0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan49 halaman

Rehabilitasi Medik Pasien Hematemesis dan CHF

Pasien pria berusia 54 tahun dengan keluhan utama nyeri pada kedua kaki dan lutut, serta riwayat hematemesis melena dan CHF NYHA III yang dirawat di rumah sakit dengan diagnosis osteoartritis femuorotibial dan femuropatelar bilateral. Pemeriksaan fisik menunjukkan edema pada lutut kanan dan kiri serta keterbatasan ROM pada sendi lutut.

Diunggah oleh

Risandy Ditia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan49 halaman

Rehabilitasi Medik Pasien Hematemesis dan CHF

Pasien pria berusia 54 tahun dengan keluhan utama nyeri pada kedua kaki dan lutut, serta riwayat hematemesis melena dan CHF NYHA III yang dirawat di rumah sakit dengan diagnosis osteoartritis femuorotibial dan femuropatelar bilateral. Pemeriksaan fisik menunjukkan edema pada lutut kanan dan kiri serta keterbatasan ROM pada sendi lutut.

Diunggah oleh

Risandy Ditia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Presentasi Kasus Rehabilitasi Medik

SEORANG PRIA 54 TAHUN DENGAN HEMATEMESIS MELENA, CHF


NYHA III DAN OSTEOARTHRITIS FEMUROTIBIAL JOINT BILATERAL
DAN FEMUROPATELLAR JOINT DEKSTRA

Oleh :
RISANDY DITIA WIDHANI
G99141104

Pembimbing :
dr. Desy Kurniawati T., Sp. KFR

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN REHABILITASI MEDIK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD [Link]
SURAKARTA
2014
BAB I
STATUS PASIEN

I.

ANAMNESIS
A. Identitas Pasien
Nama

: Tn. K

Umur

: 54 tahun

Jenis kelamin

: laki-laki

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pendagang

Alamat

: Tambakromo RT/RW : 2/4 Cepu, Blora, Jawa Tengah

Status perkawinan

: Menikah

Tanggal masuk: 5 Nopember 2014


Tanggal periksa

: 10 Nopember 2014

Bangsal

: Melati 3/ 15A

No RM

: 01278063

B. Keluhan Utama
Nyeri pada kedua kaki & lutut
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh lemas (+)
dirasakan terus menerus tidak berkurang dengan istirahat, gliyer (+). Mual (-),
muntah (-). Riwayat transfusi darah 5 kolf di RS Cepu. BAB hitam (+) sejak 2
minggu yang lalu. Kedua lutut sulit digerakkan.
Pasien mengeluh BAB hitam sejak 1 minggu sebelum masuk rumah
sakit. BAB hitam dirasakan hilang timbul dengan frekuensi 1-3x/hari. BAB
berwarna hitam lengket seperti petis bercampur dengan feses, berbau amis.
Pasien mengaku volume BAB +/- gelas belimbing.
Pasien juga mnegeluhkan muntah bercampur darah segar 1x. Pasien
juga mengeluh lemas badan. Lemas dirasakan terus menerus makin lama
makin memberat terutama dengan aktifitas. Lemas tidak berkurang dengan
istirahat dan pemberian makanan.

Sejak 1 tahun yang lalu pasien mengeluh nyeri perut terutama di ulu
hati yang dirasakan hilang timbul. Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk,
memberat dengan pemberian makanan, berkurang dengan pemberian obat
maag yang dibeli sendiri. Pasien juga mengeluhkan sesak napas hilang timbul
terutama saat aktifitas berkurang dengan istirahat. Pasien tidur dengan 1
bantal. Bengkak dikedua kaki kaki timbul saat bearktifitas seperti berjalan
kaki, kemudian hilang dengan istirahat.
Pasien juga mengeluhkan nyeri di kedua lutut kanan dan kiri, serta
kedua kakinya sejak 3 tahun yang lalu. Nyeri dirasakan hilang timbul, kaku,
dan pergerakannya terbatas. Pasien dapat berjalan dan kadang-kadang harus
dengan bantuan. Nyeri berkurang dengan obat anti nyeri yang dibeli sendiri.
Pada saat dilakukan pemeriksaan pada tanggal 10 Nopember 2014
nyeri kedua lutut dirasa semakin bertambah, kaku sendi (+), keterbatasan
ROM (+), krepitasi (+),

D. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat Hipertensi

: (+) 6 bulan yang lalu

Riwayat hepatitis B

: 20 tahun yang lalu

Riwayat batu ginjal

: (+)

Riwayat sakit maag

: (+)

Riwayat DM

: disangkal

Riwayat alergi

: disangkal

Riwayat asma

: disangkal

Riwayat trauma

: disangkal

Riwayat mondok

: RS Cepu 5 tahun yang lalu

Riwayat terapi

: PRC 5 kolf

E. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat sakit serupa

: disangkal

Riwayat tensi tinggi

: disangkal

Riwayat sakit gula

: disangkal

Riwayat penyakit jantung

: disangkal
3

Riwayat asma

: disangkal

F. Riwayat Kebiasaan
Riwayat merokok

: disangkal

Riwayat minum alkohol

: disangkal

Riwayat minum obat-obatan

: (+) penghilang rasa nyeri

Riwayat olahraga

: disangkal

G. Riwayat Sosial Ekonomi


Penderita makan sehari tiga kali, porsi sedang dengan lauk pauk tempe, tahu,
telur, ikan, kadang-kadang daging ayam atau sapi. Penderita tidak punya
kegemaran khusus pada makanan-makanan tertentu. Pasien berobat di RSUD
Moewardi dengan fasilitas BPJS.

II.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan umum lemah, GCS E4V5M6, gizi kesan cukup, skala nyeri: 3

Tanda Vital
Tekanan Darah

: 140/80 mmHg

Nadi

: 100x / menit, isi cukup, irama teratur, simetris

Respirasi

: 20x / menit

Suhu

: 36,5 C per aksiler

Kulit
Warna sawo matang, pucat (+), ikterik (-), petechie (-), venectasi (-), spider
naevi (-), striae (-), hiperpigmentasi (-), hipopigmentasi (-)

Kepala
Bentuk kepala mesochepal, kedudukan kepala simetris, luka (-), rambut hitam,
mudah rontok, mudah dicabut, atrofi otot (-).

Mata

Conjunctiva pucat (+/+), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya langsung dan tak
lansung (+/+), pupil isokor (3mm/3mm), oedem palpebra (-/-), sekret (-/-)

Hidung
Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), darah (-/-), sekret (-/-)

Telinga
Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-)

Mulut
Bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), lidah
simetris, lidah tremor (-), stomatitis (-), mukosa pucat (-), gusi berdarah (-).
Leher
Simetris, trakea di tengah, JVP R+4 cm, kelenjar getah bening tidak
membesar, nyeri tekan (-), benjolan (-)

Thorax
Retraksi (-), bentuk barrel chest, simetris
Jantung
Inspeksi
: Ictus Cordis tidak tampak
Palpasi

: Ictus Cordis tidak kuat angkat

Perkusi

: Konfigurasi Jantung kesan melebar caudolateral

Auskultasi

: Bunyi Jantung I dan II intensitas normal, reguler,


bising (-)

Paru
Inspeksi

: Pengembangan dada kanan = kiri

Palpasi

: Fremitus raba kanan = kiri

Perkusi

: sonor/sonor

Auskultasi

: SDV (+/+), suara tambahan (-/-)

Trunk
Inspeksi

: deformitas (-), skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-)

Palpasi

: massa (-), nyeri tekan (-), oedem (-)

Perkusi

: nyeri ketok kostovertebrae (-)

Abdomen
5

Inspeksi

: Dinding perut tidak sejajar dinding dada

Auskultasi

: Peristaltik (+) normal

Palpasi

: Asites (+), nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

: Tympani, pekak beralih (+)

Ektremitas
Oedem

Akral dingin

Status lokalis, pada pemeriksaan


Ektremitas inferior :
Inspeksi

Atrofi otot (+/+), Kemerahan (-/-), deformitas (-/-), edema pada genu D/S (+).
Palpasi

Patella tap test (+), hangat pada genu D/S (+), nyeri tekan genu D/S (+)
Auskultasi
didapatkan krepitasi (+) pada genu D/S

Status Psikiatri
Deskripsi Umum
1. Penampilan : Pria, tampak sesuai umur, perawatan diri kurang
2. Kesadaran : Compos mentis
3. Perilaku dan Aktivitas Motorik : Normoaktif
4. Pembicaraan : Normal
6

5. Sikap terhadap Pemeriksa : Kooperatif, kontak mata cukup


Afek dan Mood
Afek

: Appropiate

Mood

: Eutimik

Gangguan Persepsi
Halusinasi

: (-)

