4 - 1.5.

14

Gambar 1. 4 Klasifikasi Batuan Beku (Travis,1955)

Gambar 1. 5 Klasifikasi Batuan Beku Berbutir Kasar (kiri) dan Berbutir Halus (kanan),
(Streckeisen,1976).

15

Gambar 1. 6 Klasifikasi Batuan Piroklastik, (Schmid,1981).

Dan terakhir untuk klasifikasi batuan piroklastik yang digunakan adalah


klasifikasi yang didasari dari jumlah fragmen kuarsa, fragmen batuan, atau
fragmen gelas yakni klasifikasi yang diajukan oleh Schmid, 1981.(Gambar 1.6)
[Link] Tahap Analisis
Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap beberapa kondisi yang akan
menghasilkan suatu kesimpulan geologi berdasarkan data-data yang diperoleh dari
lapangan. Analisis data tersebut, diantaranya: Analisis Geomorfologi, Analisis
Stratigrafi, Analisis Mikropaleontologi, Analisis Struktur Geologi, Analisis
Sejarah Geologi.
a. Analisis Geomorfologi
Konsep geomorfologi untuk analisis geologi mengacu pada konsep
modifikasi Van Zuidam (1985) dan Howard (1967) yang menekankan pada

16

pentingnya material penyusun dan pola aliran sungai, morfometri (kemiringan


lereng), morfografi (gambaran bentuk), morfogenetik (proses pembentukan).
1. Aspek Morfometri
Morfografi merupakan penilaian kuantitatif yang dapat mendukung
morfografi dan morfogenetik. Untuk memperoleh klasifikasi dengan angka-angka
yang jelas maka digunakan perhitungan kemiringan lereng menurut van Zuidam
(1985). Pada peta dasar skala 1 : 25.000 dibuat grid cells berukuran 2 x 2 cm,
kemudian setiap grid ditarik garis tegak lurus kontur. Besarnya kemiringan lereng
yang didapat kemudian dikelompokkan berdasarkan klasifikasi kemiringan lereng
menurut van Zuidam (1985), sehingga diperoleh penamaan satuan morfometri
yang sesuai (Tabel 1.1).
Tabel 1. 1. Klasifikasi kemiringan lereng (Van Zuidam,1985)
KLASIFIKAS
KEMIRINGAN

KLASIFIKASI
KETERANGAN

LERENG

USLE** (%)
USSSM* (%)

02

Datar - Hampir datar

0-2

1-2

37

Lereng sangat landai

2-6

2-7

8 13

Lereng landai

6 - 13

7 - 12

14 - 20

Lereng agak curam

13 - 25

12 - 18

21 - 55

Lereng curam

25 - 55

18 - 24

56 - 140

Lereng sangat curam

> 55

> 24

Untuk mendapatkan persentase kemiringan lereng seperti yang tercantum


dalam tabel digunakan rumus:

17

S = (N-1)x IC x 100 %
DxSkala peta
Keterangan:
S

= kemiringan lereng (%)

IC

= interval kontur (cm)

= jarak tertinggi dengan jarak terendah (cm)

= banyak nya kontur dalam grid 2cm x 2cm

2. Aspek Morfografi
Secara garis besar morfografi dapat dibedakan menjadi bentuk lahan
perbukitan/punggungan, pegunungan, atau gunungapi, lembah dan dataran.
Beberapa pendekatan lain untuk pemetaan geomorfologi selain morfografi adalah
pola punggungan, pola pengaliran dan bentuk lereng. Berikut Tabel 1.2 yang
menunjukan klasifikasi morfografi berdasarkan ketinggian dan Gambar 1.6 untuk
tipe pola pengaliran sungai.
Tabel 1. 2. Hubungan ketinggian absolut dengan morfografi (Van Zuidam, 1985).
KETINGGIAN ABSOLUT

UNSUR MORFOGRAFI

< 50 meter

Dataran rendah

50 meter - 100 meter

Dataran rendah pedalaman

100 meter - 200 meter

Perbukitan rendah

200 meter - 500 meter

Perbukitan

500 meter - 1.500 meter

Perbukitan tinggi

1.500 meter - 3.000 meter

Pegunungan

> 3.000 meter

Pegunungan tinggi

1. Bentuk Lahan, diklasifikasikan menjadi 4 yaitu Dataran, Perbukitan,


Pegunungan, Vulkanik (Gunungapi).

