3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Prosedur Penegakan Diagnosis Orthodonti
2.1.1 Analisa Lokal
A. Pemeriksaan Ekstraoral
1. Bentuk kepala
Bentuk kepala perlu dipelajari karena ada hubungannya dengan
bentuk uka, palatum, maupun bentuk lengkung gigi. Bentuk kepala ada 3,
yaitu dolikosefalik, akan membentuk muka yang panjang,sepit dan
protrusif
muka
seperti
ini
disebut
leptoprosop
atau
sempit.
Mesosefalik( bentuk rata-rata) dan brakisefalik akan membentuk muka
yang lebih besar dan kurang protrusive dan ini disebut muka yang
euriprosop atau lebar.
Untuk menentukan tipe kepala sebaiknya tidak hanya mengandalkan
pengamatan tetapi melakukan pengukuran untuk menetapkan indeks
sefalik, yang bisa dihitung dengan rumus:
Indeks sefalik : Lebar kepala x 100
Panjang Kepala
Indeks untuk kepala yang dolikosefalik adalah 0,75 sedangkan
yang brakisefalik 0,80; mesosefalik merupakan tipe kepala dengan
indeks sefalik antara 0,76 0,79.
2. Simetri Wajah
Menurut Houston., (1992) dengan melihat muka pasien dari depan
bila terdapat asimetri dengan mudah akan dapat dikenali adanya asimetri
rahang terhadap muka secara keseluruhan. Muka yang tidak simetri dapat
merupakan variasi biologis, keadaan patologis atau pun kelainan
kongenital.
3. Tipe Wajah
Kompleks muka berhubungan dengan basis kranium, oleh karena
itu pertumbuhan basis kranium pada tahap awal menetukan pola dimensi,
sudut dan topografi muka. Kepala yang dolikosefalik membentuk muka
yang
sempit,
panjang
dan
protrusive
yang
disebut
muka
sempit/leptoprosop; sebaliknya kepala yang brakisefalik menentukan
muka yang lebih datar, kurang protrusive disebut muka lebar/ euriprosop.
Di antara kedua tipe tersebut terdapat muka yang sedang/ mesoprosop.
Indeks wajah dapat dihitung dengan rumus:
Indeks wajah : Lebar wajah x 100
Panjang wajah
4. Tipe Profil
Tipe profil dibagi dalam 3 tipe: cekung, lurus dan cembung. Profil yang
cembung mengarah ke maloklusi kelas II yang dapat disebabkan rahang
atas yang lebih anterior atau mandibula yang lebih posterior. Muka yang
cekung mengarah ke maloklusi kelas III yang dapat disebabkan rahang
atas lebih posterior atau rahang bawah lebih anterior.
Pemeriksaan yang seksama pada profil menghasilkan informasi yang
hampir sama (meskipun tidak terlalu terperinci) dengan sefalometri lateral.
Ada tiga tujuan utama pemeriksaan profil, yaitu:
a. Menentukan posisi rahang dalam jurusan sagital
b. Evaluasi bibir dan letak insisivi
c. Evaluasi proporsi wajah dalam arah vertical dan sudut mandibula.
5. Bibir
6. Fungsi Bicara
7. Kebiasaan Jelek
B. Pemeriksaan Intraoral
1. Lidah
Pemeriksan lidah meliputi ukuran, bentuk, dan fungsi. Ukuran dan
bentuk diperiksa secara subyektif. Lidah yang besar bersifaty individual;
lidah yang besar untuk mulut seseorang belum tentu merupakan lidah yang
besar untuk orang lain. Tanda klinis untuk lidah yang terlalu besar
(makroglosi) terhadap lengkung geligi adalah adanya scalloping (yang
merupakan cetakan sisi lingual gigi pada lidah) pada tepi luar lidah. Jarang
dijumpai lidah yang kecil.
2. Palatum
Pada bentuk kepala dolikosefalik akan didapatkan bentuk palatum
yang sempit, panjang dan dalam. Demikian juga bentuk lengkung geligi
rahang atas. Pada bentuk kepala brakisefalik akan didapatkan bentuk
palatum yang lebar, p[endek, dan dangkal.
3. Kebersihan mulut
Perawatan orthodontic tidak boleh dimulai bila kebersihan mulut
pasien tidak baik. Hal ini disebabkan (1) bila kebersihan mulut jelek,
dengan pemakaian peranti maka akan memperparah keadaan kebersihan
mulut (2) belum tentu ada kerjasama yang baik dengan pasien.
Perhitungan kebersihan mulut menggunakan indeks OHIS.
4. Karies
Pemeriksaan gigi dengan karies perlu dilakukan karena gigi yang
karies merupakan penyebab utama maloklusi local. Karies merupakan
penyebab terjadinya tanggal premature gigi sulung sehingga terjadi
pergeseran gigi permanen, erupsi gigi permanen yang lambat, dan lainlain.
5. Fase geligi
Pasien yang datang untuk perawatan ortodontik biasanya dalam
fase geligi pergantian atau pemanen dan jarang pada fase geligi susu.
6. Gigi yang Ada
Perlu diperiksa gigi yang ada dan dicatat keadaanyya. Pada fase
geligi pergantian, gigi permanen yang tidak ada dalam rongga mulut perlu
dilihat pada rontgenogram. Begitu juga adanya gigi kelebihan dari
kelainan lain. Gigi dengan karies maupun tumpatan yang lebar hendaknya
diperiksa juga prognosisnya dalam jangka panjang. Hal ini akan
memengaruhi pemilihan gigi apabila diperlukan pencabutan dalam
perawatan ortodontik.
2.1.2 Analisa Fungsional
1. Path of Closure
Path of closure adalah arah gerak mandibula dari posisi istirahat ke oklusi
sentrik. Idealnya Path of closure dari posisi istirahat ke posisi oklusi maksimum
berupa gerakan engsel sederhana melewati freeway space yang besarnya 2-3 mm,
arahnya ke atas dan ke depan.
Freeway space = interocclusal clearance
merupakan jarak antaroklusal pada saat mandibula dalam posisi istirahat.
Ada 2 macam perkecualian Path of closure yang biasa dilihat yaitu deviasi
mandibula dan displacement mandibula
Path of closure yang berawal dari posisi kebiasaan mandibula akan tetapi
ketika gigi mencapai oklusi maksimum mandibula dalam posisi relasi
sentrik. Ini disebut deviasi mandibula
Path of closure yang berawal dari posisi istirahat, akan tetapi oleh karena
adanya halangan oklusal maka didapatkan displacement
2. Deviasi mandibula
Bila mandibula dalam posisi kebiasaan, maka jarak antar oklusal akan
bertambah sedangkan kondili letaknya lebih maju di dalam fosa glenoidales. Arah
Path of closure adalah ke atas dan ke belakang akan tetapi bila gigi mencapai
oklusi mandibula terletak dalam relasi sentrik (kondili dalam keadaan posisi
normal pada fosa glenoidales).
3. Displacemet mandibula
Displacement dapat terjadi dalam jurusan sagital dan transversal. Kontak
prematur dapat menyebabkan displacement mandibula untuk mendapatkan
hubungan antartonjol gigi yang maksimum. Displacement jurusan transversal.
Bila lengkung geligi atas dan bawah sama lebarnya, suatu displacemet mandibula
transversal diperlukan untuk mencapai posisi oklusi maksimum. Displacement ke
transversal tidak berhubungan dengan bertambahnya jarak antar oklusal atau
adanya over closure. Pada beberapa kasus akan timbul rasa sakit pada otot dan
akan hilang bilamana displacemet dikoreksi. Bila terdapat gigitan silang unilateral
pada keadaan ini, perlu dilakukan ekspansi regio posterior rahang atas ke arah
transversal. Tidak semua gigitan silang unilateral berhubungan dengan adanya
displacement. Bila tidak ada displacement tetapi terdapat gigitan silang unilateral
maka perlu dipertimbangkan apakah perlu dirawat atau tidak.
Displacement arah sagital. Dapat terjadi karena adanya kontak prematur
daerah insisivi. Pada keadaan ini biasanya didapatkan over closure mandibula.
Pada kasus kelas III ringan terdapat gigitan edge to edge pada insisivi, mandibula
bergeser ke anterior untuk mendapatkan oklusi di daerah bukal. Palpasi pada otot
pengunyahan dan sendi temporomandibula merupakan pemeriksaan rutin dan
perlu dicatat tanda- tanda adanya masalah pada sendi temporomandibula. Pada
pemeriksaan pasien yg membutuhkan perawatan orthodontik, adanya pergeseran
mandibula baik ke lateral maupun sagital pada saat menutup mandibula perlu
mendapat perhatian yang saksama.
Gambar 1. Relasi gigi molar dalam arah transversal
a. Posisi istirahat
b. Relasi sentrik
c. Oklusi sentrik
Gambar 2. Displacement mandibula ke kanan
Gambar 3. Kontak prematur pada gigi anterior menyebabkan displacement
mandibula sehingga terjadi gigitan silang anterior
4. Sendi Temporomandibula
Pasien dengan simtom gangguan temporomandibula dibagi menjadi:
Pasien dengan kondisi patologis pada sendinya termasuk displacement dan
kerusakan pada diskus intraartikular
Pasien dengan gejala primer pada otot oleh karena spasme dan kelelahan
otot yang menentukan kedudukan rahang dan kepala
Untuk perawatan orthodontik kedua hal tersebut harus dibedakan karena
perawatan orthodontik saja tidak akan dapat memperbaiki keadaan yang
disebabkan oleh kondisi internal persendian yang tidak menguntungkan.
Gangguan yang disebabkan oleh disfungsi/rasa sakit miofasial akan bertambah
baik dengan dilakukan perawatan orthodontik. Pertambahan umur manusia dapat
menyebabkan degenerasi internal pada sendi temporomandibula . Pasien dengan
artritis pada sendi yang lain kemungkinan juga dapat terjadi artritis pada sendi
temporomandibulanya.
2.1.3 Analisa Model
Model study adalah rekam orthodontik yang paling sering digunakan
untuk menganalisis suatu kasus dan memberikan banyak informasi ,
pembuatannya relatif mudah dan murah. Keadaan yang dapat dilihat pada model
adalah sebagai berikut:
1. Bentuk lengkung gigi
Bentuk lengkung geligi yang normal adalah berbentuk parabola; ada
beberapa bentuk lengkung gigi yang tidak normal misalnya lebar, , menyempit di
daerah anterior dan lain-lain. Bentuk lengkung gigi berhubungan dengan bentuk
kepala misalnya pasien dengan bentuk kepala brakisefalik cenderung mempunyai
bentuk lengkung geligi lebar.
2. Diskrepansi pada model
Diskrepansi pada model adalah perbedaan antara tempat yang tersedia
(available space) dengan tempat yang dibutuhkan (required space). Merupakan
bagian dari diskrepansi total yang terdiri atas diskrepansi model, diskrepansi
sefalometrik, kedalaman kurva spee dan pergeseran molar ke mesial. Diskrepansi
pada model digunakan untuk menentukan macam perawatan pasien tersebut,
apakah termasuk perawatan pencabutan gigi permanen atau tanpa pencabutan gigi
permanen Untuk mengetahui diskrepansi pada model perlu diketahui tempat yang
10
tersedia dari tempat yang dibutuhkan. Available space adalah tempat di sebelah
molar pertama permanen kiri sampai mesial molar pertama permanen kanan yang
akan ditempati gigi gigi permanen (premolar kedua kiri sampai premolar kedua
kanan) dalam kedudukan /letak yang benar .
