0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan21 halaman

Komponen dan Fungsi Dioda dalam Elektronika

Dokumen tersebut membahas tentang komponen elektronika dioda dan transistor. Secara singkat, dioda adalah komponen aktif yang hanya mengizinkan aliran arus listrik ke satu arah, sedangkan transistor adalah komponen aktif triode yang dapat memperkuat sinyal listrik.

Diunggah oleh

avior
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan21 halaman

Komponen dan Fungsi Dioda dalam Elektronika

Dokumen tersebut membahas tentang komponen elektronika dioda dan transistor. Secara singkat, dioda adalah komponen aktif yang hanya mengizinkan aliran arus listrik ke satu arah, sedangkan transistor adalah komponen aktif triode yang dapat memperkuat sinyal listrik.

Diunggah oleh

avior
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ELEKTRONIKA

KOMPONEN DIODA DAN TRANSISTOR

DI SUSUN OLEH :

1. AHMAD FADHOL

49124531 T

2. AKBAR DWI KURNIAWAN

49124533 T

3. AVIOR ARIFIL AKBAR

49124534 T

4. DICKY SATRIO NURWIRATMOKO

49124536 T

5. DITO APRIAN

49124538 T

T VIIA
DIODA

Pengertian Dioda
adalah komponen aktif yang memiliki dua kutub dan bersifat semikonduktor. Dioda juga bisa
dialiri arus listrik ke satu arah dan menghambat arus dari arah sebaliknya. Diodasebenarnya
tidak memiliki karakter yang sempurna, melainkan memiliki karakter yang berhubungan
dengan arus dan tegangan komplek yang tidak linier dan seringkali tergantung pada teknologi
yang digunakan serta parameter penggunaannya.
Awal mulanya dioda adalah sebuah piranti kristal Cats Wahisker dan tabung hampa.
Sedangkan pada saat ini, dioda sudah banyak dibuat dari bahan semikonduktor, contohnya :
Silikon dan Germanium. Di karenakan pengembangannya yang dilakukan secara terpisah,
dioda kristal (semikonduktor) lebih populer di bandingkan dengan dioda termionik. Dioda

termionik pertama kali ditemukan oleh Frederick Guthrie pada tahun 1873, sedangkan dioda
kristal ditemukan pada tahun 1874 oleh peneliti asal Jerman, Karl Ferdinand Braun.
Pada umumnya, dioda terbuat dari bahan silikon yang sudah dibekali tegangan pemicu.
Tegangan pemicu ini sangat diperlukan agar elektron bisa langsung mengisi hole melalui area
depletin layer. Didalam komponen dioda tidak akan terjadi pemindahan elekrton hole dari P
ke N maupun sebaliknya. Itu di sebabkan hole dan elektron akan tertarik ke arah kutub yang
berlawanan. Bahkan lapisan depletion layer semakin besar dan menghalangi terjadinya arus.

Simbol Dioda
Gambar dibawah ini menunjukan bahwa Dioda merupakan komponen Elektronika aktif yang
terdiri dari 2 tipe bahan yaitu bahan tipe-p dan tipe-n :

Fungsi Dioda
Sangat

penting

didalam rangkaian

elektronika.

Karena

dioda

adalah

komponen

semikonduktor yang terdiri dari penyambung P-N. Dioda merupakan gabungan dari dua kata
elektroda, yaitu anoda dan katoda. Sifat lain dari dioda adalah menghantarkan arus pada
tegangan maju dan menghambat arus pada aliran tegangan balik. Selain itu, masih banyak
lagi fungsi diodalainnya, sebagai berikut :

Sebagai penyearah untuk komponen dioda bridge.

Sebagai penstabil tegangan pada komponen dioda zener.

Sebagai pengaman atau sekering.

Sebagai pemangkas atau pembuang level sinyal yang ada di atas atau bawah tegangan
tertentu pada rangkaian clipper.

Sebagai penambah komponen DC didalam sinyal AC pada rangkaian clamper.

Sebagai pengganda tegangan.

Sebagai indikator untuk rangkaian LED (Light Emiting Diode).

Dapat digunakan sebagai sensor panas pada aplikasi rangkaian power amplifier.

