BAB I
PENDAHULUAN
Gangguan irama jantung (dikenal sebagai aritmia) dapat dikelompokkan menjadi
takiaritmia (gangguan irama dengan laju cepat) dan bradiaritmia (gangguan irama dengan laju
lambat). Istilah aritmia sebenarnya tidak tepat karena aritmia berarti tidak ada
irama. Oleh karena itu saat ini digunakan istilah disritmia yang berarti irama yang
tidak normal. Hal ini bisa disebabkan oleh keadaan yang disebut Supraventrikular Tachycardia
(denyut jantung melebihi 250-300 denyut permenit). Salah satu pemicu Supraventricular
Tachycardi adalah dengan adanya fenomena Atrioventricular Reentrant Tachycardia (AVRT).
Atrioventricular Reentrant Tachycardia (AVRT) adalah kondisi yang dikenal sebagai
takikardia supraventricular paroksismal. AVRT disebabkan oleh jalur tambahan (accessoris
pathway) dalam sistem konduksi pada jantung, 80% ditemukan pada Wolf-Parkinson-White
syndrome. Dalam AVRT, koneksi tambahan, yang sering disebut accessoris pathway berada
diantara ruang atrium dan ventrikel.
Terdapat dua jenis AVRT, yaitu jenis ortodromik dan antidromik. AVRT ortodromik ialah
jenis yang paling sering ditemukan dibandingkan dengan jenis antidromik, yang dikenal sebagai
sindrom Wolff Parkinson White (WPW), karena komplek QRS sempit akibat sirkuit reentry
antegrade melalui cabang HIS ke purkinye dalam ventrikel berlanjut ke accessory pathway
kembali ke atrium, lalu ke HIS dan mengalami perputaran yang sama berulang kali.1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi dan Fisiologi Sistem Konduksi Jantung
Gambar 1. Sistem Konduksi Jantung
Sistem konduksi jantung terdiri atas nodus sinoatrialis, nodus atrioventrikularis dan
serabut purkinye. Nodus sinoatrialis terletak pada dinding atrium dekstra di bagian atas
sulkus terminalis, tepat disebelah kanan muara vena kava superior.2 Nodus ini
merupakan asal impuls ritmik elektronik yang secara spontan disebarkan ke seluruh otot
jantung atrium dan menyebabkan otot-otot ini berkontraksi. Nodus atrioventrikularis
terletak pada bagian bawah septum interatrial tepat diatas tempat perlekatan kuspis
septalis katup trikuspidalis. Impuls jantung dikirim ke ventrikel oleh fasikulus
atrioventrikularis yang distimulasi oleh gelombang eksitasi. Impuls antar nodus
2
meninggalkan ujung anterior nodus sinoatrial dan berjalan ke anterior menuju ke nodus
atrioventrikularis (AV). Dari AV impuls diteruskan melalui bundle His, sampai ujung
dari bundle His, terdapat percabangan yang dinamakan serat purkinye. Serat-serat
Purkinye meneruskan impuls dari bundle His ke seluruh otot ventrikel, ventrikel
kemudian berkontraksi sehingga darah dipompa keluar dari ventrikel dan mengalir
dalam sistem peredaran darah.3,4
B. Accessory Pathway
Jenis Accessory Pathway pada Atrioventricular Reentrant Tachycardia (AVRT) :
Bundle of Kent
Merupakan jalur aksesori klasik yang terdapat diantara atrium kanan dengan
ventrikel kanan, dan atrium kiri dengan ventrikel kiri.
Gambar 2.
Bundle of
kent
James fibers, atrionodal tracts
Menghubungkan atrium dengan distal atau compact AV node (Lown-GonongLevine syndrome and enchanced atrioventricular nodal conduction).
Gambar 3. James fibers, atrionodal tracts
Brechenmacher fibers (Atrio-Hisian tracts)
Menghubungkan atrium dengan jalur His
Gambar 4. Brechenmacher fibers (atrio - Hisian tracts)
Mahaim fibers-Hisian-fascicular tracts
Menghubungkan atrium (atriofascicular pathways), AV node (nodofascicular
pathways) atau His bundle (fasciculoventricular) menuju serat purkinye distal atau
ventricular miokardium.
