0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
156 tayangan41 halaman

Jenis dan Contoh Sensor Kimia

Makalah ini membahas tentang sensor kimia, termasuk pH sensor, sensor gas, dan sensor kelembaban. pH sensor digunakan untuk mengukur derajat keasaman suatu larutan dengan mengubah aktivitas ion hidrogen menjadi sinyal listrik. Sensor gas dapat mendeteksi gas tertentu seperti gas alam, asap, dan lainnya. Sensor kelembaban digunakan untuk mengukur tingkat kelembaban lingkungan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
156 tayangan41 halaman

Jenis dan Contoh Sensor Kimia

Makalah ini membahas tentang sensor kimia, termasuk pH sensor, sensor gas, dan sensor kelembaban. pH sensor digunakan untuk mengukur derajat keasaman suatu larutan dengan mengubah aktivitas ion hidrogen menjadi sinyal listrik. Sensor gas dapat mendeteksi gas tertentu seperti gas alam, asap, dan lainnya. Sensor kelembaban digunakan untuk mengukur tingkat kelembaban lingkungan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

CHEMICAL SENSOR

Disusun Oleh:
ACHMAD SUROTO

(130431100101)

INDRA PRAYOGO

(130431100129)

I NYOMAN WIDYA MARTA

(140431100142)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang maha kuasa, karena
atas kebesaran rahmat-nya sehingga tugas Mata Kuliah ''SENSOR DAN
AKTUATOR'' dapat di selesaikan sebagaimana mestinya.
Dalam penyusunan makalah ini penyusun memperoleh bimbingan dan
dukungan dari berbagai pihak, mengingat kemampuan penyusun yang sangat terbatas
maka penyusun menyadari, dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan.
Oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya
membangun guna kesempurnaan laporan pengamatan ini di masa yang akan datang
dan dapat bermanfaat untuk kita semua.
Amin

Bangkalan, 27 Maret 2016

Penulis

ii

DAFTAR ISI

COVER ...................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .............................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................ iii
BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................................. 1
[Link] Masalah ......................................................................................... 1
[Link] dan Tujuan ...................................................................................... 1
BAB II. PEMBAHASAN ......................................................................................... 3
2.1. Sensor Kimia ................................................................................................ 3
2.2. PH Sensor .................................................................................................... 4
2.2.1 Teori Dasar PH Sensor ...................................................................... 4
2.2.2 Pengertian Derajad Keasaman ........................................................... 5
2.2.3 Pengertian Asam dan Basa................................................................. 6
2.2.4 Dasar Pengukuran Derajad Keasaman ............................................... 7
2.2.5 Gambar Alat dan Keterangan........................................................... 10
2.2.6 Pengukuran PH................................................................................. 12
2.2.7 Implementasi PH .............................................................................. 15
2.3. Sensor Gas ................................................................................................. 17
2.3.1 Pengertian Sensor Gas ..................................................................... 17
2.3.2 Sensor Gas Tipe AF 30 .................................................................... 17
2.3.3 Sensor Gas Tipe TGS 2610 ............................................................. 21
2.4. Sensor Kelembaban ................................................................................... 25
2.4.1 Jenis-jenis Kelembaban ................................................................... 26
2.4.2 Sensor Kelembaban ......................................................................... 27
BAB III. PENUTUP ................................................................................................ 37
3.1. Kesimpulan ................................................................................................ 37
3.2. Saran .......................................................................................................... 37
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 38

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sensor merupakan komponen elektronika yang digunakan agar bisa
mendeteksi perubahan fisika atau kimia. Sensor ini adalah komponen utama dari
suatu yang namanya tranduser, tranduser yaitu variabel yang keluarannya dari
sensor yang diubah menjadi besaran listrik.
Sensor adalah alat untuk mendeteksi atau mengukur sesuatu yang nantinya
digunakan untuk mengubah variasi mekanis, magnetis, panas, sinar dan kimia
menjadi tegangan dan arus listrik. Di dalam lingkungan sistem pengendali dan
robotika, sensor ini memberikan kesamaan yang menyerupai mata, pendengaran,
hidung, lidah yang nantinya akan diolah di control di bagian otaknya
(Petruzella, 2001).
D Sharon, dkk (1982), pernah mengatakan sensor itu adalah suatu
peralatan yang berfungsi untuk mendeteksi gejala-gejala atau sinyal-sinyal yang
berasal dari perubahan suatu energi seperti energi listrik, energi fisika, energi
kimia, energi biologi, energi mekanik dan sebagainya. Contohnya itu adalah,
kamera sebagai sensor penglihatan, telinga sebagai sensor pendengaran, kulit
sebagai sensor peraba, LDR (light dependent resistance) sebagai sensor cahaya,
dan lain-lain.
1.2 Rumusan Masalah

Apa yang dimaksud dengan Sensor Kimia?

Apa saja jenis-jenis Sensor Kimia?

Apa yang dimaksud pH sensor?

Apa yang dimaksud Sensor Gas?

Apa yang dimaksud TGS Sensor?

Apa yang dimaksud Humadity Sensor?

1.3 Maksud dan Tujuan

Mengetahui maksud Sensor Kimia

Mengetahui jenis-jenis Sensor Kimia

Mengetahui tentang pH sensor,prinsip kerja,pH meter,dll


1

Mengetahui tentang Sensor Gas

Mengetahui tentang TGS Sensor

Mengetahui tentang Humadity Sensor

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Sensor Kimia
Sensor kimia ini adalah sensor yang mendeteksi jumlah suatu zat kimia
dengan cara mengubah besaran kimia menjadi besaran listrik. Biasanya ini
melibatkan beberapa reaksi kimia. Yang termasuk jenis sensor kimia yaitu :
Sensor PH
Sensor Gas
Sensor Kelembaban
TGS sensor
Analogi pada tubuh manusia
Pada tubuh manusia terdapat beberapa sensor kimia. Biasanya sensor ini
terdapat pada panca indra manusia yaitu :
Hidung merupakan alat indera manusia yang menanggapi rangsang
berupa bau atau zat kimia yang berupa gas. Di dalam rongga hidung
terdapat serabut saraf pembau yang dilengkapi dengan sel-sel
pembau.
Lidah adalah alat indera yang peka terhadap rangsangan berupa zat
kimia larutan. Lidah memiliki otot yang tebal, permukaannya
dilindungi oleh lendir dan penuh dengan bintil-bintil. Kita dapat
merasakan rasa pada lidah karena terdapat reseptor yang dapat
menerima rangsangan. Reseptor itu adalah papilla pengecap atau
kuncup pengecap. Kuncup pengecap merupakan kumpulan ujungujung saraf yang terdapat pada bintil-bintil lidah. Papilla agak kasar
karena memiliki tonjolan-tonjolan pada permukaan lidah. Di dalam
papila terdapat banyak kuncup-kuncup pengecap (taste bud) yaitu
suatu bangunan berbentuk bundar yang terdiri dari dua jenis sel yaitu
sel-sel penyokong dan sel-sel pengecap yang berfungsi sebagai
reseptor.

