Rehabilitasi Medik Pasien Hematemesis dan CHF
Rehabilitasi Medik Pasien Hematemesis dan CHF
Oleh :
RISANDY DITIA WIDHANI
G99141104
Pembimbing :
dr. Desy Kurniawati T., Sp. KFR
I.
ANAMNESIS
A. Identitas Pasien
Nama
: Tn. K
Umur
: 54 tahun
Jenis kelamin
: laki-laki
Agama
: Islam
Pekerjaan
: Pendagang
Alamat
Status perkawinan
: Menikah
: 10 Nopember 2014
Bangsal
: Melati 3/ 15A
No RM
: 01278063
B. Keluhan Utama
Nyeri pada kedua kaki & lutut
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh lemas (+)
dirasakan terus menerus tidak berkurang dengan istirahat, gliyer (+). Mual (-),
muntah (-). Riwayat transfusi darah 5 kolf di RS Cepu. BAB hitam (+) sejak 2
minggu yang lalu. Kedua lutut sulit digerakkan.
Pasien mengeluh BAB hitam sejak 1 minggu sebelum masuk rumah
sakit. BAB hitam dirasakan hilang timbul dengan frekuensi 1-3x/hari. BAB
berwarna hitam lengket seperti petis bercampur dengan feses, berbau amis.
Pasien mengaku volume BAB +/- gelas belimbing.
Pasien juga mnegeluhkan muntah bercampur darah segar 1x. Pasien
juga mengeluh lemas badan. Lemas dirasakan terus menerus makin lama
makin memberat terutama dengan aktifitas. Lemas tidak berkurang dengan
istirahat dan pemberian makanan.
Sejak 1 tahun yang lalu pasien mengeluh nyeri perut terutama di ulu
hati yang dirasakan hilang timbul. Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk,
memberat dengan pemberian makanan, berkurang dengan pemberian obat
maag yang dibeli sendiri. Pasien juga mengeluhkan sesak napas hilang timbul
terutama saat aktifitas berkurang dengan istirahat. Pasien tidur dengan 1
bantal. Bengkak dikedua kaki kaki timbul saat bearktifitas seperti berjalan
kaki, kemudian hilang dengan istirahat.
Pasien juga mengeluhkan nyeri di kedua lutut kanan dan kiri, serta
kedua kakinya sejak 3 tahun yang lalu. Nyeri dirasakan hilang timbul, kaku,
dan pergerakannya terbatas. Pasien dapat berjalan dan kadang-kadang harus
dengan bantuan. Nyeri berkurang dengan obat anti nyeri yang dibeli sendiri.
Pada saat dilakukan pemeriksaan pada tanggal 10 Nopember 2014
nyeri kedua lutut dirasa semakin bertambah, kaku sendi (+), keterbatasan
ROM (+), krepitasi (+),
Riwayat hepatitis B
: (+)
: (+)
Riwayat DM
: disangkal
Riwayat alergi
: disangkal
Riwayat asma
: disangkal
Riwayat trauma
: disangkal
Riwayat mondok
Riwayat terapi
: PRC 5 kolf
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
3
Riwayat asma
: disangkal
F. Riwayat Kebiasaan
Riwayat merokok
: disangkal
: disangkal
Riwayat olahraga
: disangkal
II.
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan umum lemah, GCS E4V5M6, gizi kesan cukup, skala nyeri: 3
Tanda Vital
Tekanan Darah
: 140/80 mmHg
Nadi
Respirasi
: 20x / menit
Suhu
Kulit
Warna sawo matang, pucat (+), ikterik (-), petechie (-), venectasi (-), spider
naevi (-), striae (-), hiperpigmentasi (-), hipopigmentasi (-)
Kepala
Bentuk kepala mesochepal, kedudukan kepala simetris, luka (-), rambut hitam,
mudah rontok, mudah dicabut, atrofi otot (-).
Mata
Conjunctiva pucat (+/+), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya langsung dan tak
lansung (+/+), pupil isokor (3mm/3mm), oedem palpebra (-/-), sekret (-/-)
Hidung
Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), darah (-/-), sekret (-/-)
Telinga
Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-)
Mulut
Bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), lidah
simetris, lidah tremor (-), stomatitis (-), mukosa pucat (-), gusi berdarah (-).
Leher
Simetris, trakea di tengah, JVP R+4 cm, kelenjar getah bening tidak
membesar, nyeri tekan (-), benjolan (-)
Thorax
Retraksi (-), bentuk barrel chest, simetris
Jantung
Inspeksi
: Ictus Cordis tidak tampak
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Paru
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
: sonor/sonor
Auskultasi
Trunk
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Abdomen
5
Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
: Asites (+), nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
Perkusi
Ektremitas
Oedem
Akral dingin
Atrofi otot (+/+), Kemerahan (-/-), deformitas (-/-), edema pada genu D/S (+).
