0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan9 halaman

Karakteristik dan Manipulasi Gipsum Dental

Dokumen tersebut membahas tentang gipsum, termasuk jenis dan karakteristik berbagai tipe gipsum yang digunakan dalam kedokteran gigi. Ada lima tipe gipsum menurut spesifikasi ADA, masing-masing memiliki sifat yang berbeda sesuai dengan penggunaannya, seperti kekuatan, porositas, dan waktu pengerasan. Dokumen juga menjelaskan proses manipulasi gipsum mulai dari pengukuran bahan sampai penger
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan9 halaman

Karakteristik dan Manipulasi Gipsum Dental

Dokumen tersebut membahas tentang gipsum, termasuk jenis dan karakteristik berbagai tipe gipsum yang digunakan dalam kedokteran gigi. Ada lima tipe gipsum menurut spesifikasi ADA, masing-masing memiliki sifat yang berbeda sesuai dengan penggunaannya, seperti kekuatan, porositas, dan waktu pengerasan. Dokumen juga menjelaskan proses manipulasi gipsum mulai dari pengukuran bahan sampai penger
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB III

PEMBAHASAN

LO 1
Gipsum merupakan mineral yang ditambang dari berbagai belahan dunia.
Selain itu, gipsum juga merupakan produk samping dari berbagai proses kimia. Di
alam, gipsum merupakan massa yang padat dan berwarna abu-abu, merah atau coklat.
Warna tersebut disebabkan adanya zat lain seperti tanah liat, oksida besi, anhidrat,
karbohidrat, sedikit SiO2 atau oksida [Link] kimiawi, produk gipsum yang
dihasilkan

untuk

tujuan

kedokteran

gigi

adalah

kalsium

sulfat

dihidrat

(CaSO42H2O) murni
Komposisi kimia bahan Gipsum :
1.
2.
3.
4.
5.

Calcium (Ca) : 23,28%


Hidrogen (H) : 2,34%
Calcium Oksida (CaO) : 32,57%
Air (H2O) : 20,93%
Sulfur (S) : 18,62%

Menurut Craig dkk (1987), sifat kimia gips adalah:


a. Solubility (daya larut) adalah banyaknya bagian dari suatu zat yang dilarutkan
dengan 100 bagian pelarut pada temperatur dan tekanan tertentu yang dinyatakan
dalam persen berat/volume.
b. Setting time adalah waktu yang diperlukan gips untuk menjadi keras dan dihitung
sejak gips kontak dengan air. Setting time terdapat dua tahap sebagai berikut :
1. Initial setting time:
Permulaan setting time dimana pada waktu itu campuran gips dengan air sudah sudah
tidak dapat lagi mengalir ke dalam cetakan. secara visual ditandai dengan loss of

gloss (hilangnya kemengkilatan/ timbulnya kemuraman). Keadaan dimana gips tidak


dapat hancur tapi masih dapat dipotong dengan pisau.
2. Final setting:
Waktu yang dibutuhkan oleh gips keras untuk bereaksi secara lengkap dari kalsium
sulfat dihidrat, meskipun reaksi dehidrasinya belum selesai. Tandanya antara lain
adalah kekerasan belum maksimum, kekuatannya belum maksimum dan dapat
dilepas dari cetakan tanpa distorsi atau patah.
Menurut Craig dkk (1987) gips keras mempunyai sifat mekanis, antara lain :
1. Compressive strength (kekuatan tekan hancur)
Kekuatan gips berhubungan langsung dengan kepadatan atau masa gips.
Partikel dental stone lenih halus, maka air air yang diperlukan untuk
mencampur lebih sedikit jika dibanding dengan air yang dibutuhkan untuk
pencampuran plaster of paris.
2. Tensile strength (daya rentang)
Daya rentang dari gips sangat penting pada saat gips dikeluarkan dari bahan
cetak. Karena tidak adanya sifat lentur pada gips, model akan cenderung
patah. Daya rentang gips keras dua kali lebih besar dari pada gips lunak baik
dalam keadaan basah maupun kering.
3. Surface hardness and abrassive ressistance (kekerasan permukaan dan daya
tahan abrasi.
Kekerasan permukaan gips berhubungan dengan kekuatan tekan hancur. daya
tahan abrsai meningkat dan meningkatnya kekuatan tekan hancur. Daya tahan
terhadap abrasi maksimal didapat ada saat gips mencapai daya strength. Gips
keras merupakan gips yang memiliki daya tahan abrasi tinggi.

