Cognitive Development
Jean Piaget
Piaget mengmbangkan keingintahuannya dalam perkembangan intelektual
pada anak. Berdasarkan pengamatannya, ia menyimpulkan bahwa anakanak tidak kalah cerdas daripada orang dewasa, mereka hanya berpikir
secara berbeda. Stage teori Piaget menjelaskan tentang perkembangan
kognitif pada anak. Perkembangan kognitif melibatkan perubahan dalam
proses dan kemampuan kognitif pada anak. Dalam pandangan Piaget, awal
perkembangan kognitif melibatkan proses berdasarkan tindakan dan
kemudian berkembang menjadi perubahan dalam operasi mental.
Berikut ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi bagaimana anakanak belajar dan berkembang:
1) Schemas
Schema menggambarkan kedua tindakan mental dan fisik yang terlibat
dalam proses memahami dan mengetahui suatu hal. Skema adalah
kategori pengetahuan yang membantu kita untuk menafsirkan dan
memahami dunia.
Contoh : seorang anak mungkin memiliki skema tentang salah satu
jenis binatang, seperti anjing. Jika ia hanya pernah melihat seekor
anjing kecil, anak tersebut mungkin percaya bahwa semua anjing
berukuran kecil, berbulu, dan memiliki empat kaki. Andaikan
kemudian anak tersebut melihat seekor anjing yang sangat besar. Anak
tersebut akan menerima informasi baru ini, memodifikasi skema yang
sudah ada sebelumnya untuk menyertakan sebagai hasil pengamatan
yang baru.
2) Assimilation
Assimilation merupakan suatu proses mengambil informasi baru ke
dalam skema yang sudah ada. Proses ini agak subjektif karena kita
cenderung untuk sedikit memodifikasi pengalaman dan informasi agar
cocok dengan keyakinan sebelumnya yang telah ada.
Contoh : ketika anak melihat anjing dan dan menyebutnya sebagai
"anjing" merupakan suatu asimilasi hewan dalam skema anjing pada
anak.
3) Accomodation
Accomodation merupakan bagian lain dari adaptasi yang melibatkan
perubahan atau mengubah skema yang ada dengan informasi yang
baru. Accomodation melibatkan pengubahan skema yang sudah ada,
atau ide-ide, sebagai hasil dari informasi baru atau pengalaman baru.
Skema baru juga dapat dikembangkan dalam proses ini.
4) Equilibration
Equilibration merupakan suatu proses keseimbangan yang tepat antara
asimilasi dan akomodasi pada anak. Sebagai anak-anak kemajuan
melalui tahap-tahap perkembangan kognitif merupakan hal yang
penting untuk menjaga keseimbangan antara menerapkan pengetahuan
sebelumnya
(assimilation)
dan
mengubah
perilaku
untuk
memperhitungkan pengetahuan baru (accomodation). Equilibration
membantu menjelaskan bagaimana anak-anak dapat berpindah dari
satu tahap pemikiran ke tahap pemikiran berikutnya.
5) Cognitive Disequilibrium
Cognitive Disequilibrium merupakan suatu ketidaksesuaian antara apa
yang dianggap dan apa yang dipahami oleh anak.
Berikut ini adalah beberapa tahapan perkembangan kognitif menurut Jean
Piaget :
1) Tahap Sensorimotor (0-2 tahun)
Pada tahap ini, bayi dan balita memperoleh pengetahuan melalui
pengalaman sensorik dan memanipulasikan objek.
Bayi dan balita mulai membedakan antara dirinya dengan hal-hal
disekelilingnya.
Pada titik ini dalam perkembangannya, kecerdasan anak terdiri
motorik dasar mereka dan eksplorasi sensori tentang dunia.
