0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
333 tayangan28 halaman

Kinetika Reaksi pada RATB

Laporan praktikum ini membahas percobaan reaktor alir tangki berpengaduk untuk menentukan konstanta kecepatan reaksi dan orde reaksi antara NaOH dan CH3COOC2H5. Teori yang mendukung meliputi penjelasan tentang reaktor kimia, kinetika reaksi pada RATB, dan persamaan untuk menentukan kecepatan reaksi. Percobaan dilakukan oleh 4 mahasiswa dengan bimbingan dosen.

Diunggah oleh

Joko Budiarto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
333 tayangan28 halaman

Kinetika Reaksi pada RATB

Laporan praktikum ini membahas percobaan reaktor alir tangki berpengaduk untuk menentukan konstanta kecepatan reaksi dan orde reaksi antara NaOH dan CH3COOC2H5. Teori yang mendukung meliputi penjelasan tentang reaktor kimia, kinetika reaksi pada RATB, dan persamaan untuk menentukan kecepatan reaksi. Percobaan dilakukan oleh 4 mahasiswa dengan bimbingan dosen.

Diunggah oleh

Joko Budiarto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

PERPINDAHAN PANAS DAN TERMODINAMIKA


REAKTOR ALIR TANGKI BERPENGADUK (RATB)

DISUSUN OLEH
NAMA / NIM

: Bernadheta C.A

(12 644 010)

Rita Ahtagia

(12 644 011)

Iswana

(12 644 012)

Wahyu Cahya Rini (12 644 022)


KELOMPOK

: IV (Empat)

KELAS

: V A / S-I Terapan

DOSEN PEMBIMBING

: Marinda Rahim, ST.,MT

LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
2014

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM
PERPINDAHAN PANAS DAN TERMODINAMIKA
REAKTOR ALIR TANGKI BERPENGADUK (RATB)

DISUSUN OLEH
NAMA / NIM

: Bernadheta C.A

(12 644 010)

Rita Ahtagia

(12 644 011)

Iswana

(12 644 012)

Wahyu Cahya Rini (12 644 022)


KELOMPOK

: IV (Empat)

KELAS

: V A / S-I Terapan
Telah diperiksa dan disahkan pada tanggal .. November 2014
Mengesahkan dan Menyetujui
Dosen Pengawas

Marinda Rahim, ST.,MT


NIP : 19721128 200312 2 001

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Percobaan
Menentukan konstanta kecepatan reaksi dan orde reaksi antara NaOH 0,05 M dan
CH3COOC2H5 0,05 M pada reaktor alir tangki berpengaduk (RATB) yang beroperasi
secara batch
Menyelidiki pengaruh perolehan konversi

1.2 Dasar Teori


1.2.1. Reaktor Kimia
Reaktor kimia adalah sebuah alat dalam suatu industri kimia yang merupakan
jantung dari industri kimia tersebut, dimana terjadi reaski kimia untuk mengubah
bahan mentah (bahan baku) menjadi hasil (produk) yang lebih berharga.
Gambar 1.1 Skema Umum Proses Kimia
Ada berbagai cara pemasukan umpan dalam reaktor yaitu umpan dimasukkan

Produk

sekaligus, umpan dimasukkan secara kontinyu dengan kecepatan konstan, umpan


dengan sebagian hasil yang keluar dari reaktor di campur dengan umpan baru, lalu
dialirkan ke dalam reaktor secara kontinyu, dan umpan dengan sebagian zat pereaksi
dimasukkan, sedang zat pereaksi lainnya dimasukkan secara kontinyu. Namun
sebelum bahan baku diumpankan ke dalam reaktor, terlebih dahulu bahan baku
tersebut mengalami proses pengolahan fisik. Unit ini bertugas mempersiapkan bahan
baku/bahan mentah/bahan dasar, agar sesuai kondisi yang dipersyaratkan pada reaktor.
Penyesuaian kondisi dapat berupa bentuk dan fase, konsentrasi/komposisi, kondisi
operasi, transportasi bahan dasar sebelum masuk ke reaktor. Alat yang digunakan:
Crusher, Kondensor, Evaporator, Ball Mill, dan lain-lainnya. Untuk penyesuain bentuk
bahan, ukuran bahan, dan fase. Reaktor bertugas melakukan pengolahan bahan dasar,
mengubahnya menjadi senyawa hasil yang diinginkan. Pada umumnya reaktor
dilengkapi dengan alat-alat lain. Hal ini disebabkan karena dalam reaktor inilah
terjadinya sintesa yang memerlukan kondisi operasi yang sesuai (suhu, tekanan,

perbandingan pereaksi/komposisi). Hasil yang keluar dari reaktor ada yang sudah jadi
produk dan ada pula yang diolah kembali untuk di recycle dan di campur dengan
umpan baru untuk meningkatkan kualitasnya.
Reaktor dapat didefinisikan sebagai