Faktor-faktor berikut ini dapat diamati selama berlangsungnya reaksi setting:

a. Campuran air dan hemyhidrat dapat dituang dengan seketika (bila digunakan
perbandingan yang benar antara air dengan puder)
b. Bahan menjadi kaku tetapi tidak keras (initial set); pada tahap ini bahan dapat
diukir tetapi sudah tidak dapat dibentuk/dicetak.
c. Terjadi apa yang disebut final set dimana bahan menjadi keras dan kuat.
Walaupun demikian pada tahap ini reaksi hydrasi tidak berarti sudah sempurna, juga
tidak berarti bahwa kekuatan dan kekerasan optimum sudah tercapai.
d. Dihasilkan panas selama setting karena hydrasi hemyhidrat bersifat eksotermis
(Combe, 1992 : 319).
LO 2
Menurut spesifikasi American Dental Association (ADA) nomor. 25, produk gipsum
dapat dikelompokkan menjadi lima tipe yaitu30,31 :
1. Impression Plaster (Tipe I) Gips tipe I (Impression Plaster) memiliki kalsium sulfat
hemihidrat terkalsinasi sebagai bahan utamanya dan ditambahkan kalsium sulfat,
borax dan bahan pewarna Gips tipe ini jarang digunakan untuk mencetak dalam
kedokteran gigi sebab telah digantikan oleh bahan yang tidak terlalu kaku seperti
hidrokoloid dan elastomer, sehingga gips tipe I terbatas digunakan untuk cetakan
akhir, atau wash, untuk rahang edentulus.
2. Model Plaster (Tipe II) Gips tipe II (Model Plaster) terdiri dari kalsium sulfat
terkalsinasi/ -hemihidrat sebagai bahan utamanya dan zat tambahan untuk
mengontrol setting time. - hemihidrat terdiri dari partikel kristal ortorombik yang
lebih besar dan tidak beraturandengan lubang-lubang kapiler sehingga partikel hemihidrat menyerap lebih banyakair bila dibandingkan dengan -hemihidrat. Pada
masa sekarang, gips tipe II digunakan terutama untuk pengisian kuvet dalam
pembuatan gigitiruan dengan pengerasan tidak begitu penting dan kekuatan yang

dibutuhkan cukup, sesuai batasan yang disebutkan dalam spesifikasi. Selain itu, gips
tipe II dapat digunakan sebagai model studi.
3. Dental Stone (Tipe III) Gips tipe III (Dental Stone) terdiri dari hidrokal/ hemihidrat dan zat tambahan untuk mengontrol setting time, serta zat pewarna untuk
membedakan dari bahan plaster yang umumnya berwarna putih. -hemihidrat terdiri
dari partikel yang lebih kecil dan teratur dalam bentuk batang atau prisma dan
bersifat tidak porous sehingga membutuhkan air yang lebih sedikit ketika dicampur
bila dibandingkan dengan -hemihidrat. Gips tipe III ideal digunakan untuk membuat
model kerja yang memerlukan kekuatan dan ketahanan abrasif yang tinggi seperti
pada konstruksi protesa dan model ortodonsi. Kekuatan kompresi gips tipe III
berkisar antara 20,7 MPa (3000 psi) 34,5 MPa (5000 psi).
4. Dental Stone, High-Strength (Tipe IV) Gips tipe IV (Dental Stone, High Strength)
terdiri dari densit yang memiliki bentuk partikel kuboidal dengan daerah permukaan
yang lebih kecil sehingga partikelnya paling padat dan halus bila dibandingkan
dengan -hemihidrat dan hidrokal. Gips tipe IV sering dikenal sebagai die stone
sebab gips tipe IV ini sangat cocok digunakan untuk membuat pola malam dari suatu
restorasi, umumnya digunakan sebagai dai pada inlay, mahkota dan jembatan gigi
tiruan. Diperlukan permukaan yang keras dan tahan abrasi karena preparasi kavitas
diisi dengan malam dan diukir menggunakan instrumen tajam hingga selaras dengan
tepi-tepi dai.
5. Dental Stone, High Strength, High Expansion (Tipe V) Adanya penambahan
terbaru pada klasifikasi produk gipsum ADA dikarenakan terdapat kebutuhan dental
stone yang memiliki kekuatan serta ekspansi lebih tinggi. Pembuatan gips tipe V
sama seperti gips tipe IV namun gips tipe V memiliki kandungan garam lebih sedikit
untuk meningkatkan setting ekspansinya. Gips tipe V memiliki setting ekspansi
sekitar 0,1% - 0,3% untuk mengkompensasi pengerutan casting yang lebih besar pada
pemadatan logam 26 campur. Kekuatan yang lebih tinggi diperoleh dengan