Gambar 5. Mahaim fibers-Hisian-fascicular tracts
C. Definisi
Atrioventricular Reentrant Tachycardia (AVRT) adalah kondisi yang dikenal
sebagai takikardia supraventricular paroksismal. Atrioventricular Reentrant Tachycardia
adalah suatu mekanisme takikardia melalui sistem pemasukan kembali (reentrant)
dengan sirkuit yang nyata yang terdiri dari 2 jalur yang berbeda, konduksi sistem AV
normal dan jalur aksesoris AV dihubungkan dengan jaringan atrium dan ventrikel.1
Kelainan yang tampak pada EKG adalah takikardi dengan kompleks QRS yang sempit
dengan gelombang P yang timbul segera setelah kompleks QRS dan terbalik. Pada jenis
yang antidromik konduksi antegrad terjadi pada jaras tambahan sedangkan konduksi
retrograde terjadi pada jaras his-purkinye. Kelainan pada EKG yang tampak adalah
takikardi dengan kompleks QRS yang lebar dengan gelombang P yang terbalik dan
timbul pada jarak yang jauh setelah kompleks QRS. 5 Jenis ini lebih dikenal dengan
sindrom Wolff Parkinson White (WPW).6
D. Etiologi
Atrioventricular
Reentrant
Tachycardia
merupakan
takikardi
yang
amat
bergantung pada keberadaan jaras tambahan (accessory pathway) dan melibatkan
ventrikel dalam sirkuit takikardi. Pasien dengan AVRT dilahirkan memiliki jaras
tambahan (accessory pathway) oleh karena perkembangan embrio yang tidak lengkap
dari anulus AV serta kegagalan pemisahan fibrosa antara atrium dan ventrikel. Sehingga
takikardi dapat muncul pada usia neonatus, kanak-kanak, dan dewasa. Jaras tambahan
tersebut menghubungkan permukaan epikardia atrium dengan ventrikel sepanjang
sulkus atrioventrikular. AP terjadi di salah satu katup anulus AV atau septum, yang
paling sering antara atrium kiri dan dinding bebas dari ventrikel kiri, diikuti oleh
posteroseptal, dinding bebas ventrikel kanan, dan lokasi anteroseptal.1,3
E. Patofisiologi
1. Ortodromik AVRT
Merupakan bentuk AVRT yang paling sering ditemui pada sindrom Wolf
Parkinson White (WPW), terutama pada penderita usia muda. Pada AVRT
jenis orthodromik, konduksi antegrad terjadi pada jaras his purkinye
yang merupakan jalur normal yaitu nodus AV (slow conduction)
sedangkan konduksi retrograd terjadi pada jaras tambahan yang cepat
(fast conduction). Kelainan yang tampak pada EKG adalah takikardi
dengan kompleks QRS yang sempit, gelombang delta yang tidak tampak
7
selama timbul takikardia, dengan gelombang p yang timbul segera
setelah kompleks QRS dan terbalik . Frekuensi jantung berkisar 170-250
kali/menit.
2. Antidromik AVRT
Merupakan bentuk AVRT yang jarang ditemui. Konduksi antegrade
melewati jalur konduksi tambahan dan konduksi retrograde melalui jalur
konduksi nodus AV (jaras his-purkinye) . Hal ini akan memberikan gambaran
Kelainan pada EKG tampak adalah takikardi dengan kompleks QRS
yang lebar dengan gelombang p yang terbalik dan timbul pada jarak
yang lebih jauh setelah kompleks QRS. 3 , 5 , 7
Gambar 6. Tipe Konduksi dan gambaran EKG pada antidromik dan orthodromik
8
F. Gejala Klinis
Pasien dengan Sindrom Wolff Parkinson White dapat mengalami keluhan palpitasi
secara mendadak, dan terkadang dapat terjadi perubahan tekanan darah. Akibat
perubahan tekanan darah inilah pasien dengan Sindrom Wolff Parkinson White dapat
mengalami sakit kepala, lemas sampai sinkop. Pada beberapa pasien, serangan biasanya
menimbulkan sedikit gejala, tetapi detak jantung cepat membuat tidak nyaman. 7,8,9
G. Diagnosis
1. Anamnesis
Dalam
menganamesis
pasien
dengan
SVT,
klinisi
harus
mengetahui durasi dan frekuensi episode SVT, onset, penyakit
jantung sebelumnya, dan hal-hal yang dapat memicu terjadinya SVT
(alkohol,
kafein,
pergerakan
yang
tiba-tiba,
stress
emosional,
kelelahan, dan pengobatan). 7
Dengan adanya gejala yang khas pada anamnesis yaitu onset
yang tiba-tiba, cepat, palpitasi yang reguler, dapat ditegakkan
diagnosis SVT tanpa dibutuhkannya pemeriksaan EKG berulang.
Adapun
pasien yang mengalami onset SVT yang tidak tiba-tiba
sering kali mengalami misdiagnosis dengan gangguan panik. 7
2. Pemeriksaan Fisik
Pasien sering merasa terganggu dan mungkin takikardi satusatunya yang dijumpai pada pasien sehat dan memiliki hemodinamik
yang
baik.
