0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
79 tayangan53 halaman

Kemandirian Remaja dan Peran Orang Tua

Dokumen tersebut membahas mengenai kemandirian remaja dan bagaimana orang tua dapat mendukung perkembangan kemandirian pada anak remaja. Beberapa hal penting yang dibahas adalah mengenali teman-teman anak, mendukung sosialisasi, memberikan tanggung jawab dengan membuat jadwal sendiri, memberikan kesempatan berlibur sendiri, dan mengajarkan cara menghadapi stres.

Diunggah oleh

Asdianty Anha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
79 tayangan53 halaman

Kemandirian Remaja dan Peran Orang Tua

Dokumen tersebut membahas mengenai kemandirian remaja dan bagaimana orang tua dapat mendukung perkembangan kemandirian pada anak remaja. Beberapa hal penting yang dibahas adalah mengenali teman-teman anak, mendukung sosialisasi, memberikan tanggung jawab dengan membuat jadwal sendiri, memberikan kesempatan berlibur sendiri, dan mengajarkan cara menghadapi stres.

Diunggah oleh

Asdianty Anha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Mengajarkan Kemandirian Pada Remaja 1

1 Votes
Pada masa ini anak meninggalkan bangku sekolah dasar dan menempuh pendidikan di jenjang
sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Masa ini adalah proses transisi menuju kedewasaan.
Mereka tidak suka dianggap sebagai anak-anak lagi namun juga kadangkala masih menunjukkan
sikap kekanak-kanakannya. Sebagai remaja, mereka sedang mengembangkan jati diri dan
melalui proses pencarian identitas diri. Sehubungan dengan itu pula, rasa tanggung jawab dan
kemandirian juga mengalami proses pertumbuhan.
Masa praremaja (remaja awal) berlangsung dalam waktu relatif singkat. Orang tua selayaknya
membuka kesempatan yang selebar-lebarnya untuk menumbuhkan kemampuan anak mengurus
diri sendiri agar kelak anak dapat menjalankan fungsinya sebagai orang dewasa yang
bertanggung jawab.
Pada usia ini pengaruh orang tua secara berangsur mulai berkurang. Anak mulai menyatu pada
kelompok teman sebayanya untuk mencapai perkembangan kemandiriannya. Pada masa ini yang
menjadi panutan anak bukan lagi orang tua ataupun guru melainkan teman sebaya. Anak juga
merasakan tekanan dari teman sebaya (peer pressure) untuk mengadopsi nilai-nilai, kebiasaan,
model rambut/pakaian, gaya, dan permainan yang sama dengan teman-teman dalam kelompok.
Dengan kata lain, lingkungan pergaulan anak sangat berpengaruh. karena itu, anak perlu
dibimbing untuk belajar membedakan dan memilih teman-teman dengan bijak.
Lalu, apa yang harus kita lakukan pada remaja kita?
1. Kenali Teman-Teman Anak Anda
Bagaimana ?
Ingat nama-nama teman anak Anda. Luangkan waktu untuk menyapa dan berdialog ringan
dengan teman-teman anak Anda.
Buka pintu rumah Anda untuk kegiatan belajar bersama atau tugas kelompok.
Dorong anak agar bercerita tentang teman-temannya pada saat santai. Jadilah teman anak pada
saat mendengarkan ceritanya.
Jika Anda mendapati teman dekat anak cenderung memberikan pengaruh buruk pada anak,
mulailah berdialog dengan anak. Hindari sikap menghakimi atau teguran keras yang akan
menganggu harmonisnya komunikasi Anda dengan anak Anda.
[Link] Anak anda untuk Berteman dan Bersosialisasi
Mengapa ?
Dalam tahapan usia ini, teman sebaya akan memberikan pengaruh lebih kuat pada remaja. Sering
kali anak pada usia pra remaja memprioritaskan loyalitas pada teman sebaya dibandingkan pada
orang tua atau guru.

Namun, iklim keluarga yang sehat akan melindungi remaja dari pengaruh teman sebaya yang
tidak sehat.
Remaja yang memiliki keluarga yang harmonis cenderung dapat menghindarkan diri dari
pengaruh negatif teman-teman sebayanya.
Dengan mengenali teman-teman anak Anda, Anda dapat membantunya bergaul dengan penuh
tanggung jawab dalam proses menuju mandiri.
Berkenalan dengan teman, mengenal kepribadian teman, dan membina hubungan dengan teman
merupakan bagian dari proses belajar anak yang sangat terkait dengan kemandirian sosial.
Dukungan orang tua pada anak untuk mencari teman sebanyak-banyaknya tentunya harus
diimbangi dengan bimbingan dan perhatian orang tua, mengingat teman sebaya dapat
memberikan kontribusi positif namun dapat pula memberikan pengaruh negatif (lihat poin
sebelumnya).
Kemampuan membina hubungan dengan teman ini sangat penting baginya dan akan menjadi
bekal dan jaminan bagi anak untuk hidup bersosialisasi di masa yang akan datang.
Bagaimana ?
Anjurkan anak untuk mengikuti organisasi atau kegiatan olahraga atau seni di sekolah ataupun di
luar sekolah sesuai dengan minat dan bakatnya. Anak akan mendapat kesempatan untuk bertemu
dengan teman dengan kesamaan minat.
Anjurkan anak agar bersosialisasi dengan masyarakat yang heterogen.
Ajak anak ke lingkungan baru setiap kali ada kesempatan.
3. Dorong Anak untuk Membuat Jadwal bagi Dirinya Sendiri
Mengapa ?
Remaja perlu bimbingan dalam menjalankan kewajiban dan tugas-tugasnya. Pernyataan yang
mengekspresikan rasa tidak bertanggung jawab, misalnya ibu sih, tidak mengingatkan aku!
atau Habis bagaimana? Aku lupa! sering kali keluar sebagai pembelaan diri.
Belajar mengingat kewajiban dan tugas merupakan bagian yang sama pentingnya dengan
menjalankannya.
Ajak anak anda membuat jadual sendiri untuk melakukan kewajiban dan tugasnya.
Dengan demikian, dia akan belajar untuk memahami konsekuensi dari tindakannya dan
memegang teguh jadwal yang telah ia susun sendiri.
Bagaimana ?
Biarkan anak untuk menentukan sendiri waktu kegiatan dan jam belajarnya. Dengan
pertimbangannya.
Ajak anak menulis dan memasang jadual yang telah ia buat di dinding kamarnya.
Diskusikan dengan anak konsekuensi yang akan ia terima jika ia menyalahi jadual.
Tunjukkan kegunaan organizer atau agenda pribadi Anda. Ajak dia memilih agenda yang ia
sukai.
4. Beri Kesempatan untuk Berlibur Tanpa Orangtua.
Mengapa ?
Anak akan mendapatkan begitu banyak pengalaman dengan bepergian tanpa orang tua. Pada
awalnya mungkin hal ini tidaklah mudah bagi anak maupun orang tua.
Anak mungkin mempunyai keinginan yang besar untuk mencoba, namun juga mempunyai begitu
banyak kekhawatiran. Di lain pihak orang tua ingin memberikan kesempatan kepada anak untuk
mandiri, juga sulit menghilangkan perasaan tidak tega dan sebagainya.

Persiapkan diri anda dan anak sebaik-baiknya agar anak akan mendapat kesempatan yang
menyenangkan pada saat pergi tanpa Anda. Kemandirian akan sangat membantu anak sangat
membantu anak untuk menyesuaikan diri di tempat-tempat baru.
Bagaimana ?
Anjurkan anak agar berani berlibur di rumah kakek/nenek atau di rumah saudara dekat yang lain
sendiri.
Anak biasanya akan merasa senang bertemu dan berlibur bersama saudara sepupu yang sebaya.
Dampingi anak untuk mempersiapkan koper dan perlengkapannya. Berikan uang saku
secukupnya.
Tentukan transportasi sesuai dengan dana yang anda anggarkan . Anak akan mendapat
pengalaman yang menyenangkan dengan naik turun pesawat terbang, kereta, kapal atau bis.
Anda dapat mengantar anak ke tempat yang dituju dan menjemput dia pada hari yang telah
ditentukan.
Anak dapat juga pergi bersama saudara (orang dewasa) yang Anda percaya.
Alternatif lain, Anda dapat mengantarkan anak Anda ke bandara udara dan menitipkan anak anda
pada pramugari/pramugara.
Saat pertama anak anda pergi ke luar kota tanpa anda, mungkin ia akan mengalami homesickness
atau rasa kangen pada rumah dan keluarga. Teleponlah dia.
Setelah anak terbiasa pergi tanpa orang tua, Anda dapat mempertimbangkan untuk
mengikutsertakan anak di dalam study tour atau program homestay yang di adakan di sekolah
atau lembaga-lembaga independen lain. Cek dulu kredibilitas lembaga penyelenggara untuk
memastikan keamanan dan kenyamanan peserta selama dalam program.
[Link] Anak Cara Menghadapi Stress yang Sehat.
Mengapa ?
Ditengarai, generasi muda saat ini mengalami lebih banyak kesulitan emosional. Para pra remaja
tak lepas dari rasa gelisah. Tegang, marah dan kecewa.
Orang tua perlu membekali anak dengan kemampuan untuk mengendalikan dan mengolah emosi
agar kelak ia tumbuh menjadi pribadi yang, secara emosional, sehat dan mandiri.
Kemandirian emosi ini tampak dalam kemampuannya untuk mengendalikan diri,mengatasi stres,
dan mengungkapkan segala bentuk perasaan tanpa kekerasan.
Bagaimana ?
Ajak dia untuk menjaga keseimbangan hidupnya dengan berolahraga. Hal ini akan sangat
membantu dia mengatasi kejenuhan atau kebosanan akan tugas-tugas sekolahnya.
Dorong dia untuk mengembangkan hobi atau kegemarannya. Hobi akan membantunya keluar
dari rutinitas yang monoton.
Bimbing anak agar tekun beribadah.
Perkenalkan anak pada kebiasaan menulis buku harian, agar ia dapat menumpahkan perasaan
atau kesulitannya dengan bebas.
6. Berbicaralah Kepada Anak tentang Berbagai Masalah dan Isu Kenakalan Remaja.
Mengapa ?
Orang tua pada zaman ini dihadapkan pada kekhawatiran akan berbagai macam tindak kejahatan
dan kenakalan remaja.
Orang tua perlu mempersenjatai anak-anak dengan kesadaran moral dan agama.
Selanjutnya, orangtua harus mengajak anak membuka mata bahwa di luar rumah yang selalu

hangat dan aman terdapat belantara yang penuh kekerasan, narkotika, dan obat-obatan
terlarang dan memberikan jalan pada mereka untuk menghindarinya.
Bagaimana ?
Luangkan waktu untuk menonton TV, awali pembicaraan dengan obrolan ringan mengenai gaya
hidup remaja yang sering kali ditampilkan di layar TV.
Luangkan waktu untuk membaca majalah remaja yang sarat dengan berbagai permasalahan
remaja.
Hindari nasihat yang panjang lebar. Satu kalimat yang menyentuh dari ibu atau nasihat ringkas
yang berkesan dari ayah akan menggugah kesadaran dan selalu diingat anak.
7. Biarkan Anak Terlibat dalam Organisasi atau Klub yang Bermanfaat.
Mengapa ?
Kegiatan organisasi merupakan proses belajar tanggung jawab nyata dan baik bagi anak.
Menjadi bagian dari suatu tim atau kelompok adalah pengalaman yang sangat baik bagi anak.
Ia akan belajar bagaimana bertanggung jawab pada kelompok dan bagaimana mengembangkan
kemampuan individu sekaligus menjaga kekompakan tim. Pengalaman yang baik di masa remaja
akan menjadi bekal kelak di masa ia dewasa.
Bagaimana ?
Anak dapat memilih berbagai kegiatan organisasi sesuai dengan minat dan bakatnya, misalnya
filateli, klub seni, olahraga, pencinta alam, dan sebagainya.
Diskusikan dengan anak anda, kegiatan apa yang ia inginkan. Ajak ia mengunjungi klub atau
melihat kegiatan tersebut sebelum memutuskan.
8. Dorong Anak untuk Mengikuti Olahraga Tim
Mengapa ?
Olahraga tim seperti sepak bola, bola basket, dan sebagainya sangat baik bagi anak usia 12-15
tahun, karena mereka dapat belajar memahami bagaimana peranan individual mereka dapat
memberi sumbangan pada kesuksesan seluruh anggota tim.
Selain itu, olahraga akan membantu anak untuk menjaga keseimbangan kegiatan hariannya.
Melalui olahraga pula, anak dapat belajar mengatasi stres dan kejenuhan akibat beban pelajaran
sekolah yang mungkin terlalu berat.
Bagaimana ?
Biarkan ia memilih olahraga kelompok yang di sukainya seperti cinta alam, basket atau sepak
bola.
Jika ia tidak menyukai olahraga, ia dapat mengikuti kegiatan lain seperti paduan suara.
9. Kemandirian dalam Beribadah
Mengapa ?
Anak pada masa pra remaja menghadapi begitu banyak perubahan fisik dan emosi.
Anak yang tumbuh dengan kedekatan pada Tuhan akan selalu ingat untuk bersandar pada Tuhan
saat menghadapi kesulitan.
Bagaimana ?
Lanjutkan kebiasaan berdoa/shalat bersama.
Biasakan pergi untuk ke tempat ibadah bersama keluarga.
Jika anak mulai menemukan teman sebaya yang seiman, beri kesempatan pada anak untuk pergi
ke tempat ibadah bersama teman.

Dorong anak untuk mengikuti kegiatan remaja di tempat ibadah. Lingkungan pengajian remaja,
dan sejenisnya.
Berilah contoh kepada anak bagaimana mewujudkan peraturan agama dalam hidup.
Fasilitasi anak dengan bacaan populer/majalah mengenai agama yang membantu pemahaman
anak akan agama yang di anutnya.
10. Mengelola Uang dengan Baik.
Mengapa ?
Pada masa pra remaja anak memahami status sosio ekonomis orang tua mereka. Mereka juga
mempunyai kecenderungan untuk hidup konsumtif.
Orang tua memang wajib untuk memenuhi kebutuhan dasar anak, namun orangtua tidak harus
selalu mengabulkan setiap permintaan anak akan barang-barang yang diinginkannya.
Berikan kesempatan pada anak untuk menyisihkan uang, menabung dan merencanakan
pengeluarannya.
Dengan demikian mereka menyadari bahwa setiap orang harus bekerja keras untuk mendapatkan
uang.
Bagaimana ?
Ajak anak untuk pergi ke bank terdekat.
Ajak dia untuk membuka buku tabungan.
Ajar dia untuk menulis slip setoran atau pengambilan dan menunggu giliran (antri) di loket yang
benar.
Ajarkan anak cara untuk melihat rekening.
Pada tahapan usia ini, Anda dapat mengajarkan pada dia tabungan jangka panjang dan
tabungan jangka pendek. Tabungan jangka pendek dapat diambil untuk membeli barangbarang yang diinginkannya, sedangkan tabungan jangka panjang adalah untuk hari depannya.

