Prosedur Pengendalian Rumah Potong Ayam
Prosedur Pengendalian Rumah Potong Ayam
PROSEDUR
Koordinator
Tanggal
Hal.
01 - 08 - 11
1/5
No. Dokumen
Revis
i
PS PH 01
00
1.1. Ayam yang diterima dari perternakan yang dimiliki oleh PT. Charoen Pokphand Indonesia atau dari
Peternak Inti Rakyat (PIR) ysng dibawah pengawasan perusahaan, harus dalam keadaan hidup dan sehat
(Surat jaminan dari Supplier dan Surat Keterangan Kesehatan Hewan dari Dinas
Peternakan/Pertanian setempat). Sebelum dibongkar Ayam dalam keranjang pada kendaraan truk yang
baru datang diistirahatkan dahulu selama minimal 10 menit pada jalur truk ayam dan diangin-anginkan
menggunakan kipas angin untuk mengurangi stress selama transportasi serta disemprot dengan desinfectant.
Selama diistirahatkan kondisi kesehatan ayam diperiksa (Form QS 01: Pemeriksaan Ante Mortem) dan
sanitasi tempat istirahat ayam dipantau (QS 17: Sanitasi Selama Produksi di Live Bird Area). Kemudian
ayam bersama truk ditimbang. Setelah pembongkaran, truk, keranjang dan kotoran ditimbang kembali
untuk mengetahui berat bersih ayam.
1.2. Dokter hewan pemerintah bertanggung jawab atas kesehatan ayam hidup yang diproses di slaughter hause
dengan menerbitkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan secara periodik.
1.3. Keranjang plastik yang dipakai untuk mengangkat ayam hidup antara 10 17 ekor dengan berat rata-rata
1.2 2.5 kg setiap ekornya. Keranjang plastik tersebut harus selalu dibersihakan dan disanitasi setiap
selesai dipergunakan serta harus selalu dijaga keutuhannya. Kendaraan / truk yang dipakai untuk
mengangkat ayam, tempat pembongkaran serta tempat penggantungan ayam harus dicuci dengan
menyemprotkan air bertekanan tinggi dan dibersihkan setiap waktu selama operasional serta pada waktu
istirahat. Seluruh area harus selalu dibersihkan dan disanitasi pada setiap selesai operasional setiap harinya
(Form QS 17: Sanitasi Selama Produksi di Live Bird Area).
1.4. Pelaksanaan sanitasi dan hegiene serta efektifitas di ruang penerimaan harus dipantau dan
didokumentasikan setiap harinya oleh petugas QS. (Form QS 06: Kebersihan di Area Pembongkaran
Ayam, Defeathering & Evisceration).
2.
Unloding
2.1. Pembongkaran harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah adanya memar pada karkas.
2.2. Keranjang-keranjang kotor dicuci dengan penyemprotan air panas dan disanitasi. (Form QS 17: Sanitasi
Selama Produksi di Live Bird Area).
2.3. Disebelah ruang pembongkaran, terdapat saluran pengeluaran (outlet) yang terpisah-pisah untuk bulu,
kepala, usus dan dikulit ceker sebagai limbah dari ruang pengolahan Limbah padat tersebut dikumpulkan
untuk dikirim ke rendering plant. Darah segar yang keluar dari saluran ditampung dalam bejana steam
kemudian dimusnahkan. Untuk kotoran ayam (feces) dikumpulkan kemudian dibuang ke TPA.
3.
3.1. Ayam harus diperiksa (ante mortem)sebelum dijalankan dengan konveyor kedalam ruang penggantungan.
Ayam yang layak untuk penanganan lebih lanjut kemudian diteruskan ketahap berikutnya. Ayam yang mati
ditolak kemudian ditempatkan kedalam wadah bertutup dan diberi kunci untuk menghindari agar tidak ada
yang mengambil. Awdah tersebut harus diberi label Ayam Mati pada sisi luar wadah. Kemudian dikirim
ke rendering plant. (Form QS 01: Pemeriksaan Ante Mortem).
