BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Larutan penyangga atau buffer adalah larutan yang digunakan untuk
mempertahankan nilai pH tertentu agar tidak banyak berubah selama reaksi kimia
berlangsung. Sifat yang khas dari larutan penyangga ini adalah pHnya hanya berubah
sedikit dengan pemberian sedikit asam kuat atau basa kuat. Buffer terdiri dari asam
lemah dan garam/basa konjugasinya atau basa lemah dan garam/asam konjugasinya.
Sangat banyak kegunaan larutan penyangga dalam kehidupan sehari-hari, karena
fungsinya yang sangat penting. Salah satu contoh larutan buffer dalam kehidupan
sehari-hari adalah buffer dalam air ludah, buffer dalam darah, buffer pada bidang
industri farmasi, dan masih banyak lagi.
Larutan penyangga juga banyak digunakan dalam reaksi-reaksi kimia terutama
dalam bidang kimia analitis, biokimia, bakteriologi, dan bidang kesehatan. Dalam
reaksi-reaksi kimia tersebut dibutuhkan PH yang stabil. Oleh karena itu, dibutuhkan
larutan penyangga untuk mempertahankan PH suatu zat.
Melihat banyaknya kegunaan dari larutan penyangga dan fungsinya yang tidak
kalah penting, maka penulis ingin menggali lebih dalam kegunaan laurtan penyangga
dalam kehidupan sehari-hari dalam karya tulis ilmiah ini, dengan judul : Kegunaan
Larutan Penyangga Dalam Kehidupan Sehari-Hari
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan larutan penyangga (buffer) ?
1.2.2 Bagaimana sifat larutan penyangga (buffer) ?
1.2.3 Apa sajakah kegunaan larutan penyangga (buffer) dalam tubuh makhluk hidup,
industry farmasi, bidang biologi, dan bidang analisis ?
1.3. Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan larutan penyangga (buffer).
1.3.2 Untuk mengetahui sifat larutan penyangga (buffer).
1.3.3 Untuk mengetahui kegunaan larutan penyangga (buffer) dalam tubuh makhluk
hidup, industry farmasi, bidang biologi, dan bidang anali
I-1
1.4. Manfaat
1.4.1 Memperluas pengetahuan mengenai kegunaan larutan penyangga (buffer)
bagi masyarakat.
1.4.2 Menambah pengetahuan masyarakat tentang kegunaan laruta penyangga
(buffer) dalam kehidupan sehari-hari.
Laboratorium Kimia Analit
I-2
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Larutan
Larutan adalah campuran yang bersifat homogen antara molekul, atom ataupun
ion dari dua zat atau lebih. Disebut campuran karena susunannya atau komposisinya
dapat berubah. Disebut homogen karena susunanya begitu seragam sehingga tidak dapat
diamati adanya bagian-bagian yang berlainan, bahkan dengan mikroskop optis
sekalipun. Fase larutan dapat berwujud gas, padat ataupun cair. Larutan gas misalnya
udara. Larutan padat misalnya perunggu, amalgam dan paduan logam yang lain. Larutan
cair misalnya air laut, larutan gula dalam air, dan lain-lain. Komponen larutan terdiri
dari pelarut (solvent) dan zat terlarut (solute). Pada bagian ini dibahas larutan cair
(Darma, 2014).
Pelarut cair umumnya adalah air. Pelarut cair yang lain misalnya bensena,
kloroform, eter, dan alkohol. Jika pelarutnya bukan air, maka nama pelarutnya
disebutkan. Misalnya larutan garam dalam alkohol disebut larutan garam dalam alkohol
(alkohol disebutkan), tetapi larutan garam dalam air disebut larutan garam (air tidak
disebutkan). Zat terlarut dapat berupa zat padat, gas atau cair. Zat padat terlarut dalam
air misalnya gula dan garam. Gas terlarut dalam air misalnya amonia, karbon dioksida,
dan oksigen. Zat cair terlarut dalam air misalnya alkohol dan cuka. Umumnya
komponen larutan yang jumlahnya lebih banyak disebut sebagai pelarut. Larutan 40 %
alkohol dengan 60 % air disebut larutan alkohol. Larutan 60 % alkohol dengan 40 % air
disebut larutan air dalam alkohol. Larutan 60 % gula dengan 40 % air disebut larutan
gula karena dalam larutan itu air terlihat tidak berubah sedangkan gula berubah dari
padatan (kristal) menjadi terlarut (menyerupai air) (Darma, 2014).
B.
Pengenceran
Pengenceran yaitu suatu cara atau metoda yang diterapkan pada suatu senyawa
dengan jalan menambahkan pelarut yang bersifat netral, lazim dipakai yaitu aquadest
dalam jumlah tertentu. Penambahan pelarut dalam suatu senyawa dan berakibat
menurunnya kadar kepekatan atau tingkat konsentrasi dari senyawa yang
dilarutkan/diencerkan. Dalam pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu sering
dihasilkan konsentrasi yang tidak kita [Link] mengetahui konsentrasi yang
sebenarnya perlu dilakukan standarisasi. Standarisasi sering dilakukan dengan titrasi.
Zat-zat yang di dalam jumlah yang relatif besar disebut pelarut. Pengenceran diartikan
pencampuran yang bersifat homogen antara zat terlarut dan pelarut dalam [Link]
yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut
II-1
BAB II Tinjauan Pustaka
(zat) terlarut atau solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada
zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solven (Alfa, 2014).
Rumus pengenceran berdasarkan Nita (2014) adalah:
V1 x M1 = V2 x M2
Keterangan
V= volume cairan (L),
M= molaritas (mol/L)
Pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara
menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Jika suatu larutan
senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadang-kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal
ini terutama dapat terjadi pada pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat
dihilangkan dengan aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak
boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang
dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih dan
menyebabkan asam sulfat memercik. Jika kita berada di dekatnya, percikan asam sulfat
ini merusak kulit (Alfa, 2014).
