PROSES ASUHAN GIZI TERSTANDAR-NUTRITION CARE PROSES (NCP)
PADA KASUS ANAK DHF DI RS [Link] MAHDI BOGOR
[Link] Gambaran Umum Pasien
1.
Nama Pasien
: An. RV
2.
Tanggal lahir
: 4 Desember 2000
3.
Umur
: 11 tahun
4.
Jenis Kelamin
: Perempuan
5.
Suku Bangsa
: Jawa
6.
Status Perkawinan
: Belum menikah
7.
Tanggal masuk RS
: 28 November 2011
8.
Diagnosa Medis
: DHF
9.
Terapi diet yang diberikan
: Diet TKTP
10.
Tanggal menjadi kasus
: tanggal 29 November 2011
[Link]
Proses Asuhan Gizi
[Link].1 Assesment Gizi
1. Riwayat Personal
Pasien adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Pasien tinggal bersama kedua orangtuanya dan
kakak dari ayahnya. Saat ini pasien masih duduk di bangku kelas V SD. Kedua orang tua pasien
bekerja. Ibu bekerja sebagai buruh di pabrik dan Ayahnya bekerja serabutan.
2. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami sakit parah sebelumnya, hanya batuk dan flu. Tidak ada riwayat
penyakit dari keluarga. Sejak bayi, pasien selalu dibawa ke posyandu dan menerima imunisasi
lengkap.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien merasakan demam sejak 5 hari yang lalu, namun orang tua tidak mengetahui
penyebabnya. Saat itu, pasien dibawa ke puskesmas terdekat dan 5 hari kemudian baru di bawa
ke RS. Pasien sempat muntah sebanyak 2 kali sebelum dibawa ke RS. Pasien juga mengeluhkan
nyeri di perut dan uluh hati, mencret, pusing, dan lemas.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada riwayat penyakit keluarga
5. Riwayat Gizi
a. Sebelum Sakit
Pola makan pasien sebelum sakit adalah 1 kali sehari dengan porsi kecil. Di sekolah suka jajan
mie instan dan es yang dijual di kantin sekolah. Pasien jarang sarapan. Makan siang selalu
pulang ke rumah karena dekat dengan sekolah. Pasien menyukai ikan lele dan buah, namun tidak
menyukai makanan yang lembek dan tidak hangat lagi. pasien juga kurang menyukai sayuran.
b. Pada Saat Sakit
Pada saat sakit SMRS asupan makan pasien lebih sedikit karena kondisi penyakit dan ada
keluhan mual dan muntah 2x. Sedangkan recall makanan pada 1 hari sebelum masuk RS tapi
sudah dalam kondisi sakit yaitu pasien tidak sarapan. Siang hari makan nasi piring dan telur
dadar. Malamnya, makan sate ayam 2 tusuk dengan bumbu kacangnya tanpa nasi. Hasil
anamnesa asupan makanan sebelum sakit dibandingkan dengan kebutuhan idealnya adalah
Energi = 482 kkal (29,5%), Protein 20 gr (42%), Lemak = 18,5 gr (68%), Karbohidrat = 47 gr
(15,8%).
6. Pengkajian Data Antropometri :
a.
BB=24 kg; BBI=38 Kg
b. TB= 138cm
c.
LILA= 17 cm
d. Status Gizi :
IMT : 12.6 kg/m2 (underweight)
BB/TB= -3 s.d -4 SD (Gizi Buruk)
BB/U= -1 s.d -2 SD (normal bawah)
TB/U= -1 s.d -2 SD (normal bawah)
Penilaian
: Status Gizi pasien adalah KEP 1
7. Pengkajian Data Biokimia :
No
1.
2.
3.
4.
