Suhu Optimal Fermentasi Roti
Suhu Optimal Fermentasi Roti
id/2
015/05/[Link]
Minggu, 03 Mei 2015
Laporan Praktikum Fermentasi Roti
FERMENTASI ROTI
1. TUJUAN PERCOBAAN
1. Mahasiswa dapat mengetahui Teknologi pembuatan roti dengan perbedaan
kandungan protein di dalam tepung terigu.
2. Mahasiswa dapat mempelajari proses fermentasi pada pembuatan roti.
3. Mahasiswa dapat membandingkan kualitas produk dengan produk komersil.
2. PERALATAN DAN BAHAN
1. Peralatan yang digunakan yaitu timbangan, gelas ukur, baki alumunium, mixer,
pisau, roller, oven, dan kompor.
2. Bahan yang digunakan yaitu 300 gram tepung terigu protein tinggi/cakra, 200 gram
tepung terigu serba guna/segitiga, 75 gram gula pasir, 10 gram ragi instan, 2 sdm
susu bubuk, 1 sat bread improver, sdt garam, 3 butir telur, 150 ml air, 100 gram
margarin. Olesan: 1 kuning telur campur dengan 2 sdm susu cair, diaduk rata. Isi:
keju chedar, coklat parut secukupnya.
3. DASAR TEORI
Roti adalah produk makanan yang terbuat dari fermentasi tepung terigu
dengan ragi atau bahan pengembang lainnya kemudian di panggang. Bahan
pembuatan roti terdiri dari bahan baku dan bahan penunjang.
Bahan baku meliputi terigu. Terigu yang digunakan sebagai bahan dasar
pembuatan roti adalah tepung terigu yang memiliki kadar protein tinggi, karena
memerlukan air lebih banyak agar gluten yang terbentuk dapat menyinpan gas
sebanyak banyaknya sehingga didapatkan volume yang besar. Akan tetapi roti
akan menjadi alot sehingga perlu diimbangi dengan penambahan pemakainan
bahan bahan lain yang berfungsi untuk mengempukkan roti seperti gula,
margarine dan kuning telur. Ada cara yang sering digunakan agar roti yang
dihasilkan tidak alot yaitu mencampur tepung terigu protein tinggi dengan tepung
terigu protein sedang. Tujuannya agar kadar protein terigu turun sehingga roti yang
dihasilkan dengan tekstur yang lebih lembut. Pengadukan adonan roti tidak hanya
sekedar mengaduk saja tetapi kadar protein yang terkandung di dalam tepung terigu
harus diperhatikan dan pemberian energy saat pengadukan juga disesuaikan.
Bahan peenunjang dalam pembuatan roti adalah air, garam, ragi (yeast),
gula, susu, lemak dan mineral. Air berfungsi mengikat protein terigu sehingga
membentuk gluten dan sebagai pelarut bahan penunjang lainnya (garam, gula, susu,
dan sebagainya).
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
TEORI TAMBAHAN
A. Roti
Pengertian roti adalah proses tepung terigu yang difermentasikan dengan ragi
roti (Saccharomyces cerevisiae), air dan atau tanpa penambahan makanan lain
yang dipanggang kedalam adonan. Kemudian ditambahkan gula, garam, susu atau
susu bubuk, lemak, pengemulsi dan bahan-bahan pelezatseperti cokelat, keju,
kismis dan lain-lain (Haryono,1992).
Manfaat roti diperkaya dengan berbagai macam zat gizi, sebut sajabeta
karoten, thiamin (vit B1), riboflavin (vit B2), niasin, serta sejumlah mineral berupa zat
besi, iodium, kalsium dan sebagainya. Roti juga diperkaya dengan asam amino
tertentu untuk meningkatkan mutu protein bagi tubuh. Menurut Dr. Clara, M.
Kusharto MS, dari Departemen Gizi Institut Pertanian Bogor, kandungan protein
yang terdapat dalam roti mencapai 9,7%, lebih tinggi ketimbang nasi yang hanya
7,8%. Selain itu tidak seperti nasi yang hanya memiliki kadar pati 4-8%, dalam roti
terdapat 13% pati. Empat iris roti, roti tawar akan menghasilkan kalori yang setara
dengan sepiring nasi (Jenie, 1993).
Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan roti dapat digolongkan bahan
utama dan bahan pembantu. Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan roti
adalah tepung terigu, air, ragi roti, dan garam. Bahan pembantu adalah bahan-bahan
yang menyertai bagian utama dalam pembuatan roti untuk mendapatkan aroma,
rasa dan tekstur yang diinginkan. Bahan pembantu ini terdiri dari shortening, bread
improver, susu skim, telur, gula, bahan pengisi serta flavoring. Pemberian anti
oksidan (asam askorbat, bromat), dan anti kapang seperti kalium propionat dan
kalsium pospat ditambahkan untuk memperpanjang keawetan roti. Bahan baku juga
mempunyai karakteristik fisik, kimia dan mekanik yang berbeda, demikian juga
perubahan sifatsifat tersebut akibat pengolahan mungkin berbeda. Oleh karena itu
sebelum mengetahui cara pembuatan roti, terlebih dahulu mengenal 2 jenis bahan
yang akan digunakan, fungsinya dalam pembuatan roti serta sifat-sifat yang
dibutuhkan. Hal ini perlu diketahui untuk bisa memilih bahan secara ekonomis dan
mengendalikan mutu produk sesuai dengan keinginan (Kamarijani, 1983).
Jenis roti bakery diantaranya adalah roti cake, pastery, dan cokies. Untuk
memproduksi roti yang baik yaitu memilih dan menangani bahan untuk proses
produksi berupa jenis dan jumlah kebutuhan bahan baku dan jumlah bahan
pembantu untuk satu periode telah tersusun. Faktor mutu bahan baku dan bahan
pembantu telah terukur, bahan baku dan bahan pembantu dipastikan tersedia untuk
memenuhi persyaratan produksi. Memilih dan menyiapkan peralatan produksi,
peralatan produksi roti telah disiapkan, persyaratan kebersihan dan status peralatan
teridentifikasi dan siap, jenis dan fungsi alat produksi telah dikuasai, komponen
peralatan yang terkait dicocokkan dan disesuaikan dengan kebutuhan proses
produksi, parameter proses yang diperlukan memenuhi persyaratan keselamatan
dan produksi, pemeriksaan per-start dilakukan sebagaimana kebutuhan tempat
kerja, peralatan pencampur, pengaduk, pembagi, pemipih, pemanggang dan alat
bantu lain dioperasikan sesuai alat (Mudjajanto, eddy dan noor, 2004).
Kualitas roti secara umum disebabkan karena variasi dalam penggunaan
bahan baku dan proses pembuatannya. Jika bahan baku yang digunakan
mempunyai kualitas yang baik dan proses pembuatannya benar maka roti yang
dihasilkan akan mempunyai kualitas yang baik pula. Jenis dan mutu produk bakeri
sangat bervariasi tergantung jenis bahan-bahan dan formulasi yang digunakan
dalam pembuatannya. Variasi produk roti diperlukan untuk memenuhi adanya variasi
selera dan daya beli konsumen(Moehji, 1971).
Selain kedua kelompok bakery tersebut ada jenis lain yaitu cake, yang
merupakan produk hasil pemanggangan yang dikembangkan dengan pengembang
kimia. Sel-sel udara yang terbentuk dihasilkan dengan cara pengocokan (terutama
putih telur) yang menyebabkan udara terperangkap dalam adonan, serta adanya
pembentukan gas dari bahan pengembang dan terbentuk uap air pada waktu
pemanggangan (Anonim 4, 2004).
Produk lain yang dibuat dari terigu adalah donat. Produk ini berbeda dengan
produk-produk bakery lainnya karena pada tahap akhir proses pembuatannya tidak
dipanggang, melainkan digoreng. Donat mengembang karena ragi roti, juga akibat
terbentuknya gas dari bahan pengembang dan uap air pada waktu penggorengan
(Anonim 5, 2009).
Berdasarkan formulasi adonan roti dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu
adonan roti manis, roti tawar dan adonan soft rolls. Adonan roti manis adalah
adonan yang dibuat dari formulasi yang banyak menggunakan gula, lemak dan telur.
Adonan roti tawar adalah adonan roti yang mengunakan sedikit tanpa gula, susu
skim dan lemak. Sedangkan adonan soft roll adalah adonan roti yang dibuat dari
formula yang menggunakan gula dan lemak relatif lebih banyak dari adonan roti
tawar (Anonim 6, 2000).
Kualitas roti secara umum disebabkan karena variasi dalam penggunaan
bahan baku dan proses pembuatannya. Jika bahan baku yang digunakan
mempunyai kualitas yang baik dan proses pembuatannya benarmaka roti yang
dihasilkan akan mempunyai kualitas yang baik pula. Jenis dan mutu produk bakery
sangat bervariasi tergantung jenis bahan-bahan dan formulasi yang digunakan
dalam pembuatannya. Variasi produk ini diperlukan untuk memenuhi adanya variasi
selera dan daya beli konsumen (Auingerpfund,1999). Setiap bahan juga mempunyai
karakteristik fisik, kimia dan mekanik yang berbeda, demikian juga perubahan sifatsifat tersebut akibat pengolahan mungkin berbeda. Oleh karena itu sebelum
mengetahui cara pembuatan roti, terlebih dahulu mengenal jenis bahan yang akan
digunakan, fungsi dalam pembuatan roti serta sifat - sifat yang dibutuhkan. Hal ini
perlu diketahui untuk bisa memilih bahan secara ekonomis dan mengendalikan mutu
produk
sesuai
dengan keinginan
(Buckle,1985).