Promosi Kesehatan Remaja

A. PENDAHULUAN
[Link] Promkes
Peromosi kesehatan menurut WHO adalah suatu proses memungkinkan individu
untuk meningkatkan control dan mengembangkan kesehatan mereka.

Promosi kesehatan (Pender,1996) adalah pemberian motivasi untuk meningkatkan


kesehatan individu dan mewujudkan potensi kesehatan individu.

Promosi kesehatan menggunakan pendekatan pada klien sebagai pusat dalam


pemberian pelayanan dan membantu mereka untuk membuat pilihan dan
keputusan.
Istilah promosi kesehatan merupakan suatu payung dan digunakan untuk
menggambarkan suatu rentang aktivitas yang mencakup pendidikan kesehatan dan
pencegahan penyakit (Gillies,Ada tiga tingkatan dari pendidikan kesehatan menurut
Gillies:
Primary Health education, tujuannya tidak hanya mencegah perubahan kesehatan
tetapi juga meningkatkan kualitas kesehatan, dengan demikian kualitas hidup,
nutrisi, kontrasepsi dan hubungan seksual secara aman, dan pencegahan
kecelakaan dengan menggunakan helm.
Secondary health education, tujuannya adalah untuk membantu individu dengan
masalah kesehatan yang reversible untuk menyesuaikan dengan gaya hidupnya,
contohnya berhenti merokok,merubah kebiasaan makan dan olahraga Tertiary
health education, tujuannya untuk membantu individu yang sakit dan tidak sembuh
total sehingga mereka dapat melewati hidup dengan sesuai kemampuan yang
dimiliki.

[Link] Promkes Terhadap Remaja


Lingkup promosi kesehatan terhadap remaja meliputi gizi/nutrisi, sosialisasi,
pendidikan kesehatan, pergaulan, sexualitas dan kemandirian.
Pembinaan remaja terutama wanitanya, tidak hanya ditujukan semata kepada
masalah gangguan kesehatan (penyakit sistem reproduksi). Faktor perkembangan
psikologis dan sosial perlu diperhatikan dalam membina kesehatan remaja.
Remaja yang tumbuh berkembang secara biologis diikuti oleh perkembangan
pskologis dan sosialnya. Alam dan pikiran remaja perlu diketahui. Remaja yang
berjiwa muda memiliki sifat menantang sesuatu yang dianggap kaku dan kolot serta
ingin akan kebebasan dapat menimbulkan konflik di dalam diri mereka. Pendekatan

keremajaan di dalam membina kesehatan diperlukan. Penyampaian pesan


kesehatan dilakukan melalui bahasa remaja. Bimbingan kepada remaja antara lain
mencakup perkawinan yang sehat, keluarga yang sehat, sistem reproduksi dan
masalahnya, sikap dan perilaku remaja yang positif dan sebagainya.
B.

PROMKES REMAJA
Lingkup promosi kesehatan terhadap remaja meliputi gizi/nutrisi, sosialisasi,
pendidikan kesehatan, pergaulan, sexualitas dan kemandirian.

Gizi/Nutrisi
Masa remaja merupakan saat terjadinya perubahan-perubahan cepat dalam proses
pertumbuhan fisik,kognitif dan [Link] masa ini terjadi kematangan
seksual dan tercapainya bentuk dewasa karena pematangan fungsi
[Link] adolesensia ditandai dengan pertumbuhan yang cepat (Growth
Spurt) baik tinggi badannya maupun berat badannyapada periode ini kebutuhan gizi
tinggi karena berhubungan dengan besarnya [Link] gizi pada usia
remaja seperti :

Protein
Sumber protein hewani terdapat pada daging,ikan ,keju,sedang protein nabati
terdapat pada jenis kacang-kacangan.

Vitamin B1,B2 dan Niasin


Diperlukan dalam metabolism energy

Vitamin 12
Zat gizi yang berperan dalam metabolism asam nukleat

Vitamin D
Diperlukan dalam pertumbuhan kerangka tubuh atau tulang

Vitamin A,C,E
Dibutuhkan agar sel dan jaringan baru terpelihara dengan baik
Kekurangan Fe/zat besi dapat di terlihat dari fisiknya seperti lemah,letih,lesu,cepat
ngantuk dan lain-lain.
Sosialisasi
Sosialisa pemuda dimulai dari dalam lingkungan keluarga,tetangga,sekolah,dan
organisasi [Link] sebagai permasalahan ,seperti masa
peralihan,kebutuhan untuk mandiri,menyebabkan timbulnya gejolak yang macammacam.
faktor lingkungan bagi pemuda dalam proses sosialisasi memegang peranan
penting,sebab proses sosialisasi pemuda terus berlanjut dengan segala daya imitasi
dan [Link]-lebih pada masa peralihan atau transisi dari masa muda
menjelang dewasa,ketika sering terjadi konflik nilai,wadah pembinanya harus lebih
fleksible,mampu dan mengerti dalam membina pemuda tanpa harus mematikan
jiwa mudanya yang penuh dengan vitalitas hidup.

Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan dikalangan remaja sangat dibutuhkan dalam membibing
remaja untuk lebih memperhatikan kesehatan hidup maupun [Link]
pendidikan kesehatan meliputi:

Perbaikan sanitasi lingkungan

Mencegah penyakit menular

Pendidikan kebersihan perorangan

Pelayanan medis

Untuk menjamin setiap orang hidup yang layak dalam pemeliharaan kesehatan.
Pendidikan kesehatan remaja mencakup masalah kesehatan
reproduksi,sexsualitas,kebersihan diri dan lain sebagainya,agar remaja bisa lebih
menjaga dan memperhatikan kesehatannya.
Pergaulan
Pergaulan dikalangan remaja adalah salah satu kebutuhan hidup dari manusia,
sebab manusia adalah makhluk sosial yang dalam kesehariannya membutuhkan
orang lain, dan hubungan antar manusia dibina melalui suatu pergaulan
(interpersonal relationship)
Pergaulan yang terjadi saat ini sudah sangat memperhatikan. Banyak sekali terjadi
perilaku yang telah menyimpang dan melanggar nilai sosial yang ada dalam
masyarakat. Perilaku anak muda atau remaja zaman sekarang telah jauh dari norma
agama sebagi pegangan hidup.
Bentuk bentuk Pergaulan Bebas Dikalagan Remaja :
a. Penyalahgunaan narkoba dan narkotika
b. Perilaku seksual yang menyimpang dari norma norma agama
c. Pesta Miras ( minuman keras ) / mabuk mabukan
Beberapa faktor faktor yang menyebabkan terjadinya pergaulan bebas dikalangan
remaja yaitu:
a. Faktor agama dan iman.
Remaja sedang dihadapkan pada kondisi sistem-sistem nilai, dan kemudian sistem
nilai tersebut terkikis oleh sistem nilai yang lain yang bertentangan dengan nilai
moral dan agama. Seperti model pakaian (fasion), model pergaulan dan film-film
yang begitu intensif remaja mengadopsi kedalam gaya pergaulan hidup mereka
termasuk soal hubungan seks di luar nikah dianggap suatu kewajaran.
b. Faktor Lingkungan seperti orangtua, teman, tetangga dan media.
Kurang perhatian orangtua, kurangnya penanaman nilai-nilai agama berdampak
pada pergaulan bebas dan berakibat remaja dengan gampang melakukan

hubungan suami istri di luar nikah sehingga terjadi kehamilan dan pada kondisi
ketidaksiapan berumah tangga dan untuk bertanggung jawab terjadilah aborsi.
Seorang wanita lebih cendrung berbuat nekat (pendek akal) jika menghadapi hal
seperti ini.
c. Pengetahuan yang minim ditambah rasa ingin tahu yang berlebihan.
d. Perubahan Zaman.
Dampak atau akibat dari pergaulan bebas dikalangan remaja antara lain adalah :

Tingginya kasus penyakit Human Immunodeficiany Virus/Acquired Immnune


Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), khususnya pada kelompok umur remaja
Kehamilan tidak diinginkan
Tindakan aborsi yang tidak aman
Terinfeksi PMS ( Penyakit menular seksual )
Kematian
Cara menangani pergaulan bebas dikalangan remaja antara lain sebagai berikut :
Tidak menonton film film, media - media yang berbau pornografi
Para remaja harus bisa memfilter pergaulan yang mana yang harus diikuti
Memberikan pendidikan tentang seks secara terbuka, sabar dan bijaksana
Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta segala
akibat baik dan buruk
Menghindari hal hal yang menyimpang dari norma- norma agama dan
kesusilaan
Menumbuhkan rasa malu untuk melakukan hal hal yang dianggap buruk
Menumbuhkan rasa takut untuk melakukan penyimpangan seksual
Menjauhi atau Say No To Drugs
Orang tua harus selalu mengontrol apa yang dilakukan oleh anak remajanya
Orang tua harus lebih memberi perhatian pada anak remajany
Adanya rasa keterbukaan antara orang tua dengan anak remajanya

Sexsualitas
Pendidikan seks penting diberikan kepada remaja, baik melalui pendidikan formal
maupun informal. Upaya ini perlu dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak
diinginkan. Mengingat selama ini banyak remaja yang memperoleh pengetahuan
seksnya dari teman sebaya, membaca buku porno, menonton film porno, dsb. Oleh
karena itu, perlu diupayakan adanya pendidikan seks dikalangan remaja.
Remaja dihadapkan pada pengambilam sebuah keputusan seksual, dengan
demikian mereka membutuhkan informasi yang akurat tentang perubahan tubuh,
hubungan dan aktivitas seksual, dan penyakit yang ditularkan melalui aktivitas

[Link] membutuhkan edukasi akurat dan komprehensif tentang


seksualitas Kini, eksploitasi atau risiko aktivitas seksual mungkin menjadi masalah
kesehatan dan social seperti kehamilan yang tidak diinginkan dan penyakit menular
seksual meliputi HIV/AIDS dan lain sebagainya.
Kemandirian
1. Definisi kemandirian
Hasrat/keinginan seorang remaja untuk melakukan segala sesuatu bagi dirinya
sendiri tanpa bantuan orang lain.
Kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa
harus membebani orang lain.
Salah satu tugas perkembangan bagi remaja untuk belajar dan berlatih dalam
membuat rencana,memilih alternative,membuat keputusan serta tanggung jawab
atas segala sesuatu yang dilakukannya.
Kemandirian merupakan sikap otonomi dari seorang remaja yang relative bebas dari
pengaruh,penilaian,pendapat dan keyakinan orang lain
2. Proses perkembangan kemandirian
Kemandirian anak remaja berkembang melalui latihan yang dilakukan secara terusmenerus dan dilakukan sejak dini.
Diajarkan kepada remaja sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan sampai
tumbuh rasa percaya diri.
Dalam proses pencarian identitas diri,remaja mulai ingin melepaskan diri dari ikatan
phisikis orang tuanya.
Remaja ingin mulai diperlakukan dan dihargai seperti orang dewasa.
Kemandirian seorang remaja diperkuat melalui proses sosialisasi yang terjadi antara
remaja dengan peer groupnya,dengan tujuan mendapatkan pengakuan dan
penerimaan kelompoknya.
3. Factor penghambat perkembangan dalam kemandirian
Tidak dapat mencapai kebebasan emosional dari orang tua.
Pola asuhan orang tua.
Kurang perhatian dan bimbingan orang tua dalam menjalani tugas perkembangan
yang terkait dengan perkembangan kemandirian.
Kurang adanya motivasi yang kuat dari remaja itu sendiri.
4. Aspek-aspek kemandirian
Aspek emosi,aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi.
Aspek ekonomi,kemampuan untuk mengatur dan mengelola kebutuhan diri secara
ekonomis.
Aspek intelektual,kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.
Aspek social,kemampuan untuk mengadakan interaksi kepada orang lain dan tidak
tergantung terhadap orang lain.
5. Peranan orang tua dalam membangun kemandirian anak
Memperlakukan anak sesuai karak teristiknya masing-masing, tidak untuk
disamakan atau disbanding-bandingkan,
Mengantarkan anak ke dalam religious yang kuat dalam membangun komunikasi
dan hubungan spiritual yang kokoh baik dengan cara habluminallah maupun
habluminannas.

Memfasilitasi anak dalam berbagai keterampilan praktis,serta di berbagai sektor


kehidupan sesuaidengan kemampuan dan bakat, serta kepribadian
anak.
Melatih anak untuk belajar mengambil keputusan yang konsisten dan responbility.

Rabu, 28 Oktober 2009


PERUBAHAN PERILAKU SETELAH PROMOSI KESEHATAN
Ilmu perilaku adalah suatu ilmu multidispliner. Maksudnya pengkajian ilmu perilaku
itu menyangkut banyak aspek yang dikaji/ditinjau dari berbagai macam ilmu. Hal ini
wajar karena perilaku merupakan refleksi dari berbagai macam aspek, baik fisik
maupun non fisik. Setidaknya ada tiga kelompok ilmu yang mempelajari perilaku,
yaitu ilmu social, antropologi dan [Link] atau sasaran ilmu perilaku adalah
perilaku manusia(humanbehavior).
Pengertian perilaku menurut Soekidjo & Sarwono, dapat dibatasi sebagai keadaan
jiwa (berpendapat, berpikir, bersikap, berpersepsi, dll) untuk memberikan responsi
terhadap situasi di luar subjek tersebut. Respon ini dapat bersikap pasif (tanpa
tindakan) dan dapat bersifat aktif (tanpa tindakan). Bentuk operasionalisasi dari
perilaku dikelompokkan menjadi 3 jenis:
1) Perilaku dalam bentuk Pengetahuan, yakni dengan mengetahui situasi atau
rangsangan dari luar;
2) Perilaku dalam bentuk Sikap, yakni tanggapan bathin terhadap keadaan atau
rangsangan dari luar diri si subjek;
3) Perilaku dalam bentuk tindakan yang sudah konkret, berupa perbuatan (action)
terhadap situasi dan atau rangsangan dari luar.
Ahli psikologi social Sears, [Link], (1985), mengemukakan empat pendekatan dalam
memahami proses terbentuknya perilaku social, yaitu:
1) Pendekatan Biologis, yang melihat perilaku sebagai karakteristik bawaan atau
mekanisme fisiologis,
2) Pendekatan Belajar, yang melihat perilaku sebagai refleksi dari apa yang pernah
dipelajari seseorang di masa lalu,
3) pendekatan insentif, yang melihat perilaku sebagai upaya untuk mendapatkan
keuntungan dan memperkecil kerugian,
4) Pendekatan Kognitif, yang melihat perilaku sebagai sesuatu yang terutama
ditentukan oleh persepsi seseorang terhadap situasi social di sekitarnya.

