TUGAS KEPEMIMPINAN DALAM K3
MATA KULIAH MANAJEMEN KESELAMATAN
DAN KESEHATAN KERJA (TI5008)
Nabila Afifi Husna
(23416046)
PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2016
Kepemimpinan pada dasarnya adalah sesuatu yang dimiliki seseorang yang memberikan
pengaruh kepada orang atau kelompok tertentu. Memberikan pengaruh yang dimaksud di
sini adalah mempengaruhi orang agar melakukan apa yang dimau seorang pemimpin,
sehingga terjalin kerjasama saat bekerja dalam tim. Leadership atau kepemimpinan adalah
sesuatu yang dimulai dari atas ke bawah. Pemimpin berbeda dengan manajer, manajer adalah
kedudukan jabatan dalam suatu organisasi yang mengurus segala aspek manajerial. Tidak
semua manajer bisa menjadi pemimpin, namun pemimpin yang baik harus mampu
melakukan aspek manajerial.
Gambar 1 Kepemimpinan dalam K3
Dalam aspek K3, semua pihak disemua area organisasi memiliki potensi untuk menjadi
pemimpin, karena kepemimpinan terkait dengan cara pandang dan sikap pemimpin terhadap
segala aspek yang menjadi tanggung jawabnya. Kepemimpinan sulit diukur dan ditetapkan
kriterianya, sehingga tidak ada persyaratan dalam SMK3. Tetapi bukan berarti hal tersebut
dapat diabaikan, karena SMK3 terkait langsung dengan pekerja.
Sebenarnya tidak ada peraturan atau regulasi yang memberikan kewajiban untuk
menerapkannya dalam SMK3, akan tetapi kepemimpinan sangat penting untuk menunjang
kesuksesan pelaksanaan SMK3, meskipun tanpa kepemimpinan SMK3 masih tetap dapat
dijalankan, namun hanya dalam bentuk sebatas retorika tanpa ada perbaikan.
Berikut akan dijelaskan elemen-elemen dasar kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam
SMK3:
1. Komunikasi yang jelas, transparan dan memiliki visi yang jauh kedepan. SMK3 harus
dikomunikasikan secara jelas, sederhana dan terdapat pengembangan visi.
Manajemen puncak bertanggung jawab untuk mengembangkan visi dan memastikan
pesan yang dibuat jelas dan dimengerti oleh semua pihak. Disamping adanya
kebijakkan K3, menajemen puncak dapat mengembangkan sendir istilah-istilah yang
secara spesifik memeberikan arahan dan tindakan yang dapat dilakukan sesuai
dengan tinkat personel di dalam perusahaan. Misalnya, Safety adalah prioritas
utama. Istilah ini sangat sederhana tetapi siapapun yang membacanya akan dapat
memahami dan mengingatnya disaat melakukan aktifitas kerja.
2. Rencana yang ringkas, jelas untuk mencapai visi. Manajemen puncak bertanggung
jawab untuk memastikan penyusunan manual sistem manajemen K3 yang terdiri dari
penjelasan singkat struktur dan program SMK3 yang telah dilakukan. Untuk setiap
manajemen K3, sebaiknya terdiri dari: alur yang dapat dipahami, matriks tanggung
jawab yang jelas, dan indikator pengukuran kinerja (KPI). Manajemen puncak dapat
menunjuk siapa saja yang diberi tanggung jawab menerapkan program tersebut.
3. Secara aktif ikut mendukung dan terlibat dalam pencapaian program. Ini mencakup
setting standar kinerja bagi manajer dan supervisor pada aktifitas seperti safety
patrol, investigasi kecelakaan, diskusi kelompok K3 dan proyek-proyek khusus. Para
manajer
dan
mempromosikan
supervisor
secara aktif
pentingnya
K3
menyingkirkan
disamping
berbagai
hambatan,
kualitas dan produktifitas,
dan
berpartisipasi dalam inspeksi, investigasi, dan lain-lain.
4. Dapat mempertanggungjawabkan semua program K3 kepada semua level didalam
perusahaan. Ini memerlukan keterlibatan aktif semua pihak dengan memberikan
peluan yang luas bagi staff untuk memberikan masukkan dan menerima tanggung
jawab K3. Hal ini sangat penting dan menunjukkan bahwa standar K3 dan aturannya
diketahui, ditaati bersama-sama, dan bila ada pelanggaran, diperkuat dengan
tindakkan pendisiplinan.
5. Mengintegrasikan elemen K3 kedalam fungsi inti pengelolaan bisnis. K3 jangan
dianggab sebagai tambahan pekerjaan, atau menjadi sistem diluat aktifitas sehari hari. K3 harus menjadi bagian dari setiap pekerjaan. Organisasi yang berkomitmen
kuat kepada K3 memiliki batas yang luas bagi SMK3 didalam organisasinya. Bentuk
yang biasa dilakukan adalah dengan mengintegrasikan SMK3 kedalam sistem
manajemen lainnya seperti ISO 9001 dan ISO 14001.
