Korelasi Visi-Misi Pendidikan Kristen
Korelasi Visi-Misi Pendidikan Kristen
TESIS
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Akademik
Bagi pencapaian Gelar Magister Pendidikan Kristen
Kosentrasi PAK
Oleh:
Rosnila Hura
NIM: 1122526
PROGRAM PASCASARJANA
SEKOLAH TINGGI THEOLOGI JAFFRAY JAKARTA
JAKARTA, 31 AGUSTUS 2011
ABSTRAK
Hura, Rosnila. 2011. Studi Korelasi antara Visi-Misi Pendidikan Kristen Dengan
Program Pembinaan Rohani Jemaat dan Relevansinya Dengan Gereja Persekutuan
Kristen se-Jatim. Tesis Prodi PAK, program Pasca Sarjana: Magister Pendidikan Kristen
([Link]), Sekolah Tinggi Teologi Jaffray (STT Jaffray): Pembimbing: Pdt. Drs. Jerry
Rumahlatu, [Link]
Kata Kunci: Korelasi, Visi-Misi Pendidikan Kristen, Program Pembinaan Rohani Jemaat.
Pendidikan Kristen bukan hanya menjadi bagian dari Institusi pendidikan formal
melainkan juga menjadi bagian dari gereja yang merupakan lembaga yang dibentuk Allah
sendiri sebagai tempat pembinaan umat pilihanNya. Pendidikan Kristen yang benar tidak
dapat dipisahkan dari visi-misi yang melandasi setiap aktivitas pendidikan Kristen. Oleh
sebab itu pendidikan Kristen yang juga merupakan bagian integral dari gereja harus
didasarkan pada visi-misi yang Alkitabiah dan sesuai dengan kebenaran teologis Kristen
yang benar.
Sebagai bagian dari institusi rohani yang bertanggungjawab dalam proses
pembinaan rohani jemaat, gereja, termasuk didalamnya Gereja Persekutuan Kristen
(GePeKris) yang berada di wilayah Jawa Timur memiliki tanggung jawab yang besar
dalam keberhasilan proses pembinaan dan pendidikan jemaat yang dilaksanakannya.
Efektifitas dan efisien setiap kegiatan pembinaan rohani jemaat dan pendidikan
merupakan hal yang harus terpenuhi. Oleh sebab itu gereja-gereja yang tergabung dalam
GePeKris di wilayah Jawa Timur perlu menyusun suatu program pembinaan rohani yang
akan menjadi acuan bersama dalam setiap pelaksanaan kegiatan maupun pelayanan yang
dilaksanakan.
Dalam kaitannya dengan pelaksanaan di lapangan, visi-misi pendidikan Kristen
yang harus menjadi dasar setiap proses pembinaan jemaat yang dilakukan gereja
termasuk di dalamnya GePeKris se-Jatim, program pembinaan rohani jemaat merupakan
bagian yang integral dari proses tersebut. Hal ini dikarenakan program gereja merupakan
alat yang dapat menjadi acuan bagi tercapainya visi-misi pendidikan Kristen dalam
pelayanan gerejawi yaitu terciptanya transformasi bagi jemaat yang mencakup aspek
kogntif, afektif dan psikomotorik.
Walaupun secara teori dan dipandang secara umum bahwa ada hubungan yang
integral antara visi-misi pedidikan Kristen dengan program pembinaan rohani jemaat,
dalam pelaksanaanya seringkali kurang ada singkronisasi antara visi-misi pendidikan
Kristen dengan program gereja. Hal ini menyebabkan visi-misi pendidikan Kristen tidak
mewarnai program gereja. Di sisi lain seringkali visi-misi pendidikan Kristen telah
menjadi dasar dari program pembinaan rohani jemaat, namun dalam pelaksanaannya
seringkali jemaat dan komponen yang terlibat dalam pelayanan gereja kurang dapat
menjalankan program pembinaan dengan baik, maka hasilya pun tidak baik. Hal ini
menyebabkan visi-misi pendidikan Kristen tidak tercapai.
Sebagai bagian dari gereja secara universal, GePeKris sejak awal berdirinya
hingga sampai sekarang ini telah berupaya untuk melakukan kegiatan pembinaan rohani
kepada jemaat dengan berbagai bentuk program yang ada, namun jika diperhatikan dalam
pertumbuhan dari tahun ketahun, baik secara kuantitas maupun secara kualitas maka
tidak menunjukkan pertumbuhan. Malah yang kelihatan jumlah jemaat semakin merosot,
semangat untuk melayani berkurang sekalipun mereka tahu bahwa mereka harus
melayani, hidup dalam persekutuan dengan sesama maupun pribadi semakin menurun.
Mengapa demikian?
Tesis ini akan memfokuskan pembahasan terhadap permasalahan tersebut. Dalam
tesis ini penulis akan membahas mengenai Studi korelasi antara visi-misi pendidikan
Kristen dengan program pembinaan rohani jemaat dan relevansinya bagi Gereja
Persekutuan Kristen se-Jatim (GePeKris) dan bagaimana kedua hal tersebut
dilaksanakan dalam setiap kegiatan maupun pelayanan yang bersifat rutin dan insidentil
di beberapa gereja tersebut.
Dengan mengangkat topik ini, penulis memiliki tujuan secara umum, supaya
setiap pembaca dapat memahami korelasi antara visi-misi pendidikan Kristen dengan
program pembinaan rohani jemaat dan berbagai hal yang berkaitan dengan hal itu.
Sementara itu secara khusus penulis bertujuan supaya setiap pihak terkait dapat
memahami bagaimana hubungan antara visi-misi pendidikan Kristen dan program gereja
di GePeKris se Jatim, dan melaluinya setiap pihak yang terkait dapat memiliki gambaran
sesuatu yang harus dilaksanakan berkaitan dengan hal tersebut.
Agar tujuan yang penulis maksudkan dapat tercapai, maka pola pikir secara garis
besar adalah penulis memulai tulisan ini dengan memaparkan pokok permasalahan dalam
bab satu, kemudian dalam bab dua penulis akan menguraikan landasan teori yang dapat
dipakai atau berfungsi membangun suatu landasan teori berdasarkan teori yang telah ada
dan juga berfungsi sebagai landasan untuk memahami subjek riset. Setelah itu dalam bab
tiga, penulis memaparkan metodologi penulisan yang dipakai. Dalam bab IV
menguraikan hasil temuan penelitian dan aplikasinya. Setelah itu dalam bab lima adalah
bab penutup dengan mengambil kesimpulan dan memberikan saran bagi para pembaca
tesis ini.
PRAKATA
Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yesus yang telah
menganugrahkan kesempatan pada penulis untuk menulis tesis ini di STT Jaffray. Juga
tak lupa penulis mengucap syukur atas penyertaan dan hikmat yang Tuhan Yesus berikan
dalam penyusunan tesis ini hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikannya di tengahtengah keterbatasan yang penulis miliki.
Pada kesempatan ini pula penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Drs. Jerry
Rumahlatu, [Link] selaku rektor STT Jaffray sekaligus sebagai pembimbing penulis dalam
menulis Tesis ini, yang memberikan kesemptan kepada penulis selama penulis
menyelesaikan studi program Pasca Sarjana, serta bimbingan kepada penulis selama
penyelesaian studi di STT Jaffray. Tak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih
kepada Pdt. Nasokhili Giawa, [Link], selaku pembantu Rektor Bidang Akademik dan
seluruh staf yang telah berjerih lelah membantu penulis selama studi hingga penyelesaian
tesis ini.
Ucapan terima kasih juga penulis hanturkan kepada Pdt. Musa Surtjadi, [Link] dan
seluruh pengurus BKS GePeKris (Badan Kerja Sama Gereja Persekutuan Kristen) seJatim serta gembala jemaat GePeKris Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Malang Prigen dan
tretes atas kesempatan dan bantuan yang diberikan kepada penulis untuk melakukan
penelitian hingga terselesaikan dengan baik. Juga kepada jemaat dan pengurus gereja
yang dengan penuh kerelaan berkenan mengisi angket yang penulis sebarkan serta
membantu penulis dalam distribusi angket tersebut.
Tak lupa juga penulis mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada pada sponsor
dan donatur yang selama ini telah berkenan memberkati penulis melalui pembiayaan
studi selama penulis menyelesaikan tesisi ini. Sebagai manusia, penulis tidak dapat
membalas budi baik ibu, namun penulis yakin karya Kristus dalam kehidupan ibu akan
terus Ia nyatakan hingga ibu dapat menjadi sarana penyataan anugrah dan kemuliaan-Nya
bagi sesama dan pekerjaan-Nya.
Ucapan syukur kehadirat Tuhan juga penulis haturkan atas kehadiran orang tua
penulis bapak Atuloo Hura, mama Fatiada Lorasa, saudara-saudara penulis di Nias serta
orang tua penulis di Jawa ibu Dwi Tjahja Rudatin, adik penulis yang ada di Kediri, yang
selama ini dipakai-Nya untuk mengukir kehidupan penulis terutama dalam pelayanan
yang telah Tuhan percayakan kepada Penulis.
Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada suami penulis, Immanuel
Yosua yang rela meluangkan waktunya ditengah kesibukan mengumpulkan berita
untuk mendorong dan mendampingi penulis dalam penyelesaian tesis ini. Juga kepada
kedua putri penulis, Augustine Putri Cahyaning Negari dan Desy Aurelia Putri
Ardiningrum yang telah menjadi penyemangat hidup dan menambah kegigihan dalam
diri penulis.
Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa STTIAA secara
khusus mahasiswa Prodi PAK, yang turut menyemangati dan mendorong bahkan
mendoakan penulis selama menyelesaikan tesis ini, dan oleh karena merekalah penulis
berupaya menyesaikan tesis ini.
Akhir kata penulis mengucapkan kepada pembaca dan seluruh pihak yang berkenan
membaca dan memberi masukan terhadap tesis ini. Setiap masukan yang membangun
sangat penulis harapkan bagi perbaikan tesis ini.
Ibarat tak ada gading yang tak retak, penulis sadar banyak kekurangan dalam tesis
ini, sehingga bukan suatu hal berlebihan ketika penulis menyampaikan permohonan maaf
terhadap kekurangan tersebut. Besar harapan penulis karya sederhana ini dapat
memperkaya khasana pengetahuan berkenan dengan pelayanan pendidikan Kristen dalam
gereja.
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN .
ABSTRAK.
ii
KATA PENGANTAR
iv
DAFTAR ISI.
vi
BAB I PENDAHULUAN.
C. Tujuan Penelitian.. 10
D. Asumsi Penelitian. 10
E. Hipotesa Penelitian 10
F. Manfaat Penelitian 11
G. Batasan Penelitian. 12
H. Definisi Istilah..
13
I. Metodologi Penelirian.. 14
J. Sistimatika Penulisan 15
BAB II LANDASAN TEORI VISI-MISI PENDIDIKAN KRISTEN DAN
PROGRAM PEMBINAAN ROHANI JEMAAT.. 17
A. Tinjauan Literatur Tentang Visi-Misi Pendidikan Kristen.. 17
a. Pengertian Visi-Misi Pendidikan Kristen...................... 18
b. Visi-Misi Pendidikan Kristen Ditinjau dari Sudut Pandang
Alkitab 19
c. Visi-Misi Pendidikan Kristen Ditinjau dari Sudut Pandang
Teologis.
25
29
31
41
46
46
Bab I
PENDAHULUAN
Dalam bab ini penulis akan membahas mengenai pokok-pokok mendasar yang
berhubungan dengan judul penelitian tentang Studi Korelasi Antara Visi-Misi
Pendidikan Kristen dengan Program Pembinaan Rohani Jemaat dan Aplikasinya Bagi
gereja Gepekris se-Jatim. Pokok-pokok mendasar yang penulis maksudkan adalah: latar
belakang masalah, isu inti masalah, tujuan penelitian, asumsi penelitian, hipotesis
penelitian, Manfaat penelitian, batasan penelitian, Definisi istilah, metodologi penelitian.
dengan program pembinaan rohani jemaat sehingga dengan program pembinaan yang
dibangun di atas visi-misi pendidikan Kristen tersebut dapat menghasilkan jemaat yang
berkualitas.
Selain dilaksanakan melalui lembaga-lembaga pendidikan formal, gereja juga
merupakan lembaga pendidikan Kristen untuk mempersiapkan pribadi-pribadi Kristiani.
Melalui gereja, seorang pengajar atau hamba Tuhan mendidik, mempersiapkan dan
memperlengkapi jemaat supaya memiliki pengetahuan dan keterampilan agar dapat
terlibat secara efektif dalam pekerjaan pelayanan. Adapun fungsi dari Pendidikan Kristen
dalam gereja adalah untuk membangun tubuh Kristus agar gereja sanggup melaksanakan
maksud Tuhan.
Dalam persekutuan umat Allah Perjanjian Lama terdapat kegiatan pembinaan atau
kegitatan mendidik mulai dari anak-anak sampai kepada yang tua dibagi menjadi dua
bagian yaitu pendidikan sebelum Israel dibuang Allah yang dikenal dengan pendidikan
pra pembuangan dan pendidikan pada masa setelah Israel kembali dari pembuangan yang
dikenal dengan pendidikan post pembuangan. Pendidikan pada masa pra pembuangan.
Berlangsung dalam kehidupan sehari-hari melalui keluarga.
Pendidikan pada masa post pembuangan bangsa Israel ke Babel yang dilakukan
dalam rumah-rumha ibadah dengan fokus utama untuk membangun kehidupan rohani
umat Tuhan. Pendidikan itu terus berlangsung hingga masa Perjanjian Baru, di mana
proses tersebut dikerjakan langsung oleh Tuhan Yesus, baik dalam bentuk mengajar,
berkhotbah, memanggil mempersiapkan para murid, memperlengkapi, mendampingi para
murid dan menguji mereka.1 Pendidikan tersebut tidak berhenti pada masa Yesus, tetapi
pekerjaan itu diteruskan oleh para rasul-rasul, dan dikembangkan oleh para hamba-hamba
Tuhan pada zaman sekarang ini.
Saat ini gereja seolah-olah dianggap seperti bioskop. Hanya bedanya jika dibioskop
bayar dulu baru masuk. Sedangkan di gereja masuk dulu baru bayar. Artinya jika
dibioskop bayar karcis dulu baru masuk ruangan untuk menonton. Kalau digereja masuk
dulu baru bayar persembahan. Sehigga tidak jarang dan tidak sedikit digereja memandang
persembahan itu merupakan penekanan dalam ibadah, sehingga jika jemaat tidak
memberi persembahan selalu disindir dikhotbah. Akirnya jemaat yang merasa malu dan
tersinggung dengan khotbah yang seperti itu membuat jemaat tidak mau ke gereja.
Apakah itu fungsi gereja?
Fungsi gereja masa kini bukan hanya sebagai tempat ibadah, bukan hanya sebagai
tempat untuk melayani, tetapi gereja juga menjadi salah satu lembaga pendukung
terlaksananya pendidikan Kristen secara [Link] panggilan ini pada hakikatnya
diperuntukkan bagi seluruh warga gereja. Oleh karena warga gereja adalah pelaku
perencanaan dan pelaksana program pembinaan gereja. Hal ini sebagaimana diungkap
oleh Widi Artanto, yang mendasarkan pendapatnya pada Efesus 4:11-16:
Para pemimpin jemaat bertugas untuk melengkapi orang-orang kudus (warga
gereja) untuk melaksanakan pekerjaan pelayanan bagi pembangunan tubuh
Kristus/pembangunan jemaat. Tujuan dari pembangungan jemaat yang
dilaksanakan oleh warga gereja dengan dukungan para pemimpin adalah agar
jemaat/gereja dalam segala hal terarah kepada Kristus, berarti terus menerus
bergerak, maju bertumbuh menjadi jemaat atau gereja seperti yang dikehendaki
oleh Kristus.2
1
Homrighausen dan Enklaar, Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: Gunung Mulia, 1996, hlm. 1-9.
Widi Artanto, Pengertian PWG, Pembinaan Warga gereja. di edit oleh [Link], Jakarta:
Departemen Pembinaan dan Pendidikan, 1992, hlm. 12.
2
Sebagaimana Alkitab baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru
memberi gambaran tentang Visi misi Pendidikan Kristen yang tidak boleh diabaikan oleh
pemimpin gereja, Pembina, Hamba Tuhan. Dalam Perjanjian Lama dijelaskan dalam
3
Stevri Indra Lumintang, Dasar-DasarTeologi Pendidikan Kristen. Satuan dan Outline Pembelajaran,
materi Perkuliahan. Batu: Institit Injil Indonesia, 2003, hlm. 7.
4
Ron Jenson & JimStevens, Dinamika Pertumbuhan Gereja. Malang: Gandum Mas, 2004, hlm. 58.
kitab Ulangan 6:1-9 menjelaskan bahwa sesungguhnya orang tua dari orang Israel tidak
hanya mengajarkan anak-anak mereka agar anak-anak mereka tahu apa yang diperbuat
Allah terhadap mereka tetapi lebih dari pada itu, yaitu agar ana-anak mereka tetap
berpegang pada ketetapan dan perintah Allah nenek moyang seumur hidup mereka. Dari
bagian ini ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan yaitu: diajar agar mereka
tahu, diajar agar berpegang pada ketetapan dan perintah Allah. Artinya bahwa orang
Israel sejak anak-anak diajarkan tentang Allah bukan hanya sekedar atau asal memiliki
pengetahuan tentang Allah tetapi juga agar mereka berpegang pada kebenaran itu dan
melakukan perintahNya. Oleh karena itu orang tua bertanggung jawab untuk
mengajarkan terus menerus kepada anak-anaknya.
Sedangkan dalam Perjanjian Baru dijelaskan dalam Kitab Matius 28:19-20.5 Dalam
bagian ini Tuhan Yesus sebelum Dia naik ke Surga Ia memberikan perintah yang
istimewah kepada murid-murid-Nya. Dan dalam tugas yang murid-murid lakukan ada
tiga aspek yang bertahap untuk mereka kerjakan. Yaitu pertama, Tuhan Yesus meminta
murid-murid-Nya untuk menjadikan semua orang menjadi murid-Nyaya. Kedua, mereka
yang bersedia menjadi murid harus diwujudkan dalam babtisan sebagai pertanda bahwa
mereka telah lahir baru dan berkomitmen menjadi murid Kristus. Dan ketiga adalah
murid-murid harus mengajarkan mereka untuk melakukan segala apa yang diperintahkan
Tuhan kepada mereka. Ke tiga aspek ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan yang
diharapkan oleh Yesus tidak hanya berhenti setelah seseorang dibabtis tetapi membina
Orang sering mengatakan bahwa Matius 28:19-20 berisikan tentang misi, sehingga tidak jarang
dipakai ayat ini sebagai dasar dari penginjilan. Namun menurut keyakinan penulis bahwa ayat ini selain
berisikan tentang misi, juga berisikan tentang perindah untuk mendididik.
seseorang atau jemaat untuk melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Artinya bahwa
dalam pendidikan harus terjadi transformasi seutuhnya.
Agar visi misi pendidikan Kristen dapat dicapai, dalam pelaksanaannya, visi misi
pendidikan Kristen harus sejalan dan berkaitan dengan program gereja yang sedang
disusun maupun dilaksanakan. Program gereja yang seimbang untuk pendidikan Kristen
ditandai dengan sejumlah faktor yang akan dijelaskan dalam bab dua.
Walaupun diatas telah dikatakan bahwa idealnya program pembinaan rohani jemaat
harus sejalan dengan visi misi pendidikan Kristen, namun sering kali terjadi dalam
pelaksanaan program dilakukan tanpa mendasari pada visi misi pendidikan Kristen, atau
dengan kata lain pembinaan itu dilakukan tanpa arah. Sehingga yang terlihat dalam
pembinaan rohani melalui khotbah, PA dan lain-lain lebih menekankan jemaat untuk
memiliki pengetahuan tentang Alkitab. Hal ini terbukti ketika khotbah pada hari minggu
ditanyakan pada waktu hari pelaksanaan PA atau pun kebaktian Doa, yang ditanya adalah
siapa yang mengingat tema khotbah minggu lalu, terambil dari kitab mana, dan apa yang
dijelaskan? Tetapi tidak menanyakan siapa yang sudah melakukan Firman Tuhan itu.6
Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa kondisi pembinaan rohani jemaat berbeda
dengan kondisi yang diharapkan sebagai mana yang telah dilakukan oleh orang Israel
kepada anak-anaknya. akhir-akhir ini sebagian gereja kurang memperhatikan pendidikan
Kristen. Gereja lebih terfokus pada program-program yang terlalu besar dan terlalu
banyak yang hanya memberikan bahwa gereja ada kemajuan melalui program-program
tersebut, sekalipun di dalamnya rapuh.
Informasi ini diperoleh dari hasil wawancara dari salah seorang jemaat yang juga aktivis dari gereja
tersebut.
Sebagai akibat dari pembinaan rohani yang tidak didasarkan pada visi misi
pendidikan Kristen hidup dalam kerapuhan & tidak dapat berkembang baik secara
kualitas maupun secara kuantitas, bahkan ada gereja yang tadinya sangat banyak jemaat
dan jemaatnya sangat aktif tetapi lama-kelamaan jemaat-jemaat tersebut bukan semakin
giat ikut ibadah apa lagi giat melayani, tetapi sebaliknya jemaat banyak mengundurkan
diri, ada juga yang tidak mau melayani lagi. Dan ketika dilakukan pembesukkan, jemaatjemaat tersebut hanya menjawab tidak ada waktu karena hari minggu saya tetap kerja,
sebagian lain mengatakan saya tidak punya uang untuk persembahan, 7 sebagian lagi
mengatakan saya akan datang tapi sekali-sekali saja karena saya harus cari uang untuk
keluarga saya, dan yang lebih parah adajuga jemaat yang meninggalkan imannya dan
berpindah ke agama lain. Dalam hal ini memperlihatkan gereja ataupun jemaat tidak
dapat bertumbuh secara kualitas maupun kuantitas.
Masalah-masalah yang terjadi di gereja secara umum tidak tertutup kemungkinan
juga menjadi masalah yang dihadapi oleh Gereja Persekutuan Kristen Jawa Timur
(GePeKris). Gereja persekutuan Kristen (GePeKris) di jawa timur terdiri dari 5 gereja
yang sudah mandiri satu gereja yang belum mandiri atau Pos PI. Untuk sejarah berdirinya
gereja ini akan dipaparkan dalam bab empat.
Pdt. Musa Surtjadi, salah seorang pengurus Sinode Gereja Persekutuan Kristen,
melalui sambutannya dalam acara nata GePeKris se-Jatim mengungkapkan bahwa Gereja
Persekutuan Kristen se-Jatim berjalan ditempat. Dalam pengertian bahwa gereja tidak ada
7
Pernyataan ini berawal ketika seorang pdt. Bekhotbah agar jemaat dapat memberi persembahan
kepada Tuhan, jangan pelit, apa engaku tidak malu menghadap Tuhan jika engkau tidak member
persembahan? sejak itu jemaat yang tersinggung tidak mau kegerja lagi.
8
Kata sambutan dari Pdt. Musa Surtjadi di acara natal GePeKris se-Jatim pada tanggal 9 Januari 2006,
bertempat di Gereja Persekutuan Kristen Mojokerto.
C. Tujuan penelitian
Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini secara umum bertujuan untuk
menggali visi-misi Pendidikan Kristen, diharapkan pula agar melalui riset ini
mengungkapkan bagaimana visi misi Pendidikan Kristen ini bisa berpengaruh dalam
berhasilnya program-program pembinaan jemaat, Apakah Gereja Persekutuan Kristen
menjalankan program pembinaan rohani jemaat betolak dari visi misi Pendidikan Kristen.
D. Asumsi Penelitian
Bertolak dari anggapan dasar tentang suatu hal yang dijadikan pijakan berpikir dan
bertindak dalam melaksanakan penelitian, maka penulis berasumsi bahwa visi-misi
pendidikan Kristen itu penting untuk diterapkan dalam pelaksanaan program pembinaan
rohani jemaat, visi misi tersebut mempengaruhi jalannya program gereja yang terus
dikerjakan sampai akhir zaman. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kaburnya visi-misi
Pendidikan Kristen mengakibatkan program pembinaan rohani jemaat terlaksana tanpa
tujuan yang pasti dan program gereja terlihat hanya sebagai rutinitas saja. Sebaliknya
demikian, bahwa lemahnya program gereja mengakibatkan visi-misi pendidikan Kristen
tidak tercapai.
E. Hipotesa Penelitian
Dalam Riset ini maka penulis memiliki hipotesa bahwa jika program gereja sesuai
dengan visi-misi pendidikan Kristen maka program tersebut dapat tearah dan terfokus
serta jemaat akan mengalami transformasi sesuai dengan visi misi Pendidikan Kristen.
F. Manfaat Penelitian
Studi ini merupakan pokok yang cukup penting, karena penelitian mengenai pokok
ini dapat menyediakan literatur pendidikan Kristen yang dapat dijadikan sebagai salah
satu acuan penelitian terhadap gereja dalam konteks hubungan visi misi pendidikan
Kristen dengan program gereja.