perenggangan terhadap gluten. Kandungan gizi tepung terigu yang baik akan
mempunyai komposisi kadar air 13%, kadar protein 12-13%, kadar hidrat arang 7273%, kadar lemak 1,5%, pada saat bercampur dengan air yang berfungsi sebagai
kerangka roti, membuat adonan tidak mudah pecah pada waktu diroll dan menahan
gas CO2 hasil fermentasi. Gas CO2 yang tertahan dalam kerangka jaringan gluten
dapat lolos kembali apabila kerangka gluten yang terbentuk tidak kuat, akibatnya roti
menjadi kempes kembali setelah dioven (Haryono, 1992).
Kualitas tepung terigu dipengaruhi oleh moisture (kadar air), ash (kadar abu),
dan beberapa parameter fisik lainnya, seperti water absorption, development time,
stability, dan lain-lain. Moisture adalah jumlah kadar air pada tepung terigu yang
mempengaruhi kualitas tepung, bila jumlah moisture melebihi standar maksimum
maka memungkinkan terjadinya penurunan daya simpan tepung terigu karena akan
semakin cepat rusak, berjamur dan bau apek. Ash adalah kadar abu yang ada pada
tepung terigu yang mempengaruhi proses dan hasil akhir produk antara lain, warna
produk (warna crumb pada roti, warna mie) dan tingkat kestabilan adonan, semakin
tinggi kadar Ash semakin buruk kualitas tepung dan sebaliknya semakin rendah
kadar Ash semakin baik kualitastepung, hal ini tidak berhubungan dengan jumlah
dan kualitas protein (Anomim 2, 2007).
2. Margarin
Margarin pada umumnya dibuat dari minyak nabati. Margarin merupakan
emulsi yang terdiri atas lemak nabati, air dan garam dengan perbandingan (80:18:2).
Margarin dapat dikonsumsi tanpa dimasak. Sifat fisik margarin pada suhu kamar
adalah berbentuk padat, berwarna kuning, dan bersifat plastis. Komposisi gizi
margarin adalah sekitar 80 %. Merupakan zat gizi penting untuk menjaga kesehatan
manusia. Selain itu, lemak dan minyak merupakan sumber energi yang lebih efektif
dibandingkan dengan karbohidrat dan protein. Sumbangan energi per gram lemak,
protein, dan karbohidrat masing-masing 9, 4, dan 4 kkal, (Mudjajanto, Eddy dan
Noor, 2004).
Margarin merupakan salah satu sumber energi dengan vitamin A,D, E dan K
serta memiliki jumlah kalori yang lebih sedikit dari pada mentega biasa. Margarin
memberi cita rasa gurih, mengurangi remah roti, mempermudah pemotongan, serta
dapat memperlunak kulit roti, berfungsi untuk memperpanjang daya simpan,
memperkeras tekstur agar tidak meleleh pada suhu kamar, dan mempertinggi titik
didih untuk memenuhi tujuan pengovenan. Ciri-ciri margarin yang menonjol adalah
bersifat plastis, padat pada suhu ruang, agak keras pada suhu rendah, teksturnya
mudah dioleskan, serta segera dapat mencair di dalam mulut, (Anonym 5,2004).
3. Air
Air merupakan komponen penting dalam bahan baku pembuatan roti bakery,
karena air dapat mempengaruhi penampilan, tekstur, serta cita rasa makanan,
kandungan air dalam bahan makanan roti ikut menentukan acceptability, kesegaran,
dan daya tahan bahan, kandungan air pada produk roti di tentukan pada saat
penggolahan dimulai penggadonan, air sangat menentukan pada pengolahan
makanan roti, tanpa air pengolahan makanan tidak dapat berlangsung, air juga di
gunakan sebagai ingredient makanan olahan (Auinger Pfund, 1999).
Air pada proses penggolahan juga dapat berfungsi sebagai penghantar panas
dan pelarut dan sebagai media reaksi antara gluten dengan karbohidrat, air yang
digunakan sebaiknya memiliki pH antara 6-9, makin tinggi pH maka roti yang
dihasilkan tidak mudah hancur karena absorbsi air meningkat dengan meningkatnya
pH, selain pH air yang digunakan harus air yang memenuhi persyaratan air minum,
diantaranya tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa (Auinger Pfund, 1999).
Jumlah air yang ditambahkan pada umumnya sekitar 26-38% dari campuran
bahan yang akan digunakan, jika lebih dari 38% adonan akan menjadi sangat
lengket dan jika kurang dari 28% adonan akan menjadi rapuh sehingga sulit dicetak
(Astawan, 2006).
