0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
229 tayangan13 halaman

Sirkulasi dan Parkir di Jalan Kombas

Teks tersebut membahas tentang sirkulasi dan parkir di kota. Secara ringkas, sirkulasi adalah elemen perancangan kota yang dapat mengontrol pola aktivitas kota melalui sistem transportasi seperti jalan dan tempat transit. Parkir di kawasan Kampung Kapitan menimbulkan masalah karena tidak tersedianya area parkir yang memadai, sehingga masyarakat memarkirkan kendaraan di pinggir jalan yang menghambat sirkulasi lalu lintas.

Diunggah oleh

FT PROVE OPPA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
229 tayangan13 halaman

Sirkulasi dan Parkir di Jalan Kombas

Teks tersebut membahas tentang sirkulasi dan parkir di kota. Secara ringkas, sirkulasi adalah elemen perancangan kota yang dapat mengontrol pola aktivitas kota melalui sistem transportasi seperti jalan dan tempat transit. Parkir di kawasan Kampung Kapitan menimbulkan masalah karena tidak tersedianya area parkir yang memadai, sehingga masyarakat memarkirkan kendaraan di pinggir jalan yang menghambat sirkulasi lalu lintas.

Diunggah oleh

FT PROVE OPPA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

2.

Circulation and Parking


Sirkulasi adalah elemen perancangan kota yang secara langsung
dapat membentuk dan mengontrol pola kegiatan kota, sebagaimana
halnya dengan keberadaan sistem transportasi dari jalan publik,
pedestrian way, dan tempat-tempat transit yang saling berhubungan
akan membentuk pergerakan (suatu kegiatan). Sirkulasi di dalam kota
merupakan salah satu alat yang paling kuat untuk menstrukturkan
lingkungan perkotaan karena dapat membentuk, mengarahkan, dan
mengendalikan pola aktivitas dalam suatu kota. Selain itu sirkulasi
dapat membentuk karakter suatu daerah, tempat aktivitas, dan lain
sebagainya.
Dalam suatu sirkulasi tentulah tidak terlepas dari perencanan sebuah
jalan yang menghubungkan satu tempat dengan tempat yang lain,
jenis-jenis jalan antara lain : (George Nez,1989)
1. Jalan Arteri Primer
- Kecepatan rencana minimal 60 km/jam
- Lebar badan jalan minimal 8 meter
- Kapasitas lebih besar daripada volume lalu lintas rata-rata
- Lalu lintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulang
alik, lalu lintas lokal dan kegiatan lokal
- Jalan masuk dibatasi secara efisien
- Jalan
persimpangan
dengan
pengaturan
tertentu
tidak
mengurangi kecepatan rencana dan kapasitas jalan
- Tidak terputus walaupun melalui kota
- Persyaratan teknik jalan masuk ditetapkan oleh Menteri
2. Jalan Arteri Sekunder
- Kecepatan rencana minimal 20 km/jam
- Lebar badan jalan minimal 8 meter
- Kapasitas sama atau lebih besar daripada volume lalu lintas ratarata
- Lalu lintas cepat tidak boleh terganggu oleh lalu lintas lambat
- Persimpangan dengan pengaturan tertentu tidak mengurangi
kecepatan rencana dan kapasitas jalan
3. Jalan Kolektor Primer
- Kecepatan rencana minimal 40 km/jam
- Lebar jalan minimal 7 meter
- Kapasitas sama dengan atau lebih besar dari pada volume lalu
lintas rata-rata,
- Jalan masuk dibatasi, direncanakan sehingga tidak mengurangi
kecepatan rencana dan kapasitas jalan

- Tidak terputus walaupun melalui kota


4. Jalan Kolektor sekunder
- Kecepatan rencana minimal 20 km/jam
- Lebar badan jalan minimal 7 meter
5. Jalan Lokal Primer
- Kecepatan rencana minimal 20 km/jam
- Lebar badan jalan minimal 6 meter
- Tidak terputus walaupun melalui desa
6. Jalan Lokal Sekunder
- Kecepatan rencana minimal 10 km/jam
- Lebar badan jalan minimal 5 meter
- Persyaratan teknik diperuntukkan bagi kendaraan beroda tiga atau
lebih
- Lebar badan jalan tidak diperuntukkan bagi kendaraan beroda tiga
atau lebih, minimal 5 meter
Berdasarkan UU No. 13 / 1980, jalan adalah suatu prasarana
perhubungan dalam bentuk apapun meliputi segala bagian jalan
termasuk bangunan pelengkap yang diperuntukkan bagi lalu lintas.
Jalan dikelompokkan menjadi 6 ( UU No. 13 / 1980 ) antara lain :
a. Jaringan jalan berdasarkan sistem (penghubung)
- Sistem jaringan jalan primer
Menghubungkan kota/wilayah(simpul / distribusi)
nasional / regional.
- Sistem jaringan jalan sekunder
Menghubungkan zona
- Zona/kawasan pada suatu kota / wilayah.
b. Jaringan jalan berdasar peranan / fungsi
- Arteri :
Jarak jauh
Kecepatan tinggi
Jalan masuk dibatasi
- Kolektor :
Jarak sedang
Kecepatan sedang
Jalan masuk dibatasi
- Lokal :
Jarak pendek
Kecepatan rendah
Jalan masuk tidak dibatasi

