100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
583 tayangan162 halaman

Korelasi Visi-Misi Pendidikan Kristen

Tesis ini membahas korelasi antara visi-misi pendidikan Kristen dengan program pembinaan rohani jemaat di Gereja Persekutuan Kristen Jawa Timur (GePeKris). Penelitian ini bertujuan memahami hubungan antara kedua hal tersebut dan relevansinya bagi pelaksanaan kegiatan GePeKris. Hasilnya diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pelaksanaan program pembinaan rohani jemaat sesuai dengan visi-misi p

Diunggah oleh

Rosnila Hura
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
583 tayangan162 halaman

Korelasi Visi-Misi Pendidikan Kristen

Tesis ini membahas korelasi antara visi-misi pendidikan Kristen dengan program pembinaan rohani jemaat di Gereja Persekutuan Kristen Jawa Timur (GePeKris). Penelitian ini bertujuan memahami hubungan antara kedua hal tersebut dan relevansinya bagi pelaksanaan kegiatan GePeKris. Hasilnya diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pelaksanaan program pembinaan rohani jemaat sesuai dengan visi-misi p

Diunggah oleh

Rosnila Hura
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

STUDI KORELASI ANTARA VISI MISI PENDIDIKAN KRISTEN

DENGAN PROGRAM PEMBINAAN ROHANI JEMAAT


DAN RELEVANSINYA BAGI GEREJA PERSEKUTUAN KRISTEN
(GEPEKRIS) SE-JATIM

TESIS
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Akademik
Bagi pencapaian Gelar Magister Pendidikan Kristen
Kosentrasi PAK

Oleh:
Rosnila Hura
NIM: 1122526

PROGRAM PASCASARJANA
SEKOLAH TINGGI THEOLOGI JAFFRAY JAKARTA
JAKARTA, 31 AGUSTUS 2011

ABSTRAK

Hura, Rosnila. 2011. Studi Korelasi antara Visi-Misi Pendidikan Kristen Dengan
Program Pembinaan Rohani Jemaat dan Relevansinya Dengan Gereja Persekutuan
Kristen se-Jatim. Tesis Prodi PAK, program Pasca Sarjana: Magister Pendidikan Kristen
([Link]), Sekolah Tinggi Teologi Jaffray (STT Jaffray): Pembimbing: Pdt. Drs. Jerry
Rumahlatu, [Link]

Kata Kunci: Korelasi, Visi-Misi Pendidikan Kristen, Program Pembinaan Rohani Jemaat.

Pendidikan Kristen bukan hanya menjadi bagian dari Institusi pendidikan formal
melainkan juga menjadi bagian dari gereja yang merupakan lembaga yang dibentuk Allah
sendiri sebagai tempat pembinaan umat pilihanNya. Pendidikan Kristen yang benar tidak
dapat dipisahkan dari visi-misi yang melandasi setiap aktivitas pendidikan Kristen. Oleh
sebab itu pendidikan Kristen yang juga merupakan bagian integral dari gereja harus
didasarkan pada visi-misi yang Alkitabiah dan sesuai dengan kebenaran teologis Kristen
yang benar.
Sebagai bagian dari institusi rohani yang bertanggungjawab dalam proses
pembinaan rohani jemaat, gereja, termasuk didalamnya Gereja Persekutuan Kristen
(GePeKris) yang berada di wilayah Jawa Timur memiliki tanggung jawab yang besar
dalam keberhasilan proses pembinaan dan pendidikan jemaat yang dilaksanakannya.
Efektifitas dan efisien setiap kegiatan pembinaan rohani jemaat dan pendidikan
merupakan hal yang harus terpenuhi. Oleh sebab itu gereja-gereja yang tergabung dalam
GePeKris di wilayah Jawa Timur perlu menyusun suatu program pembinaan rohani yang
akan menjadi acuan bersama dalam setiap pelaksanaan kegiatan maupun pelayanan yang
dilaksanakan.
Dalam kaitannya dengan pelaksanaan di lapangan, visi-misi pendidikan Kristen
yang harus menjadi dasar setiap proses pembinaan jemaat yang dilakukan gereja
termasuk di dalamnya GePeKris se-Jatim, program pembinaan rohani jemaat merupakan
bagian yang integral dari proses tersebut. Hal ini dikarenakan program gereja merupakan
alat yang dapat menjadi acuan bagi tercapainya visi-misi pendidikan Kristen dalam
pelayanan gerejawi yaitu terciptanya transformasi bagi jemaat yang mencakup aspek
kogntif, afektif dan psikomotorik.
Walaupun secara teori dan dipandang secara umum bahwa ada hubungan yang
integral antara visi-misi pedidikan Kristen dengan program pembinaan rohani jemaat,
dalam pelaksanaanya seringkali kurang ada singkronisasi antara visi-misi pendidikan
Kristen dengan program gereja. Hal ini menyebabkan visi-misi pendidikan Kristen tidak
mewarnai program gereja. Di sisi lain seringkali visi-misi pendidikan Kristen telah
menjadi dasar dari program pembinaan rohani jemaat, namun dalam pelaksanaannya

seringkali jemaat dan komponen yang terlibat dalam pelayanan gereja kurang dapat
menjalankan program pembinaan dengan baik, maka hasilya pun tidak baik. Hal ini
menyebabkan visi-misi pendidikan Kristen tidak tercapai.
Sebagai bagian dari gereja secara universal, GePeKris sejak awal berdirinya
hingga sampai sekarang ini telah berupaya untuk melakukan kegiatan pembinaan rohani
kepada jemaat dengan berbagai bentuk program yang ada, namun jika diperhatikan dalam
pertumbuhan dari tahun ketahun, baik secara kuantitas maupun secara kualitas maka
tidak menunjukkan pertumbuhan. Malah yang kelihatan jumlah jemaat semakin merosot,
semangat untuk melayani berkurang sekalipun mereka tahu bahwa mereka harus
melayani, hidup dalam persekutuan dengan sesama maupun pribadi semakin menurun.
Mengapa demikian?
Tesis ini akan memfokuskan pembahasan terhadap permasalahan tersebut. Dalam
tesis ini penulis akan membahas mengenai Studi korelasi antara visi-misi pendidikan
Kristen dengan program pembinaan rohani jemaat dan relevansinya bagi Gereja
Persekutuan Kristen se-Jatim (GePeKris) dan bagaimana kedua hal tersebut
dilaksanakan dalam setiap kegiatan maupun pelayanan yang bersifat rutin dan insidentil
di beberapa gereja tersebut.
Dengan mengangkat topik ini, penulis memiliki tujuan secara umum, supaya
setiap pembaca dapat memahami korelasi antara visi-misi pendidikan Kristen dengan
program pembinaan rohani jemaat dan berbagai hal yang berkaitan dengan hal itu.
Sementara itu secara khusus penulis bertujuan supaya setiap pihak terkait dapat
memahami bagaimana hubungan antara visi-misi pendidikan Kristen dan program gereja
di GePeKris se Jatim, dan melaluinya setiap pihak yang terkait dapat memiliki gambaran
sesuatu yang harus dilaksanakan berkaitan dengan hal tersebut.
Agar tujuan yang penulis maksudkan dapat tercapai, maka pola pikir secara garis
besar adalah penulis memulai tulisan ini dengan memaparkan pokok permasalahan dalam
bab satu, kemudian dalam bab dua penulis akan menguraikan landasan teori yang dapat
dipakai atau berfungsi membangun suatu landasan teori berdasarkan teori yang telah ada
dan juga berfungsi sebagai landasan untuk memahami subjek riset. Setelah itu dalam bab
tiga, penulis memaparkan metodologi penulisan yang dipakai. Dalam bab IV
menguraikan hasil temuan penelitian dan aplikasinya. Setelah itu dalam bab lima adalah
bab penutup dengan mengambil kesimpulan dan memberikan saran bagi para pembaca
tesis ini.

PRAKATA

Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yesus yang telah
menganugrahkan kesempatan pada penulis untuk menulis tesis ini di STT Jaffray. Juga
tak lupa penulis mengucap syukur atas penyertaan dan hikmat yang Tuhan Yesus berikan
dalam penyusunan tesis ini hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikannya di tengahtengah keterbatasan yang penulis miliki.
Pada kesempatan ini pula penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Drs. Jerry
Rumahlatu, [Link] selaku rektor STT Jaffray sekaligus sebagai pembimbing penulis dalam
menulis Tesis ini, yang memberikan kesemptan kepada penulis selama penulis
menyelesaikan studi program Pasca Sarjana, serta bimbingan kepada penulis selama
penyelesaian studi di STT Jaffray. Tak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih
kepada Pdt. Nasokhili Giawa, [Link], selaku pembantu Rektor Bidang Akademik dan
seluruh staf yang telah berjerih lelah membantu penulis selama studi hingga penyelesaian
tesis ini.
Ucapan terima kasih juga penulis hanturkan kepada Pdt. Musa Surtjadi, [Link] dan
seluruh pengurus BKS GePeKris (Badan Kerja Sama Gereja Persekutuan Kristen) seJatim serta gembala jemaat GePeKris Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Malang Prigen dan
tretes atas kesempatan dan bantuan yang diberikan kepada penulis untuk melakukan
penelitian hingga terselesaikan dengan baik. Juga kepada jemaat dan pengurus gereja
yang dengan penuh kerelaan berkenan mengisi angket yang penulis sebarkan serta
membantu penulis dalam distribusi angket tersebut.
Tak lupa juga penulis mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada pada sponsor
dan donatur yang selama ini telah berkenan memberkati penulis melalui pembiayaan
studi selama penulis menyelesaikan tesisi ini. Sebagai manusia, penulis tidak dapat
membalas budi baik ibu, namun penulis yakin karya Kristus dalam kehidupan ibu akan
terus Ia nyatakan hingga ibu dapat menjadi sarana penyataan anugrah dan kemuliaan-Nya
bagi sesama dan pekerjaan-Nya.
Ucapan syukur kehadirat Tuhan juga penulis haturkan atas kehadiran orang tua
penulis bapak Atuloo Hura, mama Fatiada Lorasa, saudara-saudara penulis di Nias serta
orang tua penulis di Jawa ibu Dwi Tjahja Rudatin, adik penulis yang ada di Kediri, yang
selama ini dipakai-Nya untuk mengukir kehidupan penulis terutama dalam pelayanan
yang telah Tuhan percayakan kepada Penulis.
Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada suami penulis, Immanuel
Yosua yang rela meluangkan waktunya ditengah kesibukan mengumpulkan berita
untuk mendorong dan mendampingi penulis dalam penyelesaian tesis ini. Juga kepada
kedua putri penulis, Augustine Putri Cahyaning Negari dan Desy Aurelia Putri
Ardiningrum yang telah menjadi penyemangat hidup dan menambah kegigihan dalam
diri penulis.
Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa STTIAA secara
khusus mahasiswa Prodi PAK, yang turut menyemangati dan mendorong bahkan

mendoakan penulis selama menyelesaikan tesis ini, dan oleh karena merekalah penulis
berupaya menyesaikan tesis ini.
Akhir kata penulis mengucapkan kepada pembaca dan seluruh pihak yang berkenan
membaca dan memberi masukan terhadap tesis ini. Setiap masukan yang membangun
sangat penulis harapkan bagi perbaikan tesis ini.
Ibarat tak ada gading yang tak retak, penulis sadar banyak kekurangan dalam tesis
ini, sehingga bukan suatu hal berlebihan ketika penulis menyampaikan permohonan maaf
terhadap kekurangan tersebut. Besar harapan penulis karya sederhana ini dapat
memperkaya khasana pengetahuan berkenan dengan pelayanan pendidikan Kristen dalam
gereja.

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN .

ABSTRAK.

ii

KATA PENGANTAR

iv

DAFTAR ISI.

vi

BAB I PENDAHULUAN.

A. Latar Belakang Masalah...

B. Isu Inti Masalah

C. Tujuan Penelitian.. 10
D. Asumsi Penelitian. 10
E. Hipotesa Penelitian 10
F. Manfaat Penelitian 11
G. Batasan Penelitian. 12
H. Definisi Istilah..

13

I. Metodologi Penelirian.. 14
J. Sistimatika Penulisan 15
BAB II LANDASAN TEORI VISI-MISI PENDIDIKAN KRISTEN DAN
PROGRAM PEMBINAAN ROHANI JEMAAT.. 17
A. Tinjauan Literatur Tentang Visi-Misi Pendidikan Kristen.. 17
a. Pengertian Visi-Misi Pendidikan Kristen...................... 18
b. Visi-Misi Pendidikan Kristen Ditinjau dari Sudut Pandang

Alkitab 19
c. Visi-Misi Pendidikan Kristen Ditinjau dari Sudut Pandang
Teologis.

25

d. Sumber Pendidikan Kristen dalam Gereja

29

e. Kristus Sebagai Sentral dan Dasar Dari Pendidikan Kristen


Dalam Gereja

31

f. Kedudukan Gereja dalam Pelaksanaan Pendidikan Kristen di


Gereja. 33
g. Rumusan Visi-Misi Pendidikan Kristen dalam Gereja

41

B. Tinjauan Literatur Tentang Program Pembinaan Rohani Jemaat


Berdasarkan Visi-Misi Pendidikan Kristen

46

a. Pentingnya Penyusunan Program Pembinaan Rohani Jemaat


Berdasarkan Visi-Misi Pendidikan Kristen..

46

b. Program Pembinaan Rohani Gereja Berdasarkan Visi-Misi


c. Pendidikan Kristen. 50
C. Rangkuman . 57
BA III PENERAPAN METODOLOGI 59
A. Metodologi Penelitian.......................... 59
B. Sampling (Populasi dan Sampel) 60
C. Metodologi Pengumpulan Data 62
D. Penggunaan Instrumen Penelitian 63
E. Teknik Analisi Data. 67

BAB IV ANALISIS INTERPRETASI DAN APLIKASI TEMUAN PENELITIAN 68


A. Analisis Temuan Penelitian.. 68
B. Interpretasi Temuan Penelitian (Implikasi dan Korelasi).................... 115
C. Aplikasi Temuan Penelitian 125
D. Rangkuman.. 133
BAB V PENUTUP 135
A. Kesimpulan.. 135
B. Saran Rekomendasi.. 138
KEPUSTAKAAN.... 140
LAMPIRAN.. 143

Bab I
PENDAHULUAN

Dalam bab ini penulis akan membahas mengenai pokok-pokok mendasar yang
berhubungan dengan judul penelitian tentang Studi Korelasi Antara Visi-Misi
Pendidikan Kristen dengan Program Pembinaan Rohani Jemaat dan Aplikasinya Bagi
gereja Gepekris se-Jatim. Pokok-pokok mendasar yang penulis maksudkan adalah: latar
belakang masalah, isu inti masalah, tujuan penelitian, asumsi penelitian, hipotesis
penelitian, Manfaat penelitian, batasan penelitian, Definisi istilah, metodologi penelitian.

A. Latar Belakang Masalah


Mengamati berhasilnya dan berkualitas suatu program pembinaan atau pendidikan
pada umumnya ditentukan oleh adanya visi-misi yang jelas dan terfokus. Tidak terkecuali
program pembinaan rohani jemaat yang didasarkan pada visi-misi pendidikan Kristen
yang jelas dan terfokus, maka pembinaan rohani jemaat di manapun akan menghasilkan
buah yang berkualitas baik dalam beriman maupun dalam penyerahan diri dalam
melayani Tuhan. Dalam hal ini faktor visi-misi yang jelas dan terfokus sangat
menentukan keberhasilan pelaksanaan program pembinaan rohani jemaat dan gereja
tersebut berhasil menciptakan orang-orang Kristen yang berkualitas dalam iman dan
penyerahan diri dalam melayani pekerjaan Tuhan. Sekarang timbul suatu pertanyaan,
seperti apa visi-misi pendidikan Kristen yang jelas dan terfokus dan apa hubungannya

dengan program pembinaan rohani jemaat sehingga dengan program pembinaan yang
dibangun di atas visi-misi pendidikan Kristen tersebut dapat menghasilkan jemaat yang
berkualitas.
Selain dilaksanakan melalui lembaga-lembaga pendidikan formal, gereja juga
merupakan lembaga pendidikan Kristen untuk mempersiapkan pribadi-pribadi Kristiani.
Melalui gereja, seorang pengajar atau hamba Tuhan mendidik, mempersiapkan dan
memperlengkapi jemaat supaya memiliki pengetahuan dan keterampilan agar dapat
terlibat secara efektif dalam pekerjaan pelayanan. Adapun fungsi dari Pendidikan Kristen
dalam gereja adalah untuk membangun tubuh Kristus agar gereja sanggup melaksanakan
maksud Tuhan.
Dalam persekutuan umat Allah Perjanjian Lama terdapat kegiatan pembinaan atau
kegitatan mendidik mulai dari anak-anak sampai kepada yang tua dibagi menjadi dua
bagian yaitu pendidikan sebelum Israel dibuang Allah yang dikenal dengan pendidikan
pra pembuangan dan pendidikan pada masa setelah Israel kembali dari pembuangan yang
dikenal dengan pendidikan post pembuangan. Pendidikan pada masa pra pembuangan.
Berlangsung dalam kehidupan sehari-hari melalui keluarga.
Pendidikan pada masa post pembuangan bangsa Israel ke Babel yang dilakukan
dalam rumah-rumha ibadah dengan fokus utama untuk membangun kehidupan rohani
umat Tuhan. Pendidikan itu terus berlangsung hingga masa Perjanjian Baru, di mana
proses tersebut dikerjakan langsung oleh Tuhan Yesus, baik dalam bentuk mengajar,
berkhotbah, memanggil mempersiapkan para murid, memperlengkapi, mendampingi para

murid dan menguji mereka.1 Pendidikan tersebut tidak berhenti pada masa Yesus, tetapi
pekerjaan itu diteruskan oleh para rasul-rasul, dan dikembangkan oleh para hamba-hamba
Tuhan pada zaman sekarang ini.
Saat ini gereja seolah-olah dianggap seperti bioskop. Hanya bedanya jika dibioskop
bayar dulu baru masuk. Sedangkan di gereja masuk dulu baru bayar. Artinya jika
dibioskop bayar karcis dulu baru masuk ruangan untuk menonton. Kalau digereja masuk
dulu baru bayar persembahan. Sehigga tidak jarang dan tidak sedikit digereja memandang
persembahan itu merupakan penekanan dalam ibadah, sehingga jika jemaat tidak
memberi persembahan selalu disindir dikhotbah. Akirnya jemaat yang merasa malu dan
tersinggung dengan khotbah yang seperti itu membuat jemaat tidak mau ke gereja.
Apakah itu fungsi gereja?
Fungsi gereja masa kini bukan hanya sebagai tempat ibadah, bukan hanya sebagai
tempat untuk melayani, tetapi gereja juga menjadi salah satu lembaga pendukung
terlaksananya pendidikan Kristen secara [Link] panggilan ini pada hakikatnya
diperuntukkan bagi seluruh warga gereja. Oleh karena warga gereja adalah pelaku
perencanaan dan pelaksana program pembinaan gereja. Hal ini sebagaimana diungkap
oleh Widi Artanto, yang mendasarkan pendapatnya pada Efesus 4:11-16:
Para pemimpin jemaat bertugas untuk melengkapi orang-orang kudus (warga
gereja) untuk melaksanakan pekerjaan pelayanan bagi pembangunan tubuh
Kristus/pembangunan jemaat. Tujuan dari pembangungan jemaat yang
dilaksanakan oleh warga gereja dengan dukungan para pemimpin adalah agar
jemaat/gereja dalam segala hal terarah kepada Kristus, berarti terus menerus
bergerak, maju bertumbuh menjadi jemaat atau gereja seperti yang dikehendaki
oleh Kristus.2
1

Homrighausen dan Enklaar, Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: Gunung Mulia, 1996, hlm. 1-9.
Widi Artanto, Pengertian PWG, Pembinaan Warga gereja. di edit oleh [Link], Jakarta:
Departemen Pembinaan dan Pendidikan, 1992, hlm. 12.
2

Berdasarkan pendapat di atas maka, penulis berpendapat bahwa gereja diharapkan


dapat menjadi agen transformasi manusia secara utuh. Hal ini juga ditegaskan oleh Stevri
Indra Lumintang, Pendidikan Kristen bertujuan untuk mentransformasi manusia secara
utuh yang meliputi cara berpikir, perubahan sikap hati dan perubahan tingkah laku
(kognitif, afektif dan psikomotorik).3
Hal tersebut berkaitan dengan visi misi pendidikan Kristen dalam gereja. Untuk
mendukung pelaksanaan ini, gereja membentuk program yang dibangun di atas visi misi
pendidikan tersebut. Program yang dibuat harus selaras dengan visi misi pendidikan
Kristen dalam gereja.
Visi misi pendidikan Kristen tidak terlepas dari tujuan gereja, jika pendidikan
Kristen itu merupakan proses memimpin peserta didik kepada Tuhan, maka gereja pun
tidak berbeda dengan visi misi pendidikan Kristen. Hal ini pula yang ditegaskan oleh Ron
Jenson dan Jim Stevens,
Gereja adalah cara kreatif Allah untuk mengembangkan manusia baru. Setiap
program dan aktifitas dalam gereja bertujuan pada tujuan utama ini. Orang-orang
datang ke gereja (transfer) dari kerajaan kegelapan yang lama dengan membawa
tingkah laku, kebiasaan, proses berpikir dan watak lama. Mereka perlu
dimuridkan (yakni diubah menjadi manusia baru, dengan tingkah laku, kebiasaan
dan pemikiran yang baru). Gereja adalah agen Allah.4

Sebagaimana Alkitab baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru
memberi gambaran tentang Visi misi Pendidikan Kristen yang tidak boleh diabaikan oleh
pemimpin gereja, Pembina, Hamba Tuhan. Dalam Perjanjian Lama dijelaskan dalam

3
Stevri Indra Lumintang, Dasar-DasarTeologi Pendidikan Kristen. Satuan dan Outline Pembelajaran,
materi Perkuliahan. Batu: Institit Injil Indonesia, 2003, hlm. 7.
4
Ron Jenson & JimStevens, Dinamika Pertumbuhan Gereja. Malang: Gandum Mas, 2004, hlm. 58.

kitab Ulangan 6:1-9 menjelaskan bahwa sesungguhnya orang tua dari orang Israel tidak
hanya mengajarkan anak-anak mereka agar anak-anak mereka tahu apa yang diperbuat
Allah terhadap mereka tetapi lebih dari pada itu, yaitu agar ana-anak mereka tetap
berpegang pada ketetapan dan perintah Allah nenek moyang seumur hidup mereka. Dari
bagian ini ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan yaitu: diajar agar mereka
tahu, diajar agar berpegang pada ketetapan dan perintah Allah. Artinya bahwa orang
Israel sejak anak-anak diajarkan tentang Allah bukan hanya sekedar atau asal memiliki
pengetahuan tentang Allah tetapi juga agar mereka berpegang pada kebenaran itu dan
melakukan perintahNya. Oleh karena itu orang tua bertanggung jawab untuk
mengajarkan terus menerus kepada anak-anaknya.
Sedangkan dalam Perjanjian Baru dijelaskan dalam Kitab Matius 28:19-20.5 Dalam
bagian ini Tuhan Yesus sebelum Dia naik ke Surga Ia memberikan perintah yang
istimewah kepada murid-murid-Nya. Dan dalam tugas yang murid-murid lakukan ada
tiga aspek yang bertahap untuk mereka kerjakan. Yaitu pertama, Tuhan Yesus meminta
murid-murid-Nya untuk menjadikan semua orang menjadi murid-Nyaya. Kedua, mereka
yang bersedia menjadi murid harus diwujudkan dalam babtisan sebagai pertanda bahwa
mereka telah lahir baru dan berkomitmen menjadi murid Kristus. Dan ketiga adalah
murid-murid harus mengajarkan mereka untuk melakukan segala apa yang diperintahkan
Tuhan kepada mereka. Ke tiga aspek ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan yang
diharapkan oleh Yesus tidak hanya berhenti setelah seseorang dibabtis tetapi membina

Orang sering mengatakan bahwa Matius 28:19-20 berisikan tentang misi, sehingga tidak jarang
dipakai ayat ini sebagai dasar dari penginjilan. Namun menurut keyakinan penulis bahwa ayat ini selain
berisikan tentang misi, juga berisikan tentang perindah untuk mendididik.

seseorang atau jemaat untuk melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Artinya bahwa
dalam pendidikan harus terjadi transformasi seutuhnya.
Agar visi misi pendidikan Kristen dapat dicapai, dalam pelaksanaannya, visi misi
pendidikan Kristen harus sejalan dan berkaitan dengan program gereja yang sedang
disusun maupun dilaksanakan. Program gereja yang seimbang untuk pendidikan Kristen
ditandai dengan sejumlah faktor yang akan dijelaskan dalam bab dua.
Walaupun diatas telah dikatakan bahwa idealnya program pembinaan rohani jemaat
harus sejalan dengan visi misi pendidikan Kristen, namun sering kali terjadi dalam
pelaksanaan program dilakukan tanpa mendasari pada visi misi pendidikan Kristen, atau
dengan kata lain pembinaan itu dilakukan tanpa arah. Sehingga yang terlihat dalam
pembinaan rohani melalui khotbah, PA dan lain-lain lebih menekankan jemaat untuk
memiliki pengetahuan tentang Alkitab. Hal ini terbukti ketika khotbah pada hari minggu
ditanyakan pada waktu hari pelaksanaan PA atau pun kebaktian Doa, yang ditanya adalah
siapa yang mengingat tema khotbah minggu lalu, terambil dari kitab mana, dan apa yang
dijelaskan? Tetapi tidak menanyakan siapa yang sudah melakukan Firman Tuhan itu.6
Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa kondisi pembinaan rohani jemaat berbeda
dengan kondisi yang diharapkan sebagai mana yang telah dilakukan oleh orang Israel
kepada anak-anaknya. akhir-akhir ini sebagian gereja kurang memperhatikan pendidikan
Kristen. Gereja lebih terfokus pada program-program yang terlalu besar dan terlalu
banyak yang hanya memberikan bahwa gereja ada kemajuan melalui program-program
tersebut, sekalipun di dalamnya rapuh.

Informasi ini diperoleh dari hasil wawancara dari salah seorang jemaat yang juga aktivis dari gereja
tersebut.

Sebagai akibat dari pembinaan rohani yang tidak didasarkan pada visi misi
pendidikan Kristen hidup dalam kerapuhan & tidak dapat berkembang baik secara
kualitas maupun secara kuantitas, bahkan ada gereja yang tadinya sangat banyak jemaat
dan jemaatnya sangat aktif tetapi lama-kelamaan jemaat-jemaat tersebut bukan semakin
giat ikut ibadah apa lagi giat melayani, tetapi sebaliknya jemaat banyak mengundurkan
diri, ada juga yang tidak mau melayani lagi. Dan ketika dilakukan pembesukkan, jemaatjemaat tersebut hanya menjawab tidak ada waktu karena hari minggu saya tetap kerja,
sebagian lain mengatakan saya tidak punya uang untuk persembahan, 7 sebagian lagi
mengatakan saya akan datang tapi sekali-sekali saja karena saya harus cari uang untuk
keluarga saya, dan yang lebih parah adajuga jemaat yang meninggalkan imannya dan
berpindah ke agama lain. Dalam hal ini memperlihatkan gereja ataupun jemaat tidak
dapat bertumbuh secara kualitas maupun kuantitas.
Masalah-masalah yang terjadi di gereja secara umum tidak tertutup kemungkinan
juga menjadi masalah yang dihadapi oleh Gereja Persekutuan Kristen Jawa Timur
(GePeKris). Gereja persekutuan Kristen (GePeKris) di jawa timur terdiri dari 5 gereja
yang sudah mandiri satu gereja yang belum mandiri atau Pos PI. Untuk sejarah berdirinya
gereja ini akan dipaparkan dalam bab empat.
Pdt. Musa Surtjadi, salah seorang pengurus Sinode Gereja Persekutuan Kristen,
melalui sambutannya dalam acara nata GePeKris se-Jatim mengungkapkan bahwa Gereja
Persekutuan Kristen se-Jatim berjalan ditempat. Dalam pengertian bahwa gereja tidak ada

7
Pernyataan ini berawal ketika seorang pdt. Bekhotbah agar jemaat dapat memberi persembahan
kepada Tuhan, jangan pelit, apa engaku tidak malu menghadap Tuhan jika engkau tidak member
persembahan? sejak itu jemaat yang tersinggung tidak mau kegerja lagi.

perkembangan dan pertumbuhan. 8 Masalah yang mendasar dalam gereja Persekutuan


Kristen adalah kurangnya SDM, sehingga program gereja tidak sejalan sesuai dengan visi
misi pendidikan Kristen. Selain itu sistim kepemimpinan dan organisasinya sangat kaku
dan kabur mengakibatkan pihak-pihak yang terkait dalam gereja sulit untuk terlibat
dalam pelaksanaan program pembinaan rohani jemaat sesuai dengan visi misi pendidikan
Kristen.
Selain itu juga, seorang hamba Tuhan, yang juga merupakan salah seorang pimpinan
GePeKris se-Jatim mengungkapkan masalah yang lain yang dihadapi oleh gereja adalah
rendahnya rasa memiliki dan bertanggung jawab pada gerejanya. Yang mengejutkan
adalah ketika penulis mengajukan suatu pertanyaan kepada para jemaat pada forum
persekutuan doa. Penulis menanyakan untuk apa saudara beribadah? apa yang menjadi
tujuan anda untuk beribadah? Untuk apa anda melayani?. Dari pertanyaan-pertanyaan
itu, jemaat tidak dapat memberi jawaban selain berkata tidak tahu, karena kita orang
Kristen. Selain itu ada pula jemaat yang beribadah tidak tahu. Masalah-masalah yang
seperti ini menjadi pergumulan bagi para hamba Tuhan, untuk memikirkan apa penyebab
dari persoalan-persoalan tersebut, dan apakah gereja GePeKris ini sudah mengalami
trasnformasi? Berdasarkan latar belakang masalah ini maka penulis ingin meneliti lebih
lanjut.

8
Kata sambutan dari Pdt. Musa Surtjadi di acara natal GePeKris se-Jatim pada tanggal 9 Januari 2006,
bertempat di Gereja Persekutuan Kristen Mojokerto.

B. Isu Inti Masalah


Isu inti masalah yang telah ditekankan adalah tentang visi-misi pendidikan Kristen
yang jelas diduga memiliki pengaruh dalam pelaksanaan program pembinaan rohani
jemaat untuk menjadikan jemaat yang berkualitas, dan ada hubungan atau keterkaitan
antara visi-misi pendidikan Kristen dengan berhasilnya program pembinaan gereja. Oleh
karena itu penulis menetapkan beberapa rumusan masalah adalah:
1. Apa Itu visi-misi pendidikan Kristen?
2. Bagaimana program pembinaan rohani jemaat yang didasarkan pada visi misi
pendidikan Kristen.
3. Apa aplikasi bagi GePeKris se-Jatim tentang Korelasi antara Visi-Mmisi Pendidikan
Kristen dengan program pembinaan rohani Jemaat.
Fakta yang dapat diobservasi secara umum adalah bahwa ada korelasi antara visimisi/tujuan pendidikan Kristen dengan program pembinaan jemaat. Hal ini merupakan
fokus dari penelitian yang akan berupaya menemukan hubugan variabel-variabel dimana
program pembinaan rohani jemaat berhasil yang bertolak dari visi misi pendidikan
Kristen melahirkan orang Kristen yang berkualitas.
Yang menjadi Pokok utama yang akan diteliti adalah mengenai bagaimana suatu
gereja mengadakan program-program pembinaan rohani jemaat didasarkan pada visi-misi
pendidikan Kristen.

