BAB II
PEMBAHASAN
2.1. TANAMAN DAN TUMBUHAN
Arti Tumbuhan
Pada
dasarnya
"tumbuhan"
sama
dengan
"tanaman".
Tumbuhan adalah
klasifikasi suatu makhluk hidup yang muncul/tumbuh dari permukaan bumi secara
alami (liar),
tidak
mengalami
pengaruh/pengelolaan
budidaya
yang
khusus
dari
manusia, dan pada umumnya tumbuhan memiliki zat hijau daun yang dapat
memproduksi sendiri makanannya, dan tumbuhan muncul di permukaan bumi.
Jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di Indonesia diperkirakan berjumlah 25.000
jenis, dan ini lebih dari 10% jenis tumbuhan di dunia. Karena faktor geografis Indonesia
yang memiliki iklim tropis. Dan tumbuhan di Indonesia banyak ragamnya terdapat di
hutan Indonesia.
Arti Tanaman
Tanaman
adalah
tumbuhan
yang
sengaja
dibudidayakan
untuk
diambil
manfaatnya. tanaman adalah beberapa jenis organisme yang mengalami/dipengaruhi
oleh tindakan budidaya pada suatu ruang atau media untuk dipanen pada masa ketika
sudah mencapai tahap pertumbuhan tertentu. Dari produknya tanaman dibedakan
menjadi :
Tanaman biji-bijian
Tanaman kacang-kacangan
Tanaman buah
Tanaman sayur-sayuran
Tanaman industri
Tanaman rempah
Tanaman umbi-umbian
Tanaman serat
Tanaman obat-obatan
Tanaman penghasil minyak
2.2.
TATA NAMA TUMBUHAN
Unsur utama yang menjadi ruang lingkup Taksonomi Tumbuhan adalah
pengenalan (identifikasi), pemberian nama dan penggolongan atau klasifikasi. Cara
penamaan yang lebih sistematik dalam tata nama tumbuhan, pertama kali diperkenalkan
oleh Carolus Linnaeus dalam buku yang ditulisnya, yaitu Systema Naturae ("Sistematika
Alamiah").
A. Tata Nama Binomial
Tata
nama
binomial (binomial berarti
'dua
nama')
merupakan
aturan
penamaan baku bagi semua organisme (makhluk hidup) yang terdiri dari dua kata
dari sistem taksonomi (biologi), dengan mengambil nama genus dan nama spesies.
Nama yang dipakai adalah nama baku yang diberikan dalam bahasa Latin atau
bahasa
lain
yang
dilatinkan.
Aturan
ini
pada
awalnya
diterapkan
untuk fungi, tumbuhan dan hewanoleh penyusunnya (Carolus Linnaeus), namun
kemudian segera diterapkan untuk bakteri pula. Sebutan yang disepakati untuk
nama ini adalah 'nama ilmiah' (scientific name). Awam seringkali menyebutnya
sebagai "nama latin" meskipun istilah ini tidak tepat sepenuhnya, karena sebagian
besar nama yang diberikan bukan istilah asli dalam bahasa latin melainkan nama
yang diberikan oleh orang yang pertama kali memberi pertelaan atau deskripsi
(disebut deskriptor) lalu dilatinkan.
Penamaan organisme pada saat ini diatur dalam Peraturan Internasional
bagi Tata Nama Botani (ICBN) bagi tumbuhan, beberapa alga, fungi, dan lumut
kerak, serta fosil tumbuhan; Peraturan Internasional bagi Tata Nama Zoologi (ICZN)
bagi
hewan dan fosil
hewan; dan Peraturan Internasional
bagi
Tata
Nama
Prokariota (ICNP). Aturan penamaan dalam biologi, khususnya tumbuhan, tidak perlu
dikacaukan dengan aturan lain yang berlaku bagi tanaman budidaya(Peraturan
Internasional bagi Tata Nama Tanaman Budidaya, ICNCP).
B. Aturan Penulisan
1. Aturan penulisan dalam tatanama binomial selalu menempatkan nama
("epitet" dariepithet) genus di awal dan nama ("epitet") spesies mengikutinya.
2. Nama genus selalu diawali dengan huruf kapital (huruf besar, uppercase) dan
nama spesies selalu diawali dengan huruf biasa (huruf kecil,lowercase).