Disetujui
PROSEDUR
Koordinator
Tanggal
Hal.
01 - 08 - 11
1/5
No. Dokumen
Revis
i
PS PH 01
00
On Feet Hanging
4.1. Ayam kemudian dijalankan dengan konveyor kedalam ruang tempat penggantungan yang cukup gelap
sehingga ayam lebih tenang.
4.2. Pada waktu menggantung ayam kakinya di shackle harus dilakukan dengan hati-hati. Ayam tidak boleh
dipegang pahanya karena dapat menyebabkan memar pada karkas. Tempat dimana ayam digantung berjarak
paling tidak 2 (dua) meter dari tempat stunning.
4.3. Sebelum masuk stunning dilakukan peritungan ayam di shackle secara manual (Form SH 02: Data Jumlah
Ayam di Haging).
Bagian III: RUANG PENANGANAN
(Ruang penanganan terpisah dari ruang penerimaan dengan dinding penyekat)
5.
Unloding
5.1. Ayam-ayam yang digantung dilewatkan pada sengatan listrik 15-40 Volt AC dan 0.1-0.4 Ampere,
tergantung berat ayam (Form SH 04: Efficiency Defeathering Report). Sengatan listrik dihantar melalui
aliran air. Stunning dan pemingsanan ayam dengan sengatan lisrik, sesuai dengan Fatwa Majelis Ulama
Indonesia (MUI) tentang Penyembelihan Hewan secara mekanisasi dengan pemingsanan tertanggal 23
Oktober 1976 dinyatakan HALAL.
5.2. Petugas QC memastikan bahwa tegangan dan arus stunner per kedatangan truk sesuai dengan standard yang
ditentukan (Form QS 02: Pemeriksaan di Ruang Pencabutan Bulu (Defeathering Room)).
6.
Slaughtering
6.1. Ayam yang sudah melewati dengan posisi punggung ayamterhadap penyembelih harus segera disembelih
dan tidak boleh lebih lama dari 10 (sepuluh) detik. Penyembelihan dilakukan secara manual oleh orang
Muslim dengan cara sekaligus memotong arteri karotis, vena jugularis, trachea dan oesaphagus dan pada
saat penyembalihan membaca Bismillaahirrahmaannirrahim. Setiap kali pisau yang digunakan untuk
menyembelih harus dibilas dengan air mengalir sebelum dipakai untuk menyembalih ayam berikutnya.
Peyembelihan sesuai dengan standar halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
6.2. Untuk mempertahankan kehalalan bahwa semua ayam harus disembelih dengan sempurna maka
ditempatkan minimal 3 (tiga) orang penyembelih, sedangkan jika ayam terlewat tidak tersembelih atau tidak
tersembelih sempurna maka kulit atau daging akan berwarna merah merata, diperiksa kembali di akhir
proses bleeding dan pada proses rechecking oleh petugas produksi.
6.3. Tempat penyembelihan harus selalu dibersihkan dan dicuci dan disemprot air bertekanan tinggi. Petugas QC
memeriksa kebesihannya pada saat istirahat dan selesai operasional (Form QS 06: Kebersihan di Area
Pembongkaran Ayam, Defeathering & Evisceration).
7.
Bleeding
7.1. Pada waktu penuntasan darah, ayam masih dalam posisi tergantung.
Disetujui
PROSEDUR
Koordinator
Tanggal
Hal.
01 - 08 - 11
1/5
No. Dokumen
Revis
i
PS PH 01
00
7.2. Penuntasan darah dilakukan di dalam tempat tertutup selama 2-4 menit dan darah harus ditampung dalam
saluran bak darah dan dialirkan ke saluran outlet pembuangan darah. Darah tidak boleh disiram ke saluran
yang menuju ke sistem pembuangan limbah cair. (Form QS 02: Pemeriksaan di Ruang Pencabutan
Bulu (Defeathering Room)).
