KELOMPOK 1
1. Putu Sri Arta Jaya Kusuma (1591661012/absen 10)
2. Ni Ketut Kartika Amanda Astiti (1591661020/absen 17)
3. Dewa Ayu Mas Putriari Nusantari (1591661034/absen 23)
EVENT STUDY (STUDI PERISTIWA)
Keberhasilan suatu perusahaan dilihat dari nilai perusahaan. Pada perusahaan yang
go public, nilai perusahaan dilihat dari harga sahamnya. Harga saham mencerminkan
nilai perusahaan bila pasar modal dalam keadaan efisien. Pasar yang efisien dapat
menunjukkan harga saham yang mencerminkan secara penuh (fully reflect) informasi
yang tersedia, informasi tersebut dapat berupa laporan tahunan perusahaan, pembagian
deviden, pemecahan saham, laporan para analis pasar modal, dan sebagainya. Pasar
modal yang efisien menjadikan harga saham cenderung wajar dan benar-benar
mencerminkan nilai saham (perusahaan) yang bersangkutan hingga tidak ada harga
saham yang overvalue atau undervalue. Bila benar harga-harga saham di pasar modal di
Indonesia overvalue atau undervalue berarti pasar modal di Indonesia belumlah efisien,
selain itu pasar modal yang efisien dimana seluruh informasi yang relevan diterima oleh
investor dan informasinya telah diprediksikan ke dalam saham.
Untuk menginvestigasi apakah pasar modal Indonesia efisien dalam bentuk semi
kuat maka pengujian dilakukan dengan menggunakan metodologi studi peristiwa (event
study). Studi peristiwa (event study) merupakan studi yang dilakukan untuk mempelajari
reaksi pasar atas suatu peristiwa yang informasinya disajikan dalam bentuk
pengumuman. Studi peristiwa dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi dan
untuk menguji efisiensi pasar bentuk setengah kuat. Kedua pengujian tersebut merupakan
dua pengujian yang berbeda. Pengujian kandungan informasi digunakan untuk melihat
apakah pasar bereaksi terhadap pengumuman. Jika suatu pengumuman mengandung
informasi, maka pasar akan bereaksi terhadap pengumuman tersebut. Reaksi tersebut
ditunjukkan dari adanya perubahan harga sekuritas yang bersangkutan yang diukut
dengan abnormal return.
Peristiwa
Pengumu
man
Peristiwa
Gambar
Reaksi Pasar terhadap
Kandungan Informasi
Ada
abnorm
al return
Tidak
ada
abnorm
al return
Hasil
ADA KANDUNGAN
INFORMASI
TIDAK ADA
KANDUNGAN
INFORMASI
1. Kandungan Informasi Suatu
Pengumuman
Dari gambar dapat dilihat, suatu pengumuman yang mengandung informasi akan
memberikan abnormal return kepada pasar . Berbeda halnya dengan pengujian
kandungan informasi, studi peristiwa untuk menguji efisiensi pasar bentuk setengah kuat
digunakan untuk melihat seberapa cepat pasar bereaksi terhadap informasi yang disajikan
dalam bentuk pengumuman.
Peristiwa
Reaksi Pasar
terhadap Kandungan
Informasi
Kecepatan
Reaksi
Cepat
Pengumu
man
Peristiwa
Ada
abnorm
al return
Tidak
ada
abnorm
al
return
Gambar 2. Efisiensi Pasar Secara Informasi
Lama dan
Berkepanj
angan
Efisiensi Pasar
Secara Informasi
EFISIEN
TIDAK
EFISIEN
TIDAK
TERJAWAB
Pengujian kandungan informasi hanya menguji reaksi dari pasar, tapi tidak
menguji seberapa cepat pasar berekasi. Dari gambar diatas dapat dilihat, pengujian
efisiensi pasar bentuk setengah kuat melibatkan kecepatan reaksi pasar untuk menyerap
informasi yang diumumkan. Pasar dikatakan efisien bentuk setengah kuat jika investor
bereaksi dengan cepat untu menyerap abnormal retun untuk menuju ke harga
keseimbangan baru. Jika investor menyerap abnormal return dengan lambat, maka pasar
dikatakan tidak efisien bentuk setengah kuat secara informasi. Efisiensi pasar bentuk
setengah kuat yang hanya ditinjau dari informasi yang dipublikasikan disebut efisiensi
pasar secara informasi. pengujian untuk efisiensi pasar secara informasi ini tidak
memperhatikan kecanggihan dari pelaku pasar dalam menginterpretasikan dan
menganalisis informasi lebih lanjut. Investor tidak dapat membedakan pengumuman
yang bernilai ekonomis dan yang tidak bernilai ekonomis. Investor yang canggih akan
menganalisis lebih dalam informasi yang diterima agar mereka dapat mengambil
keputusan yang tepat. Efisiensi pasar jenis ini disebut dengan efisiensi pasar keputusan.
