0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
100 tayangan28 halaman

BAB II Blefaritis

BAB 2 membahas anatomi kelopak mata dan definisi, etiologi, patofisiologi, gejala, dan klasifikasi blefaritis. Blefaritis adalah peradangan pada tepi kelopak mata yang disebabkan oleh infeksi bakteri, dermatitis seboroik, atau gangguan kelenjar meibom.

Diunggah oleh

niqma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
100 tayangan28 halaman

BAB II Blefaritis

BAB 2 membahas anatomi kelopak mata dan definisi, etiologi, patofisiologi, gejala, dan klasifikasi blefaritis. Blefaritis adalah peradangan pada tepi kelopak mata yang disebabkan oleh infeksi bakteri, dermatitis seboroik, atau gangguan kelenjar meibom.

Diunggah oleh

niqma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Kelopak Mata


Lapisan struktural pada kelopak mata : 1
1. Kulit dan jaringan subkutan
2. Otot protraktur
3. Septum orbita
4. Lemak orbita
5. Retractor palpebra
6. Tarsus
7. Konjungtiva palpebra

Gambar 2.1 Anatomi Kelopak Mata


3

Tepian palpebra terdiri dari:

Tepian Anterior:
Bulu Mata
Glandula Zeiss
Glandula Moll

Tepian Posterior

Punctum Lacrimale

Gambar 2.2 Anatomi Kelopak Mata.


Kulit dan jaringan subkutan
Kulit kelopak mata merupakan kulit yang tertipis dari tubuh dan memiliki
keunikan dimana tidak ada lapisan lemak subkutan. Karena kulit tipis pada

kelopak mata mendapat gerakan konstan dari kedipan, sehingga menjadi kendur
seiring dengan usia. Pada kedua kelopak mata atas dan bawah, jaringan pretarsal
biasanya melekat erat pada jaringan dibawahnya, sedangkan jaringan preseptal
lebih longgar melekat, membentuk ruang potensial untuk akumulasi cairan.1
Protractor
Otot orbicularis oculi merupakan protractor pada kelopak mata. Kontraksi
otot ini, yang dipersarafi oleh nervus VII, memperkecil fisura palpebra. Otot ini
juga merupakan pompa lakrimal. Otot orbikularis dibagi menjadi pretarsal,
preseptal, dan orbital palpebra. Bagian pretarsal dari kelopak mata atas dan bawah
orbicularis bagian dalam berasal dari puncak lakrimalis posterior dan bagian luar
pada ekstremitas anterior tendon kantus medial.1
Septum Orbita
Septum orbita, lembaran jaringan fibrosa merah tipis berlapis, muncul dari
periosteum melalui orbita rima superior dan inferior di arcus marginal. Sebagai
akibat dari penuaan, septum baik di atas dan bawah kelopak mata dapat menjadi
sangat melemah. Penipisan septum dan kelemahan dari otot orbicularis
berkontribusi dalam herniasi anterior lemak orbital pada penuaan kelopak mata.1
Lemak Orbita
Orbital lemak terletak di sebelah posterior septum orbita dan sebelah
anterior aponeurosis levator (kelopak atas) atau fasia capsulopalpebral (kelopak
mata bawah). Di kelopak mata atas, ada 2 kantong lemak: nasal dan sentral.
Dalam kelopak mata bawah ada 3 kantong lemak: nasal, sentral, dan temporal.
Kantong ini dikelilingi oleh selubung fibrosa tipis yang ke depan berlanjut pada
sistem orbitoseptal anterior. Bantalan lemak sentral orbita merupakan penanda
penting baik operasi kelopak mata elektif dan operasi laserasi kelopak karena
terletak tepat di belakang septum orbita dan di depan levator aponeurosis.1
Retraktor Palpebra

Berfungsi membuka palpebra. Dibentuk oleh kompleks makulofasial


dengan komponen otot rangka dan polos, dikenal sebagai kompleks levator di
palpebra superior dan fascia capsulopalpebrae di inferior.1
Di palpebra superior, bagian otot rangka adalah levator palpebra
superioris, yang berasal dari apeks orbita dan berjalan ke depan dan bercabang
menjadi sebuah aponeurosis dan bagian yang lebih dalam mengandung serat-serat
otot polos m. Muller (tarsalis superior).1
Di palpebra inferior, retraktor utama adalah m. Rectus inferior, yang
menjulurkan jaringan fibrosa untuk membungkus [Link] inferior dan
berinsersatio ke dalam batas bawah tarsus inferior dan orbikularis okuli.1
Tarsus
Struktur penyokong palpebra yang utama adalah lapisan jaringan fibrosa
padat yang bersama sedikit jaringan elastik disebut lempeng tarsus. Sudut lateral
dan medial serta juluran tarsus tertambat pada tepi orbita dengan adanya ligamen
palpebrae lateralis dan medialis. Lempeng tarsus superior dan inferior juga
tertambat pada tepi atas dan bawah orbita oleh fasia yang tipis dan padat. Fasia
tipis ini membentuk septum orbitale.1
Konjungtiva Palpebra
Bagian posterior palpebra dilapisi selapis membran mukosa, konjungtiva
palpebra, yang melekat erat pada tarsus. Insisi bedah melalui garis kelabu tepian
palpebra membelah palpebra menjadi lamella anterior kulit dan musculus
orbiclaris oculi serta lamella posterior lempeng tarsal dan konjungtiva palpebra.1
Tepian Palpebra