3. Penulisan nama ini tidak mengikuti tipografi yang menyertainya (artinya, suatu
teks yang semuanya menggunakan huruf kapital/balok, misalnya pada judul
suatu naskah, tidak menjadikan penulisan nama ilmiah menjadi huruf kapital
semua) kecuali untuk hal berikut :
a) Penulisan nama ilmiah yang dicetak harus ditulis dengan huruf miring (huruf
italik). Contoh: Aspergilus wentii, Rhizopus sp.
b) Penulisan nama ilmiah yang ditulis dengan tangan harus diberi garis bawah
yang terpisah untuk nama genus dan nama spesies. Contoh Penicillium
notatum.
c) Nama
lengkap
(untuk
hewan)
atau
singkatan
(untuk
tumbuhan)
dari deskriptor boleh diberikan di belakang nama spesies, dan ditulis dengan
huruf tegak (latin) atau tanpa garis bawah (jika tulisan tangan). Jika suatu
spesies digolongkan dalam genus yang berbeda dari yang berlaku sekarang,
nama
deskriptor
ditulis
Merr., Passer
domesticus
dimasukkan
dalam
dalam
tanda
(Linnaeus,
genus Fringilla,
kurung.
1978)
Contoh: Glycine
yang
sehingga
max
terakhir
semula
tanda
kurung
diberi
(parentesis).
d) Pada penulisan teks yang menyertakan nama umum/trivial, nama ilmiah
biasanya menyusul dan diletakkan dalam tanda kurung.
Contoh pada suatu judul: "PENGUJIAN DAYA TAHAN KEDELAI (Glycine
max Merr.) TERHADAP BEBERAPA TINGKAT SALINITAS". (Penjelasan: Merr.
adalah singkatan dari deskriptor (dalam contoh ini E.D. Merrill) yang hasil
karyanya
diakui
untuk
menggambarkan Glycine
max.
Nama Glycine
max diberikan dalam judul karena ada spesies lain, Glycine soja, yang juga
disebut kedelai.)
e) Nama ilmiah ditulis lengkap apabila disebutkan pertama kali. Penyebutan
selanjutnya cukup dengan mengambil huruf awal nama genus dan diberi
titik lalu nama spesies secara lengkap. Contoh: Tumbuhan dengan bunga
terbesar dapat ditemukan di hutan-hutan Bengkulu, yang dikenal sebagai
padma
raksasa
(Rafflesia
arnoldii).
Di
Pulau
Jawa
ditemukan
pula
kerabatnya, yang dikenal sebagai R. patma, dengan ukuran bunga yang
f)
lebih kecil. Sebutan E. coli atau T. rex berasal dari konvensi ini.
Singkatan "sp." (zoologi) atau "spec." (botani) digunakan jika nama spesies
tidak dapat atau tidak perlu dijelaskan. Singkatan "spp." (zoologi dan botani)
merupakan
bentuk
jamak.
Contoh:Canis sp.,
berarti
satu
jenis
dari
genus Canis;Adiantum spp., berarti jenis-jenis Adiantum.
g) Sering dikacaukan dengan singkatan sebelumnya adalah "ssp." (zoologi)
atau
"subsp."
(botani)
yang
menunjukkan
subspesies
yang
belum
diidentifikasi. Singkatan ini berarti "subspesies", dan bentuk jamaknya
"sspp." atau "subspp.
h) Singkatan "cf." (dari confer) dipakai jika identifikasi nama belum pasti.
Contoh: Corvus [Link] berarti "sejenis burung mirip dengan gagak
i)
j)
(Corvus splendens) tapi belum dipastikan sama dengan spesies ini".
Penamaan fungi mengikuti penamaan tumbuhan.
Tatanama binomial dikenal pula sebagai "Sistem Klasifikasi Binomial"
Penentuan nama baru dan tingkat-tingkat takson harus mengikuti aturan yang
ada dalam Kode Internasional Tata Nama Tumbuhan (international Code of Botanical
Nomenclature)
1). Cara Menulis Nama Jenis
Ketentuan - ketentuan yang harus dipenuhi dalam menulis nama jenis
dengan sistem tata nama binomial adalah sebagai berikut :
a) Huruf pertama dari kata yang menyebutkan marga (genus) ditulis dengan huruf
besar, sedangkan untuk kata penunjuk spesies ditulis dengan huruf kecil semua .
Contoh: Zea mays; Zea = genus mays = spesies
b) Bila nama jenis ditulis dengan tangan atau ketik, harus diberi garis bawah pada
kedua kata nama tersebut. Namun bila dicetak harus memakai huruf miring
(tanpa garis bawah). contoh: Zea mays bila dicetak ; Zea mays bila diketik.
c) Bila nama penunjuk jenis pada tumbuhan lebih dari dua kata , kedua kata
tersebut harus dirangkaikan dengan tanda penghubung. Contoh: Hibiscus rosa
sinensismenjadi Hibiscus rosa-sinensis.