Jenis Pemeriksaan
Haemoglobin
Leukosit
Trombosit
Hemotokrit
Hasil
16,5
9.160
36.000
47
Nilai Rujukan
11,5-15,5 gr/dl
4.000-10.000 /mm3
150rb-400rb mm3
40-54 %
Interprestasi
Normal
Normal
Rendah
Normal
8. Pengkajian Data Pemeriksaan Klinis Fisik:
a. Hasil Pemeriksaan klinik adalah sebagai berikut :
Jenis Pemeriksaan
[Link] darah
2. Nadi
3. Suhu
4. Respirasi
Hasil
90/60 mmHg
98 x/menit
37.90C
24 x/menit
Nilai Rujukan
120/80 mmHg
80-100x/menit
36-37,2 0C
19-36 x/menit
Interprestasi
Rendah
Normal
tinggi
Normal
b. Pemeriksaan Fisik
daan Umum: Compos Mentis, nyeri perut bagian uluh hati, demam, lemah, mual, diare (naik turun), dan terlihat
kurus
Penilaian : Pasien lemah, mual, diare, kurus
[Link].2 Diagnosa Gizi
1. Domain Asupan:
Inadequat oral intake berhubungan dengan penurunan nafsu makan, mual, dan muntah ditandai
dengan asupan energi 29,5%, Protein 42%, Lemak 68%, Karbohidrat 15,8%.
2. Domain Klinis:
KEP I berhubungan dengan kebiasaan makan yang salah ditandai dengan BB/TB= -3,87; BB/U=
-1,85; IMT=12,6 kg/m2.
3. Domain Behaviour:
Kekeliruan pola makan berhubungan dengan kurangnya monitoring orangtua ditandai dengan
makan pokok 1 kali sehari dengan porsi kecil.
[Link].3
Intervensi Gizi
1. Tujuan Diet
a.
Memberikan makanan yang adequate sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien untuk
meningkatkan status gizi.
b. Memberikan edukasi dan konseling gizi sesuai dengan diet yang diberikan
2.
a.
Preskripsi Diet
Jenis Diet
b. Bentuk makanan
c.
: Diet TKTP
: Lunak
Frekuensi Pemberian : 3 kali makanan utama dan 1 kali makanan selingan.
d. Route makanan
: oral.
3.
Prinsip dan Syarat
a.
Energi diberikan sesuai usia dan kebutuhan pasien dengan mempertimbangkan factor stress dan
pertumbuhan
b. Protein diberikan tinggi, yaitu 2 g/kg BB
c.
Lemak diberikan tinggi, yaitu 30% dari Energi Total, diutamakan 50% berasal dari lemak
Medium Chain Tigliserida (MCT) agar mudah diserap.
d. Karbohidrat diberikan 59% dari Energi Total.
e.
Vitamin dan mineral sesuai RDA (Recomennended Dietary allowance)
f.
Cairan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yaitu 85ml/kg BB/hari
4.
Perhitungan Kebutuhan
Perhitungan kebutuhan Energi menggunakan REE (Recommended Energi Expenditure) dengan
rumus schofield :
BMR
= (12,2 x kg) + 746
= (12,2 x 38) + 746 = 1210 kkal
= BMR x FA x FS
= 1210 x 1,2 x 1,3
=1887 kkal
Kebutuhan Protein
2 g/kg BB x 38= 76 gram (16%)
Kebutuhan Lemak
15% dari Energi Total = 32 gram
Kebutuhan Karbohidrat
69% dari Energi Total = 326 gram
5.
Rancangan Diet
Diit yang dirancang untuk pasien RV adalah diit TKTP yang dilakukan secara bertahap, dimulai
dengan pemberian 1000 kkal hingga mencapai 2000 kkal. Rincian perencanaan diit pasien tahap
awal, ialah sbb:
Energi 1000 kkal; protein 48 g (12% [Link]); Lemak 32 g (29% [Link]); dan KH 148 g (59% [Link]),
kemudian ditingkatkan bertahap menuju diet TKTP 2000 kkal.
Karena kondisi penyakit, selain mendapat nutrisi secara oral, dokter yang menangani pasien RV
memberikan nutrisi mineral secara parenteral berupa infus ringer laktat dan infuse untuk
menaikan trombosit yang tidak mengandung energi. Kebutuhan cairan RV juga diperhatikan.
Cairan melalui oral 85 ml/kg BB/hari. Sehingga rancangan diet nya adalah sbb:
Tabel 3.
Jumlah Kebutuhan Energi dan Karbohidrat Berdasarkan Rute Pemberian
Rute Pemberian
Oral
Jumlah Kebutuhan
Energi (Kkal)
1000
1000
Karbohidrat (gram)
148
148
Adapun rancangan diet yang akan diberikan kepada pasien, dapat dilihat pada table berikut ini :
Table 4.