Peristiwa
Pengujian
Kandungan
Informasi
Reaksi Pasar
Pengujian
Efisiensi
Secara
Informasi
Kecepatan
Reaksi
Cepat
Pengum
uman
Peristiw
a
Ada
abnorm
al return
Pengujian Efisiensi Pasar Secara
Keputusan
Nilai
Ekonomis
Bernilai
Ekonomi
s
Tidak
Bernilai
Ekonomi
s
Ketepatan
Reaksi
Efisiensi
Pasar Secara
Keputusan
Reaksi
Benar
EFISIE
N
Reaksi
Salah
TIDAK
EFISIE
N
Reaksi
Salah
Lama dan
Berkepanj
angan
Tidak
ada
abnorm
al return
Gambar 3. Efisiensi Pasar Secara Informasi dan
Keputusan
TIDAK
EFISIE
N
TIDAK
EFISIE
N
Bernilai
Ekonomi
s
Tidak
Bernilai
Ekonomi
s
Reaksi
Salah
TIDA
K
EFISI
Reaksi
Benar
EFISIE
N
Gambar diatas menunjukkan bahwa efisiensi pasar secara keputusan lebih tinggi
tingakatnnya dibandingkan efisiensi pasar secara informasi. Ini berarti bahwa pasar yang
efisien bentuk setengah kuat secara informasi belum tentu efisien secara keputusan.
Sebaliknya, pasar yang efisien secara keputusan juga merupakan pasar yang efisien
secara informasi. pengujian efisiensi pasar secara keputusan akan melibatkan empat buah
faktor, yaitu a) abnormal return, b) kecepatan reaksi, c) nilai ekonomis, d) ketepatan
reaksi.
Event study adalah sebuah pendekatan dalam penelitian yang bertujuan untuk
mengetahui reaksi pasar atas terhadinya peristiwa tertentu baik peristiwa ekonomis,
politis, sosial maupun peristiwa lainnya. Event studi dapar digunakan untuk menguji
hipotesis pasar efisien bentuk semi strong dengan menggunakan teknik analisis
fundamental. Event study dimulai ketika seorang peneliti berusaha mencari tahu apakah
suatu preristiwa memiliki kandungan informasi ataukah tidak. Apakah peristiwa terjadi
itu mengakibatkan pasar bereaksi baik positif atau negatif. Prosedur dalam melakukan
pengujian efisiensi pasar bentuk setengah kuat dengan menggunakan studi peristiwa
yaitu:
1.
Mengidentifikasi bentuk, efek, dan waktu peristiwa (i) peristiwa apa yang
memiliki nilai informasi; (ii) apakah nilai informasi peristiwa memiliki efek negatif
atau positif terhadap return tak normal perusahaan tertentu; dan (iii) bilamana
peristiwa terjadi atau dipublikasi.
2.
Menentukan rentang waktu studi peristiwa termasuk periode estimasi dan periode
peristiwa.
3.
Menentukan metode penyesuaian return yang digunakan untuk menghitung return
tak normal.
4.
Menghitung return tak normal di sekitar periode peristiwa (beberapa waktu
sebelum dan sesudah pengumuman peristiwa terjadi).
5.
Menghitung rata-rata return tak normal dan return tak normal kumulatif dalam
periode peristiwa.
6.
Merumuskan hipotesis statistik.
7.
Menguji apakah return tak normal rata-rata atau return tak normal kumulatif yang
telah dihitung pada langkah ke-5 berbeda dari return sesudah peristiwa.
