0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan24 halaman

Terapi dan Diagnosis Cutaneous Larva Migrans

Dokumen tersebut membahas tentang cutaneous larva migrans (CLM) yang merupakan kelainan kulit disebabkan oleh invasi larva cacing tambang. CLM lebih sering ditemukan pada anak-anak dan mereka yang bekerja di pertanian tanpa alas kaki. Pengobatan utamanya adalah menggunakan antihelmintik seperti albendazol dan semprotan kloretil untuk membunuh larva.

Diunggah oleh

krisprilnal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan24 halaman

Terapi dan Diagnosis Cutaneous Larva Migrans

Dokumen tersebut membahas tentang cutaneous larva migrans (CLM) yang merupakan kelainan kulit disebabkan oleh invasi larva cacing tambang. CLM lebih sering ditemukan pada anak-anak dan mereka yang bekerja di pertanian tanpa alas kaki. Pengobatan utamanya adalah menggunakan antihelmintik seperti albendazol dan semprotan kloretil untuk membunuh larva.

Diunggah oleh

krisprilnal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Cutaneuos Larva Migrans (CLM) merupakan kelainan kulit berupa peradangan
berbentuk linear atau berkelok-kelok, menimbul dan progresif, disebabkan oleh invasi
larva cacing tambang yang berasal dari anjing atau kucing.1 Kelainan ini dapat
ditemukan di seluruh dunia, terutama di daerah yang beriklim tropis, udara yang
hangat dan lembab sangat cocok untuk kelangsungan hidup cacing tambang. Kejadian
cutaneous larva migrans di Indonesia cukup tinggi, terutama di daerah pedesaan,
sekitar 40% pada tahun 2010.2 Umumnya terjadi pada anak-anak sekitar 2/3 dari anak
berusia 1-15 tahun.3
Penyakit CLM ini sudah dikenal sejak tahun 1874.2,3 kemudian pada tahun
1929 diketahui bahwa penyakit ini terkait dengan migrasi subkutan dari larva
Ancylostoma.4 Sehingga kemudian penyakit ini dikenal dengan Hookworm related
cutaneus larva migrans (HrCLM).5 Awalnya penyakit ini hanya ditemukan pada
daerah-daerah tropical dan subtropical beriklim hangat. Saat ini karena kemudahan
transportasi ke seluruh bagian dunia, penyakit ini tidak lagi dikhususkan pada daerahdaerah tersebut.2
Selama beberapa dekade ini, istilah HrCLM dan creeping eruption sering
disamaartikan. Perbedaannya adalah HrCLM menggambarkan sindrom, sedangkan
creeping eruption menggambarkan gejala klinis. Creeping eruption secara klinis
diartikan sebagai lesi yang linear atau serpiginius, sedikit menimbul, dan kemerahan
yang bermigrasi dalam pola yang tidak teratur.
Penyebab utama cutaneous larva migrans adalah larva cacing tambang, yang
paling sering ditemukan adalah Ancylostoma brazilinse, Ancylostoma caninum,
Uncinaria stenochphala, Bunostonum phlebotomum, namun dapat juga ditemukan
jenis larva lain.1 Jenis nematoda tesebut memiliki siklus hidup untuk berkembang
biak di dalam dinding mukosa anjing dan karnivora lainnya dan pada fase larva akan
1

dikeluarkan melalui feses. Untuk dapat menjadi cacing dewasa larva harus
menginvasi hostnya kembali.4 Larva cacing ini sering menginvasi manusia yang
memiliki faktor resiko berupa pekerjaan yang kontak langsung dengan tanah yang
telah terkontaminasi. Anak-anak yang sering bermain tanah tanpa menggunakan alas
kaki, para pekerja bangunan yang kontak dengan pasir atau tanah, para pemburu
hewan di hutan, dan peternak hewan merupakan kelompok yang paling sering
menderita cutaneous larva migrans2.
Saat mengalami kontak langsung dengan lapisan terluar kulit manusia, larva ini
dapat langsung menginvasi masuk ke dalam epidermis. Pada saat telah menembus
epidermis akan timbul gambaran.5
Papul pada lokasi invasi namun umumnya jarang dicurigai. Gambaran
inflamasi yang berkelok baru akan muncul tergantung seberapa cepat cacing dapat
menembus stratum korneum kulit. Larva cacing ini tidak dapat menembus membran
basal kulit sehingga tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya dan hanya berjalan-jalan
tanpa tujuan di dalam epidermis dan menimbulkan gambaran klinis peradangan yang
berkelok-kelok sesuai dengan perjalanannnya. Karena tidak dapat menembus
membran basal dan melanjutkan hidup, maka larva ini lama-kelamaan akan mati,
sehingga penyakit ini termasuk jenis self limitting disease. Namun waktu yang
diperlukan untuk sembuh bervariasi, ada yang mencapai bulanan, rasa gatal dan panas
pada kulit dapat sangat mengganggu.1
Pengobatan cutaneous larva migrans dapat diberikan anti-helmintes
berspektrum luas seperti tiabendazol dengan dosis 50 mg/kgBB 2 kali sehari selama 2
hari berturut-turut. Namun obat ini sulit didapatkan, sehingga di Indonesia lebih
sering menggunakan Albendazole untuk terapi cutaneous larva migrans dengan dosis
400 mg sehari selama 3 hari berturut-turut1. Larva yang bergerak-gerak menimbulkan
rasa gatal dan panas yang sangat mengganggu sehingga pengobatan untuk mematikan
larva terlebih dahulu menjadi pilihan utama, yaitu dengan menggunakan dry ice
berupa kloretil yang disemprotkan di daerah lesi dengan penekanan selama 45 60
detik6.
2

