Gangguan Pengendalian Impuls dalam Psikiatri
Gangguan Pengendalian Impuls dalam Psikiatri
Pembimbing:
AKBP dr. Karjana, [Link]
Disusun oleh:
Kharisma Alifah
1102011136
Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat
dan karuniaNya, pembuatan karya tulis berupa referat bidang ilmu kesehatan jiwa yang berjudul
Gangguan Pengendalian Impuls dapat tersusun dan terselesaikan tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan karya tulis referat ini adalah untuk memenuhi salah satu
tugas kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa di RS Bhayangkara TK.I Raden Said Sukanto periode 5
Desember 2016 8 Januari 2017 agar dapat menerima kelulusan pada bidang kepaniteraan yang
bersangkutan.
Tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam pembuatan referat ini. Terutama kepada pembimbing referat yang bersangkutan di bidang
kesehatan jiwa AKBP dr. Karjana, [Link], serta para perawat bagian jiwa dan semua pihak yang
memberi arahan dan dukungan dalam proses penyelesaian referat ini.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna dan memiliki banyak
kekurangan. Oleh karena itu, penulis dengan senang hati menerima segala kritik dan masuka
yang diberikan agar referat ini menjadi lebih baik. Akhir kata, semoga referat ini berguna bagi
penulis dan pembacanya.
BAB I
1
PENDAHULUAN
Gangguan pengendalian impuls adalah perilaku yang ditandai dengan dorongan yang tidak
tertahankan tanpa motif yang jelas dan tidak dapat menolak impuls, meskipun secara sadar
perilakunya dapat direncanakan atau tidak. Enam kategori gangguan pengendalian impuls yang
tidak diklasifikasikan di tempat lain (impulse control disorder not elsewhere classified)
dituliskan didalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi keempat (DSMIV): gangguan eksplosif intermitten, kleptomania, piromania, berjudi patologis, trikotilomania,
dan gangguan pengendalian impuls yang tidak ditentukan.
Prevalensi terjadinya dari masing-masing kasus gangguan pengendalian impuls berbedabeda. Namun rata-rata tidak lebih dari 3 persen dari setiap kasusnya. Pada gangguan eksplosif
intermiten, piromania, berjudi patologis lebih sering dijumpai pada laki-laki dibandingkan
wanita. Sebaliknya, pada kasus kleptomania trikotilomania dan pengendalian impuls yang tidak
ditentukan, lebih sering dijumpai pada wanita dibandingkan laki-laki.
Penyebab gangguan pengendalian impuls adalah tidak diketahui, tetapi faktor
psikodinamika, biologis, dan psikososial tampaknya berinteraksi untuk menyebabkan gangguan.
Gangguan mungkin memiliki mekanisme neurobiologis dasar yang sama
Terapi yang digunakan pada gangguan pengendalian impuls berbeda-beda sesuai dengan
jenis gangguan impuls yang terjadi. Prinsip pengobatan gangguan pengendalian impuls adalah
kombinasi pendekatan farmakologi dan psikoterapeutik. Psikoterapi kelompok mungkin
memberikan suatu bantuan, demikian juga terapi keluarga
BAB II
2
TINJAUAN PUSTAKA
GANGGUAN PENGENDALIAN DAN IMPULS
II.1 Etiologi
Gangguan ditandai oleh tindakan berulang yang tidak mempunyai motivasi rasional yang
jelas, serta yang umumnya merugikan kepentingan penderita sendiri dan orang lain (maladiptif).
Penderita melaporkan bahwa perilakunya berkaitan dengan impuls untuk bertindak yang tidak
dapat dikendalikan. Terdapat periode prodormal berupa ketegangan dengan rasa lega pada saat
terjadinya tindakan tersebut.
Penyebab gangguan pengendalian impuls adalah tidak diketahui, tetapi faktor
psikodinamika, biologis, dan psikososial tampaknya berinteraksi untuk menyebabkan gangguan.
Gangguan mungkin memiliki mekanisme neurobiologis dasar yang sama.