Sebagai sensor cahaya pada komponen dioda photo.

Sebagai rangkaian VCO (Voltage Controlled Oscilator) pada komponen dioda


varactor.

Prinsip Kerja Dioda


Pada umumnya adalah sebagai alat yang terbentuk dari beberapa bahan semikonduktor
dengan muatan Anode (P) dan muatan Katode (N) yang biasanya terdiri dari geranium atau
silikon yang digabungkan, dan muatan yang bertipe N merupakan bahan dengan kelebihan
elektron, dan sebaliknya muatan bertipe P merupakan bahan dengan kekurangan satu
elektron yang dipisahkan oleh depletion layer yang terjadi akibat keseimbangan kedua
muatan tersebut, oleh karena itu dioda tersebut menghasilkan suatu hole yang berfungsi
sebagai pembawa tegangan atau muatan sehingga terjadi perpindahan sekaligus pengaliran
arus yang terjadi di hole tersebut yang menghasilkan tegangan arus searah atau biasa
disebut dengan DC.
Prinsip Kerja Dioda berbeda dengan prinsip atau teori elektron yang menyebutkan bahwa
arus listrik yang terjadi dikarenakan oleh pergerakan elektron dari kutub positif menuju ke
kutub negatif, tetapi dioda ini hanya mengalirkan arus satu arah saja, yaitu DC. Oleh karena
jika dioda dialiri oleh tegangan P yang lebih besar dari muatan N, maka elektron yang
terdapat pada muatan N akan mengalir ke muatan P yang disebut sebagai Forward Bias, bila
terjadi sebaliknya, yaitu jika dioda tersebut dialiri dengan tegangan N yang lebih besar
daripada tegangan P, maka elektron yang ada di dalamnya tidak akan bergerak,
sehingga dioda tidak mengaliri muatan apapun, pada kondisi seperti ini sering disebut
sebagai reverse bias.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Prinsip Kerja Dioda merupakan salah satu alat
yang sangat unik karena mampu memanipulasi muatan hingga menjadi muatan yang searah
atau DC. Sambungan antara muatan anoda (P) dengan muatan katoda (N) dinamakan sebagai
depletion layer (lapisan deplesi) dimana terjadi keseimbangan muatan elektron dan hole.
Biasanya pada sisi P banyak terbentuk hole-hole yang siap menerima muatan elektron,
sedangkan pada sisi N banyak elektron yang siap untuk membebaskan diri, dengan kata lain
jika sisi P diberi muatan potensial yang lebih, maka elektron dari sisi N akan langsung
mengisi setiap hole-hole yang ada di sisi P.

Karakteristik Dioda
Dapat diketahui dengan cara memasang dioda seri dengan sebuah catu daya dc dan
sebuah resistor. Dengan menggunakan rangkaian tersebut maka akan dapat diketahui
tegangan dioda dengan variasi sumber tegangan yang diberikan. Seperti yang telah kita

ketahui bahwa dioda adalah komponen aktif dari dua elektroda (katoda dan anoda) yang
sifatnya semikonduktor, jadi dengan sifatnya tersebut dioda tidak hanya memperbolehkan
arus listrik mengalir ke satu arah, tetapi juga menghambat arus dari arah sebaliknya. Dioda
dapat dibuat dari Germanium (Ge) dan Silikonatau Silsilum (Si). Komponen aktif ini
mempunyai fungsi sebagai; pengaman, penyearah, voltage regulator, modulator, pengendali
frekuensi, indikator, dan switch.
Gambar Simbol Karakteristik Dioda

