0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
107 tayangan47 halaman

Pengaruh Cahaya pada Ukuran Pupil

Laporan ini membahas tentang praktikum visualisasi dan display yang dilakukan oleh kelompok 10. Laporan ini menjelaskan latar belakang, tujuan, metodologi dan sistematika penulisan laporan praktikum tersebut."

Diunggah oleh

svin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
107 tayangan47 halaman

Pengaruh Cahaya pada Ukuran Pupil

Laporan ini membahas tentang praktikum visualisasi dan display yang dilakukan oleh kelompok 10. Laporan ini menjelaskan latar belakang, tujuan, metodologi dan sistematika penulisan laporan praktikum tersebut."

Diunggah oleh

svin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN

PRAKTIKUM VISUALISASI DAN DISPLAY

KELOMPOK 10
HENDRA

: 140410069

OKTAVIA DARU

: 140410223

AGUS CAHYADI

: 140410284

SYAMSUL HIDAYAT

: 140410292

SVINJANIF

: 140410152

DOSEN :
SRI ZETLI, S.T.
NOFRIANI FAJRAH, S.T.

LABORATORIUM ERGONOMI
UNIVERSITAS PUTERA BATAM
2016/2017

BAB I
PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan tentang latar belakang, tujuan, perumusan masalah,


batasan masalah dan sistematika penulisan dari modul 4 ini.
1.1

Latar Belakang
Manusia dan lingkungan merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat

dipisahkan. Setiap hari manusia selalu berhubungan dengan lingkungan.


Kadangkala manusia tidak menyadari apa yang terjadi pada lingkungan karena
lingkungan tidak dapat menyampaikan secara langsung apa yang terjadi pada
lingkungan tersebut, oleh karena itu dibutuhkan sebuah alat yang dapat digunakan
untuk menyampaikan informasi kepada manusia. Salah satu alat yang dapat
digunakan untuk menyampaikan informasi dari lingkungan kepada manusia
adalah display.
Interaksi manusia dan lingkungan biasanya dilakukan secara visual.
Informasi tersebut ditangkap dengan menggunakan indera penglihatan yaitu mata.
Mata memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menangkap suatu informasi yang
berbasis visual. Mata juga memiliki beberapa kemampuan visual dalam
penglihatan. Kemampuan visual mata manusia juga dipengaruhi oleh beberapa
faktor-faktor yang mempengaruhi kelebihan dan keterbatasan indera penglihatan
tersebut.
Topik utama pada praktikum kali ini yaitu tentang visualisasi dan display.
Ilmu tersebut digunakan dalam merancang sebuah display yang bersifat
ergonomis, yaitu display yang dapat memberikan informasi kepada operator
dengan jelas dan mudah. Display yang dirancang diharapkan dapat meminimalisir
kekurangan yang dimiliki oleh indera penglihatan mata dan memanfaatkan
kelebihan yang dimiliki oleh indera penglihatan manusia, sehingga dapat
meminimalisir akibat yang mungkin ditimbulkan pada indera penglihatan
manusia.

1.2

Perumusan Masalah

Permasalahan yang ada di praktikum 4 ini adalah bagaimana cara


meminimalisir kekurangan dan memanfaatkan kelebihan yang dimiliki oleh
manusia dalam perancangan sebuah display sehingga dapat menerima informasi
yang ada pada display tersebut dengan jelas dan mudah.
1.3

Tujuan Pembuatan Laporan


1. Memahami display dan visual display.
2. Menentukan nilai visual acuity, contrast sensitivity, dan exposure time.
3. Mengetahui manfaat dari visual acuity, contrast sensitivity, dan
exposure time dalam merancang sebuah visual display.
4. Mengetahui pengaruh visual acuity, contrast sensitivity, exposure
terhadap ketepatan pembacaan informasi.
5. Merancang sebuah display yang sesuai dengan kelebihan dan
kekurangan yang dimiliki manusia terutama dalam hal visual.

1.4

Batasan Masalah
1. Pembuatan visual display hanya berdasarkan dari contrast sensivity.
2. Objek yang dibaca hanya segitiga dan lingkaran yang berwarna hitam
dan putih, sedangkan background color yang digunakan adalah
Orange, kuning, biru, merah, ungu, coklat, hijau tua, hijau muda.
3. Percobaan contrast sensitivity hanya dilakukan pada salah satu
anggota kelompok yang memiliki kemampuan visual terbaik.
4. Display yang dirancang bertemakan inspirational quotes.

1.5

Sistematika Penulisan
Laporan ini terbagi atas enam bab yang tersusun secara sistematis agar

memudahkan dalam membaca dan memahaminya. Adapun sistematika laporan ini


adalah sebagai berikut :

BAB 1

PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang dari visualisasi
dan display, perumusan masalah, tujuan, batasan-batasan
masalah serta sistematika penulisan laporan.
2

BAB 2

LANDASAN TEORI
Bab ini menjelaskan tentang teori-teori yang berkaitan
dengan visualisasi dan display yang diambil atau dikutip
dari

berbagai

buku

referensi

dan

internet

serta

penggunaannya dalam pengolahan dan penyajian data.


BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tentang langkah-langkah dalam
praktikum yang telah dilaksanakan dalam laporan ini.

BAB 4

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA


Bab ini berisikan pengumpulan dan pengolahan data yang
telah didapat ketika melakukan praktikum, yaitu contrast
sensitivity, dan exposure time.

BAB 5

ANALISIS
Berisi

analisis

terhadap

data

yang

telah

dihitung

sebelumnya menentukan apakah data tersebut layak atau


tidak dan analisis perancangan display serta analisis
terhadap aplikasi display yang benar atau salah.
BAB 6

PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan yang dapat diambil dari
tujuan praktikum yang telah dilaksanakan, serta saran yang
berdasarkan dari batasan masalah untuk mendapatkan hasil
yang lebih baik pada praktikum yang akan datang.

BAB 2
LANDASAN TEORI

Bab ini berisikan materi yang mendasari tentang display seperti pengertian
display, visual display, bagian-bagian mata dan lain-lain.
2.1

Display
Display adalah bagian dari lingkungan yang perlu memberikan informasi

kepada pekerja agar tugas-tugasnya menjadi lancar. Arti informasi di sini cukup
luas menyangkut semua rangsangan yang di terima oleh semua indera manusia
baik langsung ataupun tidak langsung, biasanya berbentuk energi, seperti cahaya,
suara, panas, tekanan, gelombang, dan lain-lain. Jarum penunjuk speedometer,
keadaan jalan raya memberikan informasi ke mata pengemudi sepeda motor
sehingga

bisa mengemudikan

sepeda motor

dengan baik,

suatu peta

menggambarkan keadaan suatu kota semuanya merupakan contoh dari display


(Sutalaksana, 1979).
Jalan raya merupakan contoh dari display secara langsung, dimana
keadaan lingkungan (jalan) bisa langsung diterima oleh pengemudi. Jarum
penunjuk speedometer merupakan contooh dari display tak langsung, dimana
keadaan lingkungan (kecepatan kendaraan) diketahui secara tidak langsung
melalui jarum tersebut, dalam hal ini jarum sebagai perantara/pemberi informasi.
Sehubungan dengan lingkungan, display bisa dibagi dalam dua kelas, yaitu
(Sutalaksana,1979).
1.

Display dinamis
Display dinamis adalah display yang menggambarkan perubahan
menurut waktu sesuatu dengan variabelnya. Contohnya mikrosop dan
speedometer.

2.

Display statis
Display statis merupakan informasi tentang suatu yang tidak
bergantung terhadap waktu, misalnya yang menggambarkan suatu
kota.

