0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan22 halaman

Penanggulangan Longsor di Wirogomo

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang Desa Wirogomo yang memiliki potensi longsoran tanah, jenis longsoran yang terjadi di desa tersebut beserta faktor penyebabnya. Dokumen ini juga menjelaskan tujuan dilakukannya penanggulangan bencana longsor di desa tersebut untuk meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkannya.

Diunggah oleh

Roni Hepson Tambun
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan22 halaman

Penanggulangan Longsor di Wirogomo

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang Desa Wirogomo yang memiliki potensi longsoran tanah, jenis longsoran yang terjadi di desa tersebut beserta faktor penyebabnya. Dokumen ini juga menjelaskan tujuan dilakukannya penanggulangan bencana longsor di desa tersebut untuk meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkannya.

Diunggah oleh

Roni Hepson Tambun
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Desa Wirogomo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang
merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi terjadinya gerakan
tanah. Gerakan tanah yang berada pada desa Wirogomo termasuk tipe
gerakan tanah longsoran. Longsoran merupakan bagian dari gerakan tanah
yang menyebabkan berpindah atau bergesernya massa tanah dari daerah
energi potensial tinggi ke daerah dengan potensial rendah. Tipe longsoran
pada daerah tersebut termasuk tipe longsoran jatuhan, dan longsoran bahan
rombakan. Faktor penyebab terjadinya longsoran di daerah tersebut karena
pengaruh curah hujan yang tinggi, jenis litologi, geomorfologi atau
kemiringan lereng dan bisa juga karena pengaruh akivitas manusia.
Berdasarkan tipe longsoran, faktor penyebab terjadinya longsoran akan
mendukung untuk melakukan tindakan penanggulangan bencana pada
daerah tersebut. Agar dapat meminimalisir dampak yang di timbulkan oleh
longsoran. Dampak yang di timbulkan biasanya dampak negatif yang akan
mempengaruhi kehidupan sehari-hari warga desa Wirogomo. Pada kegiatan
Kerja Praktik ini penanggulangan bencana tanah longsor dilakukan dalam
rangka untuk menemukan tindakan apa yang akan di lakukan pada daerah
tersebut untuk meminimalisir longsoran di desa Wirogomo, Kecamatan
Banyubiru, Kabupaten Semarang.
1.2

Maksud Dan Tujuan


1.2.1 Maksud
1. Memenuhi syarat kurikulum Kerja Praktik pada semester VIII di
Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas
Diponegoro.
2. Mengenal dan mengetahui dunia kerja secara langsung
3. Mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah didapat di bangku
kuliah dengan kenyataan sebenarnya di lapangan atau dunia kerja
1

4. Menambah wawasan serta pengeahuan baru di bidang geologi yang


belum pernah didapat di bangku kuliah
1.2.2 Tujuan
1. Menerapkan ilmu geologi yang telah didapatkan dunia kerja
2. Belajar untuk mengetahui cara bermasyarakat
3. Mengetahui kegiatan suatu instansi yang berhubungan dengan
geologi
4. Mengetahui prosedur yang dilakukan dalam mitigasi bencana tanah
1.3

longsor
Tempat Kerja Praktek
Kerja Praktek berada di bidang geologi, mineral, dan batubara, Dinas
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Jalan
Madukoro AA BB no. 44 Semarang. Kerja praktek dilakukan

1.4

dilingkungan kantor dan lapangan.