BAB II
LAPORAN KASUS
A. Anamnesis
1. Identitas
Nama

: Ny. S

Umur

: 34 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Alamat

: Jln. Temanggung Tilung

Pekerjaan

: Swasta

Tanggal Periksa

: 17 November 2016

No. RM

2. Keluhan Utama
Timbul kemerahan pada kulit yang berkelok-kelok di daerah tungkai bawah
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poli Kulit dan Kelamin RSUD dr. Doris Sylvanus dengan keluhan
kemerahan pada tungkai bawah yang berkelok-kelok dan menjalar, serta
mengeluhkan gatal dibagian tungkai kaki. Keluhan tersebut sudah dirasakan
semenjak 3 minggu SMRS. Rasa gatal diraskan semakin memberat ketika malam hari
dan berkurang intensitasnya pada siang hari namun masih sedikit terasa gatal. Awal
mula gejala muncul pada malam hari yaitu terasa panas yang diikuti dengan rasa gatal
dan kemerahan. Kemerahan diarasakan menjalar di tungkai dan meninggalkan bekas
kehitaman. Pasien juga mengeluhkan demam yang hilang timbul. Pasien meminum
obat paracetamol dan amoxilin pada saat pertama munculnya gejala tapi keluhan
tidak berkurang. Pasien juga berobat ke Puskesmas dan diberikan obat CTM dan obat
Hipertensi tapi pasien lupa nama obatnya. Karena keluhan pasien tidak berkurang

maka pasein membeli obat albendazol 400 mg dan salap formyco dengan isi
kandungan ketokenazol di Apotik karena mencari di internet. Pasien baru
mengkonsumsi 2 tablet albendazol, salap formyco salama 1 hari dan keluhan sedikit
berkurang tetapi masih terdapat kemerahan yang berkelok-kelok dan terasa gatal.
Pasien merupakan pedagang. Pekerjaan sehari-hari berlangsung di rumah dan diluar
rumah. Pasien tidur di tempat tidur. Diketahui di daerah sekeliling rumah terdapat
hewan peliharaan sepert kucing.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit serupa

: Disangkal

Riwayat alergi makanan

: Disangkal

Riwayat alergi obat

: Disangkal

Riwayat atopi

: Disangkal

Riwayat diabetes mellitus

: Disangkal

Riwayat hipertensi

: Disangkal

Riwayat berpegian jauh

: Disangkal

Riwayat berobat

: Positif

5. Riwayat Keluarga dan Lingkungan


Riwayat penyakit serupa

: Disangkal

Riwayat alergi

: Disangkal

Riwayat atopi

: Disangkal

Riwayat diabetes mellitus

: Disangkal

Riwayat hipertensi

: Positif

6. Riwayat Aktivitas
Pasien melakukan aktivitas sehari-hari yaitu membersihkan rumah dan
berjualan dipasar. Pasien tidak merasakan adanya hambatan dalam melakukan
pekerjaannya.
7. Riwayat Kebiasaan
Pasien biasa mandi 2 kali sehari, dengan air sumur pompa. Ganti pakaian
dalam 2 kali sehari dan pakaian luar 1 kali sehari. Penderita makan tiga kali sehari,
dengan nasi dan sayur serta lauk pauk seperti telur, ayam, tempe dan tahu.
Pasien tidur di atas kasur dan di daerah sekeliling rumah terdapat hewan
peliharaan seperti kucing.
8. Riwayat Sosial Ekonomi
Penderita bekerja sebagai ibu rumah tangga. Penderita tinggal bersama 3
orang anggota keluarga lainnya. Pasien berobat tidak menggunakan faslitias BPJS
9.