Palpasi
Patella tap test (+), hangat pada genu D/S (+), nyeri tekan genu D/S (+)
Auskultasi
didapatkan krepitasi (+) pada genu D/S
Status Psikiatri
Deskripsi Umum
1. Penampilan : Pria, tampak sesuai umur, perawatan diri kurang
2. Kesadaran : Compos mentis
3. Perilaku dan Aktivitas Motorik : Normoaktif
4. Pembicaraan : Normal
6
: Appropiate
Mood
: Eutimik
Gangguan Persepsi
Halusinasi
: (-)
Ilusi
: (-)
Proses Pikir
Bentuk
: realistik
Isi
: waham (-)
Arus
: koheren
: baik
Orientasi
: Orang
: baik
Waktu
: baik
Tempat
: baik
Daya Ingat
: Jangka panjang
: baik
Jangka pendek
: baik
Daya Nilai
Insight
: Baik
Status Neurologis
Kesadaran
: GCS E4V5M6
Fungsi Luhur
Fungsi Vegetatif
Nervus Cranialis
Fungsi Sensorik
7
- Rasa Eksteroseptik
- Rasa Propioseptik
- Rasa Kortikal
Kekuatan
Tonus
[Link]
[Link]
+2
+2
+2
+2
Range of Motion
NECK
ROM Pasif
ROM Aktif
Fleksi
0 - 70
0 - 70
Ekstensi
0 - 40
0 - 40
0 - 60
0 - 60
0 - 60
0 - 60
Rotasi kanan
0 - 90
0 - 90
Rotasi kiri
0 - 90
0 - 90
Ektremitas Superior
Shoulder
Elbow
ROM Pasif
ROM Aktif
Dekstra
Sinistra
Dekstra
Sinistra
Fleksi
0-90
0-90
0-90
0-90
Ektensi
0-50
0-50
0-50
0-50
Abduksi
0-180
0-180
0-180
0-180
Adduksi
0-75
0-75
0-75
0-75
Eksternal Rotasi
0-90
0-90
0-90
0-90
Internal Rotasi
0-90
0-90
0-90
0-90
Fleksi
0-150
0-150
0-150
0-150
Ekstensi
Pronasi
0-90
0-90
0-90
0-90
Supinasi
0-90
0-90
0-90
0-90
Wrist
Finger
Trunk
Fleksi
0-90
0-90
0-90
0-90
Ekstensi
0-70
0-70
0-70
0-70
Ulnar Deviasi
0-30
0-30
0-30
0-30
Radius deviasi
0-20
0-20
0-20
0-20
MCP I Fleksi
0-50
0-50
0-50
0-50
0-90
0-90
0-90
0-90
0-90
0-90
0-90
0-90
0-100
0-100
0-100
0-100
MCP I Ekstensi
0-30
0-30
0-30
0-30
Fleksi
0-90
0-90
0-90
0-90
Ekstensi
0-30
0-30
0-30
0-30
Lateral
0-35
0-35
0-35
0-35
Lateral
0-35
0-35
0-35
0-35
Right
Bending
Left
Bending
Ektremitas Inferior
Hip
Knee
Ankle
ROM Pasif
ROM Aktif
Dekstra
Sinistra
Dekstra
Sinistra
Fleksi
0-120
0-120
0-120
0-120
Ektensi
0-30
0-30
0-30
0-30
Abduksi
0-45
0-45
0-45
0-45
Adduksi
0-45
0-45
0-45
0-45
Eksorotasi
0-30
0-30
0-30
0-30
Endorotasi
0-30
0-30
0-30
0-30
Fleksi
0-95
0-100
0-90
0-95
Ekstensi
0 - 5
0- 5
0 - 5
0- 5
Dorsofleksi
0-30
0-30
0-30
0-30
Plantarfleksi
0-30
0-30
0-30
0-30
Eversi
0-50
0-50
0-50
0-50
Inversi
0-40
0-40
0-40
0-40
NECK
Fleksor M. Sternocleidomastoideum
Ekstensor M. Sternocleidomastoideum
TRUNK
Fleksor
M. Rectus Abdominis
Thoracic group
Lumbal group
Rotator
Pelvic Elevation
M. Quadratus Lumbaris
Ektensor
Dekst
Sinist
ra
ra
M. Deltoideus anterior
M. Bisepss anterior
M. Deltoideu
M. Teres Mayor
M. Deltoideus
M. Biseps
M. Latissimus dorsi
M. Pectoralis mayor
M. Latissimus dorsi
M. Pectoralis mayor
Eksternal
M. Teres mayor
Rotasi
M. Infra supinatus
M. Biseps
M. Brachilais
Eksternsor
M. Triseps
Supinator
M. Supinatus
Pronator
M. Pronator teres
Fleksor
Ekstensor
M. Ekstensor digitorum
Ektremitas Superior
Fleksor
Ekstensor
Abduktor
Shoulder
Adduktor
Internal Rotasi
Fleksor
Elbow
Wrist
10
Finger
Abduktor
Adduktor
Fleksor
M. Fleksor digitorum
Ekstensor
M. Ekstensor digitorum
Dekst
Sinist
ra
ra
Ektremitas Inferior
Hip
Knee
Ankle
No
Fleksor
M. Psoas mayor
Ekstensor
M. Gluteus maksimus
Abduktor
M. Gluteus medius
Adduktor
M. Adduktor longus
Fleksor
Hamstring muscle
Ekstensor
Quadriceps femoris
Fleksor
M. Tibialis
Ekstensor
M. Soleus
Aktifitas
Keterangan
Skor
.
