100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
1K tayangan17 halaman

Contoh AMDAL untuk Industri Tahu

Dokumen tersebut merupakan bagian pendahuluan dari laporan AMDAL tentang industri tahu. Ia membahas latar belakang meningkatnya industri makanan di Cilacap dan dampaknya terhadap lingkungan, serta pentingnya penyusunan AMDAL untuk meminimalkan dampak negatif industri tersebut terhadap lingkungan.

Diunggah oleh

Rdc
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
1K tayangan17 halaman

Contoh AMDAL untuk Industri Tahu

Dokumen tersebut merupakan bagian pendahuluan dari laporan AMDAL tentang industri tahu. Ia membahas latar belakang meningkatnya industri makanan di Cilacap dan dampaknya terhadap lingkungan, serta pentingnya penyusunan AMDAL untuk meminimalkan dampak negatif industri tersebut terhadap lingkungan.

Diunggah oleh

Rdc
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Contoh AMDAL

Tugas IPA SMKN 2 CILACAP tentang amdal


AMDAL INDUSTRI TAHU
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semakin banyak industri dan perusahaan-perusahaan makanan yang pesat di Kabupaten Cilacap
memberikan pula dampak negatif berupa meningkatnya tekanan terhadap lingkungan. Hal ini
terjadi karena pembangunan tempat usaha yang kurang memperhatikan daya dukung dan
daya tampung lingkungan setempat, yang pada akhirnya meningkatkan pencemaran dan
kerusakan lingkungan. Pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup tersebut menjadi beban
sosial, yang pada akhirnya masyarakat dan pemerintah yang harus menanggung biaya
pemulihannya
Apabila hal ini dibiarkan terus menerus akan berakibat pada masalah-masalah yang semakin
kompleks dan sulit penanganannya. Oleh karenanya pembangunan yang harus dilakukan adalah
pembangunan yang berwawasan lingkungan yaitu pembangunan yang memadukan lingkungan
hidup dengan sumber daya alam, untuk mencapaikeberlanjutan pembangunan yang menjadi
jaminan bagi kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk meminimasi dampak negatif yang timbul dari suatu
kegiatan maka dilakukan penyusunan kajian kelayakan lingkungan berupa AMDAL (Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup)atau UKL & UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan
Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup). Kedua instrumen lingkungan ini disatu sisi
merupakan kajian kelayakan lingkungan bagi kegiatan yang akan memulai usaha tetapi disisi lain
juga merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin memulai usaha. Sehingga
melalui dokumen ini dapat diketahui dampak yang akan timbul dari suatu kegiatan kemudian
bagaimana dampak-dampak tersebut dikelola baik dampak negatif maupun dampak positif.

B.

Rumusan Masalah

Berdasarkan gambaran diatas, peneliti mencoba mengidentifikasi permasalahan yang ada di


Kabupaten Cilacap berupa pertanyaan penelitian,
yaitu :
1. Apakah rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan sudah dilakukan oleh
Industri?
2. Bagaimana keterlibatan masyarakat sekitar industri dalam pelaksanaan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan?

3. Bagaimana pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang


telah dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan instansi terkait lainnya?
C.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini yaitu :


Mengetahui tentang AMDAL yang ada di sekitar industri maupun usaha.
Mengetahui dampak apa saja yang dihasilkan dari proses industri/usaha.
Meminimalisir dampak yang ada di lingkungan industri.
Mengetahui cara mengatasi dampak yang terjadi.
D. Ruang Lingkup
Penelitian ini gambaran tentang pengetahuan AMDAL, dimana ruang lingkup penelitian dibatasi
hanya tingkat mata pencaharian. Obyek penelitian ini adalah seluruh masyarakat di Kelurahan
Gumilir, Cilacap Utara. Desain penelitian secara deskriptif dengan pendekatan cross sectional.
Data yang digunakan adalah data primer, dengan instrumen bantu kuesioner. Lokasi penelitian di
Kelurahan Gumilir, Cilacap Utara.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Dampak Industri Terhadap Lingkungan
Pada dasarnya kegiatan suatu industri adalah mengolah masukan (input) menjadi keluaran
(output). Keluaran yang dihasilkan suatu industri adalah berupa produk yang diinginkan beserta
limbah. Limbah dapat yang bernilai ekonomis sehingga dapat dijual atau dipergunakan
kembali dan yang tidak bernilai ekonomis yang akan menjadi beban lingkungan. Limbah ini
dikeluarkan melalui media udara, air dan tanah yang merupakan komponen ekosistem alam.
Lingkungan, yang merupakan wadah penerima akan menyerap bahan limbah tersebut sesuai
dengan kemampuan asimilasinya. Kemampuan lingkungan untuk memulihkan diri sendiri
karena interaksi pengaruh luar, disebut daya tampung lingkungan. Daya tampung lingkungan
antara tempat yang satu dengan tempat yang lain berbeda.
Bahan pencemar yang masuk ke dalam lingkungan akan berinteraksi dengan satu atau lebih
komponen lingkungan. Perubahan komponen lingkungan secara fisika, kimia dan biologi sebagai
akibat dari adanya bahan pencemar akan mengakibatkan perubahan kualitas lingkungan. Limbah
yang mengandung bahan pencemar akan mengubah kualitas bila lingkungan tersebut tidak
mampu memulihkan kondisinya sesuai dengan daya dukung yang ada padanya. Oleh karena itu
sangat perlu diketahui sifat limbah dan komponen bahan pencemar yang terkandung dalam
limbah tersebut.
Menurut Hukum Termodinamika II produksi dan konsumsi selalu diikuti
dengan kenaikan entropi. Terjadinya limbah dan pencemaran merupakan
manifestasi kenaikan entropi. Industri tidak dapat menghindari hukum ini. Limbah