Pengenceran yaitu penambahan pelarut yang mengakibatkan jumlah pelarut
lebih banyak dibandingkan jumlah zat terlarutnya. Untuk membuat larutan dengan
konsentrasi tertentu yang berasal dari larutan pekat, maka diambil dengan volume
tertentu (dengan gelas ukur atau pipet ukur) larutan pekat yang yang diperlukan
kemudian diencerkan dengan aquades sampai volume yang dikehendaki. Ketelitian
dalam pengenceran merupakan salah satu faktor untuk memproleh ketepatan
konsentrasi yang diinginkan, karena itu pengenceran akan lebih baik jika dilakukan di
dalam labu takar (Tim Dosen Kimia Universitas Hasanuddin, 2010).
Laboratorium Kimia Analit
II-3
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
Bab II Tinjauan Pustaka
C.
Molaritas
Molaritas (disingkat M) adalah salah satu ukuran konsentrasi larutan. Molaritas
suatu larutan menyatakan jumlah mol suatu zat per liter larutan. Umumnya konsentrasi
larutan berair encer dinyatakan dalam satuan molar. Keuntungan menggunakan satuan
molar adalah kemudahan perhitungan dalam stoikiometri, karena konsentrasi
dinyatakan dalam jumlah mol (sebanding dengan jumlah partikel yang sebenarnya).
Kerugian dari penggunaan satuan ini adalah ketidaktepatan dalam pengukuran volum.
Selain itu, volum suatu cairan berubah sesuai temperatur, sehingga molaritas larutan
dapat berubah tanpa menambahkan atau mengurangi zat apapun. Selain itu, pada larutan
yang tidak begitu encer, volume molar dari zat itu sendiri merupakan fungsi dari
konsentrasi, sehingga hubungan molaritas-konsentrasi tidak linear (Wikipedia, 2014).
Rumus Molaritas berdasarkan Wikipedia (2014) yaitu:
M =n/V
Keterangan :
M=
n = mol
V = Volume (L)
Laboratorium Kimia Analit
II-3
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
Bab II Tinjauan Pustaka
D.
Larutan Buffer
A. Pengertian Larutan Penyangga
Larutan penyangga atau larutan buffer atau dapar merupakan suatu larutan yang
dapat mempertahankan nilai pH tertentu. Adapun sifat yang paling menonjol dari
larutan penyangga ini seperti pH larutan penyangga hanya berubah sedikit pada
penambahan sedikit asam kuat. Disamping itu larutan penyangga merupakan larutan
yang dibentuk oleh reaksi suatu asam lemah dengan basa konjugatnya ataupun oleh basa
lemah dengan asam konjugatnya. Reaksi ini disebut sebagai reaksi asam-basa konjugasi.
Disamping itu mempunyai sifat berbeda dengan komponen-komponen pembentuknya
(Alexander ,2011).
Larutan penyangga atau larutan buffer atau larutan dapar merupakan suatu
larutan yang dapat menahan perubahan pH yang besar ketika ion ion hidrogen atau
hidroksida ditambahkan, atau ketika larutan itu diencerkan. Buffer dapat dibagi menjadi
3 jenis sesuai kapasitasnya, yaitu buffer yang kapasitasnya 0, buffer yang kapasitasnya
tak hingga, serta buffer yang kapasitasnya dibatasi sebanyak n. Buffer dengan kapasitas
terbatas inilah yang disebut sebagai bounded-buffer (Underwood, 2002 ).
Larutan penyangga atau larutan buffer atau dapar merupakan suatu larutan yang
dapat mempertahankan nilai pH tertentu. Adapun sifat yang paling menonjol dari
larutan penyangga ini seperti pH larutan penyangga hanya berubah sedikit pada
penambahan sedikit asam [Link] itu larutan penyangga merupakan larutan
yang dibentuk oleh reaksi suatu asam lemah dengan basa konjugatnya ataupun oleh basa
lemah dengan asam [Link] ini disebut sebagai reaksi asam-basa konjugasi.
Disamping itu mempunyai sifat berbeda dengan komponen-komponen pembentuknya
(Zulfiky, 2003).
B. Sifat Larutan Penyangga
Sifat dari larutan buffer yaitu pH larutan tidak berubah jika diencerkan dan tidak
berubah pula jika ditambahkan kedalamnya sedikit asam atau basa. Pada dasarnya suatu
larutan penyangga yang tersusun dari asam lemah dan basa konjugasi merupakan suatu
sistem kesetimbangan ion dalam air, yang melibatkan adanya kesetimbangan air dan
kesetimbangan asam lemah. Di samping itu, terdapat ion basa konjugasi yang berasal
dari garam atau hasil reaksi antara asam lemah tersebut dengan basa kuat. Buffer dapat
di defenisikan sebagai campuran asam/basa lemah dengan garamnya. Fungsi buffer
adalah untuk mempertahankan pH larutan saat ditambahkan asam/basa lemah dalam
jumlah relatif
Laboratorium Kimia Analit
II-4
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
Bab II Tinjauan Pustaka
sedikit. Kapasitas buffer adalah parameter kuantitatif yang menunjukkan kekuatan
(resistensi) untuk mempertahankan pH. (Chang R, 2006).
Dalam berbagai aktivitas yang melibatkan reaksi-reaksi dalam larutan, seringkali
diperlukan pH yang harganya tetap. Perubahan pH suuatu system seringkali
memberikan dampak yang tidak diinginkan. Namun larutan penyangga dapat
mempertahankan pH system terhadap gangguan yang dapat mengubah pH. Penyangga
alami terdapat dalam tubuh makhluk hidup maupun di alam (Mulyasa, 2009).