C. Tujuan penelitian
Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini secara umum bertujuan untuk
menggali visi-misi Pendidikan Kristen, diharapkan pula agar melalui riset ini
mengungkapkan bagaimana visi misi Pendidikan Kristen ini bisa berpengaruh dalam
berhasilnya program-program pembinaan jemaat, Apakah Gereja Persekutuan Kristen
menjalankan program pembinaan rohani jemaat betolak dari visi misi Pendidikan Kristen.

D. Asumsi Penelitian
Bertolak dari anggapan dasar tentang suatu hal yang dijadikan pijakan berpikir dan
bertindak dalam melaksanakan penelitian, maka penulis berasumsi bahwa visi-misi
pendidikan Kristen itu penting untuk diterapkan dalam pelaksanaan program pembinaan
rohani jemaat, visi misi tersebut mempengaruhi jalannya program gereja yang terus
dikerjakan sampai akhir zaman. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kaburnya visi-misi
Pendidikan Kristen mengakibatkan program pembinaan rohani jemaat terlaksana tanpa
tujuan yang pasti dan program gereja terlihat hanya sebagai rutinitas saja. Sebaliknya
demikian, bahwa lemahnya program gereja mengakibatkan visi-misi pendidikan Kristen
tidak tercapai.

E. Hipotesa Penelitian
Dalam Riset ini maka penulis memiliki hipotesa bahwa jika program gereja sesuai
dengan visi-misi pendidikan Kristen maka program tersebut dapat tearah dan terfokus
serta jemaat akan mengalami transformasi sesuai dengan visi misi Pendidikan Kristen.

F. Manfaat Penelitian
Studi ini merupakan pokok yang cukup penting, karena penelitian mengenai pokok
ini dapat menyediakan literatur pendidikan Kristen yang dapat dijadikan sebagai salah
satu acuan penelitian terhadap gereja dalam konteks hubungan visi misi pendidikan
Kristen dengan program gereja.
Penulis mengakui bahwa tulisan ini bukan sesuatu yang baru dan satu-satunya
pegangan dalam melihat hubungan-hubungan visi misi pendidikan Kristen dengan
program gereja, namun setidaknya tulisan ini menjadi salah satu pertimbangan bagi
Gereja Persekutuan Kristen di Jawa Timur (GePeKris) dalam memformulasikan visi-misi
Pendidikan Kristen dan membangun program berdasarkan visi-misi Pendidikan Kristen.
Selain itu, tulisan ini kiranya menjadi referensi bagi para pemimpin, pengajar, Pembina,
pengurus di Gereja Pesekutuan Kristen di Jawa Timur dalam melaksanakan program
gereja dan membangkitkan semangat jemaat untuk semakin mengalami proses
pendewasaan.
Sekalipun studi ini dikaji dan disajikan untuk konteks para pemimpin, pengajar,
pembina, pengurus jemaat di GePeKris Jatim, namun penulis yakin bahwa semua gerejagereja yang lain dapat diperkaya melalui kajian ini. Akhirnya penelitian ini sangat berarti
bagi penulis, dalam upaya memenuhi tuntutan akademik bagi penyelesaian program studi
Magister Pendidikan Kristen.

G. Batasan Penelitian
Berdasarkan kebutuhan riset yang ingin menemukan korelasi visi misi pendidikan
dengan program pembinaan rohani jemaat, maka penelitian ini diarahkan untuk
menemukan visi misi Pendidikan Kristen dan program pembinaan rohani jemaat saja.
Searah dengan itu maka untuk mempertahankan benang merah penelitian ini dan
memfokuskan arah tulisan ini

supaya dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan

sebelumnya, maka penulis membatasi wilayah atau ruang gerak penelitian ini hanya pada
hal-hal sebagai berikut:
Karena Pendidikan Kristen begitu luas maka penulis tidak membahas masalah
Pendidikan Kristen dalam keluarga, Pendidikan Kristen di lembaga-lembaga sekolah atau
Pendidikan Kristen dalam setiap organisasi Kristen, tetapi penulis membatasi hanya
membahas Pendidikan Kristen dalam gereja dimana seluruh penelitian diarahkan dalam
menemukan korelasi visi misi Pendidikan Kristen dengan program gereja.
Pada umumnya seluruh gereja-gereja memiliki isi pengajaran yang sama, namun
tidak semua gereja memiliki latar belakang konteks yang sama. Sekalipun semua gereja
memiliki pemahaman Alkitab yang sama, namun tidak semua gereja memiliki penerapan
yang sama. Karena itu penelitian ini lebih diformulasikan untuk konteks gereja-gereja
yang tergabung dalam gereja Persekutuan Kristen di Jawa Timur.
Penulis juga membatasi penelitian ini hanya kepada jemaat yang resmi atau terdaftar
sebagai jemaat di Gereja Persekutuan Kristen se-Jatim. Sekalipun dalam jemaat itu ada
yang sering beribadah di salah satu Gereja Persekutuan Kristen seperti di GePeKris

Tretes banyak jemaat yang beribadah namun jemaat-jemaat tersebut bukan jemaat tetap
GePeKris Tretes, melainkan jemaat simpatisan.

H. Definisi Istilah
Dalam pembahasan ini ada beberapa istilah yang menurut penulis penting untuk
dijelaskan yaitu: apa arti pendidikan Kristen, visi misi dan program pembinaan.
Pendidikan (Edukation) dari kata educate yang artinya to lead out, to bring up, train.
Dari pengertian ini dijelaskan bahwa the education is the process of training and
developing the knowledge, skil, mind and character.

John Dewey mengartikan

Pendidikan Kristen dalam bahasa inggris Education is a Constant reorganizing or


reconstructing of experience. It has all the time an immediate end, and so far as activity
is educative it reaches that end-the direct transformation of the quality of experience.10
Dari dua pendapat ini maka penulis merumuskan suatu pengertian pendidikan adalah
suatu proses untuk memimpin seseorang supaya mengalami transformasi sehingga
menghasilkan manusia yang bertumbuh atau dewasa rohani dan menjadi agen-agen
perubahan yang mempengaruhi dalam mengubah pribadi-pribadi dalam hubungan dengan
Allah, dengan gereja dan sesama manusia.

9
____________ Websters New Dictionary of the American Language. College Edition. Cleveland
and New York: The WorldPublishing Company, 19570, hlm. 461.
Pengertian pendidikan di atas diterjemahkan sebagai peroses pelatihan dan pengembangan pengetahuan,
keterampilan, pengembangan cara berpikir dan karakter.
10
JohnDewey, Democracy an Education for Christian Living. Englewood Cliffs: Prentice-hall, Inc,
1956, hlm 41.
Dari pengertian yang dijelaskan oleh John Dewey dalam bukunya diterjemahkan oleh penulis bahwa
pendidikan adalah merekontruksi atau memulihkan kembali pengalaman. Pemulihan ini membutuhkan
waktu, sampai akhirnya kegiatan pendidikan ini mencapai tujuan akhir yaitu transformasi mutu atau
kualitas pengalaman hidup.

Sedangkan visi misi Menurut Bambang Garang adalah suatu pandangan jauh
kedepan berisi tentang kesimpulan, prediksi, tujuan, dan komitmen. 11 Namun penulis
merumuskan pengertian visi-misi ini berdasarkan Amanat Agung Tuhan Yesus, pertama:
supaya murid-Nya dapat mengajar semua orang menjadi Murid-Nya, kedua: lalu mereka
yang telah menjadi murid dapat memberi diri dibabtis dan langkah ketiga adalah
mengajarkan orang-orang yang telah dibabtis untuk melakukan apa yang didiperintahkan
Tuhan.12 Maka dari bagian ini penulis melihat bahwa visimisi pendidikan Kristen adalah
transformasi, namun untuk mentransformasi seseorang membutuhkan proses.
Pengertian program menurut kamus umum bahasa indonesia adalah: rancangan
mengenai asas-asas serta dengan usaha-usaha. 13 Pengertian yang senada dengan itu
adalah pendapat [Link] bahwa program adalah Rancangan/rencana.14 Dari pengertian
di atas maka penulis merumuskan bahwa program adalah serangkaian rancangan kegiatan
gereja untuk mendukung tercapainya visi pendidikan Kristen dalam gereja.

I. Metodologi Penelitian
Berkenaan dengan pokok riset yang diteliti mengenai, Studi Korelasi antara Visi
Misi Pendidikan Kristen dengan Program Pembinaan Rohani Jemaat dan relevansinya
bagi jemaat di Gereja Persekutuan Kristen Jawa Timur. maka metode yang digunakan
oleh penulis dalam penelitian ini adalah metodologi Kuantitatif dengan pendekatan

11

Bambang Garang, Evaluasi Program-materi Kuliah. Batu: Institut Injil Indonesia, 2004.
Matius 28: 19-20
13
W.J.S. Poewardaminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Cetakan Ketiga. Jakarta: Dinas Penerbit
Balai Pustaka, 1960.
14
T. Heru Kasida Brataatmaja, Kamus bahasa Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.
12

operasional objektif empiris dan menggunakan penalaran deduktif yaitu penalaran dari
umum ke khusus.

J. Sistimatika Penulisan
Agar pembaca mempunyai gambaran mengenai penelitian ini pada bagian akhir bab
ini penulis akan menyajikan sistimatika penulisan. Adapun sistimatika penulisan ini
sebagai berikut:
Dalam bab pertama, yang merupakan bagian pendahuluan dari tesis ini, penulis akan
memaparkan beberapa hal mendasar dari penelitian ini, meliputi latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, asumsi penelitian, hipotesa penelitian, manfaat
penelitian, batasan penelitian, definisi istilah, metodologi penelitian dan sistimatika
penulisan.
Pada bab dua, penulis akan membahas landasan teori visi misi pendidikan Kristen
dan program pembinaan jemaat yang diuraikan dalam beberapa bagian yaitu: pertama,
Tinjauan Literatur Tentang Visi Misi Pendidikan Kristen terdiri dari: Visi-Misi
Pendidikan Kristen Dintinjau dari Sudut Pandang Alkitab, Visi- Misi Pendidikan Kristen
Ditinjau dari Sudut Pandang Teologis, Sumber Pendidikan Kristen dalam Gereja, Kristus
Sebagai Sentral dari Pendidikan Kristen dalam Gereja, Gereja Sebagai Agen Allah dalam
Pelaksanaan Pendidikan Kristen dalam Gereja, Tujuan Pendidikan Kristen dalam Gereja.
Kedua adalah: Tinjauan literatur Tentang Program Pembinaan Jemaat Berdasarkan VisiMisi Pendidikan Kristen terdiri dari: Pentingnya penyusunan Program Pembinaan Jemaat

berdasarkan Visi Misi Pendidikan Kristen, Tujuan Penyusunan Program Gereja, Cara
Penyusunan Program Gereja Berdasarkan Visi-Misi pendidikan Kristen.
Dalam bab tiga diuraian prosedur metodologi pernelitian yang tediri dari Rancangan
penelitian, populasi dan sampel, instrumen penelitian, teknik/prosedur pengumpulan data,
Analis data.
Dalam bab IV, penulis akan menyajikan hasil penelitian yang telah penulis dapatkan
dengan lankah-langlah sebagai berikut: analisis temuan penelitian, interpretasi temuan
penelitian, aplikasi temuan penelitian dan rangkuman.
Akhirnya bab V merupakan penutup dari penulisan ini. Penulis akan menyajikan
tentang kesimpulan, saran dan rekomendasi.

BAB II
LANDASAN TEORI VISI-MISI PENDIDIKAN KRISTEN
DAN PROGRAM PEMBINAAN ROHANI JEMAAT

Setelah penulis memaparkan latar belakang dan merumuskan masalah dalam bab
satu atau bab pendahuluan, maka dalam bagian ini penulis membahas secara khusus
mengenai beberapa hal mendasar dengan landasan teori dari penelitian yang penulis
lakukan. Hal tersebut penulis golongkan menjadi dua kategori yaitu tinjauan literatur
tentang visi-misi pendidikan Kristen dan tinjauan literatur tentang program pembinaan
jemaat berdasarkan visi-misi pendidikan Kristen.

A. Tinjauan Literatur Tentang Visi-Misi Pendidikan Kristen

Sebelum penulis memaparkan korelasi antara visi-misi pendidikan Kristen dengan


program pembinaan rohani, maka penulis terlebih dahulu akan menguraikan pengertian
dari visi-misi pendididikan Kristen dalam gereja. Oleh karena itu pada bagian ini penulis
akan membahas tentang pengertian visi-misi pendidikan Kristen, visi-misi pendidikan
Kristen dintinjau dari sudut pandang Alkitab, visi-misi pendidikan Kristen ditinjau dari
sudut pandang Teologis, sumber pendidikan Kristen dalam gereja, Kristus sebagai sentral
dari pendidikan Kristen dalam gereja, kedudukan gereja dalam pelaksanaan pendidikan

Kristen dalam gereja sebagai agen Allah, rumusan tujuan pendidikan Kristen dalam
gereja

a. Pengertian Visi-Misi Pendidikan Kristen

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam pengertian definisi sebelumnya bahwa


pendidikan yang dalam bahasa Inggrisnya Education. Istilah Education berasal dari
bahasa latin Educate yang artinya to lead out, to bring up, train. Dari pengertian ini
dijelaskan bahwa the education is the process of training and developing the knowledge,
skil, mind and character.15 Pengertian ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai
proses pelatihan dan pengembangan pengetahuan, keterampilan, pengembangan cara
berpikir dan karakter. Pengertian ini mengingatkan bahwa pendidikan adalah sebuah
proses, yaitu peroses yang dikenal dalam dua hal, yaitu pertama: proses memimpin
peserta didik dari tempat di mana mereka ada kepada suatu tempat di mana mereka dapat
melihat dunia termasuk dimensi spiritual dan natural. Dua: Pendidikan Kristen adalah
proses memimpin kepada Tuhan, agar mereka mengenal Tuhan, kemudian dilanjutkan
dengan sikap penyerahan dan percaya kepada Tuhan dan pada akhirnya mereka
memuliakan Tuhan. Memang ini pekerjaan Tuhan sendiri.16
Namun sebagai manusia ciptaan Tuhan, Ia telah memberikan wewenang kepada
manusia untuk melanjutkan pekerjaan itu kepada seluruh manusia, sebagimana yang
____________ Websters New Dictionary of the American Language, College Edition. Cleveland
and New York: The WorldPublishing Company, 19570, hlm. 461.
Pengertian pendidikan di atas diterjemahkan sebagai proses pelatihan dan pengembangan pengetahuan,
keterampilan, pengembangan cara berpikir dan karakter.
16
Bahwa Tuhanlah yang mengerjakan dalam hati seseorang untuk mengenal Dia, percaya kepada Dia
dan memuliakan Dia.
15

tertulis dalam Alkitab Matius 28:19-20 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa
muridku dan babtislah mereka dalam nama Bapak, Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah
mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah,
Aku menyertai kamu senantiasa sampai pada akhir zaman. Dengan demikian untuk
menjalankan tugas tersebut, maka para pendidik maupun para pembina rohani jemaat
harus memiliki visi-misi pendidikan Kristen yang jelas untuk memimpin orang kepada
Tuhan.
Senada dengan itu, John Dewey mengartikan Pendidikan Kristen dalam bahasa
inggris Education is a Constant reorganizing or reconstructing of experience. It has all
the time an immediate end, and so far as activity is educative it reaches that end-the direct
transformation of the quality of experience.17 Pengertian ini diterjemahkan oleh penulis
bahwa pendidikan adalah merekontruksi atau memulihkan kembali pengalaman.
Pemulihan ini membutuhkan waktu, sampai akhirnya kegiatan pendidikan ini mencapai
tujuan akhir yaitu transformasi mutu atau kualitas pengalaman hidup.

b. Visi-Misi Pendidikan Kristen Ditinjau dari Sudut Pandang Alkitab

Pepatah mengatakan bangunan tanpa dasar bukanlah bangunan tetapi reruntuhan.


Pepatah ini penulis gunakan untuk menggambarkan rupa pendidikan Kristen jika tidak
ada dasar. Pendidikan Kristen yang dibangun tanpa dasar yang kokoh dan pemahaman

17

JohnDewey, Ibid., Hlm. 41.


Dari pengertian yang dijelaskan oleh John Dewey dalam bukunya diterjemahkan oleh penulis bahwa
pendidikan adalah merekontruksi atau memulihkan kembali pengalaman. Pemulihan ini membutuhkan
waktu, sampai akhirnya kegiatan pendidikan ini mencapai tujuan akhir yaitu transformasi mutu atau
kualitas pengalaman hidup.

yang benar bukanlah pendidikan. Pendidikan Kristen hanya dapat dikatakan pendidikan,
apabila dibangun di atas dasar yang kuat yaitu pemahaman mengenai pendidikan dalam
perspektif Teologi Kristen. Pernyataan yang sama dengan ini diungkapkan pula oleh
Wesner dalam bukunya.18 Karena itu teologi Kristen menjadi dasar pendidikan Kristen
dan teologi itu sendiri berfungsi untuk mengontrol pendidikan Kristen. Nilai pendidikan
Kristen terletak pada nilai teologisnya, oleh karena itu pendidikan Kristen dalam gereja
haruslah dipahami dalam pengertian bahwa Allah yang mengajar atau mendidik peserta
didik dalam jemaat.
Alkitab berisi sejarah keselamatan dan bukan sejarah pendidikan Kristen. Walaupun
Alkitab

secara

gamblang

membicarakan

masalah

pendidikan

Kristen

namun

sesungguhnya jika ditelusuri dengan teliti, isi Alkitab maka ada kesan bahwa memang
dalam Alkitab mengajarkan supaya setiap orang dapat dididik dan mendidik. Dalam
Perjanjian Lama berulang kali menekankan kata mengajar atau ajarlah. Mengajar
menurut Michael dimaksudkan untuk membawa umat Allah kepada kedewasaan rohani.19
Dalam ulangan 6 dijelaskan agar setiap orang tua mengajar anak-anaknya. Dalam bagian
ini umat Allah dipanggil dan dididik agar mereka belajar untuk mendengar, mengerti dan
mereka melakukan apa yang diajarkan kepada mereka.
Melihat tiga penekanan pengajaran dalam Perjanjian Lama yaitu mendengar,
mengerti dan mereka melakukan apa yang diajarkan kepada mereka adalah menunjukkan
bahwa pendidikan dan pengajaran harus menyentuh tiga aspek penting dalam kehidupan
manusia yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Berarti pengajaran yang diberikan pada
18

Wesner Fallow, Church Education for Tomorrow. Wesmister: Philadelphia, 1960, hlm. 37.
Michael J. Anthony, Evangelical Dictionary of Christian Education. Grand Rapids: Michigan Baker
Academikc, 2001, hlm. 693.
19

masa Perjanjian Lama adalah pengajaran yang harus mengubah kehidupan manusia mulai
dari kognitif, afektif dan psikomotor. Perubahan ini disebut dengan istilah transformasi.
Demikian pula dalam Perjajian Baru, berulang kali Yesus menekankan masalah
mengajar. Di dalam khotbah Yesus di bukit juga menekankan tentang pentingnya untuk
hidup di dalam ketaatan kepada perintah Allah dan mengajar orang untuk melakukanya
(Mat. 5:19).
Secara lebih jelas, di dalam pesan-pesan terakhir dari Tuhan Yesus kepada muridmurid-Nya sebelum Ia naik ke Surga dalam Matius 28:19-20 yang berbunyi demikian
karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan babtislah mereka dalam
nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang
telah kuperintahkan kepadamu. Dari ayat ini ditemukan proses membuat orang menjadi
murid Kristus mengandung dua unsur yaitu penginjilan dan pengajaran atau pendidikan.
Seseorang bisa saja melakukan tugas penginjilan dan membawa orang tersebut masuk
dalam gereja hingga mengambil keputusan untuk dibabtis namun tugas itu tidak berhenti
sampai di situ karena masih ada tantangan yang lebih besar yaitu mendidik orang tersebut
untuk bertumbuh menjadi dewasa dan menjadi seorang Kristen yang berkualitas dalam
iman dan penyerahan diri dalam melayani Tuhan. Dalam Efesus 4:15 menekankan suatu
pertumbuhan dalam segala aspek hidup manusia.
Pendidikan Kristen yang dituntut oleh Tuhan Yesus adalah pendidikan yang harus
mencapai tujuan akhir yaitu ajarlah mereka melakukan 20 segala sesuatu yang telah
diperintahkan oleh Tuhan. Inilah yang menjadi tantangan dalam program pembinaan
20
Kata melakukan di sini menunjukkan tindakan atau aspek Psikomotor. Dalam hal ini bagian Alkitab
ini menekankan bahwa pengajaran tidak hanya memberi perhatian kepada kognitif dan afektif saja tetapi
sampai kepada aspek psikomotor.

jemaat yaitu mengajak setiap jemaat untuk melakukan segala sesuatu yang diperintahkan
oleh Tuhan. Oleh karena itu Menurut L Humes, pemimpin, pengurus, pembina atau
Hamba Tuhan dalam gereja tidak boleh melupakan hubungan Pendidikan Kristen dengan
tugas gereja secara keseluruhan, orang Kristen perlu diajar dan dididik agar mereka
dalam segala hal menjadi dewasa dalam Kristus.21
Alkitab juga tetap memberi perhatian pada pendidikan yang berpusatkan pada
Allah. 22 Pendidikan adalah sebuah proses. Dikatakan sebuah proses karena manusia
adalah manusia yang terbatas untuk mengetahui, mengenal segala sesuatu. Seseorang
tidak langsung mengerti dan mengenal dan meyakini Allah, siapa pemeliharanya, kalau
tidak diajar. Seseorang tidak dapat memiliki sikap hati yang menyembah jika ia tidak
mengenal siapa yang ia sembah, dalam pengenalan ini membutuhkan proses. Juga
seseorang tidak langsung dewasa jika ia tidak melewati proses pendewasaan. 23 Eavey
menjelaskan dalam bukunya history shows Christian education as a proses in which
continuity and change are inseparably united.24
Pertanyaan yang menarik adalah: mengapa dalam mendidik orang kepada Tuhan
harus melewati proses?. Hal ini dikarenakan manusia ciptaan Allah yang segambar

21

L. Humes, Arah Pendidikan Kristen-Falsafah Pendidikan Kristen dan Dasar Alkitabiahnya. BatuMalang: Yayasan Persekutuan pekabaran Injil Indonesia, 1982, hlm. 26
22
Pendidikan Kristen harus berpusat kepada Allah. Pendidikn yang tidak berpusat pada Allah bukanlah
pendidikan Kristen, tetapi pendidikan atau pengetahuan umum. Karena itu seorang pendidik haruslah
memperhatikan hal ini.
23
Hal ini digambarkan ibarat tanaman yang ditanam. Sebuah tanaman tidak langsung berbuah jika
tidak melewati proses terlebih dahulu yaitu mulai dari penanaman biji tanaman, dia berakar dan mulai ada
daunnya, dalam proses pertumbuhannya tanaman itu harus disiram dan dipupuk sampai akhirnya dia
mengeluarkan buah yang banyak bila tanaman itu subur.
24

C.B Eavey, Historyof Christian Education. Chicago: Moody Press1965, hlm. 20. Menurutnya bahwa
dalam pendidikan Kristen di kenal dua bagian yang sangat penting yaitu pendidikan Kristen sebagai suatu
proses yang terus menerus dan pendidikan Kristen membawa perubahan. Bagi penulis buku ini bahwa
kedua bagian yang penting ini merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan satu sama lain.

dengan Allah namun gambar itu telah rusak. Kisah ini dijelaskan sebagai berikut: bahwa
Allah adalah satu pribadi yang kekal dan satu pribadi yang ada di atas dari semua sejarah
yang ada dalam dunia ini. Semua dapat dipahami rencana-Nya hanya melalui diri-Nya.
Pada waktu manusia pertama diciptakan, Tuhan menciptakan segambar dengan Allah.
Kesamaan antara Allah dan manusia bukanlah kesamaan jasmani. Hodge menjelaskan
tentang gambar dan rupa Allah sebagai berikut:
Allah adalah Roh, jiwa manusia adalah roh juga. Sifat hakiki dari roh ialah akal
budi, hati nurani dan kehendak. Roh adalah unsur yang mampu bernalar, bersifat
moral dan oleh karena itu juga berkehendak bebas. Ketika menciptakan manusia
menurut gambarnya Allah menganugrahkan kepada manusia sifat-sifat yang
dimilikinya sendiri sebagai roh. Dengan demikian manusia berbeda dari semua
makhluk lain yang mendiami bumi ini serta berkedudukan jauh lebih tinggi dari
pada mereka. Kesamaan sifat antara Allah dan manusia merupakan keadaan yang
diperlukan untuk mengenal Allah dan merupakan dasar dari kesalehan.25

Penyataan Hodge ini dikuatkan oleh Alkitab di dalam Kolose 3:10, bahwa dalam
pengudusan manusia terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang
benar tentang menurut gambar kahliknya. Kata segambar dipakai dalam kejadian 1:2627, Kolose 3:10, Yakobus 3:9). Kata segambar dan serupa dalam ayat ini menunjukkan
bahwa manusia diciptakan dalam keserupaan dengan Allah. Menurut Paulus bahwa
manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Allah mencakup kebenaran asali, yaitu
pengetahuan yang benar, kebenaran dan kesucian (Efesus 2:24). Gambar dan rupa Allah
juga mencakup elemen-elemen yang merupakan natur manusia yaitu intelektual, perasaan
natural, kebebasan moral. Selain itu secara iman Kristen diyakini bahwa Allah adalah
kekal dan kekekalan Allah sebagai kualitas esensial, sedangkan kekekalan manusia
adalah pemberian Allah.
25

Charles, Hodge, Systematic Theology II. Grand Rapids: 1952, hlm. 96-97

Tetapi ciptaan Tuhan dalam diri manusia telah rusak dari kejatuhan manusia pertama
dalam dosa. Dari kejatuhan itu Tuhan memberi hukuman bagi manusia, yang
sesungguhnya hukuman itu bertujuan untuk mendidik mereka agar menjadi manusia yang
sesungguhnya. Hukuman itu bertujuan untuk mendidik mereka agar manusia taat kepada
Allah dan mempermuliakan Allah dalam hidupnya. Dalam rencanaNya Allah membawa
semua ciptaan-Nya ke dalam tujuan dan rencana-Nya. Allah akan membangun kembali
kehidupan manusia yag telah jatuh dalam dosa. Dalam mendidik manusia Tuhan
memberi perintah dan hukum-hukum-Nya sebagai isi dari pengajaran Tuhan kepada
umat-Nya. Dari perintah dan pengajaran ini terjadi konflik dalam diri manusia, yaitu
antara mau melakukan perintah Tuhan atau tidak menjalankan perintah Tuhan.26
Karena kasih Allah, maka kejatuhan manusia dalam dosa, tidak menurunkan
keinginan Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya. Allah tetap menjadi pusat hidup bagi
manusia. 27 Dalam hal ini berarti Allah menjadi subjek dalam hidup manusia. Allah
menjadikan manusia berhasil secara efektif. Karena itu manusia perlu diajarkan
bagaimana hidup yang berkualitas dan efektif dan diajarkan pula konsekuensi bila
mereka tetap berbuat jahat dan tidak percaya kepadaNya.
Untuk membawa manusia ke dalam hubungan dengan Allah dibutuhkan pemimpin,
pengajar ataupun pembina, yang pada masa Perjanjian Lama dikenal dengan nabi-nabi
dan pada zaman Perjanjian Baru dikenal dengan para rasul. Namun dalam proses
26

Umat-Nya menganggap aturan dan hukum-hukum Tuhan diberikan kepada mereka, hanya
membatasi ruang gerak mereka. Pada hal pengajaran yang diberikan kepada mereka melalui perintah dan
hukum-hukum-Nya semata-mata untuk mengajarkan umat-Nya menjadi terdidik dan mengalami perubahan
dalam hidupnya serta mempermuliakan Allah dalam hidupNya.
27
Dalam kedaulatan dan kehendak Allah, Ia tetap menunjukkan kasih setia-Nya kepada manusia dan
tetap mau mengajar manusia sekalipun umat-Nya sering memberontak terhadap pengajaran yang Ia
berikan.

pendidikan atau pengajaran itupun mereka tetap berdosa dan bersifat kekanak-kanakkan.
Hingga pada akhirnya dalam rencana Allah ia menggenapi janji-Nya untuk
menyelamatkan manusia melalui kematian Yesus Kristus. Selama Yesus hidup dalam
dunia dan dalam tubuh manusia Ia selalu berkeliling untuk mengajar, mendidik setiap
orang supaya diselamatkan dan bagi mereka yang sudah selamat menjadi murid-Nya.
Orang-orang yang telah selamat dan menjadi murid-Nya tidak dibiarkan tetapi Ia terus
mengajar dan mendidik mereka supaya menjadi dewasa dalam Kristus.
Dari penjelasan di atas, maka nampak bahwa visi-misi pendidikan secara Alkitab
yaitu mentransformasi seluruh aspek kehidupan manusia yang telah jatuh dalam dosa.
Transformasi ini bukan hanya sekedar mengangkat manusia dari tempat yang gelap
ketempat yang terang, tetapi hidup manusia diproses melalui berbagai bentuk pengajaran
dan pembinaan agar mereka tidak menjadi pribadi yang pasif tetapi aktif. Artinya mereka
harus bertumbuh dalam pengenalan dan pengetahuan kepada Allah Bapa, Yesus Kristus
sang penyelamat dan Roh Kudus sebagai penghibur, dan mengambil keputusan untuk
hidup didalam-Nya dan keputusan untuk memberi diri kepada Tuhan serta melakukan
apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup mereka. Dalam hal ini dipahami bahwa
transformasi itu mencakup tiga aspek kehidupan manusia yaitu kognitif, afektif dan
psikomotor.

c. Visi-Misi Pendidikan Kristen Ditinjau dari Sudut Pandang Teologis

Berbagai definisi mengenai istilah Teologi dirumuskan oleh para teolog. Salah
satunya Plato. Dengan mendasarkan diri pada pemikiran yang bersifat filosofis, Plato

mendefinisikan teologi sebagai ilmu tentang Allah. Dalam perspektif iman Kristen,
pengertian Plato tersebut merupakan pengertian yang tidak benar, sebab dengan
pengertian itu, keberadaan Allah tak lebih dari sekedar obyek dari penelitian. Hal ini
mengandung konsekwensi penolakan terhadap kedaulatan Allah sendiri.
Sementara itu, Henk Ten Napel mendefinisikan Teologi sebagai suatu disiplin ilmu
yang mempelajari tentang iman dan hubungan antara Allah dengan ciptaan-Nya. 28
Thiessen mendefinisikan Teologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
Tuhan dan karya-Nya, berdasarkan pada wahyu yang diberikanNya sendiri pada
manusia.29
Pada bagian lain, Ericson mendefinisikan Teologi sebagai suatu disiplin ilmu yang
mempelajari mengenai keberadaan Allah dalam hubungannya dengan ciptaan-Nya, karya
dan kehendak-Nya yang telah dinyatakan kepada manusia melalui penyataan khusus yang
diberikan kepada manusia. Dengan kata lain Teologi adalah suatu disiplin ilmu yang
mempelajari penyataan Allah mengenai diri-Nya dan segala sesuatu yang berkaitan
dengan diri-Nya.30 Selaras dengan pemahaman dasar yang diungkapkan Ericson, Stevri
mendefinisikan teologi sebagai theology is tought by God, Teaches of God and Leads to
God artinya Teologi dipahami bahwa Teologi diajarkan oleh Allah dan memimpin
kepada Allah.31
Dari beberapa pemahaman di atas, ditarik suatu definisi mengenai Teologi di mana
Teologi adalah suatu pemahaman terhadap pribadi Allah, karya Allah dan segala sesuatu

28

Henk Ten Napel, Kamus Teologi Inggris-Indonesia. Jakarta: BPK Gunug Mulia, 1996, hlm. 38.
Henry [Link], Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas, 1979, hlm. 7.
30
Milard J. Ericson, Christian Theology. Grand Rapids-Michigan: Baker Book, 1982, hlm. 21.
31
Stevri Indra Lumintang, Ibid, hlm. 3.
29

berkaitan dengan Allah, sebagaimana Ia telah menyatakan hal tersebut kepada umat
pilihan-Nya agar umat Pilihan-Nya dapat memiliki pengenalan yag benar dan pengabdian
yang benar dihadapan-Nya.
Penjelasan di atas memberi pemahaman bahwa dalam pendidikan Kristen secara
Teologis, Allah menjadi pelaku utama Teologi dalam hubugannya dengan umat-Nya.
Allah yang membuat manusia mempelajari diri-Nya melalui Alkitab dan Roh Kudus
yang menyingkapkan kebenaran-Nya sehingga menimbulkan iman di dalam diri umatNya kepada Allah dan kebenaran-Nya final, yaitu Tuhan Yesus, dan yang memimpin
umat-Nya kepada diri-Nya sendiri untuk semakin hari semakin bertumbuh. Rumusan
inilah yang menjadi kerangka dasar pendidikan Kristen, pendidikan yang tidak
berorientasi pada tujuan saja, melainkan pada proses pendidikan yaitu pendidikan yang
menyentuh aspek kognitif (mempelajari Alkitab sehingga memiliki pengetahuan dan
pengenalan tentang Allah), 32 afektif (memiliki sikap hati yang benar untuk meyakini
Allah)33 dan psikomotori (memuliakan Allah dalam perbuatan dan tindakan).34

32

Seseorang jemaat akan dididik dalam segala pengetahuan tentang Alkitab, segala macam doktrin
Kristen, juga etika Kristen dan pengajaran yang lain, sehingga melalui pengajaran ini seseorang dapat
memperoleh pengetahuan tentang Allah.
33
Dalam proses pendidikan Kristen tidak saja manusia dituntut mahir dalam pengetahuan Alkitab,
bahkan sanggup menghafalkan hampir semua ayat-ayat Alkitab, tahu tentang sejarah keselamatan.
Namun setiap orang percaya mampu menghayati apa yang sudah dia ketahui, dia kenal dalam Alkitab,
memiliki sikap hati yang benar dan sikap penyembahan kepada Allah, serta memiliki keyakinan yang teguh
terhadap Allah.
34
Aspek psikomotor lebih terarah pada perbuatan, tindakan langsung, bagaimana ia dapat memuliakan
Allah dalam hidupnya baik dalam perbuatan, kata-kata, kasihnya pelayanannya. Bisa dikatakan bahwa
melalui proses psikomotor ini akan nampak hasil proses pengajaran yag menyentuh aspek kognitif dan
afektif.