Ruang Lingkup
Kerja praktek yang dilakukan

merupakan

pekerjaan

yang

berhubungan dengan bidang geologi. Adapun pekerjaan yang dilakukan


diantaranya:
1. Pengumpulan data sekunder
2. Survei lapangan
3. Dan pembuatan laporan
1.5

Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Kegiatan Kerja Praktik (KP) dilaksanakan dalam jangka waktu satu
bulan tehitung mulai tanggal 23 Maret 2015 dan berakhir pada tanggal 23
April 2015. Tempat yang dipilih untuk pelaksanaan kegiatan Kerja Praktik
(KP) adalah Kantor Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa
Tengah yang merupakan instansi milik pemerintah dan objek lapangan yang
akan di observasi. Kegiatan yang di laksanakan berupa:
1. Kantor
Kegiatan yang dilakukan di kantor berupa pengumpulan data
sekunder

untuk

mempelajari

lokasi

observasi

sebelum

melaksanakan kegiatan lapangan. Dengan pengumpulan data


sekunder berupa peta geologi lembar Magelang-Semarang, peta

gerakan tanah daerah sekitar, peta curah hujan daerah sekitar,


geologi regional, dan peta rupa bumi.
2. Lapangan
Kegiatan yang dilakukan dilapangan berupa pengambilan sampel
batuan, pengambilan data seperti kemiringan lereng, litologi,
penyebab terjadinya longsor, dan lokasi sumber mata air.
Tabel 1.1 Jadwal Pelaksanaan Kerja Praktik

No.

1.6

Kegiatan

Persiapan peralatan dan data sekunder

Studi pustaka mengenai kondisi geologi


regional dan potensi terjadinya gerakan
tanah Daerah Gunung Kelir

Survey lapangan

Pengolahan data

Maret-April 2015
I
II
III IV

Metode Penelitian
Pada metode penelitian penanggulangan bencana tanah longsor dibagi
menjadi 4 tahap, sebagai berikut:
a.

Studi Literatur
Dengan membaca bahan berupa data geologi regional atau
penelitian terdahulu, dan memperlajari data-data sekunder penelitian
dari peta geologi lembar Magelang-Semarang, Peta Gerakan tanah, Peta
Curah Hujan, Peta rupa bumi Indonesia dan citra satelit dari google
earth.

b.

Pengambilan Data Primer


Melakukan pemetaan geologi terkait dengan kondisi litologi,
morfologi atau kemiringan lereng, struktur geologi, pemetaan aliran air
di sekitar tebing, pemetaan topografi terkait dengan pembagian satuan

geomorfologi daerah penyelidikan dan penyelidikan drainase di sekitar


tebing.
c.

Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan berdasarkan data lapangan yang
selanjutnya dilakukan pengamatan lebih lanjut untuk mengetahui
kebenaran dan validitas data yang diperoleh di lapangan untuk dapat
merekomendasikan penanggulangan yang harus dilakukan pada daerah
longsoran.

d.

Penyusunan Laporan
Penulisan laporan yang baik dan lengkap merupakan bagian yang
paling penting dalam kegiatan eksplorasi. Pada dasarnya kegunaan
suatu laporan meliputi penguraian secara tepat apa-apa yang telah
dipetakan atau diselidiki dan memadukan serta menerangkan hubungan
geologi dengan permasalahan yang ada.

1.7

Peralatan yang Digunakan


Pada penyelidikan penanggulangan dilapangan dilakukan dengan
menyelidiki diatas permukaan. Peralatan kerja yang di perlukan saat
melakukan penyelidikan lapangan sebagai berikut :
Kompas Geologi
Peta Dasar (peta topografi, peta geologi lembar magelang-semarang dan
peta rupa bumi Indonesia, peta gerakan tanah, peta curah hujan).
Palu Geologi (chisel point dan pick point).
Larutan HCL
Kantong Sampel
GPS Handheld
Lup / lensa pembesar
Kamera

1.8

Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan kerja praktik adalah sebagai berikut:

1.

Bab I Pendahuluan
Berisi latar belakang, maksud dan tujuan, lokasi kerja praktek,
ruang lingkup, waktu dan pelaksanaan kerja praktek, metode

2.

3.

penyelidakan, peralatan pekerjaan dan sistematika penulisan.


Bab II Tinjauan Pustaka
Berisi tentang gerakan tanah, klasifikasi gerakan tanah, faktor
penyebab terjadinya longsoran, dan cara penanggulangan longsoran.
Bab III Profil Dinas Energi Dan Sumber Daya Mineral Proinsi
Jawa Tengah
Memuat profil Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Propinsi
Jawa Tengah meliputi sejarah, visi dan misi, dan struktur organisasi

4.