Kebutuhan buffer kadang menyulitkan karena hampis setiap analisis
membutuhkan kondisi pH tertentu yang relatif stabil. Karena banyaknya macam dan
jenis buffer, pemilihan buffer yang akan digunakan menjadi masalha tersendiri. Dalam
memilih buffer, yang harus diperhatikan adalah pH optimum serta sifat-sifat
biologisnya. Banyak jenis buffer yang mempunyai dampak terhadap sistem biologis,
aktivitas enzim, subtrat dan kovaktor (Riyadi, 2008).
Kebutuhan buffer kadang menyulitkan karena hampir setiap analisa
membutuhkan kondisi pH tertentu yang relatif stabil. Karena banyaknya macam dan
jenis buffer, pemilihan buffer yang akan digunakan menjadi masalah tersendiri. Dalam
memilih buffer, yang harus diperhatikan adalah pH optimum serta sifat-sifat
biologisnya. Banyak jenis buffer yang mempunyai impak terhadap sistem biologis,
aktivitas enzim, substrat, atau kofaktor (Riyadi, 2008).
Keberadaan katalis buffer juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap laju
pengerasan, reaksi degradasi dan derajat pembentukan perekat MUF (Iswanto, 2011).
Buffer juga dapat digunakan dalam melihat rentang asam/basa, melalui diagram
potensial-pH tidak dapat mencakup seluruh daerah pH, karena terbatasi oleh trayek
rentang pH sistem buffer. Walaupun demikian, rentang pH 3,22-9,03 adalah salah satu
daerah pH penting dalam kajian korosi baja karbon, karena daerah itu meliput sebagian
besar daerah peralihan korosi aktif ke keadaan pasif (Bundjali, 2004).
Asam asetat dengan konsentrasi yang relatif tinggi memiliki kapasitas buffer
yang lebih besar, yang artinya bahwa dengan semakin banyak tersedianya ion asetat,
akan mendorong ion H+ untuk berikatan dengan ion asetat sehingga penurunan pH
akibat ion H+ tidak terjadi. Dengan kapasitas buffer yang besar, pada kondisi larutan
yang lewat jenuh, partikel-partikel produk korosi dapat terbentuk lebih seragam.
Partikel-partikel tersebut mampu membentuk lapisan pelindung yang lebih rapat
sehingga meminimalisi serangan spesi korosif terhadap permukaan logam. Sebaliknya,
pada kapasitas buffer yang rendah,
Laboratorium Kimia Analit
II-5
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
Bab II Tinjauan Pustaka
perbedaan pH antara sisi anodik dan katodik cukup tinggi. Tingginya perbedaan pH
tersebut menyebabkan perbedaan potensial antara sisi anodik dan katodik semakin
tinggi sehingga proses korosi berlangsung semakin cepat.
Jadi, peningkatan konsentrasi asam yang melebihi batas maksimum justru menghasilkan
lapisan produk korosi yang lebih protektif karena laju pertumbuhan dari lapisan
pelindung yang terbentuk pada sistem dengan kapasitas buffer tinggi lebih terkontrol
dibandingkan di dalam sistem dengan kapasitas buffer yang rendah (Santoso, 2011).
Kondisi dalam rumen adalah anaerobik dan mikroorganisme yang paling sesuai
dan dapat hidup dapat ditemukan didalamnya. Tekanan osmos pada rumen mirip dengan
tekanan aliran darah. Temperatur dalam rumen adalah 3842oC, pH dipertahankan
dengan adanya absorbsi asam lemak dan amonia. Saliva yang masuk kedalam rumen
berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan pH tetap pada 6,8. Hal ini
disebabkan oleh tingginya kadar ion HCO3 dan PO4 (Arora, 1995). Di dalam cairan
rumen juga terdapat saliva. Saliva yang masuk kedalam rumen berfungsi sebagai buffer
dan membantu mempertahankan pH tetap pada 6,8. Saliva bertipe cair, membuffer
asam-asam, hasil fermentasi mikroba rumen. Selain itu juga saliva merupakan zat
pelumas dan surfactant yang membantu didalam proses mastikasi dan ruminasi. Saliva
mengandung elektrolit-elektrolit tertentu seperti Na, K, Ca, Mg, P, dan urea yang
mempertinggi kecepatan fermentasi mikroba. (Hvelplund,1991).
Hidrogen klorida (HCl) adalah asam monoprotik, yang berarti bahwa ia dapat
berdisosiasi melepaskan satu H+ hanya sekali. Dalam larutan asam klorida, H+ ini
bergabung dengan molekul air membentuk ion hidronium, H3O+.
HCl + H2O H3O+ + Cl
Ion lain yang terbentuk adalah ion klorida, Cl. Asam klorida oleh karenanya
dapat digunakan untuk membuat garam klorida, seperti natrium klorida. Asam klorida
adalah asam kuat karena ia berdisosiasi penuh dalam air (Lide, 1981).
Secara umum, larutan penyangga digambarkan sebagai campuran yang terdiri dari:
1.
2.
Asam lemah (HA) dan basa konjugasinya (ion A-), campuran ini menghasilkan larutan
bersifat asam.
Basa lemah (B) dan basa konjugasinya (BH+), campuran ini menghasilkan larutan
bersifat basa. (Purba, 1994)
Laboratorium Kimia Analit
II-6
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
Bab II Tinjauan Pustaka
Larutan ini mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7). Larutan ini dapat
dibuat dari asam lemah dan garamnya (yang merupakan basa konjugasi dari asamnya).
Adapun cara lainnya yaitu mencampurkan suatu asam lemah dengan suatu basa kuat,
asam lemahnya dicampurkan dalam jumlah berlebih. Campuran akan menghasilkan
garam yang mengandung basa konjugasi dari asam lemah yang bersangkutan. Pada
umumnya basa kuat yang digunakan seperti natrium hidroksida, kalium hidroksida,
barium hidroksida, kalsium hidroksida, dan lain-lain.
