1
LAPORAN PENDAHULUAN
ELEKTRO CONVULSIF THERAPIE (ECT)
1. Pengertian
ECT adalah suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik dan
menimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun klonik. Tindakan ini
adalah bentuk terapi pada klien dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda
yang ditempelkan pada pelipis klien untuk membangkitkan kejang grandmall.
ECT atau yang lebih dikenal dengan elektroshock atauterapi kejut listrik
adalah suatu terapi psikiatri yang menggunakan energi shock listrik dalam usaha
pengobatannya. Diperkirakan hampir 1 juta orang di dunia mendapat terapi ECT
setiap tahunnya dengan intensitas antara 2-3 kali seminggu. ECT efektif pada
hampir 75% pasien yang menjalankan prosedur dengan benar.
Terapi elektrokonvulsif (ECT) menginduksi kejang grand mal secara buatan
dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang dipasang pada satu atau
kedua pelipis (Stuart W Gail, 2007).
Terapi ECT adalah suatu pengobatan untuk menimbulkan kejang grand mal
secara artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui electrode yang dipasang
pada satu atau dua temples. (Stuart Sundeen, 1998).
Electro Convulsive Therapy/ ECT merupakan suatu pengobatan untuk
penyakit psikiatri berat dimana pemberian arus listrik singkat pada kepala
digunakan untuk kejang tonik klonik umum. (Szuba and Doupe, 1997).
mekanisme pasti dari kerja ECT sampai saat ini masih belum dapat dijelaskan
dengan memuaskan. Namun beberapa penelitian menunjukkan kalau ECT dapat
meningkatkan kadar serum brain-derived neurotrophic factor (BDNF) pada
pasien depresi yang tidak responsif terhadap terapi farmakologis.
Terapi ini menghasilkan kejang-kejang karena pengaruh aliran listrik yang
diberikan pada pasien melalui elektroda-elektroda pada lobus frontalis. Dalam
electroconvulsive terapi, arus listrik dikirim melalui kulit kepala ke otak.
Elektroda ditempatkan pada kepala pasien dan dikendalikan, menyebabkan
kejang-kejang singkat di otak.
Pada saat terapi ini dijalankan, pasien akan kejang-kejang dan kehilangan
kesadaran, kemudian kejang-kejang lambat laun hilang. Sebelum ECT, pasien
diberi relaksan otot setelah anestesi umum. Bila ECT dilakukan dengan benar,
akan menyebabkan pasien kejang, dan relaksasi otot diberikan untuk membatasi
respon otot selama episode. Karena otot rileks, penyitaan biasanya akan terbatas
pada gerakan kecil tangan dan kaki. Pasien dimonitor secara hati-hati selama
perawatan. Pasien terbangun beberapa menit kemudian, tidak ingat kejadian
seputar perlakuan atau perawatan, dan sering bingung.
2. Prinsip Terapi
Secara umum, diperlukan 2 atau 3 kali perawatan sebelum efek terlihat,
dan 4-5 kali pengobatan untuk perbaikan nyata. Kini, jumlah tindakan yang
dilakukan merupakan rangkaian yang bervariasi pada tiap pasien tergantung
pada masalah pasien dan respons terapeutik sesuai hasil pengkajian selama
tindakan.
1. Biasanya diberikan satu terapi per hari berselang-seling.
2. Rentang jumlah yang paling umum dilakukan pada pasien dengan
gangguan afektif atau depresi antara 6 sampai 12 kali, mania dan katatonik
membutuhkan 10-20 terapi, sedangkan pada pasien skizofrenia biasanya
diberikan sampai 30 kali.
3. ECT biasanya diberikan sampai tiga kali seminggu atau setiap beberapa
hari, selama dua hingga empat minggu. Jika efektif, perubahan perilaku
sudah mulai terlihat setelah 2-6 terapi.
4. Antidepresan rumatan, antipsikotik dan lithium dilanjutkan sesudah ECT
berhasil karena dapat mencegah kekambuhan. Tanpa medikasi, angka
kekambuhan tinggi.
5. ECT harus segera dihentikan setelah pasien pulih atau jika mereka
mengatakan mereka tidak ingin menjalaninya lagi.
6. Indikasi
Indikasi terapi kejang listrik adalah
1. Gangguan afek yang berat : pasien dengan penyakit depresi berat atau
penyakit mental lainnya dan gangguan bipolar (mania) yang tidak berespon
terhadap obat anti depresan atau pada pasien yang tidak dapat menggunakan
obat karena cukup beresiko (terutama pada orang tua yang memiliki kondisi
medis).
ECT adalah salah satu cara tercepat untuk mengurangi gejala pada orang
yang menderita mania atau depresi berat. ECT umumnya digunakan sebagai
langkah terakhir ketika penyakit tidak merespon obat atau psikoterapi.
Pasien dengan depresi menunjukkan respons yang baik dengan ECT 8090% dibandingkan dengan antidepresan 70% atau lebih). Terapi ECT
biasanya tidak efektif untuk mengobati depresi yang lebih ringan, yaitu
gangguan disritmik atau gangguan penyesuaian dengan perasaan alam
depresi.
