Gagal Jantung Kongestif oleh dr. Rio
Gagal Jantung Kongestif oleh dr. Rio
Disusun oleh:
Nama
Pembimbing
KASUS 1
Topik
Tanggal (kasus)
Nama Peserta
Nama Wahana
Tanggal Presentasi
Pendamping
Obyek presentasi
Deskripsi
Tujuan
Bahan bahasan
Cara Membahas
Data Pasien
Nama
: Ny. R S
Usia
: 70 tahun
Jenis Kelamin
: Perempuan
Alamat
: Modelomo
Data Utama Untuk Bahan Diskusi
Diagnosis / Gambaran Klinis : Gagal Jantung Kongestif
Riwayat pengobatan
: (-)
Riwayat kesehatan/penyakit : Pasien sering mengalami sesak sebelumnya
Riwayat keluarga
: (-)
Riwayat pekerjaan
: (-)
Lain-lain
: Riwayat hipertensi (+), Riwayat asthma (+)
Hasil Pembelajaran:
1. Diagnosis gagal jantung kongestif
2. Etiologi gagal jantung kongestif
3. Pathogenesis gagal jantung kongestif
4. Manifestasi gagal jantung kongestif
5. Diagnosa banding gagal jantung kongestif
6. Penatalaksanaan gagal jantung kongestif
: Tidak teraba Massa, tidak ada retraksi sela iga, iktus cordis teraba
kuat angkat
Pulmo
+/+
Jantung
Auskultasi : Bunyi jantung I-II regular, murmur (-), gallop ()
Abdomen
Inspeksi : Datar, bekas luka (-), tidak tampak massa
Auskultasi : BU (+) normoperistaltik
Perkusi : Timpani, nyeri ketuk CVA -/4
Hasil
Nilai Normal
Hb
Leukosit
Trombosit
Hitung Jenis Leukosit:
11.0
6.6
273
11.5-15.5 g/dl
4500-10500 /mm3
150000-400000 /mm3
Neutrofil
Eosinofil
Basofil
Limfosit
Monosit
Eritrosit
Ht
MCV
MCH
MCHC
59.0
1.0
1.0
30.00
9.0
4.4
31.0
83.0
29.0
33.0
50.0-80.0%
0.0-5.0%
0.0-2.0%
25.3%-50.0%
2.0-10.0%
3.91-5.61 juta/mm3
L: 33-45%
80.0-94 fl
28-33 pg
32-36 g/dl
Assessment
Diagnosis kerja
Congestive Heart Failure ec HHD + Hipertensi grade 2 + PPOK
Plan
Penanganan
02 2- 4ltr/mnt
IVFD NaCl 0,9% 500cc 10 tpm
Inj. Furosemide 1x40mg iv
Inj. Ranitidin 2x1 amp iv
Inj. Ceftriaxone 2x1gr iv
Nebulizer ventolin inhalasi
Parasetamol 3x1 tab
Valsartan tab 1x80 mg
Anjuran : Foto thorax
Konsul [Link] Zubeidi [Link]
PEMBAHASAN
Heart Failure (HF) atau gagal jantung adalah suatu sindroma klinis
kompleks, yang didasari oleh ketidakmampuan jantung untuk memompakan darah
ke tubuh secara adekuat, akibat adanya gangguan struktural dan fungsional dari
jantung.5 HF ditandai oleh manifetasi klinis (sesak nafas dan fatik) dan gejala
(edema dan ronki) yang akan mengakibatkan pasien sering dirawat di rumah sakit,
menyebabkan kuliatas hidup yang buruk dan harapan hidup yang singkat. 3
Beberapa istilah dalam gagal jantung yaitu:6
1.
pemeriksaan fisis, foto thoraks, atau EKG dan hanya dapat dibedakan dengan
echocardiography.
Gagal jantung sistolik adalah ketidakmampuan kontraksi jantung memompa
sehingga curah jantung menurun dan menyebabkan kelemahan, kemampuan
aktivitas fisik menurun dan gejala hipoperfusi lainnya.
Gagal jantung diastolik adalah gangguan relaksasi dan gangguan pengisian
ventrikel. Gagal jantung diastolik didefinisikan sebagai gagal jantung dengan
fraksi ejeksi lebih dari 50%. Ada 3 macam gangguan fungsi diastolik ; Gangguan
relaksasi, pseudo-normal, tipe restriktif.