Display langsung termasuk display dinamis, tetapi display tak langsung


bisa termasuk display dinamis dan display statis. Persoalan yang dihadapi
sekarang adalah display tak langsung ini, karena dengan demikian kita perlu
memikirkan bagaimana merancang suatu alat yang bisa memberikan atau

menerjemahkan informasi sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah


dimengerti manusia atau pekerja.
Display menjadi penting apabila ransangan tersebut tidak dapat dirasakan
dengan cukup baik, hal ini disebabkan karena (Sutalaksana, 1979) :
1. Terlalu kecil, sehingga diperlukan alat-alat pembesar elektronik, optik
atau alat lain-lain, misalnya bakteri dilihat melalui mikroskop.
2. Terlalu besar, sehingga bisa ditangkap dengan indera perlu diperkecil;
misalnya suatu tanah yang luas digambarkan dengan sebuah peta.
3. Bercampur dengan berbagai gangguan (noise), sehingga kita perlu
menyaringnya atau memperbesarnya.
4. Ada diluar batas kemampuan manusia, sehingga untuk mengetahui
perlu diubah dalam bentuk energi lain yang kemudian bisa ditunjukkan
kondisi aslinya; misalnya dipancarkan melalui TV dan radio.
5. Perlu diamati dengan teliti, sehingga manusia bisa membedakannya,
misalnya mengenai temperature, suara, berat dan lain-lain.
6. Perlu disimpan untuk jangka waktu yang panjang, misalnya foto-foto.
7. Rangsangan tersebut dapat diterima dengan baik apabila dibuah
kedalam bentuk lain; misalnya peta-peta untuk menggambarkan datadata kuantitatif atau sirine untuk menunjukkan tanda bahaya.
8. Display merupakan cara terbaik untuk menyatakan informasi tersebut;
misalnya rambu-rambu jalan.
Display harus dirancang dengan baik agar display dapat menjalankan
fungsinya dengan baik, yaitu menyajikan informasi-informasi yang diperlukan
manusia dalam melaksanakan pekerjaannya. Perancangan display yang baik
adalah bila display tersebut dapat menyajikan informasi selengkap mungkin tanpa
menimbulkan banyak kesalahan dari manusia yang menerimanya.

2.2

Visual Display
Pekerjaaan dapat dengan mudah memahami suatu display, maka setiap

orang memerlukan(Nurmianto, 1996) :


1. Kemampuan visual yang memadai.
2. Penyajian informasi yang sesuai, termasuk juga ukuran, pencahayaan,
perbedaan dan desain dari dislay.

3. Keahlian manusia dan pengetahuan yang dimiliki dalam upaya


pemahaman tentang display.
Desainer display seharusnya memahami dengan baik karekteristik dan
batasan daya lihat manusia.
2.3

Penginderaan Visual
Penginderaan visual berhubungan dengan organ penglihatan serta

berbicara tentang proses dalam melihat suatu objek.


2.3.1 Anatomi dan Fisiologi Manusia
Bentuk mata manusia hampir bulat, berdiameter

2,5 cm. Bola mata

terletak dalam bantalan lemak pada bagian depan dilindungin oleh kelopak mata
dan ditempatkan lain dengan tulang orbita. Bola mata terdiri atas (Haeny, 2009) :
1. Dinding mata, terdiri dari :
a. Kornea dan sclera
b. Selaput khoroid, korpus siliaris, iris dan pupil
2. Medium tempat cahaya lewat, terdiri dari :
a. Kornea
b. Acquenous humour
c. Lensa
d. Vitreous humour
3. Jaringan nervosa, terdiri dari :
a. Sel-sel saraf pada retina
b. Serat saraf yang menjalar melalui sel-sel ini

Gambar 2.1 Anatomi Bola Mata

Sklera merupakan lapisan pembungkus bagian luar mata yang mempunyai


ketebalan

1 mm. Seperenam luas sklera dibagian depan merupakan lapisan

bening yang disebut kornea. Kornea merupakan selaput yang tembus cahaya,
melalui kornea kita dapat melihat membran pupil dan iris. Bagian dalam kornea
ada iris dan pupil. Iris berfungsi mengatur bukaan pupil secara otomatis menurut
jumlah cahaya yang masuk ke mata. Iris berwarna merah karena mengandung
pigmen, warna dari iris bervariasi sesuai dengan jumlah pigmen yang terdapat di
dalamnya, makin banyak kandungan pigmen makin gelap iris. Pupil berfungsi
untuk mengatur cahaya yang masuk ke mata, dalam keadaan terang bukaan pupil
akan kecil, sedangkan dalam keadaan gelap bukaan pupil akan membesar.
Diameter bukaan pupil berkisar antara 2 sampai 8 mm (Haeny, 2009).
Selaput khoroid adalah lapisan berpigmen diantara sklera dan iris,
fungsinya memberikan nutrisi. Korpus siliaris merupakan lapisan yang tebal,
berbentuk seperti cincin yang terbentang dari ora serata sampai ke iris. Fungsinya
adalah untuk terjadinya akomodasi, proses muskulus siliaris harus berkontraksi
(Haeny, 2009).
Lensa mata menerima cahaya dari pupil dan meneruskannya pada retina.
Fungsi lensa mata adalah mengatur fokus cahaya, sehingga cahaya jatu tepat pada
bintik kuning retina. Untuk melihat objek yang jauh, lensa mata akan menipis.
Sedangkan untuk melihat objek yang dekat, lensa mata akan menebal. Lensa
terletak antara iris dan kornea. Terpisah oleh acqueous humou. Acqueous humou
adalah suatu cairan yang komposisinya serupa dengan cairan serebrospinal.
Demikian pula antara lensa mata dan bagian belakang mata terisi semacam cairan
kental. Vitreous humour adalah suatu cairan kental yang mengandung air dan
inukopolisakarida. Cairan ini bekerja bersama-sama lensa mata untuk
membiaskan cahaya sehingga tepat jatuh pada fovea atau dekat fovea.
Bagian penting mata lainnya adalah retina. Retina adalah bagian saraf
mata, tersusun atas sel-sel saraf dan serat-seratnya. Sel-sel saraf terdiri atas sel
saraf bentuk batang dan kerucut. Sel saraf bentuk batang sangat peka cahaya tetapi
tidak dapat membedakan warna, sedangkan sel saraf kerucut kurang peka terhadap
cahaya tetapi dapat membedakan warna. Sel saraf bentuk batang tersebar
7

sepanjang retina sedangkan sel saraf kerucut terkonsentrasi pada fovea dan
mempunyai hubungan tersendiri dengan saraf optic (Heany, 2009).
Terdapat dua buah bintik pada retina yaitu bintik kuning (fovea) fan bintik
buta (blind spot). Pada bintik kuning (fovea) terdapat sejumlah sel daraf kerucut
sedangkan pada bintik buta tidak terdapat sel saraf batang maupun kerucut. Suatu
objek dapat dilihat dengan jelas apabila bayangan objek tersebut tepat jatuh pada
fovea.

Dalam hal ini lensa mata akan bekerja otomatis untuk memfokuskan

bayangan objek tersebut sehingga tepat jatuh pada bagian fovea (Haeny, 2009).
2.3.2 Proses Pembentukan Citra
Proses kerja mata manusia diawali dengan masuknya cahaya melalui
bagian kornea yang kemudian dibiaskan oleh acqueous humour kearah pupil.
Pada bagian pupil, jumlah cahaya yang masuk ke dalam mata dikontrol secara
otomatis, dimana untuk jumlah cahaya yang banyak, bukaan pupil akan mengecil
sedangkan untuk cahaya yang sedikit bukaan pupil akan membesar.
Pupil akan meneruskan cahaya ke bagian lensa mata dan oleh lensa mata
cahaya difokuskan ke bagian retina melalui vitreus humour. Cahaya atau objek
yang telah difokuskan pada retina, merangsang sel saraf batang dan kerucut untuk
bekerja dan hasil kerja ini diteruskan ke sel saraf optik, ke otak dan kemudian
otak bekerja untuk penglihatan dalam suasana kurang cahaya, misalnya pada
malam hari. Sedangkan sel saraf kerucut bekerja untuk penglihatan dalam suasana
terang, misalnya pada siang hari (Haeny, 2009).