7.3. Pada akhir proses penuntasan darah ditempatkan petugas produksi untuk mengawasi apabila ditemukan
ayam yang tidak tersembelih dengan sempurna maka harus dipisahkan untuk dimusnahkan (Form SH 04:
Efficiency Defeathering Report). Adapun yang terlewat tidak tersembalih dapat diproses kembali
(Form SH 03: Data Ayam Tidak Terpotong yang Diangkat dari Shackle Sebelum Masuk Scalder).
7.4. Saluran penuntasan dan penampungan darah harus dibersihkan pada saat istirahat dan akhir proses
produksi (Form QS 06: Kebersihan di Area Pembongkaran Ayam, Defeathering & Evisceration).
8.
Scalding
8.1. Suhu air panas pada 600C 30C selama 70-100 detik tergantung besar kecilnya ayam serta kecepatan
shackle(Form QS 02: Pemeriksaan di Ruang Pencabutan Bulu (Defeathering Room)). Wadah
pencelupan harus diisi dengan air yang terus-menerus mengalir dan wadah harus dikosongkan pada saat
istirahat dan akhir produksi.
8.2. Wadah pencelupan harus aiar harus selalu dibersihakan setelah pekerjaan selesai. Petugas QC harus
memantau suhu dan waktu pemanasan untuk setiap truk (Form QS 02: Pemeriksaan di Ruang
Pencabutan Bulu (Defeathering Room)).
9.
9.1. Proses pencabutan bulu dilakukan dengan menggunakan dua unit mesin Plucker. Mesin Plucker I
befungsi untuk mencabut bulu kasar, yang kemudian dilanjutkan dengan mesin Plucker II yang berfungsi
untuk mencabut bulu halus. Mesin pencabut bulu yang pertama dan kedua harus dapatmencbaut bulu
secar efektif untuk setiap truk. (Form SH 04: Efficiency Defeathering Report).
9.2. Bulu-bulu ayam yang terdapat ditempat pencabutan dan pencelupan air panas harus dikumpulkan dan
disingkirkan baik selama operasional maupun pada waktu istiraha. Tempat pencabutan ini harus selalu
dijaga kebersihannya.
9.3. Saluran ditempat pencabutan yang menuju kepenampungan limbah cair harus betul-betul disaring supaya
tidak ada bulu yang terbawah dalam saluran pembuangan dan diawasi se-efektif mungkin.
9.4. Shackle yang dipakai untuk menggantung ayam selama proses pemingsanan, penyembelihan,
pencelupan kedalam air panas dan pencabutan bulu harus dibilas dengan shackle washer sebelum
digunakan untuk proses berikutnya.
10. Re-Checking
10.1.
Setelah melewati proses defeathering, kemudian dilakukan proses re-checking oleh Petugas
Produksi yang meliputi rechecking efektifitas pencabutan bulu, warna daging akibat overscalding dan
hsil penyembelihan yang tidak sempurna atau ayam tidak tersembelih.
10.2.
Apabila pencabutan masih kurang sempurna maka dilakukan penyesuaian plucker dan suhu
scalding harus diperiksa ulang oleh petugas produksi. Karkas ayam yang telah dicabut bulunya harus
diperiksa lagi untuk memastikan bahwa tidak ada bulu lagi yang tertinggal, apabila hal ini terjadi maka
harus dilakukan pencabutan secara manual. (Form SH 04: Efficiency Defeathering Report).
Disetujui
PROSEDUR
Koordinator
Tanggal
Hal.
01 - 08 - 11
1/5
No. Dokumen
Revis
i
PS PH 01
00
Disetujui
PROSEDUR
Koordinator
Tanggal
Hal.
01 - 08 - 11
1/5
No. Dokumen
Revis
i
PS PH 01
00
Disetujui
PROSEDUR
Koordinator
Tanggal
Hal.
