1.
POSISI PENGELASAN
1.1 Posisi Pengelasan 1G-4G plat
Posisi pengelasan atau sikap pengelasan adalah pengaturan posisi dan gerakan arah dari pada
elektroda sewaktu mengelas. Adapun pisisi mengelas terdiri dari empat macam yaitu:
Posisi di Bawah Tangan, Posisi di bawah tangan yaitu suatu cara pengelasan yang
dilakukan pada permukaan rata/datar dan dilakukan dibawah tangan. Kemiringan
elektroda las sekitar 10 - 20 terhada garis vertikal dan 70 - 80 terhadap benda
kerja.
Posisi Datar (Horisontal), Mengelas dengan horisontal biasa disebut juga mengelas
merata dimana kedudukan benda kerja dibuat tegak dan arah elektroda mengikuti
horisontal. Sewaktu mengelas elektroda dibuat miring sekitar 5 - 10 terhada garis
vertikal dan 70 - 80 kearah benda kerja.
Posisi Tegak (Vertikal), Mengelas posisi tegak adalah apabila dilakukan arah
pengelasannya keatas atau kebawah. Pengelasan ini termasuk pengelasan yang paling
sulit karena bahan cair yang mengalir atau menumpuk diarah bawah dapat diperkecil
dengan kemiringan elektroda sekitar 10 - 15 terhada garis vertikal dan 70 - 85
terhadap benda kerja.
Posisi di Atas Kepala (Over Head), Posisi pengelasan ini sangat sukar dan
berbahaya karena bahan cair banyak berjatuhan dapat mengenai juru las, oleh karena
itu diperlukan perlengkapan yang serba lengkap antara lain: Baju las, sarung tangan,
sepatu kulit dan sebagainya. Mengelas dengan posisi ini benda kerja terletak pada
bagian atas juru las dan kedudukan elektroda sekitar 5 - 20 terhada garis vertikal
dan 75 - 85 terhadap benda kerja.
posisi pengelasan
Meterial untuk pengelasan harus disiapkan dengan sebaik mungkin sebelum dilakukan
pengelasan. Persiapan pengelasan yang baik 80% akan memberikan jaminan keberhasilan
dalam pengelasan.
Hal-hal yang dapat terjadi jika penyiapan material tidak baik yaitu :
penetrasi tidak baik (terjadi penetrasi yang berlebihan) karena root face terlalu tipis,
root gap terlalu lebar; atau (tidak terjadi penetrasi) karena root face terlalu tebal, dan
root gap terlalu sempit.
Penyempitan jalur pengelasan (akibat las cacat yang tidak kuat)
misaligment (ketidakrataan benda kerja) karena penempatan material sebelum di las
cacat tidak rata/sejajar.
distorsi (perubahan bentuk) karena pengaruh panas
porosity (karena benda tidak dibersihkan dari karat atau bahan lain)
Penyiapan material harus disesuaikan dengan WPS (Welder Prosedure Spesification)
atau gambar kerja yang digunakan. WPS adalah sebuah prosedur standar persiapan material
yang dirancang sedemikian rupa melalui pengujian-pengujian di laboratorium dan dilas oleh
juru las yang profesional. pengujian-pengujian tersebut dapat berupa Radiography test, Bend
Test, uji tarik atau bahkan structure/micro.
Penyiapannya adalah:
material pertama (sisi samping) dibersihkan dari karat atau bahan lain.
material kedua sisi yang berhubungan digerinda rata sehingga pada saat dihubungkan dan
ketika diterawang tidak terdapat celah di antaranya.
Jika di antara benda tersebut masih terdapat celah, maka akan mengakibatkan penetrasi
yang tidak baik . Jika diuji etsa, pada bagian celah tersebut tidak akan terjadi fusi atau tidak
terjadi perpaduan logam tambah dengan material las, tetapi pada bagian tersebut akan terisi
oleh terak dan disebut cacat slack inclution (terak terperangkap). karena bagian tersebut terisi
terak (bukan logam) maka pada bagian tersebut akan menjadi titik lemah dari konstruksi.
5. Posisi penempatan material pada meja kerja sesuai permintaan/spesifikasi
Penempatan benda kerja disesuaikan dengan permintaan, dalam hal ini adalah
menyesuaikan posisi pengelasan. Penempatannya apakah posisi
1F, 2F, 3F, 4F, 5F, 6F
1G, 2G, 3G, 4G plate
1G, 2G, 5G, 6G, 6GR (pipa)
contoh posisi-posisi pengelasan seperti gambar berikut :
fillet joint (T-joint)
butt joint
Posisi pengelasan 1G pipa, pada pengelasan pipa 1G ini, pipa diputar dan pengelasan
tetap memposisikan elektroda di atas material.
