0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
125 tayangan9 halaman

Penerapan CBIB dalam Budidaya Ikan

Dokumen tersebut merupakan laporan praktikum tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) yang mencakup pengertian, tujuan, dan manfaat penerapan CBIB serta aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam penerapannya seperti aspek teknis, manajemen, keamanan pangan, dan lingkungan hidup. Dokumen tersebut juga membahas syarat-syarat sertifikasi CBIB.

Diunggah oleh

Er Sa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
125 tayangan9 halaman

Penerapan CBIB dalam Budidaya Ikan

Dokumen tersebut merupakan laporan praktikum tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) yang mencakup pengertian, tujuan, dan manfaat penerapan CBIB serta aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam penerapannya seperti aspek teknis, manajemen, keamanan pangan, dan lingkungan hidup. Dokumen tersebut juga membahas syarat-syarat sertifikasi CBIB.

Diunggah oleh

Er Sa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ACARA I

TUTORIAL PENERAPAN CBIB PADA UNIT USAHA


BUDIDAYA

Oleh :
Nama

: R Rahkmat Satriaji

NIM

: B0A014024

Kelompok

: 3 (Tiga)

Asisten

: Arni Khurnia Suci

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PEMBESARAN PERIKANAN TAWAR

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI

PROGRAM STUDI D-III BIOLOGI-PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN

PURWOKERTO
2016
I.

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pada Pembesaran, dua hal penting yang harus diperhatikan dalam cara
budidaya ikan yang baik. Mencegah tercemarnya produk oleh cemaran biologis,
kimia dan benda lain yang mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan
manusia dari udara, tanah, air, pakan, pupuk, dan obat ikan atau bahan lain. Pada
mulai dari proses pra produksi, produksi sampai dengan panen dan memenuhi
persyaratan sanitasi pemeliharaan. Perdagangan bebas antar negara yang

sebentar lagi akan diberlakukan, menuntut para pelaku pasar untuk


meningkatkan daya saing produknya. Bukan hanya berkualitas, namun juga
dengan harga yang murah. Persaingan produk bukan hanya dalam tataran
lokal, namun juga akan bertarung dengan pesaing dari luar negeri. Pelaku
pasar apabila tidak dapat meningkatkan daya saing produknya, bukan tidak
mungkin produk-produk dari luar negeri yang berkualitas tinggi dan murah
akan membanjiri pasar dalam negeri, dan menjadi idola konsumen lokal
(Nontji, 1993).
Perdagangan bebas antar negara berlaku juga untuk produk-produk
perikanan. Persaingan dengan produk-produk perikanan dari luar negeri, kita
tentu harus memiliki kualitas produk perikanan yang baik dan juga harga
produk yang murah. Nilai kualitas suatu produk didasarkan pada suatu
pengakuan system jaminan mutu (standard mutu) pada masing-masing negara
berdasarkan transparasi, objektivitas dan kepercayaan. Produk perikanan
disamping itu juga diharapkan aman untuk dikonsumsi dan ramah lingkungan
(Junianto, 2003).
Beberapa

negara

pengimport

produk-produk

perikanan,

memberlakukan aturan yang ketat dan melakukan pemeriksaan sebelum


produk perikanan yang masuk ke negaranya beredar bebas, diantaranya

adalah memeriksa residu logam berat dan anti biotik serta kandungan bakteri
yang ada. Mereka memberlakukan standard yang ketat dengan memberi nilai
ambang batas kandungan-kandungan bahan atau organisme berbahaya
tersebut. Pada pembudidayaan agar kita tidak terlambat dalam mengantisipasi
hal tersebut, ada baiknya apabila kita memulai untuk melakukan sebuah
tindakan yang kongkrit dalam meningkatkan mutu produk perikanan kita
(Tabrani, 1997).
B. Rumusan masalah

