MAKALA METODOLOGI PENELITIAN
PENDIDIKAN FISIKA
METODE PENELITIAN : MODEL 4D
Disusun oleh:
Kelompok 6
1.
2.
3.
4.
Miftahul Hidayati
Manggala Wahyu A
Laila Fitriyani
Rizky Nur Apriliasari
(13302241006)
(13302241021)
(13302241028)
(13302241036)
JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.
Karena hanya atas rahmat dan ridha-Nya semata-mata makala yang
berjudul METODE PENELITIAN : MODEL 4-D dapat terselesaikan.
Makala ini hanya sebatas pengetahuan dan kemampuan yang kami miliki
dan kami selaku mahasiswa juga berterimakasih kepada Dosen mata
kuliah Metodelogi Penelitian Pendidikan Fisika yang telah memberikan
tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makala ini dapat berguna dan bermanfaat
dalam rangkah menambah wawasan pengetahuan serta menambah
pemahaman kami serta teman-teman yang lain yang berkaitan dengan
teori metode penelitian menggunakan model 4-D. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa didalam tugas ini terdapat banyak sekali kekurangan
dan jauh dari yang diharapkan. Untuk itu, kami selaku penyusun makala
ini berharap adanya kritik dan saran untuk memperbaiki makala ini agar
mendekati sempurna.
Semoga makala sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membaca sekiranya laporan yang telah kami susun ini dapat berguna bagi
kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon
maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan, terima
kasih.
BAB I
PENDAHULUAN
I.
LATAR BELAKANG
Mengajar diartikan sebagai tugas utama seorang pendidik
(misalnya guru, dosen, tutor, instruktur, widyaiswara). Pendidik
yang kreatif akan selalu menciptakan ide-ide dalam merancang
sistem pembelajaran baru yang mampu membuat peserta didik
dapat mencapai tujuan belajarnya dengan penuh rasa tanggung
jawab. Untuk memperoleh sistem pembelajaran baru tersebut
diperlukan
metode
penelitian
dan
pengembangan
sistem
pembelajaran. Metode pengembangan sistem pembelajaran tidak
jauh berbeda dengan metode pengembangan produk lainnya.
Prosedur pengembangan lebih singkat karena produk yang
dihasilkan tidak terlalu beresiko dan dampak sistem terbatas pada
peserta didik yang menjadi sasaran.
Metode penelitian adalah rangkaian dari cara atau kegiatan
pelaksanaan penelitian dan didasari oleh pandangan filosofis,
asumsi dasar, dan ideologis serta petanyaan dan isu yang
dihadapi. Sebuah penelitian memiliki rancangan penelitian tertentu.
Rancanagan ini menjelaskan prosedur atau langkah-langkah yang
harus dijalani, waktu penelitian, kondisi data dikumpulkan, sumber
data serta dengan cara apa data tersebut dibuat dan diolah. Tujuan
dari rancanagan ini adalah menggunakan metode penelitian yang
baik dan tepat, dirancang kegiatan yang bisa memberikan jawaban
yang benar terhadap pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian.
Suatu metode penelitian juga membutuhkan suatu model
untuk mengembangkan penelitian. model dapat diartikan sebagai
penyederhanaan (simplifikasi) sesuatu yang kompleks agar mudah
dipahami. Model dapat juga diartikan sebagai seperangkat langkah
atau prosedur secara urut dalam mengerjakan suatu tugas. Model
dapat diterapkan dalam pengembangan perangkat pembelajaran
untuk menciptakan suatu proses belajar mengajar yang efektif dan
kondusif agar nantinya dapat menghasilkan atau meningkatkan
kualitas pendidikan.
Pengembanagan perangkat pembelajaran adalah suatu
proses untuk menentukan atau menciptakan suatu kondisi tertentu
yang menyebabkan siswa dapat berinteraksi sedemikian sehingga
terjadi perubahan tingkah laku. Dalam pengembangan perangkat
pembelajaran diperlukan suatu model pengembangan yang sesuai
dengan sistem pendidikan. Salah satu model yang sesuai untuk
mengembangkan
perangkat
pembelajaran
adalah
model
pembelajaran 4-D. Model pengembangan perangkat yaitu model 4D disarankan oleh Thiagarajan, Semmel, dan Semmel (1974).