Berdasarkan fungsinya, dioda terbagi atas; Dioda Kontak Titik, Dioda Hubungan, LED,
Dioda Foto, Dioda kapasiansi Variabel, Dioda Bridge dan Dioda Zener. Dioda Kontak Titik
atau Point Contact Diode biasanya digunakan untuk mengubah frekuensi dari tinggi ke
rendah. Contohnya, OA70, OA90, dan 1N60. Dioda hubungan, adalah salah satu karakteristik
dioda yang mengalirkan tegangan yang besar namun hanya searah. Sedangkan LED atau
Light Emiting Diode adalah jenis komponen yang dapat mengeluarkan cahay bila diberikan
forward bias. Berbeda dengan LED, Dioda foto atau bisa disebut dengan Foto Dioda akan
menghasilkan arus listrik apabila terkena cahaya. Besarnya arus listrik tergantung dari
seberapa besar cahaya yang masuk.
Dioda Kapasiansi Variabel, atau bisa disebut juga dengan dioda varicap atau varactor yang
bila dipasang terbalik akan berperan sebagai kondensator ini banyak digunakan pada
modulator FM dan juga pada VCO suatu PLL ( Phale Lock Lopp). Dioda yang berfungsi

sebagai power supply adalah Dioda Bridge. Komponen ini adalah silikon yang dirangkai
menjadi bridge menjadi satu komponen utuh .Berbagai macam bentuk dioda ini banyak dijula
di pasaran dengan berbagai macam besar kapasitasnya. Yang terakhir adalah Dioda Zener.
Komponen aktif ini biasanya digunakan pada pembatas tegangan dan berfungsi sebagai
voltage stabilizer atau voltage regulator. Karakteristik dioda ini adalah mempunyai sifat
tegangan terbaliknya stabil.
Jenis-Jenis Dioda terbagi menjadi beberapa bagian, mulai dari Light Emiting Diode (Dioda
Emisi Cahaya) yang biasa disingkat LED, Diode Photo (Dioda Cahaya), Diode Varactor
(Dioda Kapasitas), Diode Rectifier (Dioda Penyearah) dan yang terakhir adalah Diode Zener
yang biasa disebut juga sebagai Voltage Regulation Diode. Semua jenis dioda ini memiliki
fungsi yang berbeda-beda yang sesuai dengan nama dioda itu sendiri. Dioda disempurnakan
oleh William Henry Eccles pada tahun 1919 dan mulai memperkenalkan istilah diode yang
artinya dua jalur tersebut, walaupun sebelumnya sudah ada dioda kristal (semikonduktor)
yang dikembangkan oleh peneliti asal Jerman yaitu Karl Ferdinan Braun pada tahun 1874,
dan dioda termionik pada tahun 1873 yang dikembangkan lagi prinsip kerjanya oleh Frederic
Gutherie.

Light Emiting Diode (Dioda Emisi Cahaya)


Dioda

yang

sering
disingkat LED

ini merupakan salah satu piranti elektronik yang


menggabungkan dua unsur yaitu optik dan elektronik
yang

disebut

juga

sebagai

[Link]

masing-masing elektrodanya berupa anoda (+) dan


katroda (-), dioda jenis ini dikategorikan berdasarkan
arah bias dan diameter cahaya yang dihasilkan, dan
warna nya.

Diode Photo (Dioda Cahaya)


Dioda jenis ini merupakan dioda yang peka terhadap
cahaya, yang bekerja pada pada daerah-daerah
reverse tertentu sehingga arus cahaya tertentu saja
yang dapat melewatinya, dioda ini biasa dibuat
dengan menggunakan bahan dasar silikon dan
geranium. Dioda cahaya saat ini banyak digunakan untuk alarm, pita data berlubang yang
berguna sebagai sensor, dan alat pengukur cahaya (Lux Meter).

Diode Varactor (Dioda Kapasitas)


Dioda jenis ini merupakan dioda yang unik, karena dioda ini memiliki kapasitas yang dapat
berubah-ubah sesuai dengan besar kecilnya tegangan yang diberikan kepada dioda ini,

contohnya jika tegangan yang diberikan besar, maka kapasitasnya akan menurun,berbanding
terbalik jika diberikan tegangan yang rendah akan semakin besar kapasitasnya, pembiasan
dioda ini secara reverse. Dioda jenis ini banyak digunakan sebagai pengaturan suara pada
televisi, dan pesawat penerima radio.

Diode Rectifier (Dioda Penyearah)


Dioda jenis ini merupakan dioda penyearah arus
atau tegangan yang diberikan, contohnya seperti
arus

berlawanan

(AC)

disearahkan

sehingga

menghasilkan arus searah (DC). Dioda jenis ini


memiliki karakteristik yang berbeda-beda sesuai
dengan kapasitas tegangan yang dimiliki.