1
Makan
Tanpa dibantu makan dengan normal
Makan dengan dibantu sebagian
(disuapi,dibantu memotong,dll)
Dibantu seluruhnya
5
0
Perawatan diri
Tanpa dibantu untuk menyisir, berhias,
Ketergantungan total
25-45
:
baju,
10
5
11
Ketergantungan
sedang
80-95
Ketergantungan
ringan
100: mandiri
memakai
0-20
Ketergantungan Berat
5075:
Mandi
Tanpa dibantu
Dibantu
Memakai pakaian
Tanpa
dibantu
dll
Dibantu
4
10
5
BAB
Kontinensia
Dibantu
Inkontinensia alvi
10
5
0
BAK
Kontinensia tanpa alat bantu
Kadang-kadang ngompol
Inkontinensia uri
10
5
0
10
Penggunaan toilet
Dapat membersihkan
dubur
tanpa
15
10
10
5
0
bisa duduk
Tidak dapat berpindah dan duduk
9
10
Mobilitas
Berjalan 16m boleh dengan alat bantu
15
10
10
5
minor
Imobile
10
Naik-turun tangga
Tanpa dibantu
Bantuan minor secara fisik/verbal
Dibantu
10
5
0
50
Ketergantungan
Sedang
Nilai
1
Sinistra
1. Nyeri diam
Nilai
1
2. Nyeri tekan
2. Nyeri tekan
3. Nyeri gerak
3. Nyeri gerak
12
: 6.2 g/dL
Hct
: 18 %
AE
: 2.05. 106 / UL
AL
AT
GDS
: 100 mg/dL
SGOT
: 37 u/L
SGPT
: 44 u/L
PT
: 13.8 detik
APTT
: 27.4 detik
Albumin
: 3.0 g/dL
Ureum
: 110 mg/dL
Kreatinin
: 2.3 mg/dL
Natrium
: 141 mmol/L
Kalium
: 3.8 mmol/L
Klorida
: 115 mmol/ L
Alignment baik
14
Kesimpulan
D. EKG
: (-)
: Keterbatasan melakukan kegiatan sehari-hari karena nyeri
pada kedua lutut dan kaki
: Terkadang membutuhkan bantuan untuk melakukan
3. Sosiomedik
kegiatan sehari-hari
4. Ortesa-protesa
5. Psikologi
6. Fisioterapi
: (-)
: Beban pikiran karena keterbatasan melakukan aktivitas sehari
- hari
: Mengurangi nyeri
V. PENATALAKSANAAN
Terapi Medikamentosa
1. Fisioterapi
:
-
2.
Speech Terapi
: (-)
3. Okupasi Terapi
sehari-hari
4. Sosiomedik : Memberi bantuan dalam upaya menyelesaikan
masalah sosial, ekonomi, dan emosional yang berkaitan
dengan penyakit pasien
5.
Ortesa-protesa
6. Psikologi
: (-)
: Psikoterapi suportif , mengurangi kecemasan pasien
C. Handicap
VII. PLANNING
Planning Diagnostik : Urin feses rutin, GDT, Retikulosit, Asam urat, USG
abdomen, Echocardiography, Cairan sinovial
Planning Terapi
Planning Edukasi
17
VIII. GOAL
IX. PROGNOSIS
Ad vitam
Ad sanam
: dubia ad bonam
: dubia et malam
18
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Etiologi
Gagal jantung seringkali berkembang akibat adanya beberapa kondisi tertentu
yang merusak atau melemahkan jantung, seperti:
Penyakit arteri koroner
Tekanan darah tinggi (hipertensi)
Kerusakan katup jantung
Kerusakan otot jantung (kardiomiopati)
Radang otot jantung (miokarditis)
Kelainan jantung bawaan
Aritmia jantung (irama jantung abnormal)
Penyakit
kronis
lainnya
seperti
diabetes,
anemia
19
berat,
3.
