Pengaruh Core Self Evaluations pada Kinerja Auditor BPK RI
Pengaruh Core Self Evaluations pada Kinerja Auditor BPK RI
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
2
ABSTRAK
PENGARUH SIFAT KEPRIBADIAN MODEL CORE SELF EVALUATIONS PADA
KINERJA AUDITOR BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
(BPK RI) PERWAKILAN PROVINSI BALI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sifat kepribadian dalam model Core
Self Evaluations yang terdiri dari locus of control, emotional stability, self-esteem, dan selfefficacy pada kinerja auditor. Kinerja auditor memiliki peran penting dalam setiap penugasan
audit salah satunya untuk mendeteksi apabila ada ketidakwajaran yang terjadi dalam laporan
keuangan pemerintah yang mampu merugikan Negara dan masyarakat. Kinerja auditor BPK
menjadi penting untuk diperhatikan mengingat peran BPK sebagai lembaga yang turut
mewujudkan penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari Korupsi Kolusi dan
Nepotisme (KKN). Kepribadian merupakan salah satu variabel yang dapat menjadi indikator
penentu kinerja individu termasuk auditor. Salah satu jenis model kepribadian yang ada
adalah Core Self Evaluations. Berbagai hasil penelitian sebelumnya telah menunjukkan
bahwa sifat kepribadian dalam model ini, yaitu locus of control, emotional stability, selfesteem, dan self efficacy memiliki pengaruh pada kinerja (Judge dan Bono, 2001, Erez dan
Judge, 2001, Bono dan Judge, 2003).
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik kuesioner. Jumlah
sampel dalam penelitian adalah 43 auditor yang dipilih berdasarkan metode purposive
sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil
yang diperoleh adalah seluruh variabel yaitu locus of control, emotional stability, self-esteem,
dan self-efficacy berpengaruh positif pada kinerja auditor.
Kata kunci: Kinerja Auditor, Core Self Evaluations, Badan Pemeriksa Keuangan Republik
Indonesia (BPK RI) Perwakilan Provinsi Bali.
3
BAB I
PENDAHULUAN
ataupun publik, dalam menilai hasil audit yang dilakukan (Fanani dkk, 2008). Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai lembaga Negara yang diposisikan sebagai auditor
eksternal bertugas untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara secara
bebas dan mandiri. BPK memegang peranan penting dalam mewujudkan penyelenggaraan
Negara yang bersih dan bebas dari Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) (UU RI No. 15
Tahun 2006). Tidak seperti apa yang diharapkan, fakta yang terjadi di lapangan menunjukkan
bahwa masih ada beberapa kasus yang menyeret pegawai pemerintahan baik pusat maupun
daerah. Banyaknya kasus yang terjadi membuat kinerja auditor BPK dalam melaksanakan
pemeriksaan audit semakin menjadi perhatian.
KPK menyatakan bahwa dari Januari hingga Juli 2013 aparat kementerian adalah aparat
yang paling banyak tersangkut korupsi yakni sebanyak 28 kasus. Kasus lainnya yang
menerpa instansi daerah adalah mantan Gubernur Papua periode 2006-2011 ditetapkan
sebagai tersangka tindak pidana korupsi akibat dugaan penyelewengan dana Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara. Kasus lainnya yaitu adanya indikasi penyimpangan dalam
lelang pencetakan dan distribusi bahan Ujian Nasional 2012 dan 2013, yang mengakibatkan
kerugian keuangan negara sebesar Rp 6,3 miliar ([Link]). Adapun kasus yang
4
kini masih ditangani KPK yang diduga menyeret beberapa aparat kepemerintahan yaitu kasus
Hambalang. Kasus ini menyebabkan kerugian Negara sebesar Rp. 463,66 miliar
([Link]). Tahun 2013, dua orang staf Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi
Bali ditetapkan sebagai tersangka karena adanya indikasi korupsi dalam kasus kisruh
penerimaan CPNS Kabupaten Badung. Beberapa kasus tersebut membuat masyarakat
menggantungkan harapan tinggi pada kinerja auditor BPK agar mampu mendeteksi
ketidakwajaran yang terjadi dalam laporan keuangan pemerintah. Ketidakwajaran dapat
berupa kecurangan misalnya penggelapan dana program pemerintah.
Kinerja auditor BPK semakin menjadi sorotan ketika dua auditor BPK Jawa Barat
terseret kasus penyuapan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bekasi. Yang bersangkutan
diduga menerima suap dengan catatan harus memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian
bagi laporan keuangan Pemerintah Kota Bekasi. Kasus ini tentu menimbulkan keraguan,
apakah mampu auditor BPK memberikan kinerja yang optimal guna mewujudkan
penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN)
ketika auditornya justru terkena kasus penyuapan ([Link]). Hal ini menyebabkan
penelitian mengenai kinerja auditor BPK penting untuk dilakukan.
Kinerja yang ditunjukkan auditor tidak terlepas dari kepribadian auditor yang
bersangkutan. Kepribadian adalah pola sifat yang relatif permanen dan karakteristik unik
yang memberikan konsistensi dan individualitas pada perilaku seseorang (Feist dan Feist,
2009:4). Dewasa ini para praktisi maupun akademisi dalam bidang akuntansi semakin
memfokuskan perhatiannya pada sifat kepribadian auditor, namun tidak diimbangi dengan
peningkatan jumlah penelitian yang membahas hal tersebut, sehingga topik kepribadian ini
menjadi penting dan menarik untuk diteliti secara lebih mendalam (Rustiarini 2013).
Judge dkk (1997) pada mulanya membuat formulasi awal mengenai core self
evaluations (CSE) dengan mencari literatur untuk sifat yang memenuhi tiga kriteria yaitu
5
self-evaluative, fundamentality, dan scoop. Selanjutnya penelitian mengenai core self
evaluations hanya difokuskan pada empat sifat kepribadian saja yaitu locus of control,
emotional stability, self-esteem, dan self-efficacy. Core self evaluations merupakan salah satu
model kepribadian individu yang berpengaruh terhadap kepuasan kerja, motivasi, dan kinerja
seseorang. Belum banyak penelitian yang mengangkat mengenai model evaluasi diri ini.
Individu dengan core self evaluations tinggi akan lebih efektif dalam mengatasi hambatan
dengan menggunakan strategi pemecahan masalah yang lebih baik, sehingga dapat
meminimalisasi terjadinya stres. Individu dengan sifat kepribadian ini akan memiliki
motivasi yang lebih tinggi dalam melakukan suatu pekerjaan. Motivasi merupakan salah satu
faktor penentu kinerja individu. Individu ini akan melakukan pekerjaan dengan lebih baik
karena memiliki peningkatan keyakinan pada kemampuan mereka. Model kepribadian core
self evaluations menjadi penting untuk diteliti karena mampu memberikan pemahaman serta
memprediksi sikap dan perilaku kerja seseorang (Judge dan Bono, 2003).
Cara pandang seorang auditor dalam menghadapi suatu permasalahan atau peristiwa
akan berpengaruh pada kinerja yang dihasilkan. Locus of control merupakan cara pandang
seseorang terhadap suatu peristiwa apakah dia dapat atau tidak mengendalikan peristiwa yang
terjadi padanya (Rotter, 1966). Locus of Control memiliki peranan penting dalam motivasi.
Locus of Control yang berbeda bisa mencerminkan motivasi yang berbeda dan kinerja yang
berbeda (Menezes, 2008). Kepribadian ini dapat digunakan auditor untuk mengendalikan
perilakunya dalam bekerja.
Seseorang yang memiliki kepribadian emotional stability rendah akan cenderung
mempunyai emosi yang tidak stabil dan diliputi perasaan negatif, seperti cemas (anxiety),
sedih (sadness), sensitif (irritability), dan gugup (nerveous) (John dan Pervin, 2001 dalam
Safitri dkk, 2005). Individu dengan emotional stability tinggi adalah individu yang dapat
menjaga keseimbangan emosionalnya. Individu dengan sifat seperti ini memiliki karakteristik
6
kemerataan suasana hati, optimisme yang tinggi, keceriaan, ketenangan pada perasaan, bebas
dari rasa bersalah, khawatir, atau kesepian (Thorndike and Hagen, 1979 dalam Chaturvedi
dan Chander, 2010). Karakteristik tersebut akan berpengaruh positif pada kinerja auditor. Hal
ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Judge dan Bono (2001) yang menemukan bahwa
emotional stability berpengaruh positif pada kinerja.
Self-esteem adalah sejauh mana seseorang melihat dirinya mampu dan layak untuk
melakukan suatu pekerjaan (Coopersmith, 1967:4-5 dalam Judge dan Bono, 2003). Selfesteem meliputi dua aspek, yaitu penerimaan diri dan penghormatan diri (Rahmania dan
Yuniar, 2012). Seseorang dengan kepribadian ini cenderung berani mengambil resiko dalam
pekerjaan (Suharyanti, 2003). Apabila seorang auditor melihat dirinya mampu dalam
melaksanakan suatu pekerjaan serta berani mengambil resiko dalam pekerjaan tersebut maka
hal ini akan berkontribusi positif bagi kinerjanya. Semakin tinggi self-esteem maka seseorang
akan melihat dirinya berharga, mampu, dan dapat diterima (Kreitner dan Kinicki, 2003 dalam
Engko, 2008). Judge dan Bono (2001) menemukan bahwa self-esteem berpengaruh positif
pada kinerja.
Self-efficacy juga berperan penting pada kinerja auditor. Self-efficacy adalah sebuah
keyakinan tentang probabilitas bahwa seseorang dapat melaksanakan dengan sukses beberapa
tindakan atau masa depan dan mencapai beberapa hasil. Individu dengan self-efficacy tinggi
akan tekun dalam melakukan sesuatu, memiliki keragu-raguan yang lebih sedikit, dan
melakukan aktivitas serta mencari tantangan baru (Wood dan Bandura 1989). Auditor dengan
tingkat self-efficacy tinggi akan memiliki keyakinan bahwa ia mampu menyelesaikan
pekerjaanya dengan sukses dan lebih baik. Keyakinan diri tersebut akan lebih memotivasi
auditor untuk lebih optimal dalam hal penyelesaian pekerjaan yang akan berpengaruh positif
pada kinerja. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Schunk (1995) yang
menemukan bahwa self-efficacy dan motivasi berpengaruh pada kinerja auditor. Pada sisi
7
lain, penelitian Iskandar dan Sanusi (2011) menyatakan bahwa self-efficacy tidak
berpengaruh pada kinerja auditor.
Penelitian ini mengadaptasi penelitian Iqbal (2012) yang meneliti mengenai pengaruh
sifat kepribadian model core self evaluations yang terdiri atas empat sifat kepribadian yaitu
locus of control, emotional stability, self-esteem, dan self-efficacy. Perbedaan penelitian ini
dengan penelitian sebelumnya adalah: (1) Penelitian sebelumnya menggunakan variabel
dependen berupa kepuasan kerja sedangkan pada penelitian ini menggunakan variabel
dependen kinerja, (2) penelitian sebelumnya dilakukan pada sektor pendidikan sedangkan
penelitian ini dilakukan pada sektor perekonomian, (3) penelitian sebelumnya menggunakan
teknik analisis data Structure Equation Modelling (SEM) sedangkan penelitian ini
menggunakan teknik analisis regresi linear berganda. Teknik analisis regresi linear berganda
dipilih karena penelitian ini meneliti pengaruh variabel terikat terhadap lebih dari satu
variabel bebas. Teknik ini juga dapat digunakan untuk menduga besar arah dan derajat
keeratan antara satu variabel terikat dengan satu atau lebih variabel bebas (Suliyanto,
2011:53-54).
Responden pada penelitian ini adalah auditor yang bekerja di BPK RI Perwakilan
Provinsi Bali. Alasan peneliti menggunakan responden tersebut karena auditor yang bekerja
di BPK memiliki tekanan kerja yang tinggi atas tuntutan perannya agar menghasilkan audit
yang berkualitas, yaitu dengan memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
Negara. Penelitian ini dilakukan untuk mengkonfirmasi penelitian-penelitian sebelumnya.
Beberapa fenomena tersebut membuat penelitian ini penting untuk dilakukan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu:
1) Apakah variabel locus of control berpengaruh pada kinerja auditor BPK RI
Perwakilan Provinsi Bali?
8
2) Apakah variabel emotional stability berpengaruh pada kinerja auditor BPK RI
Perwakilan Provinsi Bali?
3) Apakah variabel self-esteem berpengaruh pada kinerja auditor BPK RI Perwakilan
Provinsi Bali?