18

2. Bentuk lembah sungai, terdiri atas lembah bentuk U, V dan U-V.


3. Pola Pengaliran, dapat mencerminkan jenis batuan, struktur geologi, dan
tingkat erosi.

Gambar 1. 7 Pola Pengaliran Dasar Sungai menurut Zenith (1932) (A) dan Pola Pengaliran
Modifikasi Sungai menurut. Howard (1967) (B dan C)

Tabel 1. 3 Karakteristik Pola Pengaliran dasar (Howard,1967 dalam van Zuidam,1985)

Pola Pengaliran

Karakteristik

19

Dasar

Dendritik

Paralel

Trellis

Rektangular

Radial

Anular

Multibasinal

Perlapisan batuan sedimen relatif datar atau paket


batuan keras yang tidak seragam dan memiliki ketahanan
terhadap pelapukan. Secara regional daerah aliran
memiliki lemiringan landai, jenis pola pengaliran
membentuk percabangan menyebar seperti pohon
rindang.
Pada umunya menunjukkan daerah yang berlereng
sedang sampai agak curam dan dapat ditemukan pula
pada daerah bentuk lahan perbukitan yang memanjang.
Sering terjadi pola peralihan antara pola dendritik dengan
paralel atau trelis. Bentuk lahan perbukitan yang
memanjang
dengan
pola
pengaliran
paralel
mencerminkan perbukitan tersebut dipengaruhi oleh
perlipatan.
Batuan sedimen yang memiliki kemiringan perlapisan
(dip) atau terlipat, batuan vulkanik atau batuan
metasedimen derajat rendah dengan perbedaan pelapukan
yang jelas. Jenis pola pengaliran biasanya berhadapan
pada sisi sepanjang aliran subsekuen.
Kekar/ atau sesar yang memiliki sudut kemiringan,
tidak memiliki perulangan lapisan batuan, dan sering
memperlihatkan pola pengalliran yang tidak menerus.
Daerah vulkanik, kerucut (kubah) intrusi dan sisa-sisa
erosi. Pola pengaliran radial pada daerah vulkanik disebut
sebagi pola pengaliran multi radial.
Struktur kubah/kerucut, cekungan dan kemungkinan
retas (stocks)
Endapan berupa gumuk hasil longsoran dengan
perbedaan penggerusan atau perataan batuan dasar.
Merupakan daerah gerakan tanah, vulkanisme, pelarutan
batugamping, dan lelehan salju (permafrost)

3. Aspek Morfogenetik

20

Morfogenetik adalah proses terbentuknya permukaan bumi akibat proses


endogen dan eksogen. Proses eksogen berupa tenaga atau gaya dari luar kerak
bumi seperti iklim (proses fisika dan kimia), vegetasi (proses biologi), dan
artifisial (oleh aktivitas manusia). Proses eksogen yang disebabkan oleh iklim
akan mengalami erosi, kenampakan ini dapat dilihat dari kerapatan pola
pengalirannya.
Proses endogen adalah proses yang dipengaruhi oleh tenaga dari dalam
kerak bumi, sehingga merubah bentuk permukaan bumi. Proses dari dalam kerak
bumi tersebut antara lain kegiatan tektonik yang menghasilkan patahan (sesar),
pengangkatan (lipatan) dan kekar membentuk perbukitan struktural. Selain
kegiatan tektonik, proses kegiatan magma dan gunungapi (vulkanik) sangat
berperan merubah bentuk permukaan bumi, sehingga membentuk perbukitan
intrusi dan gunungapi.
Tabel 1. 4 Warna Simbol Satuan Geomorfologi Berdasarkan Aspek Genetik (Van Zuidam,1985)
KELAS GENETIK