2.2

Ph Sensor
2.2.1

Teori Dasar pH
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan

tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia


didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang
terlarut. Koefisien aktifitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara
eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis.
Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan
larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan
internasional.
Konsep pH pertama kali diperkenalkan oleh kimiawan Denmark
Soren Peder Lauritz Sorense pada tahun 1909. Tidaklah diketahui dengan
pasti makna singkatan "p" pada "pH". Beberapa rujukan mengisyaratkan
bahwa p berasal dari singkatan untuk powerp (pangkat), yang lainnya
merujuk kata Bahasa Jerman Potenz (yang juga berarti pangkat), dan ada
pula yang merujuk pada kata potential. Jens Norby mempublikasikan
sebuah karya ilmiah pada tahun 2000 yang berargumen bahwa p adalah
sebuah tetapan yang berarti "logaritma negatif".
pH = -log[H+]

(1)

Air Murni bersifat netral, dengan pH-nya pada suhu 25C ditetapkan
sebagai 7,0. Larutan dengan pH kurang daripada tujuh disebut bersifat
asam dan larutan dengan pH lebih daripada tujuh dikatakan bersifat basa
atau alkali. Pengukuran pH sangatlah penting dalam bidang yang terkait
dengan kehidupan atau industri pengolahan kimia seperti kimia, biologi,
kedokteran, pertanian, ilmu pangan, rekayasa (keteknikan), dan
oseanografi. Tentu saja bidang-bidang sains dan teknologi lainnya juga
memakai meskipun dalam frekuensi yang lebih [Link] pH dapat
ditentukan dengan 2 cara, yaitu:
1. Pengukuran pH secara elektrometrik
2. Pengukuran pH secara indikator warna

2.2.2

Pengertian Derajat Keasaman


Untuk memahami pengertian dasar keasaman dibawah ini diuraikan
secara ringkas tentang ionisasi. Bila suatu atom menerima energi
tambahan dari luar, electron atom itu akan meningkat energi kinetiknya.
Hal itu akan memindahkan tingkat energi electron ke tingkat yang lebih
tinggi. Elektron akan berpindah menuju kulit yang lebih luar yang
akhirnya jika energi yang diterima cukup besar dapat memisahkan
electron dari atomnya. Dari atom ini akan didapatkan dua partikel yang
masing-masing partikel bermuatan positif dan negatif. Partikel atom yang
melepas elektronnya itu disebut ion positif. Atom juga bisa menerima
elektron sehingga akan kelebihan electron. Partikel seperti ini juga
disebut ion tetapi merupakan ion negatif.
Molekul-molekul

suatu

zat

yang

dalam

larutannya

dapat

menghantarkan arus listrik disebut elektrolit. Ion-ion negative bergerak


menuju ke anode, oleh karena itu ion negative disebut anion. Ion positif
bergerak menuju katode, oleh karena itu ion positif disebut kation. Suatu
larutan elektrolit, molekulnya terurai menjadi ion-ion. Air murni
tergolong elektrolit lemah. Sebagian molekulnya terurai menjadi ion H
+

H 2O------------- H + OH .
Dari persamaan diatas, 1 ion H

(2)
-

dan 1 ion OH berasal dari


+

penguraian 1 molekul H2 O. Dengan demikian, konsentrasi ion H sama


-

dengan konsentrasi ion OH . Larutan air seperti itu dinamakan dengan


+

larutan Netral. Larutan yang mengandung ion H berkonsentrasi lebih


-

besar dari konsentrasi OH dan disebut larutan Asam, sedangkan larutan


+

yang mengandung konsentrasi ion H lebih kecil dari konsentrasi ion OH

disebut larutan Basa. Larutan asam dapat menerima electron bebas,


sedangkan basa dapat memberikan electron bebas.
Banyaknya larutan yang terurai menjadi ion dinamakan derajat
ionisasi. Besarnya berkisar antara 0 sampai 1. Suatu elektrolit yang
derajat ionisasinya besar, mendekati 1 disebut elektrolit kuat, sedangkan
5

yang derajat ionisasinya kecil mendekati 0 dinamakan elektrolit lemah.


Ionisasi mempunyai tetapan kesetimbangan (K). Misal untuk air,
kesetimbangannya dapat dihitung dengan rumus:
(3)
Karena konsentrasi H2O relatif besar, maka persamaan ini dapat
ditulis menjadi:
(4)
Dalam air murni dengan suhu 25C, konsentrasi H+= 10-7 mol/liter,
+

sedangkan hasil kali konsentrasi H dengan OH-= 10-14. Konsentrasi H =


konsentrasi OH- = 10-7. Untuk menentukan asam atau basa diperlukan
skala pH seperti berikut:

Gambar 2.2.2 Skala pH untuk beberapa zat sehari-hari


([Link]

2.2.3

Pengertian Asam dan Basa


a. Asam
Asam (sering diwakili dengan rumus umum HA) secara umum
merupakan senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air akan
menghasilkan larutan dengan pH lebih kecil dari 7.
Secara umum Asam memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
Rasa : Masam ketika dilarutkan dalam air.
Sentuhan : Asam terasa menyengat bila disentuh, terutama asam yang
kuat.
6

Kereaktifan : Asam bereaksi hebat dengan kebanyakan logam, yaitu


korosif terhadap logam.
b. Basa
Definisi umum dari basa adalah senyawa kimia yang menyerap ion
hydronium ketika dilarutkan dalam air. Basa adalah lawan dari asam,
yaitu ditujukan untuk unsur/senyawa kimia yang memiliki pH lebih
dari 7. Basa merupakan senyawa yang jika dilarutkan dalam air
menghasilkan ion -OH.
Secara umum Basa memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
Rasa : Tidak masam bila dilarutkan dengan air.
Sentuhan : Tidak terasa menyengat bila disentuh.
Kereaktifan : Kebanyakan tidak bereaksi terhadap logam
2.2.4

Dasar Pengukuran Derajad Keasaman


Pada prinsipnya pengukuran suatu pH adalah didasarkan pada
potensial elektro kimia yang terjadi antara larutan yang terdapat didalam
elektroda gelas (membrane gelas) yang telah diketahui dengan larutan
yang terdapat diluar elektroda gelas yang tidak diketahui. Hal ini
dikarenakan lapisan tipis dari gelembung kaca akan berinteraksi dengan
ion hydrogen yang ukurannya relative kecil dan aktif, elektroda gelas
tersebut akan mengukur potensial elektro kimia dari ion hydrogen. Untuk
melengkapi sirkuit elektrik dibutuhkan elektroda pembanding. Sebagai
catatan alat tersebut tidak mengukur arus tetapi hanya mengukur
tegangan.

Gambar 2.2.4a skema elektroda pH meter


([Link]

pH meter akan mengukur potensial listrik (pada gambar alirannya


searah jarum jam) antara merkuri Cloride (HgCl) pada elektroda
pembanding dan potassium chloride (KCl) yang merupakan larutan
didalam gelas electrode serta potensial antara larutan dan elektroda
perak. Tetapi potensial antara sampel yang tidak diketahui dengan
elektroda gelas dapat berubah tergantung sampelnya, oleh karena itu
perlu dilakukan kalibrasi dengan menggunkan larutan yang equivalen
yang lainya untuk menetapkan nilai dari pH.
Elektroda pembanding calomel terdiri dari tabung gelas yang berisi
potassium kloride (KCl) yang merupakan elektrolit yang mana terjadi
kontak dengan mercuri chloride (HgCl) diujung larutan KCl. Tabung
gelas ini mudah pecah sehingga untuk menghubungkannya digunkan
ceramic berpori atau bahan sejenisnya. Elektroda semacam ini tidak
mudah terkontaminasi oleh logam dan unsure natrium.
Elektroda gelas terdiri dari tabung kaca yang kokoh yang
tersambung dengan gelembung kaca tipis yang. Didalamnya terdapat
larutan KCl sebagai buffer pH 7. Elektroda perak yang ujungnya
merupakan perak kloride (AgCl2) dihubungkan kedalam larutan tersebut.
Untuk meminimalisir pengaruh electric yang gak diinginkan, alat tersebut
dilindungi oleh suatu lapisan kertas pelindung yang biasanya terdapat
dibagian dalam elektroda gelas.
8

Pada kebanyakan pH meter modern sudah dilengkapi dengan


thermistor temperature yaitu suatu alat untuk mengkoreksi pengaruh
temperature. Antara elektroda pembanding dengan elektroda gelas sudah
disusun dalam satu kesatuan.