2.3.3 Masuknya cahaya ke Mata


Mata menyerupai kamera tetapi bekerja lebih baik dari kamera karena
beraksi secara ortodoks, hampir tepat dan cepat tanpa harus ada penyesuaian yang
dilakukan. Proses dimana cahaya memasuki mata adalah sebagai berikut :
1. Cahaya memasuki mata melalui kornea yang transparan.
2. Kemudian menjalar melalui lensa yang membalikkan cahaya tersebut.
3. Kemudian membentuk gambaran balik pada retina.

Retina mengubah cahaya dalam implus saraf. Implus tersebut melewati


sepanjang saraf optikus dan traktus ke otak, disamping ke korteks oksipitalis dan
disana diinterpretasi sebagai gambar.
Jumlah cahaya yang memasuki mata diatur oleh ukuran dari pupil. Iris
berfungsi sebagai diafragram, ukuran pupil dikontrol oleh serat-serat otot sirkuler
dan radial. Otot-otot dari iris dikontrol oleh :
1. Serat simpatis yang berasal dari ganglion servikalis superior pada
rantai simpatis dileher. Implus yang menjalar sepanjang serat tersebut
mendilatasi pupil dengan cara relaksasi serat sirkular.
2. Serat parasimpatik yang menjalar dengan saraf cranial ke 3
(okulomotorius). Implus yang menjalar sepanjang serat tersebut
menyebabkan konstiksi pupil dengan cara relaksasi serat radial.
Pupil membesar pada saat gelap dan berkonsentrasi pada saat terang.
Ukuran pupil setiap saat disebabkan oleh keseimbangan antara stimulus simpatis
dan parasimpatis. Kekuatan penglihatan diperiksa dengan bantuan alat grafik
snellen. Ukuran dan bentuk dari masing-masing huruf pada grafik tersebut pada
setiap detailnya harus mempunyai sudut pandang 1 menit ketika dilihat pada jarak
6 meter. Mata normal dapat melihat pada jarak 6 meter baris ke 6 dengan jelas.
Jika seseorang pada jarak tersebut hanya dapat melihatdengan jelas pada huruf
yang dua kali lebih besar, penglihatannya dicatat sebagai 6/12. Bila seseorang
dapat melihat dengan hanya pada huruf-huruf yang terbesar (yang untuk mata
normal harus terlihat dengan jarak 60 meter) penglihatan tercatat sebagai 6/60.

2.3.4

Kelainan Refraksi Mata


Kelainan refraksi adalah kelainan pembiasan sinar oleh media penglihatan

yang terdiri dari kornea, cairan mata, lensa, badan kaca atau panjang bola mata
sehingga bayangan benda dibiaskan tidak tepat didaerah macula lutea tanpa
bantuan akomodasi. Keadaan ini disebut ametropia yang dapat berupa miopia,
hipermiopoia, atau astigmatisma (Haeny, 2009)

2.4

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Visual Acuity dan Contrast


Sensitivity
Faktor yang mempengaruhi visual acuity dan contrast sensitivity antara

lain adalah umur, adaptasi dan iluminasi.


2.4.1

Efek dari Umur pada Visual Performance


Akomodasi adalah suatu proses pemfokusan dengan penyesuaian

lengkungan lensa mata, dengan menggunakan otot getar yang mengelilingi


(Nurmianto, 1996). Hal ini membutuhkan waktu dan kecepatan serta jangkauan
akomodasi menurun sejalan dengan usia. Otot getar tersebut dilemaskan untuk
pandangan yang lama dan dikontraksikan untuk objek-objek yang dekat. Proses
penuaan menyebabkan lensa kurang fleksibel sehingga pemfokusan pada objek
dekat menjadi lebih sulit. The near point, jarak yang terdekat dari mata dimana
salah satu dapat memfokuskan dapat meningkat sejalan dengan usia, dari kira-kira
11 cm pada usia 20 tahun dan sampai 50 cm pada usia 50 tahun. Oleh sebab itu
orang akan membaca buku lebih jauh lagi usianya semakin bertambah, tetapi
ketajaman penglihatan berkurang sehingga ukuran dari display perlu ditingkatkan.
Adanya cahaya ekstra pada pekerjaan akan meningkatkan ketajaman
sehingga menyebabkan pupil berkontraksi mengurangi celah-celah lensa dan
mengubahnya menjadi lebih lebar untuk penyesuaiannya. Berkurangnya
kemampuan akomodasi dan kekurangan lain pada mata dapat diperbaiki dengan
bantuan kacamata, tetapi gangguan ini akan berkembang lebih luas lagi dengan
adanya kacamata. Menjadi sangat penting untuk menguji penglihatan manusia
yang bekerja karena penglihatan yang baik adalah hal yang sangat penting.
Banyak kasus dimana para operator komputer (Visual Display Unit) yang
telah mengeluh karena ketidak nyamanan pada mata mereka, berdasarkan tes
yang telah diujikan, diketahui bahwa ada cacat pada mata mereka. Hal ini ternyata
juga sudah diduga dan dari beberapa bukti menunjukkan bahwa penerimaan dari
keadaan yang buruk pada operator-operator tersebut sangat mungkin adalah suatu
hasil dari usaha-usaha untuk menekan keburukan pada penglihatan (Nurmianto,
1996).

10

Orang-orang menggunakan lensa-lensa bifokal jika sedang menggunakan


layar komputer (VDU) karena kadang-kadang mereka memakai bagian-bagian
yang lebih rendah dari lensa, kacamata tersebut dipakai untuk melihat jarak jauh
dan dekat. Untuk mereka, kacamata itu akan lebih baik dipakai, dengan lensa
sederhana yang didesain untuk jangkauan layar VDU.
2.4.2

Adaptasi terhadap Perubahan-Perubahan Tingkat Cahaya


Pada tingkat perubahan cahaya yang mendadak, daerah pupil pada matalah

yang pertama kali berubah, sekitar 0,25. Daerah tersebut dapat berubah dengan
suatu faktor sebesar 1:16 dan ketidak-adaan adaptasi yang datang dari penerimapenerima cone dan rods. Proses yang terjadi kemudian kira-kira berlangsung dari
20 sampai 30 menit dari cahaya terang sampai gelap. Adaptasi dari gelap ke
terang biasanya berlangsung tidak lebih dari 2 menit. Hasil akhirnya menyatakan
bahwa jangkauan dari penerangan terhadap objek-objek dapat dilihat adalah
sangat besar 1:1011 (Numianto, 1996)
Penerangan dari suatu objek tergantung dari suatu terang yang ada
disekelilingnya, dimana mata dapat menerima suasana tersebut. Oleh karena itu,
lampu-lampu jalan dapat membuat suatu perbedaan besar untuk lampu-lampu
yang berada pada daerah yang berbahaya seperti persimpangan, sebab mata telah
menerima tingkat cahaya sekeliling yang sangat sedikit dan suasana terang tadi
dapat menimbulkan perhatian seseorang. Terangnya lampu-lampu yang berada
dalam ruangan akan membuat proyeksi dari slide dan layar bioskop menjadi lebih
terang. Sebagai contoh lampu panggung yang ada dalam suatu gedung
pertunjukan.