Penulis mengakui bahwa tulisan ini bukan sesuatu yang baru dan satu-satunya
pegangan dalam melihat hubungan-hubungan visi misi pendidikan Kristen dengan
program gereja, namun setidaknya tulisan ini menjadi salah satu pertimbangan bagi
Gereja Persekutuan Kristen di Jawa Timur (GePeKris) dalam memformulasikan visi-misi
Pendidikan Kristen dan membangun program berdasarkan visi-misi Pendidikan Kristen.
Selain itu, tulisan ini kiranya menjadi referensi bagi para pemimpin, pengajar, Pembina,
pengurus di Gereja Pesekutuan Kristen di Jawa Timur dalam melaksanakan program
gereja dan membangkitkan semangat jemaat untuk semakin mengalami proses
pendewasaan.
Sekalipun studi ini dikaji dan disajikan untuk konteks para pemimpin, pengajar,
pembina, pengurus jemaat di GePeKris Jatim, namun penulis yakin bahwa semua gerejagereja yang lain dapat diperkaya melalui kajian ini. Akhirnya penelitian ini sangat berarti
bagi penulis, dalam upaya memenuhi tuntutan akademik bagi penyelesaian program studi
Magister Pendidikan Kristen.
G. Batasan Penelitian
Berdasarkan kebutuhan riset yang ingin menemukan korelasi visi misi pendidikan
dengan program pembinaan rohani jemaat, maka penelitian ini diarahkan untuk
menemukan visi misi Pendidikan Kristen dan program pembinaan rohani jemaat saja.
Searah dengan itu maka untuk mempertahankan benang merah penelitian ini dan
memfokuskan arah tulisan ini
sebelumnya, maka penulis membatasi wilayah atau ruang gerak penelitian ini hanya pada
hal-hal sebagai berikut:
Karena Pendidikan Kristen begitu luas maka penulis tidak membahas masalah
Pendidikan Kristen dalam keluarga, Pendidikan Kristen di lembaga-lembaga sekolah atau
Pendidikan Kristen dalam setiap organisasi Kristen, tetapi penulis membatasi hanya
membahas Pendidikan Kristen dalam gereja dimana seluruh penelitian diarahkan dalam
menemukan korelasi visi misi Pendidikan Kristen dengan program gereja.
Pada umumnya seluruh gereja-gereja memiliki isi pengajaran yang sama, namun
tidak semua gereja memiliki latar belakang konteks yang sama. Sekalipun semua gereja
memiliki pemahaman Alkitab yang sama, namun tidak semua gereja memiliki penerapan
yang sama. Karena itu penelitian ini lebih diformulasikan untuk konteks gereja-gereja
yang tergabung dalam gereja Persekutuan Kristen di Jawa Timur.
Penulis juga membatasi penelitian ini hanya kepada jemaat yang resmi atau terdaftar
sebagai jemaat di Gereja Persekutuan Kristen se-Jatim. Sekalipun dalam jemaat itu ada
yang sering beribadah di salah satu Gereja Persekutuan Kristen seperti di GePeKris
Tretes banyak jemaat yang beribadah namun jemaat-jemaat tersebut bukan jemaat tetap
GePeKris Tretes, melainkan jemaat simpatisan.
H. Definisi Istilah
Dalam pembahasan ini ada beberapa istilah yang menurut penulis penting untuk
dijelaskan yaitu: apa arti pendidikan Kristen, visi misi dan program pembinaan.
Pendidikan (Edukation) dari kata educate yang artinya to lead out, to bring up, train.
Dari pengertian ini dijelaskan bahwa the education is the process of training and
developing the knowledge, skil, mind and character.
9
____________ Websters New Dictionary of the American Language. College Edition. Cleveland
and New York: The WorldPublishing Company, 19570, hlm. 461.
Pengertian pendidikan di atas diterjemahkan sebagai peroses pelatihan dan pengembangan pengetahuan,
keterampilan, pengembangan cara berpikir dan karakter.
10
JohnDewey, Democracy an Education for Christian Living. Englewood Cliffs: Prentice-hall, Inc,
1956, hlm 41.
Dari pengertian yang dijelaskan oleh John Dewey dalam bukunya diterjemahkan oleh penulis bahwa
pendidikan adalah merekontruksi atau memulihkan kembali pengalaman. Pemulihan ini membutuhkan
waktu, sampai akhirnya kegiatan pendidikan ini mencapai tujuan akhir yaitu transformasi mutu atau
kualitas pengalaman hidup.
Sedangkan visi misi Menurut Bambang Garang adalah suatu pandangan jauh
kedepan berisi tentang kesimpulan, prediksi, tujuan, dan komitmen. 11 Namun penulis
merumuskan pengertian visi-misi ini berdasarkan Amanat Agung Tuhan Yesus, pertama:
supaya murid-Nya dapat mengajar semua orang menjadi Murid-Nya, kedua: lalu mereka
yang telah menjadi murid dapat memberi diri dibabtis dan langkah ketiga adalah
mengajarkan orang-orang yang telah dibabtis untuk melakukan apa yang didiperintahkan
Tuhan.12 Maka dari bagian ini penulis melihat bahwa visimisi pendidikan Kristen adalah
transformasi, namun untuk mentransformasi seseorang membutuhkan proses.
Pengertian program menurut kamus umum bahasa indonesia adalah: rancangan
mengenai asas-asas serta dengan usaha-usaha. 13 Pengertian yang senada dengan itu
adalah pendapat [Link] bahwa program adalah Rancangan/rencana.14 Dari pengertian
di atas maka penulis merumuskan bahwa program adalah serangkaian rancangan kegiatan
gereja untuk mendukung tercapainya visi pendidikan Kristen dalam gereja.
I. Metodologi Penelitian
Berkenaan dengan pokok riset yang diteliti mengenai, Studi Korelasi antara Visi
Misi Pendidikan Kristen dengan Program Pembinaan Rohani Jemaat dan relevansinya
bagi jemaat di Gereja Persekutuan Kristen Jawa Timur. maka metode yang digunakan
oleh penulis dalam penelitian ini adalah metodologi Kuantitatif dengan pendekatan
11
Bambang Garang, Evaluasi Program-materi Kuliah. Batu: Institut Injil Indonesia, 2004.
Matius 28: 19-20
13
W.J.S. Poewardaminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Cetakan Ketiga. Jakarta: Dinas Penerbit
Balai Pustaka, 1960.
14
T. Heru Kasida Brataatmaja, Kamus bahasa Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.
12
operasional objektif empiris dan menggunakan penalaran deduktif yaitu penalaran dari
umum ke khusus.
J. Sistimatika Penulisan
Agar pembaca mempunyai gambaran mengenai penelitian ini pada bagian akhir bab
ini penulis akan menyajikan sistimatika penulisan. Adapun sistimatika penulisan ini
sebagai berikut:
Dalam bab pertama, yang merupakan bagian pendahuluan dari tesis ini, penulis akan
memaparkan beberapa hal mendasar dari penelitian ini, meliputi latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, asumsi penelitian, hipotesa penelitian, manfaat
penelitian, batasan penelitian, definisi istilah, metodologi penelitian dan sistimatika
penulisan.
Pada bab dua, penulis akan membahas landasan teori visi misi pendidikan Kristen
dan program pembinaan jemaat yang diuraikan dalam beberapa bagian yaitu: pertama,
Tinjauan Literatur Tentang Visi Misi Pendidikan Kristen terdiri dari: Visi-Misi
Pendidikan Kristen Dintinjau dari Sudut Pandang Alkitab, Visi- Misi Pendidikan Kristen
Ditinjau dari Sudut Pandang Teologis, Sumber Pendidikan Kristen dalam Gereja, Kristus
Sebagai Sentral dari Pendidikan Kristen dalam Gereja, Gereja Sebagai Agen Allah dalam
Pelaksanaan Pendidikan Kristen dalam Gereja, Tujuan Pendidikan Kristen dalam Gereja.
Kedua adalah: Tinjauan literatur Tentang Program Pembinaan Jemaat Berdasarkan VisiMisi Pendidikan Kristen terdiri dari: Pentingnya penyusunan Program Pembinaan Jemaat
berdasarkan Visi Misi Pendidikan Kristen, Tujuan Penyusunan Program Gereja, Cara
Penyusunan Program Gereja Berdasarkan Visi-Misi pendidikan Kristen.
Dalam bab tiga diuraian prosedur metodologi pernelitian yang tediri dari Rancangan
penelitian, populasi dan sampel, instrumen penelitian, teknik/prosedur pengumpulan data,
Analis data.
Dalam bab IV, penulis akan menyajikan hasil penelitian yang telah penulis dapatkan
dengan lankah-langlah sebagai berikut: analisis temuan penelitian, interpretasi temuan
penelitian, aplikasi temuan penelitian dan rangkuman.
Akhirnya bab V merupakan penutup dari penulisan ini. Penulis akan menyajikan
tentang kesimpulan, saran dan rekomendasi.
BAB II
LANDASAN TEORI VISI-MISI PENDIDIKAN KRISTEN
DAN PROGRAM PEMBINAAN ROHANI JEMAAT
Setelah penulis memaparkan latar belakang dan merumuskan masalah dalam bab
satu atau bab pendahuluan, maka dalam bagian ini penulis membahas secara khusus
mengenai beberapa hal mendasar dengan landasan teori dari penelitian yang penulis
lakukan. Hal tersebut penulis golongkan menjadi dua kategori yaitu tinjauan literatur
tentang visi-misi pendidikan Kristen dan tinjauan literatur tentang program pembinaan
jemaat berdasarkan visi-misi pendidikan Kristen.
Kristen dalam gereja sebagai agen Allah, rumusan tujuan pendidikan Kristen dalam
gereja
tertulis dalam Alkitab Matius 28:19-20 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa
muridku dan babtislah mereka dalam nama Bapak, Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah
mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah,
Aku menyertai kamu senantiasa sampai pada akhir zaman. Dengan demikian untuk
menjalankan tugas tersebut, maka para pendidik maupun para pembina rohani jemaat
harus memiliki visi-misi pendidikan Kristen yang jelas untuk memimpin orang kepada
Tuhan.
Senada dengan itu, John Dewey mengartikan Pendidikan Kristen dalam bahasa
inggris Education is a Constant reorganizing or reconstructing of experience. It has all
the time an immediate end, and so far as activity is educative it reaches that end-the direct
transformation of the quality of experience.17 Pengertian ini diterjemahkan oleh penulis
bahwa pendidikan adalah merekontruksi atau memulihkan kembali pengalaman.
Pemulihan ini membutuhkan waktu, sampai akhirnya kegiatan pendidikan ini mencapai
tujuan akhir yaitu transformasi mutu atau kualitas pengalaman hidup.
17
yang benar bukanlah pendidikan. Pendidikan Kristen hanya dapat dikatakan pendidikan,
apabila dibangun di atas dasar yang kuat yaitu pemahaman mengenai pendidikan dalam
perspektif Teologi Kristen. Pernyataan yang sama dengan ini diungkapkan pula oleh
Wesner dalam bukunya.18 Karena itu teologi Kristen menjadi dasar pendidikan Kristen
dan teologi itu sendiri berfungsi untuk mengontrol pendidikan Kristen. Nilai pendidikan
Kristen terletak pada nilai teologisnya, oleh karena itu pendidikan Kristen dalam gereja
haruslah dipahami dalam pengertian bahwa Allah yang mengajar atau mendidik peserta
didik dalam jemaat.
Alkitab berisi sejarah keselamatan dan bukan sejarah pendidikan Kristen. Walaupun
Alkitab
secara
gamblang
membicarakan
masalah
pendidikan
Kristen
namun
sesungguhnya jika ditelusuri dengan teliti, isi Alkitab maka ada kesan bahwa memang
dalam Alkitab mengajarkan supaya setiap orang dapat dididik dan mendidik. Dalam
Perjanjian Lama berulang kali menekankan kata mengajar atau ajarlah. Mengajar
menurut Michael dimaksudkan untuk membawa umat Allah kepada kedewasaan rohani.19
Dalam ulangan 6 dijelaskan agar setiap orang tua mengajar anak-anaknya. Dalam bagian
ini umat Allah dipanggil dan dididik agar mereka belajar untuk mendengar, mengerti dan
mereka melakukan apa yang diajarkan kepada mereka.
Melihat tiga penekanan pengajaran dalam Perjanjian Lama yaitu mendengar,
mengerti dan mereka melakukan apa yang diajarkan kepada mereka adalah menunjukkan
bahwa pendidikan dan pengajaran harus menyentuh tiga aspek penting dalam kehidupan
manusia yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Berarti pengajaran yang diberikan pada
18
Wesner Fallow, Church Education for Tomorrow. Wesmister: Philadelphia, 1960, hlm. 37.
Michael J. Anthony, Evangelical Dictionary of Christian Education. Grand Rapids: Michigan Baker
Academikc, 2001, hlm. 693.
19
masa Perjanjian Lama adalah pengajaran yang harus mengubah kehidupan manusia mulai
dari kognitif, afektif dan psikomotor. Perubahan ini disebut dengan istilah transformasi.
Demikian pula dalam Perjajian Baru, berulang kali Yesus menekankan masalah
mengajar. Di dalam khotbah Yesus di bukit juga menekankan tentang pentingnya untuk
hidup di dalam ketaatan kepada perintah Allah dan mengajar orang untuk melakukanya
(Mat. 5:19).
Secara lebih jelas, di dalam pesan-pesan terakhir dari Tuhan Yesus kepada muridmurid-Nya sebelum Ia naik ke Surga dalam Matius 28:19-20 yang berbunyi demikian
karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan babtislah mereka dalam
nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang
telah kuperintahkan kepadamu. Dari ayat ini ditemukan proses membuat orang menjadi
murid Kristus mengandung dua unsur yaitu penginjilan dan pengajaran atau pendidikan.
Seseorang bisa saja melakukan tugas penginjilan dan membawa orang tersebut masuk
dalam gereja hingga mengambil keputusan untuk dibabtis namun tugas itu tidak berhenti
sampai di situ karena masih ada tantangan yang lebih besar yaitu mendidik orang tersebut
untuk bertumbuh menjadi dewasa dan menjadi seorang Kristen yang berkualitas dalam
iman dan penyerahan diri dalam melayani Tuhan. Dalam Efesus 4:15 menekankan suatu
pertumbuhan dalam segala aspek hidup manusia.
Pendidikan Kristen yang dituntut oleh Tuhan Yesus adalah pendidikan yang harus
mencapai tujuan akhir yaitu ajarlah mereka melakukan 20 segala sesuatu yang telah
diperintahkan oleh Tuhan. Inilah yang menjadi tantangan dalam program pembinaan
20
Kata melakukan di sini menunjukkan tindakan atau aspek Psikomotor. Dalam hal ini bagian Alkitab
ini menekankan bahwa pengajaran tidak hanya memberi perhatian kepada kognitif dan afektif saja tetapi
sampai kepada aspek psikomotor.
jemaat yaitu mengajak setiap jemaat untuk melakukan segala sesuatu yang diperintahkan
oleh Tuhan. Oleh karena itu Menurut L Humes, pemimpin, pengurus, pembina atau
Hamba Tuhan dalam gereja tidak boleh melupakan hubungan Pendidikan Kristen dengan
tugas gereja secara keseluruhan, orang Kristen perlu diajar dan dididik agar mereka
dalam segala hal menjadi dewasa dalam Kristus.21
Alkitab juga tetap memberi perhatian pada pendidikan yang berpusatkan pada
Allah. 22 Pendidikan adalah sebuah proses. Dikatakan sebuah proses karena manusia
adalah manusia yang terbatas untuk mengetahui, mengenal segala sesuatu. Seseorang
tidak langsung mengerti dan mengenal dan meyakini Allah, siapa pemeliharanya, kalau
tidak diajar. Seseorang tidak dapat memiliki sikap hati yang menyembah jika ia tidak
mengenal siapa yang ia sembah, dalam pengenalan ini membutuhkan proses. Juga
seseorang tidak langsung dewasa jika ia tidak melewati proses pendewasaan. 23 Eavey
menjelaskan dalam bukunya history shows Christian education as a proses in which
continuity and change are inseparably united.24
Pertanyaan yang menarik adalah: mengapa dalam mendidik orang kepada Tuhan
harus melewati proses?. Hal ini dikarenakan manusia ciptaan Allah yang segambar
21
L. Humes, Arah Pendidikan Kristen-Falsafah Pendidikan Kristen dan Dasar Alkitabiahnya. BatuMalang: Yayasan Persekutuan pekabaran Injil Indonesia, 1982, hlm. 26
22
Pendidikan Kristen harus berpusat kepada Allah. Pendidikn yang tidak berpusat pada Allah bukanlah
pendidikan Kristen, tetapi pendidikan atau pengetahuan umum. Karena itu seorang pendidik haruslah
memperhatikan hal ini.
23
Hal ini digambarkan ibarat tanaman yang ditanam. Sebuah tanaman tidak langsung berbuah jika
tidak melewati proses terlebih dahulu yaitu mulai dari penanaman biji tanaman, dia berakar dan mulai ada
daunnya, dalam proses pertumbuhannya tanaman itu harus disiram dan dipupuk sampai akhirnya dia
mengeluarkan buah yang banyak bila tanaman itu subur.
24
C.B Eavey, Historyof Christian Education. Chicago: Moody Press1965, hlm. 20. Menurutnya bahwa
dalam pendidikan Kristen di kenal dua bagian yang sangat penting yaitu pendidikan Kristen sebagai suatu
proses yang terus menerus dan pendidikan Kristen membawa perubahan. Bagi penulis buku ini bahwa
kedua bagian yang penting ini merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan satu sama lain.
dengan Allah namun gambar itu telah rusak. Kisah ini dijelaskan sebagai berikut: bahwa
Allah adalah satu pribadi yang kekal dan satu pribadi yang ada di atas dari semua sejarah
yang ada dalam dunia ini. Semua dapat dipahami rencana-Nya hanya melalui diri-Nya.
Pada waktu manusia pertama diciptakan, Tuhan menciptakan segambar dengan Allah.
Kesamaan antara Allah dan manusia bukanlah kesamaan jasmani. Hodge menjelaskan
tentang gambar dan rupa Allah sebagai berikut:
Allah adalah Roh, jiwa manusia adalah roh juga. Sifat hakiki dari roh ialah akal
budi, hati nurani dan kehendak. Roh adalah unsur yang mampu bernalar, bersifat
moral dan oleh karena itu juga berkehendak bebas. Ketika menciptakan manusia
menurut gambarnya Allah menganugrahkan kepada manusia sifat-sifat yang
dimilikinya sendiri sebagai roh. Dengan demikian manusia berbeda dari semua
makhluk lain yang mendiami bumi ini serta berkedudukan jauh lebih tinggi dari
pada mereka. Kesamaan sifat antara Allah dan manusia merupakan keadaan yang
diperlukan untuk mengenal Allah dan merupakan dasar dari kesalehan.25
Penyataan Hodge ini dikuatkan oleh Alkitab di dalam Kolose 3:10, bahwa dalam
pengudusan manusia terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang
benar tentang menurut gambar kahliknya. Kata segambar dipakai dalam kejadian 1:2627, Kolose 3:10, Yakobus 3:9). Kata segambar dan serupa dalam ayat ini menunjukkan
bahwa manusia diciptakan dalam keserupaan dengan Allah. Menurut Paulus bahwa
manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Allah mencakup kebenaran asali, yaitu
pengetahuan yang benar, kebenaran dan kesucian (Efesus 2:24). Gambar dan rupa Allah
juga mencakup elemen-elemen yang merupakan natur manusia yaitu intelektual, perasaan
natural, kebebasan moral. Selain itu secara iman Kristen diyakini bahwa Allah adalah
kekal dan kekekalan Allah sebagai kualitas esensial, sedangkan kekekalan manusia
adalah pemberian Allah.
25
Charles, Hodge, Systematic Theology II. Grand Rapids: 1952, hlm. 96-97
Tetapi ciptaan Tuhan dalam diri manusia telah rusak dari kejatuhan manusia pertama
dalam dosa. Dari kejatuhan itu Tuhan memberi hukuman bagi manusia, yang
sesungguhnya hukuman itu bertujuan untuk mendidik mereka agar menjadi manusia yang
sesungguhnya. Hukuman itu bertujuan untuk mendidik mereka agar manusia taat kepada
Allah dan mempermuliakan Allah dalam hidupnya. Dalam rencanaNya Allah membawa
semua ciptaan-Nya ke dalam tujuan dan rencana-Nya. Allah akan membangun kembali
kehidupan manusia yag telah jatuh dalam dosa. Dalam mendidik manusia Tuhan
memberi perintah dan hukum-hukum-Nya sebagai isi dari pengajaran Tuhan kepada
umat-Nya. Dari perintah dan pengajaran ini terjadi konflik dalam diri manusia, yaitu
antara mau melakukan perintah Tuhan atau tidak menjalankan perintah Tuhan.26
Karena kasih Allah, maka kejatuhan manusia dalam dosa, tidak menurunkan
keinginan Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya. Allah tetap menjadi pusat hidup bagi
manusia. 27 Dalam hal ini berarti Allah menjadi subjek dalam hidup manusia. Allah
menjadikan manusia berhasil secara efektif. Karena itu manusia perlu diajarkan
bagaimana hidup yang berkualitas dan efektif dan diajarkan pula konsekuensi bila
mereka tetap berbuat jahat dan tidak percaya kepadaNya.
Untuk membawa manusia ke dalam hubungan dengan Allah dibutuhkan pemimpin,
pengajar ataupun pembina, yang pada masa Perjanjian Lama dikenal dengan nabi-nabi
dan pada zaman Perjanjian Baru dikenal dengan para rasul. Namun dalam proses
26
Umat-Nya menganggap aturan dan hukum-hukum Tuhan diberikan kepada mereka, hanya
membatasi ruang gerak mereka. Pada hal pengajaran yang diberikan kepada mereka melalui perintah dan
hukum-hukum-Nya semata-mata untuk mengajarkan umat-Nya menjadi terdidik dan mengalami perubahan
dalam hidupnya serta mempermuliakan Allah dalam hidupNya.
27
Dalam kedaulatan dan kehendak Allah, Ia tetap menunjukkan kasih setia-Nya kepada manusia dan
tetap mau mengajar manusia sekalipun umat-Nya sering memberontak terhadap pengajaran yang Ia
berikan.
pendidikan atau pengajaran itupun mereka tetap berdosa dan bersifat kekanak-kanakkan.
Hingga pada akhirnya dalam rencana Allah ia menggenapi janji-Nya untuk
menyelamatkan manusia melalui kematian Yesus Kristus. Selama Yesus hidup dalam
dunia dan dalam tubuh manusia Ia selalu berkeliling untuk mengajar, mendidik setiap
orang supaya diselamatkan dan bagi mereka yang sudah selamat menjadi murid-Nya.
Orang-orang yang telah selamat dan menjadi murid-Nya tidak dibiarkan tetapi Ia terus
mengajar dan mendidik mereka supaya menjadi dewasa dalam Kristus.
Dari penjelasan di atas, maka nampak bahwa visi-misi pendidikan secara Alkitab
yaitu mentransformasi seluruh aspek kehidupan manusia yang telah jatuh dalam dosa.
Transformasi ini bukan hanya sekedar mengangkat manusia dari tempat yang gelap
ketempat yang terang, tetapi hidup manusia diproses melalui berbagai bentuk pengajaran
dan pembinaan agar mereka tidak menjadi pribadi yang pasif tetapi aktif. Artinya mereka
harus bertumbuh dalam pengenalan dan pengetahuan kepada Allah Bapa, Yesus Kristus
sang penyelamat dan Roh Kudus sebagai penghibur, dan mengambil keputusan untuk
hidup didalam-Nya dan keputusan untuk memberi diri kepada Tuhan serta melakukan
apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup mereka. Dalam hal ini dipahami bahwa
transformasi itu mencakup tiga aspek kehidupan manusia yaitu kognitif, afektif dan
psikomotor.
Berbagai definisi mengenai istilah Teologi dirumuskan oleh para teolog. Salah
satunya Plato. Dengan mendasarkan diri pada pemikiran yang bersifat filosofis, Plato
mendefinisikan teologi sebagai ilmu tentang Allah. Dalam perspektif iman Kristen,
pengertian Plato tersebut merupakan pengertian yang tidak benar, sebab dengan
pengertian itu, keberadaan Allah tak lebih dari sekedar obyek dari penelitian. Hal ini
mengandung konsekwensi penolakan terhadap kedaulatan Allah sendiri.
