British Petroleum: Deep Water Horizon Oil Spill
1. Latar Belakang Masalah
British Petroleum (BP) merupakan salah satu perusahaan minyak dan gas
berintegritas dan terkemuka di dunia. British Petroleum menyediakan bahan bakar
untuk transportasi, energi untuk panas dan cahaya, pelumas untuk menjaga mesin
bergerak, dan produk petrokimia yang digunakan untuk membuat barang-barang
sehari-hari yang beragam seperti cat, pakaian dan kemasan. British Petroleum
beroperasi di semua bidang industri minyak dan gas, yaitu; eksplorasi dan produksi,
penyulingan, distribusi dan pemasaran, petrokimia, pembangkit listrik dan
perdagangan. Per tanggal 31 Desember 2015, BP telah beroperasi di lebih dari 70
negara, menghasilkan sekitar 3,3 juta barel per hari. British Petroleum memiliki
sekitar 17.200 stasiun pengisian bahan bakar dan mempekerjakan 79,800 karyawan di
seluruh dunia (BP, 2015).
Pada tahun 2010, terjadi ledakan pada salah satu kilang minyak yang dimiliki
dan dioperasikan oleh Transocean dan pengeboran BP, Deepwater Horizon semisubmersible Mobile Offshore Drilling Unit (MODU), yang beroperasi di Macondo
Prospect di Teluk Meksiko. Ledakan tersebut mengakibatkan kebakaran dan
tenggelamnya Deepwater Horizon, kematian 11 pekerja; 17 lainnya luka-luka.
Ledakan pada Deepwater Horizon mengakibatkan juga tumpahan minyak di Teluk
Meksiko, melepaskan sekitar 4,9 juta barel minyak mentah diaut. Peristiwa ini
merupakan bencana lingkungan terburuk di Amerika Serikat (BBC, 2010). Baik
tumpahan dan upaya pembersihan memiliki efek pada lingkungan, kesehatan dan
ekonomi.
Banyak pihak yang terkena dampak, langsung, mauapun tidak langsung akibat
ledakan tilang minyak Deepwater Horizon. Setiap orang yang bekerja di industri
makanan laut atau pariwisata jelas terpengaruh. Polusi menyebabkan ikan terbunuh,
menempatkan pekerja dalam risiko kehilangan pekerjaan mereka, kemudian,
meningkatkan harga makanan laut, mempengaruhi industri restoran dan supermarket.
Selain itu, sektor pariwisata pun terkena dampaknya, dikarenakan orang menahan diri
untuk pergi ke pantai yang tercakup minyak, menjauhi olahraga air, atau objek wisata
lainnya, yang berarti semua yang terlibat dalam pariwisata, seperti hotel, penyedia
jasa tur, restoran, perusahaan penyewa perahu terpengaruh dari perisitiwa tumpahan
minyak (BP, 2012).
Panel Amerika Serikat telah menyimpulkan bahwa salah satu yang
menyebabkan ledakan pada kilang minyak Deepwater Horizon adalah keputusan BP
untuk memotong biaya dan menghemat waktu dalam eksplorasi minyak (BBC,2011).
Sebuah penyelidikan yang dilakukan oleh board federal, menyimpulkan bahwa alat
pengaman yang berada di bawah laut memiliki beberapa kegagalan, tidak diuji dengan
baik dan masih menimbulkan risiko bagi banyak rig pengeboran saat ini. Laporan
yang dikeluarkan oleh dewan keamanan bahan kimia US membidik atas apa yang
salah dengan blowout preventer dan menyalahkan manajemen dan operasi yang
buruk. Mereka menemukan kabel yang rusak di dua tempat, baterai mati dan pipa
bengkok di perangkat raksasa. Hal ini menyebabkan dumping sebesar 172m galon
minyak ke Teluk Meksiko.
Berbagai penyelidikan telah menemukan bahwa penyebab ledakan awal
terlibat beberapa lapisan semen yang retak, lumpur pemboran, tekanan fluida, tes
yang tidak baik, masalah manajemen dan pengambilan keputusan yang buruk.
Blowout preventer gagal beroperasi dan menyebabkan tumpahan besar. Menurut
dewan penyidik keamanan, Mary Beth Mulcahy, bahwa baik BP dan Transocean
tidak menguji sistem keselamatan individu dari blowout preventer. Mereka hanya
menguji perangkat secara keseluruhan. Ternyata terdapat dua set kabel yang rusak
yang menyebabkan masalah dan baterai mati. Mulcahy mengatakan tes individual
dihimbau oleh produsen blowout preventer tetapi perusahaan malah mengikuti
standar yang ditetapkan oleh industry (The Guardian, 2014).
