Modul Praktikum Sistem Komunikasi 2016
Modul Praktikum Sistem Komunikasi 2016
KOMUNIKASI
Page |
DAFTAR PENYUSUN
Pembina Laboratorium
Koordinator Asisten
1101134486
Divisi Praktikum
: Desy Agustin
1101130138
Divisi Alat
Divisi Administrasi
1101130234
Zulfikar Nurzain
1101131346
: Maulida Yumnisari
1101130195
1101134359
1101130023
: Maghfira Rifki
Rafidah Marlasari
Divisi HRD
: Arvieda Nadya
Rizka Kaamtsaalil Salsabiilaa
Divisi Riset
: Arvieda Nadya
1101130092
1101130208
1101144148
1101130065
1101144148
1101130291
1101130016
Hamdan Gustiawidi
1101144421
1101134409
Diperbaiki Oleh :
Page |
LEMBAR REVISI
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama
NIP
: 02690271-1
Jabatan
Dengan ini menyatakan pelaksanaan Revisi Modul Sistem Komunikasi untuk Prodi Teknik
Telekomunikasi, telah dilaksanakan dengan penjelasan sebagai berikut:
N
o
1
Keterangan Revisi
27 Agustus 2016
Page |
LEMBAR PERNYATAAN
NIP
: 02690271-1
Jabatan
Menerangkan dengan sesungguhnya bahwa modul praktikum ini telah direview dan akan
digunakan untuk pelaksanaan praktikum di Semester Lima Tahun Akademik 2016/2017 di
Laboratorium Sistem Komunikasi Fakultas Teknik Elektro Universitas Telkom
Mengetahui,
Sistem komunikasi
NIP 93660096-1
NIP 02690271-1
Page |
MISI:
1. Menyelenggarakan pendidikan tinggi dan pendidikan berkelanjutan berstandar
internasional
2. Mengembangkan, menyebarluaskan, dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan
teknologi bidang teknik telekomunikasi, teknik komputer, fisika teknik, dan
elektroteknik, serta bekerja sama dengan industri/institusi, guna meningkatkan
kesejahteraan dan kemajuan masyarakat.
3. Mengembangkan dan membina jejaring dengan perguruan tinggi dan industri
terkemuka dalam dan luar negeri dalam rangka kerjasama pendidikan dan penelitian.
4.
Page |
Page |
Page |
DAFTAR ISI
DAFTAR PENYUSUN........................................................................................................1
LEMBAR REVISI...............................................................................................................2
LEMBAR PERNYATAAN..................................................................................................3
VISI MISI ...........................................................................................................................4
VISI MISI FTE....................................................................................................................5
ATURAN LABORATORIUM FTE.....................................................................................6
DAFTAR ISI........................................................................................................................7
DAFTAR GAMBAR............................................................................................................8
DAFTAR TABEL.................................................................................................................9
MODUL 0 : RUNNING MODUL........................................................................................10
MODUL 1: MODULASI ANALOG....................................................................................11
MODUL 2: MODULASI DIGITAL.....................................................................................28
MODUL 3: PULSE CODE MODULATION
40
Page |
DAFTAR GAMBAR
Page |
DAFTAR TABEL
MODUL 0
RUNNING MODUL
1.1 Tujuan
Setelah mengikuti Running Modul mahasiswa diharapkan dapat:
1. Memahami peraturan kegiatan praktikum.
2. Memahami Hak dan Kewajiban praktikan dalam kegiatan praktikum.
3. Memhami komponen penilaian kegiatan praktikum.
1.2 Peraturan Praktikum
1
Praktikum diampu oleh Dosen Mata Kuliah Praktikum dan dibantu oleh
3
4
ditentukan.
Praktikan wajib membawa modul praktikum, kartu praktikum, dan alat tulis.
Praktikan wajib mengisi daftar hadir dan BAP praktikum dengan bolpoin
bertinta hitam.
Durasi kegiatan praktikum = 2,5 jam (150 menit).
a 15 menit untuk pengerjaan Tes Awal atau wawancara Tugas Pendahuluan
b 60 menit untuk penyampaian materi
c 45 menit untuk pengerjaan jurnal dan tes akhir
Praktikan wajib hadir minimal 75% dari seluruh pertemuan praktikum di lab.
Jika total kehadiran kurang dari 75% maka nilai Mata Praktikum = 0.
Praktikan yang datang terlambat :
<= 30 menit : diperbolehkan mengikuti praktikum tanpa tambahan waktu Tes
Awal
> 30 menit : tidak diperbolehkan mengikuti praktikum
Saat praktikum berlangsung, asisten praktikum dan praktikan:
Wajib menggunakan seragam sesuai aturan Institusi.
Wajib mematikan/ men-silent semua alat komunikasi(smartphone, tab, iPad,
dsb).
Dilarang membuka aplikasi yang tidak berhubungan dengan praktikum
yang berlangsung.
Dilarang mengubah setting software maupun hardware komputer tanpa
ijin.