Sedangkan
pada
pasien
yang
memiliki
gangguan
hemodinamik dapat dijumpai takipneu dan hipotensi. 7
3. Pemeriksaan Penunjang
Elektrokardiografi (EKG)
Presentasi EKG pada pasien dengan AVRT harus diperhatikan
ada atau tidaknya gelombang delta ( slurred upstroke at the onset of
QRS complex), yang mengindikasi adanya jalur tambahan ( accessory
pathway).
Ciri
Gelombang
Delta:
PR
interval
pendek,
QRS
memanjang, terdapat delta wave. 7
H. Tatalaksana
1.
Terapi obat anti aritmia
Obat anti aritmia bekerja dengan cara memperlambat waktu konduksi
menuju AV node. Dengan pemberian anti aritmia dapat memutuskan
sirkuit reentry dan mengembalikan ke irama sinus normal pada
paroksismal SVT. Contoh obat : Adenosine, dengan pemberian bolus IV
6 mg. 5,7,8
2. Calcium channel blockers.
Calcium channel blockers mencegah calsium untuk masuk ke dalam sel
yang akan menghantarkan sinyal listrik. Obat ini dapat digunakan sebagai
pencegahan episode AVRT. Diberikan secara IV untuk penghentian
serangan akut dan secara per-oral untuk mencegah terjadinya serangan
berulang. Contoh obat : Verapamil 5-10 mg secara IV dimasukkan
perlahan-lahan. 5,7,8
3. Ablasi radiofrekuensi kateter.
Ablasi kateter radiofrekuensi adalah melakukan destruksi pada jaringan
di jantung dengan menggunakan energi radiofrekuensi. Selama ablasi,
kateter dengan elektroda diletakaan di area jaringan jantung atau di area
10
accesorys pathway yang menyebabkan aritmia. Kateter tersebut
mengalirkan energi untuk merusak atau menghancurkan jaringan tersebut
yang mengganggu transmisi normal impuls sistem listrik jantung. Dengan
menggunakan metode ini pada sebagian besar kasus dapat mengobati
AVRT. Kateter ablasi sangat dianjurkan untuk pasien dengan episode
berulang atau ketika terapi awal tidak efektif, tidak dapat ditoleransi, atau
pasien yang mempunyai pekerjaannya seperti pilot, supir bus, dan lainlain. 5,7,8
Gambar 7. Ablasi Kateter AVRT
I. Prognosis
Pasien dengan sindrom WPW memiliki risiko kecil untuk
mengalami kematian mendadak . Jika tidak, prognosis pada SVT
tergantung pada penyakit jantung struktural yang mendasari.
11
Pasien
dengan
struktural
jantung
yang
normal
memiliki
prognosis yang sangat baik . 8
BAB III
KESIMPULAN
Atrioventricular Reentrant Tachycardia (AVRT) merupakan salah satu bagian dari
Supraventricular Tachycardia (SVT) atau suatu takiaritmia yang menggunakan AP dan konduksi
normal, dengan mekanisme reentry. AVRT disebabkan oleh adanya accessory pathway dan
12
unilateral block sehingga menimbulkan sirkuit berulang. Terdapat dua jenis AVRT yaitu jenis
ortodromik dan antidromik. Dengan melakukan anamnesa dan pemeriksaan yang baik maka
diagnosa dapat ditegakkan. Tatalaksana pada AVRT menggunakan medikamentosa dan ablasi
kateter.
DAFTAR PUSTAKA
1. Buku Ajar IPD edisi 5, Interna Publishing, Jakarta 2009:1644-1651
2. Snell, Richard S. 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran : alih bahasa
Liliana Sugiharto ; Ed 6. EGC : Jakarta.
3. Wang, Paul J dan N.A. Mark Estes II. Supraventricular Tachycardia. Website
[Link] Accessed August 23th, 2015
13
4. Guyton Arthur C, Hall John E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11 : 136-140,
2007. Jakarta : ECG.
5. Wilson Jean D, Martin Joseph B. Atrioventricular Reentrant Tachycardia. 2010.
Diunduh dari [Link]
6. Luigi Di Biase, Edward P Walsh. Epidemiology, Clinical Manifestation, and
Diagnosis of the Wolf Parkinson White Syndrom. 2014. Diunduh dari
[Link]
7. Washington Heart Rhythm Associates. AV Reentry Tachycardia (AVRT). 2014.
Diunduh dari : [Link] . Accessed
August 23th, 2015
8. Gugneja,
Monika.
9.
Paroxysmal
Supraventricular
Tachycardia.
Website
[Link] Accessed August 23th, 2015
David C. Dugdale, III, MD, Professor of Medicine. Wolff Parkinson White
Syndrome.
2012.
Diunduh
dari
[Link]
14