BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum
1.
Risiko
Definisi risiko menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
adalah akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan)
dari suatu perbuatan atau tindakan. Menurut Arthur J. Keown (2000),
risiko adalah prospek suatu hasil yang tidak disukai (operasional sebagai
deviasi standar).
Definisi risiko menurut Hanafi (2006) risiko merupakan besarnya
penyimpangan antara tingkat pengembalian yang diharapkan (expected
return ER) dengan tingkat pengembalian aktual (actual return).
Menurut Emmaett J. Vaughan dan Curtis M. Elliott (1978), risiko
didefinisikan sebagai;
a. Kans kerugian the chance of loss
b. Kemungkinan kerugian the possibility of loss
c. Ketidakpastian uncertainty
d. Penyimpangan kenyataan dari hasil yang diharapkan the dispersion of
actual from expected result
e. Probabilitas bahwa suatu hasil berbeda dari yang diharapkan the
probability of any outcome different from the one expected
Atau dapat diambil kesimpulan bahwa definisi risiko adalah suatu
kondisi yang timbul karena ketidakpastian dengan seluruh konsekuensi
tidak menguntungkan yang mungkin terjadi.
2.
Identifikasi dan Analisa Resiko
Menurut
Darmawi (2008) tahapan pertama dalam proses
manajemen risiko adalah tahap identifikasi risiko. Identifikasi risiko
merupakan suatu proses yang secara sistematis dan terus menerus
dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan timbulnya risiko atau
kerugian terhadap kekayaan, hutang, dan personil perusahaan. Proses
identifikasi risiko ini mungkin adalah proses yang terpenting, karena dari
proses inilah, semua risiko yang ada atau yang mungkin terjadi pada
suatu proyek, harus diidentifikasi.
Masih menurut
Darmawi (2008) proses identifikasi harus
dilakukan secara cermat dan komprehensif, sehingga tidak ada risiko
yang terlewatkan atau tidak teridentifikasi.
Dalam pelaksanaannya,
identifikasi risiko dapat dilakukan dengan beberapa teknik, antara lain:
a. Brainstorming
b. Questionnaire
c. Industry benchmarking
d. Scenario analysis
e. Risk assessment workshop
f. Incident investigation
g. Auditing
h. Inspection
i. Checklist
j. HAZOP (Hazard and Operability Studies)
Adapun cara cara pelaksanaan identifikasi risiko secara nyata
dalam sebuah proyek adalah :
a. Membuat daftar bisnis yang dapat menimbulkan kerugian.
b. Membuat daftar kerugian potensial. Dalam checklist ini dibuat daftar
kerugian dan peringkat kerugian yang terjadi.
c. Membuat klasifikasi kerugian.
1) Kerugian atas kekayaan (property).
a) Kekayaan langsung yang dihubungkan dengan kebutuhan
untuk mengganti kekayaan yang hilang atau rusak.
b) Kekayaan yang tidak langsung, misalnya penurunan
permintaan, image perusahaan, dan sebagainya.
2) Kerugian atas hutang piutang, karena kerusakan kekayaan atau
cideranya pribadi orang lain.
3) Kerugian atas personil perusahaan. Misalnya akibat kematian,
ketidakmampuan, usia tua, pengangguran, sakit, dan sebagainya.
Dalam mengidentifikasi risiko, beberapa ahli membaginya menjadi
beberapa kategori, di antaranya :
Tabel 2.1 Kategori Risiko
No.
1.
2.
3.
4.
1.
2.
3.
4.
5.
1.
2.
3.
4.