SIMBOL WARNA

Bentuklahan asal struktural

Ungu / Violet

Bentuklahan asal gunungapi

Merah

Bentuklahan asal denudasional

Coklat

Bentuklahan asal laut (marine)

Hijau

Bentuklahan asal sungai (fluvial)


Bentuklahan asal es (glasial)

Biru tua
Biru muda

Bentuklahan asal angin (aeolian)

Kuning

Bentuklahan asal gamping (karst)

Jingga (orange)

b. Analisis Stratigrafi
Tujuan utama analisis stratigrafi adalah untuk mengetahui urutan
perlapisan batuan berdasarkan karakteristik batuan yang membedakan waktu

21

pengendapan yang berbeda serta hubungan satu dengan yang lainnya (umur,
hubungan lateral dan vertikal, ketebalan, penyebaran dan tejadinya). Lingkungan
pengendapan dapat diketahui berdasarkan karakteristik litologi, seperti ukuran
butir dan struktur sedimen.
Dari data yang diperoleh di lapangan akan menghasilkan satuan-satuan
batuan yang diambil dari dominasi batuan yang ada pada daerah tersebut.
Pembagian satuan batuan didasarkan pada satuan litostratigrafi tidak resmi, yaitu
penamaan satuan batuan yang berdasarkan pada ciri fisik batuan yang dapat
diamati di lapangan, yang meliputi jenis batuan, keseragaman gejala litologi, dan
posisi stratigrafinya (Sandi Stratigrafi Indonesia, pasal 6).
Adapun

untuk

penentuan

batas

penyebarannya

harus

memenuhi

persyaratan sebagai berikut:


1. Batas satuan litostratigrafi adalah bidang sentuh antara dua satuan yang
berlainan ciri fisik litologinya.
2. Batas satuan ditempatkan pada bidang yang nyata perubahan litologinya atau
bila perubahan tersebut tidak nyata, maka batasnya merupakan bidang yang
diperkirakan kedudukannya.
3. Satuan-satuan yang berangsur berubah atau menjari peralihannya dapat
dipisahkan sebagai satuan tersendiri apabila memenuhi persyaratan sandi.
4. Penyebaran satuan litostratigrafi semata-mata ditentukan oleh kelanjutan
gejala-gejala litologi yang menjadi cirinya.

22

5. Dari segi praktis, penyebaran suatu satuan litostratigrafi dibatasi oleh batasan
cekungan pengendapan atau aspek geologi lainnya.
6. Batas-batas daerah hukum tidak boleh digunakan sebagai alasan berakhirnya
penyebaran lateral suatu satuan.
c. Analisis Struktur Geologi
Analisis ini dilakukan untuk membuat pola jurus dan penampang dari hasil
data lapangan berupa litologi, strike-dip, dan struktur geologi. Struktur geologi
terbagi menjadi tiga, yaitu lipatan, kekar dan sesar.
1. Lipatan
Lipatan merupakan hasil deformasi atau perubahan bentuk dari suatu
batuan yang ditunjukan sebagai suatu lengkungan pada bidang perlapisan batuan.
Berdasarkan bentuknya lipatan dibagi menjadi :
1. Antiklin, adalah lipatan dimana bagian cembungnya mengarah keatas, dalam
hal ini batuan yang lebih tua akan lebih dalam letaknya.
2. Sinklin adalah lipatan dimana bagian cekungnya mengarah keatas, dalam hal
ini batuan yang lebih muda akan lebih dalam letaknya.
Untuk mengetahui struktur lipatan yaitu dengan melihat perubahan
berangsur pada kemiringan (dip) lapisan batuan, perulangan variasi litologi, dan
dengan ditemukannya sumbu dari lipatan tersebut.
Fleuty (1964), dalam Davis dan Reynold (1996) mengklasifikasikan lipatan
berdasarkan nilai plunge (penunjaman) dan nilai dip axial surface, serta nilai

23

sudut interlimb yang tertuang dalam diagram dibawah ini (Gambar 1.8) dan Tabel
1.5.

