0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan10 halaman

Pelatihan RJP di SMA Islam Sabilal

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) Dokumen tersebut merupakan Satuan Acara Penyuluhan (SAP) mengenai Bantuan Hidup Dasar/Resusitasi Jantung-Paru yang akan dilaksanakan di SMA Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, (2) Kegiatan akan berupa penjelasan dan demonstrasi tentang pengertian, tujuan, dan teknik Resusitasi Jantung Paru, (3) Harapannya siswa dapat memahami cara member

Diunggah oleh

effizaeffiza-2
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan10 halaman

Pelatihan RJP di SMA Islam Sabilal

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) Dokumen tersebut merupakan Satuan Acara Penyuluhan (SAP) mengenai Bantuan Hidup Dasar/Resusitasi Jantung-Paru yang akan dilaksanakan di SMA Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin, (2) Kegiatan akan berupa penjelasan dan demonstrasi tentang pengertian, tujuan, dan teknik Resusitasi Jantung Paru, (3) Harapannya siswa dapat memahami cara member

Diunggah oleh

effizaeffiza-2
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

BANTUAN HIDUP DASAR/RESUSITASI JANTUNG-PARU


DI SMA ISLAM SABILAL MUHTADIN BANJARMASIN

Disusun Oleh:
Kelompok 1
Ahmad Fauzi S,Kep
Ebit Febrianto Uyuk S,Kep
Eva Kusuma S,Kep
Jami Hariadi Saputra S,Kep
Lamria Hasibuan S,Kep
Lianita Rasari S,Kep
Nor Aida S,Kep
Nor Amelia S,Kep
Titis Sailinda S,Kep
Yuni Nuratmi S,Kep
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SARI MULIA BANJARMASIN
2015

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)


BANTUAN HIDUP DASAR/ RESUSITASI JANTUNG-PARU
DI SMA NEGERI

BANJARMASIN

Pokok Bahasan

: Bantuan Hidup Dasar/Resusitasi Jantung Paru (RJP)

Tempat

: Di SMA Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Hari/tanggal

: Senin 24 Agustus 2015

Jam

: 09.00 WITA s/d selesai

A. LATAR BELAKANG
Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan suatu

pelatihan

yang berisi upaya-upaya dan tindakan resusitasi kardiopulmonal (RKP) yang


dilakukan baik oleh orang awam atau tenaga medis yang terlatih dan terampil
untuk membantu dan memberikan pertolongan yang cepat dan tepat kepada
pasien yang sedang terancam kematian yang akibat henti jantung dan napas
sambil menunggu bantuan atau memindahkan ketempat yang lebih layak dan
memadai.
Resusitasi jantung paru biasanya digunakan sebagai pertolongan
pertama pada pasien yang mengalami henti nafas dan henti jantung. Yang
bertujuan untuk mengembalikan fungsi optimal pernafasan dan sirkulasi untuk
mencegah kematian (kematian biologis). Maka dari itu tindakan resusitasi
jantung paru (RJP) sangat penting di pelajari untuk melakukan tindakan
pertolongan pertama dan untuk bantuan hidup dasar.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan mengenai pertolongan
pertama terhadap seseorang yang mengalami henti nafas dan jantung,
para siswa dan siswi dapat memahami mengenai teknik Resusitasi
Jantung Paru (RJP).
2.

Tujuan khusus
a. Siswa mampu menjelaskan pengertian Resusitasi Jantung Paru
b. Siswa mampu menjelaskan tujuan Resusitasi Jantung Paru

c. Siswa mampu menjelaskan langkah-langkah melakukan Resusitasi


Jantung Paru.
d. Siswa mampu menjelaskan hal hal yang perlu diperhatikan dalam
teknik Resusitasi Jantung Paru.
e. Siswa mampu mendemonstrasikan teknik Resusitasi Jantung Paru
secara benar
C. SASARAN
Adapun sasaran dari penyuluhan ini ditujukan kepada siswa SMA yang
mengikuti suatu organisasi berupa OSIS/PMR.
D. METODE
1. Ceramah
2. Diskusi
3. Demonstrasi
E. MEDIA
1.