terbentuk dari proses produksi sampai barang selesai dikonsumsi. Secara umum
dapat dikatakan semakin tinggi tingkat produksi dan konsumsi semakin tinggi
pula tingkat limbah yang terbentuk. Kota dengan tingkat hidup yang tinggi
menghasilkan limbah yang lebih besar dibanding kota dengan tingkat hidup yang
rendah.
Pertumbuhan industri pada negara-negara berkembang justru memberikan
kontribusi terhadap perusakan lingkungan. World Resource Institute menyebutkan
pada tahun 1990-an pertumbuhan industri di negara-negara berkembang mencapai
5,6% bila dibandingkan dengan pertumbuhan di negara-negara yang sudah maju
(1%) (Surna T. Djajadiningrat, 2004). Pada umumnya industri yang tumbuh di
negara berkembang adalah industri kimia, kertas, tekstil dan pertambangan, yang
merupakan industri dengan kadar pencemaran pada udara, air maupun terhadap
lahan/tanah.
Permasalahan lain yang terjadi di negara berkembang adalah belum
adanya struktur hukum dan kelembagaan yang efektif untuk mengahadapi isu
pengendalian pencemaran. Laporan terakhir menyebutkan dalam Laporan Komisi
WHO Mengenai Kesehatan dan Lingkungan (2001) bahwa hanya sedikit standar
kesehatan untuk membatasi pemaparan di tempat kerja; di sebagian besar negara,
proses penetapan standar baru pada tahap mengatur praktek kerja atau pemaparan
terhadap bahan toksik tidak ada, standar-standar sering tidak diterapka oleh karena
alasan politik atau ekonomi atau oleh karena pengawasnya tidak cukup terlatih.
Tambahan pula kebutuhan-kebutuhan ijin untuk industri yang baru jarang
mencakup dampak lingkungan sehingga menjadi sulit bagi pemerintah untuk
memperkirakan efek dari penggunaan bahan kimia dan proses dari industri
tersebut.
Perlu dilakukan penetapan kualitas lingkungan untuk mengendalikan pencemaran mengingat
program industrialisasi sebagai salah satu sektor yang memberikan andil besar terhadap
perekonomian dan kemakmuran suatu bangsa berbalik menjadi sumber bencana

B. Konsep Industri Berwawasan Lingkungan


Usaha pengendalian pencemaran dapat dilakukan melalui berbagai upaya. Pembangunan
industri di Indonesia lebih menitik beratkan pada aspek pertumbuhan ekonomi telah
menjadikan pertumbuhan di sektor lain tidak seimbang. Aspek sosial-budaya dan aspek
lingkungan seperti diabaikan. Setelah muncul berbagai masalah barulah disadari bahwa
pembangunan berkelanjutan adalah suatu keharusan. Menurut World Comission on
Environment and Development (1987), Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang
memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk
memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Gagasan Pembangunan berkelanjutan atau dikenal juga dengan
pembangunan berwawasan lingkungan secara bertahap mulai dimasukkan
kedalam kebijakan dan perencanaan pembangunan nasional. Hal ini terlihat dari

diberlakukannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuanketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan yang selanjutnya direvisi dengan
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan dan
Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 yang kemudian direvisi dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 dan direvisi kembali dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan.
Pembangunan yang berlangsung saat ini baik langsung maupun tidak langsung akan
memberikan tekanan terhadap lingkungan yang beresiko mencemari dan merusak lingkungan.
Oleh karenanya pembangunan seharusnyamengikuti konsep pembangunan berkelanjutan, yaitu
pembangunan dilakukan tidak hanya secara fisik tetapi juga dengan mempertimbangkan
kelestarian sumberdaya alam serta kesejahteraan manusia di sekitarnya.
BAB III
PEMBAHASAN
1. Prosedur dan Proses Penyusunan AMDAL/UKL & UPL
Penyusunan AMDAL/UKL&UPL melalui prosedur dan proses yang telah ditentukan dalam
Peraturan Pemerintan Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan
dan keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup serta peraturan lainnya.
Heer & Hagerty
(1977) mendefinisikan AMDAL sebagai penaksiran dengan
mengemukakan nilai-nilai kuantitaif pada beberapa parameter tertentu yang penting dimana hal
tersebut menunjukkan kualitas lingkungan sebelum, selama dan setelah adanya aktivitas.
Battele Institute
(1978) mengemukakan pengertian AMDAL sebagai penaksiran atas
semua faktor lingkungan yang relevan dan pengaruh sosial yang terjadi sebagai akibat dari
aktivitas suatu proyek.
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Pasal 1
menyatakan bahwa AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha
dan/atau kegiatan yang diakibatkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.
Tujuan pengelolaan lingkungan hidup adalah terlaksananya pembangunan berwawasan
lingkungan dan terkendalinya pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana. Agar tujuan
tersebut dapat tercapai maka sejak awal perencanaan sudah harus memperkirakan perubahan
kondisi lingkungan, baik yang positif maupun negatif, dengan demikian dapat dipersiapkan
langkah-langkah pengelolaannya. Cara untuk mengkaji perubahan kondisi tersebut melalui studi
AMDAL.
AMDAL bertujuan untuk mengkaji kemungkinan-kemungkinan
perubahan kondisi lingkungan baik biogeofisik maupun sosial ekonomi dan budaya akibat
adanya suatu kegiatan pembangunan.