II.1.a. Faktor Psikodinamika
Suatu impuls adalah suatu kecenderungan untuk bertindak untuk menurunkan ketegangan
yang meningkat yang disebabkan oleh dorongan instinctual yang telah dibangun atau oleh
menurunnya pertahanan ego terhadap dorongan. Gangguan impuls memiliki suatu usaha untuk
melewati (bypass) pengalaman gejala yang mengganggu atau afek yang menyakitkan dengan
berusaha bertindak pada lingkungan. Dalam penelitiannya terhadap remaja yang nakal, August
Aichhorn mengerti bahwa perilaku impulsive adalah berhubungan dengan superego yang lemah
dan struktur ego yang lemah berhubungan dengan trauma psikis akibat kerugian dimasa anakanak.
Otto Fenochel menghubungkan perilaku impuls dengan usaha untuk menguasai
kecemasan, rasa bersalah, depresi, dan afek yang menyakitkan lainnya melalui tindakan. Ia
berpendapat bahwa tindakan tersebut merupakan pertahanan terhadap bahaya internal dan
tindakan tersebut dapat menghasilkan pemuasan agresif atau seksual yang menyimpang.
Heinz Kohut berpendapat bahwa banyak bentuk masalah pengendalian impuls termasuk
berjudi, kleptomania, dan beberapa perilaku parafilia, berhubungan dengan rasa diri yang tidak
lengkap. Rumusan Kohut memiliki kemiripan dengan pandangan Donald Winnicott dimana
perilaku impulsive atau menyimpang adalah suatu cara dimana anak berharap mendapatkan
kembali hubungan maternal primitive. Bebrapa ahli terapi telah menekankan fiksasi pasien pada
3
stadium oral dari perkembangan. Pasien berusaha untuk menguasai kecemasan, rasa bersalah,
depresi, dan afek menyakitkan lainnya dengan melakukan tindakan, tetapi tindakan tersebut yang
ditunjukan untuk mendapatkan pemulihan jarang berhasil kendatipun secara sementara.
II.1.b Faktor Psikososial
Beberapa peneliti telah menekankan pentingnya aspek psikososial dari gangguan, seperti
peristiwa kehidupan awal. Faktor parental tertentu seperti kekerasan di rumah, penyalahgunaan
alkohol, dan kecenderungan antisosial diperkirakan penting.
II.1.c Faktor Biologis
Banyak peneliti telah memusatkan pada kemungkinan faktor organik dalam gangguan
pengendalian impuls, khususnya bagi pasien yang berperilaku yang kasar. Percobaan telah
menunjukan bahwa daerah otak tertentu, seperti sistem limbik, adalah berhubungan dengan
aktivitas impulsive dan kasar dan daerah otak lainnya adalah berubungan dangan inhibisi
perilaku tersebut. Hormon tertentu, khususnya testoteron, telah dihubungkan dengan perilaku
kasar dan agresif. Beberapa laporan telah menggambarkan adanya hubungan antara epilepsi
lobus temporalis dengan perilaku kasar impulsive tertentu, suatu hubungan perilaku agresi pada
pasien dengan riwayat cidera kepala, peningkatan jumlah kunjungan ruang gawat darurat, dan
peristiwa organik lainnya yang mendahului.
Gejala gangguan pengendalian impuls mungkin terus ditemukan sampai masa dewasa pada
orang yang diklasifikasikan sebagai menderita gangguan deficit-atensi/ hiperaktivitas dimasa
anak-anaknya. Neurotransmitter serotonin memperantarai gejala yang terlihat pada gangguan
pengendalian impuls.
Kelelahan, stimulasi yang tak henti-hentinya, dan trauma psikis dapat menurunkan daya
tahan dan secara sementara menghentikan control ego.
menghilang spontan dan cepat. Masing-masing episode biasanya diikuti oleh penyesalan atau
pencelaan diri yang murni. Diagnosis gangguan eksplosif intermiten tidak boleh dibuat jika
kehilangan kendali dapat dijelaskan oleh skizofrenia, gangguan kepribadian antisosial atau
ambang, gangguan deficit-atensi/hiperaktivitas, gangguan konduksi atau intoksikasi zat.
Sejumlah ciri penyerta yang mengarahkan pada keadaan ini adalah; pasien mungkin
mengalami suatu aura; perubahan mirip pascaiktal dalam sensorium; atau hipersensitivitas
terhadap stimulus cahaya, aural, atau auditoris.
