0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan64 halaman

Modul Praktikum Sistem Komunikasi 2016

Modul praktikum sistem komunikasi membahas tiga modul, yaitu modulasi analog, modulasi digital, dan pulse code modulation. Modul pertama menjelaskan prinsip kerja modulasi amplitudo, frekuensi, dan lebar pulsa serta bentuk gelombang hasil modulasi. Modul kedua membahas teknik modulasi digital seperti ask, fsk, dan psk. Modul ketiga menjelaskan konversi sinyal analog menjadi sinyal digital melalui proses sampling, kuantisasi, dan encoding.

Diunggah oleh

Setyo Nugroho
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan64 halaman

Modul Praktikum Sistem Komunikasi 2016

Modul praktikum sistem komunikasi membahas tiga modul, yaitu modulasi analog, modulasi digital, dan pulse code modulation. Modul pertama menjelaskan prinsip kerja modulasi amplitudo, frekuensi, dan lebar pulsa serta bentuk gelombang hasil modulasi. Modul kedua membahas teknik modulasi digital seperti ask, fsk, dan psk. Modul ketiga menjelaskan konversi sinyal analog menjadi sinyal digital melalui proses sampling, kuantisasi, dan encoding.

Diunggah oleh

Setyo Nugroho
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL PRAKTIKUM SISTEM

KOMUNIKASI

LABORATORIUM SISTEM KOMUNIKASI


KK TRANSIMI
FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO
UNIVERSITAS TELKOM

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

DAFTAR PENYUSUN

Pembina Laboratorium

: Dharu Arseno, ST., MT

Koordinator Asisten

: Setyo Nugroho Wibowo

1101134486

Divisi Praktikum

: Desy Agustin

1101130138

Divisi Alat

Divisi Administrasi

Vivin Fauziah Ramadhani

1101130234

Zulfikar Nurzain

1101131346

: Maulida Yumnisari

1101130195

Meutia Qoonita Noviyani

1101134359

Rahmattio Fa'is Baihaqi

1101130023

: Maghfira Rifki
Rafidah Marlasari

Divisi HRD

: Arvieda Nadya
Rizka Kaamtsaalil Salsabiilaa

Divisi Riset

: Arvieda Nadya

1101130092
1101130208
1101144148
1101130065
1101144148

Bagus Tri Astadi

1101130291

Dharmawan Candra Kusuma

1101130016

Hamdan Gustiawidi

1101144421

Sarah Shafira Wijaya

1101134409

Diperbaiki Oleh :

Hanya dipergunakan di lingkungan


Fakultas Teknik Elektro
MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

LEMBAR REVISI
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama

: Dharu Arseno, S.T., M.T.

NIP

: 02690271-1

Jabatan

: Dosen Pembina Laboratorium Sistem Komunikasi

Dengan ini menyatakan pelaksanaan Revisi Modul Sistem Komunikasi untuk Prodi Teknik
Telekomunikasi, telah dilaksanakan dengan penjelasan sebagai berikut:

N
o
1

Keterangan Revisi

Tanggal Revisi Terakhir

Revisi Bagian Pertama

27 Agustus 2016

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

LEMBAR PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama

: Dharu Arseno, ST., MT

NIP

: 02690271-1

Jabatan

: Dosen Pembina Laboratorium Sistem Komunikasi

Menerangkan dengan sesungguhnya bahwa modul praktikum ini telah direview dan akan
digunakan untuk pelaksanaan praktikum di Semester Lima Tahun Akademik 2016/2017 di
Laboratorium Sistem Komunikasi Fakultas Teknik Elektro Universitas Telkom

Bandung, 28 Agustus 2016

Mengetahui,

Dosen Pembina Lab

Ketua Kelompok Keahlian

Sistem komunikasi

[Link] Muayyadi, Ir.,MSc.,PhD

Dharu Arseno, ST., MT

NIP 93660096-1

NIP 02690271-1

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Visi & Misi


Fakultas Teknik Elektro
VISI:
Menjadi fakultas unggul berkelas dunia yang berperan aktif pada pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi elektro serta fisika, berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

MISI:
1. Menyelenggarakan pendidikan tinggi dan pendidikan berkelanjutan berstandar
internasional
2. Mengembangkan, menyebarluaskan, dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan
teknologi bidang teknik telekomunikasi, teknik komputer, fisika teknik, dan
elektroteknik, serta bekerja sama dengan industri/institusi, guna meningkatkan
kesejahteraan dan kemajuan masyarakat.
3. Mengembangkan dan membina jejaring dengan perguruan tinggi dan industri
terkemuka dalam dan luar negeri dalam rangka kerjasama pendidikan dan penelitian.
4.

Mengembangkan sumberdaya untuk mencapai keunggulan dalam pembelajaran,


penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Visi & Misi


Fakultas Teknik Elektro
VISI:
Menjadi program studi berstandar internasional dan menghasilkan sarjana berkeahlian
Sistem Elektronika, Sistem Kendali, atau Teknik Biomedika
MISI:
1. Menyelenggarakan pendidikan berstandar internasional untuk menghasilkan lulusan
yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi Sistem Elektronika, Sistem Kendali,
atau Teknik Biomedika;
2. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi Sistem
Elektronika, Sistem Kendali, dan Teknik Biomedika yang diakui secara internasional
dengan melibatkan mahasiswa secara aktif;
3. Memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi Sistem Elektronika, Sistem Kendali,
dan Teknik Biomedika untuk kesejahteraan dan kemajuan peradaban bangsa.

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

ATURAN LABORATORIUM FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO


TELKOM UNIVERSITY

Setiap Mahasiswa Fakultas Teknik Elektro yang akan menggunakan Fasilitas


Laboratorium, WAJIB mematuhi Aturan sebagai berikut :
1. Menggunakan seragam resmi Telkom University, dan Membawa Kartu Tanda
Mahasiswa (KTM) yang masih berlaku.
2. Tidak berambut gondrong untuk mahasiswa
3. Dilarang merokok dan makan minum didalam ruangan, dan membuang
sampah pada tempatnya
4. Dilarang menyimpan barang-barang milik pribadi di Laboratorium tanpa seijin
Fakultas
5. Dilarang menginap di Laboratorium tanpa seijin Fakultas
6. Jam Kerja Laboratorium dan Ruang Riset adalah 06.30 WIB sampai 22.00 WIB
7. Mahasiswa yang akan menggunakan Laboratorium dan atau ruang riset diluar
jam kerja, harus mengajukan ijin kepada Fakultas

Dekan Fakultas Teknik Elektro


Bandung, 27 Agustus 2016

Dr. Rina Pudjiastuti, Ir., MT.

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

DAFTAR ISI

DAFTAR PENYUSUN........................................................................................................1
LEMBAR REVISI...............................................................................................................2
LEMBAR PERNYATAAN..................................................................................................3
VISI MISI ...........................................................................................................................4
VISI MISI FTE....................................................................................................................5
ATURAN LABORATORIUM FTE.....................................................................................6
DAFTAR ISI........................................................................................................................7
DAFTAR GAMBAR............................................................................................................8
DAFTAR TABEL.................................................................................................................9
MODUL 0 : RUNNING MODUL........................................................................................10
MODUL 1: MODULASI ANALOG....................................................................................11
MODUL 2: MODULASI DIGITAL.....................................................................................28
MODUL 3: PULSE CODE MODULATION

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

40

Page |

DAFTAR GAMBAR

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

DAFTAR TABEL
MODUL 0
RUNNING MODUL
1.1 Tujuan
Setelah mengikuti Running Modul mahasiswa diharapkan dapat:
1. Memahami peraturan kegiatan praktikum.
2. Memahami Hak dan Kewajiban praktikan dalam kegiatan praktikum.
3. Memhami komponen penilaian kegiatan praktikum.
1.2 Peraturan Praktikum
1

Praktikum diampu oleh Dosen Mata Kuliah Praktikum dan dibantu oleh

Asisten Laboratorium dan Asisten Praktikum.


Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Sistem komunikasi sesuai jadwal yang

3
4

ditentukan.
Praktikan wajib membawa modul praktikum, kartu praktikum, dan alat tulis.
Praktikan wajib mengisi daftar hadir dan BAP praktikum dengan bolpoin

bertinta hitam.
Durasi kegiatan praktikum = 2,5 jam (150 menit).
a 15 menit untuk pengerjaan Tes Awal atau wawancara Tugas Pendahuluan
b 60 menit untuk penyampaian materi
c 45 menit untuk pengerjaan jurnal dan tes akhir
Praktikan wajib hadir minimal 75% dari seluruh pertemuan praktikum di lab.

