BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengertian Kompresor
Kompresor adalah alat pemampat atau pengkompresi udara dengan kata
lain kompresor adalah penghasil udara mampat. Karena proses pemampatan,
udara mempunyai tekanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan
udara lingkungan (1 atm). Dalam keseharian, kita sering memanfaatkan udara
mampat baik secara langsung atau tidak langsung. Sebagai contoh, udara
mampat yang digunakan untuk mengisi ban mobil atau sepeda motor, udara
mampat untuk membersihkan bagian-bagian mesin yang kotor di bengkelbengkel dan manfaat lain yang sering dijumpai sehari-hari.
Pada industri, penggunaan kompresor sangat penting, baik sebagai
penghasil udara mampat atau sebagai satu kesatuan dari mesin-mesin.
Kompresor banyak dipakai untuk mesin pneumatik, sedangkan yang menjadi
satu dengan mesin yaitu turbin gas, mesin pendingin dan lainnya.
Dengan mengambil contoh kompresor sederhana, yaitu pompa ban
sepeda atau mobil, prinsip kerja kompresor dapat dijelaskan sebagai berikut.
Jika torak pompa ditarik keatas, tekanan di bawah silinder akan turun sampai
di bawah tekanan atmosfer sehingga udara akan masuk melalui celah katup
hisap yang kendur. Katup terbuat dari kulit lentur, dapat mengencang dan
mengendur dan dipasang pada torak. Setelah udara masuk pompa kemudian
torak turun kebawah dan menekan udara, sehingga volumenya menjadi kecil.
7
2.2 Klasifikasi Kompresor
Prinsip kerja kompresor dan pompa adalah sama, kedua mesin tersebut
menggunakan energi luar kemudian diubah menjadi energi fluida. Pada
pompa, di nosel ke luarnya energi kecepatan diubah menjadi energi tekanan,
begitu juga kompresor pada katup ke luar udara mampat mempunyai energi
tekanan yang besar. Hukum-hukum yang berlaku pada pompa dapat
diaplikasikan pada kompresor.
Berbeda dengan pompa yang klasifikasinya berdasarkan pola aliran,
klasifikasi
kompresor
biasanya
berdasarkan
tekanannya
pemampatannya. Klasifikasi dari kompresor secara
atau
cara
umum penjelasannya
sebagai berikut. Kompresor berdasarkan cara pemampatannya dibedakan
menjadi dua, yaitu jenis turbo dan jenis perpindahan.
menggunakan
gaya
sentrifugal
Jenis turbo
yang diakibatkan oleh putaran impeler
sehingga udara mengalami kenaikan energi yang akan diubah menjadi energi
tekanan. Sedangkan jenis perpindahan, dengan memperkecil volume udara
yang dihisap ke dalam silinder atau
stator
dengan
torak
atau
sudu.
Kompresor yang diklasifikasikan berdasarkan tekanannya adalah kompresor
untuk pemampat (tekanan tinggi), blower untuk peniup (tekanan sedang) dan
fan untuk kipas (tekanan rendah).
Pada gambar di bawah terlihat, kompresor jenis turbo (dynamic)
berdasarkan pola alirannya dibagi menjadi tiga, yaitu ejector, radial, dan
aksial. Kompresor jenis ini hampir semuanya dapat beroperasi pada tekanan
dari yang rendah sampai tinggi.
Kompresor turbo dapat dibuat banyak
tingkat untuk menaikkan tekanan dengan kapasitas besar.
10
Kompresor terdapat dalam berbagai jenis dan model, tergantung pada
volume dan tekanan yang dihasilkan. Istilah kompresor banyak dipakai pada
tekanan yang tinggi, blower untuk tekanan menengah dan fan untuk tekanan
rendah.
Ditinjau dari cara pemampatan (kompresi) udara, kompresor dibagi
menjadi 2 jenis, yaitu jenis perpindahan dan jenis turbo. Jenis perpindahan
adalah kompresor yang menaikkan tekanan dengan memperkecil atau
memampatkan volume gas yang dihisap ke dalam silinder atau stator
oleh
torak, sedangkan jenis turbo menaikkan tekanan dan kecepatan gas
dengan gaya sentrifugal yang ditimbulkan oleh impeller atau dengan gaya
angkat (lift) yang ditimbulkan oleh sudu. Klasifikasi Kompresor yaitu
menjelaskan, klasifikasi kompresor untuk menentukan kompresor yang akan
digunakan.
