ELIKSIR
[Link]
1.1 Definisi
a. Farmakope Indonesia Ed. IV. 1995, hal. 15 :
Larutan adalah sedian cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut, misal
terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling
bercampur. Karena molekul molekul dalam larutan terdispersi secara merata, maka penggunaan
larutan sebagai bentuk sediaan, umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki
ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur.
Bentuk sediaan larutan digolongkan menurut cara pemberiannya, misalnya larutan oral,
mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis atau pewarna yang
larut dalam air atau campuran kosolven air.
Pengenceran larutan oral dengan air yang mengandung kosolven seperti etanol, dapat
menyebabkan pengendapan bahan terlarut.
Larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi, dinyatakan sebagai
sirup. Larutan sukrosa hampir jenuh dalam air dikenal sebagai sirup atau sirup simpleks.
Penggunaan istilah sirup juga digunakan untuk bentuk sediaan cair lain yang dibuat dengan
pengental dan pemanis, termasuk suspensi oral.
Disamping sukrosa dan gula lain, senyawa poliol tertentu seperti sorbitol dan gliserin
dapat digunakan dalam larutan oral untuk menghambat penghabluran dan untuk mengubah
kelarutan, rasa dan sifat lain zat pembawa. Umumnya juga ditambahkan anti mikroba untuk
mencegah pertumbuhan bakteri, jamur dan ragi. Larutan oral yang mengandung etanol sebagai
kosolven dinyatakan sebagai eliksir.
b. Fornas Ed. II, hal. 313 :
Eliksir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau yang sedap,
mengandung selain obat juga zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya, zat
pengawet, zat warna dan zat pewangi, untuk digunakan sebagai obat dalam. Sebagai pelarut
utama digunakan etanol 90% yang dimaksudkan untuk mempertinggi kelarutan obat. Dapat
ditambahkan gliserol, sorbitol dan propilen [Link] pengganti gula dapat ditambahkan
sirup simpleks.
Eliksir merupakan produk yang kurang umum. Eliksir umumnya mengandung obat yang
poten seperti antibiotik, antihistamin dan sedatif, dan diformulasikan dengan rasa yang enak dan
biasanya sangat stabil. Jika perlu rasa pahit dan rasa yang memabukkan (nauseous) ditutupi
dengan flavour, dan pewarna buatan dapat ditambahkan untuk memberikan penampilan yang
menarik.
Eliksir merupakan produk yang jernih, tidak seperti mixtura yang seringkali keruh akibat
dari minyak atau bahan tumbuhan lain yang tersuspensi. Kejernihan dapat dicapai dengan
pemilihan pembawa yang tepat dan beberapa hal dalam pembuatannya.
Beberapa zat aktif yang dibuat eliksir (contoh: pheneticillin dan phenoxy methipenisilin)
ditandai dengan bentuk bubuk atau granul kerena zat aktif itu tidak stabil dalam larutan. Zat itu
ditambahkan sejumlah volume tertentu dalam botol dan kocok hingga terlarut sempurna. Sediaan
ini diberi label, disimpan ditempat yang dingin dan umur sediaan hanya 7 hari.
Contoh eliksir adalah Chloral eliksir, untuk pengobatan anak (paediatric) harus dibuat
segera tetapi stabil, dikemas dan disimpan yang cocok, shelf life dapat dianggap kira kira 2
tahun.
c. BP 2001, hal. 800 :
Cairan oral adalah sedian cair yang homogen, biasanya terdiri dari larutan, suspensi atau
emulsi dengan satu atau lebih zat aktif dalam pembawa yang cocok. Mereka dimaksudkan untuk
diminum dengan diencerkan atau setelah dilarutkan terlebih dahulu.
Pembawa untuk partikel cairan oral seharusnya dipilih yang baik untuk zat aktif atau
bahan bahan lain sehingga memiliki karakteristik organoleptik yang cocok untuk digunakan
dalam sediaan.
Eliksir adalah larutan oral yang jernih dan memiliki rasa dan bau yang enak, mengandung
satu atau lebih zat aktif yang dilarutkan dalam pembawa yang biasanya mengandung sukrosa
yang tinggi atau polihidrik alkohol atau alkohol yang cocok, dan dapat juga mengandung etanol
(96%) atau pelarut etanol.
d. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi (Ansel). hal. 304 :
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut,
biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya,
tidak dimasukkan kedalam golongan produk lainnya. Larutan obat-obatan dalam air yang
mengandung gula digolongkan sebagai sirup, larutan yang mengandung hidroalkohol yang diberi
gula (kombinasi dari air dan etil alkohol) disebut eliksir.