Ilusi

: (-)

Proses Pikir
Bentuk

: realistik

Isi

: waham (-)

Arus

: koheren

Sensorium dan Kognitif


Daya konsentrasi

: baik

Orientasi

: Orang

: baik

Waktu

: baik

Tempat

: baik

Daya Ingat

: Jangka panjang

: baik

Jangka pendek

: baik

Daya Nilai

: Daya nilai realitas dan sosial baik

Insight

: Baik

Status Neurologis
Kesadaran

: GCS E4V5M6

Fungsi Luhur

: dalam batas normal

Fungsi Vegetatif

: dalam batas normal

Nervus Cranialis

: dalam batas normal

Fungsi Sensorik
7

- Rasa Eksteroseptik

: suhu, nyeri, dan raba dalam batas normal

- Rasa Propioseptik

: getar, posisi, dan tekan dalam batas normal

- Rasa Kortikal

: stereognosis, barognosis dalam batas normal

Fungsi Motorik dan Reflek

Kekuatan

Tonus

[Link]

[Link]

+2

+2

+2

+2

Range of Motion
NECK

ROM Pasif

ROM Aktif

Fleksi

0 - 70

0 - 70

Ekstensi

0 - 40

0 - 40

Lateral bending kanan

0 - 60

0 - 60

Lateral bending kiri

0 - 60

0 - 60

Rotasi kanan

0 - 90

0 - 90

Rotasi kiri

0 - 90

0 - 90

Ektremitas Superior

Shoulder

Elbow

ROM Pasif

ROM Aktif

Dekstra

Sinistra

Dekstra

Sinistra

Fleksi

0-90

0-90

0-90

0-90

Ektensi

0-50

0-50

0-50

0-50

Abduksi

0-180

0-180

0-180

0-180

Adduksi

0-75

0-75

0-75

0-75

Eksternal Rotasi

0-90

0-90

0-90

0-90

Internal Rotasi

0-90

0-90

0-90

0-90

Fleksi

0-150

0-150

0-150

0-150

Ekstensi

Pronasi

0-90

0-90

0-90

0-90

Supinasi

0-90

0-90

0-90

0-90

Wrist

Finger

Trunk

Fleksi

0-90

0-90

0-90

0-90

Ekstensi

0-70

0-70

0-70

0-70

Ulnar Deviasi

0-30

0-30

0-30

0-30

Radius deviasi

0-20

0-20

0-20

0-20

MCP I Fleksi

0-50

0-50

0-50

0-50

MCP II-IV fleksi

0-90

0-90

0-90

0-90

DIP II-V fleksi

0-90

0-90

0-90

0-90

PIP II-V fleksi

0-100

0-100

0-100

0-100

MCP I Ekstensi

0-30

0-30

0-30

0-30

Fleksi

0-90

0-90

0-90

0-90

Ekstensi

0-30

0-30

0-30

0-30

Lateral

0-35

0-35

0-35

0-35

Lateral

0-35

0-35

0-35

0-35

Right
Bending
Left
Bending

Ektremitas Inferior

Hip

Knee

Ankle

ROM Pasif

ROM Aktif

Dekstra

Sinistra

Dekstra

Sinistra

Fleksi

0-120

0-120

0-120

0-120

Ektensi

0-30

0-30

0-30

0-30

Abduksi

0-45

0-45

0-45

0-45

Adduksi

0-45

0-45

0-45

0-45

Eksorotasi

0-30

0-30

0-30

0-30

Endorotasi

0-30

0-30

0-30

0-30

Fleksi

0-95

0-100

0-90

0-95

Ekstensi

0 - 5

0- 5

0 - 5

0- 5

Dorsofleksi

0-30

0-30

0-30

0-30

Plantarfleksi

0-30

0-30

0-30

0-30

Eversi

0-50

0-50

0-50

0-50

Inversi

0-40

0-40

0-40

0-40

Manual Muscle Testing (MMT)

NECK
Fleksor M. Sternocleidomastoideum

Ekstensor M. Sternocleidomastoideum

TRUNK
Fleksor

M. Rectus Abdominis

Thoracic group

Lumbal group

Rotator

M. Obliquus Eksternus Abdominis

Pelvic Elevation

M. Quadratus Lumbaris

Ektensor

Dekst

Sinist

ra

ra

M. Deltoideus anterior

M. Bisepss anterior

M. Deltoideu

M. Teres Mayor

M. Deltoideus

M. Biseps

M. Latissimus dorsi

M. Pectoralis mayor

M. Latissimus dorsi

M. Pectoralis mayor

Eksternal

M. Teres mayor

Rotasi

M. Infra supinatus

M. Biseps

M. Brachilais

Eksternsor

M. Triseps

Supinator

M. Supinatus

Pronator

M. Pronator teres

Fleksor

M. Fleksor carpi radialis

Ekstensor

M. Ekstensor digitorum

Ektremitas Superior
Fleksor
Ekstensor
Abduktor
Shoulder
Adduktor
Internal Rotasi

Fleksor
Elbow

Wrist

10

Finger

Abduktor

M. Ekstensor carpi radialis

Adduktor

M. Ekstensor carpi ulnaris

Fleksor

M. Fleksor digitorum

Ekstensor

M. Ekstensor digitorum

Dekst

Sinist

ra

ra

Ektremitas Inferior
Hip

Knee
Ankle

No

Fleksor

M. Psoas mayor

Ekstensor

M. Gluteus maksimus

Abduktor

M. Gluteus medius

Adduktor

M. Adduktor longus

Fleksor

Hamstring muscle

Ekstensor

Quadriceps femoris

Fleksor

M. Tibialis

Ekstensor

M. Soleus

Index Barthel ( saat di Rumah Sakit)

Aktifitas

Keterangan

Skor

.
1

Makan
Tanpa dibantu makan dengan normal
Makan dengan dibantu sebagian
(disuapi,dibantu memotong,dll)
Dibantu seluruhnya

5
0

Perawatan diri
Tanpa dibantu untuk menyisir, berhias,

Ketergantungan total
25-45
:

baju,

memasang kancing, tali sepatu, dll)


Dibantu

10
5

11

Ketergantungan
sedang
80-95

Ketergantungan
ringan
100: mandiri

memakai

0-20

Ketergantungan Berat
5075:

Mandi
Tanpa dibantu
Dibantu

Memakai pakaian
Tanpa
dibantu

dll
Dibantu
4

10
5

BAB
Kontinensia
Dibantu
Inkontinensia alvi

10
5
0

BAK
Kontinensia tanpa alat bantu
Kadang-kadang ngompol
Inkontinensia uri

10
5
0

10

Penggunaan toilet
Dapat membersihkan

dubur

tanpa

mencemri baju, boleh berpegangan


Dibantu
8

Perpindahan dari kursi ke bed


Dari kursi roda tempat duduk
berbaring tanpa dibantu
Dengan bantuan minor/verbal
Bantuan mayor secara fisik, tapi masih

15

10

10
5
0

bisa duduk
Tidak dapat berpindah dan duduk
9

10

Mobilitas
Berjalan 16m boleh dengan alat bantu

15

10

kecual rolling walker, atau mengayuh


kursi roda sejauh 16m, berputar tanpa
dibantu
Menguasai alat bantu dengan bantuan

10
5

minor
Imobile
10

Naik-turun tangga
Tanpa dibantu
Bantuan minor secara fisik/verbal
Dibantu

10
5
0

Total ( Status ambulasi)

50

Ketergantungan
Sedang

Pengukuran Nyeri dengan VDS


Dekstra
1. Nyeri diam

Nilai
1

Sinistra
1. Nyeri diam

Nilai
1

2. Nyeri tekan

2. Nyeri tekan

3. Nyeri gerak

3. Nyeri gerak

12

II. PEMERIKSAAN PENUNJANG


A. Laboratorium Darah ( 5 Nopember 2014)
Hb

: 6.2 g/dL

Hct

: 18 %

AE

: 2.05. 106 / UL

AL

: 9.8 103 /UL

AT

: 206 103 /UL

GDS

: 100 mg/dL

SGOT

: 37 u/L

SGPT

: 44 u/L

PT

: 13.8 detik

APTT

: 27.4 detik

Albumin

: 3.0 g/dL

Ureum

: 110 mg/dL

Kreatinin

: 2.3 mg/dL

Natrium

: 141 mmol/L

Kalium

: 3.8 mmol/L

Klorida

: 115 mmol/ L

B. Foto Genu AP/Lat (5 Nopember 2014)

Alignment baik

Trabekulasi tulang normal

Subchondral bone layer tampak baik


13

Celah dan permukaan sendi dalam batas normal

Tampak osteofit pada condylus lateralis os tibia kanan kiri, margo


posteroinferior os patella kanan.