Transocean, yang memiliki kilang minyak Deepwater Horizon, mengatakan
bahwa prosedur yang dilakukan di jam-jam terakhir dibuat dan dipimpin oleh insinyur
BP dan disetujui terlebih dahulu oleh regulator federal. Halliburton juga mengatakan
bertindak pada arahan BP. Apakah bertujuan atau tidak, banyak keputusan yang dibuat
oleh BP, Halliburton, dan Transocean meningkatkan risiko ledakan pada kilang
minyak, ditunjukan untuk menyelamatkan waktu dan uang perusahaan secara
signifikan. BP tidak memiliki kontrol yang memadai untuk memastikan bahwa
keputusan yang diambil menjelang ledakan apakah aman, BP tidak mendengarkan
perspektif dari tekniksi.
2. Kajian Teori
Teori Utilitarianisme menyatakan bahwa tindakan individu harus didasarkan
pada aturan-aturan moral, mendefinisikan apakah suatu tindakan, secara moral
relevan, atau tidak. Teori ini berkonsentrasi pada konsekuensi yang membawa utilitas
dan orang perlu mengorbankan beberapa biaya dari mereka, agar kelompok yang
lebih besar untuk mendapatkan beberapa manfaat (Ghillyer, 2008)
Utilitarianisme pada awalnya merupakan dasar etis untuk memperbaharui
hukum Inggris (pidana) yang bertujuan untuk memajukan kepentingan para warga
negara, bukan melaksanakan perintah-perintah ilahi atau melindungi yang disebut
hak-hak kodrati. Menurut John Stuart Mill (1806-1873) utilitarianisme menggunakan
utility (manfaat) atau the greatest happiness (kebahagiaan yang terbesar) sebagai
dasar moralitas (Mill, 1863). Dasar tersebut mengatakan bahwa tindakan adalah benar
jika condong untuk meningkatkan kebahagiaan, atau salah jika condong menimbulkan
penderitaan atau kerugian. Mill menerima pandangan Jeremy Bentham (1748-1832)
yang memiliki maxim the greatest happiness of the greatest number (kebahagiaan
terbesar bagi jumlah yang terbesar). Bentham mengatakan bahwa alam telah
menempatkan manusia di bawah tuntunan dua guru, yaitu kenikmatan (pleasure) dan
penderitaan (pain). Manusia adalah makhluk yang mencari kenikmatan (pleasure
seeking) dan menghindari rasa sakit (pain avoiding). Bentham menjelaskan teorinya
dalam istilah kuantitatif dan berharap untuk membina etika kemanfaatan atas dasar
ilmiah (Mill and Bentham, 2003, p.8).
Teori Deontologi terkait dengan tugas dan tanggung jawab etika seseorang.
Deontologi mengevaluasi perilaku beretika berdasarkan motivasi dari pengambil
keputusan. Menurut teori deontologi, suatu tindakan dapat saja secara etika benar
walaupun tidak menghasilkan selisih positif antara kebaikan dan keburukan untuk
pengambil keputusan atau masyarakat secara keseluruhan. Teori deontologi adalah
sebuah sistem moral yang diciptakan oleh seorang filsuf Jerman, yaitu Immanuel Kant
(1724-1804). Menurut Kant, apa yang disebut baik adalah kehendak baik. Kesehatan,
kekayaan atau inteligensi adalah hal yang baik jika digunakan dengan kehendak baik.
Kalau perbuatan dilakukan dengan suatu maksud atau motif lain, maka perbuatan
tersebut tidak dapat disebut baik, betapapun luhurnya maksud tujuan tersebut.
Perbuatan adalah baik jika hanya dilakukan karena wajib dilakukan (Bertens, 2007:
255). Seharusnya, perbuatan dilakukan berdasarkan kewajiban. Kant juga mengatakan
mengenai imperatif kategoris. Kewajiban moral, menurutnya, mengandung suatu
imperatif kategoris, artinya imperatif (perintah) yang mewajibakan begitu saja, tanpa
syarat. Imperatif kategoris menjiwai semua peraturan etis. Misalnya, janji harus
diharus ditepati (senang atau tidak senang) serta buku yang dipinjam harus
dikembalikan (walaupun pemiliknya lupa). Di bidang moral, tingkah laku manusia
hanya dibimbing oleh norma yang mewajibkan begitu saja, bukan oleh pertimbangan
lain. (Bertens, 2007: 256).