Mereka menganggap bahwa objek atau sesuatu memiliki
kontinuitas meskipun tidak terlihat ataupun berubah letaknya
(object
permanence),
kemudian
anak-anak
dapat
memberikan nama dan kata-kata untuk objek tersebut.
mulai
2) Tahap Pre-Operasional (2-7 tahun)
Mulai menggunakan bahasa sederhana untuk mengembangkan
suatu konsep atau pengertian (symbolic function)
self centered, belum mampu memandang dunia dari sudut
pandang orang lain (egocentrism)
Sudah dapat mengklasifikasikan objek atas dasar satu ciri yang
menonjol.
Belum mampu mengerti bahwa objek yang memilki persamaan
dalam satu segi dapat menunjukan persamaan dalam segi-segi
lainnya.
Sudah mampu mengelompokkan benda-benda ke dalam kategori
meskipun belum tentu menyadari hal itu (intuitive).
Sudah mampu mengerjakan tugas yang melibatkan kosep angka.
Sudah mampu memahami hubungan logika yang meningkat
dalam kompleksitas.
3) Tahap Konkret Operasional (7-11 tahun)
Anak pada tahap perkembangan ini mulai berpikir lebih logis,
namun pemikiran mereka bisa juga sangat kaku.
Pada tahap ini, anak-anak juga menjadi kurang egosentris dan
mulai berpikir tentang bagaimana orang lain akan berpikir dan
merasa.
Anak dalam tahap ini juga mulai memahami bahwa pemikiran
mereka unik bagi mereka dan tidak setiap orang perlu membagi
pikiran, perasaan, dan pendapatnya.
4) Tahap Formal Operasional (11-14 tahun)
Anak pada tahap ini seharusnya mampu menunjukkan cara berpikir
seperti berikut:
Abstract thinking : anak mampu berpikir tentang kemungkinan
yang melampaui gambaran konkrit.
Propositional thinking : anak mampu berpikir logis dan
konsisten.
Combinatorial thinking : anak mulai mengetahui sintesis dari
ide-ide yang ada.
Hypothetico : mulai menggunakan deductive thinking dan
scientific thinking
Metacognitive activity : mulai mampu memonitor pemikiran
mereka sendiri.
Self-reflective thinking : mulai memperhatikan tentang identitas
diri, perilaku serta hubungan mereka antar personal.
Berikut ini merupakan kritik terhadap teori Jean Piaget :
Kebanyakan ahli psikologi sepenuhnya menerima prinsip-prinsip
umum Piaget bahwa pemikiran anak-anak pada dasarnya berbeda dengan
pemikiran orang dewasa, dan jenis logika anak-anak itu berubah seiring
dengan bertambahnya usia. Namun, ada juga peneliti yang memberikan
kritik pada teori perkembangan kognitif Jean Piaget ini, terutama
mengenai usia ketika anak mampu menyelesaikan tugas-tugas yang
spesifik, diantaranya adalah :
1
Bower dan Wishart (1972) menyebutkan bahwa object permanence
terjadi pada anak-anak dengan usia yang lebih muda daripada yang
dikatakan oleh Piaget.
Beberapa studi menyebutkan bahwa Piaget meremehkan kemampuan
anak karena tes yang digunakannya sulit dimengerti oleh anak-anak
(e.g Martin Hughes (1975)).
Rose dan Blank (1974) serta McGarrigle dan Donaldson (1974)
sama-sama menyebutkan bahwa anak-anak telah mencapai masa
conservation
usia
dikatakan oleh Piaget.
Robert Siegler (1979)
kognitif
pada
anak
yang
lebih
menyebutkan
muda
bahwa
daripada
yang
perkembangan
adalah proses belajar yang berkelanjutan, bukan
berupa blok-blok tahapan seperti yang dikemukakan Piaget.
Hal ini sejalan dengan pandangan Vygotsky dan Bruner; dan
didukung dengan studi Keating (1979) yang menunjukkan bahwa
40-60% mahasiswa gagal menjalani tes formal operasional.
Daftar Pustaka
Cherry, K. (2015). Piaget's Stages of Cognitive Development. diakases
pada 12 Maret 2016, dari
[Link]
m
Wamaer, W. (2014). Kritik Terhadap Teori Piaget. diakases pada 12
Maret 2016, dari
[Link]
et