2.4.3

Efek dari Pencahayaan Contrast pada Ketajaman Penglihatan


Illuminasi

dan

contrast

dapat

mempengaruhi

performance

dari

penglihatan. Kurva-kurva yang telah ditandai dengan sebuah bintang, seluruhnya


memakai ukuran objek dengan sudut pandang sekitar 3 menit pada mata. C
(definisi Weston) berubah dari 0,28 sampai 0,97. Didalam mengamati efek dari
illuminasi, perhatikan bagaimana suatu aturan dari hasil-hasil pengukuran yang

11

beroperasi sekitar 300 lux. Peningkatan kontras mungkin salah satu cara yang
lebih efektif dalam upaya meningkatkan kemampuan daya lihat. Masalah-masalah
cahaya yang menyilaukan adalah pada tingkat illuminasi yang lebih besar dari
1000 lux (bergantung pada reflektivitas permukaan) (Nurmianto, 1996).
2.4.4 Unit-Unit yang dihubungkan dengan Pencahayaan
Kita seharusnya memperhatikan beberapa prinsip dasar dari pengukuran
cahaya sebelum memperhatikan efek-efek pencahayaan pada ketajaman
penglihatan. Alat pengukuran cahaya yang khusus dan mempunyai response
spectral sejenis dengan mata manusia seharusnya digunakan untuk tujuan ini.
1. Illuminance
Tingkat pencahayaan biasanya diukur dalam istilah illuminancei atau
penerangan, yaitu flux-flux yang berpendar dari suatu sumber cahaya yang
dipancarkan pada suatu permukaan per luas permukaan. Pengkuran
dilakukan dengan meletakkan penerangan yang dianjurkan untuk ruanganruangan berawan untuk permukaan

yang horizontal dan beberapa

perbaikan mungkin diperlukan untuk permukaan kerja lainnya. Satuan


internasional unit untuk penerangan adalah lumens/sq. meter yang
mempunyai nama lain lux (lx). (Unit lama adalah : (footcandle)
mengalikan footcandles dengan 10,76 untuk memperoleh lux). Cahaya
diatas suatu permukaan dapat dihitung dengan I ( ) adalah intensitas
perpendaraan cahaya dari sumber yang ada dalam sudut ( ) (dalam
Candela). Pada P maka,
kuat cahaya (illuminance)

=
= I(

I ( ) cos Y
d2

= I(

cos cos Y
h2
(cos )3
h2

(2.1)
Nilai-nilai untuk illuminasi yang disarankan untuk suatu jangkauan
yang luas dari tugas-tugas yang diberikan dalam Australian standard AS
12

1680-1976, interior Lighting and Visual Environment. Kualitas lain yang


penting adalah illuminasi. Ini adalah cahaya yang dipantulkan dari suatu
permukaan atau objek. Cahaya ini dapat diukur dengan suatu light meter
yang ditunjukkan atau diarahkan pada permukaan (Nurmianto, 1996).
Biasanya light meter membawa ukuran diatas lux, hal tersebut baik
dalam penggunaan unit dasar, akan tetapi dapat juga dilakukan
pemberiaan nama lainnya untuk unit ini, yaitu Apostilb.
Luminasi = Illuminasi Reflektivitas
...(2.2)
(Apostilb) (lux)
Satuan internasional dari unit untuk ukuran ini adalah Candela/m2.
Untuk memperoleh Candela/m2 (Cd/m2), bagian apostilb dengan (
=3,14 . Photometer modern dapat difokuskan pada daerah

pancaran cahaya yang sempit (sudut pandang 1 0 atau 1/30) memberikan


kemampuan membaca dalam Cd/m2.
Illuminansi dan luminasi dapat membaca mengikuti reflektivitas
yang dapat dihitung. Reflektivitas yang tinggi dari permukaan dalam area
kerja dapat mengakibatkan cahaya menyilaukan yang mengganggu.
2. Contrast
Satu cara dari spesifikasi contrast adalah dengan nilai perbandingan
sebagai berikut :
C = Contrast ratio =

L3 L
L3

(2.3)
(didefinisikan oleh Weston)
Dimana L1 lebih terang dari luminansi dan L0 lebih gelap dari daerah
luminasi.
3. Peta Snellen
Peta Snellen adalah peta standard untuk pengukuran ketajaman
visual (Nurmianto, 1996). Biasanya dibaca pada 6 meter garis teratas dan
seharusnya dapat dibaca oleh seseorang dengan penglihatan normal pada
jarak 60 meter sedangkan garis-garis lainnya didesain untuk dapat dibaca
oleh orang-orang dengan penglihatan normal pada jarak 36, 24, 18, 12, 9,
6, 4, 3 dan 2 meter.
Daya lihat 6/6 diperkirakan normal (20/20 dalam imperial). 6/12
artinya manusia hanya dapat membaca pada jarak 6 meter dimana orang

13

rata-rata dapat membaca pada 12 meter. Pengujian daya lihat pada peta
snellen bergantung pada illuminasi yang seharusnya distandarisasi.
Perhatian bahwa pencahayaan dan kontras juga mempengaruhi
kecepatan

pemahaman.

Hal

ini

sering

diujikan

dalam

suatu

tachistoscope, suatu alat yang dapat menunjukkan sebuah gambaran


untuk interval singkat. Oleh karenanya simbol-simbol, angka-angka dan
kata-kata yang dicetak mungkin dievaluasi dahulu menurut cara ini.
2.5

Regresi Linear
Pengetahuan tentang regresi ini dianggap perlu, karena pada saat

pengolahan data, teori ini akan dipergunakan. Teori ini juga bisa digunakan untuk
mengetahui suatu nilai dalam kegiatan peramalan.
Menurut para persamaan regresi adalah suatu persamaan matematik, yang
memungkinkan kita meramalkan nilai-nilai suatu peubah bebas. Dalam masalah
regresi ini, yang dibahas adalah masalah peramalan atau pendugaan nilai peubah
tak bebas Y berdasarkan nilai peubah X, dalam hal ini nilai dari X ini telah
diketahui sebelumnya (Walpole, 1995).
Persamaan regresi dapat dicari dari sekumpulan data yang diplot terlebih
dahulu, barulah kemudian dicari nilai dari peubah-peubah dalam persamaan
berikut :

=a+ b x

(2.4)

Persamaan diatas merupakan persamaan garis lurus, dari situ yang dapat
ditentukan adalah nilai b dan a, baru kemudian nilai y.

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

14

Bab metodologi penelitian ini berisi flowchart, studi literature, perumusan


masalah, pengumpulan dan pengolahan data, analisis, penutup.
3.1

Flowchart

Gambar 3.1 Flowchart Metodologi Penelitian


3.2

Studi Literatur
Studi literatur berisi tentang teori yang mendukung praktikum visualisasi

dan display. Teori tersebut diambil atau bersumber pada buku-buku yang
berhubungan dengan visualisasi dan display serta meteri yang ada pada internet.
3.3

Perumusan Masalah

15

Perumusan masalah dalam pembuatan laporan ini berdasarkan pada contrast


sensitivity, exposure time, dan visual acuity yang digunakan dalam sebuah display
sehingga dapat menerima informasi yang ada pada display tersebut dengan jelas
dan mudah.
3.4

Pengumpulan dan Pengolahan Data


Pengumpulan data dan pengolahan data didasarkan pada data yang telah

didapatkan pada saat praktikum yaitu pengambilan data visual acuity dengan
membaca contrast sensitivity dengan menghitung luminansi minimum yang
digunakan untuk menebak set kartu yang terdiri dari objek dan background
colour, dan nilai exposure time dengan menghitung kecepatan dan ketepatan
warna yang keluar pada layar komputer dilaboratorium. Data yang telah
didapatkan dari praktikum kemudian diolah dengan menentukan besarnya nilai,
luminous contarast, contrast ratio, hubungan luminous contrast terhadap tiap
warna objek dan warna dasar, rasio kesalahan tebak warna, visual angle, visual
acuity, dan regeresi linier untuk luminous contrast dan exposure time.
3.5

Analisis
Analisis yang dilakukan terhadap pengolahan data yang telah didapatkan

berdasarkan praktikum, yaitu analisis perhitungan visual acuity, exposure time,


contrast sensitivity.
3.6

Penutup
Penutup berisikan kesimpulan yang didapatkan selama praktikum.

Pengumpulan data, pengolahan data, dan analisis yang berdasarkan dari tujuan
pembuatan laporan tersebut serta saran yang diharapkan bisa membangun untuk
kedepannya untuk didasarkan pada perumusan dan batasan masalah.

