0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5K tayangan20 halaman

AMILUM

Makalah ini membahas tentang amilum, yaitu karbohidrat yang banyak terdapat di tumbuhan. Amilum terdiri atas dua jenis polisakarida yaitu amilosa dan amilopektin. Makalah ini juga menjelaskan identifikasi amilum pada beberapa tanaman seperti singkong, jagung, gandum dan beras.

Diunggah oleh

Anshari Kurniawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5K tayangan20 halaman

AMILUM

Makalah ini membahas tentang amilum, yaitu karbohidrat yang banyak terdapat di tumbuhan. Amilum terdiri atas dua jenis polisakarida yaitu amilosa dan amilopektin. Makalah ini juga menjelaskan identifikasi amilum pada beberapa tanaman seperti singkong, jagung, gandum dan beras.

Diunggah oleh

Anshari Kurniawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH KIMIA ORGANIK

AMILUM/PATI

Disusun Oleh :
Anshari Kurniawan (09220150066)

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2016

1 | Page

Kata Pengantar
Puji Syukur kami ucapkan atas kehadirat dan ridho Allah SWT, karena dengan
ridho-Nya saya dapat menyelesaikan tugas makalah dan presentasi Kimia
Organik dengan judul Amilum/Pati,dan taklupa pula kita hujamkan shalawat
yang banyak kepada Rasulullah SAW yang telah mengeluarkan kita dari
kegelapan dunia.
Makalah Amilum/Pati ini berisi tentang pembagian dan identifikasi. Makalah ini
dibuat dengan tujuan agar mahasiswa dapat memahami apa itu Amilum/Pati.
Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh pihak yang telah berjasa membantu
saya dalam menyelesaikan makalah ini :
1. Ibu Artiningsih, selaku Dosen Kimia organik yang telah mengarahkan dan
memberikan beberapa sub. bagian materi yang akan kami bahas pada saat
presentasi mengenai materi ini kepada rekan rekan mahasiswa teknik
kimia lainnya.
2. Rekan rekan kerja yang turut aktif membantu terselesainya makalah ini
dengan baik dan tepat waktu.
Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi banyak pihak terutama
mahasiswa Teknik Kimia. Apabila terdapat kesalahan dalam penyusunan makalah
ini, baik penulisan atau yang lainnya, penulis memohon maaf yang sebesar
besarnya.

Penulis

2 | Page

Balikpapan, 16 Januari 2016

DAFTAR ISI

Halaman Judul....................................................................................

Kata Pengantar...................................................................................
ii
Daftar Isi ............................................................................................
BAB I

iii

PENDAHULUAN....................................................................
1
1.1 Latar Belakang Masalah...................................................

1.2 Rumusan Masalah............................................................

1.3 Tujuan Penulisan..............................................................

BAB II KAJIAN TEORI.......................................................................

2.1 Amilum..................................................................................
....................
3
2.2 Pembagian Amilum..................................... 4
2.3 Identifikasi Amilum........................................ 7
2.3.1 Amilum Manihot (Pati Singkong)............................. 7
2.3.2 Amilum Tritici (Pati Gandum)..................................
8
2.3.3 Amilum Maydis (Pati Jagung).................................. 9
2.3.4 Amilum Oryzae....................................................... 10
BAB III PEMBAHASAN........................................................ 11
BAB IV PENUTUP............................................................... 16
.1 Kesimpulan............................................................................
16
.1 Saran...................................................................................... 16