Cara mengukur tempat yang tersedia :
Dengan menggunakan lengkungan dari kawat tembaga (brass wire) mulai
dari mesial molar pertama permanen kiri melewati fisura gigi gigi di
depannya terus melewati fisura gigi gigi posterior sampai mesial molar
pertama permanen sisi kanan.
Kawat ini diluruskan dan diukur panjangnya
Panjang kawat ini merupakan tempat yang tersedia
Untuk rahang bawah lengkung kawat tidak melewati fisura gigi posterior
tetapi lewat tonjol bukal gigi posterior rahang bawah
Cara lain untuk mengukur tempat yang tersedia :
Dengan membagi lengkung gigi dalam beberapa segmen
Dari mesial molar permanen kiri sampai mesial kaninus kiri, dari mesial
kaninus kiri sampai mesial insisivi sentral kiri, dari mesial insisivi sentral
kanan sampai distal kaninus kanan, dari distal kaninus kanan sampai
mesial molar pertama permanen kanan.
Masing - masing segmen diukur dg kaliper kemudian dijumlahkan
Bila pasien dalam fase geligi pergantian
Mengukur pada model untuk gigi - gigi yang telah erupsi, sedangkan utk
gigi - gigi yang belum erupsi (benih gigi) diukur pada foto rontgen
Rumus :
Ukuran gigi sulung pd model = ukuran benih gigi sesungguhnya
Ukuran gigi sulung pada foto
Rumus sitepu (1983)
ukuran benih gigi pada foto
11
Y rahang atas = 0,484263X + 11,7181
Y rahang bawah = 0, 460037X + 10, 9117
Sesuai untuk ras Deutero-melayu
Sebagai panduan umum Profitt dkk 2007 mengatakan bahwa:
Bila kekurangan tempat sampai dengan 4 mm tidak diperlukan pencabutan
gigi permanen
Bila kekurangan tempat antara 5-9 mm kadang- kadang masih dpt dirawat
tanpa pencabutan gigi permanen, namun sering diperlukan pencabutan gigi
permanen (tidak termasuk molar ketiga)
Bila kekurangan tempat 10 mm atau lebih hampir selalu diperlukan
pencabutan gigi permanen, biasanya premolar.
3. Kurva Spee
Lengkung yang menghubungkan insisal insisivi dengan bidang oklusal
molar terakhir pada rahang bawah. Pada keadaan normal kedalamannya tidak
melebihi 1,5 mm. Pada kurva spee yang positif (bentuk kurvanya jelas dan dalam)
biasanya didapatkan gigi insisivi yang supraposisi atau gigi posterior yang
infraposisi atau gabungan keduanya (Rahardjo, 2008).
Kurva spee adalah kurva dengan pusat pada suatu titik di tulang lakrimal
dengan radius pada orang dewasa 65-70mm. Kurva iini berkontak di empat posisi
yaitu permukaan anterior kondili, daerah kontak distooklusal molar ketiga, daerah
kontak mesiooklusal molar pertama dan tepi insisal (Rahardjo, 2008).
4. Diastema
Ruang diantara dua gigi yang berdekatan, gingiva diantara gigi-gigi
[Link] diastema pada fase gigi pergantian masih merupakan keadaan
normal, tetapi pada fase gigi permanen perlu diperiksa lebih lanjut apakah
keadaan nomal atau tidak (Rahardjo, 2008).
5. Gigi Yang Terletak Salah
12
Pemeriksaan dilakukan pada gigi secara individu. Menurut angle dengan
diketahuinya kelainan letak gigi secara individu dapat direncanakan perawatan
untuk meletakkan gigi tersbut pada letaknya yang benar. Penyebutan letak gigi
yang digunakan antara lain (Rahardjo, 2008) :
1. Versi
: mahkota gigi miring ke arah tertentu tetapi akar gigi tidak
2. Infra oklusi
: gigi yang tidak mencapai garis oklusal dibandingkan
dengan gigi lain dalam lengkung gigi
3. Supreoklusi
: gigi yang melebihi garis oklusal dibandingkan
4. Rotasi
: gigi berputar pada sumbu panjang gigi, bisa sentris atau
eksentris
5. Transposisi
: dua gigi yang bertukar tempat, misalnya kaninus
menempati tempat insisivi lateral dan insisivi lateral menempati kaninus
6. Ektostema
: gigi yang terletak di luar lengkung geligi (mis. kaninus
atas)
Cara penyebutan lain seperti yang dianjurkan Lischer untuk gigi secara
individual adalah sebagai berikut:
1. Mesioversi : mesial terhadap posisi normal gigi
2. Distoversi : distal terhadap posisi normal gigi
3. Linguoversi: lingual terhadap posisi normal ggi
4. Labioversi :labial terhadap posisi normal gigi
6. Pergeseran Garis Median (Lengkung Gigi Terhadap Median Muka)
Pada palatum terdapat bebebrpa struktur anatomi yang penting untuk
menentukan garis median di palatum. Untuk menilai apakah terdapat pergeseran
garis median lengkung gigi terhadap median muka dilihat letak insisivi sentral kiri
dan kanan. Bila titik kontak insisivi sentral terletak di sebelah kiri garis median
muka maka keadaan ini disebut pergeseran ke [Link] melihat pergeseran garis
13
median adalah dengan melihat apakah garis median muka melewati titik kontak
insisivi sentral masing-masing rahang. Bila titik kontak terlihat terletak pada garis
median berarti tidak terdapat pergeseran tetapi bila titik kontak terletak di sebelah
kiri atau kanan garis median muka maka terdapat pergeseran ke kanan atau kiri
(Rahardjo, 2008).
7. Relasi Jurusan Transversal
Pada keadaan normal relasi transversal gigi posteior adalah gigitan fisura
luar rahang atas, oleh karena rahang atas lebih lebar daripada rahang bawah.
Apabila rahang atas terlalu sempit atau terlalu lebar dapat menyebabkan
terjadinya perubahan relasi gigi posterior dalam jurusan transversal. Perubahan
yang dapat terjadi adalah gigitan tonjol,gigitan fisura dalam atas, gigitan silang
total luar rahang atas (Rahardjo, 2008).
8. Kelainan dalam Jurusan Vertikal
Kelainan dalam jurusan vertikal dapat berupa gigitan terbuka yang berarti
tidak ada kontak antara gigi atas dan gigi bawah saat oklusi (Rahardjo, 2008).
9. Relasi Gigi Anterior
Yang dimaksud dengan gigi anterior adalah gigi insisivi sentral dan lateral.
Relasi gigi anterior diperiksa dalam jurusan sagital dan vertikal. Relasi yang
normal dalam jurusan sagital adalah adanya jarak gigit (overjet). Jarak gigit
adalah jarak horizontal antara insisal insisivi atas dengan bidang labial insisivi
bawah. Jarak gigit pada gigitan dilang anterior diberi tanda negatif, misalnya
-3mm. Pada relasi gigitan edge to edge jarak gigitnya 0 mm (Rahardjo, 2008).
Pada jurusan vertikal dikenal adanya tumpang gigit (overbite) yang
merupakan vertical overlap of the incisors. Di klinik tumpang gigit diukur dari
jarak vertikal insisal insisivi atas dengan insisivi bawah, yang normal ukurannya 2
mm. Tumpang gigit yang bertambah menunjukkan adanya gigitan dalam. Pada
gigitan terbuka tidak ada overlap dalam jurusan vertikal, tumpang gigit ditulis
tanda negatif, misalnya -5mm. Pada relasi edge to edge tumpang gigitnya 0 mm
(Rahardjo, 2008).
14
2.1.4 Analisa Sefalometri
[Link] Arti dan Manfaat Sefalometri Radiografik
Sefalometrik adalah ilmu yang mempelajari pengukuran-pengukuran yang
bersifat kuantitatif terhadap bagian-bagian tertentu dari kepala untuk mendapatkan
informasi tentang pola kraniofasial (Eky, 1999).
Manfaat sefalometri radiografik adalah (Hendra, 1971) :
a. Mempelajari pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial.
b. Diagnosis atau analisis kelainan kraniofasial.
c. Mempelajari tipe fasial.
d. Merencanakan perawatan ortodontik.
e. Evaluasi kasus-kasus yang telah dirawat.
f. Analisis fungsional.
g. Penelitian
[Link] Teknik Sefalometri Radiografik
1. Alat
Alat-alat dasar yang digunakan untuk menghasilkan suatu sefalogram
terdiri dari sefalostat atau sefalometer, tabung sinar tembus dan pemegang kaset
beserta
kaset
yang
berisi
film
dan
layar
pengintensif
(intensifying
screen).Pemegang kaset dapat diatur sedemikian rupa agar diperoleh gambar yang
[Link] pengintensif digunakan untuk mengurangi jumlah penyinaran yang
tidak diperlukan. Bagian dari sefalometer yang diletakkan pada telinga (ear rod)
dapat digerakkan sehingga mudah disesuaikan dengan lebar kepala pasien. Tabung
sinarharus dapat menghasilkan tegangan yang cukup tinggi (90 KvP) guna
menembus jaringan keras dan dapat menggambarkan dengan jelas jaringan keras
dan lunak (Jacobson, 1995).
Dikenal 2 macam sefalometer, yaitu (Jacobson, 1995):
a. Broadbent-Bolton, digunakan 2 tabung sinar X dan 2 pemegang
kaset,sehingga objek tidak perlu bergerak atau berubah apabila akan dibuat
penyinaran/proyeksi lateral atau antero-posterior.
15
b. Higley, terdiri dari 1 tabung sinar X, 1 pemegang kaset dan sefalometernya
dapat berputar sedemikian rupa sehingga objek dapat diatur dalam
beberapamacam proyeksi yang diperlukan. Sefalometer modern pada
umumnya adalah jenis ini yaitu Rotating type.
2. Teknik pembuatan dan penapakan sefalogram
a. Teknik pembuatan sefalogram (Jacobson, 1995) :
Proyeksi lateral atau profil
Proyeksi lateral dapat diambil pada subjek dengan oklusi sentrik , mulut
terbuka atau istirahat. Kepala subjek difiksir pada sefalometer, bidang
sagital tengah terletak 60 inci atau 152,4 cm dari pusat sinar X dan muka
sebelah kiri dekat dengan film. Pusat berkas sinar X sejajar sumbu
transmeatal (ear rod) sefalometer. Jarak bidang sagital tengah-film 18
[Link] (Frankfurt Horizontal Plane) sejajar lantai, subjek duduk tegak,
kedua telinga setinggi ear rod.
Proyeksi postero-anterior/frontal
Pada proyeksi postero-anterior tube diputar 90 sehingga arah sinar X
tegak lurus sumbu transmeatal.
Oblique sefalogram
Oblique sefalogram kanan dan kiri dibuat dengan sudut 45 dan 135
terhadap proyeksi lateral. Arah sinar X dari belakang untuk menghindari
superimposisi dari sisi mandibula yang satunya. FHP sejajar [Link]
sefalogram sering digunakan untuk analisis subjek pada periodegigi
bercampur.
b. Teknik penapakan sefalogram (Jacobson, 1995) :
Analisis sefalometri radiografik dibuat pada gambar hasil penapakan
sefalogram. Acetate matte tracing paper (kertas asetat) tebal 0,003 inci
ukuran8x10 inci dipakai untuk penapakan sefalogram. Kertas asetat dilekatkan
padatepi
atas
sefalogram
dengan
Scotch
tape
(agar
dapat
dibuka
apabiladiperlukan), kemudian diletakkan di atas iluminator (negatoscope).