Ahli antropologi Suparlan (1986), melihat terbentuknya perilaku individu sebagai


totalitas atau resultan dari tiga buah komponen internal diri manusia yang secara
bersama-sama membentuk perilaku manusia, yaitu:
1) adanya kebutuhan individu pada saat tertentu;
2) adanya upaya individu untuk memenuhi kebutuhan tersebut;
3) adanya pengethauan kebudayaan yang dimiliki individu sebagai warga
negara/masyarakat, yang diperoleh melalui proses belajar dari lingkungannya sejak
ia dilahirkan, kemudian secara selektif dipergunakannya sebagai kerangka rujukan
untuk menginterprestasikan suatu objek, secara selektif pula dijadikannya acuan
untuk bertindak sesuatu terhadap objek tersebut.
Menurut ahli pendidikan, perilaku adalah proses belajar yang menyakitkan, yang
mengandung motif atau minat tertentu. Sementara Fishbein & Ajzen (1975),
mengemukakan seseorang mempunyai minat untuk berperilaku, tercermin dari
hasil analisis sikap dan norma subjektifnya terhadap objek tertentu. Sikap sebagai
awal berperilaku belum merupakan tindakan nyata, tetapi merupakan
kecendrungan untuk berperilaku.

Promosi kesehatan -> perubahan perilaku yang mendukung peningkatan derajat


kesehatan-> kemandirian -> PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
Pemberdayaan masyarakat -> proses pengorganisasian potensi masyarakat
dibidang kesehatan sehingga mampu mengatasi dan meningkatkan kesehatannya
adalah peran aktif -> kemandirian desa siaga.
Promosi kesehatan adalah Intervensi atau upaya yang ditujukan kepada perilaku
yang kondusif untuk kesehatan => Agar individu, kelompok dan masyarakat
mempunyai perilaku yang positif terhadap pemeliharaan dan peningkatan derajat
kesehatan.
Perilaku Kesehatan :
-kegiatan / aktivitas organisme
-Tindakan/aktivitas manusia : berjalan, bicara, menangis, tertawa, belajar,
kuliah,dsb
-Kegiatan/aktivitas manusia baik yang dapat diamati langsung dan tidak langsung
-Respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar).
Perilaku Kesehatan :
Pendidikan / promosi kesehatan / penyuluhan kesehatan => Respon seseorang
terhadap stimulus / objek yang berkaitan dengan dengan sakit & penyakit, sistem
pelayanan kesehatan, gizi dan lingkungan
Perilaku kesehatan : Perilaku pemeliharaan kesehatan
Perilaku penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan
Perilaku kesehatan lingkungan
Promosi Kesehatan & Perilaku
Promosi kesehatan merupakan penunjang bagi program kesehatan lain

Promosi kesehatan merupakan proses peningkatan pengetahuan masyarakat


tentang kesehatan yang disertai dengan upaya memfasilitasi perubahan perilaku
Merupakan program kesehatan yang dirancang untuk membawa perbaikan /
perubahan dalam individu, masyarakat dan lingkungan
Peran Promosi kesehatan
[Link] melalui media massa elektronik, website, cetak dan pameran.
[Link] jejaring kemitraan.
[Link] Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) disemua tatanan.
Contoh promosi kesehatan yang dapat merubah perilaku seseorang :
[Link] persalinan oleh tenaga kesehatan.
[Link] di berikan ASI.
[Link] balita.
[Link] bebas jentik.
[Link] tangan dengan sabun dan air mengalir.
[Link] air bersih.
[Link] jamban.
[Link] dengan gizi seimbang.
[Link] aktifitas fisik setiap hari.
[Link] merokok.
Untuk pemeliharaan dan peningkatan kesehatan masyarakat dilakukan upayaupaya berupa intervensi terhadap :
1. lingkungan; sanitasi lingkungan, program pendidikan, perbaikan sosial ekonomi
2. perilaku ; pendidikan kesehatan
3. pelayanan kesehatan; perbaikan manajemen dan sistem pelayanan kesehatan
4. hereditas; perbaikan gizi masyarakat
Intervensi terhadap perilaku :
1. Tekanan ;peraturan, undang-undang, instruksi, tekanan, sanksi. Dll
Tidak didasari oleh pengertian dan kesadaran
2. Pendidikan (education) ; dengan cara persuasi, bujukan, imbauan, ajakan,
memberikan kesadaranCocok untuk pembinaan & peningkatan perilaku kesehatan
masyarakat
Diposkan oleh minda midwifery di 23:49 0 komentar
Kamis, 22 Oktober 2009
PROMOSI KESEHATAN PADA REMAJA
PROMOSI KESEHATAN PADA REMAJA

Pengertian

Promosi kesehatan menurut WHO adalah suatu proses yang memungkinkan individu
untuk meningkatkan kontrol dan mengembangkan kesehatan mereka.
Promosi kesehatan (Pender, 1996) adalah pemberian motivasi untuk meningkatkan
kesehatan individu dan mewujudkan potensi kesehatan individu.
Sedangkan Konferensi Internasional Promosi Kesehatan I yang diadakan di Ottawa,
Kanada, menghasilkan sebuah kesepakatan yang dikenal sebagai Piagam Ottawa.
Dalam piagam ini tertera strategi dalam meningkatkan kontrol masyarakat terhadap
kesehatan diri mereka sendiri. Promosi kesehatan adalah ilmu dan seni membantu
masyarakat menjadikan gaya hidup mereka sehat optimal.
Promosi kesehatan (pender, 1996) adalah pemberian motivasi untuk mencegah
timbulnya penyakit, deteksi dini, menjaga keseimbangan fungsi tubuh dengan
membatasi adanya penyakit.
Selama 20 tahun terakhir, ada beberapa perbedaan pendapat tentang cara yang
terbaik untuk promosi kesehatan. Promosi kesehatan tradisional, dibuat untuk
merubah perilaku individu kearah gaya hidup yang lebih sehat dengan cara individu
merasa nyaman dengan lingkungannya (Gillies, 1998)
Promosi kesehatan menggunakan pendekatan pada klien sebagai pusat dalam
pemberian pelayanan dan membantu mereka untuk membuat pilihan dan
keputusan.
Istilah promosi kesehatan merupakan suatu payung dan digunakan untuk
menggambarkan suatu rentang aktivitas yang mencakup pendidikan kesehatan dan
pencegahan penyakit (Gillies,

Ada

tiga

tingkatan

dari

pendidikan

kesehatan

menurut

Gillies:

Primary Health education, tujuannya tidak hanya mencegah perubahan kesehatan

tetapi juga meningkatkan kualitas kesehatan, dengan demikian kualitas hidup,


nutrisi,

kontrasepsi

kecelakaan

dan

hubungan

seksual

dengan

secara

aman,

menggunakan

dan

pencegahan
helm.

Secondary health education, tujuannya adalah untuk membantu individu dengan


masalah kesehatan yang reversible untuk menyesuaikan dengan gaya hidupnya,
contohnya berhenti merokok,merubah kebiasaan makan dan olahraga Tertiary
health education, tujuannya untuk membantu individu yang sakit dan tidak sembuh
total sehingga mereka dapat melewati hidup dengan sesuai kemampuan yang
dimiliki.
Contohnya anak yang menderita asma, epilepsi, bronchitis kronik dan kanker.
REMAJA
Remaja didefinisikan sebagai:
1. Masa peralihan dari anak-2 menuju dewasa
2. Umumnya antara usia 10-19 tahun
3. Merupakan periode kematangan seksual yang merubah anak secara biologi
menjadi dewasa yang memiliki kemampuan bereproduksi
4. Merupakan perkembangan psikologi dan sosio-ekonomi.
5. Dengan kata lain merupakan periode transisi, tumbuh, kembang dan
kesempatan

Perkembangan seksual pada remaja (Fundamental of Nursing , Potter & Perry. 2005)
:
[Link]
1) Ditandai dengan perkembangan payudara, bisa dimulai paling muda umur 8-10
th.
2) Meningkatnya kadar estrogen mempengaruhi genitalia, antara lain: uterus

membesar; vagina memanjang; mulai tumbuhnya rambut pubis dan aksila; dan
lubrikasi vagina baik spontan maupun akibat rangsangan.
3) Menarke sangat bervariasi, dapat terjadi pada usia 8 tahun dan tidak sampai usia
16 tahun. Siklus menstruasi pada awalnya tidak teratur dan avulasi mungkin tidak
terjadi saat menstruasi pertama.

[Link]/emosi
1) Periode ini ditandai oleh mulainya tanggungjawab dan asimilasi pengharapan
masyarakat
2) Remaja dihadapkan pada pengambilam sebuah keputusan seksual, dengan
demikian mereka membutuhkan informasi yang akurat tentang perubahan tubuh,
hubungan dan aktivitas seksual, dan penyakit yang ditularkan melalui aktivitas
seksual.
3) Yang

perlu

diperhatikan terkadang

pengetahuan yang

didapatkan

tidak

diintegrasikan dengan gaya hidupnya, hal ini menyebabkan mereka percaya kalau
penyakit kelamin maupun kehmilan tidak akan terjadi padanya, sehingga ia
cenderung

melakukan

aktivitas

seks

tanpa

kehati-hatian.

4) Masa ini juga merupakan usia dalam mengidentifikasi orientasi seksual, banyak
dari mereka yang mengalami setidaknya satu pengalaman homoseksual. Remaja
mungkin takut jika pengalaman itu merupakan gambaran seksualitas total mereka,
walaupun sebenarnya anggapan ini tidak benar karena banyak individu terus
berorientasi

heteroseksual

secara

ketat

setelah

pengalaman

demikian.

5) Remaja yang kemudian mengenali preferensi mereka sebagai homoseksual yang


jelas akan merasa dan kebingungan sehingga membutuhkan banyak dukungan dari
berbagai sumber (Bimbingan Konselor, penasihet spiritual, keluarga, maupun
profesional kesehatan mental).

c. Perkembangan Psikologi dan Kognitif Selama Remaja


Pertama-tama piaget menggambarkan transisi dari konkrit ke pemikiran oparasional
formal sebagai peristiwa pada tahun awal dan pertengahan remaja. Walaupun ada

variasi besar,sebagian perkembangan bakat anak muda untuk berfikir abstrak


antara usia 12 16 tahun. Sebelum bakat ini tumbuh ,anak muda mempunyai
kesulitan untuk mengaplikasikan prinsip umum untuk membedakan situasi dan
menilai

kenyataan

dan

rencana

untuk

masa

depan.

Ini

kontras,pemikiran

operasional formal termasuk kapasitas untuk berfikir abstrak,misalnya ide dan


pemikiran. Tugas perkembangan ini adalah masa transisi dari pemikiran yang
konkrit. Akhirnya ,tugas-tugas psikososial remaja menjadi harus betul-betul
dipertimbangkan.
Masalah kesehatan pada remaja :
1. Masalah jerawat 85% dialami remaja dan diketahui merupakan masalah
kesehatan yang serius yang menyertai remaja.
2. Rokok
3. Penggunaan obat dan kekerasan (penggunaan obat-obat medis,
perangsang, obat tidur, dan penenang)
4. Penggunaan psikotropika
5. Nutrisi (kekurangan nutrisi atau kegemukan)
6. Gangguan makan (anoreksia nervosa,bulimia nervosa,fitnes dan latihan
fisik)
7. Stress (gejala fisik yang dapat mempengaruhi pada keadaan kronik atau
stress yang extrem. Gejala psikologik misalnya cemas,sedih,gangguan
makan,depresi,insomnia,)
8. Pelaksanaan aktivitas seksual.

Remaja melaporkan beberapa alasan untuk melakukan aktivitas


seksual

yang

mana

berasal

dari

dorongan

kelompoknya,untuk

mencintai dan dicintai,coba-coba serta bersenang-senang (Murray &

Zentner,1997). Bagaimanapun juga beberapa remaja tidak dapat


mengambil keputusan atau nilai ,keahlian yang dibutuhkan untuk
mengklarifikasi untuk sesuatu hal yang penting di usia muda dan juga
menambah

pengetahuan

dasar

tentang

kontrasepsi

dan

PMS.

Sebagai perempuan yang berkembang sesuai usia perkembangan,dan


tahapan. Dia menyerupai dengan kondisinya yang berhubungan
dengan kondisinya. Semua remaja tertahan percepatan perkembangan
karakteristik

seksualnya

dan

juga

tidak

tercapai

tugas

perkembangannya,misalnya menunjukkan identitasnya,perkembangan


seksual yang lebih disukai,emansipasi dari keluarga dan menunjukkan
tujuan

pengasuh.

Promosi kesehatan dan pencegahan penyakit pada anak dan remaja


perempuan
Anak dan remaja membutuhkan edukasi akurat dan komprehensif tentang
seksualitas untuk praktik perilaku seksual sebagai orang dewasa. Kini,
eksploitasi atau risiko aktivitas seksual mungkin menjadi masalah kesehatan
dan social seperti kehamilan yang tidak diinginkan dan penyakit menular
seksual meliputi HIV/AIDS.
Survey terbaru department kesehatan dan pelayanan social menemukan
penurunan aktivitas seksual pada remaja usia 15-19 di USA. Anak lebih
banyak melakukan aktivitas seksual dini meliputi anak dengan masalah
belajar atau rendah secara akademik, anak dengan soaisl lainnya, masalah
perilaku

atau

emosional

(mencakup

kelainan

mental

dan

kekerasan

substance) biasanya ini berasal dari keluarga golongan ekonomi lemah.

Sumber, isi dan efektifitas program pendidikan seksual

Kelas pendidikan seksual telah menjadi kurikulum rutinitas pada sekolah menengah
pertama dan atas di beberapa negara bagian. Pendidikan kesehatan juga sebagai
komponen

komunitas

target

program

dasar

pencegahan

pada

ibu

hamil,pencegahan kekerasan,penurunan kekerasan,perkembangan anak [Link]


pelayanan

kesehatan

reproduksi.

Perawat

juga

bertanggung

jawab

untuk

memberikan pendidikan seksual pada anak dan remaja sebagai bagian dari
pencegahan penyakit. Tidak semua sekolah memiliki instruksi dasar dan peraturan
tentang kelas pendidikan seksual.

Strategi untuk promosi kesehatan dan pencegahan penyakit pada anak dan remaja
perempuan
1. Letakkan pendidikan seksual dalam tatanan kehidupannya
2. Menganjurkan untuk menawarkan pendidikan seksualitas dan topik tentang seks
yang berhubungan issue saat ini
3. Menyediakan pendidikan seksualitas dengan mempercayai dan mengakui pasien
sebagai individu dan isu serta nilai dalam keluarga.
4. Khusus menyediakan,kepercayaan,budaya sensitif dan konseling yang tidak
ternilai tentang isu penting seksualitas (konseling umum,pencegahan kehamilan
tidak diinginkan,strategi pencegahan penyakit menular HIV/AIDS)
5. Menyediakan konseling yang tepat atau pencerahan-pencerahan pada anak dan
remaja dengan isu khusus dan jadi perhatian (Gay, lesbian, biseksual anak muda)
6. Pelayanan ginekolgi rutin disediakan untuk remaja putri yang menjalani perilaku
seksual. Skrining untuk kanker serviks dan PMS akan diberikan pada perempuan
yang menjalani seksual aktif.
7. Menjadikan pengetahuan tentang pentingnya pendidikan seksual
disekolah,institusi keagamaan,dan komunitas lainnya.
8. Bekerja sama dengan perencana masyrakat (LSM) untuk meningkatkan strategi
yang menyeluruh untuk menurunkan kejadian perilaku seksual yang tidak aman
dan hasil yang merugikan.

