EVALUASI PEMBORAN DAN PELEDAKAN PADA KEGIATAN PENAMBANGAN UNIT IV PT SEMEN
TONASA KABUPATEN PANGKEP
ERDY RIZAL TUALEPE., 2005 31 042
Fakultas Teknik,Universitas Veteran Republik Indonesia,Makassar-Indonesia
ABSTRAC
PT Semen Tonasa merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak
dalam bidang industri semen, terletak di Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan. PT Semen
Tonasa memiliki lima unit pabrik, yaitu Unit Tonasa I yang terletak di Desa Tonasa Kecamatan
Baloci Kabupaen Pangkep yang saat ini sudah tidak beroperasi lagi karena pertimbangan
ekonomis, sedangkan pabrik tonasa Unit II, III, IV dan V terletak di Biringere Desa Biringer
Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep Propinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan penambangan
batugamping menggunakan system tambang terbuka dengan metode Quarry. Target produksi yang
harus dicapai adalah sebesar 626. 564 ton/bulan atau sekitar 26. 106,83 ton/hari.
Permasalahan dalam kegiatan penelitian ini yaitu pengaruh effisiensi actual di lapangan terhadap
kemampuan produksi pemboran dan peledakan, guna memenuhi target produksi yang ditetapkan
perusahaan.
Dari hasil pengamatan di lapangan diketahui geometri peledakan yaitu : untuk lokasi pemboran 3
steel, nilai burden 3,49 m, spacing 3,99 m, kedalaman lubang 9,96 m, tinggi jenjang 9,51 m,
stemming 1,33 m, kolom pengisian 11,74 m, dengan efisiensi kerja alat bor 72,22%.
Untuk mencapai produksi sesuai dengan target yang ditetapkan maka perusahaan harus
menekankan effisiensi kerja tanpa merubah geometri actual, dengan mengurangi waktu waktu
hambatan seperti menuju ke lokasi, waktu perbaikan alat dan waktu pemanasan alat. Sehingga
waktu perbaikan dari 50 menit/hari menjadi 20 menit/hari, waktu siap pakai (standbay) dari 100
menit/hari menjadi 90 menit/hari, waktu kerja efektif yang ditingkatkan dari 390 menit/hari
menjadi 430 menit/hari dengan total waktu tersedia 540 menit.
Dari efisiensi actual dilapangan 72.22% dengan kemampuan pemboran 65 lubang/hari diperoleh
produksi sebesar 72,22% dengan kemampuan pemboran 65 lubang/hari diperoleh produksi sebesar
23.447.08 ton/hari atau 562.729,92 ton/bulan, masih belum mampu memenuhi target yang
ditetapkan perusahaan. Namun dengan berkurangnya waktu hambatan, maka efisiensi kerja
menjadi 79.62% dengan kemampuan pemboran 79 lubang/hari sehingga menghasilkan produksi
peledakan 28.233,24 ton/hari atau sebesar 677.597,76 ton/bulan, pencapaian ini melebihi target
produksi yang ditetapkan yaitu 626.564 ton/bulan.
Kata kunci : pemboran, peledakan, Metode Quarry
1.1 Latar Belakang Penelitian
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi sumber daya mineral yang cukup banyak.
Hal ini menjadikan sektor pertambangan sebagai salah satu sektor utama penyumbang devisa Negara.
Pertambangan merupakan suatu kegiatan pengambilan endapan mineral berharga dari dalam kulit bumi,
baik penggaliannya dilakukan di permukaan maupun yang di bawah permukaan. Mengingat bahan galian yang
diambil merupakan kekayaan alam yang tidak dapat diperbaharui dan karena terjadinya suatu endapan bahan galian
memerlukan waktu yang lama, maka di dalam pemanfaatannya diusahakan semaksimal mungkin.
PT. Semen Tonasa merupakan salah satu perusahaan nasional yang bergerak dalam bidang industri semen ,
lokasi penambangannya terletak di desa Biringere Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep Propinsi Sulawesi
Selatan. Sistem penambangan yang diterapkan adalah sistem tambang terbuka (Quarry).