tempat

berlangsungnya

suatu

proses/reaksi kimia. Bahan-bahan yang diperlukan dimasukkan ke dalam reaktor,


kemudian dicampur, dipanaskan, didinginkan, ditekan, disuling dan lain-lainnya agar
menghasilkan reaksi kimia yang diinginkan. Tempat atau bejana ini harus dikonstruksi
sedemikian rupa sehingga mampu menahan tekanan sewaktu dihampakan, mampu
menahan tekanan tinggi maupun temperatur rendah/tinggi. Untuk itu, bejana ini
memerlukan tambahan peralatan yang memungkinkan diterapkannya kondisi di atas,
atau dipakai untuk memindahkan hasil akhir reaksi dapat pula peralatan dipasangi
bersama-sama dengan pengadukan (agitator). Pipa-pipa berlubang untuk memisahkan
pemeriksaan maupun penambahan padatan bahan-bahan untuk kontruksi harus mampu
menahan zat-zat kimia yang dimasukkan ke dalamnya maupun hasil reaksi pada suatu
tekanan dan temperatur yang dibutuhkan dalam proses umumnya kapasitas reaktor
berkisar 45 sampai 227.000 liter.
Untuk merancang reaktor diperlukan bekal pengetahuan tentang pengaruh
variabel-variabel konsentrasi, suhu, tekanan, kecepatan alir umpan pada persamaan
kecepatan reaksi. Sumber data yang diperlukan pada perancangan sebuah reaktor dapat
diperoleh dengan jalan melakukan percobaan pada reaktor kecil di laboratorium.
Berdasarkan bentuknya, reaktor kimia terbagi 2, yaitu :

1. Reaktor Tangki atau Bejana.


Dikatakan reaktor tangki ideal bila pengadukannya sempurna sehingga
komposisi dan suhu di dalam reaktor setiap waktu selalu seragam. Reaktor ini
dapat digunakan untuk proses batch, semi batch, atau kontinyu.
2. Reaktor Pipa
Dikatakan ideal bila zat pereaksi yang berupa gas atau cairan, mengalir di
dalam pipa dengan arah sejajar sumbu pipa. Reaktor ini dipakai untuk proses alir
tanpa pengadukan.

Ada tiga tipe reaktor yang digunakan dalam pengoperasian reaktor berdasarkan
prosesnya, yaitu :
Reaktor Batch
Reaktor batch banyak digunakan untuk kapasitas yang kecil atau untuk
tahap percobaan pada proses baru. Pada proses ini semua bahan-bahan yang
diperlukan untuk reaksi dimasukkan dan dicampur dalam reaktor. Selama waktu
reaksi, campuran berada di dalam reaktor. Selain itu seluruh massa reaksi yang
terjadi dari produk reaksi yang terbentuk, bahan baku reaksi, bahan pelarut,
katalisator, dan produk samping dikeluarkan dari rekator dan diolah.
Reaktor Alir
Pada reaktor alir, proses operasi berlangsung kontinyu. Semua Komponen
dimasukkan secara kontinyu ke dalam reaktor. Pada proses kontinyu baik produk
maupun umpan yang masuk dan keluar dialirkan secara kontinyu dan kondisi operasi
seperti tekanan, temperatur, laju alir dan pengisian dalam reaktor harus
dipertahankan tetap/konstan. Reaktor yang bekerja berdasarkan proses alir dapat
dibagi dua:
1) Reaktor Alir Pipa
2) Reaktor Alir Tangki Berpengaduk
Reaktor semi batch atau semi alir
Reaktor yang dipakai untuk proses semi batch biasanya berbentuk tangki
yang berpengaduk. Cara operasinya dengan jalan memasukkan sebagian zat pereaksi,
atau salah satu zat pereaksi ke dalam reaktor, sedang zat pereaksi yang lainnya atau
sisanya dimasukkan secara kontinyu ke dalam reaktor, sedang hasilnya dapat
dikeluarkan secara kontinyu maupun dibiarkan tinggal dalam reaktor sampai
diperoleh konversi yang diinginkan
a) Tujuan pemilihan reaktor adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Biaya produksi rendah.


Modal kecil/volume reaktor minimum.
Operasinya sederhana dan murah.
Keselamatan kerja terjamin.
Polusi terhadap sekelilingnya (lingkungan) dijaga sekecil-kecilnya.
Polusi terhadap sekelilingnya (lingkungan) dijaga sekecil-kecilnya. (Irfani,
2011)

b) Pemilihan jenis reaktor dipengaruhi oleh:

1.
2.
3.
4.
5.

Fase zat pereaksi dan hasil reaksi.


