Menteri Kehutanan sebelumnya telah mengatur pengangkutan kayu yang berasal dari
lahan masyarakat dalam Permenhut No. P.51/Menhut-II/2006 tentang Penggunaan SKAU
Untuk Pengangkutan Hasil Hutan Kayu Yang Berasal Dari Hutan Hak sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.33 /Menhut-II/2007 (lihat di sini),
berdasarkan hasil evaluasi kementerian kehutanan peraturan tersebut dicabut
dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.30/Menhut-II/2012 tentang
Penatausahaan Hasil Hutan yang Berasal Dari Hutan Hak.
Penatausahaan hasil hutan pada hutan hak dimaksudkan untuk ketertiban peredaran hasil
hutan hak dan bertujuan untuk melindungi hak privat serta kepastian hukum dalam
pemilikan/penguasaan dan pengangkutan hasil hutan yang berasal dari hutan hak.
Hutan hak dibuktikan dengan alas titel/hak atas tanah, berupa :
Sertifikat Hak Milik, atau Leter C, atau Girik;
Sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) atau Hak Pakai; atau
Surat atau dokumen lainnya yang diakui sebagai bukti penguasaan tanah atau bukti
kepemilikan lainnya yang berada di luar kawasan hutan dan diakui Badan Pertanahan
Nasional (BPN). (Pasal 3 Permenhut No P.30/Menhut-II/2012)
Dokumen pengangkutan kayu dari hutan hak yang berlaku untuk seluruh wilayah Republik
Indonesia yang wajib dilengkapi pada saat akan mengangkut dari lokasi tebangan atau tempat
pengumpulan di sekitar tebangan ke tujuan adalah:
a. Nota Angkutan; atau
b. Nota Angkutan Penggunaan Sendiri; atau
c. SKAU (surat keterangan asal usul).
A. Nota Angkutan
Nota Angkutan adalah: dokumen angkutan yang merupakan surat keterangan yang
menyatakan penguasaan, kepemilikan dan sekaligus sebagai bukti legalitas pengangkutan
hasil hutan hak (kayu bulat atau kayu olahan rakyat) sesuai dengan jenis kayu yang
ditetapkan atau pengangkutan lanjutan semua jenis kayu.
Nota Angkutan kayu digunakan untuk :
Pengangkutan kayu jenis : Cempedak, Dadap, Duku, Jambu, Jengkol, Kelapa, Kecapi,
Kenari, Mangga, Manggis, Melinjo, Nangka, Rambutan, Randu, Sawit, Sawo, Sukun,
Trembesi, Waru, Karet, Jabon, Sengon dan Petai; atau
Pengangkutan lanjutan yang digunakan untuk mengangkut semua jenis kayu hutan
hak selain dari pelabuhan umum. (Pasal 5 ayat (1) Permenhut No P.30/MenhutII/2012)
Pengadaan blanko dan pengisian Nota Angkutan dibuat oleh pembeli atau pemilik dan
ditandatangani oleh pemilik hasil hutan hak ...dan tidak perlu ditetapkan nomor seri.
(Pasal 7 ayat (1) Permenhut No P.30/Menhut-II/2012) contoh Nota Angkutan dapat dilihat di
Lampiran 1 Permenhut No P.30/Menhut-II/2012
B. Nota Angkutan Penggunaan Sendiri
Nota Angkutan Penggunaan Sendiri adalah: dokumen angkutan semua jenis kayu hutan hak
untuk keperluan sendiri atau fasilitas umum yang dibuat oleh pemilik hasil hutan hak dengan
tujuan selain Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu, Industri Pengolahan Kayu
Terpadu, Industri Pengolahan Kayu Lanjutan dan Tempat Penampungan Terdaftar.