Beberapa hasil empiris dari studi peristiwa antara lain dilakukan studi tentang
pemecahan saham (stock split), penawaran perdana (initial public offering), pengumuman
dividen (dividend annpuncement), dan tentang informasi akuntansi (accounting
information)
1. Studi tentang stock split yang juga merupakan studi peristiwa dilakukan oleh Fama,
Fisher, Jensen dan Roll (1969) dalam Jogiyanto (2013) yang mempelajari 40 stock
split yang terjadi antara Januari 1927 Desember 1959. Fama, Fisher, Jensen, dan
Roll (FFJR) menghitung cumulative abnormal return mulai bulan -30 sampai bulan
+30. FFJR menemukan adanya abnormal return 30 bulan sebelum pengumuman
stock split dilakukan. Pada waktu stock split diumumkan, abnormal return tidak
terjadi pada hari pengumuman dan hari-hari setelah hari pengumuman. Hasil ini
mendukung pasar NYSE yang efisien bentuk setengah kuat, karena tidak adanya
reaksipasar dari stock split.
2. Pada perusahaan yang pertama kali melemparkan sahamnya ke pasar saham, risiko
saham tidak terjual akan ditanggung oleh underwriter. Risiko menjual saham IPO
disebabkan karena nilai sebenarnya dari sekuritas belum diketahui. Oleh karena itu,
underwriter cenderung menjualkannya dengan harga yang murah (undervalued)
untuk mengurangi risiko tidak laku terjual. Investor yang mendapatkan kesempatan
untuk membeli sekuritas yang undervalued ini akan dapat menikmati abnormal
return. Tapi jika pasar bersifat efisien, abnormal return terjadi dengan waktu yang
cepat dan tidak berkepanjangan. Artinya investor yang membeli saham IPO beberapa
saat setelah pengumuman tidak akan memperoleh abnormal return lagi karena harga
sekuritas sudah mencapai titik keseimbangan baru.
3. Aharony dan Swary (1980) dalam Jogiyanto (2013) menggunakan model ekspetasi
dividen sederhana dan model ekspetasi Lintner yang dikembangkan. Sampel yang
mengandung pengumuman laba disekitar 10 hari pengmuman dividen tidak
digunakan dalam studi. Sampel meliputi dividen kuartalan yang meliputi 149
perusahaan industri yang tercatat di NYSE periode 1963-1976. Dengan
menggunakan indeks pasar S&P, mereka menghitung abnormal return selama 10
hari di sekitar tanggal pengumuman dividen. Hasil penelitian menemukan bahwa
pasar bereaksi dalam interval waktu dua hari saja, yaitu sehari sebelum pengumuman
dan sehari pada waktu pengumuman dividen. Hasil menunjukkan bahwa dividen
mengandung informasi dan pasar sudah cukup efisien dalam bentuk setengah kuat
terhadap informasi dividen ini yang terlihat bahwa pasar menyerap informasi dengan
cepat.
4. Sunder (1973) dalam Jogiyanto (2013) meneliti 110 perusahaan yang mengubah
metode akuntansi persediaan FIFO ke LIFO dan 22 perusahaan yang mengubah
metode akuntansi persediaan LIFO menjadi FIFO selama periode 1946-1966. Hasil
yang diperoleh menunjukkan bahwa saham-saham perusahaan yang berpindah dari
FIFO ke LIFO mengalami kenaikan abnormal return mulai 12 bulan sebelum
pengumuman. Untuk perusahaan-perusahaan yang berpindah dari LIFO ke FIFO
mendapatkan abnormal return negatif pada waktu pengumuman dan 12 bulan
sesudanya. Hasil ini mendukung bahwa investor bereaksi terhadap pengumuman
perubahan metode akuntansi dan menggunakan informasi arus kas untuk menilai
harga sekuritas. Pada kondisi ekonomi inflasi, perubahan metode FIFO ke LIFO
akan meningkatkan arus kas, maka pengumuman tersebut akan mendapatkan reaksi
positif pada harga sekuritas. Untuk perubahan metode LIFO ke FIFO akan
menurunkan nilai arus kas, sehingga akan didapatkan reaksi yang negatif terhadap
harga sekuritas.