di

tingkat

c. Jaringan jalan berdasarkan peruntukkan


- Jalan umum, untuk lalu lintas umum
- Jalan Khusus, tidak untuk umum, sebagai contoh :
Jalan inspeksi saluran
Jalan perkebunan
Jalan pertambangan
d. Jaringan jalan berdasar klasifikasi teknis
- Jalan kelas I :
Kendaraan dengan lebar maksimal 2,5 m
Kendaraan dengan panjang maksimal 18 m
Kendaraan dengan muatan lebih dari 10 ton
Di jalan arteri.
- Jalan kelas II :
Kendaraan dengan lebar maksimal 2,5 m
Kendaraan dengan panjang 18 m
Kendaraan dengan muatan maksimal 10 ton
Di jalan arteri.
e. Jaringan jalan berdasar status pembinaan
- Jalan Nasional / Negara
- Jalan Propinsi
- Jalan Kabupaten / Kota
- Jalan Desa / Kampung

Tempat parkir mempunyai pengaruh langsung pada suatu lingkungan


yaitu pada kegiatan komersial di daerah perkotaan dan mempunyai
pengaruh visual pada beberapa daerah perkotaan. Penyediaan ruang
parkir yang paling sedikit memberi efek visual yang merupakan suatu
usaha yang sukses dalam perancangan kota.
Elemen ruang parkir memiliki dua efek langsung pada kualitas
lingkungan:
- Kelangsungan aktivitas komersial.
- Pengaruh visual yang penting pada bentuk fisik dan susunan kota
Dalam merencanakan tempat parkir yang benar, hendaknya
memenuhi persyaratan sebagai berikut :
- Keberadaan strukturnya tidak mengganggu aktivitas di sekitar
kawasan
- Kendekatan program penggunaan berganda

- Tempat parkir khusus


- Tempat parkir di pinggiran kota
Dalam perencanaan untuk jaringan sirkulasi dan parkir harus selalu
memperhatikan :
- Jaringan jalan harus merupakan ruang terbuka yang mendukung
citra kawasan dan aktivitas pada kawasan.
- Jaringan jalan harus memberi orientasi pada penggunan dan
membuat lingkungan yang legible.
- Kerjasama dari sektor kepemilikan dan privat dan publik dalam
mewujudkan tujuan dari kawasan.
Sedangkan dalam masalah parkir harus diperhatikan antara parkir
individu dan parkir umum. Dalam penelitian akan penyediaan parkir
perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
- Karakter pengguna
- Kegiatan dan kebiasaan dari operasi usaha
- Biaya
- Peraturan pemerintah

2.3.1 Sirkulasi
Umumnya kemacetan terjadi karena pertumbuhan jumlah
kendaraan yang selalu meningkat, dan pertumbuhan jumlah
kendaraan ini tidak diimbangi dengan pertumbuhan infrastruktur.
Selain itu beberapa faktor lain penyebab kemacetan lalu lintas di
antaranya adalah adanya pasar 7 Ulu, Pedagang kaki lima,
parkir, atau angkutan umum yang berhenti sembarangan.
Arus sirkulasi kendaraan di koridor Jl. KH. Azhari adalah 2 arah.
Jalan ini memiliki 2 jalur. Masing-masing jalur memiliki dua lajur
untuk sirkulasi dan satu lajur untuk area parkir pinggir jalan.
Dimensi lebar jalan 5 meter dan terdapat signage media iklan
ataupun penanda jalan di setiap sisi jalan.

Sebagai kawasan perdagangan dan jasa dengan intensitas yang


tinggi sepanjang Jl KH Azhari, keberadaannya juga diikuti oleh
pertumbuhan dan kepadatan pedagang kaki lima pada jalur
pejalan kaki untuk berjualan. Kehadiran pedagang kaki lima
selalu mendekati pembeli dengan menempati jalur-jalur strategis
yang dilewati pejalan kaki. Hal ini yang menyebabkan makin
padatnya penggunaan area parkir pinggir jalan maupun sirkulasi
kendaraan.