Gambar 2.2.4b ektroda pH meter modern


([Link]

Keterangan gambar :
1) Bagian penginderaan elektroda, bola terbuat dari kaca khusus
2) Kadang-kadang elektroda mengandung AgCl endapan di dalam
elektroda kaca
3) Cairan internal biasanya 0,1 M HCl untuk elektroda pH atau 0,1
M MCL untuk elektroda PME
4) Elektroda internal biasanya perak klorida elektroda dan
elektroda kalomel
5) Tubuh elektroda, yang terbuat dari kaca non-konduktif atau
plastik.
6) Elektroda referensi, biasanya jenis yang sama dengan no 4
7) Persimpangan dengan cairan, biasanya terbuat dari keramik atau
kapiler dengan asbes atau serat kuarsa.

2.2.5

Gambar Alat dan Keterangan

Gambar 2.2.5a pH meter


([Link]

Keterangan gambar dan tombol pH meter


1. Body pH meter
2. Body elektroda
3. Layar
4. Kabel elektroda
5. Kabel sensor suhu
6. Tombol MEAS untuk pengukuran
7. Tombol MODE untuk pemilihan mode pengukuran
8. Tombol Set untuk setting pengukuran
9. Tombol CAL untuk proses kalibrasi
10. Tombol CAL DATA untuk mereview data kalibrasi yang telah
dilaukan
11. Tombol ON/OFF
12. Tombol Data OUT untuk mengeluarkan data yang sudah di input
13. Tombol ENTER
14. Elektroda gelas
15. Elektroda pembanding (reference)

10

Macam-macam pH Meter

Gambar 2.2.5b Macam-macam pH meter


([Link]

Jenis-jenis pH meter :
Alat pH meter terbagi menjadi beberapa jenis, diantaranya:
1. Alat Ukur pH Tipe Stick KL-3385
2. Alat Ukur pH Air Dalam Aquarium KL-025W
3. Alat Pengukur pH Tanah, Kadar Air, dan suhu AMT300
4. Alat Pengukur pH Meter Tipe PH40BNC
5. Alat Ukur pH Meter Portable / mV / Temp meter PH-221
6. Alat Ukur pH Meter jenis pen KL-081
7. Alat Ukur Portable Hardness Tester MH320
Dari ketujuh jenis alat ukur pH meter, yang sering digunakan adalah
alat ukur pH meter jenis pen KL-081 karena dapat mengukur pH dengan
tingkat akurasi yang tinggi, cara penggunaannya sangat mudah yaitu hanya
dengan cara mencelupkan ujung pH meter ini ke dalam sampel,
pembacaan pH meter ini langsung ditampilkan bersama-sama dengan suhu
sampel pada mudah dibaca pada layar LCD [Link] sebagai
berikut :
Mengukur kisaran: 0.00~14.00PH, 0~55
Akurasi: 0.1PH1
Resolusi: 0.10.01PH
Suhu Operasional: 0~50
11

Suhu Otomatis Kompensasi: 0~50


Power Supply:41.5V(AG13)
Dimensi: 175mm42mm23mm
Berat:200g
2.2.6

Pengukuran pH
Pengukuran sifat keasaman dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a. Kertas lakmus

Gambar 2.2.6a Kertas Lakmus


([Link]

Terdapat dua jenis kertas lakmus, yaiyu kertas lakmus merah dan
kertas lakmus biru. Penggunaan kertas lakmus hanya sekali pakai.
Nilai pH yang terukur hanya bersifat pendekatan, jika suatu senyawa
merubah warna kertas lakmus merah menjadi biru, maka bersifat basa,
sedangkan jika suatu senyawa merubah kertas lakmus biru menjadi
merah, maka larutan tersebut bersifat asam. Pengukuran menggunakan
kertas lakmus hanya bersifat kualitatif, hasil yang diperoleh relatif
tidak begitu akurat. Kertas lakmus dengan kombinasi beberapa warna
indikator ada yang dapat bersifat kuantitatif yakni dengan pencocokan
skala. Kertas lakmus jenis ini mengkobinasikan 4 warna indikator
yang berbeda-beda warna. Kombinasi warna yang berbeda diberi skal
sesuai dengan ph sistem yang terukur.

12

b. pH-meter

Gambar 2.2.6b pH Meter elektronik


([Link]

Instrumentasi pH-meter adalah peralatan laboratorium yang


digunakan untuk menentukan ph atau tingkat keasaman dari suatu
sistem larutan. Tingkat keasaman dari suatu zat ditentukan
berdasarkan keberadaan jumlah ion hidrogen dalam larutan. Yang
dpat dinyatakan dengan persamaan :
(5)
Keuntungan dari penggunaan pH-meter dalam penentuan tingkat
keasaman suatu senyawa adalah:
Pemakaiannya bisa berulang-ulang
Nilai pH yang terukur relatif cukup akurat
Instrument yang digunakaan dalam pH-meter dapat bersifat analog
maupun digital sebagaimana alat yaang laian, untuk mendapatkan
hasil pengukuran yang baik, maka diperlukan perawatan dan kalibrasi
pH-meter.

Pada

penggunaan

pH-meter,

kalibrasi

alat

harus

diperhatikan sebelum dilakukan pengukuran. Seperti diketahui prinsip


utama ph-meter adalah pengukuran arus listrik yang tercatat pada
sensor pH akibat suasana ionik dilarutan. Stabilitas sensor harus selalu
dijaga dan caranya adalah dengan kalibrasi alat. Kalibrasi terhadap
13

pH-meter dilakukan dengan larutan buffer standart dengan pH 4, pH


7, dan pH 10.
Larutan

buffer

adalah

larutan

yang

digunakan

untuk

mempertahankan nilai pH tertentu agar tidak banyak berubah selama


reaksi kimia berlangsung. Ciri khas dari larutan penyangga ini adalah
pHnya hanya berubah sedikit dengan pemberian sedikit asam kuat
atau basa kuat.
Penentuan kalibrasi dapat dilakukan dengan cara :
a. Teknik satu titik
Pada sekitar pH yang akan diukur, yakni kalibrasi dengan buffer
standart pH 4 untuk sistem asam, buffer standart pH 7 untuk
sistem netral, dan buffer standart pH 10 untuk sistem basa.
b. Teknik dua titik (diutamakan)
Apabila sistem bersifat asam, maka digunakan 2 buffer standart
berupa buffer pH 4 dan pH 7, apabila sistem bersifat basa maka
digunakan 2 buffer standart berupa buffer pH 7 dan pH 10.
c. Teknik multi titik
Kalibrasi dilakukan dengan menggunakan 3 buffer standart.
Untuk sistem dengan pH < 2 atau pH > 12, sering terjadi
ketidaknormalan elektroda, kelemahan ini dipengaruhi oleh jenis
alat yang digunakan. Untuk pengukuran yang dilakukan dalam
waktu yang lama, maaka diperlukan proses klaibrasi secara
periode selang 1,5 2 jam. Hal ini untuk menjaga kestabilan dari
alat ph meter yang digunakan, sehingga tetap dapat diperoleh
hasil pengukuran yang bagus. Untuk keperluan kalibrasi ini dapat
menggunakan buffer pH yang ada dipasaran, skala yang biasa
digunakan adalah pH 4 (merah), pH 7 (hijau), dan pH 10 (biru).
Akurasi dari nilai pH untuk setiap buffer ditentukan sebagai fungsi
temperatur. Kenaikan satu derajat temperatur menyebabkan perubahan
nilai pH berkisar antara 0,01 sampai 0,02. Koreksi nilai pH dari buffer
standart pada kondisi temperatur ruang pengukuran dapat dilihat pada
tabel yaang tertera dilabel botol. Pemilihan jenis pH buffer mana yang
14