2). Nama Marga (Genus)
Nama marga (genus) terdiri atas satu kata tunggal yang dapat diambil dari
kata
apa
saja.
Huruf
pertamanya
ditulis
dengan
huruf
besar.
Contohnya :Solanum (terung - terungan).
3). Nama Suku (Famili)
Nama Famili diambil dari nama genus organisme yang bersangkutan
ditambah akhiran acceae bila itu tumbuhan. Contohnya : famili Solanaceae dari
solanum + aceae (terung - terungan).
4). Nama Kelas
Adalah nama genus + nae, contoh : Equisetum + nae, menjadi kelas
Equisetinae.
5). Nama Ordo
Adalah nama genus + ales , contoh : Zingiber + ales, menjadi ordo
Zingiberales.
2.3.
KLASIFIKASI
Klasifikasi adalah proses pengaturan tumbuhan dalam tingkat-tingkat kesatuan
kelasnya
yang
pembentukan
sesuai
secara
takson-takson
ideal.
dengan
Menurut
tujuan
Rideng
(1989)
mencari
klasifikasi
keseragaman
adalah
dalam
keanekaragaman. Dikatakan pula bahwa klasifikasi adalah penempatan organisme
secara berurutan pada kelompok tertentu (takson) yang didasarkan oleh persamaan dan
perbedaan.
Sedangkan
(Tjitrosoepomo,
1993)
mengatakan
bahwa
dasar
dalam
mengadakan klasifikasi adalah keseragaman, kesamaan-kesamaan itulah yang dijadikan
dasar dalam mengadakan klasifikasi. Jadi setiap kesatuan taksonomi mempunyai
sejumlah kesamaan sifat dan ciri. Kesatuan taksonomi yang anggotanya menunjukkan
kesamaan sifat dan ciri yang banyak tentulah merupakan unit kesatuan taksonomi yang
lebih kecil dibandingkan dengan kesatuan taksonomi yang anggotanya menunjukkan
kesamaan yang lebih sedikit. Klasifikasi ini dicapai untuk menyatukan golongan-golongan
yang sama dan memisahkan golongan-golongan yang berbeda. Hasilnya merupakan
proses pengaturan yaitu suatu sistem klasifikasi.
A. Dasar-dasar Klasifikasi
a) Berdasarkan Persamaan : Kita dapat mengelompokkan makhluk hidup
berdasarkan persamaannya. Kita dapat memasukkan pisang dan jagung
dalam kelompok tumbuhan. Karena memiliki daun, batang, dan akar,
keduanya merupakan kelompok tumbuhan. Atau, dapat pula dikelompokkan
sebagai tumbuhan terna, karena memiliki batang berair.
b) Berdasarkan Perbedaan : Meskipun pisang dan jagung merupakan satu
kelompok, yaitu tumbuhan berbiji, kita dapat pula memisahkan keduanya
sebagai kelompok yang berbeda berdasarkan perbedaan cirinya. Misalnya
dengan melihat kelengkapan daun. Pisang memiliki pelepah daun, tangkai
daun, dan helaian daun, sehingga masuk dalam kelompok tumbuhan berdaun
lengkap. Sedangkan jagung, hanya memiliki elepah daun dan helaian daun,
sehingga masuk dalam kelompok tumbuhan berdaun tidak lengkap.
c) Berdasarkan Manfaat : Pengelompokan merupakan salah satu upaya dalam
mengklasifikasi. Dalam dunia tumbuhan, kita mengelompokkan kamboja,
anggrek, nusa indah, soka, anyelir, dan kembang sepatu ke dalam kelompok
tanaman hias. Lengkuas, kunyit, jahe, lada, cengkeh, dan pala dikelompokkan
ke dalam tanaman rempah-rempah. Klasifikasi dapat dilakukan oleh siapa
saja, asal memiliki dasar dan tujuan yang jelas. Misalnya pisang, anggur,
stroberi, jambu air, jeruk, jambu biji, dan mangga dimasukkan dalam satu
kelompok tanaman buah-buahan. Dasar pengelompokan itu adalah bahwa
tanaman-tanaman
sedangkan
tersebut
tujuannya
dapat
adalah
digunakan
untuk
buahnya
memudahkan
untuk
dimakan,
manusia
dalam
memanfaatkan tanaman-tanaman tersebut sebagai buah-buahan.
