0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
189 tayangan21 halaman

Sistem SLR: Pengukuran Jarak Satelit

Tugas ini membahas sistem SLR dan LLR untuk penentuan posisi satelit. SLR adalah sistem penentuan posisi absolut yang paling akurat saat ini yang bekerja dengan mengukur jarak laser ke satelit menggunakan retroreflektor. LLR bekerja dengan prinsip serupa untuk mengukur jarak antara bulan dan bumi. Kedua sistem ini memiliki berbagai aplikasi geodesi dan astronomi."

Diunggah oleh

dina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
189 tayangan21 halaman

Sistem SLR: Pengukuran Jarak Satelit

Tugas ini membahas sistem SLR dan LLR untuk penentuan posisi satelit. SLR adalah sistem penentuan posisi absolut yang paling akurat saat ini yang bekerja dengan mengukur jarak laser ke satelit menggunakan retroreflektor. LLR bekerja dengan prinsip serupa untuk mengukur jarak antara bulan dan bumi. Kedua sistem ini memiliki berbagai aplikasi geodesi dan astronomi."

Diunggah oleh

dina
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS RESPONSI GEODESI SATELIT

SISTEM SLR DAN LLR


Dosen :
Ira Mutiara Anjasmara, ST, [Link], Ph.D
Meiriska Yusfania, S.T, MT
Oleh :
KELOMPOK 4A
Adib Zaid Nahdi

3513100038

Rizky Romadhon

3514100009

Romadina Indah W.

3514100034

Handis Muzaky

3514100068

Irhasy Wifie Rahman

3514100078

Maura Sahara Dewi

3514100089

TANGGAL PENGUMPULAN
09 Mei 2016

Jurusan Teknik Geomatika


Fakultas Tenik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Ph. 031-5929487

Halaman Judul

1|Sistem SLR dan LLR

DAFTAR ISI

Halaman Judul.............................................................................................................................i
Daftar Isi.....................................................................................................................................ii
1.1

Pengertian SLR................................................................................................................1

1.2

Prinsip Kerja SLR (Metode two-way ranging)................................................................2

1.3

Koreksi, Data Proses dan Akurasi....................................................................................3

1.4

Karakteristik SLR dan Parameter yang Diketahui...........................................................4

1.5

Sistem-sistem SLR...........................................................................................................5

1.6.

Aplikasi SLR....................................................................................................................8

1.7

Pengertian LLR..............................................................................................................12

1.8

Prinsip Kerja LLR..........................................................................................................13

1.9

Koreksi LLR..................................................................................................................15

1.10

Aplikasi LLR.................................................................................................................16

Daftar Pustaka...........................................................................................................................20

2|Sistem SLR dan LLR

1.1 Pengertian SLR


Sistem SLR ( Satellite Laser Ranging), yang mulai dikembangkan oleh NASA pada
tahun 1964 dengan peluncuran satelit Beacon Explorer B, adalah salah satu sistem
penentuan posisi absolut yang paling teliti saat ini. Sistem ini berbasiskan pada
pengukuran jarak dengan laser ke satelit yang dilengkapi dengan retro reflektor laser.
Pada saat ini sistem SLR telah banyak diaplikasikan untuk berbagai aplikasi geodesi.

Gambar SLR
SLR juga merupakan teknik yang paling akurat dalam menentukan posisi geosentrik
dari sebuah satelit bumi, mampu mengkalibrasi presisi dari altimeter radar dan
memisahkan pergeseran instrumentasi jangka panjang dari perubahan sekuler dalam
topografi samudera. Kemampuan SLR untuk mengukur variasi temporal dalam bidang
gravitasi bumi, memonitor pergerakan jaringan stasiun terhadap pusat bumi, serta
kemampuannya untuk memonitor pergerakan vertikal dalam sebuah sistem absolute yang
paling teliti pada saat ini, membuat SLR memiliki keunikan untuk membuat model dan
mengevaluasi perubahan musim jangka panjang.