Tipe reaksi dan persamaan kecepatan reaksi, serta ada tidaknya reaksi samping.
Kapasitas produksi.
Harga alat (reaktor) dan biaya instalasinya.
Kemampuan reaktor untuk menyediakan luas permukaan yang cukup untuk
perpindahan panas. ( Irfani, 2011)

1.2.2. Reaktor Alir Tangki Berpengaduk (RATB)


Reaktor ini termasuk sistem reaktor kontinyu untuk reaksireaksi
[Link] dengan sistem operasi batch di mana selama reaksi berlangsung
tidak adaaliran yang masuk atau meningggalkan sistem secara berkesinambungan,
maka didalam reaktor alir (kontinyu), baik umpam maupun produk akan mengalir
secara terusmenerus. Sistem seperti ini memungkinkan kita untuk bekerja pada suatu
keadaandimana operasi berjalan secara keseluruhan daripadab sistem berada dalam
kondisistasioner.
Ini berarti bahwa baik aliran yang masuk , aliran keluar maupun kondisi operasi reaksi
di dalam reaktor tidak lagi berubah oleh waktu. Pengertian waktureaksi tidak lagi sama
dengan lamanya operasi berlangsung, tetapi akivalendengan lamanya reaktan berada di
dalam reaktor.
Penyataan terakhir ini biasadisebut waktu tinggal campuran di dalam reaktor,
yang besarnya ditentukan oleh lajualir campuran yang lewat serta volume reaktor di
mana reaksi berlangsung. Reaktor tipe ini bisa terdiri dari satu tangki atau lebih.
Biasanya tangkitangkiini dipasang vertikal dengan pengadukan sempurna.
Pengadukan pada masing-masingtangki dilakukan secara kontinu sehingga diperoleh
suatu keadaan di mana komposisicampuran di dalam reaktor benar-benar seragam.
Reaktor tangki ini biasanyadigunakan untuk reaksi-reaksi dalam fase cair, untuk reaksi
heterogen cair padat ataureaksi homogen cair- cair dan sebagainya.
1.2.3. Kinetika reaksi pada RATB
Reaktor Alir Tangki Berpengaduk (RATB) bentuknya sama seperti Reaktor
batch, hanya berbeda dengan cara pemasukan umpan. Reactor Alir Tangki

Berpengaduk beroperasi pada keadaan ajeg. Jadi pada umumnya yang masuk secara
kontinyu pula. Biasanya kecepatan pemasukan sama dengan kecepatan pengeluaran,
sehingga jumlah larutan didalam reactor batch tidak ada zat pereaksi yang dimasukkan
kontinyu.
Adanya pegeluaran menyebabkan larutan yang ada didalam tangki selalu
homogeny sehingga konsentrasi dan suhu didalam reactor sama dengan konsentrasi
dan suhu aliran pengeluaran. Dengan memakai neraca massa dapat diperoleh
persamaan hubungan antara waktu tinggal dengan konsentrasi atau konversi didalam
aliran pengeluaran.

Fv
CAo

CA

fv
CA

Gambar 1.2 Reaktor Alir Tangki Berpengaduk


Persamaan Neraca Massa:
Zat masuk zat pereaksi keluar zat yang beraksi = akumulasi
fvCA0-fvCA[(-rA)]v = 0

Pers. (1-1)

v
CA0 fv-( fv )-(-rA)= 0

Pers. (1-2)

Reaksi yang terjadi adalah :


NaOH + CH3COOC2H5

CH3COONa + C2H5OH

NaOH direaksikan dengan CH3COOC2H5 menghasilkan CH3COONa dan C2H5OH


1.2.4. Kecepatan Reaksi Kimia (-rA)
Kecepatan reaksi didefinisikan sebagai kecepatan pengurangan jumlah mol
reaktan atau kecepatan penambahan jumlah mol produk untuk setiap satuan jumlah
tempat berlangsungnya reaksi. Jumlah tempat berlangsungnya reaksi tergantung
pada jenis reaksi.
Untuk reaksi homogen, yaitu reaksi yang melibatkan satu fase campuran
reaksi, jumlah tempat reaksi dapat dinyatakan sebagai volume campuran reaksi. secara
matematis kecepatan reaksi dapat dituliskan sebagai berikut:
Kecepatan hilangnya mol A
rA

mol A yang hilang


1 dN A dC A

v
dt
dt
unit volume reaktor waktu

Pers. (1-

3)

Tanda minus (-) berarti hilang (berkurang)


Kecepatan terbentuknya mol A
1 dN A dC A
mol A yang terbentuk

v dt
dt
unit volume reaktor waktu

rA

Pers. (1-

4)
Tanda positif (+) berarti terbentuk (bertambah).
Dimana:
rA

Kecepatan reaksi bagi molekul. Tanda negatif menunjukkan kecepatan


pengurangan NaOH (-rA). Sedangkan tanda positif (rA) menunjukkan

kecepatan penambahan produk (mol/[Link]).


NA = Jumlah mol NaOH (mol).
CA
t
V

= Konsentrasi NaOH (mol/L)


= Waktu reaksi (detik).
= Volume campuran reaksi (Liter).