16
Penapakan sefalogram dianjurkan menggunakan pensil keras (4H) agar diperoleh
garis-garis yang cermat dan tipis.
Gambar.2
Bagian-bagian yang perlu ditapak pada sefalogram lateral antara lain:
Bagian 1:
Profil jaringan lunak
Kontur eksternal kranium
Vertebra servikalis pertama dan kedua
Bagian 2:
Kontur internal kranium
Atap orbita
Sella tursika atau fossa pituitari
Ear rod
Bagian 3:
Tulang nasal dan sutura frontonasalis
Rigi infraorbital
Fisura pterigomaksilaris
Spina nasalis anterior
Spina nasalis posterior
Molar pertama atas dan insisivus sentralis atas
Bagian 4:
Simfisis mandibula
Tepi inferior mandibula
Kondilus mandibula
17
Mandibular notch dan prosesus koronoideus
Molar pertama bawah dan insisivus sentralis bawah
[Link] Beberapa Titik dan Garis Sefalometri
Titik Sefalometri (Foster, 1997) :
Porion : titik tertinggi pada tepi meatus auditorius eksternus
Orbitale : titik terendah pada tepi infra-orbital
Nasion : Pertemuan antara tulang nasal dan fontral pada garis tengah
Sella : Bagian tengah bayangan sella tursika
Pogonion : Titik paling anterior pada tulang dagu
Spinanasalis anterior (ANS) :Proyeksi paling anterior dari premaksila pada
garis tengah di bawah rongga hidung.
Spina nasalis posterior (PNS) : Proyeksi paling posterior dari palatum
keras pada garis tengah
Titik A (subspinalis) : titik paling posterior dari kecekungan pada
permukan anterior premaksila di garis tengah, di bawah spina nasalis
anterior.
Titik B (suprametalis) : titik paling posterior dari kecekungan pada
permukaan anterior mandibula di garis tengah di atas pogonion
Gnasion : titik paling inferior dan anterior pada tulang dagu
Menton : titik paling inferior pada tepi bawah mandibula
Gonion : titik paling inferior dan posterior pada sudut mandibula
Artikularis : titik potong dari outline tepi posterior mandibula dan tepi
inferior tulang temporal
Titik bolton : titik paling tinggi pada kecekungan fosa di belakang
kondilosipital
Basion : titik paling rendah pada tepi anterior foramen magnum di garis
tengah
Titik pterigo maksilaris : titik paling rendah dari outline fisura pterigo
maksilaris
18
Gambar.3
[Link] Garis-Garis Sefalometri (Foster, 1997) :
Garis Frankfort. Garis yang menghubungkan orbitalis dan porion pada sisi
kiri.
Garis
maksilaris.
Garis
yang
menghubungkan
spinanasalis
dan
spinanasalis posterior.
Garis mandibula. Garis yang menghubungkang oneon dengan menton.
Garis oklusal. Garis dari titik tengah antara ujung I atas dan bawah kontak
anterior antara M1 atas dan bawah pada keadaan oklusal.
Garis bolton. Garis yang menghubungkan titik Bolton dan nasion
Sumbu Y. Garis dari sella ke gnasion
Garis de coster. Outline permukaan dlm basis krani anterior dari bibir
anterior sella tursika ke permukaan endokranial dari tulang frontal
Garis sella nasion. Garis yang menghubungkan pusat sella tursika dan
nasion.
19
Gambar.4
[Link] Analisis Sefalometri Radiografik
Pada saat ini, analisis sefalometri dari pasien yang dirawat ortodontik
merupakan suatu kebutuhan. Metode analisis sefalometri radiografik antara lain
dikemukakan oleh : Downs, Steiner, Rickett, Tweed, Schwarz, McNamara
danlain-lain. Berdasarkan metode-metode tersebut dapat diperoleh informasi
mengenai morfologi dentoalveolar, skeletal dan jaringan lunak pada tiga bidang
yaitu sagital, transversal dan vertikal (Rakosi, 1979).
Analisis dental meliputi (Ardhana, 2011) :
1. Maxillary Incisor Position
Letak dan inklinasi aksial gigi insisif atas ditentukan dengan
menghubungkan gigi tersebut ke garis N-A.
Gigi insisif atas terhadap garis N-A dibaca dalam derajat untuk
menentukan hubungan angular gigi-gigi insisif atas,sedangkan apabila
dibaca dalam mm, memberikan informasi posisi gigi insisif lebih di
depan/belakang dari garis N-A.
Jarak permukaan gigi insisif paling labial terhadap garis N-A sebesar 4
mm di depangarisN-A, dan inklinasi aksialnya membentuk sudut 22
dengang aris N-A.
Pembacaan sudut saja tidak cukup demikian juga apabila hanya
pembacaan jarak saja Maxillary Incisor Angle ini untuk mengetahui posisi
insisif terhadap facial skeleton.
20
Gambar 5
2. Mandibular Incisor Position
Letak gigi insisif bawah dalam arah antero-posterior dan angulasinya
ditentukan dengan menghubungkan gigi tersebut dengan garis N-B.
Pengukuran gigi insisif bawah terhadapgaris N-B dalam mm menunjukkan
posisi gigi di depan/ belakang garis N-B. Pembacaan gigi insisif sentral
bawah terhadap garis N-B dalam derajat menentukan inklinasi aksial gigi
tersebut.
Titik paling labial gigi insisif sentral bawah terletak 4 mm di depan garis
NB, sedangkan inklinasi aksial gigi initerhadap garis N-B sebesar 25
Gambar.6
3. Interincisal Angle
Untuk mengetahui inklinasi gigi insisif dan relasi gigi insisif atas dan
bawah.
Merupakan perpanjangan garis dari tepiinsisal dan apeks akar gigi insisif
atas dan bawah.
Sudut ini kecil bila inklinasi gigi insisif lebih ke labial dari basis gigigeligi.
Rentang 130 - 150, rerata 135,4.
21
Gambar.7
4. Incisor-Mandibular Plane Angle (IMPA)
Dibentuk dari perpotongan bidang mandibula dan perpanjangan garis dari
tepi insisal-apeks akar gigi insisif sentral bawah.
Sudut ini positif apabila inklinasi gigi insisif lebih ke labial dari basis gigigeligi.
Rentang -8,5 - +7, rerata +1,4
Gambar.8
Analisis skeletal meliputi (Ardhana, 2011) :
1. Maksila
Posisi antero-posterior maksila terhadap kranium diukur dengan sudut
SNA.
Sudut ini untuk menentukan prognatisme maksila.
Sudut SNA untuk menentukan apakah maksila protrusif atau retrusif
terhadap basis kranial.
Rerata sudut SNA 82; > 82 berarti maksila protrusif; < 82 maksila
retrusif.
2. Mandibula
22
Posisi antero-posterior mandibula terhadap basis kranium ditentukan
dengan sudut SNB.
Sudut SNB untuk mengetahui apakah mandibula protrusif atau retrusif
terhadap basis kranial.
Rerata sudut SNB 80; < 80 menunjukkan mandibula resesif; > 80
menunjukkan mandibula prognatik.
3. Hubunga nmaksila dan mandibula
Posisi antero-posterior maksila dan mandibula satu terhadap lainnya
diukur dengan sudut ANB.
Rerata sudut ANB 2; jika> 2 menunjukkan kecenderungan skeletal Kelas
II; jika< 2 dan terbaca kurang dari 0 (-1, -2, -3) menunjukkan
mandibula di depan maksila atau hubungan skeletal Kelas III.
Analisis Jaringan Lunak
Analisis jaringan lunak meliputi penilaian adaptasi jaringan lunak terhadap
profiltulang dengan pertimbangan ukuran, bentuk, dan postur bibir
(Ardhana, 2011).
Gambar.9
2.2 Etiologi Maloklusi
Maloklusi merupakan penyimpangan dari pertumbuhperkembangan yang
disebabkan factor-faktor tertentu. Secara garis besar etiologi atau penyebab suatu
maloklusi dapat digolongkan beberapa faktor yaitu factor herediter (genetik) dan
factor local. Namun terkadang maloklusi sukar ditentukan etiologinya secara tepat
karna adanya beberapa factor (multifaktor) yang mempengaruhi pertumbuh
kembangnya.
23
2.2.1 Faktor Herediter
Pada populasi primitive yang terisolasi jarang dijumpai maloklusi yang
berupa disproporsi ukuran rahang dan gigi sedangkan relasi rahangnya
menunjukan relasi yang sama. Pada populasi modern lebih sering ditemukan
maloklusi dari pada populasi primitis sehingga diduga karena adanya kawin
campur menyebabkan prevalensi maloklusi meningkat. Cara yang lebih baik
untuk mempelajari pengaruh herediter adalah dengan mempelajari anak kembar
monozigot yang hidup pada lingkungan yang sama. Suatu penelitian
menyimpulkan bahwa 40 % variasi dental dan fasial dipengaruhi factor herediter
sedangkan penelitian yang lain menyimpulkan bahwa karakter skelet kraniofasial
sangat dipengaruhi factor herediter sedangkan pengaruh herediter terhadap gigi itu
rendah.
Pengaruh herediter dapat bermanifestasi dalam dua hal yaitu :
1. Disproporsi ukuran gigi dan ukuran rahang yang menghasilkan maloklusi
berupa gigi berdesakan atau maloklusi berupa diastema multiple meskipun
yang terakhir ini jarang dijumpai.
2. Disproporsi ukuran, posisi, dan bentuk rahang atas dan rahang bawah yang
menghasilkan relasirahang yang tidak harmonis. Dimensi kraniofasial ukuran
dan jumlah gigi sangat dipengaruhi factor herediter atau genetic sedangkan
dimensi lengkung rahang sangat dipengaruhi oleh factor local. Urutan
pengaruh genetic pada skelet yang paling tinggi adalah mandibula yang
prognatik, muka yang panjang serta adanya deformitas muka.
1. Kelainan gigi
Beberapa kelainan gigi yang dipengaruhi factor herediter adalah kekurangan
jumlah gigi (hipodontia), kelebihan jumlah gigi (hiperdontia), misalnya ada
mesiodens, bentuk gigi yang khas misalnya karabeli, kaninus impaksi dipalatal,
transposisi gigi misalnya kaninus yang terletak diantara premolar pertama dan
kedua.
24
Hipodontia
Hiperdontia
Gambar 10
2. Kekurangan jumlah gigi
Kelainan jumlah gigi dapat berupa tidak ada pembentukan gigi atau agenesis
gigi. Anodontia adalah suatu keadaan dimana tidak terbentuk gigi sama sekali.
Apabila diketahui gigi sulung agenesis maka gigi permanen juga agenesis, tetapi
apabila gigi sulung ada bias jadi gigi permanen agenesis. Gigi yang agenesis
biasanya adalah gigi sejenis tetapi letaknya lebih distal sehingga dapat dipahami
bahwa yang sering agenesiss adalah molar ketiga.
a. Kelebihan jumlah gigi
Yang paling sering ditemukan adalah gigi kelebihan ang terletak digaris
median rahang atas yang biasa disebut mesiodens
b. Disharmoni Dentomaksiler
Disharmoni dentomaksiler ialah suatu keadaan disproporsi antara besar
gigi dan rahang dalam hal ini lengkung geligi. Menurut Anggraini (1975)
etiologi disharmoni dentomaksiler adalah faktor herediter. Karena tidak
adanya harmoni antara besar gigi dan lengkung gigi maka keadaan klinis
yang dapat dilihat adalah adanya lengkung geligi dengan diastema yang
menyeluruh pada lengkung geligi bila gigi-geligi kecil dan lengkung geligi
normal, meskipun hal ini jarang dijumpai. Keadaan yang sering dijumpai
adalah gigi-geligi yang besar pada lengkung geligi yang normal atau gigi
yang normal pada lengkung geligi yang kecil sehingga menyebabkan letak
gigi berdesakan. Meskipun pada disharmoni dentomaksiler didapatkan
gigi-geligi berdesakan tetapi tidak semua gigi yang berdesakan disebabkan
karena disharmoni dentomaksiler. Disharmoni dentomaksiler mempunyai
tanda-tanda klinis yang khas. Gambaran maloklusi seperti ini bisa terjadi
di rahang atas maupun di rahang bawah (Foster, 1997).