1|Sistem SLR dan LLR

1.2 Prinsip Kerja SLR (Metode two-way ranging)

Prinsip Kerja SLR


Pada pengukuran ini, diamati waktu tempuh laser dari stasiun Bumi kesatelit. Pulsa
laser ditransmisikan dari stasiun Bumi melalui sistem optis ke satelit. Sebagian
laser

yang

dipancarkan

digunakan

untuk

menyalakan

dari

alat penghitung interval

waktu elektronik. Satelit target dilengkapi dengan retro- reflektor. Pulsa yang dipantulkan
diterima oleh stasiun Bumi, dideteksi, diperkuat, dipecah, dan digunakan untuk
mematikan alat penghitung elektronik. Jelas sekali bahwa metode yang digunakan
dalam sistem SLR adalah metode two-way ranging.
Dengan ini, jarak ke satelit (d) dapat ditentukan dengan persamaan:
d=

c xt
2

Dimana t adalah waktu tempuh laser dari stasiun bumi ke satelit dan kembali lagi ke
stasiun bumi, dan c adalah kecepatan cahaya.
Pengukuran jarak ke satelit dilakukan pada saat-saat satelit melintas di atas stasiun
pengamat. Dengan menggunakan data-data pengukuran jarak ini, serta informasi orbit
satelit maka selanjutnya koordinat dari stasiun di Bumi dapat ditentukan. Pemancar laser
modern umumnya menggunakan laser Nd : YAG (nedymium yttrium garnet), yang dapat
membangkitkan sinar laser hijau dengan panjang gelombang 532nm dengan pulsa yang
sangat pendek sleebar 30-200ps serta frekuensi 5 10 Hz.
SLR memliki komponen utama yang berada di bumi, komponen utama tersebut terdiri
sebagai berikut :
A. Pembangkit dan pemancar pulsa laser yang terdiri dari suatu system optic.
B. Detektor dan analyzer pulsa yang kembali yang terdiri dari teleskop penerima.
2|Sistem SLR dan LLR

C. Unit pengukur waktu tempuh sinyal.


1.3 Koreksi, Data Proses dan Akurasi
Persamaan dalam perhitungan jarak yang digunakan oleh sistem SLR dapat
diformulasikan sebagai berikut :

Dimana :

a. Time Measurement
Waktu tempuh yang dihitung harus didasarkan pada Universal Time dan UTC kaena
pergerakan satelit relative terhadap bumi, dimana akurasinya adalah 100 ns. Pada
saat laser pergi dan kembali harus dicatat sedemikian teliti mungkin untuk
menghilangkan error yang ada.
b. Eccentricity corrections, d0, ds
Perpotongan antara sumbu vertikal dan horizontal digunakan sebagai point referensi
ranging system. Stabilitas sumbu 0 harus dikontrol.
c. Propagation correction, dr

`
Dimana :
3|Sistem SLR dan LLR

Parameter frekuensi laser :

Dan fungsi lokasi stasiun laser f(,H) adalah :

1.4 Karakteristik SLR dan Parameter yang Diketahui


SLR atau Satellite Laser Ranging memiliki karakteristik yang terdiri dari sebagai
berikut :
1. Sistem SLR terdiri dari stasiun pengamat dan satelit-satelit SLR.
2. System penentuan posisi absolute yang paling teliti saat ini.
3. System ini berbasiskan pada pengukuran jarak dengan laser ke satelit yang
dilengkapi dengan retro reflector laser.
4. Prinsip kerja dari SLR adalah menggunakan pengukuran jarak dengan pulsa laser
yang ditembakkan dari stasiun bumi ke satelit.
5. Dilengkapi dengan sejumlah retro-reflektor laser yang kemudian dipantulkan
kembali ke stasiun yang bersangkutan.
Dari proseskorelasi ini didapat parameter-parameter yaitu parameter yang
memang diketahui dan parameter yang akan ditentukan. Parameter-parameter tersebut
yaitu :
A. Parameter yang telah diketahui
Berikut yang telah diketahui dalam penentuan menggunkan SLR :
1) Panjang gelombang laser
2) Lintang dan ketinggian dari stasiun pengamat (H)
3) Koreksi eksentrisitas tanah dan satelit
4) Koordinat relative stasiun pengamat
B. Parameter yang akan ditentukan
Berikut yang telah diketahui dalam penentuan menggunkan SLR :
1) Frekuensi laser (f())
2) Tekanan udara
3) Temperature udara
4) Tekanan uap air
5) Elevasi sebenarnya dari satelit