d) Berdasarkan Ciri Morfologi dan Anatomi : Klasifikasi didasarkan pada
persamaan atau perbedaan ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri yang digunakan terutama
ciri-ciri morfologi dan anatomi. Morfologi adalah ciri-ciri yang tampak di bagian
luar tubuh makhluk hidup, sedangkan anatomi adalah ciri-ciri yang ada di
bagian dalam tubuh makhluk hidup. Pada tumbuh-tumbuhan, ciri-ciri yang
dapat digunakan dalam mengklasifikasi dapat berupa ciri-ciri morfologi,
misalnya warna bunga, bentuk bunga, bentuk biji, kekerasan biji, bentuk
pohon, bentuk batang, bentuk daun, dan lain-lain. Selain itu, dapat pula
menggunakan ciri-ciri anatomi, misalnya ada- tidaknya berkas pengangkut,
ada-tidaknya kambium, dan ada-tidaknya sel trakea.
e) Berdasarkan Ciri Biokimia : Dalam perkembangannya, ciri-ciri yang dapat
digunakan dalam klasifikasi tidak hanya ciri-ciri morfologi dan anatomi, tetapi
juga ciri-ciri biokimia, misalnya jenis-jenis protein, jenis-jenis enzim, adatidaknya membrane organela sel. DNA atau asam nukleat juga digunakan
untuk menetukan hubungan kekerabatan makhluk hidup. Misalnya untuk
menentukan ayah seorang bayi, dapat dibandingkan DNA-nya. Meskipun ciri
wajah dan tubuh tidak mirip, jika DNA-nya mirip, dapat dipastikan orang
tersebut merupakan ayah si bayi.
B. Macam-macam Klasifikasi
Tujuan klasifikasi makhluk hidup adalah menyederhanakan objek-objek yang
dipelajarinya sehingga dikenali secara mudah dan akhirnya dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan manusia. Sejumlah organisme dapat diklasifikasikan menurut sistem
tertentu atau sistem yang dianutnya. Dengan membandingkan ciri-cirinya dan sifatsifatnya yang menunjukkan banyak/sedikitnya persamaan maupun perbedaan yang ada
antara organisme satu dengan lainnya, kita dapat menentukan jauh dekatnya
kekerabatannya. Ada tiga macam sistem klasifikasi pada makhluk hidup, yaitu
berdasarkan Sistem Buatan (Artifisial), Sistem Alami (Natural), dan Sistem Filogeni.
a) Sistem Klasifikasi Buatan (Artifisial)
Sistem klasifikasi ini banyak dihubungkan dengan kepentingan hidup
manusia, habitat, atau kebiasaan hidup organisme sehingga lebih mudah dikenali
atau dipahaminya. Tujuannya adalah agar lebih mudah mengenal xylem/sifat dan
manfaat dari organisme yang dipelajarinya, dan dengan begitu akan mudah
diupayakan untuk budidayanya sesuai kebutuhannya. Kelemahan dari klasifikasi
buatan ini adalah suatu organisme memiliki manfaat yang bermacam-macam,
sehingga tidak dapat digolongkan dalam satu golongan saja. Misalnya, tanaman
cabe (Capsicum annuum) dapat digolongkan sebagai tanaman sayuran, tanaman
obat, tanaman semusim, tanaman hortikultur, tanaman herba, tanaman industri
(saos
sambal),
tanaman hias,
dan lainnya.
Demikian
pula,
ayam
dapat
digolongkan sebagai unggas petelur atau pedaging, dan juga kelas Aves yang
merupakan bagian dari sub-filum Vertebrata. Pada tumbuhan dikenal beberapa
dasar penggolongan, seperti:
Berdasarkan umur: Ada tumbuhan semusim atau setahun (contoh: cabe merah
dan bunga matahari) dan ada tumbuhan tahunan (contoh: pinus, jati,
rasamala, mangga, jati, alpuket, dan sebagainya.
Berdasarkan kegunaannya: Ada tanaman pangan (contoh: padi, jagung,
gandum), ada tanaman hortikultura (Contoh: tanaman hias, sayuran, dan
buah), ada tanaman perkebunan (contoh: tanaman karet, kelapa sawit, tebu),
dan ada tanaman penyegar (contoh: kopi, coklat), serta tanaman obat (contoh:
kunyit, jahe, temu-temuan), dan sebagainya.