Komponen larutan penyangga terbagi menjadi (Keenan et al., 1980):
Berikut merupakan sifat dari larutan penyangga berdasarkan Ph yang dimilikinya :
1. Larutan penyangga yang bersifat asam
Larutan ini mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7). Larutan ini dapat
dibuat dari asam lemah dan garamnya (yang merupakan basa konjugasi dari asamnya).
Adapun cara lainnya yaitu mencampurkan suatu asam lemah dengan suatu basa kuat,
asam lemahnya dicampurkan dalam jumlah berlebih. Campuran akan menghasilkan
garam yang mengandung basa konjugasi dari asam lemah yang bersangkutan. Pada
umumnya basa kuat yang digunakan seperti natrium hidroksida, kalium hidroksida,
barium hidroksida, kalsium hidroksida, dan lain-lain.
2. Larutan penyangga yang bersifat basa
Larutan ini mempertahankan pH pada daerah basa (pH > 7). Larutan ini dapat
dibuat dari basa lemah dan garam (yang berasal dari asam kuat). Adapun cara lainnya
yaitu: mencampurkan suatu basa lemah dengan suatu asam kuat dimana basa lemahnya
dicampurkan berlebih.
Laboratorium Kimia Analit
II-7
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
Bab II Tinjauan Pustaka
C. CARA KERJA LARUTAN PENYANGGA
Berikut ini cara kerja larutan penyangga (Syukri, 1999):
1.
Larutan penyangga asam
Sebagai contoh cara kerjanya dapat dilihat pada larutan buffer yang mengandung
CH3COOH dan CH3COO- yang mengalami kesetimbangan. Prosesnya sebagai berikut:
-
Pada penambahan asam
Penambahan asam (H+) akan menggeser kesetimbangan ke kiri. Ion H+ yang
ditambahkan akan bereaksi dengan ion CH3COO- membentuk molekul CH3COOH.
CH3COO-(aq) + H+(aq) CH3COOH(aq)
-
Pada penambahan basa
Jika yang ditambahkan adalah suatu basa, maka ion OH- dari basa itu akan
bereaksi dengan ion H+ membentuk air. Hal ini akan menyebabkan kesetimbangan
bergeser ke kanan sehingga konsentrasi ion H+ dapat dipertahankan. Jadi, penambahan
basa menyebabkan berkurangnya komponen asam (CH3COOH), bukan ion H+. Basa
yang ditambahkan tersebut bereaksi dengan asam CH3COOH membentuk ion
CH3COO- dan air.
CH3COOH(aq) + OH-(aq) CH3COO-(aq) + H2O(l)
2.
Larutan penyangga basa
Sebagai contoh cara kerjanya, dapat dilihat pada larutan buffer yang
mengandung NH3 dan NH4+ yang mengalami kesetimbangan. Prosesnya sebagai
berikut:
-
Pada penambahan asam
Jika ditambahkan suatu asam, maka ion H+ dari asam akan mengikat ion OH-.
Hal tersebut menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kanan, sehingga konsentrasi ion
OH- dapat dipertahankan. Disamping itu, penambahan ini menyebabkan berkurangnya
komponen basa (NH3), bukan ion OH-. Asam yang ditambahkan bereaksi dengan basa
NH3 membentuk ion NH4+.
NH3 (aq) + H+(aq) NH4+ (aq)
Laboratorium Kimia Analit
II-8
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
Bab II Tinjauan Pustaka
-
Pada penambahan basa
Jika yang ditambahkan adalah suatu basa, maka kesetimbangan bergeser ke kiri,
sehingga konsentrasi ion OH- dapat dipertahankan. Basa yang ditambahkan bereaksi
dengan komponen asam (NH4+), membentuk komponen basa (NH3) dan air.
NH4+ (aq) + OH-(aq) NH3 (aq) + H2O(l)
Untuk menghitung pH larutan buffer digunakan cara sebagai berikut (Purba, 1994):
Larutan penyangga asam
Dapat digunakan tetapan ionisasi dalam menentukan konsentrasi ion H+ dalam
suatu larutan dengan rumus berikut:
[H+] = Ka x a/g
ataupH = p Ka log a/g
dengan, Ka = tetapan ionisasi asam lemaha = jumlah mol asam lemahg = jumlah mol
basa konjugasi
Larutan penyangga basa
Dapat digunakan tetapan ionisasi dalam menentukan konsentrasi ion H+ dalam
suatu larutan dengan rumus berikut:
[OH-] = Kb x b/g
ataupH = p Kb log b/g
dengan, Kb = tetapan ionisasi basa lemahb = jumlah mol basa lemahg = jumlah mol
asam konjugasi
Larutan buffer yang terdiri dari garam dan asam lemahnya atau basa lemahnya
memiliki harga pH yang berbeda dari garamnya maupun asam lemahnya, karena kedua
larutan terionisasi. pH sebuah larutan tidak akan berubah apabila ditambahkan air atau
diencerkan dan bila ditambah basa atau asam. Pengukuran pH biasanya diukur dengan
pH meter dan kertas lakmus (Zulfikar, 2010)
Menurut Syukri (1999), larutan buffer juga mempunyai kapasitas buffer (yang
biasa disebut indeks bufferatau intensitas buffer). Kapasitas buffer merupakan suatu
ukuran kemampuan buffer untuk mempertahankan pHnya yang konstan apabila
ditambahkan asam kuat atau basa kuat. Kapasitas buffer bergantung pada jumlah asamgaram atau basa-garam yang terkandung di dalamnya. Apabila jumlahnya besar,
pergeseran kesetimbangan ke kanan maupun ke kiri dapat berlangsung banyak untuk
mengimbangi asam kuat atau basa kuat yang ditambahkan. Sehingga dapat disebut
kapasitas buffernya besar.
