0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
152 tayangan33 halaman

Panduan Pengayakan dan Analisis Ukuran Partikel

1. Dokumen tersebut membahas tentang pengayakan bahan padat untuk menentukan distribusi ukuran partikelnya. Metode yang digunakan adalah mengayak bahan melalui serangkaian ayakan berukuran berbeda dan menganalisis berat setiap fraksi yang tertahan dan lolos. 2. Beberapa faktor yang mempengaruhi hasil pengayakan dijelaskan seperti ukuran lubang ayakan, sifat fisik bahan, kecepatan ayak

Diunggah oleh

Rubby Setiaangga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
152 tayangan33 halaman

Panduan Pengayakan dan Analisis Ukuran Partikel

1. Dokumen tersebut membahas tentang pengayakan bahan padat untuk menentukan distribusi ukuran partikelnya. Metode yang digunakan adalah mengayak bahan melalui serangkaian ayakan berukuran berbeda dan menganalisis berat setiap fraksi yang tertahan dan lolos. 2. Beberapa faktor yang mempengaruhi hasil pengayakan dijelaskan seperti ukuran lubang ayakan, sifat fisik bahan, kecepatan ayak

Diunggah oleh

Rubby Setiaangga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
1. Cara-cara menentukan ukuran partikel
2. Analisis data ukuran partikel menggunakan screen shaker
3. Evaluasi hasil analisa ayakan
1.2 Dasar Teori
1.2.1 Pengertian Pengayakan
Pengayakan atau penyaringan adalah proses pemisahan secara mekanik berdasarkan
perbedaan ukuran partikel. Pengayakan (screening) dipakai dalam skala industri, sedangkan
penyaringan (sieving) dipakai untuk skala laboratorium.
Produk dari proses pengayakan/penyaringan ada 2 (dua), yaitu :
- Ukuran lebih besar daripada ukuran lubang-lubang ayakan (oversize).
- Ukuran yang lebih kecil daripada ukuran lubang-lubang ayakan (undersize)
Dalam proses industri, biasanya digunakan material yang berukuran tertentu dan
seragam. Untuk memperoleh ukuran yang seragam, maka perlu dilakukan pengayakan. Pada
proses pengayakan zat padat itu dijatuhkan atau dilemparkan ke permukaan pengayak.
Partikel yang di bawah ukuran atau yang kecil (undersize), atau halusan (fines), lulus
melewati bukaan ayak, sedang yang di atas ukuran atau yang besar (oversize), atau buntut
(tails) tidak lulus. Pengayakan lebih lazim dalam keadaan kering (McCabe, 1999, halaman
386).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengayakan, yaitu:

Jenis ayakan

Cara pengayakan

Kecepatan pengayakan]

Ukuran ayakan

Waktu pengayakan

Sifat bahan yang akan diayak

1. Tujuan dari proses pengayakan ini adalah:

Mempersiapkan produk umpan (feed) yang ukurannya sesuai untuk beberapa proses
berikutnya.

Mencegah masuknya mineral yang tidak sempurna dalam peremukan (Primary


crushing) atau oversize ke dalam proses pengolahan berikutnya, sehingga dapat
dilakukan kembali proses peremukan tahap berikutnya (secondary crushing).

Untuk meningkatkan spesifikasi suatu material sebagai produk akhir.

Mencegah masuknya undersize ke [Link] biasanya dilakukan dalam


keadaan kering untuk material kasar, dapat optimal sampai dengan ukuran 10 in (10
mesh). Sedangkan pengayakan dalam keadaan basah biasanya untuk material yang
halus mulai dari ukuran 20 in sampai dengan ukuran 35 in.[Taggart,1927]

2. Permukaan ayakan yang digunakan pada screen bervariasi, yaitu:


Plat yang berlubang (punched plate), bahan dapat berupa baja ataupun karet keras.

Anyaman kawat (woven wire), bahan dapat berupa baja, nikel, perunggu, tembaga,
atau logam lainnya.

Susunan batangan logam, biasanya digunakan batang baja (pararel rods). Sistem
bukaan dari permukaan ayakan juga bervariasi, seperti bentuk lingkaran, persegi
ataupun persegi panjang. Penggunaan bentuk bukaan ini tergantung dari ukuran,

karakteristik material, dan kecepan gerakan screen. [Brown,1950]


3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan material untuk menerobos ukuran ayakan
adalah :

Ukuran buhan ayakan


Semakin besar diameter lubang bukaan akan semakin banyak material yang lolos.

Ukuran relatif partikel


Material yang mempunyai diameter yang sama dengan panjangnya akan memiliki
kecepatan dan kesempatan masuk yang berbeda bila posisinya berbeda, yaitu yang
satu melintang dan lainnya membujur.