II.2.1 Epidemiologi
Gangguan eksplosif intermiten dilaporkan lebih rendah (underreported). Laki-laki lebih
sering terkena disbandingkan wanita. Dan lebih sering ditemukan pada penyakit genetik.
II.2.2 Etiologi
Beberapa peneliti menyatakan bahwa fisiologi otak yang terganggu, khususnya pada sistem
limbik, adalah terlibat dalam sebagian besar kasus kekerasan episodik. Tetapi, lingkungan yang
tidak menguntungkan pada masa anak-anak biasanya dianggap sebagai determinan utama.
II.2.3 Gejala yang terlibat dalam mendukung diagnosis
Gangguan mood (unipolar), gangguan kecemasan, dan penyalahgunaan substansi biasanya
dikaitkan dengan Gangguan Eksplosif Intermiten, walaupun biasanya onset pada gangguan
tersebut lebih lama dibandingkan dengan Gangguan Eksplosif Intermiten.
II.2.4 Diagnosis dan Gambaran Klinis
Diagnosis gangguan eksplosif intermiten harus didapatkan dari penggalian riwayat
penyakit yang mengungkapkan beberapa episode kehilanga kendali yang disertai oleh seranga
agresif (Tabel 24-1). Episode tunggal yang tersendiri tidak membenarkan diagnosis. Riwaya
penyakit (masa kanak-kanak), ketergantungan alcohol, kekerasan, dan ketidakstabilan emosional.
Riwayat pekerjaan yang buruk. Adanya pengobatan sebelumnya tetapi tidak bermanfaat. Tingkat
kecemasan, rasa bersalah, dan depresi berat biasanya ditemukan setelah suatu episode.
yang
disalahgunakan
suatu
medikasi),
atau
suatu
kondisi
medis
Genetik dan Psikologis. Keluarga inti dari seseorang Gangguan Eksplosif disorder beresiko
tinggi terkena gangguan tersebut. Penelitian pada kasus kembar mendemonstrasikan susbtansi
genetik berpengaruh ada tindakan agresif yang impulsif.
II.2.7 Perjalanan Penyakit dan Prognosis
Gangguan eksplosif intermiten dapat dimulai pada setiap stadium kehidupan tetapi
biasanya dimulai dalam dekade kedua atau ketiga. Pada sebagian besar kasus berkurang
keparahannya pada onset diusia pertengahan. Tetapi, gangguan organik yang timbul dapat
menyebabkan episode yang sering dan parah.
II.2.8 Terapi
Kombinasi pendekatan farmakologi dan psikoterapeutik memiliki kesempatan berhasil
yang terbaik. Psikoterapi kelompok mungkin memberikan suatu bantuan, demikian juga terapi
keluarga, khususnya jika pasien eksplosif adalah seorang remaja atau dewasa muda.
Antikonvulsan telah lama digunakan dalam mengobati pasien eksplosif, dengan hasil
bermacam-macam.
Benzodiazepine
Lithium (Ekskalith)
Carbamazepine (Tegretol)
Phenytoin (Dilantin)
Sebagai pertahanan terhadap rasa takut dilukai (kemungkinan keinginan memiliki penis
pada perempuan atau suatu perlindungan terhadap kecemasan kastrasi pada laki-laki)
Adanya peningkatan rasa tegang sebelumnya, dan rasa puas selama dan segera sesudahnya,
melakukan tindakan pencurian
Meskipun upaya untuk menyembunyikan biasanya dilakua sendiri (solitary act), tidak
bersama-sama dengan pembantunya
Idividu mugkin tampak cemas, murung dan rasa bersalah pada waktu diantara episode
pencurian, tetapi hal ni tidak mencegahnya mengulangi perbuatan tersebut
Pencurian berulang di toko tanpa gangguan jiwa yang nyata, dimana perbuatannya
direncanakan dengan lebih hati-hati dan terdapat motif keuntungan pribadi yang jelas
Gangguan mental organik (F00-F09), dimana berulang kali gagal untuk membayar barang
belanjaan sebagai konsekuensi berkurangnya daya ingat dan kemerosotan fungsi intelektual
lain
10
perjalanan gangguan adalah hilang timbul, tetapi cenderung menjadi kronis. Beberapa
orang mengalami penderitaan karena tidak mampu menahan impuls untuk mencuri, diikuti oleh
periode bebas yang berlangsung beberapa minggu atau bulan. Prognosis dengan pengobatan
dapat baik, tetapi sedikit pasien datang mencari bantuan atas keinginan mereka sendiri.