Perilaku Kesehatan Yang Beresiko Dan Tindakan Pencegahan Pada Remaja


Perempuan
1.

Beberapa

remaja

menggunakan

perilaku

yang

beresiko

agar

dapat

menampakkan kesehatan mereka. Kasus kematian terbanyak pada remaja adalah


kecelakaan yang tidak disengaja. Sekitar 80% semua kecelakaan motor,yang kedua
bunuh

diri, ketiga kematian

karena neoplasma,cardiovaskuler dan

penyakit

kongenital. Dari beberapa ada satu dari empat remaja juga beresiko tinggi terhadap
tindakan kekerasan, PSM, kehamilan tidak disengaja, kekerasan antar sesama dan
tekanan

disekolah.

2. Pada 1992,An American Medical Association interdisciplinary expert panel


developed the Guidelenes for adolescent preventive services. Termasuk sebuah
tambahan dari bagian ini. Petunjuk GAPS merupakan sebuah rekomendasi untuk
membantu perawatan pertama organisasi penyedia dan pengirim pelayanan
pencegahan komprehensif pada remaja.. rekomendasi GAPS ditujukan pada
organisasi pelayanan,peningkatan gaya hidup yang sehat,skrining fisik,emosi dan
masalah tingkah laku dan imunisasi.. tujuan GAPS adalah untuk membuat semua
kunjungan klinik bagian pengalaman peningkatan kesehatan.

Kondisi Kesehatan Yang Ditampilkan Remaja


Remaja putri yang peduli sistem perawatan kesehatan biasanya melakukan skrining
(pap smear dimulai pada usia 18 atau ketika sudah mulai melakukan aktivitas
seksual). Masalah ginekology sering disamakan dengan mens (perdarahan yang
tidak teratur atau dimenore),vaginitis atau leukorea,PMS,kontrasepsi dan
kehamilan).
Kehamilan pada remaja : kehamilan pada remaja usia 16 tahun atau remaja sering
diperkenalkan stress tambahan pada periode yang penuh dengan stress.
Petunjuk Antisipasi Untuk Promosi kesehatan & Pencegahan Penyakit
Pender (1996) menggambarkan peningkatan kesehatan sebagai motivasi untuk
menjadi keadaan sejahtera dan potensial kesehatan aktual. Pencegahan adalah
menghindari kesakitan,mendeteksi dini,pemeliharaan fungsi yang optimal ketika
datang

keadaan

sakit.

Perawat mempunyai kesempatan dan tanggung jawab besar untuk membantu


ketidakmengertian wanita terhadap faktor resiko dan untuk memotivasi mereka
untuk

menerima

Nutrisi,

gaya

hidup

latihan,managemen

yang

sehat

stress,berhenti

dalam

mencegah

penyakit.

merokok,pembatasan

konsumsi

alkohol,masa skrining sendiri,pelaksanaan,terapi hormone tambahan,issue seksual.

Level pencegahan penyakit pada anak dan remaja perempuan:


Primary

prevention:

immunisasi

lanjutan

(Vaksin

HPV)

atau

pendidikan

kesehatan/konseling tentang nutrisi, rokok, sexual education, alcohol, managemen


stress.
Secondary prevention: Screening test ; pemeriksaan payudara sendiri sejak anak
mulai mendapatkan mestruasi, pap smear bagi remaja yang telah melakukan
hubungan seksual aktif, tes kolesterol, pemeriksaan Hb
Tertiary prevention: pendidikan pada pasien untuk menurunkan kondisi sakit dan
megoptimalkan kemampuan yang dimiliki, misalnya mengoptimalkan kemampuan
anak yang menderita kanker.

MASALAH-MASALAH YANG LAZIM TERJADI PADA REMAJA


NARKOTIKA
Adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis
maupun semi sintetis yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu bagi
mereka yang menggunakan dengan memasukkannya ke dalam tubuh manusia.
Pengaruh tersebut berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat ,
halusinasi

atau

timbulnya

khayalan-khayalan

ketergantungan bagi pemakainya

ABORSI

yang

menyebabkan

efek

Aborsi adalah berakhirnya atau gugurnya kehamilan sebelum kandungan mencapai usia 20
minggu, yaitu sebelum janin dapat hidup diluar secara mandiri ( Munajat, N.,2000). Aborsi atau
pengguguran berbeda dengan keguguran atau keluron (bahasa jawa). Aborsi adalah terminasi
(penghentian) kehamilan yang disengaja ( abortus provokatus ), yakni kehamilan yang
diprovokasi dengan berbagai macam cara sehingga terjadi pengguguran. Sedangkan keguguran
adalah kehamilan yang berhenti karena faktor faktor alamiah atau disebut abortus spontaneous
(Hawari, D., 2006). Aborsi merupakan semua upaya atau tindakan yang dimaksudkan untuk
menghentikan kehamilan, baik dilakukan melalui pertolongan orang lain sepeti dokter, dukun
bayi, dukun pijat dan sebagainya, maupun dilakukan sendiri dengan cara meminum obat-obatan
atau ramuan tradisional (Wiknjosastro, Gulardi dalam Ulfah,M. dan Ghalib,A., 2004). Namun
tindakan aborsi tersebut mengandung risiko yang cukup tinggi, apalagi bila dilakukan tidak
sesuai dengan standard profesi medis (Munajat, N.,2000).Aborsi seperti itu dapat menyebabkan
infeksi disertai dengan perdarahan bahkan kematian. Risiko tersebut akan lebih tinggi bila terjadi
pada usia remaja dan juga akan berdampak pada kesehatan reproduksinya. Aborsi pada usia
remaja terjadi antara lain karena kehamilan diluar nikah atau kehamilan yang tidak diinginkan
(KTD). Akibat dorongan yang mendesak untuk mengakhiri kehamilan tersebut sejumlah remaja
tanpa memikirkan risiko yang ditimbulkan, memilih aborsi sebagai pilihan terakhirnya
(Dianawati,, 2003).
Kesehatan reproduksi remaja telah menjadi isu global. Hampir seluruh Negara menjadikan
masalah ini sebagai salah satu program utama. Berdasarkan data, kondisi kesehatan reproduksi
remaja cenderung menurun dan aborsi dikalangan remaja cenderung meningkat (Purbaningsih,
2004). Dr. Boyke Dian Nugraha, Sp. OG., MARS berpendapat bahwa aborsi di Indonesia tercatat
sebanyak 2,3 juta kasus setiap tahun. Dari jumlah itu, sekitar 15% sampai 30% dilakukan oleh
remaja (Anonymus, 2005). Sedangkan angka kejadian aborsi di Surabaya khususnya tidak dapat
diketahui secara pasti, karena tidak ada lembaga atau institusi yang dapat melaporkannya.
Kejadian aborsi ini menjadi salah satu penyebab tingginya AKI. SKRT tahun 1995 menunjukkan
bahwa aborsi berkontribusi sebesar 11% terhadap kematian ibu di Indonesia. Bahkan menurut
Prof. Dr. Azrul Azwar, MPH diperkirakan prosentase tersebut bisa mencapai 30 50 % (PKBI,
2004).

Sekarang ini, banyak terdengar kasus kasus aborsi yang dilakukan oleh oknum oknum yang
tidak bertanggung jawab. Berita berita yang memuat kasus aborsi illegal yang dilakukan oleh
tenaga dpkter ternyata masih banyak dilakukan (Dianawati, 2003). Padahal Kodeki memberikan
pedoman bahwa dokter tidak boleh melakukan aborsi, sebab dokter Indonesia harus melindungi
makhluk insani sejak pembuahan sampai dengan kematiannya. Berdasarkan UU Kesehatan no.23
tahun 1992, aborsi hanya bisa dilakukan kalau ada indikasi medis sebagai satu satunya upaya
menyelamatkan nyawa ibu. Sehingga praktik aborsi yang selama ini berlangsung sebenarnya
adalah praktik ilegal (Kusmaryanto, 2004). Aborsi ilegal ini kemungkinan terjadi karena
rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan dan pengetahuan perempuan tentang kesehatan
reproduksi (Dianawati, 2003).Dengan minimnya informasi kesehatan reproduksi remaja, kerap
terjadi penyalahgunaan fungsi seksual. Hanya mengejar kenikmatan sesaat, tidak sedikit dari
mereka berani malakukan hubungan seksual. Tidak heran kini banyak permasalahan yang datang
menyertainya, termasuk semakin beragamnya penyakit menular seksual (PMS) dan aborsi
(Anonymus, 2005).
Oleh karena itu perlu adanya pendidikan dan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang
benar di kalangan remaja. Termasuk tentang seksualitas, organ reproduksi, kehamilan, dsb.
Dalam kasus ini juga diperlUkan adanya informasi yang benar di kalangan remaja tentang aborsi.
Ada 2 macam risiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi:
1. Risiko kesehatan fisik dan mental.
2. Risiko gangguan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko yang akan dihadapi
seorang wanita, seperti yang dijelaskan dalam buku Facts of Life a. Kematian mendadak karena
pendarahan hebat
b. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
c. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan
d. Rahim yang sobek (Uterine Perforation)
e. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak
berikutnya
f. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)

g. Kanker indung telur (Ovarian Cancer)


h. Kanker leher rahim (Cervical Cancer)
i. Kanker hati (Liver Cancer)
j. Kelainan pada placenta/ ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak
berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya
k. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)
l. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)
m. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)
GANGGUAN MENTAL YANG TERJADI Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan
aborsi akan mengalami hal-hal seperti berikut:
a. Kehilangan harga diri (82%)
b. Berteriak-teriak histeris (51 %)
c. Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%)
d. Ingin melakukan bunuh diri (28%)
e. Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%)
f. Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%)
.
HIV/AIDS
HIV adalah virus penyebab AIDS. HIV terdapat dalam cairan tubuh seseorang seperti
darah, cairan sindrom menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV.
Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh berbagai macam penyakit
karena sistem kekebalan tubuh penderita telah [Link] dapat menular ke
orang lain melalui :
1. Hubungan seksual (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa kondom)
dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
2. Jarum suntik/tindik/tato yang tidak steril dan dipakai bergantian(seperti
pecandu Narkoba)

3. Mendapatkan transfusi darah yang mengandung virus HIV


4. Ibu penderita HIV Positif kepada bayinya ketika dalam kandungan, saat
melahirkan atau melalui air susu ibu (ASI)

Lebih dari 80% infeksi HIV diderita oleh kelompok usia produktif terutama laki-laki, tetapi
proporsi penderita HIV perempuan cenderung meningkat. Infeksi pada bayi dan anak, 90 %
terjadi dari Ibu pengidap HIV. Hingga beberapa tahun, seorang pengidap HIV tidak
menunjukkan gejala-gejala klinis tertular HIV, namun demikian orang tersebut dapat menularkan
kepada orang lain. Setelah itu, AIDS mulai berkembang dan menunjukkan tanda-tanda atau
[Link]-tanda klinis penderita AIDS :
1. Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan
2. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
3. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan
4. Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis
5. Dimensia/HIV ensefalopati

Gejala minor :
1. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
2. Dermatitis generalisata yang gatal
3. Adanya Herpes zoster multisegmental dan berulang
4. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita

HIV dan AIDS dapat menyerang siapa saja. Namun pada kelompok rawan mempunyai risiko
besar tertular HIV penyebab AIDS, yaitu :
1. Orang yang berperilaku seksual dengan berganti-ganti pasangan tanpa
menggunakan kondom

2. Pengguna narkoba suntik yang menggunakan jarum suntik secara bersamasama


3. Pasangan seksual pengguna narkoba suntik
Jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia memang terus meningkat. Kalau bulan
Desember 2003 disebutkan ada 2.720 kasus HIV dan 1.371 kasus AIDS atau total
4.091 kasus, maka sampai dengan Juni 2004 dilaporkan total kasus HIV/AIDS sudah
menjadi 4.389, terdiri dari 2.864 kasus HIV dan 1.525 AIDS.
Kasus HV/AIDS di kalangan remaja diperkirakan sebagian besar terjadi dari proses
berbagi jarum suntik di antara pengguna obat-obatan terlarang, termasuk narkoba
ataupun NAPZA. Dari 4.389 kasus HIV/AIDS di Indonesia seperti disebut di atas,
1.392 kasus atau 31,7 persen adalah kelompok usia 15-29 tahun, terdiri dari
kelompok usia 15-19 sebanyak 176 kasus dan kelompok usia 20-29 tahun 1.225
kasus
1. Melakukan segala bentuk hubungan seks penetratif dengan orang yang
terinfeksi tanpa menggunakan kondom secara benar pada saat yang tepat;
2. Berbagi jarum suntik atau benda tajam lain dengan orang yang terinfeksi HIV
dalam penggunaan obat secara intravena;
3. Menerima darah (melalui transfusi) dari orang yang terinfeksi;
4. Menato atau menindik tubuh dengan menggunakan benda tajam yang
terkontaminasi oleh virus.

5. Saat terkena infeksi virus AIDS maka diperlukan wkt


5-10 tahun untuk sampai ke tahap yang disebut
sebagai AIDS.

6. Setelah virus masuk kedalam tubuh manusia, maka selama 2-4 bulan keberadaan virus
tersebut belum bisa terdeteksi dengan pemeriksaan darah meskipun virusnya sendiri
sudah ada dalam tubuh manusia. Tahap ini disebut sebagai periode jendela.
7. Sebelum masuk pada tahap AIDS, orang tersebut dinamai HIV positif karena dalam
darahnya terdapat HIV. Pada tahap HIV+ ini maka keadaan fisik ybs tidak mempunyai
kelainan khas ataupun keluhan apapun, dan bahkan bisa tetap bekerja seperti biasa.
8. Dari segi penularan, maka dalam kondisi ini ybs sudah aktif menularkan virusnya ke orang
lain jika dia mengadakan hubungan seks atau menjadi donor darah.
9. 75-85 % Penularan terjadi melalui hubungan seks (5-10 % diantaranya melalui hubungan
homoseksual)
10. 5-10 % akibat alat suntik yang tercemar (terutama pada pemakai narkotika suntik)
11. 3-5 % melalui transfusi darah yang tercemar
12. 90 % infeksi pada bayi dan anak terjadi dari Ibu yang mengidap HIV
13. 25-35 % bayi yang dilahirkan oleh Ibu pengidap HIV akan menjadi pengidap HIV
14. Rasa lelah berkepanjangan
15. Sesak nafas dan batuk berkepanjangan
16. Berat badan turun secara menyolok
17. Pembesaran kelenjar (di leher, ketiak, lipatan paha) tanpa sebab yang jelas
18. Bercak merah kebiruan pada kulit (kanker kulit)
19. Sering demam (lebih dari 38 C) disertai keringat malam tanpa sebab yang jelas
20. Diare lebih dari satu bulan tanpa sebab yang lain

BAGAIMANA MENCEGAH AIDS


1. Tidak berganti-ganti pasangan seksual
2. Pencegahan kontak darah, misalnya pencegahan terhadap penggunaan jarum suntik yang
diulang
3. Dengan formula A-B-C
ABSTINENSIA artinya tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah
4. BE FAITHFUL artinya jika sudah menikah hanya berhubungan seks dengan pasangannya
saja
5. CONDOM artinya pencegahan dengan menggunakan alat.
Orang Tua
1. Harus dapat memberikan pendidikan agama dan moral yang baik bagi anakanaknya.
2. Harus mampu memberikan informasi yang cukup tentang kesehatan reproduksi
remaja
3. Dapat memberikan kesempatan bagi anak-anaknya untuk mengeluarkan pendapat
dan bukan hanya menuntut anak-anaknya untuk menuruti keinginan mereka
Dapat membantu anak-anaknya untuk membangun konsep diri yang sehat, sehingga
sang anak tidak mudah terbawa arus negatif dari lingkungan,
Harus dapat terbuka dalam membicarakan masalah-masalah kesehatan reproduksi.
jika orang tua tidak bersikap terbuka dalam membicarakan masalah ini, maka remaja
akan bertanya kepada orang lain dan informasi yang didapat dari orang lain ini belum
tentu benar.

