ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
4. ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
4.1 Ikhtisar
Ketika melakukan pengereman darurat atau ketika pengereman pada
permukaan licin, seperti jalan bersalju atau genangan air, roda mungkin
akan terkunci dan slip. ABS mendeteksi kecepatan roda selama pengereman
dan mengontrol tekanan hidrolik rem menggunakan kontrol elektronik.
Kontrol tersebut untuk mencegah roda terkunci sehingga kinerja kemudi
menjadi lebih baik dan stabilitas arah kendaraan selama pengereman juga
lebih baik.
Dalam ABS dengan EBD (Electronic Brakeforce Distribution), fungsi
ekstra ditambahkan ke sistem ABS konvensional melalui kontrol yang tepat
terhadap gaya pengereman roda depan dan roda belakang sesuai dengan
perubahan beban kendaraan. Hal ini meningkatkan kinerja pengereman.
Catatan bahwa di bawah kondisi berikut, jarak pengereman
kendaraan dengan ABS dapat lebih panjang dari pada kendaraan yang tidak
dilengkapi dengan ABS.
- Ketika mengemudi di jalan yang ketinggiannya berbeda, seperti
sambungan di jalan
- Ketika berkendara di jalan kerikil atau bersalju
- Ketika berkendara di jalan yang rusak, seperti permukaan bergelombang
atau jalan berbatu
137
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
- Ketika berkendara dengan ban yang dipasang rantai
Dasar-Dasar ABS
Ketika kendaraan di rem, kecepatan roda turun di bawah kecepatan
kendaraan dan slip terjadi antara roda kendaraan (ban) dan permukaan
jalan. Ukuran slip ini disebut rasio slip. Secara umum, gesekan antara ban
dan coeffecient () permukaan jalan adalah maksimum ketika rasio selip
= 0,1 hingga 0,3. Gaya pengereman maksimum juga berada pada rasio
selip tersebut. Bila ban terkunci, gaya pengereman berkurang.
Gaya menikung (cornering force) dihasilkan oleh ban ketika kendaraan
berbelok dengan rasio
Selip = 0. Gaya
menikung turun seiring
meningkatnya rasio
selip, dan nilainya
mencapai terendah
ketika ban terkunci atau
rasio selip 1. Ini berarti
bahwa ketika roda
terkunci, maka
kendaraan kaan selip
dengan permukaan
jalan. ABS
mempertahankan,
menurunkan, atau
meningkatkan tekanan
rem hidrolik pada setiap roda untuk menjaga nilai rasio selip dalam
rentang kontrol ABS.
: Arah pengereman (braking force)
: Arah Horizontal (cornering force)
Rasio Selip=
Kecepatan kendaraan kecepatanroda
Kecepatan kendaraan
138
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
4.2 Struktur dan Cara Kerja
4.2.1 Susunan komponen ABS (Swift: RS 415)
1. ABS hydraulics Unit/ Control Module
5. EBD Warning Lamp (Brake Warning
Assembly
2. Speed Sensors
3. Stop lamp switch
4. ABS Warning Lamp
Lamp)
6. Wheel Speed Sensor Rings
7. Data Link Connector
Kondisi putaran setiap roda terdeteksi oleh sensor kecepatan roda.
Modul kontrol ABS mendeteksi kondisi selip roda menggunakan sinyal dari
sensor kecepatan roda pada setiap roda. Modul kontrol ABS kemudian
mengirim sinyal ke Unit hidrolik. Berdasarkan perintah-perintah modul
kontrol ABS, unit hidrolik menggerakkan katup solenoid untuk mengontrol
tekanan minyak rem untuk setiap roda.
4.2.2 Fungsi Komponen
139
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
1) Sensor kecepatan roda (WSS)
Tipe Induksi elektromagnetik
Komponen dari sensor WSS termasuk kumparan, magnet permanen
dan lempengan pawl. Komponen tersebut bisanya dipasang pada knuckles
depan kiri dan kanan, dan knuckles belakang kiri dan kanan atau rumah
axel belakang. Ring sensor dipasang pada poros penggerak depan dan
tromol rem belakang. Ketika ring sensor berputar, fluks magnetik yang
berasal dari magnet permanen mengalami perubahan. Hal ini menyebabkan
induksi elektromagnetik, yang menghasilkan tegangan arus bolak-balik
dalam kumparan. Karena frekuensi tegangan arus bolak balik yang
dihasilkan berubah sesuai dengan putaran ring sensor, maka kecepatan
setiap roda dapat dideteksi.