Umumnya kecepatan reaksi (laju reaksi) merupakan fungsi konsentrasi,


temperatur dan tekanan. Mendapatkan bentuk matematis kecepatan reaksi sebagai
fungsi ketiga besaran di atas (C, T, dan P) merupakan persoalan utama cabang ilmu
kinetika terapan. Secara kuantitatif hubungan antara konsentrasi dan laju reaksi baru
dipelajari oleh Berthelot dan St. Gilles pada tahun 1862. Didukung oleh hasil-hasil
percobaan yang mengikutinya, dapat disimpulkan bahwa laju reaksi merupakan fungsi
konsentrasi pengikat suatu bilangan. Hubungan laju reaksi dan konsentrasi reaktan
dapat dituliskan sebagai:
rA = k

Pers. (1-5)

CA CB

dimana , disebut orde reaksi dan k disebut konstanta kecepatan reaksi.

1.2.5 Konversi (XA) dan Reaksi Elementer


Konversi (XA) adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menunjukkan atau
mengukur sejumlah massa yang bereaksi. Jadi konversi dapat didefinisikan sejumlah
massa yang bereaksi terhadap massa mula-mula. Secara matematis dapat dirumuskan
sebagai berikut:

XA

C A0 C A
C A0

Pers. (1-

6)
Dimana :
XA = Reaksi NaOH yang terkonversi
CAO = Jumlah mol NaOH pada waktu t=0 (mula-mula)
CA = Jumlah mol NaOH pada waktu t=t
Reaksi elementer adalah reaksi bertahap satu yang merupakan reaksi antara satu
atom/molekul reaktan yang satu terhadap satu atom/molekul reaktan lain. Oleh
karenanya, persamaan laju reaksi elementer dapat dinyatakan dari stoikiometri
reaksinya.

1.2.6

Orde Reaksi (n)


Menurut Keenan, dkk., (1984) orde suatu reaksi ialah jumlah semua eksponen
dari konsentrasi dalam persamaan laju, jika laju suatu reaksi kimia berbanding lurus
dengan pangkat satu konsentrasi dari hanya suatu pereaksi.
Laju reaksi = k [A]

Pers. (1-7)

Orde reaksi memiliki berbagai sifat-sifat berikut ini:


Orde reaksi ditentukan dalam percobaan sehingga tidak perlu bilangan bulat.
Orde reaksi tidak perlu sama dengan koefisien stoikiometri reaksi, kecuali dalam
keadaan khusus, misalnya reaksi elementer
1. Reaksi dengan orde nol
Laju reaksi tidak dipengaruhi oleh konsentrasi reaktan. Ada dua
kemungkinan yang terjadi pada orde nol
a. Laju reaksi, tidak dipengaruhi oleh konsentrasi reaktan.
b. Reaksi dimiliki dengan reaktan yang sangat besar sehingga pengurangan
jumlahnya terhadap waktu dapat diabaikan.

r A=

d C A
=k C A0
dt

d C A
=k
dt
CA

d C A =k dt
CA 0

C A C A 0=k t
C A 0C A=kt
2. Reaksi dengan Orde 1
AProduk
r A=

d C A
=k C A1
dt

Pers. (1-8)

d C A
=k . dt
CA
CA

CA 0

t
dCA
=k dt
CA
0

ln C A ln C AO=k t

ln

C A0
=k t
CA

ln

CA
=k t
C A0

Pers. (1-9)

Batas fraksi konversi bila diketahui XA ditanya CA adalah

N A 0N A
xA
=
NA0

N A0 N A

CA
V
V
=1
N A0
CA 0
V

d C A=C AO . d x A
C A =C A 0C A 0 . x A
C A =C A 0 ( 1x A )
3. Reaksi dengan orde 2
A + B P ( A + A P )
2 A P

Pers. (1-10)

Persamaan kecepatan reaksinya :


r A=

CA

d C A
=k C A2
dt

d C A
CA

CA 0

CA

C A0

=k . dt
0

d CA
C A2

=k . dt
0

CA

C A =k .t
2

C A0

1
1
=k .t
C A0 CA
1
1

=k . t
C A CA 0

Pers. (1-11)

1.2.7 Konstanta Kecepatan Reaksi (k)


Konstanta kecepatan reaksi disebut juga sebagai laju reaksi spesifik adalah nilai
laju reaksi pada konsentrasi reaktan sama dengan satu satuan konsentrasi. Satuan
besaran ini tergantung pada orde reaksi dan nilainya bergantung pada komponen yang
ditinjau.
Sebagai contoh :
A + BC
Persamaan kecepatan reaksinya adalah :
-rA = kA CA CB
Dimana :

Pers. (1-12)

-rA = Laju reaksi pengurangan mol NaOH (mol/[Link])


CA, CB = Konsentrasi NaOH dan CH3COOC2H5 (mol/L)
kA = Konstanta laju rekasi pengurangan mol NaOH (L/[Link])

1.2.8. Waktu tinggal ()


Waktu tinggal (residence time) merupakan waktu rata-rata yang diperlukan
untuk setiap partikel zat dalam reaktor untuk mengalir dari tempat pemasukkan umpan
sampai ujung pengeluaran zat hasil.
Space time adalah rasio volume reaktor terhadap laju alir umpan. Dimana,
space time akan bernilai sama dengan waktu tinggal jika:
a. Suhu dan tekanan seluruh reaktor konstan.
b. Rapat campuran, reaksi dalam fasa gas berarti jumlah melalui sebelum dan
sesudah reaksi harus sama.