Gejala
Beberapa gejala yang terkait dengan gagal jantung, diantaranya:
Nyeri dada
Kelelahan dan lemas
Denyut jantung tidak teratur atau cepat
Sesak nafas (dyspnea)
Berkurangnya kemampuan dalam berolahraga
Batuk yang persisten
Pembengakakan di bagian perut dan kaki
Sulit berkonsentrasi
4. Diagnosis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
- Tes darah
- Foto thorax
- Elektrokardiografi (EKG)
20
- Ekokardiografi (Echo)
- Stress test
- Chest X-ray
- Jantung komputerisasi tomografi (CT) atau magnetic resonance
imaging (MRI)
5. Terapi
6. Pencegahan
21
7. Komplikasi
Berbagai macam komplikasi yang dapat muncul akibat gagal
jantung, diantaranya:
Kerusakan atau gagal ginjal
Gangguan pada katup jantung
Kerusakan hati
Serangan jantung dan stroke
Gagal jantung dapat mengancam jiwa dan menyebabkan kematian
mendadak.
65 74 th young old
75 84 th old old
22
85 th oldest old
8. Derajat CHF
Grade gagal jantung menurut New York Heart Association, terbagi
dalam 4 kelainan fungsional :
B. HEMATEMESIS MELENA
1. Definisi
Hematemesis adalah muntah darah berwama hitam yang berasal dan
saluran cerna bagian atas. Melena adalah buang air besar (BAB) berwarna hitam
ter yang berasal dan saluran cerna bagian atas.
Yang dimaksud dengan saluran cerna bagian atas adalah saluran cerna di
atas (proksimal) ligamentum Treitz, mulai dan jejunum proksimal, duodenum,
gaster dan esofagus.
2. Diagnosis
Muntah dan BAB darah wama hitam dengan sindrom dispepsia, bila ada
riwayat makan obat OAlNS, jamu pegal linu, alkohol yang menimbulkan
erosi/ulkus peptikum, riwayat sakit kuning/hepatitis. Keadaan umum pasien sakit
ringan sampai berat, dapat disertai gangguan kesadaran (prekoma / koma
hepatikum), dapat terjadi syok hipovolemik
3. Diagnosis Banding
Hemoptoe, hematoskezia
4. Pemeriksaan Penunjang
DPL, hemostasis lengkap atau masa perdarahan, masa pembekuan, masa
protrombin, elektrolit (Na, K, CI), pemeriksaan fungsi hati (cholinesterase,
albumin/globulin, SGOT/SGPT, petanda hepatitis B dan C), endoskopi SCBA
diagnostik atau foto rontgen OMD, USG hati.
5. Terapi.
23
sirosis hati
Untuk penyebab vanses : .
Somatostatin bolus 250 ug + drip 250 J,lg/jam intravena
atau okreotide (sandostatin) 0,1 mg/2 jam. Pemberian
diberikan sampai perdarahan berhenti atau bila mampu
diteruskan 3 hari setelah skleroterapilligasi varises
esofagus.
Propanolol, dimulai dosis 2 x 10 mg dosis dapat
ditingkatkan hingga diastolik turon 20 mmHg atau
denyut nadi turun 20% (setelah keadaan -) hematemesis
melena (-)
Isosorbid dinitrat/mononitrat 2 x 1 tablet/hari hingga
keadaan umum
Metoklorpramid 3 x 10 mg/hari
Bila ada gangguan hemostasis obati sesuai kelainan
Pada pasien dengan pecah varises/penyakit hati
kronik/sirosis hati diberikan
Laktulosa 4 x 1 sendok makan
Neomisin 4 x 500 mg Obat ini diberikan sampai
tinja normal.
Prosedur bedah dilakukan sebagai tindakan emergensi atau elektif. Bedah emergensi
di indikasikan bila pasien masuk dalam keadaan gawat I-II
6. Komplikasi
Syok hipovolemik. aspirasi pneumonia, gagal ginjal akut., sindrom
hepatorenal, koma hepatikum, anemia karena perdarahan
24
25
C. OSTEOARTHTRITIS
Osteoartritis (OA) adalah bentuk dari arthritis yang berhubungan dengan
degenerasi tulang dan kartilago yang paling sering terjadi pada usia lanjut.