Model ini terdiri dari 4 tahap pengembangan, yaitu define, design,
develop, dan desseminate atau diadaptasi menjadi model 4-P yaitu
pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran.
II.
RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas dapat diperoleh rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Apa pengertian metode penelitian : model 4-D ?
2. Bagaimana langkah-langkah model pembelajaran 4-D ?
3. Apa Kelebihan dan kekurangan metode penelitian
menggunakan model 4-D ?
III.
TUJUAN PENULIS
Tujuan pembuatan makala ini adalah sebagai berikut :
1. Mahasiswa dan pembaca dapat mengetahui
dan
menjelaskan pengertian metode penelitian : model 4-D.
2. Mahasiswa dan pembaca dapat mengetahui dan memahami
langkah-langkah model pembelajaran 4-D.
3. Mahasiswa dan pembaca dapat mengetahui
dan
menjelaskan kelebihan dan kekurangan metode penelitian
menggunakan model 4-D.
BAB II
PEMBAHASAN
I.
Pengertian Metode Penelitian : Model 4-D
Istilah model mempunyai banyak pengertian. Model dapat
diartikan sebagai penyederhanaan (simplifikasi) sesuatu yang
kompleks agar mudah dipahami. Model dapat pula diartikan sebagai
representasi grafik untuk menggambarkan sesuatu kehidupan nyata
atau seperti yang diharapkan. A model is a simplified abstract view
of a complex reality or concept. A model is a graphic analog
representing a real-life situation either as it it or as it should be
(AECT, 1977:16). Model dapat pula diartikan sebagai seperangkat
langkah atau prosedur secara urut dalam mengerjakan suatu tugas
([Link]. Abdul Gafur,[Link], 2012:23).
Model dapat berupa deskripsi
verbal
(model
deskripsi
konseptual), dapatpula berupa deskripsi visual dalam bentuk
diagram, gambar, bagan arus (flowchart) yang menggambarkan
suatu proses secara berturut-turut dalam menyelesaikan suatu tugas
(model prosedural). Kesemuanya merepresentasikan suatu proses.
Setelah memahami pengertian suatu model, berikutnya akan
dibahas dimaksud dengan model desain pembelajaran (instructional
design model).
Model desain pembelajaran pertama-tama dapat didefinisikan
sebagai deskripsi verbal tentang langkah-langkah secara urut yang
dilakukan dalam menyususn desain pembelajaran ([Link]. Abdul
Gafur,[Link], 2012:24).
Tahap penelitian dan pengembanagan sistem pembelajaran
dapat dianalisis dari serangkaian tugas pendidik dalam menjalankan
tugas pokoknya yaitu mulai dari merancang, melaksanakan sampai
dengan mengevaluasi pembelajaran. Sistem pembelajaran yang
dikembangkan bermakna luas, karena sistem terdiri dari komponen
input, proses, dan output. Komponen input pembelajaran terdiri dari
karakteristik peserta didik, karakteristik guru, dan sarana prasarana
dan
perangkat
pendukung
pembelajaran.
Komponen
proses
menitikberatkan pada strategi, model dan metode pembelajaran.
Komponen putput berupa hasil dan dampak pembelajaran. Model
penelitian dan pengembangan sistem pembelajaran dapat memilih
salah satu kompone sistem namun dalam penerapannya harus
mempertimbangkan komponen sistem yang lain.
Model pengembangan diartikan sebagai
proses
desain
konseptual dalam upaya peningkatan fungsi dari model yang telah
ada sebelumnya, melalui penambahan komponen pembelajaran
yang dianggap dapat meningkatkan kualitas pencapaian tujuan
(Sugiarta, 2007:11).
Model 4-D merupakan model pengembanagan yang terdiri dari
empat tahap pengembangan yaitu define, design, develop, dan
desseminate atau dapat diartikan sebagai tahap pendefinisian,
II.
perancangan, pengembangan, dan penyebaran (Trianto, 2009:189).