Tabel 2.1. Klasifikasi Kompresor
Kompresor Piston
Kompresor Piston Balas
Tipe Kompresor
Kompresor Diaphragma
Kompresor Geser
Kompresor Gerak Putar
Piston
Kompresor Poros Sekrup
Kompresor Roots
Kompresor Alir Radial
Kompresor Alir
Kompresor Alir Aksial
Sularso Haruo Tahara, 2004
Klasifikasi Kompresor secara umum adalah :
1. Klasifikasi berdasar jumlah tingkat kompresi, kompresor terdiri atas :
kompresor satu tingkat, dua tingkat, .... , banyak tingkat.
2. Klasifikasi berdasarkan
langkah kerja, kompresor terdiri atas :
11
kompresor kerja tunggal/ single acting dan kerja ganda.
3. Klasifikasi berdasarkan susunan silinder khusus kompresor torak,
kompresor terdiri atas : mendatar, tegak, bentuk L, bentuk V, bentuk
W, bentuk bintang dan lawan imbang/ balance opposed.
4. Klasifikasi berdasarkan cara pendinginan, kompresor terdiri atas :
kompresor pendinginan air dan pendinginan udara).
5. Klasifikasi berdasarkan penempatannya, kompresor terdiri atas :
kompresor permanen/ stationer dan kompresor yang dapat dipindah.
Gambar 2.2. Klasifikasi kompresor udara
12
2.3 Cara Kerja Kompresor
Seperti diperlihatkan pada gambar dibawah ini, kompresor torak atau
kompresor bolak-balik pada dasarnya dibuat sedemikian rupa hingga gerakan
putar dari penggerak mula menjadi gerak bolak-balik. Gerakan ini diperoleh
dengan menggunakan poros engkol dan batang penggerak yang menghasilkan
gerak bolak-balik pada torak.
1. Hisap
Bila proses engkol berputar dalam arah panah, torak bergerak ke
bawah oleh tarikan engkol. Maka terjadilah tekanan negatif (di bawah
tekanan atmosfer) di dalam silinder, dan katup isap terbuka oleh perbedaan
tekanan, sehingga udara terhisap.
a. Piston bergerak dari TDC ke BDC.
b. Intake valve membuka & exhaust valve menutup.
c. Udara luar terisap (karena didalam ruang bakar kevakumannya lebih
tinggi), seperti gambar 2.3. Kompresor Langkah Isap yang menjelaskan
tentang langkah isap pada kompresor torak satu tingkat.
Gambar 2.3. Kompresor Langkah Isap
13
2. Efisiensi Volumetrik
Efisiensi volumetrik adalah persentase pemasukan udara yang
diisap terhadap volume ruang kompresi yang tersedia.
a. Kompresi
Bila torak bergerak dari titik mati bawah ketitik mati atas, katup isap
tertutup dan udara di dalam silinder dimampatkan.
b. Piston bergerak dari BDC ke TDC.
c. Kedua katup menutup.
d. Udara dikompresikan dan menyebabkan suhu dan tekanan naik (akibat
dari ruangnya dipersempit), gambar dibawah ini menjelaskan tentang
langkah kompresi pada kompresor torak satu tingkat.
Gambar 2.4. Kompresor Langkah Kompresi
3. Power Stroke
a. Gas sisa pembakaran mengembang (ekspansi karena panas, yang
menyebabkan gaya dorong).
b. Kedua katup menutup.
c. Piston terdorong turun ke BDC.
14
4. Keluar atau Buang
Bila torak bergerak keatas, tekanan didalam silinder akan naik,
maka katup keluar akan terbuka oleh tekanan udara atau gas, dan udara
atau gas akan keluar.
a. Piston bergerak dari BDC ke TDC.
b. Exhaust valve membuka.
c. Sisa pembakaran terbuang (melalui exhaust valve & exhaust manifold),
seperti gambar kompresor Langkah Keluar yang menjelaskan tentang
langkah isap pada kompresor torak satu tingkat.