2. Prosedur Penyusunan AMDAL/UKL & UPL

Kajian kelayakan lingkungan diperlukan bagi kegiatan/usaha yang akan mulai melaksanakan
proyeknya, sehingga dapat diketahui dampak yang akan timbul dan bagaimana cara
pengelolaannya. Proyek di sini bukan hanya pembangunan fisik saja tetapi mulai dari
perencanaan, pembangunan fisik sampai proyek tersebut berjalan bahkan sampai proyek tersebut
berhenti masa operasinya. Jadi lebih ditekankan pada aktivitas manusia di dalamnya.
Kajian kelayakan lingkungan adalah salah satu syarat untuk mendapatkan perijinan yang
diperlukan bagi suatu kegiatan/usaha, seharusnya dilaksanakan bersama-sama dengan kajian
kelayakan teknis dan ekonomi. Dengan demikian ketiga kajian kelayakan tersebut dapat samasama memberikan masukan untuk dapat menghasilkan keputusan yang optimal bagi
kelangsungan proyek, terutama dalam menekan dampak negatif yang biasanya dilakukan dengan
pendekatan teknis sehingga didapat biaya yang lebih murah.
Secara umum proses penyusunan kelayakan lingkungan dimulai dengan proses penapisan untuk
menentukan studi yang akan dilakukan menurut jenis proyeknya, wajib menyusun AMDAL atau
UKL & UPL. Proses penapisan inimengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
RI Nomor 17 tahun 2001 tentang Jenis Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi
Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Jika usaha atau kegiatan tersebut tidak
termasuk dalam daftar maka wajib menyusun Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
(UKL & UPL).

PROSEDUR AMDAL
Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan yang diajukan kepada instansi yang
bertanggung jawab mengendalikan dampak lingkungan untuk mendapat persetujuan,
selanjutnya kerangka acuan ini menjadi dasar penyusunan ANDAL dan RKL & RPL yang
kemudian dipresentasikan di Komisi AMDAL. Hasil penilaian Komisi berupa tiga kemungkinan
yaitu pertama tidak lengkap sehingga harus diperbaiki, kedua ditolak karena tidak teknologi
untuk pengelolaan lingkungannya dan ketiga disetujui yang berarti kegiatan dapat dilaksanakan.
Sedangkan kegiatan yang tidak menimbulkan dampak besar dan penting diwajibkan menyusun
Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (UKL & UPL), prosedur penyusunannya yaitu
pemrakarsa melakukan studi kelayakan lingkungan sesuai dengan format yang berlaku
selanjutnya dikonsultasikan dan diajukan kepada instansi yang bertanggung jawab
mengendalikan dampak lingkungan untuk mendapatkan persetujuan.
Proses penyusunan dokumen UKL & UPL lebih sederhana dibandingkan dengan penyusunan
AMDAL, karena kegiatan yang wajib menyusun UKL & UPL adalah kegiatan yang telah
diketahui dampak potensial yang harus dikelolanya dan telah jelas pula cara pengelolaannya.

3. Penanganan Limbah yang dihasilkan dari Proses Produksi


Limbah Padat
Saat ini ampas tahu kita ketahui dapat dimanfaatkan sebagai kerupuk ampas tahu, kembang tahu,
kecap ampas tahu, stick tahu dan dengan proses fermentasi dihasilkan nata de soya serta sebagai
alternatif bahan pakan ternak. Melihat sifat ampas tahu yang memiliki banyak kelebihan seperti
mengandung protein yang tinggi, banyak mengandung serat, serta murah dan mudah didapat,