Larutan oral, sirup dan eliksir dibuat dan digunakan karena efek tertentu dari zat obat
yang ada. Dalam sediaan ini zat obat umumnya diharapkan dapat memberikan efek sistemik.
Kenyataan bahwa obat obat itu diberikan dalam bentuk larutan biasanya berarti bahwa
absorbsinya dalam sistem saluran cerna ke dalam sirkulasi sistemik dapat diharapkan terjadi lebih
cepat daripada dalam bentuk sediaan suspensi atau padat dari zat obat yang sama.
Dalam larutan yang diberikan secara oral biasanya terdapat zat - zat lain selain bahan
obat. Bahan bahan tambahan ini biasanya meliputi pemberi warna, pemberi rasa, pemanis atau
penstabil larutan. Dalam penyusunan formula atau pencampuran larutan farmasi, ahli farmasi
harus memanfaatkan keterangan tentang kelarutan dan kestabilan dari masing masing zat
terlarut yang ada dengan memperhatikan pelarut atau sistem pelarut yang digunakan. Ahli farmasi
harus berhati hati menghadapi penggunaan kombinasi obat atau bahan bahan farmasi yang
akan menimbulkan interaksi kimia atau fisika yang akan mempengaruhi mutu terapeutik atau
stabilitas farmaseutik produk.
Untuk larutan dengan zat terlarut tunggal dan terutama untuk larutan dengan zat terlarut
yang banyak macamnya, ahli farmasi harus mengetahui sifst sifat kelarutan yang khas dari zat
terlarut, dan cara - cara melarutkannya dari pelarut farmasi tertentu. Setiap bahan kimia
mempunyai kelarutan sendiri-sendiri dalam pelarut yang digunakan.
1.2. Tujuan Pembuatan Sediaan Elixir (Catatan kuliah)
1. Mempertinggi kelarutan zat berkhasiat
2. Agar homogenitas lebih terjamin
3. Zat berkhasiat lebih mudah terabsorbsi dalam keadaan terlarut
4. Sediaan berasa manis dan aroma lebih sedap
5. Dapat digunakan oleh orang yang sukar menelan obat seperti anak-anak dan orang tua.
1.3. Keuntungan dan Kekurangan Elixir
Keuntungan :
1. Lebih mudah ditelan daripada bentuk padat, sehingga dapat digunakan untuk bayi, anakanak dan orang usia lanjut.
2. Segera diabsorbsi karena sudah ada dalam bentuk larutan.
3. Obat secara homogen terdistribusi dalam seluruh sediaan.
4. Zat yang mengiritasi mukosa lambung akan berkurang karena larutan akan segera
diencerkan oleh cairan lambung.
5. Karena bersifat hidroalkohol, eliksir lebih mampu mempertahankan komponen-komponen
larutan yang larut dalam air dan yang larut dalam alkohol daripada sirup.
6. Eliksir lebih disukai daripada sirup karena stabilitasnya yang khusus dan kemudahan
dalam pembuatannya.
7. Keuntungan eliksir dibandingkan dengan sediaan padat adalah kemudahan penyesuaian
dan pemberian dosis terutama untuk anak-anak.
8. Sediaan dalam bentuk larutan dalam pengobatan selalu seragam (dosis uniform),
sedangkan untuk emulsi dan suspensi untuk mencapai dosis yang seragam perlu
pengocokan.
9. Dosis sediaan dapat dengan mudah diubah dalam penyediaannya.
10. Absorbsi lebih cepat maka kerja obat lebih cepat dibandingkan sediaan tablet dan kapsul
yang memerlukan desintegrasi sebelum mengalami absorbsi.
11. Beberapa obat yang memyebabkan iritasi pada mukosa lambung jika diberikan dalam
bentuk tablet atau kapsul, maka sifat iritasi dapat diatasi dengan membuat bentuk larutan,
hal ini karena adanya faktor pengenceran. Contoh : KI dan KBr dalam keadaan kering
menyebabkan iritasi.
12. Anak-anak dan beberapa orang dewasa yang sukar menelan tablet atau kapsul dapat
dengan mudah menelan bila diberikan sediaan larutan.
13. Penampilan menarik sediaan dalam botol memberikan pengaruh psikologis dalam
penyembuhan.
14. Sediaan larutan dapat dengan mudah diberi bahan pewangi, pemanis, atau pewarna untuk
meningkatkan penampilan.