140
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
Tipe Hall IC
WSS dipasang tetap pada knuckles depan kiri dan kanan dan axel
belakang. Sensor terdiri dari hall IC yang mempunyai 2 elemen hall. Encoder
terdiri dari beberapa set kutub S dan kutub N dari magnet permanen.
Encoder dipasang di dalam hub roda dan berputar bersama dengan roda.
Ketika encoder berputar, daya tarik dari magnet permanen menghasilkan
tegangan operasi antara 2 elemen hall. Akibatnya, arus bolak-balik
dihasilkan dari sensor kecepatan roda. Siklus arus sebanding dengan
kecepatan putar encoder. Sinyal arus dikonversi menjadi sinyal tegangan di
dalam modul kontrol ABS sehingga kecepatan roda dapat dideteksi. Hal ini
memungkinkan kecepatan dan arah putaran roda dapat dideteksi secara
akurat.
141
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
2) Sakelar lampu Stop
Saklar ini mendeteksi
apakah pedal rem diinjak
atau tidak. Hal ini digunakan
untuk memulai kerja ABS.
Bahkan jika saklar lampu
stop telah rusak, ABS akan
bekerja jika ban tampaknya
akan mengunci. Namun,
karena kondisi pedal rem
(terinjak atau dilepaskan)
tidak dapat ditetapkan, kerja
ABS akan sedikit tertunda.
3) Unit Hidrolik (HU)
HU terdiri dari modul kontrol ABS dan mekanisme kontrol hidrolik
yang terdiri dari katup
solenoid, reservoir, pompa
dan motor pompa. HU
dipasang di kompartemen
mesin. HU diletakkan di
antara master silinder dan
silinder roda. Sinyal kontrol
modul ABS menjalankan
katup solenoid untuk
mengontrol tekanan hidrolik
pada setiap silinder roda.
142
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
- Katup Solenoid (Tipe Semikonduktor)
Modul kontrol ABS merubah ON dan OFF suply daya listrik ke
kumparan katup solenoid. Daya tarik magnit yang dihasilkan dalam
kumparan dan gaya pegas menggerakan plunger naik atau turun untuk
membuka atau menutup sirkuit hidrolik. Operasi dari inlet katup solenoid
adalah berbeda dengan operasi outlet katup solenoid ketika diberikan atau
tidak diberikan daya listrik.
143
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
- Pompa Dan Motor Pompa (Tipe Semikonduktor)
Pompa dipasang horizontal berhadapan dengan cam yang menyatu
dengan poros motor. Plunger pompa digerakkan oleh gerakan cam dan
mengirimkan minyak rem yang telah terkumpul di reservoir kembali ke
master silinder
Aliran Minyak Rem
Gerakan Plunger/piston
- Reservoir
Reservoir menyimpan sementara tekanan hidrolik (minyak rem) yang
dikeluarkan dari silinder roda selama mode penurunan tekanan ABS.
- Check valve
Katup ini terbuka atau tertutup tergantung pada perbedaan antara
tekanan hidrolik di depan dan di belakang katup. Katup ini mencegah aliran
144
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
balik minyak rem yang dikirim dari reservoir ke pompa dan dari pompa ke
master silinder.
- Return check valve
Ketika rem dilepas, tekanan pada silinder master drop. Hal ini akan
membuka return check valve, sehingga katup solenoid sisi orifice dibypass
dan minyak rem pada silinder roda kembali ke master silinder.
4) Kontrol modul ABS (Menyatu dengan HU)
Kontroler ini mendeteksi kondisi selip roda menggunakan sinyal
sensor kecepatan roda dan menggerakkan katup solenoida HU. Kontroler
memantau kondisi sistem dan ketika menemukan kelainan maka kontroler
menghentikan operasi ABS dengan fungsi fail-safe dan menyalakan lampu
peringatan ABS, dan rem kembali ke operasi normal. Sistem self-diagnosis
juga dilakukan oleh modul kontrol ABS
5) lampu peringatan ABS (dalam meter kombinasi)
Jika kelainan terjadi dalam sistem, lampu peringatan ABS menyala untuk
memperingatkan pengemudi.