Permasalahan umum pelaku usaha perikanan pada khususnya, dan juga


terjadi di banyak tempat di Indonesia adalah produktivitas rendah, harga
pangan pabrikan yang tinggi, induk berkualitas yang terbatas, dan SDM
perikanan yang perlu ditingkatkan. Lika-liku perkembangan usaha budidaya
ikan dengan segenap kompleksitas permasalahan yang mendera pada
kenyataannya telah memberikan pelajaran berharga kepada kita stakeholders
bahwa semua itu terletak pada kurang pedulinya pelaku usaha budidaya
terhadap manajemen budidaya yang lestari dan berkelanjutan. Peningkatan
produksi secara besar-besaran akan memicu masalah baru jika pengelolaan
budidaya tidak memperhatikan daya dukung dan kelestarian lingkungan.
C. Tujuan
Memberikan pengetahuan tentang cara budidaya ikan yang baik
(CBIB) berdasarkan panduan yang telah dikeluarkan oleh Direktorat
Produksi pada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dari Kementerian
Kelautan dan Perikanan tahun 2010.
D. Manfaat
Manfaat dari acara tutorial CBIB adalah dapat mengetahui
tentang cara budidaya ikan yang baik (CBIB) berdasarkan panduan yang

telah dikeluarkan oleh Direktorat Produksi pada Direktorat Jenderal


Perikanan Budidaya dari Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2010.

II.

PEMBAHASAN

Pengertian cbib dalam kepmen tersebut adalah cara memelihara


dan/atau membesarkan ikan serta memanen hasilnya dalam lingkungan yang
terkontrol

sehingga

memberikan

jaminan

keamanan

pangan

dari

pembudidayaan dengan memperhatikan sanitasi, pakan, obat ikan, dan bahan


kimia, serta bahan biologis. Definisi menurut codex alimentarius adalah
kegiatan dari sektor perikanan budidaya yang diperlukan untuk menghasilkan
produk yang berkualitas dan aman yang sesuai dengan undang-undang dan
peraturan mengenai pangan (Hadiwiyoto, 1993).
Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) merupakan sebuah konsep
bagaimana memelihara ikan, agar ikan yang kita pelihara nantinya memiliki
kualitas yang baik dan meningkatkan daya saing produk, yaitu bebas
kontaminasi bahan kimia maupun biologi dan aman untuk dikonsumsi.
Konsep CBIB juga menolong agar dalam proses pemeliharaan ikan menjadi
lebih efektif, efisien, memperkecil resiko kegagalan, meningkatkan
kepercayaan pelangggan, menjamin kesempatan eksport dan ramah
lingkungan. Hal tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan
Perikanan Nomor 02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik
(CBIB) (Wibowo, 2003).
Pada penerapan CBIB dan CPIB ada 4 Aspek yang harus diperhatikan,
yaitu aspek teknis, aspek manajemen, aspek keamanan pangan dan aspek
lingkungan. Aspek teknis meliputi kelayakon lokasi dan sumber air,
kelayakan fasilitas, proses produksi dan penerapan biosecurity. Lokasi harus
bebas banjir dan bebas cemaran, sumber air juga harus diperiksa laboratorium

untuk mengetahui kandungan logam berat dan bakteri coliform. Fasilitas juga
harus sesuai, diantaranya terdapat gudang pakan dan gudang peralatan yang
layak, sarana pengemasan dsb. Proses produksi/pemeliharaan sebaiknya
mengacu pada Standard Nasional Indonesia (SNI) dari pemeliharaan sampai
pengemasan. Benih ikan harus berasal dari unit pembenihan yang
bersertifikasi CPIB, dibuktikan dengan Surat Keterangan Asal (SKA) Benih
Ikan. Induk Ikan juga harus berasal dari lembaga yang berwenang
memproduksi Induk Ikan, dibuktikan dengan Surat Keterangan Asal (SKA)
Induk Ikan. Penerapan biosecurity adalah sebuah upaya agar tempat
budidaya/pembenihan tidak terkontaminasi zat-zat atau organisme berbahaya
yang dapat mengganggu proses pemeliharaan. Diantaranya adalah dengan
membuat pagar keliling, foot bath, sebelum memasuki ruang pembenihan dan
pencuci roda mobil/motor di pintu gerbang (Hidayat et al., 2005).
Manfaat