Rancangan Diit
Jenis
Makanan
Bubur
[Link]
[Link]
Sayur
Penukar
1
4
2
3
Energi
(Kkal)
175
250
150
75
Protein
(gram)
4
28
10
3
Lemak
(gram)
14
6
-
KH
(gram)
40
14
15
Buah
1
Minyak
2
Snack
1
JUMLAH
Toleransi (+/-)
50
100
200
1000
+5%
1
46
-4%
10
3
33
+3%
12
70
151
+2%
Berikut ini adalah tabel Distrubusi makanan sehari:
Tabel 5.
Distribusi Makanan Sehari
Waktu Makan
Pagi
Snack Pagi
Siang
Ekstra telur
Sore
6.
Jenis Makanan
Bubur
[Link]
Sayur
Minyak
bolu
Bubur
[Link]
[Link]
Sayur
Minyak
Buah
telur
Bubur
[Link]
[Link]
Sayur
Minyak
Ukuran(Penukar)
1
1
1
3/8
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Rencana Monitoring dan Evaluasi
Indikator yang dimonitor untuk melihat perkembangan pasien meliputi :
a.
Monitoring asupan makanan
b. Monitoring perkembangan berat badan/Status Gizi
c.
Monitoring perkembangan fisik dan klinis: Tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu tubuh,
dan keluhan lain seperti sesak dan mual.
7.
Rencana Konsultasi Gizi
Tema
Media
: Diet pada TKTP
:Leaflet TKTP dan Daftar Bahan Makanan Penukar
Sasaran
: Pasien dan Orangtua
Tempat
: Ruang Parikesit Kelas III
Waktu
: 20 menit
Metode
: Bed Side Teaching, Tanya Jawab
Isi Materi :
Penjelasan tentang penyakit
Penjelasan tentang tujuan pemberian diet
Penjelasan tentang prinsip dan syarat pemberian makanan sesuai kondisi pasien
Penjelasan tentang pengaturan dan pemilihan bahan makanan yang boleh dan tidak boleh
diberikan.
8.
Motivasi makan
Implementasi
Berikut ini adalah implementasi dalam proses asuhan gizi terstandar pada pasien RV:
a.
Mencatat menu makanan.
b.
Memporsi makanan dengan cara menimbang makanan berupa bubur, sumber hewani, nabati,
sayur dan buah serta snack pada saat makan pagi, snack pagi, makan siang, dan makan sore.
Kemudian, mencatat hasil penimbangan masing-masing jenis bahan makanan sebelum disajikan
kepada pasien.
c.
Melakukan penimbangan sisa makanan yang tidak termakan pasien dan mencatat hasil
penimbangan tersebut, jika ada sisa makanan sore yang tidak dikonsumsi pasien, sisa tersebut
disimpan dalam plastik untuk kemudian ditimbang esok pagi atau ditanyakan secara kualitatif
berdasarkan perkiraan jumlah.
d. Menghitung dan mencatat selisih penimbangan awal dan penimbangan sisa makanan pasien juga
mencatat makanan lain yang dikonsumsi pasien diluar diet yang diberikan rumah sakit. Hasilnya
merupakan asupan makanan pasien secara keseluruhan pada 1 hari pengamatan.
e.
Mencatat makanan lain dari luar yang diasup oleh pasien dan memasukkannya dalam
perhitungan asupan.
f.
Memberikan motivasi dan edukasi gizi berupa penatalaksanaan diet sesuai dengan kondisi
pasien dan penyakitnya pada saat pasien akan pulang dan menyarankan pasien untuk melakukan
konsultasi gizi ulang di poliklinik gizi guna memantau perkembangan status gizi selama
menjalani terapi gizi di rumah.
[Link].4 Monitoring Evaluasi
1.
Hari Ke-1 (Tanggal 29/11/2011)
Tabel 6
Hasil Monitoring Asupan Makanan
Rute Makanan
Energi
Kkal
%
Oral
677
67.7
JUMLAH
677
67.7
Penilaian: asupan total kurang 32% dari total kebutuhan
Protein
Gram
%
31
79
31
79
Lemak
Gram
%
24
71
24
71
Evaluasi Asupan makanan: nafsu makan pasien belum meningkat dan pasien merasa tidak
enak makan karena mulut terasa pahit. Pasien juga tidak memakan sayur karena tidak suka.