6) lampu peringatan Rem (dalam meter kombinasi)
Lampu ini menyala pada waktu yang sama dengan lampu peringatan ABS
untuk mengingatkan pengemudi bahwa tidak hanya ada kelainan di ABS,
tetapi juga di EBD.
4.2.3 Cara Kerja Sirkuit Hidrolik
1) Selama pengereman normal (ABS tidak beroperasi)
Karena semua katup solenoida OFF saat pengereman normal, inlet
katup solenoida terbuka (mempertahankan tekanan) dan outlet katup
solenoid tertutup (tekanan penurunan). Pada saat ini, tekanan hidrolik
bekerja dalam urutan: menjaga katup tekanan ke setiap silinder roda.
Operasi normal dilakukan pada rem.
145
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
2) Mode Meningkatkan Tekanan
Ketika tekanan pada silinder roda tidak cukup, semua katup solenoida
OFF dan tekanan pada master silinder bekerja pada silinder roda. Hal ini
akan meningkatkan tekanan pada silinder roda
146
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
3) Mode Mempertahankan Tekanan
Setelah tekanan pada silinder roda menurun atau meningkat ke level
yang dibutuhkan, inlet katup solenoida berubah jadi ON untuk
mempertahankan tekanan pada silinder roda
4) Mode Penurunan Tekanan
Ketika roda rawan terhadap penguncian, inlet katup solenoida dan
outlet katup solenoida kondisi ON untuk melepaskan tekanan pada silinder
roda ke reservoir sehingga tekanan menurun. Tekanan minyak rem yang
disimpan sementara di reservoir dikirim kembali ke master silinder oleh
pompa.
147
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
4.3 Kontrol ABS (Swift: RS 415)
4.3.1 Ikhtisar
Modul kontrol ABS menghitung kecepatan roda, deselerasi kendaraan
dan kecepatan kendaraan dengan menggunakan sinyal dari sensor
kecepatan roda, saklar lampu stop untuk terus memantau kondisi selip
masing-masing roda. Ketika roda selip, tekanan dipertahankan. Ketika slip
meningkat, tekanan diturunkan. Ketika slip menurun, tekanan naikkan.
Dengan cara ini, tekanan dalam silinder roda dikendalikan untuk menjaga
rasio slip setiap roda dalam kondisi yang tepat.
4.3.2 Diagram Kontrol
148
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
4.3.3 Diagram Modul Kontrol ABS
4.3.4 Kontrol Fail-Safe
Jika kelainan terjadi pada sistem ABS, lampu peringatan ABS dan
lampu peringatan rem menyala untuk mengingatkan pengemudi. Selain itu,
fungsi ABS dihentikan dan sistem rem non ABS diaktifkan. Catatan bahwa
kontrol ini tidak termasuk kelainan yang terjadi pada sistem rem (seperti
tekanan minyak rem drop atau kebocoran minyak rem.
4.3.5 EBD (Electronic Brakeforce Distribution)
149
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
EBD melakukan kontrol yang tepat dari Brakeforce Distribution untuk
roda depan dan belakang sesuai dengan kondisi mengemudi kendaraan. Hal
ini memungkinkan besarnya gaya pengereman roda belakang digunakan
secara efektif, sesuai dengan kondisi beban muatan atau perubahan beban
kendaraan akibat perlambatan. Secara khusus, EBD mengurangi gaya pedal
rem yang diperlukan ketika kendaraan membawa muatan dan
meningkatkan kinerja rem.
Kontrol dapat dilakukan dengan sistem ini tanpa harus menambahkan
komponen khusus pada sistem ABS. Hampir semua kendaraan ABS
dilengkapi dengan EBD. Karena penggunaan EBD meniadakan kebutuhan
katup P, maka dapat mengurangi jumlah komponen.
Katup solenoid roda belakang digerakkan untuk mengontrol tekanan rem
dalam mode berikut, sesuai dengan penguncian roda belakang (slip).