Sementara itu, Henk Ten Napel mendefinisikan Teologi sebagai suatu disiplin ilmu
yang mempelajari tentang iman dan hubungan antara Allah dengan ciptaan-Nya. 28
Thiessen mendefinisikan Teologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
Tuhan dan karya-Nya, berdasarkan pada wahyu yang diberikanNya sendiri pada
manusia.29
Pada bagian lain, Ericson mendefinisikan Teologi sebagai suatu disiplin ilmu yang
mempelajari mengenai keberadaan Allah dalam hubungannya dengan ciptaan-Nya, karya
dan kehendak-Nya yang telah dinyatakan kepada manusia melalui penyataan khusus yang
diberikan kepada manusia. Dengan kata lain Teologi adalah suatu disiplin ilmu yang
mempelajari penyataan Allah mengenai diri-Nya dan segala sesuatu yang berkaitan
dengan diri-Nya.30 Selaras dengan pemahaman dasar yang diungkapkan Ericson, Stevri
mendefinisikan teologi sebagai theology is tought by God, Teaches of God and Leads to
God artinya Teologi dipahami bahwa Teologi diajarkan oleh Allah dan memimpin
kepada Allah.31
Dari beberapa pemahaman di atas, ditarik suatu definisi mengenai Teologi di mana
Teologi adalah suatu pemahaman terhadap pribadi Allah, karya Allah dan segala sesuatu
28
Henk Ten Napel, Kamus Teologi Inggris-Indonesia. Jakarta: BPK Gunug Mulia, 1996, hlm. 38.
Henry [Link], Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas, 1979, hlm. 7.
30
Milard J. Ericson, Christian Theology. Grand Rapids-Michigan: Baker Book, 1982, hlm. 21.
31
Stevri Indra Lumintang, Ibid, hlm. 3.
29
berkaitan dengan Allah, sebagaimana Ia telah menyatakan hal tersebut kepada umat
pilihan-Nya agar umat Pilihan-Nya dapat memiliki pengenalan yag benar dan pengabdian
yang benar dihadapan-Nya.
Penjelasan di atas memberi pemahaman bahwa dalam pendidikan Kristen secara
Teologis, Allah menjadi pelaku utama Teologi dalam hubugannya dengan umat-Nya.
Allah yang membuat manusia mempelajari diri-Nya melalui Alkitab dan Roh Kudus
yang menyingkapkan kebenaran-Nya sehingga menimbulkan iman di dalam diri umatNya kepada Allah dan kebenaran-Nya final, yaitu Tuhan Yesus, dan yang memimpin
umat-Nya kepada diri-Nya sendiri untuk semakin hari semakin bertumbuh. Rumusan
inilah yang menjadi kerangka dasar pendidikan Kristen, pendidikan yang tidak
berorientasi pada tujuan saja, melainkan pada proses pendidikan yaitu pendidikan yang
menyentuh aspek kognitif (mempelajari Alkitab sehingga memiliki pengetahuan dan
pengenalan tentang Allah), 32 afektif (memiliki sikap hati yang benar untuk meyakini
Allah)33 dan psikomotori (memuliakan Allah dalam perbuatan dan tindakan).34
32
Seseorang jemaat akan dididik dalam segala pengetahuan tentang Alkitab, segala macam doktrin
Kristen, juga etika Kristen dan pengajaran yang lain, sehingga melalui pengajaran ini seseorang dapat
memperoleh pengetahuan tentang Allah.
33
Dalam proses pendidikan Kristen tidak saja manusia dituntut mahir dalam pengetahuan Alkitab,
bahkan sanggup menghafalkan hampir semua ayat-ayat Alkitab, tahu tentang sejarah keselamatan.
Namun setiap orang percaya mampu menghayati apa yang sudah dia ketahui, dia kenal dalam Alkitab,
memiliki sikap hati yang benar dan sikap penyembahan kepada Allah, serta memiliki keyakinan yang teguh
terhadap Allah.
34
Aspek psikomotor lebih terarah pada perbuatan, tindakan langsung, bagaimana ia dapat memuliakan
Allah dalam hidupnya baik dalam perbuatan, kata-kata, kasihnya pelayanannya. Bisa dikatakan bahwa
melalui proses psikomotor ini akan nampak hasil proses pengajaran yag menyentuh aspek kognitif dan
afektif.
Dari rumusan-rumusan di atas dapat pula dipahami bahwa semua proses pendidikan
secara teologis terjadi karena kedaulatan Allah. Kedaulatan Allah,35 kemuliaan Allah,36
karya Allah dalam pendidikan Kristen mendapat penekanan khusus.37
Dari pembahasan di atas maka jelas bahwa inti yang diajarkan dalam pendidikan
Kristen lewat pembinaan rohani jemaat di gereja adalah isi teologi. Isi teologi yang
dimaksudkan adalah pemahaman terhadap pribadi Allah, karya Allah dan segala hal yang
berkaitan dengan Allah. Yang membuat manusia mempelajari diri-Nya adalah Allah
sendiri. Instrumen pengajaran untuk memperkenalkan dirinya selain wahyu umum adalah
Alkitab dan Roh kudus sendiri menyingkapkan kebenaran-Nya sehingga menimbulkan
iman di dalam diri umat-Nya kepada Allah dan kebenaran-Nya final, yaitu Tuhan Yesus,
serta memimpin umat-Nya kepada diri-Nya sendiri untuk semakin hari semakin
bertumbuh.
Bertolak dari ini, secara teologi dipahami bahwa visi-misi pendidikan Kristen dalam
pembinaan rohani jemaat selaras dengan visi-misi pendidikan Kristen berdasarkan
Alkitab yaitu mentransformasi manusia dalam pengenalan kebenaran-Nya, memimpin
orang percaya kepada dirinya sendiri agar semakin bertumbuh sehingga menjadi orang
percaya yang berkualitas dalam imannya dan pertumbuhan tersebut dinyatakan dalam
kehidupan sehari-hari.
35
Dalam kedaulatan Allah dipahami bahwa Allah sendiri yang berkehendak untuk memperkenalkan
diri-Nya kepada umat-Nya dapat bersekutu dengan Allah seumur hidup.
36
Segala bentuk kegiatan/program pendidikan/pembinaan rohani jemaat hendak bertujuan untuk
memuliakan Tuhan. Jemaat diajar, dididik supaya mereka mengalami perubahan dan pertumbuhan atau
pendewasaan rohani jemaat. Semua ini terarah untuk kemuliaan Tuhan.
37
Dalam pelaksanaan program pendidikan Kristen hendak pengajar ataupun yang diajar memahami
bahwa Allah turut berkarya dalam proses pelaksanaan pendidikan Kristen.
Dalam kerangka iman Kristen terdapat dua sumber pendidikan dalam gereja yaitu
penyataan Allah dan Alkitab. Tidak ada pengetahuan apapun tanpa penyataan wahyu
Allah, dengan kata lain tidak ada pendidikan tanpa adanya penyataan Allah.38 Lebih jauh
lagi tidak ada lagi pendidikan Kristen tanpa adanya penyataan kuasa Allah, pengetahuan
atau pengenalan manusia tentang Allah yang menyelamatkan hanya diperoleh oleh
manusia apabila manusia mendapat penyataan Allah.39
Harun mengemukakan bahwa penyataan Allah adalah tindakan Allah untuk
menyatakan diri kepada manusia sehingga melalui tindakan tersebut manusia
dimungkinkan beroleh pengenalan terhadap Allah dan dapat bersekutu dengan-Nya. 40
Karena itu dalam pendidikan Kristen dipahani bahwa bukan kita yang mengenal Allah
melainkan Allah yang memperkenalkan diri-Nya kepada kita. Pengenalan ini tidak hanya
berupa pengenalan atau pengetahuan melainkan pengenalan berupa persekutuan denganNya. Oleh karena itu setiap jemaat yang mengaku bahwa dirinya mengenal Tuhan maka
dia harus membuktikannya dalam persekutuannya dengan Dia.
Ada dua penyataan yang dikenal dalam studi teologi yaitu penyataan umum (General
Revelation) dan penyataan khusus (special Revelation). Penyataan umum adalah
penyataan Allah kepada semua orang, dan penyataan ini dinyatakan melalui karya
38
Orang tidak mungkin mengenal alam semesta sebagai objek pengetahuan, tanpa Allah menciptakan
semuanya terlebih dahulu dan tanpa Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengenal
ciptaannya.
39
Artinya adalah bahwa manusia dapat memperoleh pengetahuan atau pengenalan tentang Allah
apabila Allah sendiri yang menyatakan diri kepada manusia dan kehendak-Nya artinya penyataan dalam
pengertian umum adalah bahwa Allah membuka kadar atau selubung yang menghalangi manusia untuk
mengenal Allah.
40
Harun Hadi Wijono, Iman Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997, hlm. 29.
ciptaan, pengalaman moral, melalui sejarah. Sedangkan penyataan khusus adalah cara
Allah menyatakan diri dengan lengkap dan jelas di dalam diri Tuhan Yesus Kristus.41
Penyataan khusus merupakan keunikan dari pendidikan Kristen, karena setelah alam
ciptaan telah rusak oleh dosa manusia, maka penyataan umum tidak lagi cukup untuk
membawa manusia dalam pengenalan kepada Allah. Oleh karena itulah manusia
membutuhkan penyataan khusus yang bersumber dari Tuhan dan berpusat pada Kristus.
Penyataan khusus memperjelas penyataan umum yang telah kabur akibat dosa. Juga
melalui penyataan khusus memperjelas penyataan umum yang telah kabur akibat dosa.
Juga melalui penyataan khusus dapat menerangkan karya Allah dalam memperbaiki dan
menyempurnakan segala sesuatu. Penyataan khusus menerangkan betapa Allah
mengasihi manusia sehingg Ia mau menyelamatkan mereka supaya manusia dapat
bersekutu kembali dengan penciptanya yaitu Tuhan Allah. Melalui penyataan khusus
inilah setiap orang percaya kepada-Nya dapat mengalami proses pendewasaan hingga
orang percaya menjadi serupa seperti Kristus.
Selain itu, harus juga dipahami bahwa sumber dari pendidikan Kristen adalah
Alkitab. 42 Alkitab mendapat tempat utama dalam pendidikan Kristen karena Alkitab
berisi firman Allah dan tidak bersalah. Sebagaimana hal yang dijelaskan James dalam
bukunya bahwa Alkitab adalah berisi tentang Firman Allah dan melaluinya manusia
dapat mengenal Allah dan mengenal pribadi Yesus Kristus yang mereka percayai. 43
41
Bruce Milne, Mengenali Kebenaran. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000, hlm. 37-41.
Alkitab adalah Wahyu Allah, ilham atau dari Allah. Alkitab adalah Firman Allah yang tertulis, dalam
arti yang sesungguhnya adalah Firman Allah yang lahir dari sifat-sifat Allah. Alkitab tidak mungkin salah,
mutlak dan menjadi terang bagi orang percaya dalam hubungannya dengan manusia.
43
James Deforest Murch, Christian Education ang the Local Church. Cincinnati, Ohio, U.S.A: The
Standard Publishing Company, 1943, hlm. 98.
42
Pendidikan Kristen harus menerima bahwa Alkitab adalah penyataan final Allah,
kebenaran final, sumber iman, sumber pengajaran dan sumber pola hidup manusia.
Karena itu setiap orang percaya dalam gereja harus memahami bahwa Alkitab berguna
dalam hidup manusia untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki
kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Berdasarkan penjelasan ini maka setiap orang percaya dalam gereja harus meyakini
Alkitab sebagai sumber dan alat pendewasaan mereka. Menurut Paul bahwa Alkitab
mendidik kita untuk memusatkan perhatian kita kepada Allah dan memperhatikan,
mempelajari Firman Tuhan untuk kita mengerti.44
e. Kristus Sebagai Sentral dan Dasar dari Pendidikan Kristen dalam Gereja
Secara metafisika dipahami bahwa pusat pendidikan adalah Allah. Hal ini pun yang
dijelaskan oleh Randolph: the center of Christian Education is not man but God, and our
task is to bring the individual Christian in to the right relationship with the god of Jesus
Christ and with his fellow, so that by grace the individual may do the task to which he is
called. 45 Demikian Warnes berpendapat bahwa pendidikan Kristen dalam gereja harus
bersifat Kristosentris atau berpusat pada Kristus dan menjadi dasar yang teguh dari
pendidikan Kristen. Karena itu kedewasaan orang Kristen harus selalu didasarkan pada
44
45
Paul H. Vieth, The Church and Christian Education, At. Louis: Betahny, 1947, hlm. 44.
Randolph Crump Miller, Education for Chistian Living. Englewood Cliff S.N.J: Prentice-hall, Inc,
1956,
hlm. 54.
46
kebenaran dan tidak berdasarkan pada prinsip-prinsip Alkitab maka pendidikan itu tidak
berpusat pada Kristus, tetapi berpusat pada manusia itu sendiri.
Secara epistemology, pendidikan gereja harus berpusat pada penyataan Allah yaitu
penyataan umum dan khusus. Namun penyataan itu tidaklah cukup untuk mengajarkan
pendidikan Kristen karena pengetahuan mengenai kehidupan kekal tidak nampak secara
langsung. Karena itu Alkitab sangat penting. Alkitab adalah inti dari epistemology
Kristen.
Secara aksiologi pendidikan Kristen harus berpusat pada kekekalan. Pengetahuan
umum tidak bersifat kekal. Tidak ada pengetahuan di muka bumi ini yang bersifat kekal
selain pengajaran dalam pendidian Kristen yaitu tentang kebenaran-kebanaran Firman
Allah.
Berdasarkan Antropologi pendidikan Kristen dalam gereja harus berpusat pada
gambar Allah. Manusia harus memahami bahwa manusia diciptakan menurut gambar
Allah, ketika dosa memasuki diri manusia gambar Allah dalam diri manusia ternoda,
namun Allah telah menyediakan sebuah cara untuk memulihkan dan meyelamatkan
manusia melalui kematian Yesus Kristus dan memulihkan persekutuan dengan Allah.
Pendidikan Kristen membina orang yang ada di dalam Kristus agar dapat mengerti bahwa
mereka telah keluar dari tempat kegelapan, kini mereka ada di tempat yang terang dan
dituntut untuk mengalami pertumbuhan.
46
Warnes C. Graendof (ed), Introduction to Biblical Christian Education. Chicago: Moody Press,
1977, hlm. 25.
Matius 16:18 adalah merupakan ayat Alkitab yang mengumandangkan bahwa Yesus
akan mendirikan jemaat. Sejak semula Yesus mulai memproses orang percaya dengan
tujuan agar setiap orang percaya dapat serupa dengan-Nya (Efesus 5:27) dan pada
akhirnya setiap orang percaya mengaku bahwa baginya hidup adalah Kristus. Untuk
mencapai tujuan tersebut berbagai kegiatan dilakukan oleh Yesus. Seperti: Yesus
berkhotbah, Yesus melakukan mujizat, Yesus melayani pengikut-Nya agar pengikut-Nya
meneladaninya, Yesus mengajar orang banyak dan mengajar murid-Murid-Nya untuk
mempersipakan murid-murid-Nya melayani orang lain. Ketika Ia mengajar dan
berkhotbah, tidak jarang Ia menggunakan perumpamaan agar pengajarannya benar-benar
mendarat kedalam kehidupan para pendengar.
Gereja sendiri merupakan perpanjagan tangan Allah untuk membangun dan
mengembangkan gereja yang sudah dibangun atas dasar yang kokoh yaitu Yesus Kristus.
Gereja atau jemaat adalah kelompok dari semua anggota resmi gereja. Mereka sudah
dibabtis dan membuat komitmen untuk menjadi bagian dari keluarga gereja. Sekarang
mereka bukan sekedar hadir ke gereja. Kehidupan Kristen bukan hanya soal percaya,
namun harus menjadi bagian tubuh Kristus.47 Setelah orang percaya membuat komitmen
kepada Kristus, maka mereka perlu didorong untuk mengambil langkah berikutnya dan
melibatkan diri di dalam pelayanan gereja.
47
Apabila jemaat adalah menjadi bagian dari tubuh Kristus berarti jemaat harus merelakan hatinya
untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pimpinannya yaitu Kristus sebagai kepala gereja. Kepala
gereja menghendaki agar setiap orang percaya dapat menjadi serpa seperti Kristus. Menjadi serupa
dibutuhkan proses.
Yesus Kristus telah mengawali pendidikan dan pengajaran kepada orang percaya
atau gereja yang telah dibangun oleh Yesus sendiri, karena itu Ia menginginkan apa yang
telah dibangun-Nya harus dapat diteruskan oleh setiap orang percaya dalam gereja
(Yohanes 14:12) gereja harus memahami bahwa mandat atau amanat pendidikan Kristen
dalam gereja merupakan elemen utama dalam program gereja. 48 Hal ini pula yang
diungkapkan oleh Daniel John, Charles, bahkan dikatakan pula bahwa untuk pelaksanaan
mandat pendidikan ini dapat disosialiasasikan melalui komisi-komisi yang ada dalam
gereja dengan tujuan agar tidak terjadi kepincangan dalam penerapan visi-misi
pendidikan Kristen ketika melakasanakan program pembinaan rohani jemaat.49
Pendidikan adalah suatu proses yang berlangsung secara bertahan dan berlangsung
seumur hidup. Berdasarkan 2 Timotius 3: 15-17 sangat jelas bahwa pendidikan Kristen
merupakan proses yang dapat dimulai dari keselamatan yaitu dari tidak mengenal dan
tidak percaya kepada Yesus Kristus hingga terjadi pengenalan dan penyerahan diri
kepada-Nya sebagai Tuhan dan juru selamat dalam hidup seseorang. Kemudian
melangkah kepada tindakan pembinaan atau pengajaran yang mana melalui pembinaan
ini membentuk kepribadian seseorang yang percaya dalam pengetahuan dan perbuatan
yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. selanjutnya dituntun dalam bertindak dan
berbuat serta menerapkan kebenaran itu. Melihat begitu besar tugas ini maka gereja,
melalui para pembina, pendidik baik gembala, hamba Tuhan dapat bertanggung jawab
48
Meyatukan visi atau tujuan gereja dalamsetiap bidang program gereja dan aspek kehidupan dalam
gereja merupakan fase yang sulit, karena hal ini membutuhkan kepemimpinan yang sunguh-sungguh mau
menjalani proses tersebut.
49
Daniel Eleonor, John [Link], Introduction to Christian Education. Cincianannti Ohio: The
Standard Publishing Company, 1987, hlm. 21.
50
W.P. Napitupulu, Memantapkan pelaksanaan Identitas dan Ciri khas Pendidikan Kristen secara
Kontinyu dan Konsisten, Identitas dan Ciri khas Pendidikan Kristen di Indonesia antara Konseptual dan
Operasional diedit oleh Weinata Sairin. Jakarta: BPK GUnung Mulia, hlm. 24-25.
Nya.51 Tentu saja konsep seperti ini merupakan konsep yang selalu memperalat Tuhan
dalam ibadah dan memandang seolah-olah Tuhanlah yang membutuhkan mereka. Konsep
ini tertanam dalam diri orang-orang Kristen yang mungkin saja disebabkan karena
pengajaran yang tidak benar dan pedidikan yang tidak menanamkan konsep-konsep
ibadah yang benar. Jelas bahwa sikap semacam ini akan dapat mempengaruhi
kedewasaan dan pertumbuhan seseorang.
Pendidikan Kristen bagian yang sangat penting dalam gereja, karena melaluinya ada
usaha menumbuhkembangkan kemampuan jemaat agar dengan pertolongan Roh Kudus
dapat memahami dan menghayati kasih Allah dalam Yesus Kristus, yang dinyatakan
dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendidikan Kristen warga jemaat mencapai tingkat
kedewasaan iman dan mau memenuhi tugas panggilanya untuk bersekutu, bersaksi dan
melayani. Sebagaimana juga yag diungkap Faloow dalam bukunya bahwa pendidikan
Kristen mendatangkan pertumbuhan kepada seseorang, menolong dan menuntun gereja
menjadi gereja yang sesungguhnya, hidup dalam anugerah Allah, imannya terpelihara
serta hubungannya dengan sesama semakin terpelihara. 52 Wirowidjojo dalam sebuah
artikelnya menyatakan bahwa untuk dapat menjadi dewasa warga jemaat harus menerima
pendidikan atau pengajaran. Pendidikan itu terjadi dalam persekutuan bersama dengan
umat Allah. Orang-orang beriman terhimpun dalam gereja atas dasar satu Tuhan, satu
pengakuan dan satu babtisan. Menurutnya warga gereja meliputi orang-orang yang lanjut
usia, dewasa, pemuda, remaja, anak-anak. Gereja bertanggungjawab atas pendidikan
51
Lois E. le Bar, Fokus on People in Church Educatin., New Jersey: Fleming H. Revell Company,
hlm. 26-28.
52
Wesner Follow, Ibid., hlm. 44.
warga jemaat. Tujuannya ialah supaya warga jemaat yang telah telah mengalami
transformasi dapat menjalankan tugas panggilannya sebagai orang percaya.53
Pendidikan Kristen dalam gereja pada dasarnya dimengerti sebagai proses
memindahkan seseorang dari kegelapan kepada terang dengan meninggalkan ajaranajaran yang tidak benar, dan menuntun seseorang dalam kuasa Roh Kudus hingga orang
itu mempunyai hubungan pribadi dengan Yesus Kristus.
Oleh karena itu pendidikan dalam gereja harus menyentuh tiga aspek penting yaitu
kognitif, afektif dan psikomotor. Ada banyak orang dalam gereja mengetahui tentang
Alkitab bahkan beberapa puluh ayat-ayat Alkitab, meguasai berbagai macam bentuk
pelayanan, juga memiliki kesadaran dan perasaan dekat dengan Allah, namun apa yang
mereka ketahui tentang Allah, dan bahkan ada perasaan dekat dengan Allah namun
semua itu tidak dinyatakan dalam kehidupan/karakter. Karena itu pendidikan dalam
gereja tidak hanya membentuk manusia yang berpengetahuan, banyak talenta, adanya
kedekatan dengan Allah hanya sebatas perasaan saja, tetapi juga gereja membentuk atau
menuntun manusia-manusia yang semakin hari semakin nampak perubahan dalam
karakternya.
Peranan pendidikan dalam gereja sangat berpengaruh dalam mendewasakan jemaat.
Karena itu gereja perlu memahami beberapa tugas pendidikan Kristen dalam gereja.
Pertama, membawa orang untuk mengenal realitas tertinggi, yakni, Tuhan Allah sebagai
pecipta dan pemelihara alam semesta.54
53
Tugas kedua, pendidikan juga mendidik manusia untuk menghargai dan memelihara
alam sekitar demi terciptanya keutuhan sesama ciptaan Tuhan yang bertujuan untuk
hormat dan kemuliaan Allah. Dalam hal ini, pendidikan mendorong manusia untuk
menghargai, memelihara dan mencintai gereja-Nya yang telah didirikan di dunia ini
dengan tujuan untuk hormat dan kemuliaan Tuhan Yesus Kristus.55
Tugas ketiga, pendidikan Kristen berupaya meningkatkan mutu atau kualitas orang
percaya, terpanggil untuk mengarahkan setiap individu maupun kelompok kepada
pemahaman yang dinamis dalam persekutuannya dengan Allah. Pendidikan atau pengajar
harus dapat membimbing dan menuntun orang ke dalam komunikasi yang akrab dengan
Tuhan, sehingga ia dapat memahami kehendaknya secara jelas dalam segi-segi kehidupan
secara lebih spesifik.
Tugas keempat, pendidikan Kristen dalam gereja dapat membimbing orang percaya
untuk mengerti dan memahami bahwa dalam diri manusia ada dua dilema yang saling
bertentangan, yaitu di satu sisi orang bisa berbuat baik tetapi di sisi lain orang cenderung
berbuat tidak benar. Karena itu setiap orang percaya perlu di bimbing kepemahaman
yang jelas akan penyebab terjadinya dilema dalam hidup manusia dan langkah
penyelesaian di lema tersebut, serta mengerti tentang penyangkalan diri.
Tugas kelima, pendidikan Kristen dalam gereja dapat menolong setiap individu
maupun kelompok untuk mengenal keberadaannya yang sesungguhnya di hadapan Allah,
di mana dirinya tidak lebih dari ciptaan yang teristimewah dari ciptaan lain namun
percaya dengan Tuhan. Jika orang percaya mengenal Allah dengan benar maka ia pun dapat menyembah
dan bersekutu bersama Allah dengan benar.
55
Orang percaya menerima mandat dari Tuhan supaya mereka dapat memelihara gereja. Maksud
memelihara disini adalah terus menerus jemaat harus bertanggungjawab terhadap proses pertumbuhan
gereja atau jemaat yang sudah dipercaya kepada umat-Nya dalam dunia ini.
dirinya tetap ciptaan yang terbatas di hadapan Tuhan. Karena keterbatasan inilah jemaat
dituntut untuk bersedia diajar, dididik dan dibina agar jemaat diperlengkapi dalam
menjalankan hidup secara lebih berarti di hadapan Tuhan dan manusia.
Tugas keenam, pendidikan Kristen harus berupaya membimbing orang memiliki
pemahaman bahwa Allah adalah satu-satunya pribadi yang menjadi sumber kebenaran
obyektif, absolut dan sekaligus menjadi pelaku atau subjek dalam pendidikan Kristen.