Laboratorium Kimia Analit
II-9
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
Bab II Tinjauan Pustaka
Sebaliknya apabila jumlah asam-garam atau basa-garam itu kecil, dapat
menyebabkan pergeseran kesetimbangan ke kanan dan ke kiri berlangsung sedikit.
Sehingga dapat dikatakan kapasitas buffernya kecil. Suatu buffer dapat menahan
perubahan [H+] sebanyak 100x semula. Perubahan pH yang diizinkan hanyalah sekitar
2. Ka atau Kb adalah konstanta, maka suatu buffer hanya efektif pada daerah pH
tertentu yang disebut rentang daerah buffer. Sesungguhnya penambahan asam/basa pada
suatu buffer akan mengubah pH-nya, namun perubahan itu sangatlah kecil dan dapat
diabaikan. Namun, jika jumlah asam/basa yang ditambahkan makin banyak, maka
perubahan pH-nya tak dapat diabaikan lagi. Jumlah asam atau basa yang dapat
dinetralkan suatu buffer sebelum pH larutan berubah disebut kapasitas buffer .
Kapasitas/daya tahan larutan penyangga bergantung pada jumlah mol dan
perbandingan mol dari komponen penyangganya. Semakin banyak jumlah mol
komponen penyangga, semakin besar kemampuannya mempertahankan pH. Apabila
komponen asam terlalu sedikit, penambahan sedikit basa dapat mengubah pHnya.
Sebaliknya apabila komponen basanya terlalu sedikit, penambahan sedikit asam dapat
mengubah pHnya. Sedangkan, perbandingan mol antara komponen-komponen suatu
larutan penyangga sebaiknya antara 0,1-10. Di luar perbandingan tersebut, maka sifat
penyangganya akan berkurang (Keenan et al., 1980).
Larutan penyangga ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari seperti pada
obat-obatan, fotografi, industri kulit dan zat warna. Selain aplikasi tersebut, terdapat
penerapan konsep larutan penyangga ini dalam tubuh manusia, contohnya seperti pada
cairan tubuh. Cairan tubuh (baik cairan intrasel maupun cairan ekstrasel) merupakan
larutan penyangga. Sistem penyangga yang utama dalam cairan intrasel adalah
pasangan dihidrogenfosfat-monohidrogenfosfat (H2PO4- -HPO42-). Sedangkan sistem
penyangga yang utama dalam cairan ekstrasel adalah pasangan asam karbonatbikarbonat (H2CO3 HCO3-). Sistem penyangga ini dapat menjaga pH darah hampir
konstan, yaitu sekitar 7,4 (Keenan et al., 1980).
Dalam berbagai aktivitas yang melibatkan reaksi-reaksi dalam larutan, seringkali
diperlukan pH yang harganya tetap. Perubahan pH suuatu system seringkali
memberikan dampak yang tidak diinginkan. Namun larutan penyangga dapat
mempertahankan pH system terhadap gangguan yang dapat mengubah pH. Penyangga
alami terdapat dalam tubuh makhluk hidup maupun di alam (Mulyasa, 2009).
Laboratorium Kimia Analit
II-10
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
Bab II Tinjauan Pustaka
Kebutuhan buffer kadang menyulitkan karena hampis setiap analisis
membutuhkan kondisi pH tertentu yang relatif stabil. Karena banyaknya macam dan
jenis buffer, pemilihan buffer yang akan digunakan menjadi masalha tersendiri. Dalam
memilih buffer, yang harus diperhatikan adalah pH optimum serta sifat-sifat
biologisnya. Banyak jenis buffer yang mempunyai dampak terhadap sistem biologis,
aktivitas enzim, subtrat dan kovaktor (Riyadi, 2008).
D. FUNGSI LARUTAN PENYANGGA
Larutan buffer sering digunakan dalam bidang kimia analisis seperti pada pembuatan
fase gerak pada KCKT dan ekstraksi obat dari larutan berair. Jenis buffer yang paling
sederhana tersusun atas asam/basa lemah yang dikombinasikan dengan asam/basa kuat.
Sistem buffer yang umum adalah sistem natrium asetat atau asam asetat. Cara langsung
yang digunakan untuk membuat buffer adalah dengan menambahkan natrium
hidroksida pada asam asetat sampai pH yang dikehendaki tercapai. Kisaran pH yang
paling efektif untuk membuat buffer adalah satu unit pH disekitar nilai pKa asam atau
basa lemah yang digunakan untuk membuat buffer. Sebagai contoh, nilai pKa asam
asetat adalah 4,76 karenanya kisaran pH buffer yang paling efektif adalah 3,76 hingga
5,76 (Rohman, 2007).
1. Fungsi Larutan Penyangga Dalam Tubuh Manusia
Reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh manusia merupakan reaksi enzimatis,
yaitu reaski yang melibatkan enzim sebagai katalis. Enzim sebagai katalis hanya dapat
bekerja dengan baik pada pH tertentu (pH optimumnya). Agar enzim tetap bekerja
secara optimum, diperlukan lingkungan reaksi dengan pH yang relative tetap, untuk itu
maka diperlukan larutan penyangga.
Didalam setiap cairan tubuh terdapat pasangan asam-basa konjugasi yang
berfungsi sebagai larutan penyangga. Cairan tubuh, baik sebagai cairan intra sel (dalam
sel) dan cairan ekstra sel (luar sel) memerlukan system penyangga tersebut unutk
mempertahankan harga pH cairan tersebut. System penyangga ekstra sel yang penting
adalah penyangga karbonat ( H2CO3/HCO3-) yang berperan dalam menjaga pH darah,
dan sistem penyangga fosfat (H2PO4-/HPO42-) yang berperan menjaga pH cairan intra
sel.
