0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
749 tayangan16 halaman

Asuhan Keperawatan Rhinitis Kronis

Dokumen tersebut merupakan laporan pendahuluan asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit rhinitis kronis. Rhinitis kronis adalah peradangan pada lapisan rongga hidung yang disebabkan oleh faktor alergi atau non-alergi secara berkelanjutan. Dokumen ini menjelaskan konsep dasar penyakit ini termasuk pengertian, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, dan pemeriksaan pen

Diunggah oleh

raka
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
749 tayangan16 halaman

Asuhan Keperawatan Rhinitis Kronis

Dokumen tersebut merupakan laporan pendahuluan asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit rhinitis kronis. Rhinitis kronis adalah peradangan pada lapisan rongga hidung yang disebabkan oleh faktor alergi atau non-alergi secara berkelanjutan. Dokumen ini menjelaskan konsep dasar penyakit ini termasuk pengertian, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, dan pemeriksaan pen

Diunggah oleh

raka
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN PENYAKIT RHINITIS KRONIS

OLEH :

NGAKAN RAKA SAPUTRA


NIM: P07120214036

DIV KEPERAWATAN [Link] / SEMESTER V

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2016

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


RHINITIS KRONIS

I. KONSEP DASAR
A. Pengertian
Rhinitis adalah peradangan pada lapisan rongga hidung yang bisa
disebabkan karena gejala alergi dan bisa juga disebabkan bukan karena alergi
(Non-Alergi). Sedangkan untuk rhinitis non-alergi bisa disebabkan oleh alergen
tertentu namun bukan karena faktor alergi, meskipun gejalanya sama seperti gejala
rhinitis alergi.
Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang disebabkan oleh reaksi
alergi pada pasien-pasien yang memiliki atopi, yang sebelumnya sudah
tersensitisasi atau terpapar dengan allergen (zat/materi yang menyebabkan
timbulnya alergi) yang sama serta meliputi mekanisme pelepasan mediator kimia
ketika terjadi paparan ulangan dengan allergen yang serupa (Von Pirquet, 1986).
Rhinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala-gejala bersinbersin, keluarnya cairan dari hidung, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa
hidung terpapar dengan allergen yang mekanisme ini diperantarai oleh IgE (WHO
ARIA tahun 2001).Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada membran
mukosa di hidung. (Dipiro, 2005 ).
Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung ( Dorland, 2002).
Rhinitis alergi Adalah istilah umum yang digunakan untuk menunjukkan setiap
reaksi alergi mukosa hidung, dapat terjadi bertahun-tahun atau musiman.
(Dorland,2002 ).
Rinitis alergi adalah penyakit umum yang paling banyak di derita oleh
perempuan dan laki-laki yang berusia 30 tahunan. Merupakan inflamasi mukosa
saluran hidung yang disebabkan oleh alergi terhadap partikel, seperti: debu, asap,
serbuk/tepung sari yang ada di udara.

B. Klasifikasi
1. Berdasarkan sifat berlangsungnya :

a. Rhinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, pollinosis). Hanya ada di


Negara yang memiliki 4 musim. Alergen penyebabnya spesifik, yaitu
tepung sari dan spora jamur.
b. Rinitis alergi sepanjang tahun (perennial)
Gejala keduanya hamper sama, hanya tempat berlangsungnya saja yang berbeda.
2. Berdasakan waktu berlangsungnya :
a. Rhinitis intermitten : (gejala <4 hari dan lamanya <4 minggu 2) rhinitis
persisten : gejala >4 hari dan berlangsungnya >4 minggu
3. Berdasarkan berat gejala berlangsungnya :
a. Ringan (tidur normal, tidak menggangu aktifitas)
b. Berat (tidur terganggu, aktifitas terganggu)
C. Etiologi
1. Inhalan : masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah,
virus,serbuk sari, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur
2. Ingestan : masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur,
coklat, ikan dan udang
3. Injektan : masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau
sengatan lebah
4. Kontaktan : masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa, misalnya
bahan kosmetik atau perhiasan
D. Patofisiologi
Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap
sensitisasi dan diikuti dengan reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu
immediate phase allergic reaction atau reaksi alergi fase cepat (RAFC) yang
berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya dan late phase
allergic reaction atau reaksi alergi fase lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam
dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktivitas) setelah pemaparan dan dapat
berlangsung 24-48 jam.
Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau
monosit yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan
menangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung. Setelah
diproses, antigen akan membentuk fragmen pendek peptide dan bergabung dengan
molekul HLA kelas II membentuk komplek peptide MHC kelas II (Major
Histocompatibility Complex) yang kemudian dipresentasikan pada sel T helper
(Th0). Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin 1 (IL-1)
yang akan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th2. Th2 akan
menghasilkan berbagai sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5, dan IL-13. IL-4 dan IL-13

dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel limfosit B
menjadi aktif dan akan memproduksi imunoglobulin E (IgE). IgE di sirkulasi
darah akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE di permukaan sel
mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga kedua sel ini menjadi aktif. Proses
ini disebut sensitisasi yang menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Bila
mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar alergen yang sama, maka kedua rantai
IgE akan mengikat alergen spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel)
mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah
terbentuk (Performed Mediators) terutama histamin. Selain histamin juga
dikeluarkan Newly Formed Mediators antara lain prostaglandin D2 (PGD2),
Leukotrien D4 (LT D4), Leukotrien C4 (LT C4), bradikinin, Platelet Activating
Factor (PAF), berbagai sitokin (IL-3, IL-4, IL-5, IL-6, GM-CSF (Granulocyte
Macrophage Colony Stimulating Factor) dan lain-lain. Inilah yang disebut sebagai
Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC).
Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga
menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Histamin juga akan
menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan
permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Gejala lain adalah hidung
tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. Selain histamin merangsang ujung saraf
Vidianus, juga menyebabkan rangsangan pada mukosa hidung sehingga terjadi
pengeluaran Inter Cellular Adhesion Molecule 1 (ICAM1).
Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik yang
menyebabkan akumulasi sel eosinofil dan netrofil di jaringan target. Respons ini
tidak berhenti sampai disini saja, tetapi gejala akan berlanjut dan mencapai puncak
6-8 jam setelah pemaparan. Pada RAFL ini ditandai dengan penambahan jenis dan
jumlah sel inflamasi seperti eosinofil, limfosit, netrofil, basofil dan mastosit di
mukosa hidung serta peningkatan sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5 dan Granulocyte
Macrophag Colony Stimulating Factor (GM-CSF) dan ICAM1 pada sekret
hidung. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperresponsif hidung adalah akibat
peranan eosinofil dengan mediator inflamasi dari granulnya seperti Eosinophilic
Cationic Protein (ECP), Eosiniphilic Derived Protein (EDP), Major Basic Protein
(MBP), dan Eosinophilic Peroxidase (EPO). Pada fase ini, selain faktor spesifik
(alergen), iritasi oleh faktor non spesifik dapat memperberat gejala seperti asap

rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca dan kelembaban udara yang tinggi
(Irawati, Kasakayan, Rusmono, 2008).
Secara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh (vascular bad) dengan
pembesaran sel goblet dan sel pembentuk mukus. Terdapat juga pembesaran ruang
interseluler dan penebalan membran basal, serta ditemukan infiltrasi sel-sel
eosinofil pada jaringan mukosa dan submukosa hidung. Gambaran yang
ditemukan terdapat pada saat serangan. Diluar keadaan serangan, mukosa kembali
normal. Akan tetapi serangan dapat terjadi terus-menerus (persisten) sepanjang
tahun, sehingga lama kelamaan terjadi perubahan yang ireversibel, yaitu terjadi
proliferasi jaringan ikat dan hiperplasia mukosa, sehingga tampak mukosa hidung
menebal. Dengan masuknya antigen asing ke dalam tubuh terjadi reaksi yang
secara garis besar terdiri dari:
1. Respon primer
Terjadi proses eliminasi dan fagositosis antigen (Ag). Reaksi ini bersifat non
spesifik dan dapat berakhir sampai disini. Bila Ag tidak berhasil seluruhnya
dihilangkan, reaksi berlanjut menjadi respon sekunder.
2. Respon sekunder
Reaksi yang terjadi bersifat spesifik, yang mempunyai tiga kemungkinan ialah
sistem imunitas seluler atau humoral atau keduanya dibangkitkan. Bila Ag
berhasil dieliminasi pada tahap ini, reaksi selesai. Bila Ag masih ada, atau
memang sudah ada defek dari sistem imunologik, maka reaksi berlanjut
menjadi respon tersier.
3. Respon tersier.
Reaksi imunologik yang terjadi tidak menguntungkan tubuh. Reaksi ini dapat
bersifat sementara atau menetap, tergantung dari daya eliminasi Ag oleh
tubuh.
Gell dan Coombs mengklasifikasikan reaksi ini atas 4 tipe, yaitu tipe 1, atau
reaksi anafilaksis (immediate hypersensitivity), tipe 2 atau reaksi sitotoksik,
tipe 3 atau reaksi kompleks imun dan tipe 4 atau reaksi tuberculin (delayed
hypersensitivity). Manifestasi klinis kerusakan jaringan yang banyak dijumpai
di bidang THT adalah tipe 1, yaitu rinitis alergi (Irawati, Kasakayan,
Rusmono, 2008).
E. Manifestasi Klinis
1. Bersin berulang-ulang, terutama setelah bangun tidur pada pagi hari
(umumnya bersin lebih dari 6 kali).
2. Hidung tersumbat