Pengelasan 2G pipa, Pipa diam, juru las mengelas mengitari pipa
Pengelasan 5G pipa, pipa diam, juru las mengelas diawali dari bagian bawah terus
melingkan berhenti di pipa bagian atas pada sisi sebelahnya. pada sisi lain dilakukan dengan
cara yang sama yaitu diawali dari bawah terus melingkar dan berhenti di atas. pengelasan ini
disebut dengan posisi pengelasan 5G up Hill.
Posisi pengelasan di atas adalah posisi 6G. pemasangan pipa dimiringkan 45 derajat
terhadap sumbu horizontal. pengelasan dilakukan dari pipa bagian bawah terus melingkar ke
arah kanan/kiri dan berhenti di atas. dilanjutkan dengan pengelasan sebaliknya diawali dari
bawah dan terus melingkar berhenti di bagian atas. Cara pengelasan seperti ini disebut 6G up
hill.
Angka-angka pada posisi-posisi pengelasan tersebut di atas menunjukkan tingkatan-tingkatan
posisi pengelasan. Angka yang semakin tinggi berarti menujukkan kwalifikasi yang tinggi
pula.
Posisi-posisi pengelasan di atas menunjukkan kwalifikasi juru las yang berhak
mengelasnya. jika juru las memiliki sertifikat kwalifikasi 6G, maka juru las tersebut
diperbolehkan untuk mengelas semua posisi. Tetapi jika juru las tersebut memiliki sertifikat
4G plate, maka juru las tersebut tidak boleh menglas pipa posisi apapun, tetapi bileh
mengelas posisi pengelasan 1F, 2F, 3F, 4F maupun 1G, 2G, 3G dan 4G.
Unit Kompetensi : Mengeset Mesin Las dan Elektroda
1. Teknik perangkaian peralatan las busur metal manual dipahami dengan benar baik
(AC/DC)
2. Peralatan las busur manual dirangkai sesuai prosedur dengan kuat dan aman
3. Penentuan polaritas (AC/DC+/DC-) ditetapkan sesuai kebutuhan tujuan pengelasan
4. Penentuan elektroda dan arus disesuaikan dengan kegunaan pengelasan
PENJELASAN :
Teknik dalam merangkai peralatan las busur manual ini harus dipahami oleh juru las.
Tujuannya adalah agar pada saat melaksanakan perangkaian tidak menimbulkan kecelakaan
atau kesulitan. Hal-hal yang perlu dipahami adalah :
Alat keselamatan kerja yang dibutuhkan untuk merangkai peralatan las dan cara
penggunaannya
Bagian-bagian yang harus dikontrol sebelum perangkaian dilakukan
Posisi tubuh (sikap kerja) pada saat merangkai
Hal-hal yang harus dikontrol setelah proses merangkai selesai dilaksanakan
Kegiatan ini harus dapat diketahui dan dilakukan oleh juru las, agar proses produksi dapat
berjalan dengan lancar. Jika kegiatan ini tidak dapat dilakukan oleh seorang juru las, maka
disaat proses produksi harus berlangsung juru las harus menunggu teknisi untuk
merangkaikan peralatan lasnya. Keadaan seperti ini dapat menurunkan produktivitas
perusahaan. Pemahaman tentang polaritas pengelasan wajib diketahui oleh juru las. Polaritas
akan menentukan hasil pengelasan yang dilakukannya, misalkan penembusan dangkal,
sedang atau dalam. Berdasarkan pengetahuan tersebut, juru las akan dapat menentukan
polaritas apa yang dipakai untuk melakukan pengelasan pada logam ketabalan, jenis bahan
dan posisi pengelasan tertentu.
1.2.
Sambungan Las
1.2.1 Sambungan Las
Sambungan las adalah sambungan antara dua atau lebih permukaan logam
dengan cara mengaplikasikan pemanasan lokal pada permukaan benda yang disambung.
Perkembangan teknologi pengelasan saat ini memberikan alternatif yang luas untuk penyambungan
komponen mesin atau struktur. Beberapa komponen mesin tertentu sering dapat difabrikasi dengan
pengelasan, dengan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan pengecoran atau tempa. Saat ini
banyak part yang sebelumnya dibuat dengan cor atau tempa, difabrikasi dengan menggunakan
pengelasan seperti ditunjukkan pada gambar 1. Sebagian besar komponen mesin yang difabrikasi
menggunakan las, menggunakan teknik pengelasan dengan fusion, dimana dua benda kerja yang
disambung dicairkan permukaannya yang akan disambung.