Berdasarkan kemampuan adaptasi/habitatnya:
Ada
tumbuhan
hidrofit
(tumbuhan menyukai lingkungan air, seperti: kangkung, genjer, eceng), ada
tumbuhan serofit (tumbuhan tahan daerah kering, seperti: kaktus), dan ada
tumbuhan mesofit (tumbuhan yang menyukai tanahnya mengandung air
secara cukup saja, atau menyukai daerah yang mengalami pergiliran musim
kemarau dan hujan seimbang, seperti: mahoni, jati).
Berdasarkan kebiasaan hidupnya (habitus): Ada tumbuhan herba (basah,
rerumputan, seperti: kol, wortel), ada tumbuhan perdu (pohon kecil berkayu,
seperti kembang sepatu, kapas), ada tumbuhan pohon (contoh: mangga, jati),
dan ada tumbuhan liana (memanjat, seperti: gadung), ada tumbuhan epipit
(tumbuhan hidup menempel pada tumbuhan lainnya, seperti: anggrek), dan
tumbuhan parasit (tumbuhan hidupnya menumpang dan bersifat merugikan
inang contohnya: benalu, tali putri.
Berdasarkan kandungan gizinya atau zat utamanya: Ada tanaman sumber
karbohidrat (contohnya: padi, singkong, jagung, sagu), ada tanaman sumber
protein (contohnya: kedelai, kacang hijau, tanaman sumber lemak (contohnya:
kemiri, kelapa, kelapa sawit), dan tanaman sumber vitamin dan mineral
(contohnya: berbagai macam sayuran dan buah)
.
b) Sistem Klasifikasi Alami (Natural)
Sistem Klasifikasi Alami adalah didasarkan kepada ciri-ciri alaminya yang
mudah dikenalinya seperti ciri-ciri morfologi akar, batang, daun, dan bunganya
atau alat reproduksinya. Dalam sistem klasifikasi alami/tradisional antara lain
dipelopori oleh Carolus Linnaeus (1707-1778) yang meletakkan dasar-dasar
klasifikasi secara teratur dalam pemberian nama ilmiahnya. Dalam sistem
klasifikasinya, ia sangat memperhatikan urutan takson sebagaimana telah
dikemukakan di atas. Ia membagi dunia makhluk hidup menjadi dua Kingdom,
yaitu: Plantae dan Animalia.
c) Sistem Klasifikasi Filogeni
Sistem klasifikasi filogeni adalah mendasarkan penggolongan organisme
menurut garis evolusinya atau sifat perkembangan genetik organisme sejak sel
pertama hingga menjadi bentuk masa kininya. Sistem klasifikasi ini dipengaruhi
oleh perkembangan teori evolusi. Organisme secara morfologisnya berbeda,
ternyata tidak mesti memiliki genetik yang berbeda sebagai akibat interaksi genagena dengan lingkungannya seperti yang dijelaskan di awal uraian modul ini,
yaitu sebagai akibat keanekaragaman tingkat gen pada individu. Kelebihan sistem
klasifikasi filogeni adalah mudah melihat tingkat kekerabatan antar individunya.
Kelompok individu pada tingkat takson jenis adalah menunjukkan individu ini bisa
disilangkan dan menghasilkan keturunan yang fertil. Sebab, individu pada tingkat
genus yang sama bisa saja disilangkan, hanya menghasilkan keturunan yang
steril seperti persilangan antara singa (Felis leo) dengan macam tutul (Felis tigris)
menghasilkan jenis Leopons (berkepala singa, tetapi berbadan harimau) yang
mandul, apalagi pada tingkat takson yang lebih tinggi. Aliran klasifikasi filogeni
seperti Whitaker (1969) menilai bahwa pembagian Dunia (Kingdom) Makhluk
Hidup menjadi dua golongan adalah tidak tepat, karena ada beberapa golongan
makhluk hidup masih dikategorikan kepada keduanya. Misalnya, Euglena, Volvoc,
Chlamydomonas, dll. adalah memiliki klorofil dan bergerak bebas dengan
flagelnya sehingga merupakan bentuk antara tumbuhan dan hewan, maka ia
memasukkannya menjadi Kingdom tersendiri, yaitu Protista. Demikian pula,
golongan jamur memiliki sifat heterotrof (saprofit), tidak memiliki klorofil, dan
kandungan cadangan makanannya adalah glikogen, serta jaringan tubuhnya tidak
pernah membentuk jaringan kompleks yang menunjukkan hal yang jauh berbeda
sifat dengan tumbuhan, sehingga ia dimasukkan Kingdom sendiri, yaitu Mycota.