harus dipilih dalam suatu pengukuran, tergantung kebutuhan dan


tujuan yang ingin dicapai. Prinsip yang harus diperhatikan dalam
penggunaan pH buffer standart ini adalah sebisa mungkin dalam
keadaan segar. Sensor pH meter harus selalu dicuci untuk menjaga
kontaminasi pada pH buffer. Selain itu untuk lebih menjaga keawetan
sensor, maka perlakuan sensor apabila tidak dipakai harus direndam
dalam aquadest. Proses kalibrasi dan perlakuan pH meter seperti yang
diterangkan diatas akan dapat memberikan hasil pengukuran pH yang
akurat dan presisi.
2.2.7

Implementasi pH
Dengan menggunakan beberapa referensi tes pengukuran nilai ph
dari larutan H2SO4 dan NaOH. Masing-masing larutan dengan
konsentrasi 0,2M; 0,3M dan 0,4M. Alat ukur yang di pakai untuk
pengukuran ph adalah kertas ph dan ph meter. Selain pengukuran ph dari
larutan H2SO4 danNaOH, disini juga mengukur nilai ph dari larutan
buffer.
a) Nilai ph dari larutan asam (H2SO4)
Nilai hasil pengukuran ph terhadap H2SO4 pada konsentrasi 0,3M
adalah dengan ph meter 1,01, pada konsentrasi 0,3M ph meternya
adalah 0,94, dan pada konsentrasi 0,4M ph meternya adalah 0,91.
Grafik di bawah menunjukkan

bahwa pada suasana asam, jika

semakin tinggi konsentrasi suatu larutan, maka akan semakin rendah


nilai ph dari larutan tersebut, atau jika semakin tinggi konsentrasi
suatu larutan asam,maka akan semakin kuat kadar asam larutan
tersebut.

15

Gambar 2.2.7a kurva linearitas antara ph larutan dengan konsentrasi larutan


H2SO4
([Link]

b) Nilai ph dari larutan basa (NaOH)


Nilai hasil pengukuran ph dari larutan NaOH pada konsentrasi 0,2M,
ph meternya adalah 12,56, pada konsentrasi 0,3M, ph meternya
adalah 12,67, dan pada konsentrasi 0,4M, ph meternya adalah 12,82.
Dengan kertas ph masing-masing ph 14. Dapat di nyatakan bahwa
jika semakin tinggi konsentrasi, maka suatu larutan akan semakin
tinggi pula phnya yang menunjukkan bahwa semakin tinggi(pekat)
kadar basa larutan tersebut.

Gambar 2.2.7b kurva linearitas antara pH larutan dan konsentrasi larutan NaOH
([Link]

c) Kalibrasi menggunakan larutan buffer


Setelah melakukan pengukuran-pengukuran diatas, maka dilakukan
pengukuran kalibrasi alat dengan menggunakan larutan buffer pH 4,
buffer ph 7, dan buffer pH 9. Pengukuran kalibrasi dilakukan untuk
mengetahui keakuratan dari suatu alat instrument yang kita gunakan.
Pada ph teoritis 4, ph meter yang terukur adalah 4,81 dan kertas ph
yang terukur adalah 5, yang berarti memiliki nilai yang berbeda
antara ph teoritis dan ph yang terukur.

16

Gambar 2.2.7c kurva kalibrasi antara ph teoritis dengan ph terukur


([Link]

2.3 Sensor Gas


2.3.1 Pengertian Sensor Gas
Sensor gas merupakan sebuah alat untuk membaca keberadaan bermacam
jenis gas dalam suatu tempat, biasanya sensor ini di gunakan dalam sebuah
sistem keselamatan. Jenis alat sensor ini di gunakan untuk membaca kebocoran
gas dan menghubungkan kepada sebuah sistem pengaturan untuk menutup
segala

proses

yang

menyebabkan

atau

mengalami

kebocoran

gas

tersebut. Sensor gas juga dapat membunyikan alarm agar di ketahui oleh
pangawas yang berada di sekitar kebocoran gas tersebut terjadi agar para
pekerja yang berada di area tersebut dapat segera mengadakan evakuasi
sehingga mencegah sesuatu hal yang lebih buruk. Alat ini sangat penting untuk
menghindari kejadian-kejadian yang dapat mengancam nyawa pekerja maupun
hewan atau tumbuhan yang berada di sekitar area tersebut, karena beberapa
jenis gas bisa sangat membahayakan.
Banyak sekali tipe sensor gas yang digunakan dan tersedia dipasaran,
seperti sensor gas untuk mendeteksi gas LPG yaitu type TGS 2610 dan sensor
gas untuk mendeteksi asap rokok yaitu type AF-30. Pada pembahsan ini yang
di bahas adalah Sensor Gas Type AF-30 dan Sensor gas TGS 2610.
2.3.2 Sensor Gas Tipe AF 30
a. Gambaran Umum
Banyak sekali type sensor gas yang digunakan dan tersedia dipasaran,
seperti sensor gas untuk mendeteksi gas LPG yaitu type TGS 2610 dan sensor
gas untuk mendeteksi asap rokok yaitu type AF 30. Pada pembahsan ini yang
17

di bahas adalah Sensor Gas Type AF 30. Berikut adalah contoh gambar dari
sebuah sensor gas tipe AF 30 :

Gambar 2.3.1a Bentuk Fisik Sensor Gas Tipe AF 30 Sensor Gas AF 30 adalah sensor yang
dapat mendeteksi asap rokok.

Jenis sensor asap secara umum dibagi menjadi 3 macam yaitu ionization
smoke detector, photoelectric smoke detector, dan air-sampling smoke
detector. Perbedaan dariketiga jenis smoke detector tersebut hanyalah pada
metode deteksinya.
b. Prinsip Kerja Sensor Gas Type AF-30
Pada dasarnya prinsip kerja dari sensor tersebut adalah mendeteksi
keberadaan gas-gas yang dianggap mewakili asap rokok, yaitu gas Hydrogen
dan Ethanol. Sensor AF-30 mempunyai tingkat sensitifitas yang tinggi
terhadap dua jenis gas tersebut. Jika sensor tersebut mendeteksi keberadaan
gas-gas tersebut diudara dengan tingkat konsentrasi tertentu, maka sensor
akan menganggap terdapat asap rokok di udara. Ketika sensor mendeteksi
keberadaan gas-gas tersebut maka resistansi elektrik sensor akan turun.
Dengan memanfaatkan prinsip kerja dsri sensor AF-30 ini, maka dapat
mendeteksi adanya asap di suatu ruangan. Sensor ini dapat mendeteksi secara
akurat gas dengan merasakan unsure yang terkena untuk satu sisi suatu
keramik substrate. Didalamnya mempunyai sejumlah suatu penyerap keramik
untuk perlindungan melawan terhadap debu atau gas yang tidak diketahui.