01 - 08 - 11
1/5
No. Dokumen
Revis
i
PS PH 01
00
19.4Petugas QC melaksanakan pengambilan sampel karkas dibagian dada (SBB), yaitu 1 (satu) karkas dari 8
(delapan) truk pada farm yang sama. Sampel diiris tipis dan dimasukkan dalam kantong untuk pengujian
antibiotik. Demikian juga lemak dikumpulkan dari setiap 8 (delapan) truk ayam yang berasal dari farm yang
sama, diambil kira-kira 100 gram untuk diperiksa pestisidanya untuk dikirim ke laboratorium pengujian.
20. Giblet Pulling
[Link] pelepasan jerohan, karkas harus dicuci bersih dengan semprotan air. Pengeluaran seluruh jerohan
harus dilakukan dengan cepat dan hati-hati agar tidak merusak atau merobrk ususnya. Trachea dan
oesophagus juga harus dikeluarkan seluruhnya dari karkas. Setiap selesai pengeluaran jerohan, tangan harus
dibilas dengan air. Petugas produksi memeriksa hasil proses penarikan jerohan. Petugas QC memeriksa hasil
penarikan jerohan (minimal 90% dari 100 sampel pet truk) (Form QS 03: Pemeriksaan di Ruang
Pengeluaran Isi Perut/Jeroan (Evisceration Room)).
[Link] dilepaskan dari karkas, jerohan dimasukan dalam saluran-saluran yang berisi air mengalir pada meja
penyiangan. Organ-organ, seperti ampela, hati, jantung, empedu, limpa, ginjal dan paru-paru dimasukkan
pada satu saluran tertentu, sedangkan usus dialirkan pada saluran tersendiri yang kemudian diteruskan
kesaluran pembuangan khusus untuk usus bersama-sama dengan sisa trachea dan oesophagus. Jerohan harus
segera didinginkan pada suhu 40C (390F) atau lenih rendah.
[Link] segera dikemas dalam kantung polythylene tertutup untuk segera diangkut ke gudang dingin (chill
room).
[Link] hasil inspeksi post mortem, dipisahkan antara karkas yang masih dapat diterima dan karkas yang
ditolak. Tempat sortasi karkas tersebut terletak bersebrangan dengan tempat pelepasan jerohan. Karkas yang
masih dapat diterima disusi terlebih dahulu sebelum diteruskan kedalam tahap berikutnya.
[Link] ini disediakan tempat cuci tangan dengan air hangat pada suhu 40 0C +/-50C dan larutan klorin 50
ppm.
[Link] yang melaksanakan pekerjaan pengeluaran isi perut/jeroan (Evisceration) harus mencuci tangan
dengan air hangat dan air clorine 50 ppm untuk setiap selesai pengerjaan per truk.
21. Inside Outside Washing
[Link] bagian luar dan dalam dibersihkan dan dicuci dengan disemprot air bertekanan tinggi sebelum
masuk kedalam Chiller.
[Link] QC harus memeriksa kebersihan karkas secara visual.
Bagian IV: RUANG ALAT PENDINGIN (CHILLER)
22. Chilling
[Link] pendinginan karkas dilakukan dilakukan di dalam mesin screw chiller. Screw chiller harus
ditempatkan terpisah dari ruang penyiangan.
[Link] didinginkan dengan cara direndam dalam air dingin di screw chiller selama 25 + 2 menit untuk
mencapai suhu pusat < 40C (Form QS 07: Pemeriksaan di Ruang Screw Chiller).
[Link] dan es yang digunakan untuk pendinginan harus memenuhi persyaratan air bersih. Air dingin tersebut
harus dipertahankan suhunya dengan dibantu oleh pemberian es (Form LB 05: Report on Water and Ice
Analysis).