(Sumber : Dispensing of Pharmaceutical Student, hal 67 ; Disp. Of Med., hal. 502)
Kekurangan :
1. Voluminus sehingga kurang menyenangkan untuk diangkut atau disimpan.
2. Stabilitas dalam bentuk larutan lebih jelek dibanding bentuk tablet atau kapsul terutama
bila bahan mudah terhidrolisis.
3. Larutan merupakan media ideal untuk pertumbuhan mikroorganisme.
4. Ketepatan dosis tergantung kepada kemampuan pasien untuk menakar.
5. Rasa obat yang kurang menyenangkan akan lebih terasa jika diberikan dalam bentuk
larutan dibanding dalam bentuk tablet.
6. Dibandingkan dengan sirup, eliksir biasanya kurang manis dan kurang kental karena
mengandung kadar gula yang lebih rendah dan akibatnya kurang efektif dibandingkan
sirup dalam menutupi rasa obat.
7. Beberapa obat yang menimbulkan bau yang kurang menyenangkan sukar ditutupi.
8. Sediaan cair umumnya kurang stabil dibandingkan bentuk sediaan padat (tablet atau
kapsul) dan ada beberapa obat yang tidak stabil dalam air.
9. Obat cairan memerlukan wadah yang besar sehingga merepotkan dibawa-bawa.
10. Memerlukan alat sendok untuk pemberian dosisnya.
11. Jika timbul kejadian wadah obat dalam bentuk larutan pecah maka isi akan terbuang
semua
1.4 Cara-cara Meningkatkan Kelarutan Suatu Zat :
a. Menggunakan pelarut campur (kosolven)
Penggunaan pelarut campur dapat meningkatkan kelarutan suatu zat dengan melihat
kelarutan maksimum pada masing masing pelarut. Pemilihan pelarut campur untuk
sediaan farmasi cukup sulit, karena sifat toksisitas dan iritasinya. Penting diperhatikan
konsentrasi maksimum komponen pelarut campur yang masih diperbolehkan. Untuk
memperkirakan kelarutan suatu zat dalam pelarut campur harus dilihat harga konstanta
dielektriknya. Suatu pelarut campur yang ideal mempunyai harga konstanta dielektrik
antara 25 sampai 80. kombinasi pelarut campur yang banyak digunakan dalam sediaan
farmasi adalah campuran air-alkohol atau pelarut lain yang sesuai antara lain sorbitol,
gliserin, propilen glikol, dan sirupus simpleks.
b. Pengontrolan pH
Suatu senyawa yang bersifat asam atau basa lemah akan berubah kelarutannya dalam air
dengan mengubah pH larutan. Perubahan pH dapat merubah bentuk senyawa asam atau
basa lemah menjadi bentuk garamnya yang lebih mudah larut. Parameter yang perlu
diketahui adalah harga pKa dan pKb senyawa tersebut.
Berapa pH yang harus dimiliki sediaan untuk membuat sejumlah X zat A terlarut dapat
dihitung dengan rumus :
[H+] =
Ks Ka
ST - K s
Ks = Konstanta kelarutan zat A
Ka = Konstanta disosiasi asam lemah
ST = Kelarutan total zat A (yang diinginkan)
Penggunaan harga Ks dan harga Ka atau Kb suatu zat harus diperhatikan dalam elixir,
terutama bila kadar zat nya tinggi, karena kosolven yang digunakan seperti alkohol atau
gliserin secara umum memiliki efek meningkatkan harga Ks dan menurunkan konstanta
disosiasi suatu zat bila kadar zatnya tinggi.
Pertimbangan lain dalam menentukan pH yang dipilih :
pH tidak mempengaruhi kebutuhan lain dari produk seperti stabilitas dan
kompatibilitas fisiologis
Jika pH yang diperlukan untuk mempertahankan kelarutan zat cukup kritis (misal :
rentangnya sempit), maka diperlukan sistem dapar
(The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, hal.458-459)
c. Solubilisasi miselar
Penambahan bahan yang bersifar aktif permukaan dapat meningkatkan kelarutan suatu
zat. Salah satu contoh adalah penambahan surfaktan. Mekanismenya adalah karena terjadi
asosiasi senyawa yang bersifat non polar dengan misel yang terbentuk dalam larutan
setelah tercapai konsentrasi misel kritik (KMK) surfaktan. Konsentrasi surfaktan yang
ditambahkan tidak boleh terlalu besar, karena selain sifatnya yang toksik dan harganya
yang mahal juga akan terjadi busa pada saat pembuatan sediaan yang sukar dihilangkan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada konsentrasi surfaktan tertentu dapat
mengurangi ketersediaan hayati obat karena terjadinya adsorpsi yang kuat di dalam misel.