Jika total kehadiran kurang dari 75% maka nilai Mata Praktikum = 0.
Praktikan yang datang terlambat :
<= 30 menit : diperbolehkan mengikuti praktikum tanpa tambahan waktu Tes

Awal
> 30 menit : tidak diperbolehkan mengikuti praktikum
Saat praktikum berlangsung, asisten praktikum dan praktikan:
Wajib menggunakan seragam sesuai aturan Institusi.
Wajib mematikan/ men-silent semua alat komunikasi(smartphone, tab, iPad,

dsb).
Dilarang membuka aplikasi yang tidak berhubungan dengan praktikum

yang berlangsung.
Dilarang mengubah setting software maupun hardware komputer tanpa

ijin.
Dilarang membawa makanan maupun minuman di ruang praktikum.

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Dilarang memberikan jawaban ke praktikan lain (pre-test, TP, jurnal, dan

post-test).
Dilarang menyebarkan soal pre-test, jurnal, dan post-test.
Dilarangmembuang sampah/sesuatu apapun di ruangan praktikum.
Setiap praktikan dapat mengikuti praktikum susulan maksimal 1 modul untuk satu
praktikum.
Praktikan yang dapat mengikuti praktikum susulan hanyalah praktikan yang
memenuhi syarat sesuai ketentuan Institusi, yaitu rawat inap di Rumah Sakit
(menunjukkan bukti rawat inap dan resep obat dari RS), tugas dari Institusi
(menunjukkan

surat

dinas

dari

Institusi),

atau

mendapat

musibah

(menunjukkan surat keterangan dari orangtua/ wali mahasiswa).


Persyaratan untuk praktikum susulan diserahkan sesegera mungkin ke Laboran

Fakultas Teknik Elektro untuk keperluan administrasi.


10 Pelanggaran terhadap peraturan praktikum ini akan ditindak secara tegas secara
berjenjang di lingkup Kelas, Laboratorium, Program Studi, Fakultas, hingga Institusi.
1.3 Penilaian Praktikum
1. Komponen Nilai Praktikum terdiri dari : Tugas Pendahuluan, Tes Awal, Keaktifan
Praktikum, dan Jurnal/Tugas Besar.
2. Seluruh komponen penilaian beserta pembobotannya ditentukan oleh dosen Mata
Praktikum
3. Penilaian permodul dilakukan oleh asisten praktikum, sedangkan nilai seluruh
modul diserahkan kepada Dosen Mata Praktikum.
4. Baik praktikan maupun asisten tidak diperkenankan meminta atau memberikan
tugas tambahan untuk perbaikan nilai.
5. Standar indeks dan range nilai ditentukan oleh Dosen Mata Praktikum atas
sepengetahuan Ketua Kelompok Keahlian

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

MODUL 1
MODULASI ANALOG
Tujuan Praktikum
1. Memahami prinsip kerja AM (Amplitudo Modulation), FM (Frequency Modulation), dan
2.
3.
4.
5.
6.

PWM (Pulse Width Modulation)


Mengenal bentuk-bentuk gelombang dari sinyal termodulasi
Dapat menganalisis jenis-jenis serta perubahan indeks modulasi
Mengenalkan software Matlab dan Simulink
Dapat mengetahui proses transmisi dengan teknik penggabungan kanal multiplexing
Mengenalkan jenis jenis media transmisi pada sistem komunikasi

1. MODULASI ANALOG
Modulasi analog merupakan proses penumpangan sinyal informasi yang berupa sinyal
anolog kedalam sinyal pembawa. Secara umum modulasi analog ada tiga jenis, yaitu
modulasi amplitude, modulasi frekuensi, dan modulasi phasa.
1.1 Amplitude Modulation (AM)
Modulasi amplitude merupakan proses modulasi dimana amplituda sinyal
carrier akan berubah-ubah sesuai dengan sinyal informasi. Modulasi amplitude
terdapat tiga jenis: AM DSB SC, AM SSB, AM DSB FC, dan AM VSB

VLF(t)
Gambar 1.1.a Sinyal Pemodulasi/info

VHF(t)

Gambar 1.1.b Sinyal Carrier

VAM(t)

Gambar 1.1.c Sinyal Termodulasi Amplitudo


1.1.1

AM DSB SC (AM Double Side Band Suppressed Carrier)


Dilihat dalam komponen domain frekuensi, nilai daya dari frekuensi carriernya
ditekan sehingga dianggap bernilai 0. Hal menjadikan AM DSB SC dapat menghemat
mixer
mixer
daya hingga 66,7% dari total daya yang ditransmisikan.
m(t)
m(t)
A
D
C
F

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Local oscilator

E
Local oscilator

LPF

G
Page |

Demodulator di
samping
merupakan
demodulasi
dengan
Gambar 1.1.1.b Blok Modulator
menggunakan

Gambar 1.1.1.a Blok Modulator


Transmitter

Receiver

Titik A m ( t )=Vm cos m t

Titik E Vc cos (c t + )

Titik B Sc (t) = Vc cos c t

Titik F

Vc Vc
2

Titik C=D SDSB-SC (t) = m (t) . Sc (t)

Titik G

Vc Vc
m(t )
2

Gambar spektum frekuensi AM DSB SC:


Titik A
V
Vm

VmP. Vc
2

( cos (2

+)

cos ) m(t) Vc ( t )=Vc cos c t

f
Gambar [Link]
Spektrum

0 Fc-

Fc

Fc+

Gambar 1.1.1.d Spektrum AMDSB -SC

Sinyal info

1.1.2

Titik C

AM SSB (AM Single Side Band)


Sinyal AM SSB menekan salah satu sideband dengan menggunakan filter, sehingga

akan dihasilkan sinyal SSB-LSB dan sinyal SSB-USB. Dari masing-masing single
sideband bila ditransmisikan akan dapat menghemat daya hingga 83,3% dari total daya
yang seharusnya ditransmisikan.
mixer
m(t) A

mixer
C

BPF USB

BPF LSB

Gambar 1.1.2.a Blok Modulator


Transmitter m ( t )=Vm cos t

Local
Titik
A oscilator

m(t) A

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Gambar 1.1.2.b Blok Modulator


Receiver
Vc ( t )=Vc cos t

Local oscilator
Titik B

Page |

Titik C

f c+f m
2 ( f c f m )t
2 ()t +cos
cos
VcVm

Untuk blok demodulator sama dengan AM-DSB-SC.


Gambar spektum frekuensi AM SSB-LSB:
Titik A
V(volt)
Vm

Titik D
P(Watt)
Vm . Vc
2

f
0
1.1.3

fm

Gambar 1.1.2.c Spektrum


Sinyal info

AM VSB (AM Vestigial Side Band)

f
0 fc-fm

fc

fc+fm

Gambar 1.1.2.d Spektrum


AM-SSB

Pada AM VSB dilakukan penekanan terhadap sebagian dari salah satu sideband
untuk mengurangi bandwidth yang diperlukan. AM VSB diperoleh dengan melewatkan
salah satu side band dari sinyal AM DSB dan melewatkan sebagain dari sideband
lainnya.

1.1.4

AM DSB FC (AM Double Side Band Full Carrier)


SDSB-FC(t)=Vc[1+kam(t)]cos ct

m(t)

cos ct+ 0
Gambar 1.1.4.a Blok Modulator AMDSB-FC

Lo

Sinyal keluaran untuk tiap titik adalah sebagai berikut :


Titik A
: V LF =V m cos m t

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Titik B

( c t+ o )
: V HF=cos

Titik C

: V mix =V m cos m t . cos ( c t+ o )

Titik D

: Vamp = Vc cos (c t + 0)
: V AM =( V c +k V m cos m t ) cos c t ; o =0 VAM-DSB-FC = Vc [1 +

Titik E

ka

m(t)] cos c t , o =0
Keterangan:
VLF = Persamaan sinyal info
Vm = Amplitudo sinyal info
Vamp = sinyal keluaran amplifier
ka
= konstanta modulasi

Vc

= Amplitude sinyal carrier

VAM

= Persamaan sinyal AM DSB FC

VHF

= Persamaan sinyal carrier

= Pergeseran sudut phasa

a. Spektum Frekuensi AM DSB FC (Pita Satu Sisi)


V AM =( V c +k V m cos m t ) cos c t ; o =0 V

= Vc [1 + ka m(t)] cos c t

AM-DSB-FC

Dengan persamaan trigonometri dapat disampaikan sebagai berikut :


V AM =V c cos c t+ m

Vc
V
cos ( c m ) t ] + m c [ cos ( c + m ) t ]
[
2
2

V(volt)
Vc

m. Vc
2
f
0

fc-fm

fc

fc+fm

Gambar 1.1.4.b Spektrum AM-

V AMDSB-FC
=Komponen Carrier+ Komponen Lower sideband+ Komponen Upper sideband
m=indeks modulasi=k a . A
b. Daya Sinyal pada Beban
V(volt)
2