Langkah-Langkah Metode Penelitian : Model 4-D
Menurut Trianto (2009:189) model pengembangan perangkat
seperti yang disarankan oleh Thiagarajan, Semmel, Semmel (1974)
adalah model 4-D. Model ini terdiri dari 4 tahap pengembangan, yaitu
define, design, develop, dan desseminate atau diadaptasikan
menjadi
model
4-P,
yaitu
pendefinisian,
perancangan,
pengembangan, dan penyebaran seperti pada Gambar 9.3
PENDEFINISIAN
Gambar 9.3 Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran 4-D (Thiagarajan,
Semmel, dan Semmel, 1974)
Tahap I : Pendefinisian (Define)
Tujuan tahap ini adalah menetapkan dan mendefinisikan
syarat-syarat pembelajaran. Dalam menentukan dan menetapkan
syarat-syarat pembelajaran diawali dengan analisistujuan dari
batasan materi yang dikembangkan perangkatnya. Tahap ini meliputi
5 langkah pokok, yaitu (a) analisis ujung depan (front-end analysis);
(b) analisis siswa (learner analysis); (c) analisis tugas (task analysis);
(d) analisis konsep (concept analysis); dan (e) perumusan tujuan
pembelajaran (specifying instructional objectives).
1) Analisis Ujung Depan (Front-End Analysis)
Analisis ujung depan bertujuan untuk memunculkan dan
menetapkan
masalah
pembelajaran
dasar
biologi
pengembanagan
SLTP
bahan
yang
dihadapi
sehingga
pembelajaran.
dalam
dibutuhkan
Berdasarkan
masalah ini disusunlah alternatif perangkat yang relevan.
Dalam
melakukan
mempertimbangkan
pengembangan
analisis
beberapa
perangkat
ujung
hal
sebagai
pembelajaran,
tantangan, dan tuntutan masa depan.
Analisis ujung depan diawali
depan
dari
teori
perlu
alternatif
belajar,
pengetahuan,
keterampilan, dan sikap awal yang dimiliki siswa untuk
mencapai tujuan akhir yaitu tujuan yang tercantum dalam
kurikulum. Kesenjangan antara hal-hal yang sudah diketahui
siswa dengan apa yang seharusnya akan dicapai siswa
memerlukan telaah kebutuhan (needs) akan materi sebagai
penutup kesenjangan tersebut. Pada tahap ini, guru
melakukan diagnosis awal untuk meningkatkan efisiensi dan
efektivitas pembelajaran
2) Analisis Siswa (Learner Analysis)
Analisis siswa merupakan tentang karakteristik siswa
yang sesuai dengan desain pengembanagan perangkat
pembelajaran. Karakteristik itu meliputi latar belakang
kemampuan
akademik
(pengetahuan),
perkembangan
kognitif, serta keterampilan-keterampilan individu atau sosial
yang berkaitan dengan topik pembelajaran, media, format
dan bahasa
yang
dipilih. Pada
tahap ini,
dipelajari
karakteristik peserta didik, misalnya kemampuan, motivasi
belajar, latar belakang pengalaman.
Analisis siswa dilakuakan untuk mendapatkan gambaran
karakteristik siswa, antara lain : (1) tingkat kemampuan atau
perkembanagan
intelektualnya;
(2)
keterampilan-
keterampilan individu atau sosial yang sudah dimiliki dan
dapat dikembangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang ditetapkan.
3) Analisis Tugas (Task Analysis)
Analisis tugas adalah kumpulan
prosedur
untuk
menentukan isi dalam satuan pembelajaran. Dalam hal
pembelajaran guru menganalisis tugas-tugas pokok yang
dikuasai peserta didik agar peserta didik dapat mencapai
kompetensi minimal. Analisis tugas dilakukan untuk merinci
isi materi ajar dalam bentuk garis besar. Analisis ini
mencakup: (a) analisis struktur isi; (b) analissi prosedural; (c)
analisis proses informasi; (d) analisis konsep; dan (e)
perumusan tujuan.
4) Analisis Konsep (Concept Analysis)
Analisis konsep ini dilakukan untuk mengidentifikasi
konsep pokok yang akan diajarkan, menyusunnya dalam
bentuk hirarki, dan merinci konsep-konsep individu ke dalam
hal yang kritis dan yang tidak relevan. Analisis membantu
mengidentifikasi kemungkinan contoh dan bukan contoh
untuk
digambarkan
dalam
mengantar
proses
pengembangan.