BAB 4
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Bab ini berisikan rekaputulasi pengumpulan data dari praktikum yang
16

telah dilakukan untuk menentukan nilai contrast sensitivity, exposure time, dan
visual acuity.
4.1

Pengumpulan data
Data yang diperoleh dari perakitan terdiri dari contrast sensitivity,

exposure time, dan visual acuity. Berdasarkan data-data tersebut dilakukan


rekapitulasi untuk mempermudah dalam melakukan pengolahan data.
4.1.1 Rekapitulasi Data Contrast Sensitivity
Data contrast sensitivity diperoleh dari praktikum yang dilakukan dalam
ruangan gelap. Praktikum ini bertujuan untuk menentukan nilai Lmin yang
merupakan batas minimum dari kemampuan manusia untuk dapat melihat benda
dalam ruangan gelap.
Tabel 4.1 Rekapitulasi Data Contrast Sensitivity
Lmin

Lmax

No

Background
Colour

Orange

6,2

2,6

3,6

2,4

Kuning

0,7

1,5

1,3

1,3

Biru

0,6

0,2

1,2

4,3

Merah

2,5

4,3

6,8

6,8

Ungu

7,3

4,4

9,5

1,2

Coklat

6,7

6,7

7,9

0,7

Hijau Tua

3,2

1,3

6,7

Hijau Muda

8,5

0,7

0,2

0,4

Putih

Hitam

1073

4.1.2 Rekapitulasi Data Exposure Time


Data yang diperoleh untuk menentukan nilai exposure time pada praktikum
kali ini menggunakan software yang menampilkan warna pada layar komputer.
Hal ini bertujuan untuk mengukur waktu persepsi praktikan terhadap waktu warna

17

yang muncul pada software.


Tabel 4.2 Rekapitulasi Data Exposure Time operator (Svinjanif)
No
Warna Muncul
Kecepatan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Hitam
Ungu
Kuning
Merah
Biru
Hijau
Merah
Kuning
Biru Tua
Marah
Hitam
Biru
Hijau
Kuning
Biru Tua
Ungu
Biru
Hijau
Marah
Ungu

1,48
1,21
1,64
1,68
1,43
1,52
1,19
1,16
1,42
1,21
1,43
1,41
1.28
1,27
1,16
1,55
1,27
1,38
1,15
1,61

4.1.3 Rekapitulasi Data Visual Acuity


Pada Praktikum kali ini untuk pengambilan data visual acuity tidak
dilakukan karena tidak tersedianya peta snellen sebagai bahan praktek.
4.2

Pengolahan Data
Data yang diperoleh pada saat praktikum akan dilakukan perhitungan dan

pengolahan data yang berkaitan dengan perhitungan nilai contrast sensitivity dan
exposure time.
4.2.1 Perhitungan Contrast Sensitivity
Berdasarkan nilai contras sensitivity yang telah diperoleh maka ditentukan
nilai Luminious Contrast dan Contrast Ratio nya dengan menggunakan
persamaan:

18

Luminious Contrast ( LC )=

Contrast Ratio=

Lmax Lmin
Lmax

Lmax
Lmin

Keterangan:
Lmax

= Luminasi maksimum

Lmin

= Luminasi minimum

Tabel 4.3 Set Kartu Warna Objek Putih

Contoh Perhitungan:
1. Latar orange (objek segitiga)
LC =

Lmax Lmin 10736,2


=
=0,994222
Lmax
1073

CR=

Lmax 1073
=
=173,06
Lmin 6,2

2. Latar orange (objek lingkaran)


LC =

Lmax Lmin 10732,6


=
=0,997577
Lmax
1073

CR=

Lmax 1073
=
=412,69
Lmin 2,6

19

Tabel 4.4 Set Kartu Warna Objek Hitam

Contoh Perhitungan:
1. Latar orange (objek segitiga)
LC=

Lmax Lmin 10733,6


=
=0,996645
Lmax
1073

CR=

Lmax 1073
=
=298,06
Lmin 6,2

2. Latar orange (objek lingkaran)


LC=

Lmax Lmin 10732,4


=
=0,997763
Lmax
1073

CR=

Lmax 1073
=
=447,08
Lmin 2,4

4.2.2 Hubungan Contrast Terhadap Tiap Warna


Nilai LC yang telah didapat untuk tiap-tiap warna akan disajikan dalam
bentuk grafik batang dan grafik garis hubungan contrast terhadap LC untuk set
kartu warna putih dan hitam.

20

[Link] Luminious Contrast untuk Set Kartu Warna Putih


Nilai LC untuk set kartu warna putih akan disajikan dalam bentuk grafik
batang dan grafik garis.
Tabel 4.5 LC untuk Set Kartu Warna Putih
Luminious Contrast
Background
Putih
No
Colour
1

Orange

6,2

2,6

Kuning

0,7

1,5

Biru

0,6

0,2

Merah

2,5

4,3

Ungu

7,3

4,4

Coklat

6,7

6,7

Hijau Tua

3,2

1,3

Hijau Muda

8,5

0,7

Tu
a

Segitiga
Lingkaran

Hi
jau

er
ah
M

Or
an

ge

Lumious Contrast

8.5
9
8
7.3
6.7
6.7
7 6.2
6
5
4.3 4.4
4
3.2
2.5
3 2.6
1.5
2
1.3
0.7 0.6
0.7
1
0.2
0

Background Color
Gambar 4.1 Grafik Batang Hubungan Contrast terhadap LC untuk Set Kartu
Warna Objek Putih.

21

7.3

6.7
6.7

6.2
4.3
2.6

4.4
3.2
1.3

2.5
1.5
0.2
0.7
0.6

Tu
a

0.7

Segitiga
Lingkaran

Hi
jau

er
ah

Or
an

ge

Lumious Contrast

8.5

9
8
7
6
5
4
3
2
1
0

Background Color
Gambar 4.2 Grafik Garis Hubungan Contrast terhadap LC untuk Set Kartu
Warna Objek Putih.
[Link] Luminious Contrast untuk Set Kartu Warna Hitam
Nilai LC untuk set kartu warna hitam akan disajikan dalam bentuk grafik
batang dan grafik garis.
Tabel 4.6 LC untuk Set Kartu Warna Hitam
Luminious Contrast
Background
Hitam
No
Colour
1

Orange

3,6

2,4

Kuning

1,3

1,3

Biru

1,2

4,3

Merah

6,8

6,8

Ungu

9,5

1,2

Coklat

7,9

0,7

Hijau Tua

1,0

6,7

Hijau Muda

0,2

0,4

22

Tu
a

Segitiga
Lingkaran

Hi
jau

Or
an

er
ah

ge

Lumious Contrast

9.5
10
9
7.9
8
6.8
6.7
7
6
4.3
5
4 3.6
3 2.4
1.31.2
2
1.2
0.7 1 0.4
1
0.2
0
1.3
6.8

Background Color
Gambar 4.3 Grafik Batang Hubungan Contrast tehadap LC untuk Set Kartu
Warna Objek Hitam.
9.5
7.9

6.8

6.7

6.8
4.3

3.6
2.4
1.3

1.2

0.2
0.7 1 0.4

Segitiga
Lingkaran

Hi
jau

er
ah

Tu
a

1.2

Or
an

ge

Lumious Contrast

10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0

Background Color
Gambar 4.4 Grafik Garis Hubungan Contrast terhadap LC untuk Set Kartu
Warna Objek Hitam.
4.2.2 Hubungan Contrast dengan Warna Dasar
Nilai Luminious contrast (LC) yang telah didapat disajikan dalam bentuk
tabel untuk objek segitiga dan objek lingkaran.

23

Tabel 4.7 Hubungan Contrast dengan Warna Dasar Objek Segitiga.


Luminious Contrast
Background
No
Colour
Putih
Hitam
1

Orange

6,2

3,6

Kuning

0,7

1,3

Biru

0,6

1,2

Merah

2,5

6,8

Ungu

7,3

9,5

Coklat

6,7

7,9

Hijau Tua

3,2

1,0

Hijau Muda

8,5

0,2

Tabel 4.8 Hubungan Contrast dengan Warna Dasar Objek Lingkaran.


Luminious Contrast
Background
No
Colour
Putih
Hitam

4.3

Orange

2,6

2,4

Kuning

1,5

1,3

Biru

0,2

4,3

Merah

4,3

6,8

Ungu

4,4

1,2

Coklat

6,7

0,7

Hijau Tua

1,3

6,7

Hijau Muda

0,7

0,4

Perhitungan Data Exposure Time


Pengolahan data exposure time digunakan untuk melihat kecepatan

persepsi praktikan terhadap dan menentukan tingkat kesalahan yang dilakukan


ketika melihat benda berwarna yang ditampilkan.
4.3.1 Perhitungan Data Exposure Time untuk masing-masing praktikan
Berikut ini disajikan data exposure time untuk masing-masing praktikan.