Vc
2R
m2 V 2
8R
MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

m2 V 2
8R
Page |

0
2

Ptot =Pcarrier + PLSB + P USB=

fc-fm fc

fc+fm

Gambar 1.1.4.c Spektrum AM-DSB-FC


2
2
dengan
m 2 V 2 Daya

Vc
m Vc
c
+
+
2R
8R
8R

c. Indeks modulasi AM
Persamaan VAM dapat pula dinyatakan sebagai berikut :
m t
1+mcos cos

V AM =V C
Ket :

Vc = Amplitude carrier
m = Indeks modulasi
Indeks modulasi merupakan suatu nilai yang menunjukan kualitas modulasi. Berdasarkan
besarnya indeks modulasi (m), kondisi modulasi dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Under Modulation ( m < 1 )
V(volt)
H
h

2. Critical Modulation
Gambar 1.1.4.d
( m =Under
1 ) Modulation
V(vo
lt)

3. Over Modulation ( m > 1 )

Gambar 1.1.4.e Critical Modulation

V(volt)
H
h

t
Gambar 1.1.4.f Over Modulation

Harga indeks modulasi untuk m < 1 dan indeks modulasi m = 1 adalah sebagai berikut :
H = Vc ( 1 + m )
h = Vc ( 1 - m )

m=

Hh
H +h

Harga indeks modulasi untuk (m) > 1.


H = Vc ( 1 + m )
h = Vc ( 1 m )

m=

Ket.:
H = amplitude tinggi
h = amplitude rendah

H +h
Hh

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Untuk Sinyal AM-DSB-SC dan AM-SSB hanya memiliki 1 jenis indeks modulasi yaitu m=1
sedangkan untuk AM-DSB-FC memiliki ketiganya.
1.1.5. Demodulasi AM
Demodulasi AM merupakan proses pemulihan sinyal pemodulasi dari sinyal
termodulasi. Detektor selubung merupakan teknik demodulasi paling sederhana,
namun tidak cocok digunakan untuk sinyal dalam keadaan Over Modulation ( m>1 ).
Prinsip kerja detektor selubung (detektor asinkron) :
1.
Dioda : berfungsi sebagai penyearah
2.
Arus yang lewat dioda mengakibatkan terjadi proses pengisian muatan di
kapasitor sehingga V katoda naik. Saat V katoda = V anoda maka dioda off dan
terjadi proses pengosongan dari kapasitor ke resistor,sehingga V katoda akan turun
lagi dan begitu

seterusnya berulang-ulang.

Gambar 1.1.5.a Rangkaian Detektor


Asinkron AM

Gambar 1.1.5.b Sinyal Keluaran Detektor


Asinkron

Selain detector selubung (asinkron), demodulasi dapat juga dilakukan dengan detektor
sinkron. Seperti gambar dibawah ini:

[Vc (1+m cosmt)] x Vc cosct


Vc (1+m cosmt)] cosct
([Link]/2) cosmt

Vc cosct

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Prinsip dari detektor sinkron adalah menggunakan sinyal carrier yang sama pada
transmitter dan receiver. Detektor sinkron bisa digunakan untuk semua indeks modulasi,
namun rangkaian yang digunakan lebih rumit daripada detector selubung.
1.2 Frequency Modulation (FM)
Frequency Modulation merupakan salah satu jenis modulai analog dimana frekuensi
sinyal termodulasi berubah sesuai dengan sinyal info.
S(t)

= Vc cos [2fct + ( sin


(2fmt)) ]

Dimana :
k V

kV
m f m f
2f m
fm
fm
b
kf
k
f
1.2.1

kf

f
k

2 Vm

= Indeks modulasi FM
= Sensitivitas modulasi (Hz/Volt)
= Sensitivitas modulasi (rad/Volt)
= Deviasi frekuensi sinyal FM

f max f min
2

Vm = Amplitudo modulasi
fm = Frekuensi modulasi
fmax = Frekuensi maksimum
fmin = Frekuensi minimum

Pembentukan Sinyal FM

Gambar 1.2.a Sinyal FM

a. Daya sinyal dan bandwidth FM


Dengan menggunakan pendekatan fungsi Bessel, maka besar daya sinyal FM yaitu :

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

PFM =

VC
2
Jr
2R

VC
2R

J 0 2( J 1 J 2 J 3 ...)
2

Gambar 1.2.b. Sinyal Fungsi


Bessel

Tabel Fungsi Bessel

Tabel 1.1. Fungsi


Bessel

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

J 0 2( J 1 J 2 J 3 ...)
2

1 maka : PFM=

VC
2R

Bila

b. Spektrum frekuensi dan Bandwidth FM


Gambar spektrum frekuensi sinyal FM adalah sebagai berikut :

BW sinyal FM dapat dihitung


dengan
menggunakan
BW Carson.
Gambar
1.2.c
Spektrum Frekuensi
FM

BWcarson=2 ( +1 ) f m =2( f +f m)
1.2.2

Demodulasi FM
Suatu Demodulator frekuensi mendeteksi sinyal informasi dari sinyal FM dengan

operasi yang berlawanan dengan cara kerja modulator FM.


Blok demodulasi FM
A

B
LIMITTER

C
BPF

D
DIFERENSIATOR

E
DET. SELUBUNG

Diskrimina
Gambar 1.2.2.a Blok Demodulasi FM

Keluaran untuk tiap-tiap titik adalah sebagai berikut :


Di A : sinyal FM yang bercampur noise dan distorsi amplitudo.

Gambar 1.2.2.b Sinyal Sebelum Masuk


Demod FM

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Di B : Sinyal FM yang amplitudonya distabilkan (dikonstankan) karena akibat noise

Gambar 1.2.2.c Sinyal Keluaran Limitter

Di C : Sinyal FM untuk rentang frekuensi tertentu sesuai dengan filter BPF.

Gambar 1.2.2.d Sinyal Keluaran


Filter

Di D : Sinyal di D dapat dipandang sebagai sinyal AM-FM (untuk lebih jelasnya lihat
karakteristi diferensiator FM di atas).

Kf > 0

Kf < 0

Gambar 1.2.2.e SInyal Keluaran


Difernsiator

Di E : Outputan detektor selubung akan berupa sinyal informasi yang dikirim.

Gambar 1.2.2.f Sinyal Keluaran Detektor Selubung dan


DC Blocking

1.2 Phasa Modulation (PM)


Modulasi phasa merupakan proses modulasi dimana phasa dari sinyal pembawa
divariasikan dengan amplitudo dari sinyal informasi.

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Gambar 1.3. Sinyal Phase Modulation

1.3 Pulse Width Modulation (PWM)


Pulse Width Modulation (PWM) adalah suatu teknik modulasi untuk menghasilkan sinyal
analog berbentuk pulsa. PWM juga dikenal sebagai PDM atau Pulse Duration Modulation karena
sinyal yang dihasilkan berbentuk pulsa yang lebarnya dapat diatur dengan memanipulasi durasi
sinyalnya.

Gambar 1.4. Sinyal Pulse Width


Modulation

Pada dasarnya, hanya terdapat dua kondisi pada sinyal PWM yakni sinyal aktif (1) dan
sinyal non aktif (0). Sinyal aktif terjadi saat sinyal mencapai puncak amplitude dan menjadi
nonaktif saat mencapai titik bawah sinyal.

1.3 Frequency Division Multiplexing


Multiplexing adalah teknik menggabungkan beberapa sinyal untuk dikirimkan secara
bersamaan pada suatu kanal transmisi. Perangkat yang melakukan multiplexing disebut
multiplexer atau disebut juga dengan transceiver. Pada di sisi penerima, gabungan sinyal

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

sinyal yang digabungkan kembali dipisahkan sesuai dengan tujuan info masing masing
yang disebut proses demultiplexing.
Dalam hal ini, Frequency Division Multiplexing ialah teknik menggabungkan
beberapa sinyal untuk dikirimkan bersamaan dengan pembagian terhadap frekuensi (setiap
sinyal akan menggunakan frekuensi yang berbeda). Implementasi dari FDM sendiri adalah

channel televisi.