Gambar 2.5. Kompresor Langkah Keluar
2.4 Kontruksi Kompresor Torak
2.4.1 Silinder dan Kepala Silinder
Gambar berikut memberikan potongan kompresor torak kerja
tunggal dengan pendinginan udara. Silinder mempunyai bentuk silinder
dan merupakan bejana kedap udara dimana torak bergerak bolak- balik
untuk menghisap dan memampatkan udara. Silinder harus cukup kuat
15
untuk menahan tekanan yang ada. Untuk tekanan yang kurang dari 50 kgf/
cm2 ( 4.9 Mpa ) umumnya dipakai besi cor sebagai bahan silinder.
Permukaan dalam silinder harus disuperfinis sebab licin torak akan
meluncur pada permukaan ini. Untuk memancarkan panas yang timbul
dari proses kompresi, dinding luar silinder diberi sirip- sirip. Gunanya
adalah untuk memperluas permukaan yang memancarkan panas pada
kompresor dengan pendinginan udara.
Gambar 2.6. Silinder dan Kepala Silinder
Tutup silinder terbagi atas 2 ruangan, satu sebagai sisip isap dan
sebagai sisip keluar. Pada kompresor kerja ganda terdapat tutup atas
silinder dan tutup bawah silinder, seperti gambar Silinder dan Kepala
Silinder sebagai mana pada silinder, tutup silinder harus kuat, maka terbuat
dari besi cor dan dinding luarnya diberi sirip-sirip pemancar panas/
selubung air pendingin.
16
2.4.2 Torak dan Cincin Torak
Torak harus cukup tebal untuk menahan tekanan dan terbuat dari
bahan yang cukup kuat. Untuk mengurangi gaya inersia dan getaran yang
mungkin ditimbulkan oleh getaran bolak- balik, harus dirancang seringan
mungkin.
Gambar 2.7. Torak dari Kompresor Bebas Minyak
Seperti pada gambar Torak dari Kompresor Bebas Minyak, cincin
torak dipasang pada alur-alur dikeliling torak dan berfungsi mencegah
kebocoran antara permukaan torak dan silinder. Jumlah cincin torak
bervariasi tergantung pada perbedaan tekanan antara sisi atas dan sisi
bawah torak. Tetapi biasanya pemakaian 2 sampai 4 buah cincin dapat
dipandang cukup untuk kompesor dengan tekanan kurang dari 10 kgf/cm2.
dalam hal kompresor kerja tunggal dengan silinder tegak, juga diperlukan
cincin penyapu minyak yang dipasang pada alur paling bawah dari alur
cincin yang lain. Cincin ini tidak dimaksud untuk mencegah kebocoran
udara dan melulu untuk menyeka minyak yang terpercik pada dinding
dalam silinder.
17
2.4.3 Alat Pengatur Kapasitas
Kompresor harus dilengkapi dengan alat yang dapat mengatur laju
volume udara yang diisap sesuai denga laju aliran keluar yang dibutuhkan
yang disebut pembebas beban (unloader). Pembebas beban dapat
digolongkan menurut azas kerjanya yaitu pembebas beban katup isap,
pembebas beban celah katup, pembebas beban trolel isap dan pembebas
beban dengan pemutus otomatik.
Untuk mengurangi beban pada waktu kompresor distart agar
penggerak mula dapat berjalan lancar, maka pembebas beban dapat
dioperasikan secara otomatik atau manual. Pembebas beban jenis ini
disebut pembebas beban awal. Adapun ciri-ciri, cara kerja dan pemakaian
berbagai jenis pembebas beban adalah sebagai berikut :
1. Pembebas Beban Katup Isap
Jenis ini sering dipakai pada kompresor berukuran kecil/sedang. Jika
kompresor bekerja maka udara akan mengisi tangki udara sehingga
tekanannya akan naik sedikit demi sedikit. Tekanan ini disalurkan
kebagian bawah katup pilot dari pembebas beban. Namun jika tekanan
didalam tanki udara naik maka katup isap akan didorong sampai
terbuka. Jika tekanan turun melebihi batas maka gaya pegas dari katup
pilot akan mengalahkan gaya dari tekanan tanki udara. Maka katup
pilot akan jatuh, lalu udara tertutup dan tekanan dalam pipa pembebas
beban akan sama dengan tekanan atmosfer.