5.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Kategori Risiko
Risiko eksternal
Risiko Internal
Risiko teknis
Risiko legal
Risiko yang berhubungan
dengan konstruksi
Risiko fisik
Risiko kontraktual dan legal
Risiko pelaksanaan
Risiko Ekonomi
Risiko politik dan umum
Risiko finansial
Risiko legal
Risiko manajemen
Risiko pasar
Risiko politik dan kebijakan
Risiko teknis
Risiko teknologi
Risiko manusia
Risiko lingkungan
Risiko komersial dan legal
Risiko manajemen
Risiko ekonomi dan finansial
Risiko partner bisnis
Risiko politik
Risiko finansial dan ekonomi
Risiko desain
Risiko politik dan lingkungan
Risiko yang berhubungan
dengan konstruksi
Risiko fisik
Risiko bencana alam
Sumber Referensi
Kerzner, 1995
Fisk, 1997
Shen, Wu, Ng, 2001
Loosemore, Raftery,
Reilly, Higgon, 2006
Al Bahar dan Crandall,
1990
Untuk kepentingan ini, kategori kategori risiko yang
dikemukakan oleh Al Bahar dan Crandall (1990), dimodifikasi
sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kondisi yang diinginkan, yaitu
risiko yang diperhitungkan dari sudut pandang perusahaan developer
properti. Adapun kategori risiko tersebut dimodifikasi sehingga menjadi
sebagai berikut :
a. Finansial dan Ekonomi. Yang termasuk dalam kategori ini misalnya
fluktuasi tingkat inflasi dan suku bunga, perubahan nilai tukar,
kenaikan upah pekerja, dan lain sebagainya.
b. Politik dan Lingkungan. Yang termasuk dalam kategori ini misalnya
perubahan dalam hukum dan peraturan, perubahan politik, perang,
embargo, bencana alam, dan lain sebagainya.
c. Konstruksi
Yang termasuk dalam kategori ini misalnya kecelakaan kerja,
pencurian, perubahan desain, dan sebagainya.
Dari ketiga kategori risiko tersebut, proses identifikasi risiko
dikembangkan menjadi beberapa jenis risiko yang didapat dari berbagai
sumber, antara lain :
1. Al Bahar dan Crandall, 1990
2. Shen, Wu, Ng, 2001
3. Keppres RI no 80 tahun 2003
4. Loosemore, Raftery, Reilly, Higgon, 2006
Setelah proses identifikasi semua risiko risiko yang mungkin
terjadi pada suatu proyek dilakukan, diperlukan suatu tindak lanjut untuk
menganalisis risiko risiko tersebut. Al Bahar dan Crandall (1990)
mengemukakan bahwa, yang dibutuhkan adalah menentukan signifikansi
atau dampak dari risiko tersebut,
melalui suatu analisis probabilitas,
sebelum risiko risiko tersebut dibawa memasuki tahapan respon
manajemen.
Menurut
Al
Bahar
dan
Crandall
(1990),
analisis
risiko
didefinisikan sebagai sebuah proses yang menggabungkan ketidakpastian
dalam bentuk kuantitatif, menggunakan teori probabilitas, untuk
mengevaluasi dampak potensial suatu risiko.
Langkah
pertama
untuk
melakukan
tahapan
ini
adalah
pengumpulan data yang relevan terhadap risiko yang akan dianalisis. Data
data ini dapat diperoleh dari data historis perusahaan atau dari
pengalaman proyek pada masa lalu. Jika data historis tersebut kurang
memadai, dapat dilakukan teknik identifikasi risiko yang lain, seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya pada bagian lain bab ini.
Setelah data yang dibutuhkan terkumpul, selanjutnya dilakukan
proses evaluasi dampak dari sebuah risiko. Proses evaluasi dampak risiko
dilakukan dengan mengkombinasikan antara probabilitas (sebagai bentuk
kuantitatif dari faktor ketidakpastian / uncertainty) dan dampak atau
konsekuensi dari terjadinya sebuah risiko.
Untuk melakukan proses evaluasi tersebut, dibutuhkan suatu
parameter yang jelas untuk dapat mengukur dampak dari suatu risiko
dengan tepat. Menurut Loosemore, Raftery, Reilly dan Higgon (2006),
beberapa parameter untuk proses evaluasi risiko seperti pada Tabel 2.2 dan
tabel 2.3.