1.4 Osiloskop
Osiloskop adalah alat ukur elektronika yang berfungsi memproyeksikan bentuk
sinyal listrik agar dapat dilihat dan dipelajari. Osiloskop dilengkapi dengan tabung sinar
katode. Peranti pemancar elektron memproyeksikan sorotan elektron ke layar tabung sinar
[Link] elektron membekas pada layar. Suatu rangkaian khusus dalam osiloskop
menyebabkan sorotan bergerak berulang-ulang dari kiri ke kanan. Pengulangan ini
menyebabkan bentuk sinyal kontinyu sehingga dapat dipelajari.
1.5 Matlab

Gambar 1.5. Tiga Kanal Yang di


Multiplexing

Matlab (Matrix Laboratory) adalah sebuah program yang dikembangkan dengan


keunggulan penanganan operasi terkait dengan matematika. Matlab merupakan bahasa
pemrograman yang sangat optimal untuk komputasi matriks. Karena dalam toolbox matlab
terdapat tool yang dapat digunakan untuk mendesain suatu system dan mensimulasikannya
sehingga seorang engineer bisa mendapatkan data tanpa perlu melakukan eksperimen.
Dengan menggunakan matlab kita juga diberi kemudahan untuk mendesain sebuah program
aplikasi berbasis grafik interface/GUI sehingga pengguna dapat lebih mudah dalam
mengoperasikannya.

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

1.6 Simulink
Simulink merupakan salah satu toolbox bawaan Matlab sebagai pelengkap yang
dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan. Salah satunya adalah berkomunikasi
dengan peralatan eksternal. Komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara,
diantara salah satunya adalah dengan port serial. Dengan menggunakan toolbox simulink,
kita dapat mengakuisisi data tanpa perlu berurusan dengan rumitnya coding. Simulink dapat
di gunakan untuk membuat desain atau model yang bersifat dinamis ataupun tertanam,
simulasi ditujukan untuk mengukur kinerja dari suatu desain atau model sistem yang telah
dirancang yang sesuai hasil yang diinginkan.

PROSEDUR PRAKTIKUM MODULASI ANALOG


A. SIMULASI MODULASI AM DAN FM
Peralatan Praktikum
1. PC yang sudah terinstall software Matlab R2012b dengan simulink
Analisis dalam Praktikum

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

1. Menghitung indeks modulasi


2. Menganalisis perubahan Vinfo terhadap indeks modulasi
3. Menggambarkan bentuk spectrum sinyal AM untuk kondisi indeks modulasi yang
4.
5.
6.
7.
8.
9.

berbeda
Menganalisis keluaran sinyal demodulasi AM dengan detector selubung
Menghitung daya sinyal AM
Menganalisis pengaruh level frekuensi info terhadap keluaran sinyal FM
Membandingkan gambar sinyal pemodulasi FM dengan output demodulator FM
Menggambar spectrum frekuensi FM
Mencari nilai sensitifitas modulasi FM pada nilai null carrier tertentu

Blok diagram Modulasi AM-DSB-FC

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Blok diagram modulasi FM

Langkah Praktikum
1. Buka software Matlab R2012b
2. Pada Matlab cari file simulink yang terdiri dari file blok diagram Modulasi AMDSB-FC dan Modulasi FM
3. Gambarkan blok diagram modulasi AM-DSB-FC yang tertera di simulink
4. Cari bentuk sinyal info dan sinyal carrier, kemudian gambarkan bentuk sinyalnya
5. Mengamati Pembentukan sinyal AM dan menentukan nilai indeks modulasi (m)
Amati bentuk sinyal AM dengan melihat gambar hasil keluaran vector scope
Ubah nilai tegangan sinyal info sehingga didapatkan sinyal AM dengan

m < 1, catat tegangan infonya


Ubah nilai tegangan sinyal info sehingga didapatkan sinyal AM dengan

m > 1, catat tegangan infonya


6. Membandingkan sinyal hasil demodulasi AM dengan detektor selubung untuk
beberapa nilai indeks modulasi
Atur tegangan info pada sinyal informasi sehingga diperoleh indeks

modulasi < 1
Bandingkan sinyal info pada sinyal informasi dari blok sine wave dengan

sinyal info keluaran demodulator yaitu keluaran blok low pass filter
Lakukan tiga langkah diatas pada m = 1 dan m > 1
7. Gambar sinyal AM dalam domain frekuensi untuk tiap indeks modulasi
8. Menghitung daya sinyal AM dengan rumus :

9. Untuk blok diagram AM-DSC-FC telah selesai, setelah ini buka blok diagram
modulasi FM
10. Membandingkan output demodulator FM dengan sinyal informasi (pemodulasi)
11. Menggambarkan spectrum frekuensi FM
12. Mencari nilai indeks modulasi FM dengan persamaan :

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

13. Menggambarkan spectrum frekuensi FM dengan indek smodulasi yang berbeda


dengan nilai indeks modulasi 2,4; 5,6; dan 8,6

B. PERCOBAAN PROSES BASEBAND TRANSMITTING, AM, FM, PWM, DAN

FDM DENGAN MENGGUNAKAN EC-696


Penjelasan Singkat
Pada percobaan praktikum dengan peralatan EC-696 ini kita dapat melakukan
simulasi berbagai modulasi analog seperti baseband, AM, FM, dan PWM. Serta dapat
melakukan simulasi FDM. Selain itu pada tiap modulasi kita dapat membandingkan
kualitas sinyal termodulasi ketika dilewati oleh media transmisi yang berbeda seperti
kabel koaksial, kabel fiber optic, dan gelombang radio.

Gambar EC-696/E emitter


MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Gambar EC-696/E receiver

Gambar Baseband Transmitting dengan Kit EC-696/E


Analisis dalam Praktikum
1. Mengetahui keterkaitan sinyal sinus dengan sinyal kotak
2. Menganalisis perbedaan dari tiap tiap modulasi
MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

3. Menganalisis penyebab terjadinya interferensi


4. Mengetahui pengaruh indeks modulasi terhadap sinyal termodulasi AM
5. Mengetahui proses transmisi suara manusia
6. Mengenalkan karakteristik sinyal PWM
7. Menganalisis pengaruh perubahan amplitudo sinyal info pada modulasi AM
8. Menganalisis pengaruh perubahan frekuensi info pada modulasi FM
9. Menganalisis pengaruh perubahan frekuensi dan tegangan pada modulasi PWM
10. Mengenalkan teknik multiplexing
11. Mencari urutan media transmisi dari yang paling baik hingga yang paling buruk
12. Menentukan jenis modulasi yang paling baik
13. Menganalisis perbedaan dari tiap tiap modulasi
Baseband Transmitting
Amplitudo sinyal terkirim dibatasi sekitar 5Vp agar rangkaian tidak bersaturasi.
-

Peralatan Praktikum
Dua kabel koaksial
BNC koaksial
Osiloskop
Kabel probe
Function generator
Langkah Praktikum
1. Nyalakan EC-696/E Emitter
2. Amati sinyal pada titik A dari Transmitter pada kit hubungkan pada channel 1
Oscilloscope.
3. Hubungkan function generator output ke input emitter coax 1. Atur frekuensi 1
kHz pada function generator dan pilih sinyal Sin.
4. Naikan amplitudo dari function generator, atur pada kisaran 5Vp agar tidak
saturasi
5. Amati sinyal pada titik C dari kit Emitter hubungkan pada channel 2
oscilloscope. Amati perbedaannya dengan Sinyal pada titik A Emitter.
6. Nyalakan EC-696/R Receiver.
7. Tekan tombol RECEPTION pada transmitter dan receiver pada kit Emitter dan
Receiver dan pilih media transmisi koaksial.
8. Ubah bentuk gelombang pada function generator menjadi sinyal kotak dengan
frekuensi 1 kHz dan 1.5Vpp.
9. Letakkan channel 2 oscilloscope pada titik C receiver.
10. Naikkan frekuensi pada function generator menuju 10 kHz. Amati perubahan
sinyal yang terjadi di titik C pada receiver. Analisis hasilnya.

AM Transmitting
Sinyal carrier berupa sinyal sinus dengan frekuensi tetap sekitar 100kHz.
LPF digunakan untuk memisahkan sinyal pemodulasi dengan carriernya.