Gambar 1 Komponen mesin yang dibuat dengan fusion welding
Beberapa kelebihan sambungan las dibandingkan sambungan baut-mur atau sambungan
keling (rivet) adalah lebih murah untuk pekerjaan dalam jumlah besar, tidak ada kemungkinan
sambungan longgar, lebih tahan beban fatigue, ketahanan korosi yang lebih baik. Sedangkan
kelemahannya antara lain adalah adanya tegangan sisa (residual stress), kemungkinan timbul
distorsi, perubahan struktur metalurgi pada sambungan, dan masalah dalam disasembling.
Metoda pengelasan diklasifikasikan berdasarkan metoda pemanasan untuk
mencairkan logam pengisi serta permukaan yang disambung.
1. Electric Arc Welding :
panas diaplikasikan oleh busur listrik antara elektroda las
dengan benda kerja (lihat gambar 1). Berdasarkan (1) aplikasi logam pengisi dan (2)
perlindungan logam cair thd atmosfir, electric arc welding diklasifikasikan menjadi :
a. Shielded Metal Arc welding (SMAW)
b. Gas Metal Arc Welding (GMAW)
c. Gas Tungsten Arc Welding (GTAW)
d. Flux-cored Arc Welding (FCAW)
e. Submerged Arc Welding (SAW)
Gambar 2 Electric Arc welding dengan coated electrode
2. Resistance Welding :
arus listrik meng-generate panas dengan laju I R, melalui kedua permukaan benda kerja
yang disambung. Kedua benda di cekam dengan baik. Tidak diperlukan adanya logam pengisi
atau shield, tetapi proses pengelasan dapat dilakukan pada ruang vakum atau dalam inert gas.
Metoda pengelasan ini cocok untuk produksi masa dengan pengelasan kontinu. Range tebal
material yang cocok untuk pengelasan ini adalah 0,004 s/d 0,75 inchi.
3. Gas Welding :
umumnya menggunakan pembakaran gas oxyacetylene untuk memanaskan logam pengisi
dan permukaan benda kerja yang disambung. Proses pengelasan ini lambat, manual sehingga
lebih cocok untuk pengelasan ringan dan perbaikan.
4. Laser beam welding :
plasma arc welding, electron beam welding, dan electroslag welding : adalah teknologi
pengelasan modern yang juga menggunakan metoda fusi untuk aplikasi yang sangat spesifik.
5. Solid state welding :
proses penyambungan dengan mengkombinasikan panas dan tekanan untuk
menyambungkan benda kerja. Temperatur logam saat dipanaskan biasanya dibawah titik cair
material.
1.3 Distorsi
1 Pengertian Distorsi
Distorsi ialah perubahan bentuk atau penyimpangan bentuk yang
diakibatkan oleh panas, yang diantaranya adalah akibat proses
pengelasan. Pemuaian dan penyusutan benda kerja akan berakibat
melengkungnya atau tertariknya bagian-bagian benda kerja sekitar
pengelasan, misalnya pada saat proses las busur manual.
2 Penyebab Distorsi
Ketika siklus pemanasan dan pendinginan yang berlangsung dalam
proses pengelasan, regangan panas muncul di antara weld metal dan
base metal pada daerah yang dekat dengan weld bead. Peregangan ini
menimbulkan suatu tegangan dalam yang terdapat di dalam material
dan bias menyebabkan terjadinya bending, buckling, dan rotasi.
Deformasi inilah yang disebut distorsi. Distorsi terjadi jika logam las
dibiarkan bergerak leluasa selama proses pendinginan. Jadi distorsi
terjadi karena adanya pemuaian dan penyusutan yang bebas akibat
siklus termal las.
3 Jenis-Jenis Distorsi
a. Transverse Shrinkage
Penyusutan yang terjadi tegak lurus terhadap arah garis las.
b. Angular Change
Distribusi panas yang tidak merata pada kedalaman
menyebabkan distorsi (perubahan sudut).
c. Rotational Distortion
Distorsi sudut dalam bidang plat yang berkaitan dengan
perluasan thermal.
d. Longitudinal Shrinkage
Penyusutan yang terjadi searah garis las.
e. Longitudinal Bending Distortion
Distorsi dalam bidang yang melalui garis las dan tegak lurus
terhadap plat.
f. Buckling Distortion
Kompresi yang berkenaan dengan panas menyebabkan
ketidakstabilan ketika platnya tipis.