maka dapat dikembangkan suatu bentuk usaha baru yang memanfaatkan ampas tahu sebagai
bahan dasarnya dengan tujuan selain sebagai salah satu upaya mengurangi pencemaran dari
limbah atau ampas tahu khususnya di daerah perairan, tapi juga mampu memberikan alternatif
gizi sebagai sumber protein yang bermanfaat bagi tubuh manusia.
Tahu diproduksi dengan memanfaatkan sifat protein, yaitu akan menggumpal bila bereaksi
dengan asam. Penggumpalan protein oleh asam cuka akan berlangsung secara cepat dan serentak
di seluruh bagian cairan sari kedelai, sehingga sebagian besar air yang semula tercampur dalam
sari kedelai akan terperangkap di dalamnya. Pengeluaran air yang terperangkap tersebut dapat
dilakukan dengan memberikan tekanan. Semakin besar tekanan yang diberikan, semakin banyak
air dapat dikeluarkan dari gumpalan protein. Gumpalan protein itulah yang kemudian disebut
sebagai tahu.
Kandungan air di dalam tahu ternyata bukan merupakan hal yang merugikan. Oleh beberapa
pengusaha, hal tersebut justru dimanfaatkan untuk memproduksi tahu dengan tingkat kekerasan
yang rendah (tahu gembur). Dalam proses pembuatan tahu gembur, air yang dikeluarkan hanya
sebagian kecil, selebihnya dibiarkan tetap berada di dalam tahu. Dengan demikian, akan
dihasilkan tahu yang berukuran besar namun gembur (mudah hancur).

Limbah Cair
Limbah cair industri pangan merupakan salah satu sumber pencemaran lingkungan. Jumlah
dan karakteristik air limbah industri bervariasi menurut jenis industrinya. Contohnya adalah
industri tahu dan tempe. Industri tahu dan tempe mengandung banyak bahan organik dan padatan
terlarut. Untuk memproduksi 1 ton tahu atau tempe dihasilkan limbah sebanyak 3.000 5.000
Liter. Sumber limbah cair pabrik tahu berasal dari proses merendam kedelai serta proses akhir
pemisahan jonjot-jonjot tahu. Pada Tabel 1 dapat dilihat bagaimana karakteristik pencemar yang
berasal dari limbah pabrik tahu.
Pada umumnya penanganan limbah cair dari industry ini cukup ditangani dengan system bilogis,
hal ini karena polutannya merupakan bahan organic seperti karbohidrat, vitamin, protein
sehingga akan dapat didegradasi oleh pengolahan secara biologis. Tujuan dasar pengolahan
limbah cair adalah untuk menghilangkan sebagian besar padatan tersuspensi dan bahan terlarut,
kadang-kadang juga untuk penyisihan unsur hara (nutrien) berupa nitrogen dan fosfor.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hasil pengkajian terhadap pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada sektor
industri dapat disimpulkan bahwa :
1. Pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan oleh industri masih pada tahap
pengelolaan limbah yang dihasilkan oleh industri belum mengarah pada kesadaran untuk

kelestarian lingkungan.
2. Pelaku usaha industri masih menganggap bahwa kewajiban untuk mengimplementasikan
pengelolaan dan pemantauan lingkungan masih merupakan beban yang memberatkan dari segi
biaya, dan industri belum merasakan keuntungan secara langsung dari kegiatan pengelolaan
dan pemantauan yang telah dilakukan.
3. Pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh industri masih sebatas meredam protes atau
mencegah terjadinya gejolak oleh masyarakat di sekitar lokasi industri, belum mencakup
pengelolaan lingkungan secara utuh.
4. Keterlibatan dan kepedulian masyarakat di sekitar industri terhadap pelaksanaan
pemantauan dan pengelolaan lingkungan yang dilakukan industri relatif masih rendah,
masyarakat masih beranggapan bahwa industri yang memberikan banyak bantuan dan
menyerap banyak tenaga kerja lokal merupakan industri yang telah peduli terhadap
lingkungan. Masyarakat tidak mempermasalahkan apakah industri tersebut mencemari
lingkungan atau tidak. Sebagian masyarakat yang berkeinginan terlibat dalam pengelolaan dan
pemantauan lingkungan tidak mempunyai akses untuk dapat terlibat dalam pelaksanaan
pengelolaan dan pemantauan lingkungan.
5. Pengawasan yang dilakukan oleh instansi terkait dibidang lingkungan di kabupaten
Pelalawan masih bersifat pasif dan reaktif, yaitu hanya menunggu pelaporan dari pihak industri
dan akan terjun ke lapangan apabila terjadi kasus.
6. Mekanisme koordinasi antar instansi masih belum jelas sehingga masing-masing instansi
belum dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik.
B. Saran
1. Koordinasi dan keterpaduan dalam menetapkan kebijakan antar instansi yang membidangi
masalah industri dan lingkungan perlu ditingkatkan sehingga dapat digunakan sebagai pedoman
oleh pelaku industri untuk mewujudkanindustri yang berwawasan lingkungan.
2. Mengikutsertakan aparat pada dinas/instansi dalam pendidikan dan pelatihan mengenai
pengelolaan lingkungan hidup sehingga semua aparat yang bertugas mempunyai persepsi yang
sama mengenai pengelolaan lingkungan.
3. Perlu adanya kajian mengenai daya tampung lingkungan yang dapat menjadi dasar kebijakan
dalam penyusunan peraturan daerah.
4. Untuk meningkatkan kesadaran pelaku industri di bidang lingkungan maka pemberian
penghargaan bagi industri yang telah melaksanakan dan mematuhi aturan dan pemberian sanksi
bagi industri yang melanggar aturan di bidang lingkungan perlu diintensifkan.
5. Sosialisasi oleh Dinas Lingkungan Hidup tentang kewajiban pengelolaan dan pemantauan
lingkungan yang dilakukan industri dan keterbukaan informasi oleh industri bersangkutan
dengan memberikan dokumen pengelolaan lingkungan kepada kelurahan setempat sehingga
dapat meningkatkan kepedulian dan partisipasi masyarakat di sekitar lokasi industri untuk
mewujudkan industri yang berwawasan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
............................................................................................................................................................