24

Tabel 4.9 Rekapitulasi Data Exposure Time Operator (Svinjanif)


No
Warna Muncul
Kecepatan
Hitam
Ungu
Kuning
Merah
Biru
Hijau
Merah
Kuning
Biru Tua
Merah
Hitam
Biru
Hijau
Kuning
Biru Tua
Ungu
Biru
Hijau
Merah
Ungu

1.8
1.6
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
ng
u
U

H
ija
u

ng
u

Operator (Svinjanif)

Ku
ni
ng

Exposure Time

1,48
1,21
1,64
1,68
1,43
1,52
1,19
1,16
1,42
1,21
1,43
1,41
1.28
1,27
1,16
1,55
1,27
1,38
1,15
1,61

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Warna Muncul
Gambar 4.5 Grafik Batang Hubungan Warna Latar dengan Exposure Time
Svinjanif

25

2
1.5
1

Exposure Time

0.5

Operator
(Svinjanif)
H
ija
u

Ku
ni
ng

Warna Muncul
Gambar 4.6 Grafik Garis Hubungan Warna Latar dengan Exposure Time
Svinjanif.
4.3.2 Rasio Kesalahan Tebak Warna
Pengujian untuk mendapatkan nilai exposure time operator menebak
warna yang muncul pada software yang digunakan. sehingga dapat diketahui
jumlah betul dan salah serta rasio kesalahan tiap operator.
Tabel 4.10 Rasio Kesalahan Tebak Warna Svinjanif
Jumlah
Jumlah
Jumlah
No
Warna
muncul
Betul
Salah

Rasio
Kesalahan

2
3
3
4
3
3
2

0
0
0,67
0,25
0,33
0
0,5

1
2
3
4
5
6
7

Hitam
Ungu
Kuning
Merah
Biru
Hijau
Biru Tua

2
3
1
3
2
3
1

0
0
2
1
1
0
1

0.8
0.6

Rasio Kesalahan

0.4
0.2

Hi
ta

Operator
(Svinjanif)

Warna
Gambar 4.7 Grafik Batang Hubungan Warna Latar terhadap Tingkat Kesalahan
26

Operator.
0.8
0.6
0.4

Rasio Kesalahan

0.2

Hi
ta

Operator
(Svinjanif)

Warna
Gambar 4.8 Grafik Garis Hubungan Warna Latar Terhadap Tingkat Kesalahan
Operator.
4.4

Pengolahan Data Visual Acuity


Visual Acuity berkaitan dengan tingkat ketajaman pandangan seseorang

yang berhubungan dengan bagaimana seseorang dapat membedakan objek dengan


pelantarannya. Adapun persamaan yang digunakan untuk menentukan visual
acuity adalah sebagai berikut:
Visual Acuity=

Visual Angle=

1
Visual Angle

3438 x H
D

Keterangan:
D = jarak objek dari mata
H = tinggi objek.
Dikarenakan untuk praktikum visual acuity ini tidak dilakukan maka tidak
ada data yang dapat digunakan untuk contoh perhitungan.
4.5

Regresi Linier
Nilai LC dan CR yang telah diperoleh pada praktikum akan dibandingkan

dengan nilai regresi linier yang diperoleh dalam pengolahan data.


4.5.1 Regresi Linier untuk Luminious Contrast
Berdasarkan rumus regresi linier yang ada, dapat dihitung regresi linier
27

untuk hasil perhitungan Luminious Contrast. Kemudian hasil perhitungan regresi


linier tersebut disajikan dalam bentuk grafik batang dan grafik garis.
1. Objek warna putih
Tabel 4.11 Table Rekapitulasi LC untuk Objek Warna Putih
Luminious Contrast
Background
Putih
Colour
Orange
Kuning
Biru
Merah
Ungu
Coklat
Hijau Tua
Hijau Muda

0,99422
2
0,99934
8
0,99944
1
0,99767
0
0,99319
7
0,99375
6
0,99701
8
0,99207
8

0,997577
0,998602
0,999814
0,995993
0,995899
0,993756
0,998788
0,999348

Tabel 4.12 Rekapitulasi Regresi Linier LC untuk Objek Segitiga putih

Contoh perhitungan:
a = yy - b xy = 0,99584 (-0,00057360*4,5) = 0,99842

28

i =1

b =

i=1

i=1

( )( )

n x i y i
n

xi

n x 2i
i=1

yi

[ ]
n

xi

( 835,82619 ) ( 367,966729 )
2
( 8204)(36 )

i=1

= -0,00057360
1) Orange
Y = a + bx = 0,99842 + (-0,00057360*1) = 0,99785
2) Kuning
Y = a + bx = 0,99842 + (-0,00057360*2) = 0,99728
1.00200
1.00000
0.99800
0.99600

Nilai

0.99400
0.99200

Luminious Contrast
Regresi Linier

0.99000
Tu
a
H
ija
u

M
er
ah

O
ra
ng
e

0.98800

Warna Kartu
Gambar 4.9 Grafik Batang Regresi Linier LC untuk Objek Segitiga Putih

1.00200
1.00000
0.99800
0.99600
0.99200

Luminious Contrast
Regresi Linier

0.99000
Tu
a
H
ija
u

M
er
ah

0.98800
O
ra
ng
e

Nilai

0.99400

Warna Kartu

29

Gambar 4.10 Grafik Garis Regresi Linier LC untuk Objek Segitiga Putih
Tabel 4.13 Rekapitulasi Regresi Linier untuk Objek Lingkaran Putih

Contoh perhitungan:
a = yy - b xy = 0,99747 (-0,00005880*4,5) = 0,99774
n

i =1

b =

( )( )

n x i y i
n

xi yi
i=1

n x 2i
i=1

i=1
2

[ ]
n

i=1

xi

( 835,90652 ) (367,97978 )
(8204)(36 2)

= -0,00005880
1) Orange
Y = a + bx = 0,99774 + (-0,00005880*1) = 0,99768
2) Kuning
Y = a + bx = 0,99774 + (-0,00005880*2) = 0,99762

30

0. 0.
0
0
0
1
99 99 .99 .99 .99 .00
00 20 40 60 80 00
O
0
0
0
0
0
0
ra
ng
e

Luminious Contrast

H
ija
u

Tu
a

Regresi Linier
M
er
ah

Nilai

Warna Kartu

Luminious Contrast

H
ija
u

Tu
a

Regresi Linier
M
er
ah

Nilai

0. 0. 0. 0. 0. 1.
9
9
9
9
9
0
O 900 920 940 960 980 000
ra
0
0
0
0
0
ng 0
e

Gambar 4.11 Grafik Batang Regresi Linier LC untuk Objek Lingkaran Putih

Warna Kartu
Gambar 4.12 Grafik Garis Regresi Linier LC untuk Objek Lingkaran Putih
2. Objek warna hitam
Tabel 4.14 Rekapitulasi LC untuk Objek Warna Hitam
Luminious Contrast
Background
Hitam
Colour
Orange

0,996645

0,997763

Kuning

0,998788

0,998788

Biru

0,998882

0,995993

31

Merah

0,993663

0,993663

Ungu

0,991146

0,998882

Coklat

0,992637

0,999348

Hijau Tua

0,999068

0,993756

Hijau Muda

0,999814

0,999627

Tabel 4.15 Rekapitulasi Regresi Linier untuk Objek Segitiga Hitam

Contoh perhitungan:
a = yy - b xy = 0,99633 (0,00002774*4,5) = 0,99621
n

( )( )

n x i y i
i =1

b =

i=1

n x 2i
i=1

xi

i=1
2

[ ]
n

i=1

xi

yi

( 835,86906 )( 367,97064 )
(8204)( 362)

= 0,00002774
1) Orange
Y = a + bx = 0,99621 + (0,00002774*1) = 0,99623
2) Kuning
Y = a + bx = 0,99621 + (0,00002774*2) = 0,99626