Materi SAP

2.

Alat-alat yang diperlukan (panthom)

3.

LCD dan power point

4.

Laptop

5.

TOA (Pengeras Suara)

F. PELAKSANAAN KEGIATAN
No
1.

Tahap/ Waktu
PraInteraksi
(5 Menit)

Kegiatan Penyuluhan
Pembukaan :
1. Memberi salam
2. Menjelaskan
tujuan/maksud

Respon Peserta
1.

Menjawa
b

salam.

2.

Memper
hatikan dan

kedatangan
3. Membuat kontrak waktu

mendengarkan
3.

Menyetuj
ui kontrak waktu
yang ditetap kan
bersama.

2.

Interaksi

Pelaksanaan :

(50 Menit)

1. Penyampaian materi
(PENKES tentang RJP)
menjelaskan tentang :
a. Pengertian RJP

1. Memperhatikan
penjelasan tentang
RJP

b. Tujuan RJP
c. Langkah-langkah dan
teknik melakukan RJP
d. Hal-hal yang perlu
diperhatikan saat
melakukan RJP
2. Fasilitator
mendemonstrasiksan
teknik melakukan RJP.

2. Memperhatikan
penjelasan tentang
teknik melakukan

3. Siswa dan siswi


mendemonstrasikan
secara mandiri teknik
3.

Terminasi

1. Memperhatikan dan

(5 Menit)

atas partisipasi peserta

mendengarkan

G. SETTING TEMPAT

A
B

Keterangan :
A : Perawat/penyuluh
B : Siswa/i
D : Guru

mendemonstrasikan.

RJP
1. Mengucapkan terimakasih
2. Mengucapkan salam

C : Media

RJP
3. Siswa/i mampu

2. Menjawab salam

H. KRITERIA HASIL
1.

Evaluasi Struktur

a.

Menyiapkan pre planning/SAP

b.

Kontrak waktu dengan sekolah.

c.

Menyiapkan media.

2.

Evaluasi Proses
a.

Kegiatan dilaksanakan sesuai waktu yang telah


disepakati

b.

Siswa/i memperhatikan materi yang disampaikan

c.

Siswa/i aktif bertanya terhadap hal yang belum


diketahui

d.
3.

Tanya jawab berlangsung dengan lancar.

Evaluasi hasil
a. Siswa/i mampu menyebutkan pengertian RJP.
b. Siswa/i mampu menyebutkan tujuan RJP.
c. Siswa/i mampu menyebutkan langkah-langkah teknik RJP.
d. Siswa/i mampu menyebutkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam RJP
e. Siswa/i mampu mendemonstrasikan RJP secara benar

I. MATERI
Terlampir

Materi Resusitasi Jantung Paru (RJP)

A. Pengertian Resusitasi Jantung Paru (RJP)


Resusitasi atau reanimasi mengandung arti harfiah menghidupkan
kembali, dimaksudkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah
suatu episode henti jantung berlanjut menjadi kematian biologis. Resusitasi
jantung paru adalah suatu tindakan gawat darurat akibat kegagalan sirkulasi
dan pernafasan untuk dikembalikan ke fungsi optimal guna mencegah
kematian biologis. Resusitasi jantung paru (RJP) atau juga dikenal dengan
cardio pulmonier resusitation (CPR) merupakan gabungan antara pijat jantung
dan pernafasan buatan.
Komplikasi dari teknik ini adalah perdarahan hebat. Jika korban
mengalami perdarahan hebat, maka pelaksanaan RJP akan memperbanyak
darah yang keluar sehingga kemungkinan korban meninggal dunia lebih
besar. Namun, jika korban tidak segera diberi RJP, korban juga akan
meninggal dunia. RJP harus segera dilakukan dalam 4-6 menit setelah
ditemukan telah terjadi hentijantung dan henti napas untuk mencegah
kerusakan sel-sel otak dan lain-lain. Jika penderita ditemukan bernapas
namun tidak sadar maka posisikan dalam keadaan mantap agar jalan napas
tetap bebas dan sekret dapat keluar dengan sendirinya.
B. Tujuan Resusitasi Jantung Paru
1. Mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi pada henti nafas
(respiratory arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest) pada orang
dimana fungsi tersebut gagal total oleh suatu sebab yang memungkinkan
untuk hidup normal selanjutnya bila kedua fungsi tersebut bekerja kembali.
2. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi (nafas)
3. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkukasi (fungsi jantung) dan
ventilasi (fungsi pernafasan/paru) pada pasien/korban yang mengalami
henti jantung atau henti nafas melalui Cardio Pulmonary Resuciation (CPR)
atau Resusitasi Jantung Paru (RJP).