2. klien schizofrenia (Katatonia, stupor, paranoid, kegaduhan akut) :
skizofrenia katatonik tipe stupor atau tipe excited memberika respon yang
baik dengan ECT. Cobalah anti psikotik terlebih dahulu, tetapi jika
kondisinya mengancam kehidupan (delirium hyperexcited), segera lakukan
ECT. Pasien psikotik akut (terutama tipe skizoafektif) yang tidak berespons
pada medikasi saja mungkin akan membaik jika ditambahkan ECT, tetapi
pada sebagian besar skizofrenia kronis, ECT tidak terlalu berguna/ tidak
[Link] Mania (gangguan bipolar manik) juga dapat dilakukan ECT,
terutama jika litium karbonat tidak berhasil.
3. Pada pasien hypoaktivitas dan hiperaktivitas, kurang tidur, gangguan
makan/minum dan perilaku bunuh diri dan lain-lain.
4. Pasien dengan bunuh diri yang aktif dan tidak mungkin menunggu
pengobatan untuk dapat mencapai efek terapeutik.
ECT juga digunakan ketika pasien parah menimbulkan ancaman bagi diri
mereka sendiri atau orang lain dan itu berbahaya bila menunggu sampai
obat-obatan berpengaruh.
Pada klien depresi memerlukan waktu 6-12x terapi untuk mencapai
perbaikan, sedangkan pada mania dan katatonik membutuhkan waktu lebih
lama yaitu 10-20x terapi secara rutin. Terapi ini dilakukan dengan frekuensi
2-3 hari sekali. Jika efektif, perubahan perilaku mulai kelihatan setelah 2-6
terapi.
7. Kontraindikasi dan Komplikasi
ECT merupakan prosedur yang hanya digunakan pada keadaan yang
direkomendasikan. Sedangkan kontraindikasi dan komplikasi dari tindakan ECT,
adalah sebagai berikut:
1) Kontraindikasi
1. Peningkatan tekanan intra kranial (karena tumor otak, infeksi SSP).
2. Keguguran pada kehamilan, gangguan sistem muskuloskeletal
(osteoartritis berat, osteoporosis, fraktur karena kejang grandmal).
3. Gangguan kardiovaskuler: infark miokardium, angina, hipertensi, aritmia
dan aneurisma.
4. Gangguan sistem pernafasan, asma bronkial.
5. Keadaan lemah.
1. Resiko sangat tinggi
Peningkatan tekanan intracranial (karena tumor otak, h
ematoma, stroke yang berkembang, aneurisma yang besar, infeksi
SSP)
Adanya Papiledema (ECT dapat meningkatkan tekanan ssp)
Infark Miokard baru atau penyakit miokard berat (karena ECT
sering mnyebabkan aritmia > dapat berakibat fatal terhadap
kerusakan otot jantung jadi tunggu ekg stabil)
2. Resiko sedang
Osteoartritis berat, osteoporosis atau fraktur yang baru
Penyakit
kardiovaskuler
(misal
hipertensi,
angina
aneurisma/Angina tidak terkontrol, aritmia, Gagal jantung
kongestif). >ECT untuk sementara meningkatkan tekanan darah,
sehingga hipertensi primer berat harus terkontrol, paling tidak
sebelum setiap pengobatan.
Infeksi berat, cedera serebrovaskular (Cerebrovascular accident/
CVA) baru, kesulitan bernafas yang kronis, ulkus peptic yang
akut, Osteoporosis berat, fraktur tulang besar, glaukoma, retinal
detachment
8.
Efek Samping dari Pemberian ECT
Efek samping ECT secara fisik hampir mirip dengan efek samping dari anesthesia
umum. Secara psikis efek samping yang paling sering muncul adalah
kebingungan dan memory loss (75% kasus) setelah beberapa jam kemudian
(biasanya hilang satu minggu sampai beberapa bulan setelah perawatan). Biasanya
ECT akan menimbulkan amnesia retrograde terhadap peristiwa tepat sebelum
masing-masing pengobatan dan anterograde, gangguan kemampuan untuk
mempertahankan informasi baru. Beberapa ahli juga menyebutkan bahwa ECT
dapat merusak struktur otak. Namun hal ini masih diperdebatkan karena masih
belum terbukti secara pasti.
Efek samping khusus yang perlu diperhatikan :
Cardiovaskuler :
1. Segera : stimulasi parasimpatis (bradikardi, hipotensi)
2. Setelah 1 menit : Stimulasi simpatis (tachycardia, hipertensi, peningkatan
konsumsi oksigen otot jantung, dysrhythmia)
3. ECT dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, atau kematian (kasus
yang sangat jarang). Orang dengan masalah jantung tertentu biasanya
tidak diindikasikan untuk ECT.
Efek Cerebral :
1.
2.
3.
4.
Peningkatan konsumsi oksigen.