Tak tampak erosi/destruksi tulang

Tak tampak soft tissue mass/swealing

Kesimpulan : Osteoarthtritis femurotibial joint bilateral grade I dan femuropatellar


joint dekstra grade I (Keligren Lawren)

Gambar 1. Foto Genu AP/ Lat ( 5 Nopember 2014)

C. Foto Thorak PA (5 Nopember 2014)


Cor : Batas kiri jantung tertutup perselubungan, CTR tak valid dinilai
Pulmo: Tak tampak infiltrate di kedua lapang paru, corakan

bronkovaskuler normal, sinus costoprenicus kanan kiri tumpul


Hemidiaphragma kanan normal, kiri tertutup perselubungan
Trakhea di tengah
Sistema tulang baik

14

Kesimpulan

: Efusi Pleura bilateral

Gambar 2. Foto Thorak PA ( 5 Nopember 2014)

D. EKG

Gambar 3. EKG (5 Nopember 2014)


III. ASSESMENT

Hematemesis melena e.c nonvariceal bleeding dd variceal bleeding


Anemia normokromik normositik e.c pendarahan OCD
CHF NYHA III
Osteoarthtritis femurotibial joint bilateral grade I dan femuropatellar joint dekstra
grade I
15

IV. DAFTAR MASALAH


Masalah Medis

Hematemesis melena e.c nonvariceal bleeding dd variceal bleeding


Anemia normokromik normositik e.c pendarahan OCD
CHF NYHA III
Osteoarthtritis femurotibial joint bilateral grade I dan femuropatellar joint dekstra
grade I

Problem Rehabilitasi Medik


1. Speech Terapi
2. Okupasi Terapi

: (-)
: Keterbatasan melakukan kegiatan sehari-hari karena nyeri
pada kedua lutut dan kaki
: Terkadang membutuhkan bantuan untuk melakukan

3. Sosiomedik

kegiatan sehari-hari
4. Ortesa-protesa
5. Psikologi
6. Fisioterapi

: (-)
: Beban pikiran karena keterbatasan melakukan aktivitas sehari
- hari
: Mengurangi nyeri

V. PENATALAKSANAAN
Terapi Medikamentosa

Inf. NaCl 0.9% 20 tpm


Inj. Omeprazole bolus 80 mg dilarutkan
Inj. Furosemide 20 mg/ 12 jam
Transfusi PRC 2 kolf / haris/d Hb >= 9 g/dL
Diltiazem 3x30 mg
Captopril 3 x 12.5 mg
PCT 3 x 500 mg p.r.n
Asam folat 1x 2 mg
Ketosteril 3 x 1 mg
Rehabilitasi Medik

1. Fisioterapi

:
-

SWD ( Short Wave Diathermy)

Transcutaneus Elactrical Nerve Stimulation ( TENS )

Latihan active movement (AROM)


16

2.

Strengthening exercise otot quadriceps dan hamstring

Ankle Pumping exercise

Speech Terapi

: (-)
3. Okupasi Terapi

: Latihan dalam melakukan aktivitas

sehari-hari
4. Sosiomedik : Memberi bantuan dalam upaya menyelesaikan
masalah sosial, ekonomi, dan emosional yang berkaitan
dengan penyakit pasien
5.

Ortesa-protesa
6. Psikologi

: (-)
: Psikoterapi suportif , mengurangi kecemasan pasien

VI. IMPAIRMENT, DISABILITAS, dan HANDICAP


A. Impairment : CHF NYHA III , keterbatasan dalam ruang lingkup gerak sendi lutut.
B. Disabilitas

: Kemampuan pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari berkurang

C. Handicap

: Keterbatasan aktivitas sosial masyarakat karena rasa nyeri pada kedua


lutut dan kaki

VII. PLANNING
Planning Diagnostik : Urin feses rutin, GDT, Retikulosit, Asam urat, USG
abdomen, Echocardiography, Cairan sinovial
Planning Terapi

: AROM exercise, Quadricep exercise, ankle pumping


exercise

Planning Edukasi

- Penjelasan penyakit dan komplikasi yang bisa terjadi


- Penjelasan tujuan pemeriksaan dan tindakan yang dilakukan
- Edukasi untuk home exercise dan ketaatan untuk melakukan terapi
- Usahakan memakai deker pada lututnya pada saat beraktifitas untuk menjaga

17

efisiensi sendi lutut


- Dianjurkan pada pasien untuk membatasi yang mengakibatkan pembebanan
sendi lutut secara berlebihan
Planning Monitoring : Evaluasi hasil terapi.

VIII. GOAL

Perbaikan keadaan umum

Minimalisasi impairment, disabilitas, dan handicap pada pasien

Mengurangi nyeri, baik tekan maupun nyeri gerak

Meningkatkan dan memelihara kekuatan otot

Meningkatkan dan memelihara LGS

Mengurangi spasme pada otot quadriceps dan hamstring

Meningkatkan aktifitas ADL

Mengatasi masalah psikologis yang timbul akibat penyakit yang diderita


pasien

IX. PROGNOSIS
Ad vitam
Ad sanam

: dubia ad bonam
: dubia et malam

Ad fungsionam : dubia et bonam

18

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. GAGAL JANTUNG / Congestive Heart Failure (CHF)


1. Definisi
Gagal jantung, dikenal juga sebagai congestive heart failure (CHF), adalah
kondisi jantung yang tidak mampu memompa cukup darah untuk memenuhi
kebutuhan tubuh.
2.

Etiologi
Gagal jantung seringkali berkembang akibat adanya beberapa kondisi tertentu
yang merusak atau melemahkan jantung, seperti:
Penyakit arteri koroner
Tekanan darah tinggi (hipertensi)
Kerusakan katup jantung
Kerusakan otot jantung (kardiomiopati)
Radang otot jantung (miokarditis)
Kelainan jantung bawaan
Aritmia jantung (irama jantung abnormal)
Penyakit

kronis

lainnya

seperti

diabetes,

anemia

hipertiroidisme, hipotiroidisme, emfisema dan lupus

19

berat,

Adanya virus yang menyerang otot jantung, infeksi berat, reaksi


alergi, pembekuan darah di paru-paru, penggunaan obat tertentu

3.

Gejala
Beberapa gejala yang terkait dengan gagal jantung, diantaranya:
Nyeri dada
Kelelahan dan lemas
Denyut jantung tidak teratur atau cepat
Sesak nafas (dyspnea)
Berkurangnya kemampuan dalam berolahraga
Batuk yang persisten
Pembengakakan di bagian perut dan kaki
Sulit berkonsentrasi

4. Diagnosis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
- Tes darah
- Foto thorax
- Elektrokardiografi (EKG)

20

- Ekokardiografi (Echo)
- Stress test
- Chest X-ray
- Jantung komputerisasi tomografi (CT) atau magnetic resonance
imaging (MRI)

5. Terapi

Kombinasi obat pada pasien gagal jantung yang didasarkan pada


gejala yang muncul. Beberapa obat yang biasanya diberikan, antara
lain: angiotensin-converting enzym (ACE) inhibitor, angiotensin II
reseptor blocker, digoxin (lanoxin), beta blocker, diuretik, dan
antagonis aldosteron.
Tambahan obat untuk membantu pompa jantung dan meringankan
gejala, seperti nitrat untuk nyeri dada, statin untuk menurunkan
kolesterol, atau pengencer darah obat untuk mencegah pembekuan
darah.
Dalam beberapa kasus, direkomendasikan tindakan pembedahan
dan penanganan pada penyebab dasar gagal jantung seperti:
coronary bypass surgery, perbaikan atau penggantian katup
jantung, implantable cardioverter-defibrillators (ICDs), cardiac
resynchronization therapy (CRT) atau biventricular pacing,
memompa jantung (left ventricular assist devices, atau LVADs),
dan transplantasi jantung.