Tepian Anterior
Bulu mata: muncul dari tepian palpebra dan tersusun tidak teratur.
Bulu mata atas lebih panjang dan lebih banyak daripada bulu mata
bawah serta melengkung ke atas; bulu mata bawah melengkung ke
bawah.

Glandula Zeiss: struktur ini merupakan modifikasi kelenjar sebasea


kecil, yang bermuara ke dalam folikel rambut pada dasar bulu mata.
Glandula Moll: struktur ini merupakan modifikasi kelenjar keringat
yang bermuara membentuk satu barisan dekat bulu mata.

Tepian Posterior
Tepian palpebra posterior terdapat kontak dengan bola mata, dan di
sepanjang tepian ini terdapat muara-muara kecil kelenjar sebasea yang
telah mengalami modifikasi (kelenjar Meibom, atau tarsal). 2

2.2 Definisi Blefaritis


Blefaritis adalah peradangan pada tepi kelopak mata, biasanya pada tempat
dimana folikel bulu mata berada, disertai dengan adanya krusta, sisik yang tebal,
luka, atau kemerahan serta pembengkakan pada tepi kelopak mata.3
Gambar 2.3 Blefaritis

Gambar 2.4 Mata Normal (gambar atas) dan Blefaritis (gambar bawah).

Gambar 2.5 Mata Normal (kiri) dan Blefaritis (kanan).


2.2 Etiologi Blefaritis
Blefaritis ditandai dengan adanya pembentukan minyak berlebihan di
dalam kelenjar di dekat kelopak mata yang merupakan lingkungan yang disukai
oleh bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di kulit. Gangguan-gangguan
yang dapat menyebabkan blefaritis meliputi infeksi staphylococcus pada kelopak
mata atau pada saluran kelenjar yang berada pada tepi kelopak mata, infeksi virus

tertentu (biasanya virus herpes simpleks), dan reaksi alergi. Kondisi kulit tertentu,
seperti dermatitis seborrhoic dan rosasea, bisa mengenai wajah, termasuk kelopak
mata, sehingga dapat menyebabkan peradangan dan blepharitis. Penyebab lain
dapat berupa peradangan, sumbatan dari kelenjar minyak (kelenjar meibom) pada
tepi kelopak mata, yang disebabkan oleh rosasea.3
Blefaritis merupakan peradangan kronik pada tepi kelopak mata yang
disebabkan oleh infeksi staphylococcus, dermatitis seboroik, gangguan kelenjar
meibom, atau gabungan dari ketiganya. Kelenjar meibom terdapat di sepanjang
batas kelopak mata, dibelakang batas bulu mata, kelenjar ini menghasilkan
minyak ke kornea dan konjungtiva. Kelenjar ini disekresikan dari lapisan luar air
mata, yang bisa menghambat penguapan air mata, dan membuat permukaan air
mata menjadi tetap halus, dan membantu menjaga struktur keadaan mata.
Dermatitis seboroik dan rosasea keduanya mempengaruhi glandula sebasea. 4
Blefaritis dapat disebabkan infeksi yang biasanya berjalan kronis atau
menahun. Blefaritis alergi biasanya berasal dari debu, asap, bahan kimia iritatif,
dan bahan kosmetik. Di kenal bentuk blefaritis skuamosa, blefaritis ulseratif, dan
blefaritis angularis. Blefaritis dapat disebabkan infeksi staphylococcus, dermatitis
seboroik, gangguan kelenjar meibom, atau gabungan dari ketiganya. Blefaritis
anterior biasanya disebabkan karena infeksi staphylococcus atau dermatitis
seboroik yang menyerang bulu mata. Blefaritis seboroik serupa dengan dermatitis
seboroik, dan posterior blefaritis (meibomian blefaritis) disebabkan gangguan
pada fungsi kelenjar meibom. 2
Kelenjar meibom yang ada sepanjang batas kelopak mata, dibelakang
batas bulu mata, kelenjar ini menghasilkan minyak ke kornea dan konjungtiva.
Kelenjar ini disekresikan dari lapisan luar air mata, yang bisa menghambat
penguapan air mata, dan membuat permukaan mata menjadi tetap halus, dan
membantu menjaga struktur dan keadaan mata.5
2.3 Patofisiologi Blefaritis
terjadi kolonisasi bakteri pada mata karena adanya pembentukan minyak
berlebihan di dalam kelenjar di dekat kelopak mata yang merupakan lingkungan