II.3.7 Terapi
Karena kleptomania yang murni adalah jarang, laporan pengobatan cenderung merupakan
penjelasan kasus individual atau sejumlah kasus yang singkat. Psikoterapi dan psikoanalisis
berorientasi tilikan telah berhasil tetapi tergantung pada motivasi pasien.
Inhibitor ambilan kembali spesifik serotonin, seperti fluoxentine, tampaknya efektife pada
beberapa pasien kleptomaniak.
II.4 PIROMANIA ( F63.1 Bakar Patologis)
Ciri penting dari piromania adalah menciptakan kebakaran yang bertujuan dan disengaja
lebih dari sekali; ketegangan atau perangsangan
pesona, minat, rasa ingin tahu, atau daya tarik terhadap kebakaran dan aktivitas dan peralatan
yang berhubungan dengan pemadam kebakaran; dan kesenangan, kepuasan, atau peredaan jika
menciptakan kebakaran atau jika menyaksikan atau berperan serta dalam peristiwa sesudahnya.
Pasien mungkin membuat persiapan yang cukup baik sebelum memulai kebakaran.
Diagnosis piromania tidak boleh dibuat jika kebakaran dibuat untuk mendapatkan uang,
untuk mengekspresikan ideology sosiopolotik, untuk melakukan aktivitas criminal, untuk
melakukan aktivitas criminal, untuk mengekspresikan kemarahan atau balas dendam, untuk
memperbaiki lingkungan hidup seseorang, atau untuk berespon terhadap waham atau halusinasi.
II.4.1 Epidemiologi
Tidak ada prevalensi tentang piromania, tetapi hanya sejumlah kecil orang dewasa yang
menciptakan kebakaran dapat diklasifikasikan menderita piromania. Gangguan ini lebih sering
ditemukan pada laki-laki dibandingkan wanita.
II.4.2 Etiologi
11
Sigmund Freud memandang api sebagai symbol seksualitas. Ahli terapi lain telah
menghubungkan piromia dengan pencarian kekuatan dan prestasi social yang abnormal.
II.4.3 Diagnosis dan Gambaran Klinis
Orang yang piromania sering kali secara teratur mengamati kebakaran di lingkungan
tetangganya, sering kali mematikan alarm palsu, dan menunjukan minat dalam perlengkapan
petugas pemadam api (Tabel 24-3). Pencipta kebakaran mungkin mendapatkan kepuasan dari
mengakibatkan kerusakan. Ciri penyerta yang sering adalah intoksikasi alkohol, disfungsi
seksual, IQ yang lebih rendah dari rata-rata, rustasi pribadi yang kronik, dan kebencian terhadap
tokoh yang berkuasa.
Jika menciptakan kebakaran terjadi dalam gangguan konduksi dan gangguan kepribadian
antisosial, ini adalah suatu tindakan yang disengaja, bukannya suatu kegagalan untuk menahan
impuls.
Tabel 24-3 Kriteria Diagnostik untuk Piromania
A. Menciptakan kebakaran yang disengaja dan bertujuan pada lebih dari satu kejadian.
B. Ketegangan atau rangsangan afekti sebelum tindakan.
C. Terpesona kepada, tertarik kepada, ingin tahu tentang, atau terpikat kepada api dan knteks
situasionalnya (misalnya, paraphernalia, pemakainya, akibatnya).
D. Rasa senang, puas, atau reda jika menimbulkan kebakaran, atau jika menyaksikan atau
berperan serta dalam kejadiannya.
E. Menciptakan kebakaran bukan dilakukan untuk tujuan moneter, sebagai ekspresi ideology
sosiopolitik,
umtuk
menyembunyikan
tindakan
kejahatan,
untuk
mengekspresikan
kemarahan atau balas dendam, untuk memperbaiki lingkungan hidupnya, atau sebagai akibat
gangguan pertimbangan (misalnya, demensia, retardasi mental, intoksikasi zat)
F. Menciptakan kebakaran tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan konduksi, episode
manik, atau gangguan kepribadian antisosial.