C. Langkah-Langkah Melakukan RJP


Berdasarkan konvensi American Heart Association (AHA) terbaru pada
tanggal 18 Oktober 2010, dimana mengalami perubahan yaitu dari ABC

menjadi CAB (Circulatory Support, Airway Control, dan Breathing Support)


prosedur CPR terbaru adalah sebagai berikut :
1.

Danger (D)
Yaitu kewaspadaan terhadap bahaya dimana pertama penolong
harus mengamankan diri sendiri dengan memakai alat proteksi diri (APD).
Alat proteksi yang paling dianjurkan adalah sarung tangan untuk mencegah
terjadinya penularan penyakit dari pasien kepada penolong. Selanjutnya
penolong mengamankan lingkungan dari kemungkinan bahaya lain yang
mengancam, seperti adanya arus listrik, ancaman kejatuhan benda (falling
object). Setelah penolong dan lingkungan aman maka selanjutnya
mengamankan pasien dan meletakan korban pada tempat yang rata,
keras, kering dan jauh dari bahaya.

2.

Respon (R)
Mengecek kesadaran atau respon korban dapat dilakukan secara
verbal maupun nonverbal. Secara verbal dilakukan dengan memanggil
nama. Sedangkan secara nonverbal dilakukan dengan menepuk-nepuk
bahu korban. Jika dengan memanggil dan menepuk tidak ada respos,
maka lakukan pengecekan kesadaran dengan melakukan rangsangan
nyeri. Lakukan rangsang nyeri dengan menekan tulang dada pasien
dengan cara penolong menekuk jari-jari tangan kanan, lalu tekan dengan
sudut ruas jari-jari tangan yang telah ditekuk. Jika tidak ada respon dengan
rangsangan nyeri berarti pasien tidak sadar dan dalam kondisi koma.

3.

Shout For Help (S) /meminta bantuan


Jika pasien tidak berespons selanjutnya penolong harus segera
memanggil bantuan baik dengan cara berteriak, menelepon, memberi
tanda pertolongan dan cara lainya. Berteriak contohnya dengan memanggil
orang disekitar lokasi kejadian agar membantu pertolongan atau disuruh
mencari

pertolongan

lebih

lanjut.

Selanjutnya

menelepon

yaitu

menghubungi pusat bantuan darurat (emergency call number) sesuai


dengan nomor dilokasi / negara masing-masing, seperti 911 dan 118.
Ketiga adalah Emergency signal yaitu dengan membuat asap, kilauan
cahaya, suara dan lain-lain jika lokasi ada didaerah terpencil.
4.

Memperbaiki posisi pasien

Untuk melakukan tindakan RJP yang efektif, pasien harus dalam


posisi terlentang dan berada pada permukaan yang rata dan keras. Jika
korban ditemukan dalam posisi miring atau tengkurap, ubahlah posisi
pasien ke posisi terlentang.
5.

Mengatur posisi penolong


Penolong

berlutut

sejajar

dengan

bahu

korban

agar

saat

memberikan bantuan napas dan sirkulasi, penolong tidak perlu mengubah


posisi atau menggerakkan lutut.
6.