Sedangkan manusia hanya sebagai satu pribadi yang selalu mencari kebenaran, walaupun
dalam batas tertentu manusia bisa menjadikan dirinya sebagai sumber pengetahuan, tetapi
kebenaran yang dipahaminya hanya bersifat semu saja.56
Tugas ketujuh, pendidikan Kristen juga harus mendorong orang untuk belajar dari
berbagai sumber kebenaran dan menguji kebenaran itu dari prinsip-prinsip Alkitab.
Artinya pendidikan Kristen berusaha mendorong orang bersikap terbuka, berpikir luas,
moderat, kontekstual. Ada orang Kristen tahu bahwa Yesus Kristus sudah mati menebus
dosanya sehingga ia selamat dan mejadi orang Kristen. Pengetahuan semacam ini terlalu
sempit karena itu tidak heran jika ada orang Kristen keluar masuk gereja, bahkan ada
sudah berpuluh-puluh tahun dalam keluar masuk gereja tetapi sedikit diantara jemaat itu
yang benar-benar mengalami perubahan dan pertumbuhan dari segi karakter, karena
pengenalan mereka kepada kepada Tuhan Yesus hanya sebatas pengetahuan saja.57
56
Hal ini menunjukkan keterbatasan dan kelemahan mansia, di mana walaupun manusia berusah
mencari kebenaran namun ia tetap terbatas, karena itu Allah memperkenalkan diri sendiri kepada manusia
yang terbatas atas kehendak-Nya.
57
Dalam Alkitab iblis pun tahu dan kenal siapa Yesus, terbukti dalam pengakuannya yang mengatakan
bahwa Yesus adalah Allah namun ia tidak percaya dan rencana bahwa seluruh tindakannya adalah yang
jahat.
Selain ketujuh tugas tersebut, Sijabat juga menjelaskan dalam bukunya tentang
peranan pendidikan Kristen dalam gereja, dimana menurutnya bahwa pendidikan Kristen
bertugas untuk menawarkan nilai hidup baru yang bersumber dari Firman Allah. Yesus
Kritus mengajarkan dan memberikan nilai hidup bagi setiap orang yang terbuka kepadaNya. Nilai hidup ini harus menembus segi-segi kehidupan orang percaya. Karena itu
pendidikan Kristen dapat membimbing orang memahami dan menghargai nilai
budayanya dengan baik serta menilainya dari segi terang Firman Tuhan, kemudian
mengambil tidakan-tindakan konkrit. Pendidikan Kristen juga membimbing orang
mengenal Allah yang maha kudus, adil dan benar.58
Dengan tugas seperti ini, maka peran seorang pengajar/pendidik maupun seorang
Hamba
Tuhan
sangat
perlu
untuk
megajar,
mendidik,
mempersiapkan
dan
kegiatan. Dalam Kisah Rasul 2:42 dijelaskan beberapa aktivitas yang melibatkan para
murid seperti megajar, berdoa, persekutuan, memecah-mecahkan roti. Ketiga adalah
membangun pelayanan seputar mempraktekkan apa yang ada dalam dirinya yang
diperolehnya dari pengajaran. Dan yang lebih di atas semua cara tersebut adalah
mengundang Roh Kudus untuk mengubah hidup masing-masing jemaat sesuai dengan
waktu dan kehendak-Nya, karena jika Ia yang telah memulai pekerjaan yang baik maka
Ia akan menyelesaikannya sampai padahari kedatanganYesus Kristus (Filipi 1:6).
Ruth Selan, Pedoman Pembinaan Warga Jemaat. Bandung: Yayasam Kalam Hidup, 1992, hlm. 26.
di atas terlebih dahulu seseorang harus mengenal, mengerti dan mengetahui tentang Allah
dan kehendak-Nya. Untuk memperoleh pengenalan, pengertian, pemahaman itu, maka
seseorang perlu belajar.
Kedua, aspek Afektif (memiliki sikap hati yang benar untuk meyakini Allah). Aspek
afektif ini biasanya disebut aspek humanistik. Hal ini berkenaan dengan masalah
perasaan atau sikap hati, dalam pengertian bahwa seorang jemaat dapat menghayati
pengajaran dari Firman Tuhan hingga jemaat dapat menjadikan Firman Tuhan menjadi
pegangan hidup selama-lamanya, sikap hormat kepada Tuhan, dan segala sesuatu yang
dilakukan hanya untuk kemuliaan Tuhan.
Ketiga, aspek psikomotori yaitu memuliakan Allah dalam perbuatan dan tindakan.
Aspek psikomotorik bisa disebut behavior berkaitan dengan perubahan tingkah laku.
Seorang jemaat tidak hanya dapat mengetahui, mengenal dan mengambil komitmen
untuk menjadikan pengajaran yang diperolehnya lewat Firman Tuhan menjadi pegangan
dalam hidupnya, tetapi sikap hati dan perasaan harus diwujudkan dalam tingkah laku.
Contoh sederhana adalah adanya kasih yang tulus diantara sesama, memiliki iman yang
sejati, memiliki hati yang murni, pikiran yang murni. Dalam masalah moralitas seseorang
dapat membedakan apa yang baik dan yang buruk, mana yang menjadi kehendak Allah
dan bukan kehendak Allah. Dalam pelayanan, seorang jemaat mau mewujudkan bentuk
perasaannya itu dalam melayani baik pelayanan kecil maupun besar. Baik kelihatan
maupun tidak kelihatan. Ketiga aspek ini harus terkait satu dengan yang lain ketika dan
harus berpusat pada Kristus.
Ada beberapa indikasi dalam Alkitab bahwa setiap orang yang hidup baru, harus
hidup berpegang teguh di dalam kebenaran dan harus mengalami pertumbuhan didalam
Kristus (Efesus 4:15). Memiliki hidup baru tidak dapat diperoleh secara otomatis, Allah
adalah hidup dan sumber kehidupan bagi manusia. Kol.3:10 menjelaskan bahwa
kehidupan yang baru itu harus dibaharui terus menerus dalam pengertian mengalami
pertumbuhan untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar penciptanya.
Richards dalam bukunya menuliskan Cristian education is not to be designed to produce
a product. It is to be designed to supply what is needed for prosess of growth to proceed
normally and healthly.61
Pendidikan
Kristen
tidak
hanya
menekankan
pada
tujuan/visi-misi
pendidikan,melainkan juga pada proses. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwa
visi-misi pendidikan Kristen dalam gereja adalah transformasi yaitu mentransformasi
manusia secara utuh berdasarkan atas kebenaran Firman Allah. Melalui Pendidikan
Kristen dapat ada upaya anggota komunitas orang Kristen untuk berpatisipasi dengan
agen perubahan yang mempengaruhi sehingga mengubah pribadi-pribadi dalam
hubungan dengan Allah, gereja, sesama manusia, dengan dunia fisikal dan dengan dirinya
sendiri. Dengan kata lain pendidikan atau pembinaan rohani jemaat yang dilakukan
melalui proses bertujuan untuk mencapai perubahan serta membawa jemaat kepada
tingkat pengertian, sikap dan perbuatan yang dapat digambarkan dalam istilah Teologis
sebagai pengudusan dan dalam istilah psikologi pendewasaan.
61
L.O Richards, Theory of Christian Education, Grand Rapids Michigan: ZondervanPub House, 1988,
hlm. 22.
62
Thoma & Joani Schultz, Meningkatkan Kinerja Jemaat. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002,
hlm. 235.
63
Ruth Selan, Ibid., hlm. 14.
Pembinaan, perawatan dan pemeliharaan kerohanian jemaat termasuk tanggung jawab dari seorang
pengajar. Pembinaan ini dapat dilakukan secara perorangan ataupun perkelompok. Ibarat biji tanaman yang
baru saja bertunas dan tunas itu dibiarkan saja di antara rumput-rumput yang mengelilinginya, dan tidak
pernah dipupuk atau disiram, maka lama kelamaan tunas tersebut akan mati. Demikian juga seorang jemaat
yang baru saja berkomitmen hidup dalam Tuhan, bila tidak di rawat dan dipelihara maka jemaat itu tidak
akan mengalami pertumbuhan dan proses perubahan dengan baik. Setelah tunas itu menjadi pohon maka
sebagian dahan yang rusak dan tidak menghasilkan buah dibersihkan atau di potong dengan tujuan agar
pohon itu dapat menghasilkan buah yang baik. Demikian juga jemaat perlu dibersihkan melalui pengajaranpengajaran yang diberikan lewat pembinaan agar jemaat dapat buah dengan baik dan menampakkan hasil
buah tersebut dalam kehidupannya setiap hari.
64
Jhon Calvin, Pendidikan Agama Kristen Pada Zaman Reformasi Protestan, Sejarah Perkembangan
Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, diedit oleh Robert R Boehlke. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2002, hlm. 411.
diri dan penyerahan diri kepada Tuhan, menghasilkan buah yang matang, hidup
senantiasa dalam pengucapan syukur, mampu mengontrol diri, hidup tertip dan pikiran
yang kudus, menjaga kehiduapan dan hati, memiliki pengetahuan dan pemahaman
rohani, memiliki kasih dan pengampunan, rendah hati, takut akan Tuhan, menjauhi
kejahatan, mengasihi Tuhan dalam hidupnya, mau menerima teguran, dan pengajaran ,
menjadi garam dan terang dan lain-lain.
Comenius berpendapat bahwa jika pendidikan dalam gereja bertujuan untuk
membawa setiap orang percaya kepada kedewasaan di dalam Yesus Kristus, maka ada
tiga tugas yang harus dilakukan, pertama: manusia harus mengetahui segala sesuatu
termasuk dirinya sendiri, dua: manusia harus dapat menguasai segala sesuatu termasuk
dirinya sendiri, tiga: manusia harus dapat mengarahkan segala sesuatu termasuk dirinya
sendiri.65
James memberi penjelasan, bahwa pendidikan Kristen dalam gereja dapat
memperkuat para anggota, dan memperluas pengabaran Firman Tuhan. 66 Bahkan melalui
pendidikan dalam gereja dapat mengembangkan bakat ataupun karunia yang dimiliki atau
yang dianugrahkan Tuhan kepada setiap anggota jemaat untuk pelayanan dalam tubuh
Kristus. Melalui pembinaan setiap orang dalam gereja dilatih menjadi pelayan-pelayan
Tuhan yang bertanggung jawab dan penuh kasih, sehingga mereka tidak hidup lagi demi
kepentingan diri sendiri, melainkan kepentingan orang lain dan demi kemuliaan Allah.
65
C.B. Eavey, History of Christian Education. Chicago:Moody, 1964, hlm. 174; Kenneth O Gangel,
Membina Pemimpin Pendidikan Kristen. Malang: Gandum Mas, 2001, hlm.. 39-40.
66
James Deforest Murch, Christian Education and the Local Church. Cincinnati, Ohio U.S.A: The
Standard Publishing Company, 1943, hlm. 98.
Karena itu setiap program pembinaan rohani jemaat dalam gereja harus didasarkan
pada visi-misi pendidikan Kristen. Visi-misi yang dimaksud harus dikomunikasikan
kepada jemaat agar mereka mengerti apa yang hendak dicapai dalam pembinaan rohani
jemaat. Gereja adalah agen Allah. Program yang tidak didasarkan pada visi-misi yang
jelas maka setiap program pembinaan dianggap hanya sebagai kegiatan rutinitas saja,
kegiatan rutin yang tanpa arah. Tuhan Yesus bukanlah seorang guru tanpa tujuan. Setiap
kali Yesus mengajar pikiran dan pengajarannya selalu terfokus dalam pencapaian tujuan.
a. Pentingnya Penyusunan Program Pembinaan Rohani Jemaat Berdasarkan VisiMisi Pendidikan Kristen.
Program menurut kamus umum bahasa indonesia adalah rancanran/rencana. 67 Hal
yang sama diartikan oleh Heru Kasida bahwa program adalah rencana, serangkaian
kegiatan yang dilakukan.68 Berdasarkan pengertian dari kamus bahasa Indonesia maka
menurut rumusan penulis bahwa program adalah serangkaian rancangan/rencana kegiatan
67
68
yang diputuskan oleh suatu lembaga untuk dikerjakan. Sehubungan dengan tesis yang
penulis bahas adalah masalah program pembinaan rohani jemaat, maka penulis melihat
bahwa program adalah serangkaian rancangan/rencana kegiatan pembinaan rohani
jemaat, di mana program tersebut telah ditetapkan oleh pengurus gereja dan gembala
sidang secara bersama-sama dan dikerjakan secara bersama-sama pula. Program yang
direncanakan dan telah diputuskan untuk diterapkan dalam pembinaan adalah program
yang didasarkan pada visi-misi pendidikan Kristen, sehingga pembinaan tersebut tidak
sia-sia tetapi dapat memberi guna bagi kemajuan dan peningkatan pelayanan dalam
gereja.
[Link] dalam bukunya menjelaskan hubungan pendidikan Kristen dengan
program gereja. Dalam penjelasannya, ia mengemukakan Cristian education is a part of
the program of the church.69 Melalui penjelasan ini dapat dipahami bahwa pendidikan
Kristen dan program gereja adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Gereja
ditetapkan sebagai agen Allah untuk memproklamasikan ajaran-ajaran kepada dunia,
tentang pendidikan Kristen sejati. Sebagaimana yang telah dipahami dalam ajaran
kekristenan bahwa Allah sendiri telah membuat dirinya dikenal dalam firman-Nya yang
dicatat dalam Alkitab, maka
Tujuan gereja menyusun dan menetapkan program pembinaan adalah untuk memenuhi
kebutuhan kedewasaan dalam segala aspek kehidupan, yang mencakup aspek kognitif,
afektif, psikomotor. Karena begitu besar transformasi kehidupan jemaat yang diharapkan
69
H.W. Byrne, Ed. D, Christian Educatian Education for the Local Church. Gran Rapids Michigan:
Zondervon Publishing House, 1973, hlm. 22.
Dari penyataan atau penyelasannya tentang hubungan pendidikan Kristen dengan program pembinaan
rohani jemaat adalah bahwa pendidikan Kristen adalah bagian dari program gereja yang diwujudkan dalam
kegiatan pembinaan rohani jemaat.
melalui program pembinaan, maka untuk membuat dan menetapkan program tersebut
hendaknya bersandar pada Tuhan dan kuasanya melalui Roh kudus.
Dari uraian di atas maka sangat jelas betapa pentingnya menyusun program
pembinaan berdasarkan visi-misi pendidikan Kristen. Karena pendidikan kristen
merupakan bagian dari program gereja yang diwujudkan dalam program pembinaan
rohani jemaat. Namun untuk mewujudkan pendidikan Kristen tersebut melalui program
pembinaan rohani jemaat maka harus dilandasi pada visi-misi pendidikan Kristen yaitu
transformasi. Pendidikan Kristen yang diwujudkan dalam program pembinaan rohani
jemaat tidak akan terfokus dan tidak tercapai dengan baik apabila tidak didasarkan pada
visi-misi pendidikan Kristen. Dalam hal ini dimengerti bahwa program adalah merupakan
wadah atau sarana untuk pelaksanaan pendidikan Kristen dengan visi-misi pendidikan
Kristen yang jelas. Sebaliknya visi-misi pendidikan Kristen mengarahkan program itu
sendiri agar program tersebut terfokus pada sasaran yang diharapkan.
Menurut kennet bahwa program pembinaan rohani jemaat yang selaras dengan
pendidikan Kristen ditandai dengan sejumlah faktor, antra lain:
Pertama, program itu bisa saja terdiri dari sejumlah komisi atau pelayanan yang
bercirikan pendidikan. Dua, setiap program dijaga agar berjalan lancar melalui suatu
proses organisasi yang mempertahankan beberapa prinsip penggabungan dan
pertalian. Tiga, pendidikan dalam gereja secara kokoh dilandasi oleh tujuan-tujuan
Alkitabiah yang secara jelas menetapkan apa yang hendak dilakukan oleh program
pendidikan Kristen. 70
Warren S. Beson dalam bukunya yang di edit oleh Michael J. Anthony, menyatakan
bahwa suatu program disusun karena dipandang dapat memberi jawaban yang detail
70
72
Sedangkan Ruth Selan dalam bukunya lebih memperjelas bahwa penyusunan program
pembinaan jemaat dalam gereja bertujuan untuk memenuhi kebutuhan kedewasaan
seseorang Kristen. Kedewasaan ini meliputi kedewasaan rohani, mental dan emosional.73
Program adalah sarana untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan manusia, namun program
bukanlah tujuan akhir, melainkan program itu menjadi sarana untuk melakukan
pelayanan maupun untuk mengembangkan orang-orang menjadi seperti Kristus. Jika visi-
71
Warren S. Beson., Darly Eldridge., Julie Gorman, Evangelical Dictionary of Christian education.
Michael J. Anthony (Ed). Gran Rapids, Michigan: Baker Academic.
72
Ron Jenson & Jim Stevens, Dinamika Pertumbuhan Gereja, Malang: Gandum Mas, 2004, hlm. 112.
73
Ruth Selan, Ibid., 38
misi pendidikan Kristen adalah mentransformasi manusia maka untuk mencapai visi-misi
tersebut diperlukan suatu program, maka program yang dibuat pun harus dapat memenuhi
kebutuhan dari visi-misi yang telah ditetapkan yaitu mentransformasi kehidupan jemaat.
Menurut H.W. Bynrne, Christian Education is one thing to save a soul; it is another
to keep him in the faith, to build him up the faith, to develop Christian Character, and to
provide a place of service in the kinfdom. Once Saved, sould needs to be nourished, fed,
enlightened, and given something to do for His Lord inti dari penyataan ini adalah
bahwa melalui pendidikan Kristen dalam gereja dapat memelihara keselamatan, menjaga
iman, mengembangkan karakter dan sikap hati yang memuliakan Allah, namun untuk
tercapai semua ini harus ada program sebagai wadahnya. Penyusunan program yang
bertolak dari visi-misi pendidikan Kristen akan mempengaruhi pertumbuhan kualitatif
dan kuantitatif gereja pada masa yang akan datang.
Ron Jenson dan Jim Stevevens mendefinisikan penyusunan program sebagai bagian
dari proses manajemen yang memerlukan kebutuhan yang dipisahkan oleh diagnosisdiagnosis. Diagnosis ini harus memenuhi kebutuhan melalui sebuah aktifitas khusus.
Menurutnya juga bahwa penyusunan program pembinaan hendak memperhatikan 2
pertanyaan sebagai berikut, pertama, siapa kita?, kedua, siapa diluar sana?
Melalui pertanyaan pertama dapat membantu seseorang yang membuat program
untuk berpikir tentang ciri-ciri khusus gerejanya. Harus dipahami bahwa sekalipun gereja
terdiri dari denominasi yang sama, satu sinode, namun tetap saja ada perbedaan. Setiap
gereja memiliki sifat yang unik bahkan gereja melayani dalam lingkungan kebudayaan
yang unik pula. Tradisi yang unik, juga latar belakang ekonomi dan pendidikan jemaat
yang berbeda-beda.
Contoh-cotoh dalam pertanyaan nomor satu ini adalah: pertama, jika rata-rata jemaat
berdomisili ditempat yang jauh atau di luar kota, maka buatlah program jangka pendek,
karena program jangka panjang kemungkinan besar tidak terlaksana karena tidak ada
komitmen dari jemaat untuk mengikutinya. Contoh kedua, rata-rata anggota jemaat
pengangguran, maka buatlah program pendidikan bagi mereka yang mengganggur seperti
training. Karena jika dalam jemaat banyak penggangguran maka tidak menuntup
kemungkinan diatara jemaat ada yang melakukan kejahatan, jika kejahatan terjadi berarti
jemaat tersebut belum mengalami pertobatan. Sementara waktu hamba Tuhan khotbah,
atau memimpin PA, mengatakan firman Tuhan jangan mencuri. Secara pengetahuan
sudah tahu bahwa mencuri itu adalah dosa, tetapi seseorang juga berpikir mau makan apa
kalau tidak mencuri. Karena itu pendidikan itu bukan hanya memfasilitasi jemaatnya
teori atau kognitifnya, tetapi bagaimana juga dia diberi solusi dari persoalan hidup yang
sedang memberatkan dirinya.
Pertanyaan kedua tentang siapa diluar sana maksudnya adalah seseorang yang
membuat program harus mengetahui secara jelas dan pasti keadaan orang-orang yang ada
disekitarnya. Apakah gereja terletak di daerah yang jumlahnya rata-rata orang tua,
bujang, mahasiswa dan lain-lain. Pengelompokkan ini diperlukan untuk mencerminkan
peluang penyusuna program yang potensial. Penyususunan rogram melihat pada tujuan
dan sasaran serta harus disertai dengan penentuan langkah-langkah spesifik. Tujuan dan
sasaran ini tidak boleh lepas dari visi-misi pendidikan Kristen.
Program gereja yang dibangun berdasarkan visi-misi pendidikan Kristen hendak
memperhatikan hal-hal yang berikut:
1. Visi-misi pendidikan Kristen yang dirumuskan adalah transformasi.
2. Pusat program dan pendidikan adalah Kritus (bersifat Kristosentris)
3. Sasaran yagn dicapai:
a. Pengajaran yaitu bagaimana pengajaran ini dapat mengubah pola berpikir
seseorang serta megembangkan pengenalan terhadap Allah (berhubungan dengan
kognitif)
b. Perasaan atau sikap, yaitu bagaimana seseorang dapat memiliki perasaan dan
sikap hati yang benar berdasarkan tentang apa yag diketahuinya dan yang
diterimanya dari proses pengajara itu dapat dijadikannya menjadi pegangan hidup
dan yang diyakininya seumur hidup (berhubungan dengan afektif)
c. Pendewasaan dalam hal ini akan Nampak dalam tindakan secara langsung,
melakukan atau mempraktekkan apa yang sudah diketahui dan sudah
dijadikannya sebagai pegangan hidup. Apa yang dikerjakan, dilakukan selalu
tertuju untuk memuliakan Tuhan (berhubungan dengan psikomotor)
4. Unsur-unsur program gereja secara umum yang berhubungan dengan visi-misi
pendidikan Kristen yaitu:
a. Penginjilan
Bisaanya penginjilan selalu diangap bagian dari misi, pada hal apa bila kembali
pada Matius 28:19-20 maknanya tidak hanya berisi tentang misi tetapi juga
masalah pendidikan. Disini ada suatu perintah untuk menjadikan semua bangsa
menjadi murid, dan untuk memuridkan dibutuhkan suatu wadah dan sarana yaitu
pendidikan. Jadi ketika seseorang diperintah untuk pergi penginjilan maka
sesungguhnya disitu juga dia berperan sebagai seorang pendidik.
b. Pengajaran
Pengajaran berguna untuk pertumbuhan iman dan memperkokoh keyakinan pada
Tuhan sehingga tetap mempermuliakan Tuhan melalui kehidupannya. Penginjilan
tidak terpisahkan dari pengajaran, namun keduanya bersama-sama. Penginjilan
dan pengajaran bagian dari pekerjaan gereja. Setiap orang Kristen dimotivasi
untuk belajar Firman Allah, sebagaimana yang juga dijelaskan oleh Lois dalam
bukunya bahwa orang percaya membutuhkan Firman Tuhan untuk pertumbuhan
rohaninya sendiri, membimbingnya untuk tidak berbuat dosa, untuk menambah
pengetahuan, untuk mengerti natur manusia, untuk bersaksi kepada orang lain.74
Firman Tuhan juga tidak hanya menjadi pengetahuan dalam diri orang percaya
tetapi dapat membuat orang percaya mengembangkan diri termasuk dalam
menumbuhkan skill dalam diri orang percaya.75 Ada beberapa isi pengajaran yaitu
doktrin Kristen, iman Kristen, musik dalam pandangan Kristen, panggilan
pelayanan, kasih, ketaatan dan kesetiaan juga beberapa training.
74
c.
Pelayanan
Dalam pendidikan terdapat sesuatu yag disebut dengan unsur pelayanan. Tugas
pendeta, penginjilan atau pemimpin dan gereja adalah memperlengkapi orangorang kudus untuk tugas pelayanan dan terlebih agar mereka dapat saling
melayani. Melalui pendidikan jemaat diajarkan tentang pentingnya mereka dalam
pelayanan gereja, jemaat juga diajarkan apa yang seharusnya mereka kerjakan
melui pelayanan, dan bagaimana pelayanan yang dikehendaki oleh Tuhan. Jemaat
perlu diajarkan hal-hal tersebut, karena mungkin saja sebagian jemaat melayani
namun tidak mengerti apa arti melayani dan untuk apa ia melayani. Kurangnya
pemahaman ini bisa menjadikan jemaat tersebut hanya melayani karena
dijadwalkan dan pada saat itu juga dia datang ke gereja. Pada saat tidak ada
jadwal untuk pelayanan maka tidak muncul digereja.
d. Persekutuan
Tuhan menghendaki semua orang percaya dapat saling berkumpul dan bersekutu
denganNya. Dalam persekutuan jemaat satu sama lain dapat berkumpul bersama
dan menikmati suatu suasana yang penuh sukacita. Melalui persekutuan jemaat
bisa saling memperlengkapi, menasehati, saling menolong, saling menguatkan
satu sama lain, sehingga nampak kehidupan sosial yang sangat menyenangkan.