Peningkatan cerebral blood flow
Peningkatan tekanan intra cranial
Amnesia (retrograde dan anterograde) bervariasi, dimulai setelah 3-4
terapi, berakhir 2-3 bulan atau lebih. Lebih berat pada terapi dengan
metode bilateral, jumlah terapi yang semakin banyak, kekuatan listrik
yang meningkat dan adanya organisitas sebelumnya.
Efek lain :
1. Peningkatan tekanan intra okuler
2. Peningkatan tekanan intragastric
3. Kebingungan (biasanya hanya berlangsung selama jangka waktu yang
singkat), pusing.
4. Mual, Headache/ sakit kepala, nyeri otot.
5. Fraktur vertebral dan ekstremitas dan Rahang sakit. Efek ini dapat
berlangsung dari beberapa jam sampai beberapa hari. Jarang terjadi bila
relaksasi otot baik.
6. Resiko anestesi pada ECT
7. Kematian dengan angka mortalitas 0,002%
9. Peran Perawat
Perawat sebelum melakukan terapi ECT, harus mempersiapkan alat dan
mengantisipasi kecemasan klien dengan menjelaskan tindakan yang akan
dilakukan.
10. Persiapan Alat
Adapun alat-alat yang perlu disiapkan sebelum tindakan ECT, adalah sebagai
berikut:
1) Konvulsator set (diatur intensitas dan timer)
2) Tounge spatel atau karet mentah dibungkus kain
3) Kain kasa
4) Cairan Nacl secukupnya
5) Spuit disposibel
6) Obat SA injeksi 1 ampul
7) Tensimeter
8) Stetoskop
9) Slim suiger
10) Set konvulsator
11. Persiapan klien
1) Anjurkan klien dan keluarga untuk tenang dan beritahu prosedur tindakan
yang akan dilakukan.
2) Lakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk mengidentifikasi
adanya kelainan yang merupakan kontraindikasi ECT
3) Siapkan surat persetujuan
4) Klien berpuasa 4-6 jam sebelum ECT
5) Lepas gigi palsu, lensa kontak, perhiasan atau penjepit rambut yang
mungkin dipakai klien
6) Klien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan defekasi
7) Klien jika ada tanda ansietas, berikan 5 mg diazepam IM 1-2 jam sebelum
ECT
8) Jika klien menggunakan obat antidepresan, antipsikotik, sedatif-hipnotik,
dan antikonvulsan harus dihentikan sehari sebelumnya. Litium biasanya
dihentikan beberapa hari sebelumnya karena berisiko organik.
9) Premedikasi dengan injeksi SA (sulfa atropin) 0,6-1,2 mg setengah jam
sebelum ECT. Pemberian antikolinergik ini mengembalikan aritmia vagal
dan menurunkan sekresi gastrointestinal.
12. Pelaksanaan.
1) Setelah alat sudah disiapkan, pindahkan klien ke tempat dengan
permukaan rata dan cukup keras. Posisikan hiperektensi punggung tanpa
bantal. Pakaian dikendorkan, seluruh badan di tutup dengan selimut,
kecuali bagian kepala.
2) Berikan natrium metoheksital (40-100 mg IV). Anestetik barbiturat ini
dipakai untuk menghasilkan koma ringan.
3) Berikan pelemas otot suksinikolin atau Anectine (30-80 mg IV) untuk
menghindari kemungkinan kejang umum.
4) Kepala bagian temporal (pelipis) dibersihkan dengan alkohol untuk tempat
elektrode menempel.
5) Kedua pelipis tempat elektroda menempel dilapisi dengan kasa yang
dibasahi caira Nacl.
6) Penderita diminta untuk membuka mulut dan masang spatel/karet yang
dibungkus kain dimasukkan dan klien diminta menggigit
7) Rahang bawah (dagu), ditahan supaya tidak membuka lebar saat kejang
dengan dilapisi kain.
8) Persendian (bahu, siku, pinggang, lutu) di tahan selama kejang dengan
mengikuti gerak kejang.
9) Pasang elektroda di pelipis kain kasa basah kemudia tekan tombol sampai
timer berhenti dan dilepas.
10) Menahan gerakan kejang sampai selesai kejang dengan mengikuti gerakan
kejang (menahan tidak boleh dengan kuat).
11) Bila berhenti nafas berikan bantuan nafas dengan rangsangan menekan
diafragma.
12) Bila banyak lendir, dibersihkan dengan slim siger.
13) Kepala dimiringkan.
14) Observasi sampai klien sadar.
15) Dokumentasikan hasil di kartu ECT dan catatan keperawatan
13. Setelah ECT
1) Observasi dan awasi tanda vital sampai kondisi klien stabil
2) Jaga keamanan
3) Bila klien sudah sadar bantu mengembalikan orientasi klien sesuai
kebutuhan, biasanya timbul kebingungan pasca kejang 15-30 menit.
DAFTAR PUSTAKA
Stuart dan Sundeen. (1998). Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 3
alih
bahasa Achir Yani. S. Jakarta: EGC.
Stuart, W.,G. 2007. Buku Saku Keperawtan Jiwa. Jakarta: EGC.