menurunkan rasio airbubuk. Gips tipe V umumnya digunakan sebagai dai untuk
pembuatan bahan logam campur yang memiliki pengerutan tinggi. Bahan ini
umumnya berwarna biru atau hijau dan merupakan produk gipsum yang paling
mahal.
Salah satu hal yang menyebabkan perbedaan karakteristik setiap tipe gypsum
adalah dari proses pembuatannya. Gypsum tipe I dan II dibuat dengan pemanasan
110-120C pada ketel terbuka sehingga menghasilkan molekul yang tidak beraturan,
efeknya adalah porositas yang tinggi karena bentuk Kristal tersebut, selain itu ikatan
beta-hemidrat yang membutuhkan lebih banyak air dan lebih lemah. Gipsum tipe III
dibuat dengan pemanasan basah karena menggunakan air dan tekanan tinggi dalam
proses pemanasannya, pemanasan menggunakan autoklaf sehingga proses kristalisasi
membentuk molekul Kristal yang berbentuk batang atau prisma sehingga
porositasnya lebih kecil dan mempunyai ikatan alfa-hemidrat yang membutuhkan
lebih sedikit air dan lebih kuat. Kemudian gypsum tipe IV dan V pemanasan dengan
autoklaf disertai penambahan garam organic CaCl2 sehingga menghasilkan bentuk
Kristal serbuk yang berbentuk kotak lebih beraturan daripada stone sehingga
menyebabkan porositas lebih kecil serta ikatan yang lebih kuat daripada tipe
sebelumnya.

LO 3
Mengetahui tahap-tahap manipulasi gypsum
1. Menakar dan Menimbang
Rasio w/p yakni 50ml : 100gr untuk plaster of paris,dental stone 22-35ml :
[Link] dapat menggunakan alat silinder [Link] powder
dan air mempengaruhi kekuatan stone sehingga jumlah air harus serendah
mungkin.
2. Pengadukan
Dalam melakukan pengadukan perlu dihindari terjadinya gelembung karena
dapat menyebabkan [Link] melakukan pengadukan menggunakan
spatula dan [Link] dituangkan dahulu pada bowl lalu disusul dengan
powder sedikit demi sedikit sambil [Link] yang benar harus lentur
sehingga dapat divibrasi dengan tangan.
Dari awal pengadukan hingga pengerasan memerlukan [Link]
pengadukan ( 1 menit),dari awal penambahan bubuk + air .
Waktu kerja : yaitu waktu menggunakan pengadukan dimana
konsistensi yang merata dipertahankan untuk satu atau beberapa
manipulasi
Waktu pengerasan : antara pengadukan hingga mengeras.
Untuk menguji kekerasan gypsum:
Uji Gillmore untuk Pengerasan Awal
Adukan gypsum [Link] direndahkan sampai

ke

permukaan,dan saat ketika jarum tidak meninggalkan jejas disebut

pengerasan awal.
Uji Vicat untuk Waktu Pengerasan
Jarum dengan tongkat pluger diperberat,didirikan dan dipegang
berkontak dengan [Link] setelah kilap menghilang,pluger
[Link] yang terentang sampai jarum tidak lagi menembus
sampai dasar adukan dikenal sebagai waktu [Link]

beberapa

kasus,pengukuran

Vicat

dan

Gillmore

awal

terjadi

bersamaan,sementara pada keadaan lain terdapatb sedikit perbedaan .


Uji Gillmore untuk Pengerasan Akhir
Tahap selanjutnya dalam proses pengerasan dapat diukur dengan
penggunaan jarum Gillmore yang lebih [Link] yang terentang
sampai hanya meninggalkan sedikit jejas yang masih dapat diamati

pada permukaan disebut waktu pengerasan akhir.