4) Apakah variabel self-efficacy berpengaruh pada kinerja auditor BPK RI Perwakilan
Provinsi Bali?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan penelitian, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh dari sifat kepribadian yang terdapat dalam model Core Self Evaluations
pada kinerja auditor BPK RI Perwakilan Provinsi Bali. Secara lebih spesifik tujuan dari
penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Untuk mengetahui pengaruh locus of control pada kinerja auditor BPK RI Perwakilan
Provinsi Bali.
2) Untuk mengetahui pengaruh emotional stability pada kinerja auditor BPK RI
Perwakilan Provinsi Bali.
3) Untuk mengetahui pengaruh self-esteem pada kinerja auditor BPK RI Perwakilan
Provinsi Bali.
4) Untuk mengetahui pengaruh self-efficacy pada kinerja auditor BPK RI Perwakilan
Provinsi Bali.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan memperluas wawasan dan pengetahuan para pembaca
mengenai pengaruh sifat kepribadian dalam model Core Self Evaluations pada
kinerja auditor. Hasil penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan jawaban
9
baik mendukung ataupun tidak mendukung teori. Penelitian ini juga dapat dijadikan
acuan untuk melakukan penelitian di bidang yang sama.
2)
Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan bahan pertimbangan bagi pihak BPK
RI Perwakilan Provinsi Bali mengenai kinerja auditornya. Hal tersebut dapat
dilakukan dengan memahami sifat-sifat kepribadian auditor yang akan membantu
BPK dalam proses seleksi auditor, penyesuaian bidang pekerjaan tiap individu, serta
memandu keputusan pengembangan karir auditor.
10
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
11
1) Basic tendencies
Basic tendencies merupakan bahan baku dari kepribadian. Basic tendencies dapat
diperoleh karena diwariskan atau dari suatu pengalaman yang dapat menentukan
potensi individu. Basic tendencies atau kecenderungan-kecenderungan dasar tidak
hanya meliputi tingkah laku tetapi juga kesehatan fisik, penampilan, jenis kelamin,
orientasi seksual, inteligensi, dan bakat seni.
2) Adaptasi karakteristik
Adaptasi karakteristik merupakan struktur kepribadian yang disebabkan oleh adaptasi
seseorang dengan lingkungannya. Adaptasi karakteristik meliputi peran-peran
seseorang dalam kehidupan sosial, minat, keahlian, aktivitas, kebiasaan, dan
kepercayaan. Perbedaan mendasar antara basic tendencies dan adaptasi karakteristik
terletak pada fleksibilitasnya. Basic tendencies cenderung stabil sedangkan adaptasi
karakteristik dapat dipengaruhi oleh berbagai factor eksternal, seperti kebiasaan
maupun hubungan yang dihasilkan dari interaksi individu dengan lingkungannya.
3) Self concept
Self concept terdiri atas pengetahuan, pengamatan, kepercayaan, dan evaluasi pada
diri sendiri dengan melihat berbagai peristiwa masa lalu atau sejarah kehidupan
hingga memperoleh identitas yang memberi arahan untuk tujuan dan keselarasan
dalam kehidupan.
2.2 Core Self Evaluations
Iqbal (2012) menyatakan bahwa Core self evaluations (CSE) merupakan ciri kepribadian
yang meliputi evaluasi diri, kemampuan mereka, dan kontrol pada kemampuan mereka.
Individu dengan CSE tinggi akan merasa percaya diri dan berpikir positif dari diri mereka
sendiri sedangkan orang-orang dengan evaluasi diri yang rendah akan kurang percaya diri.
Model ini terdiri dari empat sifat kepribadian yaitu locus of control, emotional stability, self-
12
esteem, dan self-efficacy. Judge dan Bono (2001) menyatakan bahwa CSE mampu
mempengaruhi penilaian orang tentang diri mereka sendiri, dunia dan orang lain, dan
melakukannya secara sadar. Individu dengan CSE tinggi lebih termotivasi untuk melakukan
pekerjaan mereka. Motivasi merupakan penentu utama dari kinerja individu. Individu dengan
pandangan positif akan melakukan sebagian pekerjaan yang lebih baik, karena peningkatan
keyakinan pada kemampuan mereka. Individu dengan evaluasi diri positif akan lebih efektif
dalam mengatasi hambatan, dengan menggunakan strategi pemecahan masalah yang lebih
baik. Selain itu, mereka akan lebih efektif dalam posisi yang membutuhkan hubungan
interpersonal yang positif atau toleransi pada stres.
2.2.1 Locus of Control
Locus of control merupakan salah satu konsep kepribadian individual dalam perilaku
keorganisasian. Konsep dasar locus of control diambil dari teori pembelajaran sosial
(learning social) (Rotter, 1966). Locus of control terkait dengan tingkat kepercayaan
seseorang tentang peristiwa, nasib, keberuntungan dan takdir yang terjadi pada dirinya,
apakah karena faktor internal atau faktor eksternal. Locus of control individu memainkan
peran penting di tempat kerja. Telah ditemukan bahwa locus of control terkait dengan
berbagai hasil pekerjaan penting termasuk kepuasan kerja dan prestasi kerja (Judge dan Bono
2001). Individu yang percaya bahwa peristiwa, kejadian, dan takdir disebabkan karena
kendali dirinya sendiri disebut dengan locus of control internal. Sedangkan individu yang
percaya bahwa peristiwa, kejadian, dan takdir disebabkan karena kendali dari faktor di luar
dirinya disebut dengan locus of control eksternal (Robbins, 2001). Seseorang yang memiliki
kecenderungan locus of control internal memandang bahwa segala sesuatu yang dialaminya,
baik yang berbentuk peristiwa, kejadian, nasib atau takdir disebabkan karena kendali dirinya
sendiri. Hal ini berarti seseorang tersebut mampu mengendalikan situasi dan kondisi yang
terjadi pada dirinya. Berbeda dengan orang yang cenderung locus of control eksternal, bahwa
13
yang bersangkutan beranggapan segala peristiwa, kajadian, takdir dan nasib disebabkan
karena kendali dari faktor eksternal. Yang bersangkutan tidak mampu mengendalikan situasi
dan kondisi yang terjadi disekelilingnya.
2.2.2 Emotional stability
Individu dengan emotional stability tinggi adalah individu yang dapat menjaga
keseimbangan emosionalnya. Individu dengan emosi yang stabil memiliki kepribadian antara
lain dapat mengatasi stres dengan baik, tidak mudah kecewa, tenang dalam situasi
menegangkan, dan tidak mudah tertekan (Purnomo dan Lestari, 2010). Tingkat emotional
stability yang rendah akan sering merasa tertekan, penuh ketegangan dan kekhawatiran,
mudah murung dan sedih, serta mudah gelisah (Luxmi dan Kaur, 2012).
Auditor dengan emotional stability rendah tidak mampu melakukaan pekerjaan dengan
efektif jika dibandingkan dengan yang memiliki emotional stability tinggi. Individu dengan
emotional stability tinggi cenderung lebih mampu bertahan dalam pekerjaan yang memiliki
tekanan kerja tinggi. Hal ini bertolak belakang dengan individu yang memiliki emotional
stability rendah, karena mereka cenderung untuk memperlihatkan sikap yang negatif ketika
mendapatkan suatu penugasan dalam pekerjaan (Jaffar dkk, 2011). Oyler (2007) berpendapat
bahwa individu dengan emotional stability rendah akan berpengaruh negatif pada kinerja dan
kepuasan kerja seseorang.
2.2.3 Self-esteem
Persaan-perasaan self-esteem, pada kenyataanya terbentuk oleh keadaan pada diri
seseorang dan bagaimana cara orang lain memperlakukan orang yang bersangkutan
(Indrawati, 2014). Self-esteem memiliki ruang lingkup yang lebih luas dibandingkan dengan
self-efficacy. Robbins (2001:58-59) menyatakan self-esteem atau penghargaan diri merupakan
derajat sejauh mana seseorang menyukai atau tidak menyukai dirinya. Baumeister dkk (2003)
14
berpendapat bahwa individu dengan self-esteem tinggi adalah individu yang memiliki sifat
atraktif, mampu membangun hubungan yang baik, serta mampu memberikan kesan baik
tentang dirinya kepada orang lain. Individu dengan kepribadian ini juga memiliki
kemampuan berkomunikasi yang baik dalam dalam suatu kelompok. Self-esteem dikaitkan
secara langsung pada pengharapan untuk sukses. Individu dengan self-esteem tinggi akan
mengambil lebih banyak resiko dalam seleksi pekerjaan dan lebih besar kemungkinannya
untuk memilih pekerjaan-pekerjaan yang tidak konvensional daripada individu dengan selfesteem rendah. Individu dengan self-esteem rendah akan lebih rawan terhadap pengaruh luar.
Perilaku individu tersebut akan cenderung menyesuaikan pada keyakinan dan perilaku dari
orang-orang yang mereka hormati. Individu dengan self-esteem rendah dalam manajerial
cenderung untuk mempedulikan usaha yang dapat menyenangkan orang lain.
2.2.4 Self-efficacy
Bandura (1993) berpendapat bahwa self-efficacy adalah kepercayaan atau keyakinan
seseorang bahwa ia dapat menguasai situasi dan menghasilkan hasil (outcomes) yang positif.
Individu dengan kepribadian ini mampu menentukan sendiri tujuan yang ingin dicapai dalam
suatu pekerjaan kemudian menentukan berapa banyak usaha dan kemampuan yang harus
dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Wood dan Bandura (1989) juga menyatakan
bahwa self-efficacy mengarah pada keyakinan mengenai kemampuan seseorang untuk
menggerakan motivasi, sumber kesadaran, dan serangkaian tindakan yang dibutuhkan untuk
menghadapi situasi tersebut. Terdapat tiga aspek dari definisi tersebut. Pertama, self-efficacy
merupakan ringkasan atau penilaian yang komprehensif atas persepsi kemampuan untuk
melakukan tugas tertentu. Kedua, self-efficacy adalah konstruk yang dinamis, ketika ada
informasi dan pengalaman baru maka anggapan pada kemampuan yang dimiliki juga akan
seketika berubah. Ketiga, self-efficacy menggambarkan proses yang lebih kompleks dan
15
membangkitkan suatu hal yang berkaitan dengan pembentukan dan pengaturan kinerja yang
adaptif pada kesesuaian situasi yang berubah.
2.3 Kinerja Auditor
Hunter & Hunter (1984) dalam Cook (2008) berpendapat bahwa kinerja individu
merupakan hal yang sangat penting karena dapat mempengaruhi produktivitas kerja suatu
organisasi. Penilaian terhadap kinerja dilihat dari bagaimana upaya seseorang untuk
mengelola tugas dan keinginannya untuk maju di tempatnya bekerja. Kinerja auditor
merupakan hasil kerja yang dicapai oleh auditor dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikan padanya, dan menjadi salah satu tolak ukur yang digunakan
untuk menentukan apakah suatu pekerjaan yang dilakukan akan baik atau sebaliknya.
Trisnaningsih (2007) menyatakan bahwa kinerja dapat diukur dengan memperhatikan
kualitas, yaitu mutu kerja yang dihasilkan; kuantitas, yaitu jumlah hasil kerja yang dihasilkan
dalam kurun waktu tertentu; dan ketepatan waktu, yaitu kesesuaian waktu yang telah
direncanakan. Secara lebih spesifik, Wright (1980) menyatakan bahwa terdapat empat aspek
untuk mengukur kinerja auditor, yaitu kemampuan teknis dan analisis, kemampuan
interpersonal, kemampuan berkomunikasi, dan karakteristik profesional.
Terdapat beberapa karakteristik yang menunjukkan bahwa seorang individu memiliki
kinerja yang tinggi, yaitu sebagai berikut (Mink, 1993:76).
1) Berorientasi pada prestasi
Individu dengan kinerja tinggi memiliki keinginan kuat membangun sebuah mimpi
tentang apa yang mereka inginkan untuk dirinya.
2) Percaya diri
Individu dengan kinerja tinggi memiliki sikap mental positif yang mengarahkannya
untuk bertindak dengan tingkat percaya diri yang tinggi.
3) Pengendalian diri
Individu dengan kinerja tinggi memiliki rasa disiplin diri yang sangat tinggi.
4) Kompetensi
16
Individu dengan kinerja tinggi telah mengembangkan kemampuan spesifik atau
kompetensi dalam daerah pilihan mereka.