10

yang disukai oleh bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di kulit. Hal ini
mengakibatkan invasi mikrobakteri secara langsung pada jaringan pada sekitar
kelopak mata, mengakibatkan kerusakan sistem imun atau terjadi kerusakan yang
disebabkan oleh produksi toksin bakteri, sisa buangan dan enzim. Kolonisasi dari
tepi kelopak mata dapat diperberat dengan adanya dermatitis seboroik dan
kelainan fungsi kelenjar meibom.7
2.4 Gejala Blefaritis
Blefaritis menyebabkan rasa seperti ada sesuatu di mata. Mata dan kelopak
mata terasa gatal panas, dan merah. Mata bisa berair dan sensitif terhadap cahaya
terang. Kelopak mata dapat membengkak, dan beberapa bulu mata dapat berubah
warna menjadi putih dan rontok. Terkadang bisa terbentuk abses kecil disertai
nanah. Dapat terbentuk krusta yang melekat erat pada tepi kelopak mata dan
berdarah jika diangkat. Saat tidur sekresi mata mengering sehingga membuat
kelopak mata menjadi sulit dibuka ketika bangun tidur.4
Blefaritis cenderung untuk berulang dan sulit diatasi. Blefaritis membuat
penderita sangat tidak nyaman, tetapi biasanya tidak menyebabkan kerusakan
pada kornea atau hilangnya penglihatan. Ada kalanya blefaritis ulseratif dapat
menyebabkan rontoknya bulu mata, jaringan parut pada tepi kelopak mata, dan
pada kasus yang jarang peradangan yang mengenai kornea.4
Pasien dengan blefaritis mengalami gejala seperti iritasi mata, terasa gatal,
kemerahan pada kelopak mata, dapat disertai oleh perubahan pada bulu mata.
Gejala yang menyertai seperti:

mata terasa panas

berair

terasa seperti ada benda asing

crusta pada bulu mata dan kantus medial

kelopak mata kemerahan

mata merah

fotofobia

11

nyeri

penglihatan menurun

Kondisi ini sering menjadi kronik dengan eksaserbasi yang intermiten disertai
dengan erupsi. Dermatitis seboroik dapat berhubungan dengan gejala kepala
terasa gatal dan kulit berminyak. Rosasea dapat berhubungan dengan hidung
kemerahan dan bengkak, pustula, iritasi mata. 6
Gejala pada blefaritis yaitu mata gatal, nyeri, dan berair. Tanda pada
blefaritis yaitu:7

daerah sekeliling kelopak tampak kemerahan

krusta pada bulu mata

perubahan mikroanatomi tepi kelopak mata:


iregular
telangiektasis.

2.5 Klasifikasi Blefaritis


Berdasarkan letaknya, blefaritis dibagi menjadi:

Blefaritis Anterior: radang bilateral kronik yang umum di tepi palpebra.


Ada dua jenis utamanya: stafilokok dan seborreik. Blefaritis stafilokok
dapat disebabkan oleh infeksi Staphylococcus aureus, yang sering
ulseratif, atau Staphylococcus epidermidis (stafilokok koagulase-negatif).
Blefaritis seborreik (non-ulseratif) umumnya berkaitan dengan keberadaan
Pityrosporum ovale meskipun organisme ini belum terbukti menjadi
penyebabnya. Seringkali kedua jenis blefaritis ada secara bersamaan
(infeksi campur). Seborrea kulit kepala, alis, dan telinga sering menyertai
blefaritis seborreik. Gejala utamanya adalah iritasi, rasa terbakar, dan gatal
pada tepi palpebra. Mata yang terkena bertepi merah. Banyak sisik atau
granulasi terlihat menggantung di bulu mata palpepbra superior maupun
inferior. Pada tipe stafilokok, sisiknya kering, palpebra merah, terdapat
ulkus-ulkus kecil di sepanjang tepi palpebra, dan bulu mata cenderung
rontok. Pada tipe seborreik, sisik berminyak, tidak terjadi ulserasi, dan

12

tepian palpebra tidak begitu merah. Pada tipe campuran yang lebih umum,
kedua jenis sisik ada, tepian palpebra merah dan mungkin berulkus. S.
Aureus dan P. Ovale mungkin muncul bersamaan atau sendiri-sendiri pada
pulasan materi kerokan dari tepi palpebra. Blefaritis stafilokok dapat
disertai komplikasi hordeolum, kalazion, keratitis epitel sepertiga bawah
kornea, dan infiltrat kornea marginal. Kedua bentuk blefaritis merupakan
predisposisi terjadinya konjungtivitis berulang. Kulit kepala, alis mata, dan
tepi paplebra harus selalu dibersihkan, terutama pada blefaritis tipe seborik
dengan memakai sabun dan shampo. Sisik-sisik harus dibersihkan dari tepi
palpebra dengan kain basah dan shampo bayi setiap hari. Blefaritis
stafilokok diobati dengan antibiotik antistafilokok atau pemberian salep
mata sulfonamide dengan aplikator kapas sekali sehari pada tepian
palpebra. Tipe seborreik dan stafilokok umumnya bercampur dan menjadi
kronik selang beberapa bulan atau tahun jika tidak diobati dengan
memadai; konjungtivits atau keratitis stafilokok penyerta umumnya cepat
teratasi setelah pengobatan antistafilokok lokal.