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Propinsi Jawa Tengah.


Bab IV Penutup
Berisi mengenai hal-hal yang dapat diambil dari inti permasalahan
dalam laporan kerja praktek dan saran.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Gerakan Tanah
Definisi dari gerakan tanah menurut Roy E. Hunt (1984), adalah suatu
gerakan perpindahan massa tanah atau batuan yang terjadi pada lereng alam
maupun lereng batuan dengan kecepatan yang dapat bervariasi dari sangat
lamban sampai sangat cepat (longsor atau gempa bumi). Gerakan tanah ini
di Indonesia sudah sering terjadi dan banyak mengakibatkan korban jiwa,
kehancuran lahan dan infrastruktur. Untuk itu, informasi gerakan tanah
sangat dibutuhkan guna penunjang perencanaan, pembuatan jaringan jalan,
bendungan, perumahan, maupun pembangunan wilayah dalam upaya
mencegah bencana tanah longsor.
(Sumber : Roy E. Hunt, 1984)

2.2

Klasifikasi Gerakan Tanah


Ada beberapa macam gerakan tanah yang dikenal. Macam gerakan
tanah ini dapat dibedakan berdasarkan bentuk juga penyebab terjadinya.
Secara umum klasifikasi dari gerakan tanah yang ada di bumi adalah
sebagai berikut:
a. Runtuhan (falls)
Terdapat beberapa ukuran massa jenis yang dilepaskan dari lereng
curam di sepanjang permukaan tanah dimana hanya sedikit atau tidak ada
perpindahan akibat geser yang bekerja. Jatuhnya massa tanah ini tidak
berbentuk wujud longsoran. Gerakan tanah melalui udara yang terlepas
dari lereng curam dan tidak ditahan oleh gerseran dengan material yang
berbatasan.
b. Longsoran Translasi
Longsoran translasi merupakan gerakan blok batuan dari yang
lambat sampai cepat sepanjang bidang gelincir yang berbentuk hampir
lurus dan sejajar dengan muka tanah. Pada prinsip dasarnya longsoran

translasi bentuk permukaan gelincirnya hampir lurus dan rata sejajar


dengan permukaan lereng dan relatif dangkal di bawah permukaan
lereng.
c. Longsoran Rotasi
Longsoran rotasi merupakan merupakan gerakan yang relatif lambat
dari suatu blok batuan, sepanjang bidang gelincir yang berbetuk
lingkaran atau hampir setengah lingkaran.
d. Pergerakan Blok
Pergerakan blok merupakan perpindahan batuan yang bergerak pada
bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran
translasi blok batu.
e. Aliran Bahan Rombakan
Jenis tanah longsoran ini tejadi ketika massa tanah bergerak
didorongoleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng,
volume dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di
sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di
beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai
disekitar gunungapi. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup
banyak.
(Sumber : [Link])

2.3

Faktor Penyebab Terjadinya Tanah Longsor


Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng
lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi
oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong
dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah
batuan.
1. Curah Hujan
Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya
penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal itu
mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi

retakan dan merekahnya tanah permukaan. Ketika hujan, air akan


menyusup ke bagian yang retak sehingga tanah dengan cepat
mengembang kembali. Pada awal musim hujan, intensitas hujan yang
tinggi biasanya sering terjadi, sehingga kandungan air pada tanah
menjadi jenuh dalam waktu singkat.
2.

Lereng terjal
Lereng

atau

tebing

yang

terjal

akan memperbesar

gaya

[Link] yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai,


mata air, airlaut, dan angin.
3.

Jenis tanah
Tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan,
perladangan, dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan
persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan
membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah
terjadi longsor.

4.

Susut muka air danau atau bendungan

5.

Adanya beban tambahan


Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan
kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor,
terutama di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya
adalah sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang arahnya
kearah lembah.

6.

Pengikisan/erosi

7.