1.2.9. Hubungan Antara Temperatur dengan Konstanta Kecepatan Reaksi


Pada tahun 1899 Arhennius mengusulkan suatau persamaan yang menjelaskan
pengaruh suhu terhadap konstanta kecepatan reaksi dapat ditunjukkan dengan
Persamaan Arhennius :
k = Ae EA/RT

Pers. (1-13)

dimana :
T = temperatur reaksi (K)
R = konstanta gas (atm.L/gmol.K)
Ea = energi aktivasi
A = faktor frekuensi
k = Konstanta kecepatan reaksi (L/[Link])
Faktor eEA/RT menunjukkan fraksi molekul yang memiliki energi yang melebihi
energi aktivasi. Faktor tersebut harganya naik dengan kenaikan harga suhu (T) dan
penurunan energi aktivasi, sehingga laju reaksi akan berbanding lurus dengan faktor
tersebut. Persamaan di atas dapat ditulis dalam persamaan berikut :
Pers. (1-14)

ln k = ln A -

EA
RT

Jika dilogaritmakan, maka akan diperoleh persamaan :


Log k = log A

Pers. (1-15)

EA
2,303 RT

Dari persamaan diatas, dapat dibuat kurva ln k sebagai fungsi dari 1/T akan merupakan
sebuah garis lurus dengan gradien atau kemiringan -EA/R dan perpotongan (intersep)
ln A pada sumbu ln k. Dari persamaan tersebut dapat dibuat grafik sebagai berikut :

Ln k

Ln A
Slope= -EA/R

1/T
Gambar 1.3 Grafik Hubungan antara 1/T dengan ln k
1.2.10. Metode Diferensial
Pada metode diferensial tidak dilakukan pemisahan dari orde reaksi, tetapi
orde langsung ditentukan dari bentuk hukum laju reaksi. Metode diferensial
disebut juga sebagai metode Vant Hoffs Differensial. Orde reaksi dan konstanta
kecepatan reaksi dapat ditentukan dari hubungan laju reaksi (-r A) dan konsentrasi
reaktan (CA). Laju reaksi dapat ditentukan dengan mengukur kemiringan kurva C A
terhadap t (waktu) hasil pengamatan.
1.2.11 NaOH (Natrium Hidroksida)

Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik atau


sodium hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium Hidroksida
terbentuk dari oksida basa Natrium Oksida dilarutkan dalam air. Natrium
hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air.
NaOH digunakan di berbagai macam bidang industri, kebanyakan digunakan
sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum,
sabun dan deterjen.
Natrium hidroksida adalah basa yang paling umum digunakan dalam
laboratorium kimia. Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia
dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Ia bersifat
lembap cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Ia
sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan. Ia juga larut
dalam etanol dan metanol, walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini
lebih kecil daripada kelarutan KOH. Ia tidak larut dalam dietil eter dan pelarut
non-polar lainnya. Larutan natrium hidroksida akan meninggalkan noda kuning
pada kain dan kertas.
Sifat fisik Natrium hidroksida (NaOH) :
-

Berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran

ataupun larutan jenuh 50%.


Bersifat lembab cair
Secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas.
Sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan.
Larut dalam etanol dan metanol
Tidak larut dalam dietil eter dan pelarut non-polar lainnya
Sangat basa, keras, rapuh dan menunjukkan pecahan hablur.
NaOH membentuk basa kuat bila dilarutkan dalam air
Densitas NaOH adalah 2,1
Senyawa ini sangat mudah terionisasi membentuk ion natrium dan hidroksida

1.2.12 Etil Asetat (CH3COOC2H5)


Etil asetat adalah senyawa organik dengan rumus CH3COOC2H5. Senyawa
ini merupakan ester dari etanol dan asam asetat. Senyawa ini berwujud cairan tak
berwarna, memiliki aroma khas. Senyawa ini sering disingkat EtOAc, dengan Et

