0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
183 tayangan24 halaman

Perbedaan Konseling dan Bimbingan Kelompok

Dokumen tersebut membahas tentang pendekatan kelompok dalam psikologi klinis. Pendekatan kelompok merupakan salah satu metode yang banyak digunakan karena lebih efektif dan mengandung banyak faktor kuratif. Yalom mengidentifikasi sebelas faktor kuratif utama dalam pendekatan kelompok interaksional termasuk harapan, universalitas, penerangan, altruisme, dan faktor-faktor eksistensial. Tujuan mak

Diunggah oleh

nunufadhil
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
183 tayangan24 halaman

Perbedaan Konseling dan Bimbingan Kelompok

Dokumen tersebut membahas tentang pendekatan kelompok dalam psikologi klinis. Pendekatan kelompok merupakan salah satu metode yang banyak digunakan karena lebih efektif dan mengandung banyak faktor kuratif. Yalom mengidentifikasi sebelas faktor kuratif utama dalam pendekatan kelompok interaksional termasuk harapan, universalitas, penerangan, altruisme, dan faktor-faktor eksistensial. Tujuan mak

Diunggah oleh

nunufadhil
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada aras mikro, psikoterapi dan koseling menjadi modal utama saat
melakukan tindakan sesuai dengan hasil pengiraan terhadap persoalan yang dihadapi
perorangan. Setiap konseling atau psikoterapi adalah suatu proses kompleks. Banyak
faktor mempengaruhinya. Faktor-faktor itu antara lain faktor konselor atau terapis,
metode atau teknik yang digunakan, dan karakteristik klien yang dihadapi.
Pendekatan kelompok adalah salah satu metode yang banyak digunakan dalam aras
mikro. Selain lebih efektif karena mencakup banyak klien pada satu sesi, pendekatan
kelompok juga berguna banyak faktor kuratif di dalamnya. Profesional, teknik atau
metode serta karakteristik klien adalah komponen penting dalam proses psikoterapi
dan konseling.
Beutler dan Goldstein & Stein dalam Prawitasari (2011) melakukan banyak
penelitian dalam memadankan profesional, teknik dan karakteristik klien dalam
konseling dan psikoterapi. Beutler mengembangkan psikoterapi ekletik dan Goldstein
& Stein mengembangkan psikologi resepan (prescriptive psychotherapies).
Pendekatan kelompok sangat menekankan metode yang digunakan. Salah satu
metode yang banyak digunakan adalah pendekatan interaksional yang dikembangkan
oleh Yalom dalam Prawitasari (2011) .
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan permasalahan dalam makalah ini
adalah pendekatan kelompok dalam Psikologi Klinis?
C. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana pendekatan
kelompok dalam psikologi klinis.

BAB II
A. Pendekatan Kelompok
Pendekatan kelompok adalah salah satu metode yang banyak digunakan
dalam aras mikro. Selain lebih efektif karena mencakup banyak klien pada satu sesi,
pendekatan kelompok juga berguna banyak faktor kuratif di dalamnya. Profesional,
teknik atau metode serta karakteristik klien adalah komponen penting dalam proses
psikoterapi dan konseling. Beutler dan Goldstein & Stein dalam Prawitasari (2011)
melakukan banyak penelitian dalam memadankan profesional, teknik dan
karakteristik klien dalam konseling dan psikoterapi. Beutler mengembangkan
psikoterapi ekletik dan Goldstein & Stein mengembangkan psikologi resepan
(prescriptive psychotherapies). Pendekatan kelompok sangat menekankan metode
yang digunakan. Salah satu metode yang banyak digunakan adalah pendekatan
interaksional yang dikembangkan oleh Yalom dalam Prawitasari (2011) .
Menurut Yalom ada sebelas kategori utama yang merupakan faktor-faktor
kuratif di dalam konseling kelompok. Selain faktor faktor kuratif dalam konseling
kelompok, peran pemimpin juga sangat krusial. Untuk itu dibutuhkan pengetahuan,
pengalaman dan keterampilan yang adekuat dari pemimpin konseling kelompok.
B. Faktor-Faktor Kuratif
Sebelas faktor kuratif yang dikemukakan oleh Yalom (dalam Prawitasari,
2011)

dalam pendekatan kelompok interaksional adalah: pembinaan harapan,

universalitas,

penerangan,

altruisme,

pengulangan korektif keluarga asal,

pengembangan teknik sosialisasi, peniruan tingkah laku, belajar berhubungan dengan


pribadi lain, rasa kebersamaan, katarsis, dan faktor-faktor eksistensial.
Kesebelas faktor kuratif itu tidak berdiri sendiri-sendiri dalam proses
konseling atau terapi, tetapi berkaitan erat satu sama lainnya. Satu faktor tidak dapat

dipisahkan satu sama lainnya untuk keberhasilan proses konseling atau terapi yang
menggunakan pendekatan kelompok interaksional. Selain kesebelas faktor tersebut
Butler dan Fuhrman (dalam Prawitasari, 2011) menyebutkan satu faktor lagi, yaitu
pengertian diri. Kedua peneliti ini menemukan bahwa ada tiga faktor yang secara
konsisten muncul di dalam pendekatan kelompok untuk pasien rawat jalan. Ketiga
faktor kuratif tersebut adalah pengertian diri, katarsis, dan belajar berhubungan
dengan pribadi lain sebagai input. Faktor keempat yang juga dinilai tinggi adalah
kohesivitas atau rasa kebersamaan. Kebersamaan sangat penting dalam terapi
kelompok untuk pasien rawat inap. Selain 11 faktor kuratif, ada faktor eksistensial
yang biasa muncul dan sangat berarti didiskusikan oleh anggota kelompok.
Dernikian pula pemahaman diri merupakan hasil penting pendekatan kelompok.
Untuk jelasnya berikut uraian faktor- faktor kuratif tersebut.
1. Pembinaan Harapan
Seperti juga pada tiap tindakan psikologis, pembinaan dan pemeliharaan
harapan sangat penting. Harapan klien untuk berubah akan membuatnya tetap berada
dalam kelompok. Kepercayaannya ini akan membawanya pada perubahan yang lebih
memuaskan. Tugas profesional adalah terus-menerus menjaga agar harapan tiap
anggota terpenuhi selama proses kelompok. Termasuk pembinaan harapan yaitu
anggota akan saling mendukung agar semua tetap berada dalam kelompok sampai
terapi selesai Dalam pendekatan kelompok. Kesaksian seorang anggota tentang
bertambah baiknya cara penyesuaian diri anggota lain akan menambah keyakinan
dirinya bahwa ia juga akan memperoleh hasil serupa. Tugas profesional adalah
mengungkapkan hal ini ke seluruh anggota dengan cara setiap kali mengarahkan
perhatian mereka pada perubahan positif yang telah mereka alami.
Biasanya anggota kelompok itu sendiri yang akan meyakinkan akan
manfaat konseling atau terapi kelompok pada anggota baru yang merasa kurang yakin
atau kurang percaya. Tidak kalah pentingnya bagi profesional untuk memperlihatkan
keyakinan dirinya akan efektivitas kelompoknya pada anggota.