Virtue Ethics berasal dari pemikiran Aristoteles yang mencoba membuat konsep
mengenai kehidupan yang baik. Menurutnya, tujuan keidupan adalah kebahagiaan.
Kebahagiaan versi Aristoteles adalah kegiatan jiwa, bukan kegiatan fisik sebagaiman
konsep kebahagiaan hedonism, kita akan mencapai kebahagiaan dengan kehidupan
yang penuh kebajikan, kehidupan yang mengikuti alasan. Virtue adalah karakter jiwa
yang terwujud dalam tindakan-tindakan sukarela (yaitu tindakan yang dipilih secara
sadar dan sengaja). Kita akan menjadi orang baik jika secara teratur melakukan
tindakan kebajikan. Tapi, selain itu, menurut Aristoteles, dibutuhkan pula pendidikan
etika untuk mengetahui tindakan-tindakan yang baik. Virtue ethics berfokus kepada
karakter moral dari pengambi keputusan, bukan
konsekuensi dari keputusan
(ultilitarianisme) atau motivasi dari pengambil keputusan (deontology). Teori ini
mengambil pendekatan yang lebih holistic untuk memahami perilaku beretika dari
manusia. Teori ini menerima bahwa banyak aspek dari kepribadian kita. Setiap diri
kita memiliki keragaman karakter yang berkembang sejalan dengan kematangan
emosional dan etika. Setelah terbentuk, ciri-ciri karakter akan stabil.
Keunggulan dari virtue ethics adalah teori ini mengambil pandangan yang lebih
luas dalam memahami pengambilan keputusan yang memiliki beragam ciri-ciri
karakter. Dua permasalahan utama dari virtue ethics (Brooks& Dunn, 2012), adalah
menentukan virtues apa yang harus dimiiki seseorang sesuai dengan jabatan dan
tugasnya, dan bagaiman virtues ditunjukkan ditempat kerja.
Sebuah virtue yang menjadi kunci dalam bisnis adalah integritas, yang meliputi
kejujuran dan ketulusan. Untuk sebuah perusahaan artinya konsisten dengan prinsipprinsip perusahaan. Permasalahn dari virtue ethics adalah sulit untukmembuat daftar
yang lengkap mengenai virtue dan ada kemungkinan virtue tergantung kepada situasi
tertentu.
3. Analisis
Salah satu yang menyebabkan tumpahan minyak yang terjadi di Teluk Meksiko
adalah dilema antara penghematan biaya dan memenuhi kreiteria keselamatan.
Keputusan BP untuk tetap menjalankan penggalian telah menyebabkan terjadinya
ledakan pada kilang minyak Deepwater Horizon yang mengakibatkan tumpahan
minyak di Laut Meksiko. Dampak tumpahan minyak memiliki efek pada lingkungan,
kesehatan dan ekonomi.
Sebagian besar dampak dari tumpahan minyak terjadi pada spesies laut. Area
ledakan kilang minyak merupakan area tempat hidup 8332 spesies binatang, termasuk
lebih dari 1.270 ikan, 604 polychaetes, 218 burung, 1.456 moluska, 1.503 krustasea, 4
kura-kura laut dan 29 mamalia laut (David, 2010). Pada bulan Februari 2011, musim
kelahiran pertama bagi lumba-lumba sejak tumpahan, direktur dari Institut Marne
Mammal Studies di Gulfport melaporkan bahwa bayi lumba-lumba mati memenuhi
sepanjang garis pantai Mississippi dan Alabama sekitar 10 kali dari jumlah yang
normal untuk dua bulan pertama dalam satu tahun. Pada bulan April 2011, satu tahun
dari awal tumpahan minyak, ilmuwan mengkonfirmasi bahwa mereka telah
menemukan minyak pada lumba-lumba mati yang ditemukan di sepanjang Pantai
Teluk. 15 dari 406 lumba-lumba yang terdampar di 14 bulan terakhir memiliki
minyak pada tubuh mereka; minyak ditemukan di delapan dari mereka terkait dengan
tumpahan. Pada tahun 2013, peneliti menemukan bahwa minyak di bawah dasar laut
tidak terlihat berkurang dan minyak dalam kolom air mulai menggumpal disekitar
sendimen dan jatuh ke laut lantai dalam. Hasilnya dapat menimbulkan efek jangka
panjang karena minyak dapat bertahan sehingga dapat membahayakan rantai
makanan.