Pantulan dari material


Pada waktu material jatuh ke screen maka material akan membentur kisi-kisi screen
sehingga akan terpental ke atas dan jatuh pada posisi yang tidak teratur.

Kandungan air
Kandungan air yang banyak akan sangat membantu tapi bila hanya sedikit akan
menyumbat screen.

1.2.2 Alat Ayakan


Berdasarkan gerak pengayak, alat ayakan dibagi menjadi 2 jenis:

Stationary screen

Dynamic screen.

Beberapa alat ayakan :


1. Stationary
2. Grizzly
3. Vibrating
4. Oscillating
5. Reciprocating
6. Tromel/Revolving
Faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan screen:

kapasitas, kecepatan hasil yang diinginkan.

Kisaran ukuran ( size range),

Sifat bahan : densitas, kemudahan mengalir (flowability),

Unsur bahaya bahan : mudah terbakar, berbahaya, debu yang ditimbulkan.

Ayakan kering atau basah.


Pemilihan screen berdasarkan ukuran disajikan di fig. 19 14 (Perry, 7th ed.).

1.2.3 Kapasistas Screen


Kapasitas screen secara umum tergantung pada:
1. Luas penampang screen
2. Ukuran bahan
3. Sifat dari umpan seperti; berat jenis, kandungan air, temperature
4. Tipe mechanical screen yang digunakan.
[Kelly,1982]

Tabel 1.1 Kapasitas Screen

1.2.4 EFISIENSI
SCREEN
Efektivitas ayakan dihitung berdasarkan rekoveri desired material dalam produk dan
rekoveri undesired material di arus reject.
Desired matl = matl dengan ukuran yang diinginkan.
Efisiensi screen dalam mechanical engineering didefinisikan sebagai perbandingan
dari energi keluaran dengan eneri masukan. Dengan demikian dalam screening bukannya
efisiensi melainkan ukuran keefektifan dari operasi.
Contoh : Suatu produk dengan spek tidak lebih dari 10% berat berukuran
tidak lebih besar dari 200 mesh. Tampak, batasannya adalah partikel dengan ukuran > 200
mesh maksimum 10%. Jadi, desired matl = partikel lolos 200 mesh.
Efisiensi dari proses pengayakan ini bergantung pada:

Rasio ukuran minimal partikel yang bisa melewati lubang ayakan, yaitu: 0,17-1,25 x
ukuran lubang ayakan.

Persentase total area ayakan yang terbuka.

Teknik pengumpanan dan kecepatan pengumpanan.

Keadaan fisik dari material itu sendiri (kekerasan bijih, pola bongkahan bentuk
partikel seperti bulat, gepeng, ataupun jarum, kandungan air).

Ada atau tidak adanya penyumbatan lubang screen.

Ada atau tidak adanya korosi pada ayakan (kawat).

Mekanisme gerakan pengayakan (getaran).

Design mekanis dari ayakan tersebut dan Kemiringan ayakan (biasanya 12o-18o).

[Brown,1950]
Menentukan efektivitas ayakan

Ditinjau suatu ayakan:

Gambar 1.1 Efektivitas Ayakan

Di lapangan, penimbangan F, P & R tidak mudah dan tidak praktis, maka perlu
dicari persamaan lain yang menggunakan data analisis cuplikan (sample) distribusi ukuran
pada arus F, P dan R.
NM desired matl di sekitasr screen:
XF. F = XP . P + XR . R
undesired matl di sekitar screen :

(1)

(1 XF ) F = ( 1- XP ) P + ( 1-XR ) R

.(2)

NM total di sekitar screen :


F = P + R

(3)

Menggunakan persamaan (1) dan (3), buktikan bahwa :

1.2.5 NeracaBahanPadaPengayakan
Neracabahansederhanapadasatuayakdapatdituliskan,
daninidapatdigunakanuntukmenghitungrasioumpan,

fraksi-kasar,

danlimpahan-

bawahanalisisayakdariketigaarusdanpengetahuantentang diameter potong yang dikehendaki.


Umpamakan :
F = laju aliran masa umpan
D = lajualiran masa limpahan-atas
B = lajualiran masa limpahanbawah
xF=fraksi masa bahan A di dalan umpan
xD=fraksi masa bahan A di dalam lapisan atas
xB= fraksi masa bahan A di dalam lapisan bawah
Fraksi masa bahan B di dalam umpan, limpahan atas, limpahan bawah adalah 1- xF,1- xD, dan
1- xB.
Oleh karena total bahan yang diumpankan ke ayak harus meninggalkan ayak sebagai
limpahan bawah atau limpahan atas.
F=D+B

...............

(4)

Bahan A di dalam umpan harus pula keluar dalam kedua arus itu
FxF = DxD + BxB
eliminasi B dari Pers (5) dan (6) memberikan
D = xF - xB

...............

(5)

F = xD - xB

...............

(6)

...............