Osteoartritis, yang juga disebut dengan penyakit sendi degeneratif, artritis
degeneratif, osteoartrosis, atau artritis hipertrofik, merupakan salah satu masalah
kedokteran yang paling sering terjadi dan menimbulkan gejala pada orang orang
usia lanjut maupun setengah baya. Terjadi pada orang dari segala etnis, lebih sering
mengenai wanita, dan merupakan penyebab tersering disabilitas jangka panjang pada
pasien dengan usia lebih dari 65 tahun. Lebih dari sepertiga orang dengan usia lebih
dari 45 tahun mengeluhkan gejala persendian yang bervariasi mulai sensasi kekakuan
sendi tertentu dan rasa nyeri intermiten yang berhubungan dengan aktivitas, sampai
kelumpuhan anggota gerak dan nyeri hebat yang menetap, biasanya dirasakan akibat
deformitas dan ketidakstabilan sendi. Degenerasi sendi yang menyebabkan sindrom
klinis osteoartritis muncul paling sering pada sendi tangan, kaki, panggul, dan spine,
meskipun dapat terjadi pada sendi synovial mana pun. Prevalensi kerusakan sendi
synovial ini meningkat dengan bertambahnya usia.
1. Definisi
Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi yang karakteristik dengan
menipisnya rawan sendi secara progresif, disertai dengan pembentukan tulang
baru pada trabekula subkondral dan terbentuknya rawan sendi dan tulang baru
pada tepi sendi (osteofit).
2. Etiologi
Osteoartritis seringkali terjadi tanpa diketahui sebabnya, yang disebut
dengan osteoartritis idiopatik. Pada kasus yang lebih jarang, osteoartritis dapat
terjadi akibat trauma pada sendi, infeksi, atau variasi herediter, perkembangan,
kelainan metabolik dan neurologik., yang disebut dengan osteoartritis sekunder.
Onset usia pada osteoartritis sekunder tergantung pada penyebabnya; maka dari
itu, penyakit ini dapat berkembang pada dewasa muda, dan bahkan anak-anak,
seperti halnya pada orang tua. Sebaliknya, terdapat hubungan yang kuat antara
osteoartritis primer dengan umur. Presentasi orang yang memiliki osteoartritis
pada 1 atau beberapa sendi meningkat dari dibawah 5% dari orang-orang dengan
26
usia antara 15-44 tahun menjadi 25%-30% pada orang-orang dengan usia 45-64
tahun, dan 60%-90% pada usia diatas 65 tahun. Selain hubungan erat ini dan
pandangan yang luas bahwa osteoartritis terjadi akibat proses wear & tear yang
normal dan kekakuan sendi pada orang-orang dengan usia diatas 65 tahun,
hubungan antara penggunaan sendi, penuaan, dan degenerasi sendi masih sulit
dijelaskan. Terlebih lagi, penggunaan sendi selama hidup tidak terbukti
menyebabkan degenerasi. Sehingga, osteoartritis bukan merupakan akibat
sederhana dari penggunaan sendi.
Meskipun akhiran itis menunjukkan bahwa osteoartritis merupakan suatu
penyakit inflamasi dan ada beberapa bukti sering terjadi sinovitis, inflamasi bukan
merupakan komponen utama dari kelainan yang terjadi pada pasien. Tidak seperti
kerusakan sendi yang disebabkam oleh inflamasi sinovial, osteoartritis merupakan
sekuen retrogresif dari perubahan sel dan matrik yang berakibat kerusakan
struktur dan fungsi kartilago artikuler, diikuti dengan reaksi perbaikan dan
remodeling tulang. Karena reaksi perbaikan dan remodeling tulang ini, degenerasi
permukaan artikuler pada osteoartritis tidak bersifat progresif, dan kecepatan
degenerasi sendi bervariasi pada tiap individu dan sendi. Osteoartritis sering
terjadi, tapi pada sebagian besar kasus osteoartritis berkembang lambat selama
bertahun-tahun, meskipun dapat menjadi stabil atau bahkan membaik dengan
spontan dengan restorasi parsial yang minimal dari permukaan sendi dan
pengurangan gejala.
Osteoartritis biasanya melibatkan semua jaringan yang membentuk sendi
sinovial, termasuk rawan sendi, tulang subchondral, tulang metafise, synovium,
ligamen, kapsul sendi, dan otot otot yang bekerja melalui sendi; tetapi
perubahan
primer
meliputi
kerusakan
rawan
sendi,
remodeling
tulang
27
degradasi
makromolekul
matriks,
atau
perubahan
Perubahan Tulang.
Perubahan tulang subchondral yang mengikuti degenerasi tulang
rawan sendi meliputi peningkatan densitas tulang subchondral, pembentukan
rongga-rongga yang menyerupai kista yang mengandung jaringan myxoid,
fibrous, atau kartilago. Respon ini muncul paling sering pada tepi sendi tempat
pertemuan
tulang
dan
tulang
rawan
yang
berbentuk
bulan
sabit
Jaringan Periartikuler.