penerapan

CBIB-IH

adalah

menjadikan

pembudidaya

bertanggung jawab atas mutu produknya, mendapatkan kepercayaan pasar,


serta ikut menjaga kualitas mutu hasil budidaya dan kelestariaan lingkungan,
juga menjadi pembudidaya profesional dan bermartabat. Meningkatkan
efisiensi produksi dan produktivitas, mampu telusur, memperkecil resiko
kegagalan, meningkatkan kepercayaan pelanggan, meningkatkan daya saing
dengan peningkatan mutu benih serta menjamin kesempatan ekspor
(Martyshev, 1983).
Syarat sertifikasi CBIB, Menurut Irianto et al. (2007) diantaranya:
1. Lokasi bebas banjir dan cemaran
2. Air tersedia sepanjang tahun dan tidak tercemar
3. Menerapkan biosecurity
4. Pakan bersertifikat, atau melampirkan bahan/formula dan menyerahkan
sampel apabila menggunakan pakan buatan sendiri
5. Benih memiliki Surat Keterangan Asal (SKA)
6. Mempunyai Standard Operasional Prosedur (SOP) dari pengolahan
kolam, pengadaan benih, sampai dengan panen
Permohonan sertifkat CBIB dilakukan oleh Unit Usaha pembesaran
ikan kepada Direktur Jenderal dengan tebusan ke Dinas Propinsi dan

Kabupaten/Kota, dengan menggunakan formulir aplikasi dan dilengkapi


dengan dokumen menurut Harry (2007):
1. Foto copy IUP atau Surat Tanda Pencatatan Usaha Pembudidayaan ikan
(TPUPI) dari Dinas Kelautan dan Perikanan
2. Data umum unit usaha pembesaran-Daftar fasilitas Unit Usaha Budidaya
3. Daftar fasilitas unit usaha budidaya
4. Daftar SPO dan catatan/rekaman Unit Usaha Budidaya
5. Jumlah dan Pendidikan Tenaga Kerja Unit usaha Budidaya
6. Struktur organisasi dan tanggung jawab
7. Gambar layout bangunan dan petakan unit usaha pembesaran

III.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dan praktikum dapat ditarik kesimpulan:

1. Cara budidaya ikan yang baik diterapkan oleh sistem yg berguna untuk
meningkatkan kualitas harga pasar
2. Penggunaan CBIB perlu adanya sertifikat yang sah agar dapat melakukan
proses budidaya yang baik
B. Saran
Sebaiknya dalam melakukan praktikum ini lebih dilakukan pada awalawal hari dan penyampaian materi yang cukup jelas.

DAFTAR PUSTAKA

Hadiwiyoto, S. 1993. Teknologi Hasil Perikanan. Yogyakarta : Liberty.


Harry, I. 2007. Dukungan Teknologi Penyediaan Produk Perikanan. Jakarta :
Departemen Kelautan dan Perikanan.

Hidayat, Nur dan Suhartini, S. 2005. Olahan Ikan Segar. Surabaya : Trubus
Agrisarana.
Irianto, E. H. dan Soesilo. 2007. Dukungan Teknologi Penyediaan Produk
Perikanan. Bogor : Binacipta.
Junianto. 2003. Teknik Penanganan Ikan. Bandung : Penebar Swadaya.
Martyshev, F.G. 1983. Pond Fisheries. New Delhi : Ameerican Publishing
Company.
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Jakarta : Djambatan.
Tabrani. 1997. Teknologi Hasil Perairan. Riau : Universitas Islam Riau Press.
Wibowo, E. 2003. Modul Kuliah Budidaya Perairan. Semarang : Universitas
Diponegoro Semarang..

Anda mungkin juga menyukai