Laboratorium Kimia Analit
II-11
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
Bab II Tinjauan Pustaka
2. Fungsi Larutan Penyangga Dalam Bidang Farmasi
Buffer pada bidang farmasi banyak digunakan untuk menetralkan darah atau
biasanya pada kasus keracunan. Contohnya pada keracunan asam jengkolat. Asam
jengkolat yang terbentuk saat kita terlalu banyak mengonsumsi jengkol ini harus di
kurangi karena akan membetk kristal kristal yang menyumbat saluran kecing. Caranya
dengan memasukan larutan bisa Natrium karbonat(biasanya) yang sifatnya basa yang
nantinya akan membentuk garam ketika bereaksi dengan asam dan kemudian akan
keluar melalui urin (karena garam sifatnya adalah mudah larut dalam air).
Dalam bidang farmasi (obat-obatan) banyak zat aktif yang harus berada dalam
keadaan pH stabil. Perubahan pH akan menyebabkan khasiat zat aktif tersebut
berkurang atau hilang sama sekali. Untuk obat suntik atau obat tetes mata, pH obatobatan tersebut harus disesuaikan dengan pH cairan tubuh. pH untuk obat tetes mata
harus disesuaikan dengan pH air mata agar tidak menimbulkan iritasi yang
mengakibatkan rasa perih pada mata. Begitu juga obat suntik harus disesuaikan dengan
pH darah agar tidak menimbulkan alkalosis atau asidosis pada darah.
Perubahan pH pada larutan obat dapat merusak komposisi, fungsi, dan
efektivitas obattersebut. Oleh karena itu, obat-obatan dalam bentuk larutan sering kali
bertindak sebagai sistem penyangga bagi obat itu sendiri untuk mempertahankan kadar
larutan obat tetap berada dalam trayek pH tertentu.
Larutan Penyangga pada Obat-Obatan : asam asetilsalisilat merupakan
komponen utama dari tablet aspirin, merupakan obat penghilang rasa nyeri. Adanya
asam pada aspirin dapat menyebabkan perubahan pH pada perut. Perubahan pH ini
mengakibakan pembentukan hormon, untuk merangsang penggumpalan darah,
terhambat; sehingga pendarahan tidak dapat dihindarkan. Oleh karena itu, pada aspirin
ditambahkan MgO yang dapat mentransfer kelebihan asam.
Laboratorium Kimia Analit
II-12
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
Bab II Tinjauan Pustaka
3. Fungsi Larutan Penyangga Dalam Bidang Industri
Dalam indutri farmasi, larutan penyangga berperan untuk pembuatan obatobatan agar zat aktif dari obat tersebut mempunya pH tertentu. Selain itu larutan
penyangga juga digunakan unutk industri makanan dan minuman ringan seperti yang
sering digunakan adalah Natrium asetat dan asam sitrat.
Contohnya pada asam sitrat :
Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada daun dan
buah tumbuhan genus Citrus (jeruk-jerukan). Senyawa ini merupakan bahan pengawet
yang baik dan alami, selain digunakan sebagai penambah rasa masam pada makanan
dan minuman ringan. Dalam biokimia, asam sitrat dikenal sebagai senyawa antara
dalam siklus asam sitrat, yang penting dalam metabolisme makhluk hidup, sehingga
ditemukan pada hampir semua makhluk hidup. Zat ini juga dapat digunakan sebagai zat
pembersih yang ramah lingkungan dan sebagai antioksidan.
Asam sitrat terdapat pada berbagai jenis buah dan sayuran, namun ditemukan
pada konsentrasi tinggi, yang dapat mencapai 8% bobot kering, pada jeruk lemon dan
limau (misalnya jeruk nipis dan jeruk purut).
Rumus kimia asam sitrat adalah C6H8O7 (strukturnya ditunjukkan pada tabel informasi
di sebelah kanan). Struktur asam ini tercermin pada nama IUPAC-nya, asam 2-hidroksi1,2,3-propanatrikarboksilat.
Sifat-sifat fisis asam sitrat dirangkum pada tabel di sebelah kanan. Keasaman
asam sitrat didapatkan dari tiga gugus karboksil COOH yang dapat melepas proton
dalam larutan. Jika hal ini terjadi, ion yang dihasilkan adalah ion sitrat. Sitrat sangat
baik digunakan dalam larutan penyangga untuk mengendalikan pH larutan. Ion sitrat
dapat bereaksi dengan banyak ion logam membentuk garam sitrat. Selain itu, sitrat
dapat mengikat ion-ion logam dengan pengkelatan, sehingga digunakan sebagai
pengawet dan penghilang kesadahan air.
Laboratorium Kimia Analit
II-13
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
Bab II Tinjauan Pustaka
2.
Dalam Hal-Hal Lainnya
a. Adanya larutan penyangga ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari seperti
pada obat-obatan, fotografi, industri kulit dan zat warna. Selain aplikasi tersebut,
terdapat fungsi penerapan konsep larutan penyangga ini dalam tubuh manusia
seperti pada cairan tubuh.
b. Cairan tubuh ini bisa dalam cairan intrasel maupun cairan ekstrasel. Dimana sistem
penyangga utama dalam cairan intraselnya seperti H2PO4- dan HPO42- yang dapat
bereaksi dengan suatu asam dan basa. Adapun sistem penyangga tersebut, dapat
menjaga pH darah yang hampir konstan yaitu sekitar 7,4.
c. Menjaga pH pada plasma darah agar berada pada pH berkisar 7,35 7,45 ,yaitu dari
ion HCO3-denganion Na+ . Apabila pH darah lebih dari 7,45 akan mengalami
alkalosis, akibatnya terjdi hiperventilasi/ bernapas berlebihan, mutah [Link]
pH darah kurang dari 7,35 akan mengalami acidosis akibatnya jantung ,ginjal ,hati
dan pencernaan akan terganggu.
d. Menjaga pH cairan tubuh agar ekskresi ion H+ pada ginjal tidak terganggu, yaitu
asam dihidrogen posphat (H2PO4-) dengan basa monohidrogen posphat (HPO42-)
e. Menjaga pH makanan olahan dalam kaleng agar tidak mudah rusak /teroksidasi
(asam benzoat dengan natrium benzoat).
f. Selain itu penerapan larutan penyangga ini dapat kita temui dalam kehidupan
sehari-hari seperti pada obat tetes mata.
