0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
719 tayangan9 halaman

Siklus Hidup dan Morfologi Argulus sp.

Argulus sp adalah parasit ektoparasit ikan yang menghisap darah ikan, menyebabkan ikan menjadi kurus dan bahkan mati. Argulus sp ini tersebar luas di perairan air tawar dan laut, menyerang berbagai jenis ikan. Siklus hidupnya meliputi telur, larva, dan dewasa, dengan parasit dewasa menginfeksi ikan inang untuk makan darahnya.

Diunggah oleh

Efri Azizi Firman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
719 tayangan9 halaman

Siklus Hidup dan Morfologi Argulus sp.

Argulus sp adalah parasit ektoparasit ikan yang menghisap darah ikan, menyebabkan ikan menjadi kurus dan bahkan mati. Argulus sp ini tersebar luas di perairan air tawar dan laut, menyerang berbagai jenis ikan. Siklus hidupnya meliputi telur, larva, dan dewasa, dengan parasit dewasa menginfeksi ikan inang untuk makan darahnya.

Diunggah oleh

Efri Azizi Firman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Argulus sp

Argulus merupakan sejenis parasit yang menempel pada tubuh ikan. Dengan
kata lain Argulus sp disebut dengan kutu ikan, dimana kutu ini akan
mengambil makanan atau darah dari tubuh ikan sehingga menyebabkan
ikan kurus dan dengan waktu yang lama akan menyebabkan kematian
massal. Penyakit yang disebabkan oleh argulus ini adalah argulosis dan
biasanya menyerang ikan air tawar baik untuk budidaya maupun untuk liar.
Argulus sp ini dapat bertahan hidup selama beberapa hari di luar siklus
hidupnya cenderung temporer dengan mencari inangnya secara acak dan
berpindah dengan bebas. Ciri-ciri ikan yang terserang argulus adalah :

Tubuhnya terlihat menjadi kurus bahkan sangat lemah karena kekurangan

darah.
Bekas serangan Argulus sp dapat terlihat berwarna kemerah-merahan,

karena terjadi pendarahan.


Jika terjadi serangan secara besar-besaran, maka Argulus sp akan terlihat
membentuk koloni di sekitar sirip dan insang.

Tingkat serangan argulus tergantung kepada ukuran ikan dan dan jumlah
parasit yang menyerang individu dalam suatu tempat. Pada saat ikan
terserang oleh Argulus sp ini tentu akan menyebabkan kerentanan jamur dan
bakteri menempel pada tubuh ikan sehingga mampu merusak jaringan dari
suatu ikan. Selain itu argulus juga dapat menjadi vektor penyakit.
Argulus merupakan perenang yang baik dan berenang mencari ikan untuk
dihisap darahnya. Argulus menempel pada tubuh ikan untuk menghisap
darah setelah kenyang mereka akan lepas dari tubuh ikan dan apabila lapar
mereka akan kembali menempel pada tubuh ikan untuk dihisap darahnya.
Oleh karena itu argulus juga dapat membawa penyakit dan bakteri dari satu
ikan ke ikan yang lain. Dengan tubuh transparan dan ukuran 5-8 mm argulus
sangat mudah dikenali. Argulus sp. ini sejenis udang renik yang termasuk ke
dalam famili Argulidae dan merupakan ektoparasit. Argulus sp. memiliki
bentuk tubuh bulat

pipih seperti kuku. Tubuh Argulus sp. ini dilengkapi

dengan alat yang dapat digunakan untuk mengaitkan tubuhnya pada insang
dan

mengisap

sari

makanan.

Serangan

menimbulkan kematian pada ikan.

Argulus

parasit

ini

umumnya

tidak

[Link] hanya mengisap darah

ikan saja sehingga ikan menjadi kurus dan luka

bekas alat pengisap ini

merupakan bagian yang mudah diserang oleh bakteri atau

jamur. Infeksi

sekunder inilah yang bisa menyebabkan kematian ikan secara masal.