Tabel 2.2 Parameter Probabilitas Risiko
Parameter
Deskripsi
Jarang terjadi
Peristiwa ini hanya muncul pada keadaan yang
luar biasa jarang.
Agak jarang terjadi
Peristiwa ini jarang terjadi.
Mungkin terjadi
Peristiwa ini kadang terjadi pada suatu waktu.
Sering terjadi
Peristiwa ini pernah terjadi dan mungkin terjadi
lagi.
Hampir pasti
terjadi
Peristiwa ini sering muncul pada berbagai
keadaan.
Sumber : Loosemore, Raftery, Reilly, Higgon, (2006). Risk Management
in Projects ([Link]
Tabel 2.3 Parameter konsekuensi risiko
Parameter
Deskripsi
Tidak signifikan
Tidak ada yang terluka; kerugian finansial kecil.
Kecil
Pertolongan pertama; kerugian finansial medium.
Sedang
Perlu perawatan medis; kerugian finansial cukup
besar.
Besar
Cedera parah; kerugian finansial besar.
Sangat signifikan
Kematian; kerugian finansial sangat besar.
Sumber: Loosemore, Raftery, Reilly, Higgon, (2006). Risk Management in
Projects ([Link]
Setelah risiko risiko yang mungkin terjadi dievaluasi dengan
menggunakan parameter parameter probabilitas dan konsekuensi risiko
diatas, selanjutnya dapat dilakukan suatu analisa untuk mengevaluasi
dampak risiko secara keseluruhan, dengan menggunakan matriks
evaluasi risiko.
3.
Respon Manajemen
Hanafi
(2006) setelah risiko risiko yang mungkin terjadi
diidentifikasi dan dianalisa, perusahaan akan mulai memformulasikan
strategi penanganan risiko yang tepat. Strategi ini didasarkan kepada sifat
dan dampak potensial / konsekuensi dari risiko itu sendiri. Adapun tujuan
dari strategi ini adalah untuk memindahkan dampak potensial risiko
sebanyak mungkin dan meningkatkan kontrol terhadap risiko.
Ada lima strategi alternatif untuk menangani risiko, yaitu :
a. Menghindari risiko
b. Mencegah risiko dan mengurangi kerugian
c. Meretensi risiko
d. Mentransfer risiko
e. Asuransi
4.
Manajemen Risiko
a. Manajemen Risiko
Manajemen risiko memiliki banyak definisi. Salah satunya,
manajemen
risiko
didefinisikan
sebagai
proses
perencanaan,
pengelolaan, dan pengawasan sumber daya dan aktifitas lain dalam
sebuah organisasi dengan tujuan untuk meminimalkan konsekuensi
kerugian dengan beaya yang masih dalam tingkat kelayakan proyek
(S.J. Lowder, 1982: 48-51)
Tujuan utama implementasi manajemen risiko dalam
proyek properti adalah:
1)
kesuksesan proyek,
2) menurunkan risiko biaya manajemen dan menaikkan keuntungan,
3) mempertahankan stabilitas pemasukan,
4) mengurangi dan melindungi kemungkinan kemandekan oleh
karena
berbagai
perubahan
yang
berpengaruh
terhadap
pembeayaan proyek,
5) peningkatan skala bisnis perusahaan.
Kontribusi manajemen risiko dapat diformulasikan dari tujuan
pokok pemanfaatannya (Pyhr Cooper, [Link] 1986: 264) :
1) Manajemen risiko memberikan kriteria untuk membedakan
kesuksesan dan kegagalan sebuah investasi, yang membuat
investor memberi perhatian pada proses manajemen.
2) Karena laba dapat dinaikkan dengan mengurangi pengeluaran
daripada
menaikkan
pemasukan,
manajemen
risiko
memungkinkan pengurangan dalam komponen pembeayaan,
misalnya kegagalan dalam pembaruan tingkat sewa yang
berakibat pada meningkatnya tingkat bunga.