Status Generalis
Keadaan Umum

: Tampak sakit ringan

Kesadaran

: Compos Mentis

Status Gizi

: Baik

Vital Sign
Tekanan darah

: 140/90 mmHg

Denyut nadi

: 82 kali / menit, reguler dan kuat angkat

Frekuensi pernapasan

: 20 kali / menit, reguler

Suhu

: 360C

Kepala

: dalam batas normal

Thorax

: dalam batas normal

Abdomen

: dalam batas normal

10. Status Dermatologis


Regio
UKK

: Makulopapular, linear papul eritem

B. PemeriksaanFisik
1. Status Generalis
a. KeadaanUmum
Vital Sign

b.
c.
d.
e.

Kepala
Mata
Hidung
Telinga

: Tungkai

: Baik, compos mentis


: Tekanandarah

: 140/90 mmHg

Respiration rate

: 20x/menit

Nadi

: 84x/menit

Suhu

: 36,50 C

: Dalambatas normal
: Dalam batas normal
: Dalambatas normal
: Dalam batas normal

f. Mulut

: Dalambatas normal
: Dalambatas normal
Thorax
:
[Link] : Batas jantung kesan normal
2. Pulmo : Dalambatas normal
Abdomen
: Dalambatas normal
Ekstremitasatas
: Dalambatas normal
Ekstremitasbawah
: Dalambatas normal
g. Leher

h.
i.
j.
k.

l. Genitalia

: Dalam batas normal

C. DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
- Cutaneous larva migrans (CLM)
- Skabies
- Dermatofitosis
D.

DIAGNOSIS KERJA
- Cutaneous larva migrans (CLM)

E.

TERAPI
- Semprotan kloretil pada ujung lesi
- Anti helmintes : aLbendazol 400 mg selama 5 hari berturut-turut
- Antihistamin: cetirizine 1x1 tab/hari
- Antipiretik : paracetamol 500 mg 3x1/hari

F.

PROGNOSIS
- Quo ad vitam
- Quo ad fuctionam
- Quo ad sanationam

: bonam
: bonam
: bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
III.1 DEFINISI

Istilah ini digunakan pada kelainan kulit yang merupakan peradangan berbentuk
linear atau berkelok-kelok, menimbul dan progresif, disebabkan oleh invasi larva
cacing tambang yang berasal dari anjing dan kucing.1
Pada beberapa sumber lain menyebutan dengan nama Creeping eruption,
creeping verminous dermatitis, sandworm eruption, plumberss itch, duck hunters
itch. Semua nama ini lebih ditunjukan ada gejala yang timbul (gatal dan creeping
dermatitis) yang dapat juga disebabkan oleh beberapa jenis parasite yang lain. 2
III.2 EPIDEMIOLOGI
Cutaneus larva migrans (CLM) terdistribusi secara luas dan hampir dapat
ditemukan di wilayah tropic dan sub tropic, terutama bagian tenggara Amerika
Serikat, Caribia, Africa, Amerika tengah dan selatan, India dan Asia tenggara.
Beberapa aktivitas dapat meningkatkan resiko infeksi, terutama yang berhubungan
dengan tanah

yang terkontaminasi dengan kotoran hewan, seperti bermain di

lapangan, berjalan tanpa alas kaki di pantai, dan pekerjaan di bawah tanah yang harus
dilakukan dengan posisi merangkak. Selain itu pekerja yang yang dalam
kesehariannya terutama pekerja di bidang pertanian yang tidak menggunakan sepatu
memiliki resiko yang lebih besar terkena CLM.2,4
Selain itu, juga dilaporkan kasus juga terjadi pada daerah timur tengah. Dimana
tempat yang panas dan kelembapan yang cukup merupakan tempat yang baik baik
persebaran infeksi cacing ini.6
III.3 ETIOPATOGENESIS
Penyebab utama adalah larva yang berasal dari cacing tambang binatang anjing
dan kucing., yaitu Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. Di Asia Timur
umumnya disebabkan oleh gnatostoma babi dan kucing. Pada beberapa kasus
ditemukan Enchinococcus, Strongyloides sterconalis, Dermatobia maxiales, dan
Lucilia caesar. Selain itu dapat pula disebabkan oleh larva dari beberapa jenis lalat,
misalnya Castrophilus (the horse bot fly) dan cattle fly. Biasanya larva ini merupakan

stadium ketiga siklus hidupya. Nematoda hidup pada hospes, ovum terdapat pada
kotoran binatang dan karena kelembapan berubah menjadi larva yang mampu
mengadakan penetrasi ke kulit. Larva ini tinggal di kulit berjalan-jalan tanpa tujuan
sepanjang dermoepidermal, setelah beberapa jam atau hari akan timbul gejala di
kulit.1,2. Namun dalam case report yang dilakukan oleh Michael Arter disebutkan
bahwa larva mungkin dapat dorman selama beberapa bulan setelah infeksi.7