2.4 Pembahasan Hasil Penelitian Sebelumnya
Terdapat beberapa penelitian sebelumnya yang meneliti mengenai kinerja auditor dan
komponen sifat kepribadian Core Self Evaluations.
menggunakan variabel dependen job satisfaction dan job performance. Variabel independen
penelitian ini adalah role stress dan the type a behavior pattern. Teknik analisis data yang
digunakan adalah zero order correlation analysis dan moderated regression. Hasil penelitian
yang diperoleh adalah role ambiguity dan role conflict berpengaruh negatif terhadap external
auditor job performance. Role ambiguity dan role conflict berpengaruh negatif terhadap
external auditor job satisfaction. Type A personality tidak mampu memperkuat hubungan
negatif antara role ambiguity dan auditor job performance. Type A personality tidak mampu
memperkuat hubungan negatif antara role conflict dan auditor job performance. Type A
personality tidak mampu memperkuat hubungan negatif antara role ambiguity dan auditor
job satisfaction. Type A personality tidak mampu memperkuat hubungan negatif antara role
conflict dan auditor job satisfaction.
Judge dkk (1997) dalam penelitiannya menggunakan variabel dependen job satisfaction.
Variabel independen penelitian ini adalah traits, source traits, dispositional trait, self-esteem,
self-efficacy, neuroticism, core evaluations of the world, core evaluations of other, internal
locus of control, affective disposition, dan dysfunctional thinking processes. Variabel
intervening dalam penelitian ini adalah situationally specific value, percept, dan importance
judgments. Penelitian ini merupakan penelitian meta analisis. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa keseluruhan variabel independen berpengaruh terhadap job satisfaction. Situationally
specific value, percept, dan importance judgments mampu memediasi hubungan antara core
evaluations dan job satisfaction.
17
Suharyanti (2003) dalam penelitiannya menggunakan variabel dependen keinginan
auditor berpindah kerja. Variabel independen dari penelitian ini adalah self-efficacy,
assertiveness, dan self-esteem. Variabel intervening dari penelitian ini adalah tekanan kerja
dan kepuasan kerja. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis perbedaan. Hasil
penelitian yang diperoleh adalah self-esteem berpengaruh signifikan pada tekanan kerja, dan
self-efficacy serta assertiveness tidak berpengaruh signifikan terhadap tekanan kerja.
Chen dan Silverthorne (2008) menggunakan job stress, job performance dan job
satisfaction sebagai variabel dependen. Variabel independen penelitian ini adalah locus of
control. Teknik analisis data yang digunakan adalah Scheffe Post-Hoc Tests. Hasil penelitian
yang diperoleh adalah locus of control berpengaruh positif terhadap job satisfaction dan job
performance, serta berpengaruh negatif terhadap job stress.
Kalber dan Cenker (2008) menggunakan job performance sebagai variabel dependen,
dan Exercised Responsibility, Experience, Autonomy, dan Role Ambiguity sebagai variabel
independen. Teknik analisis data yang digunakan adalah Persamaan Struktural Variabel Laten
(LVSE). Hasil yang diperoleh adalah experience dan exercised responsibility berpengaruh
pada job performance.
Purnomo dan Lestari (2010) pada penelitiannya menggunakan variabel dependen berupa
persepsi kinerja. Variabel independen penelitian ini adalah
kepribadian (openness to
sedangkan
openness
to
experience,
conscientiousness,
extrovertion,
dan
agreeablenesss tidak berpengaruh signifikan terhadap self-efficacy. Selain itu hasil penelitian
menunjukkan bahwa openness to experience, conscientiousness, extrovertion, agreeableness,
dan neuroticism tidak berpengaruh signifikan terhadap locus of control. Agreeableness
berpengaruh signifikan terhadap kinerja usaha sedangkan openness to experience,
conscientiousness, extrovertion, dan neuroticism tidak berpengaruh signifikan terhadap
18
kinerja usaha. Hasil penelitian selanjutnya menemukan bahwa self-efficacy berpengaruh
terhadap kinerja usaha, sedangkan locus of control tidak berpengaruh terhadap kinerja usaha.
Iskandar dan Sanusi (2011) pada penelitiannya menggunakan variabel dependen berupa
Internal Control Audit Judgment. Variabel independen penelitian ini adalah Self-Efficacy dan
Task Complexity. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi hirarki. Hasil
penelitian yang diperoleh adalah self-efficacy berpengaruh positif terhadap audit judgement
performance, tax complexity berpengaruh negatif terhadap audit judgement performance,
serta tax complexity mampu memoderasi hubungan antara self-efficacy dan audit judgement
performance.
Maulana dkk (2012) menggunakan variabel dependen berupa kinerja auditor dan variabel
independen berupa struktur audit, konflik peran, ketidakjelasan peran, serta locus of control.
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian
yang diperoleh adalah konflik peran berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor. Struktur
audit, ketidakjelasan peran, dan locus of control tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja
auditor.
Iqbal (2012) pada penelitiannya menggunakan variabel dependen berupa Job
Satisfaction. Self esteem, self efficacy, locus of control, serta emotional stability merupakan
variabel independennya. Teknik analisis data yang digunakan adalah confirmatory factor
analysis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa self esteem, self efficacy, locus of control,
serta emotional stability berpengaruh positif terhadap job satisfaction. Lihat Lampiran 1
BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN
19
Kajian Empiris
Penelitian terdahulu:
Jurnal Asing: Rotter (1966), Wood dan Bandura
(1989), Barrick dan Mount (1991), Schunk
(1995), Fisher (1995), Bandura (1993), Judge
dkk (1997), Erez dan Judge (2001), Judge dan
Bono (2001), Baumeister dkk (2003), Bono dan
Judge (2003), Chen dkk (2004), Oyler (2007),
Cook (2008), Chen dan Silverthorne (2008),
Kalber dan Cenker (2008), Chaturvedi dan
Chander (2010), Iskandar dan Sanusi (2011),
Jaffar dkk (2011), Iqbal (2012), Luxmi dan Kaur
(2012).
Jurnal Nasional: Suharyanti (2003), Safitri dkk
(2005), Trisnaningsih (2007), Badera dan Antari
(2007), Engko (2008), Chasanah (2008), Fanani
dkk (2008), Menezes (2008), Nuswandari
(2009) Purnomo dan Lestari (2010), Gautama
dan Arfan (2010), Maulana dkk (2012),
Rahmania dan Yuniar (2012), Rustiarini (2013).
Hipotesis
H1 :
Pembahasan hasil
Gambar 3.1
Kerangka Berpikir
20
21
3.2 Konsep
Feist dan Feist (2009:430) dalam teori kepribadian berpendapat bahwa suatu perilaku
dapat ditentukan oleh kepribadian seseorang. Kinerja pada penelitian ini diposisikan sebagai
perilaku dan core self evaluations sebagai sifat kepribadian. Kinerja merupakan perilaku
nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan
sesuai dengan perannya dalam perusahaan (Rivai, 2004:309). Kinerja auditor merupakan
hasil evaluasi terhadap pekerjaan auditor dalam melakukan pemeriksaan yang diukur
berdasarkan standar audit yang berlaku, dimana apabila dalam melaksanakan pemeriksaan
auditor telah memenuhi standar audit yang berlaku maka akan menghasilkan kinerja yang
baik (Gautama dan Arfan, 2010). Core self evaluations merupakan salah satu model sifat
kepribadian yang terdiri atas locus of control, emotional stability, self-esteem, dan selfefficacy (Iqbal, 2012). Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah model sifat
kepribadian core self evaluations berpengaruh pada kinerja auditor. Berikut adalah kerangka
konsep penelitian ini:
Core Self Evaluations
1. Locus of Control
2. Emotional stability
(+)
(+)
(+)
3. Self-esteem
4. Self-efficacy
(+)
Gambar 3.2
Konsep Penelitian
Kinerja Auditor
22
3.3
Hipotesis
3.3.1 Pengaruh Locus Of Control Pada Kinerja Auditor Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia (BPK RI)
Locus of control adalah derajat sejauh mana seseorang meyakini mereka dapat
menguasai nasib mereka sendiri (Robbins, 2001:56). Locus of control terkait dengan berbagai
hasil pekerjaan penting termasuk kepuasan dan prestasi kerja (Judge dan Bono, 2001). Locus
of control internal akan lebih berdampak pada prestasi kerja seseorang karena individu
dengan kepribadian ini percaya bahwa peristiwa, kejadian, dan takdir disebabkan karena
kendali dirinya sendiri. Apabila seseorang memiliki kendali atas dirinya sendiri, maka ia akan
dengan sangat mudah membangun motivasi dalam dirinya dalam menghadapi suatu
pekerjaan. Semakin tinggi motivasi seseorang dalam bekerja, maka kinerja yang dihasilkan
akan lebih tinggi. Hal ini dikuatkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Menezes (2008)
yang menemukan bahwa locus of control internal berpengaruh positif pada kinerja auditor.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H1:
Locus of control internal berpengaruh positif pada kinerja auditor Badan Pemeriksa
Keuangan Republik Indonesia (BPK RI).
3.3.2 Pengaruh Emotional Stability Pada Kinerja Auditor Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia (BPK RI)
Individu dengan emosi yang stabil memiliki kepribadian antara lain dapat mengatasi
stres dengan baik, tidak mudah kecewa, tenang dalam situasi menegangkan, dan tidak mudah
tertekan (Purnomo dan Lestari, 2010). Auditor dengan emotional stability rendah tidak
mampu melakukaan pekerjaan dengan efektif jika dibandingkan dengan yang memiliki
emotional stability tinggi (Jaffar dkk, 2011). Hal tersebut berarti individu dengan emotional
stability yang tingi akan lebih mampu bertahan dan lebih tenang dalam menghadapi suatu
pekerjaan. Individu dengan kepribadian ini juga akan mengerjakan pekerjaanya dengan lebih
efektif yang secara langsung akan berdampak pada kinerjanya. Pernyataan ini diperkuat
23
dengan hasil penelitian Barrick dan Mount (1991), Erez dan Judge (2001) serta Judge dan
Bono (2001) yang menemukan bahwa emotional stability berpengaruh positif pada kinerja.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2:
24
3.3.4 Pengaruh Self-Efficacy Pada Kinerja Auditor Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia (BPK RI)
Self-efficacy adalah sebuah keyakinan tentang probabilitas bahwa seseorang dapat
melaksanakan dengan sukses beberapa tindakan atau masa depan dan mencapai beberapa
hasil. Self-efficacy berkaitan dengan upaya seseorang dalam menyelesaikan suatu tugas,
ketahanan seseorang dalam menghadapi kegagalan, dan inisiatif seseorang untuk mencari
pemecahan masalah yang efektif (Bandura, 1996 dalam Judge dkk, 1997). Individu dengan
self-efficacy tinggi akan tekun dalam melakukan sesuatu, memiliki keragu-raguan yang lebih
sedikit, dan melakukan aktivitas serta mencari tantangan baru (Wood dan Bandura 1989).
Auditor dengan tingkat self-efficacy tinggi akan memiliki keyakinan bahwa ia mampu
menyelesaikan pekerjaanya dengan sukses dan lebih baik. Auditor dengan kepribadian ini
akan memiliki inisiatif yang tinggi dalam memecahkan suatu permasalahan. Hal tersebut
menyebabkan auditor dapat melaksanakan pekerjaannya dengan lebih optimal. Apabila
auditor dapat melakukan pekerjaanya dengan lebih optimal, maka hal ini akan seara langsung
berkontribusi positif pada kinerjanya. Pernyataan ini diperkuat dengan penelitian yang
dilakukan oleh Chasanah (2008) yang memperoleh bahwa self-efficacy berpengaruh positif
pada kinerja. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H4:
25
BAB IV
METODE PENELITIAN
26
Berikut adalah gambar mengenai rancangan penelitian:
Masalah Penelitian
Hipotesis Penelitian
Variabel Penelitian
Desain sampel
Populasi
Sampel
Responden
Gambar 4.1
Rancangan Penelitian
27
4.3 Penentuan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data yang diperoleh
secara langsung dari sumbernya, diambil dan dicatat pertama kali. Penelitian ini
menggunakan metode survei dengan teknik kuesioner yaitu dengan cara mengedarkan daftar
pernyataan yang akan diisi oleh responden untuk memperoleh data tersebut.
4.3.1 Populasi
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas sekelompok orang, kejadian
atau segala sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu (Sugiyono, 2010:115). Populasi
juga merupakan keseluruhan kumpulan elemen-elemen berkaitan dengan apa yang peneliti
harapkan dalam mengambil beberapa kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh auditor yang bekerja pada BPK RI Perwakilan Provinsi Bali. Populasi auditor BPK
RI Perwakilan Provinsi Bali sebanyak 44 orang.
4.3.2 Sampel
Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling.