2.2.2 Faktor Lokal
1. Gigi sulung tanggal prematur
Gigi sulung yang tanggal prematur berdampak pada susunan gigi permanen.
semakin muda umur pasien pada saat terjadi tanggal prematur gigi sulung
maka semakin besar akibatnya pada gigi permanen.
2. Persistensi gigi
25
Gigi sulung yang sudah melewati waktunya tanggal tetapi tidak tanggal,
keadaan yang jelas menunjukan persistensi gigi sulung adalah apabila gigi
permanen pengganti telah erupsi tetapi gigi sulung tidak tanggal
3. Trauma
Trauma yang mengenai gigi sulung dapat menggeser benih gigi permanen. bila
terjadi saat mahkota permanen terbentuk maka dapat terjadi gangguan
pembentukan enamel, sedangkan bila mahkota gigi permanen telah terbentuk
dapat terjadi dilaserasi yaitu akar yang mengalami distorsi bentuk(biasnya
bengkok). Gigi yang mengalami dilaserasi biasanya tidak akan mencapai oklusi
yang normal bahkan kalau parah tidak dapat dirawat ortodontik dan tidak ada
pilihan lain kecuali dicabut.
4. Pengaruh jaringan lunak
Tekanan dari otot bibir, pipi,lidah memberi pengaruh yang besar terhadap letak
gigi. meskipun tekanan dari otot ini kecil namun berlangsung lama dan terus
menerus. menurut penelitian tekanan yang berlangsung 6 jam dapat mengubah
letak gigi.
5. Kebiasaan buruk
- Kebiasaan mengisap jari menyebabkan maloklusi, ditentukan oleh jari mana
yang dihisap dan bagaimana meletakkan jari saat mengisap
- Mengisap bibir bawah menyebabkan proklinasi insisivus atas disertai jarak
gigit yang bertambah dan retroklinasi insisivus bawah
- Kebiasaan mengigit kuku menyebakan maloklusi biasanya dampaknya pada
satu gigi
6. Faktor iatrogenic
Perawatan ortodontik mempunyai kemungkinan terjadinya kelainan iatrogenik
contoh : pada saat menggerakan kaninus ke distal dengan piranti lepasan tetapi
karena ada kesalahan desain atau kesalahan penempatan pegas
sehingga terjadi gerakan gigi ke distal dan palatal.
2.3 Klasifikasi Maloklusi
Maloklusi adalah penyimpangan letak gigi dan atau malrelasi lengkung
geligi (rahang) di luar rentang kewajaran yang dapat diterima (Rahardjo, 2009).
Untuk kemudahan penyebutan maloklusi, penggunaan kelasifikasi sangat
membantu guna menggolongkan maloklusi yang sangat bervariasi dalam beberapa
26
golongan saja. Klasifikasi Angle didasarkan atas relasi lengkung geligi dalam
jurusan sagital. Kunci kelasifikasi Angle adalah pada relasi molar pertama
permanen. Pada keadaan normal tonjol mesiobukal molar pertama permanen atas
beroklusi dengan lekukan bukal molar pertama permanen bawah (Rahardjo,
2009).
2.3.1 Klasifikasi Angle :
Kelas I Angle (Neutro Oklusi)
Jika mandibula dengan lengkung giginya dalam hubungan
mesiodistal yang normal terhadap maksila. Tanda-tanda :
a. Tonjol mesiobukal gigi M1 atas terletak pada celah bagian bukal (buccal
groove) gigi M1 bawah.
b. Gigi C atas terletak pada ruang antara tepi distal gigi C bawah dan tepi
mesial P1 bawah (Rahardjo, 2008).
Gambar 11. Maloklusi Klas I
Kelas II Angle = Disto oklusi
Jika lengkung gigi di mandibula dan mandibulanya sendiri dalam
hubungan mesiodistal yang lebih ke distal terhadap maksila.
Tanda-tanda :
Tonjol mesiobukal M1 atas terletak pada ruangan diantara tonjol
mesiobukal M1 bawah dan tepi distal tonjol bukal gigi P2 bawah.
Kelas II Angle Divisi 1 :
Insisive atas protusi, shg didapatkan jarak gigit > besar,
tumpang gigit besar dan kurva
Kelas II Angle Divisi 2 :
spee positif (+)
27
Insisive sentral atas retroklinasi, insisive lateral atas proklinasi,
tumpang gigit besar (gigitan dalam), jarak gigit bisa normal / sedikit
bertambah
Gambar 12. Maloklusi Klas II
Klas II divisi 1
Klas II divisi
2
Gambar.13
Kelas III Angle (Mesioklusi)
Tonjol mesiobukal M1 atas berada lebih Ke distal dari posisi klas 1
Telah melewati puncak tonjol distobukal M1 bawah
Gambar 14. Maloklusi Klas III
2.3.2 Klasifikasi Lain
1. Klasifikasi Dewey
28
Klasifikasi Dewey yaitu modifikasi dari angle kelas I dan kelas III.
Modifikasi Angles kelas I:
1) Tipe 1 : Angle Class I dengan gigi anterior maksila Crowding.
2) Tipe 2 : Angle Class I dengan gigi I maksila labio version
3) Tipe 3 : Angle Class I dengan gigi I maksila lingual versionterhadap I
mandibula. (anterior cross bite).
4) Tipe 4 : M dan atau P pada bucco atau linguo version, tapi I dan Cdalam
jajaran normal (cross bite posterior ).
5) Tipe 5 : M ke arah mesio version ketika hilangnya gigi pada bagianmesial
gigi tersebut, (contoh hilangnya M sulung lebih awal dan P2).
2. Klasifikasi Lischers
Modifikasi dengan Klasifikasi angel:
1) Neutroklusi : Sama halnya dengan klasifikasi Angel kelas 1
2) Distoklusi : Sama halnya dengan klasifikasi Angel kelas 2
3) Mesioklusi : Sama halnya dengan klasifikasi Angel kelas 3
Nomenklatur Lischer untuk malposisi perindividual gigi geligi menyangkut
penambahan versi pada sebuah kata untuk mengindikasikan penyimpangan dari
posisi normal.
1) Mesioversi : Lebih ke mesial dari posisi normal
2) Distoversi : Lebih ke distal dari posisi normal
3) Lingouversi : Lebih ke lingual dari posisi normal
4) Labioversi : Lebih ke labial dari posisi normal
5) Infraversi : Lebih rendah atau jauh dari garis oklusi
6) Supraversi : Lebih tinggi atau panjang melewati garis oklusi
7) Axiversi : Inklinasi aksial yang salah, tipped.
8) Torsiversi : Rotasi pada sumbunya yang panjang
9) Transversi : Perubahan pada urutan posisi.
3. Klasifikasi Bennette
Klasifikasi ini berdasarkan etiologinya:
1) Kelas I
Abnormal lokasi dari satu atau lebih gigi sesuai faktor lokal.
2) Kelas II
29
Abnormal bentuk atau formasi dari sebagian atau keseluruhan darisalah
satu lengkung sesuai kerusakan perkembangan tulang.
3) Kelas III
Abnormal hubungan di antara lengkung atas dan bawah dan diantara salah satu
lengkung dan kontur fasial sesuai dengan kerusakan perkembangan tulang.
2.4 Macam Perawatan Ortodontik
2.4.1 Prinsip dasar perencanaan perawatan ortodontik
Prinsip dasar perencanaan perawatan ortodontik meliputi kesehatan mulut,
perencanaan perawatan rahang bawah, perencanaan perawatan rahang atas, relasi
gigi posterior, penjangkaran dan masa retensi.
1. Kesehatan Mulut
Sebelum memulai perawatan ortodontik harus diupayakan kesehatan mulut
yang baik. Gigi-gigi yang karies perlu dirawat demikian juga adanya kalkulus dan
penyakit periodontal harus dirawat. Bila didapatkan penyakit sistemik, misalnya
diabetes melitus kadar gula darah harus terkontrol.
2. Perencanaan Perawatan Rahang Bawah
Perencanaan perawatan di rahang bawah terutama di regio insisivi dilakukan
lebih dahulu kemudian rencana perawatan rahang atas disesuaikan. Insisivi bawah
diletakkan dalam posisi yang stabil, yaitu terletak pada daerah keseimbangan di
antara lidah, bibir dan pipi. Perubahan letak insisivi yang berlebihan cenderung
terjadi relaps.
3. Perencanaan Perawatan Rahang Atas
Penyesuaian perawatan rahang atas terhadap rahang bawah dilakukan
terutama untuk mendapatkan relasi kaninus kelas I, hal ini memengaruhi
pertimbangan seberapa banyak tempat yang dibutuhkan dan banyaknya kaninus
diretraksi.
4. Relasi Gigi Posterior
Hendaknya diupayakan mendapatkan relasi molar pertama permanen kelas I
tetapi bila tidak memungkinkan relasi molar bisa juga kelas II atau kelas III..
30
5. Penjangkaran
Macam penjangkaran yang digunakan perlu dipikirkan untuk mencegah
terjadinya kehilangan penjangkaran (gigi penjangkar bergeser ke mesial) yang
berlebihan, apakah penjangkaran cukup dari gigi-gigi yang ada ataukah perlu
mendapat penjangkaran dari tempat yang lain misalnya dari penjangkaran ekstra
oral.
6. Masa Retensi
Perlu perencanaan masa retensi pada akhir perawatan untuk kasus yang
dirawat ortodontik. Hampir semua kasus yang dirawat ortodontik membutuhkan
masa retensi untuk mencegah relaps, yaitu kecenderungan untuk kembali ke posisi
sebelum dilakukan perawatan. Macam peranti retensi dan lama pemakaian peranti
tersebut perlu dijelaskan kepada pasien sebelum dilakukan perawatan ortodontik.
Untuk peranti retensi lepasan dibutuhkan kepatuhan pasien untuk memakai peranti
retensinya.
2.4.2 Penyediaan Ruangan dalam Perawatan Ortodontik
Gigi berdesakan merupakan kelainan dental yang paling sering didapatkan.
Gigi yang berdesakan digolongkan dalam tiga kategori, yaitu berdesakan rungan
bila untuk koreksi berdesakan dibutuhkan kurang dari 4 mm, berdesakan sedarjg
antara 4 sampai 8 mm dan berdesakan parah bila dibutuhkan ruangan lebih besar
daripada 8 mm.