4|Sistem SLR dan LLR

1.5 Sistem-sistem SLR


Pada saat ini terdapat sekitra 40-an stasiun pengamat SLR yang tersebar di seluruh
dunia. Banyak satelit SLR yang didedikasikan untuk misi SLR dan juga banyak system
satelit lainnya, seperti satelit navigasi dan satelit altimeri, yang dilengkapi dengan retro
reflector untuk pengukuran jarak dengan laser.
SLR terdiri dari beberapa generasi, dimana setiap generasi memilik konsep dan
akurasi yang berbeda. Generasi-generasinya adalah sebagai berikut :
A. Generasi Pertama : Panjang pulsa 10-40 ns, dengan ketelitian
berkisar 1-6 meter, biasanya menggunakan rubylaser dengan saklar-Q
(Q-switch).
B . Generasi Kedua : Panjang pulsa 2-5 n, dengan ketelitian 30-100 cm,
pada umumnya digunakan untuk Metode analisis pulsa.
C . Generasi Ketiga : Panjang pulsa 0,1-0,2 ns, dengan ketelitian 1-3 cm,
berkemampuan untuk mendeteksi foton tunggal (Single Photon).

STARLETTE

diluncurkan

oleh

French

Space

Agency

CNES

(Centre

NationaldEtudes Spatiales) pada 6 Februari 1975 dengan karakteristik sebagai berikut :

perigee height
apogee height
orbit inclination

5|Sistem SLR dan LLR

805 km,
1.108 km.
49.8 degrees,

period of perigee
nodal period
diameter
mass
retro-reectors

~ 110 days,
~ 91 days,
24 cm,
47.295 kg, and
60, diameter 33 mm

LAGEOS-1 diluncurkan oleh the American Space Agency NASA pada 4 May
1976 dan LAGEOS-2 U.S.-Italian project pada 22 October 1992, dengan karakteristik
sebagai berikut :

Perigee height
Orbit inclination
Eccentricity
Period
Diameter
Shape
Mass
Reectors

LAGEOS-1

LAGEOS-2

5860 km
109.84 degrees
0.0045
225 minutes
60 cm
sphere
sphere
411 kg
426 corner cubes

5620 km
52.64 degrees
0.0135
223 minutes
60 cm
405 kg
426 corner cubes

Lageos (Laser Geodynamics Satellite) Structure


Saat ini terdapat banyak satelit yang membawa laser reflector, diantaranya :

6|Sistem SLR dan LLR

Table diatas menunjukkan beberapa satelit yang pernah atau masih dilengkapi
dengan retro reflector. Tetapi perlu dicatat disini bahwa ILRS memiliki skala prioritas
dalam penjajakan satelit-satelit SLR. Prioritas yang digunakan oleh ILRS untuk
penjajakan satelit didasarkan pada parameter orbit satelit serta keperluan dari misi satelit
yang bersangkutan, yaitu sebagai beikut :
1. Prioritas akan berkurang dengan semakin tingginya orbit dan pada tinggi tertentu
dengan semakin besarnya inklinasi orbit.
2. Prioritas dari beberapa satelit dapat ditingkatkan untuk mendukung misi-misi yang
aktif (seperti satelit altimetry), proyeks spasial (seperti IGEX 98) atau post alunch
intensive tracking phases
3. Modifikasi kecil dalam urutan prioritas dapat diubah sesuai dengan tuntutan yang
bertambah dari komunitas pengolah data SLR.

7|Sistem SLR dan LLR

1.6. Aplikasi SLR


A. Menentukan parameter-parameter orientasi bumi. Informasi tentang orientasi dan
lokasi dari sumbu rotasi bumi ini akan sangat bermanfaat dalam mempelajari
perubahan yang terjadi dalam distribusi massa bumi serta pertukaran momentum antar
sbu-sub sistem dalam sistem bumi

8|Sistem SLR dan LLR

B. Memantau variasi sekuluar dari pergerakan kutub yang disebabkan oleh postglacial rebound dan perubahan sekular dalam keseimbangan massa lempengan es.
Perlu dicatat disini bahwa dengan mempelajari variasi temporal dari komponen
koordinat vertikal dari titik, SLR juga dapat memberikan gambaran tentang respon
kerak Bumi terhadap fenomena pasang surut lautan dan atmosfer.