Air yang berhubungan denagan hasil-hasil industri pengolahan harus
memenuhi standar mutu yang harus diperlukan untuk air minum dengan nilai pH
satu larutan ialah angka antara 0 sampai dengan 14 yang menunjukan keasaman
(acidity) atau pengaraman (alkality) dalam larutan. Apabila apabila nila pH 7 berarti
netral, bila di bawah 7 larutan asam (acid), semakin rendah pH larutan semakin
asam, sebaliknya semakin tinggi pH berarti larutan bersifat alkali (garam), semakin
tinggi pH semakin tinggi pula alkali (Cauvain Stanley, Linda, Dan Young, 2000).
Industri pengolahan pangan perlu mengembangkan syarat-syarat mutu air khusus
untuk mencapai hasil pengolahan yang memuaskan, dalam banyak hal diperlukan
air minum, dimana diperlukan penanganan tambahan semua mikroorganisme yang
ada, untuk menghilangkan semua bahan-bahan di dalam air yang mungkin dapat
mempengaruhi penampakan, rasa, dan stabilitas hasil akhir, untuk menyesuaikan
pH pada tingkat yang diinginkan dan supaya mutu air sepanjang tahun dapat
konsisten (Buckle, 1985).
Kadar air merupakan salah satu karakteristik yang sangat penting pada bahan
pangan, karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, dan cita rasa pada
bahan pangan. Kadar air dalam bahan pangan ikut menentukan kesegaran dan
daya awet bahan pangan tersebut, kadar air yang tinggi mengakibatkan mudahnya
bakteri, kapang, dan khamir untuk berkembang biak, sehingga akan terjadi
perubahan pada bahan pangan (Winarno, 1997).
C. Bahan Tambahan Pembuatan Roti
1. Ragi
Ragi roti adalah bahan penggembang pada adonan yaitu sebagaibahan
tambahan pangan yang digunakan dalam pembuatan roti dan kue, menambah
volume pada adonan, dan pada saat adonan dipanggang dapat lebih
menggembang, jika bahan penggembang dicampurkan kedalam adonan maka akan
terbentuk gas karbon dioksida, gas inilah yang kemudian terperangkap didalam
gluten (komponen protein yang ada dalamtepung terigu) sehingga adonan menjadi
menggembang karena gas yang dihasilkan semakin lama akan semakin banyak
(Sultan, 1981).
2. Telur
Telur adalah suatu bahan makanan sumber protein hewani yangbernilai gizi
tinggi. untuk dunia kuliner, telur berfungsi sebagai pengembang adonan, membentuk
warna, perbaikan rasa, menambah nilai gizi, sebagai pelembut atau pengempuk,
sebagai penambah aroma dan zat gizi. Jika telur tidak digunakan dalam adonan
maka adonan harus ditambahkan cairan walaupun hasilnya kurang lunak. Roti yang
lunak dapat diperoleh dengan penggunaan kuning telur yang lebih banyak. Kuning
telur banyak mengandung lesitin (emulsifier). Bentuknya padat, tetapi kadar air
sekitar 50%. Sementara putih telur, kadar air 86%. Putih telur mempunyai sifat
creaming yang lebih baik dibandingkan kuning telur.
Telur adalah suatu bahan makanan sumber zat protein hewani yang bernilai
gizi tinggi. Fungsi telur dalam penyelenggaraan gizi adalah sebagai pengental,
perekat atau pengikat Tarwotjo Soejoeti, 1998).
Nilai Gizi yang terkandung dari kuning telur dan putih telur berbeda, kuning
telur memiliki kadar protein 16% dan kadar lemak 31%, sedangkan putih telur
memiliki kadar protein 13 %. Oleh karena itu bagian telur yang mempunyai nilai gizi
paling tinggi sebagai bahan makanan yaitu kuning telur. Pada bagian kuning telur
terdapat asam amino essensial yang sering disebut triptofane. Garam yang banyak
terdapat didalam kuning telur adalah garam ferum dan fosfor, akan tetapi garam
tersebut sedikit mengandung kalsium, vitamin yang banyak terdapat dalam telur
adalah vitamin B, komplek dalam jumlah cukup (Moehji, 1971).
Salah satu tolak ukur dalam menentukan mutu telur adalah berdasarkan berat,
ukuran telur ada yang besar, sedang dan kecil, mutu telur dapat dinilai dari kondisi
dan kebersihan kulit, besar kantong udara, kekompakan putih telur, letak dan bentuk
kuning telur, telur yang baru dikeluarkan oleh induk ayam merupakan telur yang
segar, telur yang masih baru, kuning telurnya masih rapat, terletak di tengah-tengah
putih telur yang tebal, dilihat dari segi nutrisi telur baru dan telur lama tidak ada
perbedaan, kecuali rasa dan penampilanya tidak menarik, telur yang berumur lebih
dari dua minggu hanya baik untuk membuat kue (Anonim 6,2009).