Adanya material timbunan padatebing

8.

Bekas longsoran lama


(Sumber : [Link])

2.4

Cara Penanggulangan Longsoran


Dilakukan dengan tiga cara:
a. Cara vegetatif
Apabila faktor penyebab gerakan tanah adalah faktor kandungan air
dalam tanah akibat curah hujan. Macam gerakan tanah yaitu mudflow
8

dan earthflow. Fungsi vegetasi yaitu mengurangi energi butir hujan,


mengurangi energi aliran permukaan, mengurangi jumlah air hujan yang
sampai ke permukaan tanah, akar tumbuh-tumbuhan dapat memperkuat
tanah.
b. Cara mekanis (teknis)
Ada dua prinsip:
1. Pengurangan tekanan

Melandaikan lereng, terasering

Mengalirkan air permukaan (drain surface)

Mengalirkan air bawah permukaan (drain sub surface)

Mengurangi beban

2. Memperbesar kekuatan

Menggunakan buttress atau counterweight

Pemasangan anchor dan bolt

Injeksi semen (grouting)


(Sumber : Suharyadi, M. S., 2009)

BAB III
PROFIL INSTANSI DINAS ESDM JAWA TENGAH
9

3.1

Sejarah Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah
Dengan ditetapkan dan diundangkannya Peraturan Pemerintah Nomor
37 Tahun 1986 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah di Bidang
Pertambangan Kepada Pemerintah Tingakat I, meliputi kebijaksanaan,
mengatur, mengurus dan mengembangkan usaha pertambangan bahan
galian golongan C sepanjang tidak terletak di lepas pantai dan atau dalam
rangka PMA dan tugas pembantuan di bidang Air Bawah Tanah (ABT).
Berdasarkan Surat Mentari Dalam Negeri tanggal 1 Januri 1986 Nomor
061.1/11818/SJ perihal Pembentukan Dinas Pertambangan Daerah, Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I Jawa Tengah menetapkan Peraturan
Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah Nomor 9 Tahun 1988
tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pertambangan
Propinsi Jawa Tengah. Seiring dengan perkembangan waktu, Dinas
Pertambangan Propinsi Tingkat I Jawa Tengah sesuai Perda Prov. jateng No.
1 tahun 2002 berubah nama menjadi Dinas Pertambangan dan Energi
Provinsi Jawa Tengah. Dengan berubahnya nama tersebut, maka
kewenangan dan tupoksinya makin bertambah selain menangani bidang
pertambangan dan ABT juga menangani bidang geologi, panas bumi,
ketenagalistrikan dan migas.
Selanjutnya dengan telah diterbitkannya PP No.41 Tahun 2007 tentang
Organisasi Perangkat Daerah, maka dalam rangka optimalisasi tugas Dinas
ESDM di Kabupaten/Kota sebagai unsur pelaksanaan otonomi daerah telah
diterbitkan Perda Provinsi Jawa Tengah No. 6 Tahun 2008 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Dinas Provinsi Jawa Tengah, dimana dalam
pembentukan dinas baru tersebut Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi
Jawa Tengah berganti menjadi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral
Provinsi Jawa Tengah yang kemudian diperkuat dengan adanya Peraturan
Gubernur Jawa Tengah No. 74 Tahun 2008 tentang Penjabaran Tupoksi dan
Tata Kerja Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah.