Selain penelitian di atas, di Indonesia terdapat beberapa penelitian tentang studi
peristiwa yang telah banyak dilakukan, antara lain:
1. Namusisi (1996) menguji efisiensi Bursa efek Jakarta dengan menggunakan event
listing saham (emisi saham baru pada pasar sekunder maupun emisi saham tambahan
seperti rights issue dan bonus share) pada periode pengamatan 1993 1995 dengan
sampel sejumlah 155 emiten. Namusisi (1996) tidak menemukan adanya abnormal
return yang konsisten saat terjadinya emisi saham baru, sehingga Namusisi (1996)
menarik kesimpulan bahwa Bursa Efek Jakarta sudah mencapai bentuk efisiensi
setengah kuat.
2. Suryawijaya dan Setiawan (1998) meneliti tentang reaksi harga saham terhadap
peristiwa politik yang berupa pengambilalihan kantor PDI tanggal 27 Juli 1996.
Dengan menggunakan sample saham sebanyak 37 saham yang aktif dan likuid di
BEJ. Hasilnya menunjukkan bahwa pasar modal di Indonesia bereaksi terhadap
peristiwa politik "27 Juli 1996". Tapi reaksi yang terjadi adalah negatif (abnormal
return yang negatif dan signifikan) terjadi secara spontan dan event date. Namun
setelah 3 hari terjadi perubahan arah (rebound) pada abnormal return menjadi positif,
sebagai reaksi pernyataan pemerintah bahwa kerusuhan telah terkendali dan
memberikan jaminan akan kestabilan politik, sehingga semua kegiatan bisa
berlangsung lagi.
3. Tatiek, et al (1999) meneliti tentang reaksi harga saham terhadap pengumuman
pergantian kepemimpinan Suharto. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa BEJ
tidak efisien dalam bentuk efisien setengah kuat, karena ternyata harga saham tidak
bereaksi saat ada pengumuman tentang pergantian kepemimpinan Suharto
4. Nurwanto (2004) meneliti tentang rekasi pasar modal terhadap kasus bom Bali, bom
Makasar dan bom Mariot. Hasil penelitian menunjukan bahwa ketiga kasus bom
tersebut memberikan abnormal return setelah event day.
Bisakah Event Study menguji efisiensi pasar?
Menurut Fama (dalam Tandelilin, 2010:223) terdapat 3 (tiga) bentuk jenis pasar
yang efisien, antara lain:
1) Efisien dalam bentuk lemah (weak form). Pasar efisien dalam bentuk lemah ini
menunjukkan bahwa semua informasi di masa yang lalu akan tercermin pada harga
yang terbentuk sekarang. Informasi tersebut tidak bisa dijadikan alat untuk
meramalkan harga di masa mendatang karena harga sudah terbentuk di masa ini.
2) Efisensi dalam bentuk setengah kuat (semi strong). Efisiensi pasar dalam bentuk ini
berarti pasar saham yang terbentuk sekarang telah mencerminkan informasi historis
ditambah dengan informasi yang dipublikasikan. Abnormal return yang terjadi pada
jenis pasar ini hanya terjadi di seputar pengumuman suatu peristiwa sebagai
representasi dari respons pasar terhadap pengumuman tersebut.
3) Efisiensi dalam bentuk kuat (strong form). Efisiensi pasar dalam bentuk ini yaitu
harga pasar yang terbentuk sekarang telah mencerminkan informasi historis ditambah
dengan semua informasi yang dipublikasikan ditambah dengan informasi yang tidak
dipublikasikan. Efisiensi jenis ini tidak menimbulkan seorang investor pun yang
memperoleh abnormal return.
Menurut Jogiyanto (2013:585), event study merupakan studi yang mempelajari
reaksi pasar terhadap suatu peristiwa yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu
pengumuman. Event studi digunakan untuk menguji kandungan informasi dari suatu
pengumuman.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan event study dapat digunakan untuk
menguji efisiensi pasar dalam bentuk setengah kuat. Dalam pasar efisien bentuk setengah
kuat terjadi abnormal return di seputar pengumuman suatu peristiwa sebagi respon
terhadap pengumuman tersebut dan event study berguna untuk menguji kandungan
informasi serta reaksi pasar terhadap suatu pengumuman. Reaksi pasar dapat diukur
dengan terjadinya abnormal return di sekitar tanggal pengumuman.