............................................................................................................................................................
.......................................................................................................................................

Peraturan dan Dasar Hukum Terbaru Bidang Analisis Mengenai


Dampak Lingkungan (AMDAL)Terdapat beberapa dasar hukum dan peraturan
tentang AMDAL yang saat ini sudah tidak berlaku lagi. Beberapa peraturan dan dasar hukum
dimaksud, antara lain :
1. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL
2. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pedoman
Penyusunan AMDAL
3. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006 tentang Jenis
Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib dilengkapi dengan AMDAL

Sebagaimana kita ketahui, saat ini telah ditetapkan dan diundangkan Peraturan Pemerintah
nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan (PP 27/2012. Kemudian sebagai upaya
pelaksanaan ketentuan dari peraturan tersebut, kemudian ditetapkan beberapa Peraturan Menteri
Negara Lingkungan Hidup, antara lain :
1. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2012
tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup
2. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor. 17 Tahun 2012 tentang Pedoman
Keterlibatan Masyarakat dalam Proses Analisis Dampak Lingkungan Hidup dan Izin
Lingkungan.

3. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2012
Tentang Jenis Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Memiliki Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
Peraturan Pemerintah diatas disusun sebagai pelaksanaan ketentuan dalam Undang-Undang 32
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, khususnya ketentuan
dalam Pasal 33 dan Pasal 41. Peraturan Pemerintah 27/2012 mengatur dua instrumen
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, yaitu instrumen kajian lingkungan hidup
(dalam bentuk amdal dan UKL-UPL) serta instrumen Izin Lingkungan.
PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 05 TAHUN 2012 TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN
YANG WAJIB MEMILIKI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP
Ditetapkan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tanggal 10 April 2012.
Dalam PP 27/2012 mengatur hubungan (interface) antara izin lingkungan dengan proses
pengawasan dan penegakan hukum. Pasal 71 dalam PP 27 Tahun 2012 memberikan ruang yang
jelas mengenai pengenaan sanksi atas pemegang izin lingkungan yang melanggar kewajibannya
sebagaimana yang diatur dalam Pasal 53. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa sasaran dari
terbitnya PP 27 Tahun 2012 ini adalah terlindungi dan terkelolanya lingkungan hidup sedangkan
sasaran mikro dari terbitnya peraturan ini adalah memberi dasar hukum yang jelas atas
penerapan instrument izin lingkungan dan memberikan beberapa perbaikan atas penerapan
instrument amdal dan UKL-UPL (kajian lingkungan hidup) di Indonesia.
PP 27/2012 merupakan pengganti PP 27 Tahun 1999 Tentang Amdal dengan penambahan
berbagai pengaturan dan ketentuan perihal izin lingkungan. Ada dua prinsip dalam upaya
penyusunan PP Izin Lingkungan ini, yaitu lebih sederhana yang tidak menciptakan proses
birokrasi baru dan implementatif. Balthasar Kambuaya menambahkan, PP 27/2012 ini juga
mengamanatkan proses penilaian amdal yang lebih cepat, yaitu 125 hari dari 180 hari. Dengan
begitu akan terjadi efisiensi sumber daya, baik waktu, biaya dan tenaga, yang tentunya tanpa
mengurangi kualitasnya. Langkah maju ini adalah pengaturan bahwa total jangka waktu
penilaian amdal sejak diterimanya dokumen amdal dalam status telah lengkap secara
administrasi adalah sekitar 125 hari kerja, tidak termasuk lama waktu perbaikan dokumen.
Jangka waktu 125 hari kerja tersebut adalah langkah maju karena di PP 27 Tahun 1999, total
jangka waktu penilaian amdal adalah sekitar 180 hari kerja.
PERMEN PELAKSANAAN PP IZIN LINGKUNGAN

No.
Pasal

1.

Pasal 6

Bunyi Pasal

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan dokumen


Amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 diatur dengan
Peraturan Menteri.

2.

Pasal 9

(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengikutsertaan


masyarakat dalam penyusunan Amdal diatur dengan Peraturan
Menteri.

3.

Pasal 10

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan persyaratan


untuk mendirikan lembaga penyedia jasa penyusunan dokumen
Amdal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b diatur dengan
Peraturan Menteri.

4.

Pasal 13

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengecualian untuk Usaha


dan/atau Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
diatur dengan Peraturan Menteri.

5.

Pasal 16

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan UKL-UPL


diatur dengan Peraturan Menteri.

6.

Pasal 26

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penilaian Kerangka


Acuan diatur dengan Peraturan Menteri.

7.

Pasal 35

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penilaian Andal dan


RKL-RPL diatur dengan Peraturan Menteri.

8.