Pada pertemuan

pertama dengan setiap anggota, profesional perlu mengemukakan keyakinannya ini


dan ia perlu menyebarkan rasa optimisnya pada mereka. Jangan sampai rasa skeptis

yang ada paa profesional mempengaruhi kelompok yang ditanganinya.

Ia perlu

belajar untuk optimis dan mempunyai rasa positif terhadap kelompok dan pendekatan
yang digunakannya. Rasa ini akan menambah keyakinan anggota kelompok terhadap
kelompyytok dan dirinya sendiri.
2. Universalitas
Banyak klien datang ke kelompok dengan pikiran bahwa masalah yang
dihadapinya adalah unik atau hanya diderita olehnya. Juga terkadang klien merasa
bahwa ia sendiri saja yang mempunyai masalah berat, pikiran, fantasi, dan impuls
buruk.

Keunikan yang dirasakan oleh klien ini biasanya disebabkan oleh

kesendiriannya dan terisolasinya dia dari hubungan yang dekat dengan seseorang
yang bisa diandalkan untuk mendukung ataupun menolak rasa keunikannya tersebut.
Dalam pendekatan kelompok, terutama pada pertemuan awal, tidak didukungnya
rasa unik tersebut merupakan sumber yang kuat untuk klien merasa lega. Setelah
mendengar bahwa anggota lain juga mempunyai masalah, pikiran, impuls yang
senada, klien akan merasa bahwa ia tidak sendiri dalam penderitaannya. Biasanya
manusia khawatir apabila orang lain mengetahui diri mereka yang sesungguhnya.
Di dalam konseling kelompok kekhawatiran ini dapat dikomunikasikan
dengan anggota lain dan ternyata orang lain juga mempunyai kekhawatiran serupa,
sehingga mereka belajar saling menerima apa adanya. Kesamaan dalam masalah
berikut kekhawatiran yang timbul dan penerimaan penuh dari seluruh anggota yang
disertai kelegaan emosional disebut universalitas.

Perasaan senasib ini akan

meningkatkan rasa bersatu di dalam kelompok yang tentunya juga akan


meningkatkan kepercayaan terhadap kelompok. Pengalaman ini merupakan faktor
kuratif yang sangat spesifik dalam pendekatan kelompok dan tidak ditemukan dalam
konseling individual.
3. Penerangan
Penerangan yang bersifat didaktis dapat dilakukan oleh profesional
ataupun anggota dalam kelompok. Penerangan dapat meliputi cara belajar, cara
menumbuhkan kepercayaan diri,

topik kesehatan mental,

penyakit mental,

psikodinamika umum yang diberikan oleh profesional. Demikian pula nasihat, saransaran,

bimbingan langsung mengenai masalah kehidupan dapat diberikan oleh

profesional ataupun anggota lain. Berbagai instruksi didaktis dapat digunakan untuk
4

memberikan informasi, menyusun kelompok, maupun membentuk norma kelompok.


Seringkali faktor ini dapat digunakan sebagai pengikat di dalam kelompok sampai
faktor faktor lain berjalan.
Penerangan penting dilakukan di dalam kelompok baik pada awal
pertemuan maupun selama pertemuan berlangsung.

Sering terjadi pemimpin

kelompok harus menerangkan suatu gejala yang muncul di dalam kelompok ataupun
gejala yang dialami anggota. Ia dapat menggunakan pengetahuannya akan
psikopatologi ataupun dinamika kelompok dalam menerangkan gejala yang muncul
tersebut. Informasi tentang prinsip-prinsip kesehatan mental umum banyak berguna
dalam kelompok. Cara berkomunikasi, terutama memberikan umpan balik, banyak
bermanfaat untuk kelompok. Penerangan dalam tindakan psikoedukasi dalam
kelompok betul-betul efektif.
Hanya saja belum diketahui dampak jangka panjang intervensi tersebut.
Validitas eksternal pendekatan tersebut pada dasarnya masih dipertanyakan.
4. Altruisme
Kelompok merupakan tempat untuk melatih klien menerima dan memberi.
klien dengan masalah emosi berat biasanya datang ke kelompok dengan moril rendah
dan memiliki perasaan bahwa ia tidak mempunyai sesuatu untuk diberikan. Ia telah
lama menganggap dirinya sebagai beban keluarga.

Di dalam kelompok ia

menemukan bahwa ia dapat berperan penting untuk orang lain.

Hal ini dapat

menambah rasa berharga, sehingga akan meningkatkan harga dirinya. Dalam proses
kelompok dengan sendirinya antar- anggota akan saling menolong.

Mereka

menawarkan dukungan, memberikan keyakinan, saran-saran, pencerahan, dan saling


berbagi masalah serupa. Tidak jarang klien akan lebih bersedia dan siap
mendengarkan dan menyerap pengamatan anggota lain daripada umpan balik
profesional.
Kebahagiaan dalam memberi akan membuat seseorang lebih menghargai
dirinya sendiri sehingga dapat pula menumbuhkan keyakinan dirinya. Hal ini sangat
penting bagi perkembangan pribadinya. Altruisme juga merupakan faktor kuratif
yang khusus dalam pendekatan kelompok. Itu tidak akan dijumpai dalam pendekatan
individual Sering terjadi seseorang yang telah mencapai tujuan dalam kelompok tetap
berada di kelompok demi anggota lainnya Profesional harus peka dalam hal ini
5

karena kadang-kadang anggota yang tidak membutuhkan kelompok akan tidak hadir
dan kohesivitas kelompok dapat terganggu. Tugas menjaga supaya altruisme ini
berkembang di antara anggota kelompok.
5. Pengulangan Korektif Keluarga Asal
Dalam pendekatan kelompok biasanya ada dua ko-profesional yang
memandu kolompok. Tanpa disadari atau diharapkan, klien akan menganggap kedua
profesional yung biasanya laki-laki dan perempuan,

sebagai orang tuanya dan

anggota lain sebagai saudara-saudaranya. Keadaan seperti ini akan selalu terjadi
apalagi untuk klien yang mempunyai kekecewaan mendalam terhadap keluarga
asalnya. Akan terjadi pula rasa persaingan di antara anggota kelompok.
Pendekatan kelompok, yang dalam banyak hal hampir sama dengan
susunan keluarga asal,