Dilarang membawa makanan maupun minuman di ruang praktikum.
Page |
post-test).
Dilarang menyebarkan soal pre-test, jurnal, dan post-test.
Dilarangmembuang sampah/sesuatu apapun di ruangan praktikum.
Setiap praktikan dapat mengikuti praktikum susulan maksimal 1 modul untuk satu
praktikum.
Praktikan yang dapat mengikuti praktikum susulan hanyalah praktikan yang
memenuhi syarat sesuai ketentuan Institusi, yaitu rawat inap di Rumah Sakit
(menunjukkan bukti rawat inap dan resep obat dari RS), tugas dari Institusi
(menunjukkan
surat
dinas
dari
Institusi),
atau
mendapat
musibah
Page |
MODUL 1
MODULASI ANALOG
Tujuan Praktikum
1. Memahami prinsip kerja AM (Amplitudo Modulation), FM (Frequency Modulation), dan
2.
3.
4.
5.
6.
1. MODULASI ANALOG
Modulasi analog merupakan proses penumpangan sinyal informasi yang berupa sinyal
anolog kedalam sinyal pembawa. Secara umum modulasi analog ada tiga jenis, yaitu
modulasi amplitude, modulasi frekuensi, dan modulasi phasa.
1.1 Amplitude Modulation (AM)
Modulasi amplitude merupakan proses modulasi dimana amplituda sinyal
carrier akan berubah-ubah sesuai dengan sinyal informasi. Modulasi amplitude
terdapat tiga jenis: AM DSB SC, AM SSB, AM DSB FC, dan AM VSB
VLF(t)
Gambar 1.1.a Sinyal Pemodulasi/info
VHF(t)
VAM(t)
Local oscilator
E
Local oscilator
LPF
G
Page |
Demodulator di
samping
merupakan
demodulasi
dengan
Gambar 1.1.1.b Blok Modulator
menggunakan
Receiver
Titik E Vc cos (c t + )
Titik F
Vc Vc
2
Titik G
Vc Vc
m(t )
2
VmP. Vc
2
( cos (2
+)
f
Gambar [Link]
Spektrum
0 Fc-
Fc
Fc+
Sinyal info
1.1.2
Titik C
akan dihasilkan sinyal SSB-LSB dan sinyal SSB-USB. Dari masing-masing single
sideband bila ditransmisikan akan dapat menghemat daya hingga 83,3% dari total daya
yang seharusnya ditransmisikan.
mixer
m(t) A
mixer
C
BPF USB
BPF LSB
Local
Titik
A oscilator
m(t) A
Local oscilator
Titik B
Page |
Titik C
f c+f m
2 ( f c f m )t
2 ()t +cos
cos
VcVm
Titik D
P(Watt)
Vm . Vc
2
f
0
1.1.3
fm
f
0 fc-fm
fc
fc+fm
Pada AM VSB dilakukan penekanan terhadap sebagian dari salah satu sideband
untuk mengurangi bandwidth yang diperlukan. AM VSB diperoleh dengan melewatkan
salah satu side band dari sinyal AM DSB dan melewatkan sebagain dari sideband
lainnya.
1.1.4
m(t)
cos ct+ 0
Gambar 1.1.4.a Blok Modulator AMDSB-FC
Lo
Page |
Titik B
( c t+ o )
: V HF=cos
Titik C
Titik D
: Vamp = Vc cos (c t + 0)
: V AM =( V c +k V m cos m t ) cos c t ; o =0 VAM-DSB-FC = Vc [1 +
Titik E
ka
m(t)] cos c t , o =0
Keterangan:
VLF = Persamaan sinyal info
Vm = Amplitudo sinyal info
Vamp = sinyal keluaran amplifier
ka
= konstanta modulasi
Vc
VAM
VHF
= Vc [1 + ka m(t)] cos c t
AM-DSB-FC
Vc
V
cos ( c m ) t ] + m c [ cos ( c + m ) t ]
[
2
2
V(volt)
Vc
m. Vc
2
f
0
fc-fm
fc
fc+fm
V AMDSB-FC
=Komponen Carrier+ Komponen Lower sideband+ Komponen Upper sideband
m=indeks modulasi=k a . A
b. Daya Sinyal pada Beban
V(volt)
2
Vc
2R
m2 V 2
8R
MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016
m2 V 2
8R
Page |
0
2
fc-fm fc
fc+fm
Vc
m Vc
c
+
+
2R
8R
8R
c. Indeks modulasi AM
Persamaan VAM dapat pula dinyatakan sebagai berikut :
m t
1+mcos cos
V AM =V C
Ket :
Vc = Amplitude carrier
m = Indeks modulasi
Indeks modulasi merupakan suatu nilai yang menunjukan kualitas modulasi. Berdasarkan
besarnya indeks modulasi (m), kondisi modulasi dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Under Modulation ( m < 1 )
V(volt)
H
h
2. Critical Modulation
Gambar 1.1.4.d
( m =Under
1 ) Modulation
V(vo
lt)
V(volt)
H
h
t
Gambar 1.1.4.f Over Modulation
Harga indeks modulasi untuk m < 1 dan indeks modulasi m = 1 adalah sebagai berikut :
H = Vc ( 1 + m )
h = Vc ( 1 - m )
m=
Hh
H +h
m=
Ket.:
H = amplitude tinggi
h = amplitude rendah
H +h
Hh
Page |
Untuk Sinyal AM-DSB-SC dan AM-SSB hanya memiliki 1 jenis indeks modulasi yaitu m=1
sedangkan untuk AM-DSB-FC memiliki ketiganya.