3 | Page

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Indonesia merupakan salah satu negara Agraris yang melimpah akan sumber
daya alamnya salah satunya adalah bahan makanan. Kebutuhan manusia akan
hidup itu bergantung dengan apa yang dimakan untuk keberlangsungan
hidupnya. Di Indonesia, bahan makanan pokok yang biasa dimakan adalah
beras, jagung, sagu, dan kadang-kadang juga singkong atau ubi. Bahan
makanan tersebut berasal dari tumbuhan atau senyawa yang terkandung di
dalamnya sebagian besar adalah karbohidrat.
Karbohidrat merupakan segolongan besar senyawa organik yang paling
melimpah di bumi. Karbohidrat memiliki berbagai fungsi dalam tubuh
makhluk hidup, terutama sebagai bahan bakar (misalnya glukosa), cadangan
makanan (misalnya pati pada tumbuhan dan glikogen pada hewan), dan
materi pembangun (misalnya selulosa pada tumbuhan, kitin pada hewan dan
jamur).
Pada proses fotosintesis, tumbuhan hijau mengubah karbondioksida menjadi
karbohidrat. Hasil dari metabolism primer turunan dari karbohidrat berupa
senyawa-senyawa polisakarida yaitu amilum. Amilum merupakan sumber
energi utama bagi orang dewasa di seluruh penduduk dunia. Disamping
bahan pangan kaya akan amilum juga mengandung protein, vitamin, serat
dan beberapa zat gizi penting lainnya.
Pati atau amilum merupakan simpanan energi didalam sel-sel tumbuhan,
berbentuk butiran-butiran kecil mikroskopik dengan diameter berkisar antara
5-50 nm. Di alam, pati banyak terkandung dalam beras, gandum, jagung, bijibijian seperti kacang merah atau kacang hijau dan banyak juga terkandung
dalam berbagai jenis umbi-umbian seperti singkong, kentang atau ubi.
Didalam berbagai produk pangan, pati umumnya akan terbentuk dari dua
1 | Page

polimer molekul glukosa yaitu amilosa dan amilopektin. Amilosa merupakan


polimer glukosa rantai panjang yang tidak bercabang, sedangkan amilopektin
merupakan polimer glukosa dengan susunan yang bercabang-cabang.
Komposisi kandungan amilosa dan amilopektin ini akan bervariasi dalam
produk pangan, dimana produk pangan yang memiliki kandungan
amilopektin tinggi akan semakin mudah untuk dicerna
Penampang amilum pada berbagai tanaman tentu berbeda-beda. Karena itu,
pada praktikum kali ini akan membahas tentang perbedaan jenis amilum pada
tumbuhan, seperti amilum pada amilum pada beras (Oryza sativa), amilum
pada jagung (Zea mays), amilum pada singkong (Manihot utilissima) dan
amilum pada gandum (Triticum aestivum L).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dalam makalah ini penulis
merumuskan masalah yang akan dibahas:
a.

Apa itu Amilum?

b. Bagaimana pembagian Amilum ?


c.

Identifikasi Amilum ?

1.3 Tujuan Penulisan


Dari rumusan masalah yang dibahas di makalah ini maka penulisan makalah
ini mempunyai tujuan sebagai berikut:
a.

Memberikan pengetahuan tentang Amilum.

b. Memberi penjelasan pembagian Amilum.


C. Memeberikan penjelasan tentang identifikasi Amilum

2 | Page

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Amilum
Amilum adalah jenis polisakarida yang banyak terdapat dialam, yaitu sebagian
besar tumbuhan terdapat pada umbi, daun, batang, dan biji-bijian (Poedjiadi,
A. 2009).
Amilum merupakan suatu senyawa organik yang tersebar luas pada
kandungan tanaman. Amilum dihasilkan dari dalam daun-daun hijau sebagai
wujud penyimpanan sementara dari produk fotosintesis. Amilum juga
tersimpan dalam bahan makanan cadangan yang permanen untuk tanaman,
dalam biji, jari-jari teras, kulit batang, akar tanaman menahun, dan umbi.
Amilum merupakan 50-65% berat kering biji gandum dan 80% bahan kering
umbi kentang (Gunawan,2004)

2.2 Pembagian Amilum

3 | Page

Amilum terdiri dari dua macam polisakarida yang kedua-duanya adalah


polimer dari glukosa, yaitu amilosa (kira-kira 20 28 %) dan sisanya
amilopektin

Amilosa

: Terdiri atas 250-300 unit D-glukosa yang berikatan

dengan ikatan 1,4 glikosidik. Jadi molekulnya menyerupai rantai terbuka.