3. Gula
Gula adalah karbohidrat murni yang tidak tersusun atas nutrient lainnya
seperti, lemak, protein, vitamin, dan mineral karena gula itu karbohidrat yang murni
maka gula disebut sebagai kalori kosong. Gula pasir merupakan hasil dari batang
tebu yang digiling dan diperas kemudian cairannya yang manis diolah menjadi gula,
gula pasir atau sukrosa adalah disakarida yang tersusun dari satu gugus glukosa
dan satu gugus fruktosa (Tiench Tirtowinata, 2006).
Fungsi gula sebagai makanan ragi, memberi rasa, mengatur fermentasi,
memperpanjang umur roti (shelf life), menambah kandungan gizi, membuat tekstur
roti menjadi lebih empuk, memberi daya pembasahan pada roti dan memberi warna
cokelat yang menarik pada kulit karena proses maillard atau karamelisasi (Moehji,
1971).
Gula ditambahkan pada jenis roti tertentu untuk melengkapi karbohidrat yang
ada untuk fermentasi dan untuk memberikan rasa yang lebih manis. Tapi gula lebih
banyak dipakai untuk pembuatan kue dan biskuit dimana selain rasa manis gula juga
mempengaruhi tekstur. Jumlah gula yang tinngi membuat remah kue lebih lunak dan
lebih basah, dan pada biskuit juga melunakkan (Moehji, 1971).
Mutu kualitas dari sisi kebersihan produk yaitu warna kuning lebih disukai,
karena rsa lebih manis, terlihat lebih asli, tidak banyak terpapar bahan kimia, lebih
hemat, sebagian tidak terlalu membedakan warna, yang menyukai gula berwarna
putih, alasan hanya estetika, terlihat lebih bersih, lebih pantas disajikan. Ukuran
kristal lebih besar, kualitas lebih bagus, penyuka gula putih, kristal lebih halus
(anonim 7, 2009).
4. Susu
Tujuan pemakaian susu dalam pembuatan produk bakery yaitu
untukmemperbaiki gizi karena susu mengandung protein (kasein), gula laktosa dan
kalsium, memberikan pengaruh terhadap warna kulit (terjadi pencoklatan protein dan
gula), digunakan untuk mengoles permukaan roti, memperkuat gluten karena
kandungan kalsium, menghasilkan kulit yang enak dan crispy serta bau aromatic
smell (Subarna, 2002).
Jenis susu yang banyak digunakan dalam proses bakery adalah susu bubuk,
full krim dan skrim. Susu bubuk full krim mengandung lemak yang tinggi sehingga
memberikan kelembutan dan aroma yang menyenangkan. Susu skim banyak
mengandung protein kasein yang cenderung meningkatkan penyerapan dan daya
menahan air, sehingga mengeraskan adonan dan memperlambat proses fermentasi
adonan roti. Keuntungan susu skim adalah kandungan air dan kandungan lemaknya
rendah sehingga dapat disimpan lebih lama dan tidak cepat tengik. Kada air susu
skim adalah 2,5% dan kandungan lemaknya 1,1% (Wheat associates, 1983).
Susu yang digunakan untuk pembuatan roti pada umumnya dalam bentuk
bubuk (powder). Hal ini disebabkan alasan kemudahan penyimpanan dan
mempunyai umur simpan yang lebih panjang dari pada susu segar. Sebaiknya
penyimpanan susu bubuk senantiasa dijaga agar tetap kering, hal ini dilakukan
karena susu bubuk bersifat sangat rentan terhadap kerusakan dari lingkungan
terutama air (Subarna, 1992).
D. Teknologi Fermentasi
Menurut (Moentamaria, Dwina : 2011 ). Teknologi fermentasi merupakan ilmu
dan teknik terapan yang saat ini berkembang pesat. Teknologi fermentasi
menerapkan secara terpadu cabang-cabang ilmu ilmu mikrobiologi, biokimia, kimia,
keteknikan, biologi molekuler dan genetika. Teknologi fermentasi telah membuka
lembaran baru dalam upaya manusia untuk memanfaatkan bahan-bahan yang
murah harganya bahkan tidak berharga menjadi produk-produk yang bernilai
ekonomi tinggi dan berguna bagi kesejahteraan umat manusia. Lebih lanjut lagi
kemajuan kemajuan yang dicapai dalam bidang teknologi fermentasi telah
memungkinkan manusia untuk memproduksi berbagai jenis produk yang tidak dapat
atau sulit diproduksi melalui proses kimia.