merupakan kesempatan bagi anggota untuk mengulangi

konfli- konflik yang dialami ketika kecil secara singkat. Akan tetapi pengalaman ini
akan berbeda karena sikap profesional dan anggota lain tidak sama dengan keluarga
asalnya dulu. Hal ini memberi kesempatan klien untuk mencoba tingkah lakunya
yang baru dalam hubungannya dengan orang lain. Untuk banyak klien, penyelesaian
masalah dengan profesional ataupun dengan anggota lain merupakan pemecahan
masalah yang tak terselesaikan di masa lalu Dalam kelompok seperti ini, ada gejala
anggota yang dominan sehingga membua anggota lain kesal. Ada yang tidak
menghiraukan aturan main yang ada sehingga ia tidak disukai anggota lainnya.
Persaingan di antara anggota untuk memperoleh perhatian profesional juga sering
lerlihat jelas. Ada yang banyak mengeluh dan ingin keluhannya tersebut diatasi oleh
profesional. Inilah fenomena yang banyak terjadi di kelompok. Bagaimana seorang
profesional menggunakannya untuk kepentingan kelompok merupakan keterampilan
tersendiri.
6. Pengembangan Teknik Sosialisasi
Kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain sangat penting bagi
semua orang. Pendekatan kelompok memberi kesempatan pada klien untuk belajar
berhubungan baik dengan orang lain. Umpan balik dari anggota lain akan
monolongnya untuk mengubah sikapnya yang kurang menguntungkan dan akan
membawanya ke perbaikan. Anggota lama biasanya telah memperoleh keterampilan
sosial. Mereka biasanya sangat peka pada proses kelompok dan telah belajar untuk
6

menanggapi anggota lain. Mereka juga telah belajar untuk menyelesaikan konflik,
sehingga mereka lebih mau mengerti dan memahami masalah orang lain. Banyak
anggota hanya diam tanpa mau berperan-serta dalam kegiatan kelompok. Kalau ini
tidak diungkapkan di dalam kelompok, anggota tersebut tidak akan memperoleh
manfaat kelompok. Untuk itu, sejak awal mereka yang kurang aktif harus didorong
untuk lebih menikmati kegiatan di kelompok.
7. Peniruan Tingkah Laku
Tidak jarang klien meniru profesional dalam cara mereka bicara, jalan,
duduk, ataupun mungkin cara profesional berpikir. Di dalam kelompok, proses
peniruan ini lebih menyebar karena mereka bisa meniru anggota lain selain
profesional yang memandu kelompok. Seringkali klien memperoleh manfaat dari
pengamatannya pada proses kelompok. Ia memperoleh manfaat dari klien yang
mempunyai masalah serupa dengannya.

Meskipun tingkah laku yang ditiru itu

kadang-kadang hanya sebentar dilakukan, tetapi paling tidak klien telah mencoba
dan menerapkannya untuk dirinya. Mungkin tingkah laku tersebut cocok dan terus
diperlihatkannya, atau kurang cocok baginya dan lalu ditinggalkannya. Peristiwa ini
merupakan pengaruh proses kelompok yang mantap, yaitu menemukan dan memilah
tidak dipunyai dan apa yang dipunyai sehingga dapat memperbaikinya.
8. Belajar Berhubungan dengan Pribadi Lain
Kelompok merupakan mikrokosmik sosial. Bagaimana
berhubungan

dengan

orang

lain

dalam

kelompok

seseorang

mencerminkan

caranya

berhubungan dengan orang lain di luar kelompok. Jika seseorang dapat mengubah
caranya berinteraksi di dalam kelompok, diharapkan bahwa ia akan berubah di luar
kelompok. Seorang klien yang dulunya menunjukkan sika tidak acuh,

yang

sesungguhnya disebabkan oleh perasaan takut ditolak, menjadi orang yang penuh
perhatian pada anggota lain setelah ia mengkomunukasikan perasaannya di dalam.
Ketakutan tersebut tidak berdasar setelah memperoleh umpan balik dari profesional
dan anggota lain.
Pengalaman emosi terkoreksi (corrective emotional experience) diperoleh
anggota ketika mereka mencoba mengekspresikan perasaannya yang positif dan
negatif. Tanggapan anggota pada pengekspresian emosi ini sangat berbeda dari yang
dibayangkannya semula. Pengalaman emosi terkoreksi ini mempunyai beberapa
7

komponen. Pertama adalah ekspresi emosi kuat yang ditujukan pada orang lain dan
ini merupakan pengambilan risiko bagi klien. Kedua adalah kelompok mendukung
dan mengizinkan pengambilan risiko ini. Ketiga adalah menilai kenyataan yang
membolehkan klien menguji peristiwa itu dengan bantuan validasi kompa dari
seluruh anggota Keempat adalah pengenalan perasaan yang tidak pada tempatnya dan
tingkah laku antarpribadi yang biasa dihindarinya. Terakhir adalah kesempatan bagi
individu untuk berinteraksi secara lebih mendalam dan jujur. Pengalaman emosi
terkoreksi ini merupakan faktor kuratif yang ada pada setiap tindakan psikologis. Itu
bukan milik pendekatan kelompok saja.
9. Rasa Kebersamaan
Kebersamaan atau cohesiveness dapat diberi batasan sebagai rasa tertarik
anggota pada kelompok dan pada anggota lain. Rasa kebersamaan atau rasa bersatu
ini membuat anggota kelompok lebih mau menerima satu sama lainnya. Mereka
lebih saling mendukung dan lebih cenderung membentuk hubungan yang berarti di
dalam kelompok. Untuk dapat menerima dan mengerti, anggota akan cenderung
mengekspresikan dirinya dan menggali aspek-aspek dirinya yang tidak dapat
diterimanya. Kemudian ia menyadari aspek-aspek tersebut sehingga dapat
berhubungan lebih mendalam dengan orang lain. Rasa bersatu ini menunjang tingkah
laku sosial anggota baik di dalam maupun di luar kelompok.
Kelompok yang rasa bersatunya tinggi adalah kelompok

yang stabil.

Menurut Stokes, Fuehrer and Childs (dalam Prawitasari, 2011), pembukaan diri
mengenai topik-topik yang intim dapat menambah kohesivitas kelompok.