Gambar 1. 8 Klasifikasi Lipatan (Fleuty, 1964) berdasarkan plunge dan dip axial surface
Tabel 1. 5 Klasifikasi Lipatan (Fleuty) berdasarkan interlimb

2. Kekar
Struktur kekar didefinisikan sebagai bidang rekahan atau pecahan pada
batuan yang sedikit atau tidak sama sekali mengalami pergeseran. Analisis kekar
dapat dipakai untuk membantu menentukan pola tegasan. Struktur kekar menurut
genetiknya atau proses pembentukannya dapat dibagi menjadi dua jenis utama,
yaitu :

24

a. Kekar gerus (shear joint) adalah rekahan yang terbentuk adanya geseran dan
gesekan pada batuan (shearing), memiliki ciri fisik antara lain lurus, bentuk
bidang permukaannya relatif datar, rapat dan kadang dijumpai jejak
pergeseran berupa cermin sesar.
b. Kekar tarikan (extensional joint) terbentuk akibat adanya peregangan
(tarikan), mempunyai ciri fisik antara lain relatif tidak lurus, bentuk
permukaannya bergelombang, berongga, dan sering diisi oleh mineral. Kekar
tarikan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu tension joint dan release joint.
Tension joint adalah kekar tarik yang bidang rekahannya sejajar dengan arah
tegasan utama, sedangkan release joint adalah kekar tarik yang terjadi akibat
dari hilangnya gaya yang bekerja dan posisi rekahannya tegak lurus terhadap
gaya utama.
3. Sesar
Untuk mengamati keberadaan arah dan jenis sesar di lapangan dapat
diperkirakan dengan melihat indikasi yang ada seperti lipatan seret (dragfold),
offset litologi, kekar, slicken side, breksi sesar, zona hancuran, kelurusan,
keberadaan air terjun, dan keberadaan mata air panas.
Pengolahan data ini ditampilkan dalam bentuk proyeksi stereografis sistem
tegasan. Sistem tegasan pembentuk sesar diketahui dari proyeksi stereografis,
yang didalamnya menggambarkan posisi tegasan utama (1), tegasan menengah
(2), dan tegasan minimum (3); arah tegasan, sifat tegasan, dan gambaran
masingmasing cermin sesarnya. Pengolahan data ini dilakukan dengan
mempergunakan program Dips.

25

Dari data cermin sesar yang ditemukan, dapat ditentukan jenis sesar
dengan menggunakan klasifikasi Rickard (1972) sebagaimana yang diperlihatkan
pada Gambar 1.6. Data dip, pitch, dan pergerakan sesar diplot kedalam segitiga
dip-pitch (B), kemudian diagram B tersebut diplot ke segitiga dip-pitch (A),
sehingga nama sesar dapat di tentukan sebagai berikut:

Gambar 1.9. Diagram Klasifikasi Sesar (Rickard, 1972)

Indikasi sesar di lapangan tidak mudah untuk ditemukan, untuk itu, dapat
dilakukan pengolahan data kekar untuk mengetahui tegasan utamanya (Anderson,
1951) dalam The Mapping Geological Structures, Mc Clay (1987). Anderson
mengklasifikasikan sesar menjadi tiga jenis berdasarkan orientasi tegasan utama

dan dinyatakan dalam

1 (tegasan terbesar),

2 (tegasan menengah), dan

(tegasan terkecil) yang saling tegak lurus satu sama lain secara triaksial (Gambar
1.10).