3) Manajemen risiko dapat mempertahankan tingkat pemasukan
sehingga dapat mengurangi fluktuasi pada laba dan arus kas.
4) Manajemen risiko yang semakin canggih dapat memprediksi
kemungkinan perubahan dalam tingkat sewa dan tingkat kosonghuni (vacancy rate), sehingga kontinyuitas pemasukan dapat lebih
terjamin.
5) Manajemen risiko mempertahankan tingkat kesadaran investor
akan risiko spekulatif dalam investasinya.
6) Sukses dari sebuah investasi akan semakin menyehatkan proses
manajemen perusahaan
b. Proses Manajemen Risiko
Manajemen risiko terdiri dari enam langkah, yaitu menentukan
tujuan, mengidentifikasi risiko, menentukan ukuran risiko, menyeleksi
teknik analisis, implementasi, dan evaluasi.
Menentukan tujuan adalah langkah pertama dalam manajemen
risiko. Tujuannya adalah untuk menentukan secara akurat manfaat
program manajemen risiko bagi perusahaan. Untuk mencapainya
dibutuhkan sebuah proses perencanaan yang komprehensip, termasuk
penentuan tujuan setiap langkah dalam manajemen risiko serta orang
yang bertanggung jawab.
Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi risiko potensial
yang terdapat pada proyek properti yang akan dikerjakan. Risiko
potensial dapat diidentifikasi melalui analisis risiko.
Ukuran risiko harus diasosiasikan pada keberadaan risiko
potensial. Ukuran risiko meliputi:
1) probabilitas kerugian yang dapat terjadi,
2) akibat dari kerugian,
3) kemampuan memprediksi kerugian.
c. Manajemen Risiko Pada Investasi Properti
Kesuksesan dan keberhasilan meraih keuntungan dari suatu
proyek properti sangat bergantung pada keterampilan dalam
manajemen risiko, seperti risiko yang berkaitan dengan lingkungan,
kecelakaan pada pekerja, dan kerusakan alat kerja. Ketika dampak
risiko semakin meningkat, manajemen risiko menjadi satu-satunya
alat untuk mengelolanya.
Manajemen risiko bertujuan untuk melindungi setiap orang atau
badan hukum yang terlibat di dalamnya. Dalam konteks investasi
properti,
manajemen
memindahkan, atau
risiko
dimanfaatkan untuk
mengurangi
risiko
potensial
menghindari,
yang harus
ditanggung oleh investor.
Banyak investor mampu mengelola uang, tapi kesuksesannya
diukur dengan kemampuannya mengelola risiko. Yang ideal adalah
bukan menghindari risiko, tetapi mengidentifikasi, mengelola, dan
hidup dengan risiko itu.
Gambar 1. Flow chart proses manajemen risiko
B. Teknik-Teknik Analisis Risiko
Pada awal tahun enampuluhan analisis risiko masih merupakan
kegiatan yang bersifat konvensional, karena hambatan dan keterbatasan
lingkungan sosial, pasar, kompleksitas analisis risiko, teknologi, sumber data,
dan tidak memadai serta belum dewasanya ilmu pengetahuan manusia yang
terlibat di dalamnya.
Sekarang perkembangan dan penggunaan teknik analisis risiko sudah
sangat canggih. Para evaluator investasi juga melakukan berbagai modifikasi
berdasarkan pengalaman dan dalam rangka untuk menyesuaikan dengan
karakteristik lingkungan yang berubah (Austin J.J and C.F. Sirmans, 1982:
62).
1.
Bentuk-Bentuk Teknik Analisis Risiko
a. Pendekatan Konservatif
Prinsip dasar teknik ini sangat sederhana, yaitu memilih estimasi yang
tinggi pada beaya (cash outflows) dan mengevaluasinya dengan
discount rate yang relatif tinggi. Walaupun teknik ini mudah dan
menempatkan proyek dalam lingkup yang aman, sebenarnya teknik ini
tidak menerapkan suatu ukuran risiko, sehingga terlalu banyak
penyimpangan yang dapat terjadi.
b.