Harga HLB surfaktan dapat dipakai untuk memperkirakan kelarutan dan kemampuan
tercampurnya dalam pelarut yang digunakan.
Beberapa surfaktan yang umum digunakan dalam sediaan farmasi adalah tween, ester-ester asam
lemak, monoester sukrosa, ester lanolin. (Lachman, hal. 463)
d. Kompleksasi
Mekanisme meningkatkan kelarutan suatu zat berdasarkan adanya interaksi dari senyawa
yang tidak larut dengan senyawa yang larut baik dapat membentuk kompleks
intramolekuler yang larut.
(Modul praktikum semsol, 2003, hal 17-18)
1.5 Hal-hal Yang Dianggap Perlu Dalam Pembuatan Elixir :
1. Pertumbuhan kristal yang disebabkan oleh perubahan suhu, keseragaman ukuran, dll.
2. Ketercampuran zat aktif dengan pelarut campur ataupun zat tambahan untuk menghindari
terjadinya pengendapan. Dasar pemilihan pelarut campur : toksisitas, kelarutan, konstanta
dielektrik pelarut, ketercampuran bahan.
3. Untuk penambahan sirupus simpleks lebih dari 30 % harus diperhatikan terjadinya cap
locking pada tutup botol sediaan. Karena itu perlu diberikan anti cap locking. Contoh anti
cap locking yaitu gliserin, sorbitol dan poliol lainnya. Penambahan gliserin sebagai anti
cap locking harus diperhatikan karena gliserin dalam konsentrasi tinggi dapat
menyebabkan diare.
4. Untuk meningkatkan penerimaan perlu diberikan peningkat rasa dengan penambahan
pemanis dalam sediaan, disamping itu ditambahkan rasa dan warna yang sesuai.
(Sumber : modul praktikum semsol, hal 14-16)
5. Untuk sediaan oral pemilihan zat aktif perlu memperhatikan pemerian (rasa, bau).
Pemanis yang digunakan : gula, sirupus simpleks, sorbitol, siklamat, aspartam.
(Sumber : Lachman, hal 555)
6. Karena ada komponen air dalam sediaan maka perlu ditambahkan pengawet. Pengawet
yang dapat digunakan :
-
Nipagin-nipasol = 9 : 1 (0,18 : 0,02)
as benzoat dengan konsentrasi 0,01-0,1%
(Sumber : Handbook of Exicipient, 2003, hal 50,390)
7. Antara warna dan esens yang ditambahkan harus ada kesesuaian.
8. Sediaan eliksir yang baik harus mempunyai viskositas yang cukup (aliran yang baik)
untuk memudahkan penuangan. Tetapi biasanya pelarut campur yang digunakan sudah
cukup kental untuk memudahkan penuangan.
Pelarut campur yang digunakan : etanol, propilen glikol, gliserol, sorbitol.
Pemilihan pelarut campur didasarkan :
-
kelarutan, misal - alkohol 10 %
- propilen glikol x %
- air 90-x%
Kd (jika diketahui Kd zat aktif), melalui perhitungan trial and error
Misal : Untuk zat yang kearah polar : Kd camp > Kd ZA
Untuk zat yang kearah non polar : Kd camp < Kd ZA
toksisitas pelarut
pelarut yang dipilih tidak inert
ketercampuran bahan
II. FORMULA
2.1 Formula Umum
R/
zat berkhasiat
pelarut utama (etanol dan air dengan perbandingan tertentu sesuai dengan
daya
melarut zat berkhasiat)
-
pelarut tambahan (gliserol, sorbitol, propilen glikol)
bahan pembantu (pemanis; pewangi; pewarna; pengawet; anticaplocking agent;
penstabil kimia seperti pendapar, pengompleks, antioksidan)
2.2 Cara Perhitungan Konstanta Dielektrik
Cara menghitung konstanta dielektrik adalah :
Jumlah dari hasil perkalian masing-masing konstanta dielektrik pelarut dengan fraksi (%) dari
masinng-masing pelarut. (petunjuk praktikum farfis, 2002, hal 35)
Misal :
Pelarut
Etanol
Gliserol
Propilen glikol
Air
Jumlah
A%
B%
C%
D%
Kontanta dielektrik
25,7
43,0
33,0
80,4
Maka konstanta dielektrik campuran pelarut adalah: 25,7A + 43B + 33C + 80,4D
100
Nilai Konstanta Dielektrik Beberapa Obat