- Kondisi tanpa kontrol EBD
- Ketika roda belakang yang dinilai rawan penguncian (slip terjadi), tekanan
rem dipertahankan
- Ketika penguncian roda belakang terus berlanjut (slip besar), tekanan rem
dikontrol oleh penurunan tekanan dan mempertahankan tekanan
- Ketika roda belakang berhenti mengunci (slip tidak ada), tekanan rem
dikontrol dengan meningkatkan tekanan dan mempertahankan tekanan
4.4 Diagnosa Diri (Self-Diagnostic)
4.4.1 Ikhtisar
Modul kontrol ABS memantau sinyal input dan output. Modul kontrol
ABS memiliki fungsi diagnosis diri yang mencatat kerusakan (DTC) ketika
mendeteksi ada kelainan. DTC direkam dan disimpan sampai penghapusan
150
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
dilakukan. Juga, disediakan fungsi peringatan yang menyalakan lampu
peringatan ABS atau lampu peringatan rem di meter kombinasi untuk
memperingatkan pengemudi ketika sebuah kelainan terdeteksi. Ketika
kontroller mendeteksi suatu kelainan, ia melakukan kontrol fail-safe untuk
menghentikan fungsi ABS dan mengaktifkan sistem rem non ABS.
Referensi :
- Ketika lampu peringatan menyala, ini menunjukkan bahwa kelainan
sedang terjadi. (kelainan saat ini)
- Lampu peringatan mati dan ABS diaktifkan lagi jika kelainan bersifat
sementara dan kendaraan kembali ke kondisi normal, tetapi DTC disimpan
sampai operasi penghapusan DTC dilakukan. (kelainan masa lalu)
- Modul kontrol ABS melakukan pemeriksaan awal selama sekitar 2 detik
setelah kunci kontak diputar ON. Lampu peringatan ABS menyala selama
pemeriksaan awal dan mati setelah pemeriksaan selesai. Perhatikan
bahwa lampu tetap menyala jika kelainan saat ini telah terdeteksi.
- Beberapa kondisi berkendaraan (seperti putaran roda) dapat
mengakibatkan kesalahan self-diagnosa dalam pemeriksaan saat
mengemudi (chek dinamis).
- Jika lampu peringatan menyala saat mengemudi tetapi DTC tidak
ditampilkan (termasuk bila kode normal ditampilkan), atau jika lampu
peringatan selalu diaktifkan atau selalu dimatikan, lakukan "diagnosis
Kelainan lampu peringatan ABS dengan gejala ".
- Ketika lampu peringatan ABS dan lampu peringatan rem menyala pada
saat yang sama, ini menunjukkan bahwa ada kelainan tidak hanya dalam
ABS, tetapi juga di EBD
151
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
4.4.2 Pemeriksaan Awal
1) Ketika Kunci Kontak Diputar ON (Pemeriksaan Statis)
Setelah kunci kontak dinyalakan, chek statis (pemeriksaan yang
dapat dilakukan ketika kendaraan berhenti) dilakukan selama sekitar 2
detik. Controller, katup solenoida, relay solenoid valve, sensor kecepatan
roda diperiksa. Peringatan lampu ABS di panel meter menyala pada saat
yang sama ketika kunci kontak ON. Lampu peringatan ABS mati setelah
memeriksa 2-detik awal jika tidak ada kelainan, dan tetap nyala jika ada
kelainan.
2) Segera setelah kendaraan berjalan
Segera setelah kendaraan berjalan untuk pertama kalinya setelah kunci
kontak ON, katup solenoid dan pompa dioperasikan sebentar untuk
memeriksa katup solenoid, motor pompa dan relay motor pompa.
3) Periksa selama mengemudi (Pemeriksaan dinamis)
Selama kendaraan dikemudikan, pemeriksaan dinamis terus-menerus
dilakukan dari sinyal sensor kecepatan roda (pemeriksaan hanya dapat
dilakukan saat kendaraan dijalankan)
Perhatian:
- Beberapa kondisi mengemudi (seperti putaran roda) dapat mengakibatkan
salah diagnosis (cek dinamis).
4.4.3 Tampilan dan penghapusan DTC
1) Menggunakan SDT (Swift: RS415)
Hubungkan SDT ke DLC yang berada di dekat pusat panel instrumen untuk
menampilkan atau menghapus DTC.