Akan

tetapi, pembukaan diri terlalu tergesa-gesa sebelum kelompok mapan tidak baik bagi
kohesivitas. Pengambilan resiko dalam pembukaan diri menurut penelitian akan
lebih bermanfaat pada kelompok yang telah lanjut. Pembukaan diri dan umpan balik
yang sifatnya positif akan menambah kohesivitas kelompok. Sesungguhnya makin
kohesif suatu kelompok, makin intensif pula pembukaan diri anggotanya.
10. Katarsis
Seperti dalam pendekatan individual, katarsis atau penjernihan yang
sifatnya emosional merupakan salah satu faktor penyembuh di dalam pendekatan
kelompok. Seorang klien datang ke kelompok dengan penuh gejolak emosi. Dalam
kelompok ia dapat mengekspresikan emosi tersebut dengan bantuan profesional
8

ataupun anggota lain. Penerimaan, dukungan, dan pengertian dari seluruh kelompok
sangat penting artinya bagi klien tersebut sewaktu emosi yang bergejolak tadi
diekspresikannya. Juga penghayatan emosi atau pengekspresian emosi pada
profesional ataupun anggota lain merupakan katarsis yang dapat menyembuhkan.
Katarsis dalam pendekatan kelompok lebih dapat terjadi karena adanya anggota lain.
Ia akan memperoleh banyak dukungan ketika ia mengemukakan permasalahan yang
dihadapi dengan segala macam dilemanya. Ia akan banyak didengar oleh anggota.
Empati dan simpati yang diterimanya akan banyak memberikan kelegaan baginya.
11. Faktor Eksistensi
Hidup dan mati bukan manusia yang menentukan tetapi merupakan
persoalan baginya. Kadang-kadang hidup ini tidak adil dan tidak seimbang. Manusia
tidak bisa melarikan diri dari penderitaan dan dari kematian Meskipun manusia dekat
dengan seseorang tetapi akhirnya ia harus menghadapi kematian sendiri.
Manusia harus bertanggung jawab terhadap kehidupan yang dipilih
meskipun ia mendapatkan bimbingan ataupun dukungan dari orang lain. Menghadapi
masalah dasar seperti hidup dan mati, sebaiknya manusia menghayati kehidupan ini
dengan penuh kejujuran. dan mengurangi mengurus hal-hal yang kurang penting atau
sepele. Hal-hal tersebut merupakan masalah eksistensi yang selalu dihadapi oleh
manusia. Di dalam kelompok topik seperti itu akan selalu timbul dan didiskusikan.
Tanggapan dan dukungan dari anggota lain akan sangat banyak menolong.
12. Pengertian Diri
Pengertian diri sesungguhnya merupakan hasil pendekatan kelompok.
Setelah anggota berinteraksi di dalam kelompok, mereka mulai mengenal di mereka
sendiri. Melalui umpan balik (feedback) yang diberikan oleh pemimpin, maupun
anggota lain seseorang akan mengerti dirinya sendiri. Juga melalui observasi diri, ia
mulai mengenal aspek-aspek signifikan dalam perilaku antarpribadinya. Ia mulai
mengenal kekuatan, keterbatasan, pelencengan. dan perilakunya yang maladaptive
yang menimbulkan respons respons yang tidak dikehendaki dari orang lain.
Pengertian diri akan membawa dirinya pada perubahan perilaku dalam hubungannya
dengan orang lain. Dengan sendirinya dalam pergaulan nanti ia akan lebih jujur baik
terhadap dirinya maupun terhadap orang lain. Dengan demikian, ia akan lebih dapat
menikmati hidup secara efektif.
9

C. Tipe-tipe Pendekatan Kelompok


Menurut Glassman & Wright (dalam Prawitasari, 2011) ada tiga bentuk atau
tipe kelompok sebgai berikut:
1. Konseling atau terapi dalam kelompok. Bentuk ini adalah pendekatan
individual di dalam kelompok. Pendekatan yang biasa digunakan adalah
psikodinamika, analisis transaksional, ataupun terapi Gestalt. Selama terapi
dilakukan, anggota kelompok lainnya menjadi penyemangat. Melalui
pengamatan, anggota kelompok dapat memperoleh manfaat dari kerja
individu yang sedang mengalami proses terapi.
2. Konseling atau terapi dengan kelompok. Bentuk ini biasanya digunakan di
dalam kelompok temu atau kelompok training. Profesional di dalam
kelompok tipe ini disebut expert participant. Aktivitas yang dilakukan di
dalam kelompok ditentukan oleh anggota. Fokus pendekatan adalah hubungan
antar pribadi dan konflik yang mungkin terjadi adanya proses kelompok.
3. Konsseling atau terapi kelompok. Bentuk ini lebih menekankan pada interaksi
antar anggota. Fokusnya adalah saat ini dan di sini. Budaya dalam kelompok
lebih menekankan pada saling membantu, memberikan dukungan, dan
menunjukkan model perilaku sehat. Pemandu dapat bertindak sebagai
pengamat luar atau outside observer yang dapat memberikan komentar
berdasarkan proses yang terjadi dalam kelompok.
D. Tahap-tahap Tindakan dalam Kelompok
Prawitasari (2011) mengungkapkan bahwa tindakan dalam kelompok
mempunyai beberapa tahap, yaitu:
1. Persiapan
Pada tahap ini konselor atau terapis (disebut juga pemimpin) perlu
mempersiapkan terbentuknya kelompok. Pertama kali yang perlu dilakukan adalah
menerangkan pada calon client tentang konseling atau terapi kelompok yang akan ia
jalani. Di sini pemimpin menerangkan tentang tanggung jawabnya dan tanggung

10

jawab client di dalam kelompok. Kemudian perlu dijelaskan pula tentang proses
kelompok. Dalam hal ini termasuk keuntungan yang diperoleh dengan bergabung
dalam kelompok, jumlah anggota yang diperkirakan akan bergabung, hari dan waktu
dan pertemuan, kemudian tentang seleksi anggota kelompok, apakah berdasarkan
jenis kelamin, usia, maupun masalah yang sama. Selian itu penting pula dikemukakan
tentang kelompok tertutup (anggotanya tetap selama kelompok berlangsung dalam
waktu tertentu) atau terbuka (kelompok setiap saat dapat menerima anggota baru).
Setelah persiapan selesai, selanjutnya adalah pertemuan pertama yang disebut
peran-serta. Di sini, pemimpin perlu melakukan hal-hal berikut:
1.1.

Perkenalan

Pertama kali yang dilakukan adalah memperkenalkan anggota. Caranya bisa dengan
meminta masing-masing anggota memperkenalkan diri mereka, atau perkenalan
dilakukan konselor dengan meyebutkan nama masing-masing anggota. Cara lainnya
adalah dengan meminta setiap anggota memperkenalkan orang disebelah kirinya
setelah diberi waktu untuk berkenalan selama 2 menit, atau perkenalan per pasangan
dimana tiap pasangan saling memperkenalkan diri setelah sebelumnya saling
mewawancarai.
1.2.