Analisis konsep sangat diperlukan untuk mengidentifikasi
pengetahuan-pengetahuan
prosedural
pada
materi
matematika yang akan dikembangkan. Analisis konsep
merupakan satu langkah penting untuk memenuhi prinsip
kecukupan dalam membangun konsep atas materi-materi
yang digunakan sebagai sarana pencapaian kompetensi
dasar dan standar kompetensi. Inti dari tahap ini adalah
menganalisis konsep yang akan diajarkan, menyususn
langkah-langkah yang akan dilakukan secara rasional.
Mendukung analisis konsep ini, analisis-analisis yang perlu
dilakukan adalah (1) analisis standar kompetensi dan
kompetensi dasar yang bertujuan untuk menentukan jumlah
dan jenis bahan ajar, (2) analisis sumber belajar, yakni
mengumpulkan dan mengidentifikasi sumber-sumber mana
yang mendukung penyusunan bahan ajar.
5) Perumusan Tujuan Pembelajaran (Specifying Instructional
Objectives)
Perumusan
tujuan
pembelajaran
berguna
untuk
merangkum hasil dari analisis konsep dan analisis tugas
untuk
menentukan
perilaku
objek
penelitian.
dalam
pembelajaran menuliskan tujuan pembelajaran, perubahan
perilaku yang diharapkan setelah belajar dengan kata kerja
operasional. Kumpulan objek tersebut menjadi dasar untuk
menyusun tes dan merancang perangkat pembelajaran yang
kemudian di integrasikan ke dalam materi perangkat
pembelajaran yang akan digunakan oleh peneliti.
Dalam konteks pengembanagan bahan ajara (modul, buku,
dan LKS), tahap pendefinisian dilakukan dengan cara :
a) Analisis Kurikulum
Pada tahap awal, peneliti perlu mengkaji kurikulum
yang berlaku pada saat itu, karena didalam kurikulum
terdapat kompetensi yang ingin dicapai dalam suatu
tujuan pembelajaran. Analisis kurikulum bermanfaat untuk
menetapkan pada kompetensi yang mana bahan ajar
tersebut akan dikembangkan. Hal ini dilakukan karena ada
kemungkinan tidak semua kompetensi yang ada dalam
kurikulum dapat disediakan bahan ajarnya.
b) Analisis Karakteristik Peserta Didik
Pada prose pembelajaran berlangsung, guru harus
mengenali karakteristik belajar peserta didik dalam setiap
proses pembelajaran, karena semua proses pembelajaran
harus disesuaikan dengan karakteristik belajar dari
peserta didik itu sendiri sehingga tujuan pembelajaran
yang
diinginkan
dalam
proses pembelajaran
dapat
[Link]-hal
yang
perlu
dipertimbangkan
untuk
mengetahui karakteristik peserta didik sebagai berikut :
kemampuan
akademik
individu,
karakteristik
fisik,
kemampuan kerja dalam kelompok, motivasi belajar
peserta
didik,
pengalaman
latar
belajar,
belakang
dll.
sosial
Untuk
dan
kaitannya
ekonomi,
dengan
pengembanagan bahan ajar, karakteristik peserta didik
perlu diketahui untuk menyusun bahan ajar yang sesuai
dengan kemampuan akademik, misalnya apabila tingkat
pendidikan peserta didik masih rendah, maka penulis
bahan ajar sebaiknya menggunakan bahasa dan katakata sederhana yang mudah dipahami. Apabila minat
baca peserta didik terhadap suatu buku materi masih
rendah maka bahan ajar perlu ditambah dengan ilustrasi
gambar yang menarik agar peserta didik termotivasi untuk
membacanya.
c) Analisis Materi
Materi merupakan bahan yang pokok yang harus
dipersiapkan oleh seorang pendidik pada saat sebelum
dilakukan proses pembelajaran. Materi yang diajarkan
dalam penelitian harus dilakukan analisis materi. Analisis
materi dilakukan dengan cara mengidentifikasi materi
utama yang perlu diajarkan, mengumpulkan dan memilih
materi yang relevan, dan menyusunnya kembali secara
sistematis.
d) Merumuskan Tujuan
Sebelum melakukan
perumusan
penyusunan
model
pembelajaran , tujuan pembelajaran dan kompetensi yang
perlu terlebih dahulu dilakukan karena berguna untuk
membatasi peneliti supaya tidak menyimpang dari tujuan
awal
pada
saat
menuliskan
bahan
ajar.