Orang tua hendaknya jangan hanya menuntut, tapi juga harus berusaha mengerti keadaan
anak-anaknya. Harus dapat memberikan kesempatan yang sama bagi anak laki-laki dan
perempuan.
Tidak segan-segan meminta maaf pada anak bila orang tua melakukan kesalahan. Orang
tua tidak akan pernah luput dari kesalahan, dengan meminta maaf, maka remaja akan
merasa lebih dihargai.
Tidak bersikap menggurui dan menganggap bahwa orang tua tahu segalanya dan anak tidak tahu
apa-apa, karena sebenarnya orang tua belum tentu lebih pintar dari anaknya, tapi mereka lebih
dulu tahu.
Pendidik
1. Harus dapat menjadi panutan bagi anak didiknya
2. Harus menguasai tentang masalah kesehatan reproduksi remaja
Dapat menjadi teman diskusi yang baik, bukan hanya menyalahkan dan menakut-nakuti.
Pendidik yang baik harus dapat menjadi mitra diskusi remaja yang baik sehingga remaja merasa
nyaman untuk membicarakan masalahnya kepada pendidik.
Khususnya untuk guru agama, jangan memberi informasi mengenal kesehatan reproduksi dengan
cara menakut-nakuti. Jangan hanya menghubungkan hal tersebut dengan 'dosa', tetapi juga harus
bisa menjelaskan mengapa hal tersebut merupakan perbuatan yang dilarang agama, Misalnya
dalam membicarakan tentang hubungan seks pranikah, pendidik hendaknya tidak hanya
menakut-nakuti hal itu sebagai perbuatan berdosa, tapi juga harus dapat menjelaskan keterangan
dibalik itu yaitu bahwa manusia adalah mahluk Tuhan yang paling tinggi, yang dibekali oleh akal
budi dan mempunyai aturan hidup sehingga apabila kita melakukan hubungan seks di luar
pernikahan, berarti kita sama rendahnya dengan binatang yang tidak berakal budi dan tidak
mempunyai aturan
Pendidikan kesehatan bagi anak dan remaja perempuan :

1. Pada usia sekolah dini, anak harus diberikan informasi untuk berhati-hati
terhadap potensi adanya penganiayaan seksual. Beberapa hal yang dapat
dilakukan untuk mencegah pelecehan seksual terhadap anak antara lain:
2. Ajarkan kepada anak mengenai perbedaan antara sentuhan yang baik
dengan

sentuhan

yang buruk dari orang dewasa.


3. Beritahu anak mengenai bagian tubuh tertentu yang tak boleh disentuh oleh
orang dewasa kecuali saat mandi atau pemeriksaan fisik oleh dokter.
4. Ajarkan kepada anak untuk mengatakan tidak jika merasa tidak nyaman
dengan perlakuan orang dewasa dan menceritakan kejadian itu kepada orang
dewasa

yang

meraka

percaya.

5. Ajarkan bahwa orang dewasa tidak selalu benar, dan semua orang
mempunyai kontrol terhadap tubuh mereka, sehingga ia dapat memutuskan
siapa yang boleh atau tidak boleh untuk memeluknya.
6. Jika terjadi pelecehan seksual pada anak, beberapa hal yang perlu
diperhatikan:
- Ciptakan kondisi sehingga anak merasa leluasa dalam menceritakan
tentang bagian tubuhnya dan menggambarkan kejadian dengan akurat.
- Yakinkan anak bahwa orang dewasa yang melakukannya adalah salah,
sedangkan

anaknya

sendiri

adalah

benar.

- Orang tua harus bisa mengkontrol ekspresi emosional didepan anak (Perry
&

potter,

2005)

Pada usia remaja, informasi faktual tentang seksual dan aktivitas seksual
sangat penting tetapi lebih penting dengan bimbingan tentang penilaian diri
atau sistem kepercayaan untuk digunakan sebagai kerangka kerja untuk
mengambil keputusan. Lingkup kesehatan keluarga merupakan bagian yang
paling baik untuk memberikan pendidikan kepada anak dan remaja. Orangtua
perlu memahami pentingnya pemebrian informasi, berbagai nilai yang dianut

dalam keluarga, dan meningkatkan kemampuan untuk membuat keputusan.


Remaja

akan

bertanggung

membuat
jawab

keputusan
terhadap

utnuk

dirinya

keputusannya

sendiri

dan

(Gilles,

harus
1998)

Pada masa ini remaja mungkin pertama kali mencari perawatan kesehatan
tanpa didampingi orangtua. Agar intervensi pada kelompok usia ini bisa
efektif harus diperhatikan beberapa hal antara lain:

1. Ciptakan lingkungan yang menunjukan kasih sayang, saling percaya, serta


kesediaan untuk mendengar
2. Klarifikasi dan hormati masalah yang bersifat rahasia
3. Perawat kesehatan reproduktif hendaknya memiliki pengetahuan yang mendalam
mengenai perkembangan remaja.
Diposkan oleh minda midwifery di 20:11 1 komentar
Selasa, 13 Oktober 2009
TUGAS PROMOSI KESEHATAN

Sejarah Promosi Kesehatan dalam Kebidanan

Istilah Health Promotion (Promosi Kesehatan) sebenarnya sudah mulai dicetuskan


setidaknya pada era tahun 1986, ketika diselenggarakannya konfrensi Internasional
pertama tentang Health Promotion di Ottawa, Canada pada tahun 1965. Pada waktu itu
dicanangkan the Ottawa Charter, yang didalamnya memuat definisi serta prinsipprinsip dasar Health Promotion. Namun istilah tersebut pada waktu itu di Indonesia
belum terlalu populer seperti [Link] ini tetap dipergunakan, sampai
kemudian mengalami revisi pada konferensi dunia di Bangkok pada bulan Agustus
2005, menjadi: Health promotion is the process of enabling people to increase control
over their health and its determinants, and thereby improve their health (dimuat dalam

The Bangkok Charter). Definisi baru ini belum dibakukan bahasa Indonesia. Selain
istilah Promosi Kesehatan, sebenarnya juga beredar banyak istilah lain yang
mempunyai kemiripan makna, atau setidaknya satu nuansa dengan istilah promosi
kesehatan, seperti : Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE), Pemasaran sosial,
Mobilisasi sosial, Pemberdayaan masyarakat,

Suatu ketika pada tahun 1994, [Link] Kickbush yang pada saat itu sebagai Direktur
Health Promotion WHO Headquarter Geneva datang melakukan kunjungan ke
Indonesia. Sebagai seorang direktur baru ia telah berkunjung kebeberapa negara
termasuk Indonesia salah satunya. Pada waktu itu pula Kepala Pusat Penyuluhan
Kesehatan Depkes juga baru diangkat, yaitu Drs. Dachroni, MPH., yang menggantikan
[Link] Mantra yang telah memasuki masa purna bakti (pensiun). Dalam kunjungannya
tersebut [Link] Kickbush mengadakan pertemuan dengan pimpinan Depkes pada
waktu itu baik pertemuan internal penyuluhan kesehatan maupun eksternal dengan
lintas program dan lintas sektor, termasuk FKM UI, bahkan sempat pula Kickbush
mengadakan kunjungan lapangan ke Bandung.

Dari serangkaian pertemuan yang telah dilakukan serta perbincangan selama


kunjungan lapangan ke Bandung, Indonesia banyak belajar tentang Health Promotion
(Promosi Kesehatan). Barangkali karena sangat terkesan dengan kunjungannya ke
Indonesia kemudian ia menyampaikan suatu usulan.

Usulan itu diterima oleh pimpinan Depkes pada saat itu Prof. Dr. Suyudi. Kunjungan Dr.
Ilona Kickbush itu kemudian ditindaklanjuti dengan kunjungan pejabat Health Promotion
WHO Geneva lainnya, yaitu [Link] O Byrne, sampai beberapa kali, untuk
mematangkan persiapan konfrensi jakarta. Sejak itu khususnya Pusat Penyuluhan
Kesehatan Depkes berupaya mengembangkan konsep promosi kesehatan tersebut
serta aplikasinya di Indonesia
.
Dengan demikian penggunaan istilah promosi kesehatan di indonesia tersebut dipicu
oleh perkembangan dunia Internasional. Nama unit Health Education di WHO baik di
Hoodquarter, Geneva maupun di SEARO, India juga sudah berubah menjadi unit Health
Promotion. Nama organisasi profesi Internasional juga mengalami perubahan menjadi
International Union For Health Promotion and Education (IUHPE). Istilah promosi
kesehatan tersebut juga ternyata sesuai dengan perkembangan pembangunan
kesehatan di Indonesia sendiri, yang mengacu pada paradigma sehat.

Bertolak dari prinsip-prinsip yang dapat dipelajari tentang Promosi Kesehatan, pada
pertengahan tahun 1995 dikembangkanlah Strategi atau Upaya Peningkatan Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (disingkat PHBS), sebagai bentuk operasional atau setidaknya
sebagai embrio promosi kesehatan di Indonesia. Strategi tersebut dikembangkan
melalui serangkaian pertemuan baik internal Pusat Penyuluhan Kesehatan maupun
external secara lintas program dan lintas sektor, termasuk dengan organisasi profesi,
FKM UI dan LSM.
Beberapa hal yang dapat disarikan tentang pokok-pokok Promosi Kesehatan (Health
Promotion) atau PHBS yang merupakan embrio Promosi Kesehatan di Indonesia ini,
adalah bahwa:
1. Promosi Kesehatan (Health Promotion), yang diberi definisi : Proses
pemberdayaan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi
kesehatannya (the process of enabling people to control over and improve their
health), lebih luas dari Pendidikan atau Penyuluhan Kesehatan. Promosi
Kesehatan meliputi Pendidikan/ Penyuluhan Kesehatan, dan di pihak lain
Penyuluh/Pendidikan Kesehatan merupakan bagian penting (core) dari Promosi
Kesehatan.

2. Pendidikan/Penyuluhan Kesehatan (dapat dikatakan) menekankan pada upaya


perubahan atau perbaikan perilaku kesehatan. Promosi Kesehatan adalah upaya
perubahan/perbaikan perilaku di bidang kesehatan disertai dengan upaya
mempengaruhi lingkungan atau hal-hal lain yang sangat berpengaruh terhadap
perbaikan perilaku dan kualitas kesehatan.
3. Promosi Kesehatan juga berarti upaya yang bersifat promotif (peningkatan)
sebagai perpaduan dari upaya preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan) dan
rehabilitatif (pemulihan) dalam rangkaian upaya kesehatan yang komprehensif.
Promosi Kesehatan juga merupakan upaya untuk menjajakan, memasarkan atau
menjual yang bersifar persuasif, karena sesungguhnya kesehatan merupakan
sesuatu yang sangat layak jual, karena sangat perlu dan dibutuhkan setiap
orang dan masyarakat.
4. Pendidikan/penyuluhan kesehatan menekankan pada pendekatan edukatif,
sedangkan pada promosi kesehatan, selain tetap menekankan pentingnya
pendekatan edukatif yang banyak dilakukan pada tingkat masyarakat di strata

primer (di promosi kesehatan selanjutnya digunakan istilah gerakan


pemberdayaan masyarakat), perlu dibarengi atau didahului dengan upaya
advokasi, terutama untuk strata tertier (yaitu para pembuat keputusan atau
kebijakan) dan bina suasana (social suppoprt), khususnya untuk strata sekundair
(yaitu mereka yang dikategorikan sebagai para pembuat opini). Maka dikenallah
strategi ABG, yaitu Advokasi, Bina Suasana dan Gerakan/pemberdayaan
Masyarakat.
5. Pada pendidikan/penyuluhan kesehatan, masalah diangkat dari apa yang
ditemui atau dikenali masyarakat (yaitu masalah kesehatan atau masalah apa
saja yang dirasa penting/perlu diatasi oleh masyarakat, now(), now()); Pada
PHBS, masyarakat diharapkan dapat mengenali perilaku hidup sehat, yang
ditandai dengan sekitar 10 perilaku sehat (health oriented). Masyarakat diajak
untuk mengidentifikasi apa dan bagaimana hidup bersih dan sehat, kemudian
mengenali keadaan diri dan lingkungannya serta mengukurnya seberapa
sehatkah diri dan lingkungannya itu?
Pendekatan ini kemudian searah dengan paradigma sehat, yang salah satu dari
tiga pilar utamanya adalah perilaku hidup sehat. (Sebenarnya ini tidak baru,
karena dalam Posyandu, masalah juga sudah difokuskan pada sekitar 5 masalah
prioritas).
6. Pada pendidikan/penyuluhan kesehatan yang menonjol adalah pendekatan di
masyarakat (melalui pendekatan edukatif), sedangkan pada PHBS/promosi
kesehatan dikembangkan adanya 5 tatanan: yaitu di rumah/tempat tinggal
(where we live), di sekolah (where we learn), di tempat kerja (where we work), di
tempat-tempat umum (where we play and do everything) dan di sarana
kesehatan (where we get health services). Dari sini dikembangkan kriteria rumah
sehat, sekolah sehat, tempat kerja sehat, tempat umum sehat, dll yang
mengarah pada kawasan sehat seperti : desa sehat, kota sehat, kabupaten
sehat, dll sampai ke Indonesia Sehat.
7. Pada promosi kesehatan, peran kemitraan lebih ditekankan lagi, yang dilandasi
oleh kesamaan (equity), keterbukaan (transparancy) dan saling memberi
manfaat (mutual benefit). Kemitraan ini dikembangkan antara pemerintah
dengan masyarakat termasuk swasta dan Lembaga Swadaya Masyarakat, juga
secara lintas program dan lintas sektor.
8. Sebagaimana pada Pendidikan dan Penyuluhan, Promosi Kesehatan
sebenarnya juga lebih menekankan pada proses atau upaya, dengan tanpa
mengecilkan arti hasil apalagi dampak kegiatan. Jadi sebenarnya sangat susah
untuk mengukur hasil kegiatan, yaitu perubahan atau peningkatan perilaku

individu dan masyarakat. Yang lebih sesuai untuk diukur: adalah mutu dan
frekwensi kegiatan seperti: advokasi, bina suasana, gerakan sehat masyarakat,
dll. Karena dituntut untuk dapat mengukur hasil kegiatannya, maka promosi
kesehatan mengaitkan hasil kegiatan tersebut pada jumlah tatanan sehat,
seperti: rumah sehat, sekolah sehat, tempat kerja sehat, dst.