E. JENIS JENIS LARUTAN BUFFER
Jenis-jenis larutan buffer berdasarkan Chyntia (2014), yaitu:
1. Larutan Buffer yang Bersifat Asam
Larutan ini mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7). Untuk
mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari asam lemah dan garamnya yang merupakan
basa konjugasi dari asamnya. Adapun cara lainnya yaitu mencampurkan suatu asam
lemah dengan suatu basa kuat dimana asam lemahnya dicampurkan dalam jumlah
berlebih. Campuran akan menghasilkan garam yang mengandung basa konjugasi dari
asam lemah yang bersangkutan. Pada umumnya basa kuat yang digunakan seperti
natrium, kalium, barium, kalsium, dan lain-lain. Contoh yang biasa merupakan
campuran asam etanoat dan natrium etanoat dalam larutan. Pada kasus ini, jika larutan
mengandung konsentrasi molar yang sebanding antara asam dan garam, maka campuran
tersebut akan memiliki pH 4.76. Ini bukan suatu masalah
Laboratorium Kimia Analit
II-14
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
Bab II Tinjauan Pustaka
dalam hal konsentrasinya, sepanjang keduanya memiliki konsentrasi yang sama. Kita
dapat mengubah pH larutan penyangga dengan mengubah rasio asam terhadap garam,
atau dengan memilih asam yang berbeda dan salah satu garamnya.
2. Larutan Buffer yang bersifat Basa
Apabila suatu basa lemah dicampur dengan asam konjugasinya maka akan
terbentuk suatu larutan buffer basa. Larutan ini akan mempertahankan pH pada daerah
basa (pH>7). Misalnya larutan campuran NH3 dengan ion amonium (NH4+). Larutan
buffer basa juga dapat terjadi dari campuran suatu basa lemah dengan suatu asam kuat
dimana basa lemah dicampurkan berlebih. Jika ke dalam larutan ditambahkan suatu
asam kuat, maka ion H+ yang berasal dari asam itu akan mengikat atau bereaksi dengan
ion OH-. Hal itu menyebabkan kesetimbangan larutan menjadi bergeser ke kanan
sehingga konsentrasi ion OH- dapat dipertahankan atau dengan kata lain pH larutan
stabil atau dapat bertahan. Demikian juga pada penambahan suatu basa kuat, jumlah ion
OH- dalam larutan akan bertambah. Hal ini akan menyebabkan kesetimbangan larutan
menjadi bergeser ke kiri sehingga konsentasi ion OH- dapat dipertahankan dan pH
larutan tidak berubah.
F.
Buffer Sitrat
Seperti yang kita ketahui bahwa larutan buffer memiliki peranan yang sangat
penting, tidak hanya bagi tubuh manusia namun juga dalam pekerjaan laboratorium.
Larutan buffer diperlukan agar kondisi atau tingkat keasaman atau kebasaan dalam
suatu larutan tetap terjaga pada nilai pH yang diinginkan. Hal tersebut terutama untuk
zat-zat yang sifatnya sensitive terhadapadanya perubahan sedikit pH. Salah satu contoh
larutan buffer yaitu buffer sitrat yangdigunakan untuk kisaran pH asam, yaitu pada
kisaran nilai pH 3.0 6.2 (Rachma, 2014). Buffer sitrat merupakan larutan buffer
dengan pH 6. Jenis larutan untuk pembuatan buffer sitrat yaitu larutan asam sitrat,
natrium sitrat, natrium dihidrogen fosfat dan terakhir dinatrium monohidrogen
[Link] sitrat digunakan sebagai zat buffer untuk mengontrol pH guna membantu
mengatur kegetiran atau untuk mengontrol [Link] buffer pH 6 dapat juga
dibuat dari campuran larutan kalium dihidrogen fosfat dan natrium hidroksida (Susi,
2008).
G. Aplikasi Buffer
Larutan penyangga sangat penting dalam kehidupan, misalnya dalam analisis
kimia, biokimia, bakteriologi, zat warna, fotografi, dan industri kulit. Darah dalam
tubuh manusia
Laboratorium Kimia Analit
II-15
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
Bab II Tinjauan Pustaka
mempunyai kisaran pH 7,35 sampai 7,45 dan apabila pH darah manusia di atas 7,8
akan menyebabkan organ tubuh manusia dapat rusak, sehingga harus dijaga kisaran
pHnya dengan larutan penyangga (Sahri, 2013).
Fungsi penambahan larutan buffer dalam suatu larutan adalah untuk
mempertahankan nilai pH tertentu larutan agar tidak banyak berubah selama reaksi
kimia berlangsung. Sifat yang khas dari larutan penyangga ini adalah pH-nya hanya
berubah sedikit dengan pemberian sedikit asam kuat atau basa kuat. Larutan penyangga
mengandung komponen asam dan basa dengan asam dan basa konjugasinya, sehingga
dapat mengikat baik ion H+ maupun ion OH-. Sehingga penambahan sedikit asam kuat
atau basa kuat tidak mengubah pH-nya secara signifikan (Wikipedia, 2014).
1. Beberapa fungsi larutan penyangga menurut Sahri (2013), adalah sebagai berikut :
Darah sebagai Larutan Penyangga Ada beberapa faktor yang terlibat dalam
pengendalian pH darah, diantaranya penyangga karbonat, penyangga hemoglobin
dan penyangga sebagai berikut :
a) Penyangga Karbonat Penyangga karbonat berasal dari campuran asam karbonat
(H2CO3) dengan basa konjugasi bikarbonat (HCO3). Penyangga karbonat
sangat berperan penting dalam mengontrol pH darah. Pelari maraton dapat
mengalami kondisi asidosis, yaitu penurunan pH darah yang disebabkan oleh
metabolisme yang tinggi sehingga meningkatkan produksi ion bikarbonat.