(7)

Eliminasi D menghasilkan
B = xD - xF
F = xD - xB
Tabel 1. 2 AnalisisAyakan
Mesh

Ukuran

ft

mm

0.0078

2,37

0,0065

10

Analisis ayak, %
Kumulatif

Diferensial

8,5

97

1,98

7,1

93

0,0054

1,65

5,9

84

12

0,0046

1,40

5,0

74

10

14

0,0038

1,16

4,2

61

13

16

0,0033

1,01

3,6

48

13

29

0,0027

0,82

3,0

35

13

24

0,0023

0,70

2,5

25

10

28

0,0019

0,58

2,1

17

32

0,0016

0,49

1,8

11

35

0,0014

0,43

1,5

42

0,0011

0,34

1,2

1. Standar ukuran ayakan (screen)


Ukuran yang digunakan bisa dinyatakan dengan mesh maupun mm (metrik). Yang
dimaksud mesh adalah jumlah lubang yang terdapat dalam satu inchi persegi (square inch),
sementara jika dinyatakan dalam mm maka angka yang ditunjukkan merupakan besar
material yang diayak.

Perbandingan antara luas lubang bukaan dengan luas permukaan screen disebut prosentase
opening. Pelolosan material dalam ayakan dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :

Ukuran material yang sesuai dengan lubang ayakan

Ukuran rata-rata material yang menembus lubang ayakan

Sudut yang dibentuk oleh gaya pukulan partikel

Komposisi air dalam material yang akan diayak

Letak perlapisan material pada permukaan sebelum diayak

Dalam pengayakan melewatkan bahan melalui ayakan seri ( sieve shaker) yang
mempunyai ukuran lubang ayakan semakin kecil. Setiap pemisahan padatan berdasarkan
ukuran diperlukan pengayakan. screen mampu mengukur partikel dari 76 mm sampai
dengan 38 m. Operasi screening dilakukan dengan jalan melewatkan material pada suatu
permukaan yang banyak lubang atau openings dengan ukuran yang sesuai.

Ditinjau sebuah ayakan :

Gambar 1.2 Ayakan


Fraksi oversize = fraksi padatan yang tertahan ayakan.
Fraksi undersize = fraksi padatan yang lolos ayakan.
Jika ayakan lebih dari 2 ayakan yang berbeda ukuran lubangnya, maka akan diperoleh
fraksi-fraksi padatan dengan ukuran padatan sesuai dengan ukuran lubang ayakan.
Pengayakan biasanya dilakukan dalam keadaan kering untuk material kasar, dapat
optimal sampai dengan ukuran 10 in (10 mesh). Sedangkan pengayakan dalam keadaan
basah biasanya untuk material yang halus mulai dari ukuran 20 in sampai dengan ukuran
35 in.

2. Analisis data ukuran partikel menggunakan screen shaker.


Penyajian data distribusi ukuran suatu campuran (particle size distribution).
Ditinjau : Sejumlah campuran partikel diayak dalam suatu susunan ayakan, di laboratorium
(menggunakan sieve shaker):

Gambar 1.3 screen shaker

Masing-masing padatan yang diperoleh ditimbang dan dijumlahkan,

Setiap ayakan ukuran tertentu dihitung fraksi massa partikel yang lolos

Fraksi massa yang tertahan dan diameter rata-ratanya,

Data fraksi massa dan diameter ditabulasikan,

Data di atas disajikan dalam grafik.

.(8)
Contoh :
Menentukan
ukuran partikel pada ayakan antara -48 + 65 mesh :
Gi = berat partikel pada -48+65 mesh.
Gt = berat total = berat umpan total.
Tabel 1.3 Table Fraksi Pengukuran

Average particle size

.(9)
Evaluasi Hasil
Analisis
Ayakan
Beberapa karakter padatan yang dapat dianalisis dari data hasil ayakan:

Average diamater

Diameter yang jika dikalikan dengan jumlah partikel akan memberikan


jumlah total diameter dalam campuran itu.
Davg x (jumlah partikel) = D total campuran.

Average surface
Surface average x (jumlah partikel) = surface total

Average volume
Volume avg x (jumlah partikel) = surface total

Average mass
Mass avg x (jumlah partikel) = massa total

Beberapa dimensi atau ukuran yang digunakan untuk menyatakan ukuran suatu
campuran antara lain:
1

True Arithmatic Average Diameter (TAAD)

Diameter total = N1.D1 + N2.D2+ N3.D3+..+= (Ni . Di ) .(10)


Jumlah partikel total = N1 + N2 + N3 +......................= (Ni) ..(11)

..(12)

..(13)

2. Mean Surface Diameter (Dp)


Diameter yang dapat mewakili untuk menghitung luas permukaan total.

..(14)

3. Mean Volume Diameter (Dv)


Diameter yang dapat mewakili untuk menghitung volum total campuran.