mewakili gugus etil dan OAc mewakili asetat. Etil asetat diproduksi dalam skala
besar sebagai pelarut.
Etil asetat adalah pelarut polar menengah yang volatil (mudah menguap),
tidak beracun, dan tidak higroskopis. Etil asetat merupakan penerima ikatan
hidrogen yang lemah, dan bukan suatu donor ikatan hidrogen karena tidak adanya
proton yang bersifat asam (yaitu hidrogen yang terikat pada atom elektronegatif
seperti flor, oksigen, dan nitrogen. Etil asetat dapat melarutkan air hingga 3%, dan
larut dalam air hingga kelarutan 8% pada suhu kamar. Kelarutannya meningkat
pada suhu yang lebih tinggi. Namun demikian, senyawa ini tidak stabil dalam air
yang mengandung basa atau asam.
Etil asetat disintesis melalui reaksi esterifikasi Fischer dari asam asetat dan
etanol dan hasilnya beraroma jeruk (perisa sintesis), biasanya dalam sintesis
disertai katalis asam seperti asam sulfat.
CH3CH2OH + CH3COOH CH3COOCH2CH3 + H2O
Reaksi di atas merupakan reaksi reversibel dan menghasilkan suatu
kesetimbangan kimia. Karena itu, rasio hasil dari reaksi di atas menjadi rendah
jika air yang terbentuk tidak dipisahkan. Di laboratorium, produk etil asetat yang
terbentuk dapat dipisahkan dari air dengan menggunakan aparatus Dean-Stark.
Etil asetat dapat dihidrolisis pada keadaan asam atau basa menghasilkan
asam asetat dan etanol kembali. Katalis asam seperti asam sulfat dapat
menghambat hidrolisis karena berlangsungnya reaksi kebalikan hidrolisis yaitu
esterifikasi Fischer. Untuk memperoleh rasio hasil yang tinggi, biasanya
digunakan basa kuat dengan proporsi stoikiometris, misalnya natrium hidroksida.
Reaksi ini menghasilkan etanol dan natrium asetat, yang tidak dapat bereaksi lagi
dengan etanol:
CH3CO2C2H5 + NaOH C2H5OH + CH3CO2Na

BAB II
METODOLOGI
2.1 Alat dan Bahan
2.1.1 Alat yang digunakan :
a. Satu set reactor tangki berpengaduk (RTB)
b. Conductivitymeter
c. Gelas Kimia 50 ml, 100 ml, dan 500 ml
d. Labu Ukur 50 ml
e. Pipet Volume 10 ml
f. Botol Semprot
g. Bulp
2.1.1 Bahan yang digunakan :
a. NaOH 0,05 M
b. CH3COOC2H5 0,05 M
c. Aquadest

2.2 Prosedur Kerja


2.2.1 Membuat Larutan Standar dan Mengukur Konduktivitas NaOH dan CH3COOC2H5
-

Untuk membuat larutan standar NaOH 0.01 M, 0.02 M, 0.03 M. 0.04 M


a. Memipet 10 ml larutan NaOH 0.05 M dan memasukkan ke dalam labu ukur
50 ml, kemudian menambahkan aquadest hingga tanda batas
b. Melakukan hal yang sama untuk membuat larutan NaOH 0.02M, 0.03M,
0.04M dengan memipet secara berturut-turut 20 ml, 30 ml, dan 40 ml.
c. Mengukur konduktivitas masing-masing larutan dengan menggunakan alat
conduktivitymeter
Melakukan hal yang sama untuk membuat larutan standar CH3COOC2H5.

2.2.2 Membuat Larutan Campuran dan Mengukur Konduktivitas Larutan Campuran antara
NaOH dan CH3COOC2H5 dengan Konsentrasi dan Volume yang Sama.
a. Mencampur 10 ml larutan NaOH 0.05 M dan 10 ml CH3COOC2H50.05 M, lalu
mengukur konduktivitasnya.
b. Melakukan hal yang sama untuk konsentrasi 0.01 M, 0.02 M, 0.03 M. 0.04 M.
2.2.3 MengoperasikanReaktorTangkiBerpengaduk
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Menyambungkan kabel-kabel peralatan ke stop kontak.


Menghidupkan computer dan reaktor.
Menyambungkan reaktor dengan komputer
Mengklik ikon PCT-40 pada layar monitor dan memilih Section 11 : Project Work.
Mengecek apakah reaktor tersambung dengan komputer
Mengklik menu sample kemudian configuration, mengatur interval waktu 5 menit

dan memilih fixed duration selama 1 jam.


g. Memasukan Conductivity meter kedalam reaktor sampai tercelup kedalam larutan
h. Lalu memasangkan selang pump A ke NaOH dan pumpB ke Etil Asetat.
i. Memasukkan larutan NaOH (0,05 M) sampai mencapai 5 cm dan larutan
CH3COOC2H5 (0,05 M) sampai 10 cm kedalam tangki reactor. Menyalakan
stirrer dengan mengklikik on stirrer pada layar monitor.
j. Mengklik ikon Go pada toolbar.
k. Mengukur secara automatic konduktivitas larutan campuran NaOH 0,05 M dan
CH3COOC2H5 0,05 M.
l. Menyimpan file dengan mengklik save as, file name: dan memilih save as type :
excel.
m. Membuka kran yang ada di bawah tangki reactor, kemudian membuang air yang
berada didalam reaktor

n. Mematikan reaktor dan komputer

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Data Pengamatan
Tabel 3.1.1 Konduktivitas Larutan Standar NaOH dan CH3COOC2H5
Konsentrasi (M)
0,01
0,02
0,03
0,04
0,05