Kerusakan tulang rawan sendi mengakibatkan perubahan sekunder
dari synovium, ligamen, kapsul, serta otot yang menggerakan sendi yang
terlibat. Membran sinovial sering mengalami reaksi inflamasi ringan serta
sedang dan dapat berisi fragmen-fragmen dari tulang rawan [Link]
lama ligamen, kapsul dan otot menjadi contracted. Kurangnya penggunaan
sendi dan penurunan ROM mengakibatkan atropi otot. Perubahan sekunder ini
sering mengakibatkan kekakuan sendi dan kelemahan tungkai.
Perubahan Patologi
Kartilago sendi biasanya licin, mengkilat, dan basah; pada sendi sehat,
kartilago melindungi permukaan yang bergerak satu sama lain dengan gesekan sekecil
mungkin, seperti gelas dengan gelas. Kartilago biasanya menyerap nutrisi dan
cairan seperti spons, dan ini dapat mempertahankan kartilago tetap sehat dan licin.
Pada OA, kartilago tidak mendapatkan nutrisi dan cairan yang dibutuhkan. Lamakelamaan kartilago dapat mengering dan retak, bukannya membuat gerakan halus
sepeti gelas pada gelas , kartilago yang kasar bergerak seperti kertas amplas dengan
kertas amplas lain. Pada kasus yang ekstrim habisnya kartilago menyebabkkan
terjadinya kontak antara tulang dengan tulang. Rasa sakit pada OA tidak ada
30
hubungannya dengan rusaknya kartilago tetapi timbul karena aktivasi dari nosiseptif
ujung-ujung saraf di dalam sendi oleh iritan mekanis ataupun kimiawi. Nyeri pada OA
dapat karena penggelembungan dari kapsul sinovial oleh peningkatan cairan sendi,
mikrofaktur, iritasi periosteal, atau kerusakan ligamen, sinovium, atau meniskus.
MANIFESTASI KLINIK OA
a. Umur
b. Gender
: Biasanya manula
: Umur <45 lebih banyak laki-laki
Umur >45 lebh banyak perempuan
Simptom
4. Lutut
Lutut adalah sendi utama penahan berat badan. Sebab itu lutut paling sering
terkena OA. Gejala: kaku, bengkak, sakit dan krepitus, sehingga
mengakibatkan kesulitan untuk berjalan, menaiki tangga, bangkit serta duduk
dll.
Bila tidak diobati, OA di lutut dapat mengakibabatkan cacat
Obat-obat, penurunan berat badan, olahraga, dan alat penyangga dapat
5. Panggul
Yang terasa sakit adalah daerah lipat paha, panggul, dan bokong; sakit pada
meningkatkan gerakan.
Pada kondisi yang parah, dapat dilakukan bedah panggul
32
6. Tulang Belakang
yang paling sering terkena adalah tulang belakang L3 dan L4.
Kaku dan nyeri di leher atau tulang belakang bagian bawah dapat disebabkan
4. Faktor Resiko
Predisposisi genetik dan kelemahan sendiri merupakan faktor resiko
osteoartritis sedangkan usia merupakan faktor resiko yang paling penting.
Bebannya mekanik yang mempengaruhi kemampuan sendi memperbaiki atau
mempertahankan dirinya juga merupakan faktor bentuk sendi post trauma,
instabilitas, atau alignment dan displasia sendi dapat menghasilkan tekanan
mekanik yang merusak permukaan sendi tulang rawan.
Usia
33
Riwayat Penyakit
Penelitian longitudinal meninjukkan bahwa selama beberapa puluh
tahun, pemeriksaan radiologi pasien dengan osteoartritis sendi panggul dan
lutut, tidak berkembang pada 1/3 sampai 2/3 pasien. Tidak terdapat hubungan
kuat antara perubahan radiografik dan klinis. Faktor lain yang sukar dinilai
adalah hubungan antara derajat degenerasi sendi dengan gejala yang
ditimbulkannya. Meskipun gejala osteoartritis utama yaitu nyeri dan kekakuan
sendi, muncul dari degenerasi sendi, tingkat keparahan kerusakan tulang
rawan tidak memiliki korelasi kuat dengan tingkat keparahan gejala. Pasien
dengan degenerasi sendi yang berat dapat merasakan nyeri yang minimal dan
ruang gerak yang luas, dan sebaliknya. Oleh karena itu, sangatlah penting
untuk membedakan riwayat klinis dan riwayat penyakit.
5. Diagnosis
Sindrom klinis osteoartritis muncul akibat degenerasi sendi synovial;
berupa kerusakan keseluruhan yang progresif dari tulang rawan sendi diikuti oleh
perbaikan, remodelling, dan sklerosis dari tulang subchondral, dan pada banyak
kasus terjadi kista subchondral dan osteofit submarginal. Selain perubahan sendi
synovial, yang biasanya dapat dibuktikan melalui foto rontgen, diagnosis sindrom
klinis osteoartritis harus disertai adanya nyeri sendi yang kronik. Banyak pasien
dengan osteoartritis juga mengalami keterbatasan gerakan, krepitasi dengan
34
gerakan, dan efusi sendi. Pada kondisi yang berat dapat terjadi deformitas tulang
dan subluksasi.