Diode Zener
Dioda jenis ini merupakan dioda yang memiliki
kegunaan sebagai penyelaras tegangan baik yang
diterima maupun yang dikeluarkan, sesuai dengan
kapasitas dari dioda tersebut, contohnya jika dioda
tersebut memiliki kapasitas 5,1 V, maka jika
tegangan

yang

diterima

lebih

besar

dari

kapasitasnya, maka tegangan yang dihasilkan akan tetap 5,1 tetapi jika tegangan yang
diterima lebih kecil dari kapasitasnya yaitu 5,1, dioda ini tetap mengeluarkan tegangan sesuai
dengan inputnya.

Dapat disimpulkan bahwa Jenis-Jenis Dioda tersebut memiliki berbagai kegunaan tersendiri
yang dapat memanipulasi berbagai tegangan yang masuk melalui dioda tersebut.

Simbol

Dioda untuk

masing-masing

diode

berbeda

dan

masing-masing

simbol

menggambarkan cara kerja serta struktur dari dioda tersebut. Dioda sendiri disimbolkan
dengan gambar yang menyerupai anak panah yang pada sisi ujungnya terdapat garis mendatar
yang melintang, mengarah kearah kanan dengan dibatasi oleh garis vertikal yang
memisahkan antara anak panah dengan garis mendatar yang melintang tersebut. Yang pada
pangkal anak panah nya disebut anoda atau kaki positif (+), dan ujung anak panah tersebut
dinamakan katoda atau kaki negatif (-).

Beberapa macam Simbol Dioda antara lain adalah :


1.

Dioda Zener yang disimbolkan dengan menyerupai anak panah mengarah ke kanan
yang diikuti dengan garis mendatar yang melintang melalui kedua sisi nya tersebut,
dengan dibatasi oleh garis vertikal dengan tambahan garis kecil mendatar kearah kanan
untuk bagian atas, dan garis mendatar kearah kiri pada bagian bawahnya yang
menandakan terjadinya penstabilan tegangan atau arus yang searah (DC).

2.

Dioda Foto yang disimbolkan sama persis seperti simbol dioda biasa dengan
tambahan gambar 2 buah anak panah kecil di bagian atas kepala anak panah utama yang

mengarah serong ke kiri bawah yang menandakan bahwa dioda tersebut menghasilkan
arus listrik ketika mendapat cahaya.
3.

Dioda Emisi Cahaya yang disimbolkan sama persis seperti simbol dioda biasa dengan
tambahan gambar 2 buah anak panah kecil yang sama dengan simbol yang dioda foto
miliki, tetapi memiliki arah yang berbanding terbalik yaitu serong atas kanan, yang
menandakan bahwa dioda tersebut akan menghasilkan cahaya ketika mendapatkan
muatan DC.

4.

Dioda Varaktor yang disimbolkan hampir mirip dengan dioda biasa yang dipotong
oleh 2 garis vertikal pada ujung anak panah secara sejajar, dengan dilanjutkan garis
mendatar di tengah-tengahnya, menandakan bahwa dioda tersebut bergabung dengan
kapasitor.

5.

Dioda Terobosan yang disimbolkan sama persis seperti simbol dioda biasa dengan
tambahan garis 2 garis kecil mendatar pada tiap ujung garis tersebut baik ujung atas
maupun bawahnya yang mengarah ke kanan yang menandakan bahwa adanya suatu
karakteristik resistansi negatif.

Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter


Untuk mengetahui apakah sebuah Dioda dapat bekerja dengan baik sesuai dengan fungsinya,
maka diperlukan pengukuran terhadap Dioda tersebut dengan menggunakan Multimeter
(AVO Meter).
Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter Analog
1. Aturkan Posisi Saklar pada Posisi OHM () x1k atau x100
2. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Katoda (tanda gelang)
3. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Anoda.
4. Baca hasil Pengukuran di Display Multimeter
5. Jarum pada Display Multimeter harus bergerak ke kanan
6. Balikan Probe Merah ke Terminal Anoda dan Probe Hitam pada Terminal Katoda
(tanda gelang).
7. Baca hasil Pengukuran di Display Multimeter
8. Jarum harus tidak bergerak.
**Jika Jarum bergerak, maka Dioda tersebut berkemungkinan sudah rusak.

Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter Digital


Pada umumnya Multimeter Digital menyediakan pengukuran untuk Fungsi Dioda, Jika tidak
ada, maka kita juga dapat mengukur Dioda dengan Fungsi Ohm pada Multimeter Digital.
Cara

Mengukur

Dioda

dengan

menggunakan

Multimeter

Digital

(Fungsi Ohm / Ohmmeter)


1. Aturkan Posisi Saklar pada Posisi OHM ()
2. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Katoda (tanda gelang)
3. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Anoda.
4. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
5. Display harus menunjukan nilai tertentu (Misalnya 0.64MOhm)
6. Balikan Probe Hitam ke Terminal Anoda dan Probe Merah ke Katoda
7. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
8. Nilai

Resistansinya

adalah

Infinity

(tak

terhingga)

atau

Open

Circuit.

**Jika terdapat Nilai tertentu, maka Dioda tersebut berkemungkinan sudah Rusak.

TRANSISTOR
Pengertian Transistor
adalah komponen elektronika semikonduktor yang memiliki 3 kaki elektroda, yaitu Basis
(Dasar), Kolektor (Pengumpul) dan Emitor (Pemancar). Komponen ini berfungsi sebagai
penguat, pemutus dan penyambung (switching), stabilitasi tegangan, modulasi sinyal dan
masih banyak lagi fungsi lainnya. Selain itu, transistor juga dapat digunakan sebagai kran
listrik sehingga dapat mengalirkan listrik dengan sangat akurat dan sumber listriknya.
Transistor sebenarnya berasal dari kata transfer yang berarti pemindahan dan resistor
yang berarti penghambat. Dari kedua kata tersebut dapat kita simpulkan, pengertian
transistor adalah pemindahan atau peralihan bahan setengah penghantar menjadi suhu
tertentu. Transistor pertama kali ditemukan pada tahun 1948 oleh William Shockley, John
Barden dan W.H, Brattain. Tetapi, komponen ini mulai digunakan pada tahun 1958. Jenis
Transistor terbagi menjadi 2, yaitu transistor tipe P-N-P dan transistor N-P-N.

Cara Kerja Transistor hampir sama dengan resistor yang mempunyai tipe dasar modern. Tipe
dasar modern terbagi menjadi 2, yaitu Bipolar Junction Transistor atau biasa di singkat BJT

dan Field Effect Transistor atau FET. BJT dapat bekerja bedasarkan arus inputnya, sedangkan
FET bekerja berdasarkan tegangan inputnya.
Dalam dunia elektronika modern, transistor merupakan komponen yang sangat penting
terutama dalam rangkaian analog karena fungsinya sebagai penguat. Rangkaian analog terdiri
dari pengeras suara, sumber listrik stabil dan penguat sinyal radio. Tidak hanya rangkaian
analog, di dalam rangkaian digital juga terdapat transistor yang digunakan sebagai saklar
dengan kecepatan tinggi. Beberapa transistor juga dapat di rangkai sehingga berfungsi
sebagai logic gate.
Jenis-Jenis Transistor juga berbeda-beda, berdasarkan kategorinya dibedakan seperti materi
semikonduktor, kemasan fisik, tipe, polaritas, maximum kapasitas daya, maximum frekuensi
kerja, aplikasi dan masih banyak lagi jenis yang lainnya.

Cara Kerja Transistor


Secara harfiah sendiri transistor merupakan gabungan dari dua kata yaitu transfer dan resistor
yang dapat diartikan secara bebas sebagai pengalir arus atau pengatur aliran arus. Triode
merupakan istilah yang memiliki arti tiga elektroda, dan didalam resistor sendiri memang
memiliki tiga elektroda tersebut, yaitu basis atau dasar, emitor atau pemancar dan kolektor
atau pengumpul. Transistordapat mengalirkan arus listrik atau juga menguatkan tegangan
dikarenakan memiliki ketiga elektroda tersebut. Fungsi lain dari transistor adalah sebagai
saklar pemutus dan penyambung aliran listrik ketika pada dasar atau basis diberikan arus
yang sangat besar. untuk cara kerja dari transistor sendiri tergantung dari transistor jenis apa
yang digunakan.