Kondisi asidosis ini dapat mengakibatkan penyakit jantung, ginjal, diabetes
miletus (penyakit gula) dan diare. Orang yang mendaki gunung tanpa oksigen
tambahan dapat menderita alkalosis, yaitu peningkatan pH [Link] oksigen
yang sedikit di gunung dapat membuat para pendaki bernafas lebih cepat,
sehingga gas karbondioksida yang dilepas terlalu banyak, padahal CO2 dapat
larut dalam air menghasilkan H2CO3. Hal ini mengakibatkan pH darah akan
naik. Kondisi alkalosis dapat mengakibatkan hiperventilasi (bernafas terlalu
berlebihan, kadang kadang karena cemas dan histeris).
b) Penyangga Hemoglobin Pada darah, terdapat hemoglobin yang dapat mengikat
oksigen untuk selanjutnya dibawa ke seluruh sel tubuh. Asam hemoglobin ion
aksi hemoglobin keberadaan oksigen pada reaksi di atas dapat memengaruhi
konsentrasi ion H+, sehingga pH darah juga dipengaruhi olehnya. Pada reaksi di
atas O2 bersifat [Link] yang telah melepaskan O2 dapat mengikat H+
dan membentuk asam hemoglobin. Sehingga ion H+ yang dilepaskan pada
peruraian H2CO3 merupakan asam yang diproduksi oleh CO2 yang terlarut
dalam air saat [Link] kesetimbangan dari larutan penyangga oksi
hemoglobin adalah: HHb + O2 (g) HbO2- + H+
Laboratorium Kimia Analit
II-16
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
Bab II Tinjauan Pustaka
c) Penyangga Fosfat Pada cairan intra sel, kehadiran penyangga fosfat sangat
penting dalam mengatur pH darah.
Penyangga fosfat dapat mempertahankan pH darah 7,4
a. Penyangga di luar sel hanya sedikit jumlahnya, tetapi sangat penting untuk
larutan penyangga urin.
b. Air Ludah sebagai Larutan Penyangga Gigi dapat larut jika dimasukkan pada
larutan asam yang kuat. Email gigi yang rusak dapat menyebabkan kuman
masuk ke dalam gigi. Air ludah dapat mempertahankan pH pada mulut sekitar
6,8. Air liur mengandung larutan penyangga fosfat yang dapat menetralisir asam
yang terbentuk dari fermentasi sisa-sisa makanan.
c. Menjaga Keseimbangan pH Tanaman Suatu metode penanaman dengan media
selain tanah, biasanya dikerjakan dalam kamar kaca dengan menggunakan
mendium air yang berisi zat hara, disebut dengan hidroponik. Setiap tanaman
memiliki pH tertentu agar dapat tumbuh dengan baik. Oleh karena itu
dibutuhkan larutan penyangga agar pH dapat dijaga.
d. Larutan Penyangga pada Obat-Obatan Asam asetilsalisilat merupakan komponen
utama dari tablet aspirin, merupakan obat penghilang rasa nyeri. Adanya asam
pada aspirin dapat menyebabkan perubahan pH pada perut. Perubahan pH ini
mengakibakan pembentukan hormon, untuk merangsang penggumpalan darah,
terhambat; sehingga pendarahan tidak dapat dihindarkan. Kegunaan larutan
penyangga tidak hanya terbatas pada tubuh makhluk hidup. Reaksi-reaksi kimia
di laboratorium dan di bidang industri juga banyak menggunakan larutan
penyangga. Reaksi kimia tertentu ada yang harus berlangsung pada suasana
asam atau suasana basa. Buah-buahan dalam kaleng perlu dibubuhi asam sitrat
dan natrium sitrat untuk menjaga pH agar buah tidak mudah dirusak oleh bakteri
(Utami, 2009).
Laboratorium Kimia Analit
II-17
Program Studi DIII Teknik Kimia
FTI-ITS
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
III.1 Variabel Percobaan
Variable bebas
Jumlah bahan yang tidak sesuai dengan perhitungan dan kurangnya
kebersihan dari alat-alat yang dipakai.
Variable terikat
Konsentrasi yang didapat akan berbeda
III.2 Alat dan Bahan yang Digunakan
III.2.1 Alat
a.
b.
c.
g.
Pipet volume
Pipet Tetes
Gelas arloji
III.2.2 Bahan
1.
2.
3.
4.
5.
h.
CH3COOH
NH4OH
NaOH
HCl
Aquades (H2O)
d. Corong
e. Labu ukur
f. pH Meter
III-1
i. III.3 Prosedur Percobaan
j. [Link] CH3COOH dengan konsentrasi x N (konsentrasi x sesuai
dengan konsentrasi yang ada di laboratorium KA ), ambil sebanyak a ml
(sesuai labu ukur yang ada di lab. dan disesuaikan dengan kebutuhan)
k. [Link] NaOH dengan konsentrasi y N (konsentrasi y ditentukan dari
perhitungan), diambil sebanyak b ml (sesuai labu takar yang ada di lab
dan disesuaikan dengan kebutuhan)
l. [Link] dengan nilai z (nilai pH ditentukan oleh asisten laboratorium KA).
m. [Link] CH3COOH dengan konsentrasi x N sebanyak a ml dan
melarutkannya dengan NaOH konsentrasi y N sebanyak b ml, dimana x+y
= jumlah larutan buffer yang dikehendaki dan sesuai ukuran labu ukur
untuk mendapatkan pH dengan nilai z
n. [Link] larutan tersebut dengan menggunakan pH Meter
o.