Agenda

Setelah anggota saling mengenal, pemimpin memberikan kesempatan anggota untuk


menentukan agenda atau tujuan yang akan dicapai di dalam kelompok. Agenda dapat
dibagi dalam bentuk jangka panjang (tujuan yang ingin dicapai setelah kelompok
selesai) dan jangka pendek (agenda untuk hari itu atau pertemuan itu). Tentu saja
agenda ini sesuai dengan ketidakpuasan yang selama ini dialami oleh anggota yang
diungkapkan dalam bentuk perilaku yang nyata dan perubahan nyata yang akan
dicapai. Contohnya: saya malu berbicara di dalam kelompok. Untuk itu saya akan
berbicara minimal tiga kali tiap pertemuan. Akan sangat bermanfaat apabila
ketidakpuasan yang dialami dikemukakan dalam bentuk skala 0 sampai 10. Hal ini

11

berguna karena skala dari pertemuan pertama, tengah, hingga akhir menunjukkan
kemajuan dan kemunduran yang dialami client.
1.3.

Norma kelompok
Apabila masing-masing anggota telah memiliki agenda, perlu dikemukakan

tentang norma kelompok. Pertama kali yang sangat penting ditekankan adalah
masalah kerahasian. Apapun yang terjadi dalam kelompok tidak boleh dibicarakan
dengan orang lain di luar kelompok. Apabila ingin berbicara dengan orang lain,
dilarang menyebutkan nama. Perlu diingatkan pula tentang kehadiran. Apabila tidak
dapat hadir harus memberitahukan terlebih dahulu. Hal ini penting karena
ketidakhadiran dapat menjadi pertanyaan bagi pemimpin dan anggota kelompok yang
lain. Hal lain yang perlu dibina adalah suasana positif dalam kelompok, seperti aturan
dalam memberikan umpan balik. Kritik yang hanya sekedar untuk memenuhi
dorongan agresivitas pribadi sebaiknya dihindari karena yang lebih penting adalah
pemberian penghargaan pada apa yang telah dilakukan orang lain.
1.4.

Penggalian Ide dan Perasaan


Sebelum pertemuan pertama berakhir perlu digali ide-ide ataupun perasaan

yang muncul. Usul-usul perlu ditampung. Demikian pula perasaan yang mengganjal
perlu diungkapkan. Hal ini penting untuk menjaga rasa positif ddalam kelompok.
Akhir pertemuan ini dapat dipakai sebagai prediksi komitmen client terhadap
kelompok. Client yang merasa tidak memperoleh apa-apa pada pertemuan pertama
biasanya tidak datang lagi.
2. Transisi
Disebut transisi karena pada saat ini merupakan transisi dari konseling awal ke
konseling sesungguhnya. Saat ini biasanya ditandai dengan adanya ketegangan pada
anggota. Mungkin pula timbul resistensi dari anggota. Begitu diketahui dengan jelas
apa yang diharapkan oleh pemimpin dan anggota lain, seseorang dapat ambivalen

12

terhadap keanggotaannya dalam kelompok. Ia merasa enggan untuk membuka diri.


Pada saat inilah dibutuhkan keterampilan pemimpin dalam beberapa hal, yaitu;
2.1.

Kepekaan Waktu

Pemimpin perlu peka terhadap kapan harus mengkonfrontasi anggota atau


memberikan dukungan. Ia perlu peka terhadap kebutuhan anggota saat itu. Apabila
terjadi

ketegangan

dalam

kelompok,

pemimpin

perlu

mengkomunikasikan

observasinya pada saat yang tepat. Hal ini merupakan keterampilan yang tinggi dan
dapat diperoleh dengan pengalaman.
2.2.

Observasi Pola Perilaku

Pemimpin perlu memperhatikan pola perilaku anggota dalam kelompok. Misalnya


pemimpin perlu memperhatikan anggota yang selalu menyita waktu, anggota yang
sangat pasif, anggota yang suka mencela, dan anggota yang sering merasa bersalah.
Pengamatan yang akurat disertai data yang konkret yang dikomunikasikan oleh
pemimpin akan sangat bermanfaat bagi client.
2.3.

Pengenalan Suasana Emosi

Untuk melakukan intervensi, selain ketepatan waktu dan pengamatan yang akurat,
pemimpin perlu mengenalkan suasana emosi di dalam kelompok. Menurut Yalom
(dalam Prawitasari, 2011) suasana emosi dapat dikenal melalui reaksi pemimpin
terhadap suasana di dalam kelompok. Reaksi perasaan pemimpin dapat dipakai
sebagai barometer suasana emosi kelompok.
3. Kerja Kelompok
Kerja kelompok yang sesungguhnya ditandai oleh tingkatan moral yang tinggi
dan rasa memiliki kelompok yang tinggi pula. Anggota mulai memenuhi agenda yang
dikemukakannya. Mereka mulai mengubah perilaku yang kurang memuaskan
ataupun tidak dikehendakinya. Kemudian mereka mulai berlatih dengan perilakunya
yang baru. Interaksi antara anggota-pemimpin mulai berkurang dan interaksi antar

13

anggota mulai meningkat. Pada saat ini pemimpin lebih berperan sebagai pengamat
dan fasilitator.
Dalam pendekatan kelompok untuk orang normal, kerja kelompok sering
dapat terlaksana lebih cepat daripada terapi kelompok untuk client yang memiliki
gangguan emosi berat karena emosi meraka yang tidak stabil. Untuk itu dibutuhkan
kesabaran yang tinggi dari pemimpin apabila akan memimpin kelompok yang
memiliki masalh emosi berat seperti pasien psikotik.
Kerja kelompok biasanya dapat diamati dari proses yang terjadi. Apakah
semua anggota belajar dan berlatih memenuhi agenda pada setiap sesi merupakan
proses kelompok. Demikian pula penyorotan perilaku anggota satu ke anggota yang
lain dapat dilakukan oleh pemandu supaya terjadi refleksi cerminan diri. Selain secara
kualitatif, proses kemajuan kelompok dapat dipantau dengan sejumlah pengukuran
psikometrik yakni CORE Battery Working Group, yang telah direvisi oleh Joyce
(2005). Baterai ini terdiri dari empan bagian yaitu, pengantar, materi yang digunakan
memulai terapi kelompok, pengukuran hasil akhir, dan pengiraan proses kelompok.
4. Terminasi
Untuk mengakiri kelompok dibutuhkan persiapan beberapa minggu
sebelumnya. Dorong tiap anggota untuk mengevaluasi perubahan dan peningkatan
perilaku yang dialaminya selama kelompok berlangsung. Anggota perlu pula
didorong untuk mencoba perilaku barunya diluar kelompok. Tidak kalah pentingnya
untuk mengomunikasikan perasaan dan rekasi yang muncul di dalam diri masingmasing anggota sehubungan dengan diakhirinya kelompok. Terminasi sebaiknya
membuat kesan yang positif bagi anggota, jadi jangan sampai anggota memiliki
sesuatu yang masih mengganjal pada dirinya. Untuk itu perlu diberikan kesempatan
masing-masing anggota untuk mengungkapkan ganjalan-ganjalan sesungguhnya
mereka rasakan selama kelompok berlangsung. Dengan demikian anggota akan
meninggalkan kelompok dengan perasaan lega dan puas.