Tingginya kebutuhan transportasi umum di koridor kawasan


Kampung
Kapitan
menimbulkan
tempat pangkalan becak, angkutan
umum, dan ojek. Sistem parkir
pinggir jalan di pasar 7 Ulu di
sepanjang pangkal Jl KH Azhari ini
sebenarnya diperbolehkan. Parkir
pinggir jalan diperbolehkan dengan
syarat parkir sejajar satu lapis,
namun kenyataannya pola parkir
tegak lurus atau membentuk sudut
terhadap jalan masih sering tidak
diikuti, sehingga mengakibatkan
berkurangnya ruang untuk sirkulasi
kendaraan.
Mobil dan sepeda motor, tempat
mangkal ojek, angkutan umum dan
becak sebagai aktivitas sisi jalan
merupakan hambatan paling besar,
sehingga mengurangi kapasitas jalur
jalan untuk sirkulasi. Pengaruh parkir
terhadap sirkulasi dalam hal ini
adalah keberadaan aktivitas parkir
menempati badan jalan, sehingga
mempengaruhi sirkulasi kendaraan
di jalur jalan raya, akibatnya
kapasitas ruang sirkulasi justru
berkurang.

Pembagian segmen jalan pangkal koridor Jl KH Azhari


sampai dengan perbatan Sungai Kenduruan 7 Ulu

2.3.2 Parkir
Tingginya kebutuhan transportasi umum di koridor kawasan
Kampung Kapitan menimbulkan tempat pangkalan becak,
angkutan umum, dan ojek. Sistem parkir pinggir jalan di pasar 7
Ulu di sepanjang pangkal Jl KH Azhari ini sebenarnya
diperbolehkan. Parkir pinggir jalan diperbolehkan dengan syarat
parkir sejajar satu lapis, namun kenyataannya pola parkir tegak
lurus atau membentuk sudut terhadap jalan, sehingga
mengakibatkan berkurangnya ruang untuk sirkulasi kendaraan.

Aktivitas pasar 7 Ulu, pertokoan, perkantoran, dan lain-lain di


Kawasan Kampung Kapitan menimbulkan masalaah pada parkir
kendaraan. Area parkir di pasar 7 Ulu tidak tersedia, masyarakat
pengunjung memanfaatkan sepanjang pinggiran jalan untuk area
parkir kendaraan pribadi baik motor maupun mobil, juga untuk
area bongkar muat barang kendaraan. Angkutan umum dan
becak juga berhenti dan mangkal di sepanjang pinggiran jalan
bahkan sampai di badan jalan. Deretan pertokoan di kawasan
Kampung Kapitan sebagian besar tidak menyediakan area parkir.
Masyarakat pengguna lebih banyak memarkirkan kendaraannya
di pinggir jalan. Hanya beberapa bangunan yang menyediakan
tempat parkir. Parkir dalam pembahasan di sini adalah parkir di
badan jalan. Parkir mobil dan sepeda motor, tempat mangkal
ojek, angkutan umum dan becak sebagai aktivitas sisi jalan
merupakan hambatan paling besar, sehingga mengurangi
kapasitas jalur jalan untuk sirkulasi. Pengaruh parkir terhadap
sirkulasi dalam hal ini adalah keberadaan aktivitas parkir
menempati badan jalan, sehingga mempengaruhi sirkulasi
kendaraan di jalur jalan raya, akibatnya kapasitas ruang sirkulasi
justru berkurang.
2.5

Pedestrian Ways
Elemen pejalan kaki harus dibantu dengan interaksinya pada elemenelemen dasar desain tata kota dan harus berkaitan dengan lingkungan
kota dan pola-pola aktivitas sertas sesuai dengan rencana perubahan
atau pembangunan fisik kota di masa mendatang.