Referensi:
- Berhati-hatilah karena kontrol ABS dan EBD tidak dilakukan selama modul
kontrol ABS dan SDT sedang berkomunikasi.
152
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
2) Metode Onboard (konektor diagnosis) (Ignis)
- Tampilan DTC
Hubungkan [ABS-DNS] dan [GND] dari konektor diagnosis (6-terminal) yang
terletak di kotak laci. Lampu peringatan ABS berkedip untuk menampilkan
DTC .
referensi:
- Dengan pengecualian sistem EPI (& AT), konektor diagnosis telah diputus
pada model baru yang diluncurkan sejak September 2003
153
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
Perhatian:
- Ketika kecepatan kendaraan 10 km/jam atau lebih tinggi, tampilan DTC
dihentikan
Kondisi Kerusakan Sistem
Terminal DNS
Abnormalit
as
Tidak
ditampilkan
Terbuka (normal)
Grounded (selama
pemeriksaan)
Terbuka (normal)
Grounded (selama
pemeriksaan)
Terbuka (normal)
Grounded (selama
pemeriksaan)
Terbuka (normal)
Grounded (selama
pemeriksaan)
Kerusakan yang
lalu tidak
ditampilkan
Kerusakan yang
lalu ditampilkan
Abnormalit Kerusakan yang
as
lalu tidak
ditampilkan ditampilkan
Kerusakan yang
lalu ditampilkan
154
Kondisi lampu
peringatan atau kode
output
Off (sistem normal)
Kode normal = output
adalah 12
Off (sistem normal)
Output adalah DTC
yang lalu
On
Output adalah DTC
sekarang
On
Output adalah DTC
sekarang + yang lalu
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
- Penghapusan DTC
Kondisi kendaraan berhenti, putar kunci kontak ON. Setelah selesai
pemeriksaan awal yang normal (lampu peringatan ABS mati setelah
menyala selama 2 detik), bolak-balik hubungkan terminal DNS dan ground
antara ON dan OFF
setidaknya 5 kali dalam
waktu 10 detik. Ini
menghapus memori DTC
masa lalu.
Perhatian:
- Ketika suatu kelainan
sedang terjadi (lampu
peringatan ABS nyala), DTC yang sedang terjadi tidak bisa dihapus
4.5 Diagnosis Kerusakan
4.5.1 Pemeriksaan Setiap Sistem
1) Memeriksa nilai tahanan pada sensor kecepatan roda (tipe
induksi elektromagnetik)
Ukur nilai resistansi dari sensor kecepatan roda dan periksa apakah masih
dalam standar
Pemeriksan tegangan output untuk sensor kecepatan roda
Jenis Induksi elektromagnetik
1. Putar kunci kontak OFF.
2. Angkat kendaraan sampai roda bisa diputar.
3. Lepaskan konektor sensor kecepatan roda.
4. Hubungkan voltmeter (range AC) antar terminal konektor sensor.
155
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
5. Sambil memutar roda sekitar 1/2 sampai 1 putaran dalam waktu 1 detik,
ukur tegangan dan periksa bahwa
nilainya masih dalam standar.
Jika ada kelainan, periksa deteksi
unit kecepatan roda (sensor
kecepatan roda dan ring sensor).
Jenis Hall IC
1. Putar kunci kontak OFF.
2. Angkat kendaraan sampai roda bisa diputar.
3. Lepaskan konektor sensor kecepatan roda.
4. siapkan resistor 75-150 Ohm, ukur dan tuliskan nilai resistansi nya.
referensi:
- Nilai resistansi yang anda tulis diperlukan untuk menghitung nilai standar.
- Resistensi nilai tetap x (lihat manual layanan yang sesuai)
5. Hubungkan osiloskop, resistor dan baterai ke konektor sensor kecepatan
roda
6. Kondisi roda tidak berputar, ukur tegangan osiloskop dan periksa bahwa
nilainya masih dalam standar.
7. Putar roda sekitar 1/2 sampai 1 putaram dalam 1 detik, ukur tegangan
(tegangan rendah dan tegangan tinggi) dan periksa bahwa nilainya masih
dalam standar. Pada saat yang sama, periksa bahwa tidak ada gangguan
di bentuk gelombang.