3. Hidung meler. Cairan yang keluar dari hidung meler yang disebabkan alergi
biasanya bening dan encer, tetapi dapat menjadi kental dan putih keruh atau
kekuning-kuningan jika berkembang menjadi infeksi hidung atau infeksi
sinus.
4. Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan tenggorok.
5. Badan menjadi lemah dan tak bersemangat.
Gejala klinis yang khas adalah terdapatnya serangan bersin yang berulangulang terutama pada pagi hari, atau bila terdapat kontak dengan sejumlah debu.
Sebenarnya bersin adalah mekanisme normal dari hidung untuk membersihkan
diri dari benda asing, tetapi jika bersin sudah lebih dari lima kali dalam satu kali
serangan maka dapat diduga ini adalah gejala rhinitis alergi. Gejala lainnya adalah
keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak. Hidung tersumbat, mata gatal dan
kadang-kadang disertai dengan keluarnya air mata.

F. Pemeriksaan Penunjang
1. In vitro
Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat. Demikian
pula pemeriksaan IgE total (prist-paper radio imunosorbent test) sering kali
menunjukkan nilai normal, kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu
macam penyakit, misalnya selain rinitis alergi juga menderita asma bronkial
atau urtikaria. Lebih bermakna adalah dengan RAST (Radio Immuno Sorbent
Test) atau ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay Test). Pemeriksaan
sitologi hidung, walaupun tidak dapat memastikan diagnosis, tetap berguna
sebagai pemeriksaan pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah
banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. Jika basofil (5 sel/lap)
mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan jika ditemukan sel PMN
menunjukkan adanya infeksi bakteri (Irawati, 2002).
2. In vivo
Alergen penyebab dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes cukit kulit, uji
intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-point
Titration/SET). SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkan
alergen

dalam

Keuntungan
G. Penatalaksanaan

berbagai

konsentrasi

yang

bertingkat

kepekatannya.

1. Terapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan allergen
penyebab
2. Pengobatan, penggunaan obat antihistamin H-1 adalah obat yang sering
dipakai sebagai lini pertama pengobatan rhinitis alergi atau dengan kombinasi
dekongestan oral. Obat Kortikosteroid dipilih jika gejala utama sumbatan
hidung akibat repon fase lambat tidak berhasil diatasi oleh obat lain
3. Tindakan Operasi (konkotomi) dilakukan jika tidak berhasil dengan cara diatas
4. Penggunaan Imunoterapi.
Pemilihan obat-obatan dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa hal
antara lain :
1. Obat-obat yang tidak memiliki efek jangka panjang.
2. Tidak menimbulkan takifilaksis.
3. Beberapa studi menemukan efektifitas kortikosteroid intranasal. Meskipun
demikian pilihan terapi harus dipertimbangkan dengan kriteria yang lain.
4. Kortikosteroid intramuskuler dan intranasal tidak dianjurkan sehubungan
dengan adanya efek samping sistemik.
Penatalaksanaan rinitis alergika meliputi edukasi, penghindaran alergen,
farmakoterapi dan imunoterapi. Intervensi tunggal mungkin tidak cukup dalam
penatalaksanaan rinitis alergika, penghindaran alergen hendaknya merupakan
bagian terpadu dari strategi penatalaksanaan, terutama bila alergen penyebab
dapat diidentifikasi. Edukasi sebaiknya selalu diberikan berkenaan dengan
penyakit yang kronis, yang berdasarkan kelainan atopi, pengobatan memerlukan
waktu yang lama dan pendidikan penggunaan obat harus benar terutama jika harus
menggunakan kortikosteroid hirupan atau semprotan. Imunoterapi sangat efektif
bila

penyebabnya

adalah

alergen

hirupan.