18
2. Pembebas Beban dengan Pemutus Otomatis
Jenis ini dipakai untuk kompresor yang relative kecil, kurang dari 7.5
KW. Disini dipakai tombol tekanan ( pressure switch) yang dipasang
ditangki udara. Motor penggerak akan dihentikan oleh tombol ini
secara otomatis bila tekanan udara dalam tanki udara melebihi batas
tertentu. Pembebas beban jenis ini banyak dipakai pada kompresor
kecil sebab katup isap pembebas beban yang berukuran kecil agak
sukar dibuat.
2.4.4 Pelumasan
Bagian- bagian kompresor yang memerlukan pelumas adalah bagianbagian yang saling meluncur seperti silinder, torak, kepala silang, metalmetal bantalan batang penggerak.
Gambar 2.8. Pelumasan Percik
19
Tujuannya dari gambar Pelumasan Percik adalah untuk mengecek
keausan, merapatkan cincin torak dan packing, mendinginkan bagianbagian yang saling bergeser dan mencegah pengkaratan. Untuk kompresor
kerja tunggal yang berukuran kecil, pelumasan dalam maupun pelumasan
luar dilakukan secara bersama dengan cara pelumasan percik atau dengan
pompa pelumas jenis roda gigi. Pelumasan percik menggunakan tuas
percikan minyak yang dipasang pada ujung besar batang penggerak.
Metode pelumasan paksa menggunakan pompa roda gigi yang dipasang
pada ujung poros engkol. Kompresor berukuran sedang dan besar
menggunakan pelumas dalam yang dilakukan dengan pompa minyak jenis
plunyer secara terpisah.
2.4.5 Peralatan Pembantu
[Link] Saringan Udara
Jika udara yang diisap kompresor mengandung banyak debu maka
silinder dan cincin torak akan cepat aus.
Gambar 2.9. Saringan Udara
20
Saringan yang banyak dipakai biasanya terdiri dari tabung-tabung
penyaring yang berdiameter 10 mm dan panjang 10 mm. Dengan demikian
jika ada debu yang terbawa akan melekat pada saringan sehingga udara
yang masuk kompresor menjadi bersih, seperti pada gambar Saringan
Udara yang menjelaskan tentang air filter.
[Link] Katup Pengaman dan Receiver Dryer
Katup pengaman harus dipasang pada pipa keluar dari setiap tingkat
kompresor. Katup ini harus membuka dan membuang udara keluar jika
tekanan melebihi 1.2 kali tekanan normal maksimum kompresor, seperti
gambar dibawah ini yang menjelaskan tentang penampang katup
pengaman. Receiver digunakan untuk mengurangi getaran yang terjai
pada kompresor, agar saat pembacaan di gauge lebih valid.
Gambar 2.10. Receiver Driyer
[Link] Tangki Udara
Alat ini dipakai untuk menyimpan udara tekan agar apabila ada
kebutuhan udara tekan yang berubah-ubah jumlahnya dapat dilayani
dengan baik dan juga udara yang disimpan dalam tangki udara akan
21
mengalami pendinginan secara pelan-pelan dan uap air yang mengembun
dapat terkumpul didasar tangki.
Gambar 2.11. Tangki Kompresor
2.5 Teori Kompresi
2.5.1 Hubungan Antara Tekanan dan volume
Jika selama gas, temperatur gas dijaga tetap (tidak bertambah panas)
maka pengecilan volume menjadi kali akan menaikkan tekanan menjadi
dua kali lipat. Jadi secara umum dapat dikatakan sebagai berikut jika gas
dikompresikan (atau diekspansikan) pada temperatur tetap, maka
tekanannya akan berbanding terbalik dengan volumenya. Peryataan ini
disebut Hukum Boyle dan dapat dirumuskan pula sebagai berikut : jika
suatu gas mempunyai volume V1 dan tekanan P1 dan dimampatkan ( atau
diekspansikan ) pada temperatur tetap hingga volumenya menjadi V2,
maka tekanan akan menjadi P2 dimana :1P1V1 = P2V2 = tetap
..................1
Sularso, Haruo Tahara, Pompa dan Kompresor, Pemilihan, Pemakaian dan Pemeliharaan, hal.
181
22
2.5.2 Hubungan antara temperatur dan volume
Seperti halnya pada zat cair. Gas akan mengembang jika dipanaskan
pada tekanan tetap. Dibandingkan dengan zat padat dan zat cair, gas
memiliki koefisien muai jauh lebih besar. Dari pengukuran koefisien muai
berbagai gas diperoleh kesimpulan sebagai berikut : semua macam gas
apabila dinaikkan temperaturnya sebesar 1oC pada tekanan tetap, akan
mengalami pertambahan volume sebesar 1/273 dari volumenya pada 0oC.