Tujuan
pembelajaran yang akan dicapai harus mengacu pada
indikator pembelajarn dengan materi yang akan diajarkan
oleh pendidik..
Tahap II : Perancangan (Design)
Tujuan tahap ini adalah untuk menyiapkan prototipe perangkat
pembelajaran. Tahap ini terdiri dari 4 langkah, yaitu:
1. Penyusunan tes acuan patokan (criterion-test construction),
merupakan langkah awal yang menghubungkan antara tahap
pendefinisian (define) dan tahap perancangan (design). Tes
acuan
patokan
disusun
berdasarkan
spesifikasi
tujuan
pembelajaran dan analisis siswa, kemudian selanjutnya
disusun kisi-kisi tes hasil belajar. Tes yang dikembangkan
disesuaikan dengan jenjang kemampuan kognitif. Penskoran
hasil tes menggunakan panduan evaluasi yang memuat kunci
dan pedoman penskoran setiap butir soal. Tes ini disusun
berdasarkan hasil perumusan tujuan pembelajaran khusus.
Tes ini merupakan suatu alat mengukur terjadinya perubahan
tingkah laku pada diri siswa setelah kegiatan belajar
mengajar.
2. Pemilihan media (media selection), yang sesuai tujuan, untuk
menyampaikan materi pelajaran. Pemilihan media dilakukan
untuk mengidentifikasi media pembelajaran yang relevan
dengan karakteristik materi. Lebih dari itu, media dipilih untuk
menyesuaikan dengan analisis konsep dan analisis tugas,
karakteristik target pengguna, serta rencana penyebaran
dengan atribut yang bervariasi dari media yang [Link]
ini
berguna
untuk
membantu
siswa
dalam
pencapaian kompetensi dasar. Artinya, pemilihan media
dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan bahan ajar
dalam proses pengembangan bahan ajar pada pembelajaran
di kelas.
3. pemilihan format (format selection), Pemilihan format dalam
pengembangan perangkat pembelajaran ini dimaksudkan
untuk mendesain atau merancang isi pembelajaran, pemilihan
strategi, pendekatan, metode pembelajaran, dan sumber
belajar. Format yang dipilih adalah yang memenuhi kriteria
menarik, memudahkan dan membantu dalam pembelajaran
matematika realistik. Didalam pemilihan format ini misalnya
dapat dilakukan dengan mengkaji format-format perangkat
yang sudah ada dan yang sudah dikembangkan di negaranegara lain yang lebih maju.
4. Rancangan awal (initial design), Menurut Thiagarajan, dkk
(1974: 7) initial design is the presenting of the essential
instruction through appropriate media and in a suitable
sequence.
Rancangan
awal
yang
dimaksud
adalah
rancangan seluruh perangkat pembelajaran yang harus
dikerjakan sebelum ujicoba dilaksanakan. Hal ini juga meliputi
berbagai aktivitas pembelajaran yang terstruktur seperti
membaca
teks,
wawancara,
dan
praktek
kemampuan
pembelajaran yang berbeda melalui praktek mengajar.
Tahap III : Pengembangan (Develop)
Tujuan tahap ini adalah untuk menghasilkan perangkat
pembelajaran yang sudah direvisi berdasarkan masukan dari para
pakar. Langkah-langkah yang dilakuakan pada tahap ini meliputi:
1. Validasi ahli / praktisi (expert appraisal)
Menurut Thiagarajan, dkk (1974: 8), expert appraisal is a
technique for obtaining suggestions for the improvement of
the material. Penilaian para ahli/praktisi terhadap perangkat
pembelajaran mencakup: format, bahasa, ilustrasi dan isi.
Berdasarkan masukan dari para ahli, materi pembelajaran di
revisi
untuk
membuatnya
lebih
tepat,
efektif,
mudah
digunakan, dan memiliki kualitas teknik yang tinggi. Dalam hal
ini perangkat oleh para pakar diikuti dengan revisi.