10

Untuk melaksanakan sebagian tugas teknis operasional dan/atau


kegiatan teknis penunjang dalam rangka melaksanakan kewenangan
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang berada di Kabupaten/Kota,
keberadaan fungsinya dalam memenuhi pelayanan kepada masyarakat
semakin meningkat, maka berdasarkan Perda Provinsi Jawa Tengah No. 5
Tahun 2006, Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Tengah
memiliki unit pelaksana teknis sebagai berikut :
1. Balai Pengelola Pertambangan dan Energi Wilayah Solo
2. Balai Pengelola Pertambangan dan Energi Wilayah Kendeng Muria
3. Balai Pengelola Pertambangan dan Energi Wilayah Serayu
Seiring dengan diberlakukannya Peraturan Daerah Provinsi Jawa
Tengah No. 6 Tahun 2008, maka unit pelaksana teknis pada Dinas ESDM
Provinsi Jawa Tengah mengalami perubahan sesuai Peraturan Gubernur
Jawa Tengah No. 46 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit
Pelaksana Teknis pada Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah sebagai berikut :
1. Balai Energi dan Sumber Daya Mineral Wilayah Serayu Utara
2. Balai Energi dan Sumber Daya Mineral Wilayah Serayu Selatan
3. Balai Energi dan Sumber Daya Mineral Wilayah Kendeng Muria
4. Balai Energi dan Sumber Daya Mineral Wilayah Solo
3.2

Visi dan Misi Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah


Dalam pembangunan daerah bidang energi dan sumber daya mineral,
keseimbangan antara pemanfaatan dan kelestarian sumber daya mineral dan
energi menjadi pertimbangan utama dan harus diupayakan secara konsisten.
Kekayaan sumber daya mineral dan keanekaragaman potensi energi tidak
saja dimanfaatkan untuk masyarakat saat ini, tetapi juga untuk generasi yang
akan datang. Oleh karena itu, visi dan misi pembangunan daerah bidang
energi dan sumber daya mineral adalah:

11

3.2.1 Visi :
Menuju Masyarakat Sejahtera Melalui Penguatan Pengelolaan
ESDM dan Kemandirian Energi
3.2.2 Misi :
1. Meningkatkan Pengelolaan Pertambangan dan Air Tanah yang
Berkelanjutan
2. Meningkatkan Pengelolaan dan Pendayagunaan Ketenagalistrikan
dan Migas untuk Menjamin Ketersediaan Energi melalui
Infrastruktur dan Diversifikasi Energi
3. Mengembangkan Potensi Energi Baru dan Terbarukan melalui
Optimalisasi dan Penerapan Teknologi Tepat Guna secara Mandiri
4. Meningkatkan Upaya Pencegahan Risiko Bencana Geologi
5. Meningkatkan Kinerja Pelayanan Publik yang Profesional di
Bidang ESDM

12

3.3

Struktur Organisasi Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah

KEPALA DINAS
Ir Teguh Dwi Paryono, MT
NIP. 19621222 199003 1 005

SEKRETARIS
Sudaryadi, SH, MH
NIP. 19650512 199009 1 001

JABATAN FUNGSIONAL

Kasubbag Program

Kasubbag Umum dan


Kepegawaian

Kasubbag Keuangan

Eni Lestari, ST, MT


NIP. 19721201 199803 2 011

Dra. Aprilina DS., MT


NIP. 19650416 199102 2 001

Setyo Hartoyo, SH
NIP. 19611204 198503 1 007

Kasubbag Tata Usaha

Kasi Pemetaan Potensi dan


Teknologi

Drs. RAS. Subagya


NIP. 19650419 199003 1 009
Kasi Bimbingan dan
Penyuluhan
Panut Priyanto, ST
NIP. 19720507 199803 1 006

BE. Eko Purwanti, SE


NIP. 19590221 198612 1 001
Kepala BESDM Wilayah Solo
Ir. Soesono, MT
NIP. 19590603 198903 1 004

Kabid Geologi Mineral dan


Batubara

Kasi Bina Pengusahaan


Mineral dan Batubara

Ir. Achmad Gunawan, MT


NIP. 19640327 199203 1 009

Budi Susetyo, ST
NIP. 19610714 198803 1 008

Kasi Pegawasan dan


Pengendalian

Kasi K3 dan Lingkungan

Haryadi Joko P.,ST


NIP. 1968 1027 199803 1 004

Supriharjiyamto, ST, MT
NIP. 19660902 199803 1 004

Kasubbag Tata Usaha

Kasi Hidrogeologi dan


Penyelidikan Panas Bumi

Supaat, SH
NIP. 19620302 198903 1 003

Kabid Air Tanah dan Panas


Bumi

Kasi Bimbingan dan


Penyuluhan

Kepala BESDM Wilayah


Kendeng Muria

Dwi Suryono, ST, MT


NIP. 19781102 200312 1 007

Ir. Imam Nugraha HS.,[Link]