18

Gambar 2.3.1b.1 Skema Rangkaian Sensor Gas AF30


Dari gambar skema rangkaian sensor diatas, Vc dan Vh merupakan
tegangan +5 Volt dari catu sedangkan RL merupakan hambatan yang
berperan dalam mengubah output sensor tersebut menjadi bentuk besaran
tegangan (Vout). Dalam lingkungan yang bersih (bebas dari asap rokok),
Vout sensor tersebut berkisar pada range 0 Volt 2.8 Volt. Namun jika
sensor tersebut berada dalam lingkungan yang telah terkontaminasi, Vout ini
memiliki nilai tegangan pada range antara 3.4 Volt hingga 4.8 Volt.
Heater pada sensor ini berfungsi sebagai pemicu sensor untuk dapat
mendeteksi target gas yang diharapkan setelah di beri tegangan 5V. Sehingga
dua element logam (2 dan 4) akan bekerja. Dan di antara dua element logam
tersebut, terdapat ruang yang jarakya telah ditentukan. Apabila ada sensor
mendeteksi gas, maka kerapatan ruang yang terdapat antara logam 2 dan 4
akan membesar / mengecil. Saat tahanan semakin kecil, maka arus akan
mengalir dari 2 ke 4 sehinga output tegangan sensor akan besar.

Gambar 2.3.1b.2 Grafik Tingkat Sensitifitas Sensor AF-30 Terhadap Gas

Dari grafik pada gambar diatas dapat dilihat bahwa dengan mengukur
perbandingan antara resistansi sensor pada saat terdapat gas dan resistansi
19

sensor pada udara bersih atau tidak mengandung gas tersebut (Rgas/Rair),
dapat diketahui kadar gas tersebut. Sebagai contoh jika resistansi sensor (RS)
pada saat terdapat gas Hydrogen adalah 1K maka resistansi sensor (RS)
pada saat udara bersih adalah 10K.
c. Karakteristik Sensor Gas Type AF-30
Sensor AF 30 terbuat dari bahan thick film element, lebih sedikit
ketergantungan pada temperature, perlawanan getaran dan goncangan
superior, rangkaian pengarah sederahan. Target gas dari sensor ini adalah gasgas yang di anggap mewakili asap, diantaranya yaitu hydrogen dan ethanol.
Tegangannya konstan 5V. Sensitivitas 0.2 sampai 0.4 pada saat kondisi
konsentrasi gas hydrogen 10ppm, resistasi sensor 15k sampai 35k, konsumsi
daya maksimal 535mW.
Karakteristik sensitifitas :
Spesification

Condition

15k to 35k

In clear air

Gas Sensitivity Rgas


/ Rair

0.2 to 0.4

Resistance
ratio at
10ppm H2
to clear air
(*)

Power Consumption

535 mW (max)

Sensor Resistance
Rgas

Gambar 2.3.1.c Tabel Karakteristik sensitifitas

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa dengan mengukur perbandingan


antara resistansi sensor pada saat terdapat gas dan resistansi sensor pada udara
bersih atau tidak mengandung gas tersebut (Rgas / Rair), dapat diketahui
kadar gas tersebut. Sebagai contoh jika resistansi sensor (RS) pada saat
terdapat gas hydrogen adalah 1 K dan resistansi sensor (RS) pada saat udara
bersih adalah 10K, maka :
(5)
Dari perhitungan diatas serta menurut grafik pada gambar 2.3.1c, jika
Rgas / Rair = 0,1 maka konsentrasi gas hydrogen pada udara adalah sekitar
100ppm. Untuk mengertahui besarnya resistansi sensor (RS) pada saat udara
bersih dapat dihitung menggunakan rumus:
20

..(6)
2.3.3 Sensor Gas Tipe TGS-2610
a. Gambaran Umum
Sensor TGS 2610 merupakan sensor yang umum digunakan untuk
mendeteksi adanya kebocoran gas. Sensor ini merupakan suatu
semikonduktor oksida-logam, lapisan sensornya terbentuk dari oksida
aluminium substrat yang dapat mendeteksi atau merasakan. Sensor ini
adalah suatu chip yang tergabung dengan suatu alat pemanas terintegrasi.
Bila terdapat suatu gas, maka daya konduksi sensor akan meningkat, daya
konduksi peningkatan sensor tergantung pada konsentrasi gas di udara.
Suatu untai elektris sederhana dapat mengkonversi dalam perubahan daya
konduksi untuk suatu isyarat keluaran yaitu sesuai dengan memasang gas
konsentrasi. Bentuk fisik sensor TGS 2610 terlihat pada gambar 2.3.3a

Gambar 2.3.3a Bentuk Fisik Sensor TGS 2610

Sensor TGS 2610 memerlukan dua tegangan masukan yaitu pemanas


voltase (VH) dan voltase sirkit (VC). Alat pemanas Voltase (VH)
diterapkan kepada alat pemanas yang terintegrasi dalam rangka
mempertahankan ketetapan unsur yang merasakan temperatur spesifik
yang mana kondisi optimal untuk merasakan saja. Sirkit Voltase (VC)
yang diberlakukan untuk pengukuran voltase (VRL) kebagian suatu
tahanan resistor (RL) yang dihubungkan secara urut dengan sensor. Suatu
rangkaian umum digunakan untuk kedua-duanya VC dan VH untuk
memenuhi kebutuhan elektrik sensor. Adapun nilainya tergantung pada
tahanan resistor yang digunakan (RL) untuk bias divariasikan pada
sensitivitas sensor terhadap detektor, sensitivitasnya dapat diketahui
dengan (P) tentang semipenghantar di bawah suatu batas 15mW. Untuk
21

pengukuran sensitivitas (P) untuk variasi paling tinggi ketika nilai R


memadai sama dengan RL diatas ekspos untuk ketentuan kadar gas yang
terdeteksi. TGS 2610 mempunyai kepekaan tinggi kepada sejenis metan
dan sejenis gas hidrokarbon, pendeteksi yang sangat ideal untuk LPG
sebagai monitoring. Dalam kaitan kepekaan rendahnya uap air alkohol
(suatu campur tangan pada gas dilingkungan yang lebih aman), sensor ini
ideal untuk konsumen pasar dengan aplikasi output misalkan alarm.
b. Spesifikasi sensor TGS 2610
TGS 2610 merupakan suatu sensor untuk mengetahui kadar gas LPG
diudara. Biasanya sensor ini digunakan untuk mendeteksi kebocoran dari
gas LPG.
Adapun spesifikasi dari sensor TGS 2610 ini adalah sebagai berikut:
a. Target Gas : Butane LP Gas
b. Output : Resistance (tahanan)
c. Range pendeteksian : 500ppm - 10.000ppm
d. Pemanasan tegangan : 5 0.2 (DC/AC)
e. Tegangan Rangkaian : 5 0.2 (DC/AC)
f. Daya keluaran : 15mW
g. Tahanan sensor : 1KW - 5KW (pada 1500ppm)

22

Pin connection :
1 : Heater
2 : Sensor Electrode (+)
3 : Sensor Electrode (-)
4 : Heater