Dari rumusan-rumusan di atas dapat pula dipahami bahwa semua proses pendidikan
secara teologis terjadi karena kedaulatan Allah. Kedaulatan Allah,35 kemuliaan Allah,36
karya Allah dalam pendidikan Kristen mendapat penekanan khusus.37
Dari pembahasan di atas maka jelas bahwa inti yang diajarkan dalam pendidikan
Kristen lewat pembinaan rohani jemaat di gereja adalah isi teologi. Isi teologi yang
dimaksudkan adalah pemahaman terhadap pribadi Allah, karya Allah dan segala hal yang
berkaitan dengan Allah. Yang membuat manusia mempelajari diri-Nya adalah Allah
sendiri. Instrumen pengajaran untuk memperkenalkan dirinya selain wahyu umum adalah
Alkitab dan Roh kudus sendiri menyingkapkan kebenaran-Nya sehingga menimbulkan
iman di dalam diri umat-Nya kepada Allah dan kebenaran-Nya final, yaitu Tuhan Yesus,
serta memimpin umat-Nya kepada diri-Nya sendiri untuk semakin hari semakin
bertumbuh.
Bertolak dari ini, secara teologi dipahami bahwa visi-misi pendidikan Kristen dalam
pembinaan rohani jemaat selaras dengan visi-misi pendidikan Kristen berdasarkan
Alkitab yaitu mentransformasi manusia dalam pengenalan kebenaran-Nya, memimpin
orang percaya kepada dirinya sendiri agar semakin bertumbuh sehingga menjadi orang
percaya yang berkualitas dalam imannya dan pertumbuhan tersebut dinyatakan dalam
kehidupan sehari-hari.

35

Dalam kedaulatan Allah dipahami bahwa Allah sendiri yang berkehendak untuk memperkenalkan
diri-Nya kepada umat-Nya dapat bersekutu dengan Allah seumur hidup.
36
Segala bentuk kegiatan/program pendidikan/pembinaan rohani jemaat hendak bertujuan untuk
memuliakan Tuhan. Jemaat diajar, dididik supaya mereka mengalami perubahan dan pertumbuhan atau
pendewasaan rohani jemaat. Semua ini terarah untuk kemuliaan Tuhan.
37
Dalam pelaksanaan program pendidikan Kristen hendak pengajar ataupun yang diajar memahami
bahwa Allah turut berkarya dalam proses pelaksanaan pendidikan Kristen.

d. Sumber Pendidikan Kristen dalam Gereja

Dalam kerangka iman Kristen terdapat dua sumber pendidikan dalam gereja yaitu
penyataan Allah dan Alkitab. Tidak ada pengetahuan apapun tanpa penyataan wahyu
Allah, dengan kata lain tidak ada pendidikan tanpa adanya penyataan Allah.38 Lebih jauh
lagi tidak ada lagi pendidikan Kristen tanpa adanya penyataan kuasa Allah, pengetahuan
atau pengenalan manusia tentang Allah yang menyelamatkan hanya diperoleh oleh
manusia apabila manusia mendapat penyataan Allah.39
Harun mengemukakan bahwa penyataan Allah adalah tindakan Allah untuk
menyatakan diri kepada manusia sehingga melalui tindakan tersebut manusia
dimungkinkan beroleh pengenalan terhadap Allah dan dapat bersekutu dengan-Nya. 40
Karena itu dalam pendidikan Kristen dipahani bahwa bukan kita yang mengenal Allah
melainkan Allah yang memperkenalkan diri-Nya kepada kita. Pengenalan ini tidak hanya
berupa pengenalan atau pengetahuan melainkan pengenalan berupa persekutuan denganNya. Oleh karena itu setiap jemaat yang mengaku bahwa dirinya mengenal Tuhan maka
dia harus membuktikannya dalam persekutuannya dengan Dia.
Ada dua penyataan yang dikenal dalam studi teologi yaitu penyataan umum (General
Revelation) dan penyataan khusus (special Revelation). Penyataan umum adalah
penyataan Allah kepada semua orang, dan penyataan ini dinyatakan melalui karya

38

Orang tidak mungkin mengenal alam semesta sebagai objek pengetahuan, tanpa Allah menciptakan
semuanya terlebih dahulu dan tanpa Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengenal
ciptaannya.
39
Artinya adalah bahwa manusia dapat memperoleh pengetahuan atau pengenalan tentang Allah
apabila Allah sendiri yang menyatakan diri kepada manusia dan kehendak-Nya artinya penyataan dalam
pengertian umum adalah bahwa Allah membuka kadar atau selubung yang menghalangi manusia untuk
mengenal Allah.
40
Harun Hadi Wijono, Iman Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997, hlm. 29.

ciptaan, pengalaman moral, melalui sejarah. Sedangkan penyataan khusus adalah cara
Allah menyatakan diri dengan lengkap dan jelas di dalam diri Tuhan Yesus Kristus.41
Penyataan khusus merupakan keunikan dari pendidikan Kristen, karena setelah alam
ciptaan telah rusak oleh dosa manusia, maka penyataan umum tidak lagi cukup untuk
membawa manusia dalam pengenalan kepada Allah. Oleh karena itulah manusia
membutuhkan penyataan khusus yang bersumber dari Tuhan dan berpusat pada Kristus.
Penyataan khusus memperjelas penyataan umum yang telah kabur akibat dosa. Juga
melalui penyataan khusus memperjelas penyataan umum yang telah kabur akibat dosa.
Juga melalui penyataan khusus dapat menerangkan karya Allah dalam memperbaiki dan
menyempurnakan segala sesuatu. Penyataan khusus menerangkan betapa Allah
mengasihi manusia sehingg Ia mau menyelamatkan mereka supaya manusia dapat
bersekutu kembali dengan penciptanya yaitu Tuhan Allah. Melalui penyataan khusus
inilah setiap orang percaya kepada-Nya dapat mengalami proses pendewasaan hingga
orang percaya menjadi serupa seperti Kristus.
Selain itu, harus juga dipahami bahwa sumber dari pendidikan Kristen adalah
Alkitab. 42 Alkitab mendapat tempat utama dalam pendidikan Kristen karena Alkitab
berisi firman Allah dan tidak bersalah. Sebagaimana hal yang dijelaskan James dalam
bukunya bahwa Alkitab adalah berisi tentang Firman Allah dan melaluinya manusia
dapat mengenal Allah dan mengenal pribadi Yesus Kristus yang mereka percayai. 43

41

Bruce Milne, Mengenali Kebenaran. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000, hlm. 37-41.
Alkitab adalah Wahyu Allah, ilham atau dari Allah. Alkitab adalah Firman Allah yang tertulis, dalam
arti yang sesungguhnya adalah Firman Allah yang lahir dari sifat-sifat Allah. Alkitab tidak mungkin salah,
mutlak dan menjadi terang bagi orang percaya dalam hubungannya dengan manusia.
43
James Deforest Murch, Christian Education ang the Local Church. Cincinnati, Ohio, U.S.A: The
Standard Publishing Company, 1943, hlm. 98.
42

Pendidikan Kristen harus menerima bahwa Alkitab adalah penyataan final Allah,
kebenaran final, sumber iman, sumber pengajaran dan sumber pola hidup manusia.
Karena itu setiap orang percaya dalam gereja harus memahami bahwa Alkitab berguna
dalam hidup manusia untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki
kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Berdasarkan penjelasan ini maka setiap orang percaya dalam gereja harus meyakini
Alkitab sebagai sumber dan alat pendewasaan mereka. Menurut Paul bahwa Alkitab
mendidik kita untuk memusatkan perhatian kita kepada Allah dan memperhatikan,
mempelajari Firman Tuhan untuk kita mengerti.44

e. Kristus Sebagai Sentral dan Dasar dari Pendidikan Kristen dalam Gereja

Secara metafisika dipahami bahwa pusat pendidikan adalah Allah. Hal ini pun yang
dijelaskan oleh Randolph: the center of Christian Education is not man but God, and our
task is to bring the individual Christian in to the right relationship with the god of Jesus
Christ and with his fellow, so that by grace the individual may do the task to which he is
called. 45 Demikian Warnes berpendapat bahwa pendidikan Kristen dalam gereja harus
bersifat Kristosentris atau berpusat pada Kristus dan menjadi dasar yang teguh dari
pendidikan Kristen. Karena itu kedewasaan orang Kristen harus selalu didasarkan pada

44
45

Paul H. Vieth, The Church and Christian Education, At. Louis: Betahny, 1947, hlm. 44.
Randolph Crump Miller, Education for Chistian Living. Englewood Cliff S.N.J: Prentice-hall, Inc,

1956,
hlm. 54.

kebenaran dan prinsip-prinsip Alkitabiah.

46

Semua usaha pendidikan diluar dari

kebenaran dan tidak berdasarkan pada prinsip-prinsip Alkitab maka pendidikan itu tidak
berpusat pada Kristus, tetapi berpusat pada manusia itu sendiri.
Secara epistemology, pendidikan gereja harus berpusat pada penyataan Allah yaitu
penyataan umum dan khusus. Namun penyataan itu tidaklah cukup untuk mengajarkan
pendidikan Kristen karena pengetahuan mengenai kehidupan kekal tidak nampak secara
langsung. Karena itu Alkitab sangat penting. Alkitab adalah inti dari epistemology
Kristen.
Secara aksiologi pendidikan Kristen harus berpusat pada kekekalan. Pengetahuan
umum tidak bersifat kekal. Tidak ada pengetahuan di muka bumi ini yang bersifat kekal
selain pengajaran dalam pendidian Kristen yaitu tentang kebenaran-kebanaran Firman
Allah.
Berdasarkan Antropologi pendidikan Kristen dalam gereja harus berpusat pada
gambar Allah. Manusia harus memahami bahwa manusia diciptakan menurut gambar
Allah, ketika dosa memasuki diri manusia gambar Allah dalam diri manusia ternoda,
namun Allah telah menyediakan sebuah cara untuk memulihkan dan meyelamatkan
manusia melalui kematian Yesus Kristus dan memulihkan persekutuan dengan Allah.
Pendidikan Kristen membina orang yang ada di dalam Kristus agar dapat mengerti bahwa
mereka telah keluar dari tempat kegelapan, kini mereka ada di tempat yang terang dan
dituntut untuk mengalami pertumbuhan.

46
Warnes C. Graendof (ed), Introduction to Biblical Christian Education. Chicago: Moody Press,
1977, hlm. 25.

f. Kedudukan Gereja dalam Pelaksanaan Pendidikan Kristen di Gereja

Matius 16:18 adalah merupakan ayat Alkitab yang mengumandangkan bahwa Yesus
akan mendirikan jemaat. Sejak semula Yesus mulai memproses orang percaya dengan
tujuan agar setiap orang percaya dapat serupa dengan-Nya (Efesus 5:27) dan pada
akhirnya setiap orang percaya mengaku bahwa baginya hidup adalah Kristus. Untuk
mencapai tujuan tersebut berbagai kegiatan dilakukan oleh Yesus. Seperti: Yesus
berkhotbah, Yesus melakukan mujizat, Yesus melayani pengikut-Nya agar pengikut-Nya
meneladaninya, Yesus mengajar orang banyak dan mengajar murid-Murid-Nya untuk
mempersipakan murid-murid-Nya melayani orang lain. Ketika Ia mengajar dan
berkhotbah, tidak jarang Ia menggunakan perumpamaan agar pengajarannya benar-benar
mendarat kedalam kehidupan para pendengar.
Gereja sendiri merupakan perpanjagan tangan Allah untuk membangun dan
mengembangkan gereja yang sudah dibangun atas dasar yang kokoh yaitu Yesus Kristus.
Gereja atau jemaat adalah kelompok dari semua anggota resmi gereja. Mereka sudah
dibabtis dan membuat komitmen untuk menjadi bagian dari keluarga gereja. Sekarang
mereka bukan sekedar hadir ke gereja. Kehidupan Kristen bukan hanya soal percaya,
namun harus menjadi bagian tubuh Kristus.47 Setelah orang percaya membuat komitmen
kepada Kristus, maka mereka perlu didorong untuk mengambil langkah berikutnya dan
melibatkan diri di dalam pelayanan gereja.

47

Apabila jemaat adalah menjadi bagian dari tubuh Kristus berarti jemaat harus merelakan hatinya
untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pimpinannya yaitu Kristus sebagai kepala gereja. Kepala
gereja menghendaki agar setiap orang percaya dapat menjadi serpa seperti Kristus. Menjadi serupa
dibutuhkan proses.

Yesus Kristus telah mengawali pendidikan dan pengajaran kepada orang percaya
atau gereja yang telah dibangun oleh Yesus sendiri, karena itu Ia menginginkan apa yang
telah dibangun-Nya harus dapat diteruskan oleh setiap orang percaya dalam gereja
(Yohanes 14:12) gereja harus memahami bahwa mandat atau amanat pendidikan Kristen
dalam gereja merupakan elemen utama dalam program gereja. 48 Hal ini pula yang
diungkapkan oleh Daniel John, Charles, bahkan dikatakan pula bahwa untuk pelaksanaan
mandat pendidikan ini dapat disosialiasasikan melalui komisi-komisi yang ada dalam
gereja dengan tujuan agar tidak terjadi kepincangan dalam penerapan visi-misi
pendidikan Kristen ketika melakasanakan program pembinaan rohani jemaat.49
Pendidikan adalah suatu proses yang berlangsung secara bertahan dan berlangsung
seumur hidup. Berdasarkan 2 Timotius 3: 15-17 sangat jelas bahwa pendidikan Kristen
merupakan proses yang dapat dimulai dari keselamatan yaitu dari tidak mengenal dan
tidak percaya kepada Yesus Kristus hingga terjadi pengenalan dan penyerahan diri
kepada-Nya sebagai Tuhan dan juru selamat dalam hidup seseorang. Kemudian
melangkah kepada tindakan pembinaan atau pengajaran yang mana melalui pembinaan
ini membentuk kepribadian seseorang yang percaya dalam pengetahuan dan perbuatan
yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. selanjutnya dituntun dalam bertindak dan
berbuat serta menerapkan kebenaran itu. Melihat begitu besar tugas ini maka gereja,
melalui para pembina, pendidik baik gembala, hamba Tuhan dapat bertanggung jawab

48

Meyatukan visi atau tujuan gereja dalamsetiap bidang program gereja dan aspek kehidupan dalam
gereja merupakan fase yang sulit, karena hal ini membutuhkan kepemimpinan yang sunguh-sungguh mau
menjalani proses tersebut.
49
Daniel Eleonor, John [Link], Introduction to Christian Education. Cincianannti Ohio: The
Standard Publishing Company, 1987, hlm. 21.

dalam pendidikan, pengajaran, pembinaan rohani jemaat. Weinata Sairin menjelaskan


bahwa proses pendidikan terdiri dari:

a. Bimbingan yang bertujuan untuk menanamkan, memupuk, serta


mengembangkan sikap mental, pembaruan dan pembangunan di dalam diri
peserta didik, yang diantarkan terutama melalui keteladanan; b. pengajaran
(teaching) yang bertujuan untuk menyampaikan informasi dan pengetahuan
fungsional yang dapat digunakan untuk meningkatkan mutu dan taraf hidup; c.
latihan (training) yang menyajikan keterampilan (skill) tertentu yang dapat
dijadikan bekal.50

Dengan mendidik jemaat dalam kebenaran, berarti menolong pertumbuhan setiap


orang agar menjadi manusia yang berguna, manusia yang bertinggkah laku benar,
menjadi manusia yang efektif dan efesien serta memuliakan Tuhan dalam hidupnya.
Proses pendidikan bukan hanya penguasaan pengetahuan, tetapi termasuk pembentukan
kepribadian (personality) agar terjadi transformasi dalam diri warga jemaat sehingga ia
bukan hanya menghayati transformasi dalam dirinya, melainkan ia selanjutnya akan
mentransformasikan masyarakat lingkungan dimana dia hidup.
Lois, menjelaskan di mana berdasarkan survei yang dilakukannya maka ia
menjelaskan dalam bukunya bahwa gereja secara keseluruhan lemah dalam hal
kedewasaan, dalam konsep mereka adalah bahwa Tuhan senang dan akan berterima kasih
kepada manusia yag beribadah kepadanya, dimana wujud terima kasih itu akan
dinyatakan lewat berkat yang diberikan Tuhan kepada mereka yang beribadah kepada-

50
W.P. Napitupulu, Memantapkan pelaksanaan Identitas dan Ciri khas Pendidikan Kristen secara
Kontinyu dan Konsisten, Identitas dan Ciri khas Pendidikan Kristen di Indonesia antara Konseptual dan
Operasional diedit oleh Weinata Sairin. Jakarta: BPK GUnung Mulia, hlm. 24-25.

Nya.51 Tentu saja konsep seperti ini merupakan konsep yang selalu memperalat Tuhan
dalam ibadah dan memandang seolah-olah Tuhanlah yang membutuhkan mereka. Konsep
ini tertanam dalam diri orang-orang Kristen yang mungkin saja disebabkan karena
pengajaran yang tidak benar dan pedidikan yang tidak menanamkan konsep-konsep
ibadah yang benar. Jelas bahwa sikap semacam ini akan dapat mempengaruhi
kedewasaan dan pertumbuhan seseorang.
Pendidikan Kristen bagian yang sangat penting dalam gereja, karena melaluinya ada
usaha menumbuhkembangkan kemampuan jemaat agar dengan pertolongan Roh Kudus
dapat memahami dan menghayati kasih Allah dalam Yesus Kristus, yang dinyatakan
dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendidikan Kristen warga jemaat mencapai tingkat
kedewasaan iman dan mau memenuhi tugas panggilanya untuk bersekutu, bersaksi dan
melayani. Sebagaimana juga yag diungkap Faloow dalam bukunya bahwa pendidikan
Kristen mendatangkan pertumbuhan kepada seseorang, menolong dan menuntun gereja
menjadi gereja yang sesungguhnya, hidup dalam anugerah Allah, imannya terpelihara
serta hubungannya dengan sesama semakin terpelihara. 52 Wirowidjojo dalam sebuah
artikelnya menyatakan bahwa untuk dapat menjadi dewasa warga jemaat harus menerima
pendidikan atau pengajaran. Pendidikan itu terjadi dalam persekutuan bersama dengan
umat Allah. Orang-orang beriman terhimpun dalam gereja atas dasar satu Tuhan, satu
pengakuan dan satu babtisan. Menurutnya warga gereja meliputi orang-orang yang lanjut
usia, dewasa, pemuda, remaja, anak-anak. Gereja bertanggungjawab atas pendidikan

51
Lois E. le Bar, Fokus on People in Church Educatin., New Jersey: Fleming H. Revell Company,
hlm. 26-28.
52
Wesner Follow, Ibid., hlm. 44.

warga jemaat. Tujuannya ialah supaya warga jemaat yang telah telah mengalami
transformasi dapat menjalankan tugas panggilannya sebagai orang percaya.53
Pendidikan Kristen dalam gereja pada dasarnya dimengerti sebagai proses
memindahkan seseorang dari kegelapan kepada terang dengan meninggalkan ajaranajaran yang tidak benar, dan menuntun seseorang dalam kuasa Roh Kudus hingga orang
itu mempunyai hubungan pribadi dengan Yesus Kristus.
Oleh karena itu pendidikan dalam gereja harus menyentuh tiga aspek penting yaitu
kognitif, afektif dan psikomotor. Ada banyak orang dalam gereja mengetahui tentang
Alkitab bahkan beberapa puluh ayat-ayat Alkitab, meguasai berbagai macam bentuk
pelayanan, juga memiliki kesadaran dan perasaan dekat dengan Allah, namun apa yang
mereka ketahui tentang Allah, dan bahkan ada perasaan dekat dengan Allah namun
semua itu tidak dinyatakan dalam kehidupan/karakter. Karena itu pendidikan dalam
gereja tidak hanya membentuk manusia yang berpengetahuan, banyak talenta, adanya
kedekatan dengan Allah hanya sebatas perasaan saja, tetapi juga gereja membentuk atau
menuntun manusia-manusia yang semakin hari semakin nampak perubahan dalam
karakternya.
Peranan pendidikan dalam gereja sangat berpengaruh dalam mendewasakan jemaat.
Karena itu gereja perlu memahami beberapa tugas pendidikan Kristen dalam gereja.
Pertama, membawa orang untuk mengenal realitas tertinggi, yakni, Tuhan Allah sebagai
pecipta dan pemelihara alam semesta.54

53

R. Soetjipto Wirowidjojo, Ibid., hlm. 183-184.


Seseorang dapat memiliki relasi dengan Allah dan tercipta suatu komunikasi dengan Allah apa bila
orang percaya tersebut mempunyai pengenalan Allah yang benar. Dan inilah dasar persekutuan orang
54

Tugas kedua, pendidikan juga mendidik manusia untuk menghargai dan memelihara
alam sekitar demi terciptanya keutuhan sesama ciptaan Tuhan yang bertujuan untuk
hormat dan kemuliaan Allah. Dalam hal ini, pendidikan mendorong manusia untuk
menghargai, memelihara dan mencintai gereja-Nya yang telah didirikan di dunia ini
dengan tujuan untuk hormat dan kemuliaan Tuhan Yesus Kristus.55
Tugas ketiga, pendidikan Kristen berupaya meningkatkan mutu atau kualitas orang
percaya, terpanggil untuk mengarahkan setiap individu maupun kelompok kepada
pemahaman yang dinamis dalam persekutuannya dengan Allah. Pendidikan atau pengajar
harus dapat membimbing dan menuntun orang ke dalam komunikasi yang akrab dengan
Tuhan, sehingga ia dapat memahami kehendaknya secara jelas dalam segi-segi kehidupan
secara lebih spesifik.
Tugas keempat, pendidikan Kristen dalam gereja dapat membimbing orang percaya
untuk mengerti dan memahami bahwa dalam diri manusia ada dua dilema yang saling
bertentangan, yaitu di satu sisi orang bisa berbuat baik tetapi di sisi lain orang cenderung
berbuat tidak benar. Karena itu setiap orang percaya perlu di bimbing kepemahaman
yang jelas akan penyebab terjadinya dilema dalam hidup manusia dan langkah
penyelesaian di lema tersebut, serta mengerti tentang penyangkalan diri.
Tugas kelima, pendidikan Kristen dalam gereja dapat menolong setiap individu
maupun kelompok untuk mengenal keberadaannya yang sesungguhnya di hadapan Allah,
di mana dirinya tidak lebih dari ciptaan yang teristimewah dari ciptaan lain namun
percaya dengan Tuhan. Jika orang percaya mengenal Allah dengan benar maka ia pun dapat menyembah
dan bersekutu bersama Allah dengan benar.
55
Orang percaya menerima mandat dari Tuhan supaya mereka dapat memelihara gereja. Maksud
memelihara disini adalah terus menerus jemaat harus bertanggungjawab terhadap proses pertumbuhan
gereja atau jemaat yang sudah dipercaya kepada umat-Nya dalam dunia ini.

dirinya tetap ciptaan yang terbatas di hadapan Tuhan. Karena keterbatasan inilah jemaat
dituntut untuk bersedia diajar, dididik dan dibina agar jemaat diperlengkapi dalam
menjalankan hidup secara lebih berarti di hadapan Tuhan dan manusia.
Tugas keenam, pendidikan Kristen harus berupaya membimbing orang memiliki
pemahaman bahwa Allah adalah satu-satunya pribadi yang menjadi sumber kebenaran
obyektif, absolut dan sekaligus menjadi pelaku atau subjek dalam pendidikan Kristen.
Sedangkan manusia hanya sebagai satu pribadi yang selalu mencari kebenaran, walaupun
dalam batas tertentu manusia bisa menjadikan dirinya sebagai sumber pengetahuan, tetapi
kebenaran yang dipahaminya hanya bersifat semu saja.56
Tugas ketujuh, pendidikan Kristen juga harus mendorong orang untuk belajar dari
berbagai sumber kebenaran dan menguji kebenaran itu dari prinsip-prinsip Alkitab.
Artinya pendidikan Kristen berusaha mendorong orang bersikap terbuka, berpikir luas,
moderat, kontekstual. Ada orang Kristen tahu bahwa Yesus Kristus sudah mati menebus
dosanya sehingga ia selamat dan mejadi orang Kristen. Pengetahuan semacam ini terlalu
sempit karena itu tidak heran jika ada orang Kristen keluar masuk gereja, bahkan ada
sudah berpuluh-puluh tahun dalam keluar masuk gereja tetapi sedikit diantara jemaat itu
yang benar-benar mengalami perubahan dan pertumbuhan dari segi karakter, karena
pengenalan mereka kepada kepada Tuhan Yesus hanya sebatas pengetahuan saja.57

56

Hal ini menunjukkan keterbatasan dan kelemahan mansia, di mana walaupun manusia berusah
mencari kebenaran namun ia tetap terbatas, karena itu Allah memperkenalkan diri sendiri kepada manusia
yang terbatas atas kehendak-Nya.
57
Dalam Alkitab iblis pun tahu dan kenal siapa Yesus, terbukti dalam pengakuannya yang mengatakan
bahwa Yesus adalah Allah namun ia tidak percaya dan rencana bahwa seluruh tindakannya adalah yang
jahat.

Selain ketujuh tugas tersebut, Sijabat juga menjelaskan dalam bukunya tentang
peranan pendidikan Kristen dalam gereja, dimana menurutnya bahwa pendidikan Kristen
bertugas untuk menawarkan nilai hidup baru yang bersumber dari Firman Allah. Yesus
Kritus mengajarkan dan memberikan nilai hidup bagi setiap orang yang terbuka kepadaNya. Nilai hidup ini harus menembus segi-segi kehidupan orang percaya. Karena itu
pendidikan Kristen dapat membimbing orang memahami dan menghargai nilai
budayanya dengan baik serta menilainya dari segi terang Firman Tuhan, kemudian
mengambil tidakan-tindakan konkrit. Pendidikan Kristen juga membimbing orang
mengenal Allah yang maha kudus, adil dan benar.58
Dengan tugas seperti ini, maka peran seorang pengajar/pendidik maupun seorang
Hamba

Tuhan

sangat

perlu

untuk

megajar,

mendidik,

mempersiapkan

dan

memperlengkapi anggota jemaat sehingga memiliki pengetahuan, memiliki pengakuan


iman kepada Yesus Kristus. Terkadang faktor yang membuat tidak tercapai visi-misi
pendidikan Kristen adalah: faktor SDM, dalam hal ini hamba Tuhan berganti-ganti.59
Gereja adalah agen Allah untuk mencapai tujuan mengembangkan jemaat, untuk
mencapai hal ini maka cara gereja mengambil jemaat adalah pertama, dengan
memperlengkapi jemaat menjadi murid yang setia melayani dengan sepenuh hati, dan
bukan melayani dengan paksaan. Efesus 4:11-12 menjelaskan bahwa pengajar, pendeta,
penginjil bertugas untuk memperlengkapi orang-orang dalam gereja untuk melayani.
Kedua adalah gereja harus mengembangkan murid dengan memberikan berbagai
Samuel Sijabat, Strategi Pendidikan Kristen Suatu Tujuan Teologis-Filosofi. Jogjakarta: Andi
Offest, hlm. 24-35
59
Hamba Tuhan atau pengajar dalam suatu gereja berganti-ganti, maka gereja itu tidak akan sehat, dan
akan mempengaruhi proses pembinaan rohani jemaat, akhirnya program pembinaan pun tidak berjalan
sesuai dengan visi-misi pendidikan Kristen.
58

kegiatan. Dalam Kisah Rasul 2:42 dijelaskan beberapa aktivitas yang melibatkan para
murid seperti megajar, berdoa, persekutuan, memecah-mecahkan roti. Ketiga adalah
membangun pelayanan seputar mempraktekkan apa yang ada dalam dirinya yang
diperolehnya dari pengajaran. Dan yang lebih di atas semua cara tersebut adalah
mengundang Roh Kudus untuk mengubah hidup masing-masing jemaat sesuai dengan
waktu dan kehendak-Nya, karena jika Ia yang telah memulai pekerjaan yang baik maka
Ia akan menyelesaikannya sampai padahari kedatanganYesus Kristus (Filipi 1:6).

g. Rumusan Visi-Misi Pendidikan Kristen dalam Gereja

Berdasarkan pemahaman dari penjelasan di atas maka jelas bahwa visi-misi


pendidikan Kristen dalam gereja yang dilakukan lewat pembinaan rohani jemaat adalah
mentransformasi manusia dalam seluruh aspek kehidupan, terutama mengenai aspek
kognitif (mempelajari Alkitab sehingga memiliki pengetahuan dan pengenalan tentang
Allah), afektif (memiliki sikap hati yang benar untuk meyakini Allah) dan psikomotori
memuliakan Allah dalam perbuatan dan tindakan. Ketiga aspek tersebut dijelaskan
seperti berikut ini:
Pertama, Aspek kognitif (mempelajari Alkitab sehingga memiliki pengetahuan dan
pengenalan tentang Allah). Transformasi atau perubahan dari aspek kognitif berkenaan
dengan perubahan cara berpikir berkaitan dengan pengetahuan. Menurut Ruth Selan
bahwa pembaharuan budi dan membedakan mana kehendak Allah adalah tugas
dikawasan kognitif.60 Sebelum terjadi proses pembaharuan yang dikatakan oleh Rut selan
60

Ruth Selan, Pedoman Pembinaan Warga Jemaat. Bandung: Yayasam Kalam Hidup, 1992, hlm. 26.

di atas terlebih dahulu seseorang harus mengenal, mengerti dan mengetahui tentang Allah
dan kehendak-Nya. Untuk memperoleh pengenalan, pengertian, pemahaman itu, maka
seseorang perlu belajar.
Kedua, aspek Afektif (memiliki sikap hati yang benar untuk meyakini Allah). Aspek
afektif ini biasanya disebut aspek humanistik. Hal ini berkenaan dengan masalah
perasaan atau sikap hati, dalam pengertian bahwa seorang jemaat dapat menghayati
pengajaran dari Firman Tuhan hingga jemaat dapat menjadikan Firman Tuhan menjadi
pegangan hidup selama-lamanya, sikap hormat kepada Tuhan, dan segala sesuatu yang
dilakukan hanya untuk kemuliaan Tuhan.
Ketiga, aspek psikomotori yaitu memuliakan Allah dalam perbuatan dan tindakan.
Aspek psikomotorik bisa disebut behavior berkaitan dengan perubahan tingkah laku.
Seorang jemaat tidak hanya dapat mengetahui, mengenal dan mengambil komitmen
untuk menjadikan pengajaran yang diperolehnya lewat Firman Tuhan menjadi pegangan
dalam hidupnya, tetapi sikap hati dan perasaan harus diwujudkan dalam tingkah laku.
Contoh sederhana adalah adanya kasih yang tulus diantara sesama, memiliki iman yang
sejati, memiliki hati yang murni, pikiran yang murni. Dalam masalah moralitas seseorang
dapat membedakan apa yang baik dan yang buruk, mana yang menjadi kehendak Allah
dan bukan kehendak Allah. Dalam pelayanan, seorang jemaat mau mewujudkan bentuk
perasaannya itu dalam melayani baik pelayanan kecil maupun besar. Baik kelihatan
maupun tidak kelihatan. Ketiga aspek ini harus terkait satu dengan yang lain ketika dan
harus berpusat pada Kristus.