Melalui persekutuan ini pula diharapkan akan lebih mempererat tali persaudaraan
dan persahabatan dalam jemaat. Semakin erat hubugan persaudaraan dan
persahabatan di antara jemaat maka semakin nampak juga proses transformasi
yaitu pertumbuhan dan kedewasaan dalam diri jemaat.
anak,
gelar
talenta.
Catatan
penting
adalah
gereja
harus
mempertimbangkan dan memilih program yang bisa relevan dan sesuai dengan
kebutuhan gereja atau jemaat dan dapat mencapai visi-misi pendidikan. Ada
banyak program pembinaan rohani jemaat dalam gereja, baik rutin maupun tidak
rutin. Namun perlu diingat bahwa tidak semua program tersebut dipakai dalam
gereja, tetapi hendak melihat program pembinaan
masing-masing gereja.
c. Metode yang dipakai dalam setiap kegiatan antara lain: PA, Khotbah, ceramah,
syering atau diskusi, dan bimbingan pribadi. Metode dalam suatu pengajaran atau
pendidikan yang efektif pasti akan menghasilkan penyampaian kebenaran yang
sangat memuaskan. Namun perlu disadari bahwa metode hanyalah alat membantu
jemaat untuk lebih mudah memahami materi pembinaan yang diberikan kepada
mereka, sedangkan lebih dari pada itu adalah dikerjakan oleh Roh Kudus, oleh
karena itu tetap memohon Roh Kudus yang memberkati segala usaha atau upaya
yang dilakukan oleh manusia dalam mencapai kedewasaannya.
6. Perhatikan jenis warga jemaat.
Jemaat terdiri dari orang-orang yang berbeda usia. Perbedaan usia bisa
memperngaruhi proses pembinaan atau pengajaran. Selin itu kebutuhan masingmasing kelompok usia berbeda, karena itu dalam proses pembinaan atau pendidikan
atau pengajaran lebih baik dibagi dalam kelompok usia antara lain: orang tua, lansia,
bujang, orang dewasa, pemuda, Remaja, anak-anak, mahasiswa dan lain-lain.
Memperhatikan jenis warga jemaat merupakan pertimbangan-pertimbangan
penting yang harus dipikirkan karena dengan mengetahui jenis warga jemaat dapat
membuat program yang dapat memenuhi kebutuhan jemaat sesuai dengan
kelompoknya. Langkah-langkah pembuatan program gereja yang berhubungan
dengan visi-misi pendidikan Kristen dalam rangka mentransformasi menurut Warner
dan Ruth Selan adalah:
1. Menentukan kebutuhan jemaat
2. Menentukan tujuan program
3. Membuat program untuk menjawab kebutuhan
4. Menyediakan bahan atau materi
5. Bentuk organisasi dan administrasi dalam melaksanakan program tersebut
6. Mengevaluasi program
7. Pikirkan kebutuhan baru untuk jemaat. Kebutuhan baru dapat ditemukan jika
program sudah dievaluasi.76
C. Rangkuman
Pendidikan Kristen dibangun di atas dasar yang kokoh dan kuat serta pada
pemahaman yang benar. Nilai pendidikan Kristen terletak pada nilai teologisnya, oleh
karena itu pendidikan Kristen dalam gereja haruslah dipahami dalam pengertian bahwa
Allah yang mengajar atau mendidik peserta didik dalam jemaat. Pendidikan Kristen
dipahami sebagai proses memimpin kepada Tuhan, agar mereka mengenal Tuhan,
kemudian dilanjutkan dengan sikap penyerahan dan percaya kepada Tuhan dan pada
akhirnya mereka memuliakan Tuhan. Pendidikan Kristen yang dituntut oleh Tuhan Yesus
adalah pendidikan yang harus mencapai tujuan akhir yaitu ajarlah mereka melakukan
segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Tuhan.
Berdasarkan apa yang menjadi tuntutan atau perintah di atas maka dapat dikatakan
bahwa visi-misi pendidikan Kristen dalam gereja adalah mencapai transformasi yang
benar yaitu transformasi yang melingkupi 3 aspek yaitu pertama: aspek kognitif yang
berhubungan dengan pengetahuan, pengenalan, pemahaman tentang Allah. Kedua aspek
afektif yaitu berkaitan dengan sikap, perasaan, komitmen yang diambil berdasarkan
pengenalan terhadap Tuhan. Ketiga yaitu aspek psikomotor, hal ini berkaitan dengan
tindakan, perbuatan atau praktek yang nyata sebagai hasil dari pengenalan dan
pengetahuannya tentang Tuhan serta komitmen yang telah diambil untuk dilakukan
76
Warne, C, Graendof (ed), Ibid., hlm. 220; RuthF Selan, Ibid., hlm. 35-44.
BAB III
PENERAPAN METODOLOGI
Dalam bab ini penulis akan menguraikan penerapan Metodologi dalam penelitian,
namun sebelum penulis memaparkan beberapa bagian yang berkaitan dengan metode
penelitian penulis terlebih dahulu akan menjelaskan mengenai istilah metodologi
penelitian.
A. Metodologi Penelitian
penelitian
menurutnya
adalah
suatu
kegiatan
untuk
menemukan,
77
Sutrisno Hadi, Metodologi Reserch Jilid I. Yogyakarta: Andi Offest, 1980, hlm. 4.
sebelum melakukan riset atau penelitian. Populasi yang dimaksudkan menurut Sugiyono
78
adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas
dan karakteristik tertentu yang ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulan. 80 Di sisi lain Margono mengartikan populasi adalah seluruh data
yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan.81
Hal yang senada pula diartikan oleh Ronny dan dikutip oleh Tomatala bahwa populasi
adalah suatu kumpulan menyeluruh dari objek
Namun ia lebih menegaskan bahwa yang menjadi objek peneliti yang dimaksudkan
adalah dapat berupa makhluk hidup, benda-benda, sistim dan prosedur, fenomena dan
lain-lain.
82
Sistim pengambilan sampel dalam penelilitan ini adalah dengan menggunakan simple
random sampling . Yang dimaksudn dengan simple random sampling adalah sampel
homogen yang dipilih secara acak, tanpa memperhatikan level atau strata yang ada pada
populasi, karena yang dipilih itu dianggap representatif. Maka sampel yang ditentukan
secara acak oleh peneliti adalah 105 dari 420 orang jemaat Gepekris se Jatim. Atau 25 %
dari jumlah 420.
Dalam penelitian seorang peneliti membutuhkan data yang konkrit, dan untuk
memperoleh data yang konkret diperlukan alat penjaringan data yang lazim disebut
teknik pengumpulan data.
Dalam proses pengumpulan data, penulis secara langsung menandatangani tempat
penelitian yaitu seluruh Gereja Persekutuan Kristen (GePeKris) di Jawa Timur. Adapun
tujuan penulis secara langsung menandatangi tempat tersebut adalah agar responden
mudah melakukan pengisian angket dan jika ada pertanyaan yang tidak dimengerti oleh
responden, peneliti dapat menjelaskan secara langsung, selain itu peneliti ingin bertatap
muka langsung.
Namun sebelum melakukan penelitian lapangan, peneliti meminta surat pengantar
dari lembaga dan meminta ijin kepada pengurus BKS GePeKris se-Jatim (Badan Kerja
Sama Gereja Persekutuan Kristen se Jawa Timur) untuk mengadakan penelitian. Setelah
gereja menerima dan memberi ijin maka mulailah peneliti mengumpulkan data dengan
dibantu oleh beberapa majelis dan hamba Tuhan setempat.
yang
diterapkan
dalam
penelitian
ini
adalah
observasi,
dan
86
DIMENSI TEORI
Visi
Misi
ASPEK ATAU
NOMOR BUTIR
INDIKATOR
DALAM ANGKET
Pendidikan 1. Aspek
Pemahaman
gereja.
1, 2, 3
terarah
apa
dan
bila
tidak
dapat
Visi
Misi
Pendidikan Kristen
a. Kognitif
4, 5, 6
b. Afektif
c. Psikomotor
15
16, 17, 18,19, 20, 21, 22,
23, 24
25, 26,27,28,29
dengan
Program
menjadi
pencapaian
sarana
Visi
Misi
Pendidikan Kristen
a. Jenis-jenis program
b. Isi pengajaran dalam
pembinaan
Aspek upaya gereja agar
jemaat
transformasi
mencapai
yang
sesungguhnya
Sedangkan dalam menghitung skor, peneliti menggunakan salah satu skala riset.
Penggunaan skala pengukuran adalah suatu instrument penting yang berhubungan dengan
penggunaan metode kuantitatif dalam peneltian.87 Perhitungan skor dalam penelitian ini
dilakukan dengan kelompok responden dengan menggunakan rumus:
87
Ibid, 49
R
X 100 % = ..%
A
Keterangan:
R = Jumlah Responden
A = Jumlah angket (Skor Angket)88
100
100%
SS : Sangat Setuju
ST : Setuju
RG: Ragu-ragu
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju
Jumlah
88
89
Ibid, 52
Yakub Tomatala,Penuntun Desain , 54
Pada prinsipnya ada dua cara analisis data yaitu analisis non statistik (dilakukan
terhadap kualitatif) dan analisis statistik (dilakukan terhadap kuantitatif). 90
Pada
umumnya statistik terbagi dua jenis yaitu statistik deskriptif (digunakan untuk
mendeskripsi data atau membuat ringkasan data pada tahap pertama analisa data).
Sedangkan statistik inferensial (berkaitan dengan hal pembuatan kesimpulan yang
perilaku populasi berdasarkan perilaku sampel). Dalam penelitian yang dilakukan di sini
peneliti menggunakan statistik deskriptif karena peneliti akan mendeskripsikan data dan
membuat ringkasan data pada tahap pertama analis data.
Selain itu, statistik deskriptif juga ditentukan oleh data yang dikumpulkan dan
berorientasi pada tujuan yang hendak dicapai, sabagaimana yang telah dijelaskan di bab I
pendahuluan. Sedangkan bentuk penyajiannya peneliti menggunakan tabel. Menurut
Moh Nazir bahwa ada tiga jenis tabel yang umum dipakai dalam menganalis dan
menafsirkan data yaitu tabel induk (master tabel), tabel teks (teks tabel) dan tabel
frekuensi.91
Tabel induk adalah tabel yang berisi semua data yang tersedia secara terperinci.
Tabel teks adalah tabel yang telah diringkaskan untuk suatu keperluan tertentu. Dan tabel
frekuensi adalah tabel yang menyajikan data berapa kali sesuatu hal terjadi. Dalam
menganalisa data dalam penulisan tesis ini menggunakan tabel frekuensi.92
90
Andreas [Link], Pengantar Riset Kuantitatif dan Pengantar Riset Kualitatif. Bandung: Yayasan
Kalam Hidup, 2004, hlm. 245-264.
91
Moh Nazir, Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985, hlm. 417.
92
Ibid
BAB IV
ANALISIS, INTERPRETASI DAN APLIKASI TEMUAN PENELITIAN
Setelah penulis memaparkan landasan teori di bab II, dan juga telah menjelaskan
langkah-langkah penelitian yang dilakukan, maka pada bagian ini penulis akan
menganalisis temuan penelitian,
Korelasi), merumuskan apa yang menjadi aplikasi dari penelitian yang dilakukan, dan
terakhir penulis akan merangkum bagian bab ke empat ini.
Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa data hasil penelitian
akan disajikan dalam bentuk tabel. Adapun temuan-temuan tersebut dikategorikan dalam
beberapa tipe yaitu:
Aspek I pemahaman jemaat terhadap visi-misi Pendidikan Kristen (tabel 1-3)
Aspek II visi-misi pendidikan Kristen (tabel 4-24)
Aspek III hubungan visi-misi pendidikan Kristen dengan program pembinaan rohani
jemaat (tabel 25-29)
Aspek IV program yang menjadi alat pencapaian visi-misi pendidikan Kristen (tabel 3038).
Item
R/F
46
43, 8
b. Setuju
11
10,5
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
41
39,0
e. Sangat
tidak setuju
6,7
Jumlah
105
100
a. Sangat
setuju
setuju dan 10,5 yang setuju agar jemaat atau gereja dapat
memahami visi-misi pendidikan Kristen. Sedangkan sisanya adalah 39,0 % yang tidak
setuju dan 6,7 % Yang sangat
Kristen.
Walaupun hasil data di atas memperlihatkan hasil antara yang menjawab Sangat
setuju dan setuju hampir seimbang dengan yang menjawab tidak setuju dan sangat
tidak setuju, namun tetap saja hasil di atas lebih menekankan bahwa jemaat rata-rata lebih
pendidikan Kristen. Dimana jumlah total responden antara yang setuju dan Yang sangat
setuju adalah 57 responden atau 54,3 %. Sedangkan jumlah total responden yang
menjawab tidak setuju dan sangat
Tabel 2
Jemaat perlu bertumbuh sesuai dengan visi-misi pendidikan Kristen
A/N =105
No
Item
R/F
49
46,7
b. Setuju
38
36,1
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
11
10,5
e. Sangat
tidak setuju
6,7
Jumlah
105
100
a. Sangat
setuju
Pada saat peneliti bertanya kepada responden melalui angket apakah pertumbuhan itu
harus sesuai dengan visi-misi pendidikan Kristen? Maka responden menjawab
sebagaimana yang tertera dalam tabel. Tabel di atas memperlihatkan bahwa 46,7 %
responden menjawab Sangat
misi pendidikan Kristen, 36,1 % setuju. Sementara itu ada 10,5 % tidak setujutu bahkan
6,7 % yang sangat
tidak setuju.
Tabel 3
Hamba Tuhan, pengajar, pembina suatu gereja harus mengkomunikasikan visi-misi
pendidikan Kristen kepada jemaat
A/N =105
No
Item
R/F
28
26,7
b. Setuju
26
24,8
c. Ragu-ragu
10
9,5
d. Tidak setuju
25
23, 8
e. Sangat
tidak setuju
16
15,2
Jumlah
105
100
a. Sangat
setuju
setuju visi-
misi pendidikan Kristen harus dikomunikasikan kepada jemaat, 20,0 % responden setuju
agar visi- misi pendidikan Kristen dikomunikan kepada jemaat. sedangkan 14,3 %
lainnya menyatakan ragu-ragu. Sementara 23, 8 % menyatakan tidak setuju bahkan 15, 2
kepada jemaat, agar jemaat termotivasi dalam mengikuti segala pebinaan yang ada dalam
gereja, sebagai upaya gereja dalam melakukan transformasi.
Aspek II
Visi-misi pendidikan Kristen (tabel 4-24)
Tabel 4
Visi-misi pendidikan Kristen sesungguhnya adalah mencapai transformasi manusia
secara utuh
A/N =105
No
Item
R/F
34
32,4
b. Setuju
30
28,6
c. Ragu-ragu
10
9,5
d. Tidak setuju
25
23,8
e. Sangat
tidak setuju
5,7
Jumlah
105
100
a. Sangat
setuju
setuju bahwa
Tabel 5
Transformasi manusai secara utuh adalah melingkupi aspek kognitif
A/N =105
No
5
Item
R/F
40
38,1
b. Setuju
32
30,5
c. Ragu-ragu
8,6
d. Tidak setuju
18
17,1
a. Sangat
setuju
e. Sangat
tidak setuju
5,7
Jumlah
105
100%
setuju
dan 30,5 % yang setuju bahwa transformasi yang dimaksudkan dalam pendidikan Kristen
adalah transformasi mengenai unsur atau aspek kognitif. Sedangkan presentasi lainnya
terdiri dari 8,6 % yang menyatakan ragu-ragu atau tidak yakin dengan pasti apabila
transformasi yang harus dicapai dalam pendidikan Kristen menyangkut unsur kognitif.
Kemudian ada 17,1 % yang tidak setuju dan 5,7 % Yang sangat
Tabel 6
Transformasi dari unsur kognitif adalah meliputi jemaat memiliki pengetahuan yang
bersumber dari pengajaran dalam gereja
A/N =105
No
Item
R/F
47
44,8
b. Setuju
25
23,8
c. Ragu-ragu
3,8
d. Tidak setuju
21
20,0
e. Sangat
tidak setuju
7,6
Jumlah
105
100
a. Sangat
setuju
Dari data yang tertera dalam tabel sebagai hasil dari perhitungan skor yang dilakukan
dengan kelompok responden, maka nampak bahwa ada 44,8 % jemaat GePeKris se Jatim
Sangat
sisanya ada 20,0 % yang menyatakan tidak setuju dan 7,6 % yang
menyatakan sangat
transformasi secara
kognitif dapat dilihat dari pengetahuan jemaat terhadap pengajaran Alkitab dalam gereja.
Berdasarkan tabel ini memberi pemahaman bahwa rata-rata jemaat mengakui bahwa
seseorang dikatakan telah mengalami transformasi secara kognitif dilihat dari
Tabel 7
Transformasi dari unsur kognitif meliputi jemaat mengerti pengajaran yang diberikan
dalam gereja
A/N =105
No
Item
R/F
46
43,8
b. Setuju
30
28,6
c. Ragu-ragu
4,8
d. Tidak setuju
15
14,3
e. Sangat
tidak setuju
8,6
Jumlah
105
100
a. Sangat
setuju
Tabel berikut ini memberi gambaran bahwa 43,8 % yang menyatakan sangat setuju
dan 28,6 % yang menjawab setuju bahwa transformasi dari unsur kognitif meliputi
jemaat mengerti pengajaran yang diberikan dalam gereja. Data lainnya menunjukkan
ada yang ragu-ragu dengan jumlah prosentasenya 4,8 %. Kemudian jawaban yang lain
adalah menyatakan tidak setuju dengan jumlah prosentasenya adalah 14,3 % dan 8,6 %
yang menyatakan sangat
tidak setuju.
Menurut perincian angka dalam tabel di atas maka membuktikan bahwa rata-rata
jemaat di GePeKris se Jatim setuju bahkan sangat setuju apabila transformasi dari segi
kognitif meliputi unsur pengertian dan pemahaman jemaat terhadap kebenaran Firman
Tuhan yang diberikan kepada mereka. Hal ini dibuktikan dengan jumlah responden yang
jawab setuju dan Sangat
Tabel 8
Transformasi dari unsur kognitif meliputi unsur penguasaan jemaat terhadap pengajaran
yang diberikan dalam gereja
A/N =105
No
Item
R/F
48
45,7
b. Setuju
40
38,1
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
10
9,5
e. Sangat
6,7
105
100
a. Sangat
Jumlah
setuju
tidak setuju
Tabel di atas memberi penjelasan bahwa ada 45,7 % jemaat yang menyatakan
sangat
setuju dan 38, 1 yang menyatakan setuju bahwa transformasi dari unsur kognitif
mencakup penguasaan jemaat terhadap pengajaran yang diberikan dalam gereja. Ada
pula yang tidak setuju, dalam hal ini ada 9,5 % yang menyatakan tidak setuju dan 6,7 %
menyatakan sangat
kognitif mencakup penguasaan jemaat terhadap kebenaran Firman Tuhan atau pengajaran
dalam gereja.
Fakta yang tidak jauh berbeda dengan tabel sebelumnya, maka angka dalam tabel
tersebut membuktikan bahwa rata-rata jemaat di GePeKris se Jatim setuju bahkan Sangat
setuju apabila transformasi dari segi kognitif meliputi unsur penguasaan jemaat terhadap
pengajaran yang diberikan lewat pembinaan yang mereka terima. Hal ini dibuktikan
dengan jumlah responden yang menjawab setuju dan Sangat
Tabel 9
Transformasi manusai secara utuh adalah menyangkut unsur afektif
A/N =105
No
Item
R/F
41
39,0
b. Setuju
42
40,0
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
11
10,5
e. Sangat
11
10,5
105
100
a. Sangat
Jumlah
setuju
tidak setuju
Tabel 10
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki perasaan dekat dengan Tuhan
A/N =105
No
Item
R/F
53
50,5
b. Setuju
31
29,5
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
17
16,2
e. Sangat
3,8
105
100
a. Sangat
Jumlah
setuju
tidak setuju
Tabel 11
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki sikap menyembah Tuhan dalam
hidupnya
A/N =105
No
Item
R/F
16
15,2
b. Setuju
52
49,5
c. Ragu-ragu
1,9
d. Tidak setuju
26
24,8
e. Sangat
8,6
105
100
a. Sangat
setuju
tidak setuju
Jumlah
Pada tabel ini memperlihatkan bahwa transformasi dari unsur afektif ditandai dengan
sikap jemaat yang memiliki sikap menyembah Tuhan dalam hidupnya. Penyataan ini
dibuktikan lewat penelitian di mana ada 15,2 % Yang sangat setuju dan 49,5 % yang
setuju. Dengan pernyataan di atas. Sedangkan 1,9 % ragu-ragu untuk menyatakan
pendapatnya. Dan yang lainya menyatakan 24,8 % yang tidak setuju dan 8,6 % Yang
sangat
namun penulis melihat dari penelitian ini cukup membuktikan bahwa visi-misi
pendidikan yang mengahasilkan transformasi dari segi afektif ditandai dengan adanya
sikap jemaat yang menyembah Tuhan dalam hidupnya dan disepanjang hidupnya.
Tabel 12
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki keberanian menghadapi
masalah/perasaan tidak kuatir
A/N =105
No
Item
R/F
35
33,3
b. Setuju
52
49,5
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
6,7
e. Sangat
tidak setuju
11
10,5
Jumlah
105
100
a. Sangat
setuju
Sama dengan tabel yang di atas, bahwa dalam tabel ini juga menjelaskan bahwa
transformasi dari unsur afektif ditandai dengan kehidupan jemaat yang memiliki
keberanian menghadapi masalah/perasaan tidak kuatir. Pernyataan ini pun diperoleh dari
hasil perhitugan skor, di mana ada 33,3 % jemaat Yang sangat setuju dan 49,5 % yang
menyatakan setuju dengan penyataan di atas. Sedangkan 6,7 % menyatakan tidak setuju
dan 10,5 yang menyatakan sangat
dengan unsur afektif ditandai oleh kehidupan jemaat yang memiliki keberanian
menghadapi masalah/perasaan kuatir.
Berdasarkan tabel ini memberi pemahaman bahwa rata-rata jemaat mengakui bahwa
seseorang yang telah mengalami transformasi secara afektif memiliki keberanian
menghadapi masalah atau perasaan tidak kuatir. Hal ini dibuktikan dengan jumlah
responden yang menjawab pertanyaan sebagaimana yang ada dalam tabel ini.
Tabel 13
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki kerinduan untuk bersaksi
A/N =105
No
Item
R/F
43
41,0
b. Setuju
42
40,0
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
10
9,5
e. Sangat
tidak setuju
10
9,5
Jumlah
105
100
a. Sangat
setuju
Dalam tabel ini juga menjelaskan bahwa transformasi dari unsur afektif ditandai
dengan kehidupan jemaat memiliki kerinduan untuk bersaksi. Terbukti dari jawaban
responden yang telah diolah dengan menggukanakan kelompok responden. Hasil yang
diperoleh adalah 41,0 % responden yang menjawab sangat setuju dan 40,0 % yang
menjawab setuju bahwa transformasi secara afektif ditandai dengan kehidupan jemaat
yang selalu rindu untuk bersaksi. Di sisi lain ada juga yang tidak setuju dan Yang sangat
tidak setuju. Yang mana responden yang tidak setuju berkisar 9,5 % dan 9,5 % juga yang
menyatakan tidak setuju terhadap penyataan di atas.
Walaupun dalam tabel di atas ada responden yang menyatakan tidak setuju bahkan
sangat
tidak setuju, namun penulis melihat dari penelitian ini cukup membuktikan
bahwa visi-misi pendidikan yang mengahasilkan transformasi dari segi afektif ditandai
dengan adanya sikap jemaat yang memiliki kerinduan untuk bersaksi.
Tabel 14
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki kerinduan untuk hidup benar dan
kudus di hadapanTuhan
A/N =105
No
Item
R/F
20
19,0
b. Setuju
51
48,6
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
30
28,6
e. Sangat
tidak setuju
3,8
Jumlah
105
100
a. Sangat
setuju
Jawaban dari pertanyaan penelitian pada bagaian ini terlihat dalam tabel di atas, di
mana jawaban responden cukup bervariasi. Yang sangat setuju terdiri dari 19,0 %.
Walaupun angka ini kecil namun didukung oleh jawaban responden yang menjawab
setuju terhadap pernyataan di atas dengan nilai prosentasenya 48,6 %. Sedangkan yang
menjawab tidak setuju ada 28, 6 % dan yang sangat
Tabel 15
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki kerinduan untuk mengasihi
Tuhan dan sesama
A/N =105
No
Item
R/F
38
36,2
b. Setuju
25
23,8
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
15
14,3
e. Sangat
tidak setuju
10
9,5
Jumlah
105
100
a. Sangat
setuju
Dalam tabel ini juga menjelaskan bahwa transformasi dari unsur afektif ditandai
dengan kehidupan jemaat memiliki kerinduan untuk mengasihi Tuhan dan sesama.