6. Komitmen kepada K3 sebagai prioritas. Memiliki SMK3 yang meliputi banyak hal,
terstruktur, dan adanya proses dalam meningkatkan kompetensi sumberdaya
manusianya merupakan sebuah pesan bahwa K3 menjadi prioritas didalam organisasi.
Pelatihan sebaiknya tidak dipandang sebagai pengganti tapi sebagai tambahan untuk
keterlibatan. Pemimpin dalam K3 mengambil setiap peluang dalam memperkuat
SMK3, dan menemukan dukungan, keterlibatan pekerja dan mengakui hal tersebut
sebagai prestasi positif mereka.
7. Fokus pada perbaikkan berkelanjutan (continous improvement) dari sistem
manajemen K3. Mengelola SMK3 adalah sama dengan mengelola produktivitas ,
kualitas atau area-area lain dalam organisasi. Peningkatan dan perbaikkan sistem
dapat dijadikan sebagai bagian dari aktifitas sehari-hari.
SAFETY LEADERSHIP MODEL
Gambar 2 Model Kepemimpinan K3
Pimpinan memiliki pengaruh dalam merubah mindset pekerja, bagaimana cara mereka
berpikir, bersikap, dan berperilaku untuk membangun budaya keselamatan. Perlu disadari
bahwa unsur utama dalam pengembangan budaya keselamatan, adalah pembentukan sikap
dan perilaku selamat, yang dibangun dari nilai-nilai keselamatan yang ditanamkan dalam
4
budaya organisasi. Gambar 2 yang menggambarkan Model Kepemimpinan dalan K3
menunjukkan Budaya Organisasi yang akan mendukung keberhasilan pengembangan budaya
keselamatan, dimulai dari personality and values, emotional, commitment pimpinan yang
membentuk
gaya kepemimpinan
dalam membangun
best practices yang selalu
dikembangkan untuk memperkokoh budaya organisasi.
Karakter Pemimpin K3 Penentu Keberhasilan Budaya K3
Setelah membahas elemen-elemen kepemimpinan dalam K3, lalu tentang model
kepemimipinan K3, akan dibahas sebenarnya seperti apa karakter seorang pemimpin yang
baik dalam menentukan keberhasilan diterapkannya budaya K3 pada suatu organisasi.
Pembentukan budaya K3 dalam suatu organisasi dimulai dari manajemen puncak. Yang
dimaksudkan di sini adalah tonggak awal pembentukan sebuah budaya K3 di mulai dari
manajemen puncak, yakni pemimpin. Komitmen dan keteladanan pemimpin adalah faktor
paling penting sebagai penentu keberhasilan dibangunnya budaya K3 (safety culture) di
perusahaan. Safety leadership-lah yang berperan besar dalam menggerakkan partisipasi
pekerja untuk selalu memprioritaskan K3 dalam setiap kegiatan operasi.
Lantas, karakter safety leadership seperti apa yang harus dimiliki seorang pemimpin agar
berhasil membangun sebuah budaya K3 yang efektif?
1. Memiliki kompetensi manajerial, emosional, dan spiritual
Dalam membuat sebuah perubahan terhadap budaya K3, seorang pemimpin harus memiliki
kompetensi manajerial. Tanpa kompetensi, ia akan sulit menentukan visi dan strategi yang
tepat dan mengajak para pekerjanya untuk aktif terlibat menerapkan K3 di lingkungan kerja.
Selain kompetensi manajerial, seorang pemimpin juga harus memiliki kompetensi emosional
dan kompetensi spiritual yang tinggi agar bijak mewujudkan sasaran yang diinginkan, yaitu
berhasil membangun sebuah budaya K3 yang efektif.
2. Memiliki sifat optimistis dan visioner
Tak hanya kompetensi yang unggul, pemimpin juga harus memiliki sifat optimistis dan
visioner. Seorang pemimpin harus mempunyai visi K3 yang benar. Dalam merumuskan visi K3
yang jelas, pemimpin haruslah memiliki komitmen kuat terhadap visi yang diembannya. Dia
harus optimis dan mampu melibatkan pekerja untuk turut proakif dalam implementasi K3.
Perlu Anda pahami, bila K3 sudah dijadikan nilai utama dalam budaya perusahaan, maka nilai
tersebut akan bertahan lama.
3. Pemimpin yang sukses selalu percaya kepada timnya
Gambar 3 Percaya kepada tim
Source: [Link]
Seperti kata Napoleon Bonaparte, "pemimpin adalah pencipta harapan". Pemimpin yang baik
harus peduli dan percaya kepada para pekerjanya. Kepedulian seorang pemimpin tentunya
akan membangun kepercayaan diri para pekerja, terutama dalam mengimplementasikan K3.
Kepercayaan diri pekerja juga akan muncul, saat pemimpin mempercayai timnya. Bantu dan
ajaklah pekerja untuk selalu mengutamakan K3 dalam melaksanakan pekerjaannya. Dengan
begitu, lambat laun budaya K3 pun akan tercapai dengan sendirinya.
4. Melibatkan pekerja dalam implementasi K3
Pemimpin yang memiliki sistem manajemen K3 modern lebih mengutamakan keterlibatan
pekerja atau lebih dikenal dengan "bottom up involvement". Karakter pemimpin seperti ini
terbukti lebih handal dalam membangun sebuah budaya K3 yang efektif.