Ada beberapa indikasi dalam Alkitab bahwa setiap orang yang hidup baru, harus
hidup berpegang teguh di dalam kebenaran dan harus mengalami pertumbuhan didalam
Kristus (Efesus 4:15). Memiliki hidup baru tidak dapat diperoleh secara otomatis, Allah
adalah hidup dan sumber kehidupan bagi manusia. Kol.3:10 menjelaskan bahwa
kehidupan yang baru itu harus dibaharui terus menerus dalam pengertian mengalami
pertumbuhan untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar penciptanya.
Richards dalam bukunya menuliskan Cristian education is not to be designed to produce
a product. It is to be designed to supply what is needed for prosess of growth to proceed
normally and healthly.61
Pendidikan

Kristen

tidak

hanya

menekankan

pada

tujuan/visi-misi

pendidikan,melainkan juga pada proses. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwa
visi-misi pendidikan Kristen dalam gereja adalah transformasi yaitu mentransformasi
manusia secara utuh berdasarkan atas kebenaran Firman Allah. Melalui Pendidikan
Kristen dapat ada upaya anggota komunitas orang Kristen untuk berpatisipasi dengan
agen perubahan yang mempengaruhi sehingga mengubah pribadi-pribadi dalam
hubungan dengan Allah, gereja, sesama manusia, dengan dunia fisikal dan dengan dirinya
sendiri. Dengan kata lain pendidikan atau pembinaan rohani jemaat yang dilakukan
melalui proses bertujuan untuk mencapai perubahan serta membawa jemaat kepada
tingkat pengertian, sikap dan perbuatan yang dapat digambarkan dalam istilah Teologis
sebagai pengudusan dan dalam istilah psikologi pendewasaan.

61
L.O Richards, Theory of Christian Education, Grand Rapids Michigan: ZondervanPub House, 1988,
hlm. 22.

Thoma dan Joani menjelaskan bahwa alasan-alasan seseorang tidak berubah


karena orang tersebut merasa sudah puas dengan kebisaaan-kebisaaannya, karena kurang
pengertian dan pemahaman, tidak bersedia membayar harga, karena terikat dengan
tradisi. Alasan-alasan semacam ini menjadi tantangan bagi gereja untuk lebih
memperhatikan dan bertanggung jawab atas pendidikan dalam gereja.62
Menurut Ruth Selan, supaya orang yang sudah percaya mengalami pertumbuhan
rohani dan menjadi dewasa maka perlu pembinaan, perawatan dan pemeliharaan. 63
Demikian juga Calvin menekankan bahwa setiap orang percaya harus dididik agar
keselamatan mereka dapat diejawatakan dalam kehidupan mereka demi kemuliaan Allah
dan sadar akan tanggung jawab mereka.64
Ciri-ciri kedewasaan rohani atau ciri orang yang mengalami pertumbuhan rohani
adalah Firman Tuhan menguasai hidup orang yang percaya kepada-Nya, yang menjadi
subjek dalam hidupnya hanyalah Allah, hidup berpusat pada Kristus, menerima
pengajaran yang sehat, memiliki cara pandang Kristen, bersedia mengadakan
transformasi kerohanian terus menerus, memiliki komitmen teguh dalam penyangkalan

62

Thoma & Joani Schultz, Meningkatkan Kinerja Jemaat. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002,
hlm. 235.
63
Ruth Selan, Ibid., hlm. 14.
Pembinaan, perawatan dan pemeliharaan kerohanian jemaat termasuk tanggung jawab dari seorang
pengajar. Pembinaan ini dapat dilakukan secara perorangan ataupun perkelompok. Ibarat biji tanaman yang
baru saja bertunas dan tunas itu dibiarkan saja di antara rumput-rumput yang mengelilinginya, dan tidak
pernah dipupuk atau disiram, maka lama kelamaan tunas tersebut akan mati. Demikian juga seorang jemaat
yang baru saja berkomitmen hidup dalam Tuhan, bila tidak di rawat dan dipelihara maka jemaat itu tidak
akan mengalami pertumbuhan dan proses perubahan dengan baik. Setelah tunas itu menjadi pohon maka
sebagian dahan yang rusak dan tidak menghasilkan buah dibersihkan atau di potong dengan tujuan agar
pohon itu dapat menghasilkan buah yang baik. Demikian juga jemaat perlu dibersihkan melalui pengajaranpengajaran yang diberikan lewat pembinaan agar jemaat dapat buah dengan baik dan menampakkan hasil
buah tersebut dalam kehidupannya setiap hari.
64
Jhon Calvin, Pendidikan Agama Kristen Pada Zaman Reformasi Protestan, Sejarah Perkembangan
Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, diedit oleh Robert R Boehlke. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2002, hlm. 411.

diri dan penyerahan diri kepada Tuhan, menghasilkan buah yang matang, hidup
senantiasa dalam pengucapan syukur, mampu mengontrol diri, hidup tertip dan pikiran
yang kudus, menjaga kehiduapan dan hati, memiliki pengetahuan dan pemahaman
rohani, memiliki kasih dan pengampunan, rendah hati, takut akan Tuhan, menjauhi
kejahatan, mengasihi Tuhan dalam hidupnya, mau menerima teguran, dan pengajaran ,
menjadi garam dan terang dan lain-lain.
Comenius berpendapat bahwa jika pendidikan dalam gereja bertujuan untuk
membawa setiap orang percaya kepada kedewasaan di dalam Yesus Kristus, maka ada
tiga tugas yang harus dilakukan, pertama: manusia harus mengetahui segala sesuatu
termasuk dirinya sendiri, dua: manusia harus dapat menguasai segala sesuatu termasuk
dirinya sendiri, tiga: manusia harus dapat mengarahkan segala sesuatu termasuk dirinya
sendiri.65
James memberi penjelasan, bahwa pendidikan Kristen dalam gereja dapat
memperkuat para anggota, dan memperluas pengabaran Firman Tuhan. 66 Bahkan melalui
pendidikan dalam gereja dapat mengembangkan bakat ataupun karunia yang dimiliki atau
yang dianugrahkan Tuhan kepada setiap anggota jemaat untuk pelayanan dalam tubuh
Kristus. Melalui pembinaan setiap orang dalam gereja dilatih menjadi pelayan-pelayan
Tuhan yang bertanggung jawab dan penuh kasih, sehingga mereka tidak hidup lagi demi
kepentingan diri sendiri, melainkan kepentingan orang lain dan demi kemuliaan Allah.

65

C.B. Eavey, History of Christian Education. Chicago:Moody, 1964, hlm. 174; Kenneth O Gangel,
Membina Pemimpin Pendidikan Kristen. Malang: Gandum Mas, 2001, hlm.. 39-40.
66
James Deforest Murch, Christian Education and the Local Church. Cincinnati, Ohio U.S.A: The
Standard Publishing Company, 1943, hlm. 98.

Karena itu setiap program pembinaan rohani jemaat dalam gereja harus didasarkan
pada visi-misi pendidikan Kristen. Visi-misi yang dimaksud harus dikomunikasikan
kepada jemaat agar mereka mengerti apa yang hendak dicapai dalam pembinaan rohani
jemaat. Gereja adalah agen Allah. Program yang tidak didasarkan pada visi-misi yang
jelas maka setiap program pembinaan dianggap hanya sebagai kegiatan rutinitas saja,
kegiatan rutin yang tanpa arah. Tuhan Yesus bukanlah seorang guru tanpa tujuan. Setiap
kali Yesus mengajar pikiran dan pengajarannya selalu terfokus dalam pencapaian tujuan.

B. Tinjauan Literatur tentang Program Pembinaan Rohani Jemaat Berdasarkan


Visi-Misi Pendidikan Kristen
Pada bagian ini penulis akan membahas tentang pentingnya penyusunan program
pembinaan rohani jemaat berdasarkan visi-misi pendidikan Kristen, tujuan penyusunan
program pembinaan rohani jemaat, program pembinaan rohani gereja berdasarkan visimisi pendidikan Kristen

a. Pentingnya Penyusunan Program Pembinaan Rohani Jemaat Berdasarkan VisiMisi Pendidikan Kristen.
Program menurut kamus umum bahasa indonesia adalah rancanran/rencana. 67 Hal
yang sama diartikan oleh Heru Kasida bahwa program adalah rencana, serangkaian
kegiatan yang dilakukan.68 Berdasarkan pengertian dari kamus bahasa Indonesia maka
menurut rumusan penulis bahwa program adalah serangkaian rancangan/rencana kegiatan
67
68

W.J.S. Poewardaminto, Ibid


T. Heru Kasida Brataatmaja, Ibid

yang diputuskan oleh suatu lembaga untuk dikerjakan. Sehubungan dengan tesis yang
penulis bahas adalah masalah program pembinaan rohani jemaat, maka penulis melihat
bahwa program adalah serangkaian rancangan/rencana kegiatan pembinaan rohani
jemaat, di mana program tersebut telah ditetapkan oleh pengurus gereja dan gembala
sidang secara bersama-sama dan dikerjakan secara bersama-sama pula. Program yang
direncanakan dan telah diputuskan untuk diterapkan dalam pembinaan adalah program
yang didasarkan pada visi-misi pendidikan Kristen, sehingga pembinaan tersebut tidak
sia-sia tetapi dapat memberi guna bagi kemajuan dan peningkatan pelayanan dalam
gereja.
[Link] dalam bukunya menjelaskan hubungan pendidikan Kristen dengan
program gereja. Dalam penjelasannya, ia mengemukakan Cristian education is a part of
the program of the church.69 Melalui penjelasan ini dapat dipahami bahwa pendidikan
Kristen dan program gereja adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Gereja
ditetapkan sebagai agen Allah untuk memproklamasikan ajaran-ajaran kepada dunia,
tentang pendidikan Kristen sejati. Sebagaimana yang telah dipahami dalam ajaran
kekristenan bahwa Allah sendiri telah membuat dirinya dikenal dalam firman-Nya yang
dicatat dalam Alkitab, maka

Alkitab menjadi sumber program pendidikan Kristen.

Tujuan gereja menyusun dan menetapkan program pembinaan adalah untuk memenuhi
kebutuhan kedewasaan dalam segala aspek kehidupan, yang mencakup aspek kognitif,
afektif, psikomotor. Karena begitu besar transformasi kehidupan jemaat yang diharapkan
69

H.W. Byrne, Ed. D, Christian Educatian Education for the Local Church. Gran Rapids Michigan:
Zondervon Publishing House, 1973, hlm. 22.
Dari penyataan atau penyelasannya tentang hubungan pendidikan Kristen dengan program pembinaan
rohani jemaat adalah bahwa pendidikan Kristen adalah bagian dari program gereja yang diwujudkan dalam
kegiatan pembinaan rohani jemaat.

melalui program pembinaan, maka untuk membuat dan menetapkan program tersebut
hendaknya bersandar pada Tuhan dan kuasanya melalui Roh kudus.
Dari uraian di atas maka sangat jelas betapa pentingnya menyusun program
pembinaan berdasarkan visi-misi pendidikan Kristen. Karena pendidikan kristen
merupakan bagian dari program gereja yang diwujudkan dalam program pembinaan
rohani jemaat. Namun untuk mewujudkan pendidikan Kristen tersebut melalui program
pembinaan rohani jemaat maka harus dilandasi pada visi-misi pendidikan Kristen yaitu
transformasi. Pendidikan Kristen yang diwujudkan dalam program pembinaan rohani
jemaat tidak akan terfokus dan tidak tercapai dengan baik apabila tidak didasarkan pada
visi-misi pendidikan Kristen. Dalam hal ini dimengerti bahwa program adalah merupakan
wadah atau sarana untuk pelaksanaan pendidikan Kristen dengan visi-misi pendidikan
Kristen yang jelas. Sebaliknya visi-misi pendidikan Kristen mengarahkan program itu
sendiri agar program tersebut terfokus pada sasaran yang diharapkan.
Menurut kennet bahwa program pembinaan rohani jemaat yang selaras dengan
pendidikan Kristen ditandai dengan sejumlah faktor, antra lain:
Pertama, program itu bisa saja terdiri dari sejumlah komisi atau pelayanan yang
bercirikan pendidikan. Dua, setiap program dijaga agar berjalan lancar melalui suatu
proses organisasi yang mempertahankan beberapa prinsip penggabungan dan
pertalian. Tiga, pendidikan dalam gereja secara kokoh dilandasi oleh tujuan-tujuan
Alkitabiah yang secara jelas menetapkan apa yang hendak dilakukan oleh program
pendidikan Kristen. 70
Warren S. Beson dalam bukunya yang di edit oleh Michael J. Anthony, menyatakan
bahwa suatu program disusun karena dipandang dapat memberi jawaban yang detail

70

Kennet O. Gangel, Ibid., hlm. 50.

terhadap isu-isu secara umum. 71 Pertanyaan-pertanyaan umum misalnya mengapa


manusia harus percaya kepada Yesus, mengapa orang percaya harus mengalami
perubahan hidup dan pertumbuhan sesudah sesudah menerima Yesus, mengapa orang
percaya harus berubah, mengapa manusia harus memuliakan Tuhan, siapakah yang
menjadi pusat penyembahan manusia.
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sangat penting untuk dijelaskan melalui
pendidikan atau pengajaran dalam gereja. Selain itu juga Warren pun menjelaskan dalam
bukunya bahwa program dibuat karena dengan adanya perencanaan program dan
program itu tertulis maka dapat diketahui kepada siapa program itu ditujukan, dapat
diketahui apa yang diharapkan dari program tersebut dapat diukur berapa banyak
program itu terlaksana dan sejauh mana dapat memberi keberhasilan dari programprogram tersebut.
Tujuan penyusunan program menurut Ron Jenson dan Jim Stevens adalah untuk
menemukan kebutuhan-kubutuhan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

72

Sedangkan Ruth Selan dalam bukunya lebih memperjelas bahwa penyusunan program
pembinaan jemaat dalam gereja bertujuan untuk memenuhi kebutuhan kedewasaan
seseorang Kristen. Kedewasaan ini meliputi kedewasaan rohani, mental dan emosional.73
Program adalah sarana untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan manusia, namun program
bukanlah tujuan akhir, melainkan program itu menjadi sarana untuk melakukan
pelayanan maupun untuk mengembangkan orang-orang menjadi seperti Kristus. Jika visi-

71

Warren S. Beson., Darly Eldridge., Julie Gorman, Evangelical Dictionary of Christian education.
Michael J. Anthony (Ed). Gran Rapids, Michigan: Baker Academic.
72
Ron Jenson & Jim Stevens, Dinamika Pertumbuhan Gereja, Malang: Gandum Mas, 2004, hlm. 112.
73
Ruth Selan, Ibid., 38

misi pendidikan Kristen adalah mentransformasi manusia maka untuk mencapai visi-misi
tersebut diperlukan suatu program, maka program yang dibuat pun harus dapat memenuhi
kebutuhan dari visi-misi yang telah ditetapkan yaitu mentransformasi kehidupan jemaat.
Menurut H.W. Bynrne, Christian Education is one thing to save a soul; it is another
to keep him in the faith, to build him up the faith, to develop Christian Character, and to
provide a place of service in the kinfdom. Once Saved, sould needs to be nourished, fed,
enlightened, and given something to do for His Lord inti dari penyataan ini adalah
bahwa melalui pendidikan Kristen dalam gereja dapat memelihara keselamatan, menjaga
iman, mengembangkan karakter dan sikap hati yang memuliakan Allah, namun untuk
tercapai semua ini harus ada program sebagai wadahnya. Penyusunan program yang
bertolak dari visi-misi pendidikan Kristen akan mempengaruhi pertumbuhan kualitatif
dan kuantitatif gereja pada masa yang akan datang.

b. Program Pembinaan Rohani Gereja Berdasarkan Visi-Misi Pendidikan Kristen

Ron Jenson dan Jim Stevevens mendefinisikan penyusunan program sebagai bagian
dari proses manajemen yang memerlukan kebutuhan yang dipisahkan oleh diagnosisdiagnosis. Diagnosis ini harus memenuhi kebutuhan melalui sebuah aktifitas khusus.
Menurutnya juga bahwa penyusunan program pembinaan hendak memperhatikan 2
pertanyaan sebagai berikut, pertama, siapa kita?, kedua, siapa diluar sana?
Melalui pertanyaan pertama dapat membantu seseorang yang membuat program
untuk berpikir tentang ciri-ciri khusus gerejanya. Harus dipahami bahwa sekalipun gereja
terdiri dari denominasi yang sama, satu sinode, namun tetap saja ada perbedaan. Setiap

gereja memiliki sifat yang unik bahkan gereja melayani dalam lingkungan kebudayaan
yang unik pula. Tradisi yang unik, juga latar belakang ekonomi dan pendidikan jemaat
yang berbeda-beda.
Contoh-cotoh dalam pertanyaan nomor satu ini adalah: pertama, jika rata-rata jemaat
berdomisili ditempat yang jauh atau di luar kota, maka buatlah program jangka pendek,
karena program jangka panjang kemungkinan besar tidak terlaksana karena tidak ada
komitmen dari jemaat untuk mengikutinya. Contoh kedua, rata-rata anggota jemaat
pengangguran, maka buatlah program pendidikan bagi mereka yang mengganggur seperti
training. Karena jika dalam jemaat banyak penggangguran maka tidak menuntup
kemungkinan diatara jemaat ada yang melakukan kejahatan, jika kejahatan terjadi berarti
jemaat tersebut belum mengalami pertobatan. Sementara waktu hamba Tuhan khotbah,
atau memimpin PA, mengatakan firman Tuhan jangan mencuri. Secara pengetahuan
sudah tahu bahwa mencuri itu adalah dosa, tetapi seseorang juga berpikir mau makan apa
kalau tidak mencuri. Karena itu pendidikan itu bukan hanya memfasilitasi jemaatnya
teori atau kognitifnya, tetapi bagaimana juga dia diberi solusi dari persoalan hidup yang
sedang memberatkan dirinya.
Pertanyaan kedua tentang siapa diluar sana maksudnya adalah seseorang yang
membuat program harus mengetahui secara jelas dan pasti keadaan orang-orang yang ada
disekitarnya. Apakah gereja terletak di daerah yang jumlahnya rata-rata orang tua,
bujang, mahasiswa dan lain-lain. Pengelompokkan ini diperlukan untuk mencerminkan
peluang penyusuna program yang potensial. Penyususunan rogram melihat pada tujuan

dan sasaran serta harus disertai dengan penentuan langkah-langkah spesifik. Tujuan dan
sasaran ini tidak boleh lepas dari visi-misi pendidikan Kristen.
Program gereja yang dibangun berdasarkan visi-misi pendidikan Kristen hendak
memperhatikan hal-hal yang berikut:
1. Visi-misi pendidikan Kristen yang dirumuskan adalah transformasi.
2. Pusat program dan pendidikan adalah Kritus (bersifat Kristosentris)
3. Sasaran yagn dicapai:
a. Pengajaran yaitu bagaimana pengajaran ini dapat mengubah pola berpikir
seseorang serta megembangkan pengenalan terhadap Allah (berhubungan dengan
kognitif)
b. Perasaan atau sikap, yaitu bagaimana seseorang dapat memiliki perasaan dan
sikap hati yang benar berdasarkan tentang apa yag diketahuinya dan yang
diterimanya dari proses pengajara itu dapat dijadikannya menjadi pegangan hidup
dan yang diyakininya seumur hidup (berhubungan dengan afektif)
c. Pendewasaan dalam hal ini akan Nampak dalam tindakan secara langsung,
melakukan atau mempraktekkan apa yang sudah diketahui dan sudah
dijadikannya sebagai pegangan hidup. Apa yang dikerjakan, dilakukan selalu
tertuju untuk memuliakan Tuhan (berhubungan dengan psikomotor)
4. Unsur-unsur program gereja secara umum yang berhubungan dengan visi-misi
pendidikan Kristen yaitu:
a. Penginjilan

Bisaanya penginjilan selalu diangap bagian dari misi, pada hal apa bila kembali
pada Matius 28:19-20 maknanya tidak hanya berisi tentang misi tetapi juga
masalah pendidikan. Disini ada suatu perintah untuk menjadikan semua bangsa
menjadi murid, dan untuk memuridkan dibutuhkan suatu wadah dan sarana yaitu
pendidikan. Jadi ketika seseorang diperintah untuk pergi penginjilan maka
sesungguhnya disitu juga dia berperan sebagai seorang pendidik.
b. Pengajaran
Pengajaran berguna untuk pertumbuhan iman dan memperkokoh keyakinan pada
Tuhan sehingga tetap mempermuliakan Tuhan melalui kehidupannya. Penginjilan
tidak terpisahkan dari pengajaran, namun keduanya bersama-sama. Penginjilan
dan pengajaran bagian dari pekerjaan gereja. Setiap orang Kristen dimotivasi
untuk belajar Firman Allah, sebagaimana yang juga dijelaskan oleh Lois dalam
bukunya bahwa orang percaya membutuhkan Firman Tuhan untuk pertumbuhan
rohaninya sendiri, membimbingnya untuk tidak berbuat dosa, untuk menambah
pengetahuan, untuk mengerti natur manusia, untuk bersaksi kepada orang lain.74
Firman Tuhan juga tidak hanya menjadi pengetahuan dalam diri orang percaya
tetapi dapat membuat orang percaya mengembangkan diri termasuk dalam
menumbuhkan skill dalam diri orang percaya.75 Ada beberapa isi pengajaran yaitu
doktrin Kristen, iman Kristen, musik dalam pandangan Kristen, panggilan
pelayanan, kasih, ketaatan dan kesetiaan juga beberapa training.

74

Lois E Le Ba, Ibid., hlm. 37.


Firman Tuhan adalah makanan rohani bagi seseorang yang percaya kepadanya dan sekaligus mejadi
cermin dalam hidupnya untuk melihat sejauh mana ia sudah mengalami pertumbuhan.
75

c.

Pelayanan
Dalam pendidikan terdapat sesuatu yag disebut dengan unsur pelayanan. Tugas
pendeta, penginjilan atau pemimpin dan gereja adalah memperlengkapi orangorang kudus untuk tugas pelayanan dan terlebih agar mereka dapat saling
melayani. Melalui pendidikan jemaat diajarkan tentang pentingnya mereka dalam
pelayanan gereja, jemaat juga diajarkan apa yang seharusnya mereka kerjakan
melui pelayanan, dan bagaimana pelayanan yang dikehendaki oleh Tuhan. Jemaat
perlu diajarkan hal-hal tersebut, karena mungkin saja sebagian jemaat melayani
namun tidak mengerti apa arti melayani dan untuk apa ia melayani. Kurangnya
pemahaman ini bisa menjadikan jemaat tersebut hanya melayani karena
dijadwalkan dan pada saat itu juga dia datang ke gereja. Pada saat tidak ada
jadwal untuk pelayanan maka tidak muncul digereja.

d. Persekutuan
Tuhan menghendaki semua orang percaya dapat saling berkumpul dan bersekutu
denganNya. Dalam persekutuan jemaat satu sama lain dapat berkumpul bersama
dan menikmati suatu suasana yang penuh sukacita. Melalui persekutuan jemaat
bisa saling memperlengkapi, menasehati, saling menolong, saling menguatkan
satu sama lain, sehingga nampak kehidupan sosial yang sangat menyenangkan.
Melalui persekutuan ini pula diharapkan akan lebih mempererat tali persaudaraan
dan persahabatan dalam jemaat. Semakin erat hubugan persaudaraan dan
persahabatan di antara jemaat maka semakin nampak juga proses transformasi
yaitu pertumbuhan dan kedewasaan dalam diri jemaat.

5. Program khusus yang berupa kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung


terlaksananya program pendidikan yang diwujudkan dalam program pembinaan
rohani jemaat, antara lain:
a. Kegiatan rutin antara lain: kebaktian umum, Sekolah Minggu, Kebaktian kaum
pria, kebaktian kaum wanita, kebaktian pemuda remaja, kebaktian kaum manula,
kebaktian doa, kelompok kecil (klup mingguan), Bible study, KTB dan lain-lain.
b. Kegiatan tidak rutin antara lain: Katekisasi, seminar, penataran, training-training
seperti training keterampilan; training kepemimpinan; training mengajar sekolah
minggu; training musik gerejawi; training memimpin pujian dan lain-lain; pekan
pendidikan

anak,

gelar

talenta.

Catatan

penting

adalah

gereja

harus

mempertimbangkan dan memilih program yang bisa relevan dan sesuai dengan
kebutuhan gereja atau jemaat dan dapat mencapai visi-misi pendidikan. Ada
banyak program pembinaan rohani jemaat dalam gereja, baik rutin maupun tidak
rutin. Namun perlu diingat bahwa tidak semua program tersebut dipakai dalam
gereja, tetapi hendak melihat program pembinaan

yang lebih efektif dalam

masing-masing gereja.
c. Metode yang dipakai dalam setiap kegiatan antara lain: PA, Khotbah, ceramah,
syering atau diskusi, dan bimbingan pribadi. Metode dalam suatu pengajaran atau
pendidikan yang efektif pasti akan menghasilkan penyampaian kebenaran yang
sangat memuaskan. Namun perlu disadari bahwa metode hanyalah alat membantu
jemaat untuk lebih mudah memahami materi pembinaan yang diberikan kepada
mereka, sedangkan lebih dari pada itu adalah dikerjakan oleh Roh Kudus, oleh

karena itu tetap memohon Roh Kudus yang memberkati segala usaha atau upaya
yang dilakukan oleh manusia dalam mencapai kedewasaannya.
6. Perhatikan jenis warga jemaat.
Jemaat terdiri dari orang-orang yang berbeda usia. Perbedaan usia bisa
memperngaruhi proses pembinaan atau pengajaran. Selin itu kebutuhan masingmasing kelompok usia berbeda, karena itu dalam proses pembinaan atau pendidikan
atau pengajaran lebih baik dibagi dalam kelompok usia antara lain: orang tua, lansia,
bujang, orang dewasa, pemuda, Remaja, anak-anak, mahasiswa dan lain-lain.
Memperhatikan jenis warga jemaat merupakan pertimbangan-pertimbangan
penting yang harus dipikirkan karena dengan mengetahui jenis warga jemaat dapat
membuat program yang dapat memenuhi kebutuhan jemaat sesuai dengan
kelompoknya. Langkah-langkah pembuatan program gereja yang berhubungan
dengan visi-misi pendidikan Kristen dalam rangka mentransformasi menurut Warner
dan Ruth Selan adalah:
1. Menentukan kebutuhan jemaat
2. Menentukan tujuan program
3. Membuat program untuk menjawab kebutuhan
4. Menyediakan bahan atau materi
5. Bentuk organisasi dan administrasi dalam melaksanakan program tersebut
6. Mengevaluasi program

7. Pikirkan kebutuhan baru untuk jemaat. Kebutuhan baru dapat ditemukan jika
program sudah dievaluasi.76

C. Rangkuman

Pendidikan Kristen dibangun di atas dasar yang kokoh dan kuat serta pada
pemahaman yang benar. Nilai pendidikan Kristen terletak pada nilai teologisnya, oleh
karena itu pendidikan Kristen dalam gereja haruslah dipahami dalam pengertian bahwa
Allah yang mengajar atau mendidik peserta didik dalam jemaat. Pendidikan Kristen
dipahami sebagai proses memimpin kepada Tuhan, agar mereka mengenal Tuhan,
kemudian dilanjutkan dengan sikap penyerahan dan percaya kepada Tuhan dan pada
akhirnya mereka memuliakan Tuhan. Pendidikan Kristen yang dituntut oleh Tuhan Yesus
adalah pendidikan yang harus mencapai tujuan akhir yaitu ajarlah mereka melakukan
segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Tuhan.
Berdasarkan apa yang menjadi tuntutan atau perintah di atas maka dapat dikatakan
bahwa visi-misi pendidikan Kristen dalam gereja adalah mencapai transformasi yang
benar yaitu transformasi yang melingkupi 3 aspek yaitu pertama: aspek kognitif yang
berhubungan dengan pengetahuan, pengenalan, pemahaman tentang Allah. Kedua aspek
afektif yaitu berkaitan dengan sikap, perasaan, komitmen yang diambil berdasarkan
pengenalan terhadap Tuhan. Ketiga yaitu aspek psikomotor, hal ini berkaitan dengan
tindakan, perbuatan atau praktek yang nyata sebagai hasil dari pengenalan dan
pengetahuannya tentang Tuhan serta komitmen yang telah diambil untuk dilakukan
76

Warne, C, Graendof (ed), Ibid., hlm. 220; RuthF Selan, Ibid., hlm. 35-44.

sepanjang hidupnya. Pendidikan Kristen yang bertujuan mentransformasi manusia, maka


pendidikan itu harus berpusatkan kepada Allah. Hal ini dikarenakan yang diberitakan
adalah tentang Allah dan semua untuk kemuliaan Allah.
Untuk mewujudkan visi-misi pendidikan dalam gereja maka diperlukan program.
Pendidikan Kristen dan program gereja adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Gereja ditetapkan sebagai agen Allah untuk memproklamasikan ajaran-ajaran kepada
dunia. Menyusun program pembinaan berdasarkan visi-misi pendidikan Kristen sangat
penting. Hal ini dikarena pendidikan kristen merupakan bagian dari program gereja yang
diwujudkan dalam program pembinaan rohani jemaat. Namun untuk mewujudkan
pendidikan Kristen tersebut melalui program pembinaan rohani jemaat maka harus
dilandasi pada visi-misi pendidikan Kristen yaitu transformasi.

BAB III
PENERAPAN METODOLOGI

Dalam bab ini penulis akan menguraikan penerapan Metodologi dalam penelitian,
namun sebelum penulis memaparkan beberapa bagian yang berkaitan dengan metode
penelitian penulis terlebih dahulu akan menjelaskan mengenai istilah metodologi
penelitian.