C. Memberikan gambaran respon kerak bumi terhadap fenomena respon pasang surut
lautan dan atmosfer

D. Mempelajari variasi posisi pusat bumi (geocenter)

9|Sistem SLR dan LLR

E. Menentukan nilai koefisien GM, yaitu perkalian konstanta gravitasi dengan massa
bumi.

F. Kontribusi SLR Dalam Memonitor Ketinggian Laut Dan Es


Kontribusi SLR dalam memonitor perubahan ketinggian laut ada dua cara.
Pertama, dengan menyediakan data untuk penentuan orbit. SLR menjamin orbit radial
yang bagus dari satelit altimetri. Kedua, dengan meningkatkan pengetahuan perubahan
sekuler tingkat mm/tahun. Variasi dalam tinggi permukaan laut rata-rata dari TOPEX/
Poseidon mengukur temperatur pertemuan permukaan air laut yang mengindikasikan
el-nino. The topography (and its changes) of the Earths ice sheets are mapped using
satellite altimeters and precision orbits based on SLR and SLRbased force models.
G. SLR Mengukur Dinamika Jangka Panjang Bumi, Samudera, dan Atmosfernya.
SLR menentukan rotasi bumi dan perubahan orientasi dalam distribusi masa
dan pergantian momentum sudut dalam sistem bumi keseluruhan. SLR menentukan
perubahan tinggi geosentrik dari sepasang stasiun dengan menentukan pergerakan tiap
jaringan stasiun terhadap geosenter pada bebarapa tingkatan mm. Munculnya
perubahan pada komponen X dan Y dari geosenter dapat di lihat pada tingkatan
milimeter ini.
H. SLR Menunjang Studi Pergerakan Tektonik.
10 | S i s t e m S L R d a n L L R

SLR menyediakan keakuratan penentuan mm/yr pergerakan stasiun pada skala global
dalam lingkup referensi geosentrik. Dikombinasikan dengan model gravitasi dan
perubahan puluhan tahun dalam rotasi bumi.
I. Penentuan posisi absolut titik secara teliti, baik untuk keperluan realisasi system
referensi koordinat maupun untuk studi geodinamika dan deformasi.
J. Penentuan orbit satelit yang dilengkapi reflektor laser.
K. Penentuan parameter orientasi bumi, yaitu presesi, nutasi, pergerakan kutub, dan rotasi
bumi
L. Studi medan gaya berat bumi.

Adapun beberapa aplikasi lainnya dimana SLR berkontribusi secara langsung maupun tak
langsung adalah
a. Kalibrasi altimeter radar dari sistem satelit altimetri
b. Pemantauan perubahan muka laut, dimana SLR berkontribusi dalam penentuan orbit
satelit altimetri secara teliti serta dalam penentuan perubahan ketinggian stasiun
pengamatan di kawasan pantai
c. Studi variasi gaya berat akibat redistribusi massa di atmosfer, hidrosfer dan dalam
bumi
d. Studi interaksi antara inti dan mantel bumi

1.7 Pengertian LLR


Pada dasarnya, sistem LLR (Lunar Laser Ranging) memiliki prinsip yang sama
dengan sistem SLR (Satellite Laser Ranging). Sistem ini, mengukur jarak menggunakan
laser ke bulan yang terdapat retro-reflektor. Rektro-reflektor ini dipasang pertama kali oleh
para astronot Amerika Serikat pada tahun 1969 pada misi Apollo 11 dan astronot Rusia
pada misi Luna pada tahun 1970.
Awalnya pada misi Apollo 11 ditempatkan 100 buah retro-reflektor pada Juli 1969,
kemudian pada misi Apollo 14 dan 15 masing-masing ditambah 100 dan 300 buah retroreflektor pada Februari 1971 dan Juli 1971. Perkumpulan retro-reflektor retro-reflektor
pada tiap misi kemudian membentuk sebuah segitiga seperti pada gambar 1.1. Kemudian
dua reflektor milik Perancis melengkapi ketiga retro-reflektor yang ada, dengan

11 | S i s t e m S L R d a n L L R

diluncurkan oleh misi Luna 17 dan Luna 21. Sayangnya satu retro-reflektor pada misi Luna
17 gagal memancarkan sinyal karena tertutup debu.