26

Gambar 1. 10. Hubungan antara pola tegasan dengan jenis sesar yang terbentuk (Anderson, 1951)

d. Analisis Sejarah Geologi


Analisis sejarah geologi bertujuan untuk menguraikan suatu seri kejadian
geologi yang disusun secara berurutan berdasarkan waktu kejadiannya dimulai
dari yang pertama terbentuk hingga yang terakhir ataupun yang sekarang tengah
terjadi. Analisis ini pada dasarnya merupakan hasil penafsiran dari seluruh aspek
geologi seperti stratigrafi dan struktur geologi. Hasil pembahasan stratigrafi dan
struktur geologi disusun berdasarkan urutan kejadian dan waktu sehingga dengan
demikian dapat diketahui perubahan sedimentasi, tektonik, dan erosi yang telah
terjadi selama kurun waktu tersebut. Dengan demikian maka sejarah geologi
daerah pemetaan dapat dianalisis dengan merekonstruksi aspek-aspek material
dan gaya atau proses yang merupakan bagian dari stratigrafi dan geologi struktur.

Potensi geologi yang dimaksudkan merupakan segala aspek baik kekuatan


maupun kelemahan geologi yang dapat terjadi di daerah penelitian. Untuk contoh
potensi baik seperti bahan galian ekonomis dilakukan dengan melihat komposisi

27

e. Analisis Potensi dan Kebencanaan Geologi


batuan penyusun daerah penelitian yang mungkin dapat dijadikan sebagai bahan
gali yang dapat memberikan keuntungan ekonomis.
Kebencanaan geologi ditengarai oleh gaya eksogen dan endogen, salah
satunya longsor dan limpasan air .
[Link] Tahap Penyusunan Laporan
Tahap akhir dari penelitian adalah penyusunan laporan yang meliputi
penafsiran dan rekontruksi data lapangan, dan hasil analisis laboratorium yang
hasilnya disajikan dalam bentuk laporan pemetaan geologi yang menerangkan
keadaan geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, sejarah geologi, potensi dan
kebencanaan daerah penelitian. Laporan ini dilengkapi dengan lampiran berupa
lampiran petrografi, lampiran mikropaleontologi, log stratigrafi, analisis struktur
geologi berupa lipatan, kekar, dan sesar berdasarkan progam dips, peta lintasan
dan kerangka geologi, peta pola jurus perlapisan batuan, peta geomorfologi, dan
peta geologi yang kemudian dipresentasikan.
1.7

Geografi Umum
Secara geografis, daerah penelitian terletak pada 106 44' 0" BT sampai

106 48' 48" BT dan 07 01' 40" LS sampai 07 06' 31" LS. Luas daerah pemetaan
kurang lebih 100 km2 yang secara administratif terletak di Kecamatan Jampang
Tengah, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
Sarana Pendidikan daerah setempat tergolong baik dan memadai, yang di
mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai kepada sekolah menengah atas.
Pendidikan minimal penduduk setempat adalah Sekolah Menengah Pertama

28

(SMP). Sebagian besar penduduk daerah penelitian memiliki mata pencaharian


berladang, berkebun, mendulang emas dan wirausaha (salah satunya batumulia).
Mayoritas penduduk beragama Islam.

1.8

Waktu Pemetaan dan Kelancaran Kerja


Waktu pelaksanaan pemetaan dilakukan selama 8 bulan yang dimulai dari

bulan Mei 2016 Desember 2016, berikut uraiannya:


1. Tahapan pertama adalah tahap pra-lapangan (analisa studio). Pada tahapan
ini dilaksanakan pada bulan Mei 2016.
2. Tahapan kedua adalah survey tinjau yang dilaksanakan Bulan Juni 2016.
3. Tahap ketiga adalah tahapan pemetaan geologi detail yang dilaksanakan
pada awal Agustus 2016. Basecamp terletak hampir tepat di tengah
wilayah penelitian, tepatnya pada daerah pemukiman Desa Jampang
Tengah.
4. Tahapan keempat adalah tahap analisis laboratorium yakni analisis
paleontologi (fosil) dan analisis petrografi (sayatan tipis) yang dilakukan
mulai ..... 2016 - ..... 2016.
5. Tahap terakhir adalah tahap pembuatan peta dan penyusunan laporan yang
dilakukan dimulai akhir Agustus 2016 awal Desember 2016.

Anda mungkin juga menyukai