12
Tabel dari DSM-IV, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, ed 4. Hak cipta
American Psychiatric Association, Washington, 1994
II.4.4 Pedoman Diagnostik
Gambaran yang esenial dari gangguan ini adalah:
a. Berulang-ulang melakukan pembakaran tanpa motif yang jelas, misalnya motif untuk
mendapatkan uang, balas dendam, atau alasan politis
b. Sangat tertarik menonton peristiwa kebakaran
c. Perasaan tegang meningkat sebelum melakukan, dan sangat terangsang (intense excitement)
segera setelah berhasil dilaksanakan.
Bakar patologis harus dibedakan dari:
a. Sengaja melakukan pembakaran tanpa gangguan jiwa yang nyata (dalam kasus demikian
motifnya jelas)
b. Pembakaran oleh anak muda dengan gangguan tingkah laku (F91.1) dimana didapatkan
gangguan perilaku lain seperti mencuri, agresi, atau membolos sekolah
c. Pembakaran oleh orang dewasa dengan gangguan kepribadian dissosial (F60.2), dimana
didapatkan gangguan perilaku sosial lain yang menetap seperti agresi, atau indikasi lain
perihal kurangnya peduli terhadap minat dan perasaan orang lain
d. Pembakaran pada skizofrenia (F20.2), dimana kebakaran adalah khas ditimbulkan sebagai
respons terhadap ide-ide waham atau perintah dari suara halusinasi
e. Pembakaran pada gangguan mental organik (F00-F09), dimana kebakaran ditimbulkan
karena kecelakaan akibat adanya kebingungan (confusion), kurangnya daya ingat, atau
kurangya kesadaran akan konsekuensi dari tindakannya, atau campuran dari faktor-faktor
tersebut.
II.4.5 Perjalanan Penyakit dan Prognosis
Piromania biasanya dimulai pada masa anak-anak. Prognosis untuk anak yang diobati
adalah baik. Prognosis untuk orang dewasa adalah sukar, karena biasanya mereka
ketergantungan alcohol dan tidak adanya tilikan.
II.4.6 Terapi
13
Terapi piromania adalah sukar karena tidak adanya motivasi pada diri mereka. Penahanan
mungkin merupakan metode satu-satunya yang ada untuk mencegah rekurensi. Karena sifat
rekuren dari piromania, tiap program pengobatan harus termsuk pangawasan pasien untuk
mencegah eposide berulang menciptakan kebakaran.
depresif berat. Gangguan lain yang berhubungan adalah gangguan panik, gangguan obsesifkompulsif, dan agoraphobia.
14
Gambaran yang esensial dari gangguan ini adalah berjudi secara berulangyang menetap
(persistently repeated gambling), yang belanjut dan seringkali meningkat meskupun ada
konsekuensi sosial yang merugkan seperti menjadi miskin, hubungan dalam keluarga
terganggu, dan kekacauan kehidupan pribadi.
Fase kemenangan, berakhir dengan kemenangan besar, kira-kira sama dengan pendapatan
setahun, yang menjerat pasien.
2.
Fase kekalahan progresif, di mana struktur hidup pasien berkisar di sekitar berjudi.
3.
Fase nekat, yaitu pasien berjudi besar-besaran dengan jumlah uang yang besar, tidak
membayar hutang, terlibat dengan lintah darat, menulis cek yang buruk, dan mungkin
menggelapkan
4.
Fase putus asa, dimana pasien berjudi gila-gilaan dengan sejumlah besar uang, tidak
membayar utang, menjadi terlibat dengan penagih utang.
Gangguan mungkin memerlukan waktu 15 tahun untuk mencapai fase ketiga, tetapi
selanjutnya, dalam satu atau dua tahun, pasien sama sekali memburuk.
16
II.5.6 Terapi
Penjudi jarang datang dengan sendirinya untuk pengobatan. Kesulitan hukum, tekanan
keluarga, atau keluhan psikiatrik lain adalah apa yang membawa pejudi ke dalam pengobatan.