Teknologi fermentasi mempunyai bidang cakupan luas, yaitu mulai dari teknik
produksi makanan fermentasi, minuman beralkohol, produksi biomassa (inokulum,
protein sel tunggal), produksi asam-asam organik, asam-asam amino, enzim,
vitamin, antibiotika, dan sebagainya sampai pada teknik penanganan limbah.
Setiap proses fermentasi mendayagunakan aktivitas metabolisme suatu
mikroba tertentu atau campuran dari beberapa spesies mikroba. Dari sudut industri,
mikroba merupakan pabrik kimiayang mengubah bahan baku menjadi berbagai jenis
produk. Industri fermentasi modern mendayagunakan teknologi mutakhir
berdasarkan ilmu keteknikan yang maju dan pengetahuan yang mendalam
mengenai biokimia dan aktivitas metabolisme mikroba.
Industri fermentasi modern di Indonesia masih sangat terbatas. Mengingat
potensi bahan baku yang melimpah di Indonesia, maka upaya pengembangan
industri fermentasi untuk memproduksi berbagai jenis produk yang bernilai tinggi,
perlu mendapat perhatian. Aktivitas metabolisme mikroba mempunyai dasar yang
sama, tetapi masih ditemukan berbagai ragam variasi terhadap pola dasar. Hal ini
terbukti dari banyaknya ragam bahan baku atau substrat yang dapat dicerna oleh
suatu jenis mikroba dan banyaknya jenis produk yang dapat dihasilkan pada
berbagai kondisi lingkungan yang diberikan.
Menurut (Moehji, 1971). Fermentasi dapat dilakukan dengan metode fermetasi
permukaan dan fermentasi terendam (submerged). Fermentasi kultur terendam lebih
luas pemakaiannya. Fermentasi ini bisa menggunakan inokulum bakteri, kapang
Pengaruh
Primer
Sekunder
Tersier
Jenis
Pembentukan metabolit
fungsional (karbon
dioksida, etanol, asam
laktat, asam asetat)
Degradasi senyawa
makromolekul (pentosan,
-glukan, protein)
Pembentukan metabolit
precursor (precursor
flavor, komponen reaksi
Maillard)
Fungsi
Volume, tekstur, rasa,
umur simpan
Konsistensi, tekstur, umur
simpan
Flavor, warna
Fermentasi Adonan
Berbagai metode fermentasi adonan berkembang untuk memperoleh hasil
sesuai dengan karakteristik berbagai jenis produk bakery. Walaupun berbagai
metode dikembangkan, namun secara umum terjadi kecenderungan untuk
menyederhanakan, memperpendek dan automatisasi proses fermentasi. Proses
biologis yang kompleks selama fermentasi perlu dikendalikan untuk menghasilkan
adonan sesuai dengan yang diinginkan. Untuk itu, pengendalian haruslah dilakukan
selama periode fermentasi. Semua faktor seperti suhu, mutu dan jumlah sel, serta
laju pertumbuhan harus terkendali, sehingga terbentuk gas di dalam adonan.
Adonan yang frothy dapat dihasilkan dengan terbentuknya atau terdispersinya
gelembung-gelembung gas di dalam adonan. Gas yang dibutuhkan untuk
terbentuknya adonan dapat dihasilkan melalui proses biologis, kimia, maupun fisik.
Gas yang dihasilkan terdispersi kedalam adonan dalam bentuk gelembung untuk
menghasilkan pori yang halus seperti gabus. Gas yang terbentuk merupakan gas
CO2.
Kehalusan pori yang terbentuk selama proses pengadonan tergantung
pada karakteristik tepung yang digunakan seperti viskoelastisitas dari gluten dan
daya ikat air (water-binding capacity) pentosan. Pori yang halus bisa juga terbentuk
oleh karena udara masuk kedalam adonan dan terdispersi dalam bentuk gelembung
yang halus ketika tepung dan air dicampur dan diulen. Gelembung udara yang
terperangkap berperan sebagai inti yang menyerapgas CO 2 yang terbentuk akan
membuat adonan mengembang membentuk struktur spon. Pengembangan adonan
dapat melebihi 1:6 karena gas CO2 terbentuk selama [Link] gas
selama fermentasi diikuti oleh reaksi-reaksi fermentatif lainnya seperti terbentuknya
metabolit-metabolit intermediet yang berpengaruh pada konsistensi adonan dan
terbentuknya senyawa-senyawa volatil yang merupakan prekursor aroma.