Sebaliknya apabila diturunkan temperaturnya sebesar 1oC akan mengalami
jumlah sama.
2.5.3 Persamaan keadaan
Hukum Boyle dan hukum Charles dapat digabungksn menjadi
hukum Boyle-Charles yang dapat dinyatakan sebagai berikut :
2
Di mana
PV= GRT
...................2
P : Tekanan Mutlak (kgf/m2) atau Pa.
V : Volume (m3).
G : Berat gas (1,2 Kg) untuk udara.
T : Temperatur mutlak (oK).
R : Konstanta gas (287 J/ Kg oK) untuk udara.
2.6 Kompresi Gas
2
Ibid hal. 181
23
2.6.1 Cara Kompresi
Gambar 2.12. Diagram T-S (aktual) Siklus Brayton
Analisa termodinamika pada kompresor dimaksudkan untuk
menentukan kondisi udara masuk dan keluar kompresor. Pengambilan
asumsi untuk perhitungan termodinamika kompresor adalah didasarkan
pada efisiensi politropis, yaitu effisiensi isentropis dari sebuah tingkat
kompresor dan turbin yang dibuat konstan untuk setiap tingkat berikutnya.
(Gambar 2.12. Diagram T-S aktual Siklus Brayton).
1. Kompresi Isotermal
Bila suatu gas dikompresikan, maka ini ada energi mekanik yang
diberikan dari luar pada gas. Energi ini diubah menjadi energi panas
sehingga temperature gas akan naik jika tekanan semakin tinggi.
Namun jika proses kompresi ini juga dengan pendinginan untuk
mengeluarkan panas yang terjadi, temperature dapat dijaga tetap.
Kompresor secara ini disebut kompresor Isotermal ( temperatur tetap ).
24
Hubungan antara P dan V untuk T tetap dapat diperoleh dari
persamaan :
3
P1v1 = P2v2 = tetap
..................3
2. Kompresi Adiabatik
Kompresi yang berlangsung tanpa ada panas yang keluar/ masuk dari
gas. Dalam praktek proses adiabatik tidak pernah terjadi secara
sempurna karena isolasi didalam silinder tidak pernah dapat sempurna
pula, dimana k = 1,4 untuk udara.
4
P . vk = tetap
..................4
3. Kompresi Politropik
Kompresi pada kompresor yang sesungguhnya bukan merupakan
proses Isotermal, namun juga bukan proses adiabatik, namun proses
yang sesungguhnya ada diantara keduannya dan disebut Kompresi
Politropik. Hubungan antara P dan V pada politropik ini dapat
dirumuskan sebagai :
5
P . vn = tetap
..................5
Untuk n disebut indek politropik dan harganya terletak antara 1
(proses isotermal) dan k (proses adiabatik). Jadi 1<n<k. Untuk
kompresor biasanya n = 1,25 1,4 yaitu kompresor yang terjadi
karena adanya panas yang dipancarkan keluar.
3
4
5
Ibid, hal. 183
Ibid, hal. 184
Ibid, hal. 184
25
2.6.2 Perubahan temperatur
Pada waktu kompresi, temperatur gas dapat berubah tergantung pada
jenis proses yang dialami. Untuk masing-masing proses, hubungan antara
temperatur dan tekanan hanya terjadi perubahan pada proses adiabatik.
Dalam kompresi adiabatik tidak ada panas yang dibuang keluar sendiri
(atau dimasukkan) sehingga seluruh kerja mekanis yang diberikan dalam
proses ini akan dipakai untuk menaikkan temperatur gas. Temperatur yang
dicapai oleh gas yang keluar dari kompresor dalam proses adiabatik dapat
diperoleh secara teoritik rumus sebagai berikut :
6
Td = Ts (
Di mana Td
Ibid, hal. 185
......................6
: Temperatur mutlak gas keluar kompresor (oK).
Ts
: Temperatur isap mutlak gas masuk kompresor (oK).
: Jumlah tingkat kompresi ; m = 1, 2, 3, ....dst.
: Perbandingan tekanan =
)( k 1 ) / m k
: Perbandingan panas jenis gas = 1,4 untuk udara.