Gambles Anonymous (GA) didirikan di Los Angeles 1957 dan dibentuk berdasarkan Alcoholics
Anonymous (AA).
Pada beberapa kasus, perawatan pasien di Rumah sakit dapt membantu mengeluarkan
mereka dari lingkungan mereka. Tilikan tidak boleh dicari sampai pasien telah menjauhi diri dari
berjudi selama tiga bulan.
Jika berjudi disertai dengan gangguan depresif, mania, kecemasan, atau gangguan mental
lainnya, farmakoterapi dengan antidepresan, lithium, atau obat antiansietas adalah berguna.
II.6 TRIKOTILOMANIA ( F63.3 )
Menurut DSM-IV, ciri penting dari trikotilomania dalah mencabut rambut yang rekuren,
menyebabkan kehilangan rambut yang jelas. Gejala klinis lain adalah meningkatnya perasaan
tegang sebelum mencabut rambut dan rasa kenikmatan, kepuasan, atau peringanan jika mencabut
rambut. Diagnosis tidak boleh dibuat jika mencabut rambut adalah akibat dari gangguan mental
lainnya (sebagai contoh, gangguan tersebut memanifestasikan waham atau halusinasi) atau
gangguan medis umum( lesi kulit yang telah ada sebelumnya).
II.6.1 Epidemiologi
Trikotilomania tampaknya lebih sering ditemukan pada wanita dibadingkan dengan lakilaki. Beberapa ahli menyatakan bahwa kriteria DSM-IV terlalu membatasi. Gangguan yang
berhubunga adaah gangguan obsesif-kompulsif, gangguan kepribadian obsesif-kompulsif,
gangguan kepribadian ambang, dan gangguan depresif.
II.6.2 Etiologi
Walaupun trikotilomania dianggap sebagai banyak ditentukan (multidetermned), onsetnya
telah dihubungkan dengan situasi yang penuh stres pada lebih dari seperempat kasus. Gangguan
hubungan ibu dan anak, rasa takut ditinggal sendirian, dan kehilangan objek yang belum lama,
17
sering kali dinyatakan sebagai faktor penting yang berperan dalam gangguan ini.
Penyalahgunaan zat mungkin mendorong perkembangan gangguan.
Trikotilomania semakin dipandang sebagai memiliki substrat yang ditentukan secara
biologis yang mungkin mencerminkan pelepasan aktivitas motorik yang tidak sesuai atau
perilaku berdandan yang berlebihan
II.6.3 Diagnosis dan Gambaran Klinis
Sebelum terlibat dalam perilaku, pasien trikotilomania mengalami peningkatan rasa
ketegangan dan mecapai pemuasan atau pelepasan dengan mencabut rambutnya (tabel 24-5).
Semua daerah tubuh dapat terkena. Tempat yang paling sering adalah kulit kepala. Daerah lain
yang terlibat adalah alis mata, bulu mata dan janggut. Daerah yang jarang adalah batang tubuh,
ketiak, dam daerah pubis. Tidak ada kelainan pada kulit kepala atau daerah yang dicabuti.
Tabel 24-5 Kriteria Diagnostik untuk Trikotilomania
A. Mencabut rambut sendiri secara rekuren yang menyebabkan kebotakan yang jelas.
B. Penigkatan perasaan tegang segera sebelum mencabut rambut atau jika berusaha untuk
menahan perilaku tersebut.
C. Rasa senang, puas, atau reda jika mencabut rambut.
D. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan menal lain dan bukan karena
kondisi medis umum (misalnya, kondisi dermatologis)
E. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
Tabel dari DSM-IV, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, ed 4. Hak cipta
American Psychiatric Association, Washington, 1994
Keronokan rambut kepala yang tampak jelas (noticeable) disebabkan oleh berulangkali gagal
menahan diri terhadap impuls untuk mencabut rambut.