Gambar Cara Kerja Transistor

Pada dasarnya transistor ada dua jenis atau tipe dari transistor. Ada transistor BJT atau bipolar
junction transistor atau juga lebih dikenal dengan istilah transistor bipolar dan transistor FET
atau field effect transistor atau juga lebih dikenal dengan istilah transistor effect. Berikut cara
kerja transistor BJT. Sesuai dengan namanya transistor bipolar ( BJT ) menggunakan dua
polaritas yang membawa muatan untuk membawa arus listrik pada kanal produksinya. Di
dalam transistor bipolar ( BJT ) juga terdapat suatu lapisan pembatas yang dinamakan
depletion zone, yang pada akhirnya setiap arus listrik yang akan masuk akan melewati
pembatas tersebut dan terbagi karena adanya depletion zone ini.
Transistor effect ( FET ) Sedikit berbeda dengan cara kerja pada transistor bipolar. Dimana
pada transistor effect ( FET ) ini hanya menggunakan satu jenis polaritar atau pembawa
muatan arus listrik. Hal ini jelas berbeda dengan transistor bipolar yang memiliki dua
polaritas pembawa muatan. Untuk transistor effect ( FET ), arus yang masuk tidak akan
terbagi menjadi dua aliran seperti pada transistor bipolar. Karena posisi letak depletion zone
dari resistor effect terdapat di kedua sisi bukan berada di tengah-tengah. Sebenarnya untuk
tipe atau jenis transistor dari BJT dan FET sendiri sama saja fungsinya, yang membedakan
adalah dari cara kerja transistornya saja.

Fungsi Transistor
sangat berpengaruh besar di dalam kinerja rangkaian elektronika. Karena di dalam sirkuit
elektronik, komponen transistor berfungsi sebagai jangkar rangkaian. Transistor adalah

komponen semi konduktor yang memiliki 3 kaki elektroda, yaitu Basis (B), Colector (C) dan
Emitor (E). Dengan adanya 3 kaki elektroda tersebut, tegangan atau arus yang mengalir pada
satu kaki akan mengatur arus yang lebih besar untuk melalui 2 terminal lainnya.
Fungsi Transistor Lainnya :

Sebagai penguat amplifier.

Sebagai pemutus dan penyambung (switching).

Sebagai pengatur stabilitas tegangan.

Sebagai peratas arus.

Dapat menahan sebagian arus yang mengalir.

Menguatkan arus dalam rangkaian.

Sebagai pembangkit frekuensi rendah ataupun tinggi.

Jika kita lihat dari susuan semi konduktor, Transistor dibedakan lagi menjadi 2 bagian, yaitu
Transistor PNP dan Transistor NPN. Untuk dapat membedakan kedua jenis tersebut, dapat
kita lihat dari bentuk arah panah yang terdapat pada kaki emitornya. Pada transistor PNP arah
panah akan mengarah ke dalam, sedangkan pada transistor NPN arah panahnya akan
mengarah ke luar. Saat ini transistor telah mengalami banyak perkembangan, karena sekarang
ini transistor sudah dapat kita gunakan sebagai memory dan dapat memproses sebuah getaran
listrik dalam dunia prosesor komputer.