Pasal 50

(8) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria perubahan Usaha


dan/atau Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan tata
cara perubahan Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup,
perubahan Rekomendasi UKL-UPL, dan penerbitan perubahan
Izin Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), ayat (5),
dan ayat (6) diatur dengan Peraturan Menteri.

9.

Pasal 52

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penerbitan Izin


Lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 sampai
dengan Pasal 51 diatur dengan Peraturan Menteri.

10.

Pasal 58

(2) Ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara lisensi


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan

Menteri.

11.

Pasal 67

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembinaan dan


evaluasi kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 sampai
dengan Pasal 66 diatur dengan Peraturan Menteri.

Sumber : [Link] ([Link]


- See more at:
[Link]
puf

18 November 2012
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2012 Tentang
Keterlibatan Masyarakat Dalam AMDAL dan Izin Lingkungan
Satu lagi Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup yang diterbitkan pada tahun
2012, yaitu peraturan teknis terkait terbitnya PP Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin
Lingkungan.
Peraturan tersebut adalah Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17
Tahun 2012 tentang Keterlibatan Masyarakat Dalam AMDAL dan Izin Lingkungan.

Peraturan ini mengatur tentang tata cara pelibatan masyarakat dalam proses
AMDAL, dimulai dari pengumuman rencana usaha dan/atau kegiatan yang saat ini
hanya dilakukan 10 (sepuluh) hari, masyarakat mana saja yang dilibatkan dalam
proses AMDAL, penunjukkan wakil masyarakat yang terlibat dalam keanggotan
Komisi Penilai AMDAL, dan pelaksanaan konsultasi publik.

Selain itu peraturan ini juga mengatur peran masyarakat dalam proses penerbitan
izin lingkungan, dimana dalam penerbitan izin lingkungan diatur adanya
pengumumam pada saat permohonan dan pesertujuan izin lingkungan.

Dengan terbitnya PermenLH Nomor 17 Tahun 2012 tentang Keterlibatan Masyarakat


Dalam Proses AMDAL dan Izin Lingkungan, maka Keputusan Kepala Bapedal Nomor
08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam
Proses AMDAL dinayatakan dicabut dan tidak berlaku.

Untuk lebih lengkapnya silahkan download di bawah ini:

1. PermenLH No. 17 Tahun 2012

2. Lampiran PermenLH No. 17 Tahun 2012

06 November 2012
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2012 Tentang
Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan
Dengan terbitnya PP Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan, ada perubahan
mendasar terhadap tata cara penyusunan dokumen Amdal. Sebelumnya dalam PP
Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL, disebutkan bahwa dokumen AMDAL adalah
dokumen yang terdiri dari 5 dokumen yaitu Dokumen KA-ANDAL, ANDAL, RKL, RPL
dan Ringkasan Eksekutif. Tetapi dalam PP Nomor 27 Tahun 2012, dokumen Amdal
hanya terdiri dari 3 dokumen saja, yaitu Dokumen KA-ANDAL, ANDAL dan RKL-RPL.
Berdasarkan hal tersebut, maka Kementerian Lingkungan Hidup telah menerbitkan
PermenLH Nomor 16 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan Dokumen
Lingkungan. Peraturan ini mengatur tentang pedoman penyusunan AMDAL, UKL-UPL
dan SPPL. Ada beberapa perubahan tata cara penyusunan Amdal dalam peraturan
ini. Ada penguatan kajian dan penyederhanaan penyusunan Amdal dan UKL-UPL.
Selanjutnya dengan terbitnya PermenLH Nomor 16 Tahun 2012, maka sekaligus
mencabut:
1. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 08 Tahun 2006 tentang
Pedoman
Penyusunan Dokumen AMDAL
2. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2010 tentang UKLUPL
dan SPPL.
Untuk lengkapnya silahkan download di bawah ini:

1.
2.
3.
4.
5.
6.

PermenLH No. 16 Tahun 2012


Lampiran I
Lampiran II
Lampiran III
Lampiran IV
Lampiran V

03 November 2012
Peraturan Menteri Nomor 05 Tahun 2012
Sejak terbitnya PP Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan, Kementerian
Lingkungan Hidup telah menerbitkan peraturan-peraturan teknisnya. Salah satunya
adalah Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2012 tentang
Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Memiliki AMDAL. Peraturan ini
mencabut Peraturan Menteri sebelumnya yaitu Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006 yang mengatur tentang hal yang sama.
Peraturan Menteri ini terdiri dari:
1. Batang Tubuh yang terdiri dari 7 Pasal
* Pasal 1 : Ketentuan Umum
* Pasal 2 : Penapisan
* Pasal 3 : Kawasan Lindung
* Pasal 4 : Penambahan Wajib Amdal
* Pasal 5 : "Delisting wajib Amdal"
* Pasal 6 : Pencabutan PermenLH No. 11 Tahun 2006
* Pasal 7 : Masa Berlaku Permen ini
2. Lampiran I : Daftar Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Memiliki
Amdal
3. Lampiran II : Bagan Alir Tata Cara Penapisan untuk Menentukan Wajib Tidaknya
Suatu Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Dilengkapi dengan Amdal
4. Lampiran III : Daftar Kawasan Lindung
5. Lampiran IV : Kriteria Penapisan
6. Lampiran V : Ringkasan informasi awal Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang
akan
dilakukan Penapisan.