Gambar 1.1 (Kiri) Retro-reflektor di bulan, (Kanan) Distribusi Retro-reflektor yang


ditempatkan di bulan
Bulan dianggap memiliki pergerakan yang lebih stabil dan memiliki lintasan orbit
yang akurat karena sudah diamati sejak lebih dari 30 tahun. Namun secara teknis
pengamatan ini justru lebih sulit dilakukan karena memiliki keseimbangan energi yang
terlalu lemah. Sinar laser dengan frekuensi 10 Hz, sekitar puluhan fotoelektron hilang per
menit dari sekitar 1019 per sekon fotoelektron yang ditransmisikan. Hal ini berakibat pada
signal loss (hilangnya kekuatan sinyal) sebesar 10-21.
Sampai saat ini, terdapat beberapa stasiun pengamatan LLR di dunia. Yang paling
tua dan telah melakukan pengamatan LLR secara kontinu adala McDonnald Observatory.
Stasiun pengamatan yang lain adalah Grasse (Perancis), Haleakala (Hawaii), Orroral
(Australia), dan Wetzell (Jerman). Selain itu, juga terdapat stasiun yang mengamati system
LLR maupun system SLR yaitu Matera di Italia.
1.8 Prinsip Kerja LLR
Prinsip kerja Lunar Laser Ranging adalah pengukuran durasi perjalanan sinar yang
ditembakkan dari Bumi ke reflektor yang menjadi target di Bulan, dan menerimanya
kembali untuk dianalisa. Mungkin konsepnya sangat mudah, tetapi pada kenyataannya
secara teknis hal ini adalah sangat sulit.
Awalnya, hasil observasi yang didapat bergantung pada kualitas pengukuran waktu.
Rata-rata durasi perjalanan cahaya yang biasa didapat ialah sekitar 2.5 detik, dengan rata12 | S i s t e m S L R d a n L L R

rata jarak Bumi ke Bulan sebesar 385000 km. Jika diinginkan ketelitian 1 cm untuk jarak
antara transmitter dan reflektor, dibutuhkan keakuratan order 0.1 nanosekon (10-10 sekon)
dalam pengukuran setiap durasi perjalanan cahaya. Pengukuran waktu yang dilakukan
berdasarkan pada frekuensi sinyal yang sangat stabil yang dihasilkan oleh jam atom
caesium yang ketelitian frekuensinya lebih baik.
Namun terdapat beberapa factor yang mempengaruhi kebenaran pengukuran.
Atmosfir bumi membawa perbedaan waktu yang cukup sulit diestimasi, kemungkinan
antara 50 sampai 100 pikosekon, tergantung temperatur saat itu, tekanan, dan
kelembapannya. Librasi Bulan, untuk kasus yang paling

buruk,

dapat

membuat

osilasi yang menyebabkan distribusi penyebaran takteratur yang tidak terbias pada jarak
beberapa sentimeter (sekitar 200 pikosekon perjalanan waktu).
Pada stasiun Perancis tempat CERGA beroperasi, telah dilakukan tes beberapa
pendekatan. Untuk meningkatkan kesempatan menangkap pantulan photon yang benar
digunakan beberapa jenis alat filter yang berfungsi menyingkirkan noise photon seoptimal
mungkin.
Tetapi tetap saja ada sumber masalah yang lainnya. Sinar yang ditembakkan LLR
memiliki divergensi 3 sampai 4 setelah melewati atmosfir Bumi sehingga ukuran sinar
pada Bulan adalah berdiameter sekitar 7 km, yang artinya adalah hanya satu photon dari
109 yang ada yang sampai ke reflektor. Selain itu, pantulan yang dihasilkan memiliki sudut
divergensi signifikan(12) yang disebabkan oleh difraksi pupil reflektor sehingga
diameternya kembali ke bumihampir mencapai 25 km. Dan dengan menggunakan teleskop
1 meter, hanya satu fraksi 10-9 yang bisa diterima.
Selain itu ukuran jarak juga akan dipengaruhi oleh pasang surut, aberasi, efek
relativitas, dan pergerakan lempeng.
Tentang MLRS
Penempatan target pada bagian yang sesuai di permukaan bulan hanyalah salah satu
bagian dari keseluruhan rencana untuk menjalankan LLR. Untuk mencapai tujuan
melengkapi eksperimen, harus
Bumi.