Gambar 3.1. Cutaneous larva migrans dorman

Michael et all. Dalam tulisannya menjelesakan mengenai cutaneous larva


migrans yang terjadi pada bayi di Adelaide Hill, [Link] dalam tulisan
tersebut bahwa di daerah tersebut tidak pernah dilaporkan adanya kasus cutaneous
larva migrans. Namun timbulnya kasus ini pada 2010 menimbulkan hipotesis bahwa
selain anjing dan kucing, ada kemungkinan hewan semacam tupai dan kaki seribu
sebagai sumber dari larva nematode.8

Gambar 3.2. Cutaneus Larva Migrans pada bayi8

Manusia dapat terinfeksi dari parasite ini ketika berkativitas di lingkungan yang
terkontaminasi dengan kotoran [Link] cacing ini mampu bertahan di tanah
selama berminggu-minggu. Ketika memasuki siklus hidup ke tiga, cacing ini mampu
penetrasi ke dalam kulit manusia dan migrasi beberapa centi meter selama beberapa
hari di anatara lapisan stratum germinativum dan stratum corneum. Hal ini dapat
menginduksi reaksi inflamsi eosinophil. Sebagian cacing ini tidak dapat meniginvasi
ke bagian yang lebih dalam dan akan mati dalam beberapa hari dan bulan.2
Infeksi bakteri juga dapat terjadi dalam berapa kasus. Hal ini diakibatkan dari
hasil garukan yang dilakukan oleh pasien sendiri. Biasanya terjadi pada orang dengan
status ekonomi yang rendah dan sebagai penyebab dari morbiditas.6
III.4 SIKLUS HIDUP
Telur keluar bersama tinja pada kondisi yang menguntungkan (lembab,hangat,
dan tempat yang teduh). Setelah itu, larva menetas dalam 1-2 hari. Larva rabditiform
tumbuh di tinja dan/atau tanah, dan menjadi larva filariform (larva stadium tiga) yang
infektif setelah 5 sampai 10 hari. Larva infektif ini dapatbertahan selama 3 sampai 4
minggu di kondisi lingkungan yang sesuai. Pada kontak dengan pejamu hewan
(anjing dan kucing), larva menembus kulit dan dibawa melalui pembuluh darah
menuju jantung dan paru-paru. Larva kemudian menembus alveoli, naik ke

10

bronkiolus menuju ke faring dan tertelan. Larva mencapai usus kecil, kemudian
tinggal dan tumbuh menjadi dewasa. 9
Cacing dewasa hidup dalam lumen usus kecil dan menempel di dinding usus.
Beberapa larva ditemukan di jaringan dan menjadi sumber infeksi bagi anak anjing
melalui transmammary atau transplasenta. Manusia juga dapat terinfeksi dengan cara
larva filariform menembus kulit. Pada sebagian besar spesies, larva tidak dapat
berkembang lebih lanjut di tubuh manusia dan bermigrasi tanpa tujuan di epidermis.
Beberapa larva dapat bertahan pada jaringan yang lebih dalam setelah bermigrasi di
kulit.10

III.5 GEJALA KLINIS


Pada saat larva masuk ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas ditempat
larva melakukan penetrasi. Rasa gatal yang timbul terutama terasa pada malam hari,
jika digaruk dapat menimbulkan infeksi sekunder. Mula-mula akan timbul papul,

11

kemudian diikuti bentuk yang khas,yakni lesi berbentuk linear atau berkelok-kelok,
menimbul dengan diameter 2-3 mm, dan berwarna kemerahan. Adanya lesi papul
yang eritematosa ini menunjukkan bahwa larva tersebut telah berada di kulit selama
beberapa jam atau hari. Perkembangan selanjutnya, papul merah ini menjalar seperti
benang berkelok-kelok, polisiklik, serpiginosa, menimbul, dan membentuk
terowongan (burrow), mencapai panjang beberapa sentimeter. Pada stadium yang
lebih lanjut, lesi-lesi ini akan lebih sulit untuk diidentifikasi, hanya ditandai dengan
rasa gatal dan nodul-nodul. 11
Lesi tidak hanya berada di tempat penetrasi. Hal ini disebabkan larva dapat
bergerak secara bebas sepanjang waktu. Umumnya, lesi berpindah ataupun
bertambah beberapa milimeter perhari dengan lebar sekitar 3 milimeter. Pada CLM,
dapat dijumpai lesi tunggal atau lesi multipel, tergantung pada tingkat keparahan
infeksi.12
Pada infeksi percobaan dengan 50 larva, didapati gejala mulai muncul
beberapa menit setelah tusukan, diikuti dengan munculnya papul-papul setelah 10
menit. Beberapa jam kemudian, bercak awal mulai digantikan oleh papul kemerahan.
Papul-papul kemudian bergabung membentuk erupsi eritematopapular, yang
kemudian akan menjadi vesikel yang sangat gatal setelah 24 jam. Lesi berbentuk
linear atau berkelok-kelok mulai muncul 5 hari setelah infeksi.13
CLM biasanya ditemukan pada bagian tubuh yang berkontak langsung dengan
tanah atau pasir. Tempat predileksi antara lain di tungkai, plantar, tangan, anus,
bokong, dan paha. Pada kondisi sistemik, gejala yang muncul antara lain eosinofilia
perifer (sindroma Loeffler), infiltrat pulmonar migratori, dan peningkatan kadar
imunoglobulin E, namun kondisi ini jarang ditemui.14