1.1.5. Demodulasi AM
Demodulasi AM merupakan proses pemulihan sinyal pemodulasi dari sinyal
termodulasi. Detektor selubung merupakan teknik demodulasi paling sederhana,
namun tidak cocok digunakan untuk sinyal dalam keadaan Over Modulation ( m>1 ).
Prinsip kerja detektor selubung (detektor asinkron) :
1.
Dioda : berfungsi sebagai penyearah
2.
Arus yang lewat dioda mengakibatkan terjadi proses pengisian muatan di
kapasitor sehingga V katoda naik. Saat V katoda = V anoda maka dioda off dan
terjadi proses pengosongan dari kapasitor ke resistor,sehingga V katoda akan turun
lagi dan begitu
seterusnya berulang-ulang.
Selain detector selubung (asinkron), demodulasi dapat juga dilakukan dengan detektor
sinkron. Seperti gambar dibawah ini:
Vc cosct
Page |
Prinsip dari detektor sinkron adalah menggunakan sinyal carrier yang sama pada
transmitter dan receiver. Detektor sinkron bisa digunakan untuk semua indeks modulasi,
namun rangkaian yang digunakan lebih rumit daripada detector selubung.
1.2 Frequency Modulation (FM)
Frequency Modulation merupakan salah satu jenis modulai analog dimana frekuensi
sinyal termodulasi berubah sesuai dengan sinyal info.
S(t)
Dimana :
k V
kV
m f m f
2f m
fm
fm
b
kf
k
f
1.2.1
kf
f
k
2 Vm
= Indeks modulasi FM
= Sensitivitas modulasi (Hz/Volt)
= Sensitivitas modulasi (rad/Volt)
= Deviasi frekuensi sinyal FM
f max f min
2
Vm = Amplitudo modulasi
fm = Frekuensi modulasi
fmax = Frekuensi maksimum
fmin = Frekuensi minimum
Pembentukan Sinyal FM
Page |
PFM =
VC
2
Jr
2R
VC
2R
J 0 2( J 1 J 2 J 3 ...)
2
Page |
J 0 2( J 1 J 2 J 3 ...)
2
1 maka : PFM=
VC
2R
Bila
BWcarson=2 ( +1 ) f m =2( f +f m)
1.2.2
Demodulasi FM
Suatu Demodulator frekuensi mendeteksi sinyal informasi dari sinyal FM dengan
B
LIMITTER
C
BPF
D
DIFERENSIATOR
E
DET. SELUBUNG
Diskrimina
Gambar 1.2.2.a Blok Demodulasi FM
Page |
Di D : Sinyal di D dapat dipandang sebagai sinyal AM-FM (untuk lebih jelasnya lihat
karakteristi diferensiator FM di atas).
Kf > 0
Kf < 0
Page |
Pada dasarnya, hanya terdapat dua kondisi pada sinyal PWM yakni sinyal aktif (1) dan
sinyal non aktif (0). Sinyal aktif terjadi saat sinyal mencapai puncak amplitude dan menjadi
nonaktif saat mencapai titik bawah sinyal.
Page |
sinyal yang digabungkan kembali dipisahkan sesuai dengan tujuan info masing masing
yang disebut proses demultiplexing.
Dalam hal ini, Frequency Division Multiplexing ialah teknik menggabungkan
beberapa sinyal untuk dikirimkan bersamaan dengan pembagian terhadap frekuensi (setiap
sinyal akan menggunakan frekuensi yang berbeda). Implementasi dari FDM sendiri adalah
channel televisi.
1.4 Osiloskop
Osiloskop adalah alat ukur elektronika yang berfungsi memproyeksikan bentuk
sinyal listrik agar dapat dilihat dan dipelajari. Osiloskop dilengkapi dengan tabung sinar
katode. Peranti pemancar elektron memproyeksikan sorotan elektron ke layar tabung sinar
[Link] elektron membekas pada layar. Suatu rangkaian khusus dalam osiloskop
menyebabkan sorotan bergerak berulang-ulang dari kiri ke kanan. Pengulangan ini
menyebabkan bentuk sinyal kontinyu sehingga dapat dipelajari.