Farmakoterapi

hendaknya

mempertimbangkan keamanan obat, efektifitas, dan kemudahan pemberian.


Farmakoterapi masih merupakan andalan utama sehubungan dengan kronisitas
penyakit. Tabel 3 menunjukkan obat-obat yang biasanya dipakai baik tunggal
maupun dalam kombinasi. Kombinasi yang sering dipakai adalah antihistamin H1
dengan dekongestan. Medikamentosa diberikan bila perlu, dengan antihistamin
oral sebagai obat pilihan utama. Imunoterapi pada anak diberikan secara selektif
dengan tujuan pencegahan. Jenis-jenis terapi medikamentosa akan diuraikan di
bawah ini:
1) Antihistamin-H1 oral

Antihistamin-H1 oral bekerja dengan memblok reseptor H1 sehingga


mempunyai aktivitas anti alergi. Obat ini tidak menyebabkan takifilaksis.
Antihistamin-H1 oral dibagi menjadi generasi pertama dan kedua. Generasi
pertama antara lain klorfeniramin dan difenhidramin, sedangkan generasi
kedua yaitu setirizin/levosetirizin dan loratadin/[Link] terbaru
antihistamin-H1 oral dianggap lebih baik karena mempunyai rasio
efektifitas/keamanan dan farmakokinetik yang baik, dapat diminum sekali
sehari, serta bekerja cepat (kurang dari 1 jam) dalam mengurangi gejala
hidung dan mata, namun obat generasi terbaru ini kurang efektif dalam
mengatasi kongesti [Link] samping antihistamin-H1 generasi pertama
yaitu sedasi dan efek antikolinergik. Sedangkan antihistamin-H1 generasi
kedua sebagian besar tidak menimbulkan sedasi, serta tidak mempunyai efek
antikolinergik atau kardiotoksisitas.
2) Antihistamin-H1 lokal
Antihistamin-H1 lokal (misalnya azelastin dan levokobastin) juga bekerja
dengan memblok reseptor H1. Azelastin mempunyai beberapa aktivitas anti
alergik. Antihistamin-H1 lokal bekerja sangat cepat (kurang dari 30 menit)
dalam mengatasi gejala hidung atau mata. Efek samping obat ini relatif ringan.
Azelastin memberikan rasa pahit pada sebagian pasien.
3) Kortikosteroid intranasal
Kortikosteroid intranasal (misalnya beklometason, budesonid, flunisolid,
flutikason, mometason, dan triamsinolon) dapat mengurangi hiperreaktivitas
dan inflamasi nasal. Obat ini merupakan terapi medikamentosa yang paling
efektif bagi rinitis alergik dan efektif terhadap kongesti hidung. Efeknya akan
terlihat setelah 6-12 jam, dan efek maksimal terlihat setelah beberapa hari.
Kortikosteroid topikal hidung pada anak masih banyak dipertentangkan karena
efek sistemik pemakaian lama dan efek lokal obat ini. Namun belum ada
laporan tentang efek samping setelah pemberian kortikosteroid topikal hidung
jangka panjang. Dosis steroid topikal hidung dapat diberikan dengan dosis
setengah dewasa dan dianjurkan sekali sehari pada waktu pagi hari. Obat ini
diberikan pada kasus rinitis alergik dengan keluhan hidung tersumbat yang
menonjol.
4) Kortikosteroid oral/IM
Kortikosteroid
oral/IM

(misalnya

deksametason,

hidrokortison,

metilprednisolon, prednisolon, prednison, triamsinolon, dan betametason)