2. Simulasi, yaitu kegiatan mengoperasionalkan
rencana
pelajaran;
3. Uji Coba Pengembangan (developmental testing)
Uji coba lapangan dilakukan untuk memperoleh masukan
langsung berupa respon, reaksi, komentar siswa, dan para
pengamat terhadap perangkat pembelajaran yang telah
disusun. Menurut Thiagarajan, dkk (1974) uji coba, revisi dan
uji coba kembali terus dilakukan hingga diperoleh perangkat
yang konsisten dan efektif. Dalam tahap ini uji coba
pengembangan terbatas dengan siswa yang sesungguhnya.
Hasil tahap (b) dan (c) digunakan sebagai dasar revisi.
Langkah berikutnya adalah uji coba lebih lanjut dengan jumlah siswa
yang sesuai dengan kelas sesungguhnya.
Tahap IV : Penyebaran (Disseminate)
Proses
diseminasi
merupakan
suatu
tahap
akhir
pengembangan. Tahap diseminasi dilakukan untuk mempromosikan
produk pengembangan agar bisa diterima pengguna, baik individu,
suatu kelompok, atau sistem. Produsen dan distributor harus selektif
dan bekerja sama untuk mengemas materi dalam bentuk yang tepat.
Menurut Thiagarajan dkk, (1974: 9), the terminal stages of final
packaging, diffusion, and adoption are most important although most
frequently overlooked.
Diseminasi bisa dilakukan di kelas lain dengan tujuan untuk
mengetahui
efektifitas
penggunaan
perangkat
dalam
proses
pembelajaran. Penyebaran dapat juga dilakukan melalui sebuah
proses penularan kepada para praktisi pembelajaran terkait dalam
suatu forum tertentu. Bentuk diseminasi ini dengan tujuan untuk
mendapatkan
masukan,
koreksi,
saran,
penilaian,
untuk
menyempurnakan produk akhir pengembangan agar siap diadopsi
oleh para pengguna produk.
Beberapa
melakukan
hal
yang
diseminasi
perlu
adalah:
mendapat
(1)
analisis
perhatian
dalam
pengguna,
(2)
menentukan strategi dan tema, (3) pemilihan waktu, dan (4)
pemilihan media.
1. Analisis Pengguna
Analisis pengguna adalah langkah awal dalam tahapan
diseminasi untuk mengetahui atau menentukan pengguna
produk yang telah dikembangkan. Menurut Thiagarajan, dkk
(1974),
pengguna
produk
bisa
dalam
bentuk
individu/perorangan atau kelompok seperti: universitas yang
memiliki
fakultas/program
organisasi/lembaga
persatuan
studi
guru,
kependidikan,
sekolah,
guru-guru,
orangtua siswa, komunitas tertentu, departemen pendidikan
nasional, komite kurikulum, atau lembaga pendidikan yang
khusus menangani anak cacat.
2. Penentuan strategi dan tema penyebaran
Strategi penyebaran adalah rancangan untuk pencapaian
penerimaan
produk
pengembangan.
beberapa
oleh
Guba
strategi
calon
pengguna
(Thiagarajan,
penyebaran
1974)
yang
dapat
produk
memberikan
digunakan
berdasarkan asumsi pengguna diantaranya adalah: (1) strategi
nilai, (2) strategi rasional, (3) strategi didaktik, (4) strategi
psikologis, (5) strategi ekonomi dan (6) strategi kekuasaan.
3. Waktu
Menurut Thiagarajan, dkk (1974) selain menentukan
strategi dan tema, peneliti juga harus merencanakan waktu
penyebaran. Penentuan waktu ini sangat penting khususnya
bagi pengguna produk dalam menentukan apakah produk akan
digunakan atau tidak (menolaknya).
4. Pemilihan media penyebaran
Menurut Thiagarajan, dkk (1974) dalam penyebaran
produk, beberapa jenis media dapat digunakan. Media tersebut
dapat
berbentuk
jurnal
pendidikan,
majalah
pendidikan,
konferensi, pertemuan, dan perjanjian dalam berbagai jenis
serta melalui pengiriman lewat e-mail.
Untuk kepentingan diseminasi ini, Thiagarajan, dkk (1974:
173) menetapkan kriteria keefektifan diseminasi, yaitu
1. Clarity. Information should be clearly stated, with a particular
audience in mind.
2. Validity. The information should present a true picture.
3. Pervasiveness. The information should reach all of the intended
audience.