Salah satu kegiatan dalam proses penambangan adalah kegiatan pembongkaran bahan galian batugamping sebagai
bahan baku utama semen, dimana proses pembongkaran batugamping pada PT. Semen Tonasa dilakukan dengan
cara pemboran dan peledakan.
Tujuan dari pekerjaan peledakan adalah memecahkan atau membongkar batuan padat menjadi material
yang cocok untuk dikerjakan pada proses produksi berikutnya. Oleh karena itu, setiap peledakan bertujuan
menghasilkan batuan lepas sesuai dengan target yang akan dicapai. Hasil peledakan ini sangat mempengaruhi
produktivitas dan biaya operasi berikutnya karenanya perlu dilakukan pekerjaan perencanaan peledakan yang sesuai
dengan kondisi batuan dan struktur geologi, keamanan lingkungan peledakan, karakteristik bahan peledak dan posisi
bahan galian sesuai dengan peraturan dan teknik teknik yang diterapkan sehingga pemakaiannya lebih efisien dan
aman.
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah untuk mengetahui :
1.
2.
3.
Kemapuan pemboran dalam satu bulan sesuai efisiensi actual
Produksi peledakan dalam satu bulan sesuai efisiensi actual
Produksi pemboran dan peledakan setelah peningkatan efisiensi
1.3 Sejarah Singkat Berdirinya PT Semen Tonasa
PT. Semen Tonasa adalah produsen semen terbesar di Kawasan Timur Indonesia yang menempati lahan
seluas 715 hektar di desa Biringere Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkajene Kepulauan, 68 kilometer dari
kota Makassar. PT Semen Tonasa menargetkan tahun 2009 yang harus dibongkar adalah 4.256.000 ton / tahun
mempunyai 4 unit pabrik yaitu Tonasa Unit I, II, III, dan IV yang dilengkapi sarana dan prasarana :
a.
Pabrik Semen Tonasa Unit I
Tonasa unit I didirikan berdasarkan Tap MPRS RI No 11/MPRS/1960 tanggal 6 Desember 1960 tentang
pola pembangunan Nasional Semesta Bencana Tahapan 1961 1969.
Tonasa unit I mulai berproduksi semen pada tahun 1968 dengan kapasitas 120.000 ton / tahun dengan
proses basah (proses ini umpan balik klin berupa luluhan /slurry dengan kadar air 25 40 %). Pabrik yang
berlokasi di desa Tonasa Kecamatan Balocci Kabupaten Pangkajene Kepulauan ini sejak tahun 1984
dihentikan operasinya atas pertimbangan ekonomis.
b.
Pabrik Semen Tonasa Unit II
Tonasa unit II yang berlokasi di Biringere Kecamatan Bongoro Kabupaten Pangkajene Kepulauan Propinsi
Sulawesi Selatan sekitar 23 kilometer dari lokasi Tonasa Unit I
didirikan berdasarkan persetujuan dari BAPENAS : No. 023XC LC/B.V.76
No. 285/D.I/IX/76
Tonasa II yang menggunakan proses kering (proses ini umpan klin berupa tepung kering dengan kadar air
0,5 1 %) mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1980 dengan kapasitas terpasang 510.000 ton /
tahun. Program optimalisasi Tonasa Unit II dirampungkan pada tahun 1991 secara swakelolah dan berhasil
meningkatkan kapasitas terpasang menjadi 590.000 ton / tahun.
c.
Pabrik Semen Tonasa Unit III
Tonasa Unit III yang berlokasi di tempat yang sama dengan Pabrik Semen Tonasa Unit II dibangun
berdasarkan persetujuan BAPENAS : No. 32/XC LC/B.V/1981
No.2177/WK/10/1981
Tonasa unit III yang menggunakan proses kering mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1985
dengan kapasitas terpasang 590.000 metrik ton semen pertahun.
d.