Purposive sampling adalah penyampelan dengan kriteria berupa suatu pertimbangan tertentu
(Sugiyono, 2010:116). Kriteria pengambilan sampel yang digunakan adalah auditor yang
telah bekerja lebih dari atau sama dengan 1 tahun pada BPK RI Perwakilan Provinsi Bali.
Sampel dari penelitian ini sebanyak 43 orang.
4.4 Variabel Penelitian dan Pengukurannya
4.4.1 Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, antara lain sebagai berikut.
1) Variabel dependen (Y) yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat
karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2010:59).
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Y = Kinerja Auditor.
28
2) Variabel independen (X) yaitu jenis variabel yang dipandang sebagai penyebab
munculnya variabel dependen yang diduga sebagai akibatnya (Sugiyono, 2010:59).
Variabel independen dalam penelitian ini adalah Core Self Evaluations, yang terdiri
dari empat sifat kepribadian yaitu locus of control (X1), emotional stability (X2), selfesteem (X3), dan self-efficacy (X4).
4.4.2 Definisi Operasional Variabel
Berikut adalah penjelasan mengenai definisi operasional variabel yang digunakan
dalam penelitian ini:
1) Kinerja Auditor (Y)
Kinerja auditor merupakan tindakan atau pelaksanaan tugas pemeriksaan yang telah
diselesaikan oleh auditor dalam kurun waktu tertentu yang diukur melalui pengukuran
tertentu (standar) (Trisnaningsih, 2007). Wright (1980) menyatakan bahwa terdapat
empat aspek untuk mengukur kinerja auditor, yaitu kemampuan teknis dan analisis,
kemampuan interpersonal, kemampuan berkomunikasi, dan karakteristik profesional.
Pengukuran kinerja auditor dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang
diadaptasi dari penelitian Wright (1980) dan Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2007 mengenai Standar Pemeriksaan Keuangan
Negara (2007) yang terdiri atas 13 butir pertanyaan yang berkaitan dengan
kemampuan-kemampuan yang dimiliki auditor.
2) Core Self Evaluations
Core self evaluations merupakan sebuah model kepribadian yang terdiri atas empat
sifat, yaitu locus of control, emotional stability, self-esteem, dan self-efficacy.
(1) Locus of control (X1)
Locus of control terkait dengan tingkat kepercayaan seseorang tentang peristiwa,
nasib, keberuntungan dan takdir yang terjadi pada dirinya (Robbins, 2001:56).
29
Pengukuran sifat kepribadian menggunakan Work Locus of Control Scale (WLCS)
yang diadaptasi dari penelitian Spector (1988). Terdapat 7 butir pernyataan yang
berkaitan dengan kepercayaan seseorang terhadap suatu peristiwa yang terjadi
dalam dirinya.
(2) Emotional stability (X2)
Individu dengan emotional stability tinggi adalah individu yang dapat menjaga
keseimbangan emosionalnya. Individu dengan sifat ini memiliki karakteristik
kemerataan suasana hati, optimisme yang tinggi, keceriaan, ketenangan pada
perasaan, bebas dari rasa bersalah, khawatir, atau kesepian (Thorndike and Hagen,
1979 dalam Chaturvedi dan Chander, 2010). Pengukuran sifat kepribadian
menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari penelitian Eysenck & Eysenck
(1968) dalam Oyler (2007). Terdapat 8 butir pernyataan yang berkaitan dengan
keseimbangan emosional yang dimiliki oleh seorang individu.
(3) Self-esteem (X3)
Self-esteem atau penghargaan diri merupakan derajat sejauh mana seseorang
menyukai atau tidak menyukai dirinya (Robbins, 2001:58-59). Pengukuran sifat
kepribadian menggunakan Rosenberg Self-Esteem Scale yaitu dengan kuesioner
yang diadaptasi dari buku milik Rosenberg (1965). Terdapat 9 butir pernyataan
yang berkaitan dengan penghargaan diri individu terhadap dirinya serta
penerimaan terhadap diri sendiri.
(4) Self-efficacy (X4)
Self-efficacy dinyatakan sebagai kepercayaan seseorang bahwa dia dapat
menjalankan sebuah tugas pada sebuah tingkat tertentu. Hal tersebut adalah salah
satu dari faktor yang mempengaruhi aktifitas pribadi terhadap pencapaian tugas
(Bandura, 1993). Pengukuran sifat kepribadian menggunakan kuesioner yang
diadaptasi dari penelitian Judge dkk (1998) dalam Oyler (2007). Terdapat 7 butir
pernyataan yang berkaitan dengan kepercayaan individu terhadap kemampuannya
dalam menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan.
30
4.5
Instrumen Penelitian
instrumen yaitu dengan menguji validitas dan reliabilitas instrumen. Mengingat adanya
pengumpulan data menggunakan kuesioner, maka kesungguhan responden menjawab
merupakan suatu hal yang penting.
[Link] Uji Validitas
Uji validitas bertujuan untuk menguji seberapa baik instrumen penelitian mengukur
konsep yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2010:172). Pengujian validitas dapat dilakukan
31
dengan menghitung korelasi antara skor masing-masing butir pertanyaan dengan total skor
(analisis pearson correlation). Syarat minimum suatu kuesioner untuk memenuhi validitas
adalah jika nilai koefisien minimal 0,3. Nilai korelasi antar skor item dengan total item
kemudian dibandingkan dengan r kritis (0,30). Jika korelasi terhadap item skor total lebih
besar dari kritis (0,30) maka instrumen penelitian tersebut dikatakan valid.
[Link] Uji Reliabilitas
Reliabilitas memperlihatkan konsistensi suatu alat ukur dalam mengukur subjek yang
sama. Apabila hasil pengukuran memperlihatkan hasil yang relatif sama terhadap subjek yang
sama selama beberapa kali maka alat ukur tersebut reliabel (Sugiyono, 2010:173). Suatu
variabel dianggap reliabel apabila nilai cronbachs alpha lebih besar dari 0,60 (Nunnally,
1960 dalam Ghozali, 2009:46).
[Link] Method of Succesive Interval (MSI)
Suwarno (2007: 30) menyatakan bahwa data ordinal (skor kuesioner) terlebih dahulu
harus ditransformasi menjadi data interval untuk dapat diolah menjadi analisis regresi. Teknik
transformasi yang paling sederhana dengan menggunakan Method of Succesive Interval
(MSI) (Suwarno, 2007:30). Intervalisasi data nantinya akan menghasilkan nilai skala yang
disebut sebagai skala interval. Skala interval ini yang nantinya akan digunakan dalam
perhitungan regresi.
32
mengumpulkan, mempelajari, dan membaca buku, jurnal ilmiah, artikel, tesis, dan
disertasi yang berkaitan dengan judul penelitian ini.
2) Menentukan sampel penelitian dengan menggunakan teknik purposive sampling.
3) Pengumpulan data primer dilakukan dengan mengedarkan daftar pertanyaan berupa
kuesioner yang akan diisi oleh responden.
4) Melakukan uji instrumen penelitian berupa uji validitas, uji reliabilitas, dan Method of
Succesive Interval (MSI).
5) Melakukan uji Asumsi Klasik dan analisis regresi linear berganda.
6) Menginterpretasikan dan menarik simpulan berdasarkan hasil analisis regresi linear
berganda yang dilakukan.
4.7 Analisis Data
4.7.1 Uji Asumsi Klasik
Model regresi dikatakan baik apabila model tersebut bebas dari Asumsi Klasik, baik
Multikolinearitas, Autokorelasi, Normalitas, dan Heteroskedastisitas. Pada penelitian ini, uji
Asumsi
Klasik
yang
digunakan
adalah
Normalitas,
Multikolinearitas,
dan
Heteroskedastisitas. Uji Autokorelasi tidak dilakukan karena data yang digunakan tidak
berbentuk deret waktu (time series).
[Link] Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji variabel terikat dan variabel bebas dalam
model regresi berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki
distribusi normal atau mendekati normal. Penelitian ini menggunakan uji KolmogorovSmirnov untuk mendeteksi terpenuhi atau tidaknya uji Normalitas dengan ketentuan bila
signifikansi tiap variabel lebih besar dari 0,05 maka berdistribusi normal, sedangkan bila
33
signifikansi tiap variabel lebih kecil dari 0,05 maka data tidak berdistribusi normal (Ghozali,
2009: 32).
[Link] Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan
adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang bebas dari Multikolinearitas adalah
yang memiliki nilai Variance Inflation Factor (VIF) tidak lebih dari 10 dan mempunyai
angka Tolerance tidak kurang dari 10% (Ghozali, 2009: 96).
[Link] Uji Heteroskedastisitas
Ghozali (2009:125) menyatakan bahwa uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk
menguji terjadinya ketidaksamaan variance dan residual satu pengamatan ke pengamatan
yang lain dalam suatu model regresi. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas
atau tidak terjadi Heteroskedastisitas. Salah satu cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya
Heteroskedastisitas digunakan metode glejser. Metode ini dilakukan dengan meregresikan
nilai absolute ei dengan variabel bebas. Jika tidak ada satupun variabel bebas yang
berpengaruh signifikan terhadap variabel terkait (nilai absolute ei), maka tidak ada
Heteroskedastisitas (Ghozali, 2009:125).
4.7.2 Analisis Regresi Linear Berganda
Suliyanto (2011:53-54) menyatakan bahwa teknik analisis regresi linear berganda
digunakan untuk mengetahui ketergantungan suatu variabel terikat terhadap satu atau lebih
variabel bebas dengan atau tanpa variabel moderator. Analisis ini juga dapat menduga besar
arah dari hubungan tersebut serta mengukur derajat keeratan hubungan antara satu variabel
terikat dengan satu atau lebih variabel bebas.
Suliyanto (2011:53-54) menyatakan bahwa hasil analisis dinyatakan dalam bentuk
persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:
34
Y = + 1X1+ 2X2+ 3X3+ 4X4+ e......................................(3)
Adapun arti dari masing-masing notasi dalam persamaan tersebut adalah sebagai
berikut:
Notasi:
Y
X1
X2
X3
X4
1
2
3
4
e
= Kinerja auditor
= Konstanta
= Locus of control
= Emotional stability
= Self-esteem
= Self-efficacy
= koefisien regresi locus of control
= koefisien regresi emotional stability
= koefisien regresi self-esteem
= koefisien regresi self-efficacy
= error term
Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda yang nantinya akan didapatkan, dapat
diamati Goodness of Fit (uji kecocokan) dengan melihat koefisien determinasi (R 2), uji
kelayakan model (Uji F), dan uji hipotesis (Uji t). Adapun penjelasannya adalah sebagai
berikut.
[Link] Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan
suatu model dalam menerangkan variasi variabel dependen (Utama, 2009:70). Nilai koefisien
determinasi adalah diantara nol dan satu. Nilai koefisien determinasi yang kecil berarti
kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat
terbatas. Nilai koefisien determinasi yang besar yaitu mendekati satu menunjukkan bahwa
variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk
memprediksi variasi dari suatu variabel dependen (Ghozali, 2009: 87).
[Link] Uji Kelayakan Model (Uji F)
35
Pengujian ini dilakukan untuk menguji pengaruh secara simultan variabel bebas
terhadap variabel terikatnya, dimana jika variabel bebas memiliki pengaruh secara simultan
terhadap variabel terikat maka model persamaan regresi masuk dalam kriteria cocok atau fit
(Suliyanto, 2011:55). Pengujian ini dapat dilakukan dengan melihat pada hasil regresi yang
dilakukan dengan program SPSS, yaitu dengan membandingkan tingkat signifikansi. Apabila
tingkat signifikansi F = 0,05 maka H 1 diterima. Sebaliknya apabila signifikansi F > =
0,05 maka H1 ditolak (Suliyanto, 2011:67).
[Link] Uji Hipotesis (Uji t)
Uji hipotesis menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara
parsial dalam menerangkan variasi variabel dependen (Utama, 2009:71). Pengujian ini dapat
dilakukan dengan melihat pada hasil regresi yang dilakukan dengan program SPSS, yaitu
dengan membandingkan tingkat signifikansi masing-masing variabel bebas dengan = 0,05.
Apabila tingkat signifikansi t 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Sebaliknya bila tingkat
signifikansi t > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak (Suliyanto, 2011:67).