..(15)

4. Surface area
Dalam prakteknya, luas permukaan sejumlah partikel dalam campuran sulit
diukur, maka perlu dicar cara lain, yaitu mengevaluasi luas permukaan padatan
per satuan massa padatan.
...(16)

BAB II
METODOLOGI
2.1.
Alat dan Bahan Yang Digunakan
2.1.1
Alat Yang Digunakan
1. Screening
2. Neraca Digital
3. Gelas Kimia 50 ml dan 500 ml
4. Gelas Ukur 50 ml
2.1.2
Bahan Yang Digunakan
1. Batubara
2. Aquadest
2.2.

Prosedur Kerja
Variasi Kecepatan Putaran terhadap ukuran batubara
1. Menimbang sebanyak 500 gram batubara yang telah dikecilkan dengan
menggunakan nerca digital.
2. Menyusun alat screening sesuai urutan nomer ayakan.
3. Memasukkan batubara yang telah ditimbang dan diperkecil ke dalam alat
screening.
4. Menutup dan merapatkan alat.
5. Mengatur kecepatan amplitudo untuk screening yaitu 10, 20, 30, 40, 50, 60 dan
70 rpm
6. Menunggu proses screening selama 5 menit.
7. Mengeluarkan dan menimbang jumlah batu bara yang lolos ataupun tertinggal di
setiap nomer ayakan.

Variasi waktu terhadap ukuran batubara


1. Menimbang sebanyak 500 gram batubara yang telah dikecilkan dengan
menggunakan nerca digital.
2. Menyusun alat screening sesuai urutan nomer ayakan.
3. Memasukkan batubara yang telah ditimbang dan diperkecil ke dalam alat
screening.
4. Menutup dan merapatkan alat.
5. Mengatur kecepatan amplitudo untuk screening yaitu 20 rpm

6. Menunggu proses screening selama 5 menit.


7. Mengeluarkan dan menimbang jumlah batu bara yang lolos ataupun tertinggal di
setiap nomer ayakan.
8. Mengulangi perlakuan nomor 6 dengan waktu 10, 15, 20 dan 25 menit.

2.3 Diagram Alir


2.3.1 Diagram alir percobaan dengan variasi vibrating
Menimbang 500 gram batubara yang telah dikeringkan

Menyusunan alat screening sesuai dengan urutannya

Memasukkan batubara kedalam alat screening dan menutupnya

Mengatur kecepatan amplitudo pada alat dengan varasi kecepatan 10, 20,
30, 40, 50, 60, dan 70 rpm

Menunggu proses screening selama 5 menit

Menimbang jumlah batubara yang lolos disetiap nomor ayakan

BAB III
PENGOLAHAN DATA

3.1.

Data Pengamatan
Tabel 3.1.1 Variasi Kecepatan Putaran Terhadap Ukuran Batubara
Kecepatanp

Waktu
(menit)

utaran
(rpm)
10
20
30
40
50
60
70

Ukuran mesh
+8

-8+10

-10+12

-12+14

-14+16

-16+18

-18+20

483
362
341
367
321
378
339

1
12
12
12
23
13
23

2
13
15
11
22
10
13

2
15
20
14
23
13
16

1
16
15
11
14
11
18

1
11
15
11
14
12
13

1
9
13
9
11
8
10

Tabel3.1.2 Variasi Waktu Terhadap Ukuran Batubara


Kecepatan
Putaran
(rpm)

20

Waktu
(menit)
5
10
15
20
25

3.2 Data Perhitungan

Ukuran mesh
+8

-8+10 -10+12

-12+14

-14+16

-16+18

-18+20

362
382
395
380
379

12
8
7
19
10

15
13
11
17
13

16
11
9
16
10

11
10
10
11
10

9
8
8
7
13

13
9
7
12
10

Tabel3.2.1 Hasil Perhitungan Pengaruh Waktu Terhadap Nilai TAAD dan D surf
Kecepatan
Putaran
(rpm)

20

Variasiwaktu

TAAD

Dsurf

(menit)

(inchi)

(inchi)

5
10
15
20
25

0,0542
0,05343
0,0528
0,0550
0,0543
0,26973

0,0560
0,0553
0,0547
0,0568
0,0567
0,2795

Total

Dv (inchi)
0,0586
0,0581
0,0577
0,0593
0,0603
0,294

Tabel3.2.2 Hasil Perhitungan Pengaruh Kecepatan Putaran Terhadap Nilai TAAD dan
D surf
Waktu

Variasikecepatan

TAAD

(menit)

(rpm)
10
20
30
40
50
60
70

(inchi)
0,0561
0,0542
0,0537
0,0541
0,0561
0,0536
0,0548
0,3826

Total

Dsurf (inchi)

Dv (inchi)