Pabrik Semen Tonasa Unit IV
Tonasa unit IV didirikan berdasarkan SK Menteri Perindustrian No. 182/MPP.X/1990 tanggal 02 Oktober
1990 dan SK Menteri Keuangan RI No. 154/MK.013/1990 tanggal 29 Nopember 1990.
Tonasa Unit IV dengan kapasitas terpasang 2.300.000 ton / tahun diopersikan secara komersial pada
tanggal 01 Nopember 1996. Pabrik yang menggunakan proses kering ini terletak di lokasi yang sama
dengan Tonasa Unit II, dan Unit III.
e.
a.
Pengantongan Semen Dan BTG Power Plant
PT Semen Tonasa memiliki 7 unit pengantongan semen yang berlokasi di Makassar, Bitung, Samarinda,
Banjarmasin, Bali dan Ambon dengan kapasitas masing masing 300.000 ton / tahun kecuali Makassar dan
Bali yang berkapasitas 600.000 ton / tahun dan Palu yang berkapasitas 175.000 ton / tahun. PT Semen
Tonasa juga memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Uap yaitu Boiler Turbin Generator (BTG) power plant
dengan kapasitas 2 X 25 MW yang berlokasi di Biringkassi Kabupaten Pangkajene Kepulauan sekitar 17
kilometer dari lokasi Pabrik Tonasa II, III, dan IV.
Pelabuhan Khusus Biringkassi
Pelabuhan Biringkassi yang berjarak 17 kilometer dari lokasi pabrik dibangun sendiri oleh PT Semen
Tonasa. Pelabuhan ini berfungsi sebagai jaringan distribusi antar pulau maupun ekspor dan dapat disandari
kapal dengan muatan di atas 17.500 ton. Pelabuhan ini juga digunakan untuk bongkar muat barang
barang kebutuhan pabrik, seperti : Batu bara, Gypsum, Slag, Kertas kraf, Suku cadang dan lain lain.
Untuk kelancaran operasi, pelabuhan ini dilengkapi dengan ramburambu laut dan mouringbuoy.
Pelabuhan Biringkassi dengan dilengkapi 5 unit packer dengan kapasitas masingmasing 100 ton / jam
serta 7 unit ship loader, 4 unit digunakan untuk pengisian zak semen dengan kapasitas masing masing 100
120 ton / jam, atau sekitar 4.000 ton / hari, 3 unit lainnya digunakan untuk pengisian semen curah dengan
kapasitas m
asing - masing 500 ton / jam atau 6.000 ton / hari.
Panjang dermaga pelabuhan sekitar 2 kilometer diukur dari garis pantai ke laut sedangkan panjang dermaga
untuk standar kapal adalah :
Dermaga I :
Sebelah Utara 429 meter dengan kedalaman 10,5 meter (LWL)
Sebelah Selatan 445,50 meter dengan kedalaman 7,5 meter (LWL)
Dermaga II :
Panjang dermaga adalah 65 meter dengan kedalaman 5 meter (LWL).
1.4 Metode Penelitian
Dalam melakukan penelitian dilapangan, untuk mengevaluasi pola pemboran dan rancangan geometri
peledakan maka prosedur penelitian adalah sebagai berikut :
1.4.1
Pengambilan Data Primer
Data Primer merupakan data yang diperoleh langsung dari lapangan atau tempat pengamatan maupun dari
karyawan perusahaan yang terlibat langsung dalam kegiatan yang diteliti.
Adapun data primer yang diperoleh adalah :
1. Pemboran (drilling)
a. Pola pemboran yang diterapkan.
2.
b.
Waktu edar alat bor
Waktu pindah posisi
Waktu bor
Waktu menyambung
Waktu mengangkat
c.
Data untuk kemampuan alat bor.
Kedalaman pemboran (H)
Waktu member (T)
d.
Data efisiensi kerja alat bor.
Waktu kerja efektif (W)
Total waktu yang tersedia (T)
e.
Hambatan pada saat kegiatan pemboran
Peledakan (blasting)
a.
Geometri Peledakan
Burden
Spacing
Kedalaman
Tinggi Jenjang
Stemming
Panjang Kolom Isian
b.