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil
5.1.1
Deskripsi Responden
Responden pada penelitian ini adalah auditor yang telah bekerja lebih dari atau sama
dengan 1 tahun pada BPK RI Perwakilan Provinsi Bali. Responden penelitian ini sebanyak
43 orang. Kriteria tersebut dipilih karena auditor yang telah bekerja lebih dari atau sama
dengan 1 tahun memiliki kecenderungan sudah pernah bertugas menverifikasi informasi yang
terdapat pada buku besar, memastikan akurasi laporan keuangan, dan mendokumentasikan
berbagai isu yang material (Simanjuntak, 2008). Berdasarkan atas pertimbangan tersebut
auditor dianggap telah memiliki cukup pengetahuan, pemahaman dan keahlian dalam
melakukan prosedur audit, sehingga diharapkan mampu memberikan tanggapan yang lebih
baik pada kuesioner.
Kuesioner yang telah disiapkan dikirimkan secara langsung kepada responden.
Kuesioner yang nantinya digunakan adalah kuesioner yang kembali dan telah diisi secara
lengkap oleh responden. Adapun rincian mengenai pengiriman dan pengembalian kuesioner
pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 5.1.
36
37
Tabel 5.1 Rincian Pengiriman dan Pengembalian Kuesioner
Keterangan
Jumlah
Kuesioner yang disebarkan
43
Kuesioner yang tidak kembali
4
Kuesioner yang dikembalikan
39
Kuesioner yang pengisiannya tidak lengkap
2
Kuesioner yang digunakan
37
Tingkat pengembalian (response rate):
39/43 x 100% = 90,69%
Tingkat pengembalian yang digunakan (usable response rate):
37/43 x 100% = 86,04%
Sumber: Data primer diolah, 2015
Tabel 5.1 menunjukkan bahwa terdapat 43 kuesioner yang disebarkan kepada auditor
BPK RI Perwakilan Provinsi Bali, namun terdapat 4 kuesioner yang tidak kembali, sehingga
jumlah yang diterima sebanyak 39 kuesioner. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini
sejumlah 37 kuesioner, karena terdapat 2 kuesioner yang pengisiannya tidak lengkap.
Penelitian ini layak untuk dilanjutkan karena berdasarkan central limit theorem menyatakan
bahwa jumlah minimal sampel untuk dapat dianggap mencapai kurva normal yaitu dengan
jumlah sampel atau responden minimum 30 (Sugiyono, 2010:129).
5.1.2
Karakteristik Responden
38
Tabel 5.2 Karakteristik Responden
No
1.
Keterangan
Jenis Kelamin
Perempuan
Laki-laki
Total
2.
Usia
30 Tahun
31-40 Tahun
41-50 Tahun
Total
3.
Tingkat Pendidikan
Terakhir
S1
S2
Total
4.
Pelatihan Audit
Pernah mengikuti
Tidak pernah mengikuti
Total
5.
Masa Kerja
1-3 Tahun
> 3-5 Tahun
> 5 Tahun
Total
Sumber: Data primer diolah, 2015
Jumlah
Persentase
14
23
37
37,84 %
62,16 %
100
%
11
17
9
37
29,73 %
45,95 %
24,32 %
100
%
32
5
37
86,49 %
13,51 %
100
%
37
0
37
100
0
100
4
9
24
37
10,81 %
24,32 %
64,86 %
100
%
%
%
%
Berdasarkan Tabel 5.2 dapat dilihat bahwa responden dalam penelitian ini sebagian besar
terdiri atas auditor yang berusia antara 31 sampai 40 tahun yaitu sebanyak 45,95%. Pada
umumnya tingkat pendidikan terakhir responden adalah S1 yaitu sebanyak 86,49%. Seluruh
auditor pernah mengikuti pelatihan audit dan mayoritas dari mereka memiliki masa kerja
selama lebih dari 5 tahun yaitu sebanyak 64,86%.
5.1.3 Hasil Analisis Data
[Link] Deskripsi Variabel Penelitian
1) Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif dalam penelitian ini memberikan informasi mengenai karakteristik
variabel penelitian yaitu nilai minimum, maksimum, rata-rata (mean), dan standar deviasi.
Nilai minimum menunjukkan nilai terkecil atau terendah pada suatu gugus data. Nilai
39
maksimum menunjukkan nilai terbesar atau tertinggi pada suatu gugus data sedangkan ratarata (mean) merupakan cara yang paling umum digunakan untuk mengukur nilai sentral dari
suatu distribusi data yang diteliti. Standar deviasi adalah ukuran yang menunjukkan standar
penyimpangan data observasi terhadap rata-rata datanya (Ghozali, 2009:19). Statistik
deskriptif dalam penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3 Statistik Deskriptif
Variabel
Minimum
Maksimum
23,84
29,03
25,04
22,21
41,04
Rata-Rata
(Mean)
18,0202
22,1892
15,1967
17,8155
27,7825
Standar
Deviasi
3,65258
4,91867
4,61794
3,01113
8,28700
Tabel 5.3 menunjukkan nilai minimum, nilai maksimum, rata-rata dan standar deviasi
dari keseluruhan variabel penelitian. Nilai minimum untuk variabel locus of control,
emotional stability, self-esteem, self-efficacy, dan kinerja auditor masing-masing sebesar
10,05, 11,78, 9,00, 13,65, dan 16,47. Nilai maksimum masing-masing variabel sebesar 23,84,
29,03, 25,04, 22,21, dan 41,04. Nilai rata-rata variabel locus of control adalah sebesar
18,0202 dan standar deviasinya sebesar 3,65258 yang menunjukan bahwa telah terjadi
penyimpangan nilai locus of control terhadap nilai rata-ratanya sebesar 3,65258. Nilai ratarata untuk variabel emotional stability, self-esteem, self-efficacy, dan kinerja auditor masingmasing adalah 22,1892, 15,1967, 17,8155, dan 27,7825. Standar deviasi masing-masing
variabel berturut-turut sebesar 4,91867, 4,61794, 3,01113, dan 8,28700.
[Link] Hasil Uji Instrumen Penelitian
1) Uji Validitas
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui bahwa pernyataan-pernyataan dalam
kuesioner tersebut valid atau tidak. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk
40
mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2010:172). Uji validitas dilakukan dengan
bantuan program Statistical Package for Social Science (SPSS). Suatu instrumen dikatakan
valid jika r 0,30 (Sugiyono, 2010:178). Hasil uji validitas pada penelitian ini dapat dilihat
pada Tabel 5.4.
Variabel
Locus of
Control (X1)
Emotional
Stability (X2)
Self-Esteem
(X3)
Self-Efficacy
(X4)
Kinerja
Auditor (Y)
Koefisien
Korelasi
Keterangan
X1.1
X1.2
X1.3
X1.4
X1.5
X1.6
X1.7
X2.1
X2.2
X2.3
X2.4
X2.5
X2.6
X2.7
X2.8
X3.1
X3.2
X3.3
X3.4
X3.5
X3.6
X3.7
X3.8
X3.9
X4.1
X4.2
X4.3
X4.4
X4.5
X4.6
X4.7
0,533
0,590
0,637
0,684
0,710
0,614
0,550
0,767
0,769
0,857
0,575
0,622
0,767
0,769
0,857
0,626
0,806
0,713
0,712
0,687
0,626
0,806
0,713
0,712
0,461
0,525
0,501
0,635
0,611
0,511
0,707
Y1.1
Y1.2
Y1.3
Y1.4
Y1.5
Y1.6
Y1.7
Y1.8
Y1.9
Y1.10
Y1.11
Y1.12
Y1.13
0,822
0,887
0,962
0,962
0,903
0,899
0,590
0,679
0,822
0,887
0,962
0,962
0,903
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
41
Berdasarkan Tabel 5.4 dapat dilihat bahwa nilai koefisien korelasinya lebih dari 0,30
sehingga dapat dinyatakan bahwa seluruh pernyataan dalam kuesioner tersebut valid sehingga
layak digunakan dalam penelitian.
2) Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur apakah
beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasikan data yang sama
(Sugiyono, 2010:173). Pengujian dilakukan dengan bantuan program Statistical Package for
Social Science (SPSS). Suatu variabel dianggap reliabel apabila nilai cronbachs alpha lebih
besar dari 0,60 (Nunnally, 1960 dalam Ghozali, 2009:46). Hasil uji reliabilitas dapat dilihat
pada Tabel 4.6.
Tabel 5.5 Hasil Uji Reliabilitas
Variabel
Cronbachs Alpha
Locus of Control (X1)
0,701
Emotional Stability (X2)
0,881
Self-Esteem (X3)
0,878
Self-Efficacy (X4)
0,645
Kinerja Auditor (Y)
0,972
Sumber: Lampiran 5 (data diolah), 2015
Keterangan
Reliabel
Reliabel
Reliabel
Reliabel
Reliabel
Nilai Cronbachs Alpha untuk variabel locus of control, emotional stability, self esteem,
self-efficacy, dan kinerja auditor berturut-turut adalah sebesar 0,701, 0,881, 0,878, 0,645, dan
0,972. Nilai Cronbachs Alpha seluruh variabel lebih besar dari 0,6 sehingga dapat dinyatakan
bahwa instrumen tersebut reliabel.
[Link] Hasil Uji Asumsi Klasik
Model persamaan regresi harus melalui uji Asumsi Klasik. Adapun uji Asumsi Klasik
yang dilakukan pada penelitian kali ini yaitu uji Normalitas, uji Multikolinearitas dan uji
Heteroskedastisitas.
42
1) Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji variabel terikat dan variabel bebas dalam
model regresi berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki
distribusi normal atau mendekati normal. Penelitian ini menggunakan uji KolmogorovSmirnov untuk mendeteksi terpenuhi atau tidaknya uji Normalitas dengan ketentuan bila
signifikansi tiap variabel lebih besar dari atau sama dengan 0,05 maka berdistribusi normal,
sedangkan bila signifikansi tiap variabel lebih kecil dari 0,05 maka data tidak berdistribusi
normal (Ghozali, 2009:32). Berdasarkan atas pengujian yang telah dilakukan, diperoleh
signifikansi yang dilihat melalui nilai koefisien Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,889 yaitu
lebih besar dari alpha 0,05 yang artinya model regresi pada penelitian ini berdistribusi
normal. Hasil uji Normalitas dapat dilihat pada Lampiran 6.
2) Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas digunakan untuk menunjukkan adanya hubungan linier diantara
variabel-variabel bebas dalam model regresi. Hasil Tolerance yang nilainya lebih besar dari
10% (0,10) dan VIF yang besarnya kurang dari 10 mengindikasikan tidak adanya
Multikolinearitas (Ghozali, 2009:96). Hasil uji Multikolinearitas dapat dilihat pada Tabel 5.6.
Tabel 5.6 Hasil Uji Multikolinearitas
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
Locus of Control (X1)
0,137
7,292
Emotional Stability (X2)
0,142
7,035
Self-Esteem (X3)
0,168
5,950
Self-Effcacy (X4)
0,144
6,968
Sumber: Lampiran 7 (data diolah), 2015
Variabel
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa variabel locus of control, emotional stability, self esteem,
dan self-efficacy menunjukkan nilai Tolerance lebih dari 10% (0,10) dan nilai VIF yang
kurang dari 10. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi permasalahan Multikolinearitas
pada model regresi dalam penelitian ini.
43
3) Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji terjadinya ketidaksamaan variance
dan residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain dalam suatu model regresi. Model
regresi yang baik adalah model regresi yang tidak mengandung gejala Heteroskedastisitas
atau mempunyai varians yang homogen. Salah satu cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya
Heteroskedastisitas digunakan metode glejser. Jika nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka
tidak terjadi Heteroskedastisitas (Ghozali, 2009: 125). Hasil uji Heteroskedastisitas dapat
dilihat pada Tabel 5.7.
Tabel 5.7 Hasil Uji Heteroskedastisitas
Variabel
t
Locus of Control (X1)
-0,180
Emotional Stability (X2)
-0,471
Self-Esteem (X3)
-0,572
Self-Effcacy (X4)
0,144
Sumber: Lampiran 8 (data diolah), 2015
Signifikansi
0,859
0,641
0,571
0,887
Tabel 5.7 menunjukkan bahwa nilai signifikansi variabel locus of control, emotional
stability, self esteem, dan self-efficacy lebih besar dari 0,05 yang berarti bahwa tidak terdapat
Heteroskedastisitas pada model regresi penelitian ini.
[Link] Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis regresi linear berganda dilakukan untuk mengatahui Goodness of Fit (uji
kecocokan) model regresi dengan melihat koefisien determinasi (R2), uji kelayakan model
(Uji F), dan uji hipotesis (Uji t). Adapun hasil analisis regresi linear berganda penelitian ini
dapat dilihat pada tabel 5.8.