2.
kelainan katup dan perikard. High output heart failure ditemukan pada penurunan
resistensi vaskular sistemik seperti hipertiroidisme, anemia, kehamilan, fistula A
V, beri-beri, dan Penyakit Paget. Secara praktis, kedua kelainan ini tidak dapat
dibedakan.
3.
endokarditis, trauma, atau infark miokard luas. Curah jantung yang menurun
secara tiba-tiba menyebabkan penurunan tekanan darah tanpa disertai edema
perifer.
Contoh gagal jantung kronik adalah kardiomiopati dilatasi atau kelainan
multivalvular yang terjadi secara perlahan-lahan. Kongesti perifer sangat
menyolok, namun tekanan darah masih terpelihara dengan baik.
2.2.2 ETIOLGI
2.2.3 PATOFISIOLOGI
Gagal jantung dapat terjadi oleh berbagai sebab, tetapi dua yang tersering
adalah (1) kerusakan otot jantung akibat serangan jantung atau gangguan sirkulasi
ke otot jantung dan (2) pemompaan terus menerus ke afterload yang meningkat
kronik, misalnya pada stenosis katup semilunar atau peningkatan menetap tekanan
darah.4
Defek primer pada gagal jantung adalah berkurangnya kontraktilitas
jantung; yaitu, sel-sel otot jantung yang melemah berkontraksi kurang efektif.
Kemampuan intrinsik jantung untuk menghasilkan tekanan dan menyemprotkan
isi sekuncup berkurang.4
Pada tahap-tahap awal gagal jantung, dua tindakan kompensasi utama
membantu memulihkan isi sekuncup ke normal. Pertama, aktivitas simpatis ke
jantung secara refleks meningkat, yang meningkatkan kontraktilitas jantung ke
arah normal. Namun, stimulasi simpatis dapat membantu mengompensasi hanya
dalam waktu singkat karena jantung menjadi kurang responsif terhadap
norepinefrin setelah pajanan berkepanjangan, dan selain itu simpanan norepinefrin
di ujung saraf simpatis jantung terkuras. Kedua, ketika curah jantung berkurang,
ginjal dalam suatu upaya kompensatorik untuk memperbaiki aliran darahnya yang
menurun, menahan lebih banyak garam dan air di tubuh sewaktu pembetukan
urin, untuk menambah volume darah. Meningkatnya volume darah dalam
sirkulasi meningkatkan end diastolik volume.(4) Selain itu juga mengaktifkan
sistem RAA(Renin Angiotensin Aldosteron) yang menyebabkan vasokonstriksi
pembuluh darah perifer, peningkatan rasa haus dan reabsorbsi air ditubulus ginjal
meningkat sehingga oenimbunan cairan meningkat dan kongesti bertambah.
Seiring
dengan
perkembangan
penyakit
dan
semakin
merosotnya
kontraktilitas, jantung mencapai suatu titik di mana organ ini tidak lagi dapat
memompa keluar isi sekuncup yang normal meskipun dilakukan tindakantindakan kompensasi. Pada tahap ini jantung jatuh pada tahap gagaj jantung
dekompensasi. Forward failure terjadi ketika jantung gagal memompa darah
dalam jumlah yang memadai ke jaringan karena isi sekuncup semakin berkurang.
9
Backward failure terjadi secara bersamaan ketika darah yang tidak dapat masuk
dan dipompa keluar oleh jantung terus terbendung di sistem vena. Kongesti
disistem vena adalah penyebab mengapa penyakit ini kadang disebut gagal
jantung kongestif.
Backward failure sisi kiri menyebabkan edema paru (kelebihan cairan
dijaringan paru) karena darah terbendung diparu. Kelebihan cairan diparu ini
mengurangi pertukaran O2 dan CO2 antara udara dan darah di paru, menurunkan
oksigenasi darah arteri dan meningkatkan CO2 peningkatan asam di darah.4
Forward failure sisi kiri adalah berkurangnya aliran darah ke ginjal, yang
menimbulkan masalah ganda. Pertama, fungsi ginjal tertekan dan kedua ginjal
semakin menahan garam dan air ditubuh sewaktu pembentukan urin dalam
meningkatkan volume plasm. Retensi cairan berlebih semakin memperparah
masalah kongesti vena yang sudah ada.4
Ortopnea
Ortopnea yaitu keadaan dimana sulit bernafas pada posisi berbaring. Ini
hasil dari redistribusi cairan dari sirkulasi splanknik dan ekstremitas bawah ke
sirkulasi sentral selama berbaring. Batuk malam hari adalah manifestasi sering
pada proses ini dan gejala ini sering diabaikan pada HF. Ortopnea umumnya lega
dengan duduk tegak atau tidur dengan tambahan bantal. Walaupun ortopnea
10
adalah gejala yang relatif spesifik HF, namun bisa juga terjadi pada pasien dengan
obesitas abdominal atau asites dan pada pasien dengan penyakit paru-paru.3
Pernapasan Cheyne-Stokes
Pernapasan Cheyne-Stokes juga disebut sebagai periodic breathing.