1. Tindakan Non Ekstraksi
A. Enamel stripping
Pengurangan enamel dapat dilakukan pada sisi distal/mesial gigi sulung atau
permanen. Enamel stripping selain menyediakan ruangan juga dapat membentuk
gigi permanen ke bentuk yang lebih baik atau memperbaiki titik kontak. Enamel
stripping dilakukan dengan menggunakan metal abrasive strip atau dengan
menggunakan bur yang dipasang pada high speed air-turbine handpiece. Untuk
memudahkan pengurangan enamel di daerah posterior dapat dipasang separator di
31
antara molar dan premolar selama 3-5 hari sehingga didapatkan diastema di antara
gigi-gigi tersebut. Banyaknya enamel yang dibuang tanpa membahayakan gigi
tersebut adalah 0,25 mm tiap sisi gigi. Enamel stripping bila dilakukan dengan
baik tidak memberjkan efek negatif pada gigi yang dikurangi enamelnya. Bila
enamel stripping dilakukan pada semua insisivi maka akan didapat ruangan 2 mm
di regio anterior sedangkan bila dilakukan pada seluruh rahang akan didapat
ruangan sebesar 5-6 mm di rahang tersebut. Perlu diupayakan bahwa enamel
stripping juga tetap mempertahankan bentuk gigi dan kontak dengan gigi yang
berdekatan. Harus diingat bahwa sesudah dilakukan enamel stripping gigi harus
diulas dengan bahan aplikasi topikal yang mengandung fluor untuk mencegah
terjadinya karies pada gigi tersebut.
B. Ekspansi
Ekspansi ke arah transversal dapat dilakukan di rahang atas terutama bila
terdapat gigitan silang posterior. Ekspansi ke arah transversal di regio anterior
dapat juga dilakukan untuk mendapatkan tempat agar gigi-gigi anterior yang
sedikit berdesakan dapat dikoreksi. Ekspansi ke arah sagital dapat memperpanjang
lengkung geligi. Untuk melakukan ekspansi sagital regio anterior perlu
diperhatikan posisi gigi yang lebih ke anterior tidak mengganggu profil pasien.
C. Distalisasi molar
Molar atas dapat digerakkan ke distal untuk menambah ruangan pada kasus
yang bila dilakukan pencabutan akan kelebihan tempat, atau sesudah dilakukan
pencabutan gigi permanen masih juga terjadi kekurangan tempat. Tindakan ini
dapat juga dilakukan pada kasus yang molar pertama permanennya bergeser ke
mesial karena kehilangan prematur molar kedua sulung. Peranti yang digunakan
bisa peranti lepasan, atau dengan headgear yang bisa menggerakkan molar ke
distal sampai sejauh 2-3 mm tiap sisi. Peranti lain adalah peranti cekat di rahang
atas, misalnya pendulum yang dapat menggerakkan molar ke distal lebih banyak.
Molar bawah dapat juga digerakkan ke distal bila molar kedua sulung tanggal
prematur.
32
Gambar 15. Peranti pendulum untuk menggerakkan molar ke distal.
D. Memproklinasikan Insisivi
Tindakan ini dapat dilakukan apabila insisivi terletak rejtrokljnasi dan profil
muka yang tidak cembung. Bila tindakan ini dilakukan berlebihan dapat
menyebabkan profil menjadi lebih cembung dan insisivi yang proklinasi
cenderung relaps.
2. Tindakan Ekstraksi
A. Serial extraction (pencabutan seri)
Pencabutan gigi yang terencana dan berurutan untuk menghilangkan
berdesakan dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Tindakan ini disebut
pencabutan seri karena secara garis besar dilakuan pencabutan gigi sulung dan
kemudian dilakuakn pencabutan gigi permanen dan diakhiri dengan mekanoterapi.
Tindakan yang mula-mula dilakukan pada pencabutan serial adalah
mencabut caninus sulung agar terdapat ruangan sehingga insisiv yang berdesakan
terkoreksi secara spontan (tampa mengunakan piranti ortodonti) kecuali gigi yang
terletak [Link] akar premolar pertama telah terbentuk setengah atau
duapertiga, molar pertama sulung dicabut untuk mempercepat erupsi premolar
[Link] premolar pertama telah erupsi gigi ini dicabut agar kaninus erupsi
ketempat bekas pencabutan premolar pertama.
B. Pencabutan Gigi Permanen
Pencabutan gigi permanen perlu dilakukan apabila diskrepansi total
menunjukkan kekurangan tempat lebih dari 8 mm. Diskrepansi total terdiri atas
diskrepansi model, diskrepansi sefalometrik, kedalaman kurva Spee dan perkiraan
33
banyaknya kehilangan penjangkaran. Untuk mendatarkan kurva Spee yang
kedalamannya kurang dari 3 mm diperlukan tempat 1 mm, bila lebih besar
daripada 5 mm diperlukan tempat 2 mm. Sebelum dilakukan pencabutan gigi
permanen pada masa geligi pergantian perlu diperhatikan bahwa gigi permanen
yang lain ada meskipun saat itu masih belum erupsi. Pemilihan gigi yang akan
dicabut membutuhkan pertimbangan yang kompleks yang menyangkut semua
aspek perawatan ortodontik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum
mencabut gigi permanen antara lain sebagai berikut.
o Prognosis gigi, misalnya adanya karies yang besar disertai kelainan
patologis pada apikal yang seandainya dirawat prognosis gigi tersebut
dalam jangka lama masih diragukan.
o Letak gigi yang kadang-kadang sangat menyimpang dari letak yang
normal.
o Banyaknya tempat yang dibutuhkan dan di mana letak kekurangan tempat
tersebut.
o Relasi insisivi.
o Kebutuhan
penjangkaran
apakah
perlu
digunakan
penjangkaran
maksimum atau tidak.
o Profil pasien apakah pencabutan yang dilakukan dapat menyebabkan
perubahan profil pasien, misalnya pasien dengan profil yang lurus dengan
adanya pencabutan dapat menyebabkan profil menjadi cekung.
o Tujuan perawatan apakah perawatan komprehensif ataukah perawatan
kompromi atau bahkan hanya perawatan penunjang.
Pertimbangan pemilihan gigi yang akan dicabut adalah sebagai berikut :
Insisivi: gigi ini jarang dipilih sebagai pilihan utama untuk pencabutan
karena insisivi memengaruhi estetik geligi. Juga dengan pencabutan insisivi di
salah satu rahang menyebabkan kesukaran untuk mengadakan relasi gigi yang
baik karena terdapat tiga gigi di satu rahang sedangkan di rahang yang lain
terdapat empat gigi. Meskipun tampaknya pencabutan insisivi bawah merupakan
pilihan perawatan yang sederhana tetapi biasanya dibutuhkan peranti cekat untuk
34
mengoreksi letak gigi anterior bawah dan dibutuhkan peranti retensi cekat untuk
mempertahankan hasil perawatan. Insisivi bawah kadang-kadang dicabut pada
keadaan, misalnya:
o keadaan gigi tersebut tidak baik terutama jaringan periodontalnya
o terdapat gigi berdesakan di anterior pada maloklusi kelas I
o pasien yang mempunyai maloklusi kelas III ringan dengan berdesakan
anterior
Kaninus: peran kaninus sangat besar baik untuk estetik maupun fungsi
kunyah (sebagai pemandu pada pergerakan mandibula ke lateral). Meskipun
demikian di beberapa negara pencabutan kaninus dilakukan, misalnya kaninus
yang terletak ektopik, terletak jauh menyimpang dari letaknya yang benar atau
bila insisivi lateral telah berkontak dengan baik dengan premolar pertama. Kontak
yang baik antara insisivi lateral dan premolar pertama dapat dicapai dengan baik
bila digunakan peranti cekat.
Premolar pertama: gigi ini merupakan gigi yang paling sering dicabut
untuk perawatan ortodontik bila kekurangan tempat sedang sampai banyak.
Premolar pertama dicabut untuk mengoreksi berdesakan baik di anterior maupun
di posterior. Bila premolar pertama dicabut pada saat kaninus sedang bererupsi
biasanya kaninus secara spontan menempati bekas pencabutan premolar pertama.
Sebagian besar ruangan bekas pencabutan premolar pertama dipakai untuk koreksi
berdesakan di anterior.
Premolar kedua: bila kebutuhan tempat ringan sampai sedang, kira-kira 4
mm. Hanya 25-50% tempat bekas pencabutan premolar kedua yang dipakai untuk
koreksi gigi yang berdesakan. Bila premolar kedua dicabut kelebihan tempat dari
pencabutan premolar dapat ditutup dari posterior dengan menggerakkan molar
pertama ke mesial, untuk ini diperlukan peranti cekat agar terdapat kontak yang
baik antara molar pertama permanen dengan premolar pertama.
Molar pertama permanen: pencabutan molar pertama permanen
menghasilkan tempat yang banyak sehingga dapat untuk koreksi kelainan di
anterior yang parah meskipun waktu perawatan menjadi lebih lama dan lebih
sukar.
35
Molar kedua permanen: gigi ini diindikasikan untuk dicabut, misalnya bila
diperlukan menggerakkan molar pertama ke distal bila ada gigi berdesakan di
posterior dan memberi kesempatan molar ketiga untuk bergeser ke mesial.
Molar ketiga: dahulu gigi ini dicabut untuk menghindari berdesakan di regio
anterior tetapi sekarang banyak yang berpendapat bahwa pencabutan molar ketiga
hanya untuk mencegah berdesakan di regio anterior tidak dianjurkan.
Tabel 1. Pemanfaatan ruangan bekas pencabutan gigi
Untuk
Gigi yang
koreksi
dicabut
berdesakan
Mengajukan gigi
Retraksi anterior
posterior
Maksimum
Minimun
Maksimum
Minimum
Insisivi 1
insisivi
5
Insisivi 2
Kaninus
Premolar 1
Premolar 2
Molar 1
Molar 2
2
1
Ukuran dalam milimeter (Proffit dkk., 1985)
2.4.3 Perencanaan -Perawatan pada Kelainan Relasi Skeletal
Pada prinsipnya kelainan relasi skeletal dapat dirawat dengan mengadakan
modifikasi pertumbuhan, kamuflase dan orthognathic surgery.
2.4.4 Modifikasi Pertumbuhan (growth modification)
Perawatan untuk memodifikasi pertumbuhan dapat dilakukan pada pasien
yang masih dalam masa pertumbuhan dengan tujuan memperbaiki relasi rahang.
Kadang-kadang tindakan ini merupakan fase pertama dari two phase treatment
pada maloklusi dentoskeletal untuk mengoreksi relasi rahang sedangkan fase
kedua dilakukan untuk mengatur letak gigi-gigi. Modifikasi pertumbuhan
biasanya dilakukan dengan menggunakan peranti fungsional. Perawatan ini lebih
36
banyak
berhasil
untuk
mengoreksi
kelainan
skeletal
dalam
jurusan
anteroposterior, misalnya pada maloklusi kelas II divisi 1.
Dalam melakukan perawatan ini diperlukan kerjasama antara pasien,
orangtua dan dokter gigi agar dicapai hasil yang optimal. Berdasarkan perawatan
dalam periode geligi campuran dibagi menjadi 3 kategori, tergantung dari
tingkat/kadar kerjasama (cooperation).
Kategori pertama adalah kerjasama minimal. Pada kategori ini pasien tidak
terlalu aktif, strategi perawatan ini memerlukan kerjasama yang minimal, bahwa
pasien tidak perlu terlalu aktif dalam melakukan perawatan, kecuali perawatan
terhadap kebersihan gigi dan mulut tetap harus dijaga/ditingkatkan. Contohnya
adalah alat orto cekat ang digunakan terus menerus. Bahan yang disemenkan pada
gigi molar, Rapid Maxillary Expansion atau pada mandibula berupa :Lingual
Arch, untuk mempertahankan lebar lengkung mandibula.
Kategori kedua adalah kerjasama menengah. Pada kategori ini biasanya
menggunakan alat lepasan, yang berguna untuk merubah aktifitas neuromuscular.