01 November 2012
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 Tentang Izin Lingkungan
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan (PP No. 27
Tahun 2012) adalah Peraturan Pemerintah yang menggantikan PP No. 27 Tahun
1999 tentang Amdal. Peraturan ini adalah peraturan turunan dari UU Nomor 32

Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Peraturan ini
mengatur tentang Amdal, UKL-UPL dan Izin Lingkungan.

25 Juli 2011
RUMUSAN RAPAT KERJA NASIONAL AMDAL TAHUN 2011
Rumusan Rapat Kerja Nasional Amdal 2011
Bali Nusa Dua Convention Center, 13-14 Juli 2011

Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) AMDAL 2011 yang berlangsung selama dua hari
(13-14 Juli 2011) bertemakan 25 Tahun Amdal, Awal Pencapaian Mutu Amdal.
RAKERNAS AMDAL 2011 dibuka oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup dan
dilanjutkan dengan pemaparan mengenai RPP Amdal, RPP Perizinan Lingkungan,
dan rancangan Peraturan MENLH tentang Tata Cara Audit Lingkungan serta
pandangan daerah terhadap implementasi kebijakan lisensi komisi penilai AMDAL,
sertifikasi dan registrasi penyusun amdal. RAKENAS AMDAL 2011 juga
membicarakan pengalaman dan mimpi amdal, serta memaparkan grand strategi
amdal dan pengalaman praktek penilaian AMDAL di Belanda.
Dengan memperhatikan pemaparan para narasumber serta diskusi yang
berkembang, maka RAKERNAS AMDAL menyimpulkan dan merumuskan hal-hal
sebagai berikut:
1. AMDAL merupakan instrumen lingkungan hidup yang sangat dinamis dan adaptif
di Indonesia. Dalam kurun waktu 25 tahun, sistem AMDAL dengan berbagai
infrastruktur pendukungnya telah mengalami perubahan dari masa ke masa.
Selama 25 tahun pelaksanaan AMDAL di Indonesia, banyak kemajuan dan prestasi
yang sudah berhasil diraih dan tidak sedikit permasalahan-permasalahan yang
masih mengemuka dan menjadi sorotan. Pengalaman berharga selama 25 tahun
merupakan modal dan momentum yang sangat penting untuk memperbaiki dan
mengembangan sistem AMDAL yang efektif, efisien dan berwibawa, sehingga
Indonesia di masa depan menjadi lebih baik.
2. MENLH memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para perintis
sistem AMDAL Indonesia dan kepada semua pihak yang telah mencurahkan pikiran,
energi, tenaga dan pendanaan untuk mengembangan sistem AMDAL Indonesia
dengan berbagai infrastruktur pendukungnya mulai dari aspek kebijakan, teknissaintifik, sampai dengan kapasitas SDM dan kelembagaan serta etika selama 25
tahun ini sehingga menjadi sistem yang mapan seperti saat ini.
3. Kebijakan dan pelaksanaan sertifikasi dan registrasi kompetensi penyusun AMDAL
menimbulkan ekses akibat ketidakseimbangan supply and demand. Perlu ada

kebijakan dan program jangka pendek dan menengah untuk melakukan percepatan
atau akselerasi sistem sertifikasi dan registrasi kompetensi agar keseimbangan
dapat diciptakan dan ekses dapat diminimalisasi disamping itu evaluasi terhadap
pelaksanaan standarisasi sistem AMDAL yang antara lain mencakup lisensi,
sertifikasi dan registrasi yang telah berjalan selama ini perlu dilakukan secara
periodik/berkala, sehingga sistem standarisasi tersebut dapat terus diperbaiki dan
disempurnakan.
4. DELH dan DPLH merupakan kebijakan pemutihan terakhir seperti ditegaskan
dalam pasal 121 UU 32 Tahun 2009 dan diatur dalam Peraturan MENLH No. 14
Tahun 2010. Masa pemutihan ini akan berakhir pengesahannya (DPLH dan DELH)
pada tanggal 3 Oktober 2011 dan tidak dapat diperpanjang lagi. Karena kepada
pelaku usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi syarat dapat segera
memanfaatkan kebijakan ini dengan sebaik-baiknya. Mengingat waktu yang tersisa
sangat terbatas maka diperlukan pembinaan yang intensif kepada usaha dan/atau
kegiatan yang wajib DELH atau DPLH untuk dapat memenuhi tengat waktu ini. Di
samping itu perlu dukungan dari instansi lingkungan pusat, provinsi, atau
kabupaten/kota untuk mendukung penuh dan mengambil langkah-langkah yang
diperlukan untuk mempercepat proses penilaian, pemeriksaan dan persetujuan
rekomendasi DELH atau DPLH. Kementerian Lingkungan Hidup diminta untuk
mengambil kebijakan agar pelaksanaan penetapan DELH (persyaratan penyusun
DELH) dapat mendukung percepatan penyusunan DELH. PSL/PPLH dapat dilibatkan
dalam melakukan pembinaan kepada usaha dan/atau kegiatan yang wajib
menyusun DELH atau DPLH.
5. Penyusun AMDAL sesuai dengan ketentuan pasal 27 UU 32 Tahun 2009 pada
dasarnya dapat dilakukan oleh pemrakarsa dengan meminta bantuan pihak lain,
yaitu penyusun AMDAL perorangan yang tersertifikasi yang menjadi bagian dari
pemrakarsa itu sendiri dan penyusun AMDAL yang tergabung dalam LPJP yang
teregistrasi.
6. Pelaksanaan AMDAL ke depan diarahkan lebih sederhana (streamline), bermutu
dan efektif. Pengembangan berbagai kebijakan dan infrastruktur sistem AMDAL
kedepan harus dapat menciptakan proses AMDAL yang lebih sederhana, transparan,
cepat, dan rasional, serta menghilangkan kendala-kendala birokrasi dan formalitas
yang tidak perlu, tanpa mengurangi makna AMDAL sebagai kajian ilmiah. Karena itu
proses penilaian amdal harus dapat memenuhi kaidah-kaidah pelayanan publik
yang prima yaitu: pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan
terukur.
7. PP AMDAL yang baru menuntut profesionalisme dan akuntabilitas serta integritas
semua pihak terkait dengan pelaksanaan sistem AMDAL: pemrakarsa, penyusun
AMDAL, penilai AMDAL dan pengambil keputusan serta masyarakat.