12

Gambar 3.3. Gambaran klinis CLM

Masuknya larva ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas. Mula-mula akan
timbul papul, kemudian diikuti bentuk yang khas, yakni lesi berbentuk linear atau
berkelok-kelok, menimbul dengan diameter 2-3 mm, serta panjang 15-20 cm dan
berwarna kemerahan. Adanya lesi papul yang eritomatosa ini menunjukkan bahwa
larva tersebut telah berada di kulit selama beberapa jam atau hari.1

Gambar 3.4. Cutaneus Larva Migrans2

Perkembangan selanjutnya papul merah ini menjalar seperti benang berkelokkelok, polisiklik, serpinginosa, menimbul, dan membetuk terowogan (burrow),
mencapai panjang beberapa cm. Rasa gatal biasanya lebih hebat pada malam hari.
Selain itu juga dapat menimbulkan lesi vesicular dan bula. 1,2

13

Gambar 3.5. Cutaneus larva migrans dengan lesi vesicular dan bula.2

Tempat predileksi adalah di tungkai, telapak kaki, pinggang panggul, pundak,


plantar, tangan, anus, bokong, dan paha, juga bagian tubuh di mana saja yang sering
berkontak dengan tempat larva berada. Satu lesi yang muncul juga dapat
berhubungan beberapa saluran tempat masuknya cacing tersebut.1,3,4
Selain itu ditemukan beberapa temuan klinis lainya, seperti foliculitis yang
disebakan infeksi cacing. Pasien sering mengeluhkan gatal dan adanya tanda creeping
eruption. Folikulitis ini dapat terjadi pada 20-100 folikel dan dapat berupa papul dan
pustul, sering terjadi pada beberapa bagian tubuh saja seperti area pantat. Folikulitis
ini juga dapat diikuti atau tidak diikuti dengan adanya tanda-tanda serpiginious yang
khas pada cutaneus larva migrans.2
III.6 PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Special Test Tetap harus ditemukan adanya tanda-tanda creeping eruption, dan
riwayat terpapar atau riwayat berpergian ke daerah yang mungkin dapat menularkan
infeksi cacing ini. Penegakan dari folikulitis cacing

harus berdasarkan adanya

penemuan klinis berupa pruritus folikulitis yang disertai creeping eruption. Di lain
pihak, terkadang perlu adanya pemerikasaan histologis yang akan menenumkan
nematoda yang terperangkap di canal folikel, stratum corneum, maupun lapisan
dermis disertai dengan adanya infiltrat eosinophilic. Biopsi tidak memberikan
manfaat. 2,3

14

Anand et all menyebutkan dalam Journalnya yang berjudul Cutaneues Larva


Migrans: Diagnosis on Fine Needle Aspiration. Penulis melakukan pemeriksaan
sitologi dalam menegegakkan Cutaneus larva migrans. Dimana ditemukan adanya
cacing refracile yang panjang dengan kutikula yang tebal, dikelilingi neurtophil dan
histiosit. Penulis juga menyebutkan bahwa penemuan eosinophil dan peningkatan
Immunoglobulin E memang langka

Gambar 3.6. Refractile parasite (MCG, 40x)

Gambar 3.7. Inflamsi dermal dan subcutaneus (H&E, 10x)

Gambar 3.8. Eosinophilic dan Neutrophilic infiltration (H&E,40x)