14

Catatan Tentang Tahapan Pendekatan Kelompok


Tahapan-tahapan dalam kelompok tidak hanya terjadi sepanjang kelompok bertemu,
tetapi tiap pertemuan pun dilalui dengan tahapantahapan tersebut. Tiap pertemuan
akan dimulai dengan pemanasan, yaitu mengkaji apa yang telah dicapai anggota
sampai pada hari itu. Agenda siapa yang telah berhasil dicapai. Apa yang mendorong
mereka untuk berhasil dan apa yang menjadi hambatannya. Kemudian pertemuan
dilanjutkan dengan pemenuhan agenda terutama bagi mereka yang belum berhasil.
Mereka yang telah berhasil dapat memberikan contoh bagaimana mengatasi
keluhannya dan bagaimana cara berhasil. Sebelum pertemuan diakiri,pemandu juga
mengingatkan aggota apa yang telah terjadi dalam kelompok dan apa yang mereka
pelajari tentang dirinya sendiri selama pertemuan berlangsung.
E. Tugas Pemandu Kelompok
Pemandu kelompok mempunyai tugas-tugas yang tidak ringan. Menurut
Yalom (dalam Prawitasasri, 2011) tugas-tugas pemimpin kelompok adalah membuat
dan mempertahankan kelompok, membentuk budaya dalam kelompok dan
membentuk norma-norma dalam kelompok. Untuk jelasnya akan diurai pada
penjelasan dibawah ini.
1. Membuat dan Mempertahankan Kelompok
Pemimpin kelompok mempunyai tugas untuk membuat dan mempertahankan
kelompok. Melalui wawancara awal dengan calon anggota dan melalui seleksi yang
baik, pemimpin membentuk kelompok. Masa mempersiapkan ini mempengaruhi
kelompok. Begitu kelompok dimulai, pemimpin harus bertindak sebagai penjaga
gawang. Ia mempertahankan agar anggota tetap hadir dan tetap mengikuti kelompok
yang dibuatnya. Pada awalnya anggota kelompok saling tidak mengenal. Mereka
hanya mengenal pemimpin yang hanya transisi. Pemimpin adalah satu-satunya
mempersatu dalam kelompok. Anggota berhubungan satu sama lain pada mulanya
melalui hubungan yang sama dengan pemimpin.
Pemimpin sebaiknya mengetahui hal-hal yang dapat mempengaruhi
kohesivitas kelompok, keterlambatan, absen, subgrouping (membuat kelompok
15

sendiri diluar tanpa diketahui kelompok lain). Pengkambing hitaman salah satu
anggota kelompok dapat mengancam integritas kelompokdan membutuhkan
intervensi pemimpin. Tugas pertama pemimpin adalah menciptakan sistem sosial. Ia
harus membuat keputusan yang tepat untuk kehidupan kelompok. Kadang-kadang ia
harus menunda kebutuhan salah satu anggota kelompok, dan bila perlu ia
mengeluarkan salah satu anggota kelompok untuk keberlangsungan kelompok
tersebut.
2. Membentuk budaya
Ketika kelompok telah terbentuk, pemimpin akan mengerahkan tenaganya
untuk membentuk kelompok menjadi sistem sosial yang terapiutik. Ia mencoba untuk
menumbuhkan kode-kode peraturan prilaku atau norma yang akan dipakai sebagai
pedoman interaksi kelompok. Pada pendekatan individual, agen perubahan satusatunya adalah pemimpin. Tidak demikian dengan pendekatan kelompok, yang
menjadi agen perubahan adalah kelompok. Di dalam kelompok, pemimpin adalah
agen perubahan secara tidak langsung, sedangkan secara pendekatan individual,
professional adalah agen perubahan secara langsung. Dalam kelompok, pemimpin
bertugas untuk membawa kelompok dari satu factor kuratif ke factor kuratif lainnya
melalui pembentukan budaya kelompok. Ia akan membentuk budaya sedemikian rupa
supaya terjadi interaksi yang tepat didalam kelompok.
Norma didalam kelompok akan berbeda

dengan

etiket,

peraturan

dimasyarakat. Anggota harus merasa bebas mengemukakan apa yang dirasakan atau
pun yang dipikirkannya. Kejujuran dan spontanitas harus didorong dalam kelompok.
Norma-norma lain yang lebih mementingkan peran serta seluruh kelompok perlu
dibina. Penerimaan tanpa penilaian untuk anggota lain, pembukaan diri pada tingkat
tinggi, ketidak puasan pada prilaku saat ini dan keinginan yang besar untuk berubah
adalah norma-norma yang sangat penting di dalam kelompok. Selain itu yang sangat
penting untuk dilakukan adalah selalu membawa kelompok pada di sini-dan-saat ini.
3. Membentuk norma
Norma-norma didalam kelompok dibentuk berdasarkan harapan anggota
terhadap kelompoknya dan pengarahan langsung maupun tidak langsung dari

16

pemimpin dan anggota-anggota yang lebih berpengaruh. Apabila harapan anggota


tidak jelas, maka pemimpin mempunyai banyak kesempatan untuk membuat desain
budaya kelompok yang menurut pandangannya akan memberikan suasana terapeutik
optimal. Jelaslah bahwa pemimpin adalah pusat perhatian kelompok dan anggota
akan mengharapkan arahan darinya.
Dalam pembentukan norma kelompok, pemimpin dapat berlaku sebagai pakar
teknis atau pun peserta penetap model. Sebagai pakar teknis, pemimpin secara
langsung memberikan intruksi langsung terhadap kelompok. Ia juga dapat
memberikan petunjuk-petunjuk bagi anggota untuk berinteraksi satu sama lain.
Melalui keterampilan ataupun kelemannya. Pemimpin akan tau cara-cara dalam
pembentukan budaya dalam kelompoknya. Salah satu cara efektif untuk menuntun
interaksi yang aktif bagi anggota adalah dengan prilaku verban dan nonverbal. Secara
verbal ia akan mengarahkan anggota untuk mengatakan secara langsung pada nggota
yang dimaksud. Ini merupakan contoh norma kelompok untuk secara berterus terang
mengalamatkan isu pada yang bersangkutan. Ia perlu pula mengatakan mengapa
anggota harus mengatakan padanya, bukan pada anggota yang bersangkutan. Secara
verbal, ia dapat mengangguk-angguk apa bila ada salah satu anggota yang telah
berbicara langsung kepada anggota lain.
Sebagai peserta strip model, pemimpin membentu budaya melalui prilakunya
sendiri yang dapat dipakai sebagai model dalam kelompok. Salah satu sikap yang
dapat dicontoh oleh anggota adalah menerima tanpa penilaian, ketulusan dalam
kesetiaan dalam menolong, dan empati yang akurat. Ia dapat memberikan contoh
dalam sepontanitasnya dalam bereaksi, atau dalam memberikan komentar, proses atau
interfrensi. Terapis memberikan contoh pula dalam keterus terangan dalam kelompok.
Meskipun demikian, ia perlu mempertimbangkan kebtuhan kelompok. Ia
perlu mempunyai kepekaan terhadap waktu dan suasana emosi kelompok pada waktu
itu dalam memberikan komentar proses terhadap apa yang terjadi didalam kelompok.
Perlu pula diingatkan bahwa sekali pemimpin salah langkah dan ia tidak
memperbaikinya melalui pembukaan diri pada kesalahan yang dibuatnya.
Jelas bahwa peran pemimpin dalam kelompok tidaksesederhana seperti saat
dia menghadapi satu kelyan. Dibutuhkan pribadi yang mantap, kepercayaan diri yang