Terbukti dari jawaban responden yang telah diolah dengan menggukanakan kelompok
responden. Hasil yang diperoleh adalah 36,2 % responden yang menjawab sangat setuju
dan 23,8 % yang menjawab setuju bahwa transformasi secara afektif ditandai dengan
kehidupan jemaat yang selalu rindu untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Di sisi lain ada
juga yang tidak setuju dan Yang sangat
setuju berkisar 14,3 % dan 9,5 % juga yang menyatakan tidak setuju terhadap penyataan
di atas.
Tabel 16
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat selalu aktif dalam beribadah
A/N =105
No
Item
R/F
39
37,1
b. Setuju
36
34,3
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
17
16,2
e. Sangat
tidak setuju
13
12,4
Jumlah
105
100
a. Sangat
setuju
Pada tabel ini juga memperlihatkan jawaban responden yang cukup bervariasi pula di
mana yang sangat
tidak setuju
Tabel 17
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat beribadah dengan sungguh-sungguh dan
tulus
A/N =105
No
Item
R/F
39
37,2
b. Setuju
38
36,2
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
16
15,2
e. Sangat
tidak setuju
12
11,4
Jumlah
105
100
a. Sangat
setuju
Dari data yang tertera pada tabel ini memperlihatkan ciri yang lain dari transformasi
yang meliputi unsur afektif yaitu jemaat beribadah dengan sungguh-sungguh dan tulus.
Hal ini dapat dilihat dari nilai prosentase yang ada, dimana ada 37,2 % yang sangat
setuju, didukung dengan 36,2 % yang setuju bahwa transformasi berdasarkan unsur
afektif ditandai dengan kesetiaan jemaat untuk beribadah dengan sungguh-sungguh dan
tulus kepada Tuhan. Selain itu pula nampak pula tanggapan dari beberapa jemaat,di mana
ada 15,2 % yang tidak setuju bahkan,
tabel ini mayoritas jemaat GePeKris se jatim menanggapi bahwa unsur lain dari
transformasi yang terlihat dalam aspek afektif adalah meliputi unsur jemaat beribadah
dengan sungguh-sunguh dan tulus.
Tabel 18
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat mau menerima nasehat dan teguran dari
pengajaran Firman Tuhan
A/N =105
No
Item
R/F
42
40,0
b. Setuju
29
27,6
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
23
21,9
e. Sangat
11
10,5
105
100
a.
Sangat
Jumlah
setuju
tidak setuju
Selanjutnya dalam tabel ini memperlihatkan transformasi dari unsur afektif ditandai
dengan sikap jemaat yang mau menerima nasehat dan teguran dari pengajaran Firman
Tuhan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa 40,0 % responden menjawab sangat setuju dan
ditambah dengan 26,6 % yang menjawab setuju terhadap pernyataan di atas. Dan ada
pula 21,9 % yang tidak setuju dan 10,5 % yang sangat tidak setuju terhadap penyataan di
atas, namun tidak mempengaruhi keyakinan bahwa transformasi dari unsur afektif itu
ditandai dengan sikap jemaat yang mau menerima nasehat dan teguran dari pengajaran.
Berdasarkan pemaparan data dalam tabel ini maka dapat diperoleh sebuah
kesimpulan bahwa unsur trasformasi yang lain dari segi aspek afektif adalah unsur yang
meliputi jemaat mau menerima nasehat dan teguran dari pengajaran Firman Tuhan.
Unsur ini juga adalah unsur yang tidak kalah penting dari unsur-unsur yang sebelumya
telah dijelaskan.
Tabel 19
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat mampu mengatasi cobaan dalam hidup
A/N =105
No
Item
R/F
38
36,2
b. Setuju
32
30,5
c. Ragu-ragu
6,6
d. Tidak setuju
17
16,2
e. Sangat
11
10,5
105
100
a. Sangat
Jumlah
setuju
tidak setuju
Tabel yang lain memperlihatkan bahwa transformasi dari unsur afektif salah satunya
ditandai dengan kemampuan jemaat dalam mengatasi cobaan dalam hidup. Di mana
melalui tabel ini memperlihatkan ada 36,2 % yang sangat setuju dan 30,5 % yang setuju
dengan pernyataan di atas. Namun ada juga responden yang ragu-ragu berjumlah 6,6 %.
Sedangkan yang lainnya adalah 16,2 yang menjawab tidak setuju dan 10,5 yang
menyatakan sangat
transformasi dari unsur afektif ditandai dengan kemampuan jemaat dalam mengatasi
cobaan dalam hidup jemaat masing-masing.
Pada tabel ini juga memperlihatkan unsur transformasi lain dari segi aspek afektif,
dan merupakan unsur yang sama-sama penting dengan unsur-unsur yang lainnya. Unsur
trasformasi tersebut adalah unsur yang meliputi jemaat mampu mengatasi cobaan dalam
hidupnya.93
Tabel 20
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat mampu mengelolah segala berkat Tuhan
A/N =105
No
Item
R/F
31
27,6
b. Setuju
45
42,9
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
18
17,1
a. Sangat
93
setuju
Banyak orang pergi rajin ke gereja, namun sedikit diantaranya yang rajin baca Firman Tuhan ataupun
mendengar Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kalau tidak membaca Alkitab dan juga tidak mau
mendengar Firman Tuhan dengan sugguh-sunguh bahkan mempraktekkan Firman Tuhan itu maka jemaat
yang bersangkutan tidak mampu mengatasi dan menghadapi cobaan yang menimpa dirinya karena tidak
memiliki kekuatan yang sejati. Maka hasilnya ketika menjalani hidup yang dihiasi dengan berbagai cobaan
dan masalah maka yang bersangkutan hanyabersungut-sungut, menyalahkan orang lain, menyalahkan diri
sendiri, frustasi dan lain-lain. Sikap seperti ini menunjukkan sikap yang tidak dewasa dalam iman dan
kerohanian.
e. Sangat
tidak setuju
Jumlah
11
10,5
105
100
Tabel ini memperlihatkan transformasi dari unsur afektif ditandai kemampuan jemaat
dalam mengelolah segala berkat Tuhan. Data ini terlihat dalam tabel di mana ada 27,6 %
yang sangat setuju, dan 42,9 % responden yang menjawab setuju pada pernyataan yang
menyebutkan bahwa transformasi dari segi afektif ditandai dengan kemampuan jemaat
dalam mengelolah segala berkat Tuhan baik. Namun ada 17,1 % yang tidak setuju dan
10,5 % yang sangat tidak setuju terhadap pernyataan di atas.
Maka berdasarkan hasil atau angka yang dipaparkan di atas, dapat diartikan bahwa
mayoritas jemaat di GePeKris se Jatim mendukung bahwa transformasi dari unsur afektif
adalah meliputi jemaat mampu mengelolah segala berkat Tuhan.94 Hal ini dibuktikan
dengan jumlah responden yang memberi tanggapan pada pertanyaan di atas, di mana
jumlah keseluruhan responden yang mendukung bahwa transformasi dari unsur afektif
adalah meliputi jemaat mampu mengelolah segala berkat Tuhan berjumlah 76 responden
yang menjawab setuju dan sangat setuju atau 70,5 %.
94
Penulis yang status pelayanannya sebelum mengajar di STT IAA adalah melayani secara penuh di
beberapa gereja. Dan pengalaman ketika di gereja tidak jarang penulis mendengar keluhan dari jemaat
masalah uang, kebutuhan sehari-hari biaya studi dan lain-lain, serba kekurangan. Pada hal sesungguhnya
jemaat-jemaat tersebut ada mendapatkan penghasilan sekalipun untuk mendapat penghasilan tersebut
dengan susah payah, namun bukan berarti jemaat tidak berpenghasilan sama sekali. Namun yang terdengar
dari keluhan mereka adalah seolah-olah jemaat-jemaat ini tidak diberkati oleh Tuhan sehinga sering kali
yang menjadi alasan bagi mereka jika mereka tidak ke gereja adalah tidak ada uang untuk transport, tidak
ada uang untuk persembahan. Dalam waktu yang cukup lama kurang lebih 5 tahun pelayanan di gereja
tersebut penulis memperhatikan kelemahan mereka adalah dalam mengelolah keuangan atau berkat yang
mereka terima tidak terfokus, sehingga berapapun yang mereka dapat tidak kelihatan. Penulis berpikir
bahwa ini adalah masalah kedewasaan yang tidak mampu mengelolah berkat Tuhan dalam hidup mereka.
Karena itu gereja pun berperan mengajarkan kepada jemaat bagaimana jemaat memandang berkat Tuhan
itu dengan hati yang bersyukur dan penuh tanggung jawab, sehingga mereka bisa kelolah dengan baik, dan
tidak merasa kekurangan.
Tabel 21
Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat mampu mengelolah waktu dengan baik
A/N =105
No
Item
R/F
42
40,0
b. Setuju
29
27,6
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
11
10,5
e. Sangat
tidak setuju
23
21,9
Jumlah
105
100
a.
Sangat
setuju
Tabel ini memperlihatkan transformasi dari unsur afektif ditandai oleh kemampu
jemaat mengelolah waktu dengan baik. Hal ini dibuktikan bahwa 40,0 % menjawab
sangat setuju dan 27,7 % yang menyatakan setuju terhadap pernyataan yang mengatakan
bahwa transformasi dari unsur afektif ditandai oleh kemampuan jemaat mengelolah
waktu dengan baik. Sedangkan 10,5% menyatakan tidak setuju bahkan 21,9 %
menyatakan sangat
dari unsur afektif ditandai oleh kemampuan dari jemaat dalam mengelolah waktu dengan
baik.
Selain unsur-unsur di atas, maka pada tabel ini juga memperlihatkan unsur yang lain.
Di mana yang termasuk unsur transformasi dari aspek afektif adalah jemaat mampu
mengelolah waktu dengan baik
Tabel 22
Transformasi manusai secara utuh adalah meliputi unsur Psikomotor
A/N =105
No
Item
R/F
31
29,5
b. Setuju
32
30,5
c. Ragu-ragu
12
11,4
d. Tidak setuju
25
23,8
e. Sangat
tidak setuju
4,8
Jumlah
105
100
a.
Sangat
setuju
transformasi psikomotor yang dimaksudkan diuraikan dalam beberapa tebel berikut yaitu
mulai dari tabel 23 sampai dengan tabel 28.
Tabel 23
Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia melakukan Firman Tuhan
dalam hidupnya
A/N =105
No
Item
F/ A (Skor Angket)
45
42,9
b. Setuju
37
35,2
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
13
12,4
e. Sangat
tidak setuju
10
9,5
Jumlah
105
100
a. Sangat
setuju
psikomotorik ditandai dengan melihat jemaat setia melakukan Firman Tuhan dalam
hidupnya
Melalui tebel ini memperlihatkan unsur transformasi dari aspek Psikomotor. Hal
yang dimaksudkan adalah transformasi dimana jemaat menjadi lebih setia melakukan
Firman Tuhan dalam hidupnya.95 Dari bagian ini memperjelas bahwa transformasi yang
seharusnya dicapai dalam pembinaan rohani jemaat tidak hanya terbatas pada aspek
kognitif dan aspek afektif.
Tabel 24
Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia bersekutu dengan Tuhan baik
kelompok maupun secara pribadi
A/N =105
No
Item
R/F
49
46,7
b. Setuju
36
34,3
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
7,6
e. Sangat
12
11,4
105
100
a. Sangat
Jumlah
setuju
tidak setuju
95
Kata setia disebutkan dalam kitab Galatia 5: 22, di mana kata tersebut digolongkan sebagai kata
yang menunjukkan tentang buah-buah roh, atau menunjukkan kehidupan seorang anak Tuhan yang
mengalami pertobatan dan pertumbuhan dalam mengikut Tuhan.
Dalam tabel ini memperlihatkan sebuah kesimpulan bahwa transformasi dari unsur
psikomotorik ditandai oleh kesetian jemaat bersekutu dengan Tuhan baik kelompok
maupun secara pribadi. Dalam hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila prosentase
yang diperoleh dari hasil mengelolah skor antara lain: 46,7 % responden yang menjawab
sangat setuju dan 34,3 % responden yang menjawab setuju pada penyataan yang
menyebutkan unsur transformasi dari psikomotor ditandai dengan kesetiaan jemaat
bersekutu dengan Tuhan. Sementara itu ada pula 7,6 % yang tidak setuju bahkan 11,4 %
responden lainnya menjawab sangat
Tabel 25
Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia baca Alkitab
A/N =105
No
Item
R/F
42
40,0
b. Setuju
40
38,1
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
15
14,3
e. Sangat
7,6
105
100
a. Sangat
Jumlah
setuju
tidak setuju
Dalam tabel ini memperlihatkan perbandingan nila prosentase yang diperoleh dari
hasil mengelolah skor antara lain: 40,0 % responden yang menjawab sangat setuju dan
38,1 % responden yang menjawab setuju pada penyataan yang menyebutkan unsur
transformasi dari psikomotor ditandai dengan kesetiaan jemaat membaca Alkitab.
Sementara itu ada pula 14,3 % yang tidak setuju bahkan 7,6 % responden lainnya
menjawab sangat tidak setuju terhadap pernyataan di atas.
Berdasarkan pemaparan data dalam tabel ini maka dapat diperoleh sebuah
kesimpulan bahwa unsur transformasi yang lain dari segi aspek psikomotor adalah unsur
yang ditandai dengan jemaat setia membaca Alkitab. Unsur ini juga adalah unsur yang
tidak kalah penting dari unsur-unsur yang telah dijelaskan pada tabel sebelumya.
Tabel 26
Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia berdoa
A/N =105
No
Item
R/F
49
46,7
b. Setuju
23
21,9
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
25
23,8
e. Sangat
7,6
105
100
a. Sangat
Jumlah
setuju
tidak setuju
Angka yang tertera dalam tabel ini memperlihatkan transformasi dari unsur
psikomotorik ditandai oleh kesetian jemaat untuk berdoa. Dalam hal ini dapat dilihat dari
perbandingan nila prosentase yang diperoleh dari hasil mengelolah skor antara lain: 46,7
% responden yang menjawab sangat
setuju pada penyataan yang menyebutkan unsur transformasi dari psikomotor ditandai
dengan kesetiaan jemaat untuk berdoa. Sementara itu ada pula 23,8 % yang tidak setuju
bahkan 7,6 % responden lainnya menjawab sangat tidak setuju terhadap pernyataan di
atas.
Dari data
keyakinan untuk mengakui bahwa memang unsur yang diharapakan maupun diinginkan
untuk terjadi transformasi dari segi aspek psikomotor adalah meliputi adanya kesetiaan
jemaat dalam berdoa.96
96
Seseorang jemaatyang bersaksi pada saat ibadah minggu, beliau mengatakan bahwa dulunya
sebelum ia bertobat hidupnya tidak benar, ada masalah maka beliau menyelesaikan masalah itu dengan
tidak benar, misalnya: judi, mabuk, main perempuan, berbisnis dengan cara yang jelek di mata Tuhan. Tapi
kini belia mengatakan setelah hidupnya ditegur dengan keras oleh Tuhan belia mengambil keputusan untuk
bertobat dan mulai belajar menghadapi setiap masalah dengan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.
Awalnya beliau sulit untuk melakukannya tetapi ia terus mencoba, walaupun sering gagal, tetapi semakin ia
terus mencoba dekat dengan Tuhan dalam doa semakin ia merasakan bahwa hidup dalam doa itu memang
amat luar biasa. Hingga kini beliau sangat setia berdoa bukan hanya saja ketika diterpa masalah tetapi
disaat-saat suka cita pun ia selalu berdoa untuk mensyukuri segala sesuatu anugrah Tuhan dalam Hidupnya.
Contoh semacam inilah yang dikatakan telah mengalami transforamasi secara psikomotor.
Tabel 27
Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia melayani
A/N =105
No
Item
R/F
42
40,0
b. Setuju
39
37,1
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
13
12,4
e. Sangat
11
10,5
105
100
a.
Sangat
setuju
tidak setuju
Jumlah
Dalam tabel ini memperlihatkan transformasi dari unsur psikomotorik ditandai oleh
kesetian jemaat melayani. Dalam hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila prosentase
yang diperoleh dari hasil mengelolah skor antara lain: 40,0 % responden yang menjawab
sangat
setuju dan 37,1 % responden yang menjawab setuju pada penyataan yang
menyebutkan unsur transformasi dari psikomotor ditandai dengan kesetiaan jemaat untuk
melayani. Sementara itu ada pula 12,4 % yang tidak setuju bahkan 10,5 % responden
lainnya menjawab sangat
Dengan nilai atau angka-angka yang tertera dalam tabel di atas menunjukkan bahwa
rata-rata jemaat mengakui bahwa unsur yang lain dari transformasi manusia yang dilihat
dari aspek psikomotor dan tidak kalah penting dari unsur-unsur transformasi sebelumnya
adalah setia melayani Tuhan.97
Tabel 28
Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat menyangkal diri dari segala godaan
iblis
A/N =105
No
Item
R/F
49
46,7
b. Setuju
29
27,6
c. Ragu-ragu
2,9
d. Tidak setuju
20
19,0
e. Sangat
3,8
105
100
a. Sangat
setuju
tidak setuju
Jumlah
Hasil yang ditujukan melalui tabel ini adalah 46,7 % responden yang menjawab
sangat
setuju dan 27,6 % responden yang menjawab setuju pada penyataan yang
Walaupun dalam tabel di atas ada responden yang menyatakan tidak setuju bahkan
sangat
tidak setuju, namun penulis melihat dari penelitian ini cukup membuktikan
bahwa transformasi dari unsur psikomotorik ditandai dengan unsur jemaat menyangkal
diri dari segala godaan iblis. Hal ini dibuktikan dengan jumlah antara yang setuju dengan
yang sangat setuju benilai 78 responden atau 74,3%. Ini merupakan nilai yang sangat
tinggi.
Aspek IV
Hubungan visi-misi Pendidikan Kristen
dengan program pembinaan rohani jemaat (tabel 29-33)
Tabel 29
Visi-misi pendidikan Kristen berhubungan erat dengan program pembinaan rohani jemaat
A/N =105
No
Item
R/F
42
40,0
b. Setuju
36
34,3
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
26
24,8
e. Sangat
0,9
105
100
a. Sangat
Jumlah
setuju
tidak setuju
Pada tebel berikut ini menyatakan adanya hubungan antara visi-misi pendidikan
Kristen dengan program pembinaan rohani jemaat dalam gereja. Hal ini dapat dilihat dari
perbandingan nila prosentase yang diperoleh dari hasil mengelolah skor antara lain: 40,0
% responden yang menjawab sangat setuju dan 34,3 % responden yang menjawab setuju
pada penyataan yang menyebutkan adanya hubungan antara visi-misi pendidikan Kristen
dengan program pembinaan rohani jemaat dalam gereja. Sementara itu ada pula 24,8 %
yang tidak setuju bahkan 0,9 % responden lainnya menjawab sangat tidak setuju terhadap
pernyataan di atas.
Tabel 30
Visi-misi Pendidikan Kristen merupakan alat yang mengarahkan program
A/N =105
No
Item
R/F
35
33,3
b. Setuju
40
38,1
c. Ragu-ragu
6,7
d. Tidak setuju
14
13,3
e. Sangat
8,6
105
100
a. Sangat
Jumlah
setuju
tidak setuju
Pada tebel berikut ini menyatakan hubungan antara visi-misi pendidikan Kristen
dengan program pembinaan rohani jemaat. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila
prosentase yang diperoleh dari hasil mengelolah skor antara lain: 33,3 % responden yang
menjawab sangat
Tabel 31
Program pembinaan rohani
merupakan sarana pencapaian visi-misi pendidikan Kristen dalam gereja
A/N =105
No
Item
R/F
42
40,0
b. Setuju
29
27,6
c. Ragu-ragu
0.0
d. Tidak setuju
25
23,8
e. Sangat
8,6
105
100
a. Sangat
Jumlah
setuju
tidak setuju
Pada tebel berikut ini menyatakan hubungan antara visi-misi pendidikan Kristen
dengan program pembinaan rohani jemaat. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila
prosentase yang diperoleh dari hasil mengelolah skor antara lain: 40,6 % responden yang
menjawab sangat
yang menyebutkan bahwa program pembinaan rohani merupakan sarana pencapaian visimisi pendidikan Kristen dalam gereja. Sementara itu ada pula 23,8 % yang tidak setuju
bahkan 8,6 % responden lainnya menjawab sangat
atas.
Apabila pada tabel sebelumnya, yaitu tabel 30 menjelaskan tentang hubungan visimisi pendidikan kristen dengan program pembinaan rohani jemaat yang tidak lin dari
bahwa visi-misi pendidikan Kristen merupakan alat yang mengarahkan program. Maka
pada tabel berikut ini menjelaskan hubungan yang lain yaitu bahwa program merupakan
sarana pencapaian visi-misi pendidikan Kristen dalam gereja. Dengan kata lain bahwa
antara visi-misi pendidikan Kristen tersebut sesungguhnya memiliki hubungan timbal
balik dan hubungan tersebut sangat
erat kaitannya.
Tabel 32
Tanpa visi-misi, program tidak terarah dan terfokus pada sasaran
A/N =105
No
Item
R/F
37
35,3
b. Setuju
31
29,5
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
27
25,7
e. Sangat
10
9,5
105
100
a. Sangat
Jumlah
setuju
tidak setuju
Hasil prosentase pada tebel ini menyatakan bahwa tanpa visi-misi program tidak
terarah dan terfokus. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila prosentase yang
diperoleh dari hasil mengelolah skor antara lain: 35,3 % responden yang menjawab
sangat setuju dan 29,5 % responden yang menjawab setuju pada penyataan yang
menyebutkan bahwa tanpa visi-misi, program tidak terarah dan terfokus pada sasaran.
Sementara itu ada pula 25,7 % yang tidak setuju bahkan 9,5 % responden lainnya
menjawab sangat tidak setuju terhadap pernyataan di atas.
Hal ini semakin menegaskan hubungan yang sangat erat dan penting antara visi-misi
pendidikan Kristen dengan program pembinaan rohani jemaat. Ibarat seorang penembak,
di mana ketika seorang penembak melepaskan busur panah maka tentu sebelumnya ia
telah memikirkan dan menetapkan sebuah titik atau sasaran dimana nantinya busur panah
tersebut akan tertancap. Sekalipun terkadang ketika busur panah yang dilepaskan
tertancap dengan meleset atau tidak mengenai titik yang telah ditentukan. Namun karena
sudah ada titik yang jelas maka pemanah tersebut dapat lebih gampang menilai dan
mengevaluasi bahwa ia belum sampai pada sasarannya. Maka ia terus berjuang,
berlatih,memperbaiki sehingga ia sampai pada sasaran.
Demikian pula dengan visisi misi pendididikan kristen. Ketika visi-misi pendidikan
kristen sudah jelas, maka ketika program yang telah dilaksanakan tidak mencapai sasaran
atau kurang maka lebih mudah untuk menilai dan mengevaluasi serta memperbaikinya.
Aspek V
Jenis program yang menjadi sarana pencapaian visi-misi pendidikan Kristen
Tabel 33
Program rutin ibadah: ibadah umum, ibadah komisi, kebaktian doa, PA, dan lain-lain
A/N =105
No
Item
R/F
31
29,5
b. Setuju
37
35,3
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
27
25,7
e. Sangat
10
9,5
105
100
a. Sangat
Jumlah
setuju
tidak setuju
Pada tabel berikut ini menguraikan jenis program yang menjadi sarana pencapaian
visi-misi pendidikan Kristen. Yang mana melalui tabel ini menyebutkan salah satu jenis
program untuk mencapai visi-misi pendidikan Kristen adalah Program rutin ibadah:
ibadah umum, ibadah komisi, kebaktian doa, PA, dan lain-lain.
Hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila prosentase yang diperoleh dari hasil
mengelolah skor antara lain: 29,5 % responden yang menjawab sangat setuju dan 35,3 %
responden yang menjawab setuju pada penyataan yang menyebutkan salah satu jenis
program adalah Program rutin ibadah: ibadah umum, ibadah komisi, kebaktian doa, PA,
dan lain-lain. Sementara itu ada pula 25,7 % yang tidak setuju bahkan 9,5 % responden
lainnya menjawab sangat
Tabel 34
Program tidak rutin ibadah: Pembangunan, KKR, Ibadah Padang, Natal, Paskah dan lainlain
A/N =105
No
Item
R/F
30
28,6
g. Setuju
37
35,3
h. Ragu-ragu
2,9
i. Tidak setuju
25
23,8
j. Sangat
10
9,5
105
100
f. Sangat
Jumlah
setuju
tidak setuju
Apabila pada tabel sebelumnya, yaitu tabel 33 menjelaskan program gereja yang
dapat menjadi sarana pencapaian visi-misi pendidikan Kristen adalah program rutin,
maka pada tabel ini menyebutkan jenis program yang lain dalam rangka pembinaan
rohani jemaat adalah Program tidak rutin seperti pembangunan, KKR, ibadah padang,
natal, paskah dan lain-lain.
Hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila prosentase yang diperoleh dari hasil
mengelolah skor antara lain: 28,6 % responden yang menjawab sangat setuju dan 35,3 %
responden yang menjawab setuju pada penyataan yang menyebutkan salah satu jenis
program adalah program tidak rutin seperti pembangunan, KKR, ibadah padang, natal,
paskah
dan lain-lain. Sementara itu ada pula 23,8 % yang tidak setuju bahkan 9,5 %
Tabel 35
Program konseling pastoral
A/N =105
No
Item
R/F
37
35,3
b. Setuju
31
29,5
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
27
25,7
e. Sangat
10
9,5
105
100
a. Sangat
setuju
tidak setuju
Jumlah
Selain program rutin dan program tidak rutin, maka ada pula prgram pendukung
lainnya sebagaimana yang disebutkan pada tabel 35 ini. Di mana pada tabel berikut ini
menguraikan jenis program lain yang menjadi sarana pencapaian visi-misi pendidikan
Kristen adalah pastoral konseling.
Hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila prosentase yang diperoleh dari hasil
mengelolah skor antara lain: 35,3 % responden yang menjawab sangat setuju dan 29,5 %
responden yang menjawab setuju pada penyataan yang menyebutkan salah satu jenis
program adalah pastoral konseling. Sementara itu ada pula 25,7 % yang tidak setuju
bahkan 9,5 % responden lainnya menjawab sangat tidak setuju terhadap pernyataan di
atas.
Tabel 36
Program katekisasi
A/N =105
No
Item
R/F
40
38,1
b. Setuju
25
23,8
c. Ragu-ragu
4,8
d. Tidak setuju
25
23,8
e. Sangat
10
9,5
105
100
a. Sangat
setuju
tidak setuju
Jumlah
Pada tabel berikut ini menguraikan jenis program lain yang menjadi sarana
pencapaian visi-misi pendidikan Kristen. Yang mana dalam tabel ini menyebutkan salah
satu jenis program adalah katekisasi. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan nila
prosentase yang diperoleh dari hasil mengelolah skor antara lain: 35,3 % responden yang
menjawab sangat setuju dan 29,5 % responden yang menjawab setuju pada penyataan
yang menyebutkan salah satu jenis program adalah katekisasi. Sementara itu ada pula
25,7 % yang tidak setuju bahkan 9,5 % responden lainnya menjawab sangat tidak setuju
terhadap pernyataan di atas
Dari perbandingan prosentase di atas membuktikan bahwa program yang dapat
menjadi sarana pencapaian tujuan bukan saja hanya program rutin, program tidak rutin,
maupun program konseling namun ada juga program lain yang juga tidak kalah penting,
yaitu program pembinaan rohani jemaat melalui katekisasi. Katekisasi diberikan bukan
hanya sekedar formalitas atau sudah tradisi dalam gereja, namun ada suatu sasaran yang
harus dicapai. Bukan sekedar memenuhi persayaratan untuk di babtis tetapi terlebih dari
pada itu agar peserta katekisasi semakin memahami, mengenal Allah dan mau bertumbuh
ke dalam pengenalan itu melalui sikap mereka dalam memuliakan Allah melalui hidup
mereka.
Tabel 37
Program training pelayanan
A/N =105
No
Item
R/F
50
47,6
b. Setuju
18
17,1
c. Ragu-ragu
6,7
d. Tidak setuju
15
14,3
e. Sangat
15
14,3
105
100
a. Sangat
Jumlah
setuju
tidak setuju
Dalam tabel ini memberi gambaran jumlah prosentase responden yaitu 47,6 %
menyatakan sangat setuju jika gereja memberikan training pelayanan kepada jemaat, 12,1
% yang setuju untuk memberikan training pelayanan kepada jemaat. Kemudian 6,7
adalah presponden yang [Link]. Sedangkan 14,3 % adalah prosentase jawaban yang
menyatakan tidak setuju bahkan ada14,3 % pula yang menyatakan sangat tidak setuju
jika gereja memberikan training pelayanan kepada jemaat. Hal ini berarti bahwa training
untuk pelayanan itu sangat
penting sekali.
Program yang lainnya juga diuraikan dalam tabel ini, yang mana program disebutkan
bahwa program training pelayanan merupakan juga program pembinaan rohani jemaat
yang dapat digunakan untuk mencapai visi-misi pendidikan Kristen. hamba Tuhan tidak
saja hanya berkhotbah agar jemaat melayani Tuhan dengan baik, sementara jemaat tidak
punya skill dalam hal [Link] hamba Tuhan harus menyediakan wadah bagi mereka
untuk dilatih bagaimana mereka bisa melayani dengan baik sehingga ketika mereka
mendengar khotbah bahwa setiap orang atau orang percaya harus melayani Tuhan maka
mereka dapat melakukan itu karena mereka sudah di latih.
Tabel 38
Training berbagai keterampilan upaya gereja menolong jemaat yang tidak memiliki
pekerjaan
A/N =105
No
Item
R/F
38
36,2
b. Setuju
28
26,7
c. Ragu-ragu
0,0
d. Tidak setuju
25
23,8
e. Sangat
14
13.3
105
100
a. Sangat
setuju
tidak setuju
Jumlah
Dalam tabel ini menjelaskan bahwa salah satu upaya gereja untuk menolong jemaat
yang tidak memiliki pekerjaan dengan cara memberikan berbagai training atau pelatihan.
Hal ini dapat dilihat dari prosentase jawaban yang ada dalam tabel, dimana 36,2 % yang
menjawab sangat
upaya yang seharus diberikan oleh gereja. Sedangkan 23,8 % menyatakan tidak setuju
dan 13,3 % menyatakan sangat
tidak setuju.
Setelah semua data disajikan dalam tabel di atas maka pada bagian ini akan
dilakukan pembahasan atau interpretasi temuan penelitian (implikasi dan korelasi) dan
menghubungkan teori yang dipaparkan dalam bab II dengan hasil temuan penelitian
Sebagaimana dikatakan dalam bab II bahwa visi-misi pendidikan Kristen itu penting
dalam pelaksanaan program pembinaan rohani jemaat. Bahkan dibuktikan dalam
penelitian ini yang penulis lakukan dan dihasilkan sebuah data yang tertera dalam aspek
I, tabel 1-3, yang mengakui bahwa visi-misi pendidikan Kristen itu penting. Bahkan
seharusnya visi-misi pendidikan Kristen itu harus dikomunikasikan kepada jemaat agar
jemaat tahu dan memahami apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Tuhan dalam hidup
mereka.
Tentang apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup mereka tentunya sudah tercakup
secara keseluruhan dalam visi-misi pendidikan Kristen, karena visi-misi pendidikan
Kristen sesungguhnya sejalan dengan maksud Tuhan Yesus Kristus agar setiap orang
yang mengaku percaya kepadanya mengalami perubahan, pertumbuhan, pendewasaan
dan menjadi semakin serupa dengan Kristus. Hal ini harus dikomunikasikan kepada
jemaat sehingga mereka bersemangat dan termotivasi dalam mengikuti pembinaan dan
menerima pengajaran yang disampaikan kepada mereka.
Visi-misi pendidikan Kristen yang sejalan dengan maksud Tuhan sebagaimana yang
tertera di atas adalah agar setip orang percaya mengalami perubahan hidup, pertumbuhan
rohani, kedewasaan dalam segala aspek dan yang lebih tinggi dari itu adalah menjadi
lebih sempurna seperti Kristus. Keinginan Tuhan dalam hal ini dirumuskan menjadi visi-
terhadap Allah belum mendalam. Oleh karena itu ketika Pembina memberikan
pembinaan maka seharunya isi pengajaran itu harus memadai
Yang tergolong transformasi dalam aspek afektif adalah meliputi satu,
jemaat
memiliki perasaan dekat dengan Tuhan. Jemaat tidak saja hanya memiliki pengetahuan,
pemahaman dan pengertian tentang Tuhan yang disembah setiap orang percaya. Tetapi
sebagai wujud dari pengetahuan, pemahaman dan pengertian itu ditindak lanjuti dengan
keinginan untuk dekat dengan Tuhan. Misalnya, seseorang yang percaya kepada Tuhan
mengenal, mengerti dan memahami bahwa Tuhan sumber ketenangan, suka cita,
kedamaian, sumber berkat, penguasa atas segala ciptaan di dunia ini; tentu dia akan lebih
memilih mendekatkan diri kepada Allah yang memberi dia ketenangan dan kedamaian.
Karena setiap orang membutuhkan hal tersebut. Seorang permazmur dalam Mazmur 62:2
mengatakan bahwa hanya kepada Allah sajalah aku tenang, dari padaNyalah
keselamatanku. Orang yang menyadari hal ini maka ia pasti akan mendekatkan diri
kepada Tuhan.
Dua, jemaat memiliki sikap menyembah Tuhan dalam hidupnya dengan tulus. Sikap
ini merupakan wujut dari pengenalan, pengetahuan, pemahaman, pengertian seseorang
tentang Tuhan. Apabila seseoarang menyembah Tuhan dikarenakan ia mengenal Tuhan
hanya sebatas pemahaman bahwa Tuhan itu sebagai sumber berkat maka ia pun
menyembah Tuhan itu hanya karena motivasi bahwa Allah memberi berkat bagi dirinya.
Demikian juga jika pengenalannya tentang Tuhan hanya sebatas bahwa Allah dokter di
atas segala dokter maka jemaat tersebut hanya menyembah Allah karena Allah sangup
menyembuhkan penyakit. Namun apa bila jemaat memandang Allah itu bukan
secara afektif maka akan menyembah Allah bukan berdasarkan konsepnya maupun
karena motivasi yang salah tetapi karena ia sadar Allah memang layak untuk disembah
dan tidak ada alas an untuk mengatakan bahwa Allah tidak layaka untuk disembah.
Tiga, jemaat memiliki keberanian menghadapi masalah/perasaan tidak kuatir. Orang
yang tidak mengalami trasforamasi rohani dalam aspek afektif maka akan memiliki
bermacam-macam reaksi atau respon ketika mengahadapi masalah. Misalkan kuatir,
takut, gelisah dan lain-lain. Namun ketika seseorang telah mengalami transformasi rohani
dari aspek afektif maka jemaat tersebut akan menghadapi masalah dengan berani tanpa
takut dan kuatir karena ia tahu dan memahami bahwa setiap masalah dalam hidup ini
tidak pernah lewat dari sepengetahuan Tuhan,dan Tuhan tidak terbatas untuk memberi
jalan pertolongan tepat pada waktunya karena Ia adalah Allah yang setia.
Empat, jemaat memiliki kerinduan untuk bersaksi. Setiap orang yang memiliki
pengetahuan, pengenalan, pemahaman, pengertian dengan Tuhan maka ada kerinduan
untuk bersaksi tentang apa yang diketahuinya tentang Tuhan. Karena ada dorongan yang
meluap dari dalam hati yang ingin diungkapkan kepada setiap orang tentang Tuhan yang
dikenalnya. Semakin seseoang mengenal Tuhan semakin merasakan dorongan untuk
menyaksikan Tuhan kepada orang lain. Karena ia pun menginginkan orang lain untuk
menikmati atau merasakan bagaimana Tuhan menolongnya.
Lima, jemaat memiliki kerinduan untuk hidup benar dan kudus di hadapanTuhan.
Jemaat yang sadar bahwa ia diciptakan segambar dengan Allah, dan penciptanya itu
kudus dan suci, maka jemaat tersebut harus menjaga kekudusan di hadapan Tuhan.
Sebagaimana Firman Tuhan dalam kitab Imamat 19:2 berbunyi demikian berbicaralah
kepada kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: kuduslah kamu, sebab
aku, Tuhan, Allahmu, kudus. dari bagian ini tersirat suatu penegasan agar setiap orang
percaya menjaga kekudusan hidupnya, karena Tuhan tidak menginginkan ketidak
kudusan dari orang-orang yang mengaku percaya kepadanya. Hal ini berarti bahwa setiap
orang yang mengalami
Enam, jemaat memiliki kerinduan untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Hal ini
merupakan suatu bukti nyata dari aspek afektif apabila seseorang telah mengalami
pertumbuhan rohani. Seorang yang telah mengenal, memahami dan mengerti Tuhan serta
firmanNya maka ia akan mengasihi Tuhan dan sesamanya. Kasih yang ditunjukkannya
bukanlah kasih yang pura-pura tetapi kasih yang sejati, kasi yang tulus, kasih tanpa
mengharapkan balasan karena ia tahu bahwa kasih Tuhan melebihi dari kasih manusia.
Tujuh, jemaat selalu aktif dalam beribadah. Seorang jemaat yang mengetahui,
memahami tentang Allah, bahwa Allah itu bukan saja pengasih, melainkan juga Allah
yang cemburu. Ia menginginkan umatNya untuk setia beribadah kepadaNya. Maka
sebagai jemaat yang mengalami pertumbuhan rohani dari aspek afektif maka Ia mau dan
setia beribadah kepada Tuhan.
Delapan, adalah jemaat beribadah dengan sungguh-sungguh dan tulus. Banyak orang
beribadah kepada Tuhan baik, namun belum tentu ibdah itu sunguh-sungguh. Kadang
jemaat beribadah karena ibadah diaggap tradisi maka ia harus mengikuti tradisi itu. Ada
pula jemaat yang beribadah karena tidak mau dia dianggap orang yang tidak punya
agama, ataupun beribadah karena dianggap suatu kewajiban. Hal-hal ini telah
menunjukkan sukap yang tidak sungguh-sungguh dan tulus dalam ibadah. Sebagai jemaat
yang mengalami pertumbuhan hendaknya beribadah bukan karena atas dasar yang
disebutkkan di atas melainkan karena jemaat bahwa menyadari bahwa sebagai makhluk
ciptaan Tuhan yang segambar dengan Allah sudah selayaknya jika mereka memuji dan
memuliakan namaNya melalui ibadah dan ibadah tersebut harus dengan hati yang
sungguh-sungguh dan tulus.
Sembilan, jemaat mau menerima nasehat dan teguran dari pengajaran Firman Tuhan.
Kadang jemaat tersinggung apabila firman Tuhan yang disampaikan lewat mimbar
menyinggung dirinya, sekalipun pengkhotbah tidak sengaja menyindir perbuatannya,
namun jemaat tersebut selalu berpikir bahwa khotbah tersebut sengaja ditujukan
kepadanya. Dan hal ini membuat dirinya untuk tidak hadir kegereja pada minggu-minggu
berikutnya. Sikap semacam ini adalah sikap seorang jemaat yang belum mengalami
pertumbuhan. Seharusnya sebagai jemaat yang mengalami petumbuhan, hendak ia
menerima nasehat dan teguran dari pengajaran firman Tuhan, baik hal itu disampaikan
secara langsung maupun tidak langsung atau lewat khotbah.
Sepuluh, jemaat mampu mengatasi cobaan dalam hidup sehari-hari. Ada beberapa
jemaat yang menyerah dalam menghadap cobaan, apa lagi bila cobaan itu datang silih
berganti. Seorang jemaat yang tidak tahan dengan keadaan ini akan putus asa dan tidak
akan bertahan, bahkan ia akan menyalahkan dan menghakimi Tuhan. Namun dalam
bagian ini sangat
Tuhan dengan baik, karena dengan mengelolah berkat Tuhan dengan baik adalah salah
satu bentuk atau cara jemaat menghargai dan menghormati apa yang diberikan Tuhan
dalam hidupnya.
Dua belas, jemaat mampu mengelolah waktu dengan baik dan lain-lain. Selain dapat
mengelolah berkat Tuhan dengan baik, juga dalam transformasi dari aspek afektif ini
adalah jemaat memiliki kemampuan dalam mengelolah waktu dengan baik. Dengan
mengelolah waktu dengan baik maka jemaat dapat tetap menyediakan kesempatan untuk
beribadah kepada Tuhan. Kadang jemaat berdalih bahwa jemaat tidak dapat beribadah
karena tidak ada waktu. Tidak ada doa dalam rumah tangga karena semua sibuk. Tidak
ada saat teduh ataupun doa pribadi dengan Tuhan karena repot. Pekerjaan selalu
dijadikan alasan untuk tidak beribadah. Sesungguhnya orang yang mengalami
transforamsi dari aspek afektif seharusnya dapat membagi waktu dengan baik, oleh
karena kesadaran bahwa waktu itu adalah anugrah Tuhan,maka setiap orang percaya
harus dapat mensyukuri dan menghargai waktu dengan cara menggunakan waktu itu
dengan baik.
Sedangkan yang termasuk transformasi dalam aspek psikomotor terdiri dari unsurunsur antara lain satu, adalah jemaat setia melakukan Firman Tuhan dalam hidupnya.
Walaupun jemaat semakin tinggi pengetahuannya tentang Allah dan firmanNya, sekamin
ada keinginan untuk dekat dengan Allah, namun kalau hanya sebatas pada pengetahuan
dan keinginan saja tanpa langsung diterapkan dalam kehidupan nyata maka sia-sia sajalah
pengenalannya kepada Tuhan. Transformasi dari segi aspek psikomotorik ini bukan saja
pengetahuan semakin tinggi, keinginan semakin meluap namun harus disertai dengan
praktek yang nyata bahwa jemaat mau bahkan setia melakukan firman Tuhan dalam
hidupnya.
Dua, jemaat setia bersekutu dengan Tuhan baik kelompok maupun secara pribadi.
Seorang jemaat yang mengalami transformasi dari aspek psikomotor dengen setia
melakukan firmanNya, maka hal tersebut dapat terwujut dengan nyata melalui
kesetiaannya bersekutu dengan Tuhan baik dalam kelompok maupun secara pribadi.
Tiga, jemaat setia baca Alkitab. Diluar dari penelitian ini, penulis pernah
mengadakan survey di beberapa jemaat tentang baca Alkitab. Dan dalam survey itu
ditemukan bahwa dari 100 % jemaat yang hadir di gereja hanya ada 45 % yang setia baca
Alkitab. Rata-rata jemaat hanya membuka Alkitab ketika mereka ada di gereja, dan itu
pun ada jemaat yang tidak membawa Alkitab. Hal ini menunjukkan bahwa jemaat tidak
mengalami transformasi. Sedangkan dalam pendidikan Kristen hendak dapat mencapai
transformasi dari aspek psikomotor bahwa jemaat mau dan setia membaca Alkitab baik
digereja maupun dirumah. Jika pada awalnya jemaat bertobat jarang membaca Alkitab
namun lama kelamaan dengan proses pendidikan dan pembinaan rohani maka jemaat
tersebut akan semakin giat dalam membaca Alkitab yang adalah firman Tuhan.
Empat, jemaat setia berdoa. Bagi sebagian orang sangat
doa. Namun bagi orang yang mengalami transforamsi dari aspek psikomotor melihat
bahwa doa adalah adalah nafas manusia. Berhenti berdoa berarti nafas berhenti dalam hal
ini diartikan dalam pengertian rohani. Jika tidak berdoa seakan-akan kita kehilangan
nyawa. Artinya bahwa Tuhan yesus adalah hidup kita dan kita bergantung sepenuhnya
kepadanya. Ketika tidak berdoa berarti menunjukkan adanya keterpisahan antara
seseorang dengan hidunya yaitu Tuhan Yesus. Oleh karena itu seorang jemaat yang
mengalami transfornasi selalu setia dalam berdoa.
Lima, jemaat setia melayani. Sebagai orang atau jemaat yang menyadari bahwa
Tuhan menciptakan dirinya dengan sempurna, dan menganugrahkan kemampuan bahkan
talenta dalam dirinya untuk melayani, maka hendakhnya ia melayani Tuhan dengan baik
sesuai dengan kemampuannya dan talenta yang ada padanya. Namun perlu diingat bahwa
walaupun sedikit kemampuan seseorang namun kemampuan yang sedikit itu apabila
dilatih maka akan semakin lebih bertambah kemampuan yang dimilikinya. Karena itu
seorang yang mengalami transformasi harus melayani Tuhan dengan baik, menggunakan
kemampuan yang telah dianugerahkan oleh Tuhan kepada masing-masing umatNya.
Enam, jemaat menyangkal diri dari segala godaan iblis dan lain-lain. Hal yang
mungkin sulit bagi seseorang adalah bagaimana menyangkal diri dari godaan iblis.
Karena tak dapat disangkal bahwa orang percaya masih terus digoda oleh hal-hal
duniawi, masuih terus tergoda dengan tipu daya iblis. Maka sebagai seorang jemaat yang
mengalami transformasi selalu berjaga-jaga karena yang bersangkutan sadar bahwa
lawan dalam dunia ini adalah iblis dan si iblis itu sedang mengaum-ngaum berkeliling (1
Petrus 5:8).
Unsur-unsur transformasi di atas baik trasnforamsi dalam aspek kognitif, afektif dan
psikomotor
hanya
merupakan
unsur-unsur
yang
mewakili
penjelasan
atau
menggambarkan ketiga aspek yang harus ditrasformasi dalam hidup seseorang, masih ada
bahkan lebih banyak hal yang lain yang berkaitan seluruh aspek kehidupan manusia.
Melihat inti dari visi-misi pendidikan Kristen ini begitu penting, maka diperlukan
suatu sarana pencapaian dari visi-misi pendidikan Kristen tersebut, yang penulis sebut
sebagai program. Dengan demikian visi-misi pendidikan Kristen berhubungan erat
dengan program pembinaan rohani jemaat. Hubungan tersebut terlihat bahwa visi-misi
Pendidikan Kristen merupakan alat yang mengarahkan program, dan Program pembinaan
rohani merupakan sarana pencapaian visi-misi pendidikan Kristen dalam gereja. Tanpa
visi-misi, program tidak terarah dan terfokus pada sasaran dan tanpa program visi-misi
tidak akan tercapai.
Namun program apa sajakah yang seharusnya ada dan diperhatikan oleh gereja?
Berdasarkan survei atau penelitian yang dilakukan oleh penulis maka ditemukan jawaban
tentang program-program yang dimaksudkan adalah satu, Program rutin ibadah: ibadah
umum, ibadah komisi, kebaktian doa, PA, visitasi dan lain-lain. Dua, program tidak
rutin: seperti, pembangunan, KKR, Seminar, Ibadah Padang dan lain-lain. Tiga, program
pendamping atau pendukung seperti: Program konseling pastoral, katekisasi, training
pelayanan, Training berbagai keterampilan sebagai upaya gereja menolong jemaat yang
tidak memiliki pekerjaan.
Persekutuan Kristen se Jatim dari apa yang telah dijelaskan di atas maka penulis merasa
perlu memaparkan latar belakang dan sejarah gereja tersebut.
Persekutuan Kristen sendiri didirikan oleh CFMU singkatan dari Chinese Foreign
Missionary Union. Didirikan pada tahun 1936. Di Indonesia, jemaat Gepekris98 pertama
kali didirikan di Tanjung Pandang sekligus berkantor pusat di kota ini. Namun dengan
pertimbangan efektifitas komunikasi dan pelayanan, pada tahun 1970 kantor pusat
Gepekris dipindahkan ke ibu kota negara, Jakarta.
Di Jawa Timur CFMU pertama kali mendirikan Gereja Persekutuan Kristen di
Malang. Proses berdirinya Gereja Persekutuan Kristen di Malang, tidak dapat dilepaskan
dari berdirinya Sekolah She Mei yang berdiri pada tahun 1945. Pdt. John Zakharia
mengajar di sekolah ini pada tahun 1957, Dr. Wong mengusulkan untuk memulai sebuah
gereja berbahasa mandari. Aula sekolah dipinjam sebagai ruang kebaktian. Sejumlah 20
orang hadir dalam kebaktian perdana. Pada tahun 1994 seorang pendeta bersama istri
menggembalakan gereja tersebut. Pelayanan Tuhan berkembang dengan baik, jumlah
anggota jemaat mencapai 250 orang. Bahkan membuka tiga pos penginjilan di kota
Malang. Namun pada tahun terakhir ini jemaat berkurang menjadi 177 orang.
Sedangkan GePeKris Mojokerto berdiri pada tahun 1963 dengan pertimbangan
banyaknya etnis Tionghoa di kota ini. Namun berhubung adanya peraturan pemerintah
N0. 10 pada tahun 1960-an, toko-toko orang Tionghoa ditutup, pelayanan gereja menjadi
sulit. Jumlah yang hadir dalam kebaktian hanya sekitar 20-25orang. Tetapi beberapa
98
Gereja Persekutuan Kristen sebelumnya mempunyai singkatan GPK. Tetapi oleh karena banyak
orang yang mengindentikkan atau mengartikan GPK adalah Gerakan Pengacau Keamanan, maka pada
tahun 1972 nama gereja yang didirikan oleh CFMU diganti menjadi GePeKris (Gereja Persekutuan
Kristen)
tahun kemudian jumlah kehadirian jemaat mengalami penurunan hanya 10-15 orang, dan
hamba Tuhannya pun selalu berganti-ganti.
Kemudiaan pada tahun 1968 ada empat keluarga Kristen yang mengunjungi kota
Prigen, Jawa Timur. Mereka meminjam vila Pdt. Yakub Setiawan untuk beribadah.