Zat aktif
As. Asetil Salisilat
Konstanta dielektrik
2,583
Androsteron
2,214
Barbital
2,256
Kolesterol
2,213
Dehidrokolesterol
2,211
Metiltestoteron
2,213
Fenobarbital
2,247
Sulfanilamide
2,349
Testoteron
2,217
Air
Solvent
Solut
Garam organik & anorganik, gula
Perkiraan KD
80
Glikol
Metanol dan etanol
tanin
Castor oil, wax
Resin, minyak atsiri, barbituirat,
50
30
alkaloid, fenol
Aldehid, keton, alkohol BM Fixed oil, lemak padat, vaselin,
20
tinggi, ester, eter, dan oksida
parafin, & hidrokarbon lain
Heksan, benzen, CCl, etil eter,
5-0
PAE, minyak mineral, fixed
vegetable oil
(Sumber : Martin, hal 564)
Data Konstanta Dielektrik Bahan Pelarut
Nama Bahan
Nama Bahan
N-metilformamid
190
Kloroform
Air
80,4
Asam hidroklorida
Gliserin
43
Etil eter
Metil alkohol
33,7
Minyak zaitun
Etil alkohol
25,7
Minyak biji kapas
n-propil alkohol
21,8
Asam oleat
Aseton
21,4
Toluen
Benzaldehid
17,8
Benzen
Amil alkohol
15,8
Dioksan
Benzil alkohol
13,1
Minyak lemon
Fenol
9,7
Karbon tetraklorida
Metil salisilat
9
Etil asetat
6,4
(Sumber : Petunjuk Praktikum Farmasi Fisika, 2002, hal 35)
4,8
4,6
4,34
3,1
3
2,45
2,39
2,28
2,26
2,25
2,24
2-5
2. 3 Bahan Pembawa
Pembawa eliksir berbeda dari pembawa mixtura karena :
a. Produksi dari larutan yang jernih
Kekeruhan/opalesen dari bahan pewangi (flavour) yang terdiri dari minyak esensial
dan pengendapan dari ekstrak tumbuhan (lihat mixtura) tidak dapat diterima oleh
eliksir. Kira-kira 10-20% alkohol digunakan untuk melarutkan minyak termasuk
gliserol yang juga sebagai pelarut pewangi yang berminyak, mencegah pengendapan
dari bahan ekstrak tumbuhan sebagai contoh tanin dan hasil-hasil oksidasinya dalam
cascara eliksir.
b. Larutan medicarrent dengan kelarutan yang rendah dalam air
Alternatif yang paling sesuai untuk anak-anak dan orang-orang yang sangat sukar
dalam menelan tablet dan kapsul maka diberikan sediaan oral cair. Karena suspensi
kurang enak daripada larutan dan membawa resiko tidak meratanya dosis pemberian
jika tidak dikocok dengan baik, kadang-kadang jika medicarrent yang poten dengan
kelarutan yang rendah harus diberikan, maka diberikan pelarut campur yang akan
melarutkan dengan sempurna, sebagai contoh :
-
phenobarbital sukar larut dalam air tetapi dapat menghasilkan larutan yang
jernih jika dibuat dengan melarutkan dalam alkohol dan kemudian dilarutkan
lagi dalam gliserol dan air.
satu bagian parasetamol larut dalam 70 bagian air, 7 bagian alkohol, 9 bagian
propilen glikol atau 40 bagian gliserol. Dalam eliksir parasetamol digunakan
pembawa campuran alkohol, propilen glikol dan gliserol.
Alkohol bila digunakan dengan konsentrasi cukup rendah mempunyai aktivitas
fisiologis, dan dalam konsentrasi yang tinggi memberikan rasa membakar. Alkohol
juga menekan ketidaknyamanan rasa asin dari bromida, garam iodida dan yang
lainnya.
NF American Pharmaceutical Association (NF XIV hlm 802) mengandung
nama produk iso-alkoholik eliksir ini, mengandung 2 flavour eliksir, yang satu dengan
konsentrasi yang rendah (8-10% alkohol) dan yang lain mengandung konsentrasi
tinggi (73-78% alkohol). Konsentrasi-konsentrasi alkohol ini biasanya memberikan
larutan yang jernih apabila produk terdiri dari tinctur, bahan flavour dan bahan yang
mengandung alkohol. Mereka dicampur menghasilkan konsentrasi alkohol kira-kira
mendekati sama konsentrasi bahan-bahan itu atau jika ada beberapa bahan yang
mengandung alkohol.