0,0580
0,0560
0,0557
0,0561
0,0581
0,0556
0,0568
0,3963

0,0607
0,0586
0,0586
0,0591
0,0608
0,0584
0,0596
0,4158

BAB IV
PEMBAHASAN

Screening merupakan proses pemisahan partikel padatan sehingga ukuran padatan tersebut
dapat diketahui dengan melawatkan padatan tersebut melalui ayakan seri (sieve shaker).
Dalam praktikum ini, screening dilakukan dengan vibrating screen yang disusun secara seri
(sieve shaker). Variabel bebas dalam praktikum ini adalah variasi Vibrating yaitu 10, 20, 30,
40, 50, 60 dan 70 amplitudo dengan variabel tetap yaitu waktu selama 5 menit. Kemudian
Variabel bebas percobaan kedua adalah waktu pengayakan yang dilakukan selama masingmasing 5, 10, 15, 20 dan 25 menit dengan variabel tetap yaitu vibrating 20 dengan massa
umpan batu bara sebesar 500 gram. Ayakan yang digunakan memiliki nomer ayakan +8, +10,
+12, +14, +16, +18 dan 20 Mesh dengan diameter rata-rata (Davg) dapat dilihat pada tabel
1.1 pada lampiran.
Dari hasil percobaan dengan pengayakan dengan variasi vibrating dapat dilihat pada
tabel 3.1.1 dan 3.1.2. Dari variasi Vibrating yang paling optimum yaitu pada Vibrating 70
amlitudo dilihat dari jumlah massa yang lolos pada ayakan yaitu 67 gram, karena semakin
tinggi amplitudo maka semakin tinggi pula massa yang lolos pada ayakan, karena memiliki
getaran yang tinggi. Pada variasi waktu, waktu yang paling optimum adalah dengan waktu 10
menit. Semakin lama waktu vibrating seharusnya massa yang lolos juga akan semakin
banyak, namun hal ini tidak terjadi pada praktikum kali ini, hal ini dapat dikarenakan ukuran
partikel batubara ynag digunakan antara waktu 10 menir dengan waktu-waktu yang lain
berbeda sehingga hasil dari vibrating juga berbeda.
Analisis ukuran partikel yang dilakukan adalah TAAD, Dsurf dan Dv (lihat tabel 3.2.1
dan tabel 3.2.2). Dari hasil analisis, nilai TAAD, Dsurf, dan Dv terbesar diperoleh pada
vibrating 50 yaitu untuk TAAD sebesar 0,0561 in, Dsurf sebesar 0,0581 in, dan Dv sebesar
dan 0,0608 in.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. [Link] Jenis. Dalam : [Link]
diakses pada: 03 April 2013. 21.15 WITA.
Arifin, Z., ST, [Link]. 2009. Modul Ajar Perlakuan Mekanik Th. 2012-2013. Samarinda :
Politeknik Negeri Samarinda
Mahlifati R. A, Hafiidh, H.S.N, dan Purbandari, P. 2012. Hubungan Ukuran Partikel dan
Pengayakan. Dalam:[Link]
m/2012/05/23/hubungan-ukuran-partikel-dan-pengayakan/. Diakses pada: Senin, 1
April 2013 21:04.
McCabe,Warren L,dkk. 1999. Operasi Teknik Kimia. Jilid 2. Edisi keempat. Diterjemahkan
oleh: Ir. [Link],[Link]. Jakarta: Erlangga.
Parrot, L.E. 1970. Pharmaceutical Technologi. Mineapolish: Burgess Publishing Company.
Prabowo, H., 2009. Tugas Perlakuan Mekanik Neraca Bahan Pada Pengayakan. Padang :
Akademi Teknologi Industri Padang.

PERHITUNGAN

1. VariasiWaktuTerhadapBerat Material Batubara


A. PERCOBAAN 1 dengan t= 7 min 60 rpm
Dik : asumsi bola C=0,523 dan B=3,14
massa1
Fraksi Massa 1 = massatotal

= ......(tanpa satuan)

U.S. Sieve Size,


+8
-8+10
-10+12
-12+14
-14+16
-16+18
D 8mesh +D
Davg=
2

10mesh

Fraksi Massa , x
0,11
0,086
0,104
0,052
0,038

= .....in

*D8 mesh dan D10 mesh ada pada Tabel E.1


Tabel 1.1 Hasil PerhitunganPengukuran Fraksi Massa dan Diameter Average
xi
Diameter average, in

Fraksi Massa, xi

D2 (in2)

D3(in3)

C Di

xi
2

C Di

xi B
C Di (

(in-2)

in-3)

in-1)