Ledakan dan tumpahan minyak tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga
membahayakan ekonomi penduduk sekitar. Industri minyak mempekerjakan sekitar
58.000 warga Louisiana dan telah menciptakan lain 260.000 pekerjaan yang
berhubungan dengan minyak (Bill Sasser, 2010). Pada akhir 2012 nelayan setempat
melaporkan bahwa kegiatan memancing kepiting, udang, dan tiram belum pulih dari
tumpahan minyak dan banyak ketakutan bahwa industri makanan laut Teluk tidak
akan pernah pulih. Salah satu nelayan di Mississippi mengatakan biasanya untuk
mendapatkan 8.000lb udang hanya diperlukan empat hari, Tetapi sejak tumpahan
minyak,
dalam satu minggu seorang nelayan hanya mendapatkan 800lb udang
(Aljazeera, 2012).
Tumpahan minyak juga memberi dampak pada kesehatan masyarakat serta
pekerja pembersih laut. Tumpahan minyak berdampak pada ribuan penghuni daerah
dan pekerja pembersih, resiko sehubungan dengan asap minyak, partikel dari luka
bakar dikontrol, senyawa organik volatil (VOC), hidrokarbon aromatik polycylic
(PAH), dan logam berat (The National Academies Press, 2010). Masyarakat dapat
terpapar bahan kimia yang terkandung dalam minyak melalui pernafasan, menelan,
atau dengan sentuhan.
The National Institute for Environmental Health Sciences melakukan
penelitian, terhadap isu-isu kesehatan 2.500 perempuan dan 800 anak-anak yang
tinggal di sepanjang pantai Louisiana. Informasi awal yang dikumpulkan dari
kuesioner dijawab oleh 224 perempuan menunjukkan hubungan yang signifikan
secara statistik antara gejala yang mereka laporkan dan paparan dari tumpahan
minyak. Pada periode awal paparan, para peserta melaporkan merasakan bersin, sesak
di dada, sesak napas, berair, membakar atau mata gatal, pengap, gatal atau hidung
berair; terbakar di hidung, tenggorokan atau paru-paru; ruam kulit, sakit atau lecet
berlangsung setidaknya tiga hari; sakit kepala parah atau migrain, mual, kelelahan
yang berlebihan atau kelelahan, diare, sakit tenggorokan, dan tidak mampu
berkonsentrasi.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Centers for Disease Control and the
Alabama Health Department, efek kesehatan yang sama tercatat di dua kabupaten
pesisir di Alabama. Sebuah penelitian Columbia University pada efek kesehatan anakanak di Louisiana dan Florida menemukan bahwa lebih dari 40% dari 1.437 orang tua
yang tinggal kurang dari 10 mil (16 km) dari pantai yang terpapar langsung tumpahan
dan lebih dari sepertiga dari orang tua melaporkan gejala kesehatan fisik atau mental
di kalangan anak-anak mereka.
Keputusan yang dibuat BP sangat bertolak belakang dengan teori
utilitarianisme. Tumpahan minyak yang diakibatkan oleh BP meminimalkan manfaat
yang diterima individu yang terkena dampak dari tumpahan minyak. Bahkan
tumpahan minyak menyebabkan lebih banyak kerugian dibandingkan kebaikan. Tidak
ada utilitas yang tersedia dari situasi ini karena tumpahan minyak itu sendiri hanya
menyebabkan konsekuensi negatif. Teori Utilitarian menyatakan bahwa tindakan
individu harus didasarkan pada aturan-aturan moral, mendefinisikan apakah suatu
tindakan, secara moral relevan, atau tidak. Teori ini berkonsentrasi pada konsekuensi
yang membawa utilitas dan orang perlu mengorbankan beberapa biaya dari mereka,
agar kelompok yang lebih besar untuk mendapatkan beberapa manfaat (Ghillyer,
2008). BP juga tidak menguji sistem keselamatan individu dari blowout preventer
dikarenakan BP tidak ingin mengorbankan biaya dan waktu tambahan. Apabila BP
melakukan pengujian pada sistem keselamatan blowout preventer maka eksplorasi
minyak akan memakan waktu dan biaya tambahan yang artinya akan menambah
waktu dan biaya eksplorasi minyak tersebut.