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Peralatan Praktikum
- Dua kabel koaksial
- BNC
- Osiloskop
- Probe Osiloskop
- Function generator
Langkah praktikum:
1. Nyalakan EC-696/E dan tekan tombol MODULATION pada emitter untuk memilih
AM
2. Matikan Function generator
3. Amati sinyal yang muncul pada osiloskop di titik C emitter. (Tampak sinyal sinus
dengan frekuensi 120 kHz dan amplitude 30 Vpp). Sinyal ini adalah sinyal carrier dari
sinyal termodulasi AM
4. Hubungkan catu daya/function generator pada Coax 1 dari emitter dan nyalakan
Function Generator tersebut.
5. Atur sinyal sin dengan frekuensi 1 kHz pada function generator (amplitude pada
posisi setengah putaran)
6. Lihat pada osiloskop, sinyal dari titik C di emitter. (Carrier dimodulasikan oleh sinyal
1 kHz). Ubah amplitude dan bentuk gelombang dari sinyal pemodulasi dan liat
pengaruhnya pada sinyal termodulasi.
7. Amati bentuk sinyal termodulasi (Titik C Emitter) ketika frekuensi sinyal pemodulasi
(Titik A Receiver) sebanding dengan sinyal pembawa.
8. Kembalikan frekuensi pada function generator menjadi 1 kHz. Ubahlah amplitudo
sinyal pemodulasi untuk mendapatkan indeks modulasi yang berubah (m<1, m1).
Amati pengaruhnya terhadap sinyal keluaran demodulasi.
9. Hubungkan kabel koaksial ke terminal koaksial dari emitter dan receiver
10. Aktifkan input media transmisi koaksial dari receiver dengan menekan tombol
RECEPTION
11. Tampilkan sinyal dari titik A di receiver dan bandingkan dengan sinyal termodulasi di
emitter
12. Tekan tombol DEMODULATION untuk memilih AM di receiver dan hubungkan
osiloskop ke output S1 di receiver.
FM Transmitting
Sebuah VCO digunakan sebagain modulator frekuensi yang menghasilkan frekuensi
langsung yang sebanding dengan sinyal input. Sinyal termodulasi berasal dari
function generator.

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Pada demodulasi, sebuah PLL digital digunakan sebagai LPF untuk menghilangkan
carriernya.
1.
2.
3.
4.
5.

Peralatan Praktikum
Dua kabel koaksial
Fiber optik
Osiloskop
Probe osiloskop
Function generator
Langkah Praktikum
1. Nyalakan EC-696/E dan tekan tombol MODULATION pada emitter untuk
memilih FM
2. Amati sinyal yang muncul pada osiloskop di titik C emitter (sinyal kotak akan
muncul dengan frekuensi 120 kHz, sinyal ini sebagai frekuensi carrier, function
generator mati)
3. Hubungkan catu daya atau function generator pada coax 1 dari emitter dengan
frekuensi 5 kHz, 5 Vpp, gelombang sinyal sinus
4. Hubungkan kabel fiber optik ke terminal O.F. dari emitter dan receiver, pilih
input O.F. dengan menekan tombol RECEPTION pada receiver
5. Aktifkan demodulator frekuensi (FM) dengan menekan

tombol

DEMODULATION pada receiver, output dapat diamati pada titik C receiver.


6. Amati keluaran sinyal di titik A emitter, titik C emitter, titik A receiver, dan
titik C receiver.
PWM Transmitting
PWM diperoleh dengan membandingkan sinyal pemodulasi dengan sinyal segitiga
osilator. Sinyal pemodulasi ditampilkan langsung pada output pembanding. Nilai
medium sinyal PWM sebanding dengan sinyal pemodulasi sehingga mudah di filter

1.
2.
3.
4.
5.

oleh LPF.
Peralatan Praktikum
Dua kabel coaxial
BNC
Osiloskop
Probe Osiloskop
Function Generator

Langkah Praktikum
1. Nyalakan EC-696/E dan tekan tombol MODULATION pada emitter untuk
memilih PWM

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

2. Amati sinyal yang muncul pada osiloskop di titik C emitter (deretan pulsa akan
muncul dengan frekuensi 120 kHz)
3. Hubungkan catu daya/function generator pada Coax 1 dari emitter
4. Atur sinyal dengan frekuensi 20 kHz / 5 Vpp dan amplitudo medium pada
function generator. Amati sinyal di titik C emitter.
5. Hubungkan kabel koaksial ke terminal koaksial baik pada emitter dan receiver.
6. Pilih media transmisi koaksial dengan menekan tombol RECEPTION pada
receiver
7. Aktifkan demodulasi PWM dengan menekan tombol DEMODULATION pada
receiver, Output dapat diamati pada titik C receiver.
FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING
Frequency multiplexing (penggabungan frekuensi) digunakan untuk mengirim
dua sinyal berbeda melalui satu kanal.
Pada mode pertama (FDM1), dua sinyal digabungkan. Sinyal pertama di
transmisikan dalam base band atau dimodulasi dengan carrier 100 kHz. Sinyal kedua
dimodulasi FM dengan carrier 300 kHz.
Pada mode kedua, sinyal pertama harus ditransmisikan dalam base band dan
sinyal kedua dimodulasi FM dengan carrier 100 kHz.
Mode modulasi dipilih dengan menekan tombol FDM dari emitter dan sinyalsinyal yang digabung dipilih dengan menekan tombol INPUT 1 dan INPUTS 2 dari
emitter (pemilihan dilakukan independen).
Pada unit receiver, sinyal-sinyal yang tergabung dipisah oleh sejenis filter.
Sinyal-sinyal dipilih berdasarkan mode multiplexing dengan menekan tombol FDM di
receiver.
Terakhir, sinyal pertama didemodulasi. Sinyal kedua masuk ke dalam FM
demodulator (diimplementasikan dengan PLL digital). FM demodulator dikonfigurasi
otomatis untuk menerima sinyal carrier dengan frekuensi 100 kHz atau 300 kHz.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Peralatan Praktikum
Dua kabel koaksial
BNC
Mikrofon
Earphone
Osiloskop
Dua probe osiloskop
Function generator
Langkah Praktikum

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

1. Nyalakan EC-696/E emitter dan tekan tombol FDM untuk memilih FDM1.
2. Hubungkan function generator 1 ke input Coax.1 dan aktifkan inputnya melalui
tombol INPUTS 1 di emitter.
3. Hubungkan function generator 2 ke input Coax.2 dan aktifkan inputnya melalui
tombol INPUTS 2 di emitter.
4. Atur sinyal kotak dengan tegangan sekitar 3 Vpp / 500 Hz pada function generator 1
dan 4 Vpp / 700 Hz sinyal kotak pada function generator 2.
5. Matikan kedua function generator. Amati sinyal yang muncul di titik E emitter pada
osiloskop.
6. Nyalakan kedua function generator secara bersamaan.
7. Tekan tombol FDM emitter untuk mengaktifkan AM. Perhatikan sinyal yang muncul
pada titik E emitter.
8. Hubungkan kabel koaksial ke terminal koaksial pada emitter dan receiver, pilih input
koaksial dengan menekan tombol RECEPTION pada receiver, dan tekan tombol
FDM untuk memilih FDM1 (mode multipeksing pertama).
9. Amati sinyal di titik A emitter, titik E emitter, titik A receiver dan titik C receiver.
10. Ulangi prosedur ini untuk FM dan PWM.
11. Bandingkan sinyal keluaran filter (titik C receiver) dari ketiga modulasi di atas.
MODUL II
MODULASI DIGITAL
Tujuan Praktikum
1.
2.
3.
4.

Mengetahui perbedaan komunikasi analog dengan komunikasi digital


Mampu memahami sistem komunikasi digital jenis BPSK dan 8PSK
Mengamati dan menelusuri proses modulasi dan demodulasi BPSK dan 8PSK
Mengamati keluaran sinyal pada outputan
masing-masing modulator dan
demodulator serta dapat mengerti jalannya proses tersebut
5. Dapat memahami istilah-istilah bitrate dan bandwidth untuk modulasi BPSK dan
8PSK.

2. Modulasi digital
Sinyal digital hanya mengenal dua keadaan yaitu biner (0 dan 1). Modulasi digital
merupakan proses penumpangan sinyal digital ke dalam sinyal pembawa. Dengan teknik
modulasi ini, sinyal digital dapat diubah menjadi sinyal analog untuk dikirimkan dan
setelah sampai ke penerima akan diubah kembali menjadi

sinyal digital. Teknik

demodulasi adalah teknik untuk mendapatkan kembali sinyal informasi dari sinyal
termodulasi.