Misalnya lip bumper, distalisasi molar. Alat stabilisasi setelah pemakaian rapid
maxillary expansion.
Kategori ketiga adalah kerjasama maksimal. Pada kasus ini diberikan
untuk kasus skeletal, dan neuroimbalance muscular.
memerlukan kerjasama yang
maksimal
Pada kategori ini
dengan pasien, karena dengan
menggunakan alat ini, pasien bertendensi mengganggu kehidupannya misalnya
Headgear, Facial Mask. Chin cup pada perawatan kasus klas III.
2.4.5 Kamuflase secara Ortodontik
Perawatan ini ditujukan pada maloklusi yang disertai kelainan skeletal
yang tidak parah. Kelainan skeletal yang terjadi diterima apa adanya tetapi gigigigi digerakkan untuk menjadi relasi kelas I. Kelainan skeletal yang ringan
memberikan hasil perawatan yang baik sedangkan kelainan skeletal yang parah
kadang-kadang tidak dapat memberikan hasil yang seperti yang diharapkan.
Biasanya kelainan skeletal dalam jurusan sagital yang memberi hasil yang baik.
37
2.4.6 Orthognathic Surgery
Sesuai dengan namanya perawatan ini merupakan gabungan perawatan
ortodontik dan pembedahan untuk menempatkan gigi dan rahang dalam posisi
yang normal sehingga menghasilkan estetik wajah yang baik. Tindakan
pembedahan dilakukan sesudah pasien tidak mengalami pertumbuhan lagi.
Indikasinya adalah pasien yang mempunyai problema skeletal yang parah atau
kelainan dentoalveolar yang parah yang tidak dapat dirawat dengan perawatan
ortodontik saja.
2.5 Rancana Perawatan Maloklusi Klas I
Pada kasus oklusi
klas I dan pola skeletal normal pada bidang
anteroposterior. Maloklusi klas I meliputi banyak problem ortodontik.
Gambaran klinik
1. Variasi skeletal lateral & vertical
2. Spacing
3. Crowding
4. Problem lokal dental
Hal-hal tersebut diatas tidak hanya berhubungan dengan maloklusi klas I saja
tetapi dapat terjadi pada maloklusi yang lain.
Perawatan
Variasi skeletal
Meskipun pola skeletal didefinisikan normal pada bidang anteroposterior,
tetapi dapat abnormal pada lebar lengkung dan hubungan vertical.
Diskrepansi lengkung lateral
Crossbite unilateral: Maloklusi ini biasanya disertai dengan lateral mandibular
displacement.
Ekspansi
lengkung
biasanya
perlu
untuk
mengkoreksi
38
dentoalveolar. Ekspansi digunakan alat removable dengan retensi yang cukup,
terutama dengan Adamss klammer pada premolar dan molar. Aktif ekspansi dapat
dilaksanakan dengan screw midline atau Coffin spring
Crossbite bilateral: Maloklusi ini jarang diikuti dengan mandibular displacement
dan perawatan biasanya tidak diindikasikan, bahkan pada kasus dimana perawatan
diperlukan jauh dari scope alat removable.
Total buccal occlusion: Koreksi gigi individual yang buko oklusi adalah
[Link] pada buko oklusi beberapa gigi , yang lateral maupun bilateral
mungkin lebih sulit dan tidak dianjurkan pada terapi dengan alat removable.
Diskrepansi lengkung vertikal
Openbite
1. Dento alveolar anterior openbite. Maloklusi yang sangat umum terjadi dan
[Link] adanya thumb & finger sucking habit. Penanganan pada
pasien yang masih muda akan lebih baik daripada pada pasien yang telah
dewasa. Alat removable yang digunakan memerlukan Adams clasp dan
hayrake yang efektif menangani adanya sucking habit. Alternatif lain
adalah oral screen yang efektif digunakan pada pasien yang mempunyai
finger dan thumb sucking habit hanya pada malam hari.
2. Skeletal anterior open bite. Merupakan diskrepansi vertikal yang tidak
langsung merespon terhadap perawatan ortodontik
3. Increased incisor overbite. Pada kasus klas I yang dianggap normal
anteroposteriornya, kemungkinan terjadi kontak insisal yang menghalangi
over erupsi. Kasus deep overbite biasanya diikuti dengan maloklusi klas II
dan III.
Spacing
Di Eropa, spacing menyeluruh atau general diastema atau distemata jarang
ada.
39
Crowding
Crowding pada masa gigi permanen merupakan indikasi yang umum untuk
perawatan ortodontik. Ada beberapa tingkatan crowding dari minimum, moderate
sampai severe. Ada dua alternatif dalam menangani kasus crowding: 1 dengan
ekstraksi gigi dalam rahang yang sama dan 2 menggerakkan ke distal segmen
bukal.
Perawatan crowding dengan ekstraksi gigi pada lengkung yang sama
Ekstraksi gigi harus direncanakan dengan betul supaya dicapai tujuan yang
diinginkan tanpa meninggalkan sisa ruang yang tidak diharapkan. Pengaturan gigi
dapat dilakukan dengan menggunakan alat atau membiarkan bergerak secara
spontan.
Hubungan molar
Merupakan hal yang dianggap penting untuk menegakkan rencana
perawatan. Pada maloklusi klas I hubungan molar tidak perlu menjadi klas I jika
ada faktor lokal seperti hilangnya awal gigi susu yang akan menyebabkan gerakan
ke mesial dari molar permanen.
Hubungan klas I molar
Pada hubungan molar klas I , garis pusat atas dan bawah berimpit dan tidak
ada tanda-tanda abnormal dari besarnya gigi, dan ekstraksi dari tiap kwadran
diperlukan untuk menghilangkan crowding. Meskipun semua gigi dapat dilakukan
ekstraksi tetapi gigi yang umum dipilih untuk di ekstraksi adalah gigi premolar
satu atas dan bawah. Ekstraksi ini tidak hanya menghasilkan ruang untuk
mengatur gigi rahang atas dan bawah saja , tetapi juga meyakinkan bahwa setelah
perawatan aktif jika terjadi sisa ruang akan sama pada tiap kwadran, sehingga
akan memungkinkan penutupan ruang spontan pada akhir retensi.
Hubungan klas II molar
Adanya variasi pada hubungan molar memungkinkan adanya modifikasi
dalam rencana perawatan. Jika hubungan molar klas II ada disertai crowding
40
pada rahang atas, maka ekstraksi bawah tidak dianjurkan. Tujuan dari perawatan
adalah menghasilkan lengkung atas yang teratur, mempertahankan lengkung
bawah yang telah baik dan diakhiri dengan hubungan molar klas II tanpa ada sisa
ruang.
Hubungan intermediate molar
Tidak semua maloklusi akan sesuai dengan kategori diatas. Hubungan molar
kemungkinan akan menjadi klas II cusp to cusp. Jika keadaan ini muncul akan
menyebabkan komplikasi pada pemilihan gigi yang akan dicabut
Berbagai kemungkinan yang ada :
1.
Bila tidak ada crowding pada lengkung
bawah
dimungkinkan untuk
mencabut gigi atas saja. Hal ini terutama akan merubah hubungan molar dari
parsial klas II menjadi full klas II.
2.
Jika lengkung bawah ada crowding , premolar atas dan bawah harus dicabut.
Jika hubungan molar klas I telah dicapai pada akhir perawatan, perlu dilakukan
geseran ke mesial dari molar bawah yang lebih besar daripada yang atas.
Sehingga ekstraksi premolar bawah dapat dilakukan lebih awal daripada atas
dikarenakan erupsi kaninus atas akan lebih lambat sehingga perawatan atas harus
ditunda.
Pada beberapa kasus pemakaian alat atas akan mencegah gerakan mesial
dari molar .
Pada beberapa kasus kadang perlu menggerakkan sedikit ke distal molar
atas dengan gaya ekstra oral untuk mencapai hubungan molar klas I sehingga
penutupan ruang akan terjadi kemudian pada kedua lengkung rahang.
41
Asimetri
Crowding tidak selalu simetri. Hilangnya gigi molar susu awal
menyebabkan gerakan ke depan unilateral dari molar permanen . Hilang awal
menyebabkan shifting dari centerline.
Pada kasus tertentu kemungkinan dapat dilakukan ekstraksi bilateral pada
lengkung atas dan unilateral pada lengkung bawah.
Pada centerlines yang bergeser ekstraksi unilateral pada sisi crowding akan
menyebabkan centerlines lebih bergeser, sedangkan ekstraksi bilateral akan
meninggalkan sisa ruang pada daerah yang tidak crowding.
Pada pasien muda ekstraksi dapat dilakukan pada sisi yang tidak crowding
dengan harapan terjadi koreksi pada centerline yang kemudian diikuti ekstraksi
pada sisi yang crowding pada tahap berikutnya. Penyelesaian berbagai masalah
tersebut dapat dilakukan baik pada rahang atas maupun bawah
Penyelesaian masalah dapat digunakan alat cekat pada satu rahang ataupun
keduanya untuk mengkontrol ruang dan centerlines. Kadang-kadang grinding
dapat dilakukan pada hubungan oklusal antara klas I dan klas II. Penutupan ruang
secara spontan paling efektif dilakukan pada masa muda, sehingga rencana
perawatan seharusnya dibuat sebelum masa gigi permanen.
Tooth size
Pada beberapa kasus dapat dijumpai gigi yang besarnya abnormal.
Misalnya peg-shaped pada insisivus lateral atas. Walaupun centerline
dan
hubungan molar sudah benar, sisa ruang tidak dapat dihindarkan jika premolar atas
dan bawah di ekstraksi.
Meskipun besarnya gigi normal, pengambilan gigi lain dari kwadran
lawannya akan menimbulkan masalah. Jika ada gigi yang bergeser kemungkinan
ekstraksi dilakukan tidak pada gigi premolar, sehingga akan terjadi sisa ruang pada
tiap-tiap lengkung. Sebagai contoh ekstraksi kaninus atas dan premolar satu bawah
42
akan menghasilkan ruang yang tidak sama sehingga akan terjadi sisa ruang pada
lengkung atas.
Alat untuk terapi setelah ekstraksi gigi
Beberapa kasus dapat dirawat dengan ekstraksi saja , tetapi ada kasus yang
memerlukan alat untuk terapi mempertahankan ruang dan gigi individual yang
bergeser.
Space maintainer
Untuk mempertahankan ruang umum digunakan alat removable sebagai terapi.
Space maintainer mempunyai desain yang sederhana, mudah digunakan dan pada
beberapa kasus efektif jika digunakan hanya pada waktu tidur.
Indikasi pemakaian space maintainer
Space maintainer memungkinkan gerakan spontan yang diharapkan dan
mencegah gerakan yang tidak diinginkan. Pada kasus gerakan gigi aktif
diperlukan, alat ini digunakan pasif sebagai space maintainer selagi gigi erupsi.
Pada tahap ini alat dipakai terus menerus dengan spring diaktifkan.
Ekstraksi premolar
Gigi premolar satu umum diekstraksi pada perawatan crowding. Gigi ini
umumnya erupsi sebelum gigi kaninus dan ekstraksi akan memungkinkan kaninus
posisinya menjadi lebih baik. Space maintainer yang sederhana akan mencegah
gerakan kedepan dari gigi-gigi bukal selagi hal ini berlangsung. Premolar dua
lebih jarang diekstraksi kecuali ada
gigi hilang secara kongenital disertai
crowding di daerah tersebut maka space maintainer digunakan untuk menyiapkan
ruang bagi gigi yang akan tumbuh.