Stasiun-stasiun

didirikan

tersebut

stasiun

pengamatan

pada

permukaan

selain memerlukan teleskop optik yang sanggup

mengirim sinar dan mengumpulkan photon-photon yang terpantul, juga memerlukan


laser

yang

kuat,

sistem

pemantau waktu yang

teliti, dan komputer super cepat.

Kesemuanya ini harus dikoordinasikan dalam unit yang berfungsi baikdan dikelola oleh
13 | S i s t e m S L R d a n L L R

staff personel yang ahli. Dan karena saat program NASA Apollo itu tidak ada waktu
maupun dana yang tersedia untuk konstruksi yang sedemikian rupa, dibutuhkanlah akses
sejumlah observatori optik yang telah lebih dulu didirikan untuk melihat apakah paling
tidak rencana ini bisa dilakukan pada stasiun yang sudah ada.
Stasiun yang ada tersebut sebenarnya dirancang untuk sebuah fasilitas di
atas puncak Mt. Haleakala pada Pulau Maui di kepulauan Hawaii. Dan ternyata,
pelaksanaan pemasangan alat yang sesuai dan pengadaan modifikasi di sana untuk
membawa

segalanya

bisa

beroperasi

dengan baik

adalah

mustahil

bisa

bersamaan dengan mendaratnya Apollo 11 pada musim panas 1969.


Pada saat itulah Harlan J. Smit, direktur McDonaldObservatory yang terletak di
bagian barat Texas, dekat dengan Fort Davis, didatangi oleh tim LURE (Lunar Ranging
Experiment). Teleskop pemantul McDonal sebesar 2.7 meter yang dibiayai NASA untuk
keperluan program pengamatan planet, kebetulan sedang berfungsi operasional sehingga
komitmen untuk aktivitas LLR jangka panjang adalah pilihan yang terbaik. Pada
Maret1969, C.O Alley dan D.G Currie dari University of Maryland bertemu dengan R.G
Tull, staffMcDonald Observatory, untuk mencari tahu apakah proyek LLR dapat
dijalankan oleh McDonald. Hasilnya bisa dilihat sekarang bahwa eksperimen tersebut
adalah sukses. McDonald Observatory telah menjadi LLR stasiun superior pada tahun
1970 dan awal 1980an. Sistem laser dengan Korad ruby 2.7 meter secara rutin
memproduksi data LLR dengan ketelitian antara 10 sampai 15 cm.
Setelah nyaris 16 tahun LLR beroperasi di McDonald Observatory, sistem laser
ranging 2.7 meter tersebut kemudian digantikan dengan sistem 0.76 m, yang sanggup
mengukur satelit artifisial sama seperti pada Bulan. MLRS kemudian didirikan untuk
memenuhi beberapa objektif berikut:
1. Mendukung

observasi

LLR

pada

McDonald

Observatory,

dengan

menggunakan pengalaman lebih dari satu setengah dekade tanpa harus membutuhkan
akses ke teleskop 2.7 meter yang sebelumnya
2. Mengambil keuntungan dari 15 tahun progress dalam hal laser, penentuan
waktu, elektronik, dan teknologi komputer untuk membuat stasiun yang jauh lebih
baik lagi
3. Mengurangi biaya aktivitas LLR McDonald dengan sistem yang lebih otomatis