8. Peningkatan kapasitas, pengawasan dan penegakan hukum sebagai tindak lanjut


standarisasi melalui lisensi, sertifikasi dan registrasi harus ditingkatkan untuk
mencegah deviasi, penyimpangan dan ketidaksesuaian dalam pelaksanaan sistem
AMDAL. Upaya tersebut memerlukan dukungan semua pihak, termasuk Kepala
Daerah dan DPRD. Dukungan semua pihak tersebut merupakan kunci sukses bagi
sistem AMDAL yang efektif, efisien dan berwibawa dalam mendukung
pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
9. Perumusan hubungan AMDAL dan instrumen lingkungan hidup lainnya juga
sangat penting. Efektifitas AMDAL sebagai perangkat pencegahan pencemaran dan
kerusakan lingkungan perlu didukung oleh pengembangan berbagai instrumen
lingkungan hidup lainnya.
10. Sehubungan dengan akan segera diterbitkannya Peraturan Pemerintah tentang
AMDAL sebagai pengganti Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 serta
Peraturan Pemerintah tentang Izin Lingkungan, maka diharapkan Kementerian
Lingkungan Hidup dapat segera menerbitkan peraturan-peraturan pelaksanaannya
agar Peraturan Pemerintah yang baru tersebut dapat efektif dilaksanakan.
Peraturan-peraturan yang perlu disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah yang
baru antara lain:
- Pedoman penyusunan dan penilaian AMDAL;
- Pengaturan tentang sertifikasi dan registrasi penyusunan AMDAL;
- Pengaturan tentang lembaga pelatihan kompetensi beserta kurikulum diklat
penilaian dan penyusunan AMDAL.
11. Kementerian Lingkungan Hidup akan meningkatkan kegiatan peningkatan
kapasitas daerah dalam penilaian AMDAL untuk memenuhi persyaratan lisensi,
khususnya melalui kegiatan diklat AMDAL.

DAFTAR PERATURAN PERUNDANGAN LINGKUNGAN HIDUP - AMDAL


(up to 2012)
Berikut adalah acuan peraturan perundangan lingkungan hidup mengenai AMDAL /
UKL UPL yang sering diacu
UNDANG - UNDANG:
1. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup.
Peraturan Pemerintah
# PP 27 Tahun 2012 Izin Likungan

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup


# PerMen LH 24 Tahun 2009 Tentang Panduan Penilaian Dokumen AMDAL (Juga Menyatakan
Tidak Berlakunya KepMen LH Nomor 02 Tahun 2000 Tentang Panduan Evaluasi Dokumen
ANDAL).
# PerMen LH Nomor 05 Tahun 2012 Tentang Jenis Usaha dan atau Kegiatan yang Wajib
Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Pengganti PerMenLH nomor
06 Tahun 2006).
# PerMen LH Nomor 16 Tahun 2012 Tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan
Hidup (Format penyusunan KA ANDAL, ANDAL, RKL - RPL, UKL - UPL dan SPPL)
# PerMen LH Nomor 17 Tahun 2012 Tentang Pedoman Keterlibatan Masyarakat dalam proses
AMDAL dan Izin Lingkungan (Tata cara pengikursertaan masyarakat dalam penyusunan
AMDAL) (termasuk lampiran)
# PerMen LH nomor 11 TAHUN 2008 tentang Tentang Persyaratan Kompetensi dalam
Penyusunan Doumen AMDAL dan persyaratan Lembaga Pelatihan Kompetensi Penyusun
Dokumen AMDAL
Posted by Dewi Dwirianti, S.T., [Link]. at 3:03 PM
Tags: PermenLH 16/2012, PermenLH 17/2012

Anda mungkin juga menyukai