Risk-Adjusted Discount Rate
Cara kerja metode ini adalah dengan menentukan sebuah risk-adjusted
net present value (NPV) dari suatu investasi properti dengan
menggunakan risk-adjusted discount rate (RADR). Risk-adjusted
NPV dapat ditentukan dengan menggandakan adjusted discount rate
dan besarnya modal (beaya) yang dibutuhkan untuk mewujudkan
proyek itu. (Haimlevy and Marshal S. 1989: 245-246).
c. Pendekatan Kepastian Ekivalen (Risk Free Discount Rate)
Metode Risk-Free Discount Rate (RFDR) merupakan alternatif, di
samping metode RADR, untuk merefleksikan risiko dan arus kas.
Prinsip dasar teknik ini adalah dengan mengkonversikan arus kas yang
tidak pasti ke arus kas ekivalen yang lebih pasti dari proyek yang
dianalisis dengan menggunakan koefisien kepastian ekivalen. (Harrold
E. Marshal: 1987). Koefisien ini berkisar antara 0,00 hingga 1,00
tergantung pada derajad kepastian yang sangat terkait dengan
pendapatan.
d. Decision Trees
Teknik ini merupakan satu dari sedikit metode yang memungkinkan
pengambil keputusan membawa seluruh kemungkinan hasil dari
sebuah proyek ke dalam lingkungan yang tidak pasti.
Analisis dengan metode ini tidak menghasilkan suatu keputusan
melanjutkan atau menolak proyek investasi. Investor harus
mengambil keputusan itu dengan pertimbangan yang lebih bersifat
subyektif dari skema decision trees.
e. Analisis Kepekaan
Metode ini didefinisikan sebagai suatu proses evaluasi sejumlah
parameter untuk menguji atau mengidentifikasi pengaruh-pengaruh
yang ditimbulkan oleh adanya perubahan nilai masukan (nilai NPV
proyek) dalam proses evaluasi sejumlah parameter tadi. Aplikasi
sistematis dari perubahan-perubahan itu disebut sebagai analisis
kepekaan (sensitivity analysis). (Jeff Madura and E.T Veit 1988: 58).
Tujuan teknik ini adalah mengevaluasi derajad perubahan NPV dan
memungkinkan pengambil keputusan mengidentifikasi sejumlah
alternatif NPV dan kemudian menentukan faktor yang memberikan
pengaruh terbesar.
Untuk memperkecil jumlah variabel yang harus dimasukkan, estimasi
dapat digolongkan dalam tiga grup utama, yaitu skenario yang
optimistik, realistik, dan pesimistik.
f. Analisis Probabilitas
Dibandingkan
dengan
cara
sebelumnya,
analisis
probabilitas
(probability analysis) merupakan metode yang lebih rumit, tetapi
merupakan metode yang baik dan banyak digunakan dalam analisis
proyek properti. Analisis probabilitas, tidak seperti analisis kepekaan,
dapat dievaluasi secara langsung dengan menggabungkan probabilitas
seluruh proses yang dapat terjadi selama periode investasi proyek
properti.
Analisis ini membutuhkan seperangkat data yang harus ditentukan
dari distribusi probabilitas untuk membuat sebuah model probabilistik.
Komputerisasi dibutuhkan untuk menghasilkan distribusi probabilitas
kumulatif.
g. Simulasi Monte Carlo
Teknik simulasi Monte Carlo merupakan sebuah metode simulasi
yang menggunakan angka random dan data probabilistik dari
distribusi probabilitas untuk menghitung arus kas dan NPV suatu
proyek.
Proses
simulasi
ini
memungkinkan
sebuah
model
investasi
dikembangkan dan diuji dengan seperangkat data historis untuk
meyakinkan bahwa model itu merefleksikan sesuatu yang aktual.