3. Initial setting time
Setelah dicampur selama 1 menit working time ditandai dengan bahan
menjadi [Link] bahan menjadi kaku,tetapi tidak [Link] dapat
dibentuk (8-10 menit dari awal pengadukan).
Reaksi setting :
(CaSO4)2.H2O + 3 H2O 2 CaSO4.2 H2O + panas
4. Final setting
Reaksi kimia selesai dan model terasa dingin kemudian dilakukan penanganan
[Link] ingin gips lebih lunak,maka diberi air mengalir dan bukan di
[Link] air ini bertujuan agar gips tidak menjadi keras,karena pada
saat direndam di air terjadi reaksi [Link] kristal yang
terjadi menjadi lebih cepat sehingga ekspansi pengerasan dapat lebih besar
bila produk gypsum dibiarkan mengeras di dalam air.

Mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi manipulasi gypsum


A. Dalam proses pengadukan perlu dihindari terjebaknya udara dalam adonan
sehingga tidak menjadikan porous yang dapat mengakibatkan ketidakakuratan
[Link] dengan mengguanakn vibrator (yang memiliki
amplitude maksimal dan frekuensi maksimal) akan membantu memperoleh
hasil yang maksimal karena gelembung udara/udara yang terjebak akan dapat
keluar dan hilang.
B. Menghindari kebisaan menambahkan air-bubuk/powder berulang ulang
karena

dapat

menyebabkan

ketidakseragaman

pengerasan

dalam

[Link] ini juga dapat menyebabkan kekuatan yang rendah /


mengalami distorsi.
C. Perbandingan air dan bubuk yang tepat sehingga menentukan manipulasi dan
setting [Link] terlalu banyak air,maka waktu setting akan semakin
lama dan hasil akan menjadi lunak (perbandingan tidak seimbang)
D. Penambahan bahan separator dilakukan sebelum pencetakan dengan tujuan
agar hasil lenih mudah dilepas dari cetakan
Kebersihan perlu dijaga agar bahan gypsum tidak tekontaminasi dengan bahan lain
LO 4
Penggunaan gypsum dalam kedokteran gigi telah meluas. Penggunaan bahan
tersebut dapat dierlihatkan dalam membuat model untuk gigi tiruan. Misalnya
campuran plaster of paris dan air ditempatkan dalam sendok cetak dan ditekan pada
jaringan rahang. Plaster dibiarkan mengeras, dan kemudian cetakan dikeluarkan.
Dokter gigi sekarang memiliki bentuk negatif dari jaringan yang dibuat dalam rongga
mulut. Bila jenis plaster lain yang dikenal sebagai stone gigi, sekarang diaduk dengan
air, dituang ke dalam cetakan, dan dibiarkan mengeras, cetakan plaster yang
mengeras tersebut berfungsi sebagai mold untuk membentuk model positif, atau
model master. Pada model inilah gigi tiruan dibuat tanpa iperlukan kehadiran pasien.
Dengan sedikit modifikasi, gypsum dapat digunakan untuk beberapa tujuan
yang berbeda. Contohnya, impression plaster digunakan untuk membuat cetakan dari
rongga mulut, sedangkan dental stone digunakan untuk membuat die yang
menduplikasi anatomi oral ketika dituangkan keberbagai tipe cetakan. Gipsum juga
dapat digunakan sebagai pengikat untuk silikat dalam gold alloy casting investment,
soldering investment,dan investment untuk alloy nikel-kromium dengan titik lebur
rendah. Produk ini juga digunakan dalam proses pembuatan complete denture. Alasan
utama untuk penggunaan gypsum pada berbagai macam keperluan itu adalah sifat
material gipsum yang mudah dimodifikasi secara fisis dan kimiawi (Powers, 2006).

Banyak restorasi dan keperluan dental yang dibuat di luar mulut pasien
menggunakan model dan die yang harus merupakan replika yang akurat dari jaringan
keras dan lunak pasien. Kata model biasanya digunakan untuk replica dari beberapa
gigi dan berhubungan dengan jaringan lunak atau lengkungan. Kata die biasanya
digunakan untuk replica dari satu gigi (McCabe, 2008).

Anda mungkin juga menyukai