Klasifikasi Argulus

Argulus (kutu air) merupakan sejenis parasit yang dapat mengancam


kesehatan ikan baik merusak jaringan secara langsung. Argulus sp ini
merupakan parasit ikan dari golongan udang-udangan keluarga Branchiura.
Biasanya parasitini masuk ke dalam akuarium melalui pakan hidup. Diketahui
ada sekitar spesies Argulus. Dua diantaranya, yang erat kaitannya dengan
akuarium, adalah Argulus foliaclus dan Argulus [Link] lain
ektoparasit adalah Argulusindicus
Klasifikasi Argulus
Phylum : Arthropoda
Sub Phylum :Crustacea
Class : Maxillopoda
Sub Class : Branchiura
Ordo : Arguloida
Family : Argulidae
Genus : Argulus
Spesies : Argulus sp.

Argulus foliaceus,
Argulus foliaceus, juga dikenal sebagai kutu ikan biasa atau kutu ikan mas,
sebenarnya bukan kutu atau bahkan serangga sama sekali, tapi sebuah
krustasea. Dalam kelas Maxillopoda, subclass Branchiura terdiri dari sekitar
150 spesies ektoparasit ikan air tawar dan laut. Genus Argulus ditemukan di
seluruh dunia.
Argulus foliaceus asli dari Eropa, tetapi juga umum di akuarium dan kolam
ikan di seluruh dunia. Meskipun kutu menunjukkan beberapa preferensi
inang, terutama untuk ikan mas, biasanya dianggap seorang generalis dan
ditemukan pada berbagai spesies ikan. Berbentuk oval, individu dewasa
hinggap di host ikan dan menggunakan pengisap. Mereka menyuntikkan
enzim pencernaan ke dalam host dan memakan darah dan cairan jaringan.
Gejala infeksi kutu termasuk ikan renang abnormal, menggosok, dan kondisi
fisik memburuk. Karena kerusakan jaringan yang disebabkan oleh parasit,
infeksi

bakteri

dan

jamur

sekunder

sering

terjadi.

Betina

dewasa

meninggalkan tuan rumah mereka dan bertelur pada vegetasi atau benda
terendam lainnya. Organisme dewasa dapat hidup alam bebas selama dua
sampai tiga minggu, tetapi larva yang baru menetas hanya bertahan
beberapa hari jika mereka tidak menemukan tuan rumah. Mengobati
akuarium penuh mungkin memerlukan

beberapa pendekatan, sehingga

pencegahan adalah yang terbaik. Selalu memeriksa secara visual dan ikan
yang baru dikarantina. Kutu dapat dihapus dari ikan secara manual dengan
pinset. Ikan harus dipindahkan ke akuarium alternatif sementara perawatan
kimia yang digunakan untuk membunuh organisme dewasa yang tersisa,
larva, dan telur.
Argulus indicus
Argulus indicus merupakan salah satu ektoparasit yang termasuk kedalam
phylum Arthropoda, kelas Crustacea, subkelas Entomostraca, ordo copepoda,
subordo Branchiura, famili Argulidae, genus Argulus. Ciri-ciri parasit ini

adalah

bentuk seperti kutu berwarna keputih-putihan, menempel pada

bagian tubuh ikan, mempunyai alat penghisap, sehingga biasa disebut juga
dengan nama kutu ikan. Alat penghisap ini akan menghisap darah ikan. Oleh
karena itu ikan yang terserang akan menurun pertumbuhannya serta akan
mengakibatkan pendarahan pada kulit. Tubuh Argulus indicus mempunyai
dua alat penghisap dibagian bawah tubuhnya, alat tersebut akan ditusukkan
kedalam tubuh ikan yang diserang. Pada pinggiran Carapace-nya terdapat
empat