Satu hal lagi adalah golongan bakteri, sekalipun selnya memiliki dinding yang
terbuat dari selulosa, tetapi organisme ini tidak mampu membentuk jaringan
(hanya mampu membentuk koloni), bahkan tidak mampu mengorganisasikan
DNA/ADN menjadi kromosom maupun ketidakmampuannya mengemas materi inti
sel menjadi satu organel nucleus, sehingga ia merupakan kelompok organisme
prokariotik. Golongan organisme prokariotik ini seumur hidupnya hanya mampu
membentuk tubuh satu sel atau koloni saja, sehingga ia menamakannya sebagai
Kingdom Monera.
2.4CONTOH TUMBUHAN DAN TANAMAN
A. TUMBUHAN
1. Klasifikasi rumput teki
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta
(Tumbuhan
berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta
(Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan
berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu /
monokotil)
Sub Kelas: Commelinidae
Ordo: Cyperales
Famili: Cyperaceae
Genus: Cyperus
Spesies: Cyperus rotundus L.
2. Klasifikasi Palem Raja
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta
(Tumbuhan
berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta
(Menghasilkan
biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan
berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu /
monokotil)
Sub Kelas: Arecidae
Ordo: Arecales
Famili: Arecaceae (suku pinang-
pinangan
Genus: Roystonea
Spesies: Roystonea regia
3. Klasifikasi Pinus
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta
(Tumbuhanberpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Coniferophyta
Kelas: Pinopsida
Ordo: Pinales
Famili: Pinaceae
Genus: Pinus
Spesies: Pinus merkusii Jungh.& De Vr
4. Klasifikasi Paku Sirih Kelabang
10
Kingdom
: Plantae
Divisi : Pteridophyta
Kelas : Filicinae
Ordo : Polypodiales
Famili
: Lomariopsidaceae
Genus
: Nephrolepis
Spesies
: Nephrolepis exaltata
5. Klasifikasi Pohon Daun Kupu-kupu
Kingdom
Divisi
Kelas
Sub kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies
:
:
:
:
:
:
:
:
Plantae
Magnoliophyta
Magnoliopsida
Rosidae
Fabales
Fabaceae
Bauhina
Bauhina purpurea
Penjelasan :
Kelima contoh tersebut digolongkan
sebagai
tumbuhan
karena
kelima
tumbuhan
tersebut
tumbuh dengan alami tanpa campur
tangan manusia dan belum dibudidayakan.
B. TANAMAN
1. Klasifikasi Tanaman Pepaya
11
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom:
Tracheobionta
(Tumbuhan berpembuluh)
Super
Divisi:
Spermatophyta
(Menghasilkan biji)
Divisi:
Magnoliophyta
(Tumbuhan
berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua /
dikotil)
Sub Kelas: Dilleniidae
Ordo: Violales
Famili: Caricaceae
Genus: Carica
Spesies: Carica papaya L.
2. Klasifikasi Puring
Kingdom
Subkingdom :
Tracheobionta
(Tumbuhan
Superdivisi
Spermatophyta
(Menghasilkan biji)
Divisi
Magnoliophyta (Tumbuhan
Kelas
Magnoliopsida
(berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas
Ordo
Plantae (Tumbuhan)
berpembuluh)
berbunga)
Rosidae
:
Euphorbiales
12
Famili
Genus
Codiaeum
Spesies
Codiaeum variegatum
Euphorbiaceae
3. Klasifikasi Lidah Buaya
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta
(Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta
(Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta
(Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping
satu / monokotil)
Ordo: Asparagales
Famili: Asphodelaceae
Genus: Aloe
Spesies: Aloe vera L.
4. Klasifikasi Mahkota Duri
Kingdom:Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Euphorbiales
Famili: Euphorbiaceae
Genus: Euphorbia
Spesies: Euphorbia milii [Link] Moulins
13
5. Klasifikasi Lidah Mertua
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan
berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta
(Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan
berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu /
monokotil)
Sub Kelas: Liliidae
Ordo: Liliales
Famili: Agavaceae
Genus: Sansevieria
Spesies: Sansevieria trifasciata Prain.
Penjelasan :
Kelima contoh tersebut digolongkan sebagai tanaman karena
kelima tanaman tersebut sengaja ditanaman atau dibudidayakan oleh
manusia dan telah ada campur tangan manusia.
14