Konsep Promosi Kesehatan dan/atau PHBS tersebut selanjutnya digulirkan ke daerah


dan beberapa daerah mencoba mengembangkannya paling tidak di beberapa
kabupaten.

Sebenarnya pada setiap program kesehatan ada komponen promosi kesehatannya,


karena semua masalah kesehatan mengandung komponen perilaku. Namun karena
keterbatasan sumberdaya, pada kurun waktu ini secara nasional, promosi kesehatan
terbatas pada beberapa program prioritas saja. Program-program kesehatan tersebut
adalah: Kesehatan Ibu, Bayi dan Anak (Khususnya Pertolongan persalinan dan
Penggunaan ASI Eklusif), Peningkatan Gizi Keluarga dan Masyarakat (termasuk
GAKY), Kesehatan Lingkungan (khususnya penggunaan air bersih, penggunaan
toilet/jamban, mencuci tangan dengan sabun), Penanggulangan Penyakit Tidak
Menular (khususnya Aktivitas fisik, makan gizi seimbang dan masalah merokok),
Penanggulangan penyalahgunaan NAPZA, dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Masyarakat (JPKM). Di daerah, prioritas program tersebut disesuaikan dengan
keadaan, masalah dan potensi daerah.
Selain itu juga dilakukan promosi kesehatan untuk mendukung beberapa program
khusus. Sebagai contoh adalah kampanye Pekan Imunisasi Nasional (dalam rangka
penanggulangan polio). Demikian pula dalam penanggulangan HIV/AIDS yang
dilakukan promosi kesehatan secara lintas sektoral, juga dalam menghadapi SARS.
Selain itu dilakukan pula promosi kesehatan dalam rangka penanggulangan masalah
tembakau, promosi penggunaan obat generik, dll. Perlu diakui bahwa masih banyak
promosi kesehatan untuk berbagai program kesehatan lainnya yang belum dapat
tertangani.

Pada sekitar tahun 1982 ditetapkan Sistem Kesehatan Nasional oleh Menteri
Kesehatan RI (waktu itu Dr. Suwardjono Suryaningrat) yang menetapkan pembangunan
kesehatan sebagai suatu sistem dari supra sistem pembangunan nasional. Selanjutnya
berdasarkan Ketetapan MPR No. II/1983 tentang GBHN, disebutkan bahwa Dalam

rangka mempertinggi taraf kesehatan dan kecerdasan rakyat, pembangunan kesehatan


termasuk perbaikan gizi perlu makin ditingkatkan dengan mengembangkan Sistem
Kesehatan nasional (SKN).

Peningkatan kesehatan dilakukan dengan melibatkan peran serta (partisipasi) masyarakat


berpengahasilan rendah baik di desa maupun di kota. Panca Karsa Husada sebagai tujuan
pembangunan panjang bidang kesehatan mencakup: (1) Peningkatan kemampuan masyarakat
untuk menolong dirinya dalam bidang kesehatan; (2) Perbaikan mutu lingkungan hidup yang
dapat menjamin kesehatan; (3) Peningkatan status gizi masyarakat; (4) Pengurangan kesakitan
dan kematian; dan (5) Pengembangan keluarga sehat sejahtera dengan makin diterimanya norma
keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut dan dikaitkan dengan komitmen Indonesia untuk
mengimplementasikan primary health care, ditetapkan hal-hal sebagai berikut:

Hirarkhi tingkat pelayanan kesehatan sehubungan dengan komponen atau


unsur-unsur pelayanan kesehatan menurut SKN, mulai dari tingkat Rumah
tangga, selanjutnya ke tingkat masyarakat, terus sampai ke tingkat yang lebih
tinggi

Pelaksanaan kegiatan pembangunan kesehatan masyarakat desa (PKMD) yang


dilakukan masyarakat minimal mencakup salah satu dari 8 unsur Primary
Haelath Care sebagai berikut:

1. Pendidikan mengenai masalah kesehatan dan cara pencegahan penyakit serta


perlindungannya.
2. Peningkatan persediaan makanan dan peningkatan gizi.
3. Pengadaan air bersih dan sanitasi dasar yang memadai.
4. Kesehatan Ibu dan Anak termasuk keluarga berencana
5. Imunisasi untuk penyakit yang utama
6. Pencegahan dan pengendalian penyakit endemi setempat

7. Pengobatan penyakit umum dan luka-luka


8. Penyediaan obat esensial.

Pengembangan dan Pembinaan PKMD dilakukan sebagai berikut:

1. Berpedoman pada GBHN.


2. Dilakukan dengan kerja sama lintas program dan lintas sektor melalui
pendekatan edukatif.
3. Koordinasi pembinaan melalui jalur fungsional pada Gubernur, Bupati, atau
Camat.
4. Merupakan bagian integral dari pembangunan desa secara keseluruhan.
5. Kegiatan dilaksanakan dengan membentuk mekanisme kerja yang efektif antara
instansi yang berkepentingan dalam pembinaan masyarakat desa.
6. Puskesmas sebagai pusat pembangunan dan pengembangan kesehatan
berfungsi sebagai dinamisator.

Dengan berkembangnya PKMD dan dalam implementasinya menggunakan pendekatan edukatif,


muncullah berbagai kegiatan sawadaya masyarakat untuk pelayanan kesehatan antara lain: Pos
Penimbangan Balita, Pos Imunisasi, Pos KB Desa, Pos Kesehatan, Dana Sehat. Selain itu juga
muncul berbagai kegiatan lain, yang berada di luar kesehatan, meskipun tetap ada kaitannya
dengan bidang kesehatan. Kegiatan-kegiatan tersebut murni muncul dari masyarakat sendiri, dan
untuk pelayanan mereka sendiri, dibidang kesehatan.
Secara teori, pada periode ini telah muncul perbedaan sudut pandang. Mulai terlihat bahwa salah
satu kelemahan dari pendekatan edukatif adalah belum berhasil memunculkan community real
need. Yang terjadi adalah bahwa melalui pendekatan edukatif ini telah muncul berbagai
community felt need. Akibatnya muncul berbagai kegiatan masyarakat sesuai kebutuhan
masyarakat tersebut. Dengan munculnya aneka ragam kegiatan masyarakat tersebut, sulit untuk
memperhitungkan kontribusi kegiatan masyarakat tersebut terhadap peningkatan derajat
kesehatan masyarakat. Hal ini mendorong para pengambil keputusan di lingkungan Departemen
Kesehatan untuk melakukan perubahyan pada pendekatan edukatif sebagai strategi
pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan.

Berdasarkan pemikiran tersebut, maka pada tahun 1984, berbagai kelompok kegiatan yang
berkaitan dengan pelayanan kesehatan (Pos Penimbangan Balita, Pos Imunisasi, Pos KB Desa,
Pos Kesehatan), dilebur menjadi satu bentuk pelayanan kesehatan terpadu yang disebut
Posyandu (pos pelayanan terpadu). Atau lengkapnya Pos Pelayanan Terpadu KB-Kesehatan.
Peleburan menjadi Posyandu tersebut, selain setelah dicoba dikembangkan di Jawa Timur, juga
setelah melalui tahap kegiatan uji coba di tiga provinsi, yaitu: Sumatera Selatan, Jawa Barat dan
Sulawesi Selatan. Dipadukannya pelayanan KB dan kesehatan ini dimaksudkan untuk
memberikan kemudahan dan keuntungan bagi masyarakat. Karena dengan keterpaduan
pelayanan ini masyarakat dapat memperoleh pelayanan lengkap pada waktu dan tempat yang
sama.
Secara konsepsual, Posyandu merupakan bentuk modifikasi yang lebih maju dalam upaya
pemberdayaan masyarakat untuk menunjang pembangunan kesehatan, khususnya dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui penurunan angka kematian bayi. Modifikasi
tersebut adalah dengan tetap mempertahankan prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat, gotong
royong dan sukarela, namun bentuk kegiatan masyarakat dalam pembangunan kesehatan tidak
lagi beragam, karena sudah diarahkan dan diseragamkan yaitu Posyandu. Melalui keseragaman
kegiatan masyarakat dalam bentuk Posyandu, diharapkan dapat berdampak pada peningkatan
derajat kesehatan masyarakat, khususnya penurunan angka kematian bayi dan balita.

Posyandu merupakan unit pelayanan kesehatan di lapangan yang diselenggarakan


oleh masyarakat untuk masyarakat dengan dukungan teknis Puskesmas, Departemen
Agama, Departemen Pertanian, dan BKKBN. Posyandu melaksankan 5 program
kesehatan dasar yakni: KB, kesehatan ibu dan anak, gizi, imunisasi, dan
penaggulangan diare. Adapun sasaran utama adalah menurunkan angka kematian bayi
dan memperbaiki status kesehatan dan gizi balita, maupun ibu hamil dan menyusui.
Posyandu merupakan wadah partsipasi masyarakat, karena Posyandu paling banyak
menggunakan tenaga kader. Kader ini merupakan tenaga relawan murni, tanpa dibayar,
namun merupakan tenaga inti di Posyandu. Sebagian besar kader adalah wanita,
anggota PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga). Maka dapat dikatakan bahwa PKK
merupakan sumber penggerak Posyandu. Tokoh-tokoh di awal terbentuknya Posyandu
ini adalah: Dr. M. Adhyatma, Dr. Suyono Yahya, Ibu Soeparjo Rustam, dll.
Diposkan oleh minda midwifery di 03:27 0 komentar
Label: TUGAS PROMOSI KESEHATAN

Kemandirian kebutuhan remaja


Diposkan oleh Menjadi sesuatu yang berharga di 21:07

Kemandirian sosial pada remaja ditandai dengan munculnya perubahan pada sikap sosial dalam
bentuk kemunduran minat pada masyarakat atau berupa kecenderuangan untuk menyendiri.
Remaja memiliki kecenderungan untuk meninggalkan minat sosial pada orang-orang dewasa dan
mengarahkan minat sosialnya pada teman sebayanya. Maka, tidaklah mengherankan jika remaja
sangatlah sulit untuk diajak berkumpul dengan orang tua dan memilih bersama temannya. Masa
ini disebut sebagai masa antisosial atau masa negatif, dimana remaja cenderung menolak
beberapa aturan, norma yang berlaku secara umum dan menolak dominasi orang dewasa.
Sikap remaja yang cenderung antisosial ini bukanlah suatu bentuk ketidak tahuan mereka akan
pentingnya bersosiallisasi, namun merupakan bentuk kesengajaan yang diarahkan dalam bentuk
penentangan terhadap keinginan yang diharapkan oleh keluarga ataupun masyarakat. Munculnya
sikap antisosial pada remaja merupakan bentuk pengaruh kerja kelenjar hormon dan perubahan
fisik yang menunjukan perubahan yang pesat. Dari pola prilaku kanak-kanak, berubah kearah
pola prilaku remaja dengan segala perubahan fisik lainnya misalnya, perubahan suara dan
pertumbuha jerawat di wajah, turut mendukung sikap antisosial remaja.
Pertumbuhan dan perkembangan remaja yang menunjukkan perkembangan besar dalam fisiknya
menunjukan bentuk permasalahan tersendiri bagi remaja bersangkutan. Remaja yang dilihat dari
sifiknya telah menunjukkan perubahan bentuk tubuh seperti orang dewasa, namun emosi jiwanya
masih labil dan sifat kekanak-kanakkannya masih sering muncul. Misalnya, remja yang memiliki
permintaan terhadap orang tuanya cenderung segera dipenuhi dan pantang ditolak. Keinginan ini
merupakan sifat kekanakkakan-kan yang masih melekat. Padahal, remaja tidak mau lagi
diperlakukan seperti anak-anak, namun kenyataannya pola pikirnya masih di dominasi oleh

pemikiran anak-anak. Maka tidak heranlah, jika ada konfilk anatara orang tua dengan remaja.
Semakin bertambahnya pengalaman dan semakin meningkatnya pertumbuhan dan
perkembangan pada diri ramaja, sikap antisosial tersebut perlahan-lahan mulai berkurang dan
akhirnya dapat hilang sama sekali. Hal inilah yang disebut sebagai proses kematangan emosi
sosial, dimana remaja berangsur-angsur menyadari perannya sebagai warga masyarakat yang
merupakan bagian dari kelompok sosial yang merasa bergantung satu dengan lainnya. Timbulnya
kematangan sosial pada remaja akan menumbuhkan kemandirian sosial, dimana remaja mulai
mampu mengurus dirinya sendiri dan tidak banyak bergantung pada orang lain. Pada masa ini,
remaja mulai berani dan mampu menanggung resiko atas perbuatan yang ia lakukan dan berani
memikul tanggung jawab sosial.
Berkaitan dengan kemandirian ekonomi, pada umumnya tingkat kemandirian ekonomi dengan
melakukan perkerjaan sesuai dengan kemampuan mereka sebagi remaja. Di daerah sentra
industri, banyak remaja yang memilih berkerja untuk memperoleh uang dari pada melanjutkan
sekolah. Di kota besar, remja mencari uang dengan berkerja dibidang bisnis pertunjukan
(showbiz), ada yang sebagai model, penyayi, pemain sinetron, maupun berkerja paruh waktu
dibidang pemasaran atau sebagai pramuniaga. Tentu saja penghasilan yang diperoleh remaja ini
banyak dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang cenderung konsumtif atau untuk
membeli bahan kebutuhan yang sifatnya sekunder, seperti alat make up dan pernak-pernik
lainnya.
Oleh sebab itu, remaja dituntut untuk memiliki sifat dasar untuk mencapai kemandirian ekonomi
dalam bentuk upaya untuk dapat memenuhi kebutuhanya sendiri serta mengatur pengeluaran
ekonomi secara mandiri. Prinsip-prinsip pengelolaan ekonomi yang perlu dimiliki oleh remja,
antra lain,
1. Bersikap hemat dalam membelanjakan uangnya;
2. Gemar menabung;
3. Tidak suka pamer;
4. Berpenampilan wajar serta cenderung sederhana;
5. Tidak berlebih-lebihan dalam memakai fasilitas materi dari orang tua
6. Suka berkerja keras;
7. Mampu mengendalikan diri untuk tidak konsumtif;
8. Memperhatikan keberadaan orang lain yang hidupnya kurang beruntung, dan
9. Memiliki rasa belas kasih dengan sesama
TOP

0 komentar

Label: KEMANDIRIAN MENJADI KEBUTUHAN PSIKOLOG REMAJA MASA KINI


Selasa, 29 Juni 2010
Menciptakan remaja mandiri
Diposkan oleh Menjadi sesuatu yang berharga di 17:46

MENGHADAPI TANTANGAN
Perkembangan zaman yang begitu cepat akan memiliki dampak yang banyak mulai dari dampak
sosial, ekonomi, maupun budaya. Perubahan-perubahan yang terjadi tentunya akan menimbulkan
tantangan-tantangan yang harus dihadapi.
Remaja yang merupakan salah satu dari bagian generasi muda merupakan anggota masyarakat
yang harus dapat mengantisipasi setiap perubahan dan tantangan-tantangan yang muncul akibat
dari perubahan zaman.
Masa remaja merupakan masa yang sangat riskan dengan permasalahan-permasalahan yang
muncul, baik permaslahan yang muncul dari dalam maupun dari luar. Di lain sisi remaja mau
tidak mau harus berhadapan dengan permasalahan bagaimana mewujudkan cita-citanya untuk
menghadapi masa depan. Pola-pola kehidupan yang berada di sekitarnya juga merupakan
tantangan yang harus dihadapi.
Oleh karena itu, remaja di tuntut untuk bisa menyelesaikan tantangan atau masalah ini dengan
mandiri. Kemandirian merupakan hal yang mutlak untuk dimiliki oleh remaja.
Orang yang memiliki sifat kemandirian yang tinggi tentu saja akan memiliki kepercayaan diri
yang tinggi. Selain itu ia juga cenderung bersifat kritis terhadap hal-hal yang muncul
dihadapannya.
Berikut ini adalah beberapa sifat yang ditimbulakan oleh orang yang mempunyai kemandirian:
1. Kemantapan diri
Aspek ini menyangkut rasa percaya diri terhadap kemampuan dirinya sendiri, menerima diri apa
adanya, dan puas dengan usaha yang ia lakukan sendiri.
2. Inisiatif
Aspek ini melahirkan seseorang untuk menimbulkan cara berfikir dan bertindak secara kreatif
sehingga bisa menimbulkan inovasi-inovasi baru.