Konduktivitas (mS/cm)
CH3COOC2H5
NaOH
0,285
24,4
0,367
51,0
0,507
77,9
0,566
106,8
0,633
140,6

Tabel 3.1.2 Konduktivitas Campuran Larutan NaOH + CH3COOC2H5


Konsentrasi (M)

Konduktivitas (mS/cm)

0,01

8,16

0,02

14,91

0,03

21,9

0,04

31,5

0,05

36,7

Tabel 3.1.3 Konduktivitas Campuran NaOH + CH3COOC2H5 pada reaktor tangki


berpengaduk
Waktu (menit)

Konduktivitas Alat (mS/cm)

4,8

10

4,3

15

4,0

20

3,9

25

3,7

30

3,7

35

3,6

40

3,3

45

3,5

50

3,5

55

3,5

60

3,5

3.2 Data Hasil Perhitungan


Tabel 3.2.1 Perhitungan Nilai CA, XA, -dCA /dt, - Log dCA /dt dan Log CA
Waktu
(menit)
5

Konduktivitas
CA (M)
(mS/cm)
4,8
0,002896

XA

-dCA/dt

Log -dCA/dt

Log CA

0,8843

0,000075

- 4,125

- 2,5382

10

4,3

0,002556

0,8977

0,00005

- 4,30

- 2,5924

15

4,0

0,002353

0,9058

0,00002143

- 4,669

- 2,6283

20

3,9

0,002285

0,9085

0,0000222

- 4,654

- 2,6411

25

3,7

0,002149

0,9140

0,0000975

- 4,011

- 2,6678

35

3,6

0,002081

0,9167

0,00001

-5

- 2,6817

45

3,5

0,002013

0,9194

-2,6960

3.3 Pembahasan
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan konstanta kecepatan reaksi (k) dan orde
reaksi (n) antara NaOH 0,05 M dan CH3COOC2H5 0,05 M pada reaktor alir tangki
berpengaduk (RATB) yang beroperasi secara batch dan menyelidiki pengaruh perolehan
konversi.
Konstanta kecepatan reaksi adalah nilai laju reaksi pada konsentrasi reaktan (NaOH).
Sedangkan orde reaksi (n) adalah bilangan yang menyatakan derajat ketergantungan. Dan
konversi (XA) adalah sejumlah massa yang bereaksi terhadap massa mula-mula. Pada
praktikum ini menggunakan senyawa NaOH dan CH3COOC2H5 dengan konsentrasi yang

sama yakni 0,05 M dan volume yang sama agar perbandingan jumlah mol NaOH dan
CH3COOC2H5 sama sehingga memenuhi reaksi stoikiometrinya yaitu :
NaOH + CH3COOC2H5 CH3COONa + C2H5OH
Pada reaksi ini NaOH menjadi reaktan pembatas karena NaOH merupakan basa kuat,
sehingga lebih mudah terionisasi melepaskan ion OH- dan bereaksi dengan etil asetat, yang
menyebabkan NaOH akan habis bereaksi lebih dahulu.
Pada praktikum ini diperoleh data konsentrasi campuran NaOH dan CH3COOC2H5
dan konduktivitas campuran. Dari data-data tersebut dapat dibuat grafik konduktivitas Vs
konsentrasi sehingga diperoleh persamaan y = 1473,x + 0,533. Dari persamaan tersebut
dapat diperoleh nilai konsentrasi campuran larutan (CA), dimana data hasil perhitungan dapat
dilihat pada tabel 3.2.1, terlihat bahwa semakin lama waktu reaksi maka nilai konduktivitas
larutan juga akan semakin kecil dan konsentrasi campuran larutan (CA) juga semakin kecil.
Namun berbeda dengan nilai perolehan konversi (XA) yaitu semakin kecil konsentrasi
campuran larutan (CA) maka nilai konversi (XA) akan semakin besar, dan semakin lama
waktu reaksi maka nilai konversi (XA) semakin besar. Hal ini disebabkan karena semakin
lama waktu reaksi semakin banyak pula partikel reaksi NaOH dan CH3COOC2H5 yang
bertumbukan dan bereaksi membentuk CH3COONa dan C2H5OH.
Data hasil perhitungan, dari persamaan y = 3,558 x + 4,880 yang diperoleh dari
grafik Log -dCA/dt Vs Log CA, nilai konstanta kecepatan reaksi (k) dari reaksi antara NaOH
4

liter
dan CH3COOC2H5 diperoleh k sebesar 75.857,7575 mol4 menit
sebesar 3,558 4.

dan orde reaksi (n)

BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
Reaksi antara NaOH 0,05 M dan CH 3COOC2H5 0,05 M pada reaktor alir tangki
berpengaduk (RATB) yang beroperasi secara batch diperoleh nilai konstanta kecepatan
liter 4
reaksi (k) sebesar 75.857,7575 mol4 menit

dengan orde reaksi (n) = 3,558 4

Semakin lama waktu reaksi maka nilai perolehan konversi (XA) juga semakin besar.