Cheyne-Stokes respirasi adalah gejala umum yang terjadi pada HF dan
berhubungan dengan output jantung yang rendah. Cheyne-Stokes respirasi
disebabkan oleh sensitivitas berkurang dari pusat pernapasan untuk PCO 2 yang
terdapat di arteri. Ada fase apnea, di mana arteri PO2 jatuh dan PCO2 arteri naik.
Perubahan-perubahan dalam isi gas darah arteri menstimulasi pusat pernafasan
tertekan, sehingga hiperventilasi dan hipokapnia, diikuti pada gilirannya dengan
kekambuhan apnea. Pernapasan Cheyne-Stokes dapat dirasakan oleh pasien atau
keluarga pasien sebagai dyspnea parah atau sebagai penghentian pernapasan
sementara.7
Gejala lain
Pasien dengan HF bisa juga terdapat gejala gastrointestinal. Anoreksia,
mual, dan cepat kenyang dengan dengan nyeri perut dan kepenuhan adalah gejala
yang sering dikeluhkan dan mungkin berhubungan dengan edema dinding usus
dan atau hepatomegali. Penimbunan cairan di hati dan peregangan kapsul yang
dapat menyebabkan nyeri kuadran kanan atas. Gejala Cerebral, seperti
kebingungan, disorientasi dan gangguan suasana hati, dapat diamati pada pasien
dengan HF berat, terutama pasien usia lanjut dengan arteriosclerosis otak dan
mengurangi perfusi serebral.3
PEMERIKSAAN FISIK
11
Pemeriksaan fisik yang cermat selalu diperlukan dalam evaluasi pasien HF.
Tujuan pemeriksaanya adalah untuk menentukan penyebab HF serta menilai
keparahan penyakitnya.
Vena jugularis
Pemeriksaan tekanan vena jugularis menunjukan adanya tekanan pada
atrium. Pengukuran JVP (Jugular venous pressure) dilakukan dengan kepala
miring di 45 diukur (normal 8 cm) dengan memperkirakan ketinggian kolom
vena darah di atas sudut sternum dalam cm dan kemudian menambahkan 5 cm.
Pada tahap awal dari HF, tekanan vena mungkin normal pada saat istirahat tetapi
dapat menjadi abnormal dengan berkelanjutan (~ 1 menit) tekanan pada perut
(positif refluks abdominojugular).3
Pemeriksaan paru
Ronki atau krepitasi pada paru yaitu hasil dari transudasi cairan dari ruang
intravaskuler ke dalam alveoli. Pada pasien dengan edema paru, ronki dapat
didengar secara luas atas kedua bidang paru-paru dan bisa disertai dengan mengi
ekspirasi (asma kardial). Saat pasien datang tanpa ada penyakit paru maka ronki
spesifik pada HF. Efusi pleura akibat dari peningkatan tekanan kapiler pleura dan
transudasi yang dihasilkan dari cairan ke dalam rongga pleura. Karena vena pleura
mengalir ke kedua pembuluh darah sistemik dan paru, efusi pleura terjadi paling
sering dengan kegagalan biventrikular. Meskipun efusi pleura sering bilateral di
HF, ketika unilateral mereka lebih sering terjadi pada rongga pleura kanan.3
Pemeriksaan jantung
Pemeriksaan jantung, meskipun penting, sering tidak memberikan informasi
yang berguna tentang keparahan HF. Pada beberapa pasien, suara jantung ketiga
12
(S3) terdengar dan teraba di apeks. Pasien dengan ventrikel kanan membesar atau
hipertrofi mungkin memiliki kiri impuls parasternal berkelanjutan dan
berkepanjangan memperluas seluruh sistol. Bunyi jantung S3 (protodiastolic
gallop) ini paling sering terdapat pada pasien dengan kelebihan beban volume
yang memiliki takikardia dan takipnea. Bunyi jantung IV (S4) bukan merupakan
indikator spesifik HF tetapi biasanya terdapat pada pasien dengan murmur
dysfunction. Bising diastolik mitral dan trikuspid juga sering terdengar pada
pasien HF.3
Cardiac cachexia
Pada gagal jantung kronik menyebabkan penurunan berat badan dan
menjadi kakexia akibat dari meningkatnya TNF dalam sirkulasi, meingkatkan
metabolisme akibat oekerjaan ekstra misalnya otot-otot pernapadan, kebutuhan O 2
pada otot jantung yang hipertrofi, anoreksia, nausea, vomitus akibat intoksikasi
digitalis, hepatomegali kongestif, rasa penuh diabdomen dan gejala lain seperti
ekstremitas dingin, pucat, urin kurang dan depresi.7
2.2.5
DIAGNOSIS
Diagnosis
dibuat
berdasarkan
anamnesis,
pemeriksaan
fisik,
13
NYHA class II, penderita dengan sedikit pembatasan dalam kegiatan fisik.