Pasien juga tidak menyukai makanan bertekstur lembek seperti bubur sehingga bentuk makanan
bubur diganti dengan tim saat makan malam.
Rencana Intervensi: karena masih demam jadi pasien tetap diberikan makanan lunak berupa tim
dengan rancangan diet ditingkatkan menjadi 1400 kkal.
Table 7
Rancangan Diit Tanggal 30 November 2011
Jenis
Makanan
Tim
[Link]
[Link]
Sayur
Buah
Minyak
Penukar
3
3
2
3
1
4
Energi
(Kkal)
525
200
150
75
50
200
Protein
(gram)
12
21
10
3
-
Lemak
(gram)
12
6
20
KH
(gram)
120
14
15
12
-
Snack
1
JUMLAH
TOTAL
200
1400
1400
10
56
56
5
43
43
80
241
241
Tabel 8
Rencana Distribusi Diit Tanggal 30 November 2011
Waktu Makan
Jenis Makanan
Ukuran(Penukar)
Tim
1
[Link]
1
Pagi
Sayur
1
Minyak
1
Snack Pagi
Bolu
1
Tim
1
[Link]
1
Siang
[Link]
1
Sayur
1
Minyak
2
Buah
1
Tim
1
[Link]
1
Malam
[Link]
1
Sayur
1
Minyak
1
Hasil monitoring evaluasi pemeriksaan fisik dan klinis serta obat-obatan yang digunakan adalah
sebagai berikut :
Tabel 9
Hasil Monitoring Pemeriksaan Fisik dan Klinis
Jenis Pemeriksaan
Keadaan Umum
Hasil
Compos Mentis, Lemah, nyeri perut, mual, demam,
diare (naik turun)
Tekanan darah
100/90 mmHg
Nadi
84 x/mnt
Respirasi
20x/mnt
Suhu
366C
Penilaian : Hipotensi, lemah, mual, nyeri perut, demam sudah turun
Tabel 10
Obat-obat yang digunakan :
Jenis Obat
Trolit
Auralis
Frekuensi Pemberian
Adlib
2x1
Interprestas
Lemah, mual, nyeri per
diare
Rendah
Normal
Normal
Normal
Bactesyn
3x500mg
2. Hari Ke-2 (Tanggal 30/11/2011)
Tabel 11
Hasil Monitoring Asupan Makanan
Rute Makanan
Energi
Protein
Lemak
Kkal
%
Gram
%
Gram
%
Oral
680
49
21
38
24
56
JUMLAH
680
49
21
38
24
56
Penilaian : Asupan makanan pasien meningkat dari hari sebelumnya
KH
Gram
%
101
42
101
42
Evaluasi: setelah diganti tim, makan pasien meningkat namun belum dapat menghabiskan
makanannya karena mulut masih terasa pahit. Pasien juga sama sekali tidak memakan sayur yang
diberikan.
Rancangan Diit: Rancangan diit selanjutnya masih diberikan sama 1400 kkal dengan
perencanaan sebelumnya. Memberi motivasi pasien untuk mau makan lebih banyak dan
memakan sayurnya.
Tabel 12
Hasil Monitoring Pemeriksaan Fisik dan Klinis
Jenis Pemeriksaan
Keadaan Umum
Tekanan darah
Nadi
Respirasi
Suhu
Penilaian : Hipotensi, lemah
Hasil
Compos Mentis, Lemah
90/60 mmHg
84 x/mnt
20x/mnt
366C
Tabel 13
Obat-obat yang digunakan :
Jenis Obat
Trolit
Auralis
Bactesyn
3. Hari Ke-3 (Tanggal 1/12/2011)
Frekuensi Pemberian
adlib
2x1
3x500mg
Tabel 14
Hasil Monitoring Asupan Makanan
Interprestasi
Lemah
Rendah
Normal
Normal
Normal
Rute Makanan
Energi
Protein
Lemak
KH
Kkal
%
Gram
%
Gram
%
Gram
%
Oral
1345
96
55
98
38
88
192
80
JUMLAH
1345
96
55
98
38
88
192
80
Penilaian : Asupan makanan pasien meningkat signifikan mendekati target asupan.