A. Metodologi Penelitian

Dengan mendasarkan diri pada pemahaman istilah secara mendasar mengenai


metode penelitian, Sutrisno menjelaskan istilah metode dan penelitian. Metode
menurutnya adalah suatu cara yang teratur dan proses berfikir secara baik untuk
memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai satu tujuan yang ditentukan.
Sedangkan

penelitian

menurutnya

adalah

suatu

kegiatan

untuk

menemukan,

mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan, usaha yang dilakukan


dengan menggunakan metode-meto depenelitian.77
Sedangkan S Margono berpendapat bahwa penelitian adalah semua kegiatan
pencarian, penyelidikan dan percobaan secara alamiah dalam suatu bidang tertentu, untuk

77

Sutrisno Hadi, Metodologi Reserch Jilid I. Yogyakarta: Andi Offest, 1980, hlm. 4.

mendapatkan fakta-fakta atau prinsip-prinsip baru yang bertujuan untuk mendapatkan


pengertian baru dan menaikkan tingkat78 ilmu dan teknologi.
Dari beberapa pengertian di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa metode
penelitian adalah suatu kegiatan ilmiah untuk menemukan, mengembangkan dan menguji
suatu pengetahuan untuk mendapatkan fakta-fakta atau prinsip-prinsip yang baru dengan
menggunakan cara yang teratur dan berfikir baik-baik untuk memudahkan suatu
pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai satu tujuan yang ditentukan. Menurut Yakub
Tomatala bahwa metodologi riset berhubungan dengan cara yang dipakai untuk
menjawab pertanyaan riset.79
Berkenaan dengan pokok riset yang diteliti mengenai, Studi korelasi antara visi-misi
pendidikan kristen dengan program pembinaan rohani jemaat dan relevansinya bagi
jemaat di Gereja Persekutuan Kristen Jawa Timur. Maka metode yang digunakan oleh
penulis dalam penelitian ini adalah metodologi Kuantitatif dengan pendekatan
operasional objektif empiris dan menggunakan penalaran deduktif yaitu penalaran dari
umum ke khusus sebagaimana yang telah dijelaskan dalam bab pendahuluan.

B. Sampling (Populasi dan Sampel)

Yang dimaksud dengan sampling adalah suatu tindakan penetepan, penentuan


sampel yang dapat mewakili populasi.

Sesungguhnya proses sampling dilakukan

sebelum melakukan riset atau penelitian. Populasi yang dimaksudkan menurut Sugiyono

78

S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta., hlm. 1.


Yakub Tomatala, Penuntun Desain Riset Bagi Perguruan Tinggi Teologi. Jakarta: YT Leadership
Foundation, 2009, hlm 30.
79

adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas
dan karakteristik tertentu yang ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulan. 80 Di sisi lain Margono mengartikan populasi adalah seluruh data
yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan.81
Hal yang senada pula diartikan oleh Ronny dan dikutip oleh Tomatala bahwa populasi
adalah suatu kumpulan menyeluruh dari objek

yang merupakan perhatian peneliti.

Namun ia lebih menegaskan bahwa yang menjadi objek peneliti yang dimaksudkan
adalah dapat berupa makhluk hidup, benda-benda, sistim dan prosedur, fenomena dan
lain-lain.

82

berdasarkan pengertian tersebut maka yang

menjadi populasi dalam

penelitian ini adalah seluruh jemaat umum Gepekris Se Jawa Timur.


Setelah menentukan populasi, maka langkah selanjutnya adalah menentukan sampel
yang akan diteliti. Dalam pengambilan sampel bukan semata-mata karena untuk
kemudahan penelitian tetapi harus benar-benar mewakili populasi. Sampel adalah bagian
dari pupulasi.83 Sampel juga diartikan sebagian dari keseluruhan subjek penelitian yang
dapat dipandang representatif populasi. 84 Dari pengertian di atas maka disimpulkan
bahwa sampel adalah merupakan wakil dari populasi yang ingin diteliti. Suatu sampel
dikatakan representatif apabila ciri-ciri sampel yang berkaitan dengan tujuan peneliti
sama atau hampir sama dengan ciri-ciri populasi. 85 Dengan dekimian informasi yang
didapat dari sampel hampir sama telitinya dengan informasi yang didapat dari populasi.
80

Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi. Tahun 2006, Halaman 90.


S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 1997, halaman 118.
82
Yakob Tomatala&AskaBusthan, Ibid., hlm. 33.
83
[Link], Ibid., hlm. 121.
84
Winarno Surakhmat, Pengantar Penelitian Ilmiah-Dasar Metode Teknik. Bandung: Tarsito, 1990,
hlm. 97.
85
Irawan, Metode Penelitian Sosial, Bandung:REmaja Rosdakarya, 1995, hlm. 58.
81

Sistim pengambilan sampel dalam penelilitan ini adalah dengan menggunakan simple
random sampling . Yang dimaksudn dengan simple random sampling adalah sampel
homogen yang dipilih secara acak, tanpa memperhatikan level atau strata yang ada pada
populasi, karena yang dipilih itu dianggap representatif. Maka sampel yang ditentukan
secara acak oleh peneliti adalah 105 dari 420 orang jemaat Gepekris se Jatim. Atau 25 %
dari jumlah 420.

C. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian seorang peneliti membutuhkan data yang konkrit, dan untuk
memperoleh data yang konkret diperlukan alat penjaringan data yang lazim disebut
teknik pengumpulan data.
Dalam proses pengumpulan data, penulis secara langsung menandatangani tempat
penelitian yaitu seluruh Gereja Persekutuan Kristen (GePeKris) di Jawa Timur. Adapun
tujuan penulis secara langsung menandatangi tempat tersebut adalah agar responden
mudah melakukan pengisian angket dan jika ada pertanyaan yang tidak dimengerti oleh
responden, peneliti dapat menjelaskan secara langsung, selain itu peneliti ingin bertatap
muka langsung.
Namun sebelum melakukan penelitian lapangan, peneliti meminta surat pengantar
dari lembaga dan meminta ijin kepada pengurus BKS GePeKris se-Jatim (Badan Kerja
Sama Gereja Persekutuan Kristen se Jawa Timur) untuk mengadakan penelitian. Setelah
gereja menerima dan memberi ijin maka mulailah peneliti mengumpulkan data dengan
dibantu oleh beberapa majelis dan hamba Tuhan setempat.

D. Penggunaan Instrumen Penelitian


Yang dimaksud dengan instrument penelitian dalam bagian ini adalah alat dan cara
yang akan dipakai untuk mengumpulkan data. Instrumen digunakan untuk mengadakan
pengamatan dan pengukuran atas pendapat, pengetahuan, kecerdasan, keterampilan,
perasaan, dan sikap dari individu atau kelompok orang, atau untuk mengamati dan
menganalisa benda serta unsur lain dari populasi yang diambil sebagai sampel.86
Instrument

yang

diterapkan

dalam

penelitian

ini

adalah

observasi,

dan

angket/kuesioner. Tujuan penulis menggunakan observasi adalah untuk melihat langsung


perilaku manusia dalam hal ini jemaat yang ada di GePekris se Jatim. Yang perlu diingat
pada saat melakukan observasi adalah peneliti harus ingat bahwa dirinya secara otomatis
menjadi instrumen itu sendiri.
Kuesioner atau angket adalah teknik pengumpulan data dari responden yang biasa
digunakan dalam penelitian yang bersifat ilmiah yang menggunakan metodologi
kuantitatif. Dalam hal ini, peneliti menyusun seperangkat pertanyaan tertulis yang
ditujukan kepada responden untuk memperoleh jawaban. Pertanyaan yang disusun
berdasarkan variabel-variabel yang ada pada pokok atau judul riset. Langkah-langkah
yang dilakukan dengan menggunakan metode kuesioner adalah: pertama, peneliti
membuat rumusan kuesioner berdasarkan variabel yang ada dalam pokok penelitian.
Kedua, peneliti merumuskan instrumen yang dibangun di atas variabel yang ada. Ketiga,
peneliti membuat kisi-kisi pertanyaan yang diajukan secara tertulis sepeti dibawah ini:

86

Yakob Tomatala&AskaBusthan, Ibid., ,hlm. 42.

DIMENSI TEORI

Visi

Misi

ASPEK ATAU

NOMOR BUTIR

INDIKATOR

DALAM ANGKET

Pendidikan 1. Aspek

Pemahaman

Kristen yang jelas memiliki

jemaat terhadap visi misi

hubungan yang erat dengan

pendidikan Kristen dalam

program pembinaan rohani

gereja.

1, 2, 3

jemaat, apa bila visi misi


tidak ada maka program itu
tidak
sebaliknya

terarah
apa

dan
bila

program tidak ada maka


visi-misi

tidak

dapat

dicapai dengan baik.


2. Aspek

Visi

Misi

Pendidikan Kristen
a. Kognitif

4, 5, 6

b. Afektif

7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14,

c. Psikomotor

15
16, 17, 18,19, 20, 21, 22,
23, 24

3. Aspek Hubungan VisiMisi Pendidikan Kristen

25, 26,27,28,29

dengan

Program

Pembinaan rohani Jemaat


4. Aspek

program 30, 31, 32, 33,34, 35

pembinaan rohani jemaat


yang

menjadi

pencapaian

sarana

Visi

Misi

Pendidikan Kristen
a. Jenis-jenis program
b. Isi pengajaran dalam
pembinaan
Aspek upaya gereja agar
jemaat
transformasi

mencapai
yang

sesungguhnya

Sedangkan dalam menghitung skor, peneliti menggunakan salah satu skala riset.
Penggunaan skala pengukuran adalah suatu instrument penting yang berhubungan dengan
penggunaan metode kuantitatif dalam peneltian.87 Perhitungan skor dalam penelitian ini
dilakukan dengan kelompok responden dengan menggunakan rumus:

87

Ibid, 49

R
X 100 % = ..%
A

Keterangan:
R = Jumlah Responden
A = Jumlah angket (Skor Angket)88

Sedangkan bentuk tabel pada skala likert adalah:89


Pertanyaannya

100

100%

SS : Sangat Setuju
ST : Setuju
RG: Ragu-ragu
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju
Jumlah

88
89

Ibid, 52
Yakub Tomatala,Penuntun Desain , 54

E. Teknik Analisis Data

Pada prinsipnya ada dua cara analisis data yaitu analisis non statistik (dilakukan
terhadap kualitatif) dan analisis statistik (dilakukan terhadap kuantitatif). 90

Pada

umumnya statistik terbagi dua jenis yaitu statistik deskriptif (digunakan untuk
mendeskripsi data atau membuat ringkasan data pada tahap pertama analisa data).
Sedangkan statistik inferensial (berkaitan dengan hal pembuatan kesimpulan yang
perilaku populasi berdasarkan perilaku sampel). Dalam penelitian yang dilakukan di sini
peneliti menggunakan statistik deskriptif karena peneliti akan mendeskripsikan data dan
membuat ringkasan data pada tahap pertama analis data.
Selain itu, statistik deskriptif juga ditentukan oleh data yang dikumpulkan dan
berorientasi pada tujuan yang hendak dicapai, sabagaimana yang telah dijelaskan di bab I
pendahuluan. Sedangkan bentuk penyajiannya peneliti menggunakan tabel. Menurut
Moh Nazir bahwa ada tiga jenis tabel yang umum dipakai dalam menganalis dan
menafsirkan data yaitu tabel induk (master tabel), tabel teks (teks tabel) dan tabel
frekuensi.91
Tabel induk adalah tabel yang berisi semua data yang tersedia secara terperinci.
Tabel teks adalah tabel yang telah diringkaskan untuk suatu keperluan tertentu. Dan tabel
frekuensi adalah tabel yang menyajikan data berapa kali sesuatu hal terjadi. Dalam
menganalisa data dalam penulisan tesis ini menggunakan tabel frekuensi.92

90

Andreas [Link], Pengantar Riset Kuantitatif dan Pengantar Riset Kualitatif. Bandung: Yayasan
Kalam Hidup, 2004, hlm. 245-264.
91
Moh Nazir, Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985, hlm. 417.
92
Ibid

BAB IV
ANALISIS, INTERPRETASI DAN APLIKASI TEMUAN PENELITIAN

Setelah penulis memaparkan landasan teori di bab II, dan juga telah menjelaskan
langkah-langkah penelitian yang dilakukan, maka pada bagian ini penulis akan
menganalisis temuan penelitian,

menginterpretasi temuan penelitian (Implikasi dan

Korelasi), merumuskan apa yang menjadi aplikasi dari penelitian yang dilakukan, dan
terakhir penulis akan merangkum bagian bab ke empat ini.

A. Analisis Temuan Penelitian

Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa data hasil penelitian
akan disajikan dalam bentuk tabel. Adapun temuan-temuan tersebut dikategorikan dalam
beberapa tipe yaitu:
Aspek I pemahaman jemaat terhadap visi-misi Pendidikan Kristen (tabel 1-3)
Aspek II visi-misi pendidikan Kristen (tabel 4-24)
Aspek III hubungan visi-misi pendidikan Kristen dengan program pembinaan rohani
jemaat (tabel 25-29)
Aspek IV program yang menjadi alat pencapaian visi-misi pendidikan Kristen (tabel 3038).

Aspek I (tabel 1-3)


Pemahaman jemaat terhadap visi-misi pendidikan Kristen
Tabel 1
Jemaat perlu memahami visi-misi pendidikan Kristen
A/N =105
No
1

Item

R/F

46

43, 8

b. Setuju

11

10,5

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

41

39,0

e. Sangat

tidak setuju

6,7

Jumlah

105

100

a. Sangat

setuju

Tabel di atas menunjukan bahwa pentingnya jemaat memahami visi-misi pendidikan


Kristen. Hal ini dibuktikan dengan hasil skor yang diperoleh dimana ada 43,8 %
responden Yang sangat

setuju dan 10,5 yang setuju agar jemaat atau gereja dapat

memahami visi-misi pendidikan Kristen. Sedangkan sisanya adalah 39,0 % yang tidak
setuju dan 6,7 % Yang sangat

tidak setuju gereja memahami visi-misi pendidikan

Kristen.
Walaupun hasil data di atas memperlihatkan hasil antara yang menjawab Sangat
setuju dan setuju hampir seimbang dengan yang menjawab tidak setuju dan sangat
tidak setuju, namun tetap saja hasil di atas lebih menekankan bahwa jemaat rata-rata lebih

setuju bahkan Sangat

setuju apabila jemaat diharapkan dapat memahami visi-misi

pendidikan Kristen. Dimana jumlah total responden antara yang setuju dan Yang sangat
setuju adalah 57 responden atau 54,3 %. Sedangkan jumlah total responden yang
menjawab tidak setuju dan sangat

tidak setuju adalah 48 atau 45,7 %.

Tabel 2
Jemaat perlu bertumbuh sesuai dengan visi-misi pendidikan Kristen
A/N =105
No

Item

R/F

49

46,7

b. Setuju

38

36,1

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

11

10,5

e. Sangat

tidak setuju

6,7

Jumlah

105

100

a. Sangat

setuju

Pada saat peneliti bertanya kepada responden melalui angket apakah pertumbuhan itu
harus sesuai dengan visi-misi pendidikan Kristen? Maka responden menjawab
sebagaimana yang tertera dalam tabel. Tabel di atas memperlihatkan bahwa 46,7 %
responden menjawab Sangat

setuju apa bila jemaat itu bertumbuh sesuai dengan visi-

misi pendidikan Kristen, 36,1 % setuju. Sementara itu ada 10,5 % tidak setujutu bahkan
6,7 % yang sangat

tidak setuju.

Berdasarkan jawaban responden tersebut sesungguhnya tak dapat dipungkiri bahwa


pertumbuhan yang yang harus dialami oleh jemaat adalah pertumbuhan yang sesuai
dengan visi-misi pendidikan Kristen. Maka dengan demikian jemaat harus tahu tentang
visi-misi pendidikan Kristen, sebagaimana pernyataan responden dalam pertanyaan
berikutnya, yaitu pada tabel di bawah ini.

Tabel 3
Hamba Tuhan, pengajar, pembina suatu gereja harus mengkomunikasikan visi-misi
pendidikan Kristen kepada jemaat
A/N =105
No

Item

R/F

28

26,7

b. Setuju

26

24,8

c. Ragu-ragu

10

9,5

d. Tidak setuju

25

23, 8

e. Sangat

tidak setuju

16

15,2

Jumlah

105

100

a. Sangat

setuju

Tabel di atas menunjukan bahwa 26,0 % responden menjawab Sangat

setuju visi-

misi pendidikan Kristen harus dikomunikasikan kepada jemaat, 20,0 % responden setuju
agar visi- misi pendidikan Kristen dikomunikan kepada jemaat. sedangkan 14,3 %
lainnya menyatakan ragu-ragu. Sementara 23, 8 % menyatakan tidak setuju bahkan 15, 2

% yang menyatakan sangat

tidak setuju apabila visi-misi pendidikan Kristen

dikomunikansikan kepada jemaat.


Angka tersebut menolong penulis untuk membaca bahwa rata-rata jemaat setuju
ataupun Sangat

setuju apabila visi-misi pendidikan Kristen tersebut dikomunikasikan

kepada jemaat, agar jemaat termotivasi dalam mengikuti segala pebinaan yang ada dalam
gereja, sebagai upaya gereja dalam melakukan transformasi.

Aspek II
Visi-misi pendidikan Kristen (tabel 4-24)
Tabel 4
Visi-misi pendidikan Kristen sesungguhnya adalah mencapai transformasi manusia
secara utuh
A/N =105
No

Item

R/F

34

32,4

b. Setuju

30

28,6

c. Ragu-ragu

10

9,5

d. Tidak setuju

25

23,8

e. Sangat

tidak setuju

5,7

Jumlah

105

100

a. Sangat

setuju

Pertanyaan yang penting diajukan kepada responden adalah apakah transformasi


manusia itu dilakukan secara utuh atau menyeluruh? Pertanyaan ini ditanggapi oleh 105
responden dengan jawaban yang bervariasi sebagai mana yag tertera dalam tabel.
Tabel di atas menjelaskan 32,4 % responden menanggapi Sangat

setuju bahwa

visi-misi pendidikan Kristen yang sesungguhnya adalah mencapai transformasi manusia


seutuhnya. 28,6 % menyatakan setuju terhadap visi-misi pendidikan Kristen yang
mentransformasi manusia seutuhnya. Namun ada pula 9, 5 % yang ragu-ragu dan 23, 8 %
yang menjawab tidak setuju pada visi-misi pendidikan Kristen yang mentransformasi
manusia seutuhnya bahkan 5,7 menjawab tidak setuju.
Sekalipun jawaban responden sangat bervariasi, namun penulis tetap melihat bahwa
responden lebih cenderung setuju bahkan Sangat

setuju jika transformasi yang

dimaksudkan adalah trasforamsi manusia secara utuh. Yang dimaksud transformasi


manusia secara utuh itu dapat dilihat dalam tabel berikut ini atau tabel ke 5.

Tabel 5
Transformasi manusai secara utuh adalah melingkupi aspek kognitif
A/N =105
No
5

Item

R/F

40

38,1

b. Setuju

32

30,5

c. Ragu-ragu

8,6

d. Tidak setuju

18

17,1

a. Sangat

setuju

e. Sangat

tidak setuju

5,7

Jumlah

105

100%

Tabel di atas menjelaskan bahwa 38,1 % responden yang menjawab Sangat

setuju

dan 30,5 % yang setuju bahwa transformasi yang dimaksudkan dalam pendidikan Kristen
adalah transformasi mengenai unsur atau aspek kognitif. Sedangkan presentasi lainnya
terdiri dari 8,6 % yang menyatakan ragu-ragu atau tidak yakin dengan pasti apabila
transformasi yang harus dicapai dalam pendidikan Kristen menyangkut unsur kognitif.
Kemudian ada 17,1 % yang tidak setuju dan 5,7 % Yang sangat

tidak setuju apabila

dikatakan bahwa transformasi dalam visi-misi pendidikan Kristen berkenaan dengan


unsur kognitif.
Menurut tabel di atas memberi pemahaman dan penegasan bahwa transformasi
manusai secara utuh adalah melingkupi aspek kognitif. Hal ini disimpulkan berdasarkan
jawaban responden yang mejawab Sangat

setuju dan setuju berjumlah 72 responden

atau 68,6 %. Unsur-unsur transformasi kognitif yang dimaksudkan diuraikan dalam


beberap tebel berikut yaitu mulai dari tabel 6 sampai dengan tabel 8

Tabel 6
Transformasi dari unsur kognitif adalah meliputi jemaat memiliki pengetahuan yang
bersumber dari pengajaran dalam gereja
A/N =105
No

Item

R/F

47

44,8

b. Setuju

25

23,8

c. Ragu-ragu

3,8

d. Tidak setuju

21

20,0

e. Sangat

tidak setuju

7,6

Jumlah

105

100

a. Sangat

setuju

Dari data yang tertera dalam tabel sebagai hasil dari perhitungan skor yang dilakukan
dengan kelompok responden, maka nampak bahwa ada 44,8 % jemaat GePeKris se Jatim
Sangat

setuju dan 23,8 % yang menjawab setuju terhadap penyataan bahwa

transformasi secara kognitif meliputi jemaat memiliki pengetahuan terhadap pengajaran


Alkitab dalam gereja. Presentasi lainnya memperlihatkan 3,8 % yang ragu-ragu.
Kemudian

sisanya ada 20,0 % yang menyatakan tidak setuju dan 7,6 % yang

menyatakan sangat

tidak setuju terhadap pernyataan bahwa

transformasi secara

kognitif dapat dilihat dari pengetahuan jemaat terhadap pengajaran Alkitab dalam gereja.
Berdasarkan tabel ini memberi pemahaman bahwa rata-rata jemaat mengakui bahwa
seseorang dikatakan telah mengalami transformasi secara kognitif dilihat dari

pengetahuannya terhadap Firman Tuhan, dimana secara pengetahuan ia semakin banyak


mengetahui tentang kebenaran Firman Tuhan, karena ia terus mempelajarinya bahkan
selalu aktif mengikuti program pembinaan dalam gereja.

Tabel 7
Transformasi dari unsur kognitif meliputi jemaat mengerti pengajaran yang diberikan
dalam gereja
A/N =105
No

Item

R/F

46

43,8

b. Setuju

30

28,6

c. Ragu-ragu

4,8

d. Tidak setuju

15

14,3

e. Sangat

tidak setuju

8,6

Jumlah

105

100

a. Sangat

setuju

Tabel berikut ini memberi gambaran bahwa 43,8 % yang menyatakan sangat setuju
dan 28,6 % yang menjawab setuju bahwa transformasi dari unsur kognitif meliputi
jemaat mengerti pengajaran yang diberikan dalam gereja. Data lainnya menunjukkan
ada yang ragu-ragu dengan jumlah prosentasenya 4,8 %. Kemudian jawaban yang lain
adalah menyatakan tidak setuju dengan jumlah prosentasenya adalah 14,3 % dan 8,6 %
yang menyatakan sangat

tidak setuju.

Menurut perincian angka dalam tabel di atas maka membuktikan bahwa rata-rata
jemaat di GePeKris se Jatim setuju bahkan sangat setuju apabila transformasi dari segi
kognitif meliputi unsur pengertian dan pemahaman jemaat terhadap kebenaran Firman
Tuhan yang diberikan kepada mereka. Hal ini dibuktikan dengan jumlah responden yang
jawab setuju dan Sangat

setuju berjumlah 76 orang atau 72,4 % dari jumlah responden

yang memberi tanggapan.

Tabel 8
Transformasi dari unsur kognitif meliputi unsur penguasaan jemaat terhadap pengajaran
yang diberikan dalam gereja
A/N =105
No

Item

R/F

48

45,7

b. Setuju

40

38,1

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

10

9,5

e. Sangat

6,7

105

100

a. Sangat

Jumlah

setuju

tidak setuju

Tabel di atas memberi penjelasan bahwa ada 45,7 % jemaat yang menyatakan
sangat

setuju dan 38, 1 yang menyatakan setuju bahwa transformasi dari unsur kognitif

mencakup penguasaan jemaat terhadap pengajaran yang diberikan dalam gereja. Ada

pula yang tidak setuju, dalam hal ini ada 9,5 % yang menyatakan tidak setuju dan 6,7 %
menyatakan sangat

tidak setuju terhadap pernyataan bahwa transformasi dari unsur

kognitif mencakup penguasaan jemaat terhadap kebenaran Firman Tuhan atau pengajaran
dalam gereja.
Fakta yang tidak jauh berbeda dengan tabel sebelumnya, maka angka dalam tabel
tersebut membuktikan bahwa rata-rata jemaat di GePeKris se Jatim setuju bahkan Sangat
setuju apabila transformasi dari segi kognitif meliputi unsur penguasaan jemaat terhadap
pengajaran yang diberikan lewat pembinaan yang mereka terima. Hal ini dibuktikan
dengan jumlah responden yang menjawab setuju dan Sangat

setuju berjumlah 88 orang

atau 83,8 % dari jumlah responden yang memberi tanggapan.

Tabel 9
Transformasi manusai secara utuh adalah menyangkut unsur afektif
A/N =105
No

Item

R/F

41

39,0

b. Setuju

42

40,0

c. Ragu-ragu

d. Tidak setuju

11

10,5

e. Sangat

11

10,5

105

100

a. Sangat

Jumlah

setuju

tidak setuju

Berdasarkan perhitungan skor dengan cara menggunakan kelompok responden maka


menghasilkan data sebagai berikut: ada 39,0 % responden yang menjawab sangat setuju
dan 40,0 % yang setuju bahwa transformasi yang dimaksudkan dalam pendidikan Kristen
adalah transformasi mengenai unsur atau aspek afektif. Yang menyatakan tidak setuju
ada 10,5 % dan 10,5 % Yang sangat

tidak setuju bahwa trasformasi tersebut berkaitan

dengan unsur afektif.


Suatu pernyataan atau jawaban yang luar biasa dimana mayoritas atau 79,0 % jemaat
mengakui bahwa transformasi yang hendak dicapai dalam pendidikan Kristen bukan saja
hanya mencakup unsur kognitif tetapi juga unsur Afektif.

Tabel 10
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki perasaan dekat dengan Tuhan
A/N =105
No

Item

R/F

53

50,5

b. Setuju

31

29,5

c. Ragu-ragu

d. Tidak setuju

17

16,2

e. Sangat

3,8

105

100

a. Sangat

Jumlah

setuju

tidak setuju

Dalam tabel sebelumnya memperlihatkan bahwa transformasi itu mencakup unsur


afektif. Maka pada tabel ini dapat dilihat hal-hal apa saja yang termasuk transforamsi
secara afektif. Pada tabel di atas menunjukkan angka yang cukup besar di mana 50,5 %
dari jemaat menyatakan sangat setuju dan 29,5 % yang menyatakan setuju bahwa
transformasi dari segi afektif ditandai dengan jemaat memiliki perasaan dekat dengan
Tuhan. Sedangkan 16,2 % menyatakan tidak setuju dan 3,8 % yang menyatakan sangat
tidak setuju pada pernyataan tersebut di atas.
Berdasarkan tabel ini memberi pemahaman bahwa rata-rata jemaat mengakui bahwa
seseorang yang telah mengalami transformasi secara afektif dapat memiliki kerinduan
dan perasaan dekat dengan Tuhan. Hal ini dibuktikan dengan jumlah responden yang
menjawab pertanyaan sebagaimana yang ada dalam tabel ini.

Tabel 11
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki sikap menyembah Tuhan dalam
hidupnya
A/N =105
No

Item

R/F

16

15,2

b. Setuju

52

49,5

c. Ragu-ragu

1,9

d. Tidak setuju

26

24,8

e. Sangat

8,6

105

100

a. Sangat

setuju

tidak setuju

Jumlah

Pada tabel ini memperlihatkan bahwa transformasi dari unsur afektif ditandai dengan
sikap jemaat yang memiliki sikap menyembah Tuhan dalam hidupnya. Penyataan ini
dibuktikan lewat penelitian di mana ada 15,2 % Yang sangat setuju dan 49,5 % yang
setuju. Dengan pernyataan di atas. Sedangkan 1,9 % ragu-ragu untuk menyatakan
pendapatnya. Dan yang lainya menyatakan 24,8 % yang tidak setuju dan 8,6 % Yang
sangat

tidak setuju pada pernyataan di atas.

Walaupun ada yang menyatakan tidak setuju bahkan sangat

tidak setuju sekalipun,

namun penulis melihat dari penelitian ini cukup membuktikan bahwa visi-misi

pendidikan yang mengahasilkan transformasi dari segi afektif ditandai dengan adanya
sikap jemaat yang menyembah Tuhan dalam hidupnya dan disepanjang hidupnya.

Tabel 12
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki keberanian menghadapi
masalah/perasaan tidak kuatir
A/N =105
No

Item

R/F

35

33,3

b. Setuju

52

49,5

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

6,7

e. Sangat

tidak setuju

11

10,5

Jumlah

105

100

a. Sangat

setuju

Sama dengan tabel yang di atas, bahwa dalam tabel ini juga menjelaskan bahwa
transformasi dari unsur afektif ditandai dengan kehidupan jemaat yang memiliki
keberanian menghadapi masalah/perasaan tidak kuatir. Pernyataan ini pun diperoleh dari
hasil perhitugan skor, di mana ada 33,3 % jemaat Yang sangat setuju dan 49,5 % yang
menyatakan setuju dengan penyataan di atas. Sedangkan 6,7 % menyatakan tidak setuju
dan 10,5 yang menyatakan sangat

tidak setuju dengan pernyataan bahwa transformasi

dengan unsur afektif ditandai oleh kehidupan jemaat yang memiliki keberanian
menghadapi masalah/perasaan kuatir.
Berdasarkan tabel ini memberi pemahaman bahwa rata-rata jemaat mengakui bahwa
seseorang yang telah mengalami transformasi secara afektif memiliki keberanian
menghadapi masalah atau perasaan tidak kuatir. Hal ini dibuktikan dengan jumlah
responden yang menjawab pertanyaan sebagaimana yang ada dalam tabel ini.

Tabel 13
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki kerinduan untuk bersaksi
A/N =105
No

Item

R/F

43

41,0

b. Setuju

42

40,0

c. Ragu-ragu

d. Tidak setuju

10

9,5

e. Sangat

tidak setuju

10

9,5

Jumlah

105

100

a. Sangat

setuju

Dalam tabel ini juga menjelaskan bahwa transformasi dari unsur afektif ditandai
dengan kehidupan jemaat memiliki kerinduan untuk bersaksi. Terbukti dari jawaban
responden yang telah diolah dengan menggukanakan kelompok responden. Hasil yang
diperoleh adalah 41,0 % responden yang menjawab sangat setuju dan 40,0 % yang

menjawab setuju bahwa transformasi secara afektif ditandai dengan kehidupan jemaat
yang selalu rindu untuk bersaksi. Di sisi lain ada juga yang tidak setuju dan Yang sangat
tidak setuju. Yang mana responden yang tidak setuju berkisar 9,5 % dan 9,5 % juga yang
menyatakan tidak setuju terhadap penyataan di atas.
Walaupun dalam tabel di atas ada responden yang menyatakan tidak setuju bahkan
sangat

tidak setuju, namun penulis melihat dari penelitian ini cukup membuktikan

bahwa visi-misi pendidikan yang mengahasilkan transformasi dari segi afektif ditandai
dengan adanya sikap jemaat yang memiliki kerinduan untuk bersaksi.

Tabel 14
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki kerinduan untuk hidup benar dan
kudus di hadapanTuhan
A/N =105
No

Item

R/F

20

19,0

b. Setuju

51

48,6

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

30

28,6

e. Sangat

tidak setuju

3,8

Jumlah

105

100

a. Sangat

setuju

Jawaban dari pertanyaan penelitian pada bagaian ini terlihat dalam tabel di atas, di
mana jawaban responden cukup bervariasi. Yang sangat setuju terdiri dari 19,0 %.
Walaupun angka ini kecil namun didukung oleh jawaban responden yang menjawab
setuju terhadap pernyataan di atas dengan nilai prosentasenya 48,6 %. Sedangkan yang
menjawab tidak setuju ada 28, 6 % dan yang sangat

tidak setuju terhadap pernyataan di

atas ada 3,8 % responden.