Mereka tidak mengeluh apa-apa waktu istirahat, akan tetapi kegiatan fisik yang
biasa dapat menimbulkan gejala-gejala insufisiensi jantung seperti kelelahan,
jantung berdebar, sesak napas atau nyeri dada.
NYHA class III, penderita penyakit dengan pembatasan yang lebih banyak
dalam kegiatan fisik. Mereka tidak mengeluh apa-apa waktu istirahat, akan
tetapi kegiatan fisik yang kurang dari kegiatan biasa sudah menimbulkan
gejala-gejala insufisiensi jantung seperti yang tersebut di atas.
NYHA class IV, penderita tidak mampu melakukan kegiatan fisik apapun tanpa
menimbulkan keluhan, yang bertambah apabila mereka melakukan kegiatan
fisik meskipun sangat ringan.
Klasifikasi
terbaru
yang
dikeluarkan
American
Collage
of
15
penting
untuk
mendiagnosis,
jantung dan sekarang menjadi gold standard dalam penilaian massa dan volume
LV. Petunjuk paling berguna untuk menilai fungsi LV adalah EF (stroke volume
dibagi dengan end-diastolic volume). Karena EF mudah diukur dengan
pemeriksaan noninvasive dan mudah dikonsepkan. Pemeriksaan ini diterima
secara luas oleh para ahli. Sayangnya, EF memiliki beberapa keterbatasan sebagai
tolak ukur kontraktilitas, karena EF dipengaruhi oleh perubahan pada afterload
dan/atau preload. Sebagai contoh, LV EF meningkat pada regurgitasi mitral
sebagai akibat ejeksi darah ke dalam atrium kiri yang bertekanan rendah.
Walaupun demikan, dengan pengecualian jika EF normal (> 50%), fungsi sistolik
biasanya adekuat, dan jika EF berkurang secara bermakna (<30-40%).3
Diagnosis pada penyakit jantung dibagi menjadi 4 yaitu diagnsosi fisilogis,
fungsional, anatomi dan etilogi. Seperti contoh sebagai berikut :
1. Diagnosis fisilogis : CHF
2. Diagnosis fungsional : NYHA kelas IV
3. Diagnosis anatomi : LVH, RVH
4. Diagnosis etiologi : PJK dan Hipertensi
2.2.6 PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan penderita dengan gagal jantung meliputi penalaksanaan
secara non farmakologis dan secara farmakologis. Penatalaksanaan gagal jantung
baik akut maupun kronik ditujukan untuk mengurangi gejala dan memperbaiki
prognosis, meskipun penatalaksanaan secara individual tergantung dari etiologi
serta beratnya kondisi.10
A. Non Farmakalogi
Anjuran umum :
Tindakan Umum :
Diet (hindarkan obesitas, rendah garam 2 g pada gagal jantung ringan dan
1 g pada gagal jantung berat, jumlah cairan 1 liter pada gagal jantung berat
B. Farmakologi
Berdasarkan patofisiolgis yang telah diuraikan, konsep terapi farmakologis
saat ini ditujukan terutama pada:10
1.
Menurunkan preload
Diuretik
Diuretik merupakan pengobatan standart untuk gagal jantung kongestif.
Diuretik yang digunakan ialah tiazid, furosemid, spironolakton. HydroChloro Thiazide (HCT) dan spironolakton dianjurkan terutama pada CHF
NYHA class II. Apabila kondisi memburuk baru diberikan furosemid.