Teori utilitarianisme menyatakan bahwa perusahaan harus menjaga kebahagiaan
untuk diri mereka sendiri dan kebahagiaan kepada orang lain di keseimbangan. Tak
satu pun harus lebih besar daripada yang lain. Dua bagian yang membentuk
utilitarianisme adalah egoisme (memaksimalkan kebahagiaan dalam bisnis) dan
altruisme (memaksimalkan kebahagiaan pada orang lain). Jelas, karena ada kehidupan
yang hilang dan luka-luka dalam ledakan serta kerusakan lingkungan ekonomi dan
kesehatan, kebahagiaan bagi perusahaan dan orang lain pasti tidak dimaksimalkan.
Meskipun BP berusaha untuk menjaga keseimbangan yang sama antara kedua dengan
memaksimalkan
keuntungan
bagi
perusahaan,
dan
memproduksi
dan
mendistribusikan minyak untuk konsumen, mereka tidak melakukan pekerjaan
dengan baik karena mereka tidak melakukan pemeriksaan keselamatan individu pada
blowout preventer. Karyawan BP akan dianggap para pemangku kepentingan dalam
situasi ini karena perusahaan tempat mereka bekerja mendapatkan reputasi negatif
setelah insiden itu. Karyawan akhirnya kehilangan kebahagiaan karena perusahaan
mereka akan terkena dampak negatif, yang mencerminkan pada mereka. Para
pemangku kepentingan lainnya,
seperti pelanggan, juga kehilangan kebahagiaan
karena mereka kehilangan kepercayaan pada perusahaan karena perilaku yang tidak
bertanggung jawab. Pelanggan ingin mendukung perusahaan dapat mereka percaya
dan ledakan ini membuat BP terlihat ceroboh dan tidak bertanggung jawab.
Meskipun BP menerima konsekuensi dan hukuman yang telah diberikan oleh
pengadilan, BP mencoba melakukan lindung nilai konsekuensi ini dan membantu
untuk memperbaiki reputasinya yang rusak dengan mengambil alih dan memimpin
upaya bersih-bersih di seluruh Teluk. Namun, kerusakan sudah terjadi dan teori
utilitarianisme menempatkan penekanan pada konsekuensi, di mana niat positif tidak
dipertimbangkan. Niat positif BP setelah tumpahan minyak diabaikan ketika
menganalisis peristiwa ini dari sudut pandang utilitarianisme dan hanya konsekuensi
yang dipertimbangkan. Teori utilitarianisme masih akan menganggap ini tidak
beretika dikarenakan utilitas tidak dimaksimalkan untuk semua orang yang terkena
dampak, pada kenyataannya orang masih menderita dari konsekuensi negatif yang
ditimbulkan tumpahan minyak.
Kesimpulannya, menurut manfaat dan biaya yang telah disebutkan, dapat
dikatakan bahwa teori utilitarianisme menunjukkan tindakan BP merupakan tindakan
yang tidak etis dikarenakan tumpahan minyak hanya menyebabkan kerugian dan efek
berbahaya dan tidak ada manfaat nyata yang diterima.
Berdasarkan teori deontologi, keputusan BP untuk tidak melakukan pengujian
sistem keselamatan individu dari blowout preventer merupakan tindakan yang tidak
etis. Teori deontologi terkait dengan tugas dan tanggung jawab etika seseorang.
Pengujian sistem keselamatan inividu dihimbau oleh produsen dari blowout preventer
untuk memenuhi kriteria sistem keselamatan. BP mengabaikan kewajibannya untuk
melakukan pengujian sistem dikarenakan hanya memikirkan upaya untuk menghemat
biaya dan waktu. Perbuatan adalah baik jika hanya dilakukan karena wajib dilakukan
(Bertens, 2007: 255). Seharusnya, perbuatan dilakukan berdasarkan kewajiban,
sehingga seharusnya BP melakukan pengujian sistem keselamatan indivudu pada
blowout preventer karena itu merupakan kewajibannya. Oleh karena itu maka
tindakan BP dianggap tidak etis dikarena sebuah tindakan dinilai benar apabila
tindakan tersebut selaras dengan prinsip kewajiban yang relevan pada perusahaannya.