Hambatan pada saat kegiatan pemboran
c.
Peralatan dan perlengkapan peledakan
1.4.2 Pengambilan Data Sekunder
Data sekunder adalah data-data penunjang yang diperoleh dari perusahaan ataupun arsip-arsip peneliian
sebelumnya. Data-data sekunder meliputi :
a.
b.
c.
d.
e.
Data target produksi
Spesifikasi alat bor
Data curah hujan
Spesifikasi bahan peledak
Jadwal kerja
1.5 Hasil Penelitian
1.5.1
Data primer
Data hasil pengamatan yang dilakukan dilapangan atau data primer adalah sebagai berikut :
Pemboran
a. Pola Pemboran
Penerapan pola pemboran yang dilakukan dilapangan adalah staggered drill pattern atau zig-zag. Hal ini
dimaksudkan untuk mendapatkan fragmen yang sesuai atau untuk mengurangi hasil peledakan berupa
boulder.
b. Waktu edar alat bor (Cycle time)
Setelah melewati proses pengamatan langsung dilapangan mala data hasil pengolahan cycle time alat bor
dirata-ratakan.
c. Data untuk kemampuan alat bor
Kedalaman pemboran
3 Steel
4 Steel
o
o
=
=
9,962 meter
13,346 meter
=
=
7,337 menit
10,97 menit
=
=
=
=
540 menit
390 menit
100 menit
50 menit
Waktu Membor
3 Steel
4 Steel
o
o
d. Data efisiensi Kerja alat bor
T (total waktu tersedia)
W (Waktu kerja)
S (Waktu standby)
R (Waktu perbaikan)
o
o
o
o
Peledakan
a.
Geometri Peledakan
Dari hasil pengukuran geometri actual di lapangan diperoleh data-data sebagai berikut :
Steel
Burden
Spasing
Stemming
Kedalaman
Powder Column
3 Steel
4 Steel
3.497
3.414
3.996
4.023
1.325
1.609
9.962
13.345
8.637
11.736
Tinggi
Jenjang
10.25
18.05
b. Peralatan dan perlengkapan peledakan
Peralatan
Peralatan peledakan (blasting equipment) ialah alat-alat yang diperlukan untuk menguji
dan menyalakan rangkaian peledakan, sehingga alat tersebut dapat dipakai berulangkali :
o Blasting machine
o Circuit tester
Perlengkapan
Perlengkapan peledakan (Blasting supplies/ Blasting accessories) adalah material yang
diperlukan untuk membuat rangkaian peledakan sehingga isian bahan peledak dapat dinyalakan.
Bahan Peledak
o
o
1.5.1
a.
ANFO
Dodol /Gel
Data Sekunder
Data target produksi
Sesuai data dari kantor Biro Tambang diketahui target produksi batugmping pada bulan januari adalah
sebesar 626.564 ton/bulan.
b. Spesifikasi alat bor
c.
Nama alat bor
Tipe alat bor
Panjang batang bor
Diameter batang bor
:
:
:
:
Furukawa HCR 1500 ED II
Rotary blasthole drill
12 feet per batang ( 1 feet = 0,3048 m)
4,5 inch 114,3 mm (1inch = 25,4 mm)
Data curah hujan
Seperti halnya didaerah-daerah Indonesia, daerah pangkep dan sekitarnya juga tergolong beriklim tropis
dimana setiap tahunnya dipengaruhi oleh dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Suhu udara
permukaan menunjukkan angka yang bervariasi, antara 28 o 34o c. Curah hujan di kawasan pabrik PT
Semen Tonasa diukur sendiri oleh perusahaan bidang seksi laboratorium proses. Adapun data curah hujan
PT Semen Tonasa pada tahun 2008-2012 (lihat pada Bab 2 tabel 2.1).