Amilopektin

: Terdiri atas molekul D-glukosa yang sebagian besar

mempunyai ikatan 1,4- glikosidik dan sebagian ikatan 1,6 glikosidik. adanya
ikatan 1,6-glikosidik menyebabkan terdjadinya cabang, sehingga molekul
amilopektin berbentuk rantai terbuka dan bercabang. Molekul amilopektin
lebih besar dari pada molekul amilosa karena terdiri atas lebih 1000 unit
glukosa (Poedjiadi, A. 2009).

4 | Page

Secara umum, amilum terdiri dari

20% bagian yang larut

air (amilosa) dan 80% bagian yag tidak larut air (amilopektin). Hidrolisis
amilum oleh asama mineral menghasilkan glukosa sebagai produk akhir
secara hampir kuantitatif (Gunawan, 2004).
Bentuk sederhana amilum adalah glukosa dan rumus struktur glukosa adalah
C6H11O6 dan rumus bangun dari - D- glukosa. Amilum dapat dihidrolisis
sempurna dengan menggunakan asam sehingga menghasilkan glukosa.
Hidrolisis juga dapat dilakukan dengan bantuan enzim amilase, dalam air
ludah dan dalam cairan yang dikeluarkan oleh pankreas terdapat amilase yang
bekerja terhadap amilum yang terdapat pada makanan kita oleh enzim amilase,
amilum diubah menjadi maltosa dalam bentuk maltosa (Poedjiadi,A.
2009).
Amilum juga disebut dengan pati. Pati yang diperdagangkan diperoleh dari
berbagai bagian tanaman, misalnya endosperma biji tanaman gandum, jagung
dan padi ; dari umbi kentang ; umbi akar Manihot esculenta (pati tapioka);
batang Metroxylon sagu (pati sagu); dan rhizom umbi tumbuhan
bersitaminodia yang meliputi Canna edulis, Maranta arundinacea, dan
Curcuma angustifolia (pati umbi larut) (Fahn, 1995).
Tanaman dengan kandungan amilum yang digunakan di bidang farmasi adalah
jagung (Zea mays), Padi/beras (Oryza sativa), kentang (Solanum tuberosum),

5 | Page

ketela rambat (Ipomoea batatas), ketela pohon (Manihot utilissima)


(Gunawan, 2004).
Pada bidang farmasi, amilum terdiri dari granul-granul yang diisolasi dari Zea
mays Linne (Graminae), Triticum aesticum Linne (Graminae), dan Solanum
tuberosum Linne (Solanaceae). Granul amilum jagung berbentu polygonal,
membulat atau sferoidal dam mempunyai garis tengah 35 mm. Amilum
gandum dan kentang mempunyai komposisi yang kurang seragam, masingmasing mempunyai 2 tipe granul yang berbeda (Gunawan, 2004).
Amilum digunakan sebagai bahan penyusun dalam serbuk dan sebagai bahan
pembantu dalam pembuatan sediaan farmasi yang meliputi bahan pengisi
tablet, bahan pengikat, dan bahan penghancur. Sementara suspensi amilum
dapat diberikan secara oral sebagai antidotum terhadap keracunan iodium dam
amilum gliserin biasa digunakan sebagai emolien dan sebagai basis untuk
supositoria (Gunawan, 2004).
Sebagai amilum normal, penggunaanya terbatas dalam industri farmasi. Hal
ini disebabkan karakteristiknya yang tidak mendukung seperti daya alir yang
kurang baik, tidak mempunyai sifat pengikat sehingga hanya digunakan
sebagai pengisi tablet bagi bahan obat yang mempunyai daya alir baik atau
sebagai musilago, bahan pengikat dalam pembuatan tablet cara granulasi
basah (Anwar, 2004).