Hal ini menggambarkan bahwa rata-rata jemaat mengakui bahwa seseorang yang
telah mengalami transformasi secara afektif memiliki kerinduan untuk hidup kudus di
hadapan Tuhan. Fakta ini dibuktikan dengan jumlah responden yang menjawab
pertanyaan jumlah total yang menjawab setuju dan Sangat setuju adalah 71 responden
atau 67.6 %.

Tabel 15
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki kerinduan untuk mengasihi
Tuhan dan sesama
A/N =105
No

Item

R/F

38

36,2

b. Setuju

25

23,8

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

15

14,3

e. Sangat

tidak setuju

10

9,5

Jumlah

105

100

a. Sangat

setuju

Dalam tabel ini juga menjelaskan bahwa transformasi dari unsur afektif ditandai
dengan kehidupan jemaat memiliki kerinduan untuk mengasihi Tuhan dan sesama.
Terbukti dari jawaban responden yang telah diolah dengan menggukanakan kelompok
responden. Hasil yang diperoleh adalah 36,2 % responden yang menjawab sangat setuju
dan 23,8 % yang menjawab setuju bahwa transformasi secara afektif ditandai dengan
kehidupan jemaat yang selalu rindu untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Di sisi lain ada
juga yang tidak setuju dan Yang sangat

tidak setuju. Yang mana responden yang tidak

setuju berkisar 14,3 % dan 9,5 % juga yang menyatakan tidak setuju terhadap penyataan
di atas.

Tabel 16
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat selalu aktif dalam beribadah
A/N =105
No

Item

R/F

39

37,1

b. Setuju

36

34,3

c. Ragu-ragu

d. Tidak setuju

17

16,2

e. Sangat

tidak setuju

13

12,4

Jumlah

105

100

a. Sangat

setuju

Pada tabel ini juga memperlihatkan jawaban responden yang cukup bervariasi pula di
mana yang sangat

setuju terdiri dari 37,1 %, didukung oleh jawaban responden yang

menjawab setuju terhadap pernyataan di atas dengan nilai prosentasenya 34,3 %.


Sedangkan yang menjawab tidak setuju ada 26,2 % dan yang sangat

tidak setuju

terhadap pernyataan di atas ada 12,4 % responden.


Dari bagian ini dijelaskan bahwa pada umumnya jemaat memberi tanggapan di mana
transformasi dari unsur afektif selain ditandai dengan unsur-unsur yang telah dijelaskan
dalam tabel sebelumnya juga ditandai dengan kerinduan jemaat untuk selalu aktif dalam
beribadah.

Tabel 17
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat beribadah dengan sungguh-sungguh dan
tulus
A/N =105
No

Item

R/F

39

37,2

b. Setuju

38

36,2

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

16

15,2

e. Sangat

tidak setuju

12

11,4

Jumlah

105

100

a. Sangat

setuju

Dari data yang tertera pada tabel ini memperlihatkan ciri yang lain dari transformasi
yang meliputi unsur afektif yaitu jemaat beribadah dengan sungguh-sungguh dan tulus.
Hal ini dapat dilihat dari nilai prosentase yang ada, dimana ada 37,2 % yang sangat
setuju, didukung dengan 36,2 % yang setuju bahwa transformasi berdasarkan unsur
afektif ditandai dengan kesetiaan jemaat untuk beribadah dengan sungguh-sungguh dan
tulus kepada Tuhan. Selain itu pula nampak pula tanggapan dari beberapa jemaat,di mana
ada 15,2 % yang tidak setuju bahkan,

11,4 % yang sangat

tidak setuju dengan

pandangan atau pernyataan yang tertera di atas.


Selain unsur-unsur di atas maka pada tabel ini juga masih menjelaskan unsur-unsur
yang lain tentang hal-hal yang termasuk transformasi dari aspek afektif. Dimana pada

tabel ini mayoritas jemaat GePeKris se jatim menanggapi bahwa unsur lain dari
transformasi yang terlihat dalam aspek afektif adalah meliputi unsur jemaat beribadah
dengan sungguh-sunguh dan tulus.

Tabel 18
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat mau menerima nasehat dan teguran dari
pengajaran Firman Tuhan
A/N =105
No

Item

R/F

42

40,0

b. Setuju

29

27,6

c. Ragu-ragu

d. Tidak setuju

23

21,9

e. Sangat

11

10,5

105

100

a.

Sangat

Jumlah

setuju

tidak setuju

Selanjutnya dalam tabel ini memperlihatkan transformasi dari unsur afektif ditandai
dengan sikap jemaat yang mau menerima nasehat dan teguran dari pengajaran Firman
Tuhan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa 40,0 % responden menjawab sangat setuju dan
ditambah dengan 26,6 % yang menjawab setuju terhadap pernyataan di atas. Dan ada
pula 21,9 % yang tidak setuju dan 10,5 % yang sangat tidak setuju terhadap penyataan di

atas, namun tidak mempengaruhi keyakinan bahwa transformasi dari unsur afektif itu
ditandai dengan sikap jemaat yang mau menerima nasehat dan teguran dari pengajaran.
Berdasarkan pemaparan data dalam tabel ini maka dapat diperoleh sebuah
kesimpulan bahwa unsur trasformasi yang lain dari segi aspek afektif adalah unsur yang
meliputi jemaat mau menerima nasehat dan teguran dari pengajaran Firman Tuhan.
Unsur ini juga adalah unsur yang tidak kalah penting dari unsur-unsur yang sebelumya
telah dijelaskan.

Tabel 19
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat mampu mengatasi cobaan dalam hidup
A/N =105
No

Item

R/F

38

36,2

b. Setuju

32

30,5

c. Ragu-ragu

6,6

d. Tidak setuju

17

16,2

e. Sangat

11

10,5

105

100

a. Sangat

Jumlah

setuju

tidak setuju

Tabel yang lain memperlihatkan bahwa transformasi dari unsur afektif salah satunya
ditandai dengan kemampuan jemaat dalam mengatasi cobaan dalam hidup. Di mana
melalui tabel ini memperlihatkan ada 36,2 % yang sangat setuju dan 30,5 % yang setuju

dengan pernyataan di atas. Namun ada juga responden yang ragu-ragu berjumlah 6,6 %.
Sedangkan yang lainnya adalah 16,2 yang menjawab tidak setuju dan 10,5 yang
menyatakan sangat

tidak setuju dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa

transformasi dari unsur afektif ditandai dengan kemampuan jemaat dalam mengatasi
cobaan dalam hidup jemaat masing-masing.
Pada tabel ini juga memperlihatkan unsur transformasi lain dari segi aspek afektif,
dan merupakan unsur yang sama-sama penting dengan unsur-unsur yang lainnya. Unsur
trasformasi tersebut adalah unsur yang meliputi jemaat mampu mengatasi cobaan dalam
hidupnya.93

Tabel 20
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat mampu mengelolah segala berkat Tuhan
A/N =105
No

Item

R/F

31

27,6

b. Setuju

45

42,9

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

18

17,1

a. Sangat

93

setuju

Banyak orang pergi rajin ke gereja, namun sedikit diantaranya yang rajin baca Firman Tuhan ataupun
mendengar Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kalau tidak membaca Alkitab dan juga tidak mau
mendengar Firman Tuhan dengan sugguh-sunguh bahkan mempraktekkan Firman Tuhan itu maka jemaat
yang bersangkutan tidak mampu mengatasi dan menghadapi cobaan yang menimpa dirinya karena tidak
memiliki kekuatan yang sejati. Maka hasilnya ketika menjalani hidup yang dihiasi dengan berbagai cobaan
dan masalah maka yang bersangkutan hanyabersungut-sungut, menyalahkan orang lain, menyalahkan diri
sendiri, frustasi dan lain-lain. Sikap seperti ini menunjukkan sikap yang tidak dewasa dalam iman dan
kerohanian.

e. Sangat

tidak setuju

Jumlah

11

10,5

105

100

Tabel ini memperlihatkan transformasi dari unsur afektif ditandai kemampuan jemaat
dalam mengelolah segala berkat Tuhan. Data ini terlihat dalam tabel di mana ada 27,6 %
yang sangat setuju, dan 42,9 % responden yang menjawab setuju pada pernyataan yang
menyebutkan bahwa transformasi dari segi afektif ditandai dengan kemampuan jemaat
dalam mengelolah segala berkat Tuhan baik. Namun ada 17,1 % yang tidak setuju dan
10,5 % yang sangat tidak setuju terhadap pernyataan di atas.
Maka berdasarkan hasil atau angka yang dipaparkan di atas, dapat diartikan bahwa
mayoritas jemaat di GePeKris se Jatim mendukung bahwa transformasi dari unsur afektif
adalah meliputi jemaat mampu mengelolah segala berkat Tuhan.94 Hal ini dibuktikan
dengan jumlah responden yang memberi tanggapan pada pertanyaan di atas, di mana
jumlah keseluruhan responden yang mendukung bahwa transformasi dari unsur afektif
adalah meliputi jemaat mampu mengelolah segala berkat Tuhan berjumlah 76 responden
yang menjawab setuju dan sangat setuju atau 70,5 %.

94

Penulis yang status pelayanannya sebelum mengajar di STT IAA adalah melayani secara penuh di
beberapa gereja. Dan pengalaman ketika di gereja tidak jarang penulis mendengar keluhan dari jemaat
masalah uang, kebutuhan sehari-hari biaya studi dan lain-lain, serba kekurangan. Pada hal sesungguhnya
jemaat-jemaat tersebut ada mendapatkan penghasilan sekalipun untuk mendapat penghasilan tersebut
dengan susah payah, namun bukan berarti jemaat tidak berpenghasilan sama sekali. Namun yang terdengar
dari keluhan mereka adalah seolah-olah jemaat-jemaat ini tidak diberkati oleh Tuhan sehinga sering kali
yang menjadi alasan bagi mereka jika mereka tidak ke gereja adalah tidak ada uang untuk transport, tidak
ada uang untuk persembahan. Dalam waktu yang cukup lama kurang lebih 5 tahun pelayanan di gereja
tersebut penulis memperhatikan kelemahan mereka adalah dalam mengelolah keuangan atau berkat yang
mereka terima tidak terfokus, sehingga berapapun yang mereka dapat tidak kelihatan. Penulis berpikir
bahwa ini adalah masalah kedewasaan yang tidak mampu mengelolah berkat Tuhan dalam hidup mereka.
Karena itu gereja pun berperan mengajarkan kepada jemaat bagaimana jemaat memandang berkat Tuhan
itu dengan hati yang bersyukur dan penuh tanggung jawab, sehingga mereka bisa kelolah dengan baik, dan
tidak merasa kekurangan.

Tabel 21
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat mampu mengelolah waktu dengan baik
A/N =105
No

Item

R/F

42

40,0

b. Setuju

29

27,6

c. Ragu-ragu

d. Tidak setuju

11

10,5

e. Sangat

tidak setuju

23

21,9

Jumlah

105

100

a.

Sangat

setuju

Tabel ini memperlihatkan transformasi dari unsur afektif ditandai oleh kemampu
jemaat mengelolah waktu dengan baik. Hal ini dibuktikan bahwa 40,0 % menjawab
sangat setuju dan 27,7 % yang menyatakan setuju terhadap pernyataan yang mengatakan
bahwa transformasi dari unsur afektif ditandai oleh kemampuan jemaat mengelolah
waktu dengan baik. Sedangkan 10,5% menyatakan tidak setuju bahkan 21,9 %
menyatakan sangat

tidak setuju pada penyataan yang mengatakan bahwa transformasi

dari unsur afektif ditandai oleh kemampuan dari jemaat dalam mengelolah waktu dengan
baik.
Selain unsur-unsur di atas, maka pada tabel ini juga memperlihatkan unsur yang lain.
Di mana yang termasuk unsur transformasi dari aspek afektif adalah jemaat mampu
mengelolah waktu dengan baik

Tabel 22
Transformasi manusai secara utuh adalah meliputi unsur Psikomotor
A/N =105
No

Item

R/F

31

29,5

b. Setuju

32

30,5

c. Ragu-ragu

12

11,4

d. Tidak setuju

25

23,8

e. Sangat

tidak setuju

4,8

Jumlah

105

100

a.

Sangat

setuju

Berdasarkan perhitungan skor dari jawaban responden dengan cara menggunakan


kelompok responden maka menghasilkan data sebagai berikut: ada 29,5 % responden
yang menjawab sangat setuju dan 30,5 % yang setuju bahwa transformasi yang
dimaksudkan dalam pendidikan Kristen adalah transformasi yang meliputi psikomotor.
Yang menyatakan tidak setuju ada 23,8 % dan 4,8 % yang sangat tidak setuju bahwa
trasformasi tersebut berkaitan dengan unsur psikomotor. Sedangkan 11,4 % menyatakan
ragu-ragu.
Menurut tabel di atas memberi pemahaman dan penegasan bahwa transformasi
manusai secara utuh selain aspek kognitif dan aspek afekti juga ada aspek yang juga
penting adalah aspek psikomotor. Hal ini disimpulkan berdasarkan jawaban responden
yang mejawab sangat setuju dan setuju berjumlah 63 responden atau 60 %. Unsur-unsur

transformasi psikomotor yang dimaksudkan diuraikan dalam beberapa tebel berikut yaitu
mulai dari tabel 23 sampai dengan tabel 28.

Tabel 23
Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia melakukan Firman Tuhan
dalam hidupnya
A/N =105
No

Item

F/ A (Skor Angket)

45

42,9

b. Setuju

37

35,2

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

13

12,4

e. Sangat

tidak setuju

10

9,5

Jumlah

105

100

a. Sangat

setuju

Tabel ini memperlihatkan transformasi dari unsur psikomotorik ditandai dengan


melihat jemaat setia melakukan Firman Tuhan dalam hidupnya. Penyataan ini didukung
oleh responden yang menjawab sangat setuju berjumlah 42,9 % dan disusul dengan 35,2
% yang menjawab setuju. Ini merupakan angka yang tinggi. Sementara responden
lainnya menjawab tidak setuju dengan jumlah prosentasenya 12,4 % dan 9,5 menjawab
sangat

tidak setuju terhadap pernyataan yang menyebutkan transformasi dari unsur

psikomotorik ditandai dengan melihat jemaat setia melakukan Firman Tuhan dalam
hidupnya
Melalui tebel ini memperlihatkan unsur transformasi dari aspek Psikomotor. Hal
yang dimaksudkan adalah transformasi dimana jemaat menjadi lebih setia melakukan
Firman Tuhan dalam hidupnya.95 Dari bagian ini memperjelas bahwa transformasi yang
seharusnya dicapai dalam pembinaan rohani jemaat tidak hanya terbatas pada aspek
kognitif dan aspek afektif.

Tabel 24
Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia bersekutu dengan Tuhan baik
kelompok maupun secara pribadi
A/N =105
No

Item

R/F

49

46,7

b. Setuju

36

34,3

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

7,6

e. Sangat

12

11,4

105

100

a. Sangat

Jumlah

setuju

tidak setuju

95
Kata setia disebutkan dalam kitab Galatia 5: 22, di mana kata tersebut digolongkan sebagai kata
yang menunjukkan tentang buah-buah roh, atau menunjukkan kehidupan seorang anak Tuhan yang
mengalami pertobatan dan pertumbuhan dalam mengikut Tuhan.

Dalam tabel ini memperlihatkan sebuah kesimpulan bahwa transformasi dari unsur
psikomotorik ditandai oleh kesetian jemaat bersekutu dengan Tuhan baik kelompok
maupun secara pribadi. Dalam hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila prosentase
yang diperoleh dari hasil mengelolah skor antara lain: 46,7 % responden yang menjawab
sangat setuju dan 34,3 % responden yang menjawab setuju pada penyataan yang
menyebutkan unsur transformasi dari psikomotor ditandai dengan kesetiaan jemaat
bersekutu dengan Tuhan. Sementara itu ada pula 7,6 % yang tidak setuju bahkan 11,4 %
responden lainnya menjawab sangat

tidak setuju terhadap pernyataan di atas.

Tabel 25
Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia baca Alkitab
A/N =105
No

Item

R/F

42

40,0

b. Setuju

40

38,1

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

15

14,3

e. Sangat

7,6

105

100

a. Sangat

Jumlah

setuju

tidak setuju

Dalam tabel ini memperlihatkan perbandingan nila prosentase yang diperoleh dari
hasil mengelolah skor antara lain: 40,0 % responden yang menjawab sangat setuju dan

38,1 % responden yang menjawab setuju pada penyataan yang menyebutkan unsur
transformasi dari psikomotor ditandai dengan kesetiaan jemaat membaca Alkitab.
Sementara itu ada pula 14,3 % yang tidak setuju bahkan 7,6 % responden lainnya
menjawab sangat tidak setuju terhadap pernyataan di atas.
Berdasarkan pemaparan data dalam tabel ini maka dapat diperoleh sebuah
kesimpulan bahwa unsur transformasi yang lain dari segi aspek psikomotor adalah unsur
yang ditandai dengan jemaat setia membaca Alkitab. Unsur ini juga adalah unsur yang
tidak kalah penting dari unsur-unsur yang telah dijelaskan pada tabel sebelumya.

Tabel 26
Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia berdoa
A/N =105
No

Item

R/F

49

46,7

b. Setuju

23

21,9

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

25

23,8

e. Sangat

7,6

105

100

a. Sangat

Jumlah

setuju

tidak setuju

Angka yang tertera dalam tabel ini memperlihatkan transformasi dari unsur
psikomotorik ditandai oleh kesetian jemaat untuk berdoa. Dalam hal ini dapat dilihat dari

perbandingan nila prosentase yang diperoleh dari hasil mengelolah skor antara lain: 46,7
% responden yang menjawab sangat

setuju dan 21,9 % responden yang menjawab

setuju pada penyataan yang menyebutkan unsur transformasi dari psikomotor ditandai
dengan kesetiaan jemaat untuk berdoa. Sementara itu ada pula 23,8 % yang tidak setuju
bahkan 7,6 % responden lainnya menjawab sangat tidak setuju terhadap pernyataan di
atas.
Dari data

yang berbeda-beda di atas maka semakin memperjelas dan memberi

keyakinan untuk mengakui bahwa memang unsur yang diharapakan maupun diinginkan
untuk terjadi transformasi dari segi aspek psikomotor adalah meliputi adanya kesetiaan
jemaat dalam berdoa.96

96
Seseorang jemaatyang bersaksi pada saat ibadah minggu, beliau mengatakan bahwa dulunya
sebelum ia bertobat hidupnya tidak benar, ada masalah maka beliau menyelesaikan masalah itu dengan
tidak benar, misalnya: judi, mabuk, main perempuan, berbisnis dengan cara yang jelek di mata Tuhan. Tapi
kini belia mengatakan setelah hidupnya ditegur dengan keras oleh Tuhan belia mengambil keputusan untuk
bertobat dan mulai belajar menghadapi setiap masalah dengan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.
Awalnya beliau sulit untuk melakukannya tetapi ia terus mencoba, walaupun sering gagal, tetapi semakin ia
terus mencoba dekat dengan Tuhan dalam doa semakin ia merasakan bahwa hidup dalam doa itu memang
amat luar biasa. Hingga kini beliau sangat setia berdoa bukan hanya saja ketika diterpa masalah tetapi
disaat-saat suka cita pun ia selalu berdoa untuk mensyukuri segala sesuatu anugrah Tuhan dalam Hidupnya.
Contoh semacam inilah yang dikatakan telah mengalami transforamasi secara psikomotor.

Tabel 27
Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia melayani
A/N =105
No

Item

R/F

42

40,0

b. Setuju

39

37,1

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

13

12,4

e. Sangat

11

10,5

105

100

a.

Sangat

setuju

tidak setuju

Jumlah

Dalam tabel ini memperlihatkan transformasi dari unsur psikomotorik ditandai oleh
kesetian jemaat melayani. Dalam hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila prosentase
yang diperoleh dari hasil mengelolah skor antara lain: 40,0 % responden yang menjawab
sangat

setuju dan 37,1 % responden yang menjawab setuju pada penyataan yang

menyebutkan unsur transformasi dari psikomotor ditandai dengan kesetiaan jemaat untuk
melayani. Sementara itu ada pula 12,4 % yang tidak setuju bahkan 10,5 % responden
lainnya menjawab sangat

tidak setuju terhadap pernyataan di atas.

Dengan nilai atau angka-angka yang tertera dalam tabel di atas menunjukkan bahwa
rata-rata jemaat mengakui bahwa unsur yang lain dari transformasi manusia yang dilihat

dari aspek psikomotor dan tidak kalah penting dari unsur-unsur transformasi sebelumnya
adalah setia melayani Tuhan.97

Tabel 28
Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat menyangkal diri dari segala godaan
iblis
A/N =105
No

Item

R/F

49

46,7

b. Setuju

29

27,6

c. Ragu-ragu

2,9

d. Tidak setuju

20

19,0

e. Sangat

3,8

105

100

a. Sangat

setuju

tidak setuju

Jumlah

Hasil yang ditujukan melalui tabel ini adalah 46,7 % responden yang menjawab
sangat

setuju dan 27,6 % responden yang menjawab setuju pada penyataan yang

menyebutkan unsur transformasi dari psikomotor ditandai dengan kesetiaan jemaat


membaca Alkitab. Sementara itu ada pula 19,0 % yang tidak setuju bahkan 3,8 %
responden lainnya menjawab sangat

tidak setuju terhadap pernyataan di atas.

Sedangkan 2,9 % ragu ragu.


97
Kata setia adalah salah satu perintah Allah kepada setiap orang percaya. Dalam wahyu 2:10 berbunyi
demikian Hendaklah engkau setia sampai mati, dan aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota
kehidupan.

Walaupun dalam tabel di atas ada responden yang menyatakan tidak setuju bahkan
sangat

tidak setuju, namun penulis melihat dari penelitian ini cukup membuktikan

bahwa transformasi dari unsur psikomotorik ditandai dengan unsur jemaat menyangkal
diri dari segala godaan iblis. Hal ini dibuktikan dengan jumlah antara yang setuju dengan
yang sangat setuju benilai 78 responden atau 74,3%. Ini merupakan nilai yang sangat
tinggi.

Aspek IV
Hubungan visi-misi Pendidikan Kristen
dengan program pembinaan rohani jemaat (tabel 29-33)
Tabel 29
Visi-misi pendidikan Kristen berhubungan erat dengan program pembinaan rohani jemaat
A/N =105
No

Item

R/F

42

40,0

b. Setuju

36

34,3

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

26

24,8

e. Sangat

0,9

105

100

a. Sangat

Jumlah

setuju

tidak setuju

Pada tebel berikut ini menyatakan adanya hubungan antara visi-misi pendidikan
Kristen dengan program pembinaan rohani jemaat dalam gereja. Hal ini dapat dilihat dari
perbandingan nila prosentase yang diperoleh dari hasil mengelolah skor antara lain: 40,0
% responden yang menjawab sangat setuju dan 34,3 % responden yang menjawab setuju
pada penyataan yang menyebutkan adanya hubungan antara visi-misi pendidikan Kristen
dengan program pembinaan rohani jemaat dalam gereja. Sementara itu ada pula 24,8 %
yang tidak setuju bahkan 0,9 % responden lainnya menjawab sangat tidak setuju terhadap
pernyataan di atas.

Tabel 30
Visi-misi Pendidikan Kristen merupakan alat yang mengarahkan program
A/N =105
No

Item

R/F

35

33,3

b. Setuju

40

38,1

c. Ragu-ragu

6,7

d. Tidak setuju

14

13,3

e. Sangat

8,6

105

100

a. Sangat

Jumlah

setuju

tidak setuju

Pada tebel berikut ini menyatakan hubungan antara visi-misi pendidikan Kristen
dengan program pembinaan rohani jemaat. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila

prosentase yang diperoleh dari hasil mengelolah skor antara lain: 33,3 % responden yang
menjawab sangat

setuju dan 38,1 % responden yang menjawab setuju pada penyataan

yang menyebutkan bahwa visi-misi Pendidikan Kristen merupakan alat yang


mengarahkan program. Sementara itu ada pula 13,3 % yang tidak setuju bahkan 8,6 %
responden lainnya menjawab sangat tidak setuju terhadap pernyataan di atas. Sedangkan
6,7 % lainnya menyatakan tanggapan ragu-ragu.
Apabila melihat hasil perhitungan angket tersebut sebagaimana yang tertera pada
tabel di atas maka jelas bahwa visi-misi itu merupalan alat atau patokan yang
mengarahkan program. Program tak dapat berjalan sendiri dan terarah dengan baik
apabila tidak ada visi-misi yang jelas untuk dicapai.

Tabel 31
Program pembinaan rohani
merupakan sarana pencapaian visi-misi pendidikan Kristen dalam gereja
A/N =105
No

Item

R/F

42

40,0

b. Setuju

29

27,6

c. Ragu-ragu

0.0

d. Tidak setuju

25

23,8

e. Sangat

8,6

105

100

a. Sangat

Jumlah

setuju

tidak setuju

Pada tebel berikut ini menyatakan hubungan antara visi-misi pendidikan Kristen
dengan program pembinaan rohani jemaat. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila
prosentase yang diperoleh dari hasil mengelolah skor antara lain: 40,6 % responden yang
menjawab sangat

setuju dan 27,6 % responden yang menjawab setuju pada penyataan

yang menyebutkan bahwa program pembinaan rohani merupakan sarana pencapaian visimisi pendidikan Kristen dalam gereja. Sementara itu ada pula 23,8 % yang tidak setuju
bahkan 8,6 % responden lainnya menjawab sangat

tidak setuju terhadap pernyataan di

atas.
Apabila pada tabel sebelumnya, yaitu tabel 30 menjelaskan tentang hubungan visimisi pendidikan kristen dengan program pembinaan rohani jemaat yang tidak lin dari
bahwa visi-misi pendidikan Kristen merupakan alat yang mengarahkan program. Maka
pada tabel berikut ini menjelaskan hubungan yang lain yaitu bahwa program merupakan
sarana pencapaian visi-misi pendidikan Kristen dalam gereja. Dengan kata lain bahwa
antara visi-misi pendidikan Kristen tersebut sesungguhnya memiliki hubungan timbal
balik dan hubungan tersebut sangat

erat kaitannya.

Tabel 32
Tanpa visi-misi, program tidak terarah dan terfokus pada sasaran
A/N =105
No

Item

R/F

37

35,3

b. Setuju

31

29,5

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

27

25,7

e. Sangat

10

9,5

105

100

a. Sangat

Jumlah

setuju

tidak setuju

Hasil prosentase pada tebel ini menyatakan bahwa tanpa visi-misi program tidak
terarah dan terfokus. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila prosentase yang
diperoleh dari hasil mengelolah skor antara lain: 35,3 % responden yang menjawab
sangat setuju dan 29,5 % responden yang menjawab setuju pada penyataan yang
menyebutkan bahwa tanpa visi-misi, program tidak terarah dan terfokus pada sasaran.
Sementara itu ada pula 25,7 % yang tidak setuju bahkan 9,5 % responden lainnya
menjawab sangat tidak setuju terhadap pernyataan di atas.
Hal ini semakin menegaskan hubungan yang sangat erat dan penting antara visi-misi
pendidikan Kristen dengan program pembinaan rohani jemaat. Ibarat seorang penembak,
di mana ketika seorang penembak melepaskan busur panah maka tentu sebelumnya ia
telah memikirkan dan menetapkan sebuah titik atau sasaran dimana nantinya busur panah

tersebut akan tertancap. Sekalipun terkadang ketika busur panah yang dilepaskan
tertancap dengan meleset atau tidak mengenai titik yang telah ditentukan. Namun karena
sudah ada titik yang jelas maka pemanah tersebut dapat lebih gampang menilai dan
mengevaluasi bahwa ia belum sampai pada sasarannya. Maka ia terus berjuang,
berlatih,memperbaiki sehingga ia sampai pada sasaran.
Demikian pula dengan visisi misi pendididikan kristen. Ketika visi-misi pendidikan
kristen sudah jelas, maka ketika program yang telah dilaksanakan tidak mencapai sasaran
atau kurang maka lebih mudah untuk menilai dan mengevaluasi serta memperbaikinya.

Aspek V
Jenis program yang menjadi sarana pencapaian visi-misi pendidikan Kristen
Tabel 33
Program rutin ibadah: ibadah umum, ibadah komisi, kebaktian doa, PA, dan lain-lain
A/N =105
No

Item

R/F

31

29,5

b. Setuju

37

35,3

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

27

25,7

e. Sangat

10

9,5

105

100

a. Sangat

Jumlah

setuju

tidak setuju

Pada tabel berikut ini menguraikan jenis program yang menjadi sarana pencapaian
visi-misi pendidikan Kristen. Yang mana melalui tabel ini menyebutkan salah satu jenis
program untuk mencapai visi-misi pendidikan Kristen adalah Program rutin ibadah:
ibadah umum, ibadah komisi, kebaktian doa, PA, dan lain-lain.
Hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila prosentase yang diperoleh dari hasil
mengelolah skor antara lain: 29,5 % responden yang menjawab sangat setuju dan 35,3 %
responden yang menjawab setuju pada penyataan yang menyebutkan salah satu jenis
program adalah Program rutin ibadah: ibadah umum, ibadah komisi, kebaktian doa, PA,
dan lain-lain. Sementara itu ada pula 25,7 % yang tidak setuju bahkan 9,5 % responden
lainnya menjawab sangat

tidak setuju terhadap pernyataan di atas.

Tabel 34
Program tidak rutin ibadah: Pembangunan, KKR, Ibadah Padang, Natal, Paskah dan lainlain
A/N =105
No

Item

R/F

30

28,6

g. Setuju

37

35,3

h. Ragu-ragu

2,9

i. Tidak setuju

25

23,8

j. Sangat

10

9,5

105

100

f. Sangat

Jumlah

setuju

tidak setuju

Apabila pada tabel sebelumnya, yaitu tabel 33 menjelaskan program gereja yang
dapat menjadi sarana pencapaian visi-misi pendidikan Kristen adalah program rutin,
maka pada tabel ini menyebutkan jenis program yang lain dalam rangka pembinaan
rohani jemaat adalah Program tidak rutin seperti pembangunan, KKR, ibadah padang,
natal, paskah dan lain-lain.
Hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila prosentase yang diperoleh dari hasil
mengelolah skor antara lain: 28,6 % responden yang menjawab sangat setuju dan 35,3 %
responden yang menjawab setuju pada penyataan yang menyebutkan salah satu jenis
program adalah program tidak rutin seperti pembangunan, KKR, ibadah padang, natal,
paskah

dan lain-lain. Sementara itu ada pula 23,8 % yang tidak setuju bahkan 9,5 %

responden lainnya menjawab sangat


Sedangkan 2,9 % menyatakan ragu-ragu.

tidak setuju terhadap pernyataan di atas.

Tabel 35
Program konseling pastoral
A/N =105
No

Item

R/F

37

35,3

b. Setuju

31

29,5

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

27

25,7

e. Sangat

10

9,5

105

100

a. Sangat

setuju

tidak setuju

Jumlah

Selain program rutin dan program tidak rutin, maka ada pula prgram pendukung
lainnya sebagaimana yang disebutkan pada tabel 35 ini. Di mana pada tabel berikut ini
menguraikan jenis program lain yang menjadi sarana pencapaian visi-misi pendidikan
Kristen adalah pastoral konseling.
Hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila prosentase yang diperoleh dari hasil
mengelolah skor antara lain: 35,3 % responden yang menjawab sangat setuju dan 29,5 %
responden yang menjawab setuju pada penyataan yang menyebutkan salah satu jenis
program adalah pastoral konseling. Sementara itu ada pula 25,7 % yang tidak setuju
bahkan 9,5 % responden lainnya menjawab sangat tidak setuju terhadap pernyataan di
atas.