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Perbedaan mendasar antara modulasi analog dan digital terletak pada bentuk sinyal
informasinya. Pada modulasi analog, sinyal informasinya berbentuk analog dan sinyal
pembawarnya analog. Sedangkan pada modulasi digital, sinyal informasinya berbentuk
digital dan sinyal pembawanya analog.
Kelebihan dan kekurangan modulasi digital dibandingkan modulasi analog adalah
sebagai berikut:
a. Teknologi digital mempunyai suatu sinyal dalam bentuk digital yang
mampu mengirimkan data yang berbentuk kode binari (0 dan 1),
b. Sinyal digital juga mampu mengirimkan data lebih cepat dan tentunya
dengan kapasitas yang lebih besar dibandingkan sinyal analog
c. Memiliki tingkat kesalahan yang kecil, dibanding sinyal analog
d. Data akan utuh dan akan lebih terjamin pada saat dikirimkan atau
ditransmisikan di bandingkan modulasi analog
e. Lebih stabil dan tidak terpengaruh dengan pengaruh cuaca
Kelemahan modulasi digital ini adalah sebagai berikut:
a. Modulasi digital jika error sistem akan berhenti bekerja
b. Bila terjadi gangguan maka sistemnya akan langsung berhenti

2.1 Data Coding


2.1.1 NRZ
Sinyal non return to zero adalah format yang paling mudah untuk dihasilkan
karena hampir sama dengan bentuk sinyal masukannya. Sinyal NRZ tidak kembali
ke level nol sesuai clock. Pengkodean NRZ biasa digunakan untuk komunikasi
dengan kecepatan rendah dengan interface transmisi sinkronus dan asinkronus.
NRZ Unipolar :
NRZ Bipolar :

Gambar 2.1.1.a NRZ

Gambar 2.1.1.b NRZ

JENIS-JENIS
UnipolarSINYAL NRZ :
Bipolar
NRZ L
Nonreturn-to-zero level (NRZL = tingkat NRZ-L) suadu bentuh coding yang
merepresentasikan bit nol dengan 0 level tinggi dan bit 1 = level rendah
NRZ I
MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Suatu kode di mana suatu transisi (low ke high atau high ke low) pada awal
suatu bit time akan dikenal sebagai biner 1 untuk bit time tersebut. Tidak ada
transisi berarti biner 0. Sehingga NRZI merupakan salah satu contoh dari
differensial encoding.

Gambar
2.1.1.c NRZ-L dan
Kelebihan dan kekurangan NRZ
:
NRZ-I
Kelebihan : mudah dan efisien
Kekurangan : komponen DC
Kurang kemampuan singkronisasi
Digunakan untuk perekaman magnetik digital

2.1.2. RZ
Sinyal dengan format Return to Zero (RZ) kembali ke level tegangan nol
sesuai dengan clock. Pada pengkodean RZ dapat berupa unipolar ataupun bipolar.
RZ Unipolar :

Gambar 2.1.2.a RZ
Unipolar

RZ Bipolar

Gambar 2.1.2.b RZ
Bipolar

2.1.3. Bipolar AMI


Format BIPOLAR - AMI (Alternate Mark Inversion) adalah alternate 1 inversion
atau pembalikan 1 yang berganti-ganti. Dengan kata lain suatu kode dimana bit nol
atau 0 diwakili dengan tidak adanya line sinyal dan bit 1 diwakili oleh suatu pulsa
positif atau negatif..
MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Gambar 2.1.3. Bipolar


AMI

2.1.4. Manchaster
Suatu kode di mana ada suatu transisi pada setengah dari periode tiap bit,
transisi low ke high mewakili 1 dan high ke low mewakili 0.

Gambar 2.1.4
Manchester

2.2.
2.2.1

Modulasi Digital
Phase Shift Keying

M-Phase Shift Keying (M-PSK) merupakan salah satu bentuk modulasi dengan cara
mengubah phasa dari frekuensi pembawa sesuai dengan informasi yang berupa data biner.
Tipe modulasi PSK ditentukan oleh nilai M, dimana M =2 n untuk M adalah jumlah symbol
dan n adalah jumlah bit di setiap simbolnya yang bernilai = 1, 2, 3, 4, dst.
Jika n = 1 maka M =21 = 2

Tipe modulasi BPSK (Binary Phase Shift Keying)

n = 2 maka M =22 = 4

Tipe modulasi QPSK (Quadrature Phase Shift Keying)

n = 3 maka M =23 = 8

Tipe modulasi 8 PSK

n = 4 maka M =24 =16

Tipe modulasi 16 PSK dst...

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

[Link] BPSK

Bpsk merupakan salah satu jenis dari modulasi fasa,Teknik modulasi BPSK dapat
dinyatakan dengan mentransmisikan data yang direpresentasikan dalam 1 bit setiap satu
simbol. Karena n=1 dan M=2n makaM =21 = 2 maka ada 2 phasa yang berbeda sebagai
carriernya.

[Link].1 Modulasi BPSK


Jadi pada modulasi BPSK informasi yang dibawa akan mengubah fasa sinyal
pembawa. Proses pembentukan sinyal BPSK dapat dijelaskan sebagai berikut:

Data

1 0

Data NRZ-L
t
Carrier 1
t
Carrier 2
t
Sinyal BPSK
t

Proses modulasi BPSK


Gambar [Link].1 Proses
Modulasi BPSK

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

[Link].2.
Demodulasi BPSK
Pada rangakaian demodulator BPSK, balance modulator kembali digunakan,
seperti terlihat pada gambar berikut ini :
Sbpsk=X(t) cos (wct+Q)

multiplier
X

voltage comparator

LPF

Carrier recovery

FF

output data

Vref

/2

BP

R(t)

Simbol
timing
recovery

Gambar [Link].2.a Gambar diagram blok demodulator BPSK

Sinyal BPSK

Sin to square conversion

Squaring loop

Divided by 2

Data

Gambar [Link].2.b Gambar demodulasi BPSK

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Keterangan :
- Pada proses sin to square mengubah sinyal sinusoidal menjadi sinyal kotak
- Pada proses squaring loop sinyal nya dikuadratkan sehingga frekuensinya
menjadi dua kali frekuensi sebelumnya.
- Pada proses divided by 2 frekuensi dari sinyal yang berasal dari squaring loop
dibagi dua sehingganya nantinya didapat data yang sesuai dengan data masukan.

[Link].

8-PSK

8 PSK merupakan bagian dari modulasi digital yang menyampaikan data


dengan memodulasi sinyal informasi ke dalam carrier yang berbeda fasanya. Salah
satu jenis PSK adalah 8-PSK. Teknik modulasi 8-PSK dapat dinyatakan dengan
mentransmisikan data yang direpresentasikan dalam 3 bit setiap satu simbol. Karena
n=3 dan M=2n makaM =23 = 8 maka ada 8 phasa yang berbeda sebagai carriernya.

Diagram konstelasi 8PSK

Gambar [Link]. Gambar diagram Konstelasi

Sumbu horizontal sebagai basis cosine dan sumbu vertikal sebagai basis sine.

[Link].1

Modulasi 8-PSK

Gambar [Link].1..a Modulasi 8PSK

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Data dan clock sebagai sinyal input


Blok diagram modulator 8PSK adalah sebagai berikut :

Gambar [Link].1.b Blok diagram modulator 8PSK

[Link].2. Demodulasi 8 PSK


Menggunakan prinsip Coherent Detection / Synchronous Detection
- Receiver memanfaatkan pemahaman tentang fase carrier untuk mendeteksi
sinyal.
-

Perlu estimasi fasa yang kuat (dan frekuensi juga).

Performansi lebih tinggi (error data rate lebih kecil), tapi meningkatkan
kompleksitas.

Sangat mirip dengan pengolahan matematis siyal baseband, jika ruang sinyal
(signal space) yg digunakan.

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Demodulasi dengan detector coherent

Tabel 2.1 Demodulasi Detector Coherent

Contoh : data yang ditransmisikan 000, masuk ke receiver lalu pada output coherent
detector diukur tegangan X= 5 Volt dan Y = 2.5 Volt. Maka dikodekan sebagai 1101
berdasarkan tegangan threshold. Selanjutnya menggunakan decoder dikodekan
kembali menjadi 000 seperti semula.

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

PROSEDUR PRAKTIKUM MODULASI DIGITAL


A. PROSEDUR PRAKTIKUM BPSK
Peralatan Praktikum
1. Kit praktikum: modul ADCL-01
2. Catu daya
3. Osiloskop
4. Jumper dan probe

Gambar kit praktikum Modul BPSK

Analisis dalam Praktikum


1
2

Mengamati data coding dan mengukur nilai Vpp dan duty cycle
Mengukur nilai Vpp, frekuensi, dan duty cycle pada modulasi BPSK (sinyal carrier,
output modulator, dan output demodulator)

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Langkah Praktikum
1. Kalibrasi probe pada Osiloskop
2. Mengatur catu daya

Hubungkan catu daya yang sesuai (digital) pada kit praktikum ADCL-01

3. Menentukan data pada S-DATA dan menentukan data coding yang digunakan

Atur switch pada S-DATA dengan nilai bit yang diinginkan


Amati nilai Vpp dan duty cycle dengan menyambungkan S-DATA dengan Osiloskop

4. Mengamati data coding dan mengukur nilai Vpp, dan duty cycle dari jenis data coding

NRZ-L

Hubungkan S-DATA ke DATA IN dengan jumper


Hubungkan NRZ-L OUT dengan osiloskop
Amati nilai Vpp dan duty cycle

5. Mengamati sinyal carrier

hubungan probe SIN 1, SIN 2 dengan osiloskop

Catat dan analisis nilai Vpp dan frekuensi tiap- tiap

carrier

yang digunakan

(SIN1,SIN2)
6. Mengamati modulasi dan demodulasi BPSK (sinyal info ,output modulator, dan
output demodulator)

probe

1 pada keluaran S-DATA

probe

Hubungkan

keluaran BPSK(MOD OUT), analisis hasilnya


Hubungkan jumper NRZ-L OUT dengan jumper C1
Hubungkan probe 3 osiloskop dengan b(f) OUT di block demodulator (jumper