26
2.7 Efisiensi Volumetrik
Gambar 2.13. Langkah Torak Kerja Tunggal
Pada gambar Langkah Torak Kerja Tunggal sebuah kompresor dengan
silinder D ( m ), langkah tolak S ( m ), dan putaran N ( rpm ) dengan ukuran
seperti ini kompresor akan memampatkan volume gas sebesar Vs = ( /4 ) D 2
x S ( m3 ). Untuk setiap langkah kompresor yang dikerjakan dalam setiap
putaran poros engkol. Jumlah volume gas yang dimampatkan per menit
disebut perpindahan tolak. Jadi jika poros kompresor mempunyai putaran N (
rpm ) maka
Perpindahan torak :
7
Qth = Vs x N = ( /4 ) D2 x S x N (m3/min)
...................7
Seperti pada gambar diatas torak memuai langkah kompresinya pada
titik (1 dalam diagram P-V). Torak bergerak ke kiri dan gas dimampatkan
hingga tekanan naik ketitik (2). Pada titik ini tekanan di dalam silinder
mencapai harga tekanan Pd yang lebih tinggi dari pada tekanan di dalam pipa
keluar (atau tangki tekan), sehingga katup keluar pada kepala silinder akan
7
Ibid, hal. 187
27
terbuka. Jika torak terus bergerak ke kiri maka gas akan didorong keluar
silinder pada tekanan tetap sebesar Pd di titik (3) torak mencapai titik mati
atas, yaitu titik mati akhir gerakan torak pada langkah kompresi dan
pengeluaran, seperti gambar dibawah ini.
Pada waktu torak mencapai titik mati atas, ada volume sisa sebesar V c
yaitu clearance di atas torak agar torak tidak membentur kepala silinder,
sehingga pada akhir langkah kompresi masih ada sisa gas yang tidak
terdorong keluar sebesar Vc dan tekanan sebesar Pd. Saat memulai langkah
hisap (ke kanan) katup isap tidak dapat terbuka langsung sampai sisa gas
terekspansi sampai tekanannya turun dari Pd turun ke Ps. Dan gas baru mulai
masuk saat torak mencapai titik (4) ketika tekanan sudah mencapai P s
pengisian berlangsung sampai titik ke mati bawah torak (1).
Gambar 2.14. Diagram P-V dari Kompresor
28
Berdasarkan siklus kerja kompresor di atas dimana gas yang diisap
tidak sebesar volume langkah torak sebesar Vs, dapat dihitung efisiensi
volumetris (v) dengan rumus senbagai berikut :
8
v =
...................8
Qs : Volume gas yang dihasilkan, pada kondisi tekanan dan temperatur
isap (m3/min).
Qth : Perpindahan torak (m3/min).
Besar efisiensi volumetris juga dapat dihitung secara teoritis
berdasarkan volume gas yang dapat diisap secara efektif oleh kompresor
dengan rumus sebagai berikut :
9
di mana
v 1 - Vc{( )1/n 1 }
.....................9
Vc = Vc/Vs, volume sisa (clearance) relatif,
n = koefisien ekspansi gas yang tertinggal di dalam volume
sisa untuk udara n = 1,2.
Tanda berarti kira-kira sama dengan , karena rumus 10 diperoleh
dari perhitungan teoritis. Adapun harga v yang sesungguhnya adalah sedikit
lebih kecil dari harga yang diperoleh dari rumus di atas karena adanya
kebocoran melalui cincin torak dan katup-katup serta tahanan pada katupkatup.
8
9
Ibid, hal. 189
Ibid, hal. 189
29
2.8 Efisiensi Adiabatik
Efisiensi kompresor ditentukan oleh berbagai faktor seperti tahan
aerodinamik di dalam katu-katup, saluran-saluran, pipa-pipa, kerugian
mekanis, serta faktor lainnya. Faktor-faktor ini digabungkan dalam efisiensi
adiabatik keseluruhan.
Efisiensi adiabatik keseluruhan didefinisikan sebagai daya yang
diperlukan untuk memampatkan gas dengan siklus adiabatik (perhitungan
teoritis), dibagi dengan daya sesungguhnya yang diperlukan kompresor pada
porosnya. Rumus dari efisiensi adiabatis adalah sebagai berikut :
10
di mana
.....................10
ad =
ad
: Efisiensi adiabatis keseluruhan (%).