14 | S i s t e m S L R d a n L L R

4. Bekerja sama dengan stasiun satelit laser ranging artifisial yang terletak di barat daya
U.S
5. Menyediakan pengamatan lunar dan satelit artifisial yang dekat dengan jaringan node
National Geodetic Survey/International Radio Interferometric Surveying NGS/IRIS,
yang memberikan perbandingan efisien antara teknik laser dan radio-interferometri
Stasiun baru MLRS ini (dilengkapi laser neodymium-YAG frekuensi dobel)
sampai sekarang memberikan data LLR mendekati 1 sentimeter sebagai normal akuratnya.
Awalnya stasiun inidibangun di antara Mt. Locke dan Mt. Fowlkes dan pembukaan
observasi lunarnya dibuka pada musim panas 1983. Namun, ternyata lokasi itu memiliki
banyak masalah atmosfir dan kestabilan pendukung konkrit teleskop, sehingga MLRS pun
dipindahkan ke Mt. Fowlkes pada Februari1988 hingga sekarang.
1.9 Koreksi LLR
Awalnya, hasil observasi yang didapat bergantung pada kualitas pengukuran waktu.
Rata-rata durasi perjalanan cahaya yang biasa didapat ialah sekitar 2.5 detik, dengan ratarata jarak Bumi ke Bulan sebesar 385.000 km. Jika diinginkan ketelitian 1 cm untuk jarak
antara transmitter dan reflektor, dibutuhkan keakuratan order 0.1 nanosekon (10-10 sekon)
dalam pengukuran setiap durasi perjalanan cahaya. Pengukuran waktu yang dilakukan
berdasarkan pada frekuensi sinyal yang sangat stabil yang dihasilkan oleh jam atom
caesium yang ketelitian frekuensinya lebih baik.
Namun terdapat beberapa factor yang mempengaruhi kebenaran pengukuran.
Atmosfir bumi membawa perbedaan waktu yang cukup sulit diestimasi, kemungkinan
antara 50 sampai 100 pikosekon, tergantung temperatur saat itu, tekanan, dan
kelembapannya. Librasi Bulan, untuk kasus yang paling
osilasi

buruk,

dapat

membuat

yang menyebabkan distribusi penyebaran tak teratur yang tidak terbias pada

jarak beberapa sentimeter (sekitar 200 pikosekon perjalanan waktu).


Pada stasiun Perancis tempat CERGA beroperasi, telah dilakukan tes beberapa
[Link] meningkatkan kesempatan menangkap pantulan photon yang benar
digunakan beberapa jenis alat filter yang berfungsi menyingkirkan noise photon seoptimal
[Link] tetap saja ada sumber masalah yang lainnya. Sinar yang ditembakkan LLR
memiliki divergensi 3 sampai 4 setelah melewati atmosfir Bumi sehingga ukuran sinar
pada Bula n adalah berdiameter sekitar 7 km, yang artinya adalah hanya satu photon dari
109 yang ada yang sampai ke reflektor. Selain itu, pantulan yang dihasilkan memiliki sudut
divergensi signifikan(12) yang disebabkan oleh difraksi pupil reflektor sehingga
15 | S i s t e m S L R d a n L L R

diameternya kembali ke bumi hampir mencapai 25 km. Dan dengan menggunakan teleskop
1 meter, hanya satu fraksi 10-9 yang bisa [Link] itu ukuran jarak juga akan
dipengaruhi oleh pasang surut, aberasi, efek relativitas, dan pergerakan lempeng.
Cara menentukan posisi dari parameter dan besaran diatas
d = [Link] / 2
Keterangan:
d

= jarak dari stasiun di bumi ke bulan.

dt

= waktu tempuh laser dari stasiun bumi ke bulan dan kembali lagi ke stasiun bumi.

= kecepatan cahaya.

1.10

Aplikasi LLR
Aplikasi LLR dalam berbagai bidang aplikasi geodesi, antara lain:
a. Penentuan posisi absolut titik secara teliti, baik untuk realisasi kerangka referensi
koordinat maupun studi geodinamika
b. Penentuan parameter orientasi bumi
c. Penentuan konstanta gravitasi (GM) bumi dan bulan
d. Penentuan orbit bulan serta variasi rotasinya
e. Studi medan gaya berat bulan
f. Studi interaksi dinamika bumi dan bulan
g. Penentuan parameter relativitas

Sistem LLR yang mulai berkembang sejak tahun 1969 oleh misi Apollo 11 yang
menempatkan reflektor laser di permukaan bulan. Pengukuran jarak ke bulan dilakukan
dengan memanfaatkan retro-reflektor yang ditempatkan pada permukaan bulan dalam misi
Apollo dan Luna ke bulan.
Stasiun-stasiun pengamat LLR menetapkan kerangka referensi di Bumi dan retroreflektor laser menetapkan kerangka referensi di Bulan. Data ukuran jarak dari Bumi ke
Bulan dianalisa kemudian ditentukan parameter-parameter rotasi Bumi, dinamika sistem