6. Pencegahan
21

Perubahan gaya hidup dapat dilakukan sebagai upaya


pencegahan gagal jantung, yaitu meliputi:
Hindari merokok dan konsumsi alkohol
Mengontrol kondisi tertentu, seperti tekanan darah tinggi
(hipertensi), kadar lemak darah tinggi, dan diabetes
Rutin olahraga
Pola makan sehat
Menjaga berat badan yang sehat
Hindari stres

7. Komplikasi
Berbagai macam komplikasi yang dapat muncul akibat gagal
jantung, diantaranya:
Kerusakan atau gagal ginjal
Gangguan pada katup jantung
Kerusakan hati
Serangan jantung dan stroke
Gagal jantung dapat mengancam jiwa dan menyebabkan kematian
mendadak.
65 74 th young old
75 84 th old old

22

85 th oldest old

8. Derajat CHF
Grade gagal jantung menurut New York Heart Association, terbagi
dalam 4 kelainan fungsional :

Derajat I : Timbul sesak pada aktifitas fisik berat

Derajat II : Timbul sesak pada aktifitas fisik sedang

Derajat III : Timbul sesak pada aktifitas fisik ringan

Derajat IV : Timbul sesak pada aktifitas fisik sangat ringan / istirahat

B. HEMATEMESIS MELENA
1. Definisi
Hematemesis adalah muntah darah berwama hitam yang berasal dan
saluran cerna bagian atas. Melena adalah buang air besar (BAB) berwarna hitam
ter yang berasal dan saluran cerna bagian atas.
Yang dimaksud dengan saluran cerna bagian atas adalah saluran cerna di
atas (proksimal) ligamentum Treitz, mulai dan jejunum proksimal, duodenum,
gaster dan esofagus.
2. Diagnosis
Muntah dan BAB darah wama hitam dengan sindrom dispepsia, bila ada
riwayat makan obat OAlNS, jamu pegal linu, alkohol yang menimbulkan
erosi/ulkus peptikum, riwayat sakit kuning/hepatitis. Keadaan umum pasien sakit
ringan sampai berat, dapat disertai gangguan kesadaran (prekoma / koma
hepatikum), dapat terjadi syok hipovolemik
3. Diagnosis Banding
Hemoptoe, hematoskezia
4. Pemeriksaan Penunjang
DPL, hemostasis lengkap atau masa perdarahan, masa pembekuan, masa
protrombin, elektrolit (Na, K, CI), pemeriksaan fungsi hati (cholinesterase,
albumin/globulin, SGOT/SGPT, petanda hepatitis B dan C), endoskopi SCBA
diagnostik atau foto rontgen OMD, USG hati.
5. Terapi.

23

a. Nonfarmakologis : tirah baring, puasa, diet hati lambung, pasang NGT


untuk dekompresi, pantau perdarahan
b. Farmakologis :
Transfusi darah PRC (sesuai perdarahan yang terjadi dan Hb). Pada
kasus vanses transfusi sampai dengan Hb 10gr%, pada kasus non

vanses transfusi sampai dengan Hb 12gr%.


Sementara menunggu darah dapat diberikan pengganti plasma
(misalnya dekstran / hemacel) atau NaCl 0,9% atau RL
Untuk penyebab non vanses :
Injeksi antagonis reseptor H2 atau penghambat pompa proton.
Sitoprotektor : Sukralfat 3-4 x I gram atau Teprenon 3 x I tab
Antasida
Injeksi vitamin K untuk pasien dengan penyakit hati kronis atau

sirosis hati
Untuk penyebab vanses : .
Somatostatin bolus 250 ug + drip 250 J,lg/jam intravena
atau okreotide (sandostatin) 0,1 mg/2 jam. Pemberian
diberikan sampai perdarahan berhenti atau bila mampu
diteruskan 3 hari setelah skleroterapilligasi varises

esofagus.
Propanolol, dimulai dosis 2 x 10 mg dosis dapat
ditingkatkan hingga diastolik turon 20 mmHg atau
denyut nadi turun 20% (setelah keadaan -) hematemesis

melena (-)
Isosorbid dinitrat/mononitrat 2 x 1 tablet/hari hingga

keadaan umum
Metoklorpramid 3 x 10 mg/hari
Bila ada gangguan hemostasis obati sesuai kelainan
Pada pasien dengan pecah varises/penyakit hati
kronik/sirosis hati diberikan
Laktulosa 4 x 1 sendok makan
Neomisin 4 x 500 mg Obat ini diberikan sampai

tinja normal.
Prosedur bedah dilakukan sebagai tindakan emergensi atau elektif. Bedah emergensi
di indikasikan bila pasien masuk dalam keadaan gawat I-II
6. Komplikasi
Syok hipovolemik. aspirasi pneumonia, gagal ginjal akut., sindrom
hepatorenal, koma hepatikum, anemia karena perdarahan

24

25

C. OSTEOARTHTRITIS
Osteoartritis (OA) adalah bentuk dari arthritis yang berhubungan dengan
degenerasi tulang dan kartilago yang paling sering terjadi pada usia lanjut.
Osteoartritis, yang juga disebut dengan penyakit sendi degeneratif, artritis
degeneratif, osteoartrosis, atau artritis hipertrofik, merupakan salah satu masalah
kedokteran yang paling sering terjadi dan menimbulkan gejala pada orang orang
usia lanjut maupun setengah baya. Terjadi pada orang dari segala etnis, lebih sering
mengenai wanita, dan merupakan penyebab tersering disabilitas jangka panjang pada
pasien dengan usia lebih dari 65 tahun. Lebih dari sepertiga orang dengan usia lebih
dari 45 tahun mengeluhkan gejala persendian yang bervariasi mulai sensasi kekakuan
sendi tertentu dan rasa nyeri intermiten yang berhubungan dengan aktivitas, sampai
kelumpuhan anggota gerak dan nyeri hebat yang menetap, biasanya dirasakan akibat
deformitas dan ketidakstabilan sendi. Degenerasi sendi yang menyebabkan sindrom
klinis osteoartritis muncul paling sering pada sendi tangan, kaki, panggul, dan spine,
meskipun dapat terjadi pada sendi synovial mana pun. Prevalensi kerusakan sendi
synovial ini meningkat dengan bertambahnya usia.
1. Definisi
Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi yang karakteristik dengan
menipisnya rawan sendi secara progresif, disertai dengan pembentukan tulang
baru pada trabekula subkondral dan terbentuknya rawan sendi dan tulang baru
pada tepi sendi (osteofit).
2. Etiologi
Osteoartritis seringkali terjadi tanpa diketahui sebabnya, yang disebut
dengan osteoartritis idiopatik. Pada kasus yang lebih jarang, osteoartritis dapat
terjadi akibat trauma pada sendi, infeksi, atau variasi herediter, perkembangan,
kelainan metabolik dan neurologik., yang disebut dengan osteoartritis sekunder.
Onset usia pada osteoartritis sekunder tergantung pada penyebabnya; maka dari
itu, penyakit ini dapat berkembang pada dewasa muda, dan bahkan anak-anak,
seperti halnya pada orang tua. Sebaliknya, terdapat hubungan yang kuat antara
osteoartritis primer dengan umur. Presentasi orang yang memiliki osteoartritis
pada 1 atau beberapa sendi meningkat dari dibawah 5% dari orang-orang dengan
26

usia antara 15-44 tahun menjadi 25%-30% pada orang-orang dengan usia 45-64
tahun, dan 60%-90% pada usia diatas 65 tahun. Selain hubungan erat ini dan
pandangan yang luas bahwa osteoartritis terjadi akibat proses wear & tear yang
normal dan kekakuan sendi pada orang-orang dengan usia diatas 65 tahun,
hubungan antara penggunaan sendi, penuaan, dan degenerasi sendi masih sulit
dijelaskan. Terlebih lagi, penggunaan sendi selama hidup tidak terbukti
menyebabkan degenerasi. Sehingga, osteoartritis bukan merupakan akibat
sederhana dari penggunaan sendi.
Meskipun akhiran itis menunjukkan bahwa osteoartritis merupakan suatu
penyakit inflamasi dan ada beberapa bukti sering terjadi sinovitis, inflamasi bukan
merupakan komponen utama dari kelainan yang terjadi pada pasien. Tidak seperti
kerusakan sendi yang disebabkam oleh inflamasi sinovial, osteoartritis merupakan
sekuen retrogresif dari perubahan sel dan matrik yang berakibat kerusakan
struktur dan fungsi kartilago artikuler, diikuti dengan reaksi perbaikan dan
remodeling tulang. Karena reaksi perbaikan dan remodeling tulang ini, degenerasi
permukaan artikuler pada osteoartritis tidak bersifat progresif, dan kecepatan
degenerasi sendi bervariasi pada tiap individu dan sendi. Osteoartritis sering
terjadi, tapi pada sebagian besar kasus osteoartritis berkembang lambat selama
bertahun-tahun, meskipun dapat menjadi stabil atau bahkan membaik dengan
spontan dengan restorasi parsial yang minimal dari permukaan sendi dan
pengurangan gejala.
Osteoartritis biasanya melibatkan semua jaringan yang membentuk sendi
sinovial, termasuk rawan sendi, tulang subchondral, tulang metafise, synovium,
ligamen, kapsul sendi, dan otot otot yang bekerja melalui sendi; tetapi
perubahan

primer

meliputi

kerusakan

rawan

sendi,

remodeling

tulang

subchondral, dan pembentukan osteofit.