Gas yang terdispersi dan terperangkap di dalam adonan dalam bentuk
gelembung dibutuhkan untuk pembentukan pori. Terbentuknya dinding pori yang
elastis (extensible) tergantung pada kandungan protein yang spesifik yang dapat
membentuk film yang elastis. Karakteristik semacam ini diperlihatkan oleh gluten
(gliadin dan glutenin) yang merupakan jenis protein yang terkandung di dalam
tepung gandum. Ketika tepung gandum dicampur dengan air, gluten akan
membentuk massa viskoelastis yang mengikat semua bahan adonan terutama pati
menjadi suatu jaringan. Lapisan film yang terbentuk bersifat impermiabel terhadap
gas, sehingga dapat memerangkap gas dan membentuk pori. Selanjutnya pada saat
proses pemanggangan (baking) terjadi gelatinisasi pati dan koagulasi gluten yang
dapat membentuk crumb dan tekstur yang lembut.
Lama penyiapan dan fermentasi adonan sangat bervariasi yang harus dapat
dikendalikan dengan baik. Penggunaan proporsi khamir yang tinggi akan
menyebabkan pembentukan gasyang cepat. Hal ini dapat menyulitkan dalam
pengaturan waktu fermentasi dan penyiapan [Link] itu, penjadwalan yang
ketat dibutuhkan saat penyiapan adonan karena pengembangan volume adonan
terjadi dengan cepat. Pengakhiran proses fermentasi sangat mempengaruhi volume
dan bentuk akhir produk bakery.
2. Penimbangan
Semua bahan ditimbang sesuai dengan formula. Penimbangan bahan harus
dilakukan dengan benar agar tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan jumlah
bahan. Ragi, garam, dan bahan tambahan makanan merupakan bahan yang
dibutuhkan dalam jumlah sedikit, tetapi sangat penting agar dihasilkan roti yang
berkualitas baik sehingga harus diukur dengan teliti. Dalam penimbangan, sebaiknya
tidak menggunakan sendok atau cangkir sebagai takaran (Mujajanto, 2004).
3. Pengadukan atau pencampuran (Mixing)
Mixing berfungsi mencampur secara homogen semua bahan, mendapatkan
hidrasi yang sempurna pada karbohidrat dan protein, membentuk dan melunakkan
gluten, serta menahan gas pada gluten (gasretention). Tujuan mixing adalah untuk
membuat dan mengembangkan daya rekat. Mixing harus berlangsung hingga
tercapai perkembangan optimal dari gluten dan penyerapan airnya. Dengan
demikian, pengadukan adonan roti harus sampai kalis. Pada kondisi tersebut gluten
baru tebentuk secara maksimal. Adapun yang dimaksud kalis adalah pencapaian
pengadukan maksimum sehingga terbentuk permukaan film pada adonan. Tandatanda adonan roti telah kalis adalah jika adonan tidak lagi menempel di wadah atau
di tangan atau saat adonan dilebarkan, akan terbentuk lapisan tipis yang elastis.
Kunci pokok dalam pengadukkan adalah waktu yang digunakan harus tepat karena
jika pengadukkan terlalu lama akan menghasilkan adonan yang keras dan tidak
kompak, sedangkan pengadukkan yang sangat cepat mengakibatkan adonan tidak
tercampur rata dan lengket (Mudjajanto, 2004).
4. Peragian (Fermentation)
Fungsi ragi (yeast) dalam pembuatan roti adalah untuk proses aerasi adonan
dengan mengubah gula menjadi gas karbondioksida, sehingga mematangkan dan
mengempukan gluten dalam adonan. Kondisi dari gluten ini akan memungkinkan
untuk mengembangkan gas secara merata dan menahannya, membentuk cita rasa
akibat terjadinya proses fermentasi. Suhu ruangan 35 oC dan kelembaban udara 75%
merupakan kondisi yang ideal dalam proses fermentasi adonan roti. Semakin panas
suhu ruangan, semakin cepat proses fermentasi dalam adonan roti. Sebaliknya,
semakin dingin suhu ruangan semakin lama proses fermentasi. Selama peragian,
adonan menjadi lebih besar dan ringan (Mudjajanto,2004).
5. Pengukuran atau penimbangan adonan (Deviding)
Roti agar sesuai dengan besarnya cetakan atau berdasarkan bentukyang
digunakan adonan perlu ditimbang, Sebelum ditimbang, adonan dipotong-potong
dalam beberapa bagian. Proses penimbangan harus dilakukan dengan cepat karena
proses fermentasi tetap berjalan (Anomim3, 2007).
6. Pembulatan adonan (Rounding)
Tujuan membuat bulatan-bulatan adonan adalah untukmendapatkan
permukaan yang halus dan membentuk kembali [Link] istirahat
singkat lagi, adonan dapat dibentuk menjadipanjang seperti yang dikehendaki. Jika
adonan terlalu ditekan maka kulitakan menjadi tidak seragam dan pecah (Anomim 3,
2007).
7. Pengembangan singkat (Intermediate Proof)
6. Memanaskan oven dengan temperatur 175 oC. Sebelum masuk ke oven, mengolesi
roti dengan telur dan dipanggang selama 15 menit.