17

tinggi, kejujuran dan ketulusan yang sungguh-sungguh, dan tentu saja empati yang
akurat. Selain kualitas pribadi, dibutuhkan juga pengetahuan, keterampilan, dan
pengalaman yang banyak dalam memimpin kelompok.
F. Norma Kelompok
Beberapa norma kelompok yang sebaiknya ada pada kelompok adalh
kelompok pemantauan diri(the self-monitoring group),pembukaan diri (selfdisclosure), norma prosedural (procedural norms), pentingnya kelompok (the
importance of the group). untuk lebih jelasnya akan diuraikan satu per satu berikut
ini.

1. Kelompok pemantauan diri


Supaya suatu kelompok efektif, dibutuhkan aktivitas anggota dengan
pimpinan yang aktif dari pemimpin. Sangat penting dalam permulaan pertemuan
untuk mulai menekankan tanggung jawab anggota terhadap nasib kelompok. Apabila
norma ini gagal ditegakkan, pemimpin akan menjadi pusat penggerak dan anggota
cnderung menjadi pasif dan tergantung pada pemimpin untuk menentukan langkah.
Pemantauan diri yang dilakukan oleh anggota terhadap jalannya kelompok akan
sangat bermanfaat untuk efektivitas kelompok. Anggota akan menentukan apakah
kelompok telah berjalan seperti yang diharapkan. Atau apabila dinilai kelompok tidak
berjalan seperti yang diinginkan, lalu apa yang sebaiknya dilakukan anggota untuk
menggairahkan kelompok.
Dengan demikian, pemimpin bukan satu-satunya penanggung jawab terhadap
jalannya kelompok. Jadi sebaiknya dari awal pertemuan pemimpin selalu
mengarahkan anggota untuk merasa bertanggung jawab terhadap nasib kelompok.
Salah satu cara yang dapat dikemukakan adalah dengan mengatakan bahwa sukses
tidaknya kelompok akan banyak tergantung pada partisipasi anggota. Diharapkan
bahwa anggota akan menggunakan waktu seefesiensi mungkinbagi dirinya sendiri.
2. Pembukaan diri
Pembukaan diri adalah komponen yang dibutuhkandalam proses terapeutik.
Sangat penting dikemukakan pada saat wawancara awal bagi calon anggota bahwa

18

yang diharapkannati adalah kesediaan untuk pengungkapan diri dimuka anggota lain.
Cepat atau lambat sesuatu yang dianggap rahasia oleh anggota suatu ketika akan
dubukanya. Untuk itu dibutuhkan aturan main tertentu. Minsalnya,kelompok bukan
tempat untuk mengaku dosa, jadi tiap anggota tidak harus selalu mengaku tentang
kesalahan yang selama ini dianggap sebagai rahasianya.
Jadi dibutuhkan kesediaan dan kerelaan anggota untuk berbagi dengan seluruh
kelompok tentang pikiran,perasaan,maupun rahasianya. Pembukaan diri ini tidak
boleh ada unsur paksaan baik oleh anggota lain ataupun dari pemimpin. Yang berhak
menentukan untuk pembukaan diri ini adalah anggota sendiri sesuai dengan
kesiapannya. Sering terjadi bahwa pembukaan diri akan ada konsekuensinya, yaitu
materi-materi pribadi yang dikemukakan akan dipakai oleh masing-masing anggota
untuk saling menjatuhkan dalam situasi konflik. Dalam keadaan seperti ini pemimpin
harus melakukan intervensi sekuat tenagauntuk membantu menyelesaikan konflik
dengan baik tanpa mengorbankan salah satu anggota. juga perlu dikemukakan tentang
norma pembukaan diri yang telah ditegakkan bersama dan tentang aturn main dalam
melemparkan umpan baik.
3. Norma Posedural
Format prosedural dalam kelompok adalah prosedur yanag tidakterstruktur,
tanpa latihan, dan merupakan interaksi yang bebas. Sering terjadi bahwa kelompok
berinteraksi secara kaku. Mereka mengambil waktu secara [Link] ada yang
memakai waktu secara terus-menerus dalam tiap pertmuan. Ada pula pertemuan yang
selalu dimulai oleh anggota [Link] pemimpin memberikan komentar
proses tentang apa yang terjadi selam ini.
pola interaksi yang kaku tersebut merupakan sesuatu yang anti terapeutik dan
ini perlu [Link] dikemukakan oleh pemimpinpada awalnya bahwa anggota
akan secara spontan memakai waktu tanpa harus mengikuti prosedur tertentu.
Demikian pula apabila terlalu banyak terjadi seseorang berbicara sedang lainnya akan
diam saja,maka pemimpin perlu mengingatkan kelompok terhadap komitmen mereka
tentang jalannya kelompok.
4. Pentingnya kelompok
Semakin penting arti kelompok bagi anggota kelompok akan menjadi semakin
efektif. Apabila anggota menganggap bahwa kelompok merupakan hal yang penting