Blefaritis Posterior: peradangan palpebra akibat disfungsi kelenjar


meibom. Seperti blefaritis anterior, kelainan ini terjadi secara kronik dan
bilateral. Blefaritis anterior dan posterior ini dapat timbul bersamaan.
Dermatitis seborreik umunya disertai dengan disfungsi kelenjar meibom.
Kolonisasi atau infeksi strain stafilokok dalam jumlah memadai sering
disertai dengan penyakit kelenjar meibom dan bisa menjadi salah satu
penyebab gangguan fungsi kelenjar meibom. Lipase bakteri dapat
menimbulkan peradangan pada kelenjar meibom dan konjungtiva serta
menyebabkan

terganggunya

film

air

mata.

Blefaritis

posterior

bermanifestasi dalam aneka macam gejala yang mengenai palpebra, air


mata, konjungtiva, dan kornea. Perubahan pada kelenjar meibom
mencakup peradangan muara meibom (meibomianitis), sumbatan muara
kelenjar oleh sekret yang kental, pelebaran kelenjar meibom dalam
lempeng tarsus, dan keluarnya sekret abnormal lunak mirip keju bila
kelenjar itu dipencet. Dapat juga timbul hordeolum dan kalazion. Tepi
palplebra tampak hiperemis dan telangiektasia. Palpebra juga membulat

13

dan menggulung ke dalam sebagai akibat parut pada konjungtiva tarsal;


membentuk hubungan yang abnormal antara film air mata prakornea dan
muara-muara kelenjar meibom. Air mata mungkin berbusa atau sangat
berlemak. Hipersensitivitas terhadap stafilokok mungkin menyebabkan
keratitis epitelial. Kornea juga bisa membentuk vaskularisasi perifer dan
menjadi tipis, terutama bagian inferior, terkadang dengan infiltrat marginal
yang jelas. Perubahan-perubahan makroskopik pada blefaritis posterior
identik dengan kelainan-kelainan mata yang ditemukan pada acne
rosasea.1

Gambar 2.6 Palpebra anterior dan posterior

Klasifikasi berdasarkan penyebabnya : 2


1. Blefaritis Superfisial
Bila infeksi kelopak superfisial disebabkan oleh staphylococcus maka
pengobatan yang terbaik adalah dengan salep antibiotik seperti
sulfasetamid dan sulfisoxazol. Sebelum pemberian antibiotik krusta
diangkat dengan kapas basah. Bila terjadi blefaritis menahun maka
dilakukan penekanan manual kelenjar Meibom untuk mengeluarkan nanah
dari kelenjar Meibom (Meibormianitis), yang biasanya menyertai.

14

2. Blefaritis Seboroik
Blefaritis seboroik biasanya terjadi pada laki-laki usia lanjut (50 Tahun),
dengan keluhan mata kotor, panas dan rasa kelilipan. Gejalanya adalah
sekret yang keluar dari kelenjar Meiborn, air mata berbusa pada kantus
lateral, hiperemia dan hipertropi papil pada konjungtiva. Pada kelopak
dapat terbentuk kalazion, hordeolum, madarosis, poliosis dan jaringan
keropeng. Blefaritis seboroik merupakan peradangan menahun yang sukar
penanganannya. Pengobatannya adalah dengan memperbaiki kebersihan
dan membersihkan kelopak dari kotoran. Dilakukan pembersihan dengan
kapas lidi hangat. Kompres hangat selama 5-10 menit. Kelenjar Meibom
ditekan dan dibersihkan dengan shampoo bayi. Penyulit yang dapat timbul
berupa flikten, keratitis marginal, tukak kornea, vaskularisasi, hordeolum
dan madarosis.
3. Blefaritis Skuamosa
Blefaritis skuamosa adalah blefaritis disertai terdapatnya skuama atau
krusta pada pangkal bulu mata yang bila dikupas tidak mengakibatkan
terjadinya luka kulit. Merupakan peradangan tepi kelopak terutama yang
mengenai kulit di daerah akar bulu mata dan sering terdapat pada orang
yang berambut minyak. Blefaritis ini berjalan bersama dermatitik
seboroik. Penyebab blefaritis skuamosa adalah kelainan metabolik ataupun
oleh jamur. Pasien dengan blefaritis skuamosa akan terasa panas dan gatal.
Pada blefaritis skuamosa terdapat sisik berwarna halus-halus dan
penebalan margo palpebra disertai madarosis. Sisik ini mudah dikupas dari
dasarnya mengakibatkan perdarahan. Pengobatan blefaritis skuamosa ialah
dengan membersihkan tepi kelopak dengan shampoo bayi, salep mata, dan
steroid setempat disertai dengan memperbaiki metabolisme pasien.
Penyulit yang dapat terjadi pada blefaritis skuamosa adalah keratitis,
konjungtivitis.
4. Blefaritis Ulseratif
Merupakan peradangan tepi kelopak atau blefaritis dengan tukak akibat
infeksi staphylococcus. Pada blefaritis ulseratif terdapat keropeng