Amilum hidroksi-etil adalah bahan yang semisintetik yang digunakan sebagai


pengencer plasma (dalam larutan 6%). Ini merupakan pengibatan tasmbahan
untuk kejutan yang disebabkan oleh pendarahan, luka terbakar, pembedahan,
sepsis, dan trauma lain. Sediaan amilum yang terdapat dalam pasaran adalah
Volex (Gunawan, 2004).

6 | Page

Fungsi amilum dalam dunia farmasi digunakan sebagai bahan penghancur


atau pengembang (disintegrant), yang berfungsi membantu hancurnya tablet
setelah ditelan (Syamsuni H,A. 2007).

2.3 Identifikasi Amilum


2.3.1 Amilum Manihot (Pati Singkong)
Pati singkong adalah pati yang diperoleh dari umbi akar Manihot utillissima
Pohl ( familia Euphorbiaceae ).

Pemerian : serbuk sangat halus, putih. Kelarutan : paktis tidak larut dalam
air dingin dan dalam etanol.
Mikroskopik : butir tunggal, agak bulat atau bersegi banyak, butir kecil
diameter 5m sampai 10m, butir besar bergaris tengah 20m sampai
35m, hilus di tengah berupa titik, garis lurus atau bercabang tiga, lamela
tidak jelas,konsentris, butir majemuk sedikit, terdiri atas dua atau tiga butir
tunggal tidak sama bentuknya.

7 | Page

Bahan organik asing : tidak lebih dari sespora sel.


Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup rata

2.3.2 Amilum Tritici (Pati Gandum)

Amylum tritici Pati gandum adalah pati yang diperoleh dari biji Triticum
aestivum L.
Mikroskopik : butir, bentuk cakram besar atau seperti ginjal ukuran 10m
sampai 45m, bentuk bulat telur,terbelah sepanjang poros utama, butir
bersegi banyak atau bulatan kecil, ukuran 2 m sampai 10m. Jarang
diketemukan butiran dengan ukuran sedang. Hilus dan lamela sukar
terlihat. Amati di bawah cahaya terpolarisasi,tampak bentuk silang
berwarna hitam, memotong pada hilus.

8 | Page

2.3.3 Amilum Maydis (Pati Jagung)

Pati jagung adalah pati yang diperoleh dari biji Zea mays L ( familia
Poaceae ) Pemerian,kelarutan,bahan organik asing,wadah penyimpanan :
memenuhi syarat seperti yang tertera pada Pati Singkong.
Mikroskopik : butir bersegi banyak, bersudut, ukuran 2m sampai
23matau butir bulat dengan diameter 25m sampai 32m. Hilus ditengah
berupa rongga yang nyata atau celah berjumlah 2 sampai 5,tidak ada
lamela. Amati di bawah cahaya terpolarisasi, tampak bentuk silang
berwarna hitam, memotong pada hilus.
9 | Page

2.3.4 Amilum Oryzae (Pati Beras)


Amylum oryzae Pati beras adalah pati yang diperoleh dari biji Oryza sativa
L. (Familia Poaceae). Pemerian,kelarutan,bahan organik asing,wadah
penyimpanan : memenuhi syarat seperti yang tertera pada Pati
Singkong. Mikroskopik : butir versegi banyak ukuran 2m sampai 5m,
tunggal atau majemuk bentuk bulat telur ukuran 10m sampai 20 m. Hilus
ditengah, tidak terlihat jelas,tidak ada lamela konsentris. Amati di bawah
cahaya terpolarisasi, tampak bentuk silang berwarna hitam, memotong pada
hilus.