Dengan berkembangnya fungsi transistor, bentuk dari transistor juga telah banyak mengalami
perubahan. Salah satunya telah berhasil diciptakan transistor dengan ukuran super kecil yang
hanya dalam ukuran nano mikron (transistor yang sudah dikemas di dalam prosesor
komputer). Karena bentuk jelajah tegangan kerja dan frekuensi yang sangat besar dan lebar,
tidak heran komponen ini banyak digunakan didalam rangkaian elektornika. Contohnya
adalah transistor pada rangkaian analog yang digunakan sebagai amplifier, switch, stabilitas
tegangan dan lain sebagainya. Tidak hanya di rangkaian analog, pada rangkaian digital juga
terdapat transistor yang berfungsi sebagai saklar karena memiliki kecepatan tinggi dan dapat
memproses data dengan sangat akurat.
Transistor yang pertama adalah transistor bipolar atau dwi kutub. Transistor bipolar termasuk
salah satu dari jenis-jenis transistor yang paling banyak digunakan dalam suatu rangkaian
elektronika. Sedangkan pengertian dari transistor bipolar itu sendiri adalah transistor yang
memiliki dua buah persambungan kutub. Sedangkan jenis transistor bipolar dibagi lagi
menjadi tiga bagian lapisan material semikonduktor yang kemudian membedakan transistor
bipolar kedalam dua jenis yaitu transistor P-N-P (Positif-Negatif-Positif) dan transistor N-PN (Negatif-Positif-Negatif). Masing-masing kaki dari jenis transistor ini mempunyai nama
seperti B yang berarti Basis, K yang berarti Kolektor serta E yang berarti Emiter. Sedangkan
untuk fungsi transistor bipolar adalah sebagai regulator arus listrik.

Transistor kedua yang paling banyak digunakan dari berbagai jenis-jenis transistor yang ada
adalah transistor efek medan (FET). Transistor jenis ini sama seperti transistor bipolar yang
memiliki tiga kaki. Tiga kaki terminal yang dimiliki oleh transistor efek medan adalah Drain
(D), Source (S), dan Gate (G). Transistor efek medan ini atau dikenal pula dengan istilah
transistor unipolar memiliki hanya satu buah kutub saja. Sedangkan cara kerja dari transistor
efek medan ini adalah mengatur dan mengendalikan aliran elektron dari Source ke Drain
melalui tegangan yang diberikan pada Gate. Hal inilah yang membedakan antara fungsi
transistor efek medan dengan fungsi transistor bipolar pada penjelasan diatas.

Dalam mengukur sebuah transistor kita bisa menggunakan dua macam alat bantu yaitu
multimeter analog dan multimeter digital. Cara mengukur transistor dengan menggunakan
bantuan alat ini tergolong gampang dan mudah untuk dilakukan. Hasil yang didapatkan pun
sangatlah akurat dalam menentukan kelayakan sebuah transistor. Oleh karena itu kedua alat
ini menjadi primadona bagi orang-orang yang berkecimpung dalam dunia elektro. Berikut

akan dijelaskan bagaimana cara untuk mengukur transistor dengan menggunakan kedua alat
tersebut.

Cara Mengukur Transistor

Cara mengukur transistor yang pertama adalah dengan menggunakan multimeter analog. Di
dalam pengukurang transistor yang menggunakan multimeter analog pun dibedakan menjadi
dua macam tipe yaitu Positif-Negatif-Positif (PNP) dan Negatif-Positif-Negatif (NPN). Untuk
tipe PNP, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah atur posisi saklar pada posisi Ohm
x1k atau 10k. Kemudian sambungkan probe merah pada terminal Basis dan probe hitam pada
terminal Emitor. Jika jarum bergerak ke kanan maka transmitor dalam keadaan yang layak
pakai. Langkah yang terakhir pindahkan probe hitam ke terminal Colector dan jika jarum
masih tetap bergerak ke kanan berarti transmitor dalam keadaan baik. Lakukan langkah yang
sama untuk tipe NPN. Cukup pindahkan probe hitam ke terminal Basis dan probe merah ke
terminal Emitor serta memasukkan probe merah pada terminal Colector.
Sedangkan dalam cara mengukur transistor menggunakan multimeter digital kurang lebih
sama dengan multimeter analog. Untuk multimeter digital cara pengukurannya dilakukan

secara terbalik dari multimeter analog. Mungkin langkah yang berbeda hanyalah pada
langkah awalnya. Jika langkah awal pada transistor analog adalah memposisikan saklar pada
posisi Ohm x1k atau 10k, maka multimeter digital adalah mengatur posisi saklar pada posisi
dioda (Ohm x1k atau x100k). Pada prinsipnya multimeter digital ini memiliki fungsi untuk
mengukur dioda dan resistensi dalam saklar yang sama.

Anda mungkin juga menyukai