Gambar 2.3.3b Struktur dan Dimensi TGS 2610

c. Prinsip Kerja Sensor Gas Type TGS 2610


Adapun prinsip kerja dari sensor ini adalah saat kaki 4 dan 1
mendapatkan tegangan dari catu daya sebesar 5 VDC, diman a kaki 4 dan
1 tersebut sebagai heater. Heater berfungsi sebagai pengikat /penarik gas
LPG yang ada disekitarnya, karena suhu heater lebih tinggi dibandingkan
suhu udara disekitarnya. Sehingga, gas LPG yang menempel pada heater
mengakibatkan tahanan RS (kaki 3 2) pada sensor menurun dan
tegangan pada VRL (antara kaki 2 dengan resisitor 1K) akan meningkat.
Dimana, VRL sebagai tegangan yang dapat berubah-ubah nilainya,
tergantung dari besar kecilnya tahanan pada RS (kaki 3 dan 2). Dibawah
ini adalah gambar dari rangkaian dalam sensor TGS 2610.
d. Karakteristik Sensor Gas Type TGS 2610
Spesifikasi dari sensor ini dapat mendeteksi gas Butana dan LPG
dalam range 500 10.000 ppm. Sensor ini bekerja berdasarkan perubahan
23

gas terhadap resistansi dari sensor tersebut. Semakin besar kandungan dari
gas LPG maka semakin kecil resistansinya dan semakin kecil kandungan
dari gas LPG yang diterimanya maka resistansinya akan semakin besar,
gambar 2.3.3d menunjukkan grafik perubahannya.

Gambar 2.3.3d1 Grafik Karakteristik Sensivitas Sensor TGS 2610

Perubahan resistansi ini kemudian diubah menjadi perubahan tegangan


dengan menggunakan rangkaian pembagi tegangan seperti yang di
tunjukkan pada gambar 2.3.3d2

Gambar 2.3.3d2 Rangkaian Dasar Pengukuran pada Sensor

Dengan menggunakan rangkaian seperti pada gambar diatas, maka tegangan


keluaran dari rangkaian sensor (VHL) dapat dirumuskan dengan:
........(7)
Perubahan dari tegangan di VHL sebagai tegangan keluaran dari rangkaian sensor
tersebut kemudian dihubungkan ke pin ADC mikrokontroller.
24

2.4 Sensor Kelembapan (Humidity)


Air yang terkandung di sekeliling udara adalah faktor yang penting untuk
kesehatan manusia dan binatang. Level kenyamanan ditentukan oleh kombinasi
dari dua factor: kelembaban relatif dan temeperatur lingkungan. Kelembaban
adalah faktor penting dalam mengoperasikan peralatan tertentu, seperti
rangkaian elektronik impedansi tinggi, komponen yang sensitif terhadap listrik
statik, peralatan tegangan tinggi, alat mekanis yang halus dan lain-lain. Petunjuk
praktisnya adalah memastikan bahwa kelembaban relatif mendekati nilai 50%
pada temperatur ruang yang normal (20-25C). ketentuan ini bisa bervariasi dari
serendah 38% untuk ruang bersih kelas 10 sampai 60% dalam ruang operasi
rumah sakit. Kelembaban adalah unsur umum pada barang-barang manufaktur
dan bahan-bahan olahan.
Kelembaban dapat diukur dengan alat yang disebut higrometer.
Higrometer pertama ditemukan oleh Sir John Lelie (1766-1832). Untuk
mendeteksi kandungan air di udara sensor higrometer harus selektif terhadap air
dan sifat-sifat sensor tersebut harus dapat diatur oleh konsentrasi air. Pada
umumnya sensor uap air, kelembaban dan sensor temperatur embun dapat
berupa sensor kapasitif, konduktif, osilasi, ataupun optik. Sensor optik untuk gas
mendeteksi temperatur titik pengembunan sedangkan higrometer optik untuk
mendeteksi larutan organik menggunakan sifat penyerapan larutan organik
terhadap cahaya near-infrared (NIR) dengan rentang spektrum dari 1,9 sampai
2,7 m.
Banyak cara untuk menyatakan kandungan air di udara dan kelembaban,
hal ini sering tergantung pada aplikasi industri atau aplikasi khusus. Kandungan
air pada gas kadang-kadang dinyatakan dalam pound uap air per juta kaki kubik
gas. Kandungan air pada zat cair dan zat padat pada umumnya dinyatakan dalam
persentase air per total massa (berdasarkan berat basah), akan tetapi dapat juga
dinyatakan berdasarkan berat kering. Kandungan air dalam zat cair dengan daya
campur air yang rendah biasanya dinyatakan dalam PPMw (part per million by
weight).
Istilah moisture pada umumnya berkenaan dengan kandungan air pada
beberapa material, tetapi untuk alasan praktis istilah ini hanya digunakan pada
25

zat cair dan zat padat, sedangkan istilah humidity berkenaan dengan kandungan
uap air pada gas. Moisture : jumlah air yang terkandung dalam zat cair atau zat
padat karena penyerapan dan dapat dihilangkan tanpa merubah sifat-sifat
kimianya. Mixing ratio (humidity ratio/r) : massa uap air per satuan massa gas
kering.
2.4.1 Jenis-Jenis Kelembapan
Terdapat dua jenis kelembapan, yaitu:
a. Absolute humidity/kelembaban absolut
Bilangan yang menunjukkan berapa gram uap air yang
tertampung dalam satu meter kubik udara. Dapat dikatakan kelembaban
absolut adalah berat jenis uap air.
Kelembaban absolut dapat diukur dengan menggunakan rumus:
dw=m/v. (8)
dimana, m = massa uap air
v = volum gas basah
Sebagai contoh, melewatkan sejumlah udara yang telah diukur
melalui bahan penyerap kandungan air (seperti silica gel) dengan
menimbang sebelum dan sesudah penyerapan. Kelembaban absolut
dinyatakan dalam gram per meter kubik, atau grain per kaki kubik.
Karena pengukuran ini tergantung tekanan atmosfir maka pada
umumnya tidak bermanfaat dalam teknik praktis.
b. Kelembaban relatif
Bilangan yang menunjukkan berapa persen perbandingan antara
uap air yang ada dalam udara saat pengukuran dan jumlah uap air
maksimum yang dapat ditampung oleh udara tersebut. Kelembapan ini
merupakan perbandingan tekanan uap sebenarnya pada udara dalam
beberapa temperatur sampai tekanan uap jenuh maksimum pada
temperatur yang sama.
Kelembaban relatif menunjukkan hubungan terbalik dengan
temperatur absolut. Temperatur titik pengembunan biasanya diukur
dengan cermin yang didinginkan. Bagaimanapun juga, pengukuran titik
pengembunan di bawah 0C hasil pengukuran menjadi tidak menentu,
26

sebagaimana kandungan air akhirnya akan membeku dan akan terjadi


pertumbuhan pola krital secara perlahan, mirip dengan pembentukan
kepingan salju. Meskipun demikian, kandungan air dapat tetap ada pada
fase zat cair selama waktu yang panjang dalam temperatur di bawah
0C tergantung beberapa variabel sperti agitasi molekuler, laju
konveksi, temperatur sampel gas, kontaminasi-kontaminasi dan
seterusnya.
2.4.2 Sensor Kelembapan
Sensor kelembaan adalah suatu alat ukur yang digunakan untuk
membantu dalam proses pengukuran atau pendifinisian yang suatu
kelembaban uap air yang terkandung dalam udara. Jenis-jenis sensor
kelembapan yaitu:
a. Sensor Kapasitif
Kapasitor dielektrik udara dapat berguna sebagai sensor
kelembaban.
Sensor kapasitif dapat dibuat dari lapisan tipis polimer
higroskopis dengan elektrode logam yang diletakkan pada sisi yang
berlawanan.
Dalam salah satu desain, dielektrik tersusun atas lapisan tipis
polimer higrofil (tebal 8-12m) yang terbuat dari serat acetate butyrate
dan dimetyleptalate sebagai plasticizer. Ukuran sensor lapisan tipis
sebesar 12x12 mm. Elektrode keping berpori yang dibuat dari emas
dengan diameter 8mm dengan tebal 200 diletakkan pada polimer
dengan teknik pengendapan vacum. Lapisan tipis tersebut diapit oleh
pemegang dan elektrode yang disambungkan ke terminal.
Untuk membuat sensor kapasitif dengan akurasi 2% dalam rentang
RH 5% sampai 90% dapat dicapai dengan rangkaian sederhana seperti
yang terlihat pada gambar 2.4.2a.1. Kapasitansi nominal pada RH 75%
adalah 500 pF. Rangkaian ini mempunyai fungsi transfer yang tidak
benar-benar linier dengan offset pada kelembaban 0% kira-kira sebesar
370 pF dan slope 1,7 pF/% RH. Rangkaian ini secara efektif
membentuk dua fungsi: membuat konfersi kapasitansi ke tegangan dan
27