(V.L. Gole, 1981: 204).
Pengoperasian program komputer yang sesuai akan sangat membantu
penggunaan metode ini, sebab data numerik diseleksi secara random
dari berbagai sumber distribusi sebagai variabel masukan untuk
mendapatkan hasil yang berpotensi terjadi dari setiap kombinasi data,
seperti equity investment ratio, square-root dimension of the property,
dan
metode
depresiasi.
Hasilnya
berbentuk
suatu
distribusi
probabilitas dengan deviasi standar. Simulasi modelnya bergantung
pada berulangnya proses random yang sama.
C. Studi Perbandingan Berbagai Teknik Analisis Risiko
1.
Prasyarat Keberhasilan Analisis Risiko
Terdapat lima prasyarat utama yang dapat digunakan untuk
mengukur kapasitas setiap teknik analisis risiko. Kelima prasyarat itu
adalah accountability, economic viability assessment, contractual
purpose, reliability, dan comprehensive analysis.
a. Accountability:
Untuk proyek skala besar, seorang analis perlu
menunjukkan bahwa ia sudah memasukkan seluruh pertimbangan
mengenai risiko yang mungkin terjadi, sehingga analisisnya dapat
dipertanggungjawabkan. Sebagai contoh, accountability untuk teknik
konservatif dikatakan sebagai jelek, sebab si analis secara mudah
memasukkan discount rate yang tinggi dalam evaluasinya.
b. Economic Viability Assessment (EVA), untuk menjelaskan ini
langsung dapat diberikan contoh sebagai berikut: EVA analisis
probabilitas lebih baik dari pada analisis kepekaan, karena yang
pertama memasukkan lebih banyak variabel risiko dari distribusi
probabilitas yang bersifat stochastic.
c. Contractual Purpose, pengalokasian risiko dalam analisis risiko
dapat digunakan dalam menentukan alternatif kontrak dan kerangka
hukum untuk proyek yang sedang dievaluasi, seperti pengalokasian
risiko pada suatu perusahaan asuransi.
d. Reability, derajad reliabilitas tergantung pada pertimbangan risiko
dan akurasi kesimpulannya.
e. Comprehensive Analysis, diukur dengan ketersediaan (alternatif)
keputusan yang harus diambil.
Tabel 2.4 Perbandingan berbagai teknik analisis risiko ditinjau dari
prasyarat keberhasilannya
Teknik
Accountability
EVA
Contractual
purpose
Reliability
Compr.
Analysis
Konservatif
Jelek
cukup baik
jelek
jelek
jelek
Risk-adjusted
Discount
Rate
Kepastian
Ekivalen
Decision
trees
Analisis
kepekaan
Analisis
probabilitas
Simulasi
Monte Carlo
Baik
baik
jelek
baik
cukup baik
Baik
baik
jelek
baik
cukup baik
lebih baik
baik
baik
lebih baik
sangat baik
lebih baik
baik
baik
lebih baik
lebih baik
lebih baik
lebih baik
baik
lebih baik
baik
lebih baik
lebih baik
lebih baik
sangat baik
sangat baik
2. Karakteristik Teknik Analisis Risiko
Tabel 2.5 menjelaskan perbandingan antara berbagai karakteristik teknik
analisis risiko.
Kolom pertama, menjelaskan mengenai kebutuhan data probabilistik dan
statistik. Kolom kedua, mengenai kebutuhan pemakaian komputer dalam
perhitungan evaluasi. Kolom ketiga, derajad kompleksitasnya. Kolom
keempat, menjelaskan sifat atau kelakuan risiko. Implisit berarti teknik
yang bersangkutan tidak menyediakan ukuran pengambilan keputusan.