Perubahan struktur tulang rawan sendiyang paling dini terlihat pada
osteoartritis adalah kerusakan atau fibrilasi zona superfisial sampai ke zona
transisional dan violasi oleh pembuluh darah tulang subchondral. Berberapa
peneliti memperkirakan bahwa kekakuan tulang subchondral menyebabkan dan
mempercepat degenerasi rawan sendi, dan progresi degenerasi kartilago
mengakibatkan kekakuan tulang subchondral, tapi beberapa peneliti lain

27

mengatakan bahwa kerusakan tulang rawan sendimeningkatkan stress pada tulang


subchondral yang menyebabkan remodeling tulang.
Degenerasi kartilago artikuler dan remodeling tulang subchondral muncul
pada pasien yang mengeluhkan gejala, dan kerusakan rawan sendilah yang
mengakibatkan kerusakan fungsi sendi. Walaupun insidens OA meningkat dengan
bertambahnya usia, ternyata proses OA bukan sekedar suatu proses wear and tear
yang terjadi pada sendi di sepanjang kehidupan. Dikatakan demikian karena
beberapa hal, sebagai berikut :
1) Perubahan biokimiawi rawan sendi pada tingkat molekuler yang terjadi akibat
proses menua berbeda dengan yang terjadi pada rawan sendi akibat OA.
2) Perubahan menyerupai OA dapat terjadi pada rawan sendi percobaan berusia
muda yang dirangsang dengan berbagai trauma seperti tekanan mekanik dan
zat kimia.
Penyebab OA bukan tunggal, OA merupakan gangguan yang disebabkan
oleh multifaktor, antara lain usia, mekanik, genetik, humoral dan faktor
kebudayaan. Menipisnya rawan sendi diawali dengan retak dan terbelahnya
permukaan sendi di beberapa tempat yang kemudian menyatu dan disebut sebagai
fibrilasi. Di lain pihak pada tulang akan terjadi pula perubahan sebagai reaksi
tubuh untuk memperbaiki kerusakan. Perubahan itu adalah penebalan tulang
subkondral dan pembentukan osteofit marginal, disusul kemudian dengan
perubahan komposisi molekular dan struktur tulang
3. Patogenesis
Tulang rawan sendi
Stage I : Gangguan atau perubahan matriks kartilago. Berhubungan dengan
peningkatan konsentrasi air yang mungkin disebabkan gangguan
mekanik,

degradasi

makromolekul

matriks,

atau

perubahan

metabolisme kondrosit. Awalnya konsentrasi kolagen tipe II tidak


berubah, tapi jaring-jaring kolagen dapat rusak dan konsentrasi
aggrecan dan derajat agregasi proteoglikan menurun.
Stage II : Respon kondrosit terhadap gangguan atau perubahan matriks. Ketika
kondrosit mendeteksi gangguan atau perubahan matriks, kondrosit
berespon dengan meningkatkan sintesis dan degradasi matriks, serta
28

berproliferasi. Respon ini dapat menggantikan jaringan yang rusak,


mempertahankan jaringan, atau meningkatkan volume kartilago.
Respon ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun.
Stage III : Penurunan respon kondrosit. Kegagalan respon kondrosit untuk
menggantikan atau mempertahankan jaringan mengakibatkan
kerusakan tulang rawan sendidisertai dan diperparah oleh penurunan
respon kondrosit. Penyebab penurunan respon ini belum diketahui,
namun diperkirakan akibat kerusakan mekanis pada jaringan,
dengan kerusakan kondrosit dan downregulasi respon kondrosit
terhadap sitokin anabolik.

Perubahan Tulang.
Perubahan tulang subchondral yang mengikuti degenerasi tulang
rawan sendi meliputi peningkatan densitas tulang subchondral, pembentukan
rongga-rongga yang menyerupai kista yang mengandung jaringan myxoid,
fibrous, atau kartilago. Respon ini muncul paling sering pada tepi sendi tempat
pertemuan

tulang

dan

tulang

rawan

yang

berbentuk

bulan

sabit

(crescent).Peningkatan densitas tulang merupakan akibat dari pembentukan


lapisan tulang baru pada trabekula biasanya merupakan tanda awal dari
penyakit degenerasi sendi pada tulang subchondral, tapi pada beberapa sendi
ronggarongga terbentuk sebelum peningkatan densitas tulang secara
keseluruhan. Pada stadium akhir dari penyakit, tulang rawan sendi telah rusak
seluruhnya, sehingga tulang subchondral yang tebal dan padat kini
berartikulasi dengan permukaan tulang denuded dari sendi lawan.
Remodeling tulang disertai dengan kerusakan tulang sendi rawan mengubah
bentuk sendi dan dapat mengakibatkan shortening dan ketidakstabilan tungkai
yang terlibat.
Pada sebagian besar sendi sinovial, pertumbuhan osteofit diikuti
dengan perubahan tulang rawan sendi serta tulang subchondral dan metafiseal.
Permukaan yang keras, fibrous, dan kartilaginis ini biasanya muncul di tepitepi sendi. Osteofit marginal biasanya muncul pada permukaan tulang rawan,
tapi dapat muncul juga di sepanjang insersi kapsul sendi (osteofit kapsuler).
Tonjolan tulang intraartikuler yang menonjol dari permukaan sendi yang
29

mengalami degenerasi disebut osteofit sentral. Sebagian besar osteofit


marginal memiliki pernukaan kartilaginis yang menyerupai tulang rawan sendi
yang normal dan dapat tampak sebagai perluasan dari permukaan sendi. Pada
sendi superfisial, osteofit ini dapat diraba, nyeri jika ditekan, membatasi ruang
gerak, dan terasa sakit jika sendi digerakkan. Tiap sendi memiliki pola
karakter yang khas akan pembentukan osteofit di sendi panggul, osteoarthritis
biasanya membentuk cincin di sekitar tepi acetabulum dan tulang rawan
femur. Penonjolan osteofit sepanjang tepi inferior dari permukaan artikuler os
humerus biasanya terjadi pada pasien dengan penyakit degenartif sendi
glenohumeral. Osteofit merupakan respon terhadap proses degerasi tulang
rawan sendi dan remodelling tulang sudkhondral, termasuk pelepasan sitokin
anabolik yang menstimulasi proliferasi dan pembentukan sel tulang dan matrik
kartilageneus.

Jaringan Periartikuler.
Kerusakan tulang rawan sendi mengakibatkan perubahan sekunder
dari synovium, ligamen, kapsul, serta otot yang menggerakan sendi yang
terlibat. Membran sinovial sering mengalami reaksi inflamasi ringan serta
sedang dan dapat berisi fragmen-fragmen dari tulang rawan [Link]
lama ligamen, kapsul dan otot menjadi contracted. Kurangnya penggunaan
sendi dan penurunan ROM mengakibatkan atropi otot. Perubahan sekunder ini
sering mengakibatkan kekakuan sendi dan kelemahan tungkai.

Perubahan Patologi
Kartilago sendi biasanya licin, mengkilat, dan basah; pada sendi sehat,
kartilago melindungi permukaan yang bergerak satu sama lain dengan gesekan sekecil
mungkin, seperti gelas dengan gelas. Kartilago biasanya menyerap nutrisi dan
cairan seperti spons, dan ini dapat mempertahankan kartilago tetap sehat dan licin.
Pada OA, kartilago tidak mendapatkan nutrisi dan cairan yang dibutuhkan. Lamakelamaan kartilago dapat mengering dan retak, bukannya membuat gerakan halus
sepeti gelas pada gelas , kartilago yang kasar bergerak seperti kertas amplas dengan
kertas amplas lain. Pada kasus yang ekstrim habisnya kartilago menyebabkkan
terjadinya kontak antara tulang dengan tulang. Rasa sakit pada OA tidak ada
30

hubungannya dengan rusaknya kartilago tetapi timbul karena aktivasi dari nosiseptif
ujung-ujung saraf di dalam sendi oleh iritan mekanis ataupun kimiawi. Nyeri pada OA
dapat karena penggelembungan dari kapsul sinovial oleh peningkatan cairan sendi,
mikrofaktur, iritasi periosteal, atau kerusakan ligamen, sinovium, atau meniskus.