mengurangi offset kapasitansi untuk menghasilkan tegangan output


dengan intersep nol. Inti dari rangkaian ini adalah saklar analog selfclocking

LT1043

yang

memultiplex

beberapa

kapasitor

pada

sambungan penambahan (virtual ground) dari Opamp U1. Kapasitor C1


adalah untuk pengurangan offset kapasitansi sedangkan kapasitor C2
dihubungkan seri dengan sensor kapasitif S1. Tegangan rata-rata yang
melintasi sensor harus nol, jika tidak, migrasi elektrokimia bisa
merusak sensor secara permanen. Kapasitor non-polar C2 melindungi
sensor dari muatan dc. Trimpot P2 berfungsi untuk mengatur jumlah
muatan yang dikirim ke sensor dan trimpot P1 untuk mengatur muatan
offset yang telah dikurangi dari sensor. Muatan bersih digabungkan
dengan muatan kapasitor feedback C3. Kapasitor C4 mempertahankan
keluaran tegangan dc ketika sensor dilepas.

Gambar 2.4.2a.1. Rangkaian sederhana untuk mengukur kelembaban dengan sensor


kapasitif

28

Gambar 2.4.2a.2. Fungsi Transfer Sensor Kapasitif Dan Sistem

Teknik yang serupa dapat digunakan untuk mengukur kadar air


dalam sample. Metode pengukuran kadar air ini benar-benar bermanfaat
dalam kontrol pembuatan produk-produk farmasi. Konstanta dielektrik
dari kebanyakan tablet medis benar-benar kecil (antara 2,0 sampai 5,0).
Sample yang akan diukur diletakkan diantara dua plat, kedua plat ini
membentuk sebuah kapasitor dengan bahan dielektrik sample tersebut,
dan

dihubungkan

dengan

rangkaian

osilator

LC.

Kemudian

frekuensinya diukur dan frekuensi ini berhubungan dengan kandungan


air pada sample. Metode ini memilki beberapa kelemahan, misalnya:
akurasi yang rendah pada saat mengukur kadar air dibawah 0,5%,
sample harus dibersihkan dari material asing yang memiliki konstanta
dielektrik yang relatif tinggi (misalnya, logam, plastik, ketebalan
bungkus) serta bentuk sample harus dipertahankan.

Gambar 2.4.2a.3. Sistem Sensing Kelembaban Dengan Sensor Kapasitif

29

Gambar 2.4.2a.4. Sensor kelembaban kapasitif lapisan film tipis: (A) bentuk plat
kapasitor interdigitized electrode; (B) irisan melintang dari sensor

Sensor kelembaban kapasitif lapisan tipis (thin film) dapat


dibangun diatas substrat silikon lapisan SiO2 stebal 3000
ditumbuhkan diatas subtrat Si jenis n (gambar 2.4.2a.4(B)). Dua
elektrode logam diendapkan pada lapisan [Link] ini terbuat
dari aluminium, chrom, atau phosphorus-doped polysilicon dengan
teknik LPCVD (low pressure chemical vapor deposition) atau
pengendapan uap kimia tekanan rendah. Ketebalan elektrode antara
2000-5000 . Elektrode dibentuk sedemikian rupa seperti terlihat pada
gambar 2.4.2a.4(A). Untuk menyediakan kompensasi temperatur maka
dibuat dua resitor yang sensitif terhadap temperatur pada substrat yang
sama. Lapisan atas sensor dilapisi lapisan dielektrik. Untuk lapisan ini
beberapa bahan dapat dipakai seperti pengendapan uap SiO2 secara
kimiawi

(CVD=chemically

vapor-deposited)

atau

atau

lapisan

phosphorsilicate (PSG=phosphorosilicate glass). Ketebalan lapisan ini


antara 300-4000 .
Rangkaian listrik ekuivalen yang disederhanakan ditunjukkan
pada gambar 2.4.2a.5. setiap bagian dari rangkaian mewakili jalur
transmisi RC. Ketika kelembaban relatif naik maka resistansi
permukaan akan turun dan kapasitansi antara terminal 1 dan 2 akan
naik. Kapasitansi bergantung kepada frekuensi, oleh sebab itu untuk
range pengukuran kelembaban yang rendah, sebaiknya frekuensi dipilih
mendekaati 100 Hz, sebaliknya untuk range pengukuran kelembaban
yang lebih tinggi sebaiknya frekuensi dipilih antara 1-10 kHz.
30

Gambar 2.4.2a.5. Rangkaian listrik ekuivalen yang disederhanakan

Secara singkat prinsip kerja dari sensor kapasitif yakni:

Memanfaatkan perubahan kapasitif

perubahan posisi bahan dielektrik diantara kedua keping

pergeseran posisi salah satu keping dan luas keping yang berhadapan
langsung

Perubahan jarak antara kedua keping

Contoh sensor

Gambar 2.4.2a.6. Sensor Relative Humidity HS-15P

Pada prinsipnya cara kerja sensor ini adalah mendeteksi besarnya


kelembaban relatif udara di sekitar sensor tersebut. HS15P yang
mendeteksi kelembaban di sekitarnya akan merubah frekuensi oscilator
dan akan mengirimkan data ke mikrokontroler slave. Dari mikro slave
akan dilanjutkan ke mikro master. Selanjutnya mikro akan menganalisa
data, mikro melakukan dengan cara membandingkan antara data yang
dikirim dan data masukan. Apabila dalam membandingkan tersebut
diatas kelambaban yang ditentukan dibawah atau diatas dari data yang
dikirim sensor maka alat akan bekerja untuk menyesuaikan kelembaban
menjdi sesuai dengan yang diharapkan.