15

berwarna kekunung-kuningan yang bila diangkat akan terlihat ulkus yang


yang kecil dan mengeluarkan darah di sekitar bulu mata. Pada blefaritis
ulseratif skuama yang terbentuk bersifat kering dan keras, yang bila
diangkat akan luka dengan disertai perdarahan. Penyakit bersifat sangat
infeksius. Ulserasi berjalan lebih lanjut dan lebih dalam dan merusak
folikel rambut sehingga mengakibatkan rontok (madarosis). Pengobatan
dengan antibiotik dan higiene yang baik. Pengobatan pada blefaritis
ulseratif dapat dengan sulfasetamid, gentamisin atau basitrasin. Apabila
ulseratif luas pengobatan harus ditambah antibiotik sistemik dan diberi
roboransia. Penyulit adalah madarosis akibat ulserasi berjalan lanjut yang
merusak folikel rambut, trikiasis, keratitis superfisial, keratitis pungtata,
hordeolum dan kalazion. Bila ulkus kelopak ini sembuh maka akan terjadi
tarikan jaringan parut yang juga dapat berakibat trikiasis.
5. Blefaritis angularis
Blefaritis angularis merupakan infeksi staphylococcus pada tepi kelopak di
sudut kelopak atau kantus. Blefaritis angularis yang mengenai sudut
kelopak

mata

(kantus

eksternus

dan

internus)

sehingga

dapat

mengakibatkan gangguan pada fungsi puntum lakrimal. Blefaritis


angularis disebabkan Staphylococcus aureus. Biasanya kelainan ini
bersifat rekuren. Blefaritis angularis diobati dengan sulfonamid,
tetrasiklin, dan zinc sulphate. Penyulit pada pungtum lakrimal bagian
medial sudut mata yang akan menyumbat duktus lakrimal.
6. Meibomianitis
Merupakan infeksi pada kelenjar Meibom yang akan mengakibatkan tanda
peradangan lokal pada kelenjar tersebut. Meibomianitis menahun perlu
pengobatan kompres hangat, penekanan dan pengeluaran nanah dari dalam
berulang kali disertai antibiotik lokal.
7. Blefaritis Virus
- Herpes zoster
Virus herpes zoster dapat memberikan infeksi pada ganglion gaseri
saraftrigeminus. Biasanya herpes zoster akan mengenai orang dengan usia

16

lanjut. Bila yang terkena ganglion cabang oftalmik maka akan terlihat
gejala-gejala herpes zoster pada mata dan kelopak mata atas. Gejala tidak
akan melampaui garis median kepala dengan tanda-tanda yang terlihat pad
mata adalah rasa sakit pada daerah yang terkena dan badan berasa demam.
Pada kelopak mata terlihat vesikel dan infiltrat pada kornea bila mata
terkena. Lesi vesikel pada cabang oftalmik saraf trigeminus superfisial
merupakan gejala yang khusus pada infeksi herpes zoster mata.

- Herpes simplek
Vesikel kecil dikelilingi eritema yang dapat didertai dengan keadaan yang
sama pada bibir merupakan tanda herpes simpleks kelopak. Dikenal
bentuk blefaritis simpleks yang merupakan radang tepi kelopak ringan
dengan terbentuknya krusta kuning basah pada tepi bulu mata,yang
mengakibatkan kedua kelopak lengket.
8.

Blefartis Jamur
-

9.

Infeksi superficial
Infeksi jamur dalam

Blefartis Pedikulosis
Kadang-kadang pada penderita dengan hygiene yang buruk akan dapat
bersarang kutu pada pangkal silia di daerah margo palpebra.