0.0862

0,11

0,0074

0,0006

28,4223

350,5417

7,6615

0.0724

0,086

0,0052

0,0004

31,6223

411,0898

7,1316

0.0608

0,104

0,0037

0,0002

53,7439

944,2639

10,2697

0.0512

0,05

0,0026

0,0001

36,7701

956,0229

5,8631

0.0432

0,038

0,0019

8E-05

38,2409

908,2218

5,2811

TOTAL

0,388

0,0208

0,00138 188,7995

3620,140
2

36,207


TAAD =

xi
C Di
xi

188,7995
3750,1401

= 0,0503in

C Di3

Dsurf=

Dv =

xi B
C Di
x
B i 3
C Di

xi
x
C i 3
C Di

36,207
3,14 x 3750,1401

0,0554in

0,388
0,523 x 3750,1401

=0,0583in

B. PERCOBAAN 2 dengan t = 10 menit


Dik : asumsi bola C=0,523 dan B=3,14
massa1
Fraksi Massa 1 = massatotal
U.S. Sieve Size,
+8
-8+10
-10+12
-12+14
-14+16
-16+18
Davg=

D 8mesh +D
2

10mesh

Fraksi Massa , x
0,114
0,086
0,106
0,052
0,04

= .....in

*D8 mesh dan D10 mesh ada pada Tabel E.1


Tabel 1.2 Hasil Perhitungan Pengukuran Fraksi Massa dan Diameter Average
xi
Diameter average, in

Fraksi Massa, xi

D2 (in2)

D3(in3)

C Di

xi
2

C Di

xi B
C Di (

(in-2)

in-3)

in-1)

0,0862

0,114

0,0074

0,0006

29,4558

363,2887

7,9401

0,0724

0,086

0,0052

0,0004

31,6223

411,0899

7,1316

0,0608

0,106

0,0037

0,0002

54,7775

1013,384
3

10,4672

0,0512

0,052

0,0026

0,0001

38,2409

994,2638

6,0976

0,0432

0,04

0,0019

8E-05

40,2536

956,0229

5,5591

0,0209

0,00146 194,3501

3738,049
6

37,1956

TOTAL

0,398

TAAD =

xi
C Di
xi

C Di

Dsurf=

Dv =

194,3501
3738,0496

= 0,052 in

xi B
C Di
xi
B
3
C Di

xi
x
C i 3
C Di

37,1956
3,14 x 3738,0496

0,0032 in

0,398
0,523 x 3738,0496

= 0,0588 in

C. PERCOBAAN 3 dengan t = 14 menit


Dik : asumsi bola C=0,523 dan B=3,14
massa1
Fraksi Massa 1 = massatotal
U.S. Sieve Size,
+8
-8+10
-10+12
-12+14
-14+16
-16+18
D 8mesh +D
Davg=
2

10mesh

= .....in

Fraksi Massa , x
0,118
0,086
0,104
0,052
0,038

*D8 mesh dan D10 mesh ada pada Tabel E.1


Tabel 1.3 Hasil Perhitungan Pengukuran Fraksi Massa dan Diameter Average
xi
2
Diameter average,
Fraksi Massa,
C Di
D2 (in2)
D3(in3)
in
xi
(in-2)
0,0862
0.118
0,0074
0,0006
30.4894

xi
C Di

(i

xi B
C Di (

n-3)
376.0357

in-1)
8.2187

0,0724

0.086

0,0052

0,0004

31.6223

411.0899

7.1316

0,0608

0.104

0,0037

0,0002

53.744

994.2639

10.2697

0,0512

0.052

0,0026

0,0001

38.2409

994.2639

6.0976

0,0432

0.038

0,0019

0,00005

38.2409

908.2218

5.2811

TOTAL

0.398

0,0208

0,0014

192.338

3683.8751

36.9988

TAAD =

xi
C D i2
xi

192,338
3683,8751

= 0,0522in

C Di3

Dsurf=

Dv =

xi B
C Di
x
B i 3
C Di

xi
x
C i 3
C Di

36,9988
3,14 x 3638,8751

0,398
0,523 x 3638,8751

0,057in

= 0,0594in

D. PERCOBAAN 4 dengan t = 18 menit


Dik : asumsi bola C=0,523 dan B=3,14
massa1
Fraksi Massa 1 = massatotal
U.S. Sieve Size,

Fraksi Massa , x

+8
-8+10
-10+12
-12+14
-14+16
-16+18
D 8mesh +D
Davg=
2

10mesh

0,12
0,088
0,104
0,05
0,042

= .....in

*D8 mesh dan D10 mesh ada pada Tabel E.1


Tabel 1.4 Hasil Perhitungan Pengukuran Fraksi Massa dan Diameter Average
xi
Diameter
Fraksi Massa,
average, in xi

D2 (in2)