31

Karakteristik sensor HS15P


1. Bekerja pada rating temperatur 0C sampai dengan 50C
2. Bekerja pada rating kelembaban 20 % sampai dengan 100 % RH
3. Tegangan kerja adalah tegangan AC 1 Vrms
4. Frekuensi kerja adalah 50 Hz sampai dengan 1 KHz
[Link] daya adalah 0,3 mW
Dengan perubahan temperatur dengan kenaikan 5C maka kurva
karakteristik Relative Humidity akan bergeser berbanding terbalik
(logarimatik) dengan perubahan impedansi. Dalam dunia industri
sensor ini banyak diaplikasikan dalam:

Sistem Pengendalian Suhu Dan Kelembaban

Pada Mesin Pengering Kertas

b. Sensor Konduktifitas Listrik


Resistansi konduktor non-logam pada umumnya tergantung
kandungan airnya, fenomena ini sebagai dasar sensor kelembaban
resistif atau yang disebut hygristor. Konsep umum pada sensor
kelembaban konduktif dapat dilihat pada gambar 2.4.2b.1. Sensor
mengandung bahan yang memiliki resistifitas rendah yang berubah
secara signifikan terhadap kondisi kelembaban yang bervariasi. Bahan
ini diletakkan diatas dua elektrode yang dibuat sedimikian rupa agar
dapat memberikan kontak yang luas terhadap udara. Ketika molekul air
diserap oleh lapisan atas, maka resistifitas antara elektrode berubah dan
dapat diukur dengan rangkaian elektronik. Sensor seperti ini pernah
dikembangkan oleh F. W Dunmore pada tahun 1935, sensor ini terdiri
dari lapisan tipis higroskopis yang mengandung 2-5% larutan LiCl.
Contoh lain dari sensor kelembaban konduktif adalah yang disebut
sebagai pope element yang mengandung lapisan tipis polystyrene
yang diperlakukan dengan asam sulfur untuk mendapatkan karakteristik
resistifitas permukaan yang diinginkan.

32

Gambar 2.4.2b.1. Komposisi sensor kelembaban konduktif

Gambar 2.4.2b.2. (A) Struktur Al2O3 dalam sensor kelembaban; (B) rangkaian
ekuivalen sensor

Bahan-bahan lainya yang diharapkan bisa dibuat untuk sensor


konduktifitas adalah polielektrolit padat karena konduktifitasnya
bervariasi terhadap kelembaban. Stabilitas dan repeatabilitas yang
bagus dari senyawa ini, meskipun pada umumnya besar dan secara
signifikan dapat diperbaiki dengan memasukkan jaringan polimer,
pembawa dan alat pembantu. Ketika diukur pada 1kHz, sampel

33

percobaan menunjukkan perubahan impedansi dari 10 M sampai 100


pada perubahan RH dari 0% sampai 90%.
Sensor kelembaban solid-state dapat dibuat pada substrat silikon
(2.4.2a.4(A)). silikon yang dipakai harus memilki konduktifitas tinggi,
yang dapat menyediakan jalur listrik dari elektrode alumunium yang
diendapkan secara vacum diatas permukaannya. Sebuah lapisan oksida
terbentuk pada sisi atas lapisan konduktif alumunium, dan diatasnya,
elektrode lainnya dibentuk. Lapisan alumunium dibuat menjadi anoda
untuk membuat permukaan oksida berpori-pori. Bentuk dari pori-pori
cukup untuk ditembus oleh molekul air. Elektrode yang lebih atas
dibuat dari emas berpori-pori yang dapat ditembus oleh gas dan dapat
menyediakan hubungan listrik. sambungan listrik dibuat dari lapisan
emas dan silikon. Seperti kebanyakan bahan-bahan lainnya, alumunium
oksida (Al2O3), dapat menyerap air ketika bersentuhan dengan gas yang
mengandung air dalam fase uap. Jumlah serapan air sebanding dengan
tekanan uap parsial dan berbanding terbalik dengan temperatur absolut.
Alumunium oksida adalah bahan dielektrik. Konstanta dielektrik dan
resistifitas permukaannya berubah karena penyerapan air. Oleh karena
itu bahan ini dapat digunakan sebagai bahan sensor kelembaban.
Gambar 2.4.2a.4(B). menunjukkan rangkaian ekifalen, nilai R1
dan C1 tergantung pada ukuran dan kepadatan rata-rata dari pori-pori.
Komponen resitansi dan kapasitansi bervariasi terhadap jumlah molekul
air yang menembus pori-pori dan menempel pada permukaan. R2 dan
C2 mewakili resitansi dan kapasitansi dari bahan oksida antara poripori, oleh karena itu nilai ini tidak terpengaruh oleh kelembaban. C3
adalah ekifalen kapasitansi yang ditentukan oleh pengukuran resitansi
total dalam udara kering pada frekuensi yang sangat rendah. Resistansi
sensor menjadi sangat tinggi (> 108) pada frekuensi mendekati dc.
Jadi pengukuran kelembaban meliputi pengukuran impedansi sensor.
Resistansi dan kapasitansi sisa yang tergantung faktor selain
kelembaban tetap ada dan terhubung langsung dengan variabel yang
bergantung kelembaban, hal ini menyebabkan pengurangan yang terus
34

menerus terhadap slope (sensitifitas) ketika kelembaban turun, yang


sebaliknya mengurangi akurasi pada pengukuran kelembaban yang
rendah.

Karena

temperatur

adalah

faktor

dalam

pengukuran

kelembaban, sensor biasanya mengkombinasikan sensor kelembaban


denagn thermistor serta kapasitansi referensi pada kemasan yang sama
yang dapat melindungi pengaruh kelembaban dan agar sensor
mempunyai koefisien temperatur yang rendah.
c. Sensor Konduktifitas Panas
Penggunaan konduktifitas panas gas untuk mengukur kelembaban
dapat dikerjakan dengan menggunakan sensor thermistor (Gambar
2.4.2c (A)). Dua thermistor kecil (Rt1 dan Rt2) didukung oleh kabel tipis
untuk meminimalkan hilangnya konduktifitas panas ke kemasan sensor.
Thermistor sebelah kiri dialiri gas melalui lubang fentilasi dan
thermistor sebelah kanan ditutup rapat-rapat dalam udara kering, kedua
thermistor disambungkan ke rangkaian jembatan R1 dan R2 yang diberi
tegangan dari +E. Thermistor panas dengan sendirinya karena ada arus
yang melewatinya, temperaturnya naik sampai diatas 170 C melebihi
temperatur sekitar. Awalnya jembatan resistor imbang dalam udara
kering untuk membuat titik referensi nol. Output sensor ini berangsurangsur naik seiring kelembaban absolut yang naik dari nol. Pada
kelembaban sekitar 150 g/m3, outputnya mengalami saturasi dan pada
kelembaban 345 g/m3 kemudian outputnya turun dengan polaritas yang
berubah (Gambar 2.4.2c (B)).

35

Gambar 2.4.2c. Sensor Absolut Humidity dengan self-heating thermistor: (A) Desain dan
sambungan listrik (B) Tegangan keluaran

36

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Sensor kimia ini adalah sensor yang mendeteksi jumlah suatu zat kimia dengan
cara mengubah besaran kimia menjadi besaran listrik. Biasanya ini melibatkan
beberapa reaksi kimia. Yang termasuk jenis sensor kimia yaitu :
Sensor PH
Sensor Gas
Sensor Kelembaban
TDS sensor
3.2. Saran
Disamping membahas teori, diharapkan pada dosen pengasuh mata kuliah
Sensor dan Aktuator dapat mengaplikasikan langsung ilmu yang telah dibahas
tiap-tiap kelompok agar mahasiswa dapat lebih mahir dalam mengontrol proses
jalannya suatu alat.

37

DAFTAR PUSTAKA

[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
Brady, James. 2008. Kimia Universitas asas dan struktur jilid dua. Bina rupa aksara:
Tanggerang.

Febriyanto,Sonny. 2009. Sensor Kimia


Fraden, Jacob. 2003. Modern Sensor. San Diego: Advance Monitor Corporation
Ciputra, Ahmad. 2009. Sensor Kelembaban
Fraden, Jacob. 2003. Modern Sensor. San Diego: Advance Monitor Corporation
[Link]
[Link]
[Link]

38

Anda mungkin juga menyukai