MANIFESTASI KLINIK OA
a. Umur
b. Gender

: Biasanya manula
: Umur <45 lebih banyak laki-laki
Umur >45 lebh banyak perempuan

Simptom

rasa nyeri, dalam, ngilu


sakit bila digerakkan
kaku pada sendi yang terkena
sembuh bila digerakkan, kambuh dengan diistirahatkan (fenomena gelling)
biasanya < 30 menit lamanya
Sering dipengaruhi oleh cuaca
Gerakan sendi yang terbatas
Dapat mengakibatkan keterbatasan aktivitas sehari-hari
Ketidakstabilan pada sendi penyangga beban

Tanda, riwayat, pemeriksaan fisik


31

1. monoartikular atau oligoartikular


2. asimetrik
3. tangan
- sendi distal interfalangeal
Heberdens nodes (osteofit atau pembesaran tulang). Muncul knopknop kecil
di ujung atau di tengah sendi jari tangan, atau di ujung sendi ibu jari
(Heberdens nodes). Jari tangan dapat membesar, sakit, kaku dan kebal. Knop
serupa dapat timbul di sendi tengan dari jari.
-

sendi proksimal interfalangeal


o Bouchards nodes (osteofit)
o Dasar dari ibu jari juga dapat terkena OA
o Kadang knop ini berwarna merah, hangat, bengkak, dan nyeri, biasanya
akibat dari trauma
sendi pertama carpometacarpal
osteofit memberikan kesan kelihatannya tangan berbentuk persegi

OsteoArthritis di jari tangan adalah tipe yang penyebabnya kemungkinan

karena faktor turunan


Penderita perempuan lebih banyak (10 kali) dibanding laki-laki, terutama

muncul setelah menopause


OA di tangan dapat dibantu dengan obat, bidai atau dengan pemanasan

4. Lutut
Lutut adalah sendi utama penahan berat badan. Sebab itu lutut paling sering
terkena OA. Gejala: kaku, bengkak, sakit dan krepitus, sehingga
mengakibatkan kesulitan untuk berjalan, menaiki tangga, bangkit serta duduk

dll.
Bila tidak diobati, OA di lutut dapat mengakibabatkan cacat
Obat-obat, penurunan berat badan, olahraga, dan alat penyangga dapat

mengurangi rasa sakit.


Pada kondisi yang parah, dapat dilakukan bedah lutut

5. Panggul
Yang terasa sakit adalah daerah lipat paha, panggul, dan bokong; sakit pada

saat aktivitas menyangga beban


Kaku terutama sesudah istirahat
Gerakan sendi terbatas
Penyangga seperti tongkat, walkers, dapat mengurangi tekanan dipanggul.
Obat-obat, penyangga, olahraga dapat membantu mengurangi rasa sakit dan

meningkatkan gerakan.
Pada kondisi yang parah, dapat dilakukan bedah panggul
32

6. Tulang Belakang
yang paling sering terkena adalah tulang belakang L3 dan L4.
Kaku dan nyeri di leher atau tulang belakang bagian bawah dapat disebabkan

karena OA di tulang belakang


Lemas atau kebal di lengan dan kaki
Beberapa orang merasa lebih nyaman bila tidur di kasur yang keras atau duduk

dengan memakai bantal penyangga


Disamping nyeri, keterbatasan gerak, dan kompresi akar saraf berpotensi

untuk timbulnya komplikasi


7. Kaki
Terutama sendi metatarsofalangeal
Pemeriksaan Fisik
Observasi pada pemeriksaan sendi
Proliferasi tulang, kadang-kadang radang sinovium
Peka terhadap sentuhan
Krepitus
Atrofi otot
Keterbatasan gerak pasif maupun aktif
Perubahan bentuk
Evaluasi radiologi
- Awal OA ringan
: Sering belum terlihat perubahan gambaran radiologi
- OA moderat : Jarak sendi menyempit, Osteofit marginal
- OA lanjut
: Sendi bengkok, Efusi
Cairan synovial : - Sangat kental
- Leukositosis ringan (<2000 sel/mm)
Nilai laboratorium
- Tidak ada test yang spesifik
- Laju Endap Darah normal

4. Faktor Resiko
Predisposisi genetik dan kelemahan sendiri merupakan faktor resiko
osteoartritis sedangkan usia merupakan faktor resiko yang paling penting.
Bebannya mekanik yang mempengaruhi kemampuan sendi memperbaiki atau
mempertahankan dirinya juga merupakan faktor bentuk sendi post trauma,
instabilitas, atau alignment dan displasia sendi dapat menghasilkan tekanan
mekanik yang merusak permukaan sendi tulang rawan.

Usia

33

Fungsi kondrosit menurun dengan bertambahnya usia. Sel-sel ini


mensintesis aggrecans yang lebih kecil dan protein penghubung yang kurang
fungsional sehingga mengakibatkan pembentukan agregat proteoglikan yang
ireguler dan lebih kecil. Aktivitas mitotik dan sintesis menurun dengan
bertambahnya usia, dan mereka kurang responsif terhadap sitokin anabolik
dan rangsang mekanik.

Beban Sendi yang Berlebihan dan Berulang-ulang.


Pemeliharaan struktur dan fungsi sendi synovial yang normal
dilakukan melalui penggunaan sendi yanng teratur dalam aktivitas sehari-hari.
Namun, beban berlebihan dan berulang-ulang dari sendi yang normal dapat
meningkatkan resiko kerusakan degeneratif pada sendi.

Riwayat Penyakit
Penelitian longitudinal meninjukkan bahwa selama beberapa puluh
tahun, pemeriksaan radiologi pasien dengan osteoartritis sendi panggul dan
lutut, tidak berkembang pada 1/3 sampai 2/3 pasien. Tidak terdapat hubungan
kuat antara perubahan radiografik dan klinis. Faktor lain yang sukar dinilai
adalah hubungan antara derajat degenerasi sendi dengan gejala yang
ditimbulkannya. Meskipun gejala osteoartritis utama yaitu nyeri dan kekakuan
sendi, muncul dari degenerasi sendi, tingkat keparahan kerusakan tulang
rawan tidak memiliki korelasi kuat dengan tingkat keparahan gejala. Pasien
dengan degenerasi sendi yang berat dapat merasakan nyeri yang minimal dan
ruang gerak yang luas, dan sebaliknya. Oleh karena itu, sangatlah penting
untuk membedakan riwayat klinis dan riwayat penyakit.

5. Diagnosis
Sindrom klinis osteoartritis muncul akibat degenerasi sendi synovial;
berupa kerusakan keseluruhan yang progresif dari tulang rawan sendi diikuti oleh
perbaikan, remodelling, dan sklerosis dari tulang subchondral, dan pada banyak
kasus terjadi kista subchondral dan osteofit submarginal. Selain perubahan sendi
synovial, yang biasanya dapat dibuktikan melalui foto rontgen, diagnosis sindrom
klinis osteoartritis harus disertai adanya nyeri sendi yang kronik. Banyak pasien
dengan osteoartritis juga mengalami keterbatasan gerakan, krepitasi dengan

34

gerakan, dan efusi sendi. Pada kondisi yang berat dapat terjadi deformitas tulang
dan subluksasi.
Sebagian besar pasien dengan osteoartritis datang dengan keluhan
nyeri sendi. Pasien sering menggambarkan nyeri yang dalam, ketidaknyamanan
yang sukar dilokalisasikan, yang telah dirasakan selama bertahun-tahun. Nyeri
dapat bertambah dengan perubahan cuaca, khususnya dalam cuaca dengan suhu
yang dingin, dan aktivitas. Nyeri yang berhubungan dengan aktivitas biasanya
terasa segera setelah penggunaan sendi dan nyeri dapat menetap selama berjamjam setelah aktivitas. Beberapa pasien pada awalnya memperhatikan adanya
gejala penyakit degeneratif sendi ini setelah trauma ringan sendi atau aktivitas
fisik yang berat, pada pemeriksaan radiologis dapat ditemukan perubahan
degenerasi sendi. Pada tahap lanjut, nyeri menjadi konstan hingga dapat
membangunkan pasien dari tidurnya. Selama degenerasi sendi berlanjut, pasien
dapat mengeluhkan nyeri yang tajam yang dipicu dengan gerakan. Pembesaran
sendi karena pembentukan osteofit dan deformitas muncul pada tahap akhir dari
penyakit.
Tanda awal osteoartritis meliputi penurunan kecepatan dan ruang gerak
aktif sendi. Keterbatasan gerakan dapat muncul akibat rusaknya kartilaggo
artikularis, kontraktur ligamen & kapsul sendi, kontraktur & spasme otot, osteofit,
atau adanya fragmen kartilago, tulang, atau meniskus intraartikuler. Pada palpasi
dapat ditemukan krepitasi, efusi, dan nyeri sendi.
Osteofit dapat menyebabkan tonjolan tulang yang dapat diraba dan
dilihat, kerusakan progresif kartilago artikuler dan tulang subchondral dapat
mengakibatkan luksasi sendi dan deformitas. Atrofi otot dapat terjadi pada kasus
osteoartritis yang sudah lama.
Osteoarthritis sering didiagnosis berdasar riwayat penyakit dan
pemeriksaan fisik. Perubahan perubahan yang nampak pada rontgen foto dapat
digunakan penunjang, namun hubungan antara klinis dan perubahan radiografis
bervariasi diantara pasien. Beberapa pasien dengan rontgen foto yang
menunjukkan kerusakan sendi berat mengeluhkan gejala yang ringan, sedangkan
pasien dengan rontgen foto yang menunjukkan kerusakan sendi minimal dapat
mengeluhkan nyeri yang hebat. Perubahan radiografis yang tampak pada
35