NIP. 19630903 199203 1 007

Ir. Bambang Mandala P., MT


NIP. 19630311 199302 1 001

Kasi Pengembangan
Ketenagalistrikan

Edi Subiyanto, SH
NIP. 19620412 199011 1 001
Kabid Ketenagalistrikan
Ir. Edi Sucipto, MT
NIP. 19601011 198903 1 006

Kasubbag Tata Usaha


Kodimunir, SH
NIP. 19610111 199003 1 003

Ir. Joko Wiyanto, MT


NIP. 19640214 199803 1 003

Kasi Eksploitasi Air Tanah dan


Panas Bumi
[Link],[Link]. [Link],MT
NIP. 19691227 198903 1 002

Kasi Pegawasan dan


Pengendalian

Kasi Bimbingan dan


Penyuluhan

Agus Sugiharto, ST, MT


NIP. 19710416 199803 1 010

Suhardi, ST, MSi


NIP. 19700602 199603 1 004
Kasi Pembinaan dan Kelaikan
Ketenagalistrikan
Heru Sugiharto, ST, MT
NIP. 19690410 199803 1 010

Kepala BESDM Wilayah


Serayu Selatan

Kasi Pengembangan
Pengusahaan Migas

Ir. Sunarso, MT
NIP. 19610217 199403 1 002

Kasi Pegawasan dan


Pengendalian
Irwan E. Kuncoro, ST
NIP. 19710904 200312 1 005

Kabid Minyak dan Gas

Akhmad Irianto, SST


NIP. 19620329 198903 1 002

Ir. Eliana Sri Murniati, [Link]


NIP. 19591103 198703 2 003

Kasi Pengawasan Migas


Ir. Haryanto, [Link]
NIP. 19590908 199203 1 003

Kasubbag Tata Usaha


Sri Wahyu S, SH, [Link]
NIP. 19601006 198110 2 01
Kasi Bimbingan dan
Penyuluhan

Kepala BESDM Wilayah


Serayu Utara

Pudji Suprajitno, ST, [Link]


NIP. 19630331 198903 1 007

Ir. Hasan Basri, MM


NIP. 19641018 199108 1 001

Kasi Pegawasan dan


Pengendalian

Gambar 3.1 Struktur Organisasi Dinas ESDM Jawa Tengah Tahun 2014

13

BAB IV
PELAKSANAAN KERJA PRAKTIK
Kegiatan penanggulangan bencana dilakukan dengan empat tahapan, yaitu
tahap persiapan, tahap penyelidikan lapangan, dan tahap pengolahan data, dan
tahap penyususnan laporan.
4.1

Tahap Persiapan
Tahap persiapan ini merupakan tahapan awal dalam melakukan
penyelidikan lapangan. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah
mencari data-data sekunder yang dapat membantu kita pada saat di
Lapangan seperti, Peta Topografi skala 1 : 25.000, Peta Rupa Bumi
Indonesia (RBI) skala 1 : 25.000, Peta Gerakan tanah, Peta Curah Hujan,
studi literatur pendukung daerah pemetaan, surat perizinan, peminjaman alat
lapangan, hingga persiapan fisik dan mental.