pasang kaki yang berfungsi untuk berjalan bagian tubuh ikan,

berenang bebas dan berpindah dari satu ikan ke ikan yang lain.
Argulus merupakan perenang yang baik dan berenang mencari ikan untuk
dihisap darahnya. Argulus menempel pada tubuh ikan untuk menghisap
darah setelah kenyang mereka akan lepas dari tubuh ikan dan apabila lapar
mereka akan kembali menempel pada tubuh ikan untuk dihisap darahnya.
Oleh karena itu argulus juga dapat membawa penyakit dan bakteri dari satu
ikan ke ikan yang lain. Dengan tubuh transparan dan ukuran 5-8 mm argulus
sangat mudah dikenali.
Perkembangbiakan terjadi secara kawin karena jenis Argulus indicus ini ada
jantan dan betina, ukuran tubuh jantan lebih kecil daripada betina. Daur
hidup Argulus indicus terjadi selama 28 hari dimana 12 hari untuk fase telur
dan menetas sedangkan fase larva sampai dewasa membutuhkan waktu
berkisar 16 hari. Larva Argulus indicus dapat hidup tanpa ikan selama 36 jam
sedangkan individu dewasa dapat hidup tanpa inang selama 9 hari. Jumlah
telur yang dihasilkan dari individu betina berkisar antara 50 250 butir. Telur
yang dihasilkannya akan diletakkan pada berbagai benda yang ada di dalam
perairan. Telur akan menetas menjadi larva setelah beberapa kali berganti
kulit akan berubah menjadi dewasa.
Habitat
Argulus sp ini dapat ditemukan di air tawar, payau dan laut. Spesies ini hidup
pada suhu 17-30*C dan pH 8.

Daur Hidup Argulus sp


Telur Argulus sp. menetas dalam 17 hari pada suhu 23oC dan 30 hari pada
suhu 20oC. Keseluruhan daur hidup memerlukan waktu 55 hari pada suhu
20oC. Telur menetas setelah 10 hari pada suhu 35oC dan setelah 61 hari
pada suhu 15oC. Telur diletakan dalam sebulan baru menetas hal ini terjadi
sepanjang tahun. Telur menetas 35-37 hari pada suhu 15-16oC, dari menetas
sampai menjadi betina yang matang telur membutuhkan waktu 49 hari.
Setelah menetas langsung menjadi matang telur. Stadium larva memiliki
antenna kedua yang panjang dan palpus mandibula. Selama beberapa hari
molting sampai 6 kali (2-6 hari) kemudian matang telur kira-kira 4 minggu
tergantung suhu.
Selama siklus hidupnya, Argulus menggunakan ikan sebagai inangnya,
mereka menginfeksi jenis ikan air tawar dan ikan laut. Argulus menghabiskan
sebagian besar waktu hidupnya dengan berenang di sekitar inangnya dan
pada saat itulah terjadi perkawinan antara jantan dan betina. Telur yang
sudah dibuahi selanjutnya akan terendam secara aman dalam sisik ikan dan
setelah menetas Argulus tersebut akan bermetamorfosis menuju dewasa.
Seluruh siklus memakan waktu antara 3-10 hari tergantung pada suhu.
Setelah menetas mereka harus menemukan inang baru dalam sekitar 4 hari
atau mereka akan mati.

Morfologi

Argulus sp memiliki 2 mata majemuk untuk mendeteksi inang. Warna terang


pada betina untuk perilaku penyerangan pada waktu gelap sehingga bisa
berenang dan mencari makan sampai 4 kali lebih jauh. Pada waktu gelap,
ikan tidak bisa berenang cepat hal ini memudahkan Argulus sp Betina secara
umum meletakan telur pada benda yang mengapung, secara tunggal, dobel
maupun tripel, setelah itu kembali menyerang. Argulus sp dapat dilihat
dengan mata biasa (tanpa bantuan alat pembesar), di permukaan tubuh ikan
inang seperti bulatan-bulatan. Pertama kali menempel warnanya transparan
kemudian lama-kelamaan menjadi gelap atau seperti mata ular.
Bentuk tubuhnya pipih secara dorsoventral dan mempunyai pengisap.
Antena ada dua pasang dan mempunyai alat penusuk (preoral). Maxilla
kedua berubah bentuk menjadi prehensil disk dan basal platenya bergigi.
Mempunyai

proboscis dan berkaki didaerah thorax sebagai kaki renang

sebanyak 4 pasang juga mempunyai mata faset yang bertangkai pendek.