Keputusan diambil atas dasar attitude pengambil keputusan terhadap
risiko. Sedangkan eksplisit berarti tekniknya menyediakan ukuran secara
kuantitatif, sehingga keputusan menjadi lebih terstandarisasi. Kolom
kelima, ukuran risiko, eksplisit berarti tekniknya menyediakan baik
ukuran numerik (kuantitatif) maupun grafik. Sedangkan implisit berarti
tekniknya tidak menyediakan keduanya. Kolom keenam, menjelaskan
mengenai kemungkinan masuknya faktor subyektivitas pengambil
keputusan. Kolom ketujuh memberikan perbandingan biaya yang harus
dikeluarkan dalam pemanfaatan teknik yang bersangkutan.
Tabel 2.5 Perbandingan Karakteristik Teknik Analisis Risiko
TEKNIK
Distribusi
probabilitas
Tidak
Ya
Bantuan
komputer
Tidak
Tidak
Kompleksitas
Rendah
Rendah
Kepastian
ekivalen
Ya
Ya
Menengah
Decision
trees
Analisis
kepekaan
Analisis
probabilitas
Simulasi
Monte
Carlo
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Konservatif
RADR
3.
Perilaku
risiko
Implisit
Implisit/
eksplisit
Implisit/
eksplisit
Ukuran
risiko
Implisit
Implisit/
eksplisit
Implisit/
eksplisit
Subyektifitas
Tidak
Tidak
Tinggi
Eksplisit
Eksplisit
Ya
Tinggi
Lebih
tinggi
Tinggi
Implisit
Implisit
Ya
Tinggi
Eksplisit
Implisit
Ya
Tinggi
Implisit
Eksplisit
Ya
Tinggi
Lebih
tinggi
Tidak
Keuntungan dan Kerugian Berbagai Teknik Analisis Risiko
Keuntungan dan kerugian penggunaan berbagai teknik analsis risiko
dicantumkan pada tabel 2.6.
Teknik koservatif, RADR, dan kepastian ekivalen memberikan atau
menunjukkan estimasi NPV secara deterministik, sehingga investor dapat
dengan langsung mengambil keputusan setelah evaluasi selesai.
Biaya
Rendah
Menenga
h
Menenga
h
Sedangkan teknik yang lain memberikan berbagai kemungkinan NPV
yang bersifat stokastik.
Tabel 2.6 Perbandingan Keuntungan Dan Kerugian Teknik Analisis Risiko
TEKNIK
Konservatif
RADR
KEUNTUNGAN
KERUGIAN
Menunjukkan secara sederhana dan
Keputusan tidak ekonomis dan
langsung kriteria menolak atau
mengabaikan beberapa proyek
meneruskan proyek
di bawah kondisi normal
Menunjukkan secara langsung kriteria
Penentuan RADR sangat
keputusan menolak atau menerima proyek
subyektif
berdasarkan NPV = 0
Kepastian
Menunjukkan secara langsung kriteria
Penentuan faktor kepastian-
ekivalen
keputusan menolak atau menerima proyek
ekivalen sangat subyektif
berdasarkan NPV = 0
Decision trees
Menunjukkan distribusi probabilitas NPV
Tidak ada petunjuk kriteria
secara lengkap, yang dapat digunakan
keputusan untuk menolak atau
untuk menentukan hubungan antara
menerima.
berbagai alternatif keputusan
Analisis
Menunjukkan informasi yang cukup
Tidak menyediakan
kepekaan
berbagai alternatif keputusan berdasarkan
probabilitas atau alternatif
pada masukan variabel untuk
keputusan menerima atau
menggambarkan kepekaan berbagai NPV
menolak proyek
proyek
Analisis
Menunjukkan estimasi dengan derajad
Tidak menyediakan kriteria
probabilitas
ketelitian yang lebih tinggi dengan
pengambilan keputusan
pertimbangan mengenai berbagai variabel
berdasarkan pada distribusi probabilitas
Simulasi Monte
Menyediakan berbagai kemungkinan
Tidak menyediakan kriteria
Carlo
pengujian dan probabilitas keputusan
pengambilan keputusan
sehingga risiko dan laba dapat
dikuantifikasi