HCT,
harganya
murah,
tetapi
menyebabkan
hipokalemi
dan
hipomagnesia. Dosis kecil yaitu 12,5 mg/hari atau dengan substansi kalium
dapat mengurangi efek samping
Spironolakton, tidak menyebabkan hipokalemi, akan tetapi obat ini
merupakan antagonis aldosteron. Dosis spironolakton dianjurkan tidak
melebihi 25 mg karena dapat menyebabkan hiperkalemia, apalagi bila
dikombinasikan dengan ACE-inhibitor
Furosemid, merupakan loop diuretik yang kuat, mula kerja untuk diuresis
sudah tampak dalam 30 menit. Obat ini aman untuk gagal ginjal. Pemberian
furosemid yang lama akan menyebabkan resistensi furosemid. Oleh karena
itu, perlu diberikan ACE-inhibitor untuk mencegah efek samping furosemid
seperti hipokalemia dan hipomagnesia karena menurunkan konsentrasi
plasma aldosteron. Dosis furosemid untuk CHF ringan-sedang yaitu 20-40
mg per hari sedangkan untuk CHF berat membutuhkan 40-80 mg per hari.10
Nitrat
Pemberian nitrat berguna untuk penderita CHF yang juga memiliki riwayat
menurunkan ukuran ruang atrium kanan dan atrium kiri serta tekanan akhir
diastolik, dengan demikian meningkatkan perfusi miokard. Nitrat dapat
diberikan per-oral, intra-vena, sublingual dan topikal. Dosis ISDN sublingual
yaitu 2,5-5 mg (sesuai kebutuhan) sedangkan untuk oral 10-60 mg (34x/hari).
2.
seperti
adrenaln, dobutamin, atau efedrin. Namun obat-obat ini tidak dianjurkan untuk
gagal jantung karena meraka juga meningkatkan laju jantung atau kronotropik
positif sehingga akan memperparah kondisi penyakit
Digitalis (digoksin)
Digitalis memiliki efek inotropik positif dan kronotropik negatif. Dengan
menurunkan laju jantung, obat ini memberikan kesempatan ventrikl kiri untuk
mengadakan relaksasi dan pengisian darah yang efektif .
Digoksin adalah rapid-acting digitalis yang dapat diberikan secara oral
dan intravena. Mekanisme kerja digoksi yang pertama yaitu menghambat
aktivasi sodium pum yang memperlambat fase repolarisasi sehingga
menyebabkan fase depolarisasi lebih lama dengan demikian lebih banyak Ca ++
yang masu ke dalam sel sehingga kontraktilitas miokard meningkat.
Mekanisme yang kedua adalah meningkatkan tonus vagus (parasimpatis)
sehingga menurunkan laju jantung. Dosis diberikan dengan dua langkah yaitu
dosis muat dan dosis pemeliharaan. Dosis muat yaitu 3 kali 1 tablet (0,25 mg)
per hari selama tiga hari untuk orang dewasa kemudian dilanjutkan dengan
dosis pemeliharaan adalah 0,25 mg/hari untuk umur dibawah 70 tahun dan
0,125 mg/hari untuk umur diatas 70 tahun.10
Beta-Blocker
Beta-Blocker terbukti dapat meningkatkan Ejection Fraction, memperbaiki
artinya mulai dengan dosis awal sangat rendah yaitu 1/8 1/10 dosis target
misalnya dosis target bisoprolol 5 mg/hari maka mulai dengan1/8
tabler/[Link] slow artinya dosis dinaikan pelan-pelan apabila keadaan pasiem
mebaik maka setiap 102 minggu dosis ditingkatkan 1/8 tablet sampai
mencapai dosis target.10
Isoniazide (INH)
Potassium
channel
blocker
4-aminopridin
memperpanjang
fase
Menurunkan afterload
Angiotensin converting enzyme (ACE)-inhibitors
Efek langsung obat ini yaitu mencegah terjadinya remodeling dan
meghambat perluasan kerusakan miokard. Selain itu obat ini juga memiliki
efek menurunkan afterload, menurunkan aktivitas saraf simpatis, menurunkan
sekresi aldosteron dan menurunkan sekresi vasopresin. Penderita CHF yang
juga hipertensi adalah golongan penderita yang aman untuk menerima ACEinhibitors. Biasanya pengobatan dimulai dengan yang short acting seperti
kaptopril yaitu 3 kali 6,25 mg atau 12,5 mg per hari, kemudian dosis dinaikan
secara bertahap.
ACE-inhibitors
tidak
mampu
menghambat
sebgaian
besar
produksi
Angiotensin II, jadi dengan memblokade AT-1 reseptor, ARB diharapkan dapat
menghambat sebagian besar efek negatif dari sistem RAA. Penggunaan ARB
dianjurkan pada pasien CHF yang kontraindikasi terhadap ACE-inhibitors.