1.5 Matlab
Page |
1.6 Simulink
Simulink merupakan salah satu toolbox bawaan Matlab sebagai pelengkap yang
dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan. Salah satunya adalah berkomunikasi
dengan peralatan eksternal. Komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara,
diantara salah satunya adalah dengan port serial. Dengan menggunakan toolbox simulink,
kita dapat mengakuisisi data tanpa perlu berurusan dengan rumitnya coding. Simulink dapat
di gunakan untuk membuat desain atau model yang bersifat dinamis ataupun tertanam,
simulasi ditujukan untuk mengukur kinerja dari suatu desain atau model sistem yang telah
dirancang yang sesuai hasil yang diinginkan.
Page |
berbeda
Menganalisis keluaran sinyal demodulasi AM dengan detector selubung
Menghitung daya sinyal AM
Menganalisis pengaruh level frekuensi info terhadap keluaran sinyal FM
Membandingkan gambar sinyal pemodulasi FM dengan output demodulator FM
Menggambar spectrum frekuensi FM
Mencari nilai sensitifitas modulasi FM pada nilai null carrier tertentu
Page |
Langkah Praktikum
1. Buka software Matlab R2012b
2. Pada Matlab cari file simulink yang terdiri dari file blok diagram Modulasi AMDSB-FC dan Modulasi FM
3. Gambarkan blok diagram modulasi AM-DSB-FC yang tertera di simulink
4. Cari bentuk sinyal info dan sinyal carrier, kemudian gambarkan bentuk sinyalnya
5. Mengamati Pembentukan sinyal AM dan menentukan nilai indeks modulasi (m)
Amati bentuk sinyal AM dengan melihat gambar hasil keluaran vector scope
Ubah nilai tegangan sinyal info sehingga didapatkan sinyal AM dengan
modulasi < 1
Bandingkan sinyal info pada sinyal informasi dari blok sine wave dengan
sinyal info keluaran demodulator yaitu keluaran blok low pass filter
Lakukan tiga langkah diatas pada m = 1 dan m > 1
7. Gambar sinyal AM dalam domain frekuensi untuk tiap indeks modulasi
8. Menghitung daya sinyal AM dengan rumus :
9. Untuk blok diagram AM-DSC-FC telah selesai, setelah ini buka blok diagram
modulasi FM
10. Membandingkan output demodulator FM dengan sinyal informasi (pemodulasi)
11. Menggambarkan spectrum frekuensi FM
12. Mencari nilai indeks modulasi FM dengan persamaan :
Page |
Page |
Page |
Peralatan Praktikum
Dua kabel koaksial
BNC koaksial
Osiloskop
Kabel probe
Function generator
Langkah Praktikum
1. Nyalakan EC-696/E Emitter
2. Amati sinyal pada titik A dari Transmitter pada kit hubungkan pada channel 1
Oscilloscope.
3. Hubungkan function generator output ke input emitter coax 1. Atur frekuensi 1
kHz pada function generator dan pilih sinyal Sin.
4. Naikan amplitudo dari function generator, atur pada kisaran 5Vp agar tidak
saturasi
5. Amati sinyal pada titik C dari kit Emitter hubungkan pada channel 2
oscilloscope. Amati perbedaannya dengan Sinyal pada titik A Emitter.
6. Nyalakan EC-696/R Receiver.
7. Tekan tombol RECEPTION pada transmitter dan receiver pada kit Emitter dan
Receiver dan pilih media transmisi koaksial.
8. Ubah bentuk gelombang pada function generator menjadi sinyal kotak dengan
frekuensi 1 kHz dan 1.5Vpp.
9. Letakkan channel 2 oscilloscope pada titik C receiver.
10. Naikkan frekuensi pada function generator menuju 10 kHz. Amati perubahan
sinyal yang terjadi di titik C pada receiver. Analisis hasilnya.
AM Transmitting
Sinyal carrier berupa sinyal sinus dengan frekuensi tetap sekitar 100kHz.
LPF digunakan untuk memisahkan sinyal pemodulasi dengan carriernya.
Page |
Peralatan Praktikum
- Dua kabel koaksial
- BNC
- Osiloskop
- Probe Osiloskop
- Function generator
Langkah praktikum:
1. Nyalakan EC-696/E dan tekan tombol MODULATION pada emitter untuk memilih
AM
2. Matikan Function generator
3. Amati sinyal yang muncul pada osiloskop di titik C emitter. (Tampak sinyal sinus
dengan frekuensi 120 kHz dan amplitude 30 Vpp). Sinyal ini adalah sinyal carrier dari
sinyal termodulasi AM
4. Hubungkan catu daya/function generator pada Coax 1 dari emitter dan nyalakan
Function Generator tersebut.
5. Atur sinyal sin dengan frekuensi 1 kHz pada function generator (amplitude pada
posisi setengah putaran)
6. Lihat pada osiloskop, sinyal dari titik C di emitter. (Carrier dimodulasikan oleh sinyal
1 kHz). Ubah amplitude dan bentuk gelombang dari sinyal pemodulasi dan liat
pengaruhnya pada sinyal termodulasi.