Bila memungkinkan, eliksir untuk anak-anak diformulasikan sebagai pewangi
yang mengandung sedikit alkohol atau tidak sama sekali, sebab alkohol tidak
dianjurkan untuk diberikan kepada anak-anak sebagai pelarut.
Propilen glikol digunakan sebagai pelarut minyak essential dan bahan kimia
organik yang tidak larut air. Propilen glikol memberikan rasa manis seperti gliserol.
c. Produksi sediaan yang mengenakkan/enak
Kandungan utama dari eliksir adalah sirup atau sirup yang mengandung flavour (syrop
flavour).
Jenis-jenis bahan pembawa adalah sebagai berikut :
Sebagai pelarut utama digunakan Etanol 90%, dapat ditambahkan gliserol, sorbitol dan propilen
glikol.(Fornas Ed. II hlm 313)
1. Etanol
Konstanta dielektrik 25,7
Konsentrasi >10% dapat mencegah pertumbuhan mikroba
Pelarut untuk oral liquid : bervariasi (<10%)
2. Gliserin
Konstanta dielektrik 43,0
Pemanis 20%
Pembasah 30%
Anticaplocking agent (2,5%)
Pada dosis tinggi (oral) dapat menyebabkan pusing, diare, haus.
3. Sorbitol
Humektan 3 15%
Pembawa larutan 25-90%
Anticaplocking agent 15-30%
Pemanis 25-30%
Pengental 25 30%
4. Propilen glikol
Konstanta dielektrik 33
Solven atau kosolven oral 10-25%
Pengawet untuk larutan dan semisolid 15-30%
(Sumber : Handbook of Exipient, 2003, hal 13-14, 257, 521, 596)
Untuk mengetahui berapa banyak pelarut campur yang digunakan, dapat dihitung dari nilai
konstanta dielektrik total pelarut yang digunakan yang disesuaikan dengan konstanta dielektrik
zat aktifnya.
2.4
Bahan Pembantu
1. Penstabil kimia (pengkelat, pendapar, antioksidan)
Penggunaan pelarut khusus dalam kebanyakan eliksir sering diperhitungkan terhadap
pertimbangan stablitas, tetapi diperlukan penambahan penstabilisasi, sebagai contoh
Neomiksin Eliksir BPC yang diatur pH 4-5 dengan asam sitrat untuk mengurangi
timbulnya warna hitam saat penyimpanan, ditambahkan juga Na EDTA sebagai pemisah
terhadap logam yang mengkatalisa penguraian antibiotik.
Sebagai pengatur pH untuk sediaan oral biasa digunakan NaOH, asam sitrat, dapar
phosphat. Sedangkan sebagai antioksidan biasa ditambahakn asam askorbat 0,01-0,1%
dengan pH stabilitas 5,4 dan sodium metabisulfit 0,01-1%. Untuk contoh perhitungan
dapar dapat dilihat pada sediaan larutan.
2. Bahan Pewarna
Bahan pewarna yang biasa digunakan dalam eliksir:
Larutan
Amaranth
Hasil warna
Magenta red
Eliksir
Parasetamol paed.
Streptomisin paed.
Seny tartrazin
Safiron
Ephedrin,
Isoniazid,
Neomisin,
Fenobarbital
Green S
Hijau
Piperazin sitrat
Konsentrasi yang biasa digunakan 0,01-0,1%
(Cooper & Gunns, Dispensing for Pharmaceutical students hlm 76)
3. Pemanis
Penambahan bahan pemanis digunakan untuk sirup yang mengandung pewangi, gliserol,
sorbitol, sirup onvert dan Na sakarin. Sakarin dapat membantu menutupi rasa pahit dari
sediaan antibiotika seperti neomisin.
Pemanis yang biasa digunakan pada eliksir adalah gula atau pemanis lain sebagai
pengganti gula dapat digunakan sirupus simpleks (ISO).
Catatan : Larutan gula encer merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan
cendawan, ragi dan jasad renik lain, karena itu semua alat yang dipakai dalam pembuatan
sirup harus benar-benar bersih. Pertumbuhan jasad renik umumnya diperlambat jika kadar
sakarosa lebih besar dari 65%, tetapi kepekatan ini memungkinkan terjadinya
penghabluran sukrosa. Selain itu dapat menyebabkan caplocking pada tutup botol. Oleh
karena itu kadar yang dipakai sekitar 20-35% saja.
