Pertemuan Soekarno dan Van Mook 1945
Pertemuan Soekarno dan Van Mook 1945
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, beberapa pertemuan dan perundingan seperti Linggarjati, Renville, dan KMB mengatur hubungan politik Indonesia-Belanda. Linggarjati menghasilkan pengakuan de facto Indonesia atas wilayah tertentu; Renville memperkuat kontrol Belanda sementara sebelum pembentukan RIS; KMB akhirnya mengakui kedaulatan RIS meskipun dengan beban restitusi ekonomi kepada Belanda .
Untuk menghentikan pertentangan dengan Belanda, Indonesia mengadakan perundingan Linggarjati yang dipimpin oleh Lord Killearn pada November 1946. Perundingan ini diakhiri dengan kesepakatan bahwa Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah Sumatera, Jawa, dan Madura. Republik Indonesia dan Belanda juga sepakat membentuk Negara Indonesia Serikat .
Persetujuan Roem-Royen, mulai 17 April 1949, menyepakati kembalinya pemerintah RI ke Yogyakarta sebagai bagian dari kesepakatan Belanda untuk menghentikan gerakan militer dan membebaskan tahanan politik. Ini menegaskan niat kedua pihak untuk mempercepat penyerahan kedaulatan ke Indonesia .
Persetujuan Renville, yang ditandatangani pada 17 Januari 1948, menyatakan wilayah Indonesia berdasarkan Garis Van Mook dan menetapkan bahwa Belanda akan tetap berdaulat atas seluruh wilayah Indonesia sampai terbentuknya Negara Indonesia Serikat (RIS). Selain itu, RIS akan memiliki kedudukan sejajar dengan Belanda dalam uni Indonesia-Belanda. Persetujuan ini memperpanjang konflik karena tetap menempatkan Belanda di posisi utama meskipun mengakui terbentuknya RIS .
Perundingan di Hooge Veluwe tidak menghasilkan kesepakatan karena pihak Belanda menolak pengakuan de facto kedaulatan RI atas Jawa dan Sumatera, menyetujui hanya pengakuan atas Jawa dan Madura. Belanda tidak bersedia memberikan pengakuan de facto kedaulatan Republik Indonesia yang diusulkan oleh Sjahrir sebelumnya .
Van Mook berpendapat bahwa Indonesia harus menjadi negara makmur berbentuk federal yang memiliki pemerintah sendiri dalam lingkungan kerajaan Belanda dan menambahkan bahwa pemerintah Belanda akan memasukkan Indonesia sebagai anggota PBB .
Kesulitan utama adalah bahwa Belanda tidak menerima usul Indonesia terkait pengakuan negara berdaulat penuh. Van Mook mengusulkan secara pribadi agar Indonesia sebagai wakil Jawa bekerjasama dalam pembentukan negara federal dalam kerajaan Belanda. Sjahrir kemudian mengusulkan pengakuan de facto kedaulatan RI atas Jawa dan Sumatera untuk membentuk RIS yang turut serta dalam ikatan negara Belanda .
Sjahrir mengusulkan agar Pemerintah Belanda mengakui kedaulatan de facto RI atas Jawa dan Sumatera serta bekerja sama membentuk RIS. Strategi ini bagian dari negosisasi tahap pembentukan RIS yang diikutkan dalam ikatan negara Belanda. Namun, Belanda hanya menyetujui pengakuan atas daerah yang terbatas sehingga menyebabkan penolakan lanjutan dari pihak Indonesia .
Pada perundingan 10 Februari 1946, Van Mook menyatakan bahwa Indonesia akan dijadikan negara commonwealth berbentuk federasi dengan urusan dalam negeri dipegang Indonesia, tapi urusan luar negeri oleh Belanda. Indonesia menanggapi dengan mengusulkan pengakuan penuh kedaulatan Indonesia atas wilayah bekas Hindia-Belanda dan pembentukan federasi Indonesia-Belanda di mana urusan luar negeri dan pertahanan diserahkan kepada suatu badan federasi .
Konferensi Meja Bundar di Den Haag menghasilkan keputusan bahwa Belanda mengakui RIS sebagai negara yang berdaulat dan merdeka. Namun, masalah irian Barat diselesaikan kemudian, RIS harus membayar hutang bekas Hindia Belanda dan membentuk angkatan perang dengan TNI sebagai inti. Keputusan ini menandai penyerahan kedaulatan je RIS secara resmi, meskipun dengan beban ekonomi dari hutang peninggalan Belanda .