7. Amati bentuk sinyal termodulasi (Titik C Emitter) ketika frekuensi sinyal pemodulasi
(Titik A Receiver) sebanding dengan sinyal pembawa.
8. Kembalikan frekuensi pada function generator menjadi 1 kHz. Ubahlah amplitudo
sinyal pemodulasi untuk mendapatkan indeks modulasi yang berubah (m<1, m1).
Amati pengaruhnya terhadap sinyal keluaran demodulasi.
9. Hubungkan kabel koaksial ke terminal koaksial dari emitter dan receiver
10. Aktifkan input media transmisi koaksial dari receiver dengan menekan tombol
RECEPTION
11. Tampilkan sinyal dari titik A di receiver dan bandingkan dengan sinyal termodulasi di
emitter
12. Tekan tombol DEMODULATION untuk memilih AM di receiver dan hubungkan
osiloskop ke output S1 di receiver.
FM Transmitting
Sebuah VCO digunakan sebagain modulator frekuensi yang menghasilkan frekuensi
langsung yang sebanding dengan sinyal input. Sinyal termodulasi berasal dari
function generator.
Page |
Pada demodulasi, sebuah PLL digital digunakan sebagai LPF untuk menghilangkan
carriernya.
1.
2.
3.
4.
5.
Peralatan Praktikum
Dua kabel koaksial
Fiber optik
Osiloskop
Probe osiloskop
Function generator
Langkah Praktikum
1. Nyalakan EC-696/E dan tekan tombol MODULATION pada emitter untuk
memilih FM
2. Amati sinyal yang muncul pada osiloskop di titik C emitter (sinyal kotak akan
muncul dengan frekuensi 120 kHz, sinyal ini sebagai frekuensi carrier, function
generator mati)
3. Hubungkan catu daya atau function generator pada coax 1 dari emitter dengan
frekuensi 5 kHz, 5 Vpp, gelombang sinyal sinus
4. Hubungkan kabel fiber optik ke terminal O.F. dari emitter dan receiver, pilih
input O.F. dengan menekan tombol RECEPTION pada receiver
5. Aktifkan demodulator frekuensi (FM) dengan menekan
tombol
1.
2.
3.
4.
5.
oleh LPF.
Peralatan Praktikum
Dua kabel coaxial
BNC
Osiloskop
Probe Osiloskop
Function Generator
Langkah Praktikum
1. Nyalakan EC-696/E dan tekan tombol MODULATION pada emitter untuk
memilih PWM
Page |
2. Amati sinyal yang muncul pada osiloskop di titik C emitter (deretan pulsa akan
muncul dengan frekuensi 120 kHz)
3. Hubungkan catu daya/function generator pada Coax 1 dari emitter
4. Atur sinyal dengan frekuensi 20 kHz / 5 Vpp dan amplitudo medium pada
function generator. Amati sinyal di titik C emitter.
5. Hubungkan kabel koaksial ke terminal koaksial baik pada emitter dan receiver.
6. Pilih media transmisi koaksial dengan menekan tombol RECEPTION pada
receiver
7. Aktifkan demodulasi PWM dengan menekan tombol DEMODULATION pada
receiver, Output dapat diamati pada titik C receiver.
FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING
Frequency multiplexing (penggabungan frekuensi) digunakan untuk mengirim
dua sinyal berbeda melalui satu kanal.
Pada mode pertama (FDM1), dua sinyal digabungkan. Sinyal pertama di
transmisikan dalam base band atau dimodulasi dengan carrier 100 kHz. Sinyal kedua
dimodulasi FM dengan carrier 300 kHz.
Pada mode kedua, sinyal pertama harus ditransmisikan dalam base band dan
sinyal kedua dimodulasi FM dengan carrier 100 kHz.
Mode modulasi dipilih dengan menekan tombol FDM dari emitter dan sinyalsinyal yang digabung dipilih dengan menekan tombol INPUT 1 dan INPUTS 2 dari
emitter (pemilihan dilakukan independen).
Pada unit receiver, sinyal-sinyal yang tergabung dipisah oleh sejenis filter.
Sinyal-sinyal dipilih berdasarkan mode multiplexing dengan menekan tombol FDM di
receiver.
Terakhir, sinyal pertama didemodulasi. Sinyal kedua masuk ke dalam FM
demodulator (diimplementasikan dengan PLL digital). FM demodulator dikonfigurasi
otomatis untuk menerima sinyal carrier dengan frekuensi 100 kHz atau 300 kHz.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Peralatan Praktikum
Dua kabel koaksial
BNC
Mikrofon
Earphone
Osiloskop
Dua probe osiloskop
Function generator
Langkah Praktikum
Page |
1. Nyalakan EC-696/E emitter dan tekan tombol FDM untuk memilih FDM1.
2. Hubungkan function generator 1 ke input Coax.1 dan aktifkan inputnya melalui
tombol INPUTS 1 di emitter.