15

Namun beberapa sumber menuliskan bahwa pemeriksaan laboratorium kurang


membantu dalam penegakan diagnosis. 4
III.7 DIAGNOSIS
Berdasarkan bentuk khas, yakni terdapatnya kelainan seperti benang yang
lurus atau berkelok-kelok, menimbul, dan terdapat papul atau vesikel di atasnya.1
III.8 DIAGNOSA BANDING
Dengan melihat adanya terwongan harus dibedakan dengan scabies, pada
scabies terowongan yang terbentuk tidak akan sepanjang seperti penyakit ini. Bila
melihat bentuk yang polisiklik sering dikacaukan dengan dermatofitosis. Pada
permulaan lesi berupa papul, karena itu sering diduga insects bite. Bila invasi larva
yang multiple timbul serentak, papul-papul lesi dini sering menyerupai herpes zoster
stadium permulaan.1
Selain itu juga pada pekerja di bidang pertanian dapat dipikirkan beberapa
diagnosis banding yang lain seperti tinea, leishmaniasis, dermatitis kontak, erythema
chronicum migrans, migratory myasis, larva currens, gnathostomiasis, dan loaiasis. 4

III.9 PENGOBATAN
Sejak tahun 1963 telah diketahui bahwa antihelmintes berspektrum luas,
misalnya tiabendazol (mintezol), ternyata efektif. Dosisnya 50 mg/kg BB/hari, sehari
2x, diberikan berturut-turut selama 2 [Link] maksimum 3 gram sehari, jika belum
sembuh dapat diulangi setelah beberapa hari. Obat ini sukar didapat. Efek
sampingnya mual, pusing, dan muntah. Eyster mencobakan pengobatan topical
solution tiabendazol dalam DMSO dan ternyata efektif. Demikian pula pengobatan
dengan suspense obat tersebut secara oklusi selama 24-48 jam telah dicoba oleh
Davis dan Israel.1

16

Obat lain ialah abendazol, dosis sehari 400 mg sebagai dosis tunggal,
diberikan 3 hari berturut-turut. Sumber lain menyebutkan dalam 5-7 hari. 1,3
Dapat juga diberikan single dose Ivermectin (200/kg BB) dapat membunuh
migrasi larva secara efektif dan mengurangi gatal secara cepat. Topikal thiabendazole
10% cream, meskipun kurang efektif, namun dapat menjadi terapi alternative pada
anak-anak untuk mencegah adanya efek potensial dari terapi sistemik. Nesama et all
menyebetukan juga bahawa kombinasi dari obat topical dan sistemik terkadang
dibutuhkan juga dalam pengobatan cutaneous larva migrans.3,6
Cara terapi ialah dengan cryotheraphy yakni menggunakan CO2 snow (dry
ice) dengan penekanan 45 sampai 1, dua hari berturut-turut. Penggunaan N2 liquid
juga dicobakan. Cara beku dengan menyemprotkan kloretil sepanjang [Link]
tersebut di atas agak sulit karena kita tidak mengetahui secara pasti di mana larva
berada, dan bila terlalu lama dapat merusak jaringan sekitarnya. Pengobatan cara
lama dan sudak ditinggalkan adalah dengan preparat atimon.1
Neseema et all menyebutkan dalam penelitian nya bahwa pengobatan
cutaneous larva migrans yang menggunakan kombinasi terapi anatara albendazole
(400 mg selama 7 hari) dan liquid nitrogen (1 sesi) lebih berkhasiat dalam
pengobatan. 6

III.10 KOMPLIKASI
Dari beberapa penelitian, juga didapatkan beberapa penemuan lain yang
berhubungan dengan keadaan sistemik, seperti wheezing, batuk, urtikaria, peripheral
eosinophilia (Loefneer Syndorome, larva dapat penetrasi hingga bagian paru-paru
menyebabkan pulmonary eosinophiilia dan batuk lama), infiltrat pada paru-paru,

17

peningkatan imunoglobulin E yang mana ditemukan pada beberapa pasien yang


terdiagnosis cutaneus larva migrans.2,3,5
III.11 PREVENTIF
Dapat dicegah dengan menghidari kontak kulit langsung dengan tanah yang
terkontaminasi kotoran hewan.2
Ketika mengunjungi negara tropis, terutama wilayah pantai dan area berpasir,
area lembab, disarankan menggunakan sepatu yang menutup seluruh bagian kaki.
Serta menghindari duduk dan tidur di area berpasir meskipun menggunakan handuk
sebagai alas.3

III.12 PROGNOSIS
Prognosis pasien dengan cutaneous larva migrans sangat baik. Pada dasarnya
merupakan suatu penyakit self limiting. Manusia merupakan tempat end-host bagi
parasit ini dan lesi akan bertahap hilang dalam 4-8 minggu namun dalam beberapa
kasus juga dapat selama 1 tahun.3