44
Tabel 5.8 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Model
Unstandardized
Coeficients
B
[Link]
-74,268
14,799
0,948
0,416
1,604
0,304
(Constant)
Locus of Control (X1)
Emotional Stability
(X2)
Sef-Esteem (X3)
1,452
0,297
Self-Efficacy (X4)
1,534
0,493
R
R2
Adjusted (R2)
F Hitung
Signifikansi F
Sumber: Lampiran 9 (data diolah), 2015
Standardize
d
Beta
0,418
0,952
0,809
0,557
0,923
0,852
0,834
46,192
0,000
t
-5,019
2,277
5,283
Sig.
0,000
0,030
0,000
4,884
3,108
0,000
0,004
Berdasarkan Tabel 5.8 maka dapat disusun persamaan regresi sebagai berikut:
Y = -74,268 + 0,948 X1 + 1,604 X2 + 1,452 X3 + 1,534 X4 + e
Persamaan regresi tersebut menunjukkan bahwa variabel locus of control, emotional
stability, self-esteem, dan self-efficacy memiliki nilai koefisien positif. Apabila variabel locus
of control, emotional stability, self-esteem, dan self-efficacy bernilai nol, maka kinerja auditor
akan bernilai -74,268. Hal ini menunjukkan bahwa ketika seorang auditor sama sekali tidak
memiliki sifat kepribadian berupa locus of control, emotional stability, self-esteem, dan selfefficacy, maka yang bersangkutan akan memiliki kinerja yang buruk.
Selain menghasilkan persamaan regresi, analisis regresi linear berganda juga
digunakan untuk mengamati goodness of fit (uji kecocokan) dengan melihat koefisien
determinasi (R2), uji kelayakan model (uji F) dan uji hipotesis (uji t) yaitu sebagai berikut:
1) Koefisien Determinasi
Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai Adjusted (R2) sebesar 0,834. Hal ini
mengandung pengertian bahwa 83,4% variasi variabel kinerja auditor mampu dijelaskan oleh
variasi variabel locus of control, emotional stability, self-esteem, dan self-efficacy. Sisanya
45
sebesar 16,6% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar model misalnya pengalaman kerja
(Moroney dan Carey, 2011) dan etika profesi (Woodbine dan Liu, 2010).
2) Hasil Uji F
Uji F digunakan untuk menguji pengaruh simultan variabel bebas (X) yang digunakan
terhadap variabel terikat (Y). Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda dengan
program komputer Statistical Package for Social Science (SPSS), didapatkan nilai
signifikansi F = 0,000 lebih kecil dari alpha 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa model yang
digunakan pada penelitian ini adalah layak.
3) Hasil Uji t
Uji t digunakan untuk menguji hipotesis yang menunjukkan bahwa variabel bebas (X)
yang digunakan dalam penelitian ini secara parsial memiliki pengaruh terhadap variabel
terikat (Y). Hasil pengujian secara parsial masing-masing sebagai berikut.
(1) Pengaruh locus of control pada kinerja auditor Badan Pemeriksa Keuangan Republik
Indonesia (BPK RI)
Uji yang digunakan adalah uji satu sisi, sehingga = 0,05. Apabila nilai signifikansi t
lebih besar dari = 0,05 maka H 0 diterima dan H1 ditolak, apabila nilai signifikansi t
= 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan
bahwa nilai signifikansi t = 0,030 < = 0,05, maka H 0 ditolak dan H1 diterima sehingga
locus of control (X1) berpengaruh positif pada kinerja auditor (Y). Hal ini berarti auditor
dengan sifat kepribadian locus of control internal tinggi akan memiliki kinerja yang lebih
tinggi.
(2) Pengaruh emotional stability pada kinerja auditor Badan Pemeriksa Keuangan Republik
Indonesia (BPK RI)
46
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai signifikansi t = 0,000 < = 0,05. Berdasarkan
hal tersebut, maka H0 ditolak dan H2 diterima yang berarti emotional stability (X2)
berpengaruh positif pada kinerja auditor (Y).
(3) Pengaruh self-esteem pada kinerja auditor Badan Pemeriksa Keuangan Republik
Indonesia (BPK RI)
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai signifikansi t = 0,000 < = 0,05.
Berdasarkan hal tersebut, maka H0 ditolak dan H3 diterima yang berarti self-esteem (X3)
berpengaruh positif pada kinerja auditor (Y).
(4) Pengaruh self-efficacy pada kinerja auditor Badan Pemeriksa Keuangan Republik
Indonesia (BPK RI)
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai signifikansi t = 0,004 < = 0,05.
Berdasarkan hal tersebut, maka H0 ditolak dan H4 diterima yang berarti self-efficacy (X4)
berpengaruh positif pada kinerja auditor (Y).
5.2 Pembahasan
Berdasarkan atas hasil uji F pada penelitian ini, didapatkan bahwa model yang digunakan
dalam penelitian adalah layak (fit). Locus of control (X1), emotional stability (X2), self-esteem
(X3), dan self-efficacy (X4), secara serempak mampu menjelaskan kinerja auditor (Y) pada
BPK RI Perwakilan Provinsi Bali. Adapun hasil pengujian hipotesis yaitu pengaruh masingmasing variabel locus of control, emotional stability, self-esteem, dan self efficacy pada
kinerja auditor dijabarkan sebagai berikut.
5.2.1
control berpengaruh pada kinerja auditor. Koefisien regresi bernilai 0,948 menunjukkan
47
bahwa kepribadian locus of control berpengaruh positif pada kinerja auditor BPK RI
Perwakilan Provinsi Bali. Hasil penelitian ini konsisten dengan beberapa penelitian yang
telah dilakukan sebelumnya. Judge dan Bono (2001), Chen dan Silverthorne (2008), serta
Julianingtyas (2012) juga menemukan bahwa locus of control berhubungan positif pada
kinerja.
Locus of control adalah cara pandang seseorang terhadap suatu peristiwa apakah dia
dapat atau tidak dapat mengendalikan peristiwa yang terjadi padanya (Rotter, 1966). Masingmasing individu memiliki cara pandang yang berbeda dalam menghadapi suatu permasalahan
tertentu. Seorang auditor dengan locus of control internal tinggi cenderung dapat
mengendalikan suatu peristiwa atas kendali dirinya sendiri. Auditor akan lebih percaya
dengan kemampuannya sendiri dalam menyelesaikan suatu penugasan audit. Hal seperti ini
akan menumbuhkembangkan motivasi dalam diri auditor untuk bekerja dengan lebih optimal
yang akan berkontribusi positif pada peningkatan kinerjanya. Apabila ada dalam suatu
permasalahan, seorang auditor dengan kepribadian ini cenderung akan berusaha
menyelesaikan dengan kemampuannya sendiri terlebih dahulu. Sarita dan Agustia (2009)
menyatakan bahwa auditor dengan locus of control internal yang tinggi akan memiliki
keyakinan yang lebih tinggi terhadap kemampuannya sehingga akan menimbulkan kepuasan
kerja tersendiri bagi dirinya. Kepuasan kerja tersebut nantinya akan berpengaruh pada
peningkatan kinerja auditor.
5.2.2
stability berpengaruh pada kinerja auditor. Koefisien regresi bernilai 1,604 menunjukkan
bahwa kepribadian emotional stability berpengaruh positif pada kinerja auditor BPK RI
Perwakilan Provinsi Bali. Hasil penelitian ini konsisten dengan beberapa penelitian
48
sebelumnya. Barrick dan Mount (1991), Erez dan Judge (2001), serta Judge dan Bono (2001)
menemukan bahwa emotional stability berpengaruh positif pada kinerja.
Emotional stability merupakan sifat kepribadian pada suatu individu yang dapat menjaga
keseimbangan emosionalnya yang ditunjukkan dengan mampu mengatur rasa cemas, amarah,
depresi, dan perasaan tidak aman. Individu dengan emotional stability tinggi memungkinkan
mereka untuk mengembangkan persepsi lebih positif atas permasalahan yang mereka hadapi.
Auditor dengan emotional stability tinggi juga cenderung akan lebih mudah beradaptasi
dengan lingkungan yang sulit sekalipun (Chaturvedi dan Chander, 2010). Saat auditor
mengembangkan persepsi positif terhadap suatu permasalahan, yang bersangkutan cenderung
akan memiliki kemampuan mencari pemecahan masalah yang lebih efektif (Halim dkk,
2011). Ketika mencari pemecahan masalah yang lebih efektif, secara tidak langsung mereka
mengasah kemampuannya dalam bekerja khususnya dalam melaksanakan penugasan audit.
Kemampuan tersebut akan membangun tingkat konsentrasi yang lebih tinggi, keterampilan,
serta pengaturan kerja yang lebih baik. Tingkat konsentrasi yang tingi serta keterampilan
kerja yang baik akan membuat auditor lebih teliti sehingga mampu meminimalisasi kesalahan
yang terjadi ketika bekerja. Hal ini akan membuat yang bersangkutan bekerja dengan lebih
optimal sehingga dapat meningkatkan kinerjanya.
49
Self-esteem adalah nilai umum yang diberikan oleh seseorang untuk dirinya sendiri
(Iqbal, 2012). Self-esteem merupakan sifat kepribadian mengenai sejauh mana seseorang
melihat dirinya mampu dan layak untuk melakukan suatu pekerjaan (Coopersmith, 1967:4-5
dalam Judge dan Bono, 2003). Self-esteem juga berkaitan dengan kepercayaan diri dan
harapan yang besar untuk sukses (Leary dkk, 1995). Kepercayaan diri dapat berkembang
seiring dengan berjalannya waktu. Hal tersebut bisa ditingkatkan melalui program pelatihan
dan diasah melalui pendidikan formal. Sejalan dengan karakteristik auditor pada penelitian
ini, seluruhnya sudah pernah mengikuti pelatihan audit. Mayoritas auditor juga telah
mengenyam tingkat pendidikan Strata 1 (S1). Hal tersebut memungkinkan auditor memiliki
rasa percaya diri yang lebih tinggi atas kemampuannya, sehingga dapat melaksanakan
penugasan audit dengan lebih baik. Self-esteem tinggi juga berhubungan dengan sifat optimis
serta keinginan tinggi untuk mencapai tujuan (Bandura 1977). Rasa percaya diri akan
membangun sifat optimis auditor dalam bekerja, sehingga mampu menghasilkan kinerja yang
lebih baik.
5.2.4
efficacy berpengaruh pada kinerja auditor. Koefisien regresi bernilai 1,534 menunjukkan
bahwa kepribadian self-efficacy berpengaruh positif pada kinerja auditor BPK RI Perwakilan
Provinsi Bali. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Bono dan Judge (2001), Erez
dan Judge (2001), Engko (2008), serta Chasanah (2008).
Wood dan Bandura (1989) menyatakan bahwa self-efficacy mengarah pada keyakinan
mengenai kemampuan seseorang untuk menggerakan motivasi, sumber kesadaran, dan
serangkaian tindakan yang dibutuhkan untuk menghadapi situasi tersebut. Self-efficacy dapat
ditumbuhkan salah satunya dengan pengalaman (Bandura, 1977). Karakteristik auditor yang
50
sebagian besar telah memiliki masa kerja diatas 5 tahun yaitu sebesar 64,86%, menunjukkan
bahwa mereka memiliki pengalaman yang cukup baik dalam melakukan pekerjaan seperti
penugasan audit. Hal tersebut membuat auditor memiliki keyakinan dan judgement positif
terhadap kemampuannya sendiri. Self-efficacy juga dapat dibentuk dari dukungan perusahaan
(Chasanah, 2008). Salah satu bentuk dukungan yang diberikan BPK RI Perwakilan Provinsi
Bali adalah pembekalan melalui pelatihan audit. Pelatihan audit dapat menumbuhkan
keyakinan auditor atas kemampuan dan pengetahuan yang mereka miliki sehingga akan
berkontribusi positif pada kinerjanya. Bandura (1996) dalam Judge dkk (1997) menyatakan
bahwa self-efficacy berkaitan dengan upaya atau inisiatif seseorang untuk menyelesaikan
suatu tugas. Semakin tinggi inisiatif yang dimiliki auditor, maka akan semakin tinggi
motivasinya dalam bekerja. Semakin tinggi motivasi yang mereka miliki, akan semakin
tinggi kinerja yang mampu dihasilkan.
51
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
6.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai sifat kepribadian model Core Self Evaluations
pada kinerja auditor BPK RI Perwakilan Provinsi Bali dapat disimpulkan bahwa.
1) Locus of control berpengaruh positif pada kinerja auditor BPK RI Perwakilan Provinsi
Bali. Hasil penelitian ini bermakna bahwa semakin tinggi sifat kepribadian locus of
control internal yang dimiliki oleh seorang auditor, maka akan semakin baik kinerja
yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan auditor memegang kendali atas kemampuannya
sendiri, sehingga mampu bekerja dengan lebih optimal yang akan berkontribusi
positif pada kinerja yang dihasilkan.