3. Hubungkan function generator 2 ke input Coax.2 dan aktifkan inputnya melalui
tombol INPUTS 2 di emitter.
4. Atur sinyal kotak dengan tegangan sekitar 3 Vpp / 500 Hz pada function generator 1
dan 4 Vpp / 700 Hz sinyal kotak pada function generator 2.
5. Matikan kedua function generator. Amati sinyal yang muncul di titik E emitter pada
osiloskop.
6. Nyalakan kedua function generator secara bersamaan.
7. Tekan tombol FDM emitter untuk mengaktifkan AM. Perhatikan sinyal yang muncul
pada titik E emitter.
8. Hubungkan kabel koaksial ke terminal koaksial pada emitter dan receiver, pilih input
koaksial dengan menekan tombol RECEPTION pada receiver, dan tekan tombol
FDM untuk memilih FDM1 (mode multipeksing pertama).
9. Amati sinyal di titik A emitter, titik E emitter, titik A receiver dan titik C receiver.
10. Ulangi prosedur ini untuk FM dan PWM.
11. Bandingkan sinyal keluaran filter (titik C receiver) dari ketiga modulasi di atas.
MODUL II
MODULASI DIGITAL
Tujuan Praktikum
1.
2.
3.
4.
2. Modulasi digital
Sinyal digital hanya mengenal dua keadaan yaitu biner (0 dan 1). Modulasi digital
merupakan proses penumpangan sinyal digital ke dalam sinyal pembawa. Dengan teknik
modulasi ini, sinyal digital dapat diubah menjadi sinyal analog untuk dikirimkan dan
setelah sampai ke penerima akan diubah kembali menjadi
demodulasi adalah teknik untuk mendapatkan kembali sinyal informasi dari sinyal
termodulasi.
Page |
Perbedaan mendasar antara modulasi analog dan digital terletak pada bentuk sinyal
informasinya. Pada modulasi analog, sinyal informasinya berbentuk analog dan sinyal
pembawarnya analog. Sedangkan pada modulasi digital, sinyal informasinya berbentuk
digital dan sinyal pembawanya analog.
Kelebihan dan kekurangan modulasi digital dibandingkan modulasi analog adalah
sebagai berikut:
a. Teknologi digital mempunyai suatu sinyal dalam bentuk digital yang
mampu mengirimkan data yang berbentuk kode binari (0 dan 1),
b. Sinyal digital juga mampu mengirimkan data lebih cepat dan tentunya
dengan kapasitas yang lebih besar dibandingkan sinyal analog
c. Memiliki tingkat kesalahan yang kecil, dibanding sinyal analog
d. Data akan utuh dan akan lebih terjamin pada saat dikirimkan atau
ditransmisikan di bandingkan modulasi analog
e. Lebih stabil dan tidak terpengaruh dengan pengaruh cuaca
Kelemahan modulasi digital ini adalah sebagai berikut:
a. Modulasi digital jika error sistem akan berhenti bekerja
b. Bila terjadi gangguan maka sistemnya akan langsung berhenti
JENIS-JENIS
UnipolarSINYAL NRZ :
Bipolar
NRZ L
Nonreturn-to-zero level (NRZL = tingkat NRZ-L) suadu bentuh coding yang
merepresentasikan bit nol dengan 0 level tinggi dan bit 1 = level rendah
NRZ I
MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016
Page |
Suatu kode di mana suatu transisi (low ke high atau high ke low) pada awal
suatu bit time akan dikenal sebagai biner 1 untuk bit time tersebut. Tidak ada
transisi berarti biner 0. Sehingga NRZI merupakan salah satu contoh dari
differensial encoding.
Gambar
2.1.1.c NRZ-L dan
Kelebihan dan kekurangan NRZ
:
NRZ-I
Kelebihan : mudah dan efisien
Kekurangan : komponen DC
Kurang kemampuan singkronisasi
Digunakan untuk perekaman magnetik digital
2.1.2. RZ
Sinyal dengan format Return to Zero (RZ) kembali ke level tegangan nol
sesuai dengan clock. Pada pengkodean RZ dapat berupa unipolar ataupun bipolar.
RZ Unipolar :
Gambar 2.1.2.a RZ
Unipolar
RZ Bipolar
Gambar 2.1.2.b RZ
Bipolar
Page |
2.1.4. Manchaster
Suatu kode di mana ada suatu transisi pada setengah dari periode tiap bit,
transisi low ke high mewakili 1 dan high ke low mewakili 0.
Gambar 2.1.4
Manchester
2.2.
2.2.1
Modulasi Digital
Phase Shift Keying
M-Phase Shift Keying (M-PSK) merupakan salah satu bentuk modulasi dengan cara
mengubah phasa dari frekuensi pembawa sesuai dengan informasi yang berupa data biner.
Tipe modulasi PSK ditentukan oleh nilai M, dimana M =2 n untuk M adalah jumlah symbol
dan n adalah jumlah bit di setiap simbolnya yang bernilai = 1, 2, 3, 4, dst.