Diagnosa Intake:
Adequate oral intake berhubungan dengan nafsu makan sudah kembali ditandai dengan asupan
96% dari target
Evaluasi :
Nafsu makan pasien sudah membaik. Pasien merasa mulutnya tidak pahit lagi. Pasien mulai
makan sayur.
Rencana Intervensi :
Karena pasien sudah tidak demam dan nafsu makan membaik, serta hampir mampu
menghabiskan makanan. Diit Tim diganti dengan nasi biasa dengan energy tetap 1400 kkal.
Table 15
Rancangan Diit Tanggal 2 Desember 2011
Jenis
Penukar
Makanan
Nasi biasa
3
[Link]
3
[Link]
2
Sayur
3
Buah
1
Minyak
4
Snack
1
JUMLAH
TOTAL
Energi
(Kkal)
525
200
150
75
50
200
200
1400
1400
Protein
(gram)
12
21
10
3
10
56
56
Lemak
(gram)
12
6
20
5
43
43
Tabel 16
Rencana Distribusi Diit Tanggal 2 Desember 2011
KH
(gram)
120
14
15
12
80
241
241
Waktu Makan
Jenis Makanan
Nasi
[Link]
Sayur
Minyak
Bolu
Nasi
[Link]
[Link]
Sayur
Minyak
Buah
Nasi
[Link]
[Link]
Sayur
Minyak
Pagi
Snack Pagi
Siang
Malam
Ukuran(Penukar)
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
1
Tabel 17
Hasil Monitoring Pemeriksaan Fisik dan Klinis
Jenis Pemeriksaan
Keadaan Umum
Tekanan darah
Nadi
Respirasi
Suhu
Penilaian : Hipotensi
Hasil
Compos Mentis
100/70 mmHg
84 x/mnt
20x/mnt
366C
Interprestasi
Membaik
Rendah
Normal
Normal
Normal
Tabel 18
Monitoring Berat Badan Pasien:
Berat Badan
IMT
Status Gizi
2
27 kg
14.2 kg/m
Underweight
Penilaian: Berat badan meningkat 3 kg pada hari ke 3 di RS, namun status gizi masih kurang
Tabel 19
Obat-obat yang digunakan :
Jenis Obat
Trolit
Auralis
Bactesyn
4. Hari Ke-4 (Tanggal 8/12/2011)
Frekuensi Pemberian
adlib
2x1
3x500mg
Tabel 20
Hasil Monitoring Asupan Makanan
Rute Makanan
Oral
JUMLAH
Keterangan
Energi
Protein
Kkal
%
Gram
%
839
60
28
50
839
60
28
50
: Pasien pulang setelah makan siang
Lemak
Gram
%
13
30
13
30
KH
Gram
%
155
64
155
64
Penilaian
: Asupan total pasien setengah hari mencapai 60%
Evaluasi
: kondisi makan pasien sudah sangat membaik, setiap makanan yang diberikan
RS dimakan habis.
Tabel 21
Hasil Monitoring Pemeriksaan Fisik dan Klinis
Jenis Pemeriksaan
Keadaan Umum
Tekanan darah
Nadi
Respirasi
Suhu
Penilaian : Hipotensi, Sembuh
Hasil
Compos Mentis
100/90 mmHg
84 x/mnt
20x/mnt
360C
Tabel 22
Monitoring Berat Badan Pasien:
Berat Badan
IMT
Status Gizi
2
27,5 kg
14.4 kg/m
Underweight
Penilaian: Berat badan meningkat g disbanding hari sebelumnya, namun status gizi masih
kurang
Tabel 23
Obat-obat yang digunakan :
Jenis Obat
Trolit
Auralis
Bactesyn
Frekuensi Pemberian
adlib
2x1
3x500mg
Interprestasi
Sembuh
Rendah
Rendah
Normal
Normal
[Link].5 Pembahasan
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau dalam bahasa umumnya disebut Demam Berdarah
Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui
gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana menyebabkan gangguan atau
infeksi pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan
perdarahan-perdarahan.