10 | P a g e

BAB III
3.1 Pembahasan
Farmakognosi merupakan cara pengenalan ciri-ciri atau karakteristik obat
yang berasal dari bahan alam. Farmakognosi mencakup seni dan pengetahuan
pengobatan dari alam yang meliputi tanaman, hewan, mikroorganisme, dan
mineral. Perkembangan farmakognosi saat ini sudah melibatkan hasil
penyarian atau ekstrak yang tentu tidak akan bisa dilakukan indentifikasi zat
aktif jika hanya mengandalkan mata. Dengan demikian, cara identifikasi juga
semakin berkembang dengan menggunakan alat-alat cara kimia dan fisika.
Simplisia merupakan bahan alami yang digunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan
yang telah dikeringkan. Simplisia terbagi 2 jenis, yaitu simplisia nabati dan
simplisia hewani. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh,
bagian dari tanaman atau isi sel dengan cara tertentu dipisahkan dari
tanamannya dan belum berupa zat kimia murni. Sedangkan simplisia hewani
adalah simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan, atau zat-zat berguna
yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni. Selain itu juga
terdapat simplisia pelican (mineral), yaitu simplisia yang berupa bahan-bahan

11 | P a g e

pelikan/mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana
dan belum berupa zat kimia murni.
Simplisia nabati harus bebas dari serangga, fragmen hewan/ kotoran hewan,
tidak menyimpan bau dan warna, tidak mengandung cendawan, tidak
mengandung bahan lain yang beracun dan berbahaya. Jika simplisia tidak
memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan maka simplisia
dianggap bermutu rendah, terutama persyaratan kadarnya. Hal yang
menyebabkan simplisia bermutu rendah yaitu tanaman asal, cara panen, dan
pengeringan yang salah, pemyimpanan terlalu lama, kelembaban atau panas,
atau isinya telah disari dengan cara pelarutan dan penyulingan. Secara garis
besar ada beberapa macam cara pemeriksaan dalam menilai simplisia yaitu
secara organoleptik, secara mikroskopik, secara fisika, secara hayati, dan
secara makroskopik.
Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan atau pembelian
dari pengumpul / pedagang simplisia. Pemeriksaan organolpetik dan
makroskopik dilakukan dengan mengguankan indra manusia. Pemeriksaan
mikroskopik dilakukan dengan menggunakan mikroskop dengan mengamati
ciri-ciri anatomi histologi terutama untuk menegaskan keaslian simplisia dan
pemeriksaan untuk menetapkan mutu berdasarkan senyawa aktifnya,
umumnya meliputi pengamatan terhadap serbuk.
Amylum adalah jenis polisakarida yang banyak terdapat dialam, yaitu
sebagian besar tumbuhan terdapat pada umbi, daun, batang, dan biji-bijian.
Amylum terdiri dari dua macam polisakarida yang kedua-duanya adalah
polimer dari glukosa, yaitu amilosa (kira-kira 20 28 %) dan sisanya
amilopektin. Amilosa: Terdiri atas 250-300 unit D-glukosa yang berikatan
dengan ikatan 1,4 glikosidik. Jadi molekulnya menyerupai rantai terbuka.
Amilopektin:Terdiri atas molekul D-glukosa yang sebagian besar mempunyai
ikatan 1,4- glikosidik dan sebagian ikatan 1,6-glikosidik. adanya ikatan 1,6glikosidik menyebabkan terjadinya cabang, sehingga molekul amilopektin

12 | P a g e

berbentuk rantai terbuka dan bercabang. Molekul amilopektin lebih besar dari
pada molekul amilosa karena terdiri atas lebih 1000 unit glukosa.
Amylum terdiri dari 20% bagian yang larut air (amilosa) dan 80% bagian yag
tidak larut air (amilopektin). Hidrolisis amylum oleh asam mineral
menghasilkan glukosa sebagai produk akhir secara hampir kuantitatif.
Amylum dapat dihidrolisis sempurna dengan menggunakan asam sehingga
menghasilkan glukosa. Hidrolisis juga dapat dilakukan dengan bantuan enzim
amilase, dalam air ludah dan dalam cairan yang dikeluarkan oleh pankreas
terdapat amilase yang bekerja terhadap amylum yang terdapat pada makanan
kita oleh enzim amilase, amylum diubah menjadi maltosa dalam bentuk
maltose.
Identifikasi amilum secara mikroskopis dan secara kimiawi. Sampel yang
digunakan pada percobaan kali ini adalah Amylum manihot, Amylum maydis,
Amylum oryzae, dan Amylum Tritici.
Identifikasi