4. Pewangi/Flavour
Untuk sediaan eliksir, bahan pemanis dan pewangi rasa buah lebih banyak digunakan
daripada pembawa aromatik dan ekstrak cairan liquorice. Pewangi rasa buah yang sering
digunakan adalah:
-
Black currant syrups dalam Eliksir Chloral paed.
Juice Raspberry pekat dengan sirup invert dalam Parasetamol Eliksir.
Lemon spirit dengan sirup dan sirup invert dalam Ephedrin Eliksir.
Compound Orange Spirit dengan gliserol dalam Phenobarbital Eliksir.
(Coopers & Gunns hlm 76)
Raspberry dan Black currant sangat dikenal oleh anak-anak, dan sangat baik untuk
menutupi rasa pahit obat. Flavour orange efektif untuk menutupi rasa agak pahit
barbiturat, sedangkan as. Sitrat dan Na sitrat membantu menutupi rasa sedikit pahit dari
streptomisin.
Contoh Flavour
Rasa
Flavour
Asin
Vanila, maple, peach, apricot
Pahit
Cherry, walnut, coklat
Manis
Buah-buahan, vanila, berry
Asam
Jeruk, rootbeer, rasberry
Catatan : Konsentrasi q.s dengan memperhatikan stabilitas dan konsentrasi dalam
pembawa.
Flavour dalam Farmasi
USP XVIII
Aromatic elixir
NF XIII
Acacia syrup
Cherry syrup
Aromatic Eriodictyon syrup
Citric acid syrup
High alkoholic elixir
Cocoa syrup
Iso-alkoholic elixir
Glycyrrhizae syrup
Low alkoholic elixir
Orange syrup
Tolu balsam syrup
Raspberry syrup
Tolu balsam tincture
Wild cherry syrup
Flavours & Perfumes (USP 27/NF 22 hlm 2810) :
Anethole
Peppermint oil
Benzaldehide
Peppermint spirit
Ethyl vanillin
Rose oil
Mentol
Rose water, stronger
Metil salisilat
Thymol
Monosodium Glutamat
Vanillin
Monte-Bove peppermint air (mengandung minyak pedas) pekat mempunyai formula
sebagai berikut :
Peppermint oil USP
7,5
Tween 20
42,5
Aquadest ad
100
Ambil 1 mL minyak pekat, encerkan hingga 100 mL, maka larutan peppermint air setara
dengan aromatic air yang dibuat berdasarkan USP.
Bahan terapeutik yang khas dan penggolongan bahan pewangi mempunyai nama khas
dengan formulasi tertentu. Flavour orange mint secara khusus berpengaruh dalam
menutupi rasa difenhidramin pada formulasi ekspektoran. Penggunaan spice vanila
flavour untuk sediaan fenilefrin dan klorfeniramin maleat (CTM) telah diajukan sebagai
pertimbangan. Rasa strawberry sangat sesuai untuk formulasi transquilizer. Kombinasi
rasa apel dengan butterscotch sangat sesuai untuk mengurangi rasa adsorben dari kaolin
dan pektin, juga dianjurkan untuk aminofilin dan teofilin.
2.5 Pengawet
Pertumbuhan jamur/cendawan dan fermentasinya dalam eliksir dapat dihambat jika
pembawa mengandung lebih dari 20% alkohol, gliserol dan propilen glikol. Jumlah sirup yang
besar menyebabkan tekanan yang tinggi sehingga menghambat mikroorganisme. Sirup yang
mengandung kurang lebih dari 85% gula dapat menahan pertumbuhan mikroba oleh pengaruh
tekanan osmotik terhadap pertumbuhan mikroba. Sirup dengan kadar kurang dari 85% dengan
penambahan poliol (seperti sorbitol, gliserin, propilen glikol atau PEG) juga memiliki efek yang
sama. Tekanan uap fenol lebih besar dari tekanan uap normal cairan dan daerah penutup area (cap
area) permukaan sehingga dapat mengurangi potensial pertumbuhan mikroba sebagai hasil
pengenceran permukaan.
Konsentrasi pengawet untuk sediaan oral (Handbook of Exipient,hal 50, 390, 521, 526,
588) :
-
Metil paraben 0,015-0,2%
Propil paraben 0,01-0,02%
Asam benzoat 0,01-0,15%
Asam dan garam sorbat 0,05-0,2%
Catatan : Propilenglikol 15-30% dapat digunakan sebagai pengawet
Kriteria pengawet yang ideal (Lachman 552) :
-
Efektif terhadap mikroba dan berspektrum luas
Stabil secara fisik, kimia dan mikrobiologi terhadap life time produk.