2) Emotional stability berpengaruh positif pada kinerja auditor BPK RI Perwakilan
Provinsi Bali. Semakin tinggi sifat kepribadian emotional stability yang dimiliki oleh
seorang auditor, maka akan semakin baik kinerja yang dihasilkan. Auditor lebih
mampu memberi persepsi positif terhadap suatu permasalahan yang terjadi. Auditor
juga memiliki tingkat konsentrasi tinggi serta mampu mengatur pekerjaan dengan
lebih baik, sehingga mampu meningkatkan kinerjanya.
3) Self-esteem berpengaruh positif pada kinerja auditor BPK RI Perwakilan Provinsi
Bali. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi sifat kepribadian selfesteem yang dimiliki oleh seorang auditor, maka akan semakin baik kinerja yang
dihasilkan. Tingkat pendidikan, pelatihan, serta masa kerja yang dimiliki auditor turut
mendukung tumbuh kembang rasa percaya diri atas kemampuan mereka. Hal tersebut
membuat auditor lebih optimis untuk melakukan pekerjaan dengan optimal, sehingga
mampu meningkatkan kinerjanya.
52
4) Self-efficacy berpengaruh positif pada kinerja auditor BPK RI Perwakilan Provinsi
Bali. Semakin tinggi sifat kepribadian self-efficacy yang dimiliki oleh seorang auditor,
maka akan semakin baik kinerja yang dihasilkan. Masa kerja lebih dari 5 tahun yang
dimiliki mayoritas auditor menunjukan bahwa mereka memiliki pengalaman yang
cukup matang dalam melaksanakan pekerjaan seperti penugasan audit. Hal ini dapat
menimbulkan keyakinan positif dalam diri auditor yang dapat membantu
meningkatkan kinerjanya.
6.2 Saran
Penelitian ini tidak terlepas dari berbagai keterbatasan, antara lain metode pengumpulan
data penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik kuesioner sehingga dapat
menyebabkan kemungkinan terjadinya perbedaan persepsi antara responden dan peneliti
berkaitan dengan pernyataan yang terdapat dalam kuesioner. Responden pada penelitian ini
adalah auditor dari seluruh jabatan fungsional yang telah bekerja lebih dari atau sama dengan
satu tahun. Responden menilai kinerja dirinya sendiri (self-rated measures) dengan mengisi
kuesioner yang tersedia. Cara tersebut cenderung menghasilkan jawaban yang bersifat
subjektif. Hal ini sebenarnya dapat diatasi dengan menjadikan pemeriksa madya dan utama
selaku pengendali mutu pemeriksaan sebagai responden sehingga dapat memberikan
penilaian yang lebih objektif terhadap kinerja auditor pelaksana pemeriksaan. Namun hal
tersebut tidak dapat dilakukan karena BPK RI Perwakilan Provinsi Bali memiliki jumlah
auditor pemeriksa madya dan utama yang kecil (kurang dari 30). Selain itu, penelitian ini
hanya menggunakan sifat kepribadian model Core Self Evaluations untuk memengaruhi
kinerja auditor.
Berdasarkan keterbatasan penelitian yang telah disebutkan di atas, maka masih
diperlukan pengembangan dan perbaikan guna memperoleh hasil penelitian yang lebih baik
53
pada penelitian-penelitian selanjutnya. Berikut adalah beberapa saran yang dapat
disampaikan.
1) Penelitian selanjutnya diharapkan mengkombinasikan dengan teknik wawancara
sehingga hasil yang diperoleh akan lebih akurat.
2) Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan auditor dengan jabatan fungsional
pemeriksa madya dan utama sebagai responden atau dapat menggunakan yang
bersangkutan sebagai grup kontrol. Hal ini dilakukan karena jabatan fungsional tersebut
merupakan pengendali mutu pemeriksaan yang dianggap mengetahui kinerja dari auditor
pemeriksa pertama dan muda selaku pelaksana tugas pemeriksaan. Cara ini dianggap
mampu memberikan hasil yang lebih objektif dibandingkan dengan penilaian kinerja
yang dilakukan oleh diri sendiri (self-rated measures). Peneliti selanjutnya dapat
memperluas ruang lingkup penelitian untuk mendapatkan jumlah auditor pemeriksa
madya dan utama yang lebih banyak.
3) Penelitian selanjutnya dapat meneliti mengenai kinerja auditor BPK RI dengan
menampilkan suatu standarisasi atau penggolongan kinerja auditor. Misalkan nilai
kinerja dari persamaan regresi 0-5 tergolong berkinerja buruk, 6-10 tergolong berkinerja
rendah, dan 11-15 berkinerja baik.
4) Penelitian berikutnya dapat dikembangkan dengan mengukur kepribadian auditor
eksternal, misalnya pada Kantor Akuntan Publik.
5) Penelitian selanjutnya dapat menemukan variabel-variabel baru yang berpengaruh pada
kinerja auditor maupun menggunakan model kepribadian lainnya, seperti Myers-Briggs
Type Indicator ataupun The Big Five Personality.
6) BPK RI khususnya Perwakilan Provinsi Bali disarankan untuk tetap mengikutsertakan
auditornya dalam pelatihan secara berkala, sehingga mampu meningkatkan kompetensi
auditornya. BPK juga diharapkan tetap memerhatikan kondisi kerja auditor. Hal tersebut
54
dapat dilakukan salah satunya dengan memberikan sarana dan prasarana yang dapat
menunjang kinerja. Apabila seorang auditor memiliki sifat kepribadian Core Self
Evaluations, namun tidak didukung oleh pelatihan, sarana, dan prasarana yang
menunjang dari institusi tempatnya bekerja, maka yang bersangkutan akan mengalami
kesulitan dalam bekerja secara optimal sehingga dapat memengaruhi kinerjanya.
7) BPK RI khususnya Perwakilan Provinsi Bali disarankan untuk tetap menggunakan sifat
kepibadian sebagai bahan pertimbangan dalam proses seleksi auditor, penyesuaian
bidang kerja, atau untuk memandu keputusan pengembangan karir auditor. Hal tersebut
penting untuk dilakukan mengingat pada penelitian ini, keempat sifat kepribadian dalam
model Core Self Evaluations telah terbukti berpengaruh positif pada peningkatan kinerja
auditor. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran pada BPK RI
bahwa sifat kepribadian memegang peranan penting pada kinerja.
55
DAFTAR PUSTAKA
Badera, I. D. W dan Antari, I. A. S. 2007. Pengaruh Fee Audit, Ukuran Kantor Akuntan
Publik dan Lamanya Penugasan Audit terhadap Independensi Penampilan Auditor. AUDI,
Vol. 2 (1).
Bandura, A. 1993. Perceived Self-Efficacy in Cognitive Development and Functioning.
Educational Psychologist, Vol. 28: 117-148.
Barrick, M. R. dan Mount, M. K. 1991. The Big Five Personality Dimensions and Job
Performance: A Meta-Analysis. Personel Psychology, Vol. 44: 1-26.
Baumeister, R. F., Campbell, J. D., Krueger, J. I., dan Vohs, K. D. 2003. Does High SelfEsteem Cause Better Performance, Interpersonal Success, Happiness, or Healthier Lifestyles?
Psychological Science in the Public Interest, Vol. 4:1-44.
Bono, J. E. dan Judge, T. A. 2003. Core SelfEvaluations: A Review of the Trait and its Role
in Job Satisfaction and Job Performance. European Journal of Personality, Vol 17: 5-8.
Chasanah, Nur. 2008. Analisis Pengaruh Empowerment, Self-Efficacy dan Budaya
Organisasi Terhadap Kepuasan Kerja Dalam Meningkatkan Kinerja Karyawan (Studi Empiris
pada Karyawan PT. Mayora Tbk Regional Jateng dan DIY), (tesis). Semarang: Universitas
Diponegoro.
Chaturvedi, M. dan Chander, R. 2010. Development of Emotional Stability Scale. Industrial
Psychiatry Journal, Vol. 19: 37-40.
Chen, G., Gully, S. M., dan Eden D. 2004. General SelfEfficacy and SelfEsteem: Toward
Theoretical and Empirical Distinction Between Correlated SelfEvaluations. Journal of
Organizational Behavior, Vol. 25: 375-395.
Chen, J. C. dan Silverthorne. 2008. The Impact of Locus of Control on Job Stress, Job
Performance and Job Satisfaction in Taiwan. Leadership & Organization Development
Journal, Vol. 29: 572-582.
Cook, A. L. 2008. Job Satisfaction and Job Performance: Is The Relationship Spurious
(tesis). Texas: Texas A&M University.
Engko, C. 2008. Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Individual Dengan Self Esteem
dan Self Efficacy Sebagai Variabel Intervening. Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol. 10: 1-12.
Erez, A. dan Judge, T. A. 2001. Relationship of Core Self-Evaluations to Goal Setting,
Motivation, and Performance. Journal of Applied Psychology, Vol. 86: 1270-1279.
Fanani, Z. dan Hanif, R. A. 2007. Pengaruh Gender, Tekanan Ketaatan, dan Kompleksitas
Tugas Terhadap Audit Judgment. Simposium Nasional Akuntansi X. Makassar, 26-28 Juli
2007.
Feist, Jess dan Feist, Gregory J. 2009. Theories of Personality. Amerika Serikat: McGraw
Hill.
56
Fisher, R. T. 1995. Role Stress, The Type A Behaviour Pattern, and External Auditor Job
Satisfaction and Performance, (tesis). New Zealand: Lincoln University.
Gautama, Ibnu dan Arfan, Muhammad. 2010. Pengaruh Kepuasan Kerja, Profesionalisme,
dan Penerapan Teknologi Terhadap Kinerja Auditor. Jurnal Telaah dan Riset Akuntansi, Vol.
3: 195-205.
Ghozali, Imam. 2009. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Edisi Kedua.
Semarang: Universitas Diponegoro.
Halim, F. W., Zainal, A., Khairudin, R., Shahrazad, W., Nasir, R., dan Fatimah, O. 2011.
Emotional Stability and Conscientiousness as Predictors towards Job Performance. Pertanika
J. Soc. Sci & Hum, Vol 19: 139-145.
Iqbal, Y. 2012. Impact of Core Self Evaluation (CSE) On Job Satisfaction in Education Sector
of Pakistan. Journal of Global Strategic Management, Vol. 12: 132-139.
Iskandar, T. M. dan Sanusi, Z. M. 2011. Assesing the Effects of Self-Efficacy and Task
Complexity on Internal Control Audit Judgement. Asian Academy of Management Journal of
Accounting and Finance, Vol. 7: 29-52.
Jaffar, N., Haron, H., dan Iskandar, T. M. 2011. Fraud Risk Assesment and Detection of
Fraud: The Moderating Effect of Personality. International Journal of Business and
Management, Vol. 6: 40-50.
Judge, T. A., Locke, E. A., dan Durham, C. C. 1997. The Dispositional Causes of Job
Satisfaction: A Core Evaluations Approach. Research in Organizational Behavior, Vol. 19:
151-188.
Judge, T. A. dan Bono, J. E. 2001. Relationship of Core Self-Evaluations Traits With Job
Satisfaction and Job Performance: A Meta-Analysis. Journal of Applied Psychology, Vol. 86:
80-92.
Julianingtyas, B. N. 2012. Pengarus Locus of Control, Gaya Kepemimpinan dan Komitmen
Organisasi Terhadap Kinerja Auditor. Accounting Analysis Journal, Vol. 1:7-14.
Kompas. 2014. Barnabas Suebu Tersangka Kasus PLTA. [Link] 31 Agustus
2014. (17:15).
Kalbers, L. P. dan Cenker, W. J. 2008. The Impact of Exercised Responsibility, Experience,
Autonomy, and Role Ambiguity on Job Performance in Public Accounting. Journal of
Managerial Issues, Vol. 20: 327-347.
Leary, M. R., Tambor, E. S., Terdal, S. K., dan Downs, D. L. 1995. Self-Esteem as an
Interpersonal Monitor: The Sociometer Hypothesis. Journal of Personality and Social
Psychology, Vol. 68: 518-530.
Luxmi, Dr. dan Kaur, S. 2012. Effect of Personality on Organizational Role Stress: A Case
Studuy of Working Woman in Ludhiana. International Journal of Physical and Social
Sciences, Vol. 2: 211-225.