C Di

D3(in3)

xi B
C Di (in

xi

-3
C Di3 (in )
1

(in-2)
0,0862

0,12

0,0074

0,0006

31.0061

382.4092

8.3580

0,0724

0,088

0,0052

0,0004

32.3577

420.6501

7.2975

0,0608

0,104

0,0037

0,0002

53.744

994.2639

10.2697

0,0512

0,05

0,0026

0,0001

36.7701

956.0229

5.8631

0,0432

0,042

0,0019

0,00005

42.2663

1003.8241

5.8371

TOTAL

0,404

0,0208

0,00145

196.144

3757.1702

37.6253

196,144
3757,1702

= 0,0522in

TAAD =

xi
C D i2
xi

C Di3

Dsurf=

Dv =

xi B
C Di
x
B i 3
C Di

xi
x
C i 3
C Di

37,6253
3,14 x 3757,1702

0,404
0,523 x 3757,1702

0,0565in

= 0,059 in

E. PERCOBAAN 5 dengan t = 22 menit


Dik : asumsi bola C=0,523 dan B=3,14
massa1
Fraksi Massa 1 = massatotal
U.S. Sieve Size,
+8
-8+10
-10+12
-12+14
-14+16
-16+18
D 8mesh +D
Davg=
2

10mesh

Fraksi Massa , x
0,12
0,086
0,108
0,05
0,04

= .....in

*D8 mesh dan D10 mesh ada pada Tabel E.1


Tabel 1.5 Hasil Perhitungan Pengukuran Fraksi Massa dan Diameter Average
xi
Diameter
Fraksi Massa,
average, in xi

D2 (in2)

D3(in3)

C Di

xi B
C Di (in

xi

-3
C D i3 (in )
1

(in-2)
0,0862

0,12

0,0074

0,0006

31,0061

382,4092

8,3580

0,0724

0,086

0,0052

0,0004

31,6223

411,0899

7,1316

0,0608

0,108

0,0037

0,0002

55,8111

1032,5048

10,6647

0,0512

0,05

0,0026

0,0001

36,7701

956,0229

5,8631

0,0432

0,04

0,0019

0,00005

40,2536

956,0229

5,5591

TOTAL

0,404

0,0208

0,0014

195,463

3738,0497

37,5765

195,463
3738,0497

= 0,0522in

TAAD =

xi
C Di
xi

C Di

Dsurf=

Dv =

xi B
C Di
x
B i 3
C Di

xi
x
C i 3
C Di

37,5765
3,14 x 3738,0497

0,404
0,523 x 3738,0497

0,0566in

= 0,059 in

2. VariasiKecepatanPutarTerhadapBerat Material Batubara


A. PERCOBAAN 1 denganKecepatan 20 Rpm
Dik : asumsi bola C=0,523 dan B=3,14
massa1
Fraksi Massa 1 = massatotal
U.S. Sieve Size,
+8
-8+10
-10+12
-12+14
-14+16
-16+18
D 8mesh +D
Davg=
2

10mesh

Fraksi Massa , x
0,020
0,028
0,042
0,064
0,046

= .....in

*D8 mesh dan D10 mesh ada pada Tabel E.1


Tabel 2.1 Hasil Perhitungan Pengukuran Fraksi Massa dan Diameter Average
xi
Diameter
average, in

Fraksi Massa,
xi

D2 (in2)

D3(in3)

C Di

xi
2

C Di

xi B
C Di (in

(in

(in-2)

-3

0,0862

0,020

0,0074

0,0006

5,16769

63,7349

1,3930

0,0724

0,028

0,0052

0,0004

10,2956

133,8432

2,3219

0,0608

0,042

0,0036

0,0002

21,7043

401,5296

4,1474

0,0026

0,0001

47,0657

1223,7094

7,5048

0,064
0,0512

0,0432

0,046

0,0019

8,06216E-05 46,2916

1099,4264

6,3930

TOTAL

0,200

0,0209

0,00145960
2

2922,2435

21,7600

130,525
2922,2435

= 0,0447 in

TAAD =

xi
C Di
xi

C Di

Dsurf=

Dv =

130,525

xi B
C Di
xi
B
3
C Di

xi
x
C i 3
C Di

21,7600
3,14 x 2922,2435

0,200
0,523 x 2922,2435

0,0487in

= 0,0508in

B. PERCOBAAN 2 denganKecepatan 40 Rpm


Dik : asumsi bola C=0,523 dan B=3,14
massa1
Fraksi Massa 1 = massatotal
U.S. Sieve Size,
+8
-8+10
-10+12
-12+14
-14+16
-16+18
Davg=

D 8mesh +D
2

10mesh

Fraksi Massa , x
0,118
0,094
0,086
0,046
0,034

= .....in

*D8 mesh dan D10 mesh ada pada Tabel E.1


Tabel 2.2 Hasil Perhitungan Pengukuran Fraksi Massa dan Diameter Average

xi
Diameter
average, in

Fraksi Massa,
xi

D2 (in2)

C Di

D3(in3)

xi
2

C Di

xi B
C Di (in

(in

(in-2)