osteoartritis adalah adanya penyempitan spatium kartilago, peningkatan densitas


tulang subchondral, dan adanya osteofit. Meskipun 3 marker radiografis dari
degenerasi sendi ini sering muncul bersamaan, pada beberapa sendi hanya 1 atau 2
dari marker tersebut yang tampak di rontgen standar. Kista subchondral yang
muncul pada osteoartritis memiliki ukuran yang berbeda-beda dan khas memiliki
batas dengan densitas tulang. Benda-benda osteochondral yang lepas, tampak
pada rontgen foto sebagai fragmen-fragmen tulang intra artikuler yang berasal dari
pecahan permukaan sendi. Subluksasi, deformitas, dan malalignment sendi
muncul pada tahap lanjut. Ankylosis tulang jarang terjadi. Pencitraan diagnostik
tambahan, termasuk scanning tulang, CT, dan MRI akan sangat mambantu menilai
stadium awal penyakit degeneratif sendi, tapi pemeriksaan ini jarang diperlukan
untuk menegakkan diagnosis.
Derajat osteoartritis lutut dinilai menjadi lima derajat oleh Kellgren dan
Lawrence.
0

: tidak ada gambaran osteoartritis.

: osteoartritis meragukan dengan gambaran sendi normal, tetapi terdapat


osteofit minimal.

2 : osteoartritis minimal dengan osteofit pada 2 tempat, tidak terdapat sklerosis


dan kista subkondral, serta celah sendi baik.
3

: osteoartritis moderat dengan osteofit moderat, deformitas ujung tulang, dan


celah sendi sempit

: osteoartritis berat dengan osteofit besar, deformitas ujung tulang, celah sendi
hilang, serta adanya sklerosis dan kista subkondral

36

6. TERAPI
Penatalaksanaan pasien OA dimulai dengan dasar diagnosis dari anamnesis
yang cermat, pemeriksaan fisik, temuan radiografi, penilaian sendi yang terkena.
Pengobatan harus direncanakan sesuai kebutuhan individual.
Tujuan terapi adalah :
o
o
o
o

menghilangkan rasa nyeri dan kekakuan


menjaga atau meningkatkan mobilitas sendi
membatasi kerusakan fungsi
mengurangi faktor penyebab
Sasaran penatalaksanaan adalah mempertahankan dan meningkatkan

kualitas hidup. Terapi farmakologis untuk penatalaksanaan rasa nyeri, paling


efektif bila dikombinasikan dengan strategi terapi non farmakologis. Terapi non
farmakologis adalah dasar dari rencana asuhan kefarmasian untuk OA, harus
dilaksanakan untuk semua pasien dan dimulai sebelum atau bersama-sama dengan
analgesik sederhana seperti parasetamol.5 Komunikasi antara pasien, klinisi, dan
farmasis merupakan faktor yang penting dalam penatalaksanaan rasa nyeri; hasil
terapi terbaik dapat dicapai dengan aliansi pihak-pihak ini.
Pendekatan secara umum:

37

Terapi untuk setiap pasien OA tergantung dari distribusi dan keparahan


sendi yang terlibat, penyakit lain yang menyertai, obat-obatan lain yang dipakai,
dan alergi. Penatalaksanaan setiap individu dengan OA dimulai dengan edukasi
pasien, terapi fisik, pengurangan berat badan atau pemakaian alat bantu.
a) Farmakologi

Lini Pertama
Pengobatan OA yang ada saat ini barulah bersifat simptomatik dengan obat
anti inflamasi non steroid (OAINS) dikombinasi dengan program
rehabilitasi dan proteksi sendi. Pada stadium lanjut dapat dipikirkan
berbagai

tindakan

operatif.

Pengetahuan

tentang

patogenesis

OA

mendorong para peneliti untuk mengembangkan obat-obatan yang dapat


menghambat perjalanan/progresivitas penyakit yang disebut sebagai
Disease-Modifying Osteoarthritis Drugs (DMOA), sayang hingga saat ini
obat tersebut masih dalam taraf penelitian.
Tabel . Obat-obatan pada Penatalaksanaan OA
Pengobatan simptomatik (* dalam penelitian)
Short acting
Obat antiinflamasi non steroid
Analgetik non-antiinflamasi (opioid, non-opioid)
Antispasmodik
Long acting
Depokortikosteroid infra-artikuler
Asam hialuronat infra-artikuler*
S-adenosilmetionin (SAM)*
Kondroitin-sulfat oral*
Glukosamin-sulfat (Dona)*
Orgotein intra-artikuler*
Diacerhein*
Avocado/soy nonsaponifiables*
Disease Modifying Osteoarthritis Drugs (* dalam penelitian)
Tetrasiklin*
Glycosaminoglycan polysulfuric acid (GAPS)*
Glycosaminoglycan peptide complexes*
Pentosan polysulfate*
Growth factors dan sitokin (TGF-()*
Tetapi genetik*
Transplantasi stem cell den Osteochondral Graft*

38

Lini Kedua
Penggunaan nutrisi seperti glukosamin dan chondroitin sulfat msih
controversial, pada penelitian masih belum menunjukkan hasil yang
bagus.
Injesi articular :
- Dengan kortikosteroid, dapat menurunkan rasa sakit pada jangka
waktu yang pendek
- Dengan asam hialuronat dapat menurunkan sedikit rasa sakit
Pemberian opioid dapat digunakan pada pasien dengan rasa sakit yang
sangat berat dan pasien yang tidak kooperatif.

39

40

41

b) Terapi Non Farmakologis untuk OA


b.1) Edukasi pasien
b.2) Terapi Fisik, okupasional, aplikasi dingin/panas
b.3) Latihan Fisik
b.4) Istirahat dan merawat persendian
b.5) Penurunan berat badan
b.6) Bedah (pilihan terakhir)

b.1) Edukasi Pasien


Edukasi pasien, keluarga pasien, teman, adalah bagian integral dari
penatalaksanaan OA. Pasien harus didorong untuk berpartisipasi dalam
program-program yang ada misalnya Program edukasi pasien; Program selfmanagement; Kelompok pendukung Arthritis dsb.
Dalam studi-studi ternyata pasien yang berpartisipasi akan mengalami
penurunan rasa nyeri, penurunan frekuensi kunjungan ke dokter, peningkatan
aktivitas fisik, dan peningkatan kualitas hidup. Pasien didorong untuk membaca
brosur, pamflet, buku panduan dan melakukan konseling tentang OA yang di
dapat dari perkumpulan penderita OA, internet dan dari mana saja.
Dalam program ini pasien belajar memahami OA :
Proses penyakit
Prognosis
Pilihan terapi
Perubahan paradigma: bahwa OA dianggap sebagai penyakit yang tidak
dapat dihindari, merupakan proses penuaan.
Selain itu belajar mengurangi rasa sakit, latihan fisik dan relaksasi,
komunikasi dengan staf kesehatan, dan pemecahan masalah, dapat
menghadapi secara fisik, emosi dan mental, mempunyai kendali lebih baik
terhadap OA, meningkatkan percaya diri untuk hidup aktif dan mempunyai
hidup yang tidak tergantung orang lain.3 Hasil studi menegaskan bahwa
konsep peningkatan komunikasi dan edukasi adalah faktor penting untuk
mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan fungsi pada pasien OA, selain itu
bahwa program ini menguntungkan untuk jangka panjang.

Terapi Fisik & Occupational Therapy


42

Mengurangi rasa sakit dengan cara non farmakologik. Terapi fisik


dengan panas atau dingin dan latihan fisik akan membantu menjaga dan
mengembalikan rentang gerakan sendi dan mengurangi rasa sakit dan kejang
otot. Mandi atau berendam air hangat akan mengurangi rasa sakit dan
kekakuan. Efek fisiologi dari suhu adalah relaksasi otot dan mengurangi rasa
sakit. Walau demikian pemakaian panas harus dipertimbangkan secara
komprehensif bagi pasien OA. Penderita ada yang melakukan penyembuhan
tanpa obat.
Handuk hangat, kantung panas (hot packs), atau mandi air hangat, dapat
mengurangi kekakuan dan rasa sakit.
Kadang kantung es (cold packs) dibungkus handuk dapat menghilangkan
rasa sakit atau mengebalkan bagian yang ngilu. Tanyakan kepada dokter
atau terapi mana yang lebih cocok bagi pasien. Untuk OA di lutut, pasien
dapat memakai sepatu dengan sol tambahan yang empuk untuk meratakan
pembagian tekanan akibat berat, dengan demikian akan mengurangi
tekanan di lutut.