Perawatan crowding dengan menggeser gigi bukal ke distal
Menggerakkan ke distal pada gigi bukal atas dapat dilakukan dengan gaya
ekstra oral. Pada rahang bawah hal ini sukar dilakukan. Pada situasi lengkung
bawah sudah baik dan lengkung atas ada crowded ringan hal ini dapat dilakukan ,
kecuali jika problem hanya terjadi pada satu sisi.
43
2.6 Teori Pergerakan Gigi
Mekanisme pergerakan gigi oleh gaya ortodontik telah diteliti selama
bertahuntahun. Beberapa teori yang dapat diterima dan digunaka adalah :
1. Pressure Tension Theory
Penelitian yang dilakukan oleh Sandstedt (1904), Oppenheim (1911),
Schwarz (1932)
bahwa jika gigi mendapatkan gaya ortodonti, maka akan
menghasilkan daerah tekanan dan regangan. Daerah tekanan adalah daerah
periodonsium yang mengalami tekanan karena gigi bergerak mendekat dan daerah
tarikan adalah daerah periodonsium yang mengalami tarikan karena gigi bergerak
menjauh. Daerah tekanan akan mengalami resorbsi tulang sedangkan daerah
tarikan akan mengalami deposisi tulang (Balajhi, 2006).
Menurut Schwarz, 1932 (cit. Khrisnan, 2006) , gaya yang diberikan dalam
perawatan ortodonti tidak boleh melebihi tekanan darah kapiler (20-25 g/cm2),
jika melebihi maka dapat terjadi nekrosis jaringan.38 Daerah nekrosis ini disebut
jaringan hialin karena tidak terdapat vaskularisasi. Tanda awal terjadinya daerah
hyalinisasi adalah adanya area aseluler atau cell-free zone dilanjutkan dengan
keluarnya elemen seluler seperti makrofag dan osteoklas (Khrisnan, 2006) .
Setelah beberapa hari elemen selular dari daerah ligamen periodontal
yang lain mulai memasuki jaringan yang rusak. Osteoklas terbentuk pada ruang
sumsum tulang didekatnya dan mulai merusak tulang di sekeliling daerah nekrosis
44
sehingga disebut juga undermining resorption. Bila terjadi hialinisasi dan
undermining resorption maka pergerakan gigi akan melambat. Hal ini mungkin
disebabkan oleh lambatnya stimulasi pembentukan osteoklas pada sumsum tulang
dan lebih tebalnya tulang yang harus diresorbsi. Pergerakan gigi yang simultan
terjadi pada resorbsi frontal, sedang pada pemberian tekanan yang besar,
pergerakan gigi seperti melompat (Khrisnan, 2006).
2. Blood Flow Theory
Teori ini disebut juga sebagai fluid dynamic theory yang diperkenalkan
oleh Bien pada tahun 1966. Berdasarkan teori ini, pergerakan gigi timbul karena
gerakan cairan yang dinamis dalam ligamen periodontal. Ligamen periodontal
terdapat pada ruangan periodontal yang dibatasi oleh permukaan akar gigi dan
tulang alveolar, terdiri dari sistem cairan yang terbuat dari cairan interstitial,
elemen selular, pembuluh darah dan perlekatan substansi dasar berisi serat-serat
periodontal. Kandungan ligamen periodontal menghasilkan kondisi hidrodinamik
yang unik yang menyerupai mekanisme hidrolik dan shock absorber. Aplikasi
gaya eksternal pada gigi menyebabkan terjadinya pergerakan cairan pada jaringan
periodontal dan secara simultan memicu pergerakan cairan di dalam kanalikuli.
Ketika cairan kanalikuli berkurang, terjadi apoptosis osteosit yang terdapat di
dalam tulang kemudian akan menarik osteoklas sehingga terjadi resorbsi tulang
(Henneman, 2008).
3. Bone Bending and Piezoelectric Theory
Farrar pada tahun 1988 yang pertama kali mengatakan bahwa bone
bending pada tulang alveolar merupakan hal yang penting dalam pergerakan gigi
secara ortodonti. Ketika alat ortodonti diaktivasi, gaya yang diberikan pada gigi
ditransmisikan ke semua jaringan di sekelilingnya sehingga gigi akan bergerak
lebih besar dibandingkan dengan lebar ligamen periodontal yang menyebabkan
terjadinya defleksi pada tulang alveolar. Defleksi pada tulang juga memicu
keluarnya potensial elektrik pada permukaan tulang atau piezoelektrik yang sering
ditemukan pada material kristalin (Cobourne, 2009).
Deformasi atau perubahan bentuk struktur kristal menghasilkan arus listrik
seperti elektron yang berpindah dari molekul kristal yang satu ke molekul kristal
45
yang lain. Bila struktur kristal mengalami deformasi, elektron bermigrasi,
sehingga terjadi aliran listrik. Jika terdapat tekanan maka struktur kristal masih
stabil dan tidak terjadi perpindahan elektron, namun jika tekanan dilepaskan,
kristal akan kembali ke bentuk semula dan aliran elektron terjadi pada arah yang
berlawanan. Sumber struktur kristal tidak hanya pada mineral tulang, tapi terdapat
juga pada kolagen, hidroksiapatit, batas antara kolagen hidroksiapatit dan
mukopolisakarida pada substansi dasar. Pada saat gigi diberi tekanan, tulang
alveolar di sekitarnya akan mengalami tekukan. Daerah yang cekung
diasosiasikan dengan arus negatif dan menyebabkan deposisi tulang sedangkan
daerah yang cembung diasosiasikan dengan arus positif dan menyebabkan
resorbsi tulang (Balajhi, 2006).
2.7 Jenis pergerakan gigi
Beberapa jenis pergerakan gigi yang dapat dihasilkan antara lain yaitu:
a. Pergerakan Tipping
Pergerakan tipping ialah pergerakan gigi dimana gigi yang miring dapat
ditegakkan dan gigi yang tegak dapat dimiringkan untuk mendapatkan hasil yang
baik juga oklusi yang harmonis sesuai dengan bentuk lengkung gigi. Tipe
pergerakan ini merupakan yang paling sederhana dan mudah dilakukan (Balajhi,
1997).
Tekanan ortodonti diaplikasikan pada satu titik di mahkota gigi yang
menyebabkan gigi miring menjauhi arah tekanan. Mahkota gigi bergerak searah
dengan gaya sedangkan apeks gigi bergerak dalam arah yang berlawanan
( Gambar 1 ) (Balajhi, 1997).
Bila gerakan tipping terjadi, ligamen periodontal akan tertekan tetapi tidak
remuk. Pembuluh darah masih vital dalam waktu 24-48 jam setelah pemberian
tekanan ortodonti, osteoklas terlihat sepanjang permukaan tulang dan terjadi
resorpsi tulang pada sisi tekanan dan deposisi pada sisi tegangan .
46
Gambar 16. Pergerakan tipping. Tekanan diaplikasikan pada titik tunggal
mahkota gigi yang menyebabkan resorpsi tulang dan aposisi, membuat gigi
bergerak tipping. Tekanan pada jaringan periodontal lebih besar didekat apeks dan
tepi servikal gigi. ( Foster T.D. Buku Ajar Ortodonsia, alih Bahasa, Lilian
Yuwono, 1997 : 175 )
b. Pergerakan Rotasi
Pergerakan rotasi adalah gerakan gigi berputar di sekeliling sumbu panjangnya.
Rotasi merupakan suatu penjangkaran gigi yang paling rumit dilakukan dan sukar
untuk dipertahankan. Rotasi gigi dalam soketnya membutuhkan aplikasi tekanan
ganda. Pergerakan rotasi ini dapat diperoleh dengan memberikan kekuatan pada
satu titik dari mahkota dan stop untuk mencegah bergeraknya bagian mahkota
yang lain ( Gambar 2 ) (Balajhi, 1997).
Pada pergerakan rotasi kecendrungan untuk relaps lebih besar, ini disebabkan
karena serat-serat yang melekatkan gigi ke tulang menjadi sangat mudah
terorganisasi kembali selama dan sesudah pergerakan gigi, serat-serat yang
menyatukan gigi dengan jaringan gingival masih utuh, hanya mengalami distorsi
selama pergerakan gigi dan kebanyakan serat-serat gingival tersebut meregang
(Foster, 1997).
47
Gambar 17. Dua metode untuk merotasi sebuah gigi (a) dengan memakai
kekuatan gabungan (b) menggunakan kekuatan tunggal dan sebuah stop . Pada
(a) pusat rotasi terletak di dekat bagian tengah gigi . Situasi pada (c) lebih cocok
dengan menggunakan tekanan gabungan dan situasi pada (d) lebih cocok untuk
stop ( Foster T.D. Buku Ajar Ortodonti Alih Bahasa Lilian Yuwono, 1997 : 176 )
c. Pergerakan bodili
Bodili adalah pergerakan translasi menyeluruh dari sebuah gigi ke posisi yang
baru, dengan semua bagian dari gigi bergerak dalam jumlah yang setara. Tekanan
harus diaplikasikan pada daerah mahkota yang lebar dan setiap pergerakan tilting
harus dibatasi. Pergerakan bodily mengakibatkan resorpsi tulang terjadi pada
daerah tekanan dan pembentukan tulang terjadi pada daerah tarikan ( Gambar 3 )
(Foster, 1997).
Gambar 18. Pergerakan bodily. Tekanan harus diaplikasikan pada daerah
mahkota gigi yang lebar dan harus ada alat untuk mencegah miringnya gigi.
Tekanan yang mengenai jaringan periodontal akan didistribusikan secara merata. (
Foster T.D Buku Ajar Ortodonti, Alih Bahasa Lilian Yuwono, 1997; 177 )
d. Pergerakan torque
Pergerakan torque adalah pergerakan akar gigi dengan hanya sedikit pergerakan
mahkota. Pergerakan torque mengakibatkan pada daerah tekanan akan terjadi
resorpsi jaringan dan pada daerah tarikan terjadi aposisi yang menyebabkan gigi
miring disekitar apeksnya ( Gambar 4 ) (Foster, 1997).
48
Gambar 19. Pergerakan torque akar. Suatu tekanan kopel diaplikasikan pada
daerah mahkota gigi yang luas dan stop atau tekanan berlawanan diaplikasikan
untuk mencegah pergerakan mahkota. Tekanan yang mengenai struktur
periodontal yang paling besar di sekitar apeks gigi ( Foster T.D Buku Ajar
Ortodonti Alih Bahasa Lilian Yuwono, 1997 : 178 )
e. Pergerakan vertikal
Pergerakan vertikal ada dua jenis yaitu pergerakan ekstrusi dan intrusi dimana
kedua pergerakan ini memperoleh kekuatan dengan arah yang berlawanan.
Ekstrusi adalah pergerakan gigi keluar dari alveolus dimana akar mengikuti
mahkota. Ekstrusi gigi dari soketnya dapat terjadi tanpa resorpsi dan deposisi
tulang yang dibutuhkan untuk pembentukan kembali dari mekanisme pendukung
gigi. Pada umumnya pergerakan ekstrusi mengakibatkan tarikan pada seluruh
struktur pendukung ( Gambar 5 ). Intrusi adalah pergerakan gigi secara vertikal
kedalam alveolus. Intrusi gigi menyebabkan resorpsi tulang, terutama di sekitar
apeks gigi. Dalam pergerakan ini, terjadi daerah tekanan pada seluruh struktur
jaringan pendukung, tanpa adanya daerah tarikan ( Gambar 6 ) (Foster, 1997).