: Daya adiabatis teoritis (kW).
: Daya yang masuk pada poros kompresor (kW).
Besarnya daya adiabatis teoritis dapat dihitung dengan rumus :
11
di mana P
P
{( )k 1 / mk 1 }
(kW) .....................11
: Tekanan isap tingkat pertama (kgf / m2 abs).
: Tekanan keluar dari tingkat terakhir (kgf / m2 abs).
: Jumlah volume gas yang keluar dari tingkat terakhir
(m3/min).
Jika dipakai tekanan dalam satuan Pa maka dipakai rumus :
10
11
Ibid, hal. 190
Ibid, hal. 190
30
12
(kW) .....................12
Atau dapat dipakai rumus sebagai berikut jika tekanan dalam Pa dan Q
dalam satuan (m3/detik) :
(Watt)
Untuk efisiensi volumetrik dan efisiensi adiabatik keseluruhan
sebenarnya tidak tetap harganya berubah- ubah menurut konstruksi dan
tekanan keluar kompresor. Karena itu perhitungan daya tidak dapat dilakukan
semudah cara diatas. Namun untuk perhitungan efisiensi adiabatik dapat
diambil kira- kira 80 85% untuk kompresor besar, 75% sampai 80% untuk
kompresor sedang dan 65 70% untuk kompresor kecil.
Dengan diketahuinya daya yang diperlukan untuk menggerakkan
kompresor (Wcomp), kita dapat menghitung daya motor yang diperlukan
untuk menggerakkan kompresor.
2.9 Volume Tangki Penerima
Kapasitas kompresor adalah debit penuh aliran gas yang ditekan dan
dialirkan pada kondisi suhu total, tekanan total, dan diatur pada saluran
masuk kompresor. Debit aliran yang sebenarnya, bukan merupakan nilai
volume aliran yang tercantum pada data alat, yang disebut juga pengiriman
udara bebas / free air delivery (FAD) yaitu udara pada kondisi atmosfir di
lokasi tertentu. FAD tidak sama untuk setiap lokasi sebab ketinggian,
12
Ibid, hal. 190
31
barometer, dan suhu dapat berbeda untuk lokasi dan waktu yang berbeda.
Kapasitas Kompresor biasanya dinyatakan dengan volume gas yang diisap
per satuan waktu (m/jam).
Perhitungan Volume Penerimaan Tangki (Qs) :
Qs
Dimana
Qs
= Volume penerimaan tangki (m3/menit).
Po
= Tekanan Atmosfer (bar).
= Lamanya pengisian kompresor (menit).
= Volume tangki (m3).
Persamaan diatas relevan untuk suhu udara tekan sama dengan suhu
udara ambien, yaitu kompresi isotermal sempurna. Jika suhu udara tekan
aktual pada pengeluaran, t2 C lebih tinggi dari suhu ambien t1 C, FAD
dikoreksi oleh faktor (273 + t1) / (273 + t2).
2.10 Performansi Kompresor
Apabila kapasitas dan tekanan udara atau gas yang diperlukan sudah
ditetapkan, maka kompresor yang sesuai harus dipilih. Apabila terdapat
beberapa kompresor yang dapat memenuhi pesyaratan yang ditetapkan, maka
untuk menentukan mana yang akan dipilih perlu dilakukan pertimbangan
ekonomis. Performansi kompresor dapat digambarkan dalam bentuk kurva
32
kapasitas (volume), daya poros, efisiensi volumetris, dan efisiensi adiabatik
keseluruhan, terhadap tekanan keluar, seperti dalam kurva performansi
kompresor 1 tingkat. Kurva seperti ini sangat berguna untuk membandingkan
performansi satu kompresor terhadap yang lain.
Gambar 2.15 Kurva perfomansi kompresor 1 tingkat
33
2.11 Pemasangan dan Operasional
2.11.1 Penempatan
Dalam memilih tempat yang sesuai untuk instalasi kompresor yang
akan dipasang perlu diperhatikan hal- hal sebagai berikut:
1.
Instalasi kompresor harus dipasang sedekat mungkin dengan tempat
yang memerlukan udara. Jika tempat- tempat ini terpencar letaknya
maka kompresor sedapat mungkin dipasang di tengah- tengah.