[Link] dingin yang masuk ke dalam screw chiller harus continue dan dikeluarkan secara rutin dengan
menggunakan sistem over flow. Kondisi di screw chiller dibuat sedemikian rupa sehingga arah aliran air
akan berlawanan dengan arah perjalanan karkas dalam screw chiller.
Disetujui
Tanggal
Hal.
PROSEDUR
Koordinator
01 - 08 - 11
1/5
No. Dokumen
Revis
i
PS PH 01
00
[Link] air yang diperlukan untuk perendaman di chiller harus lebih dari cukup untuk menjaga sanitasi
dengan kebutuhan kira-kira sebagai berikut
Chiller 1
Chiller 2
Suhu Air
(0C)
Max 100C
<3
[Link] harus terus menerus ditambahkan dan jumlah es ini harus dikontrol agar pada waktu air dingin dan
volume air yang dikeluarkan dari chiller sudah menjadi dingin dan es sudah mencair seluruhnya.
[Link] QC harus memonitor sahu pusat karkas, suhu air chiller, kadar khlorin dalam air dingin dan volume
air yang dibutuhkan untuk perendaman di chiller setiap jam (Form QS 07: Pemeriksaan di Ruang Screw
Chiller).
23. Dripping
[Link] karkas yang keluar dari chiller harus ditiriskan dengan mempergunakan drip drum.
[Link] drum harus dicuci dan disanitasi setiap awal produksi dan setelah operasional (Form QS 09:
Kebersihan di Ruang Screw Chiller dan Cut-Up).
24. ON Neck Hanging
[Link] ditiriskan, karkas tersebut digantung kembali pada shackle sambil dilakukan sortasi antara karkas
yang akan dijadikan griller (whole bird) dan untuk produk cutting-up.
[Link] karkas tersebut didasarkan atas kondisi yang dilakukan secara visual dan rencana produksi hari
itu. Selanjutnya karkas yang digantung pada leher tadi akan dijalankan lewat shackle ke ruang pengolahan/
cut-up untuk diproses lebih lanjut.
[Link] diperlukan maka sortasi dapat dibantu dengan menggunakan alat timbang.
[Link] yang melakukan sortasi adalah karyawan yang sudah terlatih dan berpengalaman.
Bagian V: RUANG PENGOLAHAN/PEMOTONGAN
(Ruang pengolahan ini tertutup dan harus terpisah dari ruang penyiangan dan ruangan penanganan lainnya.
Hanya khusus pekerja diruang pengolahan ini saja yang boleh memasuki dan bekerja di area ini. Pekrja dari
lain ruangan tidak diperkenankan memasuki ruangan pengolahan).
25. Main Line Cutting-Up
Ruangan
[Link] ruang pengolahan/cut-up dipertahankan antara 10-150C. (Form QS 13: Pemeriksaan Suhu Produk
Di ruang Cut-Up).
[Link] dalam ruang pemotongan/pengolahan disediakan tempat cuci tangan yang mencukuppi dan ditempatkan
pada tempat yang mudah terjangkau oleh pekerja. (Form QS 08: Pemeriksaan Kadar Khlorin dan Suhu
Air).
Disetujui
PROSEDUR
Koordinator
Tanggal
Hal.
01 - 08 - 11
1/5
No. Dokumen
Revis
i
PS PH 01
00
[Link] tempat pencucian selama proses produksi disediakan terpisah yang dilengkapi dengan fasilitas
steam/air panas, detergent dan desinfenctant. Peralatan yang dibersihkan antara lain pisau, telenan dan
keranjang.
[Link] harus mempunyai lubang pembuangan yang dialirkan ketempat pembuangan atau saluran air.
Conveyor dan peralatan untuk proses produksi dicuci secara berkala dan dijaga kebersihannya (Form QS
09: Kebersihan di Ruang Screw Chiller dan Cut-Up dan QS 15: Kebersihan Selama Produksi.