Sebagian besar pasien dengan osteoartritis datang dengan keluhan
nyeri sendi. Pasien sering menggambarkan nyeri yang dalam, ketidaknyamanan
yang sukar dilokalisasikan, yang telah dirasakan selama bertahun-tahun. Nyeri
dapat bertambah dengan perubahan cuaca, khususnya dalam cuaca dengan suhu
yang dingin, dan aktivitas. Nyeri yang berhubungan dengan aktivitas biasanya
terasa segera setelah penggunaan sendi dan nyeri dapat menetap selama berjamjam setelah aktivitas. Beberapa pasien pada awalnya memperhatikan adanya
gejala penyakit degeneratif sendi ini setelah trauma ringan sendi atau aktivitas
fisik yang berat, pada pemeriksaan radiologis dapat ditemukan perubahan
degenerasi sendi. Pada tahap lanjut, nyeri menjadi konstan hingga dapat
membangunkan pasien dari tidurnya. Selama degenerasi sendi berlanjut, pasien
dapat mengeluhkan nyeri yang tajam yang dipicu dengan gerakan. Pembesaran
sendi karena pembentukan osteofit dan deformitas muncul pada tahap akhir dari
penyakit.
Tanda awal osteoartritis meliputi penurunan kecepatan dan ruang gerak
aktif sendi. Keterbatasan gerakan dapat muncul akibat rusaknya kartilaggo
artikularis, kontraktur ligamen & kapsul sendi, kontraktur & spasme otot, osteofit,
atau adanya fragmen kartilago, tulang, atau meniskus intraartikuler. Pada palpasi
dapat ditemukan krepitasi, efusi, dan nyeri sendi.
Osteofit dapat menyebabkan tonjolan tulang yang dapat diraba dan
dilihat, kerusakan progresif kartilago artikuler dan tulang subchondral dapat
mengakibatkan luksasi sendi dan deformitas. Atrofi otot dapat terjadi pada kasus
osteoartritis yang sudah lama.
Osteoarthritis sering didiagnosis berdasar riwayat penyakit dan
pemeriksaan fisik. Perubahan perubahan yang nampak pada rontgen foto dapat
digunakan penunjang, namun hubungan antara klinis dan perubahan radiografis
bervariasi diantara pasien. Beberapa pasien dengan rontgen foto yang
menunjukkan kerusakan sendi berat mengeluhkan gejala yang ringan, sedangkan
pasien dengan rontgen foto yang menunjukkan kerusakan sendi minimal dapat
mengeluhkan nyeri yang hebat. Perubahan radiografis yang tampak pada
35
: osteoartritis berat dengan osteofit besar, deformitas ujung tulang, celah sendi
hilang, serta adanya sklerosis dan kista subkondral
36
6. TERAPI
Penatalaksanaan pasien OA dimulai dengan dasar diagnosis dari anamnesis
yang cermat, pemeriksaan fisik, temuan radiografi, penilaian sendi yang terkena.
Pengobatan harus direncanakan sesuai kebutuhan individual.
Tujuan terapi adalah :
o
o
o
o
37
Lini Pertama
Pengobatan OA yang ada saat ini barulah bersifat simptomatik dengan obat
anti inflamasi non steroid (OAINS) dikombinasi dengan program
rehabilitasi dan proteksi sendi. Pada stadium lanjut dapat dipikirkan
berbagai
tindakan
operatif.
Pengetahuan
tentang
patogenesis
OA
38
Lini Kedua
Penggunaan nutrisi seperti glukosamin dan chondroitin sulfat msih
controversial, pada penelitian masih belum menunjukkan hasil yang
bagus.
Injesi articular :
- Dengan kortikosteroid, dapat menurunkan rasa sakit pada jangka
waktu yang pendek
- Dengan asam hialuronat dapat menurunkan sedikit rasa sakit
Pemberian opioid dapat digunakan pada pasien dengan rasa sakit yang
sangat berat dan pasien yang tidak kooperatif.