4.2

Tahap Penyelidikan Lapangan


Penyelidikan lapangan dilakukan di Bukit Gunung Kelir Desa
Wirogomo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, dilakukan
deskripsi untuk menentukan kondisi geologi daerah penyelidikan.
Penyelidikan lapangan tersebut meliputi pemetaan:
1. Satuan Geomorfologi
Satuan geomorfologi berdasarkan deskripsi mengenai kondisi
kemiringan lereng dan beda tinggi topografi beserta unsur-unsur
geomorfologi lainnya, interpretasi genesa yang membentuk suatu
morfologi dan perkembangan geomorfologi yang akan terjadi.
Faktor penting dalam penentuan satuan morfologi adalah keadaan
bentuk lembah, pola aliran sungai, sudut lereng, pola gawir dan bentuk
morfologi perbukitan. Identifikasi Morfologi atau bentang alam seperti
tampak pada saat sekarang ini dengan genesa yang membentuk bentukan
morfologi tersebut. Wilayah bukit gunung kelir secara umum masuk ke

14

dalam Kabupaten Semarang yang merupakan wilayah dengan kondisi


geomorfologi termasuk pada satuan bentuklahan berbukit bergelombang.

Gambar 4.1 Satuan bentuklahan berbukit bergelombang (ESDM, 2015)

2. Satuan Litologi
Penentuan satuan litologi di lapangan di lakukan dengan deskripsi
lengkap litologi (struktur, tekstur, ukuran butir dan jenis litologi), jenis
satuan litologi yang ada di lapangan, ketebalan lapisan, dan penyebaran
satuan litologi di lapangan. Pemetaan satuan litologi dalam pemetaan
geologi bertujuan untuk memberikan informasi mengenai kondisi litologi
terkait jenis litologi yang ada pada daerah pemetaan dan luas penyebaran
suatu litologi.
Untuk mengetahui sifat fisik dari suatu litologi, perlu dilakukan
pemerian sifat fisik dan batuan yang dapat diamati langsung di lapangan
secara megaskopis.

15

Secara umum geologi daerah Gunung Kelir dan sekitarnya masuk


dalam Formasi Gunungapi Gilipentung berupa aliran lava berongga
kelabu padat sampai berbutir halus dengan fenokris mafik kecil, sebagian
aliran lava yang lapuk menjadi soil dan kerikil sampai dengan bongkah.
(Peta Geologi Lembar Magelang-Semarang 1996). Lokasi terjadinya
longsor masuk dalam lapukan soil yang bercampur dengan kerikil dan
bongkah batuan lava yang telah lapuk, dipicu dengan adanya aliran air.

Gambar 4.2 Singkapan aliran lava berukuran soil-bongkah (ESDM, 2015)

3. Jenis gerakan tanah :


Gerakan tanah yang terjadi di Lereng Gunung Kelir merupakan
gerakan tanah akibat erosi air yang berlebihan karena curah hujan yang
tinggi akibatnya dinding/tebing tidak kuat menahan beban material tanah
sehingga terjadi bidang gelinciran ke daerah yang lebih rendah. Untuk
gerakan tanah di Dusun Kendal Ngisor Desa Wirogomo Kecamatan
Banyubiru Kabupaten Semarang adalah jenis gerakan tanah Debris Flow
(aliran material rombakan).

16

Gambar 4.3 Gerakan tanah Debris Flow (aliran material rombakan) (ESDM, 2015)

4. Tata guna lahan dan keairan :


Penggunaan lahan di Gunung Kelir dan sekitarnya di bagian lereng
ditanami pohon yang memiliki akar keras sebagai pengikat tanah, di
bagian atas Gunung Kelir yang terdapat morfologi datar di tanami
tanaman sayuran sebagai mata pencaharian penduduk sekitar dan
dibagian puncak Gunung Kelir terdapat hutan pinus diselingi tanaman
kopi, dengan vegetatif lereng miring kearah barat. Untuk lokasi longsor
(Dusun Kendal Ngisor) tata guna lahannya untuk pertanian basah,
sedangkan yang mengalami penurunan permukaan tanah di lereng
sebelah utara Gunung Kelir merupakan jalan pertanian.