156
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
Point Penting
Ketika menggunakan SDT, tampilkan parameter dan berkendara lurus
dengan perlahan-lahan dari kondisi berhenti. Sementara kecepatan
kendaraan kurang dari 5
km/jam, periksa bahwa tidak
ada roda yang menampilkan 0
km/jam. Bila menggunakan
osiloskop, pasang probe ke
dalam sensor konektor dan
ukur tegangan PP. Juga, periksa
bahwa tidak ada gangguan
dalam bentuk gelombang.
- "Tegangan PP" adalah
singkatan dari "tegangan puncak-ke puncak". Ini adalah perbedaan antara
Nilai tegangan maksimum dan nilai tegangan minimum.
- "VPP" adalah satuan yang digunakan untuk tegangan PP.
3) Pemeriksaan unit deteksi kecepatan Roda
Tipe induksi elektromagnetik
Periksa item berikut dan jika ada masalah, bersihkan atau ganti.
- kondisi pemasangan dari sensor kecepatan roda
- Perubahan bentuk ring sensor, kemasukan benda asing
- keeksentrikan ring sensor
- Ada yang melekat seperti bubuk besi (ujung dari sensor kecepatan roda,
ring sensor)
Tipe Hall IC
Periksa item berikut dan jika ada masalah, bersihkan atau ganti.
- kondisi pemasangan dari sensor kecepatan roda
- perubahan bentuk Encoder, kemasukan benda asing
157
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
- keeksentrikan Encoder
- Ada yang melekat seperti bubuk besi pada unit deteksi
5) perbaikan wiring sensor kecepatan roda (untuk kabel ganda
yang diplintir)
Ketika wiring sensor kecepatan roda
terdiri dari kabel ganda yang diplintir,
berjumbai dari kabel ganda yang
doplintir selama perbaikan harus 100
mm atau kurang.
- Ketika memperbaiki yang putus, gunakan solder dan isolasi .
- Ketika memperbaiki korslet antara kabel atau ground yang salah, gunakan
pita isolasi.
Perhatian:
- Selama perbaikan, jangan
membuat sambungan bypass
menggunakan kabel lainnya
4.5.2 Diagnosa Kerusakan Dengan DTC
Ketika DTC terdeteksi, aturan dasarnya adalah melakukan pemeriksaan
sesuai dengan alur diagram dengan kode yang ada dalam buku service
manual. Buku tersebut menjelaskan metode diagnosis sirkuit yang efisien.
158
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
Bagian ini menjelaskan tentang informasi dalam alur diagram,
menggunakan beberapa sirkuit pada Swift (RS415) sebagai contoh.
1) sistem sensor kecepatan roda
Sembari roda berputar, tonjolan pada ring sensor melewati area
pickup coil dari sensor kecepatan roda. Ini merubah kerapatan fluks magnet
dan menghasilkan tegangan arus bolak-balik. Ketika roda dihentikan,
tegangan output adalah 0 V. Dengan meningkatnya kecepatan roda, output
tegangan juga meningkat dan waktu yang dibutuhkan untuk 1 siklus
gelombang memendek. Dalam sistem sensor kecepatan roda, suatu
kelainan dinilai sesuai dengan penilaian 3 berikut kondisi.
Kode tampilan
C1021 kanan depan
C1025 kiri depan
C1031 kanan
belakang
C1035 kiri belakang
Diagnosis item
Kelainan pada Sistem
elektrik sensor kecepatan
roda
Detil Diagnosis
Tegangan input rendah
tak biasa atau Tak biasa
tinggi
Sirkuit selain depan kanan
Simbul
Nomor Terminal
Terminal
Depan kiri
FL +
21
FL 22
Belakang kanan RR +
25
RR 24
Belakang kiri
RL +
15
RL 16
Kode Tampilan C1021, C1025, C1031, C1035: Kelainan dalam sistem
kelistrikan sensor kecepatan roda
159
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
Kondisi Penilaian: Tegangan input abnormal rendah atau abnormal
tinggi
Ketika tegangan yang di input ke controller abnormal rendah atau
abnormal tinggi dikarenakan kabel putus atau korslet dalam rangkaian
sensor kecepatan roda, maka dideteksi sebagai kelainan. Di sirkuit ini, input
tegangan ke CPU mungkin meningkat atau menurun menjadi abnormal
tinggi atau rendah karena Alasan berikut:
(1) Kesalahan Ground dalam kabel sinyal (kabel putih)
(2) Putus dalam kabel sinyal (kabel putih)
(3) Korslet antara kabel sinyal (kabel putih) dan sistem lain
(4) Masalah dalam unit sensor
(5) Kesalahan ground pada kabel timah sensor
(6) Peutus dalam kabel ground (kabel putih / hitam)
(7) Koneksi cacat di konektor sensor
(8) Koneksi cacat di controller (HU) konektor
(9) Abnormalitas di controller (HU) unit
Referensi::
- Bagian ini menjelaskan sirkuit sensor kanan depan.