Argulus kelaminnya terpisah. Hewan jantan mempunyai testis didaerah
abdomen, sedangkan yang betina berkantung telur. Setelah berkopulasi
hewan

betina menaruh telurnya dalam kelompok pada benda-benda di

dalam air misalnya

pada batu, tumbuhan air, kayu atau kaca akuarium.

Setelah 15-55hari menetas dan menjadi larva yang berenang bebas dan
harus mendapatkan inang dalam 2-3hari, jika tidak menemui inang maka
larva akan mati. Bila larva telah menenpel pada inang maka akan tumbuh
menjadi stadium copepoda dan akan mengalami metamorfosa (pergantian
kulit) beberapa kali hingga menjadi dewasa. Copepoda yang menempel pada
inang diselubungi oleh lendir tipis. Argulus dikenal sebagai fish louse dan

kutu ikan ini menyerang ikan laut dan ikan air tawar, hanya spesiesnya saja
yang berbeda.

Patologi
Argulus sp merupakan sejenis udang renik yang termasuk ke dalam famili
Argulidae dan merupakan ektoparasit. Organisme ini mempunyai entuk
tubuh bulat pipih seperti kutuikan (fish Louse). Tubuhnya dilengkapi dengan
alat yang dapat digunakan untuk mengaitkan tubuhnya pada insang dan
mengisap sari makanan. Serangan parasit ini umumnya tidak menimulkan
kematian pada ikan sebab ia hanya menghisap darahnya saja sehingga ikan
menjadi kurus. Luka bekas alat penghisap ini merupakan bagian yang mudah
diserang oleh bakteri atau jamur. Infeksi sekunder inilah yang bisa
menyebabkan kematian ikan secara masal.
Gejala Klinis dan Pencegahan Argulus sp.
Gejala klinis yang dirasakan ikan pada saat terserang
Argulus sp adalah dengan melukai kulit dalam rangka mendapatkan darah
ikan sehingga terkadang meninggalkan memar pada gigitan Argulus sp ini
dan biasanya ikan akan menggosokkan tubuh pada suatu benda keras di
sekitarnya. Gejala lainnya
1. Ikan kehilangan nafsu makan sehingga terlihat malas.
2. Kulit ikan berubah warna (biasanya memucat).
3. Ikan menjadi gelisah dan meluncur kesana-kemari.
4. Ikan sering menggosok-gosokkan badannya ke permukaan benda keras.
5. Terdapat bekas gigitan dan memar merah pada tubuh ikan.
[Link] parasit yang menempel pada tubuh ikan.
Pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan mensterilisasi tempat ikan
yang terkontaminasi oleh Argulus sp dengan larutan chlorin agar terbebas