MOD OUT MODULATOR dengan MOD IN DEMODULATOR)


analisis hasilnya

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

dan

pada

Page |

B. PROSEDUR PRAKTIKUM 8 PSK


Peralatan Praktikum
1. Kit praktikum: 8- PSK TRANSMITTER RECEIVER
2. Catu daya
3. Osiloskop
4. Jumper dan probe

Gambar Kit Praktikum 8-PSK

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Analisis dalam Praktikum


1. Mengamati data coding encoder 3 to 4 bit

2. Mengamati Sinyal Carrier dari carrier generator


3. Mengamati nilai Vpp, frekuensi, dan

duty cycle

pada

modulasi 8-PSK (sinyal

carrier,output modulator).
4. Mengamati proses Demodulasi 8- PSK

Langkah Praktikum
1. Kalibrasi probe pada Osiloskop
2. Mengatur catu daya

Hubungkan catu daya yang sesuai pada kit praktikum 8-PSK TRANSMITTER
RECEIVER

3. SW1 dalam kondisi posisi STEP


MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Masukan 3 Bit Data yang diinginkan dengan cara tekan RESET untuk

mengembalikan ke Initial state.


Tahan tombol DATA dengan tekan CLOCK 1 kali untuk bit 1
Tekan Clock 1 kali untuk bit 0
Lalu catat hasilnya berdasarkan output dari LED D3, D4 dan D5
Analisislah keluaran dari decoder berdasarkan output LED D6, D7, dan D8

4. Mengamati Carier Generator dan mengukur nilai Vpp, bit r ate, dan duty cycle dari

beberapa Carrier Generator


Hubungkan probe 1 ke port B5, B6, B7 dan B8.
Catat dan analisis tiap-tiap carrier yang digunakan (COS wt, SIN wt, -SI N wt,

cos wt)
5. Mengamati keluaran dari sinyal hasil modulasi

Hubungkan port B13 (Tx) ke Osiloskop


Catat Vpp, Frekuensi dan Duty Cycle nya.

6. Mengamati

Demodulasi 8-PSK (output coherent detector, output threshold, dan

output decoder)

Hubungkan port B16 dan B19 ke osiloskop, lalu catat Vpp-nya.


Amati keluaran Bit dari threshold dari LED D10,D11,D12,D13
Amati keluaran 3 bit decoder dan bandingkan dengan data di pengirim.

MODUL III PCM


MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

(PULSE CODE MODULATION)


Tujuan Praktikum
1. Mengetahui prinsip kerja PCM meliputi proses pencuplikan, kuantisasi, pengkodean
ADC dan DAC.
2. Mengetahui proses pada transmiter dan receiver PCM.
3. Mengamati proses pembentukan sinyal pada masing-masing tingkat serta dapat
mengerti dan menerangkan proses tersebut.
3.1 Transmitter PCM

Gambar 3.1 Blok Transmitter


PCM

Pada transmitter PCM, prosesnya meliputi :


3.1.1 Sampling
Sampling merupakan proses pengambilan sample atau contoh besaran sinyal analog
pada titik tertentu secara teratur dan berurutan. Ada 3 jenis sampling, yaitu sampling ideal
atau impulse, natural, dan flat topped.
Sampling natural mengambil nilai amplituda dari suatu sinyal info pada suatu selang
waktu, dan nilai amplituda tersebut nantinya akan mengikuti bentuk gelombang sinyal
info. Pada umumnya dan yang paling mudah diimplementasikan yaitu metode sampling
dengan menggunakan sampling dan holding. Proses ini disebut juga sampling flat topped.
Sampling flat topped mengambil amplituda pada selang waktu tertentu juga, akan tetapi
nilai amplitudanya ditahan setelah mencapai nilai amplituda tertentu dari suatu sinyal info.
Holding merupakan penahanan pada level tegangan tertentu sehingga sinyal hasil
sampling mempunyai nilai amplituda yang konstan. Keluaran proses sampling dan
holding berupa gelombang persegi dengan frekuensi tetap dan mempunyai amplitudo yang
sesuai dengan sinyal informasinya disebut sinyal Pulse Amplitude Modulation ( PAM ).
MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Gambar 3.1.1.a Proses


Sampling

Teorema Nyquist
Frekuensi sampling harus lebih besar dari 2 x frekuensi yang di-sampling (sekurangkurangnya memperoleh puncak dan lembah) [Teorema Nyquist]
fs > 2 fi Keterangan : fs = Frekuensi sampling
fi = Frekuensi informasi yang berharga maksimum
Menurut teorema Nyquist bila frekuensi sampling lebih kecil dari frekuensi informasi
atau sumber maka akan terjadi penumpukan frekuensi/aliasing. Sampling ideal atau impulse,
natural, dan flat topped dapat digambarkan seperti gambar 3.2 di bawah ini.

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Gambar 3.1.1.b Jenis- jenis


Sampling

3.1.2. Multiplexing
Pada proses ini dilakukan multiplexing yaitu proses penggabungan dua sinyal
keluaran sampling dan holding yang berbentuk sinyal PAM melalui satu kanal sinyal digital
dengan aliran serial.
3.1.3. Kuantisasi
Pada proses kuantisasi hasil sampling dan holding diberikan level kuantisasi tertentu
(diberi nilai pada level tegangan pembanding terdekat) untuk kemudian dilakukan
pengkodean menjadi bentuk digital. Pada gambar 3.3 di bawah akan terlihat proses kuantisasi
sinyal analog.

Gambar 3.1.3.a Proses


Kuantisasi

Berdasarkan perbedaan nilai V (step kuantisasi), kuantisasi dapat dibedakan menjadi


dua jenis yaitu:
1. Kuantisasi uniform adalah jenis kuantisasi yang mengkodekan sinyal ke dalam
level-level tertentu dengan jarak yang sama antar level.
2. Kuantisasi non-uniform adalah jenis kuantisasi yang mengkodekan sinyal ke
dalam level-level tertentu dengan jarak antar level yang tidak sama.

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Gambar 3.1.3.b Kuantisasi uniform dan non


uniform

Sedangkan berdasarkan posisi sinyal kuantisasi terhadap sumbu tegangan


terdapat dua jenis sinyal kuantisasi, yaitu kuantisasi midrate dan midrise. Gambar 3.5 di
bawah menggambarkan kuantisasi unifom midrate dan midrise dengan pengkodean PCM3bit, sehingga akan dihasilkan 23=8 level kuantisasi.

Gambar 3.1.3.c Kuantisasi uniform midrate


dan midrise

3.1.4. Pengkodean (Encoding)

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Setelah keluaran proses kuantisasi, sinyal dilewatkan pada encoder PCM untuk
dikodekan dalam n bit untuk setiap level kuantisasinya. Secara lebih jelas dapat dilihat contoh
proses pembentukan PCM-3 bit pada gambar 3.7 di bawah.

Gambar 3.1.4 Proses


Encoding

3.2 Timing dan Sinkronisasi PCM


Untuk mensinkronkan semua tahapan tersebut diperlukan sinyal pewaktu yang
sinkron. Untuk mendapatkan kembali informasi dari aliran data yang dikirim, transmitter dan
receiver sinkronisasinya harus sempurna. Sinkronisasi diantara transmitter dan receiver
dibagi menjadi 2 bagian:

Sinkronisasi bit: agar penerima mengetahui dengan tepat bit mana yang merupakan
data sinyal yang dikirim. Jika mayoritas bit di suatu perioda sampling (sepanjang slot
pada laju bit pengirim) cenderung ke bit tertentu, maka dianggap bit tersebut yang

diterima.
Sinkronisasi frame: Data dikirim dalam bentuk blok-blok yang disebut frame. Oleh
karena itu, awal dan akhir suatu frame harus jelas.

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Gambar 3.3 Receiver


PCM

3.3.

Receiver PCM
1. D/A Converter
Pada D/A converter data yang diterima berupa sinyal digital aliran serial
kemudian diubah menjadi sinyal analog.
2. Demultiplexing
Proses demultiplexer terjadi pemisahan beberapa sinyal dari satu aliran serial
menjadi beberapa aliran paralel yang sesuai dengan kanal.
3. Filter
Sinyal yang melalui filter untuk proses pembentukan kembali (rekonstruksi)
untuk mendapatkan kembali sinyal informasi.