7. Mengeluarkan roti dari oven diolesi dengan margarine.
5. DATA PENGAMATAN
No.
Perlakuan
Pengamatan
diaduk
menambahkan margarin
Membentuk
adonan
didiamkan sebentar
Memanggang adonan
dan
dioksida
dan
senyawa
beraroma
Adonan dibentuk bulat dan lamakelamaan
menjadi
semakin
mengembang
Roti menjadi lebih mengembang,
aromanya enak, berwarna kuning
kecoklatan
lembut
dengan
tekstur
yang
6. PERTANYAAN
1. Mengapa panas timbul selama pencampuran adonan dan darimana asal panas
tersebut?
2. Apakah masih terjadi pengembangan volume adonan pada saat didalam oven?
3. Jelaskan proses terjadinya pebgembangan adonan roti!
4. Apa fungsi pemakaian ragi (yeast)?
Jawab:
1.
Panas berasal dari tenaga yang dilepas oleh hidrasi tepung dan panasdihasilkan
7. ANALISA PERCOBAAN
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengalami proses fermentasi pada
pembuatan roti. Dimana roti adalah makanan yang terbuat dari tepung terigu, air dan
ragi yang pembuatannya melalui tahap pengulenan, fermentasi (pengembangan)
dan pemanggangan roti. Tepung terigu mengandung 2 macam protein yang
memegang peranan penting dalam pembuatan roti yaitu protein gluten, berfungsi
menentukan struktur produk roti, dan memberikan kekuatan pada adonan untuk
menahan gas dari aktivitas ragi, dan protein glutenin memberikan elastisitas dan
kekuatan untuk pereganggan terhadap gluten.
Fungsi ragi (yeast) dalam pembuatan roti adalah proses aerasi adonan dengan
mengubah gula menjadi gas karbon dioksida , sehingga mematangkan dan
mengempukkan gluten dalam adonan. Pada prinsipnya roti dibuat dengan cara
mencampurkan tepung dan bahan penyusun lainnya menjadii adonan kemudian
difermentasi dan dipanggang.
Tahap fermentasi dilakukan untuk menghasilkan potongan roti dengan bagian
yang porus dan tekstur roti yang lebih lembut. Metode ini didasarkan pada
terbentuknya gas akibat proses fermentasi yang menghasilkan konsistensi adonan
yang frothy (porus seperti busa). Proses fermentasu roti ini termasuk dalam proses
anaerobik. Hal ini disebabkan oleh pembentukan gas pada saat proses fermentasi
akan menghasilkan dan membentuk struktur seperti busa, sehingga aliran panas ke
dalam adonan dapat berlangsung cepat pada saat baking. Panas yang masuk ke
dalam adonan akan menyebabkan gas dan uap air akan terdesak keluar dari
adonan, sementara terjadi proses gelatinisasi pati sehingga terbentuk struktur frothy.
Khamir jenis Sacchararomyces Cereviceae merupakan jenis khamir yang
paling umum digunakan pada pembuatan roti. Khamir ini sangat mudah
ditumbuhkan, membutuhkan nutrisi yyang sederhana, laju pertumbuhan yang sangat
cepat stabil, dan aman digunakan. Dengan karakteristik tersebut, S. Cereviceae
lebih banyak digunakan dalam pembuatan roti dibandingkan penggunaan jenis
khamir yang lain. Dalam perdagangan, khamir ini sering disebut bakers yeast atau
ragi roti.
Pengembangan adonan, penggunaan mikroorganisme dalam pengembangan
adonan masih menjadi fenomena yang asing bagi masyarakat yang tidak familiar
dengan pabrik roti. Udara (O2) yang masuk ke dalam adonan pada saat
pencampuran dan pengulenan (kneading) akan dimanfaatkan untuk tumbuh oleh
khamir. Artinya akan terjadi kondisi yang anaerob dan terjadi proses fermentasi. Gas
CO2 yang dihasilkan selama proses fermentasi akan terperangkap di lapisan yang
elastis dan estensible yang selanjutnya menyababkan pengembangan adonan.
8. KESIMPULAN
1. Roti adalah produk makanan yang terbuat dari fermentasi tepung terigu dengan ragi
atau bahan pengembang lainnya.
2. Fermentasi merupakan keguatan mikroba pada bahan pangan sehingga dihasilkan
produk yang dikehendaki, dan mikroba yang umumnya terlibat dalam fermentasi
adalah bakteri, khamir serta kapang.
3. Khamir jenis Saccharomyces Cereviceae merupakan jenis khamir yang paling umum
digunakan pada pembuatan roti.
9. DAFTAR PUSTAKA
1. Jobsheet. 2015. Teknologi Pengolahan Pangan: Fermentasi Roti. Politeknik Negeri
Sriwijaya. Palembang.