Virtue ethics berfokus kepada karakter moral dari pengambi keputusan. Virtue
ethics menyatakan bahwa dalam rangka sebuah bisnis berfungsi dengan baik, mereka
harus mentaati kebajikan seperti kejujuran, keberanian, keadilan, dan kontrol diri.
Bedasarkan virtue ethics, maka keputusan BP untuk tidak menguji blowout preventer
merupakan tindakan yang tidak etis, dikarenakan BP tidak jujur dalam melakukan
menjalankan bisnisnya sesuai dengan standard yang telah ditetapkan. Pengujian
sistem keselamatan inividu dihimbau oleh produsen dari blowout preventer untuk
memenuhi kriteria sistem keselamatan, sehingga pengujian merupakan salah satu
prosuder yang harus dilakukan oleh BP dalam menjalankan penggalian minyak.
Ketika BP memutuskan untuk melewati salah satu tahapan prosedur dalam
menajalankan penggalian minyak dikarenakan penghematan biaya dan waktu, maka
BP dapat dinilai tidak jujur, karena mencurangi standard yang sudah ditentukan.
4. Kesimpulan dan Saran
Ledakan pada salah satu kilang minyak yang dimiliki dan dioperasikan oleh
Transocean dan pengeboran BP, Deepwater Horizon, mengakibatkan juga tumpahan
minyak di Teluk Meksiko. Hal ini dikarenakan bahwa baik BP dan Transocean tidak
menguji sistem keselamatan individu dari blowout preventer, sedangkan tes individual
dihimbau oleh produsen blowout preventer. Berdasarkan teori utilitarianisme, teori
teori deontologi dan virtue ethics, keputusan BP untuk tidak melakukan pengujian
sistem keselamatan dari blowout preventer merupakan tindakan yang tidak etis.
Berdasarkan teori utilitarianisme, tindakan BP tidak etis dikarenakan akibat dari
tindakan BP, tumpahan minyak hanya menyebabkan kerugian dan efek berbahaya dan
tidak ada manfaat nyata yang diterima. Tindakan BP dinilai tidak etis dilihat dari teori
deontologi dikarenakan BP melalaikan kewajibannya, dan berdasarkan virtue ethics
tindakan BP dinilai tidak etis dikarenakan ketidakjujuran.
Disaat membuat keputusan, sebaiknya BP mempertimbangkan keselamatan dan
teori utilitarianisme, teori deontologi serta virtue ethics. Upaya penghematan biaya
dan waktu yang dilakukan BP pun sia-sia, bahkan dikarenakan keputusan BP yang
tidak mempertimbang 3 teori etika tersebut, BP mengeluarkan biaya yang lebih
karena ledakan dari kilang minyak Deepwater Horizon. Maka pertimbangan teori
utilitarianisme, teori deontologi serta virtue ethics diperlukan dalam setiap
pengambilan keputusan.
Daftar Pustaka
Buku:
Biello, David (9 June 2010). "The BP Spill's Growing Toll On the Sea Life of the
Gulf". Yale Environment 360. Yale School of Forestry & Environmental Studies.
Retrieved 2010-06-14.
Bentham, Jeremy., Mill, John Stuart., 1961. The Utilitarians: an introduction to the
principles of morals and legislation, Doubleday.
Bertens, Kees. 2007. Etika. Jakarta: Gramedia.
Mill, John Stuart., 1863. Utilitarianism.
McCoy, Margaret A.; Salerno, Judith A. (2010). Assessing the Effects of the Gulf of
Mexico Oil Spill on Human Health: A Summary of the June 2010 Workshop (2010).
The National Academies Press. pp. ?; 43; 50. ISBN 978-0-309-15781-0.
Berita:
BBCs staff. 30 May 2010. "Gulf of Mexico oil leak 'worst US environment disaster'" .
BBC News.
BBCs staff. 6 January 2011. US oil spill: 'Bad management' led to BP disaster. BBC
News. [Link]
Bill Sasser. May 24 2010. Despite BP oil spill, Louisiana still loves Big Oil. The
Christian Science Monitor. [Link]
Dhar Jamail. 19 april 2012. Gulf fisheries in decline after oil disaster. Aljazeera.
[Link]
The Guardians Staff. 5 June 2014. Investigation into 2010 BP oil spill finds failures,
poor testing and ongoing risks. The Guardian.
[Link]