Jika n = 1 maka M =21 = 2
n = 2 maka M =22 = 4
n = 3 maka M =23 = 8
Page |
[Link] BPSK
Bpsk merupakan salah satu jenis dari modulasi fasa,Teknik modulasi BPSK dapat
dinyatakan dengan mentransmisikan data yang direpresentasikan dalam 1 bit setiap satu
simbol. Karena n=1 dan M=2n makaM =21 = 2 maka ada 2 phasa yang berbeda sebagai
carriernya.
Data
1 0
Data NRZ-L
t
Carrier 1
t
Carrier 2
t
Sinyal BPSK
t
Page |
[Link].2.
Demodulasi BPSK
Pada rangakaian demodulator BPSK, balance modulator kembali digunakan,
seperti terlihat pada gambar berikut ini :
Sbpsk=X(t) cos (wct+Q)
multiplier
X
voltage comparator
LPF
Carrier recovery
FF
output data
Vref
/2
BP
R(t)
Simbol
timing
recovery
Sinyal BPSK
Squaring loop
Divided by 2
Data
Page |
Keterangan :
- Pada proses sin to square mengubah sinyal sinusoidal menjadi sinyal kotak
- Pada proses squaring loop sinyal nya dikuadratkan sehingga frekuensinya
menjadi dua kali frekuensi sebelumnya.
- Pada proses divided by 2 frekuensi dari sinyal yang berasal dari squaring loop
dibagi dua sehingganya nantinya didapat data yang sesuai dengan data masukan.
[Link].
8-PSK
Sumbu horizontal sebagai basis cosine dan sumbu vertikal sebagai basis sine.
[Link].1
Modulasi 8-PSK
Page |
Performansi lebih tinggi (error data rate lebih kecil), tapi meningkatkan
kompleksitas.
Sangat mirip dengan pengolahan matematis siyal baseband, jika ruang sinyal
(signal space) yg digunakan.
Page |
Contoh : data yang ditransmisikan 000, masuk ke receiver lalu pada output coherent
detector diukur tegangan X= 5 Volt dan Y = 2.5 Volt. Maka dikodekan sebagai 1101
berdasarkan tegangan threshold. Selanjutnya menggunakan decoder dikodekan
kembali menjadi 000 seperti semula.
Page |
Mengamati data coding dan mengukur nilai Vpp dan duty cycle
Mengukur nilai Vpp, frekuensi, dan duty cycle pada modulasi BPSK (sinyal carrier,
output modulator, dan output demodulator)
Page |
Langkah Praktikum
1. Kalibrasi probe pada Osiloskop
2. Mengatur catu daya
Hubungkan catu daya yang sesuai (digital) pada kit praktikum ADCL-01
3. Menentukan data pada S-DATA dan menentukan data coding yang digunakan
4. Mengamati data coding dan mengukur nilai Vpp, dan duty cycle dari jenis data coding
NRZ-L
carrier
yang digunakan
(SIN1,SIN2)
6. Mengamati modulasi dan demodulasi BPSK (sinyal info ,output modulator, dan
output demodulator)
probe
probe
Hubungkan
dan
pada
Page |
Page |
duty cycle
pada
carrier,output modulator).
4. Mengamati proses Demodulasi 8- PSK
Langkah Praktikum
1. Kalibrasi probe pada Osiloskop
2. Mengatur catu daya
Hubungkan catu daya yang sesuai pada kit praktikum 8-PSK TRANSMITTER
RECEIVER
Page |
Masukan 3 Bit Data yang diinginkan dengan cara tekan RESET untuk
4. Mengamati Carier Generator dan mengukur nilai Vpp, bit r ate, dan duty cycle dari
cos wt)
5. Mengamati keluaran dari sinyal hasil modulasi
6. Mengamati
output decoder)
Page |
Page |
Teorema Nyquist
Frekuensi sampling harus lebih besar dari 2 x frekuensi yang di-sampling (sekurangkurangnya memperoleh puncak dan lembah) [Teorema Nyquist]
fs > 2 fi Keterangan : fs = Frekuensi sampling
fi = Frekuensi informasi yang berharga maksimum
Menurut teorema Nyquist bila frekuensi sampling lebih kecil dari frekuensi informasi
atau sumber maka akan terjadi penumpukan frekuensi/aliasing. Sampling ideal atau impulse,
natural, dan flat topped dapat digambarkan seperti gambar 3.2 di bawah ini.
Page |
3.1.2. Multiplexing
Pada proses ini dilakukan multiplexing yaitu proses penggabungan dua sinyal
keluaran sampling dan holding yang berbentuk sinyal PAM melalui satu kanal sinyal digital
dengan aliran serial.
3.1.3. Kuantisasi
Pada proses kuantisasi hasil sampling dan holding diberikan level kuantisasi tertentu
(diberi nilai pada level tegangan pembanding terdekat) untuk kemudian dilakukan
pengkodean menjadi bentuk digital. Pada gambar 3.3 di bawah akan terlihat proses kuantisasi
sinyal analog.