Penyakit DHF ini memiliki gejala-gejala seperti demam tinggi yang mendadak 2-7 hari, terjadi
peningkatan nilai Hematokrit diatas 20% dari nilai normal (Hemokonsentrasi), demam yang
dirasakan penderita menyebabkan keluhan pegal/sakit pada persendian, munculnya bintik-bintik
merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah, dan pada pemeriksaan laboratorium (darah)
hari ke 3 - 7 terjadi penurunan trombosit dibawah 100.000 /mm3 (Trombositopeni) seperti yang
dialami oleh pasien.
Trombosit termasuk bagian vital dalam tubuh. Trombosit merupakan bagian terpenting dalam
proses pembekuan darah. Pembuluh darah dan faktor pembekuan diperlukan untuk menjaga
supaya darah tetap dalam bentuk cair dan berada dalam pembuluh darah sehingga pengiriman
oksigen dan nutrisi ke jaringan dapat tercukupi.
Trombosit memiliki 3 fungsi penting, yaitu menutup luka dengan jalan membentuk
gumpalantrombosit pada tempat kerusakan pembuluh darah, membentuk faktor pembekuan, dan
mengeluarkan sitokinin untuk konsentrasi pembuluh darah dan untuk mempercepat pembentukan
gumpalan trombosit. Sehingga pada penyakit DHF gangguan pada trombosit dapat berakibat
tidak terjadinya pembekuan darah saat terjadi infeksi atau kerusakan pada pembuluh darah akibat
virus dengue tersebut, yang berakibat terjadi perdarahan-perdarahan seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya.
Ganguan pada trombosit dapat berupa gangguan dalam jumlah atau gangguan dalam fungsi.
Gangguan trombosit yang dialami pasien ialah gangguan dalam jumlah, yaitu trombositopeni
atau jumlah trombosit yang kurang dari 100.000/mm3. Oleh karena pasien mengalami
trombositopeni yaitu 36.000/mm3, pasien diberikan tambahan trombosit melalui transfusi
trombosit. Transfusi trombosit diberikan dalam bentuk konsentrat trombosit. Transfusi trombosit
diberikan agar pasien tidak mengalami penurunan jumlah trombosit secara drastis atau <
20.000/mm3, karena apabila trombosit turun hingga kira-kira 20.000/mm3 biasanya
menyebabkan perdarahan otak yang dapat berakibat fatal (Prof. DR. Imam Supandiman,
DSPD.H, 1997)
Penambahan cairan tubuh melalui infus (intravena) diperlukan untuk mencegah dehidrasi dan
hemokonsentrasi yang berlebihan. Oleh karena itulah pasien juga diberikan tambahan cairan
berupa infuse Ringer Laktat (RL) yang membantu menjaga agar pasien tidak mengalami
dehidrasi.
Oleh karena penyakit DHF merupakan sebuah infeksi, pasien diberikan diet Tinggi Kalori Tinggi
Protein (TKTP). Tinggi kalori diberikan untuk meningkatkan status gizi pasien yang memiliki
status gizi underweight dan tinggi protein diberikan untuk membantu mempercepat proses
penyembuhan infeksi yang terjadi akibat virus dengue.
Selain itu, pada penderita DHF juga timbul beberapa gejala klinik yang menyertai seperti mual,
muntah, penurunan nafsu makan, sakit perut, diare, menggigil, kejang dan sakit kepala. Dengan
adanya gejala-gejala klinik tersebut, dat yang diberikan kepada pasien ialah diet lunak dan
mengikuti selera pasien untuk memenuhi asupan pasien. Pemberian diet pada pasien diberikan
secara bertahap menyesuaikan kemampuan daya terima pasien.
Penyebaran penyakit DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes
albopictus, sehingga pada wilayah yang sudah diketahui adanya serangan penyakit DBD akan
mungkin ada penderita lainnya. Menurut keterangan pasien, pasien merasakan adanya gejala
penyakit DHF ini setelah pulang dari sekolah, jadi kemungkinan pasien mendapatkan penyakit
DHF ini dari nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari sekolahnya. Penularan penyakit pada
pasien juga didukung dengan sistem imun pasien yang kurang. Pola makan yang tidak teratur
dan asupan yang kurang memungkinkan daya tahan tubuh pasien kurang baik.