Nota Angkutan Penggunaan Sendiri dibuat oleh pemilik hasil hutan hak yang bersangkutan
dengan menggunakan format lampiran 2 Permenhut No P.30/Menhut-II/2012, dibuat 1 (satu)
lembar untuk menyertai pengangkutan kayu (Pasal 8 Permenhut No P.30/Menhut-II/2012)
C. SKAU (surat keterangan asal usul)
Surat Keterangan Asal Usul disingkat SKAU adalah dokumen angkutan yang merupakan
surat keterangan yang menyatakan penguasaan, kepemilikan dan sekaligus sebagai bukti
legalitas pengangkutan hasil hutan hak (kayu bulat dan kayu olahan rakyat)
SKAU digunakan untuk setiap angkutan hasil hutan hak selain kriteria penggunaan Nota
Angkutan dan Nota Angkutan Penggunaan Sendiri.
SKAU diterbitkan oleh Kepala Desa/Lurah atau Perangkat Desa/Kelurahan ditempat hasil
hutan hak tersebut akan diangkut.
Pejabat Penerbit SKAU ditetapkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota atas nama
Bupati/Walikota, dengan persyaratan Kepala Desa/Lurah atau Perangkat Desa/Kelurahan
tersebut memiliki Surat Keterangan telah mengikuti pembekalan pengukuran dan pengenalan
jenis kayu dari hutan hak yang diselenggarakan oleh Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota/Balai.
Dalam hal di wilayah Desa/Kelurahan belum tersedia tenaga yang memenuhi persyaratan
dapat menggunakan penerbit SKAU dari desa/kelurahan terdekat. Dalam hal penerbit SKAU
dari Desa/Kelurahan terdekat tidak ada, maka dapat ditunjuk petugas Kehutanan
berkualifikasi Wasganis PHPL PKBR/PKBJ dengan Surat Perintah Tugas Kepala Dinas
Kabupaten/Kota.
Terhadap Hutan Hak yang telah mendapat sertifikat Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) atau
yang disetarakan, setelah pemilik/personil yang ditunjuk mengikuti pembekalan pengukuran
dan pengenalan jenis kayu, diberikan kewenangan penerbitan SKAU secara self assessment,
dan yang bersangkutan cukup melaporkan kepada Kepala Dinas Kabupaten/Kota setempat
sebagai penerbit. Penerbit SKAU secara self assessment wajib melaporkan hasil tebangan
produksi pada hutan hak miliknya kepada Kepala Desa/Lurah atau Perangkat Desa/Kelurahan
setempat.
Pengadaan blanko SKAU dibuat oleh pembeli atau pemilik dan pengisian serta penerbitannya
oleh penerbit SKAU, dengan menggunakan format Lampiran V Permenhut No P.30/MenhutII/2012
Penetapan Nomor Seri SKAU dilakukan oleh masing-masing penerbit SKAU, dengan
memberikan nomor urut 00001 dan seterusnya.
KETENTUAN PENGANGKUTAN KAYU
HUTAN HAK TERBARU 2016
m hariyanto KEHUTANAN 7/08/2016
Penatausahaan hasil hutan yang berasal dari hutan hak adalah kegiatan yang meliputi
pemanenan, pengukuran dan penetapan jenis, pengangkutan/peredaran. Diatur dalam
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.21/Menlhk-Ii/2015 Tahun
2015 Tentang Penatausahaan Hasil Hutan Yang Berasal Dari Hutan Hak yang mencabut dan
menggantikan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.30/Menhut-II/2012 tentang
Penatausahaan Hasil Hutan Yang Berasal Dari Hutan Hak.
Pemanen Kayu Asal Hutan Hak
Pemanfaatan hasil hutan pada hutan hak tidak perlu izin penebangan.
Pengangkutan Kayu Hasil Hutan Hak
Setiap hasil hutan hak yang akan diangkut dari lokasi tebangan atau tempat pengumpulan di
sekitar tebangan ke tujuan, wajib dilengkapi Nota Angkutan atau SKAU, yang merupakan
dokumen angkutan hasil hutan dari hutan hak yang berlaku untuk seluruh wilayah Republik
Indonesia.
Dalam rangka ketertiban peredaran hasil hutan hak dan bertujuan untuk melindungi hak
privat serta kepastian hukum dalam pemilikan/penguasaan dan pengangkutan hasil hutan
yang berasal dari hutan hak dilakukan Penatausahaan hasil hutan pada hutan hak.