19

dalam hidupnya,pemimpin perlu selalu menyokongnya. Apabila ia akan tidak hadir,ia


perlu memberi tahu sebelumnya kepada kelompok. Ia hadir,ia juga akan selalu hadir
tepat pda waktunya. Bila ia mempunyai pikiran tertentu mengenai kelompok antara
pertemuan yang satu dengan lainya, ia akan mengemukakannya dalam kelompok. Ia
juga memperkuat pernyataan anggota apabila kelompok berguna bagi mereka ataupun
apabila mereka memikirkan anggota lain selama satu minggu itu.
Semakin ada kontinuitas antara pertemuan yang satu dengan lainnya, akan
semakin baik jalannya kelompok. Kelompok yang berfungsi baik biasanya
mempunyai hubungan antara hal yang terjadi pada suatu pertemuan ke pertemuan
berikutnya. Tugas pemimpin adalah menghubungkan peristiwa yang satu ke peristiwa
lainnya. Ia juga mengingatkan akan kesamaan kerja salah satu anggota dengan kerja
anggota lainnya, kemudian mengemukakannya dalam kelompok.
Kelompok akan semakin penting bigi anggota apabila mereka menganggap
bahwa kelompok merupakan sumber dukungan, dan sumber informasi yang kaya.
Juga apabila masing-masing anggota saling ingin tahu tentang keadaan yang lain, ini
menandakan bahwa mereka menganggap kelompok sangat berarti bagi kehidupan
mereka. Dengan adanya rasa positif terhadap kelompok, tentunya anggota akan selalu
mendahulukan pertemuan dalam kelompok dari pada kegiatan lainnya.
5. Anggota Sebagai Agen Penolong
Kelompok akan berfungsi dengan sangat baik apabila anggota menghargai
pertolongan berharga yang saling mereka berikan. Apabila anggota menganggap
bahwa pemimpin adalah satu-satuya sumber bantuan, maka kelompok gagal untuk
mencapai otonomi dan penghormatan diri. Untuk menunjang norma ini. Pemimpin
perlu mengingatkan pada suatu peristiwa yang menunjukkan bahwa masing-masing
anggota saling menolong.
Ia akan mengajarkan metode efektif bagi anggota untuk saling membantu.
Perilaku yang meremehkan norma saling tolong-menolong harus diberi komentar.
Kadang-kadang terjadi bahwa anggota melecehkan anggota lainnya melalui
komentarnya. Hal ini perlu dikomunikasikan oleh pemimpin dan kelompok perlu
diminta untuk memperhatikan peristiwa tersebut. Mungkin pemimpin dapat
mengatakan bahwa kemungkinan anggota mempunyai perasaan negatif terhadap

20

anggota lainyang berasal dari sesuatu diluar kelompok. Pula perlu ditekankan
pentignya anggota lain bagi kemajuan anggota lainnya.
G. Perilaku Efektif Pemimpin
Selain tugas-tugas tersebut diatas , pemimpin juga perlu mempunyai perilaku
efektifdalam memimpin kelompoknya. Perilaku tersebut menurut George & christiani
(1981) adalah mendengarkan dengan aktif, mengamati dengan seksama, memberikan
umpan balik,menghubungkan antara satu pertanyaan dengan pertanyaan lain dan
peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya, melakukan konfrontasi, mempunyai
kemampuan untukmelihat proses dan meringkas apa yang terjadi didalam tiap
pertemuan.
Untuk mejadi pemimpin yang efektif dibutuhkan kemampuan untuk
mendengarkan dengan aktif. Artinya, ia mampu merangkum apa yang dikemukakan
anggota dan merefleksikan perasaan yang dialami anggota tadi. Ia juga mampu
mengemukaka tingkah laku yang tidak selaras yang dilakukan oleh anggota.
misalnya,anggota menceritakan sesuatu yang berlawanan satu sma lain,ia perlu
memberika komentar tentang apa yang didengarnya tersebut. Tiap kali pemimpin
harus mengecek pengamatannya pada tiap-tiapanggota. Ia akan memberikan umpan
balik pada anggota mengenai tingkah laku anggota yang spesifik. Misalnya seorang
anggota menolak uluran pertolongan anggota lain. Pemimpin mengemukakan
pengamatannya ini pada kedua anggotatersebut dan memberikan umpan balik bagi
keduanya mengenai peristiwa tersebut.
Pemimpin sebaiknya juga dapat menghubungkan pertanyaan anggota yang
satu dengan anggotalain dan menyimpulkan kesamaan yang dialami keduanya.
Kesamaan pengalaman ini dapat

dipakai sebagai alat komunikasi antara kedua

anggota tersebut. Selain itu perlu pula pemimpin menghubungkan peristiwa satu
dengan lainnya yang sama yang selama ini terjadi dalam kelompok. Hal ini perlu
untuk menjaga kontinuitas kelompok. Pemimpin sebaiknyaselalu membawa
kelompok ke di sini-dan-saat ini. Artinya pemimpin memberi komentar pada apa
yang terjadi saat itu didalam kelompok. Melalui pertanyaan yang terbuka dan
komentar proses yang terjadi,pemimpin mengarahkan komunikasi antara anggota

21

kelompok. Interaksi yang aktif dari anggota kelompok merupak salah satu tanda
bahwa kelompok ini efektif.
Konfrontasi merupakan salah satu teknik pemimpin yang perlu dikuasainya
dengan baik. Dalam konfrontasi, pemimpin harus melakukannya dengan sensitif dan
penuh perhatian terhadap perilaku verbal ataupun non verbal yang dilakukan oleh
anggota. konfrontasi merupakan teknik yang kuat apabila dilakukan dengan tepat.
Tak kalah pentingnya adalah kemampuan pemimpin untuk membuat iluminasi proses.
Pemimpin harus dapat memberikankomentar pada apa yag terjadi selama
pertemuan,apa yang menonjol,apa yang istimewa, siapa yang telah aktif, siapa yang
masih aktif. Juga perlu dikemukakan apa yang telah dilakukan seorang anggota yang
belum pernah dilakukannya sebelumnya. Tiap akhir pertemuan pemimpin harus
membuat ringkasan tentang apa yang telah terjadi didalam kelompok. Ringkasan
yang dibuat oleh pemimpindapat merupakan indikasi kesungguhan pemimpin dalam
memimpin kelompoknya. Ia akan mengigat apa yang telah dilakukan setiap anggota
selama pertemuan dan mengkomunikasikannya pada kelompok.

22

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Untuk menerapkan pendekatan kelompok perlu penguasaan teori, konsep,


metode, dan teknik mengelola kelompok. Biasanya seorang professional akan
mengembangkan sendiri gaya dalam memandu kelompok. Secara empiris pendekatan
kelompok berdampak positif terhadap berbagai persoalan hidup. Terkadang pemandu
kelompok tidak terlalu menyadari siapa yang akan mengalami kemajuan atau yang
mengalami kemunduran. Untuk itu perlu kepekaan pemandu dalam mengamati proses
agar tantangan anggota untuk mengoreksi pengalaman emosinya ketika belajar
berubah peran dalam dan luar kelompok.

23

DAFTAR PUSAKA
Prawitasari, J.E. (2011) Psikologi Klinis: Pengantar Terapan Mikro & Makro.
Jakarta: Erlangga

24

Anda mungkin juga menyukai