Tabel 36
Program katekisasi
A/N =105
No

Item

R/F

40

38,1

b. Setuju

25

23,8

c. Ragu-ragu

4,8

d. Tidak setuju

25

23,8

e. Sangat

10

9,5

105

100

a. Sangat

setuju

tidak setuju

Jumlah

Pada tabel berikut ini menguraikan jenis program lain yang menjadi sarana
pencapaian visi-misi pendidikan Kristen. Yang mana dalam tabel ini menyebutkan salah
satu jenis program adalah katekisasi. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila
prosentase yang diperoleh dari hasil mengelolah skor antara lain: 35,3 % responden yang
menjawab sangat setuju dan 29,5 % responden yang menjawab setuju pada penyataan
yang menyebutkan salah satu jenis program adalah katekisasi. Sementara itu ada pula
25,7 % yang tidak setuju bahkan 9,5 % responden lainnya menjawab sangat tidak setuju
terhadap pernyataan di atas
Dari perbandingan prosentase di atas membuktikan bahwa program yang dapat
menjadi sarana pencapaian tujuan bukan saja hanya program rutin, program tidak rutin,
maupun program konseling namun ada juga program lain yang juga tidak kalah penting,

yaitu program pembinaan rohani jemaat melalui katekisasi. Katekisasi diberikan bukan
hanya sekedar formalitas atau sudah tradisi dalam gereja, namun ada suatu sasaran yang
harus dicapai. Bukan sekedar memenuhi persayaratan untuk di babtis tetapi terlebih dari
pada itu agar peserta katekisasi semakin memahami, mengenal Allah dan mau bertumbuh
ke dalam pengenalan itu melalui sikap mereka dalam memuliakan Allah melalui hidup
mereka.

Tabel 37
Program training pelayanan
A/N =105
No

Item

R/F

50

47,6

b. Setuju

18

17,1

c. Ragu-ragu

6,7

d. Tidak setuju

15

14,3

e. Sangat

15

14,3

105

100

a. Sangat

Jumlah

setuju

tidak setuju

Dalam tabel ini memberi gambaran jumlah prosentase responden yaitu 47,6 %
menyatakan sangat setuju jika gereja memberikan training pelayanan kepada jemaat, 12,1
% yang setuju untuk memberikan training pelayanan kepada jemaat. Kemudian 6,7
adalah presponden yang [Link]. Sedangkan 14,3 % adalah prosentase jawaban yang

menyatakan tidak setuju bahkan ada14,3 % pula yang menyatakan sangat tidak setuju
jika gereja memberikan training pelayanan kepada jemaat. Hal ini berarti bahwa training
untuk pelayanan itu sangat

penting sekali.

Program yang lainnya juga diuraikan dalam tabel ini, yang mana program disebutkan
bahwa program training pelayanan merupakan juga program pembinaan rohani jemaat
yang dapat digunakan untuk mencapai visi-misi pendidikan Kristen. hamba Tuhan tidak
saja hanya berkhotbah agar jemaat melayani Tuhan dengan baik, sementara jemaat tidak
punya skill dalam hal [Link] hamba Tuhan harus menyediakan wadah bagi mereka
untuk dilatih bagaimana mereka bisa melayani dengan baik sehingga ketika mereka
mendengar khotbah bahwa setiap orang atau orang percaya harus melayani Tuhan maka
mereka dapat melakukan itu karena mereka sudah di latih.

Tabel 38
Training berbagai keterampilan upaya gereja menolong jemaat yang tidak memiliki
pekerjaan
A/N =105
No

Item

R/F

38

36,2

b. Setuju

28

26,7

c. Ragu-ragu

0,0

d. Tidak setuju

25

23,8

e. Sangat

14

13.3

105

100

a. Sangat

setuju

tidak setuju

Jumlah

Dalam tabel ini menjelaskan bahwa salah satu upaya gereja untuk menolong jemaat
yang tidak memiliki pekerjaan dengan cara memberikan berbagai training atau pelatihan.
Hal ini dapat dilihat dari prosentase jawaban yang ada dalam tabel, dimana 36,2 % yang
menjawab sangat

setuju dan didukung dengan 26,7 % yang menjawab setuju terhadap

upaya yang seharus diberikan oleh gereja. Sedangkan 23,8 % menyatakan tidak setuju
dan 13,3 % menyatakan sangat

tidak setuju.

B. Interpretasi Temuan Penelitian (Implikasi dan Korelasi)

Setelah semua data disajikan dalam tabel di atas maka pada bagian ini akan
dilakukan pembahasan atau interpretasi temuan penelitian (implikasi dan korelasi) dan
menghubungkan teori yang dipaparkan dalam bab II dengan hasil temuan penelitian
Sebagaimana dikatakan dalam bab II bahwa visi-misi pendidikan Kristen itu penting
dalam pelaksanaan program pembinaan rohani jemaat. Bahkan dibuktikan dalam
penelitian ini yang penulis lakukan dan dihasilkan sebuah data yang tertera dalam aspek
I, tabel 1-3, yang mengakui bahwa visi-misi pendidikan Kristen itu penting. Bahkan
seharusnya visi-misi pendidikan Kristen itu harus dikomunikasikan kepada jemaat agar
jemaat tahu dan memahami apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Tuhan dalam hidup
mereka.
Tentang apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup mereka tentunya sudah tercakup
secara keseluruhan dalam visi-misi pendidikan Kristen, karena visi-misi pendidikan
Kristen sesungguhnya sejalan dengan maksud Tuhan Yesus Kristus agar setiap orang
yang mengaku percaya kepadanya mengalami perubahan, pertumbuhan, pendewasaan
dan menjadi semakin serupa dengan Kristus. Hal ini harus dikomunikasikan kepada
jemaat sehingga mereka bersemangat dan termotivasi dalam mengikuti pembinaan dan
menerima pengajaran yang disampaikan kepada mereka.
Visi-misi pendidikan Kristen yang sejalan dengan maksud Tuhan sebagaimana yang
tertera di atas adalah agar setip orang percaya mengalami perubahan hidup, pertumbuhan
rohani, kedewasaan dalam segala aspek dan yang lebih tinggi dari itu adalah menjadi
lebih sempurna seperti Kristus. Keinginan Tuhan dalam hal ini dirumuskan menjadi visi-

misi pendidikan Kristen dengan istilah transformasi. Transformasi ini transformasi


manusia secara utuh yang melingkupi transformasi dalam aspek kognitif, trasformasi
dalam aspek afektif dan trasformasi dalam aspek psikomotorik.
Yang tergolong dalam trasformasi aspek kognitif adalah meliputi pertama,
pengetahuan jemaat terhadap kebenaran yang disampaikan kepada mereka yang tidak lain
dari Firman Tuhan itu sendiri. Sebagaimana dalam Alkitab menjelaskan bahwa setiap
orang yang hidup baru harus hidup hidup dengan berpegang teguh di dalam kebenaran
dan harus mengalami pertumbuhan dalam segala hal kearah kristus (Efesus 4:15).
Memiliki hidup baru tidak dapat diperoleh secara otomatis. Allah adalah hidup dan
sumber kehidupan bagi manusia. Kolose 3:10 menjelaskan bahwa kehidupan yang baru
itu harus dibaharui terus menerus dalam pengertian mengalami pertumbuhan. Demikian
juga Paulus menuliskan bahwa transformasi yang benar adalah transformasi yang
mencerminkan kemuliaan Tuhan yaitu diubah menjadi serupa dengan gambrNya (2
Korintus 3:10).
Kedua, meliputi pengertian dan pemahaman jemaat terhadap firman Tuhan. Ke tiga,
meliputi penguasaan jemaat terhadap firman Tuhan dan lain-lain. Sekalipun dalam table
di atas memaparkan data bahwa sebenarnya jemaat setuju bahwa transformasi dari aspek
konginitf itu meliputi tentang kemampuan pengetahuan dan pengenalan jemaat kepada
Tuhan. Namun dalam kenyataanya ada jemaat yang justru tidak memiliki pengetahuan
dan pengenalan tentang Allah dengan baik. Paling-paling jemaat tersebut hanya
mengenal bahwa Tuhan itu adalah Allah yang disembah oleh orang Kristen. Kalau
pengenalan tentang Allah hanya sebatas itu maka dapat dikatakan bahwa pengenalanya

terhadap Allah belum mendalam. Oleh karena itu ketika Pembina memberikan
pembinaan maka seharunya isi pengajaran itu harus memadai
Yang tergolong transformasi dalam aspek afektif adalah meliputi satu,

jemaat

memiliki perasaan dekat dengan Tuhan. Jemaat tidak saja hanya memiliki pengetahuan,
pemahaman dan pengertian tentang Tuhan yang disembah setiap orang percaya. Tetapi
sebagai wujud dari pengetahuan, pemahaman dan pengertian itu ditindak lanjuti dengan
keinginan untuk dekat dengan Tuhan. Misalnya, seseorang yang percaya kepada Tuhan
mengenal, mengerti dan memahami bahwa Tuhan sumber ketenangan, suka cita,
kedamaian, sumber berkat, penguasa atas segala ciptaan di dunia ini; tentu dia akan lebih
memilih mendekatkan diri kepada Allah yang memberi dia ketenangan dan kedamaian.
Karena setiap orang membutuhkan hal tersebut. Seorang permazmur dalam Mazmur 62:2
mengatakan bahwa hanya kepada Allah sajalah aku tenang, dari padaNyalah
keselamatanku. Orang yang menyadari hal ini maka ia pasti akan mendekatkan diri
kepada Tuhan.
Dua, jemaat memiliki sikap menyembah Tuhan dalam hidupnya dengan tulus. Sikap
ini merupakan wujut dari pengenalan, pengetahuan, pemahaman, pengertian seseorang
tentang Tuhan. Apabila seseoarang menyembah Tuhan dikarenakan ia mengenal Tuhan
hanya sebatas pemahaman bahwa Tuhan itu sebagai sumber berkat maka ia pun
menyembah Tuhan itu hanya karena motivasi bahwa Allah memberi berkat bagi dirinya.
Demikian juga jika pengenalannya tentang Tuhan hanya sebatas bahwa Allah dokter di
atas segala dokter maka jemaat tersebut hanya menyembah Allah karena Allah sangup
menyembuhkan penyakit. Namun apa bila jemaat memandang Allah itu bukan

sebagaimana konsepnya manusia tetapi sebagaimana Allah memperkenalkan dirinya


kepada manusia yaitu bahwa Allah yang menghukum dan Allah juga yang
menyelamatkan, Allah memberi Allah juga yang akan mengambil kembali Allah yang
mengijinkan ujian terjadi Allah juga yang memberi jalan keluar. Dengan demikian tidak
ada alas an kepada manusia bahwa dia menyembah kepada Tuhan karena hidupnya
diberkati, melainkan jemaat harus berpikir bahwa dia menyembah kepada Tuhan ia layak
untuk dipuji. Dengan kata lain pengenalan akan Tuhan dapat mempengaruhi sikap
menyembah seseorang kepada Tuhan.

Orang yang sudah mengalamai transformasi

secara afektif maka akan menyembah Allah bukan berdasarkan konsepnya maupun
karena motivasi yang salah tetapi karena ia sadar Allah memang layak untuk disembah
dan tidak ada alas an untuk mengatakan bahwa Allah tidak layaka untuk disembah.
Tiga, jemaat memiliki keberanian menghadapi masalah/perasaan tidak kuatir. Orang
yang tidak mengalami trasforamasi rohani dalam aspek afektif maka akan memiliki
bermacam-macam reaksi atau respon ketika mengahadapi masalah. Misalkan kuatir,
takut, gelisah dan lain-lain. Namun ketika seseorang telah mengalami transformasi rohani
dari aspek afektif maka jemaat tersebut akan menghadapi masalah dengan berani tanpa
takut dan kuatir karena ia tahu dan memahami bahwa setiap masalah dalam hidup ini
tidak pernah lewat dari sepengetahuan Tuhan,dan Tuhan tidak terbatas untuk memberi
jalan pertolongan tepat pada waktunya karena Ia adalah Allah yang setia.
Empat, jemaat memiliki kerinduan untuk bersaksi. Setiap orang yang memiliki
pengetahuan, pengenalan, pemahaman, pengertian dengan Tuhan maka ada kerinduan
untuk bersaksi tentang apa yang diketahuinya tentang Tuhan. Karena ada dorongan yang

meluap dari dalam hati yang ingin diungkapkan kepada setiap orang tentang Tuhan yang
dikenalnya. Semakin seseoang mengenal Tuhan semakin merasakan dorongan untuk
menyaksikan Tuhan kepada orang lain. Karena ia pun menginginkan orang lain untuk
menikmati atau merasakan bagaimana Tuhan menolongnya.
Lima, jemaat memiliki kerinduan untuk hidup benar dan kudus di hadapanTuhan.
Jemaat yang sadar bahwa ia diciptakan segambar dengan Allah, dan penciptanya itu
kudus dan suci, maka jemaat tersebut harus menjaga kekudusan di hadapan Tuhan.
Sebagaimana Firman Tuhan dalam kitab Imamat 19:2 berbunyi demikian berbicaralah
kepada kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: kuduslah kamu, sebab
aku, Tuhan, Allahmu, kudus. dari bagian ini tersirat suatu penegasan agar setiap orang
percaya menjaga kekudusan hidupnya, karena Tuhan tidak menginginkan ketidak
kudusan dari orang-orang yang mengaku percaya kepadanya. Hal ini berarti bahwa setiap
orang yang mengalami
Enam, jemaat memiliki kerinduan untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Hal ini
merupakan suatu bukti nyata dari aspek afektif apabila seseorang telah mengalami
pertumbuhan rohani. Seorang yang telah mengenal, memahami dan mengerti Tuhan serta
firmanNya maka ia akan mengasihi Tuhan dan sesamanya. Kasih yang ditunjukkannya
bukanlah kasih yang pura-pura tetapi kasih yang sejati, kasi yang tulus, kasih tanpa
mengharapkan balasan karena ia tahu bahwa kasih Tuhan melebihi dari kasih manusia.
Tujuh, jemaat selalu aktif dalam beribadah. Seorang jemaat yang mengetahui,
memahami tentang Allah, bahwa Allah itu bukan saja pengasih, melainkan juga Allah
yang cemburu. Ia menginginkan umatNya untuk setia beribadah kepadaNya. Maka

sebagai jemaat yang mengalami pertumbuhan rohani dari aspek afektif maka Ia mau dan
setia beribadah kepada Tuhan.
Delapan, adalah jemaat beribadah dengan sungguh-sungguh dan tulus. Banyak orang
beribadah kepada Tuhan baik, namun belum tentu ibdah itu sunguh-sungguh. Kadang
jemaat beribadah karena ibadah diaggap tradisi maka ia harus mengikuti tradisi itu. Ada
pula jemaat yang beribadah karena tidak mau dia dianggap orang yang tidak punya
agama, ataupun beribadah karena dianggap suatu kewajiban. Hal-hal ini telah
menunjukkan sukap yang tidak sungguh-sungguh dan tulus dalam ibadah. Sebagai jemaat
yang mengalami pertumbuhan hendaknya beribadah bukan karena atas dasar yang
disebutkkan di atas melainkan karena jemaat bahwa menyadari bahwa sebagai makhluk
ciptaan Tuhan yang segambar dengan Allah sudah selayaknya jika mereka memuji dan
memuliakan namaNya melalui ibadah dan ibadah tersebut harus dengan hati yang
sungguh-sungguh dan tulus.
Sembilan, jemaat mau menerima nasehat dan teguran dari pengajaran Firman Tuhan.
Kadang jemaat tersinggung apabila firman Tuhan yang disampaikan lewat mimbar
menyinggung dirinya, sekalipun pengkhotbah tidak sengaja menyindir perbuatannya,
namun jemaat tersebut selalu berpikir bahwa khotbah tersebut sengaja ditujukan
kepadanya. Dan hal ini membuat dirinya untuk tidak hadir kegereja pada minggu-minggu
berikutnya. Sikap semacam ini adalah sikap seorang jemaat yang belum mengalami
pertumbuhan. Seharusnya sebagai jemaat yang mengalami petumbuhan, hendak ia
menerima nasehat dan teguran dari pengajaran firman Tuhan, baik hal itu disampaikan
secara langsung maupun tidak langsung atau lewat khotbah.

Sepuluh, jemaat mampu mengatasi cobaan dalam hidup sehari-hari. Ada beberapa
jemaat yang menyerah dalam menghadap cobaan, apa lagi bila cobaan itu datang silih
berganti. Seorang jemaat yang tidak tahan dengan keadaan ini akan putus asa dan tidak
akan bertahan, bahkan ia akan menyalahkan dan menghakimi Tuhan. Namun dalam
bagian ini sangat

jelas bahwa sebagai jemaat yang mengalami pertumbuhan, maka ia

mampu menghadapi dan megatasi cobaan dalam hidup masing-masing.


Sikap dalam menghadapi pencobaan akan memperlihatkan sejauh mana jemaat
dapapt memandang bahwa pencobaab itu sesunggunya akan membuat iman seseorang
semakin lebih bertumbuh. Jemaat yang sudah sungguh-sungguh bertumbuh dalam iman
maka ia merasa bahwa pencobaan merupakan alat untuk menguji dirinya dalam
kesetiaannya kepada Tuhan, maka ia melewati pencobaan itu dengan hati yang bersyukur
kepada Tuhan. Tetapi sebaliknya orang yang tidak sungguh-sungguh mempunyai iman
maka ia merasa bahwa pencobaan yang dialaminya sangat membuat dirinya menderita
dan mulai ada rasa kecewa kepada Tuhan.
Sebelas, jemaat mampu mengelolah segala berkat Tuhan. Salah satu masalah yang
dijadikan alasan oleh jemaat ketika mereka tidak dapat memberi persembahan kepada
Tuhan adalah karena tidak ada uang. Bahkan tidak jarang jemaat menjadikan alasan
bahwa mereka tidak dapat ke gereja karena tidak ada uang. Menurut penulis bahwa ini
hanya sebuah alasan yang dibuat-buat. Dan berusaha menutupi berkat yang diberikan
Tuhan kepada setiap jemaat. Sesungguhnya persoalannya adalah bagaimana mengatur
dan mengelolah berkat Tuhan itu sehingga dapat mencukupkan diri terhadap berkat itu.
Seorang jemaat yang mengalami transformasi dari segi afektif dapat mengelolah berkat

Tuhan dengan baik, karena dengan mengelolah berkat Tuhan dengan baik adalah salah
satu bentuk atau cara jemaat menghargai dan menghormati apa yang diberikan Tuhan
dalam hidupnya.
Dua belas, jemaat mampu mengelolah waktu dengan baik dan lain-lain. Selain dapat
mengelolah berkat Tuhan dengan baik, juga dalam transformasi dari aspek afektif ini
adalah jemaat memiliki kemampuan dalam mengelolah waktu dengan baik. Dengan
mengelolah waktu dengan baik maka jemaat dapat tetap menyediakan kesempatan untuk
beribadah kepada Tuhan. Kadang jemaat berdalih bahwa jemaat tidak dapat beribadah
karena tidak ada waktu. Tidak ada doa dalam rumah tangga karena semua sibuk. Tidak
ada saat teduh ataupun doa pribadi dengan Tuhan karena repot. Pekerjaan selalu
dijadikan alasan untuk tidak beribadah. Sesungguhnya orang yang mengalami
transforamsi dari aspek afektif seharusnya dapat membagi waktu dengan baik, oleh
karena kesadaran bahwa waktu itu adalah anugrah Tuhan,maka setiap orang percaya
harus dapat mensyukuri dan menghargai waktu dengan cara menggunakan waktu itu
dengan baik.
Sedangkan yang termasuk transformasi dalam aspek psikomotor terdiri dari unsurunsur antara lain satu, adalah jemaat setia melakukan Firman Tuhan dalam hidupnya.
Walaupun jemaat semakin tinggi pengetahuannya tentang Allah dan firmanNya, sekamin
ada keinginan untuk dekat dengan Allah, namun kalau hanya sebatas pada pengetahuan
dan keinginan saja tanpa langsung diterapkan dalam kehidupan nyata maka sia-sia sajalah
pengenalannya kepada Tuhan. Transformasi dari segi aspek psikomotorik ini bukan saja
pengetahuan semakin tinggi, keinginan semakin meluap namun harus disertai dengan

praktek yang nyata bahwa jemaat mau bahkan setia melakukan firman Tuhan dalam
hidupnya.
Dua, jemaat setia bersekutu dengan Tuhan baik kelompok maupun secara pribadi.
Seorang jemaat yang mengalami transformasi dari aspek psikomotor dengen setia
melakukan firmanNya, maka hal tersebut dapat terwujut dengan nyata melalui
kesetiaannya bersekutu dengan Tuhan baik dalam kelompok maupun secara pribadi.
Tiga, jemaat setia baca Alkitab. Diluar dari penelitian ini, penulis pernah
mengadakan survey di beberapa jemaat tentang baca Alkitab. Dan dalam survey itu
ditemukan bahwa dari 100 % jemaat yang hadir di gereja hanya ada 45 % yang setia baca
Alkitab. Rata-rata jemaat hanya membuka Alkitab ketika mereka ada di gereja, dan itu
pun ada jemaat yang tidak membawa Alkitab. Hal ini menunjukkan bahwa jemaat tidak
mengalami transformasi. Sedangkan dalam pendidikan Kristen hendak dapat mencapai
transformasi dari aspek psikomotor bahwa jemaat mau dan setia membaca Alkitab baik
digereja maupun dirumah. Jika pada awalnya jemaat bertobat jarang membaca Alkitab
namun lama kelamaan dengan proses pendidikan dan pembinaan rohani maka jemaat
tersebut akan semakin giat dalam membaca Alkitab yang adalah firman Tuhan.
Empat, jemaat setia berdoa. Bagi sebagian orang sangat

menikmati hidup tanpa

doa. Namun bagi orang yang mengalami transforamsi dari aspek psikomotor melihat
bahwa doa adalah adalah nafas manusia. Berhenti berdoa berarti nafas berhenti dalam hal
ini diartikan dalam pengertian rohani. Jika tidak berdoa seakan-akan kita kehilangan
nyawa. Artinya bahwa Tuhan yesus adalah hidup kita dan kita bergantung sepenuhnya
kepadanya. Ketika tidak berdoa berarti menunjukkan adanya keterpisahan antara

seseorang dengan hidunya yaitu Tuhan Yesus. Oleh karena itu seorang jemaat yang
mengalami transfornasi selalu setia dalam berdoa.
Lima, jemaat setia melayani. Sebagai orang atau jemaat yang menyadari bahwa
Tuhan menciptakan dirinya dengan sempurna, dan menganugrahkan kemampuan bahkan
talenta dalam dirinya untuk melayani, maka hendakhnya ia melayani Tuhan dengan baik
sesuai dengan kemampuannya dan talenta yang ada padanya. Namun perlu diingat bahwa
walaupun sedikit kemampuan seseorang namun kemampuan yang sedikit itu apabila
dilatih maka akan semakin lebih bertambah kemampuan yang dimilikinya. Karena itu
seorang yang mengalami transformasi harus melayani Tuhan dengan baik, menggunakan
kemampuan yang telah dianugerahkan oleh Tuhan kepada masing-masing umatNya.
Enam, jemaat menyangkal diri dari segala godaan iblis dan lain-lain. Hal yang
mungkin sulit bagi seseorang adalah bagaimana menyangkal diri dari godaan iblis.
Karena tak dapat disangkal bahwa orang percaya masih terus digoda oleh hal-hal
duniawi, masuih terus tergoda dengan tipu daya iblis. Maka sebagai seorang jemaat yang
mengalami transformasi selalu berjaga-jaga karena yang bersangkutan sadar bahwa
lawan dalam dunia ini adalah iblis dan si iblis itu sedang mengaum-ngaum berkeliling (1
Petrus 5:8).
Unsur-unsur transformasi di atas baik trasnforamsi dalam aspek kognitif, afektif dan
psikomotor

hanya

merupakan

unsur-unsur

yang

mewakili

penjelasan

atau

menggambarkan ketiga aspek yang harus ditrasformasi dalam hidup seseorang, masih ada
bahkan lebih banyak hal yang lain yang berkaitan seluruh aspek kehidupan manusia.

Melihat inti dari visi-misi pendidikan Kristen ini begitu penting, maka diperlukan
suatu sarana pencapaian dari visi-misi pendidikan Kristen tersebut, yang penulis sebut
sebagai program. Dengan demikian visi-misi pendidikan Kristen berhubungan erat
dengan program pembinaan rohani jemaat. Hubungan tersebut terlihat bahwa visi-misi
Pendidikan Kristen merupakan alat yang mengarahkan program, dan Program pembinaan
rohani merupakan sarana pencapaian visi-misi pendidikan Kristen dalam gereja. Tanpa
visi-misi, program tidak terarah dan terfokus pada sasaran dan tanpa program visi-misi
tidak akan tercapai.
Namun program apa sajakah yang seharusnya ada dan diperhatikan oleh gereja?
Berdasarkan survei atau penelitian yang dilakukan oleh penulis maka ditemukan jawaban
tentang program-program yang dimaksudkan adalah satu, Program rutin ibadah: ibadah
umum, ibadah komisi, kebaktian doa, PA, visitasi dan lain-lain. Dua, program tidak
rutin: seperti, pembangunan, KKR, Seminar, Ibadah Padang dan lain-lain. Tiga, program
pendamping atau pendukung seperti: Program konseling pastoral, katekisasi, training
pelayanan, Training berbagai keterampilan sebagai upaya gereja menolong jemaat yang
tidak memiliki pekerjaan.

C. Aplikasi Temuan Penelitian


Pada bagian ini akan dipaparkan aplikasi dari temuan penelitian ini dengan
kehidupan gereja atau jemaat di Gereja Persekutuan Kristen se Jatim (GePeKris se
Jatim). Namun sebelum penulis memaparkan apa yang menjadi aplikasi bagi Gereja

Persekutuan Kristen se Jatim dari apa yang telah dijelaskan di atas maka penulis merasa
perlu memaparkan latar belakang dan sejarah gereja tersebut.
Persekutuan Kristen sendiri didirikan oleh CFMU singkatan dari Chinese Foreign
Missionary Union. Didirikan pada tahun 1936. Di Indonesia, jemaat Gepekris98 pertama
kali didirikan di Tanjung Pandang sekligus berkantor pusat di kota ini. Namun dengan
pertimbangan efektifitas komunikasi dan pelayanan, pada tahun 1970 kantor pusat
Gepekris dipindahkan ke ibu kota negara, Jakarta.
Di Jawa Timur CFMU pertama kali mendirikan Gereja Persekutuan Kristen di
Malang. Proses berdirinya Gereja Persekutuan Kristen di Malang, tidak dapat dilepaskan
dari berdirinya Sekolah She Mei yang berdiri pada tahun 1945. Pdt. John Zakharia
mengajar di sekolah ini pada tahun 1957, Dr. Wong mengusulkan untuk memulai sebuah
gereja berbahasa mandari. Aula sekolah dipinjam sebagai ruang kebaktian. Sejumlah 20
orang hadir dalam kebaktian perdana. Pada tahun 1994 seorang pendeta bersama istri
menggembalakan gereja tersebut. Pelayanan Tuhan berkembang dengan baik, jumlah
anggota jemaat mencapai 250 orang. Bahkan membuka tiga pos penginjilan di kota
Malang. Namun pada tahun terakhir ini jemaat berkurang menjadi 177 orang.
Sedangkan GePeKris Mojokerto berdiri pada tahun 1963 dengan pertimbangan
banyaknya etnis Tionghoa di kota ini. Namun berhubung adanya peraturan pemerintah
N0. 10 pada tahun 1960-an, toko-toko orang Tionghoa ditutup, pelayanan gereja menjadi
sulit. Jumlah yang hadir dalam kebaktian hanya sekitar 20-25orang. Tetapi beberapa

98

Gereja Persekutuan Kristen sebelumnya mempunyai singkatan GPK. Tetapi oleh karena banyak
orang yang mengindentikkan atau mengartikan GPK adalah Gerakan Pengacau Keamanan, maka pada
tahun 1972 nama gereja yang didirikan oleh CFMU diganti menjadi GePeKris (Gereja Persekutuan
Kristen)

tahun kemudian jumlah kehadirian jemaat mengalami penurunan hanya 10-15 orang, dan
hamba Tuhannya pun selalu berganti-ganti.
Kemudiaan pada tahun 1968 ada empat keluarga Kristen yang mengunjungi kota
Prigen, Jawa Timur. Mereka meminjam vila Pdt. Yakub Setiawan untuk beribadah.
Kebaktian perdana ini hadir 20 orang. Pada tahun 1971 ada empat keluarga Kristen lagi
mengadakan kebaktian di sana. Pada mulanya mereka hanya menggunakan ruang tamu
saja tiap kali kebaktian, tetapi karena ruangan Yang sangat

sempit maka mereka

mendirikan ruang kebaktian yang agak besar di belakang vila tersebut. Pada tahun 1974,
Adelia Chia seorang misonaris etnis Tionghoa dari Hawai, Amerika Serikat mendukung
pelayanan ini. Hingga tahun 1976, jumlah pengunjung kebaktian sekitar 60-70 orang.
Anggota pemuda remaja berjumlah 35 orang dan sekolah Minggu 100 orang. Namun
tahun-tahun terakhir in, jumlah jemaat baik jemaat umum, pemuda remaja dan sampai
Sekolah Minggu terjadi penurunan.
Sementara itu di Tretes Gereja Pesekutuan Kristen didirikan pada Tahun 1979 yang
diawali oleh pelayanan perintisan dari misionaris Adelia Chia dan Pdt. Paulus Supangat
serta beberapa orang Kristen mendukung pelayanan pos penginjilan ini. Pada tahun 1975
Sekolah Minggu dimulai dengan enam orang anak saja, tetapi tahun demi tahun
bertambah 35 orang anak. Anggota pemuda dan remaja berjumlah 30 orang, dan
pengunjung kebaktian 70-80 orang. Tetapi karena kota Tretes adalah kota tempat rekreasi
yang ramai dikunjungi orang pada waktu itu maka jumlah jemaat mencapai 150 orang.
Namun tahun-tahun terakhir ini mengalami penurunan, di mana jemaat yang tercatat,
termasuk jemaat pengunjung hanya mencapai 30-50 orang.

Sedangkan Gereja Persekutuan Kristen di Surabaya diawali dengan pos penginjilan


pada tahun 1989, jemaat menyewa rumah untuk dijadikan ruang kebaktian. Pada tgl. 2
Juni 1992 gedung gereja yang sudah dibagun diresmikan. Atas kerjasama para penginjil
yang melayani maka persekutuan pemuda maju dengan pesat. Jumlah pemuda yang hadir
mencapai sekitar 40 orang, dan kebaktian umum 40 orang. Sedangkan murid Sekolah
Minggu dan kaum wanita masing-masing berjumlah 25 orang. Namun kondisi ini sempat
menurun terutama para pemuda menghilang dari persekutuan. Namun pada tahun terakhir
ini mulai dibentuk lagi persekutuan pemuda walaupun jumlah mereka masih sedikit.
Gereja Persekutuan Jeggolo didirikan pada tangal 14 Februari 1992. Gereja ini
merupakan pos penginjilan Gereja Pesekutuan Surabaya. Pada mulanya yang hadir dalam
kebaktian umum 25-30 orang. Dua tahun kemudian dibentuk pemuda remaja dengan
jumlah yang hadir 10 orang. Kemudian tahun demi tahun jumlahnya bertambah 20 orang.
Namun tahun-tahun terakhir ini mengalami penurunan bahkan hampir-hampir tidak ada
lagi kebaktian pemuda remaja. Kesadaran yang ada diantara para pengurus untuk
mengoreksi dan mengevaluasi apa yang membuat penurunan ini, maka ditemukan bahwa
sesungguhnya selama ini pembinaan yang dilakukan kepada jemaat tidak dilandaskan
pada visi-misi pendidikan Kristen. Sehingga dari hasil evaluasi ini membuat gereja ini
bertekat untuk memperbaiki dan kembali ke visi-misi pendidikan Kristen. Maka setelah
lima tahun dibenahi maka lamakelamaan jumlah jemaat bertambah hingga mencapai 60
orang. Suatu pertumbuhan Yang sangat baik. Namun ternyata pertambahan ini membua
gereja lengah sehingga tanpa disadari lambat laun terjadi penurunan kembali hingga
menjadi 45 orang jemaat.