dari argulus yang hidup dan menempel di daerah tersebut. Cara yang paling
efektif untuk mencegah serangan parasit ini adalah dengan melakukan
pengeringan dan pengapuran kolam serta penyaringan air. Sedangkan
pengendaliannya dapat dilakukan dengan menggunakan larutan garam
(NaCl) atau larutan garam ammoniak (NH4Cl) garam berfungsi untuk
menghambat perkembangan parasit. Pencegahan dapat dilakukan dengan
menambahkan garam dapur 0,5-1,0 g/l pada air tempat hidupnya. Kalau ikan
sudah terserang, pengobatan dapat dilakukan dengan perendaman ikan
dalam larutan garam dapur 20 g/l, atau PK 2-5 mg/l selama 30 menit.
Perlakuan pengobatan harus dilakukan setiap hari hingga kutu ikan benarbenar habis.
Cara yang paling efektif untuk mencegah serangan parasit ini adalah dengan
melakukan pengeringan dan pengapuran kolam serta penyaringan air.
Sedangkan pengendaliannya dapat dilakukan dengan menggunakan larutan
garam (NaCl) atau larutan garam ammoniak (NH4Cl). Demikian pula dengan
perendaman ikan dalam larutan bromex 0,1 0,2 ppm. Perendaman dalam
larutan lindane 0,01 0,02 ppm sudah dapat membunuh Argulus sp. yang
berenang bebas dalam waktu 5 jam, sedangkan dosis 0,013 ppm terbukti
dapat membunuh secara total setelah 48 jam. Perendaman dalam larutan
neguvon 1 gram per liter air selama 10-30 menit cukup ampuh untuk
memberantas parasit ini. Organisme ini biasanya dapat diberantas dengan
menggunakan penjepit sejenis pinset untuk melepaskannya dari tubuh ikan.
telur-telur dan larvanya, dapat dibunuh dengan cara mengeringkan atau
memberikan kapur ke dasar kolam. Dosis kapur yang diberikan adalah 200
gram per meter persegi dan dibiarkan selama 5 - 6 hari. Jenis obat yang
cukup efektif untuk memberantas argulus adalah Neguvon, yang berbentuk
tepung (serbuk) buatan Bayer, Jerman. Cara menggunaannya adalah
dengan memandikan ikan didalam larutan Neguvon dengan dosis 1 gram per
liter air, selama 10 - 30 menit.
Berikut adalah contoh gambar ikan yang terserang Argulus sp ;

Common questions

Didukung oleh AI

Argulus sp possesses several adaptations that enable it to be an effective parasite on fish. The body is equipped with sucking disks that allow it to firmly attach to the fish's body, which is essential for feeding and staying connected to a moving host . Its morphological features include a dorsoventrally flattened body ideal for swimming and maneuvering around fish. Additionally, they have specialized mouthparts to pierce the skin and consume blood and tissue fluids . Argulus sp also has compound eyes that help in locating hosts and feeds at night when fish are slower, which increases its parasitic effectiveness . These adaptations, combined with their ability to swim freely, also facilitate the spread of diseases between fish hosts .

Morphologically, Argulus sp is characterized by a dorsoventrally flattened, oval body that facilitates close attachment to fish hosts . It possesses specialized appendages such as suction cups for adherence and mouthparts adapted for piercing and feeding on fish blood and tissue fluids . Furthermore, Argulus sp has compound eyes for detecting hosts and facilitating movement . It features multiple pairs of legs for swimming and host navigation, reinforcing its capabilities as an adept and mobile external parasite . These morphological traits are specifically evolved to support its parasitic lifestyle, ensuring survival and operational efficiency across various aquatic environments .

The physiological impact on fish due to Argulus sp infestations differs between the larval and adult stages of the parasite. Larvae primarily cause minor physical irritation as they search for hosts, impacting fish through discomfort and minor skin damage . In contrast, adult Argulus sp causes more significant physiological stress; they attach themselves using specialized mouthparts to suck blood and tissue fluids, resulting in tissue damage and anemia . This feeding behavior leads to compromised skin integrity, paving the way for secondary infections by bacteria and fungi, further deteriorating the fish's health . Thus, while both stages are problematic, the adult stage poses a more severe threat to fish physiology due to more extensive tissue damage and potential for secondary infections.

The spread of Argulus sp in non-native environments has profound ecological implications. Being prolific parasites, they can significantly impact native fish populations by increasing mortality rates through direct parasitism and facilitating secondary infections . This can lead to reduced fish biodiversity and alter community dynamics, favoring species less susceptible to the parasite. Their presence can also disrupt local food webs by impacting predatory and prey species that depend on affected fish. Moreover, Argulus sp can act as vectors for further disease transmission, exacerbating stress on aquatic ecosystems already challenged by other anthropogenic factors such as pollution and climate change. Therefore, their spread represents a potential ecological threat, necessitating robust biosecurity measures to prevent introductions and mitigate consequences in sensitive ecosystems .