32

Luminious Contrast

Tu
a
H
ija
u

M
er
ah

Regresi Linier

O
ra
ng
e

Nilai

1.00200
1.00000
0.99800
0.99600
0.99400
0.99200
0.99000
0.98800
0.98600

Warna Kartu
Gambar 4.13 Grafik Batang Regresi Linier LC untuk Objek Segitiga Hitam

Luminious Contrast

H
ija
u

Tu
a

Regresi Linier
M
er
ah

O
ra
ng
e

Nilai

1.00200
1.00000
0.99800
0.99600
0.99400
0.99200
0.99000
0.98800
0.98600

Warna Kartu
Gambar 4.14 Grafik Batang Regresi Linier LC untuk Objek Segitiga Hitam
Tabel 4.16 Rekapitulasi Regresi Linier untuk Objek Lingkaran Hitam

33

Contoh perhitungan:
a = yy - b xy = 0,99723 (0,00003772*4,5) = 0,99706
n

( )( )

n x i y i
i =1

b =

i=1

n x 2i
i=1

xi

i=1

yi

[ ]
n

i=1

xi

( 835,90177 )( 367,97782 )
( 8204)(36 2)

= 0,00003772
1) Orange
Y = a + bx = 0,99706 + (0,00003772*1) = 0,99710
2) Kuning

Luminious Contrast

H
ija
u

Tu
a

Regresi Linier
M
er
ah

Nilai

0. 0.
0
0
0
1
99 99 .99 .99 .99 .00
00 20 40 60 80 00
O
0
0
0
0
0
0
ra
ng
e

Y = a + bx = 0,99706 + (0,00003772*2) = 0,99713

Warna Kartu
Gambar 4.15 Grafik Batang Regresi LC untuk Objek Lingkaran Hitam

34

Luminious Contrast

H
ija
u

Tu
a

Regresi Linier
M
er
ah

0. 0. 0. 0. 0. 1.
9
9
9
9
9
0
O 900 920 940 960 980 000
ra
0
0
0
0
0
ng 0
e

Nilai

Warna Kartu
Gambar 4.16 Grafik Garis Regresi Linier LC untuk Objek Lingkaran Hitam
4.5.2 Regresi Linier Contrast Ratio
Berdasarkan rumus regresi linier yang ada, dapat dihitung regresi linier
untuk hasil perhitungan contrast ratio. Kemudian hasil perhitungan regresi linier
tersebut disajikan dalam bentuk grafik batang dan grafik garis.
1. Objek warna putih
Tabel 4.17 Tabel Rekapitulasi CR untuk Objek Warna Putih
Contrast Ratio
Background
Putih
Colour
Orange

173,06

412,69

Kuning

1532,86

715,33

Biru

1788,33

5365,00

Merah

429,20

249,53

Ungu

146,99

243,86

Coklat

160,15

160,15

Hijau Tua

335,31

825,38

Hijau Muda

126,24

1532,86

Tabel 4.18 Rekapitulasi Regresi Linier untuk Objek Segitiga Putih

35

Contoh perhitungan:
a = yy - b xy = 586,5173 (-136,69397269*4,5) = 1201,64017
n

i =1

b =

i=1

i=1

( )( )

n x i y i

xi

n x 2i
i=1

yi

[ ]
n

xi

( 815373,4757 )( 364692,14 )
(8204)(362 )

i=1

= -136,69397269
1) Orange
Y = a + bx = 1201,64017 + (-136,69397269*1) = 1064,9462
2) Kuning
Y = a + bx = 1201,64017 + (-136,69397269*2) = 928,2522

Nilai

2000.00
1800.00
1600.00
1400.00
1200.00
1000.00
800.00
600.00
400.00
200.00
0.00
Orange

Cantrast Ratio
Regresi Linier

Biru

Ungu Hijau Tua

Warna Kartu

36

Gambar 4.17 Grafik Batang Regresi Linier CR untuk Objek Segitiga Putih

Cantrast Ratio

H
ija
u

Tu
a

M
er
ah

Regresi Linier

O
ra
ng
e

Nilai

2000.00
1800.00
1600.00
1400.00
1200.00
1000.00
800.00
600.00
400.00
200.00
0.00

Warna Kartu
Gambar 4.18 Grafik Garis Regresi Linier CR untuk Objek Segitiga Putih

Tabel 4.19 Rekapitulasi Regresi Linier CR untuk Objek Lingkaran Putih

Contoh perhitungan:
a = yy - b xy = 1188,102 (-86,05730035*4,5) = 1575,35975
n

i =1

b =

( )( )

n x i y i
n

xi yi
i=1

n x 2i
i=1

i=1
2

[ ]
n

i=1

xi

( 839157,2617 )( 369504,82 )
(8204 )(36 2)

37

= -86,05730035
1) Orange
Y = a + bx = 1575,35975 + (-86,05730035*1) = 1489,3024
2) Kuning
Y = a + bx = 1575,35975 + (-86,05730035*2) = 1403,2451

6000.00
5000.00
4000.00

Nilai

3000.00
Contrast Ratio

2000.00

Regresi Linier

1000.00
0.00
Orange

Biru

Ungu Hijau Tua

Warna Kartu
Gambar 4.19 Grafik Batang Regresi Linier CR untuk Objek Lingkaran Putih

Contrast Ratio
ng
u

Regresi Linier
U

O
ra
ng
e

Nilai

6000.00
5000.00
4000.00
3000.00
2000.00
1000.00
0.00

Warna Kartu
Gambar 4.20 Grafik Garis Regresi Linier CR untuk Objek Lingkaran Putih
2. Objek warna hitam
Tabel 4.20 Tabel Rekapitulasi CR untuk Objek Warna Hitam
Background
Contrast Ratio
Colour
Hitam

38

Orange

298,06

447,08

Kuning

825,38

825,38

Biru

894,17

249,53

Merah

157,79

157,79

Ungu

112,95

894,17

Coklat

135,82

1532,86

Hijau Tua

1073,00

160,15

Hijau Muda

5365,00

2682,50

Tabel 4.21 Rekapitulasi Regresi Linier CR untuk Objek Segitiga Hitam

Contoh perhitungan:
a = yy - b xy = 1107,771 (409,36678142*4,5) = -734,37913
n

i =1

b =

i=1

i=1

( )( )

n x i y i

xi

n x 2i
i=1

[ ]
n

xi

yi

( 857073,1748 ) ( 368862,17 )
(8204 )(36 2)

i=1

= 409,36678142
1) Orange
Y = a + bx = -734,37913 + (409,36678142*1) = -325,0123
2) Kuning
Y = a + bx = -734,37913 + (409,36678142*2) = 1403,2451

39

6000.00
5000.00
4000.00
3000.00

Nilai

2000.00

Contrast Ratio

1000.00

Regresi Linier
Tu
a
H
ija
u

O
ra
ng
e

-1000.00

M
er
ah

0.00

Warna Kartu
Gambar 4.20 Grafik Batang Regresi Linier CR untuk Objek Segitiga Hitam
6000.00
5000.00
4000.00
3000.00

Nilai

2000.00

Contrast Ratio

1000.00

Regresi Linier
Tu
a
H
ija
u

O
ra
ng
e

-1000.00

M
er
ah

0.00

Warna Kartu
Gambar 4.21 Grafik Garis Regresi Linier CR untuk Objek Segitiga Hitam
Tabel 4.22 Rekapitulasi Regresi Linier untuk Objek Lingkaran Hitam

40

Contoh perhitungan:
a = yy - b xy = 868,684 (201,28665696*4,5) = -37,10620
n

( )( )

n x i y i
i =1

b =

i=1

n x 2i
i=1

xi

i=1

yi

[ ]
n

i=1

xi

( 839726,6547 )( 366949,47 )
(8204)( 362)

= 201,28665696
1) Orange
Y = a + bx = -37,10620 + (201,28665696*1) = 164,1805
2) Kuning
Y = a + bx = -37,10620 + (201,28665696*2) = 84,3544