Page |
Page |
Setelah keluaran proses kuantisasi, sinyal dilewatkan pada encoder PCM untuk
dikodekan dalam n bit untuk setiap level kuantisasinya. Secara lebih jelas dapat dilihat contoh
proses pembentukan PCM-3 bit pada gambar 3.7 di bawah.
Sinkronisasi bit: agar penerima mengetahui dengan tepat bit mana yang merupakan
data sinyal yang dikirim. Jika mayoritas bit di suatu perioda sampling (sepanjang slot
pada laju bit pengirim) cenderung ke bit tertentu, maka dianggap bit tersebut yang
diterima.
Sinkronisasi frame: Data dikirim dalam bentuk blok-blok yang disebut frame. Oleh
karena itu, awal dan akhir suatu frame harus jelas.
Page |
3.3.
Receiver PCM
1. D/A Converter
Pada D/A converter data yang diterima berupa sinyal digital aliran serial
kemudian diubah menjadi sinyal analog.
2. Demultiplexing
Proses demultiplexer terjadi pemisahan beberapa sinyal dari satu aliran serial
menjadi beberapa aliran paralel yang sesuai dengan kanal.
3. Filter
Sinyal yang melalui filter untuk proses pembentukan kembali (rekonstruksi)
untuk mendapatkan kembali sinyal informasi.
Page |
Peralatan praktikum
1. Modul PCM DCL-03 (Transmitter) dan PCM DCL-04 (Receiver)
2. Power Supply
3. Osiloskop
4. Kabel jumper
Page |
Page |
Langkah Praktikum
1. Kalibrasi probe pada Osiloskop
2. Mengatur catu daya
3. Mengukur nilai Vpp, frekuensi, dan duty cycle dari sinyal informasi
sinyal input 2)
Amati nilai Vpp, frekuensi, dan duty cycle dari kedua sinyal tersebut
(jumper 3) di osiloskop
Analisis perbedaannya
Hubungkan Channel 2 dengan P4
(jumper 4) di osiloskop
MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016
Page |
Analisis perbedaannya
Hubungkan blok SAMPLE AND HOLD dengan MULTIPLEXER
OUT di
MULTIPLEXER
sinyal.
Amati sinyal-sinyal tersebut
Bandingkan keluaran TX SYNC dan DATA kemudian analisis
Bandingkan keluaran TX SYNC dan PRBS kemudian analisis
Analisis hubungan antara TX SYNC, DATA, PRBS, dan TX DATA
frame
3.2
Hubungkan probe 1 dengan MUX OUT di PCM TX dan Probe 2
keluaran Demultiplexer
Analisis dan bandingkan kedua sinyal tersebut di osiloskop
Page |
Rangkailah kit PCM TX dan RX dengan Sinkronisasi Bit seperti gambar 3.1
Hubungkan probe 1 dengan MUX OUT di PCM TX dan Probe 2
keluaran Demultiplexer
Analisis dan bandingkan kedua sinyal tersebut di osiloskop
Hubungkan probe 1 dan 2 osiloskop pada OUT 1 (jumper 11) dan
B. SIMULASI
Peralatan Praktikum PCM
1. PC disertai software matlab R2012b dengan Simulink
Page |
Referensi : Modeling Communication System Using Simulink : PCM System Model Eng. Anas Alashqar
Gambar blok diagram PC
Langkah Praktikum
1. Buka Matlab R2012b
2. Ketikkan simulink pada command window, atau klik icon
untuk
Buatlah 2 blok sine wave pada Libraries DSP Toolbox > Sources, kedua
buah blok tersebut akan kita gunakan untuk membuat sinyal info. Atur nilai
amplitude info dan frekuensi info :
+ Klik pada blok sine wave atur amplitudo sinyal info 1 dan frekuensi sinyal info 1
sesuai dengan gambar dibawah ini.
Page |
+ Klik pada blok sine wave1 atur amplitudo sinyal info 1 dan frekuensi sinyal info
1 sesuai dengan gambar dibawah ini.
Buatlah blok sample and hold, blok ini akan kita fungsikan sebagai
pengambil sample dan untuk menahan sinyal agar tidak berubah
Page |
Buatlah blok mux, yang akan berfungsi sebagai penggabung dua sinyal input
Buatlah
blok
pengkuantisasi
Buatlah blok integer to bit converter, yang akan berfungsi sebagai ADC
atau berperan dalam proses encoding
Page |
, isi number of
Page |
Buatlah blok bit to integer converter yang akan berfungsi DAC, berperan
dalam proses decoding
Page |
Buatlah blok pulse generator, blok ini akan kita fungsikan sebagai
Hubungkan tiap blok seperti pada gambar blok diagram, untuk menampilkan
output receiver buatlah blok yang hampir sama seperti pada transmitter.
Page |
DAFTAR PUSTAKA
Page |