Tidak toksik, tidak peka, cukup melarut, tersatukan dengan komponen formula lainnya, rasa
dan bau dapat diterima pada konsentrasi yang digunakan.
Sebagai pengawet dapat digunakan turunan hidroksi-benzoat, misalnya metil p-hidroksibenzoat
dan propil p-hidroksibenzoat. Pemakaian pengawet ini didasarkan atas rentang kerja pengawet
tersebut pada pH 4-8. Kombinasi keduanya sering digunakan, karena dapat memperluas spektrum
kerja menjadi anti jamur dan anti bakteri.
Konsentrasi kombinasi :
-
Metil paraben 0,18% (fungistatik)
Propil paraben 0,02% (bakteriostatik)
Propil paraben kurang larut air, sehingga dilarutkan dahulu dalam etanol.
(Sumber : Handbook of Exipient, hal 526 dan Lachman)
2.6 Anti-caplocking Agent
Biasanya digunakan gliserin dan sorbitol yang berfungsi juga sebagai pemanis,
karena sirupus simpleks yang digunakan hanya sekitas 20-35%.
III. PEMBUATAN SEDIAAN ELIKSIR
1. Air sebagai pembawa harus dididihkan kemudian didinginkan.
2. Bahan aktif dan bahan pembantu (jumlah yang diminta + evaluasi) ditimbang.
3. Pembuatan larutan sakarosa (FI. III. 567). Larutkan 65 bagian sakarosa dalam larutan metal
paraben 0,25 % b/v hingga terbentuk 100 bagian sirupus simpleks yang berfungsi sebagai
pengental dan pemanis.
4. Bahan aktif dihaluskan dalam mortar kemudian dilarutkan dalam satu pelarut yang paling
melarutkan zat-zat tersebut. Apabila kelarutan bahan berkhasiat di dalam masing-masing
pelarut yang akan dikombinasikan tidak tinggi, maka zat aktif dilarutkan sedikit demi sedikit
ke dalam pelarut campur tersebut.
5. Bahan pembantu dihaluskan dalam mortar kemudian dilarutkan dalam pelarut yang paling
melarutkan zat-zat tersebut.
6. Tambahkan berturut-turut larutan pengawet, larutan pewangi, larutan pewarna kedalam
larutan zat aktif. (Sedapat mungkin penambahan zat-zat pembantu dalam keadaan terlarut)
7. Tambahkan sisa pelarut campur
8. Masukkan pemanis.
9. Genapkan dengan air sampai volume yang diinginkan.
10. Masukkan kedalam wadah, tutup dan beri etiket.
(Sumber : Modul Praktikum Semisolida, 2003, hal 15,18).
IV. EVALUASI DAN PENYIMPANAN
4.1 Evaluasi
1. Evaluasi Fisika
Evaluasi organoleptik : bau, rasa, warna, kejernihan, selain itu juga diperiksa kelengkapan
etiket, brosur dan penandaan pada kemasan.
Evaluasi kejernihan FI IV hal 998 (881) : 5 ml
Berat jenis FI IV hal 1030 (981) : 10 ml
pH FI IV hal 1039 (1071) : 1 botol
Volume terpindahkan FI IV hal 1089 (1201) : 30 wadah (tetapi dapat dipakai untuk uji-uji
lainnya)
Viskositas (petunjuk prak farmasi fisika hal 9-12 atau Physical Pharmacy, Martin, hal.
463). Viskosimeter Hoeppler membutuhkan kurang lebih 120 ml (2 botol).
2. Evaluasi kimia
Identifikasi
Penetapan kadar
( sesuai monografi)
3. Evaluasi Biologi
Penetapan potensi antibiotik untuk eliksir dengan zat aktif antibiotika (FI. IV hal 891-899).
(Prosedur evaluasi sama dengan larutan)
4.2 Penyimpanan
Karena eliksir mengandung alkohol dan biasanya juga mengandung beberapa minyak
mudah menguap yang rusak oleh adanya udara dan sinar, maka paling baik disimpan pada wadah
tertutup rapat dan tahan cahaya. (Ansel)
V. CONTOH ELIKSIR DI PASARAN
1. Eliksir parasetamol
Contoh : dapyrin, decadol elixir
2. Eliksir teofilin
contoh : bronchophylin, bufabron, brodilex, tusapres
3. Eliksir piperazin sitrat
contoh : ascari, combantrinneo ultraxon
4. Eliksir ambroxol HCl
contoh : mucopect