3. Progresif dan ulet


Aspek menunjukan seseorang untuk mengejar prestasi dengan penuh ketekunan, merencanakan
serta mewujudkan harapan-harapannya.
4. Bebas
Hal ini menunjukan dengan tindakan yang dilakukannya adalah tindakan atas kehendak dirinya
sendiri bukan dari orang lain.
TOP

0 komentar
Label: MENGHADAPI TANTANGAN
Rabu, 02 Juni 2010
Pengertian kemandirian
Diposkan oleh Menjadi sesuatu yang berharga di 06:34

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan DEPEN dan Kebudayaan KEMANDIRIAN
adalah hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Pengertian di
atas perlu diterangkan lebih lanjut, karena dalam kenyataannya tidak ada manusia yang mampu
hidup berdiri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Manusia adalah makhluk sosial yang
tidak lepas dari kehidupan bermasyarakat, mereka saling menghubungkan sikap , tingkah laku
dan perbuatan , saling memberi dan menerima sehingga meskipun ukurannya sedikit tetap saja
memerlukan bantuan orang lain. Bukankah dalam perjalannan hidup manusia apa yang dimakan
bukan hasil tanamannya sendiri, bukan masakan sendiri, pakaian yang dikenakan juga bukan dari
kapas tanamannya sendiri, bukan memintal dan menjahit sendiri. Ketika sakit juga memerlukan
bantuan orang lain, terlebih ketika meninggal dunia juga tidak mampu masuk kuburan sendiri.
Jadi jelaslah bagaimanapun juga manusia tetap memerlukan jasa dan pertolongan orang lain
dalam kehidupannya. Persoalannya tinggal apakah ia memberikan imbalan atau kompensasi
ketika membutuhkan apapun keperluan dari orang lain, dan apakah imbalan itu dari hasil jerih
payahnya sendiri?.
Kiranya inilah unsur penting yang mempunyai relevansi kuat dengan kemandirian seseorang .
Maka agar lebih sesuai dengan realita kehidupan, KEMADIRIAN itu kita artikan sebagai
KEMAMPUAN diri seseorang untuk mengahasilkan sesuatu sebagai imbalan atau nilai tukar
terhadap apa yang dibutuhkan, yang dikonsumsi, dimiliki dan dinikmati. Pada umumnya orang

dengan mudah akan mengatakan bahwa mereka yang telah memiliki penghasilan sendiri untuk
mencukupi keperluan hidupnya , meraka itulah orangorang yang telah mandiri.
TOP

0 komentar
Label: PENGERTIAN DARI KEMANDIRIAN...
Faktor-faktor Yang Mempengruhi Sikap Kemandirian.
Diposkan oleh Menjadi sesuatu yang berharga di 06:17

Kemandirian memang dimulai dari sikap, adapun factor yang mempengaruhi sikap mandiri itu
banyak namun dalam pembahasan ini akan dibatasi tiga factor yaotu fsktor ekonomi, keasaan
dalam keluarga dan linfgkungan masyarakat.
Orang yang berada pada ekonomi sulit biasanya akan cenderung segera bangkirt sebagai reaksi
atas keterbatasan kesejahteraan yang ada padanya. Mereka tidak segan melakukan apa saja demi
menghasilkan uang, bahkan dikerjakan tanpa mengenal waktu. Situasi dan kondisi ekonominya
akan memberikan gemblengan menjadikan insane yang selektif dan hemat dalam pengeluaran
pembelanjaan. Mereka lebih terbiasa dan mampu mangatasi berbagai kesulitan hidup, sebagai
dampak positifnya mereka cenderung menjadi lebih cepat memiliki sikap mandiri daripada
anggota keluarga yang tumbuh dalam keadaan ekonomi yang serba kecukupan.
Kebiasaan dalam keluarga juga dapat berpengaruh terhadap sikap kemandirian seseorang.
Banyak orang tua yang telah mampu memanjakan anak-anaknya tetapi akhiranya tidak mampu
menanamkan sikap kemandirian. Sebenarnya pendidikan sederhana tentang kemandirian kepada
anak dapat dilakukakn oleh orang tua dengan cara memberikan tugas-tugas yang harus
diselesaikan dalam waktu tertentu. Hal terpenting bahwa proses pendidikan kemandirian dapat
berhasil manakala dapat terwujdnya transformasi pendelegasian tanggungjawab dari orang tua
kepada anaknya.
Seorang kepala rumah tangga juga perlu mendidik kemandirian kepada istrinya dengan cara
mengkondisikan agar istrinya tidak larut dalam pola hidup boros, konsumtif namun sebaliknya
bagaimana seorang istri dapat mengelola pembelanjaan sebaik-baiknya sehingga tidak lebih
besar pasak daripada tiaynag. Pemanfatan secara optimal barang yang yang tersedia. Melatih
berusaha untuk mendapatkan income keluarga, meskipun urusan maisah adalah sepebuhnya
tanggung jawab suami, namun secara umum hal ini akan berpengaruh terhadap pembiasaan sikap
hidup mandiri badi seluruh anggota keluarga ternasuk anak remaja
TOP

0 komentar
Label: FAKTOR-FAKTOR KEMANDIRIAN DAN TIPS-TIPS MENJADI REMAJA
MANDIRI...
Rabu, 26 Mei 2010
Tips Menjadi Mandiri
Diposkan oleh Menjadi sesuatu yang berharga di 06:20

Mempersiapkan Diri Menjadi Remaja Mandiri.


Daftar pengangguran tingkat usia Produktif/ Remaja akhir ini semakin meningkat.
Dan tanggug jawab kita sebagai remaja adalah tidak menambah angka pengangguran tersebut.
Di zaman sekarang, sangat penting, bahkan mendesak, bagi kita para remaja memiliki
pengetahuan cara mengelola dan memahami dunia keuangan secara nyata. Kita bakal
menghadapi tantangan keuangan begitu kita meninggalkan tempat aman kita; rumah./Orang tua
kita
Berikut ini tips untuk kita dalam mempersiapkan diri menjadi Remaja mandiri dalam mengelola
keuangan :
Etika
- Mengembangkan karakter bermoral tinggi, otomatis akan membantu kita remaja untuk
berusaha memperoleh pendapatan, menjadi calon pekerja lebih baik dan secara keseluruhan
menjadi pribadi baik yang dihormati. Dalam masyarakat saat ini, menjadi warga yang dihormati
komunitas dengan baik akan membantu mendapat posisi mandiri secara keuangan. Mereka yang
sejahtera sekaligus dihormati banyak orang adalah mereka yang punya standar moral tinggi.
Komunikasi
-Komunikasi merupakan hal utama untuk remaja mandiri , karena cara berkomunikasi tertulis
dan verbal yang efektif akan memberikan kekuatan untuk mengajak orang lain untuk bekerja
[Link] cara berkomunikasi juga akan membantu kita agar tampak lebih di antara yang lain
danitu akan memudahkan kita promosi.
Pola Pikir Sehat
-Semua hal berbau negatif akan menyulitkan kita dalam segala hal hidup dan dapat merusak
kesempatan kita mencapai kemandirian dalam keuangan. Tips ini akan memotivasi dan
membantu Kita menambah rasa percaya diri yang dibutuhkan untuk berhasil. Studi menunjukkan
bahwa sikap positif akan menarik hal-hal positif di sekitar. Jadi mari kita berusaha
mengembangkan pikiran yang akan membantu diri kita menjadi sosok lebih dewasa dan
bertanggung jawab secara keuangan.

Pendidikan
-Di dalam kehidupan era masa sekarang ini. Sejauh kita memandang maka harus sejauh itulah
kita harus memperlengkapi diri kita dengan berbagai pendidikan. Kita jangan salah memahami
bahwa pendidikan diperoleh dengan cara menempuh jalur formal saja, dengan cara datang,
duduk, mendengar dan selanjutnya hingga akan memperoleh penghargaan dari test yang sudah
dilewati.
Pendidikan dapat diperoleh dengan berbagai cara terlebih lagi semakin mendukungnya
perkembangan alat-alat elektronika sekarang ini. Dengan mudah kita memperoleh informasi
tentang perkembangan zaman baik dari belahan bumi barat terlebih lagi dari negara tetangga.
Ilmu pengetahuan, keterampilan, pendidikan merupakan unsur dasar yang menentukan kecekatan
seseorang berpikir tentang dirinya dan lingkungannya. Seseorang yang mampu mengubah
dirinya menjadi lebih baik diharapkan mampu mengubah keluarganya,
Hasrat
-Saling bantu sesama remaja dalam menemukan dan mengikuti hasrat kita . Tentu yang bersifat
positif. Untuk lebih percaya diri bagaimana mengubah hasrat menjadi menjadi karir yang bisa
memenuhi kebahagian dan kebutuhan keuangan.
Hasrat di sini ialah ketikakita cinta apa yang ia lakukan, kita tidak merasa seperti beban kerja
sehingga bisa melakukannya dengan baik dalam bidang apapun . Dengan memahami mimpi
kita , kita akan lebih paham kemana kita akan melangkah ke tingkat lebih tinggi, yang sekaligus
membantu kita remaja mengembangkan kemampuan.
Kemampuan Mengorganisir-Mencapai kemandirian keuangan saat usia muda akan sangat
dipermudah bila anak memiliki perilaku teroganisir. Contoh, ajak mereka memiliki jadwal
terorganisir, ruang dan hidup mereka akan memberi keuntungan bagi mereka. Melakukan hal itu
sama dengan membuka celah bagi remaja menggapai potensial tertinggi mereka.

KATA-KATA BIJAK TENTANG KEMANDIRIAN


Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya, ia akan tergantung pada orang tua
dan orang-orang yang berada di lingkungannya hingga waktu tertentu. Seiring dengan berlalunya
waktu dan perkembangan selanjutnya, seorang anak perlahan-lahan akan melepaskan diri dari
ketergantungannya pada orangtua atau orang lain di sekitarnya dan belajar untuk mandiri. Hal ini
merupakan suatu proses alamiah yang dialami oleh semua makhluk hidup, tidak terkecuali
manusia. Mandiri atau sering juga disebut berdiri diatas kaki sendiri merupakan kemampuan
seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang

dilakukannya. Kemandirian dalam konteks individu tentu memiliki aspek yang lebih luas dari
sekedar aspek fisik.
, Selama masa remaja, tuntutan terhadap kemandirian ini sangat besar dan jika tidak direspon
secara tepat bisa saja menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan bagi perkembangan
psikologis sang remaja di masa mendatang. Ditengah berbagai gejolak perubahan yang terjadi di
masa kini, betapa banyak remaja yang mengalami kekecewaan dan rasa frustrasi mendalam
terhadap orangtua karena tidak kunjung mendapatkan apa yang dinamakan kemandirian. Ruang
konseling di website ini banyak dipenuhi oleh kebingungan-kebingungan dan keluh kesah yang
dialami remaja karena banyak sekali aspek kehidupan mereka yang masih diatur oleh orangtua,
meski banyak diantara mereka yang sudah berusia lebih dari 17 tahun. Salah satu contohnya
adalah dalam hal pemilihan jurusan/fakultas ketika masuk sekolah/Perguruan Tinggi. Dalam hal
ini masih banyak ditemui orangtua yang sangat ngotot untuk memasukkan putra/putrinya ke
jurusan yang mereka kehendaki meskipun anaknya sama sekali tidak berminat untuk masuk ke
jurusan tersebut. Akibatnya remaja tersebut tidak memiliki motivasi belajar, berkehilangan
gairah untuk sekolah dan tidak jarang justru berakhir dengan Drop Out dari sekolah tersebut.
, Mencermati kenyataan tersebut, peran orangtua sangatlah besar dalam proses pembentukan
kemandirian seorang. Orangtua diharapkan dapat memberikan kesempatan pada anak agar dapat
mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, belajar mengambil inisiatif, mengambil
keputusan mengenai apa yang ingin dilakukan dan belajar mempertanggungjawabkan segala
perbuatannya. Dengan demikian anak akan dapat mengalami perubahan dari keadaan yang
sepenuhnya tergantung pada orang tua menjadi mandiri.

KEMANDIRIAN
, menurut Sutari Imam Barnadib (1982), meliputi "perilaku mampu berinisiatif, mampu
mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri
tanpa bantuan orang lain. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Kartini dan Dali (1987) yang
mengatakan bahwa kemandirian adalah hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri
sendiri. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kemandirian mengandung pengertian:
1 Suatu keadaan dimana seseorang yang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan
dirinya,
2 Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi,
3 Memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya

4 Bertanggungjawab tetrhadap apa yang dilakukannya


, Robert Havighurst (1972) menambahkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu:
1 Emosi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya
kebutuhan emosi dari orang tua
2 Ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantungnya
kebutuhan ekonomi pada orang tua.
3 Intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang
dihadapi.
4 Sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang
lain dan tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.

, Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif selama
perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi
berbagai situasi di lingkungan, sehingga individu pada akhirnya akan mampu berpikir dan
bertindak sendiri. Dengan kemandiriannya seseorang dapat memilih jalan hidupnya untuk dapat
berkembang dengan lebih mantap.
, Untuk dapat mandiri seseorang membutuhkan kesempatan, dukungan dan dorongan dari
keluarga serta lingkungan di sekitarnya, agar dapat mencapai otonomi atas diri sendiri. Pada saat
ini peran orang tua dan respon dari lingkungan sangat diperlukan bagi anak sebagai penguat
untuk setiap perilaku yang telah dilakukannya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Reber
(1985) bahwa : kemandirian merupakan suatu sikap otonomi dimana seseorang secara relatif
bebas dari pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang lain.