NOTA ANGKUTAN
Nota Angkutan adalah dokumen angkutan yang merupakan surat keterangan yang
menyatakan penguasaan, kepemilikan dan sekaligus sebagai bukti legalitas pengangkutan
hasil hutan hak (kayu bulat atau kayu olahan rakyat) sesuai dengan jenis kayu yang
ditetapkan atau pengangkutan lanjutan semua jenis kayu.
Nota Angkutan digunakan untuk:
1. Seluruh jenis kayu rakyat/kayu budidaya yang berasal dari hutan hak yang berada di
Jawa, Bali dan Lombok.
2. Penggunaan Nota Angkutan di Luar Jawa, Bali, dan Lombok hanya untuk kayu jenis :
Jati, Mahoni, Nyawai (Ficus Variegate blume), Gmelina, Lamtoro, Kaliandra,
Cempedak, Dadap, Duku, Jambu, Jengkol, Kelapa, Kecapi, Kenari, Mangga,
Manggis, Melinjo, Nangka, Rambutan, Randu, Sawit, Sawo, Sukun, rembesi, Waru,
Karet, Jabon, Sengon dan Petai.
Pengadaan blanko dan pengisian Nota Angkutan dibuat oleh pembeli atau pemilik dan
ditandatangani oleh pemilik hasil hutan hak menggunakan format sebagaimana tercantum
dalam Lampiran I PermenLHK Nomor P.21/Menlhk-Ii/2015 Tahun 2015 Tentang
Penatausahaan Hasil Hutan Yang Berasal Dari Hutan Hak dan tidak perlu ditetapkan Nomor
Seri. Pengadaan dan pengisian blanko Nota Angkutan dapat digandakan dengan ditulis tangan
atau foto copy dengan mengikuti format
blanko NOTA ANGKUTAN
Penerbit Nota Angkutan tidak perlu ditetapkan pengangkatannya, cukup melaporkan kepada
Kepala Desa/Lurah atau Perangkat Desa/Kelurahan setempat, dengan menunjukkan bukti
identitas diri. Masa berlaku Nota Angkutan ditetapkan oleh masing-masing penerbit Nota
Angkutan dengan mempertimbangkan jarak tempuh normal. Penerbit Nota Angkutan
bertanggung jawab terhadap kebenaran administrasi dan fisik hasil hutan hak.
Penggunaan dokumen Nota Angkutan hanya berlaku untuk 1 (satu) kali penggunaan atau
hanya dapat digunakan untuk 1 (satu) kali pengangkutan dan dengan 1 (satu) tujuan. Setiap
alat angkut dapat digunakan untuk mengangkut hasil hutan hak dengan lebih dari 1 (satu)
dokumen angkutan.
SURAT KETERANGAN ASAL USUL (SKAU)
SKAU adalah dokumen angkutan yang merupakan surat keterangan yang menyatakan
penguasaan, kepemilikan dan sekaligus sebagai bukti legalitas pengangkutan hasil hutan hak
(kayu bulat dan kayu olahan rakyat).
SKAU digunakan untuk seluruh jenis kayu rakyat/kayu budidaya yang berasal dari hutan hak
yang berada diluar Jawa, Bali dan Lombok. Pengecualian penggunaan SKAU (cukup dengan
NOTA ANGKUTAN) untuk kayu rakyat/kayu budidaya yang berasal dari hutan hak yang
berada diluar Jawa, Bali dan Lombok adalah hanya untuk jenis Jati, Mahoni, Nyawai (Ficus
Variegate blume), Gmelina, Lamtoro, Kaliandra, Cempedak, Dadap, Duku, Jambu, Jengkol,
Kelapa, Kecapi, Kenari, Mangga, Manggis, Melinjo, Nangka, Rambutan, Randu, Sawit,
Sawo, Sukun, rembesi, Waru, Karet, Jabon, Sengon dan Petai.
Penerbit SKAU
SKAU diterbitkan oleh Kepala Desa/Lurah atau Perangkat Desa/Kelurahan yang setempat
ditetapkan oleh Kepala Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi Dalam hal di wilayah
Desa/Kelurahan belum tersedia tenaga yang memenuhi persyaratan, sementara dapat dapat
dilakukan oleh Kepala Desa paling lama 6 bulan.