Gambar 4 Bottom-up involvement
Source: [Link]
Melibatkan, memberdayakan dan mendorong pekerja dalam penerapan K3 ternyata
menimbulkan rasa tanggung jawab mereka untuk selalu mengutamakan K3 dalam
pekerjaannya. Para pekerja merasa dihargai dengan keterlibatan mereka dalam membangun
budaya K3 di perusahaan.
5. Melakukan perbaikan performa K3 yang berkelanjutan
Gambar 5 Continuous Improvement
Source: [Link]
Pemimpin selalu memiliki rencana yang jelas untuk meningkatkan kinerja K3 di perusahaan.
Meski sistem K3 yang sekarang dijalankan sudah efektif dalam menekan angka kecelakaan,
pemimpin akan terus mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sistem yang ada dan
melakukan perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan performa K3. Tujuannya tak lain
untuk membangun sebuah budaya K3 di perusahaan.
6. Memiliki kebijakan dan peraturan K3 yang jelas
Gambar 6 Regulasi K3 yang jelas
Source: [Link]
Pemimpin bersama tim manajemen menyusun sebuah kebijakan dan peraturan K3 yang jelas
dan tegas untuk memastikan para pekerjanya bekerja dengan aman dan selamat. Pemimpin
juga harus turun tangan langsung melakukan penilaian dan analisa apakah standar yang
diberlakukan sudah berjalan dengan baik atau belum.
7. Akuntabel dan bertanggung jawab
Pemimpin akan sukses membangun sebuah budaya K3 bila ia menjadi sosok yang akuntabel
dan bertanggung jawab bagi para pekerjanya.
"Kepemimpinan adalah masalah tanggung jawab dan tanggung jawab adalah harga sebuah
kepemimpinan"
Seorang pemimpin yang berperan sebagai tonggak awal sebuah perubahan dalam budaya K3
harus memahami tanggung jawabnya untuk memastikan setiap operasi di perusahaannya
berjalan sesuai standar keselamatan yang telah ditentukan dan para pekerja bisa pulang
dengan selamat dan aman ke rumah mereka. Bila terjadi kesalahan atau sistem manajemen
8
K3 tidak berjalan dengan semestinya, pemimpin yang akuntabel akan menerima konsekuensi
dan lebih banyak introspeksi dirinya sendiri daripada menyalahkan bawahannya.
8. Melakukan pengukuran dan pemantauan efektivitas kinerja K3
Pemimpin yang kompeten dan bertanggung jawab memahami cara pengukuran dan
pemantauan untuk mengukur tingkat efektivitas kinerja K3 di perusahaannya. Hasil
pemantauan dan pengukuran kinerja K3 ini dianalisa dan digunakan untuk mengidentifikasi
tingkat keberhasilan penerapan K3 atau keperluan tindakan perbaikan untuk mencapai
kinerja K3 yang lebih baik lagi. Keberhasilan penerapan K3 juga menandakan budaya K3
perusahaan yang lebih baik.
9. Bersifat terbuka dan tidak ragu meminta pendapat kepada timnya
Gambar 7 Sifat Terbuka
Source: [Link]
Karakter pemimpin seperti ini yang biasanya disenangi tim manajemen dan para pekerja.
Meskipun ia berada di posisi manajemen puncak, ia tidak ragu untuk bersifat terbuka
(transparan) atau meminta pendapat dari timnya. Karakter ini menunjukkan bahwa
pemimpin menghargai dan mempercayai mereka untuk proaktif menerapkan K3 dalam setiap
pekerjaan.
10. Terus berinovasi menyusun strategi untuk menciptakan safety culture
Gambar 8 Karakter Inovasi dan Kreatif
Source: [Link]
Pemimpin yang visioner tidak akan berhenti melakukan inovasi dalam menciptakan budaya
K3 dan lingkungan kerja yang aman di perusahaannya. Ia terus menyusun berbagai strategi
agar perusahaannya berhasil membangun sebuah budaya K3 yang konsisten dan efektif. Bila
seluruh pekerja selalu mengutamakan aspek K3 sebagai sebuah budaya, maka target zero
accident pun akan tercipta dengan sendirinya.
Itulah karakter safety leadership yang harus dimiliki pemimpin agar perusahaan berhasil
membangun sebuah budaya K3. Intinya, seorang pemimpin harus menjadi pribadi yang
konsisten dan bisa menjadi contoh yang baik bagi para pekerjanya, terus melakukan
komunikasi akan pentingnya K3 kepada pekerjanya, dan selalu memastikan para pekerja
bekerja sesuai prosedur aman demi terwujudnya budaya K3 yang efektif.
REFERENSI
Heni, Yusri. PERAN SAFETY LEADERSHIP DALAM MEMBANGUN BUDAYA KESELAMATAN
YANG KUAT. 2010. YOGYAKARTA : SEMINAR NASIONAL VI SDM TEKNOLOGI NUKIR
[Link] diakses 05/12/16 16.00
10