57
Maulana, I., Zirman, dan Silfi, A. 2012. Pengaruh Struktur Audit, Konflik Peran,
Ketidakjelasan Peran dan Locus Of Control Terhadap Kinerja Auditor (Studi Empiris Pada
Kantor Akuntan Publik Di Pekanbaru dan Batam). Jurnal Akuntansi dan Keuangan
Indonesia, Vol. 5: 139-155.
Menezes, A. A. 2008. Analisis Dampak Locus Of Control Terhadap Kinerja dan Kepuasan
Kerja Internal Auditor (tesis). Semarang: Universitas Diponegoro.
Merdeka, R. 2013. Aparat Kemeterian Paling
[Link] 31 Agustus 2014. (17:40).
Banyak
Tersangkut
Korupsi.
Mink, Oscar G. 1993. Developing High Performance People: The Art of Coaching. USA:
Addison-Wesley Publishing Company.
Moroney, R dan Carey, P. 2011. Industry Versus Task Based Experience and Auditor
Performance. Auditing: A Journal of Practice & Theory, Vol. 30: 1-18.
Nuswandari, Cahyani. 2009. Pengaruh Corporate Governance Perception Index Terhadap
Kinerja Perusahaan Pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Bisnis dan
Ekonomi, Vol. 16: 70-84.
Oyler, J. D. 2007. Core Self-Evaluations and Job Satisfaction: The Role of Organizational
and Community Embeddedness, (disertasi). Virginia: Virginia Polytechnic Institute and
State University.
Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2007. 7 Maret
2007. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 4707. Jakarta.
Purnomo, R. dan Lestari, S. 2010. Pengaruh Kepribadian, Self-Efficacy, dan Locus of Control
Terhadap Persepsi Kinerja Usaha Skala Kecil dan Menengah. Jurnal Bisnis dan Ekonomi,
Vol. 17: 144-160.
Putri. 2013. Kisruh CPNS, Dua Staf BKD Bali Jadi Tersangka. [Link] 31
Agustus 2014 (16:53).
Rahmania, P.N. dan Yuniar, I. C. 2012. Hubungan Antara Self-Esteem dengan
Kecenderungan Body Dysmorphic Disorder Pada Remaja Putri. Jurnal Psikologi Klinis dan
Kesehatan Mental, Vol. 1: 110-117.
Rivai, V. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan. Jakarta: Grafindo. p.
304.
Rizki, Muhamad. 2013. BPK: Total Kerugian Negara dari Hambalang Rp 463 M.
[Link] 11 November 2014 (21:05)
Robbins, S. P. 2001. Perilaku Organisasi. Jakarta: Salemba Empat.
Robbins, S. P. dan Judge, T. A. 2008. Perilaku Organisasi. (Diana Angelica, Ria Cahyani, dan
Abdul Rosyid). Jakarta: Salemba Empat.
58
Rosenberg, M. 1965. Society and the Adolescent Self-Image. Princeton, NJ: Princeton
University Press.
Rotter, J. B. 1966. Generalized Expectancies For Internal Versus External Control of
Reinforcement. Psychological Monographs: General and Applied, Vol. 80: 1-28.
Ruqoyah, S. 2010. Suap BPK Jabar, KPK
[Link] 13 Maret 2015 (17:10).
Periksa
PNS
Kota
Bekasi.
59
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2006 Badan Pemeriksa Keuangan. 30
Oktober 2006. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 85. Jakarta.
Utama, S. 2009. Aplikasi Analisis Kuantitatif. Denpasar: Fakultas Ekonomi Universitas
Udayana.
Wood, R. dan Bandura, A. 1989. Social Cognitive Theory of Organizational Management.
Academy of Management Review, Vol. 14: 361-384.
Woodbine, G. F. dan Liu, J. 2010. Leadership Styles and the Moral Choice of Internal
Auditors. Electronic Journal of Business Ethics and Organization Studies, Vol. 1: 28-35.
Wright. A. 1980. Performance Appraisal of Staff Auditors. The CPA Journal, Vol. 50: 37-43.
60
Lampiran 1
HASIL PENELITIAN SEBELUMNYA
No
1.
Nama
(Tahun)
Fisher
(1995)
Judul
Role Stress,
The Type A
Behavior
Pattern, and
External
Auditor Job
Satisfaction
and
Performance
Variabel
Variabel
dependen
yang
digunakan
adalah job
satisfaction
dan job
performance.
Variabel
independen
yang
digunakan
adalah role
stress
Variabel
moderasi yang
digunakan
adalah the
Type A
behavior
pattern.
Metode
Penelitian
Moderated
Regression
Hasil
Role ambiguity dan role
conflict berpengaruh
negatif terhadap external
auditor job performance.
Role ambiguity dan role
conflict berpengaruh
negatif terhadap external
auditor job satisfaction.
Type A personality tidak
mampu memperkuat
hubungan negatif antara
role ambiguity dan
auditor job performance.
Type A personality tidak
mampu memperkuat
hubungan negatif antara
role conflict dan auditor
job performance.
Type A personality tidak
mampu memperkuat
hubungan negatif antara
role ambiguity dan
auditor job satisfaction.
Type A personality tidak
mampu memperkuat
hubungan negatif antara
role conflict dan auditor
job satisfaction.
61
Lampiran 1 (Lanjutan)
2.
Judge dkk
(1997)
The
Dispositional
Causes Of Job
Satisfaction:
A Core
Evaluations
Approach
Variabel
dependen
dalam
penelitian ini
adalah job
satisfaction.
Variabel
independen
penelitian ini
adalah traits,
source traits,
dispositional
trait, selfesteem, selfefficacy,
neuroticism,
core
evaluations of
the world,
core
evaluations of
other, internal
locus of
control,
affective
disposition,
dan
dysfunctional
thinking
processes.
Variabel
intervening
dalam
penelitian ini
adalah
situationally
specific value,
percept, dan
importance
judgments.
Metode
MetaAnalysis
Keseluruhan variabel
independen
berpengaruh terhadap
job satisfaction.
Situationally specific
value, percept, dan
importance judgments
mampu
memediasi
hubungan antara core
evaluations dan job
satisfaction.
62
Lampiran 1 (Lanjutan)
3.
4.
Suharyanti
(2003)
Chen dan
Silverthorne
(2008)
Pengaruh
Self-efficacy,
Assertiveness,
dan SelfEsteem
Terhadap
Keinginan
Auditor
Berpindah
Kerja dengan
Mediasi
Tekanan Kerja
dan Kepuasan
Kerja
The Impact Of
Locus of
Control on
Job Stress,
Job
Performance
and Job
Satisfaction in
Taiwan
Variabel
dependen
yang
digunakan
adalah
keinginan
auditor
berpindah
kerja.
Variabel
independen
yang
digunakan
adalah selfefficacy,
assertiveness,
dan selfesteem.
Variabel
intervening
yang
digunakan
adalah
tekanan kerja
dan kepuasan
kerja.
Variabel
dependen
yang
digunakan
adalah job
stress, job
performance
dan job
satisfaction.
Variabel
independen
yang
digunakan
adalah Locus
of Control.
Metode
Analisis
Perbedaan
Self-esteem
berpengaruh signifikan
pada tekanan kerja.
Self-efficacy serta
assertiveness tidak
berpengaruh signifikan
terhadap tekanan kerja.
Metode
Scheffe PostHoc Tests.
Locus of control
berpengaruh positif
terhadap job
satisfaction.
Locus of Control
berpegaruh positif
terhadap job
performance.
Locus of Control
berpengaruh negatif
terhadap job stress.
63
Lampiran 1 (Lanjutan)
5.
Kalber, dan
Cenker
(2008)
Purnomo dan
Lestari
(2010)
The Impact of
Exercised
Responsibility,
Experience,
Autonomy, and
Role Ambiguity
on Job
Performance in
Public
Accounting
Variabel
dependen yang
digunakan
adalah job
performance.
Pengaruh
Kepribadian,
Self-Efficacy,
dan Locus Of
Control
Terhadap
Persepsi kinerja
Usaha Skala
Kecil dan
Menengah
Variabel
dependen yang
digunakan
adalah persepsi
kinerja.
Variabel
independen
yang digunakan
adalah
Exercised
Responsibility,
Experience,
Autonomy, dan
Role
Ambiguity.
Multiple
Neuroticism berpengaruh
Regressio signifikan terhadap selfn Analysis. efficacy sedangkan openness
to experience,
conscientiousness,
extrovertion, dan
Variabel
agreeablenesss tidak
independen
berpengaruh signifikan
yang digunakan
terhadap self-efficacy.
adalah
kepribadian,
Openness to experience,
self-efficacy,
conscientiousness,
dan locus of
extrovertion, agreeableness,
control.
dan neuroticism tidak
berpengaruh signifikan
terhadap locus of control.
Agreeableness berpengaruh
signifikan terhadap kinerja
usaha sedangkan openness to
experience,
conscientiousness,
extrovertion, dan neuroticism
tidak berpengaruh signifikan
terhadap kinerja usaha.
Self-efficacy berpengaruh
terhadap kinerja usaha,
sedangkan locus of control
tidak berpengaruh terhadap
kinerja usaha
64
7.
8.
Iskandar dan
Sanusi
(2011)
Maulana, dkk
(2012)
Assessing The
Effects of SelfEfficacy and
Task
Complexity on
Internal
Control Audit
Judgment
Pengaruh
Struktur Audit,
Konflik Peran,
Ketidakjelasan
Peran dan
Locus of
Control
Terhadap
Kinerja
Auditor
Variabel
dependen yang
digunakan
adalah Internal
control audit
judgement.
Analisis
Regresi
Hirarki
Variabel
independen
yang digunakan
adalah selfefficacy and
task
complexity.
Variabel
dependen yang
digunakan
adalah Struktur
Audit, Konflik
Peran,
Ketidakjelasan
Peran dan Locus
of Control
Self-efficacy berpengaruh
positif terhadap audit
judgement performance.
Analisis
Regresi
Linear
Berganda
Konflik peran
berpengaruh signifikan
terhadap kinerja auditor.
Struktur audit,
ketidakjelasan peran, dan
locus of control tidak
berpengaruh signifikan
terhadap kinerja auditor.
Variabel
independen
yang digunakan
adalah kinerja
auditor
9.
Iqbal (2012)
Impact Of
Core Self
Evaluation
(CSE) On Job
Satisfaction in
Education
Sector Of
Pakistan
Variabel
dependen yang
digunakan
adalah job
satisfaction.
Variabel
independen
yang digunakan
adalah CSE.
Structure
Equation
Modelling
65
Lampiran 2
KUESIONER PENELITIAN
Denpasar,
2014
Yth.
Bapak/ Ibu/ Saudara/i Responden
diTempat
Perihal
Lampiran
Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama
: Ni Nyoman Sri Rahayu Damayanti
NIM
: 1391661007
Pekerjaan : Mahasiswa Magister Akuntansi Universitas Udayana
Adapun topik dari penelitian yang diangkat adalah Pengaruh Sifat Kepribadian Model
Core Self Evaluations Pada Kinerja Auditor BPK RI Perwakilan Provinsi Bali.
Untuk dapat menyelesaikan tugas penelitian tersebut, sangat diperlukan bantuan dari
pihak-pihak terkait terutama para auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan
Bali. Untuk maksud tersebut, saya memohon kesediaan Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan
mengisi kuesioner yang semata-mata untuk kepentingan ilmiah, bukan untuk hal diluar
kepentingan akademis, serta saya akan menjaga kerahasiaan identitas responden dan isi
kuesioner.
Atas kesediaan waktu dalam menjawab kuesioner ini peneliti sampaikan terima kasih,
sekaligus meminta maaf seandainya penelitian ini mengganggu pekerjaan responden.
Peneliti,
66
Lampiran 2 (Lanjutan)
I. PERTANYAAN UMUM
Daftar pertanyaan berikut
Ibu/ Saudara/i.
1. Nama
2. Usia
3. Status perkawinan
4. Jabatan
5. Pendidikan terakhir
6. Jenis Kelamin
7. Pelatihan yang diikuti
8. Pengalaman bekerja
67
A. Locus of Control
NO.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
STS
1
Uraian Pernyataan
TS
2
S
3
B. Emotional stability
NO.
Uraian Pernyataan
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
STS
1
TS
2
S
3
SS
4
SS
4
68
C. Self-esteem
NO.
Uraian Pernyataan
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
STS
1
TS
2
S
3
SS
4
S
3
SS
4
D. Self-efficacy
NO.
Uraian Pernyataan
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
STS
1
TS
2
69
Lampiran 2 (Lanjutan)
E. Kinerja Auditor
NO.
Uraian Pernyataan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
TP
1
J
2
SR
3
S
4