- Periksa sirkuit sensor lain dengan cara yang sama.
- Jika ada kelainan pada pasangan kabel pelintir, perbaiki dengan mengacu
pada layanan manual
160
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
4.6 Kontrol Hidrolik ABS (XL 7)
4.6.1 Saat Rem Bekerja Normal (ABS Belum Berfungsi)
Penjelasan:
Arus listrik menuju solenoid sebesar Nol Ampere sehingga:
1.
Gaya magnet tidak dihasilkan pada katup Solenoid sehingga Anchor
tidak tertarik menuju Solenoid.
2.
Inlet port terbuka dan outlet port tertutup.
3.
Tekanan minyak rem dari master silinder langsung dikirim ke caliper
silinder roda melalui inlet port dan solenoid valve.
4.
Saat outlet port dan Solenoid valve tertutup, tekanan minyak rem
tidak disalurkan ke tangki reservoir.
161
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
4.6.2 Saat ABS Bekerja (Tekanan Dipertahankan, Roda Mulai Slip)
Penjelasan:
Arus listrik menuju solenoid sebesar 2 Ampere sehingga:
1. Gaya magnet dihasilkan oleh arus 2 ampere menarik Anchor ke posisi
dimana anchor dan return Spring diseimbangkan (jarak aliran kecil).
2. Inlet port dan outlet port tertutup.
3. Minyak rem bertekanan dari master silinder tidak disalurkan ke Solenoid
valve sehingga tekanan pada caliper/silinder roda tertahan.
4. Karena outlet port tertutup tekanan minyak rem di caliper silinder roda
tidak disalurkan ke tanki reservoir, demikian juga Bypass check valve
tertutup sehingga tekanan minyak rem pada master silinder tinggi.
162
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
4.6.3 Saat ABS Bekerja (Tekanan Menurun Roda Slip Secara Cepat)
Penjelasan:
Arus listrik menuju Solenoid 5 Ampere, sehingga:
1. Gaya magnet pada Solenoid meningkat untuk menarik Anchor lebih jauh.
2. Inlet Port tetap tertutup dan Outlet Port membuka.
3. Tekanan minyak rem pada master Silinder tidak bekerja di atas caliper
sejak inlet port dan Solenoid valve tertutup.
4. Tekanan Caliper disalurkan ke tanki reservoir melalul outlet port Solenoid
valve sehingga tekanan menurun.
5. Arus 5 A ke Solenoid dikontrol dan Motor dan Pompa bekerja secara
bersamaan mengalirkan minyak rem (yang kembali ke reservoir) ke
dalam Accumulator sehingga siap bekerja pada Caliper saat peningkatan
tekanan berikutnya.
6. Tekanan minyak rem yang terdapat dalam Accumulator lebih tinggi
daripada tekanan minyak rem pada master Silinder sehingga feeling
valve mencegah tekanan minyak rem kembali ke Master Silinder.
Sehingga dapat mencegah pedal rem menyentak.
163
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
164
ANTILOCK BREAK SYSTEM (ABS)
4.6.4 Saat Rem dilepas
Penjelasan:
Arus listrik menuju Solenoid 0 ampere, sehingga:
1. Tekanan minyak rem pada master silinder menurun sehingga tekanan
pada Caliper silinder roda kembali ke Master silinder.
2. By pass valve terbuka, karena tekanan minyak rem lebih tinggi dan pada
tekanan spring, sampai pada saat tekanan minyak sama dengan tekanan
spring, By pass valve tertutup. Selanjutnya minyak yang kembakli ke
Master silinder melalui feeling valve
165