[Link] yang permukaannya berhubungan langsung dengan produk, tidak boleh diletakkan dilantai,
wadah-wadah tersebut harus ditempatkan dengan diberi tatakan/alas.
[Link] mesin atau peralatan memiliki design dan menggunakan bahan yang diisyaratkan dalam industri
pangan, seperti: tidak menyerap air, bau, tidak karatan, dll. Contoh tersebut adalah stainless steel, plastik,
dll.
[Link] sistem pencahayaan di pabrik harus memiliki tutup pengamanan, untuk mencegah jatuhnya
pecahan lampu.
Proses Kerja
[Link] mencegah agar produk tidak mengalami kerusakan lebih lanjut karena peningkatan suhu, karkas
dan bagian potongan yang menunggu pengolahan lebih lanjut harus mengalir berkesinambungan secara
teratur supaya timbal balik akumulasi produk tetap terjaga. Bagian hasil pemotongan ayam dapat
disimpan asalkan dikemas dalam kantong plastik dan diberi es secara berlapis-lapis, yang kemudian
ditempat diwadah yang ada lubang pengeluaran air.
[Link] pusat produk Griller (ayam utuh dengan tulang) dipertahankan pada suhu < 10 0C. Secara umum,
bagian-bagian hasil pemotongan ayam suhunya dipertahankan pada suhu 10 0C pada ujung konveyor,
jika tidak ( 100C) maka bagian-bagian hasil pemotongan tersebut harus segera dikirim ke ruang
pendingin supaya suhunya mencapai 100C (Form QS 13: Pemeriksaan Suhu Produk di Ruang CutUp). Petugas QC melakukan pemeriksaan suhu produk dan suhu ruang dengan menggunakan termometer
yang telah dikalibrasi oleh petugas kalibrasi internal.
25.10.
Keterampilan dari pekerja dibagian deboring harus dijaga dalam rangka menekan
kontaminasi pecahan tulang dan benda asing pada produk akhir dan pemenuhan spesifikasi (Form QS
14: Kontaminasi Benda asing).
25.11.
Pada akhir alur proses produksi/conveyor , produk harus melewati pemeriksaan
petugas produksi dan QC yang berwenang (Produk QS 10: Pemeriksaan Produk dan QS 14:
Kontaminasi Benda Asing).
25.12.
Petugas QC mengambil sampel untuk diuji secara mikrobiologis (Form LB 01:
Laboratory Sample Submission).
25.13.
Dalam ruang pengolahan karkas diolah menjadi produk-produk sebagai berikut dan
suhu masing-masing produk dimonitor.
25a. Basic Lines
25a.1. Griller Sizing Produk 1.
Karkas dalam bentuk masing utuh, tanpa ceker, tidak cacat dan berat memenuhi spesifikasi.
Karkas tersebut digantung pada lehernya dengan punggung ayam menghadap kearah pekerja (diruang
pemotongan).
Karkas dipotong pada bagian leher sehingga didapat bagian produk karkas tanpa leher atau griller.
Griller dibersihkan dari sisa lemak dan ditimbang sesuai spesifikasi.
25a.2. Bone in Leg (BIL) Produk 4
Pemotongan kaki karkas pada pangkalnya dilakukan di main line.
Untuk pemotongan kaki kanan karkas dilakukan dengan tangan kanan, sedangkan kaki kiri karkas
dilakukan dengan tangan kiri.
Produknya adalah berupa paha utuh, yang kemudian dibersihkan dari lemak yang berlebihan.
25a.3. Drum Stick Produk 5 dan Bone IN Thigh (BIT) Produk 6
Bone in Leg (paha utuh) dipotong menjadi dua tepat pada persendiannyasehingga didapat produk paha
bawah (Drum Stick) dan paha atas (Bone in Thigh).
Dibersihkan dari kulit dan lemak yang berlebihan.
Disetujui
PROSEDUR
Koordinator
Tanggal
Hal.