3000.00
2500.00
2000.00

Nilai

1500.00
Contrast Ratio

1000.00

Regresi Linier

500.00
0.00
Orange

Biru

Ungu Hijau Tua

Warna Kartu
Gambar 4.21 Grafik Batang Regresi Linier CR untuk Objek Lingkaran Hitam

41

3000.00
2500.00
2000.00
1500.00

Nilai

1000.00
Contrast Ratio

500.00

Regresi Linier
Tu
a
H
ija
u

M
er
ah

O
ra
ng
e

0.00

Warna Kartu
Gambar 4.22 Grafik Garis Regresi Linier CR untuk Objek Lingkaran Hitam

42

BAB 5
ANALISIS
Bab ini berisikan analisis mengenai perhitungan terhadap exposure time,
dan contrast sensitivity serta analisis terhadap perancangan display dan aplikasi
display.
5.1

Analisis Perhitungan Exposure Time


Pengolahan data exposure time bertujuan untuk menentukan percepatan

persepsi seseorang dan menentukan tingka kesalahan yang terjadi pada operator.
Data exposure time yang didapatkan berasal dari data software yang menampilkan
informasi mengenai warna-warna yang ditampilkan oleh layar computer. Data
exposure time ini bertujuan untuk mengukur tingkat kecepatan operator dalam
melihat warna yang di tampilkan sehingga dapat diketahui jumlah kesalahan yang
terjadi dari 20 kali percobaan yang dilakukan.
Berdasarkan hasil rekapitulasi data yang telah dilakukan dapat diketahui
bahwa banyak terjadi kesalahan pada operator dalam menentukan warna yang
muncul pada layar computer. Hasil dari pengamatan operator bisa menebak 15
warna yang benar dari 20 warna yang ditampilkan. Hal ini disebabkan karna
keterbatasan kemampuan operator dalam mempersepsikan warna yang muncul
pada layar dikarnakan terlalu cepatnya pergantian warna yang terjadi sehingga
menyebabkan banyaknya terjadi kesalahan dalam menentukan warna objek yang
diamati dan kesulitan dalam membedakan warna yang hampir sama.
5.2

Analisis Perhitungan Contras Sensitivity


Data yang digunakan untuk perhitungan nilai contras sensitivity

didapatkan dari data hasil praktikum yang dilakukan diruangan gelap yang
bertujuan untuk menentukan objek yang diamati dengan pelataranya. Objek yang
diamati berupa segitiga putih, segitiga hitam, lingkaran putih dan lingkaran hitam.
Praktikum dilakukan dengan pemberian sinar dengan tingkat pencahayaan tertentu
untuk menentukan nilai L min praktikum yang berkaitan dengan batas

43

kemampuan seseorang dalam melihat suatu objek dengan tingkat pencahayaan


yang rendah.
Nilai L min berbanding terbalik dengan contrast ratio. Semakin besar nilai
L min maka semakin kecil nilai contrast ratio yang diperoleh. Sebaliknya semakin
kecil nilai L min maka semakin besar nilai contrast ratio yang di peroleh. Pada
praktikum kali ini nilai L min terkecil didapatkan pada objek lingkaran putih
dengan latar biru dan objek segitiga hitam dengan latar hijau muda. Dimana nilai
L min yang diperoleh adalah 0,02 sehingga didapatkan nilai contrast ratio 5365.
Berdasarkan data L min dan contrast ratio yang didapatkan digunakan
sebagai acuan untuk melakukan perancangan display agar display yang dihasilkan
akan memberikan kenyamanan visual pengamat. Perbedaan nilai L min untuk tiap
objek dan pelataranya tersebut di karenakan pengaruh intensitas cahaya yang
diberikan serta keterbatasan kemampuan pengamat untuk mengenali objek dan
pelatarannya.
5.3

Analisis Perancangan Display


Pembuatan perancangan display ini berdasarkan nilai L min dan contrast

sensitivity yang didapatkan dari hasil praktikum visual display yang telah
dilakukan. Semakin kecil nilai L min yang didapatkan maka semakin baik display
yang dirancang tersebut. Nilai L min terkecil didapatkan pada objek lingkaran
putih dengan latar biru dan objek segitiga hitam dengan latar hijau muda. Nilai
contrast sensitivity di pengaruhi oleh besarnya L min yang didapatkan. Semakin
kecil nilai L min yang didapatkan maka contrast sensitivity yang didapatkan akan
semakin besar. Nilai contrast sensitivity yang semakin besar menunjukan bahwa
semakin mudah seorang operator untuk membedakan kekontrasan warna antara
objek dan pelataran yang ada pada display tersebut. Berdasarkan hasil tersebut,
maka display yang dirancang objeknya dominan bewarna putih dengan palataran
biru dan objek hitam dengan pelataran bewarna hijau muda agar informasi yang
disampaikan oleh display tersebut dapat dengan jelas tersampaikan kepada
operator.

44

BAB 6
KESIMPULAN
Penutup berisi kesimpulan yang di dapatkan selama praktikum,
pengumpulan data dan pengolahan data, dan anlisis yang berdasarkan dari tujuan
pembuatan laporan tersebut serta saran yang diharapkan bisa membangun untuk
kedepannya yang didasarkan kepada batasan masalah.
6.1

Kesimpulan
Setelah melakukan pengolahan data dan analisis data dari hasil praktikum,

maka didapat beberapa kesimpulan sebagai berikut:


1. Display Merupakan bagian dari lingkungan yang memberikan informasi,
sedangkan visual ialah alat pemyalur informasi kepada manusia yang
ditampilkan secara visual
2. Nilai visual acuity ditentukan oleh Nilai visual angel yang ditentukan oleh
tinggi celah Objek (H) dan Jarak objek dari mata (D), contras sensitivity
ditentukan Oleh besar nilai Lmin dan L maks, nilai exposure time
ditentukan Oleh Kecepatan Persepsi seorang dan tingkat kesalahan yang
terjadi pada operator saat pembacaan display.
3. Visual acuity dalam perancangannya agar display bermanfaat untuk
merancang objek display dan peralatannya dapat dibedakan secara jelas
exposure time digunakan untuk menentukan derajat cerah dan kontras
antara objek dan peralatan nya agar kecepatan persepsi meningkat.
4. Semakin besar nilai visual acuity yang didapatkan maka kemampuan
visual seseorang semakin baik maka semakin tepat pembacaan informasi,
contrast sensitivity yang didapatkan pada sebuah display maka akan
menyebabkan informasi yang didapatkan akan semkin tepat dan jelas, dan
semakin kecil exposure time yang dibutuhkan maka informasi yang yang
didapatkan semakin tepat
5. Perancangan sebuah display harus memperhatikan kelebihan dan
kekurangan yangdimiliki oleh indera penglihatan manusia agar display
45

tersebut dapat ditangkap dengan jelas dan mudah serta meminimalisir


akibat negatif yang mungkin terjadi pada indera penglihatan manusia.
6.2

Saran
Saran berisikan kritik terhadap hasil-hasil dta yang diolah dari hasil

pengamatan yang bersifat evaluasi untuk pengamatan selanjutnya, sehingga


menjadi pedoman dalam pengamatan selanjutnya dan dapat memberikan hasil
ynag lebih baik untuk kedepannya:
1. Pembuatan visual display bukan hanya berdasarkan dari contrast
sensitivity, tapi juga memperhatikan aspek-aspek yang lainya seperti
estetika dan ekonomis.
2. Objek yang dibaca baik hanya segitiga dan lingkaran yang berwarna hitam
dan putih tetapi bermacam-macam bentuk objek dengan warna yang
beragam, back ground color juga ditambahkan warna yang lebih beragam
misalnya warna coklat, jingga, abu-abu dan lain-lain.
3. Percobaan contarst sensitivity dilakukan kepada anggota kelompok agar
hasil yang didapatkan dapat dibandingkan kemampuan visual antar
kelompok.
4. Display yang dirancang hendaknya memiliki tema yang lebih luas lagi,
misalnya display yang berisi petunjuk dalam sebuah sistem kerja.

46

Anda mungkin juga menyukai