17

Tabel 2.1 Klasifikasi blefaritis berdasarkan penyebab

2.6 Diagnosis Blefaritis


A. Anamnesis

18

Mendiagnosis penyakit blefaritis dimulai dengan melakukan anamnesis


riwayat penyakit pasien secara menyeluruh.
1. Riwayat penyakit sekarang
Menanyakan keluhan utama pasien dan keluhan lain yang menyertai.
- Tanda dan gejala : Adakah kemerahan, iritasi, rasa terbakar, gatal,
krusta di bulu mata, bulu mata hilang, antar kelopak mata menempel,
gangguan penglihatan, fotofobia, intoleransi penggunaan kontak lensa,
-

dan sering melakukan kedipan? 5


Lokasi : Kanan kiri atau kedua mata? Blepharitis biasanya bilateral,

sedangkan chalazion sering unilateral.9


Lamanya: Kapan mulai terjadi gejalanya? gejala mulai dalam beberapa
hari atau beberapa bulan yang lalu? Gejala musiman? Bisa

berhubungan dengan penyakit alergi .9


Tingkat keparahan : Apakah gejala termasuk ringan, sedang, atau

berat?9
Memperberat : " Saat terbangun , siang hari atau malam? atau
berhubungan dengan tugas visual? " gejala yang memberat saat bangun
tidur dapat dimungkinkan blefaritis karena mata atas dan bawah
menempel saat pasien sedang tidur. Paparan yang lama dari mediator
inflamasi dalam film air mata selama tidur bisa juga menyebabkan

iritasi.9
Memperingan :" Apakah ada yang bisa membuat gejala lebih baik ? "
Menggunakan tetes mata , kompres hangat dan / atau scrub kelopak
mata dapat membantu meringankan gejala blefaritis . Penggunaan
minyak pelumas tetes mata dapat membantu meringankan gejala

termasuk blepharitis , sindroma mata kering dan alergi.9


2. Riwayat penyakit dahulu 9

19

Menanyakan tentang penggunaan lensa kontak. Banyak studi


menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen pemakai lensa kontak

mengeluhkan gejala mata kering.


Menanyakan tentang riwayat infeksi mata dan riwayat operasi mata.
Menanyakan penyakit sistemik seperti DM yang dapat menyebabkan
mata kering . Penyakit lain yang bisa menyebabkan mata kering
meliputi hipertensi , ketombe kulit kepala , dermatitis seboroik dan
rosacea, demikian juga penyakit autoimun seperti sistemik lupus

erythematous, penyakit tiroid , sarkoidosis ,dan psoriasis.


Penggunaan obat yang menyebabkan mata kering seperti obat tekanan
darah seperti beta blockers dan diuretik, obat anti alergi seperti
antihistamin dan dekongestan, kontrasepsi, antidepresan, antipsikotik,

obat anti nyeri, termasuk ibuprofen, dan obat kemoterapi.


3. Riwayat sosial 9
- Riwayat konsumsi alkohol dan rokok.
- Profesi pasien, membuat catatan dari kondisi tempat kerja, jenis
pekerjaannya. Seperti penggunaan komputer, lingkungan kerja yang
berdebu.

B. Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan wajah secara menyeluruh untuk mencari tahu tanda
kemerahan, papul, pustula, dan telangiektasis seperti yang ditemukan
pada rosassea.
2. Pemeriksaan mata luar, termasuk struktur kelopak mata, tekstur kulit,
penampilan bulu mata, dasar bulu mata dan pembukaan kelenjar
meibom menggunakan cahaya terang dan pembesaran dengan
menggunkan slit lamp. Adanya ketombe pada bulu mata dapat
dihubungkan dengan terjadinya blefaritis.

20

3.

Evaluasi kuantitas dan kualitas air mata untuk setiap kelainan, tes
fluoresens dibawah sinar cobalt biru, Tear

Film Break Up Time

(TFBUT) dan Lissamine /Rose Bengal staining. Abnormal dari


TFBUT , fluoresens , Lissamine atau Rose Bengal staining merupakan
indikasi dari sindroma mata kering yang disebabkan Meibom Gland
Penyakit ( MGD ) terkait dengan blepharitis.
4. Kultur lid margin dapat diindikasikan untuk pasien yang mengalami
blefaritis yng rekuren dengan peradangan yang berat. Kemungkinan
kanker terjadi pada blefaritis posterior yang tidak respon terhadap
terapi. Biopsi kelopak mata dapat dilakukan untuk menyingkirkan
diagnosis kanker.

21

Gambar 2.7. Algoritma untuk mendiagnosis pasien dengan kelopak mata merah

22

Tabel 2.2 Perbedaan tanda pada klasifikasi blefaritis


2.9 Diagnosis Banding 8
Alergic Contact Dermatitis

Atopic Keratoconjunctivitis

Bacterial Conjunctivitis

Bacterial Keratitis

Basal Cell Carcinoma

Chalazion

23

Contact Lens Complications

Dry Eye Syndrome

Epidemic Keratoconjunctivitis

Hordeolum

Keratoconjunctivitis, Sicca

Ocular Rosacea

Preseptal Cellulitis

Superior Limbic Keratoconjunctivitis

Trichiasis

Viral Conjunctivitis

2.8 Penatalaksanaan
1. Kompres air hangat
Aplikasi panas untuk meningkatkan sekresi minyak dan mencairkan
minyak pada kelenjar meibom. Pasien umumnya diarahkan untuk
menggunakan kompres hangat basah dan menerapkannya pada kelopak
mata . Setiap dokter biasanya merekomendasikan satu atau lebih cara
untuk melakukan terapi kompres air hangat . 9 Pasien harus diinstruksikan
bagaimana cara mengompres yang benar, yaitu pada kelopak mata atas dan