Dengan melihat sejarah berdirinya Gereja Persekutuan Kristen se-Jatim maka dapat
dimengerti bahwa gereja ini sesungguhnya gereja yang sudah lama sekali berdiri. Dan
pada dasarnya semakin tinggi usia gereja seharusnya semakin mengalami kematangan,
kemantapan, semakin meningkat dalam hal kuantitas maupun kualitas. Namun jika dilihat
dari sejarah berdirinya bukan semakin mengalami kenaikan, semakin mantap dan matang
atau mengalami kedewasaan, tetapi justru gereja-gereja tersebut semakin merosot. Jemaat
semakin menurun jumlah kehadirannya dalam gereja, sebagaimana yang terlihat dalam
tebel di bawah ini:

NO

NAMA GEREJA

JUMLAH HADIR

JUMLAH HADIR

JEMAAT PERTAMA

JEMAAT PADA
TAHUN-TAHUN
TERAKHIR

GePeKris Malang

250

177

GePeKris Mojokerto

20/25

10/15

GePeKris Prigen

60/70

30/35

GePeKris Tretes

150

30/50

GePeKris Surabaya

40

20/25

GePeKris Jenggolo Sidoarjo

25/30

45

Angka-angka di atas menunjukkan angka penurunan jemaat yangsangat


Karena seharusnya dilihat dari usia gereja seharusnya sudah sangat

iroris.

dewasa namun

dilihat dari segi pertumbuhan tidak memperlihatkan adanya tanda-tanda transformasi


menjadi lebih baik. Penulis pernah menanyakan kepada beberapa jemaat dan juga kepada
beberapa hamba Tuhan jauh sebelum penulis melakukan penelitian ini, atau tepatnya
ketika penulis melayani bersama dengan jemaat GePeKris. Penulis menanyakan tentang
keberadaan jemaat yang semakin menurun dalam gereja. Dan jawaban-jawaban yang
diperoleh oleh penulis cukup bervariasi seperti: banyak jemaat yang kecewa kepada
hamba Tuhan, dan juga kecewa kepada bebeberapa jemaat yang kesaksisn dan dalam
kesaksian itu menyinggung kehidupannya, ada pula yang tidak lagi kegereja karena
alasan kerja, sekalipun itu hari minggu: ada yang jaga vila, ada yang jualan atau pun jaga
tokoh. Ada pula yang tidak kegereja kerena malu dengan orang lain

apabila ia

membandingkan penampilannya dengan jemaat lainnya, ada juga yang berkata karena di
gereja sering menjadi tempat membicarakan orang lain. Dan yang lebih ironis jemaat
berpikir bahwa ternyata jadi orang Kristen maupun tidak jadi orang Kristen sama saja,
tidak ada perubahan hidup dari segi ekonomi, yang dulunya miskin sekarang pun tetap
miskin. Ini menunjukkan motivasi yang salah untuk mengikut Tuhan. Ada pula yang
berkata: apakah apabila kegereja terus, gereja bisa kasih makan keluarga?
Alasan-alasan ini semua menunjukkan bahwa dalam gereja itu tidak terjadi
transformasi sebagaiamana yang dikehendaki oleh Tuhan. Maka melalui bagian ini
penulis melihat bahwa tulisan ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan jemaat di
GePeKris se-Jatim. Gereja harus lebih berupaya lagi untuk mengajarkan tentang
pengenalan yang benar tentang Tuhan kepada jemaat sehingga mereka dapat mengalami
transformasi terhadap pengenalan, pengetahuana, pemahaman dan pengertian yang benar

tentang Tuhan (aspek kognitif), sehingga dengan jemaat memiliki pengenalan yang benar
maka mereka dapa memiliki motivasi yang benar dalam beribadah kepada Tuhan.
Selain itu, gereja harus memahami bahwa transformasi yang diharapkan bukan hanya
sebatas pengenalan, pengetahuan, pemahaman (kognitif) jemaat kepada Tuhan, tetapi
juga dari aspek afektif yaitu jemaat harus jemaat memiliki perasaan dekat dengan Tuhan,
jemaat menyembah Tuhan dalam hidupnya, jemaat memiliki keberanian menghadapi
masalah/perasaan tidak kuatir, jemaat memiliki kerinduan untuk bersaksi, jemaat
memiliki kerinduan untuk hidup benar dan kudus di hadapan Tuhan, jemaat memiliki
kerinduan untuk mengasihi Tuhan dan sesama, jemaat selalu aktif dalam beribadah
dengan sunguh-sungguh dan tulus, jemaat mau menerima nasehat dan teguran dari
pengajaran Firman Tuhan sehingga tidak mudah tersinggung apabila mendengar khotbah
,jemaat mampu mengatasi cobaan dalam hidup sehari-hari, jemaat mampu mengelolah
segala berkat Tuhan dan jemaat mampu mengelolah waktu dengan baik, sehingga tidak
ada alasan lagi yang mengatakan tidak dapat beribadah karena tidak ada waktu, waktu
semua dipakai untuk kerja.
Hal yang lain yang dapat diaplikasikan kepada jemaat GePeKris adalah transformasi
dari aspek psikomotorik. Transformasi yang diharapakan oleh Tuhan bukan saja hanya
pengetahuan atau pengenalan mereka kepada Tuhan, dan bukan pula hanya sebatas
perasaan dan keinginan mereka untuk melakukan firman Tuhan, tetapi Terlebih dari pada
itu Tuhan ingin melihat setiap jemaat membuktikan, menyatakan dalam kehidupan
sehari-hari. Maka dengan demikian gereja harus berupaya untuk membimbing dan
membina jemaat agar mereka dapat mengalami transformasi dari segi aspek psikomotor

seperti: jemaat setia melakukan Firman Tuhan dalam hidupnya, jemaat setia bersekutu
dengan Tuhan baik pribadi maupun kelompok, jemaat membaca Alkitab, jemaat setia
berdoa, jemaat setia melayani, jemaat menyangkal diri dari segala godaan iblis dan lainlain.
Jenis program yang menjadi sarana pencapaian visi-misi pendidikan Kristen antara
lain program rutin adalah ibadah: ibadah umum, ibadah komisi, kebaktian doa, PA, dan
lain-lain, Program tidak rutin ibadah: pembangunan, KKR, ibadah padang, natal, paskah
dan lain-lain, program konseling pastoral, program katekisasi, program training
pelayanan. Program-program ini sebenarnya sudah ada pada masing-masing gereja, tetapi
semua program ini dilihat hanya sebagai susuatu tradisi sehingga dalam pelaksanaannya
pun dilakukan sebagai sesuatu tradisi pula. Karena itu apabila gereja mengharapkan suatu
transformasi maka gereja harus memandang program itu sebagai alat atau sarana untuk
mencapai visi misi pendidikan Kristen, dan visi-misi dilihat sebagai sesuatu yang
mengarahkan program terlaksana dengan baik.
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat dimengerti bahwa Gereja Persekutuan
Krisiten se-Jatim memiliki visi-misi yaitu trasnformasi. Namun kurang tercapai dengan
baik. Hal ini disebabkan visi-misi ini tidak menjadi perhatian utama dan tidak terlalu
diterapkan. Acap kali terjadi, program pembinaan rohani menjadi perhatian utama tetapi
tidak melihat kepada visi-misi, pada hal kedua hal ini merupakan satu-kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan. Selain itu jemaat mengakui bahwa visi-misi itu tidak
dikomunikasikan kepada jemaat apa yang diharapkan dari setiap pembinaan rohani.
Memang dalam tabel jemaat melihat bahwa alangkah lebih baik jika visi-misi

dikomunikasika kepada jemaat, namun kenyataannya ada jemaat yang belum tahu atau
mengerti apa yang menjadi visi-misi Pendidikan Kristen, sehingga akibatnya mereka
beribadah hanya sebagai rutinitas dan bentuk tanggugjawab jemaat kepada Tuhan.
Semua bagian penulisan dan penelitian ini masih sangat relevan untuk diterapkan
dan diaplikasikan kepada jemaat Gereja Persekutuan Kristen se-Jatim (GePeKris), karena
itu tidak ada alasan untuk tidak dapat diajarkan kepada jemaat yang ada. Tinggal
bagaimana masing-masing Gereja Persekutuan Kristen menyingkapi dan menerapkannya.

D. Rangkuman

Gereja Persekutuan Kristen se-Jatim merupakan gereja yang tergolong tua, sudah
berusia, karena berdiri terlalu lama. Namun jika dilihat dalam perkembangannya, dengan
naik turun dan semakin turun kuantitas maupun kualitas jemaat maka sesungguhnya
gereja ini telah memperlihatkan kondisi yang mengalami kemunduran. Hal ini
dikarenakan kurangnya pemahaman jemaat terhadap visi-misi pendidikan itu sendiri.
Bahkan ada pemahaman dan konsep yang salah ketika mendengar istilah Pendidikan
Kristen. Ada yang beranggapan bahwa pendidikan itu tidak dilakukan digereja tetapi di
sekolah. Dalam hal ini penulis berpikir kalau saja konsep pendidikan Kristen salah maka
otomatis pemahaman pada visi-misi Pendidikan Kristen juga salah, karena orang-orang
semacam ini akan beranggapan bahwa visi-misi pendidikan itu berlaku disekolah dan
bukan di gereja, sedangkan yang digereja hanya penggembalaan. Menurut penulis bahwa
inilah konsep yang salah.

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat dimengerti bahwa visi-misi Pendidikan


Kristen adalah trasformasi manusia seutuhnya, di mana trasnformasi tersebut meliputi
aspek kognitif, afektif dan psikamotorik. Gereja Persekutuan Kristen se-Jatim sendiri
berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis mengakui bahwa visi-misi
pendidikan Kristen itu hendak mentransformasi manusia. Namun kelihatanya hal ini
kurang tercapai dengan baik. Hal ini tidak disebabkan karena tidak ada program
pembinaan. Di Gereja Persekutuan Kristen ini sendiri banyak program-program yang
tersusun, namun berdasarkan penelitian ini program ini tidak berjalan di atas dasar visimisi pendidikan Kristen, sehingga visi-misi tidak tercapai.

BAB V
PENUTUP

Setelah penulis melakukan penelitian ke dalam beberapa bagian pembahasan pada


bab-bab sebelumnya, pada bab yang terakhir ini, penulis akan menutup pembahasan
dengan beberapa hal penting. Hal tersebut penulis sajikan dalam bentuk ringkasan,
kesimpulan dan saran.

A. Kesimpulan

Hal yang paling mendasar dan penting dalam Pendidikan Kristen baik di gereja
maupun di sekolah adalah visi-misi Pendidikan Kristen yang didasarkan pada kebenaran
Alkitabiah dan kebenaran teologis Kristen. Visi-misi Pendidikan Kristen yang didasarkan
pada Alkitabiah dan teologis harus berorientasi pada kedaulatan Allah dimana Allah
merupakan pusat dari pendidikan [Link]-misi pendidikan Kristen yang mencakup
segala aspek pelayanan termasuk pelayanan gerejawi, bermuara pada suatu tujuan yaitu
terjadinya transformasi dalam kehidupan setiap pribadi kristiani. Transformasi ini harus
mencakup semua aspek kehidupan, yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Dengan kata lain, visi misi pendidikan Kristen harus bertujuan pada perubahan
keseluruhan aspek kehidupan setiap pribadi Kristiani, yang meliputi aspek pemikiran

(kognitif), perasaan dan kehendak (afektif) dan perbutan (psikomotorik) mengarah


kepada kehidupan pribadi yang berkenan di hadapan Allah.
Sebagai bagian dari institut, kehidupan Kristen terutama yang berkaitan dengan
kehidupan peribadatan, gereja membutuhkan keteraturan langkah dan tindakan, setiap
aktivitas yang dilaksanakan oleh gereja dapat terarah dan terfokus pada suatu tujuan yang
telah ditetapkan bersama. Agar hal tersebut dapat terlaksana dengan baik, gereja
membutuhkan program gereja yang dapat mengarahkan segala bentuk kegiatan dan
aktivitas gereja menuju pemenuhan tujuan yang telah ditetapkan.
Kebutuhan terhadap program gereja semakin dirasakan oleh gereja dalam posisinya
sebagai salah satu lembaga yang melaksanakan proses pendidikan secara Kristen bagi
[Link] gereja menjadi bagitu penting sebab melalui hal tersebut gereja akan
dapat mencapai apa yang telah menjadi tujuan, namun agar proses pembinaan dan
pendidikan jemaat dapat terarah dengan baik dan sesuai dengan hakekat pelayanan
Kristen, program gereja harus disusun dengan memperhatikan dan mendasarkan diri pada
visi-misi Pendidikan Kristen yang didasarkan pada kebenaran Alkitabiah dan teologis
yang bersifat ortodoks.
Sebagai bagian dari gereja universal, Gereja Persekutuan Kristen (GePeKris) yang
berada di wilayah Jawa Timur, mendasarkan setiap kegiatan dan pelayanan pada program
yang telah disusun dan dirumuskan bersama. Program tesebut dapat berupa program yang
bersifat rutin maupun insidentil. Program-program tersebut disusun dengan suatu tujuan
agar setiap GePeKris yang berada di Wilayah Jawa Timur dapat mencapai tujuan dari
pembinaan maupun pendidikan jemaat yang telah dilaksanakan yaitu tercapainya

transformasi dalam segala aspek kehidupan jemaat, termasuk diantaranya aspek kognitif,
afektif dan psikomotor.
Visi-misi pendidikan Kristen merupakan dasar pijak dalam setiap proses pendidikan
maupun pembelajaran Kristen, termasuk di dalam gereja. Visi-misi pendidikan Kristen
yang benar adalah visi-misi yang di dasarkan pada kebenaran Alkitabiah dan Teologis
Kristen yang ortodoks (benar) serta berorientasi pada Allah dan Kristus (Teosentris dan
Kristosentris).
Visi-misi pendidikan Krisiten memiliki kaitan erat dengan program gereja, sebab
program gereja merupakan sarana implementasi visi misi pendidikan Kristen dalam
gereja dan jemaat, agar visi-misi tersebut dapat dipahami dan diaplikasikan dalam hal
praktis. Hal tersebut mengandung makna bahwa setiap program gereja yang disusun
terutama yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran jemaat harus didasarkan pada
visi-misi pendidikan Kristen yang benar.
Sebagai bagian dari gereja secara universal, GePeKris telah berupaya mendasarkan
setiap aktivitas pelayanan termasuk pendidikan dan pengajaran jemaat pada program
yang telah disusun dan dirumuskan. Program inipun sebagian telah didasarkan pada visimisi pendidikan Kristen dalam gereja dan jemaat yang bermuara pada transformasi
pribadi kristiani dalam segala aspek kehidupannya termasuk kognitif, afektif dan
psikomotorik. Namun karena kurangnya pemahaman terhadap visi-misi pendidikan
Kristen dan bagaimana cara mengimplementasikannya, maka singkronisasi antara visimisi pendidikan Kristen dengan program gereja kurang terlaksana dengan baik. Di sisi
lain setiap program yang telah dirumuskan bersama kurang terlaksana dengan baik

karena sebagian jemaat kurang memahami dan mengalami kesulitan untuk telibat secara
langsung dalam pelaksanaan program tersebut. Kesulitan melibatkan diri dalam
pelaksanaan program disebabkan karena kurangnya SDM jemaat. Selain itu juga, sistim
kepemimpinan dan organisator yang kaku dan kabur mengakibatkan transformasi yang
diharapkan tidak tercapai.

B. Saran dan Rekomendasi

Maka sebagai akhir dari penulisan ini, penulis ingin menyampaikan beberapa saran
yaitu, satu: Gereja Perekutuan Kristen harus memahami bahwa pendidikan dalam gereja
harus didasarkan visi-misi pendidikan Kristen yaitu transformasi manusia yang
melingkupi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Dua: para pembaca terutama Gereja Persekutuan Kristen se-Jatim menyadari bahwa
visi-misi pendidikan Kristen yang didasarkan pada dasar Alkitabiah dan teologis Kristen
ortodoks dan yang berpusat pada Allah (Theosentris) dan Kristus (Kristosentris)
merupakan dasar dari semua proses Pendidikan Kristen termasuk Pendidikan Kristen
dalam jemaat dan gereja. Agar proses Pendidikan Kristen dalam jemaat dapat mencapai
sasaran utama yang diinginkan yaitu tercapainya transformasi bagi setiap pribadi
Kristiani dalam segala

aspek kehidupannya, termasuk aspek kognitif, afektif dan

psikomotorik, proses tersebut harus didasarkan pada visi-misi Pendidikan Kristen yang
benar. Visi-misi tersebut harus dirumuskan dalam bentuk program gereja agar visi-misi
tersebut dapat teraplikasikan dengan baik dalam pelayanan Pendidikan Kristen dalam
jemaat.

Tiga: para jemaat di GePeKris menyadari bahwa agar program gereja yang memiliki
kaitan erat dengan visi-misi pendidikan Kristen dapat terlaksana dengan baik, program
gereja harus disesuaikan dan dikomunikasikan dengan baik kepada seluruh jemaat dan
pribadi yang akan terlibat dalam program tersebut. Sebab tanpa adanya pemahaman yang
memadai terhadap program gereja akan menyulitkan setiap pribadi dalam gereja untuk
terlibat dalam setiap program yang dilaksanakan di gereja.
Empat: Sebagai bagian gereja yang universal, seyogyanya setiap pimpinan jemaat
dan komponen pelayanan di Gereja Persekutuan Kristen (GePeKris) se-Jatim memiliki
pemahaman yang benar dan memadai terhadap visi-misi pendidikan Kristen yang bersifat
Teosentris dan Kristosentris yang mengarah pada transformasi pribadi Kristiani dalam
segala aspek kehidupannya termasuk kognitif, afektif dan psikomotortik, karena visi-misi
tersebut merupakan dasar pijak bagi setiap proses pelayanan pendidikan dan pegajaran
Kristen termasuk dalam jemat dan gereja. Pemahaman visi-misi tersebut seyogyanya
didasarkan pada dasar Alkitabiah dan teologis yang benar berkaitan dengan hal tersebut.
Lima: Pemahaman terhadap visi-misi pendidikan Kristen tersebut hendaknya juga
dapat diimplementasikan dalam bentuk program gereja yang menjadi dasar dan acuan
langkah dalam setiap pelayanan yang dilaksanakan.

KEPUSTAKAAN

Anthony, Michael J.
1975 Introducing Christian Education-Foundations for Twenty First Century.
Grand Rapids Michigan: Baker Akademic.
Bar, Lois E. Le.
1968 Focus on People in Church Education. New Jersey: Fleming H. Revell
Company.
Bugin, Burhan.
2000 Metodologi Penelitian Format-Format
Surabaya: Airlangga University.

Kuantitatif

dan

Kualitatif.

Brataatmaja, T. Heru, Kasida.


1991 Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Byrne, H.W.
1973 Christian Education for the Local Church. Gran Rapids Michigan:
Zondervon Publishing House.
Beson, Warren S., Eldridge Darly dan Gorman Julie.
2001 Evangelical Dictionary of Christian Education. Michael J. Anthony (Ed).
Grand Rapids Michigan: Baker Academic.
Calvin, John.
2000 Pendidikan Agama Kristen Pada Zaman Reformasi Protestan (Sejarah
Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen. Diedit
oleh Robert, [Link]. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Cully, Iris, V.
1995 Dinamika Pendidikan Kristen, diterjemahkan oleh P,Siiahaan & Stephen
Suleeman. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Criven, M.
1974

Standards for The Evaluation of Education Program anda Product In. GD.
Borich (Ed), Evaluating Educational Program Products. Englewood Cliffs,
N. J: Educational Technology Publication.

Daniel eleoner., Wade John W., Gresham, Charles.


1987 Introduction to Christian Education. Cincianannti: The Standard
Publishing Company.
Eavey, C.B.
1964

History of Christian Education. Moody Press: Chicago.

Ericson, Millard J.
1982 Christian Theology. Grand Rapids-Michigan: Baker Book House.
Fallaw, Wesner.
1960 Church Education for Tomorrow. The Westminster Press: Philadelphia.
Faisal Sanapiah.
1982 Metodologi Penelitian, Surabaya: Usaha Nasional.
2000

Format-format Penelitian sosial, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Gangel, Kenneth O.
2001 Dinamika Pertumbuhan Gereja. Malang: Gandum Mas.
Garang, Bambang.
2003 Evaluasi Program, Diktat Kuliah. Batu: Institut Injili Indonesia.
Graendorf, Warnes C, (ed).
1977 Introduction to Biblical Christian Education. Chicago: Moody Press.
Hadiwijono, Harun.
1996 Iman Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Hadi, Sutrisno.
1980 Metodologi Reserch Jilid I. Yogyakarta: BPK Gunung Mulia.
Homrighausen, E. G.
1996 Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Humes L.
1982

Arah Pendidikan Kristen-Filsafat Pendidikan Kristen dan Dasar


Alkitabiahnya. Batu Malang: Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil
Indonesia.

Jenson, Ron dan Stevens,Jim.


2004 Dinamika Pertumbuhan Gereja. Malang: Gandum Mas.

Lumintang, S. Indra.
2002 Dasar-Dasar Teologi Pendidikan Kristen, Materi Kuliah. Baru: I-3.
Lewis, C. S.
1947

The Abolition of man. New York: Macmillan.

Margona, S.
1997

Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Miller, Randolph Crump.


1956 Education for Christian Living. Englewood Cliff S.N.J: Prentice-Hall, Inc.
Murch, James De Forest.
1943 Christian Education and the Local [Link], Ohio U.S.A: The
Standard Publishing Company.
Milne, Bruce.
2000 Mengenali Kebenaran. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Nazir, Moh.
1985

Metode Penelitian. Jakarta Timur: Ghalia Indonesia.

Napel, Henk, Ten.


1996 Kamus Teologi Ingris Indonesia. Malang: Gandum Mas.
Napitupulu, W .P.
2000 Memantapkan pelaksanaan Identitas dan Ciri Khas Pendidikan Kristen
Secara Kontiyu dan Konsisten, Identitas dan Ciri Khas Pendidikan Kristen
di Indonesia antara Konseptual dan Operasional di edit oleh Weinata
Sairin. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Oktavianus, P.
1998 Dipanggil untuk Melayani. Malang: Lembaga Literatur YPPII.
Poerwadarminta, W. J.S.
1960 Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Dinas Penerbit Balai Pustaka.
Richards, L. O.
1988 Theory of Christian Education. Grand Rapids Michigan: Zondervan Pub
House.

Sairin, Winata.
2001 Identitas dan Ciri Khas Pendidikan Kristen di Indonesia. Jakarta: BPK
Gunung Mulia.
Sijabat, Samuel.
1994 Strategi Pendidikan Kristen, Suatu Tinjauan Teologi-Filosofi. Jogjakarta:
Andi Offset.
Selan, Ruth.
1992

Pedoman Pembinaan Warga Jemaat. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.

Tjandra, Lukas.
1998 Sejarah 70 Tahun CFMU (Chinesse Foreign Missionary Union) 19291999. Jakarta: Sinode GePeKris.
Thomas dan Schultz, Joani.
2002 Meningkatkan Kinerja Jemaat. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.
Thissen, Henry C.
1998 Teologi Sistimatika. Malang: Gandum Mas.
Vieth,Paul H.
1947 The Church and Christian Education. St. Louis: Bethany.
Wagner, Peter, C.
2003 Strategi Perkembangan Gereja. Malang: Gandum Mas.
Warren, Rick.
1999 Pertumbuhan Gereja Masa Kini. Malang: Gandum Mas.
Wiriwidjojo, R. Soetjipto.
2001 Adanya Pendidikan Kristen, Identitas dan Ciri Khas Pendidikan Kristen di
Indonesia antara Konseptual dan Operasional, diedit oleh Weinata Sairin.
Jakarta: BPK Gunung Mulia.
_________________
2000 Tata Gereja Persekutuan Kristen. Jakarta: Sinode GePeKris.
_________________
1957 Websters New World Dictionary of the American Language. College
Edition. Cleveland and New York: TheWorld Publishing Company.

LAMPIRAN

Pertanyaan Angket
Petujunjuk: Lingkarilah nomor yang paling sesuai dengan jawaban yang anda pilih.
Aspek I pemahaman jemaat terhadap visi-misi Pendidikan Kristen (tabel 1-3)
1. Jemaat perlu memahami visi-misi pendidikan Kristen.
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
2. Jemaat perlu bertumbuh sesuai dengan visi-misi pendidikan Kristen
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
3. Jemaat perlu bertumbuh sesuai dengan visi-misi pendidikan Kristen
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
Aspek II visi-misi pendidikan Kristen (tabel 4-24)
4. Visi-misi pendidikan Kristen sesungguhnya adalah mencapai transformasi manusia
secara utuh
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
5. Transformasi manusai secara utuh adalah melingkupi aspek kognitif
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju

6. Transformasi dari unsur kognitif adalah meliputi jemaat memiliki pengetahuan yang
bersumber dari pengajaran dalam gereja
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
7. Transformasi dari unsur kognitif meliputi jemaat mengerti pengajaran yang diberikan
dalam gereja.
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
8. Transformasi dari unsur kognitif meliputi unsur penguasaan jemaat terhadap
pengajaran yang diberikan dalam gereja
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
9. Transformasi manusai secara utuh adalah menyangkut unsur afektif
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
10. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki perasaan dekat dengan Tuhan
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
11. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki sikap menyembah Tuhan
dalam hidupnya
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
12. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki keberanian menghadapi
masalah/perasaan tidak kuatir
a. Sangat setuju
b. Setuju

c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
13. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki kerinduan untuk bersaksi
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
14. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki kerinduan untuk hidup benar
dan kudus di hadapanTuhan
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
15. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki kerinduan untuk mengasihi
Tuhan dan sesama
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
16. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat selalu aktif dalam beribadah
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
17. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat beribadah dengan sungguh-sungguh
dan tulus
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
18. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat mau menerima nasehat dan teguran dari
pengajaran Firman Tuhan
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju

19. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat mampu mengatasi cobaan dalam hidup
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
20. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat mampu mengelolah segala berkat
Tuhan
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
21. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat mampu mengelolah waktu dengan baik
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
22. Transformasi manusai secara utuh adalah meliputi unsur Psikomotor
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
23. Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia melakukan Firman Tuhan
dalam hidupnya
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
24. Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia bersekutu dengan Tuhan
baik kelompok maupun secara pribadi
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju

Aspek III hubungan visi-misi pendidikan Kristen dengan program pembinaan


rohani jemaat (tabel 25-29)
25. Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia baca Alkitab
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
26. Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia berdoa
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
27. Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia melayani
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
28. Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat menyangkal diri dari segala
godaan iblis
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
29. Visi-misi pendidikan Kristen berhubungan erat dengan program pembinaan rohani
jemaat
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
Aspek IV program yang menjadi alat pencapaian visi-misi pendidikan Kristen
(tabel 30-38).
30. Visi-misi Pendidikan Kristen merupakan alat yang mengarahkan program
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju

e. Sangat tidak setuju


31. Program pembinaan rohani merupakan sarana pencapaian visi-misi pendidikan
Kristen dalam gereja
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
32. Tanpa visi-misi, program tidak terarah dan terfokus pada sasaran
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
33. Program rutin ibadah: ibadah umum, ibadah komisi, kebaktian doa, PA, dan lain-lain
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
34. Program tidak rutin ibadah: Pembangunan, KKR, Ibadah Padang, Natal, Paskah dan
lain-lain
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
35. Program konseling pastoral
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
36. Program katekisasi
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
37. Program training pelayanan
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju

e. Sangat tidak setuju


38. Training berbagai keterampilan upaya gereja menolong jemaat yang tidak memiliki
pekerjaan
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju

VITAE

Penulis (Rosnila Hura) lahir di Indanotae, Gido, Nias pada tanggal 6 Nopember
1977, penulis yang saat ini bertempat tinggal di komplek STT-IAA Pacet Mojokerto,
Jawa Timur ini, merupakan anak keempat dari 6 bersaudara pasangan Atuloo Hura dan
Fatiada Larosa. Penulis menikah dengan Immanuel Yosua, [Link], M.A.C.E dan
dikaruiakan dua orang putri, Augustine Putri Cahyaning Negari (4 tahun) dan Dessy
Aurellia Putri Ardiningrum (1 tahun 8 bulan).
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di Nias. Pendidikan tersebut diselesaikan
di SD Negri Idanotae, Gido, Nias, SMP Swasta Idanoi, Nias (1991-1994) dan SMEA
BNKP Gunung Sitoli (1994-1997). Selanjutnya melanjutkan pendidikan di sekolah
Tinggi Teologi Injili Abdi Allah (STT-IAA) 1997-2002) mengambil jurusan Teologi
Kependetaan dan tamat dengan gelar Sarjana Teologi ([Link]). pada tahun 2003 hingga
2004 melanjutkan studi di Program Pascasarjana Institut Injili Indonesia dan lulus dengan
gelar Master of Arts in Christian Education (M.A.C.E). Studi ini berlanjut pada tahun
2004-2006 dan lulus dengan gelar Master of Theology ([Link]) In Christian Education.
Selanjutnya pada tahun 2011 melanjutkan studi di program Pascasarjana di Sekolah
Tinggi Theologi Jaffray Jakarta Program Studi Pendidikan Jaffray Jakarta kosentrasi
Pendidikan Agama Kristen dengan Gelar magister Pendidikan Kristen ([Link].K)
Sedangkan pelayanan penulis diawali pada tahun 1994-1997 dengan menjadi guru
Sekolah Minggu, pemain musik dan pelatih paduan suara di gereja AMIN Tetehosi, Nias.
Selanjutnya selama studi di STT IAA, penulis melayani pada persekutuan karyawan

GKA Elyon Surabaya melalui pembinaan rohani dan keterampilan (1998-2000). Setahun
kemudian penulis melanjutkan pelayanan di Gereja Kebangkitan Kalam Allah Indonesia
(GKKA-I), Denpasar Bali dalam rangka praktik pelayanan satu tahun. Selanjutnya pada
tahun 2000 hingga 2001, penulis melayani di GKA Jombang dan GKA Probolinggo.
Pada tahun 2002 penulis melanjutkan pelayanan di Gereja Persekutuan Kristen
(GePeKris), Tretes, Prigen, Pasuruan hingga tahun 2006. Pada tahun 2007 penulis
melayani secara freelance sebagai pembicara dalam program radio berbahasa Nias yang
diproduksi oleh LTWR Batu. Pada tahun 2010 menjadi narasumber program SOLUSI
KEHIDUPAN, program radio yang diproduksi Studio Sentosa YPPII Batu.
Selanjutnya 2008 hingga saat ini, penulis melayani sebagai Ketua Program Studi
PAK di Sekolah Tinggi Teologia Injili Abdi Allah (STT-IAA) Pacet, Mojokerto. Selain
itu, di Institusi yang sama, penulis melayani sebagai Ibu Asrama, sejak tahun 2010
hingga saat ini. Selain di STT IAA, sejak tahun 2011, penulis juga melayani secara part
time sebagai tutor dan pembimbing di KP3K (Kursus Pelayanan Penulisan Pena Kasih),
lembaga pelayanan yang bergerak di bidang pelatihan pelayanan penulisan bagi jemaat
dan kaum awam. Dan juga sebagai coordinator Educhrist, sebuah tim pelayanan yang
bergerak dalam bidang pelayanan Pendidikan Kristen bagi jemaat serta sebagai tutor di
Kursus Teologi dan pelayanan Online (KTP Online) sebuah lembaga pendidikan teologi
dan pelayanan secara online yang berbasis pendidikan dan konseling Kristen.

Anda mungkin juga menyukai