poten untuk mengurangi inflamasi dan hiperreaktivitas nasal. Pemberian


jangka pendek mungkin diperlukan. Jika memungkinkan, kortikosteroid
intranasal digunakan untuk menggantikan pemakaian kortikosteroid oral/IM.
Efek samping lokal obat ini cukup ringan, dan efek samping sistemik
mempunyai batas yang luas. Pemberian kortikosteroid sistemik tidak
dianjurkan untuk rinitis alergik pada anak. Pada anak kecil perlu
dipertimbangkan pemakaian kombinasi obat intranasal dan inhalasi.
5) Kromon lokal (local chromones)
Kromon lokal (local chromones), seperti kromoglikat dan nedokromil,
mekanisme kerjanya belum banyak diketahui. Kromon intraokular sangat
efektif, sedangkan kromon intranasal kurang efektif dan masa kerjanya
singkat. Efek samping lokal obat ini ringan dan tingkat keamanannya baik.
Obat semprot hidung natrium kromoglikat sebagai stabilisator sel mast dapat
diberikan pada anak yang kooperatif. Obat ini biasanya diberikan 4 kali sehari
dan sampai saat ini tidak dijumpai efek samping.
6) Dekongestan oral
Dekongestan oral seperti efedrin, fenilefrin, dan pseudoefedrin, merupakan
obat simpatomimetik yang dapat mengurangi gejala kongesti hidung.
Penggunaan obat ini pada pasien dengan penyakit jantung harus berhati-hati.
Efek samping obat ini antara lain hipertensi, berdebar-debar, gelisah, agitasi,
tremor, insomnia, sakit kepala, kekeringan membran mukosa, retensi urin, dan
eksaserbasi glaukoma atau tirotoksikosis. Dekongestan oral dapat diberikan
dengan perhatian terhadap efek sentral. Pada kombinasi dengan antihistaminH1 oral efektifitasnya dapat meningkat, namun efek samping juga bertambah.
7) Dekongestan intranasal
Dekongestan intranasal (misalnya epinefrin, naftazolin, oksimetazolin, dan
xilometazolin) juga merupakan obat simpatomimetik yang dapat mengurangi
gejala kongesti hidung. Obat ini bekerja lebih cepat dan efektif daripada
dekongestan oral. Penggunaannya harus dibatasi kurang dari 10 hari untuk
mencegah terjadinya rinitis medikamentosa. Efek sampingnya sama seperti
sediaan oral tetapi lebih ringan.
Pemberian vasokonstriktor topikal tidak dianjurkan untuk rinitis alergik pada
anak di bawah usia l tahun karena batas antara dosis terapi dengan dosis toksis
yang sempit. Pada dosis toksik akan terjadi gangguan kardiovaskular dan
sistem saraf pusat.
8) Antikolinergik intranasal

Antikolinergik intranasal (misalnya ipratropium) dapat menghilangkan gejala


beringus (rhinorrhea) baik pada pasien alergik maupun non alergik. Efek
samping lokalnya ringan dan tidak terdapat efek antikolinergik sistemik.
Ipratropium bromida diberikan untuk rinitis alergik pada anak dengan keluhan
hidung beringus yang menonjol.
9) Anti-leukotrien
Anti-leukotrien, seperti montelukast, pranlukast dan zafirlukast, akan
memblok reseptor CystLT, dan merupakan obat yang menjanjikan baik dipakai
sendiri ataupun dalam kombinasi dengan antihistamin-H1 oral, namun masih
diperlukan banyak data mengenai obat-obat ini. Efek sampingnya dapat
ditoleransi tubuh dengan baik.
H. Komplikasi
1. Polip hidung
2. Otitis media
3. Sinusitis paranasal. (Mansjoer, 2001 : 107)
II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Identitas Pasien
Identitas pasien meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, bangsa,

pendidikan dan pekerjaan pasien.


Keluhan Utama
Pasien mengalami bersin-bersin, hidung mengeluarkan secret, hidung

tersumbat, dan hidung gatal.


Riwayat Penyakit Dahulu
Hal yang perlu dikaji yaitu apakah sebelumnya pasien pernah menderita

penyakit THT.
Riwayat Keluarga
Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga sebelumnya yang

mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang.


Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik untuk rhinitis alergi berfokus pada hidung, tetapi
pemeriksaan wajah,mata, dan telinga juga penting.
Hidung
Inspeksi : permukaan hidung terdapat secret mukoid
Palpasi : nyeri, karena adanya inflamasi.
Pada rinoskopi akan tampak mukosa edema, basah, berwarna
pucat,disertai adanya sekret encer yang banyak.
Dalam hal ini kita menentukan karakteristik dan kuantitas mukus
hidung.

Pada rinitis alergi mukus encer dan tipis. Jika kental dan purulen
biasanya berhubungan dengan sinusitis. Namun, mukus kental,
purulen, dan berwarna dapat timbul pada rinitis alergi.
Periksa septum nasi untuk melihat adanya deviasi septum atau
perforasi septum yang dapat disebabkan oleh rinitis alergi kronis.
Wajah
Inspeksi :
Adanya allergic shiners yaitu dark circles di sekitar mata dan

berhubungan dengan vasodilatasi atau obstruksi hidung.