Cek Nadi
Pengecekan nadi korban dilakukan untuk memastikan apakah
jantung korban masih berdenyut atau tidak. Pada orang dewasa
pengecekan nadi dilakukan pada nadi leher (karotis) dengan menggunakan
2 jari. Caranya letakan 2 jari tangan pada jakun (tiroid) kemudian tarik ke
arah samping sampai terasa ada lekukan rasakan apakah teraba atau tidak
denyut nadi korban. Pada bayi pengecekan nadi dilakukan pada lengan
atas bagian dalam. Dengan menggunakan 2 jari rasakan ada tidaknya
denyut nadi pada lengan atas bagian dalam korban (nadi brakialis). Jika
nadi tidak teraba berarti pasien mengalami henti jantung, maka segera
lakukan penekanan / kompresi pada dada korban. Jika nadi teraba berarti
jantung masih berdenyut maka lanjutkan dengan membukan jalan napas
dan pemeriksanaan napas.

7.

Circulatory Support (C) / Bantuan Sirkulasi


Yaitu kompresi dada jika korban tidak teraba nadinya berarti
jantungnya

berhenti

berdenyut

maka

harus

segera

dilakukan

penekanan/kompresi dada sebanyak 30 kali. Caranya : posisi penolong


sejajar dengan bahu korban. Letakan satu tumit tangan diatas tulang dada,
lalu letakan tangan yang satu lagi diatas tangan yang sudah diletakan
diatas tulang dada (dua jari di bawah xifoideus). Setelah itu tekan dada
korban dengan menjaga siku tetap lurus Tekan dada korban sampai
kedalaman sepertiga dari ketebalan dada atau 3-5 cm / 1-2 inci (korban
dewasa), 2-3 cm (pada anak), 1-2 cm (bayi).

Jika pasien masih berdenyut jantungnya dan masih bernapas maka


korban dimiringkan ke kiri (posisi recovery) agar ketika muntah tidak terjadi
aspirasi.
8.

Evaluasi pada CPR


Evaluasi pada CPR/RJP dilakukan setiap 5 Siklus. (5 x 30
kompresi) + (5 x 2 napas buatan). Evaluasi pada pemberian napas buatan
saja dilakukan setiap 2 menit. Dan setelah pasien berdenyut nadinya dan
bernapas posisi pasien dimiringkan ke arah kiri (posisi recovery).
Tindakan RJP dapat dihentikan apabila :
a.
b.
c.
b.

Penderita pulih kembali.


Penolong kelelahan.
Diambil alih oleh tenaga yang sama atau yang lebih terlatih.
Jika ada tanda pasti mati, tidak usah lakukan RJP.

D. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan tindakan RJP


1. RJP jangan berhenti lebih dari 5 detik dengan alasan apapun.
2. Tidak perlu memindahkan penderita ke tempat yang lebih baik, kecuali bila
ia sudah stabil.
3. Jangan menekan prosesus xifoideus pada ujung tulang dada, karena dapat
berakibat robeknya hati
4. Diantara tiap kompresi, tangan harus melepas tekanan tetapi melekat pada
sternum, jari-jari jangan menekan iga korban.
5. Hindarkan gerakan yang menyentak. Kompresi harus lembut, teratur dan
tidak terputus
6. Perhatikan komplikasi yang mungkin karena RJP seperti :
a. Patah tulang dada dan tulang iga
b. Bocornya paru-paru (pneumotoraks)
c. Perdarahan dalam paru-paru / rongga dada (hemotoraks)
d. Luka dan memar pada paru-paru
e. Robekan pada hati

DAFTAR PUSTAKA
Boswick, John A.1997. Perawatan Gawat [Link] : EGC.
Darwis,

dr. Allan

&

Sarana,

dr.

Lita,

[Link]

[Link] : Palang Merah Indonesia.

Pertolongan

Juliansyah, Rahmad [Link] Buatan (Resusitasi Jantung Paru).


Dalam [Link]
(Diaksespada tanggal 4 September 2014)
Sutawijaya, Risang [Link] Darurat Panduan Kesehatan Wajib di
Rumah [Link] : Aulia Publishing.
[Link]

Resusitasi

Jantung

Paru. Dalam [Link] tanggal 4 September 2014)


[Link]

Resusitasi

Jantung

Paru.

Dalam [Link] pada tanggal 4 September 2014)

Anda mungkin juga menyukai