39
40
41
Latihan Fisik
Penelitian menunjukkan bahwa latihan fisik adalah penyembuhan yang
paling baik untuk OA. Olahraga dapat meningkatkan suasana hati (mood) dan
harapan (outlook), mengurangi rasa sakit, meningkatkan fleksibilitas,
memperbaiki jantung dan aliran darah, menjaga berat badan, dan memperbaiki
kebugaran secara umum. Olahraga juga tidak mahal, bila dilakukan dengan
benar, tidak ada efek samping. Jumlah dan bentuk olahraga tergantung dari
persendian yang terlibat, kestabilan dan apakah sudah pernah dilakukan
pembedahan.3 Dengan latihan fisik secara teratur (penguatan, rentang
gerakan,
isometrik,
isotonik,
isokinetik,
postural),
kartilago
dapat
Geriatrics Society untuk latihan fisik bagi pasien OA. Lebih dianjurkan latihan
fisik isometrik dibandingkan dengan isotonik karena isotonik akan
memperburuk sendi yang terkena. Latihan fisik harus diajarkan kepada pasien
sebelum pasien mempraktekan di rumah. Latihan fisik sebaiknya dilakukan
tiga sampai empat kali sehari. Bila terasa sakit, kurangi pengulangan. Rujukan
kepada terapis fisik atau okupasi sangat dibutuhkan bagi pasien yang sudah
cacat fungsi sendinya. Terapis dapat menilai kekuatan otot, stabilitas sendi,
dan dapat merekomendasikan latihan fisik dan metoda untuk melindungi sendi
yang terkena, dari tekanan berlebihan. Terapis juga dapat memberikan alat
bantu seperti tongkat, bebat, dsb yang dipakai saat latihan fisik maupun
kegiatan sehari-hari. Latihan Fisik sebagai berikut :
Latihan Fisik Penyembuhan
Menjaga sendi bekerja sebaik mungkin
Latihan Fisik Aerobik :Meningkatkan kekuatan dan kebugaran, dan
mengontrol berat badan Pasien harus belajar melakukan latihan ini
secara benar, karena kalau tidak, justru dapat menimbulkan
masalah.
Contoh latihan fisik:
Latihan untuk menguatkan
o
o
o
o
o
o
44
45
Bidai hanya dipakai untuk masa terbatas sebab otot membutuhkan latihan
untuk mencegah kekakuan dan kelemahan
Pembedahan
Ada 2 tipe terapi pembedahan : Realignment osteotomi dan replacement joint
1.
Realignment osteotomi
Permukaan sendi direposisikan dengan cara memotong tulang dan merubah
sudut dari weightbearing. Tujuan : Membuat karilago sendi yang sehat
menopang sebagian besar berat tubuh. Dapat pula dikombinasikan dengan
ligamen atau meniscus repair.
2. Arthroplasty
Permukaan sendi yang arthritis dipindahkan, dan permukaan sendi yang
baru [Link] penunjang biasanya terbuat dari logam yang
berada dalam high-density polyethylene.
Macam-macam operasi sendi lutut untuk osteoarthritis :
o Partial replacement/unicompartemental
o High tibial osteotmy : orang muda
o Patella &condyle resurfacing
o Minimally constrained total replacement : stabilitas sendi dilakukan
sebagian oleh ligament asli dan sebagian oelh sendi buatan.
46
o Cinstrained joint : fixed hinges : dipakai bila ada tulang hilang dan severe
instability.
Indikasi total knee replacement :
Nyeri
Deformitas
Instability
Kontraindikasi :
Neuromuscular dysfunction
Infection
Neuropathic Joint
Komplikasi :
Infeksi
Loosening
Peroneal palsy
47
3. Koreksi deformitas
4. Menambah kekuatan kaki (dengan latihan)
5. Meningkatkan kualitas hidup
48
DAFTAR PUSTAKA
Altman R.D et al,. 2000. Recommendations for the Medical Management of Osteoarthritis of
the Hip and Knee, American College of Rheumatology vol 43:9.
American Geriatrics Society Panel on Exercise and Osteoarthritis, Exercise Prescription for
Older Adults with Osteoarthritis Pain; The American Geriatrics Society.
Barrack L, Booth E, et all. 2006. OKU : Orthopaedic Knowledge Update 3. Hip and Knee
Reconstruction Chapter 16 : Osteoarthritis dan Arthritis Inflamatoric.
Chapman, Michael W et al. 2001. Chapmans Orthopaedic Surgery 3rd edition. Chapter 107:
Osteotomies of The Knee For Osteoarthritis. Lippincott Williams & Wilkins. USA
Fransisca, Frank J et al. 2007. 5-Minutes Orthopaedic Consult 2nd edition. Lippincott
Williams & [Link]
Hansen K.E; Elliot M.E. 2005. Osteoarthritis, Pharmacotherapy, A Pathophysiological
Approach, McGraw-Hill. USA.
Isbagio, Harry. 2000. CDK: Struktur Rawan Sendi dan Perubahannya pada Osteoartritis.
Cermin Dunia Kedokteran.
National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases, Handout on Health:
Osteoarthritis, Bethesda MD, July 2002.
Price, Sylvia A. Wilson, Lorraine M (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Edisi 6 Volume 1 dan 2. Jakarta: EGC
Zegaria M.A., 2006. Osteoarthritisin Seniors, Key Elements in Disease Management, US
Pharmacist.
49