Adanya nasal crease yaitu lipatan horizontal (horizontal crease) yang
melalui setengah bagian bawah hidung akibat kebiasaan menggosok

hidung ke atas dengan tangan.


Mata
Inspeksi :
Adanya pembengkakan konjungtifa palpebral yang disertai dengan
produksi air mata.
Telinga
Dengan otoskopi perhatikan adanya retraksi membran timpani.
Kelainan mobilitas dari membran timpani dapat terjadi pada rinitis alergi
yang disertai dengan disfungsi tuba eustachius dan otitits media sekunder.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a) Ketidak efektifan bersihan jalan nafas
b) Nyeri akut
c) Defisiensi pengetahuan
d) Gangguan Istirahat Tidur

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

No

Diagnosa

Keperawatan
Ketidakefektifan
bersihan

Tujuan

Intervensi

NOC:

Rasional

NIC:

1. Diketahui

jalan Respiratory status: 1. Kaji status pernafasan

nafas

b/d ventilation

(kecepatan,

penumpukan

Respiratory status:

secret

Airway patency
Setelah

dilakukan

tindakan keperawatan
selama 1 x 10 menit
diharapakan bersihan
jalan

nafas

efektif

dengan kriteria hasil:


Pasien tidak batuk
Pasien dapat bernpas
dengan lega
RR (u = 3 tahun) =
20-30 x/menit

kedalaman,

pernafasan dan adanya


kelainan pada sistem

serta

pergerakan dada)
2. Monitor
frekuensi
napas

tingkat

pasien/status

pernafasan.
2. Frekuensi pernapasan
menunjukan

apakah

terjadi gangguan pada

oksigen pasien
sistem pernapasan
3. Posisikan pasien untuk 3. Posisi semifowler dan
memaksimalkan

fowler

ventilasi
4. Latih teknik

batuk

efektif
5. Lakukan

chest

akan

memaksimalkan

fisioterapi bila perlu


6. Auskultasi suara nafas
setiap 2-4 jam dan

masuknya oksigen ke
dalam tubuh
4. Batuk efektif membantu
pengeluaran dahak
5. Chest
fisioterapi
membantu pengeluaran

kalau diperlukan
7. Lakukan pengisapan
(suction)
berkala.
8. Kaji
suara

dahak
6. Mengetahui bunyi nafas
secara 7. Suction
membatu
mengsisap

secret

nafas

dengan cepat
sebelum dan sesudah 8. Mengetahui

melakukan pengisapan
9. Pertahankan
suhu
humidifier

tetap

hangat (>37oC)
10. Kolaborasi
dalam
pemberian mukolitik,
bronkodilator

apakah

terjadi perubahan pada


suara nafas sebelum dan
sesudah suction
9. Agar perbedaan dengan
suhu tubuh tidak terlalu
jauh
10. Mukolitik

membantu

menghancurkan dahak,
bronkodilator
membuka

saluran

nafas yang menyempit

Nyeri akut b/d NOC:

NIC

inflamasi

Pain level

Lakukan

Pain control

nyeri

Comfort level

komperhensif

Setelah

di

asuhan

keperawatan verbal

Mengetahui

pengkajian kualitas dan skala nyeri


secara yang dirasakan

berikan Observasi

reaksi

pasien

non Mengetahui
yang

selama 1 x 10 menit Gunakan


diharapkan

teknik

skala

nyeri

dirasakan

ketika

tidak

bisa

teknik pasien

nyeri komunikasi terapeutik


berkurang Ajarkan

lokasi,

mengungkapkan

skala

non nyeri yang dirasakan

dengan kriteria hasil farmakologi


sebagai berikut :
Mampu

Tingkatkan Istirahat

mengontrol Kolaborasi

nyeri

Memberikan rasa nyaman

dengan kepada

pasien

dalam

dokter dalam pemberian menyampaikan

Melaporkan

bahwa obat analgetik

keluhan

yang dirasakan

nyeri berkurang

Mengurangi

Mampu

tidak

mengenali

rasa

nyeri

selamanya

harus

nyeri

menggunakan obat, teknik

Menyatakan nyaman

relaksasi dan distraksi bisa

setelah

menjadi

nyeri

berkurang

cara

untuk

mengurangi nyeri
Menghindari pasien dari
kelelahan
Obat

analgetik

dapat

menekan SSP dan sistem


saraf

perifer

untuk

mensintesis prostatglandin
sehingga nyeri berkurang
3

Defisiensi

NOC:

NIC

pengetahuan b/d Knowledge:disease

Monitor vital sign

kurangnya

process

Berikan

informasi

Knowledge:
behavior
Setelah

health tentang
pengetahuan

Mengetahui

keadaan

penilaian umum pasien


tingkat Mengetahui sejauh mana
pasien pengetahuan

diberikan tentang proses penyakit tentang

sakit

pasien
yang

asuhan

keperawatan spesifik

selama 1x10 menit Gambarkan


diharapkan

dideritanya
tanda dan Memberikan

dapat gejala yang biasa muncul tentang

meningkatkan
pengetahuan

dengan kriteria hasil Berikan


sebagai berikut.

gejala

Meningkatkan
informasi pengetahuan

pasien

tentang penanganan dan tentang terapi yang akan

Pasien dan keluarga terapi yang diberikan

diberikan

paham

tentang

penyakit,

kondisi,

prognosis,

dan

tanda,

pada penyakit, dengan penyakit yang dideritanya


pasien cara yang tepat

menyatakan

informasi

program

pengobatan
Pasien dan keluarga
mampu
melaksanakan
prosedur

yang

dijelaskan

secara

benar
Pasien dan keluarga
mampu menjelaskan
kembali

apa

dijelaskan
perawat

yang
oleh

dan

tim

kesehatan laiinya
3

Gangguan

NOC

Istirahat Tidur

Setelah
asuhan

NIC
dilakukan Determinasi

Mengetahui pengaruh obat


efek-efek dengan pola tidur pasien

keperawatan medikasi terhadap pola Memberikan

selama 1x10 menit tidur.

kepada

informasi

pasien

dan

diharapkan px tidak Jelaskan pentingnya tidur keluarga pasien.


terganggu saat tidur yang adekuat.
dengan kriteria hasil :
Jumlah

jam

Fasilitas

tidur mempertahankan

Meningkatkan tidur.
untuk Agar periode tidur tidak
terganggu dan rileks.

dalam batas normal aktivitas sebelum tidur Mengurangi


6-8 jam/hari.

(membaca).

Pola tidur, kualitas Ciptakan


dalam batas normal.
Perasaan
sesudah

lingkungan Meningkatkan pola tidur

yang nyaman.

yang baik secara mandiri.


pemberian Mengetahui

atau obat tidur.

perkembangan pola tidur

istirahat.

Diskusikan

Mampu

pasien

mengidentifikasihal-

tentang

hal

tidur.

segar Kolaborasi
tidur

dan

dengan pasien.
keluarga Mengetahui

teknik

pengaruh

tidur waktu makan dan minum

yang pasien.

meningkatkan tidur.

gangguan

terhadap pola tidur pasien.

Instruksikan

untuk Mengetahuiperkembangan

memonitor tidurpasien.

polatidurpasien.

Monitor waktu makan


dan

minum

dengan

waktu tidur
Monitor/catat kebutuhan
tidur pasien setiap hari
dan jam.
D. IMPLEMENTASI
Adalah mengelolah dan mewujudkan dari rencana perawatan meliputi
tindakan yang telah direncanakan oleh perawat, melaksanakan anjuran dokter
dengan ketentuan rumah sakit.
E. EVALUASI
Evaluasi merupakan tahap akhir dari suatu proses perawatan dan
merupakan perbandingan yang sistematik dan terencana tentang kesehatan
klien dengan tujuan yang telah dilakukan dengan cara melibatkan klien dan
sesama tenaga kesehatan (Nasrul F, 1995)

DAFTAR PUSTAKA
Bulecheck, Gloria M, dkk (Ed). 2013. Nursing Intervention Classification (NIC) 6th
Edition. Missouri: Elsevier
Carpenito, Lynda Juall.2009. Diagnosis Keperawatan Aplikasi Pada Praktik Klinis Edisi 9.
Jakarta : EGC
Doengoes, Mariliynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC

Price, Sylvia. 2005. Patofisiologis : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC
Carpenito, LJ. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 . Jakarta: EGC
Doungoes, marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan
Dan pendokumentasian perawatan pasien. Ed 3 : Jakarta. EGC
Moorhead, Sue, dkk (Ed). 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC) 5th Edition.
Missouri: Elsevier

Anda mungkin juga menyukai