secara

kimiawi

kandungan

amilum

bertujuan

untuk

mengidentifikasi ada atau tidaknya amilum dalam sampel yakni dengan cara
uji iodine. Pada uji ini sampel yang mengandung amilum akan berubah warna
menjadi biru. Sampel terlebih dahulu dipanaskan agar amilum dapat larut
sempurna dnegan air sehinggga lebih mudah dalam pendeteksian kandungan
amilum. Berdasarkan hasil percobaan sampel yang telah dipanaskan kemudian
ditetesi dengan iodine berubah menjadi biru ini dikarenakan warna biru yang
dihasilkan diperkirakan adalah hasil dari ikatan kompleks antara amilum
dengan iodin.
Identifikasi amilum secara mikroskopis bertujuan agar kita lebih mengetahui
bentuk-bentuk yang khas dari masing-masing amilum pada sampel sehingga
kedepannya akan lebih memudahkan praktikan dalam membuat sediaan
farmasi.
Pati jagung adalah pati yang diperoleh dari biji Zea mays L ( familia Poaceae).
Berdasarkan hasil praktikum bahwa pati jagung berupa butir bersegi banyak,
13 | P a g e

bersudut, atau butir bulat, kemudian terdapat butir pati dan hilus yang berupa
rongga atau celah dan terdapat lamela. Bentuk dan ukuran granula pati jagung
dipengaruhi oleh sifat biokimia dari khloroplas atau amyloplasnya. Sifat
birefringence adalah sifat granula pati yang dapat merefleksi cahaya
terpolarisasi sehingga di bawah mikroskop polarisasi membentuk bidang
berwarna biru dan kuning. Warna biru dan kuning pada permukaan granula
pati disebabkan oleh adanya perbedaan indeks refraktif yang dipengaruhi oleh
struktur molekuler amilosa dalam pati. Bentuk heliks dari amilosa dapat
menyerap sebagian cahaya yang melewati granula pati. Bentuk granula
merupakan ciri khas dari masing-masing pati. Tidak ada hubungan yang nyata
antara gelatinisasi dengan ukuran granula pati, tetapi suhu gelatinisasi
mempunyai hubungan dengan kekompakan granula, kadar amilosa, dan
amilopektin. Pati jagung mempunyai ukuran granula yang cukup besar dan
tidak homogen yaitu 1-7m untuk yang kecil dan 15-20 m untuk yang besar.
Granula besar berbentuk oval polyhedral dengan diameter 6-30 m.
Granulapati yang lebih kecil akan memperlihatkan ketahanan yang lebih kecil
terhadap perlakuan panas dan air dibanding granula yang besar. Jagung normal
mengandung 15,3-25,1% amilosa, jagung jenis waxy hampirtidak beramilosa,
jagung

amilomize

mengandung

42,6-67,8%

amilosa,

jagung

manis

mengandung 22,8% amilosa. Amilosa memiliki 490 unit glukosa per molekul
dengan rantai lurus 1-4 a glukosida, sedangkan amilopektin memiliki 22 unit
glukosa per molekul dengan ikatan rantai lurus 1-4 a glukosida dan rantai
cabang 1,6- a glukosida. Berdasarkan pengamatan pada pati jagung setelah
ditambahkan larutan iodium dan dipanaskan warnanya berubah menjadi biru.
Hal ini menendakan bahwa terdapat amilum pada pati jagung tersebut.
Pati singkong adalah pati yang diperoleh dari umbi akar Manihot
utillissimaPohl (familia Euphorbiaceae) berupa butir tunggal,butir agak bulat
atau bersegi banyak butir kecil, ada butir pati,dan juga hilus yang berupa garis
dan titik, ada juga lamella tapi tidak jelas,yang berupa butir majemuk sedikit.
Ketika sampel ditetesi dengan larutan iod sampel menunjukkan warna ungu