Kebaktian perdana ini hadir 20 orang. Pada tahun 1971 ada empat keluarga Kristen lagi
mengadakan kebaktian di sana. Pada mulanya mereka hanya menggunakan ruang tamu
saja tiap kali kebaktian, tetapi karena ruangan Yang sangat
mendirikan ruang kebaktian yang agak besar di belakang vila tersebut. Pada tahun 1974,
Adelia Chia seorang misonaris etnis Tionghoa dari Hawai, Amerika Serikat mendukung
pelayanan ini. Hingga tahun 1976, jumlah pengunjung kebaktian sekitar 60-70 orang.
Anggota pemuda remaja berjumlah 35 orang dan sekolah Minggu 100 orang. Namun
tahun-tahun terakhir in, jumlah jemaat baik jemaat umum, pemuda remaja dan sampai
Sekolah Minggu terjadi penurunan.
Sementara itu di Tretes Gereja Pesekutuan Kristen didirikan pada Tahun 1979 yang
diawali oleh pelayanan perintisan dari misionaris Adelia Chia dan Pdt. Paulus Supangat
serta beberapa orang Kristen mendukung pelayanan pos penginjilan ini. Pada tahun 1975
Sekolah Minggu dimulai dengan enam orang anak saja, tetapi tahun demi tahun
bertambah 35 orang anak. Anggota pemuda dan remaja berjumlah 30 orang, dan
pengunjung kebaktian 70-80 orang. Tetapi karena kota Tretes adalah kota tempat rekreasi
yang ramai dikunjungi orang pada waktu itu maka jumlah jemaat mencapai 150 orang.
Namun tahun-tahun terakhir ini mengalami penurunan, di mana jemaat yang tercatat,
termasuk jemaat pengunjung hanya mencapai 30-50 orang.
Dengan melihat sejarah berdirinya Gereja Persekutuan Kristen se-Jatim maka dapat
dimengerti bahwa gereja ini sesungguhnya gereja yang sudah lama sekali berdiri. Dan
pada dasarnya semakin tinggi usia gereja seharusnya semakin mengalami kematangan,
kemantapan, semakin meningkat dalam hal kuantitas maupun kualitas. Namun jika dilihat
dari sejarah berdirinya bukan semakin mengalami kenaikan, semakin mantap dan matang
atau mengalami kedewasaan, tetapi justru gereja-gereja tersebut semakin merosot. Jemaat
semakin menurun jumlah kehadirannya dalam gereja, sebagaimana yang terlihat dalam
tebel di bawah ini:
NO
NAMA GEREJA
JUMLAH HADIR
JUMLAH HADIR
JEMAAT PERTAMA
JEMAAT PADA
TAHUN-TAHUN
TERAKHIR
GePeKris Malang
250
177
GePeKris Mojokerto
20/25
10/15
GePeKris Prigen
60/70
30/35
GePeKris Tretes
150
30/50
GePeKris Surabaya
40
20/25
25/30
45
iroris.
dewasa namun
apabila ia
membandingkan penampilannya dengan jemaat lainnya, ada juga yang berkata karena di
gereja sering menjadi tempat membicarakan orang lain. Dan yang lebih ironis jemaat
berpikir bahwa ternyata jadi orang Kristen maupun tidak jadi orang Kristen sama saja,
tidak ada perubahan hidup dari segi ekonomi, yang dulunya miskin sekarang pun tetap
miskin. Ini menunjukkan motivasi yang salah untuk mengikut Tuhan. Ada pula yang
berkata: apakah apabila kegereja terus, gereja bisa kasih makan keluarga?
Alasan-alasan ini semua menunjukkan bahwa dalam gereja itu tidak terjadi
transformasi sebagaiamana yang dikehendaki oleh Tuhan. Maka melalui bagian ini
penulis melihat bahwa tulisan ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan jemaat di
GePeKris se-Jatim. Gereja harus lebih berupaya lagi untuk mengajarkan tentang
pengenalan yang benar tentang Tuhan kepada jemaat sehingga mereka dapat mengalami
transformasi terhadap pengenalan, pengetahuana, pemahaman dan pengertian yang benar
tentang Tuhan (aspek kognitif), sehingga dengan jemaat memiliki pengenalan yang benar
maka mereka dapa memiliki motivasi yang benar dalam beribadah kepada Tuhan.
Selain itu, gereja harus memahami bahwa transformasi yang diharapkan bukan hanya
sebatas pengenalan, pengetahuan, pemahaman (kognitif) jemaat kepada Tuhan, tetapi
juga dari aspek afektif yaitu jemaat harus jemaat memiliki perasaan dekat dengan Tuhan,
jemaat menyembah Tuhan dalam hidupnya, jemaat memiliki keberanian menghadapi
masalah/perasaan tidak kuatir, jemaat memiliki kerinduan untuk bersaksi, jemaat
memiliki kerinduan untuk hidup benar dan kudus di hadapan Tuhan, jemaat memiliki
kerinduan untuk mengasihi Tuhan dan sesama, jemaat selalu aktif dalam beribadah
dengan sunguh-sungguh dan tulus, jemaat mau menerima nasehat dan teguran dari
pengajaran Firman Tuhan sehingga tidak mudah tersinggung apabila mendengar khotbah
,jemaat mampu mengatasi cobaan dalam hidup sehari-hari, jemaat mampu mengelolah
segala berkat Tuhan dan jemaat mampu mengelolah waktu dengan baik, sehingga tidak
ada alasan lagi yang mengatakan tidak dapat beribadah karena tidak ada waktu, waktu
semua dipakai untuk kerja.
Hal yang lain yang dapat diaplikasikan kepada jemaat GePeKris adalah transformasi
dari aspek psikomotorik. Transformasi yang diharapakan oleh Tuhan bukan saja hanya
pengetahuan atau pengenalan mereka kepada Tuhan, dan bukan pula hanya sebatas
perasaan dan keinginan mereka untuk melakukan firman Tuhan, tetapi Terlebih dari pada
itu Tuhan ingin melihat setiap jemaat membuktikan, menyatakan dalam kehidupan
sehari-hari. Maka dengan demikian gereja harus berupaya untuk membimbing dan
membina jemaat agar mereka dapat mengalami transformasi dari segi aspek psikomotor
seperti: jemaat setia melakukan Firman Tuhan dalam hidupnya, jemaat setia bersekutu
dengan Tuhan baik pribadi maupun kelompok, jemaat membaca Alkitab, jemaat setia
berdoa, jemaat setia melayani, jemaat menyangkal diri dari segala godaan iblis dan lainlain.
Jenis program yang menjadi sarana pencapaian visi-misi pendidikan Kristen antara
lain program rutin adalah ibadah: ibadah umum, ibadah komisi, kebaktian doa, PA, dan
lain-lain, Program tidak rutin ibadah: pembangunan, KKR, ibadah padang, natal, paskah
dan lain-lain, program konseling pastoral, program katekisasi, program training
pelayanan. Program-program ini sebenarnya sudah ada pada masing-masing gereja, tetapi
semua program ini dilihat hanya sebagai susuatu tradisi sehingga dalam pelaksanaannya
pun dilakukan sebagai sesuatu tradisi pula. Karena itu apabila gereja mengharapkan suatu
transformasi maka gereja harus memandang program itu sebagai alat atau sarana untuk
mencapai visi misi pendidikan Kristen, dan visi-misi dilihat sebagai sesuatu yang
mengarahkan program terlaksana dengan baik.
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat dimengerti bahwa Gereja Persekutuan
Krisiten se-Jatim memiliki visi-misi yaitu trasnformasi. Namun kurang tercapai dengan
baik. Hal ini disebabkan visi-misi ini tidak menjadi perhatian utama dan tidak terlalu
diterapkan. Acap kali terjadi, program pembinaan rohani menjadi perhatian utama tetapi
tidak melihat kepada visi-misi, pada hal kedua hal ini merupakan satu-kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan. Selain itu jemaat mengakui bahwa visi-misi itu tidak
dikomunikasikan kepada jemaat apa yang diharapkan dari setiap pembinaan rohani.
Memang dalam tabel jemaat melihat bahwa alangkah lebih baik jika visi-misi
dikomunikasika kepada jemaat, namun kenyataannya ada jemaat yang belum tahu atau
mengerti apa yang menjadi visi-misi Pendidikan Kristen, sehingga akibatnya mereka
beribadah hanya sebagai rutinitas dan bentuk tanggugjawab jemaat kepada Tuhan.
Semua bagian penulisan dan penelitian ini masih sangat relevan untuk diterapkan
dan diaplikasikan kepada jemaat Gereja Persekutuan Kristen se-Jatim (GePeKris), karena
itu tidak ada alasan untuk tidak dapat diajarkan kepada jemaat yang ada. Tinggal
bagaimana masing-masing Gereja Persekutuan Kristen menyingkapi dan menerapkannya.
D. Rangkuman
Gereja Persekutuan Kristen se-Jatim merupakan gereja yang tergolong tua, sudah
berusia, karena berdiri terlalu lama. Namun jika dilihat dalam perkembangannya, dengan
naik turun dan semakin turun kuantitas maupun kualitas jemaat maka sesungguhnya
gereja ini telah memperlihatkan kondisi yang mengalami kemunduran. Hal ini
dikarenakan kurangnya pemahaman jemaat terhadap visi-misi pendidikan itu sendiri.
Bahkan ada pemahaman dan konsep yang salah ketika mendengar istilah Pendidikan
Kristen. Ada yang beranggapan bahwa pendidikan itu tidak dilakukan digereja tetapi di
sekolah. Dalam hal ini penulis berpikir kalau saja konsep pendidikan Kristen salah maka
otomatis pemahaman pada visi-misi Pendidikan Kristen juga salah, karena orang-orang
semacam ini akan beranggapan bahwa visi-misi pendidikan itu berlaku disekolah dan
bukan di gereja, sedangkan yang digereja hanya penggembalaan. Menurut penulis bahwa
inilah konsep yang salah.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hal yang paling mendasar dan penting dalam Pendidikan Kristen baik di gereja
maupun di sekolah adalah visi-misi Pendidikan Kristen yang didasarkan pada kebenaran
Alkitabiah dan kebenaran teologis Kristen. Visi-misi Pendidikan Kristen yang didasarkan
pada Alkitabiah dan teologis harus berorientasi pada kedaulatan Allah dimana Allah
merupakan pusat dari pendidikan [Link]-misi pendidikan Kristen yang mencakup
segala aspek pelayanan termasuk pelayanan gerejawi, bermuara pada suatu tujuan yaitu
terjadinya transformasi dalam kehidupan setiap pribadi kristiani. Transformasi ini harus
mencakup semua aspek kehidupan, yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Dengan kata lain, visi misi pendidikan Kristen harus bertujuan pada perubahan
keseluruhan aspek kehidupan setiap pribadi Kristiani, yang meliputi aspek pemikiran
transformasi dalam segala aspek kehidupan jemaat, termasuk diantaranya aspek kognitif,
afektif dan psikomotor.
Visi-misi pendidikan Kristen merupakan dasar pijak dalam setiap proses pendidikan
maupun pembelajaran Kristen, termasuk di dalam gereja. Visi-misi pendidikan Kristen
yang benar adalah visi-misi yang di dasarkan pada kebenaran Alkitabiah dan Teologis
Kristen yang ortodoks (benar) serta berorientasi pada Allah dan Kristus (Teosentris dan
Kristosentris).
Visi-misi pendidikan Krisiten memiliki kaitan erat dengan program gereja, sebab
program gereja merupakan sarana implementasi visi misi pendidikan Kristen dalam
gereja dan jemaat, agar visi-misi tersebut dapat dipahami dan diaplikasikan dalam hal
praktis. Hal tersebut mengandung makna bahwa setiap program gereja yang disusun
terutama yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran jemaat harus didasarkan pada
visi-misi pendidikan Kristen yang benar.
Sebagai bagian dari gereja secara universal, GePeKris telah berupaya mendasarkan
setiap aktivitas pelayanan termasuk pendidikan dan pengajaran jemaat pada program
yang telah disusun dan dirumuskan. Program inipun sebagian telah didasarkan pada visimisi pendidikan Kristen dalam gereja dan jemaat yang bermuara pada transformasi
pribadi kristiani dalam segala aspek kehidupannya termasuk kognitif, afektif dan
psikomotorik. Namun karena kurangnya pemahaman terhadap visi-misi pendidikan
Kristen dan bagaimana cara mengimplementasikannya, maka singkronisasi antara visimisi pendidikan Kristen dengan program gereja kurang terlaksana dengan baik. Di sisi
lain setiap program yang telah dirumuskan bersama kurang terlaksana dengan baik
karena sebagian jemaat kurang memahami dan mengalami kesulitan untuk telibat secara
langsung dalam pelaksanaan program tersebut. Kesulitan melibatkan diri dalam
pelaksanaan program disebabkan karena kurangnya SDM jemaat. Selain itu juga, sistim
kepemimpinan dan organisator yang kaku dan kabur mengakibatkan transformasi yang
diharapkan tidak tercapai.
Maka sebagai akhir dari penulisan ini, penulis ingin menyampaikan beberapa saran
yaitu, satu: Gereja Perekutuan Kristen harus memahami bahwa pendidikan dalam gereja
harus didasarkan visi-misi pendidikan Kristen yaitu transformasi manusia yang
melingkupi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Dua: para pembaca terutama Gereja Persekutuan Kristen se-Jatim menyadari bahwa
visi-misi pendidikan Kristen yang didasarkan pada dasar Alkitabiah dan teologis Kristen
ortodoks dan yang berpusat pada Allah (Theosentris) dan Kristus (Kristosentris)
merupakan dasar dari semua proses Pendidikan Kristen termasuk Pendidikan Kristen
dalam jemaat dan gereja. Agar proses Pendidikan Kristen dalam jemaat dapat mencapai
sasaran utama yang diinginkan yaitu tercapainya transformasi bagi setiap pribadi
Kristiani dalam segala
psikomotorik, proses tersebut harus didasarkan pada visi-misi Pendidikan Kristen yang
benar. Visi-misi tersebut harus dirumuskan dalam bentuk program gereja agar visi-misi
tersebut dapat teraplikasikan dengan baik dalam pelayanan Pendidikan Kristen dalam
jemaat.
Tiga: para jemaat di GePeKris menyadari bahwa agar program gereja yang memiliki
kaitan erat dengan visi-misi pendidikan Kristen dapat terlaksana dengan baik, program
gereja harus disesuaikan dan dikomunikasikan dengan baik kepada seluruh jemaat dan
pribadi yang akan terlibat dalam program tersebut. Sebab tanpa adanya pemahaman yang
memadai terhadap program gereja akan menyulitkan setiap pribadi dalam gereja untuk
terlibat dalam setiap program yang dilaksanakan di gereja.
Empat: Sebagai bagian gereja yang universal, seyogyanya setiap pimpinan jemaat
dan komponen pelayanan di Gereja Persekutuan Kristen (GePeKris) se-Jatim memiliki
pemahaman yang benar dan memadai terhadap visi-misi pendidikan Kristen yang bersifat
Teosentris dan Kristosentris yang mengarah pada transformasi pribadi Kristiani dalam
segala aspek kehidupannya termasuk kognitif, afektif dan psikomotortik, karena visi-misi
tersebut merupakan dasar pijak bagi setiap proses pelayanan pendidikan dan pegajaran
Kristen termasuk dalam jemat dan gereja. Pemahaman visi-misi tersebut seyogyanya
didasarkan pada dasar Alkitabiah dan teologis yang benar berkaitan dengan hal tersebut.
Lima: Pemahaman terhadap visi-misi pendidikan Kristen tersebut hendaknya juga
dapat diimplementasikan dalam bentuk program gereja yang menjadi dasar dan acuan
langkah dalam setiap pelayanan yang dilaksanakan.
KEPUSTAKAAN
Anthony, Michael J.
1975 Introducing Christian Education-Foundations for Twenty First Century.
Grand Rapids Michigan: Baker Akademic.
Bar, Lois E. Le.
1968 Focus on People in Church Education. New Jersey: Fleming H. Revell
Company.
Bugin, Burhan.
2000 Metodologi Penelitian Format-Format
Surabaya: Airlangga University.
Kuantitatif
dan
Kualitatif.
Standards for The Evaluation of Education Program anda Product In. GD.
Borich (Ed), Evaluating Educational Program Products. Englewood Cliffs,
N. J: Educational Technology Publication.
Ericson, Millard J.
1982 Christian Theology. Grand Rapids-Michigan: Baker Book House.
Fallaw, Wesner.
1960 Church Education for Tomorrow. The Westminster Press: Philadelphia.
Faisal Sanapiah.
1982 Metodologi Penelitian, Surabaya: Usaha Nasional.
2000
Gangel, Kenneth O.
2001 Dinamika Pertumbuhan Gereja. Malang: Gandum Mas.
Garang, Bambang.
2003 Evaluasi Program, Diktat Kuliah. Batu: Institut Injili Indonesia.
Graendorf, Warnes C, (ed).
1977 Introduction to Biblical Christian Education. Chicago: Moody Press.
Hadiwijono, Harun.
1996 Iman Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Hadi, Sutrisno.
1980 Metodologi Reserch Jilid I. Yogyakarta: BPK Gunung Mulia.
Homrighausen, E. G.
1996 Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Humes L.
1982
Lumintang, S. Indra.
2002 Dasar-Dasar Teologi Pendidikan Kristen, Materi Kuliah. Baru: I-3.
Lewis, C. S.
1947
Margona, S.
1997
Sairin, Winata.
2001 Identitas dan Ciri Khas Pendidikan Kristen di Indonesia. Jakarta: BPK
Gunung Mulia.
Sijabat, Samuel.
1994 Strategi Pendidikan Kristen, Suatu Tinjauan Teologi-Filosofi. Jogjakarta:
Andi Offset.
Selan, Ruth.
1992
Tjandra, Lukas.
1998 Sejarah 70 Tahun CFMU (Chinesse Foreign Missionary Union) 19291999. Jakarta: Sinode GePeKris.
Thomas dan Schultz, Joani.
2002 Meningkatkan Kinerja Jemaat. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.
Thissen, Henry C.
1998 Teologi Sistimatika. Malang: Gandum Mas.
Vieth,Paul H.
1947 The Church and Christian Education. St. Louis: Bethany.
Wagner, Peter, C.
2003 Strategi Perkembangan Gereja. Malang: Gandum Mas.
Warren, Rick.
1999 Pertumbuhan Gereja Masa Kini. Malang: Gandum Mas.
Wiriwidjojo, R. Soetjipto.
2001 Adanya Pendidikan Kristen, Identitas dan Ciri Khas Pendidikan Kristen di
Indonesia antara Konseptual dan Operasional, diedit oleh Weinata Sairin.
Jakarta: BPK Gunung Mulia.
_________________
2000 Tata Gereja Persekutuan Kristen. Jakarta: Sinode GePeKris.
_________________
1957 Websters New World Dictionary of the American Language. College
Edition. Cleveland and New York: TheWorld Publishing Company.
LAMPIRAN
Pertanyaan Angket
Petujunjuk: Lingkarilah nomor yang paling sesuai dengan jawaban yang anda pilih.
Aspek I pemahaman jemaat terhadap visi-misi Pendidikan Kristen (tabel 1-3)
1. Jemaat perlu memahami visi-misi pendidikan Kristen.
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
2. Jemaat perlu bertumbuh sesuai dengan visi-misi pendidikan Kristen
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
3. Jemaat perlu bertumbuh sesuai dengan visi-misi pendidikan Kristen
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
Aspek II visi-misi pendidikan Kristen (tabel 4-24)
4. Visi-misi pendidikan Kristen sesungguhnya adalah mencapai transformasi manusia
secara utuh
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
5. Transformasi manusai secara utuh adalah melingkupi aspek kognitif
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
6. Transformasi dari unsur kognitif adalah meliputi jemaat memiliki pengetahuan yang
bersumber dari pengajaran dalam gereja
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
7. Transformasi dari unsur kognitif meliputi jemaat mengerti pengajaran yang diberikan
dalam gereja.
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
8. Transformasi dari unsur kognitif meliputi unsur penguasaan jemaat terhadap
pengajaran yang diberikan dalam gereja
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
9. Transformasi manusai secara utuh adalah menyangkut unsur afektif
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
10. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki perasaan dekat dengan Tuhan
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
11. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki sikap menyembah Tuhan
dalam hidupnya
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
12. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki keberanian menghadapi
masalah/perasaan tidak kuatir
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
13. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki kerinduan untuk bersaksi
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
14. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki kerinduan untuk hidup benar
dan kudus di hadapanTuhan
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
15. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat memiliki kerinduan untuk mengasihi
Tuhan dan sesama
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
16. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat selalu aktif dalam beribadah
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
17. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat beribadah dengan sungguh-sungguh
dan tulus
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
18. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat mau menerima nasehat dan teguran dari
pengajaran Firman Tuhan
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
19. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat mampu mengatasi cobaan dalam hidup
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
20. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat mampu mengelolah segala berkat
Tuhan
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
21. Transformasi dari unsur afektif adalah jemaat mampu mengelolah waktu dengan baik
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
22. Transformasi manusai secara utuh adalah meliputi unsur Psikomotor
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
23. Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia melakukan Firman Tuhan
dalam hidupnya
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
24. Transformasi dari unsur psikomotorik adalah jemaat setia bersekutu dengan Tuhan
baik kelompok maupun secara pribadi
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
VITAE
Penulis (Rosnila Hura) lahir di Indanotae, Gido, Nias pada tanggal 6 Nopember
1977, penulis yang saat ini bertempat tinggal di komplek STT-IAA Pacet Mojokerto,
Jawa Timur ini, merupakan anak keempat dari 6 bersaudara pasangan Atuloo Hura dan
Fatiada Larosa. Penulis menikah dengan Immanuel Yosua, [Link], M.A.C.E dan
dikaruiakan dua orang putri, Augustine Putri Cahyaning Negari (4 tahun) dan Dessy
Aurellia Putri Ardiningrum (1 tahun 8 bulan).
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di Nias. Pendidikan tersebut diselesaikan
di SD Negri Idanotae, Gido, Nias, SMP Swasta Idanoi, Nias (1991-1994) dan SMEA
BNKP Gunung Sitoli (1994-1997). Selanjutnya melanjutkan pendidikan di sekolah
Tinggi Teologi Injili Abdi Allah (STT-IAA) 1997-2002) mengambil jurusan Teologi
Kependetaan dan tamat dengan gelar Sarjana Teologi ([Link]). pada tahun 2003 hingga
2004 melanjutkan studi di Program Pascasarjana Institut Injili Indonesia dan lulus dengan
gelar Master of Arts in Christian Education (M.A.C.E). Studi ini berlanjut pada tahun
2004-2006 dan lulus dengan gelar Master of Theology ([Link]) In Christian Education.
Selanjutnya pada tahun 2011 melanjutkan studi di program Pascasarjana di Sekolah
Tinggi Theologi Jaffray Jakarta Program Studi Pendidikan Jaffray Jakarta kosentrasi
Pendidikan Agama Kristen dengan Gelar magister Pendidikan Kristen ([Link].K)
Sedangkan pelayanan penulis diawali pada tahun 1994-1997 dengan menjadi guru
Sekolah Minggu, pemain musik dan pelatih paduan suara di gereja AMIN Tetehosi, Nias.
Selanjutnya selama studi di STT IAA, penulis melayani pada persekutuan karyawan
GKA Elyon Surabaya melalui pembinaan rohani dan keterampilan (1998-2000). Setahun
kemudian penulis melanjutkan pelayanan di Gereja Kebangkitan Kalam Allah Indonesia
(GKKA-I), Denpasar Bali dalam rangka praktik pelayanan satu tahun. Selanjutnya pada
tahun 2000 hingga 2001, penulis melayani di GKA Jombang dan GKA Probolinggo.
Pada tahun 2002 penulis melanjutkan pelayanan di Gereja Persekutuan Kristen
(GePeKris), Tretes, Prigen, Pasuruan hingga tahun 2006. Pada tahun 2007 penulis
melayani secara freelance sebagai pembicara dalam program radio berbahasa Nias yang
diproduksi oleh LTWR Batu. Pada tahun 2010 menjadi narasumber program SOLUSI
KEHIDUPAN, program radio yang diproduksi Studio Sentosa YPPII Batu.
Selanjutnya 2008 hingga saat ini, penulis melayani sebagai Ketua Program Studi
PAK di Sekolah Tinggi Teologia Injili Abdi Allah (STT-IAA) Pacet, Mojokerto. Selain
itu, di Institusi yang sama, penulis melayani sebagai Ibu Asrama, sejak tahun 2010
hingga saat ini. Selain di STT IAA, sejak tahun 2011, penulis juga melayani secara part
time sebagai tutor dan pembimbing di KP3K (Kursus Pelayanan Penulisan Pena Kasih),
lembaga pelayanan yang bergerak di bidang pelatihan pelayanan penulisan bagi jemaat
dan kaum awam. Dan juga sebagai coordinator Educhrist, sebuah tim pelayanan yang
bergerak dalam bidang pelayanan Pendidikan Kristen bagi jemaat serta sebagai tutor di
Kursus Teologi dan pelayanan Online (KTP Online) sebuah lembaga pendidikan teologi
dan pelayanan secara online yang berbasis pendidikan dan konseling Kristen.