18

BAB IV
PEMBAHASAN
Dari lampiran kasus Ny. S di atas yang didiagnosa sebagai cutaneous larva
migrans. Diagnosis ini ditegakkan dengan ditemukannya ujud kelainan kulit yang
khas berupa lesi peradangan berkelok-kelok yang panjang menimbul membentuk
terowongan dengan dasar eritem terdapat papul di atasnya, berbatas tegas, dan
bersifat progresif. Diagnosis serupa juga dijelaskan dalam buku Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin FK UI yaitu berupa bentuk khas, seperti benang yang lurus atau
berkelok, menimbul dan terdapat papul atau vesikel di atasnya1.
Diagnosis ini didukung dengan pekerjaan Ny. S sebagai pedagang dipasar yang
sehari-hari kontak dengan pasir dan tanah tanpa menggunakan proteksi lengkap.
Pekerjaan Ny. S merupakan salah satu faktor resiko menderita penyakit cutaneous
larva migrans akibat seringnya kontak dengan tanah, pekerjaan dengan faktor resiko
tinggi lainnya adalah peternak, petani, pemburu, tukang kayu, anak-anak yang sering
bermain tanah dan pekerjaan lainnya yang sering kontak dengan tanah tanpa
menggunakan alat proteksi7.
Bentuk hidup yang menginvasi ke dalam kulit umumnya adalah larva dari
Ancylostoma brazilines dan Ancylostoma caninum atau bisa juga dalam bentuk telur.
19

Larva ini akan menembus epidermis dan masuk ke bagian dalam namun tidak dapat
menembus membran basal. Gambaran berupa lesi seperti benang yang lurus atau
berkelok baru akan timbul setelah larva berhasil menembus stratum korneum[2].
Pasien biasanya belum akan mengeluhkan gejala pada fase ini karena hanya berupa
gatal saja tanpa timbulnya lesi. Setelah beberapa hari larva akan bermigrasi tanpa
tujuan sehingga akan menimbulkan rasa panas dan gatal yang meningkat. Pada saat
bermigrasi inilah gambaran klinis berupa lesi berkelok dan menimbul membentuk
terowongan terlihat. Biasanya pada fase seperti ini pasien datang untuk berobat ke
dokter.
Pemeriksaan penunjang biasanya jarang dilakukan karena gambaran klinis dari
cutaneous larva migrans sangat khas. Untuk menentukan diagnosis biasanya dilihat
dari gambaran klinis lesi berkelok yang khas membentuk terowongan, berisi cairan
serosan, lesi terasa sangat gatal dan panas, dapat juga timbul gejala sistemik yang
tidak khas. Selain itu predileksi cutaneous larva migrans juga khas biasanya di
daerah kaki dan tungkai mencapai 50 %, di daeran tangan, dan pantat. Lesi juga bisa
terdapat di daerah perut. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan
laboratorium dari sampel lesi dapat ditemukan larva atau telur nematoda7.
Diagnosis banding dari cutaneous larva migrans salah satunya adalah Scabies,
karena gambaran klinis yang sama-sama membentuk terowongan, dengan gatal yang
menghebat dimalam hari, dan lesi pada Ny. S terdapat di sela-sela jari juga di kaki.
Namun, yang membedakannya dari Scabies, terowongan yg terbentuk pada Scabies
relatif pendek dan kecil, rasa gatal yang hebat pada malam hari juga tidak disertai
rasa panas, dan predileksi khas dari scabies yang terdapat pada sela-sela jari, pantat,
daerah lipat paha, perut dan dada1,6. Dermatofitosis jenis Tinea Manus juga bisa
menjadi diagnosis banding jika berbentuk polisiklik dengan gambaran central
healing yang tampak. Namun pada Ny. S tidak didapatkan gambaran tersebut.
Terapi yang diberikan terdiri dari topikal dan sistemik peroral. Terapi topikal
yang langsung dilakukan terhadap pasien di ruangan adalah cryotherapy dengan

20

menggunakan kloretil yang disemprotkan pada sepanjang lesi berkelok yang


dilebihkan beberapa sentimeter untuk mengantisipasi letak larva. Kloretil
disemprotkan dengan penekanan selama 45-60 detik sepanjang lesi. Penyemprotan
kloretil ini bertujuan untuk mematikan larva dengan menurunkan suhu jaringan di
sekitarnya secara drastis8.
Pilihan terapi sistemik yang dapat diberikan adalah antihelmintes seperti
ivermectin, tiabendazol, mebendazol, dan albendazol. Ivermectin dengan dosis
tunggal 20 mg / kg BB per hari lebih efektif dibandingkan antihelmintes lainnya
karena langsung mematikan larva yang diam ataupun yang sedang bermigrasi.
Namun, obat ini hanya terdapat di negara-negara tertentu saja 2. Terapi oral yang
diberikan kepada Ny. S adalah albendazol 400mg, albendazol single dose 1 kali
sehari selama 5 hari berturut-turut. Albendazol mudah didapatkan di negara-negara
di Asia tersedia dalam bentuk tablet dan suspensi 10 ml / botol dengan dosis 400
mg. Obat ini bekerja dengan cara menghambat pengambilan glukosa oleh larva
cacing sehingga produksi ATP sebagai sumber energi untuk mempertahankan
hidup lambat laun berkurang dan menyebabkan kematian larva. Efek samping obat
dapat menyebabkan gatal-gatal dan mulut kering3.
Prognosis dari kasus ini yaitu dubia ad bonam untuk ad vitam, ad sanam7.