18
Pencabutan rambut biasanya didahului oleh ketegangan yang meningkat dan setelahnya
diikuti dengan rasa lega atau puas
Diagnosis ini jangan dibuat apabila sebelumnya sudah ada peradangan kulit, atau apabila
pencabutan rambut adalah respon terhadap waham atau halusinasi. Tidak termasuk: gangguan
gerakan stereotipi dengan mencabuti rambut (F98.4) Trikofagi, memakan rambut, mungkin
mengikuti mencabuti rambut. Komplikasi trikofagi adalah trikobenzoar, malnutrisi, dan obstruksi
usus.
Perubahan histopatologi karateristik dalam folikel rambut, dikenal sebagai trikomalasia,
ditunjukan oleh biopsi dan membantu membedakan trikotilomania dari penyebab alopesia
lainnya.
II.6.5 Diagnosis Banding
Fenomenologi dari trikotilomania dan gangguan obsesif-kompulsif saling bertumpang
tindih. Sepeti gangguan obssif-kompulsif, trikotilomania sering kali kronik dan disadari oleh
pasien sebagai tidak diinginkan. Tidak seperti gangguan obsesif-kompulsif, pasien dengan
trikotilmania tidak mengalami ikiran obsesif, dan aktivitas kompulsif adalah terbatas pada suatu
tindakan mencabut rambut.
Pasien dengan gangguan buatan dengan tanda dan gejala fisik yang menonjol secara aktif
mencari perhatian medis dan pasen berperan dan secara sengaja mensimulasi penyakit. Pasien
dengan gangguan pergerakan stereotipik memiliki gerakan yang stereotupik dan ritmik, dan
mereka biasanya tidak tampak menderita akibat perilaku mereka. Trikotilomania mungkin sukar
dibedakan dari alopesia areata.
II.6.6 Perjalanan Penyakit dan Prognosis
Trkotilomania biasanya dimulai pada masa anak-anak atau remaja, tetapi onset telah
dilaporkan jauh lebih lanjut dalam kehidupan. Onset yang lambat mungkin disertai dengan
meningkatnya kemungnan kronisitas. Pada beberapa kasus gangguan telah menetap selama lebih
dari dua dekade.
II.6.7 Terapi
19
Tidak ada konsensus mengenai terapi yang terbaik untuk trikotilomania. Terapi bisanya
melibatkan dokter psikiatrik dan dermatologi dengan bekerja sama. Metoda psikofarmakologi
yang telah digunakan adalah steroid topical dan hydroxine hydrochloride, suatu ansiolitik dengan
sifat antihistamin; antidepresan; obat serotonergik; dan antipsikotik. Bukti-bukti terakhir dengan
kuat menunjukan kemanjuran obat yag mengubah turnover serotonin sentral. Pada pasien yang
berespon secara buruk dengan inhibitor ambilan kembai spesifik serotonin, penguatan dengan
pimozide(orap), suatu penghambat dopamin, dpat menyebabkan perbaikan. Terapi lithium untuk
trikotilomania menyatakan kemungkinan efek lithium pada agresivitas, impulsivitas, dan
ketidakstabilan mood sebagai penjelasannya. Lithium juga memiliki aktivitas serotonergik.
Hipnoterapi dan terapi perilaku telah disebutkan sebagai cara yang potensial efektif dalam
pengobatan gangguan dermatologis dimana mungkin terlibat faktor psikologis.
20
BAB III
KESIMPULAN
Gangguan pengendalian impuls adalah perilaku yang ditandai dengan dorongan yang tidak
tertahankan tanpa motif yang jelas dan tidak dapat menolak impuls, meskipun secara sadar
perilakunya dapat direncanakan atau tidak.
Enam kategori gangguan pengendalian impuls yang tidak diklasifikasikan di tempat lain
(impulse control disorder not elsewhere classified) dituliskan didalam Diagnostic and Statistical
Manual
of
Mental
intermitten,kleptomania,
Disorder
piromania,
edisi
berjudi
keempat
(DSM-IV):
patologis,
gangguan
trikotilomania,
dan
eksplosif
gangguan
21
DAFTAR PUSTAKA
Sadock BJ, Sadock VA. 2010. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2.
Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC
Sadock BJ, Sadock VA, Ruiz P. 2015. Kaplan & Sadocks Synopsis Of Psychiatry Behavioral
Science/Clinical Psychiatry. Eleventh Edition. Wolters Kluwer, Philadelphia.
22