4 Teknik Pengontrolan Distorsi
*(Sebelum Pengelasan
a Perencanaan yang baik
Perencanaan kampuh yang baik adalah panjang jarak minimum yang tepat
dari kampuh untuk menghindari terlalu banyaknya pengelasan.
b. Pengelasan Catat
Las catat adalah pengelasan dengan jumlah sedikit merupakan titik-titik
saja yang akan berfungsi seperti klem. Jumlah dan ukuran dari titik-titik
pengelasan yang diperlukan untuk mempertahankan kalurusan adalah
sangat tergantung pada jenis dan tebal bahan. Tehnik pengelasan catat
yang benar akan mempertahankan bahan sewaktu pengelasan.
Langkah pengelasan catat dapat perhatikan pada gambar berikut, yakni
berselang-seling.
c. Alat Bantu (Jig dan Fixture)
Alat bantu ini digunakan untuk mempertahankan kelurusan bahan
sebelum dan selama pengelasan. Bentuk alat bantu ini sangat tergantung
pada bentuk bahan yang dilas.
d. Pengaturan Letak Bahan (Pre-setting)
Pengaturan letak bahan yang akan dilas dapat dilakukan dengan cara
mengganjal (menahan) untuk mengatasi konstraksi pada waktu
pengelasan. Walaupun demikian cara meletakkan ganjal (penahan) sangat
tergantung pada pengalaman dan pengetahuan operator untuk
menempatkannya secara tepat.
*(Sewaktu Pengelasan
a. Pengelasan selang seling.
Apabila pengelasan secara terus menerus dari salah satu ujung ke
ujung yang lain maka konstraksi akan terus bertambah selama proses
pengelasan dan inilah salah satu penyebab perubahan bentuk. Ini dapat
diatasi dengan tehnik pengelasan secara selang-seling dengan arah
pengelasan yang berlawanan.
b. Pengelasan Seimbang
Pengelasan seimbang ini adalah seatu proses pengelasan untuk
menyeimbangkan panas ke bidang pengelasan. Metode ini sering
digunakan untuk memperbaiki kebulatan atau kelurusan poros dan setiap
jalur pengelasan dilakukan berseberangan. Ini bertujuan untuk
mempertahankan keseimbangan kontraksi dan mengurangi perubahan
bentuk. Prinsip yang sama juga dapat digunakan pada pengelasan
kampuh V atau U ganda. Pengelasan dilakukan dengan sisi atau
permukaan yang berlawanan. Konstraksi akan terjadi sama pada kedua
belah permukaan.
c. Pendingin Buatan
Logam pendingin ditempelkan pada logam yang dilas supaya panas
pengelasan dipindahkan ke logam pendingin, logam pendingi biasanya
dari tembaga atau perunggu. Selama pengelasan logam pendingin akan
menyerap panas dari benda kerja. Metode ini cocok untuk pengelasan
pelat tipis karena akan mengalami perubahan bentuk yang besar atau
akan mudah cair jika tidak didinginkan dengan bahan / logam pendingin.
*(Setelah Pengelasan
Untuk memperbaiki perubahan bentuk akibat pengelasan setelah
dilakukan sangat sulit sekali dan kadang -kadang tidak mungkin.
Adalah hal yang sangat penting melakukan langkah menghindari
perubahan bentuk sebelum dan selama pengelasan.
Sungguhpun demikian untuk memperbaiki perubahan bentuk akibat
pengelasan dapat dilakukan dengan 2 cara berikut:
Meluruskan dengan api
Pemukulan Logam Panas
a. Meluruskan dengan Api
Gambar berikut ini menunjukan batang baja mengalami
kebengkokan akibat pengelasan pada salah satu permukaannya.
Konstruksi dari hasil pengelasan membengkokkan baja kearah
pengelasan. Kalau sisi yang berlawanan dari yang dilas dipanaskan dan
didinginkan maka sisi tersebut akan menyusut, sehingga benda akan lurus
kembali.
b. Pemukulan Logam Waktu Panas
Metode ini ini digunakan untuk menarik atau meregang hasil
pengelasan dan bagian logam yang berdekatan dengan tempat
pengelasan dengan cara memukul-mukulnya selagi masih panas.
Peregangan ini akan mempengaruhi hasil pengelasan menjadi mengerut
namun membantu menghilangkan konstraksi. Perlu diperhatikan bahwa
perlakuan yang berlebihan akan mengakibatkan bahan menjadi keras atau
retak.
1.4. Simbol