01 - 08 - 11
1/5
No. Dokumen
Revis
i
PS PH 01
00
Disetujui
PROSEDUR
Koordinator
Tanggal
Hal.
01 - 08 - 11
1/5
No. Dokumen
Revis
i
PS PH 01
00
25b.7.
25b.8.
25b.9.
Disetujui
Tanggal
Hal.
PROSEDUR
Koordinator
01 - 08 - 11
1/5
No. Dokumen
Revis
i
PS PH 01
00
25c.1.7. Total waktu penggunaan mesin pencampur dicatat dan didokumentasikan oleh petugas QC (Form QS
26: Pemeriksaan Tumbling).
25c.2. Tumbling (Vakum)
25c.2.1. Petugas QC memeriksa proporsi bahan baku dan larutan bumbu sesuai spesifikasi sebelum dimasukan
dalam mesin tumbling. Mesin ini dioperasikan sesuai dengan spesifikasi masing-masing produk (Form
QS 26: Pemeriksaan Tumbling).
25c.2.2. Mesin Tumbling diperiksa terlebih dahulu oleh petugas Engineering sebelum digunakan (Form EN 07:
Service Report).
25c.2.3. Parameter pengoprasian Mesin Tumbling dicatat dan didokumentasikan oleh petugas QC (Form QS
26: Pemeriksaan Tumbling).
25c.2.4. Petugas QC melakukan pemeriksaan suhu produk akhir tumbling (Form QS 26: Pemeriksaan
Tumbling).
25c.2.5. Petugas produksi memeriksa peningkatan berat hasil tumbling untuk mendapatkan range peningkatan
berat sesuai spesifikasi yang diminta.
25c.2.6. QC melakukan pengambilan sample untuk dianalisa di Laboratorium (LB 03: Report of Analysis).
26. Weighing and Packing
[Link] pengemas pada waktu diterima diperiksa terlabih dahulu mengenai kebersihannya sebelum
dipergunakan, dan juga mengenai kekuatan dan daya tahannya dalam melindungi produk dari
kontaminasi. (Form QW 06: Pemeriksaan Kemasan dari Pemasok).
[Link] pengemas itu dapat meliputi plastik HDPE dan LPDE yang disimpan dalam gudang atau
disediakan sementara diruang pengolahan untuk pengemasan yang bersifat segera.
[Link] pengemas yang akan digunakan diberi label sesuai dengan spesifikasi dan diperiksa oleh QC
(Form QS 19: Pemeriksaan Laberisasi Kemasan di Dry Store Cut-Up).
[Link] jenis produk dari bagian-bagian hasil pemotongan ayam harus ditimbang dengan timbangan yang
telah dikalibrasi oleh petugas kalibrasi internal dan dikemas sesuai spesifikasi.
[Link] jenis produk tersebut dilakukan pengecekan berat (Form QS 10: Pemeriksaan Produk). Dan
kesesuaian kemasan secara visual.
[Link] produksi harus memeriksa dan melakukan tindakan koreksi terhadap berat setiap kemasan
apabila beratnya tidak sesuai spesifikasi. Petugas QC melakukan pengecekan kembali terhadap berat dari
kemasan yang diambil secara acak (Form QS 10: Pemeriksaan Produk). Kemasan segera diteruskan ke
meja dan bak conveyor untuk dilakukan pengemasan secara vakum.
[Link] QC melakukan pemeriksaan timbangan secara berkala (Form QS 11: Pemeriksaan
Timbangan).
27. Vacum Sealing
[Link] pengemasan vakum dipisahkan atau diberi jarak dengan bagian lain di dalam ruang pengolahan
untuk mengurangi kontaminasi.
[Link] produk dikemas dalam pengemasan plastik dan masing-masing ditimbang sesuai dengan
spesifikasi beratnya, maka produk tersebut kemudian dilakukan penutupan secara vakum sesegera
mungkin.
