Integrasi Timor-Timur
Integrasi Timor-Timur ke dalam wilayah Indonesia terjadi
akibat situasi politik internasional saat itu, yaitu perang dingin
dimana konstelasi geopolitik kawasan Asia Tenggara terjadi
perebutan pengaruh dua blok yang sedang bersaing, yakni Blok
Barat (Amerika Serikat) dan Blok Timur (Uni Soviet).
Dengan kekalahan Amerika Serikat di Vietnam, kejatuhan Vietnam
ke tangan kelompok komunis akan merembet ke wilayah-wilayah
lain (disebut teori domino) dan berdirinya pemerintahan
Republik Demokratik Vietnam yang komunis juga dianggap
sebagai ancaman.
Pada saat yang sama di wilayah koloni Portugis (Timor-Timur)
terjadi krisis politik. Krisis ini terjadi akibat dari dampak
kebebasan yang diberikan oleh pemerintahan baru Portugal di
bawah pimpinan Jendral Antonio de Spinola.
Timor-Timur memanfaatkan kebebasan yang diberikan oleh
pemerintah Potugal dengan mendirikan partai politik. Tiga partai
politik itu adalah:
1. Uniao Democratica Timorense (UDT-Persatuan
Demokratik Rakyat Timor)
2. Frente Revoluciondria de Timor Leste Independente
(Fretilin-Front Revolusioner Kemerdekaan Timor-Timur )
3. Associacau Popular Democratica Timurrense (ApodetiIkatan Demokratik Popular Rakyat Timor)
Dan juga terdapat partai kecil yaitu Kota dan Trabalista.
Pada tanggal 31 Agustus 1974 ketua umum Apodeti,
Arnaldo dos Reis Araujo, menyatakan partainya menghendaki
bergabung dengan Repulik Indonesia sebagai provinsi ke-27.
Menurutnya, integrasi akan menjamin stabilitas politik di wilayah
tersebut. Pernyataan tersebut mendapat respon yang cukup
positif dari para elit politik Indonesia, tetapi pemerintahan
Indonesia tidak serta merta menerima begitu saja keinginan
orang-orang Apodeti.
Keterlibatan Indonesia secara langsung di Timor-Timur terjadi
setelah adanya permintaan dari para pendukung Proklamasi
Balibo, yang terdiri dari UDT, Apodeti, Kota, dan Trabalista.
Pada tanggal 30 November 1975 di Kota Balibo, keempat partai
ini mengeluarkan pernyataan untuk bergabung dengan
Pemerintahan Indonesia.
Pada tanggal 31 Mei 1976 DPR Timor-Timur mengeluarkan
petisi yang isinya mendesak pemerintahan Republik Indonesia
agar secepatnya menerima dan mengesahkan bersatunya rakyat
dan wilayah Timor-Timur kedalam Negara Republik Indonesia.
Pemerintahan Indonesia lalu menerapkan Operasi Seroja
pada Desember 1975 atas keinginan rakyat Timor-Timur.
Operasi ini diam-diam didukung oleh Amerika Serikat.
Pemerintah Indonesia pun dengan cepat menjalankan proses
pengesahan Timor-Timur dengan mengeluarkan UU no.7 tahun
1976 tentang Pengesahan Penyatuan Timor-Timur kedalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan
pembentukan Daerah Tingkat I Timor-Timur. Hal ini juga
diperkuat melalui Tap MPR nomor IV/MPR/1978. Timor-Timur
pun secara resmi menjadi provinsi ke-27 di NKRI.
Kekhawatiran akan jatuhnya Timor-Timur ke tangan komunis
membuat negara-negara tetangga dan pihak Barat, termasuk
Amerika Serikat dan Australia mendukung tindakan Indonesia.
Mereka secara de-facto dan selanjutnya de-jure integrasi TimorTimur ke wilayah Indonesia. Akan tetapi, penguasaan Indonesia
terhadap wilayah itu ternyata menimbulkan banyak
permasalahan yang berkelanjutan, terutama setelah berakhirnya
perang dingin dan runtuhnya Uni Soviet.