PROSEDUR PRAKTIKUM PULSE CODE MODULATION


A. KIT PRAKTIKUM
MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Peralatan praktikum
1. Modul PCM DCL-03 (Transmitter) dan PCM DCL-04 (Receiver)

2. Power Supply
3. Osiloskop
4. Kabel jumper

Analisis dalam Praktikum


1. Mengukur nilai Vpp, frekuensi dari sinyal informasi

2. Menganalisis sinyal hasil sampling dan holding serta multiplexing


3. Menganalisis pengaruh sinkonsasi terhadap TXDATA berdasarkan keluaran data
dan PRBS
4. Menganalisis pengaruh TXCLK terhadap TXSYNC
5. Menganalisis sinyal keluaran demultiplexer

Gambar Kit PCM (Tx)

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Gambar Kit PCM (Rx)

Gambar PCM menggunaka sinkronisasi bit

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Gambar PCM menggunakan sinkronisasi frame

Langkah Praktikum
1. Kalibrasi probe pada Osiloskop
2. Mengatur catu daya

Hubungkan catu daya pada kit praktikum DCL-03 dan DCL-04

3. Mengukur nilai Vpp, frekuensi, dan duty cycle dari sinyal informasi

Hubungkan P3 dan P4 pada FUNCTION GENERATOR dengan osiloskop


Atur P3 dan P4 pada tegangan 3.6 Vpp (P3 sebagai sinyal input 1 dan P4 sebagai

sinyal input 2)

Amati nilai Vpp, frekuensi, dan duty cycle dari kedua sinyal tersebut

4. Menganalisis sinyal hasil sampling dan holding serta multiplexing

Hubungkan Channel 2 dengan P3

dan Channel 1 pada OUT 0

(jumper 3) di osiloskop
Analisis perbedaannya
Hubungkan Channel 2 dengan P4

dan Channel 1 pada OUT 1

(jumper 4) di osiloskop
MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Analisis perbedaannya
Hubungkan blok SAMPLE AND HOLD dengan MULTIPLEXER

seperti gambar 3.2


Hubungkan OUT 0 ke CH IN pada MULTIPLEXER
Hubungkan OUT 1 ke CH IN pada MULTIPLEXER
Hubungkan
probe
1
osiloskop
pada
MUX

OUT di

MULTIPLEXER

Amati dan analisis sinyal pada MUX OUT tersebut

5. Menganalisis proses data transmit

Hubungkan DATA, PRBS, TX DATA, TX SYNC, dan TX CLK


pada PRBS GENERATOR dengan osiloskop secara bergantian
Hubungkan TX DATA dengan probe 1 Osiloskop dan amati sinyal.
Hubungkan TX CLK dengan Probe 1 Osiloskop dan amati sinyal.
Hubungkan TX SYNC dengan Probe 1 Osiloskop dan amati sinyal.
Hubungkan PRBS GENERATOR dengan Probe 1 Osiloskop dan amati

sinyal.
Amati sinyal-sinyal tersebut
Bandingkan keluaran TX SYNC dan DATA kemudian analisis
Bandingkan keluaran TX SYNC dan PRBS kemudian analisis
Analisis hubungan antara TX SYNC, DATA, PRBS, dan TX DATA

6. Menganalisis sinyal keluaran demultiplexer dan keluaran PCM RX dengan sinkronisasi

frame

Rangkailah kit PCM TX dan RX dengan Sinkronisasi Frame seperti gambar

3.2
Hubungkan probe 1 dengan MUX OUT di PCM TX dan Probe 2

dengan DAC OUT pada PCM RX (jumper 9)


Analisis dan bandingkan kedua sinyal tersebut diosiloskop
Hubungkan probe 1 dan 2 osiloskop dengan CH 0 dan CH 1 di

keluaran Demultiplexer
Analisis dan bandingkan kedua sinyal tersebut di osiloskop

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Hubungkan probe 1 dan 2 osiloskop pada OUT 1 (jumper 11) dan

OUT 0 (jumper 10) di PCM RX (keluaran Filter)


Analisis dan bandingkan kedua sinyal tersebut di osiloskop
Bandingkan juga sinyal pada OUT 0 dan OUT 1 di PCM RX dengan
sinyal pada P3 dan P4 di PCM TX

7. Menganalisis sinyal keluaran demultiplexer dan keluaran PCM RX dengan sinkronisasi


bit

Rangkailah kit PCM TX dan RX dengan Sinkronisasi Bit seperti gambar 3.1
Hubungkan probe 1 dengan MUX OUT di PCM TX dan Probe 2

dengan DAC OUT pada PCM RX (jumper 9)


Analisis dan bandingkan kedua sinyal tersebut diosiloskop
Hubungkan probe 1 dan 2 osiloskop dengan CH 0 dan CH 1 di

keluaran Demultiplexer
Analisis dan bandingkan kedua sinyal tersebut di osiloskop
Hubungkan probe 1 dan 2 osiloskop pada OUT 1 (jumper 11) dan

OUT 0 (jumper 10) di PCM RX (keluaran Filter)


Analisis dan bandingkan kedua sinyal tersebut di osiloskop
Bandingkan juga sinyal pada OUT 0 dan OUT 1 di PCM RX dengan
sinyal pada P3 dan P4 di PCM TX

B. SIMULASI
Peralatan Praktikum PCM
1. PC disertai software matlab R2012b dengan Simulink

Analisis dalam Praktikum PCM


1.
2.
3.
4.

Menganalisis sinyal info


Menganalisis sinyal hasil sampling, holding, multiplexing dan demultiplexing
Menganalisis sinyal hasil kuantisasi
Menganalisis sinyal hasil encoding dan decoding

5. Menganalisis fungsi filter pada receiver


MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Referensi : Modeling Communication System Using Simulink : PCM System Model Eng. Anas Alashqar
Gambar blok diagram PC

Langkah Praktikum
1. Buka Matlab R2012b
2. Ketikkan simulink pada command window, atau klik icon

untuk

menampilkan Simulink Library Browser.


3. Lalu pilih File>New>Model atau klik icon

pada Simulink Library

Browser, untuk membuat/menampilkan model baru.


4. Transmitter PCM pada Simulink

Buatlah 2 blok sine wave pada Libraries DSP Toolbox > Sources, kedua
buah blok tersebut akan kita gunakan untuk membuat sinyal info. Atur nilai
amplitude info dan frekuensi info :
+ Klik pada blok sine wave atur amplitudo sinyal info 1 dan frekuensi sinyal info 1
sesuai dengan gambar dibawah ini.

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

+ Klik pada blok sine wave1 atur amplitudo sinyal info 1 dan frekuensi sinyal info
1 sesuai dengan gambar dibawah ini.

Buatlah blok sample and hold, blok ini akan kita fungsikan sebagai
pengambil sample dan untuk menahan sinyal agar tidak berubah

Buatlah blok pulse generator, yang akan berfungsi sebagai pembangkit


sinyal

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Buatlah blok mux, yang akan berfungsi sebagai penggabung dua sinyal input

Buatlah

blok

uniform encoder, yang akan berfungsi sebagai

pengkuantisasi

Buatlah blok integer to bit converter, yang akan berfungsi sebagai ADC
atau berperan dalam proses encoding

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Setelah semua blok transmitter tersedia lalu hubungkan masing-masing


blok

tersebut. Buatlah go to, from, scope yang akan berfungsi

menampilkan output masing-masing blok.

NB : Untuk mengatur input scope, klik scope pilih

, isi number of

axes sesuai yang dibutuhkan.

Untuk menampilkan output blok transmitter, buatlah blok sebagai berikut :

5. Receiver PCM pada Simulink


MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Buatlah blok bit to integer converter yang akan berfungsi DAC, berperan
dalam proses decoding

Buatlah blok uniform decoder, yang akan berfungsi sebagai perekonstruksi


nilai-nilai integer yang terkuantisasi agar kembali ke bentuk sinyal asli

Buatlah blok demux, yang akan berfungsi sebagai pemisahan sinyal-sinyal

menjadi sinyal aslinya


Buatlah blok sample and hold, blok ini akan kita fungsikan sebagai
sampling sebelum difilter

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Buatlah blok pulse generator, blok ini akan kita fungsikan sebagai

pembangkit sinyal pulsa


Buatlah blok analog filter design, atur parameter sebagai berikut
blok ini akan kita fungsikan untuk melewatkan sinyal informasi

Hubungkan tiap blok seperti pada gambar blok diagram, untuk menampilkan
output receiver buatlah blok yang hampir sama seperti pada transmitter.

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

DAFTAR PUSTAKA

Modul Praktikum Sistem Komunikasi 2015/2016

MODUL PRAKTIKUM SISTEM KOMUNIKASI 2016

Page |

Anda mungkin juga menyukai