Pasar dapat disimpulkan efisien jika pasar bereaksi secara cepat terhadap
informasi yang diumumkan serta reaksi yang terjadi benar terhadap informasi yang
bernilai ekonomis (Jogiyanto, 2013:590). Pasar juga dapat dikatakan efisien jika tidak
terjadi abnormal return pada sekitar tanggal pengumuman karena informasi tidak bernilai
ekonomis dan pasar bereaksi dengan benar (Jogiyanto, 2013:590). Sementara pasar
dikatakan tidak efisien jika (1) reaksi pasar salah terhadap pengumuman yang bernilai
ekonomis, (2) reaksi pasar salah terhadap pengumuman yang tidak bernilai ekonomis, (3)
pasar lambat bereaksi terhadap suatu pengumuman, (4) pasar tidak bereaksi terhadao
pengumuman yang bernilai ekonomis (Jogiyanto, 2013:590).
Joint Hypothesis Problem
Studi peristiwa digunakan untuk menguji efisiensi pasar bentuk setengah kuat.
Efisiensi pasar bentuk setengah kuat akan selalu "sepenuhnya mencerminkan" informasi
yang tersedia, tetapi untuk menentukan bagaimana pasar harus "sepenuhnya
mencerminkan" informasi ini, kita perlu menentukan preferensi risiko investor. Oleh
karena itu, setiap pengujian hipotesis pasar efisien (EMH) adalah pengujian baik efisiensi
pasar maupun preferensi risiko investor. Untuk alasan ini, EMH, dengan sendirinya,
bukanlah sebuah hipotesis yang dirumuskan dengan baik dan disangkal secara empiris
(Sewell, 2006 dalam [Link]
Terkait dengan pengujian pasar efisien, ada suatu keadaan yang disebut dengan
joint hypothesis problem. Kita dapat mengatakan bahwa pasar efisien atau pasar baru
dapat dikatakan efisien jika bereaksi terhadap informasi baru dengan cepat, namun jika
kita melakukan pengujian, dan menemukan pasar tidak seperti hal tersebut, bisa saja
memang benar pasar tidak efisien atau penjelasan mengenai pasar efisien belum akurat
([Link]
Joint
hypothesis problem merujuk kepada pengujian pasar efisien merupakan suatu hal yang
sulit dan meragukan, bahkan tidak mungkin dilakukan. Usaha-usaha yang dilakukan
untuk menguji pasar efisien ataupun pasar tidak efisien harus melibatkan model harga
aset ekuilibrium. Oleh karena itu, ada beberapa bukti-bukti anomali dalam return pasar
yang dapat merefleksikan ketidakefisienan pasar, model asset pricing yang buruk atau
keduanya ([Link]
Jika EMH ditolak, hal tersebut bisa saja terjadi karena pasar memang benar-benar
tidak efisien, atau karena terdapat model ekuilibrium yang salah diasumsikan. Lebih
lanjut dijelaskan, salah satu alasan joint hypothesis problem terjadi karena EMH
bukanlah sebuah hipotesis yang jelas dan hipotesis tersebut dapat disangkal secara
empiris. Untuk membuatnya dapat bekerja, harus menentukan struktur tambahan,
misalnya, preferensi investor, struktur informasi, kondisi bisnis, dan lain-lain
([Link]
SUMBER:
Jogiyanto, Hartono. 2013. Teori Portofolio dan Analisis [Link] Kedelapan.
Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.
Sukirno DS. 2003. Event Study Sebuah Pendekatan dalam Penelitian Akuntansi.
Tandelilin, Eduardus. 2010. Portofolio dan Investasi Teori dan Aplikasi. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius.
[Link]
(diakses pada hari Rabu, 1 Juni 2016).
[Link] (diakses pada hari Rabu, 1 Juni 2016).
[Link] (diakses pada hari Rabu, 1 Juni 2016).
[Link]
pada hari Rabu, 1 Juni 2016).
(diakses
[Link] (diakses pada hari Rabu, 1 Juni
2016).