14 | P a g e

kebiruan, hal ini jelas menunjukkan bahwa terdapat amilum pada pati
singkong yang diamati.
Pati beras adalah pati yang diperoleh dari biji Oryza sativa L. (Familia
Poaceae) yang berupa butir bersegi banyak, tunggal atau majemuk bentuk
bulat telur, terdapat butir telur dan hilus yang tidak terlihat jelas, dan tidak
terdapat lamella. Ketika pati beras ditetesi iod menghasilkan warna biru muda
yang berarti menunjukkan bahwa pati beras yang diuji positif mengandung
pati.
Amylum tritici/ Pati gandum adalah pati yang diperoleh dari biji Triticum
aestivum L yang berupa butir bentuk cakram besar seperti ginjal; bentuk bulat
telur sepanjang poros utama; butir bersegi banyak/bulatan kecil. hilus dan
lamella sulit terlihat. Pada saat pengujian, larutan pati gandum ditetesi dengan
iod menunjukkan hasil yang positif dengan pembentukan warna biru dongker.

15 | P a g e

BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
Amilum adalah jenis polisakarida yang banyak terdapat dialam, yaitu
sebagian besar tumbuhan terdapat pada umbi, daun, batang, dan bijibijian Amilum merupakan salah satu bagian dari sel yang bersifat non
protoplasmik yang ada didalam plastida. Perkembangan amilum dimulai
dengan terbentuknya hilus, kemudian diikuti oleh pembentukan lamella yang
semakin banyak.
4.2 Saran
Saran yang dapat diberikan yaitu saat mengamati amilum dibawah
mikroskop, sebaiknya medium yang digunakan jangan terlalu banyak, karena
akan mempengaruhi penampang yang diamati. Jika terlalu banyak medium,
globul air akan mempersulit kita untuk mengamati hilus dan lamella yang
terbentuk

16 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

Kent NL. 1975. Technology of Cereals with Special References to Wheat. Oxford:
Pergamon Pr.
Anwar, E. et al.2004. Pemanfaatan Maltodekstrin Pati Terigu Sebagai Eksipien dalam
Formula Sediaan Tablet dan [Link]: Gajah Mada University Press
Fahn, A.1995. Anatomi Tumbuhan edisi [Link]: Gajah Mada University Press
Gunawan,D.,Mulyani,[Link] Obat Alam (Farmakognosi) jilid 1. Jakarta: Penebar
Swadaya
[Link]:Universitas Indonesia Press
Syamsuni, H. A. 2007. Ilmu [Link]: Penerbit Buku Kedokteran

17 | P a g e

Common questions

Didukung oleh AI

Komposisi amilosa dan amilopektin dalam amilum mempengaruhi sifat pencernaan pati, karena amilopektin yang cenderung lebih mudah dicerna dibandingkan amilosa lebih sering membentuk struktur bercabang. Produk pangan dengan kandungan amilopektin tinggi, seperti jagung jenis waxy, akan lebih mudah dicerna, sedangkan kandungan amilosa yang tinggi dapat membuat pati lebih gelatinous dan tahan lama .

Variasi kandungan amilosa dan amilopektin memiliki implikasi besar bagi industri pangan dan farmasi. Dalam industri pangan, tingkat amilopektin yang lebih tinggi menghasilkan produk yang lebih mudah dicerna dan lebih lembut ketika dimasak, sementara produk dengan lebih banyak amilosa cocok untuk aplikasi yang memerlukan tekstur lebih padat dan tahan terhadap penggumpalan. Dalam farmasi, konsistensi dan kestabilan amilum menjadi penting untuk eksipien dalam pembuatan tablet dan sediaan lainnya, menjadikan pemilihan jenis sumber pati berdasarkan komposisi kritis .