Perubahan-perubahan rasio penggunaan jalan raya yang dapat


mengimbangi dan meningkatkan arus pejalan kaki dapat dilakukan
dengan memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut :
1. Pendukung aktivitas di sepanjang jalan, adanya sarana komersial
seperti toko, restoran, cafe
2. Street furniture berupa pohon-pohon, rambu-rambu, lampu, tempat
duduk, dan sebagainya.
Jalur pedestrian harus mempunyai syarat :
1. Aman, leluasa dari kendaraan bermotor.
2. Menyenangkan, dengan rute yang mudah dan jelas yang disesuaikan
dengan hambatan kepadatan pejalan kaki.
3. Mudah, menuju segala arah tanpa hambatan yang disebabkan
gangguan naik fungsi lain.
4. Punya nilai estetika dan daya tarik, dengan penyediaan sarana dan
prasarana jalan seperi: taman, bangku, tempat sampah, dan lainnya.
Jalur pejalan kaki merupakan salah satu utilitas/prasarana kota.
Namun prasarana jalur pejalan kaki kurang mendapatkan
prioritas dalam perencanaan, sehingga pejalan kaki memanfaatkan
jalur sirkulasi kendaraan dan ruang kota lainnya seperti area parkir
pinggir jalan untuk aktivitas berjalan.
Pada kawasan Kampung Kapitan tidak disediakan sarana pejalan kaki
yang khusus dan jelas seperti trotoar, namun pada sisi Barat koridor Jl
KH Azhari diberikan jarak rata-rata 1,5 meter-3 meter untuk lahan
pejalan kaki.

Kawasan koridor jalan di Jl KH Azhari sudah mempunyai jalur


pedestrian yaitu trotoar yang terletak di sepanjang pinggir jalan raya.
Tetapi karena banyak pedagang kaki lima yang berjualan di trotoar,
pejalan kaki terpaksa menggunakan jalur parkir pinggir jalan, bahkan
sampai badan jalan bila area parkir penuh dengan kendaraan.

2.6

Activity Support
Aktivitas pendukung adalah semua fungsi bangunan dan kegiatankegiatan yang mendukung ruang publik suatu kawasan kota. Bentuk,
lokasi, dan karakter suatu kawasan yang memiliki ciri khusus akan
berpengaruh terhadap fungsi, penggunaan lahan dan kegiatan
pendukungnya. Aktivitas pendukung tidak hanya menyediakan jalan
pedestrian atau plaza tetapi juga mempertimbangkan fungsi utama
dan penggunaan elemen-elemen kota yang dapat menggerakkan
aktivitas. Meliputi segala fungsi dan aktivitas yang memperkuat ruang
terbuka publik, karena aktivitas dan ruang fisik saling
melengkapi satu sama lain. Pendukung aktivitas tidak hanya berupa
sarana pendukung jalur pejalan kaki atau plaza tapi juga
pertimbangankan guna dan fungsi elemen kota yang dapat
membangkitkan aktivitas seperti pusat perbelanjaan, taman rekreasi,
alun-alun, dan sebagainya.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penerapan desain aktivitas
pendukung adalah (Shirvani, 1985) :
a. Adanya koordinasi antara kegiatand engan lingkungan binaan yang
dirancang

b. Adanya keragaman intensitas kegiatan yang dihadirkan dalam suatu


ruang tertentu
c. Bentuk kegiatan memperhatikan aspek kontekstual
d. Pengadaan fasilitas lingkungan
e. Sesuatu yang terukur, menyangkut ukuran, bentuk dan lokasi dan
fasilitas yang menampung activity support yang bertitik tolak dari
skala manusia
Bentuk fisik aktivitas pendukung di kawasan perdagangan dan jasa di
kawasan Kampung Kapitan adalah PKL, pasar 7 Ulu, plaza, open space,
dan bangunan komersial yang digunakan untuk kepentingan umum
yang terdapat di pangkal Jl KH Azhari sampai perbatasan jalan Sungai
Keduruan. PKL sebagai sektor informal marupakan hambatan pada
fungsi lahan sekitar jalan. Open space dan daerah komersial dengan
aktivitas pasar 7 Ulu menjadi hambatan dengan intensitas yang tinggi.
Hambatan aktivitas parkir ditimbulkan oleh sektor formal dan informal
sehingga berpengaruh terhadap sirkulasi.

Pengaruh tersebut karena keberadaan aktivitas pendukung sektor informal


PKL pada jalur pedestrian. Pengaruh PKL di sisi jalan pada pasar 7 Ulu
bersifat permanen, karena tempat berjualan tidak dibongkar setelah selesai
berjualan. Hal ini berbeda dengan PKL warung makan atau gerobak yang
bersifat sementara karena dapat dibongkar dan dipindah seperti
yang ada di sisi daerah bangunan komersial.

Sedangkan sektor formal bangunan fungsional berdampak terhadap sirkulasi,


karena bangunan
fungsional yang ada menimbulkan aktivitas parkir pinggir jalan. Bangunan
fungsional didominasi toko bahan bangunan, kelontong, elektronik,
perkantoran perbankan, toko furniture. Keberadaan sektor formal tersebut
selain menimbulkan aktivitas parkir, juga diikuti oleh sector informal PKL.
Selain parkir dan PKL, juga terdapat aktivitas pasar 7 Ulu yang berpengaruh
terhadap sirkulasi.

REKOMENDASI

Anda mungkin juga menyukai