-3

0,0862

0,118

0,0074

0,0006

30,4894

376,0357

8,2187

0,0724

0,094

0,0052

0,0004

34,5639

449,3308

7,7950

0,0608

0,086

0,0036

0,0002

44,4421

822,1797

8,4923

0,0512

0,046

0,0026

0,0001

33,8285

879,5411

5,3941

0,0432

0,034

0,0019

8,06216E-05 34,2156

812,6195

4,7252

TOTAL

0,378

0,0209

0,00145960
2

3339,7068

34,6253

177,539
3339,7068

= 0,0532 in

TAAD =

xi
C Di
xi

C Di

Dsurf=

Dv =

177,539

xi B
C Di
xi
B
3
C Di

xi
x
C i 3
C Di

34,6253
3,14 x 3339,7068

0,378
0,523 x 3339,7068

0,0575in

= 0,0600in

C. PERCOBAAN 3 denganKecepatan 60 Rpm


Dik : asumsi bola C=0,523 dan B=3,14
massa1
Fraksi Massa 1 = massatotal
U.S. Sieve Size,
+8
-8+10

Fraksi Massa , x
0,114

-10+12
-12+14
-14+16
-16+18
D 8mesh +D
2

Davg=

10mesh

0,086
0,106
0,052
0,040

= .....in

*D8 mesh dan D10 mesh ada pada Tabel E.1


Tabel 2.3 Hasil Perhitungan Pengukuran Fraksi Massa dan Diameter Average
xi
Diameter
average, in

Fraksi Massa,
xi

D2 (in2)

C Di

D3(in3)

xi
2

C Di

xi B
C Di (in

(in

(in-2)

-3

0,0862

0,114

0,0074

0,0006

29,4558

363,2887

7,9401

0,0724

0,086

0,0052

0,0004

31,6223

411,0899

7,1316

0,0608

0,106

0,0036

0,0002

54,7775

1013,3843

10,4672

0,0512

0,052

0,0026

0,0001

38,2409

994,2639

6,0976

0,0432

0,040

0,0019

8,06216E-05 40,2536

956,0229

5,5591

TOTAL

0,398

0,0209

0,00145960
2

3738,0497

37,1956

194,35
3738,0497

= 0,0520 in

TAAD =

xi
C D i2
xi

C Di

Dsurf=

Dv =

194,35

xi B
C Di
x
B i 3
C Di

xi
x
C i 3
C Di

37,1956
3,14 x 3738,0497

0,398
0,523 x 3738,0497

0,0563 in

= 0,0588in

D. PERCOBAAN 4 denganKecepatan 80 Rpm

Dik : asumsi bola C=0,523 dan B=3,14


massa1
Fraksi Massa 1 = massatotal
U.S. Sieve Size,
+8
-8+10
-10+12
-12+14
-14+16
-16+18
D 8mesh +D
2

Davg=

10mesh

Fraksi Massa , x
0,084
0,0856
0,1
0,052
0,04

= .....in

*D8 mesh dan D10 mesh ada pada Tabel E.1


Tabel 2.4 Hasil Perhitungan Pengukuran Fraksi Massa dan Diameter Average
xi
Diameter
average, in

Fraksi Massa,
xi

D2 (in2)

C Di

D3(in3)

xi
2

C Di

xi B
C Di (in

(in

(in-2)

-3

0,0862

0,084

0,0074

0,0006

21,7043

267,6864

5,8506

0,0724

0,0856

0,0052

0,0004

31,4752

409,1778

7,0984

0,0608

0,1

0,0036

0,0002

51,6769

956,0229

9,8747

0,0512

0,052

0,0026

0,0001

38,2409

994,2639

6,0976

0,0432

0,04

0,0019

8,06216E-05 40,2536

956,0229

5,5591

TOTAL

0,3616

0,0209

0,00145960
2

3583,1740

34,4805

183,351
3583,1740

= 0,0512 in

TAAD =

xi
C Di
xi

C Di

Dsurf=

183,351

xi B
C Di
x
B i 3
C Di

34,4805
3,14 x 3583,1740

0,0554in

Dv =

xi
x
C i 3
C Di

0,3616
0,523 x 3583,1740

= 0,0578in

25
20
f(x) = - 13043.48x + 714.89
R = 0.94

15
Waktu (menit)

10
5
0
0.05

0.05

0.05

0.05

0.05

0.05

0.05

0.05

TAAD (in)

Gambar 1. Kurva Taad (in) Vs Waktu (menit)

90
80
70

f(x) = - 17571.88x + 981.31


R = 0.97

60
50
Vibrating (rpm) 40
30
20
10
0
0.05 0.05 0.05 0.05 0.05 0.05 0.05 0.05 0.06
TAAD (in)

Gambar 2. Kurva TAAD (in) Vs Vibrating (rpm)

Anda mungkin juga menyukai