Identifikasi mikroskopis amilum penting dalam farmakognosi karena memungkinkan pengenalan bentuk dan ukuran granula amilum, yang merupakan karakteristik spesifik dari setiap sumber amilum. Metode ini membantu memastikan keaslian sampel dan mendeteksi kontaminasi bahan lain, yang sangat penting dalam pengembangan produk farmasi dan evaluasi kualitas bahan mentah .

Amilosa adalah polimer glukosa dengan rantai panjang yang tidak bercabang, terdiri atas 250-300 unit D-glukosa dengan ikatan α 1,4 glikosidik, sehingga membentuk molekul rantai terbuka. Amilosa umumnya membentuk sekitar 20-28% dari total amilum. Sebaliknya, amilopektin adalah polimer yang bercabang karena adanya ikatan 1,6 glikosidik selain ikatan 1,4 glikosidik, dengan molekul yang lebih besar terdiri lebih dari 1000 unit glukosa. Amilopektin membentuk 80% dari amilum dan memberikan sifat lebih tahan terhadap air serta lebih mudah dicerna dibandingkan amilosa .

Pati dari berbagai sumber, seperti jagung dan singkong, menunjukkan respon warna berbeda saat diuji dengan iodin karena perbedaan komposisi amilosa dan amilopektin serta struktur granula pati masing-masing. Misalnya, pati singkong ketika diidentifikasi menunjukkan warna ungu kebiruan, sedangkan pati jagung bisa menunjukkan warna biru, tergantung pada bentuk heliks dan konsistensi struktur granula, yang mempengaruhi interaksi dengan iodin .

Sifat fisik butiran pati, seperti ukuran dan bentuk granula, serta sifat birefringence, dapat mempengaruhi penggunaan pati dalam produk. Granula pati yang lebih besar cenderung memiliki ketahanan lebih terhadap degradasi panas dan air dibandingkan granula yang lebih kecil. Sifat birefringence menunjukkan kekompakan granula yang memengaruhi tekstur dan kestabilan produk akhir, seperti dalam produk pangan dan farmasi. Pemahaman tentang sifat ini esensial untuk memilih jenis pati yang tepat sesuai aplikasi .

Dalam proses fotosintesis, tumbuhan mengubah karbon dioksida menjadi karbohidrat melalui reaksi kimia yang berlangsung di kloroplas. Produk fotosintesis yang terutama berupa glukosa akan disimpan sebagai amilum atau pati di berbagai bagian tumbuhan sebagai cadangan energi yang dapat digunakan kemudian. Ini menunjukkan bahwa amilum adalah hasil utama dari fotosintesis pada tumbuhan .

Faktor yang dapat menyebabkan mutu simplisia amilum rendah meliputi tanaman asal yang tidak tepat, cara panen dan pengeringan yang kurang baik, penyimpanan terlalu lama, kelembaban atau suhu yang tidak tepat, dan adanya kontaminan yang berbahaya seperti serangga atau jamur. Selain itu, simplisia bisa bermutu rendah jika kadar amilosa dan amilopektin menyimpang dari standar yang diharapkan .

Amilosa sulit larut dalam air karena bentuk rantainya yang panjang dan tidak bercabang membuatnya lebih kaku dan kurang interaksi dengan air. Sementara itu, amilopektin, yang merupakan bagian dominan dalam amilum, bersifat lebih larut karena struktur bercabangnya yang memudahkan interaksi dengan air. Sebagai hasilnya, amilum secara keseluruhan cenderung lebih terlarut dibandingkan amilosa itu sendiri .

Uji iodin untuk identifikasi amilum bekerja dengan menambahkan iodin ke dalam sampel yang mengandung amilum, yang kemudian berubah warna menjadi biru. Warna biru ini dihasilkan dari interaksi kompleks antara molekul amilosa dalam amilum dengan iodin. Iodin masuk ke dalam struktur heliks amilosa, membentuk kompleks warna yang memberikan indikasi kuat adanya amilum dalam sampel .

Anda mungkin juga menyukai