21

BAB V
KESIMPULAN
1. Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik berupa status
dermatologis pasien perempuan usia 43 tahun, pada tungkai dekstra
didapatkan efloresensi berupa kemerahan pada tungkai bawah yang berkelokkelok dan menjalar, serta mengeluhkan gatal dibagian tungkai kaki.
2. Rasa gatal diraskan semakin memberat ketika malam hari dan berkurang
intensitasnya pada siang hari
3. Penatalaksanaannya berupa edukasi dan farmakologi berupa Semprotan
kloretil pada ujung lesiAnti helmintes : albendazol 400 mg, Antihistamin:
cetirizine 1x1 tab/hari, Antipiretik : paracetamol 500 mg 3x1/hari
4. Prognosisnya sangat baik apabila patuh terhadap pengobatan, menjaga
kebersihan dan menggunakan alas kaki ketika berhubungan dengan tanah dan
pasir.

22

DAFTAR PUSTAKA
1. Aisah, Siti dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, editor Djuanda, Adhi.,
Hamzah, Mochtar., Aisah, Siti., Edisi Keenam. 2009. Jakarta : FK UI. Hal., 125126
2. Feldmeier, H., dalam Microbiol Infectsious Disease Journal : Hookworm-related
Cutaneous Larva Migrans. 2010. USA : Springer. Hal., 915-918
3. Goodman dalam Pharmacological Basic Therapeutics. 2009. Mc Graw Hill :
USA.
4. Heryantoro, Lutvi., dalam Thesis : Analisis Kejadian Creeping Eruption di
Kabupaten Kulonprogo Yogyakarta. 2012. Yogyakarta : UGM. Hal., 1
5. Mukherjee, A., dalam Journal of Medical Microbilogy: A rare case of
Cutaneous Larva Migrans. 2012. India. Hal., 357
6. Palgunadi, Bagus., dalam Clinical Review: Cutaneous Larva Migrans. 2010.
Surabaya : FK Universitas Wijaya Kusuma.
7. Yulianti, Linda., dalam Tinjauan Jurnal: Cutaneous Larva Migrans. 2010.
8. Dikutip dari [Link] pada
tanggal 17 November 2016 pukul 21.00.
9. Aisah, Siti. 2008. Creeping Eruption, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke
5. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : Balai Penerbit FK UI. Hal
125-126
10. Mary Elizabeth Wilson.2008. Helminthic Infections, Fitzpatricks Dermatology in
General Medicine Seventh Edition. McGrawHill : United States Of America. Hal
2011-2029
11. Vano Galvan, Sergio. Gil-Mosquera et all. 2009. Case Report Cutaneous Larva
Migrans : A Case Report. Biomed Central 2:112.

23

12. [Link], Jeniifer. Feldman, Steven et all. 2007. Cutaneous Larva Migrans in a
Migrant Latino Farmworker. Journal of Agromedicine, 12:2,45-48
13. Supples, Suzanne. Gupta, Shobbit et all 2013. Creeping eruptions: Cutaneous
Larva Migrans. Journal of Community Hospital Medicine.
14. Neseema, Kapadia. Borhany, Tesneem. Forooqui, Maria. 2013. Use of Liquid
Nitrogen and Albendazole in Succesfully treating Cutaneous Larva Migrans.
Journal of the Collage of Physicians and Surgeons Pakistas 2013, 23(5) : 319-321
15. Arcer, Michael. 2009. Late Presentation of Cutaneous Larva Migrans : A case
report. Case Journal 2:7533
16. Black, Michael. Grovee, David et all. 2010. Case Series Cutaneous Larva
Migrans in infant in the Adelaide Hills. Australasian Journal of Dermatology
(2010) 51 : 281-284
17. Anand. Sowmya. 2013. Cutaneous Larva Migrans : Diagnosis on Fine Needle
Aspiration. International Journal of Recent Trends in Science and Tecnology. 9:2

24

Anda mungkin juga menyukai