2.1 Evaluasi Kemampuan Pemboran Sesuai Efisiensi Aktual
Pemboran adalah suatu peerjaan yang dilakukan terhadap batuan untuk membuat lubang ledak pada
permukaan bumi. Kegiatan pemboran sangat erat kaitannya dengan kegiatan peledakan, yaitu sebelum
peledakan dilakukan, perlu persiapan lubang ledak sesuai dengan yang direncanakan. Pemboran dilakukan
dengan memperhatikan semua aspek yang dapat mempengaruhi kemampuan pemboran, yaitu panjang
batang bor, type alat bor, diameter mata bor, cycle time pemboran, pola pemboran, efisiensi penggunaan
alat bor dan kondisi material.
2.1.1
Pola Pemboran
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, pola pemboran yang digunakan pada Quarry PT. Semen
Tonasa adalah staggered drill pattern atau zig-zag. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan fragmen yang
sesuai atau untuk mengurangi hasil peledakan berupa boulder.
2.1.2
Efisiensi Penggunaan Alat Bor
Berdasarkan data performance alat bor bulan januari 2013 diperoleh data efektivitas penggunaan alat bor
seperti yang terlihat pada tabel
Efisiensi Penggunaan Alat Bor Furukawa Type HCR 1500-ED II Sesuai Efisiensi Kerja Aktual
Parameter
Sebelum peningkatan Efisiensi Kerja
Physical Availability (PA)
90,74%
Mechanical Availability (MA)
88,63%
Use of Availability (UA)
79,59%
Effective Utilization (EU)
72,22%
Setelah dilakukan perhitungan waktu kerja actual diperoleh :
Waktu Perbaikan (E)
Waktu Siap Pakai (S)
Waktu Kerja Effektif (W)
Total Jam Kerja (T)
=
=
=
=
50 menit/hari
100 menit/hari
390 menit/hari
540 menit/hari
Sehingga didapatkan efektivitas penggunaan alat bor sesuai pada table di atas.
2.1.3
Kemampuan pemboran Aktual
Kemampuan alat bor yang dimaksud adalah kemampuan produksi alat bor per hari dari total waktu
yang tersedia. Dengan menggunakan persamaan 3.4 maka didapatkan kemampuan produksi alat bor
sebagai berikut :
1.
Kemampuan Pemboran Aktual :
a. Untuk Kedalaman 3 Steel
Produksi lubang perjam
P
72.22 x 60 menit/ jam
7.337 menit
= 5,90 lubang/jam
= 6 lubang/jam
Jumlah lubang perhari (produksi lubang/jam dikalikan waktu kerja efektif).
N = P x We
= 6 lubang/jam x 6,5 jam/hari
= 39 lubang/hari.
c.
Untuk Kedalaman 4 Steel
Produksi lubang perjam
72.22 x 60 menit/ jam
10,9 menit
= 3,97 lubang/jam
= 4 lubang/jam
Jumlah lubang perhari (produksi lubang/jam dikalikan waktu kerja efektif)
N = P x We
= 4 lubang/jam x 6.5 jam/hari
= 26 lubang/hari.
2.2Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, perhitungan, dan pembaasan pada bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan :
1.
2.
Kemampuan pemboran dengan efisiensi 72.22 % produksi lubang bor yang mampu dihasilkan pada lokasi
3 steel sebanyak 39 lubang dan 4 steel sebanyak 26 lubang.
Produksi peledakan sesuai efisiensi actual untuk 3 steel dan 4 steel sebesar 586.152 ton/bulan, hasil ini
belum memenuhi target produksi yang direncanakan perusahaan.
2.3 Daftar Pustaka
1.
2.
3.
4.
5.
Anggayana, Komang, 1990. Pemboran Eksplorasi dan Penampang Lubang Bor. Jurusan Teknik
Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral, ITB Bandung.
Kartodharmo Moelhim Ir, 1990, Teknik Peledakan, Laboratorium Geoteknik Pusat Antar UniversitasIlmu Rekayasa ITB Bandung.
[Link],[Link],[Link] Blasting.
Made Astawa Rai 1987. Mekanika Batuan , Laboratorium Geoteknik Pusat Antar Universitas Ilmu
Rekayasa ITB Bandung.
[Link].1987. Surface Drilling and Blasting. Tanrock