Terhadap Hutan Hak yang telah mendapat sertifikat Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) atau
yang disetarakan, setelah pemilik/personil yang ditunjuk mengikuti pembekalan pengukuran
dan pengenalan jenis kayu, diberikan kewenangan penerbitan SKAU secara self assessment,
dan yang bersangkutan cukup melaporkan kepada Kepala Balai setempat sebagai penerbit.
Penerbit SKAU secara self assessment wajib melaporkan hasil tebangan produksi pada hutan
hak miliknya kepada Kepala Desa/Lurah atau Perangkat Desa/Kelurahan setempat.
Tata cara permohonan penerbitan SKAU sebagaimana tercantum dalam Lampiran II
PermenLHK Nomor P.21/Menlhk-Ii/2015 Tahun 2015 Tentang Penatausahaan Hasil Hutan
Yang Berasal Dari Hutan Hak
BLANKO PERMOHONAN PENERBITAN SKAU
Penerbitan dokumen SKAU oleh Kepala Desa/Lurah dengan cara:
1. Memeriksa jenis, jumlah batang/bundel/ikat, volume/berat yang akan diangkut; dan
2. Memeriksa asal lokasi tanaman yang dipanen dari pemohon SKAU.
Pengadaan blanko SKAU dibuat oleh pembeli atau pemilik dan pengisian serta penerbitannya
oleh penerbit SKAU, dengan menggunakan format Lampiran III Peraturan ini. Pengadaan
dan pengisian blanko SKAU dapat digandakan dengan ditulis tangan atau foto copy
mengikuti format SKAU. Masa berlaku SKAU ditetapkan oleh masing-masing penerbit
SKAU dengan mempertimbangkan jarak tempuh normal. Penerbit Nota Angkutan atau
penerbit SKAU bertanggung jawab terhadap kebenaran administrasi dan fisik hasil hutan hak.
Penggunaan dokumen SKAU hanya berlaku untuk 1 (satu) kali penggunaan atau hanya dapat
digunakan untuk 1 (satu) kali pengangkutan dan dengan 1 (satu) tujuan. Setiap alat angkut
dapat digunakan untuk mengangkut hasil hutan hak dengan lebih dari 1 (satu) dokumen
angkutan.
BLANKO SKAU
PELANGGARAN DAN SANKSI
Penggunaan dokumen Nota Angkutan atau SKAU yang terbukti digunakan sebagai
dokumen Pengkutan kayu yang berasal dari kawasan hutan negara dikenakan sanksi
pidana sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
Dalam hal pengangkutan hasil hutan hak tidak dilengkapi dokumen Nota Angkutan
atau SKAU, maka terhadap hasil hutan tersebut dilakukan pelacakan terhadap
kebenaran atau asal usul hasil hutan hak.
Pelacakan sepanjang asal usul hasil hutan dapat dibuktikan keabsahannya, dikenakan
sanksi administratif berupa pembinaan melalui teguran/peringatan tertulis dari Balai
berdasar laporan petugas kehutanan yang menerima Nota Angkutan atau SKAU di
tempat tujuan.
Pelacakan dilakukan oleh pejabat kehutanan yang ditunjuk oleh Balai. Apabila
berdasarkan hasil pelacakan, terbukti bukan berasal dari lahan yang ditunjukkan oleh
pemilik/pengangkut hasil hutan, maka dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang
berlaku.
Dalam hal terjadi pelanggaran dalam pengangkutan hasil hutan yang berasal dari
hutan hak dengan menggunakan dokumen Nota Angkutan atau SKAU, seperti
terdapat perbedaan jumlah batang atau masa berlaku dokumen habis di perjalanan,
dapat dikenakan sanksi administratif berupa pembinaan melalui teguran/peringatan
tertulis dari Kepala Balai.
Pelanggaran penerbitan SKAU atas hasil hutan hak yang berasal dari luar wilayah
Desa/Kelurahannya, dikenakan sanksi pencabutan Keputusan Penetapan Penerbit
SKAU oleh Kepala Balai.