[Link] produksi harus memantau secara visual keefektifan hasil cakum sealing yang digunakan untuk
pengemasan. Apabila ditemukan kemasan yang tidak vakum maka produk tersebut segera dilakukan
repacking dan di vakum sealing kembali.
Disetujui
PROSEDUR
Koordinator
Tanggal
Hal.
01 - 08 - 11
1/5
No. Dokumen
Revis
i
PS PH 01
00
Disetujui
PROSEDUR
Koordinator
Tanggal
Hal.
01 - 08 - 11
1/5
No. Dokumen
Revis
i
PS PH 01
00
[Link] yang sudah dikemas harus dijaga kebersihannyadan dicegah supaya tidak diletakkan langsung diatas
lantai (diletakkan diatas pallet).
[Link] digunakan, kemasan luar diberi label sebagai berikut :
Kode Produksi
Produk dari Indonesia (untuk UE,Australia, USA)
Pernyataan Halal
Nomor Kontrol Veteriner (NKV)
Diolah oleh CPI
Nama Produk
Ukuran
Berat Bersih
Tanggal Kadaluarsa
(Form QS 22: Pemeriksaan Labelisasi Karton Boks dan Karung)
[Link] produksi memeriksa kondisi kemasan produk yang telah dibekukan (inner bag). Apabila ditemukan
kemasana yang bocor maka harus direpack dan divakum ulang.
[Link] QC memeriksa kondisi kemasan (Form QS 21: Pemeriksaan Berat Produk dan Kondisi
Kemasan).
Bagian VI: COLD STORAGE 2
32. Cold Storaging
[Link] diterima oleh warehouse dari ruang packing produksi memakai Bukti Penerimaan Barang (SAP).
[Link] jenis produk disusun diatas pallet berdasarkan kode produksi yang sama.
[Link] yang sudah disusun diatas pallet ditempatkan pada mobile rack memakai forklift machine sesuai
dengan blok lay out produk.
[Link] produk yang masuk di cold storage 2 dikontrol dengan cara pembuatan Laporan Stock Cold Storage.
[Link] ruang penyimpanan produk cold storage 2 adalah -200C 10C, sedangkan suhu produk dipertahankan
pada < -180C.
[Link] QC selalu mengontrol suhu ruang penyimpanan di cold storage2 dan suhu pusat produk. (Form
QW 03: Pemeriksaan Suhu di Ruang Cold Storage, QW 02: Pemantauan Suhu Produk di Cold
Storage).
32.7.
33. Pre Loading
[Link] Ante Room dari cold storage 2 dipertahankan pada maksimum 50C. Produk disiapkan di Ante Room
sebelum dilakukan pemuatan di mobil pengangkut (Form QW 01: Pemantauan Suhu Anteroom Cold
Storage dan Suhu Container).
[Link] produk menggunakan sistem FIFO (First In First Out).
Disetujui
Tanggal
Hal.
PROSEDUR
Koordinator
01 - 08 - 11
1/5
No. Dokumen
Revis
i
PS PH 01
00
Disetujui
Tanggal
Hal.
HACCP PLAN
Koordinator
23 - 11 - 15
1/3
No. Dokumen
Revis
i
HP SH 02
00
ALUR PROSES
Lokasi
Input
TEMPAT PENERIMAAN
Alur Proses
By Product
Waste
Feces
Ayam Mati
4. On Feet Hanging
RUANG PENGGANTUNGAN
RUANG PENGGANTUNGAN
5. Stunning
6. Slaughtering
7. Bleeding
Darah Segar
8. Scalding
9. Defeathering I & II (Machine I & II)
10. Re-checking
Bulu Ayam
Kepala Ayam
Ceker
Yellow Skin
Defect bird
Reject products
22. Chilling
23. Dripping
24. Haging & Grading
25. Main line Cutting-up
25a. Basic Lines *
25b. Special Lines *
Plastik pembungkus
RM & Premix
Plastik pembungkus
RM & Premix