CARA ORANG TUA MENYIKAPI


Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Di
dalam keluarga, orangtualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu
mengarahkan anak untuk menjadi mandiri. Mengingat masa anak-anak dan remaja merupakan
masa yang penting dalam proses perkembangan kemandirian, maka pemahaman dan kesempatan
yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya dalam meningkatkan kemandirian amatlah

krusial. Meski dunia pendidikan (sekolah) juga turut berperan dalam memberikan kesempatan
kepada anak untuk mandiri, keluarga tetap merupakan pilar utama dan pertama dalam
membentuk anak untuk mandiri.
, Bagaimana orangtua harus bertindak dalam menyikapi tuntutan kemandirian seorang remaja,
berikut ini terdapat beberapa saran yang layak Bapak/Ibu pertimbangkan:
1. , Komunikasi. Berkomunikasi dengan anak merupakan suatu cara yang paling efektif untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tentu saja komunikasi disii harus bersifat dua arah,
artinya kedua belah pihak harus mau saling mendengarkan pandangan satu dengan yang lain.
Dengan melakukan komunikasi orangtua dapat mengetahui pandangan-pandangan dan kerangka
berpikir anaknya, dan sebaliknya anak-anak juga dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh
orangtuanya. Kebingungan seperti yang disebutkan diatas mungkin tidak perlu terjadi jika ada
komunikasi antara remaja dengan orangtuanya. Komunikasi disini tidak berarti harus dilakukan
secara formal, tetapi bisa saja dilakukan sambil makan bersama atau selagi berlibur sekeluarga.
2. Kesempatan. Orangtua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak remajanya untuk
membuktikan atau melaksanakan keputusan yang telah diambilnya. Biarkan remaja tersebut
mengusahakan sendiri apa yang diperlukannya dan biarkan juga ia mengatasi sendiri berbagai
masalah yang muncul. Dalam hal ini orangtua hanya bertindak sebagai pengamat dan hanya
boleh melakukan intervensi jika tindakan sang remaja dianggap dapat membahayakan dirinya
dan orang lain.
3. [Link] terhadap segala tindakan yang diperbuat merupakan kunci
untuk menuju kemandirian. Dengan berani bertanggungjawab (betapapun sakitnya) remaja akan
belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang memberikan dampak-dampak negatif (tidak
menyenangkan) bagi dirinya. Dalam banyak kasus masih banyak orangtua yang tidak menyadari
hal ini. Sebagai contoh: dalam kasus remaja yang ditahan oleh pihak berwajib karena terlibat
tawuran, tidak jarang dijumpai justru orangtua lah yang berjuang keras dengan segala cara untuk
membebaskan anaknya dari tahanan, sehingga anak tidak pernah memproleh kesempatan untuk
bertanggungjawab atas perilaku yang diperbuatnya (bahkan tidak sempat melewati pemeriksaan
intensif pihak berwajib). Pada kondisi demikian maka remaja tentu saja tidak takut untuk berbuat
salah, sebab ia tahu orangtuanya pasti akan menebus kesalahannya. Kalau begini terus, kapan
dong anak bisa bertanggungjawab atas segala perbuatannya dan mampu mandiri?
4. Konsistensi. Konsistensi orangtua dalam menerapkan disiplin dan menanamkan nilai-nilai
kepada remaja dan sejak masa kanak-kanak di dalam keluarga akan menjadi panutan bagi remaja
untuk dapat mengembangkan kemandirian dan berpikir secara dewasa. Orangtua yang konsisten
akan memudahkan remaja dalam membuat rencana hidupnya sendiri dan dapat memilih berbagai
alternatif karena segala sesuatu sudah dapat diramalkan olehnya.

, Mungkin masih terdapat banyak cara lain yang patut dipertimbangkan dalam meningkatkan
kemandirian sang remaja agar menjadi pribadi yang utuh dan dewasa. Satu hal yang perlu kita
ingat adalah: "Jika kita dapat mengasuh dan membimbing anak untuk bisa mandiri melalui
keluarga, mengapa kita tidak melakukan berbagai upaya untuk mewujudkannya mulai dari
sekarang". Negara ini sudah penuh dengan berbagai ketergantungan pada pihak lain, maka
jangan lagi kita membangun generasi baru yang juga penuh dengan ketergantungan dan menjadi
beban keluarga.

MENTAULADANI KEMANDIRIAN SITI KHADIJAH


Ketika melihat kenyataan bahwa perempuan sampai sekarang ini masih dililit
berbagai penderitaan: kemiskinan, objek kekerasan bagi kaum laki-laki, dan sulitnya mengakses
ruang publik, membuat perasaan penulis resah.
Tengok saja, kemiskinan perempuan dalam kesempatan untuk mengakses pendidikan, kesehatan,
atau pun perekonomian masih lemah. Keadaan di atas tentu membuat perempuan sangat
tergantung pada pihak yang memiliki akses dan kekayaan dan tidak bisa memutus kekerasan
yang menimpa pada dirinya.
Untuk menuntaskan problem klasik perempuan itu, maka kata kuncinya tak lain adalah
kemandirian ekonomi perempuan. Atau dalam bahasa sederhananya, perempuan pun harus
memiliki usaha yang bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Selain kemandirian ekonomi,
kemandirian politik, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk agama dan sekian
kemandirian yang lain bisa menguatkan posisi perempuan di dalam terpaan problem kehidupan.
Khadijah adalah salah satu tauladan yang luar biasa bagi kita. Ia perempuan kaya yang
mengelola sendiri perusahaannya. Dengan kemandirian ekonominya, ia menjadi pribadi
perempuan yang dapat lebih bebas mendukung syiar nabi Muhammad SAW. Di zaman sekarang,
potret Khadijah sebenarnya dapat ditemui di sekitar kita.
Tetapi jumlahnya sangat kecil. Perempuan-perempuan itu banyak yang masuk di sektor usaha
mikro, kecil, dan menengah dan juga sektor informal. Kelompok usaha kecil dan menengah di
Indonesia mencakup 99 % dari seluruh usaha di Indonesia. Dan dari 99 % di atas, 35 % UKM
skala kecil dan menengah di gerakan oleh perempuan (dari berbagai sumber). Ya, merekalah
Khadijah zaman kini.
Di tingkat desa dan kota, sudah ada potret perempuan-perempuan yang mandiri. Mereka

biasanya memiliki usaha-usaha kecil seperti dagang telur asin, toko kelontong dan sayur-mayur
dan sekian sektor lainnya. Untuk bentuk solidaritas atas sesama dan niat untuk membesarkan
usaha mereka, biasanya mereka berkumpul untuk berorganisasi.
Di sinilah mereka membentuk koperasi simpan pinjam, arisan, pengajian, saling menginfokan
usaha mereka dan menyuplai (menjual hasil usahanya) kebutuhan masing-masing anggota
terutama ketika ada hajatan, bertukar pendapat soal hambatan usaha, dan kegiatan ekonomi
produktif lainnya.
Untuk menjadi mandiri dalam hal ekonomi, memang banyak faktor yang menghalangi. Faktor
budaya selama ini melihat kemandirian ekonomi perempuan sebagai hal yang tidak
menguntungkan laki-laki. Dengan pemahaman lain, jika perempuan mandiri, perempuan bisa
membangkang terhadap suami. Tentu saja alasan ini tidaklah pas. Apakah Khadijah justru
membangkang nabi dengan kekayaannya? Tidak, Khadijah menjadi pendonor dan pelindung
nabi ketika semua orang menentangnya. Ia juga yang pertama meyakini ajaran nabi Muhammad.
Justru kemandirian ekonomi perempuan bisa membuat siklus kebutuhan (pendapatan dan
pengeluaran) rumah tanga tidak terlalu terganggu jika salah satu sumber pendapatan terputus,
semisal suami di PHK atau usaha suami sedang gulung tikar atau pun ketika suami meninggal
dunia.
Faktor penghambat yang lain adalah berbelitnya administarasi pengurusan izin usaha, susahnya
mendapatkan akses modal atau perkreditan untuk usaha kecil, minimnya skill managemen, akses
pasar, tidak terlibat dalam pembuatan kebijakan, dan sekian problem yang lain. Saat ini,
problem-problem ini sudah banyak diatasi oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan
pemerintah.
Berbelitnya administrasi diatasi dengan perizinan satu atap dan mekanisme lain yang ramah
terhadap perempuan pengusaha oleh pemerintah. Sulitnya modal kecil diatasi oleh banyak pihak
yang memberikan pinjaman modal usaha bagi para pengusaha kecil. Adaya mekanisme dana
bergulir dan sekian sistem permodalan yang sudah sangat membantu.
Selain itu banyak juga LSM yang memfasilitasi forum-forum yang mengupas bagaimana
penggalangan (mencari) dana bagi usaha kecil. Pelatihan untuk keterampilan managemen,
pelatihan advokasi kebijakan yang terkait dengan problem-problem yang dihadapi oleh para
pengusaha kecil, pelatihan teknik-teknik lobi yang efektif, pengembangan usaha, pembukuan,
memperkenalkan mekanisme dana bergulir, mendorong agar perempuan memformalkan
usahanya dan mendaftarkan usahanya atas namanya sendiri, bukan nama suaminya, membuka
tempat konsultasi usaha, dan sekian pelatihan serta advokasi (pembelaan) yang lain guna
mendukung kemandirian perempuan.
Soal akses pasar, ada organisasi Forda UKM Maros di Sulawesi yang berhasil mengadvokasi
pedagang-pedagang kecil untuk bisa membuka kios di bandara sehingga mereka bisa

mendapatkan akses langsung dari para pengunjung dari luar Sulawesi Selatan.
Berbicara soal kemandirian, Allah pun juga mendorong agar laki-laki dan perempuan juga samasama memiliki kemandirian dan pendapatan. Karena dengan pendapatan yang di milikinya, ia
pun bisa beramal (membantu sesamanya) dengan mandiri dan lebih baik. Karena amal
(sumbangan) yang dikeluarkan oleh suami akan dicatat sebagai amal suami, bukan amalnya sang
istri. Begitu juga sebaliknya.
Dan tanggung jawab untuk mewujudkan kehidupan yang baik dengan melakukan kerja-kerja
postitif adalah kewajiban suami dan istri seperti yang disampaikan dalam Q.S. An Nahl, 16: 97.
Selain itu, seruan atas kemandirian ekonomi perempuan juga disampaikan Allah dalam Q.S. AnNisa, 4:21, Bagaimana kamu (tega) mengambilnya (harta istri dari mahar) padahal diantara
kamu sudah berhubungan intim, dan mereka (istri-istri) telah menerimanya (mahar) dari kamu
sekalian melalui perjanjian (pernikahan) yang kokoh. Hayo tunggu apa lagi, saatnya kini
perempuan modern harus mandiri seperti Khadijah.

Tips Menjadi Remaja Yang Baik dan Mandiri


December 3rd, 2011 ajat 0 Comments
Sekedar ngasih info saja ke Agan agan sekalian tentang menjadi remaja yang mandiri, semoga
bermanfaat ya gan ?
Mempersiapkan Diri Menjadi Remaja Mandiri.

Daftar pengangguran tingkat usia produktif / remaja akhir ini semakin meningkat.
Dan tanggug jawab kita sebagai remaja adalah tidak menambah angka pengangguran tersebut.
Di zaman sekarang, sangat penting, bahkan mendesak, bagi kita para remaja memiliki
pengetahuan cara mengelola dan memahami dunia keuangan secara nyata. Kita bakal
menghadapi tantangan keuangan begitu kita meninggalkan tempat aman kita: rumah / orang tua
kita.
Berikut ini tips untuk kita dalam mempersiapkan diri menjadi Remaja mandiri dalam mengelola
keuangan :
Etika
- Mengembangkan karakter bermoral tinggi, otomatis akan membantu kita remaja untuk
berusaha memperoleh pendapatan, menjadi calon pekerja lebih baik dan secara keseluruhan
menjadi pribadi baik yang dihormati. Dalam masyarakat saat ini, menjadi warga yang dihormati
komunitas dengan baik akan membantu mendapat posisi mandiri secara keuangan. Mereka yang
sejahtera sekaligus dihormati banyak orang adalah mereka yang punya standar moral tinggi.
Komunikasi
-Komunikasi merupakan hal utama untuk remaja mandiri, karena cara berkomunikasi tertulis
dan verbal yang efektif akan memberikan kekuatan untuk mengajak orang lain untuk bekerja
sama. Dan cara berkomunikasi juga akan membantu kita agar tampak lebih di antara yang lain
dan itu akan memudahkan kita promosi.
Pola Pikir Sehat
-Semua hal berbau negatif akan menyulitkan kita dalam segala hal hidup dan dapat merusak
kesempatan kita mencapai kemandirian dalam keuangan. Tips ini akan memotivasi dan
membantu Kita menambah rasa percaya diri yang dibutuhkan untuk berhasil. Studi menunjukkan
bahwa sikap positif akan menarik hal-hal positif di sekitar. Jadi mari kita berusaha
mengembangkan pikiran yang akan membantu diri kita menjadi sosok lebih dewasa dan
bertanggung jawab secara keuangan.
Pendidikan
-Di dalam kehidupan era masa sekarang ini. Sejauh kita memandang maka harus sejauh itulah

kita harus memperlengkapi diri kita dengan berbagai pendidikan. Kita jangan salah memahami
bahwa pendidikan diperoleh dengan cara menempuh jalur formal saja, dengan cara datang,
duduk, mendengar dan selanjutnya hingga akan memperoleh penghargaan dari test yang sudah
dilewati.
Pendidikan dapat diperoleh dengan berbagai cara terlebih lagi semakin mendukungnya
perkembangan alat-alat elektronika sekarang ini. Dengan mudah kita memperoleh informasi
tentang perkembangan zaman baik dari belahan bumi barat terlebih lagi dari negara tetangga.
Ilmu pengetahuan, keterampilan, pendidikan merupakan unsur dasar yang menentukan kecekatan
seseorang berpikir tentang dirinya dan lingkungannya. Seseorang yang mampu mengubah
dirinya menjadi lebih baik diharapkan mampu mengubah keluarganya.
Hasrat
-Saling bantu sesama remaja dalam menemukan dan mengikuti hasrat kita. Tentu yang bersifat
positif. Untuk lebih percaya diri bagaimana mengubah hasrat menjadi menjadi karir yang bisa
memenuhi kebahagian dan kebutuhan keuangan.
Hasrat di sini ialah ketika kita cinta apa yang ia lakukan, kita tidak merasa seperti beban kerja
sehingga bisa melakukannya dengan baik dalam bidang apapun. Dengan memahami mimpi kita,
kita akan lebih paham kemana kita akan melangkah ke tingkat lebih tinggi, yang sekaligus
membantu kita remaja mengembangkan kemampuan.
Kemampuan Mengorganisir
-Mencapai kemandirian keuangan saat usia muda akan sangat dipermudah bila anak memiliki
perilaku teroganisir. Contoh, ajak mereka memiliki jadwal terorganisir, ruang dan hidup mereka
akan memberi keuntungan bagi mereka. Melakukan hal itu sama dengan membuka celah bagi
remaja menggapai potensial tertinggi mereka.

Anda mungkin juga menyukai