Kombinasi ARB dan Ace-inhibitors juga dilaporkan memiliki efek sinergis
dalam mempengaruhi hemodinamik, remodelling dan profil neurohormon.
diberikan pada pasien CHF grade II yang tidak takhikardi. CCB yang long
acting seperti amplodipin dan nifedipin lebih baik karena tidak mempresipitasi
efek takhikardi
20
4.
Mencegah remmodeling
Obat yang memiliki efek remodeling seperti ACE-inhibitors dan ARB
Intervensi khusus
Implantable Cardioverter Defibrillators (ICD)
Pasien gagal jantung kronis yang simptomatis memilki insidens mati
mendadak yang tinggi akibat ventrivular tachycardia (VT). Pemasangan ICD
menurunkan mortalitas pada pasien gagal jantung stadium D.
angiografi ditemukan lesi yang cocok, maa PTCA atau cABGs akan
memperbaiki simptom dan menghambat progresivitas.10
2.2.8 PROGNOSA
Meskipun penatalaksanaan pasien dengan gagal jantung telah sangat berkembang,
tetapi prognosisnya masih tetap buruk, dimana angka mortalitas setahun bervariasi
dari 5% pada pasien stabil dengan gejala ringan, sampai 30-50% pada pasien
dengan gejala berat dan progresif. Prognosisnya lebih buruk jika disertai dengan
disfungsi ventrikel kiri berat (fraksi ejeksi< 20%), gejala menonjol, dan kapasitas
latihan sangat terbatas (konsumsi oksigen maksimal < 10 ml/kg/menit),
insufisiensi ginjal sekunder, hiponatremia, dan katekolamin plasma yang
meningkat. Sekitar 40-50% kematian akibat gagal jantung adalah mendadak.
Meskipun beberapa kematian ini akibat aritmia ventrikuler, beberapa diantaranya
merupakan akibat infark miokard akut atau bradiaritmia yang tidak terdiagnosis.
Kematian lainnya adalah akibat gagal jantung progresif atau penyakit lainnya.
Pasien-pasien yang mengalami gagal jantung stadium lanjut dapat menderita
dispnea dan memerlukan bantuan terapi paliatif yang sangat cermat.
21
Daftar Pustaka
1. Kabo, P. Bagaimana menggunakan obat-obat kardiovaskular secara rasional. 1st
ed. Indonesia: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 2010.p.181
2. Ghanie, A. Gagal Jantung Kronik. In: Sudoyono AW, Setiyohadi B, Alwi I, Setiati
S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 5th ed. Indonesia: Interna Publishing:
2009.p.1596.
3. Mann, D. Heart Failure and Cor Pulmonale. In: Loscalzo, J. Harrisons
Cardiovascular Medicine. United States: The McGraw Hill Companies:
2010.p.178
4. Sherwood, L. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem. In: Yesdelita, editors. 6 th ed.
Indonesia: Penerbit Buku Kedokteran EGC: 2009.p.355
5. Manurung, D. Gagal Jantung Akut. In: Sudoyono AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Setiati S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 5 th ed. Indonesia: Interna
Publishing: 2009.p.1586.
6. Panggabean, M M. Gagal Jantung Akut. In: Sudoyono AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Setiati S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 5 th ed. Indonesia: Interna
Publishing: 2009.p.1583-4.
7. Greenberg, B. Kahn A. Clinical Assessmet oh Heart Failure. In: Bonow R. Mann
D, editors. 9th . United State:2012.p.505-10
8. Rphael C, Briscoe C, Davies J, Whinnet Z, Manisty C, Sutton R et al. Limitations
of the New York Heart Association functional classification system and self
reported walking distances in chronic heart failure. PubMed Central.
2007;93(4):476-82
22
9. Hunt SA, Abraham WT, Chin MH, Feldman AM, et al. ACC/AHA 2005 Guideline
Update for the Diagnosis and Management of Chronic Heart Failure in the Adult:
a report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task
Force on Practice Guidelines (Writing Committee to Update the 2001 Guidelines
for the Evaluation and Management of Heart Failure): developed in collaboration
with the American College of Chest Physicians and the International Society for
Heart and Lung Transplantation: The Heart Rhythm Society. Circulation. 2005
Sep
20;112(12):e154-235. Available
from:
[Link]
10. Kabo, P. Bagaimana menggunakan obat-obat kardiovaskular secara rasional. 1st
ed. Indonesia: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 2010.p.189-2
23