24

bawah. Kompres hangat dapat membantu terutama untuk MGD dan


blefaritis posterior. 5
2. Kebersihan kelopak mata dengan scrub
Digunakan

dalam

pengelolaan

blepharitis

anterior

dan

terutama

ditargetkan untuk menghilangkan kotoran bulu mata , bakteri , toksin


bakteri , minyak dan ketombe. Tepi kelopak mata dicuci secara mekanis,
dapat dilakukan dengan handuk hangat atau dengan kain kasa. Air biasa
sering digunakan, meskipun beberapa dokter lebih suka bahwa beberapa
tetes shampo bayi dicampur dalam satu tutup botol penuh air hangat untuk
membentuk larutan pembersih. Harus diperhatikan untuk menggosokgosok lembut atau scrubbing dari tepi kelopak mata itu sendiri, bukan
kulit kelopak atau permukaan konjungtiva bulbi.

Saat ini telah tersedia secara komersial produk scrub kelopak mata secara
eksklusif diformulasikan untuk tujuan membersihkan mata . Tersedia
dalam busa , gel, dan bantalan yang dibasahkan seperti OCuSOFT kelopak
mata Pembersih dan SteriLid ( TheraTears )Pembersih mata. 9
Hal ini penting diedukasikan kepada pasien bahwa kompres hangat dan
menjaga kebersihan kelopak mata adalah elemen kunci dari manajemen
blepharitis.9
3. Artificial tears
4. Salep antibiotik
- Azithromicin : diberikan tetesan sebelum tidur selama seminggu atau
-

lebih.9
Bacitracin salep mata : dioleskan inci Strip; berlaku untuk dasar
kelopak mata sebanyak satu atau lebih pemberian dalam sehari selama
beberapa hari.9

25

Eritromicin salep mata : dioleskan inci Strip; berlaku untuk dasar


kelopak mata sebanyak satu atau lebih pemberian dalam sehari selama

beberapa hari.9
Metronidazole

menggunakan salep antibiotik mata tidak optimal.5


Frekuensi pemberian dan lama pemberian diberikan tergantung dari

gel

dapat

digunakan

jika

pengobatan

dengan

tingkat keparahan dari blefaritis dan respon pengobatan.5


5. Kortikosteroid topikal
Kortikosteroid dapat menyebabkan peningkatan TIO sehingga pasien harus
dipantau ketat ketika diberikan kortikosteroid. biasanya diresepkan untuk
kurang dari 14 hari.9
6. Kombinasi kortikosteroid dan antibiotik topikal 9
7. Antibiotik sistemik
Umumnya diberikan pada blefaritis posterior seperti tetrasiklin atau
eritromisin. Peradangan membutuhkan pengobatan aktif, termasuk jangka
panjang dosis rendah antibiotik sistemik, biasanya dengan doksisiklin
( 100 mg dua kali sehari) atau eritromisin (250 mg tiga kali sehari dan
sebaiknya jangka pendek).10 Pada penyakit MGD yang kronis dan tidak
membaik dengan kompres hangat dapat diberikan
8. Perbaikan pola hidup 9
- Berhenti merokok
- Diet omega-3 seperti dalam minyak biji rami dan komponen lainnya .
serta Omega-3 dalam bentuk resep Lovaza ( GlaxoSmithKline ) dapat
bermanfaat dalam penyembuhan syndrom mata kering dan MGD
9. Perbaikan lingkungan hidup 9
- Meningkatkan kelembaban lingkungan menghindari kipas angin dan
-

AC yang langsung terpapar ke wajah.