DAFTAR PUSTAKA
Affan, A.2011. Reaktor Alir Tangki Berpengaduk (RATB).
[Link] .

Anonim. 2011. Natrium Hidroksida. [Link]


Anonim, 2012. Etil Asetat. [Link]
Emoniq. [Link] Kecepatan Reaksi. [Link]
Irfani, 2011. Reaktor. [Link]/2007/11/[Link].
Keenan.C, Kleinfelter.D, Wood.J, 1984, Kimia Untuk Universitas Edisi Keenam, Erlangga;
Jakarta.
Krismitro dkk,2011. Batch Reaktor. [Link]
Syahrir, Irmawati, ST, 2014, Modul Ajar Mata Kuliah Teknik Reaksi Kimia 1. Samarinda:
Politeknik Negeri Samarinda.
Tim Laboratorium. 2011. Penuntun Praktikum Laboratorium Operasi Teknik Kimia. Samarinda:
Politeknik Negeri Samarinda.

LAMPIRAN

PERHITUNGAN
1) Menghitung konsentrasi awal campuran larutan antara NaOH 0,05 M + CH 3COOC2H5
0,05 M
- Pada konsentrasi 0,01 M untuk volume 10 ml
0,05 mol
n=
x 0,010 L=0,0001mol
1L
-

Pada konsentrasi 0,01 M untuk 20 ml volume campuran larutan


0,0001mol
M=
=0,025
0,020 L

2) Menghitung konsentrasi campuran larutan antara NaOH + CH3COOC2H5


- Pada konsentrasi 0,01 M untuk volume 10 ml
0,01 mol
n=
x 0,010 L=0,0001 mol
1L
-

Pada konsentrasi 0,01 M untuk 20 ml volume campuran larutan


0,0001mol
M=
=0,005 M
0,020 L

Melakukan cara yang sama untuk konsentrasi 0,02 M, 0,03 M, dan 0,04 M.
3) Membuat grafik konduktivitas campuran Vs konsentrasi campuran larutan. Sehingga dari
grafik diperoleh persamaan y = 1473 x + 0,533
4) Dari persamaan diatas, y = 1473 x + 0,533 dapat menghitung C A, dimana CA adalah x dan
y adalah konduktivitas di alat.
- Pada waktu 5 menit
y = 1473 x + 0,533
4,8 = 1473 x + 0,533
4,8 0,533 = 1473 x
4,267 = 1473 x
x = CA= 0,002896
Log 0,002896 = -2,5382
Cara yang sama pada waktu (10, 15, 20, 25, 35, dan 50) menit
5) Menghitung nilai XA
C C A
X A= A 0
CA 0
Dimana
-

CA 0

adalah konsentrasi awal campuran yaitu 0,025 M

Pada waktu 5 menit

X A=

0,0250,002896
0,025

X A =0,8843
Cara yang sama pada waktu (10, 15, 20, 25, 35, dan 50) menit
6) Membuat grafik antara konsentrasi Vs Waktu, sehingga dari grafik dapat menghitung
(-dCA/dt).
- Pada waktu 5 menit
dC A y 2 y 1
=
dt
x 2x 1
dC A 0,00290,0026
=
=7,5 x 105
dt
95
Log 7,5 x 10-5 = - 4,125
Cara yang sama pada waktu (10, 15, 20, 25, 35, dan 50) menit
7) Membuat grafik Log -dCA/dt Vs Log CA
8) Dari grafik diperoleh persamaan y = 3,558 x + 4,880. Sehingga dapat menghitung orde
reaksi (n) dan konstanta kecepatan reaksi (k). Dimana orde reaksi (n) adalah koefisien
dari x yaitu 3,558 4 sedangkan nilai konstanta kecepatan reaksi (k) dapat dicari
dengan anti Log dari intersep.
Log k = 4,880
k = anti Log 4,880
liter 4
k = 75.857,7575 mol4 menit

GRAFIK

Grafik Konduktivitas Vs Konse ntrasi


40
35

f(x) = 1473.4x + 0.53


R = 0.99

30
25

Konduktivitas (mS/cm) 20

Linear ()

15
10
5
0
0

0.01

0.01

0.02

0.02

0.03

0.03

Konsentrasi (M)

Gambar 1 Grafik Konduktivitas Vs Konsentrasi


0
0
0
0

CA (M)

0
0
0
0
0

10

15

20

25

30

Waktu (Menit)

Gambar 2 Grafik Konsentrasi Vs Waktu

35

40

45

50

Grafik Log -dCA/dt Vs Log CA


-2.7

-2.65

-2.6

-2.55

0
-2.5
-1
-2

Log -dCA/dt

-3
-4
f(x) = 3.56x + 4.88
R = 0.25

-5
-6

Log CA

Gambar 3 Grafik Log -dCA/dt Vs Log CA

log Ca
Linear (log Ca)

Anda mungkin juga menyukai