16 | S i s t e m S L R d a n L L R

Bumi-Bulan, serta parameter relativitas. Adapun tingkat ketelitian dari beberapa parameter
yang dapat ditentukan dengan metode LLR ditunjukkan pada tabel berikut.
Tingkat ketelitian dari beberapa parameter yang ditentukan oleh LLR [FGS, 1998]
No.
1

Parameter
Koordinat stasiun pengamat

Ketelitian
3 5 cm

Kecepatan stasiun pengamat


Rotasi bumi

0,4 1,2 cm/tahun


0,05 1 ms

Orientasi sumbu rotasi

0,5 10 mas

Presesi

0,3 mas / tahun

Nutasi
Koordinat reflektor
Posisi bulan

0,9 3 mas
0,5 10 m
10 50 cm

Kecepatan bulan

0,5 cm / s

5
6
7

GM, bumi maupun bulan


Rotasi bulan
Medan gaya berat bulan
Parameter elastisitas

0,004 km3/s2
5
10-8 10-6
0,004

Parameter disipasi (dissipation)


10 s
Percepatan secular bulan karena 0,08 / abad2

3
4

friksi pasut dari bumi


Adapun analisa sekitar 15 tahun data LLR telah ditentukan nilai koefisien gravitasi
3
2
geosentrik GM sebesar ( 398600,443 0,006 ) km / sec

(Williams et al., 1987). Selain itu

analisa dari data LLR selama 12 tahun ditentukan pula nilai koefisien gravitasi untuk
3
2
Bulan GMm sebesar ( 4902,7993 0,0029 ) km / sec [Ferrari et al., 1982]. Fenomena

pasang surut air laut di Bumi juga mempengaruhi orbit Bulan secara langsung. Hal ini
ditunjukkan dari analisa data LLR yang menunjukkan bahwa Bulan menjauh dari Bumi
dengan kecepatan sekitar 3,8 cm/tahun. Secara umum, beberapa pencapaian dalam aplikasi
teknologi LLR diberikan pada tabel di bawah ini.
Tabel Pencapaian teknologi LLR [CDDIS, 2001]
Periode
1970 1974

Pencapaian
LLR adalah kontributor dominan untuk UT1

Sistem referensi Seleocentric ditentukan

Orbit bulan ditentukan sampai ketelitian 1 m

17 | S i s t e m S L R d a n L L R

1975 1979

LLR meningkatkan kulitas GM bumi.

LLR menguji prinsip Strong Equivalence dari teori


relativitas.

1980 1984

Pengukuran pertama dari percepatan (tidal) bulan.

Penemuan disipasi dan librasi bebas dari bulan.


BIH bergantung pada SLR, LLR dan VLBI untuk
pemantauan kutub dan orientasi bumi.

Momentum sudut atmosfer global dikorelasikan dengan


LOD yang ditentukan oleh LLR.

Penentuan ephemeris Bulan berketelitian 10 cm.

Dinamika titik semi dan kemiringan (obliquity) ekliptika


ditentukan dengan lebih baik.

1985 1989
1990 1994

Elastisitas Bulan dideteksi.


Presepsi geodetic sesuai dengan relativitasd pada tingkat

2%.
Koreksi untuk presesi dan nutasi ditentukan oleh LLR.

Percepatan (tidal) Bulan ditentukan sampai ketelitian 0,5


arcsec/abad.

1995

Penentuan ephemeris Bulan berketelitian 3 cm.

Orientasi ephemeris ditentukan sampai miliarcsec.


LLR menentukan konstrain untuk laju perubahan dari

sekarang

konstanta gravitasi G.

Karakteristik bagian dalam Bulan diinvestigasi dengan


LLR.

18 | S i s t e m S L R d a n L L R

Daftar Pustaka

Abidin, Hasanuddin Z. 2001. Geodesi Satelit. Jakarta. Pradnya Paramita.


Seeber, Gunter. 2003. Satellite [Link]. Hubert & Co. GmbH & Co. Kg. Gottingen.
Institut Teknologi Bandung. 2011. Sistem Penentuan Posisi Berbasis Satelit. Bandung.

19 | S i s t e m S L R d a n L L R

Anda mungkin juga menyukai