Gambar 20. Pergerakan vertikal : ekstrusi. Peregangan timbul pada strutur
pendukung dan aposisi tulang untuk mempertahankan dukungan gigi. ( Foster T.D
Buku Ajar Ortodonti, Alih Bahasa Lilian Yuwono, 1997 : 179 )
49
Gambar 21. Pergerakan vertikal : intrusi. Tekanan yang mengenai struktur
pendukung didistribusikan secara merata dan resorpsi tulang dibutuhkan,
khususnya pada daerah apikal dan pada puncak alveolar. ( Foster T.D Buku Ajar
Ortodonti, Alih Bahasa Lilian Yuwono, 1997 : 179 )
2.8 Komponen Peranti Lepasan
2.8.1 Komponen Aktif
Komponen aktif peranti lepasan terdiri atas bermacam pegas, bermacam
busur labial, sekrup ekspansi dan elastik.
Pegas
Kekuatan yang dihasilkan oleh pegas adalah kekuatan yang terus
menerus. Kekuatan semacam ini dapat menggerakkan gigi secara terus
menerus sampai ke posisi gigi yang di inginkan.
Hal yang perlu diperhatikan waktu mendesain pegas, yaitu
Dimensi kawat
Defleksi
Arah pergerakan gigi
Mudah di inseri dan nyaman untuk pasien
Pegas palatal
1. Pegas kantilever tunggal (Pegas Jari)
Pegas ini dapat menggerakkan gigi ke arah mesiodistal dan
juga ke labial atau searah dengan lengkung gigi.
2. Pegas Kantilever Ganda (Pegas Z)
Lengan pegas kantilever ganda harus selebar mesiodistal
insisiv yang digerakkan agar pegas tidak kaku. Pegas harus
tegak lurus
pada permukaan palatal gigi yang didorong,
50
kalau tidak maka
pegas akan mudah tergelincir dan
menyebabkan gigi intrusi.
3. Pegas T
Aktivasi dilakukan dengan cara menarik pegas menjauhi
lempeng akrilik. Pegas ini akaku dan hanya perlu diaktivasi
sedikit.
4. Pegas Coffin
Merupakan pegas yang digunakan untuk ekspansi lengkung
gigi ke
arah transversal. Aktivasi pegas dapat diatur
apakah akan diekspansi daerah premolar, molar atau
keduanya.
Pegas Bukal
1. Pegas bukal tanpa penyangga
Digunakan pada kaninus yang terletak di
bukal
yang
perlu digerakkan ke distal dan palatal
2. Retraktor bukal berpenyangga
Desain pegas ini sama dengan pegas bukal tanpa penyangga
tapi, kelenturan pegas ini dua kali lebih besar, sebab lengan
pegas yang tidak bertabung dibuat dari kawat yang kecil.
3. Retraktor bukal dengan lup terbalik
Digunakan terutama bila sulus bukal rendah seperti
di
rahang bawah.
Busur Labial
Busur labial aktif digunakan untuk menarik insisivi ke lingual.
1. Retraktor Roberts
Terbuat dari kawat 0,5 mm
2. Busur labial tinggi dengan pegas apron
Terbuat dari kawat 0,9 mm
3. Busur labial dengan lup U
Terbuat dari kawat 0,7 mm
Sekrup Ekspansi
Dapat digunakan untuk menggerakkan gigi tetapi gigi tersebut juga
digunakan sebagai retensi piranti.
Elastik
Elastik digunakan untuk retraksi insisiv atas maupun bawah.
2.8.2 Komponen Retentif
51
Yang dimaksud dengan retensi adalah tahanan terhadap perubahan
letak piranti lepasan. Retensi yang baik menyebabkan piranti tidak mudah
lepas. Retensi didapatkan pada undercut gigi yang diberi cangkolan
ataupun busur.
Cangkolan Adams
Cangkolan ini menggunakan undercut gigi di mesiobukal dan
distobukal sebagai tempat retensi. Ukuran kawat yang digunakan
umumnya 0,7mm, meskipun kawat 0,6 mm dapat juga digunakan pada
gigi premolar, kaninus dan sebuah insisivus sentral atas.
Bagian-bagiannya terdiri dari :
Cross bar :
Merupakan bagian kawat sepanjang 2/3 mesiodistal gigi
anchorage yang akan dipasangi, posisi sejajar permukaan oklusal,
terletak 1 mm disebelah bukal permukaan bukal , tidak tergigit
ketika gigi beroklusi.
U loop :
Terletak diujung mesial dan distal cross bar. Menempel
pada permukaan gigi di daerah undercut bagian mesiobukal dan
distobukal.
Pundak:
Merupakan lanjutan dari U loop yang melewati daerah
interdental dibagian
oklusal sisi mesial dan distal gigi
[Link] tergigit sewaktu gigi beroklusi.
Basis :
Ujung kawat pada kedua sisi tertanam didalam plat akrilik,
diberi bengkokan untuk retensi.
52
Variasi cangkolan Adams
Bentuk-bentuk modifikasi klamer Adams :
a. KlamerAdams dengan satu loop (single spur): Biasanya
dipasang pada gigi molar paling distal, dimana daerah dibagian
distal belum jelas. U loop hanya dibuat pada sisi mesial saja.
b. Klamer Adams dengan tambahan tube yang di patrikan pada
cross bar. Tube berfungsi sebagai tempat perlekatan busur
labial atau tempat mengaitkan elastik.
c. Klamer Adams dilengkapi dengan coil (circular traction hook)
pada pertengahan crossbar, yang juga berfungsi untuk tempat
d.
mengaitkan elastik.
Klamer Adams dengan 3 loop (triple spur). Cross bar dengan
satu U loop tambahan dipatrikan pada pertengahan cross bar
klamer Adams lainnya. Klamer jenis ini dikenakan pada dua
gigi secara bersama-sama dengan tujuan untuk mempertinggi
retensi.
e. Klamer Adams pada gigi anterior (double anterior spur),
memeluk dua gigi anterior secara bersama-sama.
f. Klamer Adams yang dilengkapi dengan kait (standard traction
hook), berfungsi untuk tempat mengaitkan elastik.
Cangkolan Southend (southend clasp)
Cangkolan Southend berguna sebagai alternatif retensi anterior.
Cangkolan ini meliputi dua insisivi sentral berdampingan. Cangkolan ini
53
tidak menonjol, retensinya baik dan dapat dipasang pada insisivi yang
protusi.
Jackson Crib/Cangkolan C
Klamer ini biasanya dipasang pada gigi molar kanan dan kiri tetapi
bisa juga pada gigi yang lain. Pembuatannya mudah, tidak memerlukan
tang khusus, tidak memerlukan banyak materi kawat, tidak melukai
mukosa , retensinya cukup, tetapi tidak efektif jika dikenakan pada gigi
desidui atau gigi permanen yang baru erupsi. Ukuran diameter kawat yang
dipakai : untuk gigi molar 0,8 0,9 mm, sedangkan untuk gigi premolar
dan gigi anterior 0,7 mm.
Busur Labial Pendek
Dapat digunakan sebagai penambah retensi di regio [Link]
dibuat sampai kurang lebih sepertiga insisivi [Link] labial yang
mengikuti permukaan labial insisivi berguna untuk retensi anterior.
54
Kekurangan cangkolan ini dapat menghalangi pergerakan spontan gigi
gigi anterior yang berdesakan.
Fungsi Busur labial :
a. Untuk meretraksi gigi-gigi depan ke arah lingual/palatianal.
b. Untuk mempertahankan lengkung gigi dari arah labial.
c. Untuk mempertinggi retensi dan stabilitas alat.
d. Untuk tempat pematrian pir-pir (auxilliary springs)
Ball Clasp
Cangkolan ini dapat dipasang di interdental gigi gigi anterior
maupun posterior. Ukuran kawat 0,7 mm, 0,8 mm, 0,9 mm dan 1 mm.
Cangkolan ini memberikan retensi yang bagus .
Cangkolan Inman (Inman Clasp)
Cangkolan Inman pada dasarnya merupakan gabungan 2 buah ball
clasp dan omega loop yang disolder dengan solder [Link] dua
macam ukuran, yaitu untuk molar dan [Link] cengkraman
Inman menurut pembuatnya.
2.8.3 Penjangkaran
Suatu unit yang menahan reaki kekuatan yang dihasilkan oleh
komponen aktif peranti lepasan.
2.8.4 Lempeng Akrilik
Lempeng akrilik harus dibuat setipis mungkin, tetapi harus cukup kuat.
Fungsi :
1. Penahan komponen lainnya
2. Meneruskan kekuatan dari komponen aktif ke penjangkaran
3. Menghalang pergeseran gigi yang tidak diinginkan
4. Melindungi pegas palatal
5. Dapat dimodifikasi untuk membuat peninggian gigit anterior maupun
posterior.
55
2.9 Prognosis
Prognosis pada perawatan ortodontik adalah suatu perkiraan tentang hasil
perawatan ortodontik pada kasus tersebut. Cukup sukar untuk mengatakan secara
tepat bagaimana prognosis suatu maloklusi karena adanya berbagai keadaan yang
saling memengaruhi dan bervariasinya kelainan. Prognosis dapat dikatakan tidak
menguntungkan atau menguntungkan tergantung pada beberapa faktor, yaitu
diagnosis, etiologi, perencanaan perawatan, pemilihan piranti yang digunakan,
jaringan penyangga gigi, kooperasi pasien.
Diagnosis maloklusi hendaknya ditegakkan dengan menggunakan semua
rekam ortodontik yang dibutuhkan. Secara umum diketahui bahwa maloklusi
kelas II divisi I, kelas II divisi 2, dan kelas III Angle merupakan maloklusi yang
sukar dirawat terutama bila digunakan piranti lepasan. Dengan analisis
sefalometrri dapat diketahui data lebih banyak daripada hanya menggunakan
model sehingga bisa lebih tepat ditentukan apakah maloklusi tersebut melibatkan
relasi skelet atau bukan. Maloklusi yang melibatkan kelainan relasi skelet lebih
sukar perawatannya daripada yang tidak melibatkan skelet sehingga dibutuhkan
piranti yang lebih canggih. Dibutuhkan kemampuan dokter gigi untuk merawat
dengan piranti tersebut (Raharjo, 2009).
Gigi yang rotasi karena benihnya rotasi apalagi bila rotasinya melebihi 45
sukar dikoreksi dengan piranti lepasan sehingga untuk koreksinya diperlukan
piranti cekat. Gigi yang rotasi mudah kembali ke posisi semula sehingga untuk
mencegahnya diperlukan masa retensi yang lama atau bisa juga menggunakan
peranti retensi cekat. Hal-hal seperti ini harus sudah dipikirkan dalam perencanaan
perawatan. Berbagai jenis piranti ortodonsi yang tersedia memungkinkan dokter
gigi memilih piranti yang sesuai dengan maloklusi pasien. Tidak jarang digunakan
beberapa piranti ortodonsi pada saat yang berbeda. Misalnya, pada pasien dalam
masa pertumbuhan yang mempunyai maloklusi disertai kelainan skelet pada
awalnya dirawat dengan piranti fungsional untuk mengoreksi kelainan skelet dan
apabila kelainan skelet telah terkoreksi digunakan piranti cekat untuk mengoreksi
letak gigi dan lengkung gigi (Raharjo, 2009).
56
Jaringan penyangga gigi sangat berpengaruh pada perawatan ortodontik
karena ikut menentukan stabilitas hasil perawatan. Jaringan penyangga yang
kurang sehat memberi prognosis yang kurang baik pada perawatan orotodontik
(Raharjo, 2009).