Behavioral symptoms indicative of an Argulus sp infection in fish include abnormal swimming patterns such as erratic movements and continuous rubbing against hard surfaces . These behaviors are attempts to dislodge the parasites and alleviate discomfort caused by the sucking and tissue damage inflicted by Argulus sp . Other noticeable symptoms are a loss of appetite, increased lethargy, and discoloration or visible red marks on the skin where Argulus sp has fed . Collectively, these behavioral cues are critical for early detection and intervention in managing fish health in aquaculture settings .

Effective control of Argulus sp infestations in aquaculture involves a combination of preventive and curative measures. Preventive strategies include regular visual inspection and quarantine of new fish, sterilizing contaminated environments using chlorine solutions, and controlling water conditions . Aquaria or ponds should be dried and limed with calcium oxide or hydroxide to eliminate eggs and larvae, while maintaining preventive measures like salt baths (0.5-1.0 g/L) to inhibit parasite development . Treatment can involve chemical immersion using compounds like Neguvon (1 g/L water for 10-30 minutes) or bromex (0.1 - 0.2 ppm) to kill free-swimming Argulus sp and its larval stages . Additionally, manual removal with tweezers can help decrease the parasite load. These strategies, when employed synergistically, form a robust plan for managing Argulus sp infestations and mitigating potential losses .

Argulus sp infections can lead to secondary bacterial and fungal diseases primarily due to the physical damage they cause to the fish's body. When Argulus sp attaches to the fish, it pierces the skin using its mouthparts, causing lesions and open wounds . These wounds disrupt the protective barrier of the skin and expose underlying tissues, providing an entry point for bacteria and fungi . Consequently, these secondary infections can spread through the bloodstream, often resulting in severe health decline or mass mortality events in infected fish populations .

Argulus sp plays a significant role as a disease vector in aquatic ecosystems. It facilitates the transmission of pathogens between fish, as its feeding behavior involves puncturing the skin and exposing fish to secondary infections . Through these open wounds, Argulus sp can transfer bacteria and fungal spores from one host to another, thereby increasing the prevalence and intensity of aquatic diseases . Additionally, its mobility and generalist host preferences enhance its potential to affect a wide array of fish species, contributing to ecological imbalances and altering disease dynamics within these ecosystems. The biological and ecological characteristics of Argulus sp underscore its importance as a disease vector, highlighting the need for integrated management approaches to mitigate its impacts on fish health and aquatic biodiversity .

Argulus sp has developed versatile reproductive strategies that enhance its persistence across a range of aquatic habitats. Females lay eggs on submerged objects such as plants or substrates, ensuring secure placement . The eggs exhibit a wide temperature tolerance, with varying incubation periods depending on environmental conditions, which allows for flexible reproduction across different climates . Argulus can produce numerous eggs (50-250), facilitating rapid population increases when conditions are favorable . After hatching, the larval stages proceed through several molts before reaching maturity, allowing adaptation to various environmental changes. These strategies enable Argulus sp to maintain stable populations even under fluctuating pressures, ensuring its continual presence and survival in both freshwater and marine ecosystems .

Temperature significantly influences the lifecycle of Argulus sp. The eggs of Argulus sp hatch in 17 days at a temperature of 23°C but take longer to hatch (61 days) at lower temperatures of 15°C . The entire lifecycle duration from egg to adulthood is shortened at higher temperatures; thus, warmer conditions accelerate development, allowing Argulus to complete its lifecycle in 3-10 days depending on the ambient temperature . This means that warmer environments can lead to faster population growth and potentially more severe infestations in fish populations.

Anda mungkin juga menyukai