Memberbaiki sikap tubuh saat di depan komputer

2.9 Komplikasi

26

Komplikasi yang berat karena blefaritis jarang terjadi. Komplikasi yang


paling sering terjadi pada pasien yang menggunakan lensa kontak. Mungkin
sebaiknya disarankan untuk sementara waktu menggunakan alat bantu lain seperti
kaca mata sampai gejala blefaritis benar-benar sudah hilang.8
1. Hordeolum: adalah suatu infeksi bakteri pada salah satu kelenjar minyak
yang tersumbat. Hasilnya adalah benjolan yang nyeri di tepi atau di dalam
kelopak mata.
2. Chalazion: Sebuah chalazion atau granuloma konjungtiva terjadi ketika
penyumbatan di salah satu kelenjar minyak menyebabkan kelenjar yang
menjadi membesar dan menimbulkan jaringan parut.
3. Mata merah: blefaritis dapat menyebabkan serangan berulang mata merah
(konjungtivitis).
4. Ulserasi kornea: iritasi yang terus menerus dari kelopak mata yang
meradang atau salah arah bulu mata dapat menyebabkan goresan (ulkus) di
kornea.
Blefaritis tidak mempengaruhi penglihatan pada umumnya, meskipun
defisiensi tear film kadang dapat mengaburkan penglihatan, menyebabkan
berbagai derajatpenglihatan berfluktuasi sepanjang hari.8
2.10 Prognosis
Kebersihan yang baik (pembersihan secara teratur daerah mata) dapat
mengontrol tanda-tanda dan gejala blefaritis dan mencegah komplikasi. Perawatan
kelopak mata yang baik biasanya cukup untuk pengobatan. Harus cukup nyaman
untuk menghindari kekambuhan, karena blefaritis sering merupakan kondisi
kronis. Jika blefaritis berhubungan dengan penyebab yang mendasari seperti
ketombe atau rosacea, mengobati kondisi-kondisi tersebut dapat mengurangi

27

blefaritis. Pada pasien yang memiliki beberapa episode blefaritis, kondisi ini
jarang sembuh sepenuhnya. Bahkan dengan pengobatan yang berhasil,
kekambuhan dapat terjadi.8

28

BAB 3
RINGKASAN
Blefaritis adalah peradangan pada tepi kelopak mata, biasanya pada
tempat dimana folikel bulu mata berada. Blefaritis memiliki gejala berupa mata
terasa panas, berair, terasa seperti ada benda asing, crusta pada bulu mata dan
kantus medial, kelopak mata kemerahan, mata merah, fotofobia, nyeri, dan
penglihatan menurun. Berdasarkan penyebabnya blefaritis disebabkan oleh infeksi
staphylococcus, dermatitis seboroik, gangguan kelenjar meibom, atau gabungan
dari ketiganya sedangkan berdasarkan anatomi blefaritis dibagi menjadi blefaritis
anterior dan posterior. Dalam mendiagnosis blefaritis diperlukan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan penunjang yang tepat. Diagnosis banding dari blefaritis bisa
berupa penyakit Alergic Contact Dermatitis, Atopic Keratoconjunctivitis,
Bacterial Conjunctivitis, Bacterial Keratitis, Basal Cell Carcinoma, Chalazion,
Contact Lens Complications, Dry Eye Syndrome, Epidemic Keratoconjunctivitis,
Hordeolum, Keratoconjunctivitis, Sicca, Ocular Rosacea, dan Viral Conjunctivitis.
Terapi yang diberikan bisa dengan menggunakan kompres hangat,
meningkatkan kebersihan kelopak mata, antibiotik baik oral maupun sistemik,
kortikosteroid topikal, artificial tears, pengelolaan diet serta lingkungan hidup.
Komplikasi yang dapat terjadi pada blefaritis adalah hordeulum, chalazion,
konjungtivitis, ulserasi kornea. Kebersihan yang baik (pembersihan secara teratur
daerah mata) dapat mengontrol tanda-tanda dan gejala blefaritis dan mencegah
komplikasi. Pada pasien yang memiliki beberapa episode blefaritis, kondisi ini

29

jarang sembuh sepenuhnya. Bahkan dengan pengobatan yang berhasil,


kekambuhan dapat terjadi.
Daftar Pustaka
1. Vaughan et al, Struktur Palpebra, Oftalmologi Umum, Edisi 17,
Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta, 2009; hal: 16-19
2. American Optometric Association, 2015, Care of the Patients with
Blepharitis, diakses pada 19 Februari 2016, [Link]
3. N. R. Galloway, Blepharitis , Common Eye Diseases and their
Management, 3rd Edition, 2006; hal: 48
4. James G., Blepharitis Merck Manual Home Health Handbook, 2012,
diakses pada 19 Februari 2016, [Link]
5. Nicholas P. et al, Guidelines-Blepharitis, American Academy of
Ophthalmology Cornea/External Disease Panel, Preferred Practice
Pattern, San Francisco, CA, 2013; hal :8-14
6. R. Scott L., Adult Blepharitis,EmedicineMedscape, 2015, diakses pada
tanggal 19 Februari 2016, [Link]
7. Jane Olver, Blepharitis, Ophtalmology At A Glance, Blackwell
Publishing company, USA, 2005; hal: 65
8. Dahl, Andrew A., MD, FACS. Blepharitis. Diakses tanggal 19 Februari
2016, [Link]
9. Rodriguez, Rodolfo L,

Blepharitis Disease and Its Management,

American Optometric Association, New York, 2015;hal: 1-6

30

10. Sjamsu B., Blefaritis , Buku Ajar Ilmu Kesehatan Mata, Airlangga
University Press, Surabaya, 2013;hal: 36-38

Anda mungkin juga menyukai