Dengan maksud agar mengurangi tahanan gesek dan kebocoran pada
pipa penyalur disamping untuk menghemat ongkos-ongkos.
2.
Di daerah sekitar kompresor tidak boleh ada gas yang mudah terbakar/
meledak. Pengamanan harus dilakukan sebab gas-gas yang berbahaya
yang terisap oleh kompresor dapat menimbulkan reaksi kimia akan
meledak dan kebakaran. Selain itu bahan yang mudah terbakar harus
diajuhkan dari kompresor.
3.
Pemeliharaan dan pemeriksaan harus dapat dilakukan dengan mudah.
Meskipun kompresor merupakan salah satu dari sumber tenaga yang
besar tetapi sering ditempatkan di sudut ruangan/ tempat yang
menyulitkan untuk pemeriksaan. Karena itu pelumasan harian/
pengurasan air sering terlupakan sehingga kompresor rusak.
Berhubungan dengan hal tersebut harus disediakan ruangan yang
cukup untuk memudahkan pengawasan pemeliharaan dan perbaikan.
4.
Ruangan kompresor harus terang, cukup luas dan berventilasi baik.
Bila sebuah kompresor besar dipasang disebuah ruang kompresor,
maka kondisi lingkungan yang menyangkut cahaya, luar dan ventilasi
34
harus memenuhi persyaratan. Dengan cahaya yang cukup apabila
terjadi kelainan ( kebocoran ) akan segera diketahui. Luas ruangan
yang cukup akan memudahkan pemeriksaan, pemeliharaan dan
mempertinggi keamanan kerja. Ventilasi yang baik berguna untuk
menghindari akibat buruk dari kebocoran gas apabila kompresor
bekerja dengan jenis gas khusus. Untuk kompresor udarapun ventilasi
sangat penting untuk mencegah kenaikan temperatur yang tinggi di
dalam ruangan.
5.
Temperature
ruangan
harus
lebih
rendah
40oC.
Kompresor
mengeluarkan panas pada waktu bekerja. Jika temperature ruangan
naik. Hal ini mengakibatkan kompresor bekerja pada temperature
diatas normal yang dapat memperpendek umur kompresor. Sebaliknya
jika temperature ruangan sangat rendah sampai dibawah 40oC, seperti
keadaan pada musim dingin, maka sebelum dijalankan kompresor
perlu dipanaskan dahulu. Hal ini perlu supaya kompresor tidak
mengalami kerusakan pada saat start atau jalan karena pembekuan air
pendingin atau air kurasan.
6.
kompresor harus ditempatkan didalam kerangka yang sesuai. Dan
hindari dari panas matahari dan air hujan, supaya badan kompresor
atau motor dapat cepat rusak atau kecelakaan.
2.11.2 Pemasangan
Sebelum kompresor dipasang pondasi beton harus dipastikan sudah
mengerah seluruhnya dan letak dan ukuran lubang baut diperiksa apakah
sesuai dengan gambar kerja. Baut jangkar pondasi dapat ditanam pada
35
posisi yang tepat jika penetapannya dilakukan pada waktu pemasangan
kompresor. Namun jika baut-baut ini harus ditanam mendahului
pemasangan kompresor, penempatan baut harus dilakukan sesuai gambar
kerja pondasi dengan menggunakan plat pola bila perlu. Setiap baut harus
muncul dengan panjang tertentu diatas permukaan pondasi. Dalam hal ini
sepertiga bagian atas baut dibiarkan tidak dicor dengan beton untuk
memungkinkan sedikit penyesuaian pada waktu pemasangan kompresor.
Kompresor dan motor yang akan dihubungkan dengan sabuk V harus
sejajar dan rata, dengan tegangan sabuk tepat. Kompresor dan motor yang
akan dihubungkan dengan kopling secara langsung memerlukan pelurusan.
Pemasangan kabel-kabel listrik harus menggunakan bahan kabel
yang memenuhi standart yang berlaku yaitu ukuran dan kapasitas kabel,
sekering dan tombol-tombol harus ditentukan dengan hati-hati, jika kabel
terlalu panjang atau ukuran yang terlalu kecil dapat terjadi penurunan
tegangan yang terlalu besar. Hal ini dapat menimbulkan kesulitan atau
kerusakan pada waktu start dimana motor dapat terbakar. Tegangan listrik
pada terminal motor tidak boleh kurang dari 90% harga normalnya.