4. Impact. The information should evoke the desire response from
intended audience.
5. Timeliness. The information should be disseminated at the
most opportune time.
6. Practicality. The information should be presented in the form
best suited to the scope of the project, considering such
limitations as distance and available resources.
Untuk
kepentingan
penelitian,
model
pengembangan
Thiagarajan, dkk (1974) yang ditetapkan di atas perlu disesuaikan
dengan rancangan penelitian dalam batasan rasional.
Tahap ini merupakan tahap penggunaan perangkat yang telah
dikembangkan pada skala yang lebih luas, misalnya dikelas lain,
disekolah lain, oleh guru lain. Tujuan lain adalah untuk menguji
efektivitas penggunaan perangkat didalam KBM.
III.
Kelebihan dan Kekurangan Metode Penelitian : Model 4-D
Model penelitian Thiagarajan merupakan pengembangan
model penelitian yang secara detail menjelaskan langkah-langkah
operasional model penelitian pengembangan perangkat. Sehingga
jelaslah bahwa untuk pengembangan perangkat, model Thiagarajan
lebih terperinci dan lebih sistematis.
Kelebihan model penelitian 4D dari model Thiagarajan yaitu:
a. Memudahkan peneliti untuk melakukan langkah selanjutnya.
Contoh: langkah menganalisis tugas dan analisis konsep
dapat membantu untuk menentukan TPK.
b. Pada tahap III peneliti dapat dengan leluasa melakukan uji
coba dan revisi berkali-kali sampai diperoleh hasil dengan
kualitas yang maksimal (final).
c. Pijakan utama pendidikan di
Indonesia
berdasarkan
kurikulum yang telah ditetapkan, oleh karena itu dalam
penyusunan perangkat terlebih ddahulu harus dilakukan
analisis kurikulum. Pada model ini, analisis kurikulumm dapat
dilakukan pada langkah analisis ujung-depan.
Kekurangan model penelitian 4D dari model Thiagarajan yaitu:
a. Pada analisis tugas yang sejajar dengan analisis konsep dan
tidak ditentukan analisis manakah yang akan didahulukan
dilaksanakan .
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian makala di atas, dapat disimpulkan:
1. Model pengembangan perangkat Four-D Model yang ditetapkan di
atas perlu disesuaikan dengan rancangan penelitian dalam batasan
rasional. Model ini terdiri dari 4 tahap pengembangan yaitu Define,
Design, Develop, dan Disseminate atau diadaptasikan menjadi
model 4-D, yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan
penyebaran atau disingkat menjadi 4-P.
2. Langkah-langkah metode penelitian pengembangan
perangkat
pembelajaran model 4-D yang disarankan oleh Thiagarajan,
Semmel, Semmel (1974) adalah model 4-D, model ini terdiri dari 4
tahap
pengembangan,
Disseminate
atau
yaitu
Define,
diadaptasikan
Design,
menjadi
Develop,
model
4-P,
dan
yaitu
pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran.
3. Didalam metode penelitian : model 4-D terdapat kelebihan dan
kekurangan dalam penerapannya yaitu
Kelebihan metode Penelitian : Model 4-D:
Memudahkan peneliti untuk melakukan langkah selanjutnya
Pada tahap III peneliti dapat melakukan uji coba hingga
mencapai hasil maksimal
Analisis kurikulum dapat dilakukan pada langkah analisis
ujung-depan
Kekurangan metode 4D:
Tidak ditentukan analisis mana yang didahulukan
DAFTAR PUSTAKA
Bustang. 2010. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika
Berbahasa Inggris Berbasis Realistik pada SMP Rintisan Sekolah
Bertaraf Internasional. Skripsi. Universitas Negeri Makassar.
Buhari, Bustang. 2010. Four-D Model (Model Pengembangan Perangkat
Pembelajaran dari Thiagarajan, dkk). (online),
([Link] diakses 3 Pebruari 2013.
Thiagarajan, S., Semmel, D. S & Semmel, M. I. 1974. Instructional
Development for Training Teachers of Expectional Children.
Minneapolis,
Minnesota:
Leadership
Training
Institute/Special
Education, University of Minnesota
Trianto. 2009 . Mendesain Model Pembelajaran InovatifProgresif:
Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Media
Group