Gambar 4.4 Tata lahan dan keairan bukit Gunung Kelir (ESDM, 2015)

4.3

Pengolahan Data
Analisis dan evaluasi data dimaksudkan untuk mempelajari dan
mencari solusi dalam penanganan bencana tanah longsor berdasarkan faktor
morfologi, geologi, struktur geologi, hidrogeologi, tataguna lahan dan
aktivitas manusia terhadap pengelompokkan geologi teknik serta pembuatan
penilaian geologi teknik, mencakup :
1. Mengklasifikasikan kemiringan lereng berdasarkan bentuk topografi

daerah pemetaan/penyelidikan

17

2. Mencari hubungan sudut lereng/morfologi terhadap masalah geologi

teknik daerah pemetaan/penyelidikan


3. Mencari hubungan kejadian bahaya geologi dengan kondisi geologi

teknik daerah pemetaan/penyelidikan


4. Menganalisis pengaruh hidrogeologi dan curah hujan terhadap

masalah tanah longsor;


4.4

Penyusunan Laporan
Penulisan laporan yang baik dan lengkap merupakan bagian yang
paling penting dalam penanggulangan bencana. Pada dasarnya kegunaan
suatu laporan meliputi penguraian secara tepat apa-apa yang telah
dipetakan/diselidiki dan merekomendasikan cara penanganan suatu bencana
tanah longsor yang ada.

BAB VI
PENUTUP
Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:

18

1. Kegiatan penanggulangan bencana dilakukan dengan empat tahapan, yaitu


tahap persiapan, tahap penyelidikan lapangan, dan tahap pengolahan data,
dan tahap penyususnan laporan.
2. Pada mitigasi bencana dilakukan deskripsi yang meliputi penentukan satuan
geomorfologi, satuan litologi, jenis gerakan tanah, tata guna lahan dan
keairan.
3. Satuan geomorfologi bukit Gunung Kelir berdasarkan data kuantitatif berupa
kemiringan lereng (slope) yang diukur di lapangan antara 40 - 800 dan
ketinggian antara 1.380 m dpal dan termasuk pada Satuan berbukit
bergelombang (van zuidam, 1983)
4. Litologi daerah penelitian disusun oleh aliran lava berongga kelabu padat
sampai berbutir halus dengan fenokris mafik kecil, sebagian aliran lava yang
lapuk menjadi soil dan kerikil sampai dengan bongkah.
5. Curah hujan di lokasi terjadinya longsoran sangat tinggi.
6. Tata guna lahannya dilokasi digunakan untuk pertanian basah, sedangkan
yang mengalami penurunan permukaan tanah di lereng sebelah utara Gunung
Kelir merupakan jalan pertanian.
7. Tatanan keairan pada lokasi belum tertata rapi masih terdapat mata air yang
belum di tata pada puncak bukit.
8. Jenis gerakan tanah termasuk jenis gerakan tanah Debris Flow (aliran material
rombakan).

19

DAFTAR PUSTAKA
Dackombe, V. R. dan Gardiner V. 1983. Geomorphological field manual. George
Allen & Unwin. London
Hunt, Roy E. 1984. Geotechnical Engineering Investigation Manual. Mc. Graw
Hill: New York
Thaden, R.E., Sumadirja, P. W. Richards, K. Sutisna, T.C. Amin, 1996. Peta
Geologi Lembar Magelang-Semarang Skala 1 : 100.000. Pusat Penelitian
dan Pengembangan Geologi
Van Bemmelen. 1949. The Geology of Indonesia, Vol. 1A, Government Printing
Office, The Hague. Amsterdam.
Van Zuidam. 1983, Guide to Geomorfology Aerial Photographic Interpretation
and Mapping, Enschede, Netherlands.
Http://[Link]/[Link]
(Diakses pada 10 Desember 2014)

20

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN


TINGGI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
LEMBAR BIMBINGAN
Nama

: Cita Hayu Visisha

NIM

: 21100111130035

Judul

: Penanggulangan Bencana Tanah Longsor Bukit


Gunung

Kelir,

Kecamatan

Banyubiru,

Kabupaten

Semarang
Dosen Pembimbing : Ir. Henarno Pudjihardjo, MT
No. Tanggal

Asistensi

Tanda Tangan

21

22

Anda mungkin juga menyukai