Latihan Fisik
Penelitian menunjukkan bahwa latihan fisik adalah penyembuhan yang
paling baik untuk OA. Olahraga dapat meningkatkan suasana hati (mood) dan
harapan (outlook), mengurangi rasa sakit, meningkatkan fleksibilitas,
memperbaiki jantung dan aliran darah, menjaga berat badan, dan memperbaiki
kebugaran secara umum. Olahraga juga tidak mahal, bila dilakukan dengan
benar, tidak ada efek samping. Jumlah dan bentuk olahraga tergantung dari
persendian yang terlibat, kestabilan dan apakah sudah pernah dilakukan
pembedahan.3 Dengan latihan fisik secara teratur (penguatan, rentang
gerakan,

isometrik,

isotonik,

isokinetik,

postural),

kartilago

dapat

dipertahankan tetap sehat, mendorong gerakan, dan membantu pengembangan


otot dan tendon untuk meredam tekanan dan mencegah kerusakan selanjutnya
akibat OA. Sebaliknya inaktivitas dan imobilisasi walau untuk periode pendek
akan memperburuk atau mempercepat berkembangnya OA.5 Latihan fisik dan
penguatan quadriseps akan meningkatkan fungsi fisik dan mengurangi
kecacatan, rasa sakit, pemakaian analgesik. Ada panduan dari American
43

Geriatrics Society untuk latihan fisik bagi pasien OA. Lebih dianjurkan latihan
fisik isometrik dibandingkan dengan isotonik karena isotonik akan
memperburuk sendi yang terkena. Latihan fisik harus diajarkan kepada pasien
sebelum pasien mempraktekan di rumah. Latihan fisik sebaiknya dilakukan
tiga sampai empat kali sehari. Bila terasa sakit, kurangi pengulangan. Rujukan
kepada terapis fisik atau okupasi sangat dibutuhkan bagi pasien yang sudah
cacat fungsi sendinya. Terapis dapat menilai kekuatan otot, stabilitas sendi,
dan dapat merekomendasikan latihan fisik dan metoda untuk melindungi sendi
yang terkena, dari tekanan berlebihan. Terapis juga dapat memberikan alat
bantu seperti tongkat, bebat, dsb yang dipakai saat latihan fisik maupun
kegiatan sehari-hari. Latihan Fisik sebagai berikut :
Latihan Fisik Penyembuhan
Menjaga sendi bekerja sebaik mungkin
Latihan Fisik Aerobik :Meningkatkan kekuatan dan kebugaran, dan
mengontrol berat badan Pasien harus belajar melakukan latihan ini
secara benar, karena kalau tidak, justru dapat menimbulkan
masalah.
Contoh latihan fisik:
Latihan untuk menguatkan
o
o
o
o
o
o

Latihan dengan ban elastik, alat tidak mahal, menambah resistensi


Aktivitas aerobic : Membuat paru dan peredaran darah lebih baik
Aktivitas rentang gerakan : Membuat sendi lentur, lemah gemulai
Latihan kegesitan, ketangkasan : Menjaga kegesitan sehari-hari
Latihan untuk menguatkan leher dan punggung
Menguatkan tulang belakang kuat dan lentur

44

Istirahat dan merawat persendian


Rencana penyembuhan termasuk penjadwalan istirahat. Pasien harus
belajar mendeteksi tanda-tanda tubuh, dan tahu kapan harus menghentikan
atau memperlambat aktivitas, untuk mencegah rasa sakit karena aktivitas
berlebihan. Beberapa pasien merasakan teknik relaksasi, pengurangan stres,
dan biofeedback sangat membantu. Beberapa pasien menggunakan tongkat
atau bidai untuk melindungi persendian dari tekanan. Bidai atau penahan
(braces) memberikan dukungan ekstra pada otot yang lemah. Mereka juga
menjaga persendian pada posisi yang benar selama tidur maupun beraktivitas.

45

Bidai hanya dipakai untuk masa terbatas sebab otot membutuhkan latihan
untuk mencegah kekakuan dan kelemahan

Pengendalian Berat Badan


Kelebihan berat badan meningkatkan beban biomekanik pada sendi
penyangga berat dan ini adalah prediktor tunggal paling baik dari kebutuhan
operasi sendi. Pengurangan berat badan dikaitkan dengan pengurangan
simtom dan kecacatan. Walau penurunan hanya 5 lb (2,5Kg) dapat
menurunkan tekanan biomekanik pada sendi penyangga beban. Walau
intervensi diet untuk yang berat badan berlebih masuk akal, tetapi ini
membutuhakan motivasi yang kuat dan program penurunan badan yang
terstruktur. Diet yang sehat dan olahraga akan sangat membantu.

Pembedahan
Ada 2 tipe terapi pembedahan : Realignment osteotomi dan replacement joint
1.

Realignment osteotomi
Permukaan sendi direposisikan dengan cara memotong tulang dan merubah
sudut dari weightbearing. Tujuan : Membuat karilago sendi yang sehat
menopang sebagian besar berat tubuh. Dapat pula dikombinasikan dengan
ligamen atau meniscus repair.
2. Arthroplasty
Permukaan sendi yang arthritis dipindahkan, dan permukaan sendi yang
baru [Link] penunjang biasanya terbuat dari logam yang
berada dalam high-density polyethylene.
Macam-macam operasi sendi lutut untuk osteoarthritis :
o Partial replacement/unicompartemental
o High tibial osteotmy : orang muda
o Patella &condyle resurfacing
o Minimally constrained total replacement : stabilitas sendi dilakukan
sebagian oleh ligament asli dan sebagian oelh sendi buatan.

46

o Cinstrained joint : fixed hinges : dipakai bila ada tulang hilang dan severe
instability.
Indikasi total knee replacement :

Nyeri

Deformitas

Instability

Akibat dari Rheumatoid atau osteoarthritis

Kontraindikasi :

Non fungsi otot ektensor

Neuromuscular dysfunction

Infection

Neuropathic Joint

Prior Surgical fusion

Komplikasi :

Deep vein thrombosis

Infeksi

Loosening

Problem patella ; rekuren sublukssasi/dislokasi, loosening prostetic


component, fraktur, catching soft tissue.

Tibial tray wear

Peroneal palsy

Fraktur supracondyl femur

Keuntungan total knee replacement ;


1. Mengurangi nyeri
2. Meningkatkan mobilitas dan gerakan

47

3. Koreksi deformitas
4. Menambah kekuatan kaki (dengan latihan)
5. Meningkatkan kualitas hidup

48

DAFTAR PUSTAKA

Altman R.D et al,. 2000. Recommendations for the Medical Management of Osteoarthritis of
the Hip and Knee, American College of Rheumatology vol 43:9.
American Geriatrics Society Panel on Exercise and Osteoarthritis, Exercise Prescription for
Older Adults with Osteoarthritis Pain; The American Geriatrics Society.
Barrack L, Booth E, et all. 2006. OKU : Orthopaedic Knowledge Update 3. Hip and Knee
Reconstruction Chapter 16 : Osteoarthritis dan Arthritis Inflamatoric.
Chapman, Michael W et al. 2001. Chapmans Orthopaedic Surgery 3rd edition. Chapter 107:
Osteotomies of The Knee For Osteoarthritis. Lippincott Williams & Wilkins. USA
Fransisca, Frank J et al. 2007. 5-Minutes Orthopaedic Consult 2nd edition. Lippincott
Williams & [Link]
Hansen K.E; Elliot M.E. 2005. Osteoarthritis, Pharmacotherapy, A Pathophysiological
Approach, McGraw-Hill. USA.
Isbagio, Harry. 2000. CDK: Struktur Rawan Sendi dan Perubahannya pada Osteoartritis.
Cermin Dunia Kedokteran.
National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases, Handout on Health:
Osteoarthritis, Bethesda MD, July 2002.
Price, Sylvia A. Wilson, Lorraine M (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Edisi 6 Volume 1 dan 2. Jakarta: EGC
Zegaria M.A., 2006. Osteoarthritisin Seniors, Key Elements in Disease Management, US
Pharmacist.

49

Anda mungkin juga menyukai